• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Waktu Milling dan Temperatur Sintering Pada Pembentukan PbTiO 3 Dengan Metode Mechanical Alloying

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Waktu Milling dan Temperatur Sintering Pada Pembentukan PbTiO 3 Dengan Metode Mechanical Alloying"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak—PbTiO3 adalah Elektrokeramik yang terkenal mempunyai sifat dielektrik, piroelektrik, dan sifat piezoelektrik yang baik. Pada temperatur kamar menunjukkan struktur perovskit tetragonal. Aplikasi banyak digunakan dalam multilayer, aktuator dan sensor kapasitor. Dalam penelitian ini dilakukan sintesis partikel PbTiO3 menggunakan metode

mechanical alloying menggunakan planetary ball mill dengan

variasi waktu milling 10, 20 dan 30 jam dan temperatur sintering sebesar 850, 900 d an 1000°C. Karakterisasi yang dilakukan untuk analisa pembentukan PbTiO3 antara lain XRD dan SEM-EDX sedangkan untuk sifat kelistrikan PbTiO3 dianalisa dengan Uji kelistrikan. Senyawa PbTiO3 terbentuk setelah proses

sintering dengan variasi temperatur 850, 900 dan 1000°C.

Didapatkan fasa PbTiO3 100%. Morfologi partikel PbTiO3 memiliki bentuk aglomerat dengan persebaran ukuran partikel yang tidak merata. Analisa uji kelistrikan menunjukkan bahwa PbTiO3 sebagai semikonduktor dengan konduktivitas paling besar 5.89x10-8 (S/cm).

Kata Kunci—Mechanical Alloying, PbO, PbTio3, Sintering, TiO2 .

I. PENDAHULUAN

AHAN piezoelektrik banyak digunakan secara luas sebagai konverter energi elektromekanis untuk aktuator, sensor, dan transformer. Dibandingkan dengan perangkat magnet, perangkat piezoelektrik memiliki struktur yang sederhana dan densitas energi yang tinggi. PbTiO3 merupakan

bahan piezoelectric yang penggunannya cukup luas [1]. Sampai saat ini, untuk mendapat senyawa PbTiO3 dilakukan

banyak cara seperti sol-gel, co-precipitation, Hydrothermal reaction dan masih banyak lainnya. Salah satunya untuk mendapatkan reaksi antar butir dengan memberikan energi panas. Pemberian energi panas untuk menjadikan butiran-butiran pada TiO2 – PbO berinteraksi, dapat dilakukan dengan

pemberian energi minimum, yang didapat dari pemberian energi kinetik (gaya gesek) melalui metode Powder Metallurgy dengan berbahan serbuk TiO2 dan PbO yang dipadukan

secara mekanik dengan proses Mechanical Alloying. Mechanical alloying (MA) adalah metode metalurgi serbuk dengan melibatkan dua serbuk penyusun komposit dengan distribusi ukuran yang heterogen dan akan mempengaruhi sifat material dan mekanisme pembentukan suatu material. Proses tersebut menghasilkan perubahan ukuran butir dan ukuran kristal sehingga homogenitas material menjadi lebih baik dan

mengurangi terjadinya porositas. Mechanical Alloying dapat digunakan untuk sintesis larutan padatan, nano partikel, paduan amorf, intermetalik dan komposisi kimia [2].

Pada penelitian ini khusus untuk membentuk senyawa PbTiO3 dengan struktur Perovskite tetragonal. Sehingga

dilakukan studi Mechanical Alloying. Tetapi yang lebih ditekankan adalah faktor variasi waktu milling dan temperartur sintering dalam pembentukan PbTiO3 dengan struktur Perovskite tetragonal.

II. METODOLOGI

Penelitian ini menggunakan alat Planetary ball mill Fritsch Pulverisette P-5 yang memiliki rotasi vial vertikal dan memiliki kecepatan milling 300 rpm. Serbuk PbO dan TiO2

dengan perbandingan masing-masing 74%wt dan 26%wt dimasukkan kedalam vial zirconia dengan atmosfer udara, Ball Powder Ratio (BPR) 6:1, dan menggunakan PCA ethanol. Selanjutnya dimilling dengan waktu milling 10, 20 dan 30 jam. Hasil dari mechanical alloying dilanjutkan dengan sintering dengan variasi pada 850, 900 dan 1000°C dengan waktu tahan 60 menit.

Difraksi sinar-x menggunakan X’Pert PanAnalytical untuk mengidentifikasi pembentukan fasa hasil proses milling dan sintering serta mengetahui transformasi fasa akibat milling. Untuk melakukan identifikasi fasa digunakan software match!, mikroskop electron FEI Inspect S50 digunakan untuk mengamati perubahan struktur mikro akibat milling dan sintering dan Alat Potensiostat digunakan untuk mengetahi konduktivitas listrik.

III. HASILDANPEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan Visual

Sintesa PbTiO3 melibatkan serbuk oksida timbal PbO

74%wt dan oksida titanium TiO2 26%wt dengan penambahan

PCA ethanol dan pada atmosfer udara. Variabel penelitian adalah milling time 10, 20 dan 30 jam. Serbuk hasil milling untuk setiap variabel milling time ditunjukkan Gambar 1.

Pengaruh Waktu Milling dan Temperatur Sintering

Pada Pembentukan PbTiO

3

Dengan Metode

Mechanical Alloying

Febry Nugroho dan Rindang Fajarin S.Si., M.Si.

Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh

Nopember (ITS)

Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111

E-mail

: [email protected]

(2)

Gambar 1 Hasil Mechanical Alloying menggunakan variasi waktu milling dengan kecepatan 300rpm: a) 10 jam, b) 20 jam

dan c) 30 jam

Dari hasil pengamatan visual terlihat terjadi peubahan warna, dimana pada waktu milling 10 jam memiliki warna paling muda dibandingkan dengan serbuk dengan waktu milling 20 dan 30 jam. Dari hasil pengamatan visual juga terlihat pada serbuk terjadi aglomerasi.

3.2 Hasil Pengujian XRD

Pengujian XRD dilakukan dengan mengambil sampel yang berupa serbuk sebanyak 0,5 gram kemudian diletakkan disebuah holder dan diuji dengan menggunakan alat PAN Analytical. Untuk mengetahui keberhasilan dalam sintesa PbTiO3 dengan melakukan identifikasi terhadap hasil

pengujian difraksi sinar-X (XRD) untuk memastikan terbentuknya PbTiO3. Pengujian dilakukan dengan sinar X

menggunakan range sudut 10o – 90o dan menggunakan

panjang gelombang CuKα sebesar 1.54060 Å.

Gambar 2 Ploting Hasil XRD untuk perubahan dari senyawa PbO dan TiO2 hasil dari mechanical alloying dengan variasi

milling time

Gambar 2 menunjukkan hasil pengujian XRD dengan variasi milling time. Fasa yang terbentuk adalah PbO, TiO2

dan fasa PbTiO3 walaupun intensitasnya masih cenderung

rendah. Hal ini menandakan adanya inisiasi pembentukan PbTiO3 dengan perlakuan milling. Pembentukan senyawa baru

akibat dari adanya tumbukan antar partikel yang menyebabkan serbuk dikenai energi sehingga terjadi deformasi yang berulang- ulang akan menjadikan partikel – partikel yang lebih kecil dari sebelumnya. Akibat dari tumbukan dari partikel – partikel serbuk akan menghasilkan bentuk yang berbeda juga. Pada waktu milling 10 20 dan 30 jam, tumbukan antar partikel yang berulang-ulang juga akan menimbulkan panas pada permukaan butir yang semakin luas karena ukuran yang lebih kecil. Dengan adanya panas, ini akan membuat TiO2 berdifusi

kedalam PbO sehingga menginisiasi pembentukan senyawa

terbentuk puncak dari PbTiO3 namun bila dilihat bentuk dari

grafik masih rendah intensitasnya karena masih merupakan inisiasi awal pembentukan PbTiO3.

Dengan demikian Penelitian sebelumnya, pembentukan PbTiO3 dengan menggunakan High Energy Milling dengan

kecepatan 900 rpm dan milling time 5 jam sudah menginisiasi PbTiO3 yang rendah intesitasnya. Pada penelitian dengan

menggunakan planetary ball mill 300 rpm dan milling time 10 jam telah terbentuk PbTiO3 dengan intensitas yang rendah.

Hal ini membuktikan bahwa proses mechanical alloying dengan menggunakan planetary ball mill dapat menurunkan intensitas yang mengarah pada pembentukan fasa baru [3].

Gambar 3 Ploting Hasil XRD dari mechanical alloying dengan variasi milling time 10, 20 dan 30 jam menggunakan

Planetary Ball Mill dengan kecepatan 300 rpm dan variasi temperatur sintering 850, 900 dan 1000°C

Gambar 3 menunjukkan pergeseran sudut difraksi yang mengarah pada pembentukan senyawa baru PbTiO3. Milling

time 10, 20 dan 30 jam dengan variasi temperatur sintering 850, 900 da n 1000 oC memperlihatkan pola difraksi yang

hampir sama akan tetapi pola difraksinya berbeda dengan grafik dari serbuk hasil milling sebelum dilakukan sintering.

Pada gambar 4.8 seluruh grafik hasil XRD menunjukkan bahwa seluruh parameter hasil milling dengan variasi temperatur sintering menunjukkan terbentuknya PbTiO3 100%

berdasarkan search match! pada software match! yang sesuai dengan (JCPDF# 06-0452) pada 2θ sebesar 31.450. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya. Senyawa PbTiO3 juga

(3)

Gambar 4 Grafik ukuran kristal setelah sintering dengan variasi milling time dan temperature sintering

Gambar 4 menunjukkan grafik ukuran kristal setelah sintering. Variasi milling time 10, 20 da n 30 j am dengan kecepatan 3 00 rpm dan sintering temperatur 850, 900 dan 1000°C holding time 60 menit menghasilkan senyawa PbTiO3

dengan ukuran kristal rata-rata sebesar 90.85 nm. Terlihat juga bahwa ukuran Kristal yang paling kecil terjadi pada ukuran kristal dengan waktu milling 10, 20 dan 30 jam dengan temperatur sintering 850°C. dan yang mencapai ukuran paling kecil yaitu dengan waktu milling 20 jam dengan ukuran Kristal terkecil sebesar 51.75 nm. Pada sintering dengan temperatur 900 dan 1000°C ukuran kristal dengan variabel milling mengalami peningkatan ukuran kristal. Dengan demikian PbTiO3 mengalami kenaikan ukuran kristal. Hal ini

menunjukkan adanya crystal growth yang terjadi akibat peningkatan temperatur sintering. Kecepatan milling tinggi berkorelasi dengan peningkatan temperatur di dalam vial selama proses mechanical alloying. Proses sintering juga telah membuat adanya peningkatan ukuran kristal pada pelet PbTiO3. Peningkatan ukuran kristal diakibatkan oleh adanya

pertumbuhan butir dengan peningkatan temperatur melalui proses sintering [4]. Namun keadaan ini perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui korelasi kecepatan milling dengan temperatur selama proses mechanical alloying.

3.3 Hasil pemgujian SEM

Gambar 5 Mikrografi serbuk hasil milling 30 jam: (a)perbesaran 500x, (b) perbesaran 2500x, dan (c) perbesaran

5000x

Pengujian SEM serbuk hasil milling 30 jam ditunjukkan pada gambar 5. Morfologi hasil pengamatan dengan menggunakan SEM terlihat bahwa senyawa PbO adalah unsur yang mempunyai bentuk seperti butiran yang berukuran besar sedangkan yang berukuran lebih kecil dan menyelimuti permukaan dari PbO adalah senyawa dari TiO2

dan jumlah persebaran antara senyawa PbO dan TiO2 setelah

hasil milling 30 jam yang terlihat cukup merata. Hal ini disebabkan oleh daya impak yang dihasilkan oleh tumbukan antara bola dengan vial maupun bola dengan bola sehingga bentuk dari PbO yang semula lebar menjadi partikel-partikel kecil yang tidak beraturan, sedangkan untuk TiO2 yang dari

awal memiliki partikel yang sudah halus, maka akibat mechanical alloying partikel yang sudah halus tadi bercampur secara merata dan menyelimuti partikel dari PbO. Beberapa partikel yang berukuran besar terjadi dikarenakan adanya aglomerasi yang dihasilkan dari pergerakan vial dan penambahan PCA yang cair sehingga adanya serbuk yang menggumpal setelah mengalami proses mechanical alloying dengan menggunkan planetary ball mill.

Gambar 6 Mikrografi SEM milling time 30 jam perbesaran 10000x dan sintering (a) 850 (b) 900 dan (c)1000°C selama

60 menit

Gambar 6 menunjukkan mikrografi sampel yang disintering pada temperatur 850°C memiliki ukuran partikel yang paling kecil dengan ukuran partikel rata-rata sebesar ukuran 2.3µm, dibanding dengan sampel yang mengalami temperature

(4)

rata-rata sebesar 8 sampai 10µm dan 1000°C dengan ukuran partikel rata-rata 13 sampai 15µm. Gambar 6 juga memperlihatkan bahwa semakin tinggi temperatur sintering maka akan terjadi pertumbuhan butir yang lebih tinggi dan terlihat juga bekurangnya porositas.

Gambar 7 Hasil EDAX senyawa PbTiO3 dengan milling time

30 jam dan sintering 850°C holding time selama 60 menit. Berdasarkan hasil analisa EDAX unsure penyusun paduan yang terdapat pada partikel serbuk PbTiO3 dengan waktu

milling 30 jam dan sintering 850°C holding time selama 60 menit adalah 17.74% Pb, 19.66% Ti dan 62.61% O. Presentase yang ditunjukkan mengindikasikan adanya fasa PbTiO3.

Tabel 1 Komposisi Partikel PbTiO3 waktu milling 30 jam dan

sintering 850°C holding time selama 60 menit.

Element Wt% At% Pb Ti O 56.60 20.20 23.20 17.74 19.66 62.61

3.4 Hasil pengujian Kelistrikan Tabel 2 Nilai resistivitas listrik

Variasi Resistivitas (Ω.mm)

milling 10 jam, sintering

1000°C 1.70x108

milling 20 jam, sintering

1000°C 1.72x108

milling 30 jam, sintering

850°C 1.60x108

milling 30 jam, sintering

900°C 1.61x108

milling 30 jam, sintering

1000°C 1.73x108

Resistivitas merupakan kemampuan suatu bahan untuk mengantarkan arus listrik yang bergantung terhadap besarnya medan istrik dan kerapatan arus. Semakin besar resistivitas suatu bahan maka semakin besar pula medan listrik

Nilai resistivitas akan semakin besar dengan temperatur sintering yang makin tinggi seperti yang ditunjukkan pada tabel 2. Sintering pada temperatur 850°C memilki nilai resitivitas sebesar 1.60x108 Ω.mm, lalu pada sintering

temperatur 900°C nilai resistivitasnya 1.61x108 Ω.mm dan

pada temperatur sintering 1000°C sebesar 1.61x108 Ω.mm.

Pada variasi waktu milling 10 jam dengan temperatur sintering 1000°C memiliki resitivitas sebesar 1.70x108 Ω.mm dan yang

menggunakan variasi waktu milling 20 jam memiliki resitivitas sebesar 1.72x108 Ω.mm. Terlihat bahwanilai reisitivitas yang

semakin besar ini menandakan bahwa nilai hambatan semakin besar. Maka semakin besar pula medan listrik yang dibutuhkan. Besarnya resistivitas mempengaruhi konduktivitas suatu bahan. Semakin besar resistivitas suatu bahan maka kemampuan suatu bahan untuk menyimpan muatan semakin kecil [5].

Tabel 3 Nilai konduktivitas listrik

Variasi

Konduktivitas (Ω.mm)-1 (S/cm) milling 10 jam, sintering 1000°C 5.89 x10-9 5.89x1-8 milling 20 jam, sintering 1000°C 5.80 x10-9 5.80x10-8 milling 30 jam, sintering 850°C 6.26 x10-9 6.26x10-8 milling 30 jam, sintering 900°C 6.21x10-9 6.21x10-8 milling 30 jam, sintering 1000°C 5.79x10-9 5.79x10-8 Konduktivitas adalah kebalikan dari resistivitas. Adapun nilai konduktivitas suatu material bergantung dari sifat material tersebut..Konduktivitas listrik adalah kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan arus listrik. Tabel 3 memperlihatkan bahwa konduktivitas listrik pada variasi sintering 850°C sebesar 6.26x10-8 S/cm, lalu konduktivitas dari variabel sintering 900°C sebesar 6.21x10-8 S/cm dan yang

terakhir adalah dengan variabel sintering 1000°C memiliki konduktivitas listrik sebesar 5.79x10-8 S/cm. Untuk variasi

milling 10 jam dan 20 jam dengan temperatur sintering 1000°C sebesar 5.89x10-8 S/cm dan 5.80x10-8 S/cm. untuk

variasi waktu milling dengan temperatur sintering terlihat dengan waktu milling 10 jam memiliki konduktivitas listrik yang paling besar. Dari hasil ini terlihat bahwa semakin tinggi temperature sintering maka konduktivitas listriknya semakin kecil. Sampel yang memiliki konduktivitas listrik yang paling besar adalah sampel dengan variasi sintering 850°C. Dalam variasi temperatur sintering yang paling terlihat adalah variasi besarnya butir, bila dilihat konduktivitasnya sampel dengan variasi temperatur sintering 850°C merupakan sampel dengan ukuran butir yang paling kecil. Konduktvitas listrik sendiri sebanding dengan dengan konduktivitas termal. Jika dilihat dari hasil uji konduktivitas listrik didapat bahwa seluruh sampel memiliki orde 10-8. Hal ini menandakan bahwa

senyawa PbTiO3 merupakan bahan semikoduktor dimana

bahan semikonduktor berada pada orde 10-8 sampai 103 S/cm

(5)

IV. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian pembuatan sintesa PbTiO3 melalui

proses mechanical alloying menggunakan planetary ball mill dengan variasi waktu milling 10, 20 da n 30 j am dilanjutkan dengan sintering pada temperatur 850, 900 dan 1000°C – holding time 60 menit, serta karakterisasinya, maka dapat ditarik kesimpulan:

1. Semakin lama waktu milling hasil proses mechanical alloying terjadi reduksi pada ukuran pertikel. Hal ini juga diikuti agglomerasi (penggumpalan) akibat tingginya intensitas tumbukan antara partikel serbuk dan ball mill. 2. Hasil mechanical alloying menyebabkan senyawa dari

PbO dan TiO2 menjadi berkurang intensitasnya sehingga

menginisiasi pembentukan fasa baru PbTiO3

3. Senyawa baru PbTiO3 sudah terbentuk dari hasil

mechanical alloying dlanjut dengan temperatur sintering 850°C holding time 60 menit.

4. Pada proses mechanical allloying diikuti dengan sintering pada temperatur 850°C dengan holding time 60 menit menghasilkan ukuran partikel yang paling kecil. 5. Pada proses sintering pada temperatur 850°C memiliki

konduktivitas listrik yang paling baik

DAFTARPUSTAKA

[1] Forrester, J.S., Zobec, J.S., Phelan, D., Kisi, E.H., 2004, Synthesis of PbTiO3 ceramics using mechanical alloying and solid state sintering, School of Engineering, University of Newcastle, University Drive, Callaghan 2308, New South Wales, Australia, Journal of Solid State Chemistry 177, 3553– 3559.

[2] Suryanarayana, C., 2001, Mechanical alloying and milling, departement of metallurgical and materials engineering, colorado school of mines, golden, CO 80401-1887,USA progress in materials science 46, 1-184.

[3] Xue, J., Wan, D., Wang, J., 1999, Mechanochemical synthesis of nanosized lead titanate powders from mixed oxides, Department of Materials Science, Faculty of Science, National University of Singapore, Materials Letters 39, 364–369.

[4] Al-Khazraji, kahtan khalaf, Waleed Asim Hanna dan Payman Suhban Ahmet. 2010. Effect of Sintering Temperature on Some Physical And Mechanical Properties of Fabricated Hydroxyapatite Used for Hard Tissue Healing. Engineering and Technical Journal vol. 28 no. 10.

[5] Hastuti, Erna., 2005, Penyiapan dan Karakterisasi Bahan Dielektrik

PbTiO3 , Tugas Akhir, ITS Surabaya.

[6] Irzaman, Maddu, A., Syafutra, A., Ismangil, 2010, Uji Konduktivitas Listrik dan Dielektrik Film Tipis Lithium Tantalate ( LiTaO3 ) yang didadah Niobium Pentaoksida (Nb2O5) Menggunakan Metode Chemical Solution Deposition, Departemen Fisika FMPA, IPB, Bogor.

Referensi

Dokumen terkait

Setelah seluruh sampel telah di sintesa dengan metode mechanical alloying, dilakukan pengujian XRD yang bertujuan untuk mengetahui fasa yang terbentuk

Sintesa mechanical milling pada lingkungan argon (Ar) 3 bar antara serbuk magnesium dan nikel dengan komposisi penambahan nikel 29, 31, 33 dan 35 at% Ni belum menghasilkan

Komposisi pada Suhu Ruang (PBM4A) Gambar 2 menunjukkan hasil SEM partikel campuran bubuk Bi 20 %atMn yang di Mechanical Alloying menggunakan PBM4A pada suhu kamar dalam interval

Setelah seluruh sampel telah di sintesa dengan metode mechanical alloying , dilakukan pengujian XRD yang bertujuan untuk mengetahui fasa yang terbentuk

Skripsi yang berjudul " PENGARUH VARIASI WAKTU MILLING TERHADAP DISTRIBUSI BUTIR DAN FOTO MIKRO SERBUK TITANIUM (Ti) HASIL BALL MILL " kami susun untuk

sesuai dengan perhitungan stoikiometri. Setelah penimbangan, kedua bahan dicampur dan digerus menggunakan four point planetary ball mill selama 24 jam. Hasil penggerusan

dimana D adalah ukuran kristal (nm), λ adalah panjang gelombang yang digunakan dalam pengujian XRD yaitu 1.54056 Å, B adalah lebar setengah puncak (FWHM) dalam radian, dan

Pembuatan keramik clay menggunakan pencetak pelet dengan variasi waktu milling dan suhu sintering untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya terhadap sifat fisis susut bakar, densitas,