• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KAPASITAS OTONOMI SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENINGKATAN KAPASITAS OTONOMI SEKOLAH"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1 UNIT VIII

PENINGKATAN KAPASITAS OTONOMI SEKOLAH

PENDAHULUAN

Pada era otonomi daerah ,berbagai tantangan untuk pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan mengharuskan adanya reorintasi dan perbaikan sistem manajemem penyelenggaran pendidikan .untuk itu,pelaksanaan konsepsi pendidikan school based management dan community dan community baseded education merupakan keharusann yang tidak bias di tawar-tawar lagi

Manajemen berbasis sekolah (school based management) atau yang sering disebut MBS sebagai konsep dasar majemen pendidikan masa kini,merupakan konsep manajemen sekolah yang memberikan kewenangan,kepercayaan dan tanggung jawab yang luas bagi sekolah berdasarkan propesionalime untuk menata organisasi sekolah,mencari dan mengembangkan dan mendayagunakan sumber daya pendidikan yang tersedia,sserta memperbaiki kinerja sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan sekolah yang bersangkutan

Sementara itu, commuty based education merupakan konsepsi yang memberikan keleluasan bagi masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitarnya sekolah merupakan swasta misalnya,merupakan salah satu bentuk community based education. namun konsepsi ini bukan hanya sekedar mendirikan dan menyelenggarakan sekolah swasta, tetapi lebih jau dari itu.community based education memberikan kesepatan pada setiap anggota masyarakat untuk berpatisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan,pemantauan, dan evaluasi lanyanan pendidikan dengan demikian, community based education selain memberikan memiliki (sense of belonging) bagi anggota masyarakat terhadap sekolah yang di binanya, juga menciptakan iklim keterbukaan dan memberikan kontrol bagi sekolah dalam mengelola sumber daya dan mutu pendidikan yang di inginkan

(2)

2

Untuk melaksanakan otonomi daerah, school based management dan community based education, pemerintah sudah melaksanakan serangkaian kebijakan untuk mendukung pelaksaan otonomi di bidang pendidikan ini.sejak tahun1998,selur kegitan proyek pembangunan di arahkan untuk mendukung capacity building daerah kabuten/kota dan bermuara langsung pada kegiatan pendidikan di sekolahsumber daya pendidikan di arahkan untuk deapat di gunakan ;langsung oleh sekolah dalam bentuk grat (imbal swadaya,dana bantuan operasional (DBO), bantuan operasional manajemen mutu (BOMN), bantuan operasional sekolah ( BOS) pembangunan ruang kelas baru (RKB) perpustakaan, laboratorium dalam upaya memberikan kepercayaan pada sekolah untuk meningkatkan kinerjanya.

Denggan pemberlakukan UU No 22 Tahu 1999 tentang pemerintah Daerah (kini di sempurnakan menjadi UU No2000,32 T ahun 2004) dan di terapkanya PP Nomor 25 Tahun 2000 prinsip sentralisi telah bergeser kea rah desentralisasi dan otonomi dalam kebijakan perencanan dan administrasi pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk melakukan penganggatan atau penghentian tenga kependidikan,mengatur gaji atau tunjangan kesejahteraan,dan pengembangan propesionalnya.dengan sejumlah kewenangan yang di berikan kepada pemerintah tersebut,memang ada kekhawatiran jangan-jangan otonomi dapat di tafsirkan sebagai kesempatan berbuat semaunya sendiri,sesuka hati bahkan cenderung sangat egosentrisme.kecenderungan seperti ini sudah mulai terlihat di daerah misalnya,dinas pendidikan kabupaten/kota atau pemerintah kabupaten/kota umumnya tidak boleh lagi diatur oleh dinas pendidikanprovrinsi sehinga berbagai kebijakan yang dilakukan oleh dinas pendidkan provinsi sangatsangat sulit untuk dapat di terima oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.

Meskipun deemikian ada pemahaman positif yang dapat di tempatkaan dalam konteks masyrakatmenyangkut kebytuhan sosial dan segala hal yang baik bagi masyarakat tertentu mereka sendirilah yang lebih mengetahui.dengan pelaksanaan otonomi daerah sejumlah permasalahan masi menjadi pertanyaan misalnya seperangkat konsep dan aturan yang menjamin kewenangan serta pelimpahan tanggung jawab pengelolaan akankah serta merata mewujutkan ideailisme otonomi,apakah perubahan model pengelolaan pendidikan dari yang semula sentralistik ke desentralistik yang berpusat di

(3)

3

kabupeten/kota dan pada giliranya kabupaten/kotaakan mendesentralisasikan lagi kewenangan itu ketingkat paling bawah ataau sekolah melalui MBS? jawabanyapun masih terasa mengambang apalagi kalau sekolah-sekolah masih terkungkung dalam pola pikir otoritas pendidikan atau birokrat pendidikan.sangat sulit untuk melihat oreintasi otonomi atau desentralisasi dapat terwujud secara nyata.

Titik simpul yang mesti di perhatikan dalam menggulirkan otonomi dan desentralisasi dalam pendidikan adalah kepala sekolah dan guru. Pada hakikatya kepala sekolah dengan segala fungsi dan tugasnya mempunyai otoritas kependidikan di institusi yang di pimpinya.selama ini makna tersebut tergadaikan kepada pihak-pihak yang menjadi atasanya.bahkan banyak kepala sekolah yang menempatkan diri sebagai perpajangan tangan pengawas atau sebagai atasan yang berstatus sebagai birokrat dinas pendidikan .penyeleggaraan sekolah yang birokratik sentries dan berorietasi pada faktor-faktor imput kurikulum,guru,siswa,buku,fasilitas belajar semakin mendorong kepala sekolah melupakan proses pendidikan.

A. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

School based management atau MBS adalah system manajemen yang bertumpu pada situasi dan kondisi serta kebutuhan sekolah setempat.sekolah di harapkan dapat mengenali seluruh infrastruktur yang berada di sekolah,seperti guru,peserta didik ,sarana prasarana ,financial ,kurikulum,system imformasi dan komponen-komponen tersebut merupakan usur-unsur manajemen yang harus di fungsikan secara optimal dalam arti peru di rencanakan,diorganisasi,digerakan,dikendalikan,dan dikontrol.

Dalam MBS, sekolah diharapkan mengelola kekuatan dan kelemahanya, potensi-potensinya,peluang dan ancaman yang dihadapinya,sebagai dasar dalam menetukan kebijakanya-kebijakanya pendidikan yang akan diambilnya.berdasarkan analisis tersebut,lalu sekolah merumuskan sukses dan merumuskan visi,misi,sasaran,dan menyusun strategi erta menetapkan program-program pengembananya untuk jangka waktu tertentu yang mungkin berada dari sekolah lain.MBS dikembangkan dengan

(4)

4

kesadaran bahwa setiap sekolah memiliki kondisi dan situasi serta kebutuhan yang berbeda-beda.

Reynolds (1997) mendefinisikan Manajemen Berbasis Sekolah yang dia sebut juga sebagai Site-Based Management dengan 3 komponen penting, yaitu:

1. Delegasi kewenangan (otoritas) kepada individu sekolah untuk membuat keputusan mengenai program pendidikan sekolah yang berkaitan dengan personel, pendanaan, dan program;

2. Pengadopsian suatu model pengambilan keputusan bersama pada level sekolah oleh tim manajemen termasuk kepala sekolah, guru, orang tua, dan sewaktu-waktu siswa dan anggota masyarakat lainnya;

3. Suatu pengharapan bahwa Site-Based Management akan memfasilitasi kepemimpinan pada level sekolah dalam hal upaya peningkatan kualitas sekolah. Cheng (1996:44) mengemukakan, melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah berarti tugas pengolahan sekolah diatur sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan sekolah tersebut, dan selanjutnya warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat) memiliki otonomi yang lebih besar dan bertanggung jawab untuk penggunaan sumberdaya dalam rangka memecahkan persoalan dan melakukan aktivitas pendidikan secara efektif.

2. Alasan Dilaksanakannya Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah dilaksanakan dengan pertimbangan dan alasan sebagai berikut:

1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya, sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber?daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.

2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik;

(5)

5

3. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya (tidak sentralistik);

4. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif apabila masyarakat setempat juga ikut mengontrol;

5. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah, menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat;

6. Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan sekolah masing-¬masing kepada p6merintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya. Sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan;

7. bertanggung jawab tentang mutu pendidikan yang sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orangtua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah.

8. Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat.

3. Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen berbasis sekolah(MBS) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangasa dalam penguasaan ilmu dan tehnologi yang di nyatakan dalam GBHN.Hal tersebut di harapkan dapat dijadikan landasan pengembanganpendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan ,baik secara makro,meso,maupun mikro.

MBS,yang di tandaidengan otonomi sekolah dan pelbatan masyarakat merupakan respon pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul dalam masyarakat bertujuan meningkatkan efisiensi,mutu dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi, antara lain, diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumberdaya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh, antara lain, melalui partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah, berlakunya system insentif

(6)

6

serta disensif. Peningkatan pemerataan antara lain di peroleh melalui peningkatan partisifasi masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah.

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah memiliki tujuan sebagai berikut:  Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam

mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia;

 Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama;

 Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, sekolah dan pemerintah tentang mutu sekolah;

 Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah untuk pencapaian mutu pendidikan yang diharapkan.

4. Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah

MBS memberikan kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, disertai seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang memberikan tanggung jawab pengelolaan sumber daya dan pengembangan strategi MBS sesuai dengan kondisi setempat, sekolah dapat lebih meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugas. Keleluasaan dalam mengelola sumber daya dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi, mendorong profesionalismekepala sekolah, dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah dengan diberikannya kesempatan kepada sekolah untuk menyusun kurikulum, guru didorong untuk berinovasi, dengan melakukan eksperinmentasi-eksperimentasi di lingkungan sekolahnya .dengan demikian ,MBS mendorong profesionalisme guru dan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.melalui penyusunan kurikulum elektif,rasa tanggap seko0lah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntunan peserta didik dan masyarakat sekolah.prestasi peserta didik dapat

(7)

7

dimaksimalkan melalui peningkatan partisipasi orang tua,misalnya orang tua dapat mengawasi langsung proses belajar anaknya .

MBS menekankan keterlibatan maksimal berbagai pihak,seperti pada sekolah-sekolah swasta,sehingga menjamin partisipasi staf,orang tua,peserta didik,dan masyarakat yang lebih luas dalam perumusan-perumusan keputusan tentang pendidikan.kesempatan berpartisipasi tersebut dapat meningkatkan komitmen mereka terhadap sekolah.selanjutnya,aspek-aspek tersebut pada akhirnya akan mendukung efektivitas dalam pencapaian tujuan sekola.adanya control dari masyrakat dan monitoring dari pemerintah,pengelola sekolah menjadi lebih akuntabel,trasparan,agaliter,dan demokratis ,serta menghapuskan monopoli dalam pengelolaan pendidikan untuk kepentingan tersebut di perlukankesipan pengelolapada berbagai level untuk melakukan peranya sesuai dengan kewenangan dan dan tanggung jawab.

Secara umum manfaat yang bisa diraih dalam melaksanakan MBS antara lain sebagai berikut:

 Sekolah dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya, karena bisa lebih mengetahui peta kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang mungkin dihadapi.

 Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input dan output pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.  Pengambilan keputusan partisipatif yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan

sekolah karena sekolah lebih tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.

 Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif apabila masyarakat turut serta mengawasi.

 Keterlibatan warga sekolah dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.

 Sekolah bertanggung jawab tentang mutu pendidikan di sekolahnya kepada pemerintah, orang tua, peserta didik dan masyarakat.

(8)

8

 Sekolah dapat merespon aspirasi masyarakat yang berubah dengan pendekatan yang tepat dan cepat.

5. Prinsip Umum Manajemen Berbasis Sekolah

Ada 6 (enam) prinsip umum yang patut menjadi pedoman dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah, yaitu:

1. Memiliki visi, misi, dan strategi ke arah pencapaian mutu pendidikan, khususnya mutu siswa sesuai dengan jenjang sekolah masing-¬masing.

2. Berpijak pada “power sharing” (berbagi kewenangan), yaitu bahwa pengelolaan pendidikan sepatutnya berlandaskan pada keinginan saling mengisi, saling membantu dan menerima dan berbagi kekuasaan/kewenangan sesuai dengan fungsi dan peran masing?masing.

3. Adanya profesionalisme semua bidang. Maksudnya bahwa implementasi MBS menuntut adanya derajat profesionalisme berbagai komponen, baik para praktisi pendidikan, pengelola, dan manajer pendidikan lainnya, termasuk profesionalisme Dewan Sekolah.

4. Melibatkan partisipasi masyarakat yang kuat. Maksudnya bahwa tanggungjawab pelaksanaan pendidikan, bukan hanya dibebankan kepada sekolah (guru dan kepala sekolah saja), tetapi juga menuntut adanya keterlibatan dan tanggung¬jawab semua komponen lapisan masyarakat, termasuk orangtua siswa 5. Menuju kepada terbentuknya Dewan Sekolah. Artinya, dalam implementasi MBS,

idealnya setiap sekolah harus membentuk Dewan Sekolah (DS), sebagai institusi yang akan melaksanakan MBS. Dengan demikian pembentukan Dewan Sekolah merupakan prasyarat implementasi MBS. Pembentukan Dewan Sekolah itu, sebaiknya juga diikuti dengan langkah?langkah nyata, yaitu mengidentifikasi tujuan, manfaat, perencanaan dan pelaksanaan program, serta aspek yang berkaitan dengan Dewan Sekolah sebagai institusi penopang keberhasilan visi dan misi sekolah.

6. Adanya transparansi dan akuntabilitas, yaitu memiliki makna bahwa prinsip MBS harus berpijak pada transparansi atau keterbukaan dalam pengelolaan sekolah,

(9)

9

termasuk di dalamnya masalah fisik dan non fisik. Sedangkan akuntabili¬tas (tanggungjawab) memberi makna bahwa sekolah beserta Dewan Sekolah merupakan institusi terdepan yang paling bertanggungjawab dalam pengelolaan sekolah.

6. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah

Sejalan dengan gagasan desentralisasi pemerintahan, maka dapat dipahami apabila penyelenggaraan pendidikan perlu memperhatikan karakteristik, aspirasi dan kebutuhan masyarakat dimana layanan pendidikan itu dilaksanakan. Pendidikan hendaknya mampu memberikan respon kontekstual sesuai dengan orientasi pembangunan daerah dan aspirasi masyarakat yang dilayaninya. Ini berarti bahwa perumusan kebijakan dan pembuatan keputusan?keputusan pendidikan hendaknya memperhatikan aspirasi yang berkembang di daerah itu. Dengan kata lain upaya untuk mendekatkan stakeholders pendidikan agar akses terhadap perumusan kebijakan dan pembuatan keputusan yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan di sekolah, pihak?pihak yang berkepentingan dengan sekolah itu, seperti orang tua dan masyarakat setempat sepatutnya memiliki akses terhadap perumusan kebijakan dan pembuatan keputusan untuk kepentingan memajukan sekolah.

Gerakan jaminan mutu dan akuntabilitas menempatkan perlindungan atau jaminan bagi customer dari produk dan barang serta layanan jasa yang merugikan. Istilah jaminan mutu (quality assurance) pada awalnya digunakan di lingkungan bisnis dan industri, dengan maksud untuk menumbuhkan budaya peduli mutu. Jaminan mutu perlu dilakukan oleh perusahaan penghasil barang dan penyedia jasa untuk memberikan kepuasan kepada customer pemakainya. Dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan konsep jaminan mutu ini ternyata tidak hanya terbatas di lingkungan bisnis dan industri, tetapi juga dalam bidang penyelenggaraan pendidikan, sejalan dengan munculnya gerakan akuntabilitas publik (Sallis, 1994 dalam laporan Riset Dinas Pendidikan Jawa Barat, 2004)

(10)

10

Dalam lingkungan sistem pendidikan, tuntutan akan jaminan mutu merupakan gejala yang wajar dan sepatutnya, karena penyelenggaraan pendidikan yang bermutu merupakan bagian dari akuntabilitas publik. Setiap komponen/ pihak?pihak yang berkepentingan terhadap pendidikan, baik orang tua, masyarakat, dunia kerja maupun pemerintah, dalam peranan dan kapasitasnya masing?masing memiliki kepentingan terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Dari sudut pandang para pembuat produk dan penyedia jasa (producer, service provider), mutu dipandang sebagai derajat pencapaian spesifikasi rancangan yang telah ditetapkan. Sedangkan dalam pandangan pemakai, mutu diukur dari kinerja produk, yaitu suatu kemampuan produk untuk memuaskan kebutuhannya. Dari sudut pandang lain, yaitu kelompok customer yang rasional, derajat mutu dilihat dari perbandingan kegunaan sebuah produk dengan harga yang harus dibayar oleh pemakai tersebut (Wiyon, 1998 dalam laporan Riset Dinas Pendidikan Jawa Barat, 2004). Semua analisis tersebut pada akhirnya ditujukan untuk memenuhi kepuasan customer. Di sinilah titik temu proses transaksional antara pembuat produk/penyedia jasa dan pemakaiannya, antara kelembagaan pendidikan (sekolah) dengan stakeholders?nya.

Secara umum karakteristik MBS dapat dikelompokkan menjadi lima dimensi, yaitu: 1) kemandirian, 2) transparansi dan akuntabilitas, 3) partisipasi masyarakat, 4) peningkatan kesejahteraan, dan 5) peningkatan kualitas sekolah. Secara rinci hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Kemandirian

Implementasi MBS memungkinkan gagasan dan pemikiran serta sumber daya sekolah yang dapat diolah secara langsung sesuai dengan kebutuhan murid yang dilayani. Apabila memperhatikan core business penyelenggaraan pendidikan di sekolah, maka tujuan utama MBS adalah untuk menjamin mutu pembelajaran anak didik/para siswa yang berpijak pada asas student?driven services.

Asas ini mengandung makna yang sangat mendasar, karena kepentingan dan aspirasi stakeholders (terutama orang tua) adalah terciptanya kondisi dan situasi yang

(11)

11

kondusif dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah untuk kepentingan prestasi hasil belajar dan kualitas pengembangan pribadi putra?putrinya. Implikasinya adalah kinerja kepemimpinan sekolah, mutu mengajar, fasilitas sekolah, program?program sekolah dan layanan lainnya di sekolah haruslah ditujukan pada jaminan terwujudnya layanan pembelajaran yang bermutu dan pengembangan pribadi para siswa sesuai dengan yang dicita?citakan.

Konsekuensi dari orientasi tersebut adalah adanya kewenangan sekolah untuk mengembangkan program?program kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan pengayaan kurikulum dalam berbagai bentuk, misalnya menambah jam mata pelajaran yang ingin ditingkatkan kadar dan mutu pembelajarannya, memperkaya pokok atau subpokok bahasan dalam mata pelajaran tertentu yang dianggap penting dan relevan dengan konteks kebutuhan anak di sekolah dengan memberi perhatian khusus pada pengembangan bakat dan minat para siswa.

Sejalan dengan kewenangan tersebut, sekolah pun memiliki kewenangan untuk menetapkan sumber pelajaran, fasilitas dan alat?alat pelajaran yang diperlukan. Sebagai contoh misalnya, sekolah memiliki kewenangan menetapkan buku?buku sumber atau text?book mata pelajaran mana yang akan dipakai di sekolah itu (yang dijadikan pegangan utama bagi guru dan murid–murid).

b) Transparansi dan Akuntabilitas

Implementasi MBS merupakan implementasi manajemen sekolah yang ditandai dengan team work dan kebersamaan antara penyelenggara dengan stakeholders. Hal tersebut menuntut adanya transparansi dan akuntabilitas yang terukur kepada stakeholders sebagai pihak yang berkepentingan terhadap penyelenggaraan pendidikan. d) Peningkatan Kesejahteraan

Implementasi MBS antara lain ditandai dengan adanya dewan sekolah yang esensinya berbeda dengan BP3 (Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan). Dalam peran dan fungsinya yang berjalan sekarang, kemitraan BP3 terbatas pada aspek?aspek

(12)

12

pemenuhan kebutuhan finansial, sarana prasarana sekolah, dan fasilitas pendidikan. Akan tetapi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kesejahteraan personil sekolah, MBS dapat menjadi saran yang penting melalui pemberdayaan dewan sekolah dan optimalisasi kemandirian yang dimiliki sekolah. Sejauh ini, belum ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa implementasi MBS dapat meningkatkan kesejahteraan personil sekolah. Akan tetapi dengan kemandirian yang dimiliki, sekolah dapat melakukan terobosan?terobosan baru yang berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan personil sekolah.

e) Peningkatan Kualitas Sekolah

Untuk sementara ini, hasil?hasil kajian belum koherensi mengenai hubungan yang berarti antara format MBS dengan peningkatan hasil belajar murid, menurunnya angka putus sekolah, meningkatkan partisipasi sekolah (APK/APM), dan mutu disiplin murid (ERIC Digest, 1995).

Sekalipun demikian, seperti dilaporkan oleh Dury dan Levin (dalam ERIC Digest, 1995) MBS mampu mewujudkan tata kerja yang lebih baik dalam empat hal berikut: 1) Meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan penugasan staf,

2) Meningkatkan profesionalisme guru,

3) Munculnya gagasan? gagasan baru dalam implementasi kurikulum, dan

4) Meningkatkan mutu. partisipasi kondisi?kondisi tersebut dapat dipandang sebagai hasil antara yang sangat potensial bagi peningkatan kinerja dan hasil belajar murid.

Merujuk pada perspektif pemikiran di atas, MBS dipandang akan menciptakan kondisi di mana sekolah mampu menyediakan program¬-programnya yang lebih baik karena pemikiran dan sumber daya sekolah dapat diolah secara langsung sesuai dengan kebutuhan murid yang dilayani. Demikian juga kondisi keterlibatan pihak?pihak yang berkepentingan memungkinkan lahirnya keputusan?keputusan yang lebih baik dalam pelaksanaan manajemen sekolah.

(13)

13 7. Faktor Pendukung Keberhasilan MBS

Implementasi MBS akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sifatnya internal di lingkungan sekolah, ataupun faktor eksternal di luar sekolah. Secara umum beberapa faktor pendukung MBS tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kepemimpinan dan manajemen sekolah yang baik. MBS akan berhasil jika ditopang oleh kemampuan profesional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola sekolah secara efektif dan efisien, serta mampu menciptakan iklim organisasi di sekolah yang kondusif untuk proses belajar mengajar.

2. Kondisi sosial, ekonomi, dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan. Faktor eksternal yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah kondisi tingkat pendidikan orang tua siswa dan masyarakat. Kemampuan dalam membiayai pendidikan, serta tingkat apresiasi dalam mendorong anak untuk terus belajar. 3. Dukungan Pemerintah. Faktor ini sangat menentukan efektivitas implementasi

MBS terutama bagi sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan kontribusi terhadap¬ penyelenggaraan pendidikan. Alokasi dana pemerintah (APBN, APBD) dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan sekolah menjadi penentu keberhasilan.

4. Profesionalisme. Faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan kinerja sekolah. Tanpa profesionalisme Kepala Sekolah, Guru, dan Pengawas akan sulit dicapai PBM yang bermutu tinggi serta prestasi siswa.

B. PELIBATAN MASYARAKAT

Kondisi keterlibatan pihak?pihak yang berkepentingan memungkinkan lahirnya keputusan?keputusan yang lebih baik dalam pengelolaan sekolah. MBS pun diharapkan dapat meningkatkan mutu komunikasi di antara berbagai pihak yang berkepentingan, yang meliputi Kantor Dinas Pendidikan setempat, kepala sekolah, guru?guru, orang tua, anggota masyarakat

Seiring dengan terjadinya perubahan drastis di dalam tata kehidupan bangsa Indonesia maka masyarakat ideal yang di cita-citakan adalah masyarakat sipil,masyarakat

(14)

14

demokratis,masyrakat yang berkualitas,dan masyarakat yang menjunjung tinggi hak asasi manusia.perubahan tata kehidupan ini menuntut perubahan-perubahan besar dalam tata kehidupan manusia termasuk pendidikan.penyelengaraan pendidikan baik pemerintah maupun swasta harus berani mengambil sikapdan wawasan karna mau tidak mau setiap sekolah harus melibatkan masyarakat setempat,terutama orang tua peserta didik dalam pengembangan pendidikanya.sumber-sumber yang ada dalam masyarakat di berdayakan seoptimal mungkin,baik untuk sumber daya manusia maupun untuk sumber dana pendidikan

Hal yang perlu di refleksikan oleh para ongelola lembaga pendidikan khususnya para esekutif(kepala ekolah,guru,tenaga atministrasi,dan tenaga pelaksana) adalah sekitar focus pelayan masyarakat.kalau pada masa orde baru mereka beroreitasi kepada birokrat sebagai alat birokrasi,pada era otonomi daerah ini pelayanan mereka harus kepada stakeholders (masyarakat,orang tua peserta didik,peserta didik ) pertanggung jawabanya lebih kepada masyarakat,khususnya orang tua dan peserta didik.pendekatan yang terus menerus di kembangkan adalah pendekatan partisipatif,dimana masyarakat khususya orang tua peserta didik di beri kesepatan seluas-luasnya untuk ikut urun rembun .masalah pendidikan mereka di beri kesempatan untuk bersama-sama menganalisa seluruh infrastuktur yang ada di sekolah,apa itu menyangkut SDM ,kurikulum,sarana prasarana,financial,sitem informasi ,dan semua yang di anggap masih berkaitan.

Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan keberadaan sekolah agar tetap survive di haraokan peranan orang tua cukup peka terhadap finsancial dalam arti mengenbangkan semangat solidaritas.semangat solidaritas yang semesti di bangun adalah yang berkemampuan diharuskan membantu yang kekurangan ,jangan sampai ada peserta didik yang gagal sekolah yang disebabkan ketidak mampuan orang tua dalam membiayai sekolah anaknya.begitu juga terhadap infrastruktur yang lain,sungguh sangat ideal jika kesadaran orang tua dan masyarakat mempunyai solidaritas sesui dengan kemampuan mereka masing-masing untuk terus menerus menghidupi sekolah dalam bayak aspek,sehinggah sekolah tersebut akan terus eksis

(15)

15 1 .Peranan orang tua dan masyarakat

MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang trampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan system serta menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih untuk kepentingan tersebut,di perlukan partisipasi masyarakat ,dan hal inI merupakan salah satu aspek penting dalam manajemen berbasis sekolah.melalui dewan sekolah (school council), orang tua dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembuatan berbagai keputusan.dengan demikian masyarakat dapat lebih memhami serta mengawasi dan membantu sekolah dalam pengelolaan termasuk kegiatan belajar mengajar.besarnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tersebut ,mungkin dapat menimbulkan rancunya kepentingan antar sekolah ,orang tua dan masyarakat dalam hal ini pemerintah perlu merumskan bentuk partisipasi (pembagian tugas ) etiap unsure secara jelas dan tegas

2. Hubungan sekolah dengan masyarakat

Sekolah merupakan lembaga social yang tidak dapat di pisahkan dengan masyarakat lingkunganya ,sebaliknya masyarakat ttidak dapat dipisahkan dengan sekolah.dikatakan demikian karena keduanya memiliki kepentingan,sekolah merupakan lembaga formal yang di serahi mandate untuk mendidik ,melatih dan membimbing generasi muda bagi perananya di masa depan ,sementara masyarakat merupakan pengguna jasa pendidikan itu .

Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan bentuk komunikasi ekstern yang dilakukan atas dasar kesamaan tanggung jawab dan tujuan masayrakat merupakan suatu kelompok individu –individu yang berusaha menyelengarakanpendidikan atau membantu usaha-usaha pendidikan dalam masyarakat terdapatb lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan, lembaga keagamaan, kepramukan, politik ,social, olahraga,kesenian yang bergerak dalam usaha pendidikan .dalam masyarakat juga terdapat individu-individu atau pribadi-pribadi yang bersimpati terhadap pendidikan di sekolah menghendaki agar peserta didik menjadi manusia pembangunan yang bekualitas sehingga dapat

(16)

16

mengembangkan potensi masyarakat setelah kembali dan hidup bermasyarakat.masyarakat menghendaki tenaga-tenaga yang terampil dan demokratis.individu terampil yang demokratis ini di harapkan datang dari sekolah.karena itu ,antara sekolah dan masyarakat mempunyai kesmaan tujuan .

C. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH SEBAGAI PROSES PEMBERDAYAAN

Pemberdayaan merupakan istilah yang sangat popular dalam era reformasi.jika di kaitkan dengan termilnoogi demokratisasi,pembangkitan ekonomi krakyatan,keadilan dan penegakan hokum serta partisipasi poltik.pemberdayaan dimaksud untuk mengkat harkat dan martaabat masyarakat dalam dalam perekonomianya,hak-haknya dan memiliki posisi yang seimbang. dalam MBS, memberdayakandimaksud untuk memperbaiki kinerja sekolah agar dapat mencapai tujuan secara optimal,efektik dan efisien .pada sisi lain untuk memberdayakan sekolah harus pula di tempuh upaya-upaya pembedayaan peserta didik dan masyarakat setempat, disamping merubah paradikma pendidikn yang dimiliki para guru dan kepala sekolah perlu lebih dahulu tahu ,memahami akan hakikat,manfaat ,dan proses pemberdayaan peserta didik.pada dasarnya pemberdayaan tejadi melalui beberapa tahap

1. Masyarakat mengembangkan sebuh kesadaran awal bahwa mereka dapat melakukan tindakan untuk meningkatkan kehidupannya dan memperoleh seperangkat keterampilan agar mampu bekerja lebnih baik

2. Mereka akn mengalami pengurangan perasan ketidak mampuan dan mengalli peningkatan kepercayaan diri

3. Seiring dengan tumbuhya keterampilan dan kepercayaan diri,masyarakat bekerja sama untuk berlatih lebih banyak mengambil keputusan dan memilih sumber daya yang akan berdampak pada keshjahtran mereka

a. Pemberdayaan Sekolah

Masih menyangkut konsekkuesi dari pelaksaan otonomi pendidikan ,setiap unit sekolah harus berusaha keras untuk dapat melanyani tuntutan masyarakat pemakai jasa pendidikan perlu di ingatkan kembali bahwa focus pelanyanan atau pengabdian sekolah

(17)

17

bukan untuk birokrasi ,melainkan untuk masyarakat yang dalamnya khususnys orang tua peserta didik .ingatkan juga bahwa sekolah hanya lembaga pembantu pendidikan keluarga.

Pendidikan utama adalah orang tua sedangkan sekolah dadlah pendidik kedua ,dan jangan di baluk walaupun masih banyak kendala untuk mewujutkan cita-cita ini.tidak sedikit orang tua yang beranggapan kalau ankakya dimasukan sekolah dia menyangka hilang tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.persoalan yang muncul untuk di refleksikan terutama oleh pengelolah sekolah apakah sekolah yang di kelola masih masih mempunyai daya tarik,daya saing, dan daya tahan ,pemberdayaan sekolah masih dapat di laksanakan secara optimal karena masih diminati oleh masyrakat.namun, apabila sekolah tersebut sudah tidak mempunyai daya tarik,daya saing dan daya tahan lagi sebaiknya sekolah tersebut di tutup saja daripada mengecewakan pihak pemakai dan tidak bertanggung jawab pada gerasi penerus.sebuah sekolah dianggap mempunyai daya tarik ,daya saing ,daya tahan paling tidak mempunyai syarat-syarat sebagai berikut.

1. Sekolah tersebut proses pembelajaranya nermutu dan hasil pelajaranya bermutu dalam bidang akademiknya,pendampingan emosional,dan pendampingan spiritualnya.

2. Sekolah tersebut biayanya sebanding dengan mutu yang diperlihatkanya .biasanya orang tua yang sadar akan mutu pendidikan mengangap biaya persoalan nomor dua.untuk menjadikan sekolah bermu8tu biayanya mahal sekali dan sulit di temukan biaya yang sangat rendah tapi sekolahnya bermutu.

3. Sekolah tersebut memiliki etos kerja tingi dalam arti komunitas pendidikan tersebut telah mempunyai kebiasaan untuk kerja kera,mandiri,tertip,disiplin,penuh tanggung jawab,objektif dan konsisten.nilai-nilai budaya ini menjadi sikap dan milik seluruh anggota komunitas pendidikan pada unit sekolh itu.

4. Sekolah tersebut dari segi keamanan secara fisik dan fisikologis terjamin,dalam arti kompleks sekolah tersebut sungguh-sungguh menanamkan sikap ramah lingkungan untuk hidup tertib,indah,rapi,am,an,rindang,nyaman dan menjadikan orang betah di sekolah.

(18)

18

5. Sekolah tersebut didalamnya tercipta Susana yang humanis,terpeliharanya budaya dialog,komunikasi,latihan bersama ,dan adanya validasi teman sejawat.dengan kata lain,terpelihara pendidikan humanioranya,relijius,moral dan ahlaknya.

D. ORIENTASI PADA KUALITAS

Apa yang dikemukakan di atas merupakan prasyarat sebuah sekolah mempunyai daya tari,daya saing dan,daya tahan.apabila persyaratan-persyatan tersebut dapat di penuhi dengan sendirinya kualitas yang diharapkan tidak terlalu sulit untuk di capai.seiring dengan perkembangan yang terus di ubah menuju ke arh kemajuan ,dalam era persaingan yang semakin bebas seperti saat ini yang dapat bertahan hanyalah yang mempunyai kulitas tertentu.oleh sebab itu lembaga-lembaga pendidikan yang tidak berkualitas lama kelaman akan di tinggalkan oleh orang-orang dan tersingkir dengan sendirinya dia tidak mampu lagi bertahan.

Berkualitas disini mencakup berbagai bidang misalnya:  Berkualitas dalam bidang pembelajaran

 Berkualitas dalam bidang pelayanan

 Berkualitas dalam bidang sarana dan prasarana yang di sediakan

Persaingan dalam tingkat kulitas ini mulai terlihat khususnya pada sekolah yang di kelolah oleh swasta atau yayasam-yaatsan tartu.persoalanya di sekolah-sekolah negri orang sering mengeluh sulitnya meningkatkan kualitas karna kualitas inputnya yang memang pas-pasan baik secara intelektul maupun segi ekonominya.namun yang perlu di dasari adalah bahwa pendidikan itu merupakan proses yang sebenarnya tidak hanya tegantung pada satu factor tertentu satu contoh ketika sampah dimasukan ke pabrik melalui proses tertentu,tidak lagi keluar sampah justru keluar produk-produk bermanfaatseperti plastic,ember,dan sebagainya.

Dalam konteks otonomi pendidikan,sekolah mempunyai keleluasaan untuk berinovasi dan berimprofisasi sebagai bentuk kreatifitas yang bias di kembangkanya.dalam hal ini sekolah pada dasarnya mendapatkan untuk menentukan sendiri dalam bidan pendidikan

(19)

19

dnegan tujuan lebih meningkatkan kualitas dan daya tarik sekolah tersebut.berbagai kebijakan yang bisa di lakukan oleh sekolah seperti hal-hal berikut.

1. Menentukan sendiri guru-guru yang akan di rekrut oleh sekolah 2. Menentukan sendiri kriteria dan jumlah siswa yang akan di terima 3. Menentukan sendiri system penilaian kinerja guru dan peserta didik

4. Menentukan sendiri kegiatan-kegiatan yang akan di lakukan dalam rangka pendidikan

5. Menentukan sendiri biaya-biaya pendidikan yang harus di tanggung oleh orang tua siswa

6. Menentukan sendiri metodologi pendidikan dan kurikulum pendidikan yang akan di pakai

7. Menentukan sendiri buku-buku paket yang akan di pakai dan sebagainya

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut jelas tidak diperlukan penyeragaman antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain,atau daerah yang satu dengan daerah yang lain.meskipun demikian kemaandirian-kemandirian harus bersifat inklusif dan tidak boleh eksklusif.semuanya mempunyai tujuan akhir yang sama ,yaitu demi mempertahankan persatun dan kesatuan kesatu8an bangsa Indonesia beredasarkan pancasila dan UUD 1945.peran pemerintah dalam kerangka pelaksanaanotonomi daerah dan otonomi pendidikan lebih pada pemberi inspirasi.

E. MENIADAKAN PENYERAGAMAN

Dalam kontedks otonomi pendidikan, sekolah mempunyai keleluasaan untuk berinovasi dan berimprovisasi sebagai bentuk kreativitas yang bisa dikembangkannya. Pada dasarnya sekolah mendapat kesempatan untuk menentukan sendiri kebijakan-kebijakan dalam bidang pendidikan, dengan tujuan lebih meningkatkan kualitas dan daya tarik sekolah tersebut.

Berbagai kebijakan yang dapat dilakukan oleh sekolah sebagaimana berikut ini. 1. Menentukan sendiri guru –guru yang akan direkrut oledh sekolah;

(20)

20

2. Menentukan sendiri kriteria dan jumlah calon siswa yang akan diterima; 3. Menentukan sendiri sistem penilaian kinerja guru dan peserta didik;

4. Menentukan sendiri kegiatan-kegiatan yang nakan dilakukan dalam rangka pendidikan

5. Menentukan sendiri biaya-biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh ortu; 6. Mementukan sendiri metodologi pembelajaran dan kurikulum pendidikan yang

akan dipakai;

7. Mementukan sendiri buku-buku paket yang akan dipakai dan sebagainya.

Dengan memperhatikan hal-hal di atas, jelas tidak diperlukan adanya penyeragaman antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain, atau daerah yangb satu dengan daerah yang lain. Meskipun demikian, kemandirian-kemandirian itu harus bersifat inklusif dan tidak boleh eksklusif. Semuanya mempunyai tujuan akhir yang sama, yakni demi mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Peran pemerintah dalam kerangka otonomi daerah dan otonomi pendidikan lebih pada pemberi inspirasi, koordinator, dan fasilitator. Pemerintah tidak lagi menjadi pemain utama dalam keseluruhan sistem pendidikan yang ada. Jadi, kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh kreativitas dan daya inovatif penyelenggara pendidikan yang bersangkutan.

RANGKUMAN

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS dalam tatanan MMT di sekolah, memerlukan berbagai sumber daya yang standar dan diperlukan untuk mendukung implementasi MBS. Berbagai sumber daya tersebut yaitu: SDM yang handal yang sudah disiapkan utuk mendukung implementasi MBS, sumber daya lainnya seperti: Bangunan yang memenuhi standar keamanan, Ruangan belajar yang cukup, ruang-ruang pendukung pembelajaran, alat dan sumber belajar, teknologi pembelajaran, pembiayaan, kurikulum, kebijakan, peraturan dan perundang-undangan. MBS menuju mutu pendidikan yang kompetitif dengan proses yang transfaran dan akuntabel, dengan

(21)

21

dukungan partisipasi masyarakat yang penuh untuk kebaikan sekolah yang direpresentasikan dalam wujud komite sekolah untuk memberi dukungan dalam mewujudkan mutu pendidikan. MMT diarahkan kepada pengendalian mutu yang berorientasi kepada kepuasan semua pelanggan pendidikan baik internal, maupun eksternal, baik pelanggan primer, sekunder maupun pelanggan tersier

DAFTAR PUSTAKA

Hasbullah . 2006. Otonomi Pendidikan .Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Pensa. Otonomi Sekolah Dan Manajemen Berbasis Sekolah/ http://pensa-sb.info/1838/

diakses tanggal 15 Maret 2011 pakguruonline. 2008. Pendidikan.

http://pakguruonline.pendidikan.net/pelkompetensi.html. diakses tanggal 15

Referensi

Dokumen terkait

Penganjuran Sambutan Bulan Kemerdekaan SK Yamtuan Hitam ini memerlukan kerjasama dan komitmen daripada semua warga sekolah bagi meningkatkan penyertaan murid-murid

Suatu kondisi B/L yang dikeluarkan dalam kondisinya tidak sesuai dengan keberangkatan kapal yang sesungguhnya karena sesuatu hal misal karena order barang harus dikirim

Hasil penelitian terhadap keladi tikus oleh Fakultas Farmasi Universutas Pancasila Jakarta dengan menggunakan bahan koleksi Bidang Botani, Puslit Biologi-LIPI menunjukkan bahwa

Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015 sebelum dilakukan penyuluhan dengan menggunakan metode demontrasi adalah 62,00 dengan standar deviasi 7,38 sedangkan untuk

Dengan metode tanya jawab guru mengarahkan siswa untuk memahami materi sebelumnya yang berkaitan dengan volume tabung, kerucut dan bola.. Menginformasikan

Penggunaan media animasi biologi di kelas eksperimen tetap didampingi penjelasan guru karena animasi seharusnya dijelaskan bukan hanya ditunjukkan (Eilks et al.,

1) Secara ilmiah dapat mengetahui pengaruh pemberian dosis solid pada berbagai media tanam galian C terhadap pertumbuhan kelapa sawit varietas tenera di pre nursery. 2)

Posisi Kerja Pemotongan Bahan Baku Posisi tubuh operator yang bekerja pada saat melakukan pemotongan lebih cenderung membungkuk (lihat Gambar 5), pada posisi tersebut akan