MATERI PENDEKATAN KONSELING BERPUSAT PADA PRIBADI 1. Latar Belakang
Pendekatan konseling berpusat pribadi dikembangkan oleh Carl Ransom Rogers pada tahun 1940-an. Munculnya pendekatan ini didasarkan pada konsep psikologi humanistik sebagai reaksi terhadap directive counseling dan pendekatan psikoanalisis. Arah perkembangan pendekatan ini perlu dikaji berdasarkan periode perkembangan yang terjadi pada masing-masing periode.
Periode pertama tahun 1940-an awalnya bernama non directive counseling yang menekankan pada penciptaan iklim permisif (membebaskan), memusatkan pada teknik penerimaan dan klarifikasi guna membantu konseli memahami diri sendiri dan situasi kehidupannya.
Periode kedua tahun 1950-an berganti nama dengan client centered therapy. Rogers memandang bahwa konseling tidak hanya cukup dengan non direktif saja tetapi juga memfokuskan pada unsur afeksi individu dengan menghadirkan sejumlah kondisi fasilitatif yang bisa membuat perubahan terapeutik. Kondisi fasilitastif yang dimaksudkan dengan cara memunculkan empati, kongruen dan acceptance atay yang biasa disesbut unconditional positive regard. Client centered juga menekankan refleksi perasaan klien dan dunia pengalaman klien sehingga mampu mengembangkan keselarasan konsep diri dan konsep diri idealnya. Paradigma client centered ini diaplikasikan dalam bidang pendidikan (student centered learning) di mana kondisi konseling diperlukan bagi perubahan klien. Pengaruh paradigma client centered kemudian meluas ke bidang lain yang diawali dengan terbitnya karya monumental Rogers yaitu “on becoming a person” yang memfokuskan pada kesehatan mental dan bagaimana orang berfungsi secara utuh (fully functioning person).
Sekitar tahun 1980-an dan 1990-an merupakan pengembangan pendekatan ini secara meluas dalam bidang pendidikan, industri, kelompok, resolusi konflik, dan pencarian perdamaian dunia. Pendekatan ini memiliki pengaruh/aplikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Ruang lingkup pendekatan ini semakin meluas pada pengaruh person, seperti bagaimana individu mendapatkan, memiliki, membagi atau melepas power atau kontrol atas dirinya sendiri dan orang lain, sehingga pendekatan ini dikenal dengan tiga istilah yang sering digunakan yaitu person
centered approach, person centered therapy, atau person centered counseling. (Corey, 2013).
Pendekatan humanistik menekankan terhadap pengalaman konseli saat “sekarang dan di sini” (here and now) dibandingkan fokus pada akar permasalahan saat masa kanak-kanak (psikodinamik) maupun pencapaian pola perilaku baru di masa yang akan datang (behaviorisme). Oleh karenanya, pendekatan ini meletakkan konseli sebagai pusat konseling, karena konseli adalah orang yang paling tahu tentang dirinya dan dapat menemukan tingkah laku yang pantas bagi dirinya. Pendekatan berpusat pada pribadi mendapatkan sambutan positif dari berbagai kalangan baik ilmuwan maupun praktisi hingga saat ini karena dirasa masih relevan untuk dipelajari dan diterapkan.
2. Konsep Dasar
2.1 Pandangan tentang Hakikat Manusia
Pendekatan konseling berpusat pribadi memiliki pandangan bahwa individu pada dasarnya baik. Rogers menyatakan bahwa manusia memiliki karakteristik positif, berkembang ke arah yang lebih baik (aktualisasi diri), konstruktif, realistik, dan dapat diandalkan (Gladding, 2012). Pandangan lain tentang hakikat manusia dalam perspektif pendekatan konseling berpusat pribadi (Thompson et.al., 2004) yaitu:
a. Memiliki worth dan dignity dalam diri sehingga layak diberikan penghargaan (respect)
b. Memiliki kapasitas dan hal untuk mengatur dirinya sendiri dan mendapat kesempatan membuat penilaian yang bijaksana
c. Dapat memilih nilainya sendiri
d. Dapat belajar untuk bertanggungjawab secara konstruktif
e. Memiliki kapasitas untuk mengatasi perasaan, pikiran dan tingkah lakunya f. Memiliki potensi untuk berubah secara konstruktif dan dapat berkembang ke
arah hidup yang penuh dan memuaskan (full and satisfying life) atau aktualisasi diri.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka dapat dijelaskan secara lebih rinci bahwa hakikat manusia menurut pendekatan berpusat pribadi adalah sebagai berikut.
a. Manusia mempunyai potensi untuk memahami diri dan mengatasi masalahnya sendiri
Setiap manusia memiliki kapasitas dan potensi untuk memahami keadaan yang dialaminya dan mengatur kembali kehidupannya menjadi lebih baik. Kemampuan untuk memahami segala hal yang terjadi dalam diri seseorang adalah salah satu cara untuk menekan kecemasan yang dirasakannya. Ketika seseorang berada dalam kondisi tertentu yang mengancamnya, maka mereka akan berusaha menggunakan kemampuannya untuk mengarahkan, membimbing, mengatur dan mengendalikan dirinya pada kondisi yang lebih baik. Manusia dianggap mampu menentukan isu yang penting bagi dirinya dan mampu mengambil keputusan untuk memecahkan masalah dalam dirinya. Manusia memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, untuk mencapai kebutuhan tersebut mereka akan berupaya menggunakan kemampuannya. Dalam dirinya, manusia memiliki kekuatan kreatif untuk menyelesaikan masalah, mengubah konsep diri mereka dan menjadi lebih terarah.
b. Berkembang ke arah yang lebih baik (aktualisasi diri)
Kecenderungan manusia untuk berkembang ke arah lebih baik merupakan wujud dari aktualisasi diri. Manusia memiliki dorongan untuk mengembangkan kapasitasnya yang mengarah kepada perilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mereproduksi dirinya menuju keutuhan dan pemuasan dari potensinya. Meskipun manusia memiliki keinginan untuk memelihara status quo, mereka juga bersedia untuk belajar dan berubah. Kebutuhan untuk menjadi lebih baik, berkembang dan meraih perubahan disebut peningkatan diri. Kebutuhan untuk meningkatkan diri terlihat dari kemauan manusia belajar suatu hal yang tidak menguntungkan mereka secara langsung. Setiap orang memiliki kesadaran, terarah, dan maju ke arah aktualisasi diri sejak masa kanak-kanak. Contoh kondisi tersebut dapat diamati pada motivasi anak kecil untuk berjalan. Proses merangkak sebelum berjalan pada anak kecil sebenarnya dapat memuaskan kebutuhannya untuk bergerak, dan berjalan mempunyai asosiasi dengan jatuh dan rasa sakit. Relevansi dengan pendirian Rogers, bahwa manusia bersedia untuk menghadapi ancaman dan rasa sakit karena kecenderungan dasar biologis untuk sebuah organisme memenuhi sifat alamiahnya yang mendasar. Kebutuhan
meningkatkan diri diekspresikan dalam bentuk yang beragam, termasuk rasa penasaran, keriangan, eksplorasi diri, pertemanan, dan kepercayaan diri bahwa seseorang dapat meraih pertumbuhan psikologis. Pada dasarnya, aktualisasi diri merupakan penggerak yang paling umum dan memotivasi keberadaan, serta mencakup tindakan yang mempengaruhi orang tersebut secara keseluruhan. Para ahli teori berpusat pada pribadi yakin bahwa masing-masing individu mampu menemukan arti diri dan tujuan dalam kehidupannya.
c. Manusia melakukan sesuatu berdasarkan persepsinya (subjektif)
Perilaku manusia pada dasarnya sesuai dengan persepsinya tentang medan fenomenal dan individu itu mereaksi medan itu sebagaimana yang dipersepsikannya. Oleh karena itu,persepsi individu tentang medan fenomenal bersifat subyektif. Secara umum, perilaku seseorang dapat diamati dari sudut pandang orang luar atau sudut pandang orang yang berperilaku itu sendiri. Dapat dijelaskan bahwa dalam melihat perilaku berasal dari kerangka acuan eksternal maupun dari kerangka acuan internal-subjektif atau perseptual. Rogers menuliskan keyakinan fundamentalnya pada yang subjektif, dan mengatakan bahwa “orang pada dasarnya hidup di dunia pribadi dan subjektifnya, dan bahkan fungsi paling objektifnya di bidang sains, matematika, dan semacamnya adalah hasil dari maksud subjektif dan pilihan subjektif”. Penekanan pada pandangan perseptual subjektif konseli inilah yang memunculkan istilah “client centered”. Persepsi konseli dianggap sebagai persepsinya tentang realitas. Satu-satunya realitas yang mungkin diketahui orang adalah dunia yang dipersepsinya dan dialaminya secara individual pada saat itu.
d. Setiap manusia pada dasarnya baik sesuai dengan harkat dan martabat
Menurut Rogers, manusia adalah makhluk yang unik dan positif. Manusia pada dasarnya bermartabat dan berharga serta memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi sebagai hal yang baik bagi dirinya. Kebutuhan dan anggapan positif terhadap manusia merupakan kebutuhan yang dipelajari dan dikembangkan sejak masa bayi. Apabila individu memperoleh penghargaan positif dari lingkungannya, ia akan dapat berkembang secara positif. Karakter baik yang dimiliki manusia akan menciptakan hubungan yang baik pula. Kapasitas untuk menjalin hubungan pribadi yang baik ditunjukkan dengan cara menerima orang lain sebagai pribadi yang unik, menghargai orang lain,
menjalin hubungan dengan terbuka dan bebas, serta mengkomunikasikan kesadaran tentang diri. Hubungan yang terjalin ini ditandai oleh sikap saling peduli terhadap perkembangan kedua belah pihak.
e. Dapat bertanggung jawab dan konstruktif
Manusia dipandang sebagai individu yang memiliki tanggung jawab atas perkembangan pribadinya (personal responsibility), bukan hanya merasa bertanggungjawab kepada orang lain. Kepercayaan pada otoritas dalam dirinya memberikan pengaruh terhadap penerimaan tanggung jawab atas perilakunya dan tanggung jawab untuk berbeda dengan orang lain. Orang yang mampu bertanggungjawab secara pribadi, mampu memegang kendali terhadap kehidupan mereka. Pengakuan terhadap tanggung jawab pribadi merupakan bagian sentral dari Self concept orang-orang efektif. Filosofi person centered mencakup aspek Self control, Self help, dan personal power, dengan harapan dalam konteks hubungan yang peduli. Oleh karena itu, secara mendasar manusia itu baik, dapat dipercaya, dan konstruktif tidak merusak dirinya.
Sifat manusia dalam konseling person centered dipandang sebagai individu yang memiliki potensi, beraktualisasi diri, memiliki kebaikan yang positif, memiliki kerangka referensi perseptual (subjektif), serta bertanggungjawab dan konstruktif. Konseling person centered berakar pada kesanggupan individu untuk sadar dan mampu membuat keputusan sendiri. Asumsi dasarnya dalam konteks suatu hubungan pribadi dengan kepedulian konselor, konseli mengalami perasaan yang sebelumnya ditolak atau disimpangkan dan peningkatan Self-awareness. Konseli diberdayakan melalui partisipasi mereka dalam hubungan konseling. Mereka mewujudkan potensi mereka untuk tumbuh, utuh, spontan, dan diarahkan dari motivasi internal (inner-directed).
2.2 Pandangan tentang Kepribadian
Pendekatan berpusat pribadi dibangun atas dua hipotesis dasar yaitu: (1) setiap orang memiliki kapasitas untuk memahami keadaan yang menyebabkan ketidakbahagiaan dan mengatur kembali kehidupannya menjadi lebih baik, (2) kemampuan seseorang untuk menghadapi keadaan ini dapat terjadi dan ditingkatkan jika konselor menciptakan kehangatan, penerimaan, dan memahami relasi konseling yang sedang dibangun (Corey, 1986).
Sejak awal, Rogers menekankan pada cara kepribadian itu berubah dan berkembang, bukan pada aspek struktural kepribadian. Namun, jika ditinjau dari hakikat pribadi manusia, Rogers mengajukan tiga konstruk pokok dalam teorinya yaitu:
a. Organisme, adalah individu itu sendiri yang mencakup aspek fisik maupun psikologis. Organisme merupakan suatu kebulatan diri baik secara pikiran, perasaan, tingkah laku, wadah fisik baik disadari maupun tidak mereaksi sebagai kebulatan terhadap medan fenomena untuk memuaskan kebutuhannya dalam menghadapi pengalaman. Organisme mungkin melambangkan kesadaran, menolak atau mengabaikan. Jika dijelaskan secara lebih rinci, pengertian organisme mencakup tuga hal yaitu:
1) Makhluk hidup; organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran setiap saat yaitu persepsi seseorang mengenai event yang terjadi di dalam diri dan di dunia eksternal.
2) Realitas subjektif; organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan persepsi yang yang sifatnya subjektif, bukan fakta benar-salah. Realita subjektif yang menentukan/ membentuk tingkah laku.
3) Holisme; organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi atau bertujuan, yakni tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
b. Medan fenomena (phenomenal field), adalah semua hal yang dialami individu (dunia pribadi) dan menjadi sumber kerangka acuan internal dalam memandang kehidupan. Dunia pengalaman individu tersebut terus berubah baik secara internal maupun eksternal, dan beberapa peristiwa ada yang diamati secara sadar dan ada yang tidak. Dengan kata lain, medan fenomena merupakan pengalaman hidup yang bermakna secara psikologis bagi individu, dapat berupa pengetahuan, pengasuhan orang tua, dan hubungan pertemanan. Adapun deskripsi tentang medan fenomena dapat dijelaskan sebagai berikut. 1) Medan fenomena meliputi pengalaman internal (persepsi mengenai diri
Contoh Ideal Self dan Real Self
Seorang mahasiswa mengira bahwa dia adalah mahasiswa yang pintar dan tidak pernah menyontek, tetapi pada suatu saat dia mulai sadar dengan tingkah lakunya yang bertentangan dengan pikiran itu. Mahasiswa tersebut ternyata berkali-kali mencoba menyontek dan jarang mengerjakan tugas-tugas kuliah. Padahal, seharusnya sebagai mahasiswa ia tidak boleh bertindak begitu.
Pengalaman nyata ini menunjuk pada suatu pertentangan antara siapa saya ini sebenarnya dan seharusnya menjadi orang yang bagaimana.
2) Medan fenomena meliputi pengalaman yang : (a) disimbolkan (diamati dan disusun dalam diri sendiri); (b) disimbolkan tetapi diingkari/ dikaburkan (karena tidak konsisten dengan struktur dirinya); (3) tidak disimbolkan atau diabaikan (karena diamati tidak mempunyai hubungan dengan struktur diri). Pengalaman yang disimbolkan itu disadari, sedangkan pengalaman yang diingkari dan diabaikan itu tidak disadari.
3) Semua persepsi bersifat subjektif, benar bagi dirinya sendiri
4) Medan fenomena seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empatik, pengetahuan yang diperoleh itupun tidak akan sempurna.
c. Self, adalah struktur kepribadian yang sebenarnya. Self dipandang sebagai interaksi antara organisme (individu) dengan medan fenomena yang kemudian membentuk self (“I”/”me”/”saya”). Kesadaran tentang self membantu seseorang membedakan dirinya dengan orang lain. Self dibagi menjadi dua yaitu real self (keadaan diri individu saat ini) dan ideal self (keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau apa yang ingin dicapai oleh individu itu). Untuk menemukan Self yang sehat (the real Self), individu butuh penghargaan, kehangatan, perhatian, dan penerimaan tanpa syarat. Namun, jika seseorang akan merasa berharga hanya bila bertingkahlaku sesuai yang dikehendaki orang lain maka yang akan terbentuk adalah ideal Self. Ketidaksesuaian antara ideal self dan real self, munculah masalah.
Gambar 1. Contoh Ideal Self dan Real Self
2.3 Asumsi Tingkah Laku Bermasalah
Dalam pendekatan konseling berpusat pribadi, seseorang dikatakan menjadi pribadi yang bermasalah secara psikologis apabila mengalami kondisi penghargaan bersyarat, inkongruensi (tidak kongruen), memiliki sikap defensif (membela diri) dan disorganisasi. Secara lebih detail, penjelasan asumsi tingkah laku bermasalah sebagai berikut.
a. Penghargaan bersyarat (conditions of worth)
Penghargaan bersyarat muncul saat penghargaan positif dari significant other memiliki persyaratan, saat individu tersebut merasa dihargai dalam beberapa aspek dan tidak dihargai dalam aspek lainnya. Penghargaan bersyarat menjadi kriteria penerimaan atau penolakan terhadap pengalaman seseorang. Apabila individu melihat orang lain menerimanya tanpa melihat tindakannya, maka dipercaya bahwa individu tersebut dihargai tanpa syarat. Akan tetapi, bila individu tersebut memiliki persepsi bahwa beberapa perilaku yang dilakukannya mendapat persetujuan atau tidak, maka individu tersebut melihat bahwa penghargaan bersifat kondisional. Dari setiap tahap perkembangan, ketika individu seringkali melihat keluar diri untuk arahan dan panduan maka individu tersebut akan cenderung menjadi tidak kongruen atau tidak seimbang. Sebagai contoh, ketika orang tua mendidik anak dengan pendekatan penghargaan bersyarat, berarti orang tua telah memaksa anak untuk menginternalisasi norma orangtuanya, dan apabila anak dapat menyesuaikan diri dengan norma tersebut dia akan merasa berharga. Anak terpaksa menghambat perkembangan berbagai potensinya (yang tidak sesuai dengan norma orangtuanya), mereka menjadi tidak bebas dan terhambat dalam mengembangkan aktualisasi dirinya.
b. Inkongruensi
Organisme dan self merupakan dua entitas yang dapat kongruen satu sama lain ataupun tidak. Ketidakseimbangan psikologis dapat dimulai saat seseorang gagal mengenali pengalaman organismiknya sebagai pengalaman diri, yaitu ketika orang tersebut tidak secara akurat membuat simbolisasi dan pengalaman
organismiknya ke dalam kesadaran, karena pengalaman tersebut terlihat tidak konsisten dengan konsep diri yang sedang muncul. Inkongruensi antara konsep diri dan pengalaman organismik adalah sumber gangguan psikologis. Keadaan individu yang kongruensi dan tidak kongruensi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2. Individu yang kongruen inkongruen
Penghargaan bersyarat yang diterima pada awal masa kanak-kanak dapat mengakibatkan konsep diri yang salah. Terkadang individu berperilaku dalam bentuk yang memelihara dan meningkatkan kecenderungan aktualisasinya, tapi di saat yang lain individu tersebut dapat bertindak dalam bentuk yang dirancang untuk memelihara dan meningkatkan konsep diri yang berasal dari ekspektasi dan evaluasi orang lain atas dirinya. Ada beberapa kondisi akibat inkongruensi yaitu:
1) Kerentanan; manusia menjadi rentan saat tidak menyadari perbedaan antara diri organimiknya dengan pengalaman diri yang signifikan. Semakin besar inkongruensi antara konsep diri dengan pengalaman organismiknya maka akan semakin rentan individu tersebut. Kurangnya kesadaran atas inkongruensi membuat orang rentan berperilaku dalam cara-cara yang tidak dapat dimengerti tidak hanya oleh orang lain tetapi juga dirinya sendiri.
2) Kecemasan; diartikan sebagai kondisi yang tidak menyenangkan atau tekanan dari sumber yang tidak diketahui. Saat seseorang mulai secara samar menyadari bahwa ada perbedaan antara pengalaman organismik dan konsep dirinya mulai masuk dalam ranah kesadaran maka orang tersebut akan merasa cemas.
Picture B. Picture A.
Gambar A = keadaan individu yang kongruen (ideal self an real self ) Gambar B individu yang tidak kongruen (Sumber: Pietrofesa, D., Leonard, G dan Hoose WV.,1978).
3) Ancaman; merupakan kesadaran bahwa diri seseorang tidak lagi utuh (kongruen). Kondisi saat seseorang mulai menyadari inkongruensi atas pengalaman organismik dengan persepsi terhadap diri menunjukkan bahwa kecemasan mulai berubah menjadi ancaman. Kecemasan dan ancaman dapat merepresentasikan cara menuju kesehatan psikologis karena pertanda bahwa pengalaman organismik tidak konsisten dengan konsep dirinya.
c. Sikap defensif
Reaksi yang umumnya dilakukan untuk menghindari ketidakkonsistenan antara pengalaman organismik dan diri yang dirasakan dengan cara defensif. Sikap defensif adalah perlindungan terhadap konsep diri dari kecemasan dan ancaman dengan penyangkalan atau distorsi dari pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri. Konsep diri terdiri dari banyak kalimat pendeskripsian diri, sehingga konsep diri memiliki banyak sisi. Pada umumnya, cara defensif untuk melindungi konsep diri adala distorsi dan penyangkalan. Dengan distorsi, seseorang melakukan kesalahpahaman dari sebuah pengalaman agar sesuai dengan salah satu aspek konsep dirinya. Sementara, dengan penyangkalan seseorang menolak menghayati pengalaman dalam kesadaran atau menahan beberapa aspek dari pengalaman tersebut agar tidak mencapai simbolisasi. Distorsi dan penyangkalan membuat individu mengacuhkan atau menutup pengalaman baru yang mungkin saja menjadi penyebab kecemasan yang tidak menyenangkan atau ancaman.
d. Disorganisasi
Disorganisasi dapat terjadi secara tiba-tiba atau dapat terjadi secara bertahap selama rentang waktu yang panjang. Dalam kondisi disorganisasi, manusia kadang berperilaku secara konsisten dengan pengalaman organismiknya dan kadang sesuai dengan konsep diri yang hancur. Sebagai contoh, seorang wanita yang sopan dan santun, tiba-tiba mulai menggunakan bahasa yang kasar dan vulgar. Perilaku dapat menjadi tidak terorganisasi atau bahkan menjadi psikotik apabila pertahanan seseorang tidak bekerja dengan benar.
3. Tujuan Konseling
Konseling berpusat pribadi bertujuan agar individu (konseli) dapat mencapai karakteristik pribadi yang beraktualisasi diri (self actualizing) atau berfungsi penuh
(fully functioning person). Rogers menekankan bahwa orang perlu bantuan untuk belajar bagaimana menghadapi berbagai situasi, salah satu caranya dengan “membantu konseli menjadi orang yang berfungsi penuh (fully functioning person) yang tidak perlu menerapkan mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi pengalaman sehari-hari” (Rogers, 1977; Gladding, 2012).
Karakteristik individu yang dapat mengaktualisasikan diri dan berfungsi sepenuhnya (fully functioning person) adalah sebagai berikut:
a. Memiliki keterbukaan terhadap pengalaman (opennes to experience)
Keterbukaan terhadap pengalaman meliputi kemampuan untuk melihat realitas tanpa terganggu untuk menyesuaikan pada self structure yang telah terbentuk sebelumnya. Individu menjadi lebih terbuka yang berarti individu tersebut lebih menyadari realitas yang ada di dalam diri dan luar dirinya, memiliki keyakinan yang tidak kaku, terbuka terhadap pengetahuan baru, dapat berkembang dan toleran terhadap ambiguitas. Adanya keterbukaan dan kesadaran terhadap pengalaman akan membantu pertumbuhan dalam menoleransi keberagaman makna dirinya. Terbuka terhadap pengalaman memungkinkan tingkah laku lebih efisien sebab mendorong lebih meluasnya medan persepsi, sehingga cenderung berperilaku atas dasar pilihan daripada keharusan. Keterbukaan juga mengembangkan sikap spontan dan kreatif, karena individu tidak dihalangi oleh kondisi yang menghambat.
b. Kepercayaan pada diri sendiri (self-trust)
Pada awal proses konseling, kepercayaan diri konseli biasanya sangat rendah sehingga tidak dapat mengambil keputusan secara mandiri. Ketika konseli lebih terbuka, maka akan dapat mengembangkan kepercayaan kepada diri secara perlahan. Orang yang berfungsi sepenuhnya tidak akan bergantung pada orang lain untuk mengarahkan mereka, karena menyadari bahwa kriteria terbaik dalam Manusia yang berfungsi secara penuh (fully functioning person) cirinya :
1. Memiliki keterbukaan terhadap pengalaman (opennes to experience)
2. Kepercayaan pada diri sendiri (self-trust)
3. Sumber internal evaluasi (internal source evaluation) 4. Keinginan berkelanjutan untuk berkembang (willingness to
continue growing) 5.
mengambil keputusan adalah mempercayai perasaan internal yang dirasa benar daripada ajaran orang tua atau peraturan masyarakat. Namun, ketika mengambil keputusan juga perlu mempertimbangkan secara jelas hak dan perasaan orang lain.
c. Sumber internal evaluasi (internal source evaluation)
Sumber internal evaluasi berarti bahwa individu mencari pada diri sendiri tentang jawaban atas masalah eksistensi diri (introspeksi diri). Individu dibantu untuk memahami diri dan mengambil keputusan secara mandiri tentang hidupnya. d. Keinginan berkelanjutan untuk berkembang (willingness to continue growing)
Pembentukan self dalam proses on becoming merupakan inti dari tujuan pendekatan berpusat pribadi. Self bukan dipandang sebagai produk dari proses konseling. Meskipun tujuan konseling adalah self yang berhasil, yang paling penting adalah proses berkelanjutan di mana konseli mendapatkan pengalaman baru dan mendapatkan kesadaran diri. Konseli bisa jadi menjalani proses konseling untuk mencari formula penyelesaian masalahnya guna membangun keadaan berhasil dan berbahagia, tapi mereka sadar bahwa pertumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan. Para konseli selama proses konseling berada dalam proses pengujian persepsi dan kepercayaan serta membuka diri bagi pengalaman-pengalaman baru, bahkan beberapa revisi untuk menemukan cara yang tepat.
Karakterisktik fully functioning person tersebut memberikan frame kerja untuk memahami arah proses konseling. Konselor tidak memilih tujuan konselingnya bagi konseli, melainkan memfasilitasi konselinya melalui penciptaan hubungan terapeutik. Konseling pada dasarnya bertujuan mereorganisasi konsep diri konseli melalui fasilitasi sikap genuineness, emphaty, dan unconditional positive regard. Tujuan konseling tercapai yang ditandai dengan kondisi hubungan konseling yang fasilitatif yaitu konselor dan konseli berada dalam kontak psikologis, konseli berada dalam ketidakserasian, konselor berada dalam keadaan keserasian, konselor memberikan penghargaan positif tanpa syarat, konselor memahami dunia internal konseli dan mengkomunikasikannnya kepada konseli, dan konseli menyadari kongruensi, penerimaan positif tidak bersyarat, dan empati konselor (Corey, 2013). Adapun penjelasan lebih rincinya sebagai berikut.
Kongruen berarti bahwa konselor menampilkan diri yang sebenarnya, asli, terintegrasi dan otentik. Kongruensi konselor meliputi perasaan dan pikiran yang ada dalam dirinya (inner) dengan perasaan, pandangan, dan tingkah laku yang diekspresikan (outer). Ciri konselor yang kongruen meliputi: (1) menjadi pribadi konselor yang utuh, genuine dengan dirinya sendiri dalam proses terapeutik, tanggap terhadap perubahan pikiran, perasaan dan persepsi yang terjadi selama proses terapeutik serta (2) mampu memunculkan pribadi aslinya secara tepat kepada konseli (Palmer, 2000).
Konselor yang otentik menampilkan diri yang spontan dan terbuka baik perasaan dan sikap yang ada dalam dirinya serta dapat berkomunikasi secara jujur dengan konseli. Konselor dapat menampilkan sikap impulsif dan berbagai perasaan maupun pikirannya kepada konseli. Konselor diharapkan mampu melakukan self disclosure (keterbukaan diri) sesuai dengan kondisi konseli dan substansi topik yang dibahasa dalam proses konseling. Kondisi ini sangat mungkin dilakukan apabila konselor mendengarkan konseli secara sungguh-sungguh dan memahami perasalahannya. Keaslian konselor terlihat melalui respon konseli yang muncul secara alamiah, asli, tidak dibuat-buat.
b. Penerimaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard and acceptance) Uncoditional positif regard berarti bahwa konselor tidak melakukan penilaian dan penghakiman terhadap perasaan, pikiran dan perilaku konseli berdasarkan standar norma tertentu. Acceptance menunjukkan penghargaan yang spontan terhadap konseli dan menerimanya sebagai individu yang unik. Penerimaan ini
Contoh respon genuine konselor:
Konseli : “Saya tersesat, benar-benar tersesat. Saya tidak tahu arah tujuan.
Konselor : Kamu merasa tersesat dan tidak yakin kemana arah tujuan yang akan kamu capai. Saya merasa bahwa kamu sedang putus asa dan saya di sini utukmu dalam masa sulitmu.
Berdasarkan pernyataan di atas, konselor mengekspresikan dirinya dengan terbuka, secara genuine mampu berempati kepada konseli, sadar terhadap apa yang dirasakan konseli, dan bisa mengekpresikan keinginan konselor untuk membantu konseli. Keaslian konselor tidak berarti bahwa konselor mengungkapkan semua perasaannya kepada konseli, tetapi konselor mampu mengatur dan menggunakan perasaannya sesuai dengan konteksnya dalam hubungan terapeutik.
bertujuan untuk membangun hubungan terapeutik menjadi lebih konstruktif. Bagi konselor, kemampuan acceptance dan unconditional positive regard tidak mungkin muncul sepanjang waktu, namun harusnya lebih sering ditampilkan dalam hubungan konseling yang konstruktif.
c. Pemahaman yang empatik dan akurat (accurate empathic understanding)
Empathy atau deep understanding adalah kemampuan konselor untuk memahami permasalahan konseli, melihat melalui sudut pandang konseli, peka terhadap perasaan konseli, sehingga konselor mengetahui bagaimana konseli
Contoh respon unconditional positive regard konselor: Konseli : “Saya sudah merasa putus asa terhadap situasi ini”.
Konselor : “Baiklah, saya masih ingin membuat janji bertemu denganmu lagi. Saya ingin menyampaikan kepadamu jika masalah ini terlalu berat untukmu, jangan ragu untuk menghubungi saya. Dan jika kamu harus memutuskan untuk menyerah, saya akan mengapresiasi jika Anda juga memberitahuku, sehingga saya bisa mengetahuinya lebih awal. Saya tidak akan mencoba melarangmu, saya hanya ingin bertemu.”
Konseli : “Saya mungkin menyerah saat ini. Di mana, saya tidak tahu tapi saya juga tidak peduli”.
Konselor: “Saya merasa bahwa Anda sudah membuat keputusan. Dan keputusan yang Anda buat adalah menyerah tanpa menyelesaikan masalah. Anda hanya akan menyerah? Hmm...” Konseli : “(bergumam dengan nada putus asa) Itulah sebabnya saya ingin
menyerah, karena saya tidak peduli apa yang akan terjadi.”
Contoh respon unconditional positive regard konselor:
Konselor : Hmm.. Jadi Anda ingin menyerah karena sudah tidak peduli dengan dirimu sendiri. Anda hanya tidak peduli dengan apa yang terjadi. Hal yang ingin saya katakan bahwa saya peduli dengan dirimu dan saya peduli dengan apa yang akan terjadi. Bagaimanapun juga hal ini dapat membuat perasaanmu tercurahkan. Anda hanya menangis dan menangis dan menangis dan merasa sangat buruk. (Konseli terus menangis, nafasnya terengah-engah)”. Konselor : “Saya bisa merasa kan betapa buruknya apa yang Anda
rasakan. Anda hanya terisak dan tersedu.” (Konseli menangis sambil terisak-isak).
Berdasarkan pernyataan di atas, konselor mampu memunculkan kepedulian dan kehangatan untuk konseli. Nada suara dan kata-kata konselor harus kongruen karena dianggap sebagai bentuk mengekspresikan penerimaan dan kepedulian.
merasakan perasaannya. Konselor diharapkan memahami permasalahan tidak hanya pada permukaan, tetapi lebih dalam pada kondisi psikologis konseli. Empati efektif dalam perubahan psikologis konseli karena membuat konseli dapat mendengarkan diri mereka sendiri dan akhirnya menjadi terapis bagi dirinya. Bagi Rogers, empati adalah proses karena tidak hanya sekedar merefleksikan perasaan konseli atau mengulangi kata-kata konseli (Sharf, 2012).
Contoh respon empathic understanding konselor:
Konseli : “Saya merasa tidak pernah baik bagi orang lain, tidak pernah dan tidak akan pernah bisa.”
Konselor: “Itu yang Anda rasakan saat ini? Anda merasa tidak baik terhadap diri Anda sendiri dan tidak untuk siapapun. Hanya karena itu Anda merasa tidak berharga? Perasaan itu benar-benar buruk. Hanya karena itu Anda merasa tidak baik sama sekali?”
Konseli : “Ya (bergumam dengan suara rendah dan putus asa) itu yang dikatakan oleh temanku beberapa hari yang lalu”.
Konselor : “Apakah teman Anda itu benar-benar mengatakan jika Anda tidak baik? Apakah itu yang kamu katakan? Benarkah demikian?” Contoh respon empathic understanding konselor:
Konseli : “M-hm..”
Konselor:“Saya menangkap bahwa seseorang telah mengungkapkan sesuatu hal padamu mengenai apa yang dia pikirkan tentangmu? Mengapa dia mengatakan padamu jika kamu tidak baik sama sekali. Dan itu telah menghancurkan keyakinan yang telah kamu pahami saat ini (konseli menangis dengan tenang). Itulah yang membuatmu menangis.” Konseli : “M-hm..”
Konseli : “(agak menantang) saya tidak peduli.”
Konselor : “Anda mengatakan pada diri sendiri bahwa Anda tidak peduli sama sekali, tetapi entah bagaimana saya mengira sebagian dari diri Anda peduli karena sebagian dari Anda menangis karenanya. Saya mengira sebagian dari dirimu merasakan, „saat ini Anda dipukul, seolah-olah Anda tidak pernah mendapatkan pukulan selama hidup Anda sampai Anda merasa ada seseorang yang tidak menyukai Anda. Orang yang Anda maksud saat ini mulai dekat dengan Anda dan dia tidak menyukai Anda. Saya mengatakan saya tidak peduli. Saya tidak akan membiarkan hal itu membuat perbedaan bagiku, tetapi air mata mengalir di pipi. ”
Berdasarkan pernyataan di atas, konselor menunjukkan empatinya dengan memahami aspek kognitif konseli, gesture konseli, emosional dan respon intuisi.
4. Prosedur Konseling
Pendekatan person centered adalah proses konseling yang fleksibel dan tergantung dari proses komunikasi antara konselor dan konseli. Suasana konseling dalam pendekatan person centered perlu adanya suatu hubungan interpersonal yang efektif, sehingga dapat terjalin hubungan baik dari awal dan hal ini akan memberikan dampak positif dalam keberlangsungan proses konseling. Tahapan dalam konseling berpusat pribadi dijelaskan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
a. Pembinaan Hubungan Baik
Tahap pertama dalam konseling berpusat pribadi biasanya konseli “enggan berkomunikasi dengan dirinya sendiri apalagi orang lain”. Komunikasi dianggap sebagai kegiatan yang (semata-mata) bersifat eksternal. Perasaan dan pemahaman individu tidak dihayati layaknya bagian dari hidup seseorang. Kedekatan dan relasi komunikatif dianggap berbahaya. Konseli merasa bahwa dirinya baik-baik saja atau jauh dari masalah, sehingga tidak ada hal yang perlu dirubah atau diperbaiki. Dalam mengikuti terapi, individu tidak berangkat dari kesadarannya sendiri. Oleh karena itu, untuk memberikan kesadaran kepada konseli, maka konselor perlu melakukan beberapa hal yaitu:
1) Membina hubungan baik dengan konseli dengan menerapkan sikap dasar guna memfasilitasi perubahan terapeutik pada konseli.
2) Mendengarkan bahasa verbal dan non verbal konseli
3) Memahami kerangka acuan sudut pandang dalam diri konseli (internal frame of reference)
b. Mendorong penerimaan diri konseli dengan menyediakan kondisi fasilitatif hingga konseli mengungkapkan ekspresi-ekspresi tertentu meski belum terbuka apa adanya.
Setelah terjalin hubungan baik, konselor perlu menyediakan kondisi fasilitatif untuk mendorong penerimaan diri konseli agar lebih terbuka. Konseli perlahan mulai berani mengungkapkan ekspresi-ekspresi tertentu, meskipun tidak terkait dengan topik diri sendiri secara langsung. Masalah tetap dianggap sebagai objek eksternal dan konseli merasa bahwa itu bukan bagian dari tanggung jawab pribadinya. Perasaan mungkin saja nampak, tapi tidak atau belum dihayati konseli. Konseli mungkin mengikuti proses konseling dengan kesadaran diri, namun seringkali mereka tidak menunjukkan perkembangan atau kemajuan yang berarti.
c. Membebaskan individu untuk mengekspresikan apapun yang terkait dengan diri sendiri
Ketika konseli dapat menerima dirinya, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk bebas berekspresi. Konseli relatif lebih bebas dalam berekspresi, terutama terkait dengan dirinya sendiri. Perasaan di masa lalu dan pemahaman terhadap diri sendiri biasanya bersifat negatif mampu diungkapkan, meski hanya disertai sedikit penerimaan. Konseli akan benar-benar siap melakukan konseling pada langkah ini.
d. Mendorong konseli mampu menafsirkan makna akan pengalaman yang telah dilaluinya, menjabarkan perasaan-perasaan yang muncul, komitmen untuk bertanggungjawab terhadap masalahnya
Penerimaan, pemahaman, dan empati yang muncul dalam diri konseli di tahap sebelumnya dibutuhkan untuk bergerak ke tahap berikutnya. Perasaan konseli yang muncul jauh lebih mendalam, meskipun tidak berlangsung terus-menerus. Pada tahap ini rasa takut, enggan, dan ketidakpercayaan masih menyertai konseli dalam berinteraksi dengan konselor. Pada tahap ini, konseli mampu menafsirkan makna akan pengalaman yang telah dilaluinya, menjabarkan perasaan-perasaan yang muncul, komitmen untuk bertanggung jawab terhadap masalahnya.
e. Membebaskan konseli untuk jauh lebih menyelami pengalamannya dan bebas berekspresi, kendati masih ada sedikit rasa takut dan tidak percaya
Dalam tahap ini, konseli jauh lebih menyelami pengalamannya dan bebas berekspresi, kendati masih ada sedikit rasa takut dan tidak percaya. Mereka juga semakin tegas mengungkapkan rasa dan makna, serta tanggung jawab yang diterima. Konseli bergerak menuju kehidupannya sebagai organisme, mengikuti perasaan yang muncul.
f. Membantu konseli menerima keadaan dirinya apa adanya sebagaimana yang dia persepsikan tanpa rasa takut, penolakan atau pengabaian
Pada tahap ini, konseli menjadi lebih cepat menyadari perasaan yang muncul. Pengalaman dan perasaan yang menyertai diterima apa adanya, tanpa rasa takut, penolakan, atau pengabaian. Sebuah pengalaman menjadi hidup, tidak semata (sekedar) dirasakan. Individu sebagai objek mulai tidak tampak. Inkongruensi menjadi kongruen. “Diferensiasi pengalaman semakin tajam dan mendasar. Dalam fase ini, tidak ada lagi „masalah‟, ruang eksternal dan internal. Konseli menjadi menghayati hidupnya, subyektif, dan menyelami realitas yang dihadapi.
Keseluruhan hal tersebut bukan lagi objek”. Secara fisiologis, rasa lega yang muncul dalam diri konseli membuatnya merasa nyaman dan rileks.
g. Mendorong konseli untuk memiliki kesadaran untuk merefleksikan pengalaman, terbuka terhadap pengalaman dan semakin percaya diri untuk mengalami proses hidup walau sesulit apapun
Tahap ini, konseli tampak lebih „menikmati‟ proses. Mereka dapat menyerap pengalaman dan perasaan-perasaan baru yang melimpah dengan cepat serta menggunakannya sebagai pedoman untuk mengenal diri sendiri, apa yang diinginkan, dan bagaimana sikapnya selama ini. Pengalaman akan perasaan yang berubah benar-benar dihayati misalnya kepercayaan muncul sebagai bagian dari hidup menjadi makhluk organis. Individu menjadi lebih subjektif dan memiliki kesadaran untuk merefleksikan pengalaman, semakin percaya diri untuk mengalami proses dibanding hanya sekedar mempersepsikan objek. Pengalaman yang mampu disadari akan mengarahkan individu untuk menentukan pilihan efektif. Tahap ini, meski tidak banyak konseli yang melaluinya, ditandai dengan karakteristik berupa keterbukaan akan pengalaman yang menuntun hidup menjadi bergerak dan berkualitas. Sebagai simpulan, proses tersebut melibatkan: (1) perasaan yang lega; (2) perubahan pada sikap terhadap pengalaman; (3) perubahan dari inkongruensi menjadi kongruen; (4) muncul keinginan dalam diri individu untuk mengkomunikasikan dirinya sendiri dalam suasana tersbuka; (5) peta kognitif konseli menjadi lebih luas; (6) adanya perubahan hubungan antara individu dengan masalah yang dihadapi; serta (7) perubahan sikap individu dalam berelasi dengan lingkungannya.
5. Teknik Konseling
Sebagian besar pendekatan konseling memiliki teknik konselingnya masing-masing. Pada pendekatan berpusat pribadi ini, orientasinya menekankan pada hubungan konseli-konselor dengan teknik keterampilan komunikasi konseling. Teknik sifatnya sekunder dibandingkan sikap konselor selama proses konseling. Pendekatan berpusat pribadi meminimalkan teknik-teknik direktif, penafsiran, tanya jawab, penyelidikan, diagnosis, dan pengumpulan sejarah. Proses konseling berpusast pribadi lebih memaksimalkan pada aspek mendengarkan dan mendengar aktif, pemantulan
perasaan, dan klarifikasi. Keterlibatan penuh dari konselor sebagai pribadi dalam hubungan konseling lebih ditekankan.
Dalam konseling person centered, penekanan teknik konseling yang digunakan lebih kepada kepribadian, keyakinan dan sikap konselor. Teknik dasar komunikasi konseling berpusat pribadi (Eliason & Smith, dalam Erford, 2004) antara lain: (1) active listening; (2) reflection of thoughts and feelings; (3) clarification; (4) summarization; (5) confrontation; (6) open-ended statements.
Konselor dengan pendekatan berpusat pribadi memiliki peran penting dalam memberikan bantuannya melalui keterampilan komunikasi konseling. Pada dasarnya, keterampilan dasar konseling yang diaplikasikan dalam konseling berpusat pribadi yaitu:
a. Acceptance (penerimaan), adalah bentuk perilaku konselor yang ditunjukkan pada konseli sebagai penerapan sikap dasarnya yang ditunjukkan konselor dengan: 1) menerima apa adanya konseli sebagai pribadi yang unik, 2) tidak menolak (alih-alih menyalahkan apa yang dikatakan konseli), dan 3) tidak menyetujui apa yang dikatakan konseli. Teknik acceptance mencakup non verbal (mimik wajah, kontak mata, gestur tubuh) dan verbal. Modalita verbal meliputi respon verbal minimal (seperti “ya...ehm..oh...”) dan respon verbal lengkap yang terdiri dari: (a) kata subjek, (b) penerimaan; (c) kata situasi (contoh: “Saya mengerti (b) apa yang Andi (a) katakan ketika orang tua tidak setuju dengan keputusanmu (c)”).
b. Lead/ Open Question (teknik bertanya), meruapakan tindakan konselor dengan mengajukan pertanyaan kepada konselo agar konselor memperoleh informasi yang spesifik. Bertanya merupakan salah satu bentuk teknik pengarahan (lead) yang dibedakan menjadi lead umum dan lead khusus. Modalita yang biasanya digunakan untuk teknik bertanya misalnya: “Apa..?”, “Bagaimana...?”, “Kapan..?”, “Siapa..?”, “Mengapa…?”, “Di mana...?” dan berbagai kata tanya lainnya. Komponen teknik bertanya meliputi 1) kata tanya (sebagai pembuka), dan (2) kalimat informasi yang berkaitan dengan arah atau tujuan dari pembicaraan. Contoh lead umum: “Bagaimana (1) Anda memandang dirimu saat ini setelah orangtuamu tidak menyetujui pilihanmu (2)?”
c. Restatement dan Paraphrasing (Pengulangan penyataan dan Parafrase), tujuannya untuk menunjukkan kepada konseli bahwa konselor senantiasa memperhatikan informasi yang disampaikan konseli. Restatement adalah keterampilan untuk mengulang/ menyatakan kembali sebagian pernyataan konseli yang dianggap
penting. Restatement biasanya terdiri dari dua atau tiga kata yang dianggap mewakili ide pokok dari pernyataan konseli. Parafrase adalah mengulang kalimat/ pernyataan singkat konseli secara utuh, apa adanya, tanpa merubah maknanya. Perubahan kata bisa dilakukan untuk rasionalnya kalimat namun perubahan itu tidak menggeser arti kata atau kalimat konseli. Parafrase memiliki dua komponen, yaitu 1) kata-kata inti atau kata-kata yang mendapat penekanan, dan 2) kata pelengkap. Parafrase seringkali diawali dengan modalita yang merupakan kata pembuka, seperti: “Anda katakan...”, “Keterangan Anda menunjukkan...”, “Menurut Anda...”, “Menurut tangkapan saya ...” Kata-kata pembuka selanjutnya diikuti dengan komponen dalam parafrase. Berikut ini contoh penggunaan teknik parafrase:
Konseli : “Orang tua saya tidak menyetujui keinginan saya di jurusan Teknik Mesin.”
Respon Restatement Konselor
Konselor : “Orang tua tidak setuju..” (pernyataan fokus pada aksen) Respon Parafrase Konselor
Konselor : “Menurut Anda, orangtua Anda tidak setuju (1) kalau Anda masuk Jurusan Teknik Mesin (2).”
d. Reflection of thoughts and feelings (pemantulan pikiran dan perasaan), yaitu keterampilan yang digunakan konselor untuk memantulkan perasaan (terdapat pesan emosi) yang berisi tafsiran pikiran perasaan yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan/ sikap baik positif maupun negatif yang terkandung di balik pernyataan konseli. Komponen dari keterampilan pemantulan perasaan adalah (1) kata dugaan merupakan kata pendahuluan yang modalitanya contohnya rupa-rupanya.., tampaknya.., kelihatannya.., rasa-rasanya.., kedengarannya.., nada-nadanya.., agaknya.., mungkin.., barangkali..; (2) kata perasaan atau pikiran contohnya positif (seperti bahagia, gembira, senang), negatif (marah, malu, benci), dan ambivalensi atau perpaduan antara afeksi positif dengan negatif (seperti bingung, bimbang, ragu); (3) kata situasi (keterangan). Contoh penggunaan teknik pemantulan perasaan:
Konseli: “Pak, saya sudah belajar dengan giat sebelum menghadapi UAS, tetapi nilai yang saya terima jauh di bawah yang saya harapkan”.
Konselor: “Sepertinya Anda merasa kecewa terhadap nilai UAS yang Anda terima saat ini”.
e. Clarification (klarifikasi), keterampilan yang digunakan untuk mengungkapkan kembali isi pernyataan konseli dengan menggunakan kata-kata baru dan segar atau suatu keterampilan yang merumuskan inti-inti kalimat dan gagasan konseli dalam bentuk lain dengan makna sama. Tujuan klarifikasi mengungkap isi pesan utama konseli dan memperjelas isi pesan yang diungkap konseli. Komponen teknik klarifikasi antara lain: (1) kata kunci penegas modalitanya antara lain “Pada dasarnya..”, “Pada pokoknya…”, “Pada intinya…”, “Singkat kata…”, “Dengan kata lain…”, “Maksudnya…”, “Pendek kata …”, “Artinya…”, “Pada prinsipnya...”, “Jelasnya…” dan sebagainya.; (2) kata subjek; (3) predikat. Ada dua jenis klarifikasi yaitu: (1) klarifikasi tak langsung dan (2) klarifikasi tak langsung. Contoh bentuk penerapan teknik klarifikasi antara lain:
Klarifikasi tak langsung:
Konselor: “Apa (1) yang Anda (2) maksud dengan ungkapan bahwa anda sayang orang tua tapi tidak bisa memenuhi harapannya (3)?”
Klarifikasi langsung:
Konseli: “Begini Pak, saya sekarang ini dalam keadaan sulit. Setelah lulus nanti saya ingin berwiraswasta dengan membuka usaha kecil-kecilan di rumah, tetapi ibu menginginkan saya jadi pegawai negeri. Katanya, jadi pegawai negeri itu lebih tenang dibandingkan dengan jadi seorang wirausahawan.” Konselor: “Pada dasarnya (1) Anda (2) memiliki perbedaan keinginan dengan ibu
Anda dalam hal pilihan pekerjaan.”
f. Confrontation (Konfrontasi), adalah teknik untuk menunjukkan adanya kesenjangan, diskrepansi atau inkronguensi dalam diri konseli lalu konselor mengumpanbalikkan kepada konseli. Komponen teknik konfrontasi meliputi (1) kata pembuka/penggugah contoh modalitanya harap anda cermati…”, “sadari hal menarik bahwa…”, “perlu diperhatikan...”, “sangat mengesankan bahwa...”; (2) pesan yang “dipertentangkan” contoh modalitanya “…dari antara...ada yang...”; “..sementara...juga…”; “…anda katakan di awal tadi bahwa...dan terakhir…; “tadi anda mengatakan….terakhir terdengar...”, dan (3) kata atau kalimat tanya contoh modalitanya “...apakah ini berarti ...?”, “...ada penjelasan apa?”, “...apa yang Anda maksudkan...?”. Contoh penggunaan berbagai bentuk teknik konfrontasi sebagai berikut.
Konseli: “Bu, dalam pesta ulang tahun kemarin malam, Adi duduk dengan Ani sahabat saya. Saya sih tidak apa-apa dan gak cemburu, cuma saya pikir mestinya ia menghargai perasaan saya sebagai pacarnya”
Konselor: “Harap anda cermati, tadi anda mengatakan tidak cemburu kalau pacar anda duduk dengan sahabat Anda, sementara Anda juga mengatakan bahwa mestinya pacar Anda menghargai perasaan Anda...bagaimana maksudnya ini, apa ini bukan suatu kontradiksi?” 2) Antara pernyataan verbal dengan tindakan
Konseli: “Udah 2 hari ini saya marah banget dengan Adi gara-gara dia menghilangkan buku catatan saya, dan saya janji nggak ingin melihat mukanya apalagi menghubunginya apapun itu…menyebalkan !!!... tadi malam saya berusaha menelpon ia berkali-kali untuk membuat perhitungan dengan dia”
Konselor: “Anda tadi mengatakan marah dan sebal dengan Adi karena ia menghilangkan buku catatan Anda dan Anda tidak ingin lagi menghubunginya sementara tadi malam Anda berusaha menelepon Adi berkali kali. Bagaimana Anda menjelaskan tentang hal ini?”
3) Antara pernyataan dan tingkah laku non verbal
Konseli: “Pak saya ikut senang sekali Feri menikah dengan gadis pilihannya (berbicara dengan suara yang rendah, muram sambil mengeluarkan air mata dan menundukan kepala) ”
Konselor: “Saudara tadi mengatakan ikut senang dengan pernikahan Feri, sementara Anda menangis, muram dan berbicara dengan suara rendah yang ini menurut saya mencerminkan rasa sedih. Bagaimanakah kiranya ini?”
4) Antara dua tingkah laku non verbal
Konseli: (mengeluarkan air mata dengan mata memerah) (pesan non verbal 1) dan (mulut terrtawa terbahak-bahak) (pesan non verbal 2)
Konselor: “Cukup terkesan saya, Anda menangis sambil tertawa; bisakah Anda menjelaskannya?”
g. Reassurance (penguatan/dukungan), adalah keterampilan/teknik konselor untuk memberikan dukungan/penguatan terhadap pernyataan positif konseli agar menjadi lebih yakin dan percaya diri. Reassurance terdiri atas prediction
reassurance, postdiction reassurance, dan factual reassurance. Contoh aplikasinya:
1) Prediction Reassurance (Penguatan prediksi), dilakukan konselor terhadap pernyataan/rencana positif yang akan dilaksanakan konseli. Contoh:
Konseli : “Pak nilai semester ini bagi saya adalah nilai yang sangat mengecewakan, hal ini terjadi karena saya memang malas belajar, namun mulai semester depan saya akan belajar dengan giat dan selalu belajar walaupun tidak ada ulangan.
Konselor : “Bagus sekali, jika anda mulai semester dapan akan belajar lebih giat dan selalu belajar walaupun tidak ada ulangan tidak mustahil nilaimu akan lebih baik dari semester ini”.
2) Posdiction Reassurance (Penguatan postdiksi), adalah penguatan/dukungan konselor terhadap tingkah laku positif yang telah dilakukan konseli dan tampak hasil yang diperoleh dari apa yang dilakukan oleh konseli tersebut. Contoh:
Konseli : “Pak dua hari yang lalu saya bertengkar dengan adik saya gara-gara saya secara tidak sengaja menumpahkan air di kertas pekerjaan rumahnya dan semenjak itu dia tidak mau menyapa ataupun tersenyum pada saya meskipun kami satu rumah, tetapi saya berusaha menjelaskan kepada adik dan meminta maaf atas kesalahan saya itu. Ya...Alhamdulillah Pak sekarang adik saya mulai menyapa saya dan tidak marah lagi kepada saya.
Konselor : “Bagus sekali, setelah anda berusaha menjelaskan dan meminta maaf atas kesalahan yang anda perbuat ternyata adik anda sekarang dapat memaafkan dan bersikap baik kepada anda”.
3) Factual Reassurance (Penguatan factual), merupakan penguatan konselor untuk mengurangi beban penderitaan secara psikis konseli dengan cara mengumpulkan bukti/fakta bahwa kejadian yang tidak diharapkan yang menimpa konseli bila dialami oleh orang lain akan memberi dampak yang sama atau relatif sama dengan apa yang dialami oleh konseli. Contoh:
Konseli : “Bu, selama ini saya dan adik selalu dekat dan saya sangat menyayanginya, tetapi Bu saya tidak mengira kemarin saya dapat telpon dari ayah kalau adik saya meninggal karena jatuh dari sepeda motor. Kejadian ini sangat memukul dan membuat saya sedih”.
Konselor : “Setiap kakak yang menyayangi adiknya sudah barang tentu merasa terpukul dan sedih ketika mendengar kabar adik yang sangat disayanginya meninggal”.
h. Summary (merangkum), adalah teknik konselor/konseli untuk membuat simpulan mengenai apa yang telah dibicarakan dalam sesi konseling. Beberapa bentuk teknik perangkuman yaitu: (1) perangkuman bagian langsung dan tak langsung; 2) perangkuman keseluruhan/perangkuman akhir: langsung dan tak langsung. Komponen teknik merangkum meliputi: (1) kata penggugah perhatian modalitanya “sampai pada pembicaraan kita sekarang ini...”; “sejak awal pembicaraan kita sampai menit-menit ini…”; “di tengah-tengah pertemuan ini…”; “dari apa yang Anda bicarakan…”; (2) kata isyarat dan kata kunci perangkuman modalitanya “…hal penting…”; “…inti perbincangan kita…”; “…pokok-pokok pembicaraan…”; “…ada dua (atau tiga, empat dan seterusnya) hal yang penting yaitu…”; (3) paduan isi, topik atau rangkuman. Contoh penggunaan summary:
Konselor: “Di tengah-tengah pertemuan ini (1) hal penting dari pembicaraan kita (2) yaitu pertama cara belajar Anda, kedua perilaku bergaul dengan teman, dan ketiga hubungan dengan pacar (3)”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teknik dalam konseling person centered adalah acceptance, reassurance, reflection of feeling, lead/ open question, active listening, restatement, paraprashing, clarification, summary, interpretation, konfrontation. Teknik ini dilakukan karena konseling person centered lebih menekankan pada bagaimana seorang konseli menyelesaikan masalahnya dengan mengandalkan potensi yang ada pada dirinya.
6. Keunggulan dan Keterbatasan
Pendekatan ini mengandung banyak unsur positif seperti tekanannya pada peranan konseli sendiri sebagai pihak yang akhirnya menentukan keberhasilan atau kegagalan proses konseling, kebebasan yang diberikan kepada konseli untuk menentukan apa yang akan diubahnya pada diri sendiri, pentingnya hubungan antarpribadi dalam proses konseling, pentingnya konsep diri dan keharusan konselor untuk menunjukkan sikap penuh pemahaman dan penerimaan. Kekuatan dan kontribusi pendekatan konseling berpusat pribadi antara lain:
a. Konseli akan dapat mengekspresikan secara penuh apa yang dirasakannya karena tidak mendapat penilaian negative dari konselor.
b. Individu akan lebih berkembang secara optimal jika mendapat unconditional positive regard.
c. Dapat diterapkan di berbagai setting dan perspektif multikultural.
d. Konseli mendapatkan pengalaman positif dari proses konseling karena memusatkan pada dirinya sendiri.
e. Konseli lebih mampu mengenal diri konseli sendiri.
Sebagai kelemahan sejumlah ahli psikologi konseling menunjukkan tekanan terlalu besar yang diberikan pada perasaan sehingga komponen berpikir rasional tidak mendapat tempat yang sewajarnya, tujuan konseling pengembangan diri yang maksimal dianggap terlalu umum, sehingga diragukan apakah suatu proses konseling akan menghasilkan perubahan konkret yang tampak jelas dalam perilaku konseli pada saat-saat perubahan semacam itu dibutuhkan apalagi tanpa pengarahan dan sugesti/ saran dari pihak konselor tidak semua konseli akan menangkap makna dari pendekatan yang diterapkan konselor sehingga mereka merasa seolah-olah dibiarkan berputar-putar dalam dirinya sendiri tanpa ada tujuan dan arah yang jelas. Keterbatasan pendekatan konseling berpusat pada pribadi yaitu:
a. Optimisme yang tidak realistis.
b. Sangat sulit bagi konseli menemukan jalannya sendiri.
c. Tanpa menggunakan teknik yang detail, konseling tidak bisa berjalan secara optimal, hanya konselor sebagai instrument.
d. Dengan terapis hanya menunjukkan dukungan, mendengarkan, peduli, dan penerimaan yang hangat saja tidak cukup untuk berubah.
e. Tidak relevan digunakan bagi konseli yang tidak memilik motivasi untuk berubah.
f. Tidak bisa digunakan bagi konseli yang memiliki kasus patologis/berat, untuk orang-orang normal saja