PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
13
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS TRANSIT
ORIENTED DEVELOPMENT UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
Mulyadi Sugih Dharsono
Program Studi Teknik Sipil, Institut Sains dan Teknologi Pradita, Scientia Business Park Tower I, Gading Serpong, Tangerang, Indonesia, 0816862211
Abstrak
Peningkatan jumlah penduduk kota di negara-negara dunia diperkirakan mencapai 50%
pada tahun 2030. Kebutuhan sumber daya alam terus meningkat seiring dengan
pertumbuhan penduduk tersebut. Di Indonesia, pertumbuhan penduduk berdampak pada
berbagai masalah seperti kemacetan, krisis sumber daya energi, dan penurunan kualitas
lingkungan. Tingginya arus mobiltas untuk melakukan aktivitas pekerjaan harian
merupakan salah satu penyebab terjadinya permasalahan transportasi di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu sistem transportasi perkotaan
berbasis Transit Oriented Development (TOD) pada suatu wilaya studi kasus sehingga
meningkatkan efisiensi energi secara khusus dari aspek mobilisasi harian masyarakat.
Pengembangan dilakukan pada wilayah pendukung ibukota sehingga terintegrasi dengan
alat atau moda transportasi kota. Metode kuantitatif digunakan untuk menghitung
petumbuhan efisiensi energi melalui studi perbandingan. Hasil karya ilmiah ini
menghasilkan peningkatan efisiensi sumber daya energi sebesar 50%. Potensi
peningkatan efisiensi dengan Konsep Transit Oriented Development (TOD) masih
memiliki peluang berkelanjutan diantaranya penurunan masalah kemacetan dan
peningkatan kualitas lingkungan untuk peningkatan selanjutnya.
Kata Kunci: Transit Oriented Development (TOD), Efisiensi Energi, Wilayah Perkotaan, Sistem Transportasi
Abstract
The increase of cities population in the world estimated to reach 50% in 2030. Natural
resource needs continue to accommodate along with the population growth. In Indonesia,
population growth has an impact on various problems such as congestion, the crisis of
energy resources, and a negative impact on environmental quality. The high mobility of
carrying out daily work activities is one of the causes of transportation problems in
Indonesia. This study aims to develop a Transit Oriented Development (TOD) urban
transportation system in a case study area to improve energy efficiency specifically from
the aspect of daily community mobilization. The development is carried out in the
supporting areas of the capital so that it is integrated with the tools or modes of urban
transportation. Quantitative methods are used to calculate energy efficiency growth
through comparative studies. The results of this scientific work resulted in an increase in
the efficiency of energy resources by 50%. The potential for increased efficiency with the
concept of Transit Oriented Development (TOD) still has a sustainable opportunity
including a reduction in congestion problems and improved environmental quality for
further improvement.
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
14
1. Pendahuluan
Jumlah penduduk kota di beberapa negara dunia terus mengalami peningkatan secara signifikan. Berdasarkan data (Gerland et al., 2014), pertumbuhan tersebut akan mencapai lebih dari 50% pada Tahun 2030. Dampak dari peningkatan penduduk di kota mengakibatkan peningkatan jumlah emisi gas rumah kaca yang diperkirakan lebih dari 50% (Khanna, Romankiewicz, Zhou, Feng, & Ye, 2014; Zhou et al., 2017). Pengendalian dampak negatif dari pertumbuhan penduduk di kota memerlukan suatu rekayasa teknis sehingga keberlanjutan akan kebutuhan energi, penurunan emisi, dan persebaran penduduk tetap pada batas yang aman.
Pada Gambar 1. terlihat tiga sektor penggunaan energi tertinggi di dunia yaitu sektor industri, sektor transportasi, dan sektor rumah tangga (Kılkış, 2016; Ziogou, Michopoulos, Voulgari, & Zachariadis, 2017). Dari ketiga sektor tersebut, sektor transportasi merupakan pengguna energi yang mengalami peningkatan secara signifikan yaitu sebesar 1,4% setiap tahun (Conti et al., 2016). Penggunaan energi pada sektor transportasi di wilayah perkotaan mayoritas pada penggunaan mobil dan motor pribadi. Oleh karena itu, pengendalian terhadap penggunaan kendaraan bermotor perlu dikendalikan untuk mencegah terjadinya krisis energi dan dampak penurunan kualitas lingkungan lainnya.
Gambar 1. Penggunaan Data Energi di Indonesia tahun 2011-2013 Sumber: Statistik (2017)
Dari beberapa penyebab polusi udara yang ada terbukti emisi transportasi merupakan penyumbang pencemaran udara tertinggi yakni kurang lebih 85%. Hal tersebut terlihat jelas dari sebagian besar kendaraan bermotor menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai maupun penggunaan bahan bakar yang kualitasnya kurang baik (Ismiyati, Marlita, & Saidah, 2014). Pencemaran udara disebabkan tingginya volume gas buang emisi kendaraan angkutan umum dan pribadi yang keluar dan masuk kota tersebut. Oleh karena itu, penulis merasa perlu adanya melakukan penelitian mengenai pengembangan model transportasi dengan sistem Transit Oriented Development (TOD) untuk menurunkan emisi gas buang dari sektor transportasi dengan studi kasus di salah satu wilayah pendukung Ibukota DKI Jakarta yaitu Kota Bekasi.
Kepadatan penduduk dapat ditandai dengan banyaknya jumlah fasilitas kota seperti pusat pemerintahan, bangunan komersial, taman daerah, industri, hunian, dan pusat bisnis. Selanjutnya, pengembangan suatu wilayah perlu memperhatikan kebutuhan masyarakat dan tingkat pertumbuhan populasi. Pesatnya pertumbuhan populasi yang tidak terkendali dapat mengakibatkan tidak meratanya kemajuan suatu wilayah seperti di Indonesia yang hanya
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
15
memiliki lahan produktif di wilayah kota yaitu kurang lebih 1.123 km² untuk dapat dimanfaatkan sebagai aktivitas perekonomian (Sadewo & Syabri, 2018).Jabodetabek merupakan wilayah Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbanyak. Pusat pertumbuhan penduduk yang terdapat di Jakarta yang didukung oleh beberapa kota penyangga seperti kota Tangerang Selatan, Kota Bekasi, Kota Bogor, dan Kota Depok. Pada Gambar 2, Kota Bekasi memiliki sumber daya manusia terbesar untuk mendukung aktivitas di kota Jakarta yaitu sebesar 41%. Karena Bekasi terus berkembang supaya pemerataan dan adanya keberlanjutan penggunaan energi dan menurunkan dampak emisi gas buang. Adanya moda transportasi massal yang memiliki dampak dimana moda tersebut merupakan alat transportasi utama bagi para commuter kota Bekasi yang menuju ke Jakarta untuk pemerataan sehingga dipastikan adanya pengembangan wilayah di Bekasi utara di mana kapasitasi commuter line tersebut semakin tidak mencukupi kebutuhan transportasi commuter di Kota Bekasi. Oleh karena itu, penelitian ini melihat potensi LRT yang dibangun oleh pemerintah pusat di mana jalur LRT melewati Wilayah Bekasi Barat yang masuk di Bekasi Barat. Namun, untuk menjangkau LRT dari Kawasan Kota Baru Bekasi yang menjadi usulan wilayah pengembangan pada penelitian ini, relatif sulit karena sedikit pilihan moda penghubung. Adapun usulan moda yang ditinjau pada penelitian ini dipertimbangkan berdasarkan efisiensi energi dan rendah emisi.
Gambar 2. Jumlah Komuter dari Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok menuju Bekasi
Sumber: Indonesia (2016)Pada Gambar 3 menggambarkan wilayah Jabodetabek dan wilayah - wilayah penyangganya. Bekasi merupakan salah satu wilayah dengan penduduk terbanyak di daerah Jabodatebak. Bekasi memiliki permasalahan dalam penyebaran penduduknya seperti pada Bekasi Utara memiliki 373.054 jiwa sedangkan Bekasi Selatan memiliki 227.246 jiwa. Oleh karena itu, Bekasi memerlukan adanya pemerataan penduduk dengan metode TOD berdasarkan penelitian terdahulu untuk menghandalkan sistem transportasi dan memeratakan persebaran penduduk. Berdasarkan latar belakang masalah yang ada pada pembahasan sebelumnya, tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh sistem TOD terhadap efisiensi energi di Bekasi, untuk mengetahui dampak dari sistem TOD terhadap penurunan emisi di Bekasi, untuk mengetahui dampak dari TOD terhadap penyebaran penduduk di Bekasi.
41% 32% 3% 24% Kota Bekasi Depok Kota Bogor Kota Tangerang Selatan
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
16
Gambar 3. Penggunaan Data Energi di Indonesia tahun 2011-2013Sumber: (Yohanitas & Prayitno, 2014)
2. Tinjauan Pustaka
Efisiensi energi adalah perbandingan antara energi yang dapat dimanfaatkan terhadap energi yang dibutuhkan. Semakin tinggi tingkat efisiensi energi maka penggunaan energi akan semakin sedikit untuk hasil yang sama (Demarty & Bastien, 2011). Energi tersebut digunakan dalam sektor transportasi, sektor industri, sektor rumah tangga, sektor komersial, dan sektor pembangkit (ESDM, 2013). Penelitian ini lebih spesif membahas pada sektor transportasi.
Emisi gas buang kendaraan merupakan sisa pembakaran mesin yang dikeluarkan melalui sistem pembuangan mesin (Eddy et al., 2018). Emisi gas buang kendaraan bermotor diukur dalam gram per kendaraan per km dari suatu perjalanan dan terkait dengan beberapa faktor seperti tipe kendaraan, umur kendaraan, ambang temperatur dan ketinggian. Berikut adalah komposisi Emisi gas buang dari sektor transportasi yaitu CO (Karbon oksida), NO (Nitrogen Oksida), HC (Hidro Karbon), CO2 (Karbon dioksida), SO2 (Oksida Belerang), dan PM10 (Particulate Mater).
Definisi TOD berkaitan dengan upaya peruntukan lahan yang dipusatkan pada titik –titik transit atau simpul transportasi dengan karakter desain peruntukan yang bercampur, kemudahan akses kendaraan tidak bermotor, dan tingkat kepadatan yang tinggi di setiap titik pemberhentian. Konsep TOD beetujuan untuk menciptakan lingkungan yang mengurangi ketergantungan tinggi terhadap kendaraan pribadi dan mendorong penggunaan transportasi umum yang diangkut dari titik transit (Handayani & Ariastita, 2014).
3. Metode Penelitian
Pada Gambar 4, menunjukkan alur proses dari penelitian ini. Metode – metode yang digunakan dalam pengumpulan dan analisa data yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kualitatif adalah metode yang menggunakan pendekatan sosial dengan menggunakan proses komunikasi antara peneliti dengan fenomena yang diteliti (Saryono, 2010). Metode kualitatif yang kami lakukan dalam penelitian ini berupa; Studi literatur dan wawancara (in-depth interview) kepada pakar transportasi. Kemudian penelitian ini dilanjutkan dengan penggunaan metode kuantitatif melalui pendekatan analisa frekuensi pada data-data sekunder. Analisa frekuensi tersebut digunakan untuk menghitung rata-rata penggunaan energi dari setip moda transportasi, emisi, dan kepadatan penduduk suatu wilayah.
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
17
Gambar 4. Diagram alur proses penelitianSumber : Peneliti (2019)
Berdasarkan jumlah rata – rata komuter Jakarta yang sudah dibagi kedalam jenis moda transportasi yang digunakan maka dapat dihitung penggunaan energi. Perbandingan yang digunakan pada penilitian yaitu jumlah energy antar BRT dan kendaraan pribadi (Motor dan mobil). Adapun rumus penggnnaan energy pada setiap jenis kendaraan atau Jumlah Energi Moda Transportasi tersebut yaitu:
JEMT =
TJTK x JJK 𝐾𝐵𝐵𝐾dimana TJTK adalah total jarak tempuh rata-rata kendaraan pribadi komuter dari Kota Bekasi menuju kota – kota di Jakarta, sedangkan JJK adalah jumlah setiap jenis kendaraan. KBBK merupakan koefisien bahan bakar kendaraan yang mana untuk kendaraan bermotor berbahan bakar minyak nilai KBBK yaitu 48 km/liter, sedangkan mobil 10 km/liter serta bus berbahan bakar gas 4,5 km/liter.
4. Hasil dan Pembahasan
4.1. Hasil
Penelitian ini diawali dengan melakukan studi literatur untuk mengamati permasalahan kota terhadap penurunan kualitas lingkungan. Variabel dari kedua konsep permasalahan kemudian di validasi pada tiga pakar transportasi yang berasal dari yaitu akademisi, pemerintah, dan dua pengembang kawasan. Hasil dari validasi tersebut yaitu penilaian terhadap faktor keberhasilan pengembangan TOD.
Tabel 1. Hasil validasi awal moda transportasi
Variabel Indikator Monorel BRT
Ketersediaan Ketersediaan pembuatan jaringan √ √√√√
Keandalan √√√√ √√√√
Dampak dari pengggunaan energy √ √√√√
Aksesibilitas Akses Internal √√√ √√√
Akses Eksternal √√√ √√√
Waktu Ketepatan waktu √√√√ √√√√
Keamanan dan kenyamanan Jumlah simpang √√√ √√√
Sumber : Hasil olahan peneliti (2019)
Tabel 1 menunjukkan ringkasan hasil wawancara dan masukkan dari para pakar transportasi yang mana moda transportasi yang disarankan untuk menghubungkan tempat pada suatu wilayah kota berkembang yaitu monorail dan Bus Rapid Transit (BRT). Setelah itu, peneliti membuat suatu matriks penilaian yang berisi indikator dari variabel kelayakan moda transportasi
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
18
yang dinilai oleh para pakar tersebut. Hasil dari penilaian menunjukkan keunggulan dan kelemahan dari masing-masing moda transportasi yang mana transportasi moda BRT memiliki kelayakan lebih tinggi dibandingkan dengan monorail. Alasan utama dari pemilihan BRT yaitu ketersedian pembuatan jaringan yang lebih mudah dan penggunaan energi yang lebih efisien. Namun, monerel disarankan untuk jangka panjang karena memiliki keandalan yang cocok untuk kota maju.Tabel 2. Jarak rata-rata komuter di Bekasi – Jakarta Jenis Kendaraan Jumlah kendaraan
(%)
Jarak tempuh Comuter Bekasi-Jakarta Sepeda 5.48% 138.628.327.20 Sepeda Motor 58.18% 1.471.787.605.00 Mobil 12.78% 332.791.506.4.00 Kendaraan umum 14.23% 359.978.302.20 Kereta 6.99% 176.827.008.50 Trans Jakarta 2.39% 60.460.164.60
Kendaraan jam pulang 3.38% 85.504.333.20
Lainnya 0.40% 10.118.856.00
Sumber : Hasil olahan peneliti (2019)
Berdasarkan masukkan para pakar maka penelitian ini melanjutkan penilian terhadap kelayakan penggunaan energi, jumlah emisi, dan kemampuan pemerataan penduduk dari pengembangan moda transportasi BRT yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi berupa motor dan mobil. Untuk menghitung penggunaan energi maka dibutuhkan data jarak rata – rata komuter dari Kota Bekasi seperti pada Tabel 2. Sedangkan jumlah rata – rata komuter Jakarta yang sudah dibagi kedalam jenis moda transportasi yang digunakan maka dapat dihitung penggunaan energi seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Efisiensi energi di Kota Bekasi
Skema Energi Jumlah
I 25% 4 𝐵𝑢𝑠 𝐵𝑅𝑇 × 2 𝐿𝑎𝑙𝑢𝑎𝑛 × 2 𝐿𝑖𝑡𝑒𝑟 × 𝑅𝑝. 3.100.00, . × 25 ℎ𝑎𝑟𝑖 × 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 Rp14.880.000.00,./thn 𝐿𝑅𝑇 = 25 100× 𝑅𝑝. 15.000.00, .× 331.344 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 × 25 ℎ𝑎𝑟𝑖 × 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 Rp.37.276.200.000.00,./thn 𝐾𝑃 = 75 10012.462.172 𝐿𝑖𝑡𝑒𝑟 × 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 × 𝑅𝑝. 7.800.00,. Rp.87.484.447.440.00,./thn Total Rp.127.775.274.000.00,./thn II 50% 8 𝐵𝑢𝑠 𝐵𝑅𝑇 × 2 𝐿𝑎𝑙𝑢𝑎𝑛 × 2 𝐿𝑖𝑡𝑒𝑟 × 𝑅𝑝. 3.100.00, . × 25 ℎ𝑎𝑟𝑖 × 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 Rp.29.760.000.00,./thn LRT=10050 × 𝑅𝑝. 15.000.00. ,× 331.344 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 × 25 ℎ𝑎𝑟𝑖 × 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 Rp.74.552.400.000.00,./thn 𝐾𝑃 = 50 10012.462.172 𝐿𝑖𝑡𝑒𝑟 × 12𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 × 𝑅𝑝. 7.800.00,. Rp.58.322.964.960.00,./thn Total Rp.132.905.125.000.000.00,./thn III 75% 12 𝐵𝑢𝑠 𝐵𝑅𝑇 × 2 𝐿𝑎𝑙𝑢𝑎𝑛 × 2 𝐿𝑖𝑡𝑒𝑟 × 𝑅𝑝. 3.100.00, . × 25 ℎ𝑎𝑟𝑖 × 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 Rp.44.640.000.00,./thn 𝐿𝑅𝑇 = 75 100𝑅𝑝. 15.000.00, .× 331.334 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 × 25 ℎ𝑎𝑟𝑖 × 12𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 Rp.111.825.225.000.00,./thn 𝐾𝑃 = 25 100× 12.462.172 𝐿𝑖𝑡𝑒𝑟 × 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 × 𝑅𝑝. 7.800.00,. Rp.29.161.482.480.00,./thn
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
19
Skema Energi Jumlah
Total Rp.141.031.347.500.00,./thn
Sumber : Hasil olahan peneliti (2019)
4.2. Pembahasan
Penelitian membahas 3 skema simulasi penggunaan moda transportasi komuter Bekasi-Jakarta yang mana skema 1 diasumsikan jumlah pengguna kendaraan pribadi sebanyak 25% beralih meggunakaan kendaraan umum sehingga untuk menempuh Bekasi–Jakarta membutuhkan moda transportasi LRT dan BRT, sedangkan 75% komuter lainnya menggunakkan transportasi pribadi. Demikian juga untuk skema 2 dan 3 masing-masing ke kendaraan umum sejumlah 50% dan 75%. Semakin banyak komuter yang berpindah ke kendaraan umum maka akan semakin mengurangi penggunaan energi (Tabel 3). Bila seluruh pengguna kendaraan pribadi beralih menggunakkan kendaraan umum maka pencemaran udara akan terus mengalami penurunan yang disebabkan oleh penggunaan transportasi pribadi. Kemudian membutukan jumlah moda transportasi BRT lebih banyak untuk menampung pengguna kendaraan pribadi yang beralih ke kendaraan umum.
Penelitian ini menghasilkan 3 skema simulasi pencemaran udara akibat moda transportasi pribadi dan kendaraan umum komuter Bekasi-Jakarta yang kemudian diasumsikan skema 1 penggunaan kendaraan umum yang beralih 25% ke kendaraan umum sehingga untuk menempuh perjalanan dari Bekasi-Jakarta membutuhkan biaya yang semakin tinggi yang diakibatkan oleh banyaknya gas emisi yang terbuang dibandikan dengan menggunakan BRT yang membuat pengeluaran gas emisi lebih sedikit. Maka akan semakin tinggi biaya beban lingkungan terhadap kualitas udarayang semakin buruk akibat banyaknya gas emisi yang terbuang oleh kendaraan pribadi. Demikian juga skema 2 dan 3 yang diasumsikan masing-masing pindah ke kendaraaan umum sebanyak 50% dan 75%. Semakin banyak kendaraan pribadi yang pindah ke kendaraan umum maka akan semakin mengurangi jumlah emisi gas yang terbuang. Kemudian akan menghemat penggunaan energi serta meningkatkan kualitas linguangan yang lebih baik oleh adanya BRT.
Tabel. 4 Gas Emisi di Kota Bekasi
Skema Emisi Jumlah
I 25% 4 𝐵𝑢𝑠 × 𝑅𝑝. 3.390,00 Rp.13.560.00,./thn 75 100× 𝑅𝑝. 9.400.824.980,00 Rp.7.050.618.735.00,./thn Total Rp.7.050.632.295.00,./thn II 50% 8 𝐵𝑢𝑠 × 𝑅𝑝. 3.390,00 Rp.27.120.00,./thn 50 100× 𝑅𝑝. 9.400.824.980,00 Rp.4.700.412.490.00,./thn Total Rp.4.700.439.612.00,./thn III 75% 12 𝐵𝑢𝑠 × 𝑅𝑝. 3.390,00 Rp.40.680.00.,/thn 25 100× 𝑅𝑝. 9.400.824.980,00 Rp.2.350.206.245.00,./thn Total Rp.2.350.246.925.00,./thn
Sumber : Hasil olahan peneliti (2019)
5. Kesimpulan dan Dampak Penelitian
Untuk mengatasi hemat energi dan pengurangan gas emisi didapatkan solusi dengan penelitian ini maka jumlah energi yang dikeluarkan 75% dalam penggunaan energi akan menghasilkan penghematan sebesar 50% ini terlihat bahwa semakin banyak komuter yang berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum maka akan mengurangi penggunaan energi. Emisi paling optimum adalah 50% untuk pengguanaan angkutan umun baru yaitu BRT. Peralihan tersebut akan mengurangi dapak terhadap kualitas lingkungan.
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
20
Selanjutnya, jika penguna kendaraan pribadi dikurangi akan meminimalisir penggunaan energi dan emisi. Adanya penghubugan antara kawasan Kota Bekasi Baru dengan Metropolitan Mall menggunakan BRT sebagai alternatif, maka rute BRT akan menghubungkan antara Bekasi Utara dan Bekasi Selatan sebagai tujuan pemerataan penduduk. Rute yang dipilih untuk Bekasi - Jakarta yaitu dengan menggunakan moda transportasi LRT.6. Keterbatasan Penelitian dan Penelitian Selanjutnya
Ruang lingkup dari penelitian ini yaitu pengamatan pada penelitian ini pada Kota Bekasi, tinjauan pada penelitian ini yaitu pemilihan moda dari aspek penggunaan energi emisi gas buang kendaraan, dan persebaran penduduk, serta penggunan data yang diperoleh dari BPS tahun 2016.
DAFTAR PUSTAKA
Conti, J., Holtberg, P., Diefenderfer, J., LaRose, A., Turnure, J. T., & Westfall, L. (2016).
International energy outlook 2016 with projections to 2040.
Demarty, M., & Bastien, J. (2011). GHG emissions from hydroelectric reservoirs in tropical and equatorial regions: Review of 20 years of CH4 emission measurements. Energy Policy,
39(7), 4197-4206.
Eddy, T., Alamsyah, B., Fatmawati, I., Aryza, S., Putera, A., & Siahaan, U. (2018). Enhancement operation system model in managing local resources-based environment towards sustainable development. Kumpulan jurnal dosen universitas muhammadiyah sumatera utara.
ESDM, D. B. D. E. K. (2013). Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Jenis Bioetanol. Jakarta: Direktorat Jendral EBTK.
Gerland, P., Raftery, A. E., Ševčíková, H., Li, N., Gu, D., Spoorenberg, T., . . . Lalic, N. (2014). World population stabilization unlikely this century. Science, 346(6206), 234-237.
Handayani, K. D. M. E., & Ariastita, P. G. (2014). Keberlanjutan Transportasi di Kota Surabaya Melalui Pengembangan Kawasan Berbasis TOD (Transit Oriented Development). Tataloka, 16(2), 108-115.
Indonesia, S. (2016). Badan pusat statistik. Diakses dari http://www.bps.go.id
Ismiyati, I., Marlita, D., & Saidah, D. (2014). Pencemaran udara akibat emisi gas buang kendaraan bermotor. Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik, 1(3), 241-248.
Khanna, N. Z., Romankiewicz, J., Zhou, N., Feng, W., & Ye, Q. (2014). From platinum to three stars: Comparative analysis of US and China green building rating programs. 2014 ACEEE
summer study on energy efficiency in buildings, 402-414.
Kılkış, Ş. (2016). Sustainable development of energy, water and environment systems index for Southeast European cities. Journal of cleaner production, 130, 222-234.
PENGEMBANGAN SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN BERBASIS “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI ENERGI
21
Sadewo, E., & Syabri, I. (2018). Perbandingan pendekatan reformasi metropolitan dalam menyelesaikan isu komuter di jakarta metropolitan area. Plano madani: jurnal perencanaanwilayah dan kota, 7(1), 89-105.
Saryono, a. (2010). Metodologi penelitian kualitatif dalam bidang kesehatan. Yogyakarta: Nuha
Medika, 98-99.
Statistik, B. P. (2017). Indeks Pembangunan Manusia 2016. Jakarta (ID): Badan Pusat
Statistik.
Yohanitas, W. A., & Prayitno, T. H. (2014). Pengelolaan Pengaduan Masyarakat Kota
Bekasi (Bekasi City Public Complaints Management). Jurnal Borneo Administrator,
10(3).
Zhou, B., Bentham, J., Di Cesare, M., Bixby, H., Danaei, G., Cowan, M. J., . . . Bennett, J. E. (2017). Worldwide trends in blood pressure from 1975 to 2015: a pooled analysis of 1479 population-based measurement studies with 19· 1 million participants. The Lancet, 389(10064), 37-55.
Ziogou, I., Michopoulos, A., Voulgari, V., & Zachariadis, T. (2017). Energy, environmental and economic assessment of electricity savings from the operation of green roofs in urban office buildings of a warm Mediterranean region. Journal of cleaner production, 168, 346-356.