Kata Pengantar. kemampuan sehingga penulis dapat merampungkan modul sintaksis ini sebagai bahan untuk

132  Download (0)

Teks penuh

(1)

Kata Pengantar

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan kekuatan dan kemampuan sehingga penulis dapat merampungkan modul sintaksis ini sebagai bahan untuk pengajaran dan pembelajaran mahasiswa, khususnya mahasiswa STKIP siliwangi Bandung.

Mengingat kemampuan penulis yang terbatas, maka penyelesaian modul sintaksis ini tidak luput dari hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan, sehingga dalam pemaparan materinya kemungkinan ada kekurangan, untuk itu penulis berharap saran dan kritik baik dari rekan Dosen atau mahasiswa.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis mempersembahkan makalah ini kepada para pembaca yang berminat dengan harapan semoga bermanfaat adan

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

TINJAUAN MATA KULIAH BAB I FRASE

Pengantar Frase 1

Latihan pertemuan 1 4

Latihan pertemuan 2 10

1. Berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya 11 1) Endosentris a. Apositif 11 b. Koordinatif 12 c. Atributif 12 2) Eksosentris a. Direktif 13 b. Non Direktif 14

2. Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan kata

1) Frase verbal 14 2) Frase nominal 15 3) Frase ajektival 15 4) Frase pronominal 16 5) Frase numeralia 16 6) Frase preposisi 17 7) Frase konjungsi 17 Latihan pertemuan 4 – 5 36 Rangkuman Frase 35

(3)

BAB II KLAUSA

Pengantar 36

1. Berdasarkan struktur internnya

a. Klausa lengkap 37

b. Klausa tidak lengkap 37

2. Berdasarkan ada tidaknya unsur negasi

a. Klausa positif 38

b. Klausa negatif 38

3. Berdasarkan kategori yang menduduki fungsi P

a. Klausa nomina 38 b. Klausa verba 39 c. Klausa adjektiva 39 d. Klausa numeral 40 e. Klausa preposisi 40 f. Klausa pronominal 41

4. Berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat

a. Klausa bebas 41

b. Klausa terikat 42

5. Berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat

a. Klausa atasan 43

b. Klausa bawahan 43

Latihan pertemuan 5-6 44

Analisis Klausa

1. Analisis Klausa berdasarkan fungsi 44

2. Analisis Klausa berdasarkan kategoti kata 48

3. Analisis Klausa berdasarkan makna 49

Latihan pertemuan 7, 9 , 10

a. latihan 1 58

b. latihan 2 59

(4)

BAB III KALIMAT

Pengantar 61

Latihan pertemuan 11 68

1. Jenis-jenis kalimat berdasarkan struktur gramatikalnya

1) Kalimat tunggal 68

2) Kalimat majemuk

a. Kalimat setara 71

b. Kalimat bertingkat 72

c. Kalimat campuran 73

2. Jenis-jenis kalimat berdasarkan pola subjek predikat

a. Kalimat invers 74 b. Kalimat versi 75 Latihan pertemuan 12 1. Latihan 76 2. Latihan 76 3. Latihan 78 4. Latihan 81

3. Jenis-jenis kalimat berdasarkan pengucapannya

a. Kalimat langsung 81

b. Kalimat tidak langsung 82

4. Jenis-jenis kalimat berdasarkan subjeknya

a. Kalimat aktif 82 b. Kalimat pasif 84 Latihan pertemuan 13 a. Latihan 1 86 b. Latihan 2 86 c. Latihan3 87

5. Jenis-jenis kalimat berdasarkan isi atau fungsinya

a. Kalimat berita 92

(5)

c. Kalimat larangan 97

d. Kalimat seruan 97

6. Jenis-jenis kalimat berdasarkan unsur kalimat

a. Kalimat lengkap 97

b. Kalimat tidak lengkap 97

7. Berdasarkan gaya penyajiannya

a. Kalimat melepas 98 b. kalimat klimaks 99 c. Kalimat berimbang, 99 Kalimat efektif 99 Latihan pertemuan 14 a. Latihan 1 103 b. Latihan 2 107 c. Latihan3 112 Hubungan antarklausa

1. Hubungan antarklausa koordinatif 117

2. Hubungan antarklausa subordinatif 118

Latihan pertemuan 15 122 Rangkuman 123 KUNCI JAWABAN Pertemuan 1 dan 2 125 Pertemuan 3 dan 4 128 Pertemuan 4 dan 5 130 Pertemuan 5 dan 6 139 Pertemuan 7, 9, 10 Latihan 1 141 Latihan 2 144

(6)

Pertemuan 11 144 Pertemuan 12 a. Latihan 1 146 b. Latihan 2 147 c. Latihan 3 153 d. Latihan 4 156 Pertemuan 13 a. Latihan 1 158 b. Latihan 2 160 c. Latihan 3 173 Pertemuan 14 a. Latihan 1 180 b. Latihan 2 183 c. Latihan 3 186 Pertemuan 15 187

(7)

BAB I FRASE

A. Pendahuluan 1. Deskripsi isi

Pada bab ini membahas Pengertian frase, jenis frase berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya dibagi menjadi tiga yaitu

a.frase endosentris ; apositif, koordinatif, atributif b.eksosentris ; direktif dan non direktif}).

Jenis frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase terdiri atas:

a.frase nominal b.frase verbal c.frase ajektival d.frase pronominal e.frase numeralia f.frase preposisi g.frase konjungsi 2. Kompetensi dasar

Mampu memahami, menguasai serta menganalisis frase dan kata majemuk 3. Indikator

(8)

Mahasiswa mampu memahami, menguasai serta menganalisis materi frase berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya dan Jenis frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata

4. Tujuan Pembelajaran

Mahasiswa dapat memahami, menguasai, menganalisis dan mengklasifikasikan frase

B. Uraian Materi Pertemuan 1 dan 2

Uraian Pokok Bahasan : Pendahuluan ( batasan dan pengertian Sintaksis)

1. Batasan Sintaksis

Linguistik memiliki dua tataran 1) Tataran fonologi

2) Tataran gramatika/tata bahasa : Morfologi dan Sintaksis

a. Morfologi : bagian tata bahasa yang membicarakan hubungan internal sebuah kata atau membicarakan perihal hubungan antarmorfem dalam sebuah kata

sintaksis Frase

Klausa

(9)

b. Sintaksis : bagian tata bahasa yang membicarakan hubungan antar kata dalam tuturan

2. Definisi Sintaksis menurut beberapa Ahli

1) Sintaksis menurut Ramlan ”Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat”

2) Sintaksis menurut (Tarigan, 1985) “Sintaksis adalah salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase”

3) Sintaksis menurut Verhaar (1999:161) mendefinisikan bahwa sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kalimat dalam tuturan

3. Definisi Klausa menurut beberapa ahli

1) Kridalaksana, klausa merupakan satuan gramatikal yang berupa gabungan kata, minimal terdiri dari subjek dan predikat serta berpotensi menjadi kalimat.

2) Ramlan, klausa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas SP (O) (Pel) (K)

3) H. Alwi, klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih dan mengandung unsur predikasi.

4) Zaenal Arifin, klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat

Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa klausa adalah satuan gramatik yang terdiri atas prediket baik diikuti oleh subjek, objek, pelengkap, keterangan atau tidak dan merupakan bagian dari penanda klausa. Penanda klausa adalah P. Tetapi yang menjadi klausa bukan hanya P, jika mempunyai S. Klausa terdiri atas S dan P, jika mempunyai S, klausa terdiri atas S, P dan O. Jika tidak memiliki O dan keterangan, klausa terdiri atas P, O dan keterangan.

(10)

Demikian seterusnya. Contohnya dalam kalimat jawaban atau dalam bahasa Indonesia Lisan tidak resmi. Contoh kalimat jawaban :

P : kamu memanggil siapa?

J : teman satu kampus (s) dan P-nya dihilangkan. Contoh dalam bahasa tidak resmi : saya telat! P-nya dihilangkan.

Klausa merupakan bagian dari kalimat. Oleh karena itu, klausa bukan kalimat. Klausa belum mempunyai intonasi lengkap. Sementara itu kalimat sudah mempunyai intonasi lengkap yang sudah ditandai dengan adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut sudah selesai.

Latihan Pertemuan 1-2

1. Coba Anda ungkapkan pengertian frase, klausa, kalimat menurut beberapa ahli, kemudian Anda simpulkan menurut bahasa Anda sendiri ?

Pertemuan Ke- 3 dan 4

Uraian Pokok Bahasan : Frase, kata majemuk, Perbedaan Frase dengan Kata Majemuk 1. Pengertian Frasa

Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan,

(11)

2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa. Contoh:

1. gedung sekolah itu 2. yang akan pergi 3. sedang membaca 4. sakitnya bukan main 5. besok lusa

6. di depan.

Jika contoh itu diletakkan dalam struktur kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja.

1. Gedung sekolah itu(S) luas(P).

2. Dia(S) yang akan pergi(P) besok(Ket). 3. Bapak(S) sedang membaca(P) koran sore(O). 4. Pukulan Budi(S) sakitnya bukan main(P). 5. Besok lusa(Ket) aku(S) kembali(P). 6. Bu guru(S) berdiri(P) di depan(Ket).

Jadi, walau terdiri atas dua kata atau lebih tetap tidak melebihi batas fungsi. Pendapat lain mengatakan bahwa frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat. Untuk memudahkan pemahaman Anda mengenai frasa, perhatikan juga kalimat berikut yang dicontohkan oleh Ramlan (1988).

(12)

Kalimat itu terdiri dari satu klausa, yaitu Dua orang mahasiswa sedang. Selanjutnya, klausa terdiri dari empat unsur yang lebih rendah tatarannya, yaitu dua orang mahasiswa, sedang membaca, buku baru, dan di perpustakaan. Unsur-unsur itu ada yang terdiri dari dua kata, yakni sedang membaca, buku baru, di perpustakaan, dan ada yang terdiri dari tiga kata, yaitu

dua orang mahasiswa. Di samping itu, masing-masingunsur itu menduduki satu fungsi. Dua orang mahasiswa menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, buku baru

menempati fungsi O, dan di perpustakaan menempati fungsi KET. Demikianlah, unsur klausa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi itu merupakan satuan gramatik yang disebut frase. Jadi, frase ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Selain contoh di atas, Supriyadi, dkk. (1992) menguraikan cara mengenal frase bahasa Indonesia seperti berikut. Perhatikan unsur setiap fungsi yang terdapat kalimat-kalimat berikut:

(1) Saya guru. (SP) (2) Ayah saya guru. (SP)

(3) Adik teman saya guru bahasa Indonesia. (SP)

Unsur manakah yang mempunyai fungsi S dan yang mempunyai fungsi P pada kalimat di atas? Selanjutnya, hitunglah jumlah kata yang terdapat pada setiap kalimat di atas. Sesuai dengan struktur fungsional ketiga kalimat itu, hasil kerja Anda dapat digambarkan dalam bentuk tabel berikut.

No Fungsi

S P

1 Saya Guru

(13)

Ayah Saya

3 adik teman saya guru bahasa Indonesia

Adik teman saya Guru bahasa Indonesia

teman Saya bahasa Indonesia

Berapakah jumlah kata pada masing-masing kalimat di atas? Jawabannya jelas, bukan? Setiap kata merupakan unsur terkecil satuan sintaktis. Artinya, dalam bidang sintaktis kata-kata tersebut tidak perlu diuraikan lagi atas unsur- unsurnya yang lebih kecil. Mengapa? Ingat kembali struktur fonologi dan morfologi. Pada kalimat (2) dan (3) terdapat kelompok kata: ayah saya, adik teman

saya, teman saya, guru bahasa Indonesia, bahasa Indonesia. Kelompok tersebut merupakan satuan gramatis, dan pembahasannya berada dalam bidang sintaksis. Karena itu, satuan gramatis semacam itu termasuk satuan sintaktik. Satuan sintaktik di atas ada yang menduduki fungsi S:

ayah saya, adik teman saya; fungsi P: guru bahasa Indonesia. Ada pula yang hanya menduduki sebagian fungsi dari kalimat: teman saya (bagian S), bahasa Indonesia (bagian P). Masing-masing tidak melewati batas fungsi, baik S maupun P. Satuan sintaktik semacam ini disebut

frase. Jadi, dapat disimpulkan bahwa frase adalah kelompok kata yang mendududuki suatu fungsi (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan) dan kesatuan makna dalam kalimat. 2. Frase dengan Kata Majemuk

Kata majemuk adalah gabungan dua buah morfem dasar atau lebih yang mengandung satu pengertian baru. Kata majemuk tidak menonjolkan arti tiap kata tetapi gabungan kata itu secara bersama membentuk suatu makna atau arti baru

a. Pembedaan Kata Majemuk. Berdasarkan Cara penulisannya

(14)

Kata majemuk senyawa adalah kata majemuk yang cara penulisannya dirangkaikan. seolah-olah telah melebur menjadi satu kata baru Misalnya: matahari. hulubalang. bumiputra

2) Kata majemuk tak senyawa

Kata majemuk tak-senyawa adalah kata majemuk yang cara penulisan morfem -morfem dasarnya tetap terpisah. Misalnya: sapu tangan. kumis kucing

b. Pembedaan Kata Majemuk Berdasarkan Kelas Kata pembentuknya 1) Kata majemuk yang terdiri atas kata benda + kata sifat

Misalnya: kapal udara. anak emas, sapu tangan

2) Kata majemuk yang terdiri atas kata benda + kata kerja Misalnya: kapal terbang. anak pungut. meja makan 3) Kata majemuk yang terdiri atas kata benda + kata sifat

Misalnya: orang tua. rumah sakit. pejabat tinggi

4) Kata majemuk yang terdiri atas kata sifat + kata benda Misalnya: panjang tangan. tinggi hati. keras kepala

5) Kata majemuk yang terdiri atas kata bilangan + kata benda Misalnya: pancaindera. dwiwarna. sapta marga

6) Kata majemuk yang terdiri atas kata kerja + kata kerja Misalnya: naik turun. keluar masuk. pulang pergi 7) Kata majemuk yang terdiri atas kata sifat + kata sifat

Misalnya: tua muda. cerdik pandai. besar kecil.

3. Pembedaan Kata Majemuk Berdasarkan Hubungan Kata Pembentuknya Ditinjau dari segi hubungannya.

(15)

1) Kata majemuk dapat dibedakan atas:

2) Kata majemuk yang morfem pertama nya merupakan awalan (prefiks). seperti: pra-sarana. prasejarah. tanadil

3) Kata majemuk yang morfem pertamanya merupakan pangkal kata. seperti: rumah sakit. kapal udara. meja belajar

4) Kata majemuk'yang morfem keduanya merupakan pangkal kata. seperti: maha-siswa, bumiputra. purbakala

5) Kata majemuk yang morfem pertamanya mempunyai hubungan sederajat dengan morfem keduanya. seperti naik turun. besar kecil. pulang pergi, sanak saudar

Kata majemuk adalah kata yang terbentuk dari dua kata yang berhubungan secara padu dan hasil penggabungan itu menimbulkan makna baru.

1) Kata majemuk mempunyai ciri-ciri

a. gabungan kata itu menimbulkan makna baru b. gabungan kata itu tidak dapat dipisahkan c. gabungan kata itu tidak dapat disisipi unsur lain d. tidak dapat diganti salah satu unsurnya

e. tidak dapat dipertukarkan letak unsur-unsurnya. 2) Sifat frase

a. merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih

b. merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa. Frase selalu terdapat dalam satu unsur klausa, yaitu S, P, O, Pel, Ket.

(16)

Latihan Pertemuan 3 dan 4

Tunjukan frase atau kata majemuk pada kalimat dibawah ini !

1. Buku baru itu dibeli ayah

2. Ibu memotong apel dengan pisau

3. Mahasiswa mempelajari mata kuliah sintaksis

4. Sinta sedang memilih barang di toko

5. Gelas kaca dipecahkan ade tadi pagi

6. Rina akan berangkat liburan

7. si cantik itu sangat ramah

8. manis sekali mangga ini

9. udara pagi yang dingin

(17)

Pertemuan ke 4 dan 5

Uraian Pokok Bahasan : klasifikasi Frase, Bentuk-bentuk Frase

1. Klasifikasi Frase

Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif. Ramlan (1981) membagi frasa berdasarkan kesetaraan distribusi unsur unsurnya atas dua jenis, yakni frasa endosentrik dan frasa eksosentrik.

a. Frase Endosentris Frase jenis frase berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya endosentris koordinatif atributif apositif eksosentris direktif non direktif jenis frase ditinjau dari persamaan distribusi dengan kategori/golong an kata frase verbal frase nomina frase adjektiva frase pronomina frase numeralia frase preposisi frase konjungsi

(18)

Frase endosentris yaitu frasa yang distribusi unsur-unsurnya setara dalam kalimat. Dalam frasa endosentris kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu dapat digantikan oleh unsurnya. Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu disebut unsur pusat (UP). Dengan kata lain, frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat.

Contoh: Sejumlah mahasiswa(S) di teras(P).

Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya „Sejumlah di teras‟ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Jadi, „Sejumlah mahasiswa‟ adalah frasa endosentris. Frase endosentris terbagi atas tiga jenis:

(a) frase endosentris koordinatif yakni frase yang unsur-unsurnya setara, dapat dihubungkan dengan kata dan, atau, misalnya :

 rumah pekarangan

 kakek nenek

 suami isteri

(b) frase endosentris atributif, yakni frase yang unsur-unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau, misalnya:

 buku baru

 sedang belajar

 belum mengajar`

(c) Frase endosentris apositif, yakni frase yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tak dapat dihubungan dengan kata dan dan atau misalnya:

 Almin, anak Pak Darto sedang membaca

(19)

 Ahmad, - sedang belajar

b. Frase eksosentris adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, misalnya:

 di pasar

 ke sekolah

 dari kampong

Frase eksosentris dibagi menjadi dua:

Frase eksosentris direktif adalah frase yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya.

1) Frase eksosentris direktif ( Frase Preposisional). Umumnya berfungsi sebagai keterangan

 Tempat seperti di pasar, di rumah, pada dinding

 Asal arah seperti dari kampong, dari sekolah

 Asal bahan seperti (cincin) dari emas, (kue) dari tepung beras

 Tujuan arah seperti ke Lampung

 Menunjukan peralihan seperti kepada saya, (percaya) kepada Tuhan

 Perihal seperti tentang ekonomi, (terkenang) akan kebaikannya

 Tujuan seperti untukmu, buatku

 Sebab seperti karena, lantaran, sebab, gara-gara kamu

 Penjadian seperti oleh karena, untuk itu

 Kesertaan seperti denganmu, dengan ayah

 Cara seperti dengan baik, dengn senang hati

(20)

 Keberlangsungan seperti sejak kemarin, dari tadi, sampai besok, sampai nanti

 Penyamaan seperti selaras dengan, sesuai dengan, sejalan dengan

 Perbandingan seperti sebagai bandingan, seperti dia 2) Frase eksosentris nondirektif

Aku bertanya kepada (si) terdakwa (Sang) kekasih rupanya sudah pergi

Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase terdiri atas: frase nominal, frase verbal, frase ajektival,frase, pronomina, frase numeralia (Depdikbud, 1988).

(1) Frase verba adalah frasa yang unsur pusatnya (UP) berupa kata yang termasuk

kategori verba. Secara morfologis, UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi) kata „sedang‟ untuk verba aktif, dan kata „sudah‟ untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi kata‟ sangat‟, dan biasanya menduduki fungsi predikat.

Contoh: Dia berlari.

Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata „sedang‟ yang menunjukkan verba aktif. Contoh frasa verba yang merupakan satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya dan tidak merupakan klausa adalah sebagai berikut.

 Kapal laut itu sudah belabuh  Bapak saya belum pergi.

(21)

 Ibu saya sedang mencuci

(2) Frasa nomina, yaitu frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. UP frasa nomina itu berupa:

 nomina sebenarnya

contoh: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan

 pronomina

contoh: dia itu musuh saya

 nama

contoh: Dian itu manis

 kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina contoh: dia rajin rajin itu menguntungkan

anaknya dua ekor dua itu sedikit dia berlari berlari itu menyehatkan

kata rajin pada kaliat pertama awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba. Contoh kalimat lainnya yang mengandung frasa nomina, misalnya:

 Kakek membeli tiga buah layang-layang.

 Amiruddin makan beberapa butir telur itik.  Syarifuddin menjual tigapuluh kodi kayu besi

(3) Frase ajektiva adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih sedang intinya adalah ajektival (sifat) dan satuan itu tidak membentuk klausa, misalnya:

(22)

 Baju itu sangat indah  Mobil ferozamu baru sekali

Frasa ajektiva UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. UP-nya dapat diberi afiks ter- (paling), sangat, paling agak, alangkah-nya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat.

Contoh: Rumahnya besar.

Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi, maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan.

Contoh: menakutkan (memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata „sedang‟ atau „sudah‟, tetapi bisa diberi kata „sangat‟).

(4) Frase pronomina adalah dua kata atau lebih yang intinya pronomina dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat. Misalnya :

Saya sendiri akan pergi ke pasar

Kami sekalian akan bekunjung ke Tator

Kamu semua akan pergi studi wisata di Tator

(5) Frase numeralia yaitu frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia, yaitu kata-kata yang secara semantis menyatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain.

Contoh:

 dua buah

(23)

 lima biji

 dua puluh lima orang.

Contoh lain frasa numeralia yaitu dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat, tetapi satuan gramatik itu intinya pada numeralia. Misalnya:

Tiga buah rumah sedang terbakar

Lima ekor ayam sedang terbang

Sepuluh bungkus kue akan dibeli

(6)Frasa Preposisi yaitu frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda. Contoh:

Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras

 ke rumah teman

 dari sekolah

 untuk saya

(7)Frasa Konjungsi yaitu frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat.

Contoh:

 Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P)

 Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ.

Ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi.

(24)

Frase nominal adalah frase modikatif yang terjadi pada nomina sebagai induk dan unsur perluasan lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan induk. Frase nominal biasa mengisi garta subjek, objek, maupun pelengkap dalam kalimat. Secara keseluruhan, dari artikel “Mencari „Karya Sastra‟ yang Menguntungkan Perempuan?”, penulis menemukan delapan puluh empat frase nominal. Penulis mengelompokkan bentuk-bentuk frase nominal yang ditemukan berdasarkan pola frase nominal menurut Harimurti Kridalaksana (1999), M. Ramlan (1986), dan Abdul Chaer (2006).

Dari dua puluh pola frase nominal yang disebutkan Harimurti, hanya dua belas pola frase yang terdapat dalam data, yakni sebagai berikut

a) N1 + (N2….Nn)

tradisi lisan

kebuntuan komunikasi

daerah tujuan wisata

simpanan kisah-kisah tandingn

inspirasi dan referensi gerakan perempuan

Dalam pola ini, semua unsur pembentuk frase nominal berupa nomina. Nomina yang dapat mengisi tiap-tiap bagian frase dalam pola ini dapat berupa nomina dasar, seperti pada frase tradisi lisan, atau pun berupa nomina turunan, seperti kata kebuntuan pada frase

(25)

Komponen hulu frase juga dapat diisi dengan nomina yang berupa frase koordinatif, seperti pada frase inspirasi dan referensi gerakan perempuan yang hulunya inspirasi dan referensi.

b) N1 + (N2….Nn)+Prep+N3+(N4…Nn)

cerita-cerita dari ranah tradisi media rekayasa sosial ala tradisi

Dalam pola ini, komponen-komponen frase nominal diisi oleh kategori nomina dan frase preposisional. Unsur yang berupa nomina adalah komponen hulu dari frasenya, sedangkan unsur yang berupa frase preposisional adalah komponen pewatasnya. Untuk komponen hulu, kategori nomina yang mengisinya dapat berupa kata nomina maupun frase nomina.

cerita-cerita dari ranah tradisi media rekayasa sosial ala tradisi

hulu pewatas hulu pewatas

c) N1 + se-N2

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

d) N + yang + V + Dem

barang siapa yang tanpa sadar dilewati sang vagina ini

Frase nominal dalam pola ini, di samping komponen pengisi hulu berupa kategori nomina, memiliki komponen pewatas yang diisi dengan kategori frase eksosentris

(26)

nondirektif.Dapat dikatakan bahwa frase barang siapa yang tanpa sadar dilewati sang vagina ini terbentuk dari dua frase, yakni frase barang siapa yang merupakan frase endosentris nominal dan frase yang tanpa sadar dilewati sang vagina ini yang merupakan frase eksosentris nondirektif. Pada pola ini, kategori yang mengikuti yang dalam komponen pewatasnya adalah kategori verba dan demonstrativa, seperti dalam contoh, bentuk verbanya adalah tanpa sadar dilewati dan demonstrativanya adalah ini.

e) N + yang + V + -nya

kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi

karakter yang berlebihan hasratnya

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan komponen pewatas berupa frase eksosentris nondirektif. Kategori yang mengisi komponen pewatas setelah unsur yang adalah kategori verba yang diikuti dengan bentuk dengan klitik –nya. Klitik –nya pada unsur pewatas mengacu pada nomina yang mengisi komponen hulu frase.

f) N1 + yang + N2 + -nya + F +Dem

(tidak ada FN dengan pola ini pada data )

g) N + A

pakem-pakem ketat tradisi feminim

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan ajektiva sebagai pewatas. Berdasarkan data, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina

(27)

dasar, seperti kata tradisi pada frase tradisi feminim dan dapat pula berupa nomina turunan, seperti kata pakem-pakem pada frase pakem-pakem ketat.

h) N + A1 + A2

(tidak ada FN dengan pola ini dalam data)

i) N + A1 + yang + A2

(tidak ada FN dengan pola ini dalam data)

j) N + me- + dasar

cara mencekalnya

Penulis hanya menemukan satu contoh frase nominal dengan pola ini dari data. Sebagaimana frase nomina pada umumnya, komponen hulu pada frase ini diisi oleh kategori nomina. Untuk pewatas, frase ini diisi dengan kategori verba dengan prefiks me-.

k) N + ber- + dasar

kebebasan berinterpretasi cerita bertuah

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan verba dengan prefiks ber- sebagai pewatas. Berdasarkan data, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, seperti kata cerita pada frase cerita bertuah dan dapat pula berupa nomina turunan, seperti kata kebebasan pada frase kebebasan berinterpretasi.

(28)

kisah yang hilang wajah vagina yang tengah mekar

negri yang super makmur negri yang tidak pernah tidur

kekuasaan manusia yang tamak Cerita yang berisikan pendidikan seks

improvisasi yang tak cuma untuk menjembatani hubungan antar individu namun juga dengan simpul dan elemen dalam struktur masyarakat

kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi

Pada pola ini, komponen hulu diisi oleh kategori nomina, baik nomina dasar maupun turunan, baik berupa kata maupun frase. Komponen pewatas pada pola ini adalah bentuk frase eksosentris nondirektif. Dalam pola ini, unsur di dalam pewatas dapat diperjelas lagi dengan frase eksosentris nondirektif juga. Seperti pada frase kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi. Pada frase tersebut, komponen hulu anak perempuan

diperjelas dengan frase yang mengalahkan ayahnya, dan ayahnya yang merupakan unsur dalam komponen pewatas diperjelas lagi dengan frase yang gila judi. Selain termasuk dalam frase berpola ini, frase kisah anak perempuan yang mengalahkan ayahnya yang gila judi juga dapat dimasukkan ke dalam kelompok frase berpola (e) menurut Harimurti.

m) Num + N

semua kevulgaran pikiran si tokoh

berbagai situasi

(29)

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan numeralia sebagai pewatas. Berdasarkan data, untuk yang dalam satuan kata, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, seperti kata situasi pada frase berbagai situasi dan dapat pula berupa nomina turunan, seperti kata penikmat pada frase seorang penikmat. Begitu pula pada kategori numeralia pada komponen pewatasnya. Kategori numeralia tersebut dapat berupa numeralia dasar seperti semua, numeralia turunan, seperti

berbagai, atau pun berupa frase numeralia, seperti salah satu.

n) Num + Ntakaran + N

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

0) N1 + ber- + Ngugus/Ntakaran + N2

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

p) N + Pron

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

q) N + Dem

dugaan ini

tradisi ini

(30)

Frase nominal pada pola ini memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan demonstrativa sebagai pewatas. Berdasarkan data, untuk yang dalam satuan kata, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, seperti kata tradisi pada frase

tradisi ini dan dapat pula berupa nomina turunan, seperti kata dugaan pada frase dugaan ini.

r) Adv1 + Adv2 + Num + N

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

s) Art + [N, A, ter-V]

para penulis Indonesia

sang Bapak

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan komponen pewatas berupa artikula. Berdasarkan pola, disebutkan bahwa komponen hulu dapat diisi oleh kategori nomina, ajektiva, atau verba dengan prefiks ter-, tetapi dalam data, penulis hanya menemukan frase dengan pola ini yang kategori hulunya adalah nomina. Dalam penjelasannya, Harimurti juga mengkategorikan frase-frase dengan artikula ke dalam kelompok frase eksosentris nondirektif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam teori Harimurti terjadi pertumpangtindihan kategori untuk frase-frase yang berunsur artikula.

(31)

(tidak ada FN dengan pola ini pada data)

Berdasarkan pola-pola yang dibuat oleh Harimurti, penulis tidak dapat mengelompokkan beberapa frase nominal karena polanya berbeda. Frase-frase tersebut adalah misi tertentu, yang ingin disampaikan, yang berperan sebagai pengasuh anak, ruang interpretasi terbuka, dan bukan hanya sekadar cerita.

Bagi penulis, pola yang dibuat oleh Harimurti sebenarnya dapat lebih disederhanakan. Terlalu banyak pola membuat klasifikasi frase menjadi lebih sulit. Seperti contohnya pada frase cara mencekalnya, cerita bertuah, dan ruang interpretasi terbuka. Frase cara mencekalnya termasuk dalam kelompok pola

N + me- + dasar, frase cerita bertuah termasuk dalam pola N + ber- + dasar, sedangkan frase ruang interpretasi terbuka tidak dapat masuk dalam kelompok pola mana pun. Ketiga frase tersebut sebenarnya dapat dikelompokkan ke dalam satu pola agar lebih sederhana. Pewatas dari ketiga frase tersebut sama-sama merupakan verba, sehingga pola ketiga frase tersebut dapat saja dikatakan N + V.

Hampir serupa dengan Harimurti Kridalaksana, M. Ramlan juga membuat pola frase nominal berdasarkan urutan unsur-unsur penyusunnya. Akan tetapi, berdasarkan jumlahnya, pola yang dibuat oleh M. Ramlan lebih sederhana.

a) N + N

tradisi lisan gerakan perempuan Indonesia

(32)

anak perempuannya pemujaan Saraswati

media yang efektif Drupadi yang poliandri

dugaan ini Tradisi ini

perubahan tanda dan makna

bali yang punya tradisi kesenian yang menjadikan tema Calon Arang tak hanya sebagai cerita

improvisasi yang tak cuma untuk menjembatani hubungan antar individu namun juga dengan simpul dan elemen dalam struktur masyarakat

Frase dengan pola ini merupakan frase yang paling banyak ditemukan. Kategori nomina mengisi komponen hulu dan pewatas frase ini, baik berupa kata atau frase, bentuk dasar atau turunan. Frase dengan demonstrativa seperti dugaan ini, oleh Ramlan dikategorikan dalam kelompok pola ini. Hal ini agak membingungkan karena ini bukan merupakan kategori nomina. Masalah ini dapat diselesaikan dengan menganggap bentuk-bentuk demonstrativa sebagai nomina karena fungsinya yang memang dapat menggantikan nomina. Selain itu, frase nominal dengan komponen pewatas frase yang diawali dengan unsur yang juga termasuk ke dalam kelompok pola ini. Hal ini karena Ramlan mengkategorikan frase yang diawali dengan unsur yang ke dalam frase nominal.

b) N + V

(33)

cerita bertuah misi tertentu

Pada pola ini, frase memiliki unsur-unsur berupa nomina sebagai hulu dan verba sebagai pewatas. Berdasarkan data, nomina sebagai komponen hulu dapat berupa nomina dasar, yaitu pada frase cara mencekalnya dan dapat pula berupa nomina turunan, yaitu pada frase kebebasan berinterpretasi.

c) N + Num

(Tidak ada frase dengan pola ini pada data)

d) N + Ket

(Tidak ada frase dengan pola ini pada data)

e) N + FP

cerita-cerita dari ranah tradisi media rekayasa sosial ala tradisi

Frase nominal pada pola ini memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan frase preposisional sebagai pewatas.

f) Num + N

semua kevulgaran pikiran si tokoh berbagai situasi

(34)

Frase berpola ini memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan numeralia sebagai pewatas. Bentuk-bentuk nominal yang dapat mengisi komponen hulu dapat berupa kata, seperti pada frase berbagai situasi, atau frase, seperti pada frase semua kevulgaran piliran si tokoh. Untuk pewatasnya, kategori numeralia yang mengisi dapat berupa numeralia dasar, seperti semua, numeralia turunan, seperti berbagai, dan frase numeralia, seperti salah satu.

g) Art + N

para penulis Indonesia sang Bapak

si anak

Frase dengan pola ini memiliki unsur-unsur berupa kategori nomina sebagai hulu dan komponen pewatas berupa artikula.

h) Yang + N/V/Num /FP

yang berperan sebagai pengasuh anak yang ingin disampaikan

Frase nominal dengan pola ini diawali dengan unsur yang yang menjadi pewatas. Unsur-unsur setelahnya, apa pun kategorinya, baik nomina, verba, numeralia, maupun frase preposional merupakan komponen hulu frase.

Dengan pola yang dibuat oleh M. Ramlan pun masih terdapat bentuk-bentuk frase nominal yang tidak dapat dikelompokkan. Frase-frase tersebut adalah bukan hanya sekedar cerita, pakem-pakem ketat dan tradisi feminim yang merupakan penggabungan nomina

(35)

dengan ajektiva atau berpola N + A. Walaupun demikian, frase yang tidak memiliki kelompok pola dalam pengelompokkan frase berdasarkan pola yang dibuat Harimurti, pada pengelompokkan Ramlan dapat dikelompokkan.

Frase yang berperan sebagai pengasuh anak dan yang ingin disampaikan yang polanya tidak terdapat dalam pengelompokkan Hatimurti, dalam pengelompokkan Ramlan termasuk ke dalam pola Yang + V. Menurut teori Harimurti, frase-frase tersebut bukanlah termasuk frase endosentris, atau lebih khusus lagi frase nominal, melainkan frase eksosentris nondirektif.

Untuk frase ruang interpretasi terbuka dan misi tertentu, pola yang tepat dalam pengelompokkan Ramlan adalah pola N + V. Bila Harimurti membedakan pola antara frase nominal dengan pewatas bentuk berimbuhan ber- dan me-, dan tidak mencantumkan pola untuk frase nominal berpewatas bentuk berimbuhan ter-, Ramlan mengelompokkan tiga bentuk tersebut ke dalam pola yang sama, yakni N + V.

Penjelasan Harimurti yang mengatakan bahwa kelas kata yang mengisi bagian hulu dalam frase modikatif menjadi penentu kelas frase yang akan terbentuk tidak berlaku untuk frase yang berperan sebagai pengasuh anak dan yang ingin disampaikan. Frase tersebut masing-masing memiliki hulu berperan sebagai pengasuh anak dan ingin disampaikan yang merupakan verba dengan pewatas yang yang bertugas sebagai pembentuk nomina. Walaupun demikian, frase tersebut termasuk kategori frase nominal karena perlakuannya dalam klausa serupa dengan nomina. Sebagai nomina, dalam data frase tersebut mengisi gatra subjek.

(36)

Yang berperan sebagai pengasuh anak adalah sang Bapak

S P O

Bila Harimurti dan Ramlan membuat pola berdasarkan urutan kata atau frase penyusunnya, Abdul Chaer membuat pola berdasarkan urutan hulu dan pewatasnya. Hulu sebagai inti frase adalah unsur yang diterangkan, sedangkan pewatas sebagai penjelas adalah unsur yang menjelaskan hulu. Berdasarkan urutan hulu dan pewatas tersebut, terdapat dua pola frase nominal, yakni pola Diterangkan-Menerangkan (D-M) dan pola Menerangkan-Diterangkan (M-D). Pola D-M berarti pewatas didahului hulu dan pola M-D berarti kebalikannya.

Sebagai contoh, frase cerita-cerita dari ranah tradisi dan berbagai situasi. Masing-masing frase tersebut secara berurutan berpola D-M dan M-D. Pada frase cerita-cerita dari ranah tradisi, unsur cerita-cerita diterangkan oleh unsur dari ranah tradisi, sedangkan pada frase berbagai situasi, unsur berbagai menerangkan unsur situasi. Berikut daftar frase nominal dalam atikel “Mencari „Karya Sastra‟ yang Menguntungkan Perempuan?” yang telah dikelompokkan berdasarkan pola Abdul Chaer.

D-M M-D

- cerita-cerita dari ranah tradisi

- dugaan ini

- tradisi ini

- tradisi lisan

- dampak tradisi bertutur ini

- berbagai situasi

- salah satu propinsi di Indonesia

- semua ingatan

- bukan hanya sekedar cerita

(37)

- gerakan perempuan Indonesia

- kebuntuan komunikasi

- dugaan lain

- inspirasi dan referensi gerakan perempuan

- beban penterjemahan peristilahan

- dugaan itu

- media rekayasa sosial ala tradisi

- daerah tujuan wisata

- kisah Calon Arang

- bali yang punya tradisi kesenian yang menjadikan tema Calon Arang tak hanya sebagai cerita

- ranah tradisi Bali

- cara mencekalnya - cerita bertuah - pakem-pakem ketat - sang vagina - seorang penikmat - sang Bapak - si anak - yang ingin disampaikan - seorang lelaki - para penutur - suatu wilayah - yang berperan sebagai pengasuh anak - satu cerita

Berdasarkan frase dengan pola yang dibuat Abdul Chaer yang penulis temukan dalam data, pewatas, atau unsur yang menerangkan, pada frase berpola D-M adalah berupa kategori nomina, verba, ajektiva, dan demonstrative. Adapaun komponen hulunya, semua

(38)

frase diisi oleh kategori nomina. Untuk frase berpola M-D, komponen pewatas dapat diisi oleh kategori numeralia, adverbia, arikula, dan konjungsi (yang), sedangkan komponen hulunya dapat berupa kategori nomina atau verba (bila pewatasnya yang).

Latihan pertemuan 4-5

1. Di bawah ini adalah frase berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya. Berilah tanda pada kelompok frase dibawah ini

No Frase berdasarkan kesetaraan

distribusi unsur-unsurnya

Frase endosentris Frase eksosentris

Koordinatif Atributif Apositif Direk tif Non direktif 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Susi anak Pak Saleh, sangat pandai. Dia berlari di lapangan

Matahari diufuk barat hampir terbenam

Paman dan bibi suda lama tidak megunjungi kami.

Kerbau, lembu, dan kambing adalah hewan piaraan

Bajunya terbuat dari sutera Siapa yang harus

pergi, saya atau Anda?

Anak nakal itu dihukum gurunya. Si terdakwa di ganjar hukumun seumur hidup

Sampai sekarang adik belum pulang Anak-anak itu akan memancing. Para mahasiswa mengerjakan tugas

(39)

13

14

kelompok

Cita-citanya tinggi sekali. Rumah besar itu sudah dijual.

2. Jelaskan pengertian frase endosentris koordinatif, frase endosentris apositif, frase endosentris atributif dan buatlah masing-masing 3 contoh !

3. Jelaskan pengertian frase eksosentris direktif dan frase eksosentris non direktif buatlah masing-masing 3 contoh !

4. Jenis frase ditinjau dari persamaan distribusi dengan kategori atau golongan kata. Berilah tanda pada kelompok frase dibawah ini

No frase ditinjau dari persamaan distribusi dengan kategori kata

Frase nominal Frase verbal Frase adjektival Frase pronomina Frase numeral Frase preposisi Frase konjungsi

1 Ani sangat bangga menggunakan produk dari dalam negeri

2 Ayahnya seorang guru 3

1.

2. Murid-murid makan dan minum di kantin.

4 Pohon meliuk-liuk cemara terkena itu tiupan angin

5 3. Kami pidato presiden. mendengar 4.

(40)

6 Koran 7

6.

7. Anak itu bodoh sekali.

8 Saya sendiri akan pergi ke pasar

9 8.

9. Kami akan bekunjung ke Tanah Toraja

10 10.

11. Kamu semua akan pergi studi wisata

11 12.

13. Mereka itu sangat malas belajar

12 14.

15. Kami boleh menyanyi atau menari.

13 16.

17. Anak itu bermain 18. lompat tali.

14 karena sakit ayah tidak masuk kerja 15

19.

Bunga itu warnanya merah jambu.

16 Pohon kelapa itu tinggi sekali

17 20.

21. Ibu membeli baju putih.

18 Didorong dengan keras 19

22.

23. Buku itu miliknya

20 24.

25. Lima atau enam orang bertopeng kegelapan pada gang itu.

(41)

21 26. Ibu membeli baju putih.

22 27.

28. Didorong dengan keras

23 29.

30. Buku itu miliknya

24 31.

32. Lima atau enam orang bertopeng melintasi kegelapan pada gang itu.

Rangkuman

Frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat non predikatif atau satu konstruksi ketatabahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih. frase dapat menduduki fungsi S, P, O, Pel, Ket. jenis frase berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya dibagi menjadi dua yaitu frase endosentris dan eksosentris. frase endosentris dibagi lagi menjadi tiga yaitu endosentris apositif, endosentris koordinatif, endosentris atributif sedangkan eksosentris dibagi menjadi dua yaitu eksosentris direktif dan eksosentris non direktif .Jenis frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase terdiri atas: frase nominal, frase verbal, frase ajektival, frase, pronomina, frase numeralia, frase konjungsi, frase preposisi.

(42)

BAB II KLAUSA

A. Pendahuluan 1. Deskripsi isi

Pada bab ini membahas Pengertian Klausa, jenis klausa dibagi menjadi lima jenis. klasifikasi klausa berdasarkan struktur intern dibagi menjadi dua yaitu klausa lengkap, klausa tidak lengkap, jenis klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi dibagi menjadi dua yaitu klausa positif dan klausa negatif, jenis klausa berdasarkan kategori yang menduduki fungsi P dibagi menjadi 6 klausa nomina, klausa verba, klausa adjektiva, klausa numeral, klausa preposisi, klausa pronominal, jenis klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dibagi menjadi dua klausa bebas dan klausa terikat jenis klausa berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat dibagi menjadi duan klausa atasan dan klausa bawahan. Pada bab ini juga dibahas cara menganalisis klausa. menganalisis klausa dibagi menjadi tiga cara yaitu analisis klausa berdasarkan fungsi unsur-unsurnya, analisis klausa berdasarkan kategori kata, analisis klausa berdasarkan makna unsur-unsurnya

2. Kompetensi dasar

Mampu memahami, menguasai serta menganalisis klausa 3. Indikator

Mahasiswa mampu memahami, menguasai serta menganalisis materi klausa mengklasifikasikannya kedalam lima jenis

(43)

Mahasiswa dapat memahami, menguasai, menganalisis dan mengklasifikasikan materi klausa

B. Uraian Materi Pertemuan 5 dan 6

Uraian Pokok Bahasan : Pengertian klausa dan jenis-jenis klausa

Ada lima dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan klausa. Kelima dasar itu adalah: a. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya

Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya mengacu pada hadir tidaknya unsur inti klausa, yaitu S dan P. Dengan demikian, unsur ini klausa yang bisa tidak hadir adalah S sedangkan P sebagai inti klausa selalu hadir. Atas dasar itu, maka hasil klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya adalah :

a. Klausa Lengkap

Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi

1) Klausa versi, yaitu klausa yang S-nya mendahului P. contoh: Rani belajar di rumah

Kondisinya sudah baik

2) Klausa inverse yaitu klausa yang P-nya mendahului S. contoh: Sudah baik kondisinya

b. Klausa tidak lengkap

Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir. Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan

(44)

2. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P

Unsur negasi yang dimaksud adalah tidak, tak, bukan, belum, dan jangan. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P menghasilkan:

a. Klausa positif

Klausa positif ialah klausa yang ditandai dengan tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P. contoh :

Paman berlibur ke Bali b. Klausa negatif

Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegatifkan P. contoh:

Paman tidak berlibur ke Bali

Kata negasi yang terletak di depan P secara gramatik menegatifkan P, tetapi secara semantic belum tentu menegatifkan P. dalam klausa Dia tidak tidur, misalnya, memang secara gramatik dan secara semantic menegatifkan P. tetapi, dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, kata negasi itu secara semantik bisa menegatifkan P dan bisa menegatifkan O. kalau yang dimaksudkan „Dia tidak mengambil sesuatu apapun‟ kata negasi itu menegatifkan O. misalnya dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, melainkan sendok

3. klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P

Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P, klausa dapat diklasifikasikan menjadi : a. Klausa Nomina

(45)

Nomina. Contoh :

a) Dia seorang dokter

b) pidato presiden kami dengarkan c) Ani membeli buku bahasa Indonesia. d) Ia menyaksikan ombak memutih. e) Ayah membeli kerbau dua ekor.

f) Ayah Amir adalah seorang guru sekolah dasar g) Udara pagi ini sangat segardonesia

b. Klausa verbal

Klausa verbal ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba. Frasa verbal (FV) adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya verba dan modifikatornya (pewatasnya) berupa partikel modal, partikel ingkar, frasa adverbial, atau adverbial Contoh;

a) dia membantu para korban banjir b) Andi datang bersama teman kelasnya

c) Untuk ke Jakarta, kita harus naik kereta api dari Jogjakarta d) Anto bekerja sebagai salesman di perusahaan itu

e) Pesawat itu akan mendarat. f) Pemuda itu sering merayu. g) Ani sudah makan.

c. Klausa adjektiva

Klausa adjektiva ialah klausa yang p-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva. Contoh;

(46)

a) adiknya sangat gemuk b) hotel itu sudah tua c) Buku itu terlalu banyak.

d) Gedung baru itu sangat megah. e) Bunga itu sangat indah.

f) Ani menyanyi dengan gembira. d. Klausa Numeralia

Klausa numerelia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numerelia. Contoh;

mahasiswanya Sembilan orang

a. Entah tiga, entah empat kali dia sudah meminjam uang saya. b. Andi memiliki lima orang saudara

c. Hewan qurban kali ini berjumlah 50 ekor d. Kakak kelima andi bernama Isra

e. Kedua bersaudara itu sangat akur

f. Aku telah memberinya kesempatan kedua, tapi dia selalu menyia-nyiakannya g. Ksempatan hanya datang sekali dalam hidup

e. Klausa preposisional

Klausa preposisional ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk preposisional. Contoh; sepatu itu di bawah meja

f. Klausa Pronomina

Klausa Pronomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk Pronomina Contoh;

(47)

a) hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah

b) sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya c) Buku harian itu milik Hendra

d) Ia menggunakan seragam sekolah yang bersih kesekolah e) Itu salah satu contoh yang baik untu ditiru

f) Bukan itu yang saya mau, tapi yang ini g) Seragam sekolahnya itu dia beli dipasar

4. Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat

Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas

a. Klausa bebas

Klausa bebas ialah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut. Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Dengan perkataan lain, klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu, sehingga kembali kepada wujudnya semula, yaitu kalimat.

Contoh; anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin b. Klausa terikat

Klausa terikat adalah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum: panggilan, salam, judul, motto, pepatah dan kalimat telegram.

(48)

a. Klausa atasan

Klausa atasan ialah klausa yang tidak memiliki fungsi sintaksis dari klausa yang lain Contoh: ketika paman datang, kami sedang belajar.

b. Klausa bawahan

Klausa bawahan ialah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa

(49)

klasifikasi klausa berdasarkan struktur intern klausa lengkap klausa tidak lengkap berdasarkan ada tidaknya unsur negasi klausa positif klausa negatif berdasarkan kategori yang menduduki fungsi P klausa nominal klausa verbal klausa adjektival klausa numeral klausa preposisi klausa pronomina berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat klausa bebas klausa terikat berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat klausa atasan klausa bawahan

(50)

Latihan pertemuan 5-6

1. coba Anda kemukakan jenis-jenis klausa kemudian berikan contohnya?

Pertemuan ke 7

Uraian pokok bahasan : Analisis Klausa berdasarkan fungsi unsur-unsurnya

1. Analisis klausa berdasarkan fungsi unsur-unsurnya

Klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional yang di sini disebut S, P, O, pel, dan ket. Kelima unsur itu tidak selalu bersama-sama ada dalam satu klausa. Kadang-kadang satu klausa hanya terdiri dari S dan P kadang terdiri dari S, P dan O, kadang-kadang terdii dari S, P, pel dan ket. Kadang-kadang terdiri dari P saja. Unsur fungsional yang S dan P kadang terdiri dari S, P dan O, kadang-kadang terdii dari S, P, pel dan ket. Kadang-kadang terdiri dari P saja. Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa ialah P.

analisis klausa

berdasarkan fungsi unsur-unsurnya

berdasarkan kategori atau frase yang menjadi unsurnya

berdasarkan makna unsur-unsurnya

(51)

a. S dan P

Budi(S) Tidak berlari-lari(P) Badannya(S) sangat lemah(P)

P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif, mungkin terdiri dari golongan kata verbal intransitive, dan mungkin juga terdiri dari golongan-golongan lain. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif, diperlukan adanya O yang mengikuti P. Contoh Panitia(S) akan menyelenggarakan(P) pentas seni

b. O dan Pel

P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif, mungkin terdiri dari golongan kata verbal intrasitif, dan mungkin pula terdiri dari golongan-golongan kata yang lain. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif, diperlukan adanya O yang mengikuti P itu. Misalnya :

Contoh : Pemerintah akan menyelenggarakan pentas seni

Klausa pemerintah akan menyelenggarakan pesta seni terdiri dari tiga unsure funsional, ialah pemerintah sebagai S, unsure akan menyelenggarakan sebagai P, dan unsur pesta seni sebagai O, yang di sini merupakan O1.

O1 selalu terletak di belakang P yang terdiri dari kata verbal transitif. Karena P itu sendiri dari kata verbal transitif. Maka klausa itu dapat diubah menjadi klausa pasif. Apabila dipasifkan, kata atau frase yang menduduki fungsi O1 selalu menduduki fungsi S. Misalnya apabila klausa dalam kalimat tersebut dipasifkan, akan menjadi : Pesta seni akan diselenggarakan (oleh) pemerintah.

Pesta seni yang dalam klausa (1) menduduki fungsi O1, dalam klausa kalimat (1.1) menduduki fungsi S.

(52)

Demikianlah dapat disimpulkan bahwa O1 mempunyai cirri selalu terletak di belakang P yang terdiri dari dari kata verbal transitif, dan kalau klausa itu dirubah dari klausa aktif menjadi klausa pasif.

PEL mempunyai persamaan dengan O, baik O1 maupun O2 ialah selalu terletak di belakang P. perbedaannya ialah O selalu terdapat dalam klausa yang dapat dipasifkan, sedangkan PEL terdapat dalam klausa yang tidak dapat diubah menjadi bentuk pasif. Misalnya :

1. Orang itu selalu berbuat kebaikan.

S P PEL

S klausa kalimat di atas ialah orang itu, P-nya selalu berbuat, dan kata kebaikan

menduduki fungsi PEL.

Contoh-contoh lain misalnya :

2. Negara Indonesia berdasarkan Pancasila.

3. Teman orang itu sedang menyanyi.

4. Banyak orang asing belajar bahasa Indonesia.

5. Orang tua anak itu berjualan bakmi di pasar.

Berturut-turut PEL klausa kalimat-kalimat di atas ialah Pancasila (2), menyanyi(3), bahasa Indonesia(4), dan bakmi(5).

(53)

Unsur klausa yang tidak menduduki fungsi S, P, O, dan PEL dapat diperkirakan menduduki fungsi KET. Berbeda dengan O dan PEL yang selalu terletak dibelakang P, dalam suatu klausa KET pada umumnya mempunyai letak yang bebas, artinya dapat terletak di depan S-P, dapat terletak di antara S dan P, dan dapat juga terletak di belakang sekali. Hanya sudah tentu tidak mungkin terletak di antara P dan O dan diantara P dan PEL karena O dan PEL boleh dikatakan selalu menduduki tempat langsung di belakang P, setidak-tidaknya mempunyai kecenderungan demikian. Misalnya :

1. Akibat taufan desa-desa itu musnah.

Dalam kalimat (1) di atas unsur yang menduduki fungsi KET ialah unsur

akibat taufan yang terletak di muka S-P, unsur KET itu dapat dipindahkan ke belakang S-P, menjadi :

a. Desa-desa itu akibat taufan musnah. b. Desa-desa itu musnah akibat taufan.

Tetapi apabila ada O atau PEL-nya, maka unsur KET itu tidak dapat dipindahkan ke tempat di antara P dan O atau PEL, kecuali apabila O itu terdiri dari frase yang panjang. Misalnya :

2. Udin membersihkan kacamatanya dengan selampai putih.

Unsur yang menduduki fungsi KET ialah unsur dengan selampai putih yang terletak di belakang sekali. Unsur tersebut dapat dipindahkan ke depan S-P dan ke tempat di antara S dan P, menjadi :

(54)

a. Dengan selampai putih Udin membersihkan kacamatanya. b. Udin dengan selampai putih membersihkan kacamatannya. Tetapi tidak dapat dipindahkan ke tempat di antara P dan O menjadi : Udin membersihkan dengan selampai putih kacamatanya.

hari ini ibu pergi ke kantor, tidak seperti biasanya wajah ibu tampak pucat. aku khawatir terhadap kondisi ibu. aku yakin ibu sakit karena sebelumnya aku melihat ibu meminum obat

Pertemuan ke 9

Uraian pokok bahasa : Analisis Klausa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi pembentuknya

Analisis klausa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi pembentuknya Analisis klausa berdasarkan kategori kata atau frasa yang menjadi unsur-unsur klausa ini disebut analisis kategorial, analisis ini tidak terlepas dari analisis fungsional, bahkan merupakan lanjutan dari analisis fungsional

. contoh:

Ibu Memasak Ikan Tadi pagi

F S P O Ket

K N V N Ket

Dalam analisis fungsional klausa dianalisis berdasarkan fungsi unsur-unsurnya menjadi S, P, O, Pel dan Ket dalam analisis kategorial telah dijelaskanbahwa fun gsi S terdiri dari N, fungsi P terdiri dari N, V, Bil, FD, fungsi O terdiridari N, fungsi Pel terdiri dari N, V, Bil dan

(55)

fungsi ket terdiri dari Ket, FD, N.Fungsi-fungsi itu di samping terdiri dari kategori-kategori kata atau frase jugaterdiri dari makna-makna yang sudah barang tentu makna unsur pengisi fungsiberkaitan dengan makna yang dinyatakan oleh unsur pengisi fungsi yang lain

Contoh :

Dinda Menemani Adiknya Di tempat

tidur

Beberapa saat

F S P O Ket 1 Ket 2

K N V N FD N

M Pelaku Pembuatan Penderita Tempat Waktu

Pertemuan Ke 10

Uraian pokok bahasan : Analisis Klausa berdasarkan makna unsur-unsurnya Analisis klausa berdasarkan makna unsur-unsurnya

a. Makna Unsur Pengisi P

1) Menyatakan makna "Perbuatan" Contoh : Dinda sedang belajar

Frase sedang belajar yang menduduki fungsi P menyatakan makna

"Perbuatan" yaitu perbuatan yang sedang dilakukan oleh "pelakunya" yaitu 'Dinda'

2) Menyatakan makna "Keadaan" Contoh :

(56)

 Rumah itu sangat besar

 Lukanya sangat parah

Kata-kata hitam, lebat, besar, dan parah semuanya merupakan makna keadaan.

Makna keadaan dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu : 1. Keadaan relatif singkat. Keadaan ini mudah berubah. Misalnya :

 Rumah itu sangat bersih

 Kami sudah mengantuk

2. Keadaan yang relatif lama dan kecenderungannya tidak mudah berubah. Keadaan yang semcam ini secara khusus disebut sifat. Misalnya :

 Mahasiswa itu sangat rajin

 Perempuan itu ramah sekali

 Pohon cemara itu sangat tinggi

3. Keadaan yang merupakan runtutan perubahan keadaan yang disebut proses. Misalnya :

 Hujannya mereda

 Pengaruhnya semakin meluas

4. Keadaan yang merupakan pengalaman kejiwaan. Misalnya :

 Orang itu dapat memahami keinginan anaknya.

 Setiap orang menyukai perbuatan baik

 Orang itu sangat sayang kepada binatang 3) Menyatakan Makan 'Keberadaan"

(57)

 Para tamu di ruang depan  Arie berada diruang baca  Dinda tinggal di luar kota

Kata yang bercetak miring tersebut menjadi unsur pengisi P tidak menyatakan makna "perbuatan" dan "keadaan" melainkan menyatakan makna "keberadaan".

4) Menyatakan makna "pengenal" Contoh :

 Orang itu adalah pegawai kedutaan

 Mereka adalah imahasiswa Um

 Dia adalah teman kecil saya 5) Menyatakan makna "jumlah"

Contoh :

 Rumah itu dua rumah

 Anak orang itu lima

 Kaki meja itu empat 6) Menyatakan makana "perolehan"

Contoh :

 Ariel memiliki mobil

 Dinda mendapat hadiah

 Sayur-sayuran itu mengandung banyak vitamin b. Makna Unsur Pengisi S

1. Menyatakan Makna "pelaku" Contoh :

(58)

 Seorang perempuan tua membeli beras.

 Mahasiswa mengerjakan beberapa tes. 2. Menyatakan makna "alat"

Contoh :

 Truk-truk itu mengangkut beras.

 Sebuah gambar menghiasi kamar kerjanya. 3. Menyatakan makna "sebab"

Contoh :

 Banjir besar itu menghancurkan kota.

 Kamar itu panas karena perapian. 4. Menyatakan makna "penderita"

Contoh :

 Benda itu dipukulkannya dengan batu lain.

 Jalan-jalan sedang diperbaiki. 5. Menyatakan makna "hasil"

Contoh :

 Rumah-rumah banyak didirikan pemerintah.

 Novel itu dikarang oleh pengarang muda dari Kalimantan. 6. Menyatakan makna "tempat"

Contoh :

 Para turis banyak berkunjung ke pantai Kutai.

 Gua itu belum pernah dimasuki orang. 7. Menyatakan makna "penerima"

(59)

Contoh :

 Seorang ayah membelikan sepeda baru untuk anaknya

 Gadis itu akan dibuatkan rok oleh ibunya 8. Menyatakan makna "pengalaman"

Contoh :

 Rambutnya hitam dan lebat

 Lukanya membesar 9. Menyatakan makna "dikenal"

Contoh :

 Orang itu pegawai kedutaan

 Dia adalah teman saya 10. Menyatakan makna "terjumlah"

Contoh :

 Kaki meja itu empat

 Anak orang itu lima c. Makna Unsur Pengisi O (1)

1. Menyatakan makna "penderita" Contoh :

 Ia menebang pohon.

 Seorang laki-laki menurunkan dua koper. 2. Menyatakan makna "penerima"

Contoh :

(60)

 Dinda membelikan baju baru bagi anaknya. 3. Menyatakan makna "tempat"

Contoh :

 Banyak turis mengunjungi candi Borobudur.

 Petani itu menanam ubi-ubian di tegalnya. 4. Menyatakan makna "alat"

Contoh :

 Polisi menembak penjahat dengan pistolnya

 Ia mengikatkan tali pada sebatang pohon. 5. Menyatakan makna "hasil"

Contoh :

 Pemerintah membuat jalan-jalan baru. d. Makna Unsur Pengisi O (2)

1. Menyatakan makna "penderita".

Contoh : Ariel membelikan anaknya buku baru. 2. Menyatakan makna "hasil".

Contoh : Penjahit membuatkan kebaya ibu. e. Makna Unsur Pengisi PEL

1. Menyatakan makna "penderita".

Contoh : Banyak mahasiswa belajar bahasa jerman. 2. Menyatakan makna "alat".

Contoh : Ia bersenjatakan bambu runcing. f. Makna Unsur Pengisi KET

(61)

1. Menyatakan makna "tempat"

Contoh : Aku mengitari rumah dari samping. 2. Menyatakan makna "waktu"

Contoh : Bapak kepala daerah pergi ke Jakarta kemarin. 3. Menyatakan makna "cara"

Contoh : Pencuri itu lari dengan skripsi. 4. Menyatakan makna "peserta"

Contoh : Arie senang bercakap-cakap denganku 5. Menyatakan makna "alat"

Contoh : Anak itu menulis dengan tangan kiri. 6. Menyatakan makna "sebab"

Contoh : Orang itu menjadi gila karena tekanan hidup. 7. Menyatakan makna "pelaku"

Contoh : Senayan mulai dihuni oleh beberapa olahragawan. 8. Menyatakan makna "keseringan"

Contoh : Arie telah menyerukan kata awas beberapa kali. 9. Menyatakan makna "perbandingan"

Contoh : Arie sangat pandai seperti kakaknya. 10. Menyatakan makna "perkecualian"

Contoh : Anak-anak itu tidak boleh masuk kecuali saya.

(62)

Pembuatan keadaan Keberadaan Pengenal Jumlah Pemerolehan Pelaku Alat Sebab Penderita Hasil Tempat Penerima Pengalaman Dikenal Terjumlah Hasil Alat Sebab Pelaku Keseringan Perbandingan Penderita Penerima Tempat Alat Hasil Penderita Hasil Penderita Alat Tempat Waktu Cara Penerima Peserta Alat Sebab Pelaku Keseringan Perbandingan Perkecualian

Ringkasan Makna Klausa

1. Penanggap : benda bernyawa, mengalami proses psikologis Mencintaku, menderita

2. Pelaku : benda bernyawa atau tidak bernyawa yang mendororng suatu proses atau yang bertindak

(63)

Sinta memegang pensil Kabut meyelimuti bumi

3. Tokoh : benda bernyawa yang diterangkan oleh benda lain atau yang memerankanapa yang disebut predikator

Pak Budi guru kami

4. Pokok : benda tidak bernyawa yang diterangkan oleh benda lain atau yang memerankan apa yang disebut predikator

Gudeg adalah makanan khas Jawa Tengah 5. Ciri : benda yang menerangkan benda lain

Pak Ali berambut ikal

6. Penderita : benda bernyawa yang mengalami perubahan secara fisik atau yang berubah Dia menyayangi adiknya

7. tempatnya atau letaknya ( yang dimiliki, yang diperoleh, atau yang dipertahankan ) 8. Sasaran benda tak bernyawa yang mengalami perubahan fisik/ brubah tempat atau

letaknya

9. Adik makan apel

10.Hasil : benda yang mengalami atua mengkhususkan predikator atau yang menjadi hasil tindakan predikator

Ibu menanak nasi

11.Pemeroleh : benda yang mendapat keuntungan dari predikator Ibu menjahitkan adik baju

12.Ukuran : benda yang mengungkapkan banyaknya atau ukuran predikator

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :