• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH INVESTASI CINA DI ETIOPIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH INVESTASI CINA DI ETIOPIA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH INVESTASI CINA DI ETIOPIA

Posmanto Marbun

Universitas Gadjah Mada [email protected]

ABSTRACT

The advantages possessed by Ethiopia have attracted China interest to invest. As a result, Cina investment has exerted influence on Ethiopia in various sectors. That influence is come from the south-south cooperation that exists between China and Ethiopia. The methodology used in this paper that is qualitative method by literature review. This paper attempts to explain the transformation that occurred in Ethiopia through China investment.

Keywords: influence, investment, south-south cooperation, transformation

ABSTRAK

Keunggulan yang dimiliki oleh Etiopia telah menarik minat Cina untuk melakukan investasi. Akibatnya, investasi Cina telah memberikan pengaruh kepada Etiopia di berbagai sektor. Pengaruh tersebut berasal dari kerjasama selatan-selatan yang terjalin antara Cina dan Etiopia. Metodologi yang dipergunakan dalam tulisan ini yaitu metode kualitatif yang menggunakan teknik studi kepustakaan. Penulisan ini mencoba menjelaskan transformasi yang terjadi di Etiopia melalui investasi Cina.

Kata Kunci: investasi, pengaruh, kerjasama selatan-selatan, transformasi

I. PENDAHULUAN

Etiopia adalah negara kedua dengan jumlah penduduk terbanyak di benua Afrika setelah Nigeria (TOA , 2020). Sistem pemerintahan yang dianut Etiopia adalah parlementer federal yang mana kepala negara dipimpin oleh seorang presiden sedangkan perdana menteri memimpin pemerintahan. Sedangkan sistem parlemen Etiopia menganut sistem bikameral.

Etiopia telah menjadi salah satu negara terdepan tujuan investasi ekonomi Cina di Benua Afrika (Aglionby & Feng, 2018). Sejak dua puluh tahun yang lalu, Cina menjalin kerjasama di bidang ekonomi dengan menanamkan investasinya di Etiopia (Borkena, 2017). Saat ini, investasi langsung yang Cina tanamkan di Etiopia mencapai US$4 miliar (Ethiopian News Agency, 2018).

Cina memilih Etiopia, dikarenakan letaknya yang strategis sebagai titik lompatan di tanduk Afrika berdekatan dengan pasar Asia Tengah (The World Bank Group, 2020). Selain

(2)

posisi geopolitik yang strategis, keunggulan demografis yang dimiliki oleh Etiopia menjadikannya sebagai pusat dari Uni Afrika dengan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap urusan-urusan internasional Afrika (Mesfin, 2012, p. 89).

Etiopia memiliki kebijakan luar negeri yang sejalan dengan Rusia pada tahun 1970-1980 (Verdonk, 2018, p. 14). Namun, pada pertengahan 1970-1980-an kebijakan luar negeri Etiopia telah berubah (Cheru, 2016, p. 595). Perubahan kebijakan luar negeri Etiopia yaitu dengan menitikberatkan kerjasama timbal balik dengan negara-negara tetangga di bidang politik, ekonomi, keamanan dan kepentingan warga negara Etiopia telah membawa Cina meningkatkan investasi mereka (D, 2019).

Berbeda dengan Etiopia, Cina memiliki kebijakan luar negeri dengan mengikuti salah satu prinsip bahwa hubungan dengan negara-negara berkembang adalah pondasi dalam hubungan bilateral (Medeiros, 2009, pp. 93-94). Dalam geopolitik, negara-negara berkembang termasuk dalam kelompok negara selatan. Cina beranggapan bahwa kerjasama yang dijalani dengan Etiopia saat ini adalah bagian dari kerjasama selatan-selatan dan kedua pihak menjalin hubungan yang alami (Yan, 2018).

Kerjasama selatan-selatan adalah kerjasama pembangunan di antara negara-negara berkembang untuk mencapai kemandirian secara kolektif yang didasarkan oleh kesetiakawanan, sederajat dan saling menguntungkan (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2017). Kerjasama selatan-selatan berfokus pada pertukaran sumber daya, pengetahuan, teknologi dan pengetahuan untuk pembangunan berkelanjutan dan memberantas kemiskinan di dalam negara-negara berkembang dengan melibatkan beragam aktor (Maekele & Yimam, 2017, p. 76). Kerjasama selatan-selatan mencakup kemitraan dengan dan antara organisasi regional, masyarakat sipil, akademisi, dan sektor swasta untuk keuntungan individu dan/atau saling menguntungkan mereka di dalam dan di seluruh wilayah (United Nations, 2019). Kerjasama selatan-selatan telah menjadi suatu kunci konsep pengorganisasian dan suatu paket praktik dalam usaha untuk mengejar perubahan secara historis melalui visi yang saling solidaritas dan menguntungkan di antara kelemahan yang terdapat di dalam sistem dunia (Gray & Gills, 2017, p. 557).

Kerjasama selatan-selatan antara Cina dan Etiopia terdapat beberapa sektor yang menjadi prioritas yaitu perdagangan, industri, bantuan luar negeri, pertanian, energi terbarukan dan lain sebagainya. Beberapa sektor tersebut menjadi fokus dan penting karena membawa keuntungan ekonomi bagi kedua belah pihak. Selain, beberapa sektor tersebut,

(3)

sektor kesehatan, agroindustri, pendidikan, kebijakan tenaga kerja tidak luput menjadi bahasan dari kerjasama selatan-selatan antara Cina dan Etiopia (Lucey & Goni, 2019, p. 11).

Berbagai kalangan menilai bahwa mendominasinya investasi Cina dalam berbagai sektor vital di negara Etiopia memberikan pengaruh yang signifikan sehingga Cina dapat mengendalikan perdagangan dan pangsa pasar di benua Afrika. Pengaruh investasi Cina akan membawa Etiopia masuk ke dalam era kolonialisme yang baru. Selain itu, Etiopia akan masuk dalam jebakan investasi yang hanya menguntungkan Cina.

II. PEMBAHASAN Transisi Etiopia

Sebelum Cina menanamkan investasinya, Etiopia hanya suatu negara kecil yang miskin dengan mengandalkan sektor pertanian yang menyumbang 1% dari total PDB dan menyediakan 80% lapangan pekerjaan (Adam, 2012, p. 1). Produk ekspor unggulan sebagai pemasukan utama bagi Etiopia adalah kopi. Di bawah Haile Selassie I, perekonomian Etiopia menikmati sedikit kebebasan, sedangkan dibawah rezim Derg semua alat produksi dinasionalisasikan demi kepentingan negara (Marcus, 2020).

Namun secara mengejutkan, Etiopia telah mengalami transisi dan kemajuan pertumbuhan ekonomi. Hal ini terlihat dari produk domestik bruto Etiopia sejak tahun 2004 mengalami kenaikan dan tertinggi di Afrika yaitu sebesar 10,8% (African Development Bank Group, 2015, p. 2). Adapun kenaikan pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh Ehiopia tidak terlepas dari hubungan diplomatik yang terjalin dengan Cina.

Kunjungan diplomatik Zhou Enlai di tahun 1964 memberikan hubungan yang baru dan memulai kerjasama yang erat antara Cina dan Etiopia (Khan, 2015, p. 37). Perlahan tapi pasti, hubungan diplomatik Cina dan Etiopia secara kokoh mulai didirikan pada 1970 karena hubungan tersebut dinilai sangat menguntungkan (Tesfaye, 2019). Keuntungan yang diperoleh oleh Etiopia yaitu terciptanya pembangunan ekonomi dan menjadikan Etiopia sebagai salah satu mitra tujuan investasi China yang utama di benua Afrika.

Sejak tahun 1995, Etiopia dan Cina telah menjalin kemitraan politik yang erat untuk proyek pembangunan dan pengurangan kemiskinan dengan berbagi pengalaman ekonomi maupun dukungan politis seperti membantu mengalahkan gerakan yang mengkritik rezim Tiongkok (Cabestan, 2012, p. 54). Kemitraan politik yang strategis antara Cina dan Etiopia

(4)

mulai tumbuh setelah jatuhnya rezim Mengistu dan kemenangan Meles Zenawi yang memimpin Front Demokrasi Revolusioner Rakyat Etiopia (EPRDF) (Cabestan, 2012, p. 54). Meles Zenawi menekankan pentingnya kebijakan dalam negeri, reformasi kelembagaan, dan transisi dari agraris ke industri dengan berkiblat ke Asia Timur (Cheru, 2016, p. 595).

Pada tahun 1998, pemerintah Etiopia kemudian membentuk Komisi Bersama Etiopia - Cina (JECC) sebagai suatu badan untuk mendorong masuknya investasi Cina di Etiopia (Oqubay & Lin, 2019, p. 285). Tugas utama JECC adalah meninjau dan menilai hubungan bilateral antara Cina dan Etiopia dalam dua tahun sekali dan merekomendasikan langkah-langkah yang berkontribusi pada konsolidasi lebih lanjut (Edson, 2017, p. 115). JECC menyedikan negara dengan suatu forum ekonomi yang mana kepentingan bersama dibahas secara bersama-sama (Kahissay, 2016, p. 21). Selain JECC, aktor lain yang memiliki pengaruh terhadap arus masuknya investasi Cina ke Etiopia yaitu kantor perdana menteri Etiopia, Kementerian Luar Negeri, pejabat tinggi EPRDF (Verdonk, 2018, p. 15).

Selain itu, pada tahun 1998 telah diadakan perjanjian Sino-Etiopia untuk promosi bersama dan protokol investasi dan di tahun 1996 telah diadakan perjanjian Sino-Etiopia di sektor perdagangan, kerjasama ekonomi dan teknis (Kresna, Hakam, Fuady, & Erwiza, 2018, p. 185). Kedua perjanjian tersebut melingkupi seluruh kerjasama ekonomi bilateral di bidang promosi dan investasi melalui elemen swasta, transportasi laut, atau pertukaran tenaga teknis (Cabestan, 2012, p. 54).

Sino-Etiopia telah melalui tiga tahapan yaitu periode kekaisaran, periode Dergue, dan periode Front Demokrasi Revolusioner Rakyat Etiopia (EPRDF) (Adem, 2012, p. 144). Pada masa kekaisaran, Etiopia mulai tertarik pada Asia khususnya negara Jepang, namun pada saat tersebut Cina masih dikategorikan sebagai negara yang lain (Adem, 2012, p. 144). Sedangkan pada periode Dergue setelah menggulingkan kekaisaran, Sino-Etiopia dalam keadaan stagnan (Mazrui & Adem, 2013, p. 129). Pada masa EPRDF, China mulai diperhitungkan oleh Etiopia sebagai konsekuensi kebijakan luar negeri yang mengambil sikap ideologi anti-Barat (Mazrui & Adem, 2013, p. 129).

Dibuatnya kedua perjanjian tersebut, maka didirikanlah suatu institusi utama yaitu Bank Ekspor-Impor (EXIM) China pada tahun 1994 (Edson, 2017, p. 115). Bank EXIM ini secara keseluruhan di kontrol oleh pemerintah Cina dan secara khusus dikelola oleh dewan negara (Kresna, Hakam, Fuady, & Erwiza, 2018, p. 185). Bank ini merupakan institusi kredit ekspor terbesar ketiga di dunia dan memiliki peran penting dalam perdagangan dan investasi secara

(5)

global yang dilakukan oleh Cina. Bank Ekspor-Impor (EXIM) Cina turut mengucurkan dana untuk mendukung sejumlah proyek infrastruktur di Etiopia salah satunya yaitu pembangunan jaringan kereta api (Firman, 2018).

Adanya kucuran dana yang diberikan oleh Cina dalam sejumlah proyek infrastruktur menjadikan Etiopia sebagai hadiah yang menarik bagi negara-negara Barat untuk melakukan investasi. Sehingga, Etiopia telah menerima kucuran bantuan finansial dari donor Barat, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia sebesar $9 milyar (Politicio, 2020). Tentu saja, dengan bantuan dana dari negara Barat maka investasi di Etiopia semakin meningkat.

Melalui investasi, Cina juga akan memberikan pengaruh kepada Etiopia di beberapa sektor seperti perdagangan, industri, bantuan luar negeri maupun politik. Hal ini dikarenakan, sektor-sektor tersebut memberikan sumbangsih bagi kemajuan dan pertumbuhan ekonomi di Etiopia. Adapun pengaruh investasi Cina dalam berbagai sektor tersebut, dapat ditelusuri dengan gambaran yang disajikan di bawah ini.

Sektor perdagangan

Sekilas kita dapat melihat bahwa kecepatan perdagangan yang terjadi antara Cina dan Etiopia selama dua dekade terakhir memberikan kesan bahwa perkembangan ekonomi di Etiopia berkembang pesat. Sejak tahun 2006, Cina telah menjadi mitra utama dalam perdagangan dua arah (Cabestan, 2012, p. 57). China menempati posisi pertama sebagai mitra dagang Etiopia selama tahun 2017 dengan nilai total yang tercatat sebesar US$288.2 juta (Workman, 2018).

Menurut Access Capital, kehadiran Cina sebagai salah satu mitra utama ekspor Etiopia merupakan bagian besar dari dinamika kerjasama selatan-selatan (Venkataraman & Gofie, 2015, p. 8). Kerjasama selatan-selatan antara China dan Etiopia semakin diperdalam di berbagai bidang, dengan dibuatnya perjanjian dan kerangka kerjasama berdasarkan hubungan bilateral yang telah terjalin. Tindakan yang dilakukan kedua negara, dinilai dapat membawa peluang yang baru dan mengubah kapasitas perdagangan yang dimiliki oleh Etiopia dan Cina.

Namun, banyak kalangan berpendapat bahwa kompatibilitas politik yang dimiliki oleh kedua negara membawa berbagai peluang hubungan ekonomi maupun perdagangan ke suatu kondisi penundaan sementara. Hal ini dikarenakan kapasitas kedua ekonomi negara tersebut sangat jauh berbeda dan berimplikasi luas terhadap neraca perdagangan. Tentu saja hal

(6)

tersebut dapat melemahkan kondisi ekonomi domestik dan memunculkan tantangan bagi perdagangan bilateral antara Cina dan Etiopia.

Adanya tantangan berupa ketidakseimbangan perdagangan, berupa derajat keuntungan yang diperoleh serta timbal balik yang berat sebelah tidak dapat dihindari oleh Cina dan Etiopia. Etiopia hanya dapat mengharapkan Cina mematuhi perjanjian perdagangan yang telah disepakati bersama. Berikut ini, tabel kapasitas perdagangan beberapa negara tertentu.

Tabel 1.

Kapasitas perdagangan beberapa negara tertentu

No Negara Ekspor per kapita (USD)

Volume ekspor

Ekspor dari barang dan layanan (% dari GDP) 1 Etiopia 24 2,003 11.5% 2 Kenya 125 4,555 23.5% 3 Uganda 98 3,388 23.6% 4 Tanzania 78 3,216 20.3% 5 Ghana 276 6,551 48.7% 6 Nigeria 423 66,100 34.2% 7 Afrika Selatan 1,483 73,100 26.7% 8 Vietnam 733 65,389 62.9% 9 India 124 145,800 11.6% 10 Cina 888 1,203,000 24.1%

Sumber : Manickam Venkataraman dan Solomon M Gofie, The dynamics of China-Ethiopia trade relations:economic capacity, balance of trade & trade regimes (Springer, 2015), hal. 2.

Tantangan yang dihadapi oleh Etiopia di sektor perdagangan dengan Cina sebagai mitra utamanya dapat diselesaikan melalui mekanisme institusional seperti WTO, supaya interaksi ekonomi dapat terjadi dalam kerangka kerja yang efektif dan memungkinkan proses transparansi (Venkataraman & Gofie, 2015, p. 3). Dalam hal ini, Cina telah mengurangi hambatan tarif bagi produk Etiopia dengan cara memberikan akses pasar kepada Etiopia dan memberlakukan tarif nol persen untuk produk-produk yang berasal dari Etiopia. Pemberlakukan tarif nol persen, merupakan bagian skema dari Generalized System of

Preferences (GSP) yang diberikan Cina kepada Etiopia sebagai mitra dagang.

Hubungan perdagangan antara Cina dan Etiopia semakin meningkat ke tingkat yang baru, sejak ditandatangani perjanjian pada Januari 2010 tentang akses preferensi untuk produk Etiopia di pasar Cina (Cabestan, 2012, p. 57). Perjanjian tersebut dibuat bertujuan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan Etiopia dengan menambah jumlah barang yang akan di ekspor ke Cina yang telah diatur dalam skema GSP. Perjanjian tersebut mencakup 95% ekspor Etiopia ke Cina dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 35% (Venkataraman & Gofie, 2015, p. 7).

(7)

Defisit neraca perdagangan antara Cina dan Etiopia terjadi dikarenakan produk-produk yang dipasarkan oleh Etiopia ke Cina sebagian besar merupakan hasil pertanian dan barang mentah dengan harga murah, sementara itu Cina mengekspor produk manufaktur ke Etiopia dengan biaya produksi yang murah namun memiliki nilai jual yang kompetitif (Desta & Eunice, 2017, p. 328). Kondisi ini, sangat membatasi pertumbuhan industri baru yang bermunculan yang berbasiskan sektor pertanian di Etiopia dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Selain itu, secara struktural Etiopia mengalami ketergantungan terhadap Cina sebagai mitra dagang utama dalam memasarkan produk-produknya.

Sektor industri

Etiopia adalah mitra dagang yang aktraktif bagi perusahaan maupun industri Cina dengan sejumlah alasan untuk menanamkan investasi (Gu, 2019, p. 234). Alasan tersebut yaitu Etiopia memiliki kebijakan ekonomi yang baik (Melik, 2012). Upah buruh yang murah dan kompetitif, menjadi salah satu daya tarik bagi Cina untuk berinvestasi di Etiopia dengan mendirikan industri. Bahan baku yang murah yang diperoleh industri Cina di Etiopia juga menjadi salah satu pertimbangan bagi Cina untuk berinvestasi.

Pada tahun 2016-2017 investasi Etiopia di dominasi oleh perusahaan Cina (Newsome, 2017). Berdasarkan pemerintahan Etiopia, investasi operasional swasta Cina dari 1992-2015 bertahan di US$773 juta lebih besar dari investasi negara lain (Gu, 2019, p. 236). Lebih dari 20 perusahaan China menanamkan investasinya di kawasan industri, yang dinamakan Zona Industri Timur Ethiopia (EIZ) yang berlokasi 30 kilometer tenggara dari Addis Abba (Geda & Meskel, 2009, p. 6). Zona ekonomi khusus yang didirikan Cina di Ethiopia merupakan salah satu dari tujuh kawasan ekonomi khusus di Afrika (Cabestan, 2012, p. 60).

Pendirian zona ekonomi khusus merupakan salah satu keputusan pragmatis Etiopia untuk mencapai kepentingan nasional jangka panjang (Tarrosy, Vörös, & Gebreslassie, 2020). Dibangunnya zona ekonomi khusus di Etiopia oleh Cina, dapat memacu pertumbuhan ekonomi yang sedang digalakkan oleh pemerintah Etiopia. Hal ini dikarenakan, zona ekonomi khusus bertujuan untuk meningkatkan daya saing Etiopia menuju transformasi ekonomi yang efektif dan efesien.

Kontribusi zona ekonomi khusus terhadap pembangunan ekonomi Etiopia terlihat dari terciptanya peluang pekerjaan bagi warga lokal Etiopia dan terjadinya transfer teknologi (Yamei, 2020). Keberhasilan zona ekonomi khusus juga berdampak terhadap perkembangan

(8)

usaha kecil menengah di Etiopia dengan akses pasar yang luas, penguatan kelembagaan dan akses ke tekonologi tepat guna dan keterampilan dan manajemen yang unggul. Secara keseluruhan zona ekonomi khusus telah mengubah wajah dan mentransformasi Etiopia menuju negara industrialisasi.

Dalam proses transformasi, Etiopia melakukan privatisasi pada beberapa perusahaan milik negara di empat sektor yaitu telekomunikasi, penerbangan, energi dan logistik (VOA, 2019). Privatisasi dilakukan agar kinerja perusahaan semakin efisien dan birokrasi yang ada tidak menghambat laju investasi China di Etiopia. Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Etiopia cukup beresiko, karena tidak lagi memiliki kewenangan maupun otoritas untuk mengontrol jalannya dari bisnis inti tersebut. Etiopia tidak lagi mendapatkan sumber pendapatan untuk menghidupi roda pemerintahan. Privatisasi yang dilakukan oleh Etiopia merupakan semangat liberalisasi dan wujud dari salah satu pengaruh dari ekspansi ekonomi Cina. Namun di sisi yang lain, dengan melakukan privatisasi maka beban utang negara Etiopia menjadi berkurang dan modal swasta untuk melakukan investasi semakin meningkat.

Bantuan luar negeri

Bantuan luar negeri adalah instrumen investasi internasional yang merefleksikan praktek hubungan satu negara dengan negara lainnya dan kebijakan suatu bangsa dalam mencapai kepentingannya. Wujud bantuan tersebut dapat berupa uang, barang, teknis, jasa, militer dan pangan yang diberikan negara pemberi kepada negara penerima. Dalam proses pemberian bantuan, negara pemberi mengharapkan adanya perubahan perilaku dari negara penerima dalam kebijakan domestik dan luar negeri (Suprapto, 1997, p. 167).

Cina sebagai salah satu negara pemberi belum menjadi bagian reformasi sistem bantuan internasional (Hackenesch, 2013, p. 12). Bantuan yang diberikan oleh Cina kepada negara penerima sebagian besar dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik dengan persyaratan keuangan yang lunak. Sehingga tidak jarang, negara-negara penerima sangat menyenangi bantuan dari Cina karena bertujuan untuk mempromosikan pembangunan ekonomi yang sedang berjalan.

Bantuan luar negeri Cina telah menjadi salah satu unsur utama dalam perekonomian Etiopia, karena menekankan solidaritas dan hubungan yang saling menguntungkan (Verdonk, 2018, p. 21). Selama dekade terakhir Etiopia telah menggantungkan dirinya pada

(9)

bantuan Cina (Guta, 2020). Sehingga Cina menjadi negara mitra pemberi bantuan terbesar bagi Etiopia.

Bantuan luar negeri dari Cina yang diberikan kepada Etiopia tidak diberikan secara cuma-cuma. Cina sebagai pemberi pinjaman seringkali memperoleh jaminan sumber daya sebagai salah satu modal industrialisasi di Etiopia. Hal ini dikarenakan di dalam proses negosiasi bantuan, Cina menerapkan “model Angola” yaitu sumber daya yang dimiliki oleh negara menjadi jaminan dalam komposisi pinjaman tertentu (Davies, Edinger, Tay, & Naidu, 2008, p. 33).

Kebijakan “model Angola” yang digunakan oleh Cina dalam memberikan bantuan kepada Etiopia, menandakan bahwa perusahan maupuan industri Cina sangat membutuhkan sumber daya untuk kegiatan produksi. Hal ini dikarenakan Etiopia memiliki tujuan untuk mengamankan kepentingan strategis dan visi Cina secara jangka panjang. Dengan kata lain, yang menjadi prioritas utama bantuan luar negeri Cina adalah proyek-proyek yang hanya menghasilkan keuntungan bagi Cina.

Cina telah banyak memberikan bantuan kepada Etiopia, berupa utang tanpa bunga untuk membiayayi proyek pembangunan. Utang Etiopia kepada Cina telah mencapai setengah dari keseluruhan utang luar negeri dengan hutang pemerintah mencapai 59% (Fox, 2019). Untuk membiayayai perkembangan pembangunan, pemerintah Etiopia telah mengambil pinjaman dari Cina dan memperpanjangnya hingga lebih dari $12.1 miliar sejak tahun 2020 (Fox, 2019).

Bantuan luar negeri dari China disalurkan kepada salah satu bank lokal Etiopia yaitu Bank Pembangunan Etiopia untuk membiayayi proyek-proyek strategis di Etiopia. Pada masa kepemimpinan kekaisaran Etiopia, Bank Pembangunan Etiopia telah berkecimpung dalam agenda negara khususnya keuangan untuk membiayayi proyek dan pinjaman. Bank tersebut membangun basis data untuk memfasilitasi kelayakan investasi.

Cina dengan bantuan luar negerinya secara tidak langsung dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah Etiopia khususnya di sektor ekonomi. Hal ini dikarenakan, Etiopia kemungkinan hanya akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan Cina ataupun negara lainnya demi keberlanjutan investasi. Akhirnya, Cina dapat memperluas pengaruhnya dan merubah geopolitik di benua Afrika melalui perpanjang tangan Etiopia.

(10)

Sektor Politik

Etiopia adalah negara yang pemerintahannya relatif stabil dan memiliki pengalaman kuat secara politik. Hal ini dapat terlihat dari hubungan bilateral yang terjalin dengan Cina yang pada awalnya bukan berdasarkan dari kepentingan ekonomi. Pada mulanya, lhubungan bilateral yang dimiliki oleh Etiopia dengan Cina dari abad pertama di pertengahan 1950-an adalah secara gigih memperjuangkan anti kolonialisme dan neokolonialisme (Nicolas, 2017, p. 8). Selain itu, kedua negara memajukan kepentingan negara berkembang di berbagai forum internasional (Asia Australasia and the Middle East General Directorate, 2006, p. 2).

Sejak EPRDF berkuasa, hubungan diplomatik yang terbentuk antara Cina dan Etiopia empat puluh tahun yang lalu membuka babak baru dalam sejarah hubungan bilateral (Tesfaye B. , 2010). EPRDF yang telah mengambil alih kekuasaan, memperdalam kepercayaan politik yang terjalin antara Etiopia dan Cina. Hal ini terlihat dari adanya dialog kolektif yang terjadi dalam FOCAC sebagai mekanisme yang terbentuk antara Cina, yang mana Etiopia juga turut serta dalam memainkan peranannya. Melalui forum tersebut, hubungan ekonomi maupun politik Etiopia dan Cina telah diatur sedemikian rupa.

Bagi Cina, Etiopia adalah mitra alternatif yang dibutuhkan dukungannya untuk mengumpulkan solidaritas negara-negara di Afrika dan sebagai aliansi umtuk melawan Taiwan dan Barat di PBB (Tesfaye A. , China-Ethiopia Relations and the Horn of Africa, 2019). Etiopia juga menawarkan “sumber daya politik”, posisi geopolitik, dan keamanan (Tesfaye A. , China in Ethiopia: The Long-Term Perspective, 2020). Tetapi saat ini, Cina hanya melihat Etiopia sebagai salah satu negara dengan menjalankan hubungan bilateral yang berdasarkan perhitungan politik pragmatis.

Perhitungan terjadi dalam hubungan bilateral dengan Cina, ketika Etiopia mendahulukan diplomasi ekonomi dan reformasi ekonomi di dalam negeri. Sikap yang ditunjukkan oleh Etiopia, menempatkan Cina sebagai mitra yang layak untuk mendukung kerjasama selatan-selatan di benua Afrika. Etiopia juga mendukung “satu prinsip Cina” dan pemulihan sah kursi Cina pada tahun 1971 dalam dewan keamanan PBB (Asia Australasia and the Middle East General Directorate, 2006, p. 3).

Etiopia menjadi pemain kunci di tanduk Afrika karena membantu merekonstruksi Somalia dan mereformasi pelayanan sipil (VOA, 2012). Selain itu, Etiopia mencapai kedamaian di Sudan Selatan yang mana Cina memonopoli investasi minyak di negara

(11)

tersebut (Bodetti, 2019). Cina dan Etiopia memiliki kepentingan yang sama dalam stabilitas politik Sudan Selatan, hal ini dikarenakan minyak yang diperoleh sangat penting bagi kebutuhan energi Cina sementara Etiopia ingin memperoleh minyak melalui pipa lintas batas (Tesfaye A. , China-Ethiopia Relations and the Horn of Africa, 2019). Etiopia juga penting bagi Cina karena mempunyai kemampuan untuk memproyeksikan kemampuan dalam jalur pelayaran laut merah.

Peran Etiopia dalam politik lebih jauh, terlihat dalam dukungan untuk meloloskan suatu resolusi yang mendukung hukum anti pemisahan Tiongkok (Ministry of Foreign Affairs of the People's Republic of China, 2005). Langkah yang diambil oleh Etiopia bertujuan untuk menjaga stabilitas di seluruh selat Taiwan. Di tahun 2007, Etiopia bersama dengan negara Afrika lainnya dalam mencegah resolusi dalam komisi hak asasi manusia PBB yang menyensor praktik-praktik hak asasi manusia Tiongkok (Deych, Zhukov, Kulkova, & Asov, 2016, p. 194).

EPRDF telah mengembangkan suatu hubungan yang dekat dengan partai komunis Tiongkok, yang ditandai dengan adanya penandatanganan suatu nota kesepahaman pada pertukaran dan kerjasama di antara kedua partai (Prijac, 2015, p. 253). Hubungan yang dekat, membantu fondasi yang kuat untuk mengembangkan hubungan di antara kedua negara. Kedua organisasi telah berjasa dalam membentuk kelompok persahabatan Tiongkok-Etiopia (Prijac, 2015, p. 254).

III. KESIMPULAN

Saat ini Etiopia menjadi pemain kunci di benua Afrika dengan menjalin kerjasama selatan-selatan dengan Cina. Etiopia telah berhasil memanfaatkan kerjasama selatan-selatan dengan optimal, dibandingkan negara lainnya di Afrika sehingga Cina menjadi mitra strategis bagi Etiopia. Cina yang telah memainkan peranannya di bidang ekonomi membawa pengaruh dalam berbagai sektor.

Transisi yang terjadi di Etiopia telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan di berbagai sektor. Di sektor perdagangan, Etiopia menikmati pangsa pasar dalam negeri Cina dan mendapatkan penghapusan tarif bagi produk-produk yang akan diekspor. Selain itu, defisit neraca perdagangan antara Cina dan Etiopia dapat ditekan dengan skema yang telah diatur oleh kedua negara tersebut.

(12)

Di bidang industri, investasi Cina telah meningkatkan kapsitas industri kecil menengah dan mentransformasi Etiopia menjadi negara industri dengan mendirikan zona ekonomi khusus. Etiopia juga telah memprivatisasi beberapa perusahaan milik negara agar investor dari Cina semakin tertarik untuk menanamkan investasinya.

Cina dengan bantuan luar negerinya, mendapatkan jaminan berupa sumber daya alam Etiopia untuk kepentingan industri mereka. Selain itu. Etiopia dapat membiayayi proyek-proyek srategis dengan bantuan luar negeri dari Cina. Namun, sebaliknya Etiopia khawatir bahwa bantuan luar negeri Cina dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan Cina.

Sementara itu, di bidang politik Etiopia mengeluarkan kebijakan yang ramah terhadap investor dan kedekatan politik dengan Cina menjadi jembatan penghubung bagi pertumbuhan ekonomi di Etiopia. Pendekatan yang dilakukan oleh Etiopia terlihat berhasil dengan model pembangunan yang mana pemerintah mengendalikan dan mengatur ekonomi. Kini, pemerintah Etiopia mengambil langkah selanjutnya agar pada dekade berikutnya dapat menjadi negara dengan berpenghasilan menengah.

Bagi Cina, investasi di Etiopia merupakan salah satu langkah strategis dalam mengatasi kompetisi dan persaingan dengan negara-negara lainnya yang ingin mendapatkan pengaruh di benua Afrika. Sementara itu, bagi Etiopia kehadiran Cina telah menaikkan posisi tawar dan menjadi pertimbangan utama negara-negara lainnya khususnya negara Barat untuk menanamkan investasinya di benua Afrika. Pada akhirnya, Etiopia dapat menjadi negara terdepan dan memimpin di benua Afrika.

Untuk menghindari jebakan investasi Cina, hendaknya Etiopia menggunakan skema B

to B (Business to Business). Skema B to B adalah strategi baru dalam implementasi perjanjian

kerjasama bilateral maupun multilateral yang melibatkan perusahaan sebagai aktor politik selain negara. Selain itu, perusahaan dituntut untuk terlibat jauh dan mengambil peran secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. Dalam hal ini, Etiopia dapat melibatkan perusahaan negara atau badan usaha milik negara (BUMN) dengan mempengaruhi proses negoisasi dengan Cina sebagai pihak yang menanamkan investasi di negara mereka.

(13)

DAFTAR PUSTAKA Buku:

Deych, T., Zhukov, A., Kulkova, O., & Asov, E. K. (2016). Africa's Growing Role in World

Politics. Quebec: Meabooks Inc.

Edson, Z. (2017). A Post State-Centric Analysis of China-Africa Relations:Internationalisation of Chinese Capital and State-Society Relations in Ethiopia.

Basingstoke: Springer Nature.

Gray, K., & Gills, B. K. (2017). South-South cooperation and the rise of global south. In K. Gray, & B. K. Gills, Rising Powers and Souh-South Cooperation (pp. 557-574). Oxon: Routledge.

Gu, J. (2019). China's South-South Development Cooperation in Practice: China and Ethiopia's Industrial Parks. In M. Huang, X. Xu, & X. Mao, South-south Cooperation and

Chinese Foreign Aid (pp. 233-256). Singapura: Palgrave Macmillan.

Khan, M. U. (2015). China-Africa Economic Relations: China-Africa Relations. Addis Ababa: The Africa Economic Forum.

Mazrui, A. A., & Adem, S. (2013). Afrasia: A Tale of Two Continents. Maryland: UPA.

Medeiros, E. S. (2009). China’s Foreign Policy Actions. In E. S. Medeiros, China's

International Behavior:Activism, Opportunism, and Diversification (pp. 93-191). RAND

Corporation.

Oqubay, A., & Lin, J. Y. (2019). China-Africa and an Economic Transformation. Oxford: Oxford University Press.

Prijac, L. (2015). Foreign relations with Ethiopia:human and diplomatic history (from its

origins to present). Berlin: Lit Verlag.

Suprapto, R. (1997). Hubungan internasional : sistem, interaksi dan perilaku. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tesfaye, A. (2020). China in Ethiopia: The Long-Term Perspective. Albany: State University of New York Press.

Jurnal:

Adem, S. (2012). China in Ethiopia: Diplomacy and Economics of Sino-optimism. African

Studies Review , 143-160.

Cabestan, P. J. (2012). China and Ethiopia: Authoritarian affinities and economic cooperation. open edition , 53-62.

Cheru, F. (2016). Emerging Southern powers and new forms of South–South cooperation: Ethiopia’s strategic engagement with China and India. Third World Quarterly , 592–610.

(14)

Desta, O. N., & Eunice, L. G. (2017). EHTIOPIA - CHINA TRADE RELATIONS AND ITS IMPLICATIONS ON ETHIOPIA’S ECONOMY. International Journal of Research in

Economics and Social Sciences (IJRESS) , 322-335.

Hackenesch, C. (2013). Aid Donor Meets Strategic Partner? The European Union’s and China’s Relations. Journal of Current Chinese Affairs , 7-36.

Kresna, M., Hakam, S., Fuady, A. H., & Erwiza. (2018). RINGKASAN HASIL PENELITIAN: PERTUMBUHAN DAN PEMBANGUNAN DI SUB-SAHARA AFRIKA: PENGALAMAN ETHIOPIA. Jurnal Kajian Wilayah , 175-190.

Maekele, T. S., & Yimam, D. R. (2017). Developing south-south cooperation: The case of Ethio-China economic relationship. International Journal of Research Studies in

Management , 75-89.

Mesfin, B. (2012). Ethiopia's Role and Foreign Policy in the Horn of Africa. International

Journal of Ethiopian Studies , 87-113.

Venkataraman, M., & Gofie, S. M. (2015). The dynamics of China-Ethiopia trade relations:economic capacity, balance of trade & trade regimes. Bandung: Journal of the

Global South , 1-17.

Tulisan/artikel:

Kahissay, G. A. (2016, Juni). Ethio-China Economic Relations: Nature of China’s Foreign Direct Investment in Ethiopia. Addis Ababa, Ethiopia: Addis Ababa University.

Verdonk, T. (2018, Juli 5). South-South Cooperation: A case study of Ethiopia’s political and economic China and Turkey. Peace & Development . Kalmar, Småland, Sweden: Linnaeus University.

Laporan:

African Development Bank Group. (2015). Federal Democratic Republic Of Ethiopia

Country Strategy Paper 2016-2020. Abidjan: African Development Bank Group.

Asia Australasia and the Middle East General Directorate. (2006). An Overview of the

Bilateral Relations between the Federal Democratic Republic of Ethiopia and the People’s Republic of China. Addis Ababa: Ministry of Foreign Affairs Ethiopia.

Davies, M., Edinger, H., Tay, N., & Naidu, S. (2008). How China delivers development

assistance to Africa. Stellenbosch: University of Stellenbosch.

Geda, A., & Meskel, A. G. (2009). Impact of China-Africa Investment Relations:Case Study

of Ethiopia. Addis Ababa: Addis Ababa University Department of Economics.

Lucey, A., & Goni, O. (2019). First African South-South Cooperation Report. New York: United Nations Development Programme.

(15)

Nicolas, F. (2017). Chinese Investors in Ethiopia: The Perfect Match? Paris: Ifri.

Sumber Online:

Adam, L. (2012, April 30). Understanding what is happening in ICT in Ethiopia. Retrieved Juli 20, 2020, from https://www.africaportal.org/publications/understanding-what-happening-ict-ethiopia-supply-and-demand-side-analysis-ict-sector/

Aglionby, J., & Feng, E. (2018, Juni 03). China scales back investment in Ethiopia. Retrieved from FINANCIAL TIMES: https://www.ft.com/content/06b69c2e-63e9-11e8-90c2-9563a0613e56

Bodetti, A. (2019, Februari 11). How China Came to Dominate South Sudan’s Oil. Retrieved Januari 8, 2020, from https://thediplomat.com/2019/02/how-china-came-to-dominate-south-sudans-oil/

Borkena. (2017, Juni 02). Chinese investment in Ethiopia topped off $4 billion. Retrieved from borkena.com: https://borkena.com/2017/06/02/chinese-investment-ethiopia-4-billion/

D, B. (2019, Juli 8). Ethiopia forward. Retrieved Januari 20, 2020, from Capital Ethiopia Newspaper and Crown Publishing: https://www.capitalethiopia.com/opinion/a-strategic-foreign-policy-to-move-ethiopia-forward/

Ethiopian News Agency. (2018, Agustus 31). Chinese FDI in Ethiopia Reached 4 billion

USD. Retrieved Desember 17, 2020, from https://www.ena.et/en/?p=2667

Firman, T. (2018, Juni 26). Geliat Ethiopia setelah Disuntik Cina. Retrieved Desember 27, 2019, from https://tirto.id/geliat-ethiopia-setelah-disuntik-cina-cMHD

Fox, J. (2019, April 23). Ethiopia and the Chinese dream in Africa. Retrieved Desember 17, 2020, from https://www.rte.ie/news/world/2019/0423/1045064-ethiopia-china/

Guta, A. T. (2020, Februari 26). Can Ethiopia become the economic hub of Africa? Retrieved Maret 3, 2020, from https://ged-project.de/globalization/ethiopia-economy/

Marcus, H. G. (2020, Januari 27). Ethiopia. Retrieved Juli 20, 2020, from https://www.britannica.com/place/Ethiopia

Melik, J. (2012, Mei 27). China brings jobs to Ethiopia but at what cost? Retrieved Juni 8, 2020, from https://www.bbc.com/news/business-18094181#:~:text=Its%20competitive%20labour%20in%20the,to%20employ%20someone %20in%20Ethiopia.&text=The%20good%20supply%20of%20raw,of%20Africa%2C%20 were%20also%20factors.

Ministry of Foreign Affairs of the People's Republic of China. (2005, Maret 18). Ethiopia

Supports the Adoption of the Anti-Secession Law by China's National People's Congress.

Retrieved Juni 7, 2020, from

(16)

Newsome, M. (2017, April 13). Foregin investment continues in Ethiopia clothing sector. Retrieved Juni 10, 2020, from https://www.just-style.com/analysis/foreign-investment-continues-in-ethiopia-clothing-sector_id130376.aspx

Politicio. (2020, Februari 3). Ethiopia plays Europe off China in bid to boost investment. Retrieved Juni 28, 2020, from https://www.politico.eu/article/ethiopia-plays-europe-off-china-in-bid-to-boost-investment/

Sekretariat Negara Republik Indonesia. (2017, Maret 20). Kerja Sama Selatan-Selatan dan

Triangular Indonesia. Retrieved Desember 27, 2019, from Indonesia South-South Technical

Cooperation: https://isstc.setneg.go.id/index.php/component/content/article/7-newsletter/219-kerja-sama-selatan-selatan-dan-triangular-indonesia

Tarrosy, I., Vörös, Z., & Gebreslassie, S. H. (2020, April 16). China and Ethiopia, Part 4:

Mekelle Industrial Park. Retrieved Juni 11, 2020, from https://thediplomat.com/2020/04/china-and-ethiopia-part-4-mekelle-industrial-park/

Tesfaye, A. (2019, September 20). China-Ethiopia Relations and the Horn of Africa. Retrieved Desember 29, 2019, from https://www.ispionline.it/en/publication/china-ethiopia-relations-and-horn-africa-23968

Tesfaye, B. (2010, Januari 12). Building mutually beneficial China-Ethiopia relations. Retrieved Desember 27, 2019, from http://et.china-embassy.org/eng/zagx/t773341.htm

The World Bank Group. (2020, Oktober 13). Overview. Retrieved Desember 17, 2020, from The World Bank In Ethiopia: https://www.worldbank.org/en/country/ethiopia/overview

TOA . (2020, January 15). Invest in Ethiopia, the second-most populous country in Africa. Retrieved January 20, 2020, from https://thetimesofafrica.com/invest-in-ethiopia-the-second-most-populous-country-in-africa/

United Nations. (2019, Desember 27). South-South cooperation and LDCs. Retrieved Desember 27, 2019, from https://www.un.org/ldcportal/south-south-cooperation-and-ldcs/

VOA. (2019, Juni 18). Ethiopia Berencana Privatisasi Beberapa Perusahaan Milik Negara. Retrieved Januari 20, 2020, from https://www.voaindonesia.com/a/ethiopia-berencana-privatisasi-beberapa-perusahaan-milik-negara-/4962568.html

VOA. (2012, November 28). Ethiopia Promises Support to Rebuild Somalia. Retrieved Januari 7, 2020, from https://www.voanews.com/africa/ethiopia-promises-support-rebuild-somalia

Workman, D. (2018, Maret 4). Ethiopia’s Top Trading Partners. Retrieved Desember 28, 2019, from http://www.worldstopexports.com/ethiopias-top-trading-partners/

Yamei, W. (2020, Februari 24). Chinese-built industrial parks help propel Ethiopia's

economic growth, competitiveness. Retrieved Desember 21, 2020, from http://www.xinhuanet.com/english/2020-02/24/c_138814492.htm

Yan. (2018, 08 31). Ethiopia hails ties with China as model of successful South-South

cooperation. Retrieved Desember 27, 2019, from China Trade Week: https://www.ctwethiopia.com/news/show-1766.aspx

Referensi

Dokumen terkait

bahwa terdapat empat faktor yang dapat mempengaruhi iklim suatu organisasi,. yaitu hubungan yang saling menguntungkan, perbedaan antar

Namun sosialisasi yang diberikan oleh Pemerintah Kota Semarang tidak bersifat khusus membahas tentang Kebijakan Penertiban Pedagang Kaki Lima di Pasar Johar

11 Penelitian yang dilakukan oleh Pramono (2012) menunjukkan bahwa ada perubahan histopatologis hati tikus wistar berupa degenerasi parenkimatosa, degenerasi hidropik,

PERBEDAAN MOTIVASI BELAJAR SISWA ANTARA YANG MENGGUNAKAN METODE ACTIVE LEARNING DENGAN YANG MENGGUNAKAN METODE CERAMAH BERVARIASI PADA MATA PELAJARAN AKUNTANSI KELAS X DI SMK PGRI

Masyarakat Desa Temandang identik dengan masyarakat pertanian yang memiliki pendidikan rendah dan juga skill yang rendah, masyarakat Desa Temandang hanya melakukan konflik

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Muktiasari (2015) dijelaskan bahwa Current Ratio mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap dividen payout ratio dimana perusahaan mampu

Setelah penulis membaca dan mengidentifikasikan bagian-bagian novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, penulis menemukan berbagai data berupa cuplikan novel

terdapat dalam jaringan kripik tempe yaitu produsen, pemasok bahan mentah, agen, konsumen dengan adanya jaringan sosial kripik tempe sido gurih ini terbentuk karena