RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH TAHUN KEMENTERIAN AGAMA R.I

99  28  Download (1)

Full text

(1)

RENCANA STRATEGIS

DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN

HAJI DAN UMRAH

TAHUN 2015-2019

KEMENTERIAN AGAMA R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH

TAHUN 2015

(2)

RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL

PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMARAH TAHUN 2015-2019 Diterbitkan oleh:

Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama

Jl. Lapangan Banteng Barat No.3-4 Jakarta

Telepon: 3811642-3811654-3800200, Fax.3800174 http://haji.kemenag.go.id

Perpustakaan Nasional:

RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL

PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMARAH TAHUN 2015-2019 Cetakan pertama

ix+84 halaman,160mm x 230mm ISBN: 978-602-9127-24-9

(3)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum Wr. Wb.

emerintah secara terus menerus melakukan upaya pembenahan diri dalam hal penyelenggaraan ibadah haji dan umrah. Pembenahan tersebut dilakukan pada berbagai aspek, melalui pembinaan, pelayanan dan perlindungan dengan dukungan sistem manajemen yang handal terus dilakukan. Pembenahan sistem manajemen penyelengaraan ibadah haji dan umrah tersebut sermata- mata diarahkan pada upaya memenuhi asas keadilan, profesional dan akuntabilitas.

Untuk memberikan arah yang jelas terhadap pembinaan, pelayanan dan perlindungan serta pengembangan sistem manajemen penyelenggaraan ibadah haji dan umrah dalam 5 tahun ke depan, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah menyusun dan menetapkan dokumen Rencana Strategis 2015-2019. Dokumen ini berisikan informasi mengenai hal-hal yang telah dicapai selama 5 tahun kebelakang (2010-2014) beserta kendala dan permasalahan yang terjadi, serta berisi informasi mengenai kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama lima tahun ke depan (2015-2019) untuk mengatasi masalah yang terjadi serta meningkatkan kualitas pelayanan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah. Dokumen ini akan menjadi acuan bagi perencanaan

P

(4)

kegiatan yang dilakukan oleh direktorat-direktorat di lingkungan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

Disadari bahwa perubahan akan terus terjadi selama kurun waktu periode 2015-2019 nanti. Oleh sebab itu, meskipun telah ditetapkan menjadi dokumen acuan bagi perencanaan kegiatan selama lima tahun ke depan, dokumen Rencana Strategis dalam perjalannyannya akan terus disempurnakan agar dapat menampung dinamika perubahan kebijakan dan tuntutan masyarakat dalam kerangka pemberian pelayanan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

Akhir kata dokumen Rencana Strategis Tahun 2015-2019 ini agar dapat dilaksanakan sebaik-baiknya oleh sekuruh jajaran aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah sebagai salah satu bentuk akuntabilitas pemberian pelayanan kepada masyarakat.

Jakarta, Desember 2015

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah

ABDUL DJAMIL

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

KEPUTUSAN DITJEN PHU ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Kondisi Umum ... 1

1. Pencapaian yang telah dilaksanakan pada periode renstra sebelumnya ... 1

a. Pembinaan Haji dan Umrah ... 1

b. Pelayanan Haji di Dalam Negeri ... 5

c. Pelayanan Haji di Luar Negeri ... 12

d. Pengelolaan Dana Haji ... 21

2. Aspirasi masyarakat terkait kebutuhan, layanan dan regulasi penyelenggaraan haji dan umrah ... 27

B. Potensi dan Permasalahan ... 29

1. Analisis Permasalahan Penyelenggaraan Haji dan Umrah ... 29

2. Potensi, Kelemahan, peluang, tantangan jangka menengah Penyelenggaraan Haji dan Umrah ... 30

BAB II VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN STRATEGIS DITJEN PHU ... 39

A. Visi ... 39

B. Misi ... 41

C. Tujuan ... 42

D. Sasaran Strategis ... 43

BAB III ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI, DAN KELEMBAGAAN... 45

A. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional ... 45

B. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Agama serta Ditjen PHU... 47

C. Kerangka Regulasi... 50

D. Kerangka Kelembagaan ... 51

BAB IV TARGET KINERJA DAN KERANGKA PENDANAAN ... 54

A. Target Kinerja ... 54

B. Kerangka Pendanaan ... 59

BAB V PENUTUP ... 65 LAMPIRAN

(6)

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH

NOMOR D/ /2015

TENTANG RENCANA STRATEGIS

DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH TAHUN 2015 - 2019

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DIREKTUR JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH, Menimbang : bahwa dalam rangka menindak lanjuti pelaksanaan

Rencana Strategis Kementerian Agama Tahun 2015-2019 dan untuk memberikan pedoman serta menjadi tolok ukur pelaksanaan tugas lima tahun ke depan, perlu ditetapkan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Tahun 2015-2019; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang

Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang

Penyelenggaraan Ibadah Haji (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4845) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti

vi

(7)

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji menjadi Undang- Undang;

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang

Perbendaharaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2012

tentang Pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 186, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5345);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004

tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4405);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006

tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);

(8)

7. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian – Lembaga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5178);

8. Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004 tentang

Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

9. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 3);

10. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);

11. Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2015 tentang Kementerian Agama Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 168);

12. Peraturan Menteri Negara/Kepala Bappenas Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Renstra Kementerian/ Lembaga Tahun 2015-2019; 13. Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010

tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 348);

(9)

14. Keputusan Menteri Agama Nomor 39 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Agama Tahun 2015-2019;

MEMUTUSKAN:

MENETAPKAN: KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENYELENG-GARAAN HAJI DAN UMRAH TENTANG RENCANA STRATEGIS TAHUN 2015-2019.

KESATU : Menetapkan Rencana Strategis Direktorat Jenderal

Penyelenggaraan Haji dan Umrah Tahun 2015-2019, sebagaimana tersebut pada lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini.

KEDUA : Rencana Strategis sebagaimana dimaksud pada

DIKTUM KESATU merupakan pedoman bagi para pejabat dan pelaksana pada Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah di pusat, daerah, maupun di Arab Saudi dalam penyusunan rencana kinerja tahunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan tugas.

KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

Pada tanggal Desember 2015 DIREKTUR JENDERAL

PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMRAH,

ABDUL DJAMIL

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. KONDISI UMUM

Pembangunan bidang agama merupakan bagian integral pembangunan nasional, dimana visi pembangunan nasional 2015-2019 yang hendak diwujudkan adalah “Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan.” Visi tersebut dijabarkan ke dalam tiga misi pembangunan nasional. Pertama, melanjutkan pembangunan menuju Indonesia yang sejahtera. Kedua, memperkuat pilar-pilar demokrasi. Ketiga, mewujudkan dimensi keadilan di semua bidang.

Selanjutnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ke dua (2015 - 2019) memiliki lima agenda pokok. Pertama, pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Kedua, perbaikan tata kelola pemerintahan. Ketiga, peningkatan pilar demokrasi. Keempat, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Kelima, pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.

Oleh karena itu dalam mewujudkan Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan, akan diwujudkan antara lain melalui misi yaitu melanjutkan pembangunan menuju Indonesia yang sejahtera. Hal ini selaras dan seiring dengan kewajiban negara dan pemerintah memberikan jaminan dan perlindungan atas hak setiap warganya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, serta memberikan fasilitas dan pelayanan pemenuhan hak dasar warga negara.

Dengan demikian aspek perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak beragama sebagai bagian dari hak asasi warga negara menjadi landasan pokok dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 bidang agama.

1. Pencapaian yang telah dilaksanakan pada periode renstra sebelumnya

Renstra 2015-2019 disusun dengan mempertimbangkan berbagai capaian program Renstra

sebelumnya (Renstra 2010-2014) terkait dengan pembinaan, pelayanan dalam dan luar negeri serta

pengelolaan dana haji. Sejumlah perkembangan penting yang dicapai, antara lain sebagai berikut.

a. Pembinaan Ibadah Haji dan Umrah 1) Bimbingan Manasik di Tanah Air

Pemerintah cq. Ditjen PHU wajib memberikan bimbingan kepada jemaah haji sejak sebelum keberangkatan, selama dalam perjalanan, dan selama di Arab Saudi. Bimbingan sebelum

(11)

keberangkatan dilakukan bagi jemaah yang berhak melunasi BPIH dalam tahun berjalan. Bimbingan manasik dilakukan pemerintah dan masyarakat baik secara perseorangan maupun kelompok/KBIH. Tujuannya untuk membekali pengetahuan kepada jemaah haji tentang pelaksanaan dan tata cara ibadah haji sehingga diperoleh haji mabrur.

Kegiatan bimbingan kepada jemaah haji reguler sebanyak 10 kali pertemuan. Sebanyak 7 kali dilaksanakan di KUA Kecamatan secara kelompok, sedangkan 3 kali dilaksanakan di tingkat kabupaten/kota. Kurikulum bimbingan manasik. Materi bimbingan meliputi kebijakan penyelengaaan ibadah haji, manasik ibadah dan perjalanan, akhlakul karimah, adat istiadat/budaya Arab Saudi, dan praktik ibadah. Alokasi waktu bimbingan manasik 1 (satu) kali pertemuan adalah 4 jam pelajaran (1 JP : 60 menit) per hari.

Kegiatan manasik haji dalam bentuk, belanja opersional di masing-masing KUA Kecamatan dan operasional di masing-masing Kankemenag, diatur dengan Surat Edaran Dirjen PHU. Di samping itu, setiap kali pertemuan manasik haji di KUA yang jumlah jemaahnya lebih dari 45 jemaah diberikan tambahan pada setiap kali pertemuan untuk biaya konsumsi dan penyelenggaran. Sedangkan sarana prasarana pendukung meliputi: buku manasik, alat peraga/Ka’bah Mini, dan pembuatan DVD manasik haji.

Selain kegiatan manasik tatap muka, juga melalui media massa antara lain: melalui website yang dapat diunduh di www.haji.kemenag.go.id. melalui TV di pesawat TV. Sebagai bentuk inisiatif baru telah diluncurkan aplikasi manasik haji dalam kemasan aplikasi dalam gadget yang diambil dari buku paket bimbingan manasik dan perjalanan haji kementerian agama. Aplikasi ini dalam rangka mensosialisakan materi bimbingan manasik melalui teknologi informasi, seiring dengan meningkatnya pengguna gadget dan wahana elektronik lainnya. Hal demikian diharapkan dapat memberi kemudahan bagi jemaah haji dalam memahami manasik serta doa-doa saat menjalankan ibadah di Tanah Suci. Program manasik melalui system oprasi android dilakukan atas kerjasama dengan lembaga kajian al-hadits masjid Istiqlal Jakarta.

Beberapa kendala kegiatan bimbingan manasik haji di antaranya minat jemaah untuk hadir mengikuti manasik haji rendah terus dicarikan solusi. Waktu pelaksanaan manasik bersamaan pelunasan, pembuatan paspor, dan pelaksanaannya mendekati bulan Ramadhan yang mungkin menjadi penyebab yang terus dikaji.

Pengiriman buku manasik diupayakan tidak terjadi keterlambatan dari jadwal yang ditentukan, walaupun terkait dengan terbitnya Peraturan Presiden Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (Perpres BPIH) yang sering terlambat yang berakibat pada keterlambatan penandatanganan kontrak pencetakan dan pendistribusian buku manasik.

(12)

Langkah-langkah peningkatan kualitas bimbingan manasik haji dilakukan dengan cara: 1. Menyusun pedoman pelaksanan manasik haji oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan

dan tingkat Kabupaten/Kota.

2. Mengupayakan penerbitan buku manasik lebih awal dengan memberikan kewenangan pencetakan dan pendistribusian di daerah.

3. Melakukan monitoring secara berjenjang terhadap kegiatan manasik, dan menyiapkan instrumen penilaian kegiatan manasik bagi jemaah haji.

Calon jemaah haji sedang melakukan manasik di Asrama Haji

(13)

2) Bimbingan Ibadah di Arab Saudi

Kegiatan bimbingan ibadah di Arab Saudi, meliputi :

1. Visitasi jemaah haji di masing-masing pemondokan/sektor di Makkah. Kegiatan ini dilaksanakan pada pra Armina di 52 lokasi (10 Sektor). Sedangkan pada pasca Armina dilakukan sebanyak 8 lokasi (8 Sektor). Visitasi pada pasca Armina di fokuskan pada pemantapan pelaksanaan ibadah dan upaya menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kemabruran setelah menunaikan ibadah haji selesai. Kegiatan visitasi merupakan upaya memantapkan pemahaman manasik jemaah haji yang telah diperoleh selama di Tanah Air, baik yang dilakukan di KUA Kecamatan dan kabupaten/kota domisili jemaah haji, yang diarahkan untuk mewujudkan jemaah haji mandiri.

2. Konsultan dan bimbingan ibadah kepada jemaah udzur/sakit di BPHI dengan Petugas Ibadah Jemaah Udzur (PIJU), yang dibagi dalam 2 (dua) shift masing-masing untuk 8 jam/hari. Kegiatan konsultasi bimbingan manasik di kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah dan Madinah, dengan materi tanya jawab dan konsultasi yang dapat dilakukan melalui telepon kepada Konsultan Pembimbing.

3. Jemaah haji dengan Risiko Tinggi (Risti) diprioritaskan dalam bimbingan. Profil jemaah haji Risti yang didominasi oleh jemaah usia lanjut, di atas 60 tahun. Mengingat kebijakan pemerintah yang membatasi pengulangan berhaji dan dari tahun ke tahun didominasi oleh wanita memerlukan penangan tersendiri. Utamanya saat melakukan umrah wajib. Tim Pembimbingan ibadah khusus di Masjidil Haram perlu dibentuk. yang terdiri atas gabungan petugas dari Daker dan Sektor yang bertugas memantau ibadah jemaah di sekitar math’af, mas’a untuk memastikan bahwa jemaah telah melaksanakan ibadah umrah sesuai ketentuan dalam manasik.

4. Dewasa ini akibat perluasan Masjidil Haram tidak sedikit jemaah tersasar, atau tidak mengetahui tempat mas’a. Jumlah petugas yang tersedia, dibagi dalam 3 shift untuk kurun waktu 21 hari saat padat-padatnya jemaah, yaitu menjelang wukuf atau ba’da Arafah (tawaf ifadhah).

5. Petugas haji yang menyertai jemaah/ Tim Pembimbing Ibadah HajiIndonesia (TPIHI) perlu selalu di pantau. Karena jumlahnya yang jauh dari rasio yang ideal untuk memberikan pelayanan bimbingan dan pendampingan ketika umrah, di Armina, thawaf ifadah dan sa’i serta melontar jumrah agar bisa bekerja lebih efektif.

6. Pelaksanaan sistem tarwiyah oleh jemaah haji cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun perlu mendapat perhatian khusus.. Perlu ditetapkan mekanisme izin mengikuti system tarwiyah dengan menyediakan formulir untuk diisi dan diketahui oleh Ketua Kloter.

(14)

3) Safari Wukuf dan Badal Haji

Jemaah haji yang di safari wukufkan jumlahnya relatif konstan dari tahun ke tahun. Mereka diangkut menggunakan bus untuk pasien dalam posisi duduk. Sementara itu bus yang dimodifikasi diperuntukkan bagi pasien dalam posisi berbaring. Mengingat keterbatasan fasilitas kendaraan, tidak semua jemaah yang ingin/mendaftar safari wukuf dapat dipenuhi keinginannya, akan tetapi terlebih dahulu dilakukan seleksi yang cukup ketat.

Badal haji dilakukan untuk jemaah sakit parah dan tidak dapat disafari wukufkan termasuk mereka yang mengidap ganguan jiwa. Kepada petugas badal haji dilakukan tes wawancara.

Jemaah haji baru tiba di Arab Saudi

(15)

4) Bimbingan Ibadah di Armina

Beberapa kegiatan yang perlu dilakukan sebelum Arafah Mudzdalifah Mina (Armina) meliput, menyiapkan jadwal dan penetapkan penceramah dan petugas saat wukuf di tenda Misi Haji Indonsia, menggandakan dan mendistribusikan materi Khutbah Wukuf, dan menyiapkan sarana lainnya.

Sejak kedatangan jemaah dan petugas, dilaksanakan prosesi shalat Magrib dan Isya jama’ qashar berjemaah, shalat Subuh, Duhur-Ashar, dan Maghrib-Isya’ di jama’ takdim. Setelah shalat dilaksanakan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) yang disampaikan secara bergilir oleh anggota amirul hajj. Khutbah wukuf di kemah haji Indonesia disampaikan oleh salah seorang anggota Amirul Haj., Khutbah wukuf dan shalat Duhur dan Ashar di Kemah Jemaah haji dikoordinasikan oleh perangkat Kloter dengan melibatkan para pembimbing kelompok bimbingan atau para kyai/ustadz yang ada di Kloternya.

Seluruh petugas dan Jemaah haji, selepas waktu Maghrib bergerak ke Mudzalifah dan setelah tengah malam ke Mina untuk Mabit dan melontar jumrah. Jemaah haji diberi kebebasan untuk memilih nafar awal atau nafar tsani.

Jemaah haji sedangan melakukan wukuf di Arafah

(16)

5) Rekrutmen Petugas Haji

Kegiatan rekrutmen petugas haji dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Tes petugas haji yang menyertai jemaah dan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang berasal dari daerah, dilaksanakan secara serentak di Kankemenag Kabupaten/Kota selama 3 (tiga) hari.

2. Tes petugas haji PPIH Arab Saudi di pusat dilaksanakan di Jakarta. Peserta dimungkinkan berasal dari Unit eselon I Kemenag, TNI, POLRI dan Instansi terkait

6) Pelatihan Petugas Haji

1. Pelatihan petugas haji PPIH Arab Saudi dilaksanakan selama 10 (sepuluh) hari di Jakarta. 2. Materi pelatihan di antaranya :

• Pengenalan Program

• Kebijakan Penyelenggaraan Ibadah Haji • Manasik Haji

• Kebijakan Teknis Pembinaan Haji • Kebijakan Pemerintah Arab Saudi • Kebijakan Teknis Kesehatan Haji

• Kebijakan Teknis Pelayanan Haji Luar Negeri • Struktur dan Mekanisme Kerja PPIH Arab Saudi

• Pemantapan dan pembentukan Komitmen Pelayanan Petugas PPIH Arab Saudi • Manajemen Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji

• Kebijakan Teknis Pelayanan Haji Dalam Negeri • Pelayanan Akomodasi, Konsumsi dan Transportasi • Satuan Operasional Armina

• Pengawasan dan pengendalian PPIH Arab Saudi

• Keterkaitan tugas antara petugas yang menyertai jemaah dan PPIH Arab Saudi • Diskusi-diskusi dan simulasi

b. Pelayanan Haji di Dalam Negeri 1) Pendaftaran Haji

Pendaftaran calon jemaah haji dibuka sepanjang tahun dengan menerapkan prinsip first come first served. Pendaftaran haji reguler dilakukan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Untuk mendapat porsi, jemaah haji reguler harus membayar setoran awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebesar Rp 25.000.000,00. Setoran awal harus dilakukan melalui Bank Penerima Setoran (BPS) BPIH yang menjadi mitra Kementrian Agama. Semua

(17)

BPIH telah terhubung secara online dengan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Ditjen PHU dan seluruh Kankemenag di seluruh Indonesia sebanyak 461 Kabupaten/Kota dari 469 Kankemenag yang ada di Indonesia.

Pendaftaran haji dilakukan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota sesuai domisili Jemaah haji, dengan prinsip first come first served berdasarkan urut kacang sesuai perolehan nomor porsi berdasarkan alokasi kuota secara nasional maupun provinsi. Pengembangan pendaftaran haji sistem online dilakukan secara bertahap yang diawali dengan memanfaatkan main system milik Garuda Indonesia sebagai host Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) yang tersambung dengan Bank Penerima Setoran (BPS) BPIH, yang dimulai sejak tahun 1996.

SISKOHAT dibangun untuk memberikan kemudahan dan kecepatan layanan, pengendalian pendaftaran dan penyetoran lunas BPIH, pengendalian kuota haji nasional secara tersistem, dan upaya memberikan kepastian pergi haji pada tahun berjalan, serta adil secara berurutan untuk memperoleh nomor porsi haji. Pendaftaran haji melalui SISKOHAT dilakukan sepanjang tahun yang dapat dimonitor dan dikendalikan setiap saat secara real time.

Tempat pendaftaran haji khusus di 14 Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, yaitu : (1) Provinsi Banten, (2) Provinsi DKI Jakarta, (3) Provinsi Jawa Barat, (4) Jawa Timur, (5) Kalimantan Timur, (6) Sulawesi Selatan, (7) Sumatera Selatan, (8) Riau, (9) Jawa Tengah, (10) Kalimantan Selatan, (11) Sumatera Utara, (12) Jambi, (13) Sulawesi Tenggara, (14) Gorontalo.

2) Revitalisasi Asrama Haji

Penyediaan gedung dan bangunan asrama haji dengan berbagai layanan yang memadai merupakan bentuk tanggungjawab serta kepedulian pemerintah dalam rangka revitalisasi asrama haji. Asrama Haji saat ini hanya berfungsi (utamanya) untuk memfasilitasi proses keberangkatan/ pemulangan jemaah haji yang hanya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun, dirasa kurang maksimal pemanfaatannya.

Pengelolaan Asrama Haji saat ini dilakukan oleh Badan Pengurus Asrama Haji (BPAH). Untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya melakukan pelayanan kepada umum, namun pada kenyataannya mengalami banyak hambatan, baik dari segi SDM maupun wujud fisiknya. Pada akhirnya, “use factor” di Asrama Haji masih rendah ditambah beban rutin yang berat, padahal potensi asrama haji sangat tinggi. Dengan karakteristik umum Asrama Haji yang memiliki fasilitas kamar tidur dengan jumlah banyak, juga fasilitas ruang-ruang pertemuan dalam berbagai ukuran seharusnya dapat lebih ditingkatkan manfaatnya.

(18)

Revitalisasi Asrama Haji, bertujuan mendayagunakan semua aset yang ada agar “use factor” meningkat, dan menjadikan asrama haji yang memilki multi fungsi, nyaman, sehat, aman dan indah dengan cara menyewakan fasilitas asrama haji diluar operasional haji, membuat TPA/TKA maupun fasilitas pendidikan dasar lainnya, bekerjasama dengan pihak bank atau pihak lainnya untuk memaksimalkan lahan yang ada, dan lainnya. Dengan adanya revitalisasi asrama haji diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan jemaah haji pada saat operasional dan meningkatkan nilai manfaat di luar operasional haji.

Asrama Haji Jakarta Pondok Gede

(19)

Kamar Jemaah Asrama Haji Jakarta Pondok Gede

Toilet Asrama Haji Jakarta Pondok Gede

(20)

Loby Asrama Haji Jakarta Pondok Gede

Gedung Aula Asrama Haji Jakarta Pondok Gede

(21)

Aula Asrama Haji Jakarta Pondok Gede

Asrama Haji Medan Sumatera Utara

(22)

Loby Asrama Haji Medan Sumatera Utara

Ruang kamar Asrama Haji Medan Sumatera Utara

(23)

Toilet kamar Asrama Haji Medan Sumatera Utara

Asrama Haji Balikpapan Kalimantan Timur

(24)

Asrama Haji Balikpapan Kalimantan Timur (Tampak Belakang)

Kamar Asrama Haji Balikpapan Kalimantan Timur

(25)

Gedung Aula Asrama Haji Balikpapan Kalimantan Timur

Asrama Haji Makassar Sulawesi Selatan

(26)

Loby Asrama Haji Makassar Sulawesi Selatan

Gedung Aula Asrama Haji Makassar Sulawesi Selatan

(27)

Loby Aula Asrama Haji Makassar Sulawesi Selatan

Asrama Haji Padang Sumatera Barat

(28)

Gedung Aula Asrama Haji Padang Sumatera Barat

Ruang Kamar Asrama Haji Padang Sumatera Barat

(29)

Asrama Haji Lombok Nusa Tenggara Barat

Loby dan Drop Off Asrama Haji Lombok Nusa Tenggara Barat

(30)

Koridor Asrama Haji Lombok Nusa Tenggara Barat

Tangga dan Lift Asrama Haji Lombok Nusa Tenggara Barat

(31)

3) Penyiapan Transportasi Udara

Penetapan Pelaksana Transportasi Udara Jemaah Haji Indonesia dilakukan oleh paling tidak dua maskapai penerbangan yaitu: (1) PT. Garuda Indonesia dengan cakupan embarkasi Banda Aceh (BTJ), Medan (MES), Padang (PDG), Palembang (PLM), Solo (SOC), Balikpapan (BPN), Banjarmasin (BDJ), Makassar (UPG) dan Jakarta (CGK) khusus Provinsi DKI Jakarta dan Lampung; serta (2) Saudi Arabia Airlines dengan cakupan embarkasi Batam (BTH), Jakarta (JKS) khusus provinsi Jawa Barat dan Banten, Surabaya (SUB), dan Mataram (LOP).

Operasional pemberangkatan jemaah haji berlangsung selama 28 hari, diberangkatkan dari 13 Asrama Haji Embarkasi, yaitu: 1) Aceh, 2) Medan, 3) Batam, 4) Padang, 5) Palembang, 6) Jakarta-Pondok Gede, 7) Jakarta-Bekasi, 8) Solo, 9) Surabaya, 10) Banjarmasin, 11) Balikpapan, 12) Makasar, dan 13) Lombok.

Penyiapan Transportasi Udara

(32)

4) Perlindungan Jemaah Haji

Keamanan dan perlindungan jemaah diarahkan agar jemaah haji memperoleh jaminan keselamatan dan keamanan, baik di Tanah Air maupun Arab Saudi. Untuk memberikan perlindungan, setiap jemaah haji diberikan asuransi yang dibiayai dengan dana optimalisasi BPIH. Santunan bagi setiap jemaah yang meninggal dunia (natural death) diupayakan minimal sama dengan sebesarn BPIH yang disetor oleh msing-masing jemaaah haji. Sedangkan jemaah haji yang meninggal karena kecelakaan (by accident) diberikan santunan minimal 2 kali lipat besaran yang meninggal karena kecelakaan. Besaran asuransi untuk petugas haji diupayakan sama dengan besaran asuransi untuk jemaaah haji.

Selain asuransi jiwa sebagaimana tersebut di atas, jemaah haji juga dilindungi oleh extra cover penerbangan yang menjadi tanggug jawab pihak penerbangan sesuai peraturan penerbangan internasional, apabila jemaah haji meninggal pada saat masih dalam batas tanggung jawab penerbangan yang meliputi :

Mudzakarah Perhajian Nasional dalam Rangka Perlindungan Jemaah

(33)

1. Fase keberangkatan

Selama dalam bus angkutan dari embarkasi haji menuju Bandara, saat di Bandara Tanah Air maupun pesawat, sampai dengan gate imigrasi Bandara KSA.

2. Fase kedatangan

Setelah jemaah melewati gate imigrasi Bandara KSA, selama di pesawat, saat tiba di bandara Tanah Air sampai dengan di dalam bus yang membawa jemaah haji dari bandara menuju asrama debarkasi.

Terkait dengan layanan transportasi udara dan perlindungan jemaah haji dilakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Pengadaan jasa transportasi udara haji dilakukan secara lelang terbuka dengan memperhatikan:

a. Undang-Undang Penerbangan Internasional, Peraturan IATA, Undang Undang Penerbangan nasional, Peraturan Arab Saudi/GACA, hubungan antar kedua negara. b. Seluruh negara mengunakan Saudi Arabian Airlines dan apabila Saudia Airlines (SV) tidak

dilibatkan, Kemenag akan dikenakan royalty charge sebesar USD. 100,- per jemaah. c. Kebijakan dan ketentuan mengenai Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

2. Melakukan MoU tentang penerbangan haji antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Arab Saudi, khususnya terkait dengan Slot time.

3. Melakukan MoU tentang penerbangan haji antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Arab Saudi terkait dengan kepastian pembagian alokasi jumlah jemaah masing-masing maskapai.

4. Sosialisasi mengenai asuransi jiwa jemaah haji, dilakukan oleh pihak Asuransi, dan Kemenag Pusat dan Daerah.

5. Tanazul jemaah sakit diperbolehan menggunakan pesawat dari penerbangan yang sama dan lintas embarkasi.

6. Membuat program perjalanan ibadah haji per-Kloter

7. Dalam kontrak dicantumkan bahwa pihak penerbangan harus menanggung biaya transportasi sampai embarkasi jemaah yang bersangkutan.

5) Pengurusan Dokumen dan Pemvisaan

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 34 Tahun 2009 dan sesuai dengan kebijakan Pemerintah Arab Saudi, sejak tahun 1430H/2009M jemaah haji Indonesia menggunakan paspor Internasional (ordinary passport). Pemerintah dalam hal ini Kementerian

(34)

Agama berkewajiban untuk menyediakan dokumen perjalanan haji bagi jemaah haji yang meliputi penerbitan paspor dan proses pemvisaan ke Kedutaan Besar Arab Saudi.

Dengan diberlakukannya kebijakan e-hajj oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, untuk mempercepat penyelesaian dokumen haji (visa) menggunakan alat e-reader.

Dalam rangka persiapan haji dibentuk Tim penyelesaian paspor dan Tim Pemvisaan. Tim Penyelesaian paspor terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Non PNS. Tim ditetapkan berdasar Surat Keputusan Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Tugas Tim Penyelesain Dokumen sebagai berikut :

1. Menerima dan mencatat paspor beserta kelengkapannya baik paspor jemaah haji

biasa, jemaah haji khusus dan petugas haji;

2. Menginput jumlah paspor yang diterima ke dalam Aplikasi Penyelesaian Paspor;

3. Meneliti dan memverifikasi keabsahan data jemaah haji;

4. Melakukan pemaduan pasfoto jemaah haji melalui Aplikasi Penyelesaian Paspor Haji;

5. Mengentri data dan upload pasfoto jemaah haji ke dalam website Kementerian Luar

Negeri Kerajaan Saudi Arabia;

6. Mencetak stiker request dan menempelkannya pada kulit halaman cover depan

Paspor;

7. Mencetak daftar nominatif pusat dan menempelkan stiker nomor nominatif pusat pada

cover belakang paspor;

8. Mengirimkan paspor yang telah diproses requestnya ke Kedutaan Besar Arab Saudi

untuk mendapatkan visa;

9. Mengkonfirmasi paspor yang telah di visa dengan barcode ke dalam Aplikasi

Penyelesaian Paspor;

10. Menyerahkan paspor yang telah di visa kepada petugas Kementerian Agama Provinsi

dan Pusat;

11. Memproses pengadministrasian dan keuangan anggota Tim Penyelesaian Paspor

Jemaah Haji;

12. Membuat laporan harian dan laporan akhir Tim Penyelesaian Paspor Jemaah Haji

Tim pemvisaan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Direktur Pelayanan Haji dalam Negeri selaku Pejabat Pembuat Komitmen. Uraian tugas Tim pemvisaan sebagai berikut:

1. Melaksanakan cross-check data jemaah haji pada paspor dengan data website Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dengan menggunakan barcode;

(35)

2. Mencetak data dan foto jemaah haji ke dalam stiker visa; 3. Menempelkan stiker visa pada lembaran paspor jemaah haji;

4. Memilah dan menghitung paspor yang telah selesai divisa dan mengelompokkan per provinsi;

5. Melaporkan pelaksanaan tugas Tim secara rutin kepada pimpinan; 6. Membuat laporan akhir tugas

Setelah paspor diterima dari daerah, dilakukan penelitian dan diverifikasi keabsahanya disesuaikan dengan data jemaah. Setelah melewati tahapan penilitian, paspor diolah dan dimasukkan ke dalam database Subdit Dokumen. Penginputan data paspor ke dalam database dan request visa menggunakan Machine Readable Travel Document (MRTD), sesuai dengan instruksi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, terkait dengan pemberlakuan e-hajj.

Setelah dikirim ke Kedutaan Besar Arab Saudi (KBSA) paspor diproses untuk mendapatkan visa. Paspor yang diterima oleh KBSA akan di scan terlebih dahulu untuk memperoleh barcode. Setelah keluar barcode visa di print out. Hasil print out ini ditempelkan ke dalam paspor.

6) Pelayanan Asrama dan Embarkasi Haji

Di Asrama Haji Embarkasi, jemaah haji selain memperoleh pelayanan akomodasi juga dilakukan proses Custom Immigration and Quarantine (CIQ), check in penerbangan, pemberian gelang identitas dan living allowance, pemeriksaan akhir kesehatan, bimbingan manasik, serta pemantapan Ketua Regu (Karu) dan Ketua Rombongan (Karom).

Dalam rangka persiapan pelayanan terhadap jemaah haji di Asrama Haji, sebelum pelaksanaan operasional haji, dilakukan pemeriksaan sanitasi di Asrama Haji hingga 3 tahap, meliputi:

1. Kondisi fisik bangunan asrama haji;

2. Kebersihan lingkungan, jalan, dan kebersihan di dalam gedung-gedung asrama haji; 3. Kondisi barang-barang meubeleur, elektronik, linen dan barang-barang kelengkapan lainnya; 4. Kondisi instalasi listrik dan pencahayaan ruangan atau lingkungan;

5. Penyediaan air bersih; 6. Tempat pengolahan makanan; 7. Pembuangan limbah/sanitasi; 8. Pengendalian vektor;

9. Sistem kewaspadaan dini dan respon Kejadian Luar Bisa (KLB) di Asrama Haji

Selama di asrama jemaah haji memperoleh konsumsi. Penyedia konsumsi adalah perusahaan jasa boga/katering yang memenuhi persyaratan dan dilakukan dengan tender/lelang. Proses

(36)

pengadaannnya dilaksanakan oleh masing-masing Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi setempat /embarkasi haji.

Perusahaan katering pemenang tender melaksanakan kegiatan pengolahan makanan di dapur asrama haji yang disupervisi oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) setempat termasuk bahan makanan dan minuman untuk jemaah haji. Proses pembagian konsumsi dilakukan dengan menggunakan Kartu Makan kepada jamaah haji. Kartu Makan dimaksudkan antara lain sebagai alat kontrol. Konsumsi jemaah haji disediakan di gedung tempat jemaah haji menginap, sebanyak 3 kali termasuk kudapan, sebelum jemaah haji berangkat ke Bandara. Pada pemulangan jemaah haji yang tiba di tanah air diberikan snack sebanyak satu kali.

Selama di Asrama kepada jemaah haji disediakan air minum selama 24 jam, dengan jumlah minimal 2 liter per hari setiap orang. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, setiap hari disiapkan 2 sampel makanan dengan peruntukkan 1 sampel bagi uji organoleptik (bau dan rasa) yang dilakukan oleh Petugas Kesehatan dan 1 sampel disimpan di kulkas selama 1 x 24 jam.

Selama di embarkasi, jemaah haji mendapat layanan terkait kesehatan sebagai berikut : 1. Pemeriksaan kelengkapan dokumen kesehatan, termasuk penerbitan ICV meningitis; 2. Pemeriksaan kesehatan;

3. Pelayanan Poliklinik;

4. Pelayanan rujukan ke Rumah Sakit Haji atau Rumah Sakit lain; 5. Bimbingan dan penyuluhan kesehatan

Asrama haji embarkasi berfungsi sebagai karantina bagi jemaah haji sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci. Selama masa karantina terdapat beberapa aktifitas dan layanan bagi jemaah haji sebagai berikut :

1. Masuk ke asrama sesuai dengan Surat Perintah Masuk Asrama (SPMA); 2. Pemeriksaan kesehatan akhir;

3. Memperoleh kartu makan dan kamar pemondokan; 4. Mendapat gelang identitas;

5. Menerima Paspor dan Boarding Pass;

6. Menerima uang biaya hidup selama di Arab Saudi /Cost Allowance; 7. Jemaah masuk pemondokan untuk istirahat selama 1 x 24 jam; 8. Memperoleh makan 3 kali selama di pemondokan;

9. Jemaah haji yang sakit dirawat di Poliklinik Asrama Haji atau dirujuk ke Rumah Sakit; 10. Memperoleh bimbingan dan penyuluhan manasik haji dan kesehatan;

11. Mendapat fasilitas keberangkatan ke Bandara

(37)

c. Pelayanan Haji di Luar Negeri

1) Pelaksanaan Operasional Pelayanan Haji di Arab Saudi

1. Pelaksanaan operasional penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi berpusat di Kantor Teknis Haji Konsulat Jenderal RI Jeddah, membawahi tiga daerah kerja.

2. Daerah Kerja Bandara di Jeddah dan Madinah membawahi 2 Sektor, berpusat di East Terminal Haji Bandara KAAIA Jeddah.

3. Daerah Kerja Makkah, berpusat di Wisma Haji Makkah, membawahi 10 Sektor : 9 Sektor di wilayah pemukiman jemaah haji, 1 Sektor Khusus Masjidil Haram.

4. Daerah Kerja Madinah, berpusat di Wisma Haji Madinah, membawahi 8 Sektor : 4 Sektor di wilayah pemukiman jemaah haji, 1 sektor di Bandara AMAIA, 1 Sektor di Terminal Hijrah, 1 Sektor di Miqat Bir Ali, dan Sektor Khusus pengamanan Masjid Nabawi.

Pada saat pelaksanaan ibadah haji di Arafah-Muzdalifah-Mina (Armina) dibentuk Satuan Operasional Armina dari seluruh anggota PPIH, yang dibagi menjadi 3 satuan tugas, yaitu: Satgas Arafah yang terdiri dari petugas Daker Jeddah, Satgas Muzdalifah yang terdiri dari petugas Daker Makkah, dan Satgas Mina yang terdiri dari petugas Daker Madinah.

Kedatangan PPIH Arab Saudi (petugas haji kloter) di Arab Saudi, termasuk petugas non-kloter kesehatan dilaksanakan secara bertahap.

Skedul Keberangkatan Petugas PPIH Arab Saudi

No. Petugas Tahap

1. Tim Advance Tahap 1

2. Petugas Daker Jeddah + Madinah Tahap 2

3. Petugas Jeddah (KUH) Tahap 3

4. Petugas Madinah Tahap 4

5. Petugas Daker Makkah Tahap 5

6. Amirul Hajj dan Sekretariat Tahap 6

7. Naib, Sekretaris, Anggota dan Sekretariat Amirul Hajj Tahap 7

(38)

Perbandingan dan Komposisi Petugas Haji Indonesia Pelayanan Umum Dibandingkan dengan Pelayanan Kesehatan

No JENIS PENUGASAN YU YK

1. Amirul Hajj, Naib, Sekretaris, Anggota dan Sekretariat 100%

2. PPIH Arab Saudi (Non Kloter): 61% 39%

a. Kantor Teknis Haji 74% 26%

b. Daker Jeddah 66% 34% c. Daker Makkah 76% 24% d. Daker Madinah 40% 60% 3. Petugas Kloter 40% 60% 4. Tenaga Musiman: 83% 17% a. Asal 1) Unsur Pimpinan 100% 2) Mahasiswa 100% 3) Arab Saudi 78% 22% b. Penempatan

1) Kantor Teknis Haji 88% 12%

2) Daker Jeddah 86% 14%

3) Daker Makkah 83% 17%

4) Daker Madinah 63% 37%

5) Pelayanan Transportasi 100%

6) Tenaga Evakuasi Tanpa Alat

Kegiatan pelayan haji dalam negeri terkait dengan kuota haji yang tersedia sesuai

dengan kuota yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi.

Berdasarkan keputusan rapat Menteri Luar Negeri Negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1978 disepakati pembatasan jumlah jemaah haji setiap negara sebesar 1:1000 dari total jumlah penduduk (yang bergama Islam) sehingga kuota jemaah haji Indonesia yang disepakati dalam Memorandum Of Understanding (MoU) sebanyak 211.000 orang berdasarkan jumlah penduduk Republik Indonesia yang tercatat di PBB. Namun sejak tanggal 6 Juni 2013 Pemerintah Indonesia mendapat surat pemberitahuan dari Pemerintah Arab Saudi tentang kebijakan pengurangan kuota haji sebesar 20%. Seluruh negara tanpa terkecuali

(39)

mendapat pengurangan yang sama karena adanya proyek perluasan tempat tawaf yang memakan waktu penyelesaian selama 3 (tiga) tahun.

Jumlah jemaah haji Indonesia setelah pengurangan kuota 20% dari 211.000 atau 168.800 orang yang dialokasikan untuk jemaah haji reguler dan jemaah haji khusus. Jemaah haji reguler diselenggarakan oleh Ditjen PHU dan jemaah haji khusus diselenggarakan oleh

Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Penyelenggaraan operasional ibadah haji di Arab Saudi merupakan rangkaian kegiatan lanjutan dari operasional yang dilakukan di Tanah Air sekaligus menjadi puncak penyelenggaraan Ibadah Haji. Perjalanan Haji Tahun sesuai dengan rencana perjalanan yang disusun berdasarkan kalender Ummul Qura Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 3 tahun terkhir ini, masih melakukan perluasan dan perbaikan infrastruktur di beberapa wilayah perhajian diantaranya, wilayah Masjidil Haram dan penataan infrastruktur di Makkah, pengembangan wilayah Masjid Nabawi Madinah, penataan bandara King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) Jeddah, Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.

Operasional pelayanan haji di Arab Saudi meliputi kegiatan kedatangan dan pemulangan jemaah haji, pemondokan, konsumsi, transportasi, kesehatan, bimbingan Ibadah dan pelaksanaan ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina).

Gambaran Penyakit Risti Jemaah Haji Indonesia- Data Tahun 2014

(40)

2) Pelayanan Kedatangan dan Kepulangan di Luar Negeri

Pelaksanaan kedatangan dan kepulangan jemaaah haji disusun berdasarkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) yang disusun berdasarkan kalender Ummul Quro’ Pemerintah Arab Saudi. Kedatangan jemaah haji di Arab Saudi diberikan tenggat waktu tertentu, karena adanya penjadwalan yang ketat di Bandara Arab Saudi. Seluruh jemaah dan petugas haji harus sudah tiba di Arab Saudi 7 hari sebelum masa Wukuf di Arafah.

Pelayanan kedatangan dan kepulangan jemaah haji di Arab Saudi dilaksanakan di dua Bandara : 1) Bandara King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) Jeddah dan 2) Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Proses kedatangan jemaah haji berlangsung selama 28 hari dan pelayanan kepulangan selama 28 hari.

3) Pelayanan Pemondokan Jemaah Haji

Penyediaan akomodasi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi ditetapkan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA). Pemerintah menyiapkan pelayanan akomodasi di tiga kota perhajian yaitu Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Akomodasi yang disediakan bagi jemaah haji harus memenuhi persyaratan : legalitas, kualitas dan kenyamanan, kesehatan, kemudahan akses, kelengkapan sarana dan prasarana, dan keamanan.

Penyiapan pemondokan dilakukan oleh dua Tim, yakni Tim Penyiapan perumahan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi dan Tim Negosiasi harga sewa perumahan jemaah haji Indonesia. Tim penyiapan perumahan terdiri dari unsur Ditjen PHU, Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan, sedang Tim Negosiasi terdiri dari unsur Ditjen PHU dan Kementerian lain. Sewa pemondokan di Mekkah dilakukan dengan

Peta Layanan Kesehatan Jemaah Haji di Arafah

(41)

kontrak langsung kepada pemilik rumah/penyewa atau melalui Maktab Aqari, sedangkan di Madinah melalui Majmuah (service group).

Sewa pemondokan di Madinah dilakukan dengan sistem penyewaan akomodasi langsung kepada pemilik hotel yang memberikan kepastian penempatan kepada jemaah haji di wilayah markaziyah dengan menggunakan sistem sewa musim atau sewa semi musim dan melakukan penyewaan lebih awal agar kapasitas yang ada di markaziyah tidak disewa lebih dulu oleh oleh misi haji negara lain.

Penyediaan akomodasi di Makkah meliputi kebutukan akomodasi untuk jemaah haji, petugas Kloter, kantor dan klinik Sektor di samping itu disediakan cadangan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Penyediaan akomodasi di Jeddah meliputi kebutuhan untuk akomodasi jemaah haji dan petugas haji Kloter yang kepulangannya dari Madinah menuju tanah air, melalui Bandara King Abdul Aziz Jeddah International Airport (KAAIA) Jeddah.

Selama berada di Makkah, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan layanan akomodasi bagi jemaah haji sebanyak yang diperlukan, type Hotel dan type apartemen yang dilengkapi mizanine dan lobby yang memadai. Wilayah dan jarak dikonsentrasikan pada wilayah tertentu dengan jarak terjauh maksimal 4.000 meter dari Masjidil Haram, meliputi wilayah:

• Mahbas Jin • Aziziyah Janubiyah • Aziziyah Syimaliyah • Syisyah • Raudah • Ma’abdah • Rei Zakhir • Jumaizah • Jarwal • Syari mansyur • Misfalah • Bakhutmah • Nakkasah.

(42)

Syisyah Aziziah Mahbas Jin Jarwal Misfalah Raudhah Masjidil Haram

Peta Pemondokan Jemaah Haji di Makkah

(43)

Pemondokan jemah haji di Makkah dibagi menjadi 9 Sektor dan 1 Sektor Khusus. Pada setiap Sektor terdapat layanan umum, bimbingan ibadah haji dan kesehatan. Sektor Khusus ditempatkan di sekitar Masjidil Haram Makkah, untuk melayani jemaaah haji secara langsung ketika jemaah haji melaksanakan ibadah.

Pada kurun 3 tahun terakhir ini jumlah gedung-gedung pada jarak 2000 meter dari Masjidil Haram sangat terbatas, akibat adanya pembongkaran gedung-gedung di sekitar Masjidil Haram yang selama ini ditempati jemaah haji Indonesia. Jumlah gedung pada jarak 2.000 meter dari Masjidil Haram semakin terbatas dengan harga sewa jauh melebihi plafond biaya jemaah haji Indonesia.

Persaingan tidak dapat dihindari, negara-negara lain melakukan penyediaan akomodasi jemaah haji dengan harga tawaran lebih tinggi, sehingga beberapa akomodasi yang biasa disewa oleh Indonesia telah tersewa negara lain.

Seringkali terjadi perubahan peraturan oleh Pemerintah Arab Saudi yang berakibat pada perbedaan ukuran space kamar perjamaah antara taklimatul hajj dengan data tasrih, tasrif dari e-hajj yang mulai diberlakukan sejak tahun 2014, dengan hasil tamtir Tim Akomodasi

Pelayanan akomodasi jemaah haji di Madinah dikonsentrasikan pada wilayah markaziah dengan jarak terjauh 650 meter dari batas akhir perluasan Masjid Nabawi. Ada tiga cara Penyediaan akomodasi di Madinah: 1) sistem sewa layanan kepada majmuah 2) sistem sewa semi musim dan 3) sistem sewa satu musim.

Layanan kepada jemaah haji dibentuk pelayanan Sektor sebanyak 4 (empat) Sektor layanan, yaitu : Sektor khusus, Sektor Terminal Hijrah, Sektor Bir Ali dan Sektor Bandara Amir Madinah.

Markaziah

Syimaliah

Makam

Al-Baqi

Markaziah

Gharbiah

MASJID NABAWI

Markaziah

Janubiah

Peta Pemondokan Jemaah Haji di Madinah

(44)

Dalam 2 tahun terakhir ini di Madinah pada wilayah Markaziyah terdapat banyak hotel yang dirobohkan terkait dengan peerluasan Masjid Nabawi. Sewa dengan sistem layanan memberikan celah kepada majmuah untuk mengigkari perjanjian (wan prestasi). Sewa sistem layanan, dan dengan berlakunya sistem e-hajj Misi Haji kesulitan mengendalikan penempatan jemaah haji. Sewa pemondokan di Madinah harus menggunakan sistem sewa musim atau sewa semi musim, agar ada kepastian penempatan jemaah haji.

4) Pelayanan Akomodasi / Hotel Transito Jeddah

Kepulangan jemaah haji gelombang II, dari Madinah menuju Tanah Air, yang melalui Bandara King Abdul Aiz International Airport (KAAIA) Jeddah ditempatkan (menginap) di hotel transit selama kurang lebih 24 jam.

Pelayanan transit di Jeddah dilaksanakan dengan sistem sewa layanan kepada hotel yang memenuhi syarat dengan paket layanan meliputi : akomodasi, konsumsi (3 kali makan), city tour dan transportasi ke Airport.

5) Pelayanan Katering

Pelayanan konsumsi yang diberikan kepada jemaah dan petugas haji Indonesia di Arab Saudi meliputi pelayanan konsumsi di Jeddah, Madinah, Makkah, Arafah, Muzdalifah dan Mina. Kualitas makanan yang diberikan sudah memenuhi standar gizi, menu, kesehatan, kebersihan dan keamanan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Agama nomor 6 Tahun 2014 tentang Penyediaan konsumsi Jemaah di Arab Saudi dilaksanakan dengan prinsip efektif, efisien, transparan dan akuntabel yang dilakukan secara selektif kepada perusahaan katering yang akan menjadi penyedia konsumsi bagi jemaah haji Indonesia dengan memperhitungkan jumlah Jemaah dan petugas haji Indonesia.

Seleksi perusahaan katering penyedia konsumsi dilakukan oleh Tim yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Tim Penyediaan Konsumsi Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi terdiri dari personil Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Kementerian Kesehatan.

a) Pelayanan Katering di Jeddah

Pada saat kedatangan dan pemulangan di Bandara Jeddah, jemaah haji memperoleh makanan masing-masing 1 boks konsumsi. Pelayanan katering di Bandara KAAIA Jeddah dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan.

Pendistribusian konsumsi kepada jemaah haji dilakukan di Bandara KAAIA Jeddah pada fase pertama (kedatangan) diberikan pada saat jemaah haji berada di dalam Bus sebelum keberangkatan menuju Madinah (gelombang I) dan ke Mekkah (Gelombang II). Sedangkan pada fase kedua (pemulangan), pendistribusian konsumsi dilakukan di area peristirahatan bandara

(45)

KAAIA Jeddah, sebelum jemaah haji diberangkatkan menuju Tanah Air. dengan menu sebagai berikut.

No Menu Makanan Berat

1. Nasi Putih 200 gram

2. Lauk Hewani 100 gram

3. Lauk Lainnya 60 gram

4. Sayuran 80 gram

5. Sambel Sachet 1 sachet

6. Buah 1 Jenis

7. Air mineral 330 ml 2 botol

Ketentuan pemberian kosumsi yang diberlakukan di Bandara KAAIA Jeddah sangat ketat, dan biaya sewa dapur di Bandara pun sangat tinggi melampaui plafond anggaran rata-rata yang tersedia, sehingga perlu perhatian dan diantisipasi dengan baik. Sementara itu tempat penginapan petugas katering di Bandara tidak tersedia, sehingga memerlukan transportasi yang cepat dari tempat pemondokan Petugas Katering ke Bandara.

b) Pelayanan Katering Madinah

Pelayanan konsumsi di Madinah dilaksanakan oleh minimal 10 Perusahaan Katering, bagi perusahaan yang melakukan pelanggaran, diberikan sanksi pemutusan kontrak, sebagaimana dicantumkan dalam Surat Perjanjian Kontrak dan tidak diperbolehkan lagi mengikuti seleksi untuk melayani konsumsi jemaah haji pada masa gelombang II pada tahun berjalan.

Selama berada di Madinah, pada saat kedatangan, jemaah diberikan makanan “Selamat Datang” dan pada saat meninggalkan kota Madinah diberikan makanan “Selamat Jalan”. Konsumsi di Madinah didistribusikan setiap hari sebanyak 2 kali, yakni pada waktu makan siang dan malam. Konsumsi dibagikan kepada jemaah haji di pemondokan, dengan jumlah keseluruhan sebanyak 19 kali makan. Penyediaan konsumsi termasuk paket kelengkapan minuman dan snack berat.

Untuk mengantisipasi terjadi keterlambatan distribusi konsumsi yang disebabkan antara lain oleh kesulitan mendapatkan bahan baku dari Indonesia, seperti sayur mayur, lauk pauk, bumbu, dan beras serta kurangnya jumlah petugas pengawas katering, rasio petugas dibanding jumlah rumah yang selama ini sebesar 1:79 rumah perlu ditingkatkan.

c) Pelayanan Katering di Makkah

Mulai Tahun 2015 selama di Makkah Jemaah haji mendapatkan pelayanan katering (makan siang) sebanyak 15 kali. Katering disajikan dalam bentuk boks dengan menu dan citarasa Indonesia. Pelayanan catering dilakukan pada 7 hari ( H-7) sebelum wukuf di Arafah dan 8 hari (H+8) setelah wukuf di Arafah.

Penyedia katering dilakukan oleh perusahaan katering yang di tunjuk di Makkah dengan

(46)

prosedur penunjukan sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam pengadaan barang/jasa Pemerintah.

d) Pelayanan Katering di Arafah, Muzdalifah, dan Mina

Selama di Armina Jemaah haji mendapatkan pelayanan konsumsi sebanyak 15 kali makan sebagai berikut :

a. Di Arafah sebanyak 4 kali makan dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah malam.

b. Di Muzdalifah sebanyak 1 kali (snack berat) dibagikan di Arafah pada saat menjelang keberangkatan menuju Muzdalifah.

c. Di Mina sebanyak 11 kali makan.

Katering di Armina disajikan dalam Boks. Selain itu jemaah haji mendapatkan satu paket kelengkapan minumandan jus buah setiap makan siang.

e) Pelayanan Katering Hotel Transito

Jemaah haji dari yang kembali ke Tanah Air melalui Bandara KAAIA Jeddah singgah di hotel transito selama 24 Jam dan diberikan layanan konsumsi sebanyak 3 (tiga) kali makan dalam kemasan Boks. Pelayanan konsumsi ini merupakan bagian kontrak sewa hotel dan termasuk dalam bagian pelayanan dari pihak hotel.

(47)

6) Pelayanan Transportasi Darat di Arab Saudi

Sesuai dengan peraturan Pemerintah Arab Saudi bahwa jemaah haji yang menempati pemondokan pada wilayah dengan jarak 2000 meter atau lebih, negara pengirim wajib menyediakan transportasi shalawat dari pemondokan ke Masjidil Haram pulang pergi.

Pemerintah Indonesia menjaga kualitas layanan transportasi antar Kota Perhajian dengan rute Madinah-Makkah, Madinah-Jeddah, Makkah-Jeddah dan Makkah-Madinah yang telah diizinkan oleh Pemerintah Arab Saudi melalui kontrak dengan perusahaan penyedia transportasi darat yang berada di bawah naungan Naqobah Ammah Lissayyarat, sesuai dengan rute yang diizinkan oleh Pemerintah Arab Saudi

Penyediaan transportasi shawalat dan peningkatan pelayanan Transprotasi antar Kota Perhajian bagi jemaah haji dilakukan oleh Tim yang dibentuk berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Tim terdiri dari unsur Kementeriaan Agama dan Kementerian Perhubungan. Dalam penyediaan transportasi, Tim melakukan tahapan penyediaan dengan memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, dan kenyamanan jemaah berserta barang bawaannya.

Pelaksanaan penyediaan transportasi berpedoman pada Keputusan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, sebagai turunan dari Peraturan Menteri Agama. Pelayanan tranportasi shalawat dilaksanakan selama 24 jam, dari dan ke Terminal Bus Al Ghaza, Bab Ali, Kudai dan Bab Malik.

Kendala yang mungkin terjadi di lapangan, terkait dengan keadaan dan permasalahan di Arab Saudi, yang dapat menghambat peningkatan kualitas transport darat, seperti bus yang diberikan oleh naqabah tidak berdasarkan jumlah rombongan, tetapi berdasarkan jumlah jemaah pada Kloter dibagi kapasitas maksimal bus, sehingga terjadi penggabungan rombongan dan jemaah tidak nyaman, masih terdapat pengemudi yang belum berpengalaman dan tidak disiplin dan kurangnya jumlah petugas akibat dari banyaknya jumlah rute dan halte serta tersebarnya wilayah pemondokan, diantisipasi secara cermat oleh Tim Transportasi yang dibentuk.

(48)

d. Pengelolaan Dana Haji

Pengelolaan keuangan haji merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan ibadah haji sehingga wajib menyesuaikan dengan asas yang melatarbelakanginya yaitu haji sebagai rukun Islam ke lima. Oleh karenanya pengelolaan keuangan haji juga secara otomatis menganut sistem ekonomi umat Islam atau dengan menggunakan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan Islam. Prinsip atau asas dalam keuangan Islam yang diterapkan dalam pengelolaan keuangan haji yang paling utama adalah bahwa semua transaksi tidak didasarkan pada praktik riba. Upaya untuk mendukung terlaksananya prinsip dimaksud adalah

Pelayanan Transportasi Shalawat Jemaah Haji di Makkah

Rute Pelayanan Transportasi Shalawat Jemaah Haji di Makkah

(49)

dengan pola pengelolaan keuangan haji dengan prinsip bagi hasil melalui industri keuangan syariah.

Pengelolaan keuangan haji yang sesuai dengan prinsip syariah tersebut sejalan dengan semangat UU nomor 13 tahun 2008 tentang penyelengggaraan ibadah haji, khususnya pasal 22 ayat (1), dimana BPIH disetorkan ke rekening Menteri melalui bank syariah dan/atau bank umum nasional yang ditunjuk oleh Menteri. Pengertian bank umum nasional sesuai penjelasan atas pasal 22 ayat (1) dimaksud yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UU nomor 13 tahun 2008 adalah bank umum yang memiliki layanan yang bersifat nasional dan memiliki layanan syariah.

1) Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji

Pada pertengahan tahun 2013 telah dilaksanakan proses seleksi untuk Bank Penerima Setoran (BPS) BPIH. Salah satu kriteria untuk menjadi BPS BPIH tersebut adalah bahwa BPS tersebut harus Bank Syariah atau Bank Umum Nasional yang mempunyai layanan syariah. Proses seleksi tersebut menghasilkan 17 BPS BPIH yang memenuhi kriteria antara lain berbentuk Perseroan Terbatas, mempunyai program penjaminan dari LPS, mempunyai permodalan yang cukup serta tingkat kesehatan yang baik. Berikut daftar ke 17 BPS BPIH dimaksud:

1. Bank Muamalat Indonesia 2. Bank Syariah Mandiri 3. BNI Syariah

4. Bank Mega Syariah 5. BRI Syariah 6. BTN Syariah 7. Panin Bank Syariah 8. CIMB NIAGA Syariah 9. Permata Bank Syariah 10. Bank DKI Syariah 11. Bank Nagari Syariah 12. Bank Sumut Syariah 13. Bank Riau Syariah 14. Bank Jateng Syariah 15. Bank Aceh Syariah

16. Bank Sumsel Babel Syariah 17. Bank Jatim Syariah

(50)

Dalam rangka perluasan jangkauan pelayanan ibadah haji bagi daerah yang belum ada perbankan syariah maka diberi kesempatan kepada bank BRI, BNI dan Mandiri sebagai BPS BPIH Transito. BPS BPIH Transito diwajibkan untuk mentransfer dana yang telah diterimanya kepada bank syariah dengan ketentuan BRI ke BRI Syariah, BNI ke BNI Syariah, dan Mandiri ke BSM. Proses pelimpahan dana dilaksanakan setiap hari Jumat dan jika hari Jumat merupakan hari libur maka transfer dilaksanakan pada hari kerja berikutnya.

Terhadap BPS BPIH yang tidak lolos seleksi tahun 2013 data dan dana calon jemaah hajinya dipindahkan ke bank syariah. Adapun bank syariah yang menerima pelimpahan dana adalah, sebagai berikut:

1. Bank BRI Syariah memperoleh pelimpahan dana dari Bank BRI;

2. Bank Syariah Mandiri memperoleh pelimpahan dana dari Bank Mandiri, Bank Kalsel, Bank Kaltim dan Bank NTB;

3. Bank BNI Syariah memperoleh pelimpahan dana dari Bank BNI, Bank DIY, Bank Jabar dan BJB Syariah;

4. Bank Muamalat memperoleh pelimpahan dan dari Bank Sulselbar dan Bank Sultra;

5. Bank Mega Syariah memperoleh pelimpahan dana dari Bank Bukopin.

Proses pemindahan data dan dana dimaksud telah dilaksanakan pada tahun 2014. Selanjutnya untuk proses pelunasan BPIH tahun 1436H/2015M dan seterusnya, akan dilakukan semuanya pada 17 BPS BPIH tersebut.

2) Pengelolaan Keuangan Haji

Dorongan publik untuk terus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan haji, mendorong Kementerian Agama (Kemenag) untuk memisahkan pengelolaan keuangan haji dari tugas dan fungsi Kemenag. Dengan terus meningkatnya daftar tunggu Jemaah berdampak pada makin meningkatnya akumulasi dana haji. Sampai dengan akhir tahun 2014, diperkirakan dana haji akan terkumpul sekitar 73 trilyun rupiah.

Pengelolaan dana yang besar tersebut membutuhkan dasar hukum yang kuat serta dilaksanakan oleh sumber daya yang profesional. Alhamdulillah, sejak tanggal 17 Oktober 2014, Pemerintah telah mempunyai undang-undang yang mengatur pengelolaan keuangan haji, yaitu UU nomor 34 tahun 2014. Dengan terbitnya UU tersebut maka nantinya pengelolaan keuangan haji yang dilakukan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), yang merupakan badan hukum publik yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden melalui Menteri Agama. Dengan telah dikelolanya keuangan haji oleh BPKH, maka diharapkan adanya peningkatan nilai manfaat keuangan haji guna mendukung penyelenggaraan ibadah haji yang lebih berkualitas melalui

(51)

pengelolaan keuangan haji yang efektif, efisien, transparan, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

3) Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH)

BPIH terdiri dari dua komponen biaya yaitu direct cost dan indirect costs. Direct cost merupakan komponen biaya yang harus dibayar oleh calon jemaah haji sedangkan indirect cost merupakan komponen biaya yang sumber pembiyaannya bersumber dari nilai optimalisasi (nilai manfaat) dari setoran awal calon jemaah haji.

Akumulasi Dana Haji (Setoran Awal+Nilai Manfaat) Per Des 2014 & Estimasi s.d. Tahun 2020 (Rp Trilyun)

(52)

Rancangan komponen BPIH ditetapkan pada Rapat Kerja Menteri Agama dengan Komisi VIII DPR RI. Rancangan BPIH yang telah disetujui DPR kemudian diusulkan kepada Presiden untuk ditetapkan menjadi besaran BPIH melalui Peraturan Presiden. BPIH ditetapkan berdasarkan US Dollar dan atau sesuai dengan kebijakan Pemerintah Indonesia yang berasnya berbeda antara masing-masing embarkasi.

Embarkasi haji yang ada sampai dengan tahun 2015 sebagai berikut :

No. Embarkasi Mencakup Provinsi/Kab/Kota

1. Aceh Aceh

2. Medan Sumatera Utara

3. Batam Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat,

Rapat Dengar Pendapat dengan DPR-RI untuk menetapkan Besaran BPIH

(53)

Jambi (Kab. Tanjung Jabung Barat, Kota Jambi, Muaro Jambi, Batang Hari, dan Tanjung Jabung Timur)

4. Padang Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi (Kab.

Merangin, Kerinci, Sorolangun, Bungo, danTebo) 5. Palembang Sumatera Selatan dan Bangka Belitung

6. Jakarta DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Lampung

7. Solo Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta,

8. Surabaya Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur 9. Banjarmasin Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah 10. Balikpapan Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan

Sulawesi Utara

11. Makassar Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat

12. Lombok Nusa Tenggara Barat

Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) bagi jemaah haji khusus ditetapkan minimal sebesar USD 8.000 yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Agama.

Setiap jemaah haji melakukan pembayaran BPIH reguler dan BPIH Khusus dengan mata uang dollar AS atau mata uang rupiah sesuai kurs jual transaksi Bank Indonesia yang berlaku pada hari dan tanggal pembayaran/pelunasan BPIH

4) Rasionalisasi BPIH

Untuk menentukan besaran BPIH harus disetujuai oleh DPR RI, dengn pembahasan bersama komisi VIII DPR Rl. Pembahasan besaran BPIH lebih awal akan memberikan waktu yang cukup bagi calon jemaah haji untuk melakukan pelunasan BPIH, dan persiapan operasional dapat dilakukan secara lebih dini.

Keseluruhan komponen biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) sampai dengan tahun 2006 dibebankan langsung kepada jemaah haji (Direct Cost). Namun sejalan dengan peningkatan kualitas pengelolaan keuangan yang semakin baik, dana haji yang semula ditempatkan dalam giro, maka untuk mengoptimalkan nilai manfaatnya ditempatkan di rekening deposito dan Surat Berharga Syariah Negara/Sukuk.

(54)

Dengan meningkatnya hasil optimalisasi setoran awal BPIH, diharapkan komponen BPIH yang dibebankan langsung kepada Jemaah haji (Direct Cost) menjadi semakin menurun karena adanya pembiayaan yang bebankan dari nilai manfaat setoran awal BPIH (Indirect Cost).

Sejak musim haji tahun 1435H/2014M jemaah haji tidak lagi membayar biaya pemondokan di Madinah. Pembiayaan sepenuhnya dari dana optimalisasi pengelolaan setoran awal BPIH atas persetujusn DPR RI. mengingat hasil optimalisasi yang berasal dari dana setoran awal semakin besar sebagai komponen Indirect Cost BPIH.

5) Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan Haji

Dalam rangka reformasi keuangan haji, dari tahun 2011 telah diterbitkan beberapa peraturan yaitu: pembakuan komponen direct cost dan indirect cost BPIH, penetapan pedoman pengelolaan BPIH, dan kriteria penetapan Bank Penerima Setoran (BPS) dan bank koordinator. Di samping itu, untuk memberikan rasa aman terhadap dana setoran awal jemaah haji dan memberikan nilai manfaat yang optimal, dana ditempatkan pada Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)/Sukuk. Pertanggungjawaban keuangan BPIH pada tahun buku 2004 dan 2005 disusun menggunakan pola single entry dengan mengadopsi pedoman pertanggungjawaban APBN. Sejak tahun buku 2006-2010 menggunakan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Sejak tahun buku 2011, untuk meningkatkan akuntabilitas keuangan BPIH, Kementerian Agama telah melakukan beberapa langkah, yaitu rekrutmen tenaga akuntan, menerbitkan Peraturan Menteri Agama Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji dengan mengggunakan referensi utama Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, sosialisasi, dan pelatihan akuntansi keuangan.

6) Akuntabilitas Dana Abadi Umat (DAU)

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji (Pasal 1 ayat 17) menyatakan bahwa DAU adalah sejumlah dana yang diperoleh dari sisa biaya operasional penyelenggaraan ibadah haji serta sumber lain yang halal dan tidak mengikat. Sejak tahun 2009, untuk meningkatkan jumlah DAU, telah dilakukan pengembangan dana melalui deposito, pembelian Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)/Sukuk, dan Penyertaan Saham pada Bank Muamalat Indonesia.

Dengan terbitnya undang-undang tersebut, Laporan Keuangan DAU diaudit oleh BPK RI dan memperoleh Opini Wajar Dengan Pengecualian. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan DAU, yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2008, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.

(55)

Pada tahun 2015 Kementerian Agama berencana menyiapkan regulasi yang terkait dengan pembentukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang diamanatkan dalam UU Pengelolaan Keuangan Haji. Pembentukan BPKH ditargetkan selesai sekitar bulan Juni –Juli 2015. Pada September 2015 BPKH diharapkan sudah berdiri dan siap beroperasi. BPKH memiliki posisi yang strategis karena merupakan badan independen penampung setoran awal BPIH yang bertanggungjawab ke Presiden melalui Menteri Agama.

Dengan didukung proses evaluasi secara berkesinambungan, kualitas penyeleng-garaan haji cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, seperti penyempurnaan berbagai kebijakan, pengembangan sistem manajemen mutu, penyediaan fasilitas pendukung di Arab Saudi, peningkatan pemahaman pelaksanaan ibadah haji kepada calon jemaah, peningkatan profesionalisme petugas haji, penggunaan sistem

waiting list untuk menjamin kepastian keberangkatan jemaah, mempersingkat jarak tempuh

perjalanan melalui penerbangan Jakarta-Madinah, meningkatkan kuota haji, dan pengurangan biaya penyelenggaraan ibadah haji.

Sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, sejak musim haji tahun 2006 biaya tidak langsung penyelenggaraan haji yang semula ditanggung jemaah dialihkan menjadi tanggung jawab pemerintah. Di samping itu, pemerintah terus mengupayakan peningkatan mutu pelayanan bimbingan ibadah haji melalui antara lain optimalisasi fasilitas dan pembinaan kepada perorangan maupun kelompok bimbingan ibadah haji.

Namun demikian, penyelenggaraan ibadah haji dan umrah masih menyisakan sejumlah kendala antara lain pemondokan dan transportasi di Makkah yang belum memadai, serta penyediaan katering di Armina belum sesuai menu cita rasa Indonesia menjadi fokus perhatian pemerintah dalam lima tahun ke depan. Untuk itu pula, Rencana Strategis Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah pada tahun 2015-2019 disusun dengan memperhatikan pembangunan yang berkesinambungan, permasalahan yang dihadapi dan berbagai isu strategis yang menjadi tantangan dalam penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

2. Aspirasi masyarakat terkait kebutuhan, layanan dan regulasi penyelenggaraan haji dan umrah.

Fakta di lapangan menunjukkan, Kementerian Agama secara serius sering dihadapkan dengan persoalan keberagaman umat. Lembaga dengan membawa nama agama diharapkan

(56)

menjadi garda terdepan dalam memberi contoh kebaikan. Dengan demikian, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah sebagai bagian dari institusi Kementerian Agama harus menetapkan berbagai fokus dan prioritas program dengan mengacu pada perbaikan kinerja penyelenggaraan ibadah haji. Karena penyelenggaraan haji menjadi tugas nasional yang berkaitan dengan nama baik dan martabat bangsa, maka semua unsur terkait diharapkan berperan aktif dalam menyukseskan tugas tersebut.

Berkaitan dengan itu, Undang-undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji mengamanatkan pentingnya penyempurnaan sistem dan manajemen penyelenggaraan haji yang berpihak pada kepentingan jemaah harus dengan menetapkan tujuan dan sasaran peningkatan kinerja penyelenggaraan ibadah haji dan pembinaan umrah. Dengan demikian, pelaksanaan tugas menjadi semakin fokus dengan didukung sarana dan sumber daya yang memadai.

Tidak kalah pentingnya, berkenaan pengelolaan dana efisiensi penyelenggaraan ibadah haji yang ditampung pemerintah melalui Dana Abadi Umat (DAU) yang saat ini masih menghadapi kendala regulasi. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji juga belum mengakomodasi mekanisme pengelolaan dana setoran awal jemaah haji yang masuk dalam daftar tunggu (waiting list). Oleh karena itu, penting untuk segera dilakukan revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tersebut. Berbagai langkah pembenahan ke depan juga diarahkan pada peningkatan profesionalisme pelayanan dengan mengacu pada ISO 9001:2008, peningkatan efisiensi, pencegahan korupsi, peningkatan transparansi, dan akuntabilitas penyelenggaraan haji secara keseluruhan.

Sejak tahun 2004 Kementerian Agama mulai menerapkan pendaftaran haji dengan menggunakan setoran awal. Optimalisasi setoran awal hanya berbentuk giro karena jumlah pendaftar masih sedikit, sehingga jumlah perolehan nilai manfaat masih sedikit dan digunakan untuk biaya operasional penyelenggaran di Arab Saudi. Sejak tahun 2006 mengalami peningkatan jumlah pendaftrar haji, sehingga dana setoran awal BPIH semakin besar dan penempatan dana selain di rekening giro juga di rekening deposito agar mendapatkan nilai manfaat lebih besar. Komponen biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) diklasifikasikan dalam dua bentuk, yaitu Direct Cost (komponen BPIH yang dibebankan langsung kepada jemaah haji) dan Indirect Cost (komponen BPIH yang dibebankan kepada nilai manfaat dari setoran awal BPIH). Sejak tahun 2007, dengan meningkatnya setoran awal dan nilai manfaat,

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in