PT. PLN (PERSERO) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran

36  15  Download (0)

Full text

(1)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 i

PT. PLN (PERSERO)

Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran

TELAAHAN STAF

NAMA

: RIZALDI HARIS PRATAMA

NO TEST

: 2111138

JABATAN

: ON THE JOB TRAINING (OJT)

JUDUL

: REMOTE DATA ACQUISITION KWH METER

(EDMI) DI GARDU HUBUNG

LOKASI OJT

: PT. PLN (PERSERO) AREA PENGATUR

DISTRIBUSI DAN PENYALURAN

PONTIANAK

(2)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 ii

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL : Remote Data Acquisition KWh Meter (EDMI) di Gardu

Hubung

NAMA : Rizaldi Haris Pratama

NO TEST : 2111138

JABATAN : On the Job Training (OJT)

Menyetujui Mentor

Manajer APDPP Kalbar

Ricky Cahya Andrian NIP : 7905009F

Pontianak, 25 Agustus 2014 Siswa OJT

Rizaldi Haris Pratama NO TEST : 2111138

Mengetahui,

Manager bidang SDM PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Barat

Muhammad Zahidi NIP : 6191076Z

Manajer APDPP Kalbar PT. PLN (Persero)

APDP Pontianak

Ricky Cahya Andrian NIP : 7905009F

(3)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Telaahan Staf setelah mengikuti On The Job Training (OJT) di PT PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran Pontianak. Hal ini merupakan lanjutan dari pendidikan dan pelatihan dari Udiklat Semarang ‘Transmission and Live Maintenance Academy’ Jalur Pelaksana angkatan 10. Dalam penyelesaian Telaahan Staf yang mengambil judul

Remote Data Acquisition KWH Meter (EDMI) di Gardu Hubung” tidak

terlepas dari bantuan beberapa pihak, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat-NYA sehingga telaahan staff ini dapat diselesaikan dengan lancar.

2. Manajer Bidang SDM dan Organisasi PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Barat, Bapak Muhammad Zahidi.

3. Manajer PT PLN (Persero) Udiklat Semarang, Bapak Anton beserta staf. 4. Plt Manajer PT PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran dan

Penyaluran, Bapak Ricky Cahya Andrian.

5. Assisstant Manajer Operasi Sistem PT PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran, Bapak Suparman.

6. Keluarga besar PT PLN (persero) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran atas semangat dan dukungan dalam menyelesaikan Telaahan Staf ini.

Pontianak, 25 Agustus 2014 Penulis

(4)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 iv

DAFTAR ISI

TELAAHAN STAF ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

ABSTRAK ... v

BAB I LATAR BELAKANG ... 1

1.1 Maksud dan Tujuan ... 2

1.2 Batasan Masalah ... 3

1.3 Metodologi Penyusunan ... 3

BAB II PERMASALAHAN ... 4

BAB III PERSOALAN ... 5

BAB IV PRA ANGGAPAN ... 6

BAB V FAKTA YANG MEMPENGARUHI ... 7

5.1 Pemanfaatan Sistem SCADA ... 7

5.2. Permintaan PLN Cabang untuk download Load Profile Secara berkala ... 7

BAB VI PEMBAHASAN ... 9

6.1 Koneksi dan Sistem Komunikasi ... 9

6.1.1 Sistem Komunikasi ... 9

6.1.2 Media Komunikasi ... 9

6.1.3 Metode Koneksi ... 11

6.1.2 Metode Pengambilan Data ... 11

6.1.2 Peralatan Komunikasi ... 12

6.2 Prosedur Download Meter Elektronik ... 12

(5)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 v BAB VII KESIMPULAN ... 266 BAB VIII TINDAKAN YANG DISARANKAN ... 28

(6)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 vi

ABSTRAK

PT. PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran dan Penyaluran (APDP) Pontianak merupakan Unit di wilayah Kalimantan Barat yang mempunyai tugas utama dalam pengaturan dan pengoperasian jaringan transmisi dan distribusi. Dengan wilayah kerja yang luas meliputi 6 Gardu Hubung dan 5 Gardu Induk, menuntut APDPP Pontianak untuk mengadopsi salah satu kemajuan Teknologi Informasi sebagai alat bantu dalam menjalankan proses bisnisnya yang disebut sistem SCADA ( Supervisory Control And Data Acquisition). Sistem SCADA merupakan sebuah sistem yang secara garis besarnya memonitor Telemetering ( MW, MVAR, AMPERE, kV) , Telekontrol ( PMT) serta Telestatus ( Status PMT, PMS dan Alarm). Dengan bantuan sistem ini, memungkinkan Unit dalam memantau atau melakukan kontrol terhadap peralatan yang akan dipantau.

Adapun tugas staf Pengukuran dan Transaksi Energi yaitu melakukan pengukuran daya yang tersalur dan meminimalkan looses atau daya yang hilang akibat beban trafo dan jaringan transmisi 150kV serta jaringan distribusi. Dengan pemanfaatan sistem SCADA ini, akan memberikan kemudahan jajaran staf untuk secara cepat memonitor dan melakukan pemeliharaan kWh Meter pada kubikel penyulang secara cepat agar daya tersalur tidak hilang karena tidak terbaca. Untuk memonitoring kWh, maka dalam penulisan Telaahan staf ini dilakukan akuisisi telemetering SCADA pada penyulang dengan memanfaatkan peralatan Kwh meter merk EDMI dan MOXA di masing-masing unit penyulang. Dengan memanfaatkan kWh meter dan MOXA tersebut, setidaknya dapat memantau kondisi kWh di penyulang secara real time disamping akan mengurangi biaya operasional setiap bulan ke pihak ketiga jika menggunakan modem GSM atau jasa provider jaringan telekomunikasi (INDOSAT). Diharapkan pemanfaatan kWh meter merk EDMI dengan MOXA ini dapat mencegah kehilangan daya tersalur atau looses akibat tidak terbaca dan efisiensi anggaran PLN.

(7)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 1

BAB I

LATAR BELAKANG

Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan dan pertumbuhan Wilayah Kalimantan Barat serta meningkatnya perekonomian daerah Pontianak dan pariwisata di Singkawang, membuat kebutuhan masyarakat akan tenaga listrik terus meningkat. Sehingga perkembangan jaringan penyaluran dan distribusi tenaga listrik pun menjadi semakin luas yang akan memerlukan penambahan kubikel baru beserta Kwh yang terpasang di setiap kubikel itu sendiri.

Dengan jumlah penyulang sebanyak 85 buah pada 5 Gardu Induk dan 6 Gardu Hubung yang tersebar, efisiensi pengukuran sistem tenaga listrik dalam jumlah (kWh) yang cepat serta pengukuran sistem ketenagalistrikan yang mampu mencegah kehilangan daya (loosses) akibat tidak terbacanya daya yang tersalur sangat dibutuhkan. Dari data diatas kiranya dapat dimengerti bahwa besar kecilnya daya yang tersalur dan terbaca di setiap kWh Meter yang terpasang di GH maupun GI akan sangat mempengaruhi neraca daya jika daya yang telah tersalurkan tidak terbaca karena terdapat gangguan di kWh Meter itu sendiri. Secara teknis untuk mengetahui apakah daya yang tersalurkan itu terbaca atau tidak, perlu diadakan monitoring atau inspeksi rutin di setiap kWh Meter yang ada di Gardu Induk (GI) maupun Gardu Hubung (GH). Dengan kata lain, harus ada petugas yang melakukan inspeksi di seluruh GI khususnya GH yang tidak ada operatornya di setiap kWh Meter terpasang yang akan memerlukan waktu dan biaya. Pada Sistem Khatulistiwa GH akan sangat rentan dengan permasalahan atau gangguan kWh Meter karena tidak adanya operator yang dapat membantu memonitoring seperti halnya yang telah dilakukan pada Gardu Induk dengan melakukan inspeksi dan pencatatan setiap hari pada jam 10 pagi.

(8)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 2 Untuk mengesifiensi hal tersebut, PT PLN (persero) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran (APDP) Pontianak harus dapat melakukan kontrol, monitoring, konfigurasi dan mengelola data pada setiap kWh Meter mulai dari sisi Produksi (Pembangkit), Penyaluran (Transmisi), dan Pendistribusian ke pelanggan (Distribusi) secara efisien dan sistematis yang berbasis komputer dan teknologi dengan bantuan SCADA ( Supervisory Control And Data Acquisition). SCADA merupakan teknologi bidang ketenagalistrikan yang dipakai di GI dan GH sebagai alat bantu di control center untuk monitoring dan memantau parameter secara akurat dan real time. Dengan mengoptimalkan kWh Meter (merk EDMI) eksisiting pada GI dan GH pada khususnya yang akan memberikan nilai dan manfaat terhadap pelayanan.

1.1 Maksud dan Tujuan

Adapun beberapa maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan telaahan staf ini antara lain :

1. Memahami kondisi eksisting kWh Meter yang terpasang pada setiap Kubikel di Gardu Induk dan Gardu Hubung sisi produksi 6,3 KV dan 20 KV serta di sisi distribusi 20 KV sehingga mampu menganalisis dan memanfaatkan meter secara optimal.

2. Meningkatkan efektifitas sistem kerja operasional perangkat/peralatan (Remote Control) pada Gardu Induk dan Gardu Hubung sehingga memudahkan pemantauan dan konfigurasi kWh Meter.

3. Menjadikan manajemen PT. PLN (Persero) APDPP Pontianak sebagai knowledge center dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Melalui penerapan Remote kWh Meter (Merk EDMI) dengan bantuan SCADA di setiap Gardu Hubung, manfaat yang bisa diperoleh dari implementasi ini adalah sebagai berikut :

1. Mengesifiensi kinerja staf Pengukuran dan Transaksi Energi dalam pemantauan dan pengkonfigurasian kWh Meter.

2. Meminimalkan nilai Looses yang diakibatkan oleh tidak terbacanya daya yang tersalur pada kWh Meter saata terjadi gangguan.

(9)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 3 3. Meminimalkan biaya operasional dibandingkan penggunaan Modem GSM

dari pihak ke-3.

4. Standarisasi dan optimalisasi kWh meter EDMI dapat dijadikan sharing knowledge untuk pengembangan pengetahuan.

5. Dapat meningkatkan kinerja perusahaan.

1.2 Batasan Masalah

Agar permasalahan yang dibahas terfokus dan tidak melebar, maka penulisan telaahan staf ini mengambil batasan masalah sebagai berikut:

a. Alat ukur meter yang dibahas adalah kWh meter elektronik dengan merek EDMI MK6N.

b. Software atau Aplikasi yang digunakan adalah “Eziview” dan “nPort Administrator” sebagai software pendukungnya.

c. Data yang di download berupa Loger dan Loadprofile.

d. Bagaimana nilai ekonomis yang dihasilkan dengan mengoptimalkan Kwh meter (merk EDMI).

1.3 Metodologi Penyusunan

Analisa kWh meter EDMI ini banyak mendapatkan informasi data dan referensi dari beberapa sumber dengan metode penggalian informasi antara lain : a. Metode wawancara, dengan melakukan wawancara kepada pihak terkait

yaitu bagian SCADA dan bagian Operasi Sistem.

b. Metode observasi/pengamatan yang dilakukan dengan cara mengamati

sistem kerja peralatan kWh meter EDMI dan alat pendukungnya yaitu MOXA.

c. Metode Dokumenter, mengumpulkan data dari beberapa referensi, buku manual dan laporan.

d. Metode Analisis, analisis dibutuhkan setelah pengumpulan dan pengolahan data, metode analisis perlu dilakukan agar permasalahan dan solusi yang diberikan logis dan mudah untuk diterapkan di unit operasional tersebut.

(10)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 4

BAB II

PERMASALAHAN

PT. PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran Pontianak merupakan salah satu unit pelaksana yang berfungsi sebagai pusat pengatur sistem pembangkitan, jaringan transmisi dan distribusi yang sangat dibutuhkan oleh kantor Area Pontianak dan Area Singkawang yang menangani langsung konsumen dalam proses bisnis pelayanan mereka. Unit ini menjadi pusat informasi, monitoring, dan pengatur operasional sistem kelisitrikan di seluruh wilayah Sistem Khatulistiwa dengan adanya sistem SCADA. Dalam rangka meningkatkan mutu kualitas penyaluran dan pendistribusian tenaga listrik, dibutuhkan analisa yang cepat dan tepat, salah satunya adalah monitoring daya yang tersalurkan di Gardu Induk dan Gardu Hubung secara cepat dan akurat. Untuk memberikan pelayanan secara optimal dan akurat tersebut, dapat diidentifikasi permasalahan yang ada antara lain :

1. Kebutuhan staf Pengukuran dan Transaksi Energi untuk monitoring dan troubleshooting kWh Meter di Gardu Hubung.

2. Kebutuhan staff Pengukuran dan Transaksi Energi untuk mengkonfigurasi atau melakukan seting kWh digital.

3. Ketidakadaannya operator di Gardu Hubung untuk memonitor kWh meter.

4. Penghematan biaya operasional dibanding penggunaan jaringan GSM dari pihak ketiga seperti INDOSAT.

Dengan demikian perlu adanya penanganan khusus yang cepat dan efisien untuk menghindari daya tersalur yang tidak terbaca dan gangguan lain yang memerlukan penanganan cepat agar tidak merugikan Perusahaan karena berpengaruh terhadap Losses.

(11)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 5

BAB III

PERSOALAN

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan, PT. PLN (Persero) APDP Pontianak sebagai pusat pengatur pembangkitan, penyaluran dan pendistribusian harus mampu meningkatkan kecepatan pelayanan dan memantau kondisi kWh meter secara real time disamping mengurangi biaya operasional berupa biaya untuk provider jaringan jika menggunakan jaringan GSM maupun transportasi jika harus turun ke lapangan langsung hanya untuk pengambilan data (download) meter. Ada beberapa persoalan yang membutuhkan penyelesaian dan perbaikan untuk dapat mengoptimalkan fungsi kWh meter yang terpasang diantaranya :

1. Pada saat terjadi gangguan pada kWh meter di Gardu Hubung, waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui bahwa terdapat meter rusak relative lama karena tidak adanya operator.

2. Kesulitan dalam pengambilan data (load profile) pada kWh meter saat dibutuhkan dengan cepat dan tepat.

Adapun tujuan penulisan Telaahan Staf ini adalah agar dapat menjadi fasilitas sebagai acuan dalam memonitor kWh meter khusunya pada penyulang di Gardu Hubung 20 kV.

(12)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 6

BAB IV

PRA ANGGAPAN

Berdasarkan data PT. PLN (Persero) Area Pengatur Distribusi dan Penyaluran dan Penyaluran Pontianak, pada semester pertama tahun 2014 terdapat gangguan di beberapa Kwh meter yang menyebabkan hilangnya daya tersalurkan (Looses). Dari sekian banyak jumlah penyulang sampai dengan bulan Juli 2014 telah terjadi gangguan dan kehilangan daya sampa ratusan ribu Kwh. Dengan demikian dibutuhkan perangkat yang mampu memberikan informasi data yang valid dan real-time agar kontinuitas pembacaan pada penyaluran tenaga listrik tetap terjaga.

Untuk meningkatkan keandalan dan efisiensi dalam pengelolaan dan pengoperasian sistem jaringan tenaga listrik, sistem SCADA dengan perangkat MOXA nya dapat digunakan untuk membantu mempercepat deteksi gangguan dan pelaksanaan isolasi pada kWh meter sehingga Looses yang ditimbulkan dapat dipersingkat dan diperkecil, sehingga energi listrik yang disalurkan kepada pelanggan dapat terbaca dan tidak merugikan satu belah pihak. Ada beberapa hal yang harus dipahami diantaranya adalah :

1. Merubah kebiasaan lama dimana setting kWh meter harus dilakukan secara turun langsung di lapangan yang memerlukan waktu dan biaya transportasi.

2. Merubah mindset yang seoalah-olah kWh Meter Digital atau Automatic Meter Reading (AMR) merupakan alat ukur yang hanya bisa diseting dan dimonitor dengan menginspeksi secara langsung di lapangan seperti halnya kWh Meter Mekanik atau Manual Meter Reading (MMR).

(13)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 7

BAB V

FAKTA YANG MEMPENGARUHI

5.1 Pemanfaatan Sistem SCADA.

Tujuan dari pemanfaatan Communication Port pada kWh meter EDMI dengan SCADA sebagai alat komunikasi PT. PLN (Persero) APDP Pontianak adalah untuk meningkatkan kemampuan dan memperluas jangkauan sistem SCADA Pontianak secara menyeluruh yang sudah ada (eksisting) dalam upaya meningkatkan efektifitas sebagai langkah penghematan atau efisiensi waktu bahkan biaya.

Hal ini menuntut PT. PLN (Persero) APDP Pontianak selaku salah satu unit yang bertugas untuk terus melakukan perbaikan proses (process improvement) guna memberikan nilai tambah (value-added) kepada pelanggan secara umumnya dan kepada perusahaan secara khususnya. Dan untuk mencegah kerugian pada transaksi tenaga listrik, kWh Meter tersebut harus dimonitor secara waktu nyata dan terus menerus (real time dan continue) oleh staf atau engineer Pengukuran dan Transaksi Energi. Dengan demikian, kehilangan daya akibat tidak terpantaunya kWh meter yang mengalami gangguan maupun rusak dapat diminimalisir sekecil mungkin dan gangguan dapat diketahui secepat mungkin.

5.2 Permintaan PLN Cabang (Area Pontianak) untuk download load profile

PLN Cabang (Area Pontianak) merupakan pelanggan yang

mendistribusikan daya yang diterima dan ditransmisikan atau disalurkan dari sistem pembangkitan oleh APDP yang mempunyai core bussines di bagian Transmisi. Dan sebagai pelanggan/konsumen, PLN Cabang menginginkan adanya download data berupa load profile kWh meter yang tersimpan pada memory map kWh meter.

(14)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 8 Download data load profile merupakan salah satu langkah perbaikan kinerja PLN Cabang dalam integritas data atau sebagai langkah awal mengurangi susut (looses) yang menjadi tolok ukur penilaian kinerja seluruh unit di lingkup PLN Wilayah Kalimantan barat.

Hal ini tentu saja menuntut kinerja staf Pengukuran dan Transaksi Energi untuk bekerja lebih berat jika harus turun ke lapangan secara langsung di 5 Gardu Induk dan 6 Gardu Hubung yang tersebar dari Pontianak sampai Singkawang dengan total 85 Penyulang. Jika download load profile tetap dilakukan secara langsung turun ke lapangan, tentu saja waktu dan biaya operasional untuk transportasi tidak akan efektif.

(15)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 9 Fiber Optic RJ45 RJ45 RJ45

BAB VI

PEMBAHASAN

6.1 Koneksi dan Sistem Komunikasi 6.1.1 Sistem Komunikasi

Pada subbab ini akan dibahas secara garis besar mengenai media komunikasi dan metode koneksi dari Kwh meter sampai ke Server dan metode pengambilan data dari meter.

Gambar 6.1.1 Diagram Komunikasi

6.1.2 Media komunikasi

Media komunikasi dapat dibedakan menjadi menggunakan kabel (wired) dan tanpa media kabel (wireless).

KWH METER

MOXA

ANETO

(16)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 10  Wired

Media komunikasi tipe wired dapat dibagi menjadi serial RS232/485, PSTN (public Switched Telephone Network), LAN dan Fibre Optic.

 Direct / Physical

Media Komunikasi pada kWh meter yang menggunakan kabel RS232/485 atau biasa disebut serial port.

 PSTN

PSTN atau Public Swithed Telephone Network merupakan media komunikasi untuk mengakses kWh meter yang menggunakan 2 buah kabel telepon.

 LAN

Local Area Network merupakan media komuniaksi pada kWh meter yang menggunakan kabel jaringan intranet.

 Fibre Optic

Merupakan kabel serat optik yang digunakan sebagai media komunikasi pada kWh meter.

 Wireless

Media komunikasi untuk mengakses kWh meter yang menggunakan media GSM/GPRS, dan Internet.

 GSM/GPRS

Media komunikasi yang menggunakan kartu SIM GSM dari provider selluler dengan memanfaatkan jaringan GPRS nya.

 Internet / VPN

Media komunikasi pada kWh meter yang menggunakan media internet dari provider penyedia layanan jasa internet

VPN (Virtual Private Network) merupakan sebuah koneksi private (tidak semua orang bisa mengakses) melalui jaringan public yaitu internet yang bersifat virtual atau tidak ada koneksi jaringan antara dua titik yang akan berhubungan secara riil.

(17)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 11 6.1.3 Metode Koneksi

 Metode komunikasi dari loader (laptop/PC) ke kWh meter dapat menggunakan port serial, port dial up, atau port TCP/IP

 Serial RS232/RS485 merupakan metode koneksi dari laptop / PC ke kWh meter dengan menggunakan kabel RS232 atau RS485.

 Dial-up merupakan Metode koneksi dari laptop / PC ke kWh meter dengan menggunakan saluran telepon PSTN/GSM.

 TCP/IP Metode koneksi dari laptop/PC ke kWh meter dengan menggunakan port TCP/IP (Ethernet).

6.1.4 Metode Pengambilan Data

Metode pengambilan data dari meter secara garis besar dibedakan menjadi 2 yaitu pengambilan data secara local dan remote.

 Lokal Reading

Metode pengambilan data kWh meter jarak dekat atau secara langsung baik menggunakan software baca sesuai jenis meternya atau pembacaan langsung stand display/register.

 Manual Metode merupakan pengambilan data kWh meter dengan pembacaan dan pencatatan langsung stand register dimana meter terpasang.

 Direct Metode merupakan pengambilan data kWh meter dengan menggunakan kabel direct (RS232/485) yang dihubungkan antara laptop/loader dengan meternya.

 Optical Metode pengambilan data kWh meter dengan menggunakan optical probe yang dihubungkan ke optical port pada meter dengan laptop/loader.

 TCP/IP Metode pengambilan data kWh meter dengan menggunakan kabel LAN tanpa menggunakan media komunikasi internet/intranet.

(18)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 12  Remote Reading

Metode pengambilan data kWh meter dengan pengambilan jarak jauh melalui media komunikasi (PSTN, LAN, GSM, Ethernet)

 AMR (automatic meter reading) yaitu pengambilan data kWh meter secara manual maupun otomatis dengan pengambilan jarak jauh melalui media komunikasi secara terjadwal.

6.1.5 Peralatan Komunikasi

Peralatan komunikasi yang dimaksud adalah peralatan yang terpasang untuk keperluan pengambilan data meter secara remote reading diantaranya PC/Laptop, Jaringan Internet maupun Intranet (Modem atau Wifi), Server Scada (Existing), Aneto (Existing), Moxa, Kabel RJ45, Kabel Optical Probe. 6.2 Prosedur Download (Data Acquisition) Meter Elektronik

Dan berikut prosedur download meter elektronik merek EDMI MK6N yang terpasang pada Gardu Hubung Cemara yang memiliki spesifikasi sebagai berikut.

Tabel 6. 1 Spesifikasi Kwh meter (merk EDMI)

(19)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 13 6.2.1 Koneksi Ke Meter

Langkah awal yang harus dilakukan yaitu dengan mengkoneksikan Laptop / PC ke jaringan Intranet. Kemudian check koneksi dengan melakukan ping pada beberapa IP di bawah ini:

o Ping 192.169.1.1

Untuk test koneksi ke Control Center/Server SCADA (APDP) o Ping 10.19.68.1

Untuk test koneksi ke ROUTER yang terpasang di GH CEMARA o Ping 10.19.68.40

(20)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 14  Buka CMD (command prompt)

o Ping 192.169.1.1  test koneksi SERVER CCR (APDP)

(21)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 15 o Ping 10.19.68.40  Moxa (GH CEMARA)

 Langkah pertama, buka aplikasi sebagai penghubung dari jaringan wifi ke IP MOXA yaitu N Port Administrator

(22)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 16

o Masukkan IP Address Moxa, yaitu ’10.19.68.40’ dan kemudian

klik OK

o Jika muncul preview seperti gambar di bawah ini, berarti koneksi ke Moxa telah berhasil.

(23)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 17 o Kemudian Pada Tab “Function” klik COM Mapping

(24)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 18 o Setiap Port pada Moxa yang dihubungkan dengan kabel RJ45 ke

kWh Meter akan tampil sebagai berikut.

o Kemudian kita bisa menyimpan konfigurasi Com Mapping tersebut dengan Klik “Apply” pada Toolbar dan Pilih Yes pada Popup Information.

Dari langkah-langkah di atas, dengan melakukan Com Mapping berarti secara Otomatis kita akan langsung terkoneksi/terhubung kWh Meter pada masing-masing Port di MOXA dengan memilih port virtual yang telah di integrasikan dengan software nPort Administrator tersebut.

(25)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 19 Berikut merupakan Port List yang digunakan pada Kwh Meter di setiap Feeder GH CEMARA.

GH CEMARA MOXA ’10.19.68.40’

ROUTER GH CEMARA ’10.19.68.1’ SERVER CCR ‘192.169.1.1’

PORT PENYULANG / FEEDER

PORT 1 PORT 2 PORT 3 PORT 4 PORT 5 PORT 6 PORT 7 PORT 8 PORT 9 PORT 10 PORT 11 PORT 12 KAPUAS 2 CHARLY SAHANG 2 CHARLY CEMARA 4 CHARLY KAPUAS 10 CHARLY SAHANG 4 CHARLY KAPUAS 9 CHARLY SAHANG 3 CHARLY KAPUAS 4 CHARLY CEMARA 3 CHARLY CEMARA 2 CHARLY KAPUAS 5 CHARLY KAPUAS 3 CHARLY

(26)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 20  Langkah berikutnya yaitu mengkoneksikan PC/Laptop dengan Kwh meter

menggunakan software EziView yang telah terinstall. o Buka Software EziView

(27)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 21 o Klik Kanan Pada tab “Quick Connect” kemudian pilih Properties

o Jika “Site Properties” telah muncul, pilih “Connection” tab kemudian ganti Port dengan COM penyulang yang dikehendaki. Sebagai contoh, Jika kita ingin melakukan koneksi ke Kwh meter yang terpasang pada penyulang Kapuas 2 Charly, maka pilih COM1/PORT1 pada Port List. Untuk Sahang 2 Charly pilih COM2/PORT2 dan begitu seterusnya. Kemudian Klik “OK”

(28)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 22

o Setelah memilih feeder dengan memasukkan PORT/COM, Klik

kanan pada tab “Quick Connect” kemudian pilih “Connect”

o Langkah berikutnya klik kanan pada Nama Meter “211306014”.

(29)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 23

o Kemudian Klik tab “Surveys”

Dari Preview tersebut dapat diketahui bahwa kita bisa melakukan download dengan range waktu tertentu yaitu:

 Harian

 Satu hari yang lalu

 Hari ini dan Satu hari yang lalu  Bulan ini

 Bulan Kemarin

 Bulan Kemarin dan Bulan ini

(30)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 24 Data yang dapat di download Meliputi:

 Load Profile  Event Log  Billing History

Untuk Memulai pengambilan data (Data Acquisition) pada Kwh Meter, tinggal pilih “Survey Name” yang diinginkan kemudian tentukan waktu yang dibutuhkan.

(31)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 25 Berikut Contoh pengambilan data Load Profile selama satu hari:

Data di atas dapat disimpan dengan cara klik “Save As…”

(32)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 26

BAB VII

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan telaah staf dengan judul Remote Data Acquisition kWh Meter (EDMI) di Gardu Hubung ini adalah sebagai berikut :

1. Sistem Remote Data Acquisition adalah suatu system pembacaan data meter baik secara otomatis / manual yang berfungsi untuk mengambil data meter transaksi dan mengirimkannya ke Neraca Energi untuk diproses ke tahapan proses olah data baik disisi Pembangkit, Transmisi, maupun Distribusi

2. Terdapat beberapa media komunikasi yang dapat digunakan untuk proses pengambilan data meter yaitu :

a. Melalui koneksi langsung di lapangan dengan menggunakan kabel Optical Probe.

b. Dengan memanfaatkan media komunikasi Intranet baik secara wired menggunakan Kabel LAN maupun wireless menggunakan jaringan Wifi.

c. Dengan media komunikasi Internet, yaitu dengan menghubungkan jaringan Internet ke VPN APDP, VPN Wilayah, atau VPN staf Transaksi Energi.

3. Meter Elektronik merupakan alat ukur tiga fasa yang dapat menyimpan data berbasis database.

4. Data meter (kWh) sangat berperan dalam menjaga keseimbangan neraca energy di sisi Pembangkit, Transmisi, dan Distribusi.

5. Untuk mencapai kinerja yang maksimal, keandalan dan kontinuitas pelayanan harus tetap dijaga dengan maintenance serta monitoring berkala. 6. Perbedaan kinerja yang signifikan diperoleh dari kWh meter elektronik dibandingkan dengan kWh meter konvensional, diantaranya dengan kWh meter elektronik data loger meter dapat diperoleh suatu saat karena mempunyai log meter historical, tingkat akurasi data yang lebih baik

(33)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 27 karena tingkat error terjadi hanya pada alat sedangkan pada kWh konvensional memungkinkan terjadinya kesalahan baca petugas / manusia, sistem komunikasi data yang sudah interkoneksi dengan intranet memungkinkan distribusi data meter ke neraca energi lebih efisien.

(34)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 28

BAB VIII

TINDAKAN YANG DISARANKAN

Beberapa tindakan yang diperlukan dalam meningkatkan kemampuan alat ini adalah:

- Didalam usaha meningkatkan efisiensi dan pengambilan data meter, maka diharapkan untuk peralatan yang ada agar bisa di integrasikan ke sistem SCADA.

- Perlunya kebijakan dari manajemen pada saat proses pengadaan material agar material baru tersebut bisa di integrasikan ke sistem SCADA eksisiting.

- Berhubung koneksi ke kWh Meter semakin mudah dan cepat, penggantian Password yang digunakan sebagai Parameterisasi User Access sangat perlu dilakukan. Mengingat pernah terjadi kejadian pengecilan rasio CT dan VT yang mengakibatkan Kwh yang digunakan sebagai Titik Transaksi mengalami penurunan Stand angka yang akan menggannggu pelaporan neraca energy dan tidak terjaganya Integritas Data.

(35)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 29

DAFTAR PUSTAKA

SPLN 109 - 5 : 1996, halaman 12,Pengertian Telemetering SPLN 55 - 001 : 2008,hal 92, Implementasi Telemaeseurment Mk6N Meter Spesification

(36)

Rizaldi Haris Pratama, 2111138 30

LAMPIRAN

Figure

Gambar 6.1.1 Diagram Komunikasi

Gambar 6.1.1

Diagram Komunikasi p.15
Tabel 6. 1  Spesifikasi Kwh meter (merk EDMI)

Tabel 6.

1 Spesifikasi Kwh meter (merk EDMI) p.18

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in