OLEH:
I WAYAN DENNY SAPUTRA NIM: 2010 02 016
PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN JURUSAN KARAWITAN
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA
DENPASAR
2014
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Seni (S-1)
MENYETUJUI
PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN
JURUSAN KARAWITAN
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA
DENPASAR
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Seni (S-1)
MENYETUJUI
PEMBIMBING I PEMBIMBING II
I Ketut Partha, S.SKar.,M.Si I Ketut Sudhana, S.SKar.,M.Sn NIP: 19590805 198603 1 004 NIP: 19580228 198601 1 001
Hari/Tanggal : Selasa, 13 Mei 2014 Ketua :
I Wayan Suharta, S.SKar., M.Si (...) NIP. 19630730 199002 1 001
Sekretaris :
I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum (...) NIP. 19641231 199002 1 040
DosenPenguji :
1. Dr. I Gde Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum (...) NIP. 196612011991031003
2. I Wayan Suweca, S.SKar., M.Mus (...) NIP. 19571331 198503 1 014
3. Wardisal, S.Sen., M.Si (...) NIP. 19660624 199203 1 002
4. I Ketut Partha, S.SKar., M.Si (...) NIP: 195908051986031004
5. I Ketut Sudhana, S.SKar., M.Sn (...) NIP: 195802281986011001
Disahkan pada tanggal : 13 Mei 2014 Mengetahui
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Ketua Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar Fakultas Seni Pertunjukan
Institut Seni Indonesia Denpasar
I Wayan Suharta, S.SKar., M.Si Wardizal, S.Sen., M.Si. NIP. 19630730 199002 1 001 NIP.19660624 199203 1 002
Motto :
“ TIDAK KENAL TIDAK CINTA, KEMAUAN
YANG KUAT MENEMBUS GUNUNG ”
Om Swastiastu
Puji syukur penata panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi
Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena Asung Kertha Wara Nugraha-Nya sehingga
penata dapat menyelesaikan Skrip Karya Seni Gita Arcanam Puja tepat pada waktunya. Skrip karya seni ini digunakan sebagai laporan pertanggungjawaban mengenai karya yang dibuat dalam penyelesaian Ujian Tugas Akhir (TA) di Jurusan Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Penata menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah bersedia membantu baik moril dan spiritual, sehingga skrip karya seni Gita
Arcanam Puja dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih yang
sedalam-dalamnya diberikan kepada :
1. Bapak Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar.,M.Hum selaku Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar yang telah banyak memberikan dukungan atas sarana yang diberikan demi suksesnya pementasan komposisi karawitan ini.
2. I Wayan Suharta, S.Skar., M.Si, selaku Dekan Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Denpasar, yang telah membantu kelancaran persiapan terselenggaranya Ujian Tugas Akhir pada tahun 2014.
persiapan Ujian Tugas Akhir Tahun 2014 dan telah banyak memberikan tuntunan yang sangat bermanfaat selama penata menempuh jenjang pendidikan S-1 di Jurusan Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar.
4. I Nyoman Sudiana, S.Skar., M.Si, selaku Pembimbing Akademik penata, yang telah membantu persiapan Ujian Tugas Akhir Tahun 2014 dan telah banyak memberikan tuntunan yang sangat bermanfaat selama penata menempuh jenjang pendidikan S-1 di Jurusan Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar.
5. Bapak I Ketut Partha, S.SKar.,M.Si, selaku pembimbing I Karya Seni yang telah banyak memberikan bimbingan serta masukan sehingga komposisi ini bisa terwujud seperti sekarang ini.
6. Bapak I Ketut Sudhana, S.SKar.,M.Sn, selaku pembimbing II Karya Seni yang telah banyak memberikan dorongan agar bisa berkarya semaksimal mungkin.
7. Seluruh dosen pengajar dan staf kepegawaian di Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Denpasar yang tak dapat penata disebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan petunjuk-petunjuk dan arahan-arahan sehingga terwujudnya garapan ini.
terwujudnya garapan ini.
9. Orang Tua Tercinta I Wayan Wijana dan Ni Ketut Wartini, serta kakak tercinta Ni Luh Putu Satriyani, adik I Made Wira Adyana, dan keluarga yang telah memberikan dorongan atau dukungan serta bantuan baik moral maupun material.
10. Para Pendukung karawitan dan vokal yang tidak dapat penata sebutkan satu persatu selaku pendukung utama dalam terwujudnya garapan karya seni Gita Arcanam Puja.
11. Seluruh stage crew ISI Denpasar serta semua pihak yang telah membantu kelancaran tugas ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
12. Seluruh teman-teman Karawitan In Action angkatan 2010 yang sudah banyak memberikan semangat serta motivasi dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga kebersamaan dan persaudaraan kita selalu terjalin erat.
13. Ni Putu Diah Astriningsih tercinta, yang selalu memberikan segenap doa, dorongan, motivasi, dan semangat dalam menempuh Ujian Tugas Akhir. Apabila terdapat kesalahan-kesalahan yang penata lakukan selama proses-proses tersebut , penata memohon maaf yang sebesar-besarnya karena hal ini tidak terlepas dari keterbatasan penata selaku manusia biasa yang tidak terlepas dari kekurangan dan masih banyak belajar
Penata menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna, sehingga pada kesempatan ini dengan kerendahan hati penata mohon saran-saran dan kritikan
Om Santih, Santih, Santih, Om
Denpasar, Mei 2014
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PANITIA PENGUJI ... iii
MOTTO…. ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang……….. 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Ide Garapan ... 4
1.3 Tujuan Garapan ... 5
1.4 Manfaat Garapan ... 6
1.5 Ruang Lingkup ... 7
BAB II KAJIAN SUMBER ... 10
2.1 Sumber Tertulis ... 10
2.2 Sumber Discografi ... 11
BAB III PROSES KREATIVITAS ... 13
3.1 Tahap Penjajagan (Exploration) ... 14
3.2 Tahap Percobaan (Improvisation) ... 17
3.3 Tahap Pembentukan (Forming) ... 21
3.4 Hambatan-hambatan ... 24
BAB IV WUJUD GARAPAN ... 25
4.2.2 Bagian II ... 32 4.2.3 Bagian III ... 35 4.2.4 Bagian IV ... 37 4.2.5 Bagian V ... 40 4.3 Analisa Simbol ... 42 4.4 Analisa Materi ... 43 4.5 Analisa Estetis ... 46 4.5.1 Wujud ... 46 4.5.2 Bobot ... 47 4.5.3 Penampilan ... 48 4.6 Analisa Penyajian ... 49 4.6.1 Kostum/Tata Busana ... 52 4.6.2 Tata Rias ... 56 BAB V PENUTUP ... 57 5.1 Kesimpulan ... 57 5.2 Saran-saran ... 58 DAFTAR PUSTAKA ... 60 DAFTAR INFORMAN ... 61 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 62
Lampiran 1. Notasi Komposisi Karawitan ... 62
Lampiran 2. Sinopsis ... 71
Lampiran 3. Lampiran Nama Pendukung ... 72
Tabel 3.1 Tahap Penjajagan (Exploration) ... 16
Tabel 3.2 Tahap Percobaan (Improvisation) ... 20
Tabel 3.3 Tahap Pembentukan (Forming) ... 22
Tabel 4.3 Sistem Notasi ... 43
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bali dikenal dunia karena keberadaan seni dan budaya masyarakat yang kental dengan unsur religius yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Seiring berjalannya kehidupan beragama di masyarakat dalam melaksanakan upacara keagamaan umat Hindu, mengharuskan seni, budaya dan kearifan lokal menjadi satu kesatuan.
Upacara keagamaan umat Hindu di Bali, dikenal dengan kegiatan keagamaan yang disebut Yadnya. Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas dan tidak akan pernah lepas dari kehidupan masyarakat Hindu. Yadnya merupakan salah satu konsep agama Hindu dalam mendekatkan diri dengan Tuhan serta mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam dan sesama manusia. Yadnya digolongkan menjadi lima bagian yang dikenal dengan Panca yadnya antara lain
Dewa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya, Manusa yadnya, dan Bhuta yadnya.
Salah satu contoh Panca yadnya adalah Dewa yadnya, Dewa yadnya merupakan suatu upacara dengan mempersembahkan korban suci yang tulus ikhlas kehadapan para Dewa yakni manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Korban suci dipersembahkan umat hindu sebagai rasa terima kasih dan sujud bakti kehadapan Sang Pencipta karena menciptakan manusia sebagai mahluk utama. Salah satu
pelaksanaan Dewa yadnya adalah upacara puja wali di suatu tempat suci atau Pura (Yasa, 2004:04).
Dalam pelaksanaan upacara puja wali merupakan salah satu cara mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam dan sesama manusia. Hubungan harmonis dan spiritualitas penting dalam penghayatan manusia atas segala tindakan yang diperbuat dalam konteks baik ataupun buruk (wawancara Jero Mangku Tapa, tanggal 10 November 2013).
Dalam melaksanakan upacara puja wali tidak akan bisa lepas dari keberadaan Panca Gita sebagai sarana pelengkap dalam proses pelaksanaan Dewa
yadnya. Panca Gita merupakan lima unsur suara suci dalam pelaksanaan yadnya
yang terdiri dari suara kukul, gong, kidung, mantra dan genta. Dari ke lima unsur-unsur keindahan yang terdapat dalam Panca Gita tidak dapat dipisahkan dari kemampuan manusia untuk menciptakan seni sehingga dapat dinikmati oleh orang banyak dan tanpa disadari manusia secara tidak langsung menjalankan yadnya seiring dengan melakukan kegiatan berkesenian. Karena yadnya di Bali kegiatan berkesenian tumbuh dan berkembang dimasyarakat. Unsur estetika dan religius terpadu secara harmonis membuat pelaksanaan yadnya lebih mudah dicerna dan dinikmati oleh umat karena terdapat unsur keindahan disamping nilai-nilai keagamaan yang menjadi dasar dari pelaksanaan yadnya (wawancara dengan Jero Mangku A.A Ngurah Oka, tanggal 8 Desember 2013).
Komposisi karawitan yang ingin penata ungkapkan dilatarbelakangi dari keindahan seni suara yang dilantunkan pada upacara puja wali/piodalan, dengan
menggabungkan beberapa unsur suara suci yaitu suara gamelan, kidung, dan mantra, penata mencoba menuangkan idenya kedalam bentuk komposisi karawitan inovatif. Ketertarikan penata dengan suara suci tersebut, karena setiap penata mendengarkan suara kidung, mantra, dan gamelan mampu memberikan keheningan, kedamaian, serta menumbuhkan kesucian spiritual pada diri penata.
Adapun media yang penata gunakan dalam komposisi karawitan ini adalah gamelan Palegongan dan Gambang. Dipilihnya Gamelan Palegongan dan
Gambang sebagai media ungkap dengan alasan bahwa dapat memberi rasa
musikal yang sakral, tenang, dan indah bagaikan bunga yang selalu tumbuh dengan memberi keharuman. Faktor lain jarangnya seniman karawitan bali yang menggunakan gamelan Palegongan dan Gambang sebagai media ungkap karya kreativitas mereka.
Karya seni komposisi karawitan ini digarap dalam bentuk karawitan inovatif dengan judul Gita Arcanam Puja. Gita Arcanam Puja berasal dari bahasa
Sansekerta, Gita artinya nyanyian, Arcanam atinya membentuk atau merangkai,
dan Puja artinya memuja atau pemujaan. Jadi Gita Arcanam Puja adalah Nyanyian suci yang dirangkai untuk pemujaan atau sebagai rasa terima kasih dan sujud bakti kehadapan para Dewa yakni manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi
Wasa. Tema dari garapan ini adalah upacara puja wali yang ada di pura Buitan
Binoh, banjar Binoh Kaja, Denpasar. Secara garis besar terdapat tiga bobot mendasar yang dituangkan ke dalam garapan karawitan ini yaitu: (1) Rasa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugrahanya bagi manusia, (2) Olah spiritualitas, dan (3) Hubungan harmonis antara manusia dengan manusia.
Ketiga bobot mendasar tersebut merupakan sebuah penarikan hakikat dari artian
Gita Arcanam Puja sebagai sebuah pemujaan dengan melantunkan nyanyian suci
yang indah bagaikan bunga yang selalu mekar dengan memberi keharuman dan ketenangan hati.
Tema ini diangkat karena upacara puja wali menjadi ruang untuk masyarakat bali dalam melakukan pemujaan sebagai ungkapan sujud bakti, rasa syukur, dan sarana introspeksi diri agar dapat menjadi orang yang lebih baik ke depannya. Oleh karena faktor-faktor tersebut ada keinginan penata untuk menciptakan garapan seni yang berjudul Gita Arcanam Puja.
1.2 Ide Garapan
Menciptakan sebuah karya seni agar dapat menghasilkan kreativitas seniman yang baik tentu memerlukan pemikiran dan usaha keras, guna mencapai target yang di inginkan. Garapan komposisi Gita Arcanam Puja ini terinspirasi berdasarkan realita kegiatan upacara puja wali yang ada di pura Buitan Binoh, banjar Binoh Kaja, desa Ubung Kaja, Denpasar. Penata ingin mewujudkan serta mentransformasikan ide ke dalam sebuah komposisi karawitan inovatif dengan media ungkap gamelan Palegongan dan Gambang. Dalam konteks penciptaan komposisi yang penata garap dianalogikan sebagai sebuah nyanyian suci dengan menggunakan kata-kata mantra yang sudah diolah kedalam bentuk nyanyian.
Kidung, gamelan, dan mantra dijadikan satu untuk membentuk nyanyian suci
bersih, hening, atau sakral. Suci dalam artian sebuah rasa yang dilandasi kejujuran dan kemurnian. Nyanyian suci juga dimaknai sebagai alat untuk melahirkan hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam atau lingkungan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Penyajian mantra dibuat berdasarkan kata-kata mantra yang sudah ada pada Weda dengan mengikuti alunan melodi yang di buat baru. Dalam pengolahannya, keterkaitan vokal dan instrument harus kuat dengan tema garapan, serta cara mengkaitkan gamelan
Palegongan, Gambang, dan pengolahan vokal harus saling terikat satu dengan
yang lainnya (wawancara dengan I Wayan Sinti, tanggal 1 Desember 2013).
1.3 Tujuan Garapan
Dalam melakukan perwujudan karya seni pasti ada tujuan yang ingin dicapai tanpa suatu tujuan sebuah garapan karya seni biasanya tidak lahir secara utuh. Penata memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, antara lain:
• Tujuan Umum
1. Untuk menuangkan daya kreativitas, serta potensi dalam berkesenian melalui penggarapan komposisi karawitan, guna menciptakan karya yang bermutu dan berkualitas.
2. Untuk menambah repertoar penciptaan karawitan dengan menggunakan media ungkap gamelan Palegongan dan Gambang.
• Tujuan Khusus
1. Mewujudkan garapan komposisi karawitan inovatif dengan menggunakan media ungkap gamelan Palegongan dan Gambang.
2. Untuk menuangkan imajinasi penata ke dalam sebuah komposisi karawitan.
3. Untuk mengembangkan kreativitas teknik permainan melodi, tempo, ritme, dan dinamika.
4. Penata mencoba menghasilkan sebuah garapan komposisi karawitan inovatif dan kreatif serta layak disajikan untuk tugas akhir.
1.4 Manfaat Garapan
Manfaat garapan yang dapat di peroleh dari penyusunan komposisi karawitan tabuh kreasi karawitan ini adalah :
1. Menambah pengetahuan dan pengalaman penata sebagai seorang seniman akademis.
2. Penata mendapatkan pengalaman baru sebagai jembatan untuk menciptakan garapan karawitan yang inovatif.
3. Dapat meningkatkan kreativitas, pengalaman, serta menambah wawasan dalam berkarya seni yang nanti sangat berguna, baik bagi penata maupun masyarakat.
4. Bagi penata sebagai evaluasi diri dalam mengaplikasikan hasil belajar sekaligus mengukur kemampuan di dalam berkreativitas seni.
5. Garapan ini akan selalu dipakai pada saat adanya piodalan di pura Buitan Binoh, dikarenakan pendukung dari garapan ini merupakan warga asli banjar Binoh dengan sekaa Palegongan Klasiknya.
1.5 Ruang Lingkup
Untuk membatasi ruang tafsir dan apresiasi terhadap garapan komposisi yang berjudul Gita Arcanam Puja ini, penata memberikan pemaparan batasan karya sebagai berikut:
1. Garapan komposisi ini secara khusus hanya disajikan dengan menggunakan gamelan Palegongan dan Gambang.
2. Garapan komposisi berjudul Gita Arcanam Puja adalah berbentuk karawitan inovatif yang masih berpegangan pada pola-pola tradisi. Pengembangannya terdapat pada pola permainan, penggabungan dua jenis gamelan golongan tua dan golongan madya, serta pengolahan unsur-unsur musikal seperti nada, melodi, irama (ritme), tempo, harmoni, dan dinamika. Sifat estetik seperti unity (kesatuan), intensity (kekuatan, keyakinan), dan complexity (kerumitan) tetap dijadikan pijakan serta acuan dalam mewujudkan karya yang berkualitas. Garapan ini terinspirasi dari rangkaian upacara Dewa Yadnya/piodalan yang ada di kota Denpasar, khususnya di pura Buitan Binoh, banjar Binoh Kaja, desa Ubung Kaja. 3. Garapan komposisi ini secara struktural terdiri dari lima bagian yaitu
4. Garapan komposisi Gita Arcanam Puja disajikan secara konser/instrumental dalam durasi waktu kurang lebih 13 menit.
Adapun instrument gamelan Palegongan yang digunakan adalah:
• Sepasang Kendang krumpung(lanang wadon),
• Sepasang Gender gede/gender rambat berbilah empat belas, • Sepasang Gender barangan berbilah empat belas,
• Sepasang Jublag berbilah lima, • Sepasang Jegog berbilah lima,
• Sepasang Gangsa jongkok berbilah lima, • Sepasang Kantilan jongkok berbilah lima, • Sepasang Gangsa gantung berbilah lima, • Sepasang Kantilan gantung berbilah lima, • Sebuah Gong, • Sebuah Kemong, • Sebuah Kajar, • Sebuah Klenang, • Sebuah Cengceng, • Sebuah Gentorag, • Delapan buah Suling
Instrument gamelan Gambang: • Sebuah Gangsa Penyorok • Sebuah Gangsa Pengumbang • Sebuah Pengenter
• Sebuah Pemero • Sebuah Penyelat • Sebuah Pemetit
BAB II
KAJIAN SUMBER
Sebagai acuan untuk berkarya agar dapat menghasilkan kreativitas seniman dalam karya karawitan inovatif Gita Arcanam Puja yang baik tentu memerlukan pemikiran dan usaha keras, guna mencapai target yang di inginkan. Adapun pijakan penting yang menjadi ide garapan ini adalah sebagai berikut:
2.1 Sumber Tertulis
Gambang Cikal Bakal Karawitan Bali oleh I Wayan Sinti, MA, 2011.
Buku ini menguraikan tentang mengkaitkan karawitan dengan vokal seperti pengertian karawitan vokal, jenis tembang dan tata penyajian tembang. Pada buku ini menjadikan sumber inspirasi penata dalam menyajikan vokal dengan instrumental yang baik.
Gong Antalogi Pemikiran oleh I Wayan Rai, S, 2001. Buku ini membahas
tentang peranan sruti dalam Gamelan Semar Pegulingan. Fungsi sumber ini terhadap penggarapan karya seni karawitan adalah penata dapat memahami tentang gamelan Semar Pegulingan Saih lima dan pepatutan.
Metode Penciptaan Seni Karawitan oleh I Ketut Garwa, 2007. Dalam
buku ini diuraikan bahwa proses penggarapan sebuah karya dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan, sehingga tahapan tersebut menjadi pegangan untuk mendukung proses terwujudnya komposisi karawitan inovatif. Buku ini digunakan sebagai acuan mengenai proses
penciptaan, karena dalam menciptakan karya-karya baru selalu melalui proses yang cukup panjang disertai pemikiran matang.
Savitri Pendidikan Agama Hindu Oleh I Nengah Rai Yasa, 2004. Buku ini
membahas tentang rangkaian upacara yadnya di Bali. Manfaat dalam garapan komposisi Gita Arcanam Puja, buku ini memberi gambaran suasana dalam pelaksanaan upacara Dewa Yadnya/piodalan.
Taksu Dalam Seni pertunjukan Bali oleh I Made Bandem, 1991. Buku ini
memberi gambaran bahwa Taksu itu adalah sebuah paradigma dalam kebudayaan Bali, merupakan kecerdasan, keindahan, dan mujizat kepada seorang seniman untuk menampilkan karya-karya seni yang baik. Seorang seniman dapat dinyatakan memiliki taksu apabila mampu menyatukan aspek fisik ( ketrampilan tehnik ) dan aspek mental ( penghayatan dan spiritual ) dalam sebuah karyanya.
2.2 Sumber Discografi
Cudamani, Pujawali, dan Legong Pawisik, Sanggar Cudamani oleh Dewa
Alit, Mp3 player. Garapan ini menggunakan instrument gamelan Semarandhana. Penata tertarik terhadap vokal pada garapan tersebut, karena vokal pada garapan tersebut penyajiannya sangat baik sehingga penata menjadikannya sumber inspirasi.
Kaset Gambang Manikasanti produksi Maharani, Tahun 2011 oleh I Wayan Sinti, MA. Penata tertarik dengan ciri khas kotekan pada gamelan
menjadi lebih variasi. Pada penyajian gending Gambang Pupuh Malat penata terinspirasi dengan adanya perpaduan antara vokal dengan gamelan Gambang .
Kaset-kaset Palegongan Binoh produksi Aneka Record, Tahun 1985. Menggunakan instrumen gamelan Palegongan. Penata tertarik dengan
gending-gending karya Alm ( I Wayan Lotring ), dalam penyajian karya-karyanya sangat
baik sehingga menjadikannya sebagai sumber inspirasi.
Maskumambang, Festival Gong Kebyar 2007 no seri A side A, oleh I
Nyoman Windha, S.SKar. Garapan ini menggunakan instrument gamelan gong
kebyar. Penata tertarik dengan motif ubit- ubitannya dan pengolahan melodinya
yang tertata baik.
Pepanggulan Kidung Kasmaran, Festival Gong Kebyar Tahun 2012 side
A, oleh I Wayan Darya, S.SKar. Garapan ini menggunakan instrument gamelan
Gong Kebyar. Penata tertarik pada vokal tersebut, karena vokal pada garapan
tersebut penyajiannya sangat baik sehingga penata menjadikannya sebagai sumber inspirasi.
BAB III
PROSES KREATIVITAS
Perwujudan suatu karya seni tentu dimulai dengan adanya proses yang merupakan tahapan penting, berawal dari adanya rangsangan dan dorongan batin seorang seniman untuk dapat mewujudkan sebuah karya berdasarkan pada pemikiran serta keinginannya. Proses tidak dapat dijalani dengan mudah jika pada awalnya seorang seniman kurang memiliki konsep yang pasti dan adanya keragu-raguan. Dalam kenyataanya memang cukup sulit melahirkan karya seni yang berkualitas dan berbobot. Proses kreativitas memerlukan pikiran-pikiran kreatif agar nantinya garapan yang ditampilkan tidak monoton, serta yang paling penting adalah garapan yang dituangkan sesuai dengan keinginan dan konsep penata sendiri. Selanjutnya, penata juga memerlukan keberanian dan pengetahuan untuk mewujudkan hasil kreativitas. Dasar kreativitas adalah keberanian (Soedarsono, 1986: 9).
Proses kreatifitas ada dalam diri pencipta itu sendiri karena dalam berproses sangat dibutuhkan pemeliharaan, waktu, dan latihan secara terus menerus. Seorang seniman juga harus mampu mengolah apa yang ada dalam dirinya sendiri melalui keyakinan yang dimiliki. Melalui penerapan waktu yang efesien disertai kedisiplinan dalam pelatihan, karya akan terwujud tepat pada waktunya (Garwa, 2007: 31).
Hal tersebut di atas mengarahkan penata melakukan proses kreatif dalam garapan Gita Arcanam Puja. Selanjutnya dalam garapan ini penata meminjam
konsep yang di kemukakan oleh Alma M. Hawkins dalam bukunya Creating
Through Dance, bahwa penciptaan suatu karya seni itu di tempuh melalui tiga
tahapan yaitu : eksplorasi, improvisasi, dan forming (Hadi, 1990; 36). Ketiga tahapan tersebut diaplikasikan dalam proses penggarapan karawitan inovatif.
3.1 Tahap Eksplorasi (Penjajagan)
Tahap eksplorasi adalah langkah awal dalam penggarapan karya seni karawitan. Pada tahap ini dilakukan pencarian dan penjajagan secara terus menerus mulai dari pencarian ide atau media yang diwujudkan dalam tatanan sajian penggarapan. Pencarian ide adalah hal utama karena memerlukan proses dan waktu yang cukup lama, berawal dari lingkungan penata yaitu upacara
piodalan di pura Buitan Binoh setiap enam bulan sekali. Kegiatan upacara piodalan di pura Buitan Binoh dijadikan sebagai landasan ide dalam mewujudkan
sebuah komposisi karawitan.
Kegiatan lain yang penata lakukan setelah penentuan ide dalam tahap ini adalah menentukan tema, judul, dan konsep melalui proses berpikir, berimajinasi, merasakan, menanggapi, serta menafsirkan segala macam pengalaman dan fenomena yang terjadi pada lingkungan penata. Pencarian sumber-sumber penata lakukan baik melalui sumber tertulis, wawancara terkait dengan ide garapan maupun sumber audio visual yang dapat dijadikan acuan dan dapat menambah wawasan tambahan dalam penggarapan karya seni.
Seperti apa yang telah diuraikan pada sub-bab latar belakang, bahwa penata termotivasi untuk memilih secara tegas dikarenakan ketertarikan penata
dengan suasana dari upacara puja wali dan jarangnya seniman karawitan Bali yang menggunakan gamelan Palegongan dan Gambang sebagai media ungkap karya kreativitas mereka. Judul Gita Arcanam Puja ditetapkan sebagai judul dari karawitan inovatif ini.
Setelah penentuan judul garapan, maka dilakukan pemilihan pendukung karawitan yang sudah terbiasa memainkan gamelan Gambang dan Palegongan. Penata mencari pendukung karya dari Sekaa Palegongan Binoh dan Sekaa
Gambang, banjar Binoh Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, agar dapat mendukung
lancarnya proses penggarapan yang diwujudkan. Disamping itu penata juga ikut dalam sekaa Gambang dan Palegongan klasik di banjar Binoh Kaja. Kendala yang dihadapi adalah pada pemilihan judul garapan yang diharapkan dapat sesuai dengan tema dan konsep garapan.
Tahap berikutnya adalah penata melakukan wawancara dengan tiga orang yaitu Jero Mangku Tapa untuk mendapatkan informasi tentang makna dan tujuan dari upacara piodalan, Jero Mangku A.A Ngurah Oka untuk mendapatkan informasi tentang fungsi dan arti dari Panca Gita dalam upacara piodalan, I Wayan Sinti, MA untuk mengetahui bagaimana cara mengkaitkan vokal dengan gamelan Gambang dan bagaimana cara memadukan keharmonisan vokal dengan melodi.
Dalam penggarapan karya seni hal yang perlu dipersiapkan dalam tahap
eksplorasi ini adalah persiapan secara niskala dengan dilakukannya upacara nuasen, yaitu upacara pencarian hari baik menurut kepercayaan umat hindu agar
dalam perlindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Nuasen dilakukan di pura Penyarikan banjar Binoh Kaja dan pura Buitan Binoh pada tanggal 5 Februari 2014 pada pukul 19.00 WITA.
Tabel 3.1
Tahap Penjajagan (Eksplorasi)
Bulan November tahun 2013 sampai dengan Bulan Februari tahun 2014
Periode waktu
Per minggu Kegiatan Hasil yang diperoleh
Minggu I-II
(November) Memikirkan dan merenungkan ide untuk membuat sebuah komposisi karawitan yang ditujukan sebagai karya Tugas Akhir (TA).
Menemukan ide untuk
menggarap sebuah komposisi dengan menggunakan media ungkap gamelan Palegongan dan Gambang karena dari sejak kecil penata sudah menggeluti bidang itu. Minggu II-IV
(Desember)
Memantapkan ide garapan dan mencari beberapa referensi dan informan yang mendukung ide garapan
Menemukan tema garapan yaitu Upacara Piodalan dengan konsep Dewa Yadnya, yang kemudian ditetapkanlah judul Gita Arcanam Puja (didapatkan dari referensi yaitu buku kamus bahasa Sansekerta serta informan yang sudah mendalami keagamaan dan kesusastraan.
Minggu II-III (Januari)
Menetapkan struktur garapan agar sesuai dengan ide garapan
Struktur garapan yang terdiri dari 4 bagian, yaitu bagian I, bagian II, bagian III, bagian IV, dan bagian V
Minggu IV (Januari)
Memikirkan dan mencari pendukung terkait dengan kebutuhan garapan yang akan dibuat.
Menemukan dan menetapkan pendukung karawitan yang sesuai dengan keinginan penata yaitu dari Sekaa Palegongan Binoh dan Sekaa Gambang Banjar Binoh Kaja Minggu III Memilih hari baik untuk Melakukan upacara nuasen di
(Februari)) upacara nuasen. Sanggah Kemulan Taksu, pura Buitan Binoh, dan Pura
Penyarikan Bale banjar Binoh Kaja, Denpasar
3.2 Tahap Improvisasi (Percobaan)
Tahap improvisasi merupakan tahap kedua dalam proses penggarapan. Penuangan ide-ide dalam bentuk percobaan-percobaan secara intensif mulai dilakukan. Penata mencari kemungkinan saih-saih yang dihasilkan dari gamelan
Gambang dan ciri khas dari gamelan Palegongan dengan suara gender rambat
dan gender barangan yang nantinya digunakan untuk mengangkat suasana dan nuansa yang diinginkan penata sesuai dengan konsep penciptaan. Kemudian penata mencari teknik pukulan, permainan serta pola lagu yang akan dituangkan pada garapan sesuai dengan struktur garapan. Pada latihan pertama yaitu hari Rabu tanggal 5 Februari 2014, penata terlebih dahulu memberikan penjelasan kepada pendukung karawitan mengenai ide dan konsep garapan tabuh kreasi karawitan Gita Arcanam Puja agar pendukung dapat memahami ide dan konsep tersebut untuk kelancaran proses penuangan gending. Setelah pendukung memahami ide dan konsep tersebut penata melanjutkan untuk penuangan bagian I. Dengan latihan yang serius dari pendukung karawitan Gita Arcanam Puja, menjadikan penata lebih bersemangat dan termotivasi untuk merangkai sentuhan-sentuhan inovasi sesuai dengan struktur garapan. Bagian selanjutnya yaitu hari Minggu tanggal 9 Februari 2014, penata kembali mengulang pencapaian yang
dituangkan pada hari sebelumnya. Penata kemudian melanjutkan bagian transisi menuju bagian II. Penata merasakan cukup sulit untuk menggarap bagian transisi ini karena ada perpindahan patet pada bagian ini agar tidak terkesan dipaksakan.
Bagian transisi sudah dapat dicapai dan disambung pada bagian II yang dilakukan pada hari Minggu tanggal 16 Februari 2014. Berkat kesungguhan dan kekompakan pendukung, proses penuangan bagian II cukup lancar. Kemudian dilakukan pemantapan lagi secara keseluruhan bagian yang telah dituangkan mulai bagian I, transisi, dan bagian II sudah terwujud namun masih perlu adanya perbaikan kembali agar menjadi lebih enak saat didengar.
Penuangan selanjutnya dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 21 Februari 2014. Penata kembali memantapkan bagian II karena beberapa pendukung tidak hadir pada latian sebelumnya dan menyebabkan penata kembali mengulang bagian II. Bimbingan-bimbingan juga senantiasa dilakukan guna mendapatkan saran dan masukan untuk kesempurnaan garapan yang akan diwujudkan.
Pada hari Minggu tanggal 23 Februari 2014, penata menuangkan bagian transisi dari bagian II menuju bagian III. Penuangan bagian transisi yang cukup lancar, menjadikan penata untuk langsung menuangkan bagian III. Pada bagian III, merupakan tahap yang perlu diberikan konsentrasi yang lebih karena penata akan mencoba memasukkan unsur yang nantinya memberikan kesan dan suasana religius sebagai bentuk pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun pada hari itu, bagian III, belum dapat dirampungkan secara utuh karena keterbatasan waktu pendukung oleh kegiatan lainnya.
Pada kesempatan ini yang digarap adalah karawitan inovtif dengan unsur inovasi dan terobosan baru dalam rangka mencari pembaharuan agar dapat berbeda dari garapan yang telah ada. Sentuhan inovasi sebagai bumbu penyedap yang menjadikan sajian dengan aroma yang baru.
Latihan selanjutnya diadakan pada hari jumat tanggal 28 Februari 2014. Penata melanjutkan bagian III yang tertunda pada latihan sebelumnya dan berkat semangat para pendukung, bagian III dapat terselesaikan. Pengulangan demi pengulangan dilakukan agar para pendukung memahami materi garapan yang telah dituangkan, serta menghaluskan bagian-bagian yang masih kasar dan memberikan rasa pada dinamika lagu.
Latihan kembali dilanjutkan pada hari Jumat tanggal 7 Maret 2014, namun berhubungan pada saat itu pendukung mendadak tidak dapat mengikuti latihan, maka penata memutuskan untuk menunda latihan pada hari itu, dan disepakati latihan selanjutnya dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 14 Maret 2014. Materi garapan yang diberikan adalah pengulangan bagian I sampai bagian III .
Latihan selanjutnya dilakukan pada hari jumat tanggal 21 Maret 2014, dilakukan penuangan bagian IV dan bagian V. Latihan secara rutin pun mulai dilakuka pengulangan dan perbaikan pada bagian-bagian gending dilakukan, untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Tabel 3.2
Tahap Percobaan (Improvisasi)
Bulan Februari sampai dengan Bulan Maret 2014
Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Minggu I Hari Jumat Tanggal 5 Februari 2014
Menjelaskan ide dan konsep garapan kepada pendukung karawitan . Penuangan bagian I
Pendukung memahami ide dan konsep yang penata sampaikan.
Bagian I sudah terwujud, tetapi masih ada yang perlu di perbaiki. Minggu II Hari Minggu, Tanggal 9 Februari 2014 Mengulang dan Memantapkan bagian I
Bagian I dapat terwujud dan dirampungkan, walaupun masih kasar. Minggu III Hari Minggu, Tanggal 16 Februari 2014 Melanjutkan bagian transisi menuju bagian II
Bagian transisi sudah dibentuk dan disambung pada bagian II Minggu III Hari Jumat, 21 Februari 2014 Proses penuangan
bagian II Bagian II dapat terselesaikan, tetapi masih kasar. Minggu IV Hari Minggu, 23 Februari 2014 Mengulang dan memantapkan bagian II Melanjutkan bagian transisi II menuju bagian III Sudah adanya
penyempurnaan pada bagian II
Minggu IV Hari Jumat, 28 Februari 2014
Penuangan bagian III Sudah terbentuk, namun bagian III masih kasar. Minggu I
Hari Jumat, 7 Maret 2014
Latihan ditiadakan karena sebagian besar pendukung mendadak tidak dapat mengikuti latihan
Minggu II Hari Jumat, 14 Maret 2014
Pengulangan kembali dari bagian I menuju bagian III
Secara global sudah
terbentuknya bagian I, II, dan III, namun belum rampung sepenuhnya.
Minggu III Hari Jumat, 21 Maret 2014
Penuangan bagian IV dan
V Sudah terbentuk, namun bagian III masih kasar
3.3 Tahap Forming (Pembentukan)
Tahap ketiga penggarapan adalah forming. Tahap akhir dari garapan karawitan inovatif Gita Arcanam Puja yaitu pembentukan menjadi sebuah komposisi karawitan yang utuh. Bagian-bagian yang telah dicari dirangkai menjadi satu kesatuan bentuk yang utuh walaupun terdapat bagian-bagian yang masih kasar. Dalam hal ini penata juga perlu memperhatikan ngumbang-ngisep (keras lirih) berkaitan dengan masalah dinamika gending.
Inspirasi penata dalam menghasilkan temuan-temuan baru berasal dari menonton video mp3 terkait dengan kebutuhan garapan Gita Arcanam Puja, seperti karya Cudamani, Jegog dan Semarpegulingan (JAS) inovasi bapak I Nyoman Windha, S.SKar. Dari beberapa karya tersebut, memberikan penata gambaran tentang cara berkomposisi yang baik.
Bimbingan-bimbingan baik karya cipta maupun karya tulis lebih intensif dilakukan agar mendapat motivasi, saran, dan masukan untuk menunjang garapan. Penyatuan rasa juga perlu dilakukan sehingga dapat berbentuk garapan yang benar-benar utuh. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan agar komposisi karawitan ini lebih rapi dan berkarisma.
Setelah tahapan ini dilakukan tahap finishing untuk mengakhiri proses kreativitas dengan lebih menghaluskan dan menghayati garapan. Penjiwaan dan
kekompakan pendukung sangat dibutuhkan karena hal tersebut sangat berperan dalam penyampaian kesan dan pesan yang terkandung dalam garapan kepada penikmat. Penata juga melakukan pembakuan terhadap setting yang dipergunkan dan dicoba pada tanggal 26 dan 27 April 2014 sebelum dilaksanakannya gladi bersih serta ujian tugasd akhir (TA).
Tabel 3.3
Tahap Forming (Pembentukan) Bulan April sampai dengan Bulan Mei 2014 Periode Waktu
per Minggu Kegiatan Hasil yang dicapai
Minggu III Hari Minggu, 16 Maret 2014
Memantapkan kembali bagian sebelumnya yang telah diberikan dan penuangan bagian IV
Bagian IV dapat terselesaikan
Minggu III Hari Rabu, 19 Maret 2014
Pada latihan selanjutnya yaitu minggu keempat bulan April, penata memantapkan kembali bagian IV dan melanjutkan bagian V
Garapan secara utuh dapat diwujudkan, namun masih kasar.
Minggu III Hari Kamis, 20 Maret 2014
Melakukan bimbingan karya secara utuh dengan dosen pembimbing ( I Ketut Partha, S.Skar., M.Si dan I Ketut Sudana, S.Skar., M.Si)
Penata memperoleh masukan dan saran yang sangat berarti dalam proses penggarapan karya untuk menjadi lebih baik lagi, mengenai roh dan karakter gamelan
Palegongan dan Gambang
Bimbingan Skrip di Kampus ISI Denpasar dan latihan
memantapkan materi setiap bagian dari keseluruhan garapan, sekaligus memberikan penjiwaan pada garapan
Setiap bagian diberikan penjiwaan meliputi unsur-unsur yang terdapat dalam musik
Minggu IV Hari Minggu, 27 April 2014
Latihan mengingat kembali materi komposisi sekaligus menambah vokal dalam garapan
Penambahan vokal sudah terwujud.
Minggu IV Hari Rabu, 30 Apil 2014
Gladi kotor dilakukan di Bale Banjar Binoh Kaja.
Penata mendapat masukan antara lain mengenai ekspresi pada saat menabuh,
penambahan vokal pada bagian IV.
Minggu I Hari Kamis, 1 Mei 2014
Gladi Bersih Garapan dapat disajikan secara utuh.
Minggu I Hari Sabtu, 3 Mei 2014
Latihan pemantapan kembali untuk pementasan TA
Minggu II Hari Selasa, 6 Mei 2014
Pemantapan menjelang Ujian Tugas Akhir
Minggu II Hari Kamis, 8 Mei 2014
Pementasan Ujian Tugas Akhir (TA) Sarjana Seni tahun 2014
2.4 Hambatan Hambatan
Tabel yang digambarkan di atas merupakan kegiatan yang dilaksanakan selama proses kreativitas berlangsung dan dilakukan selama 7 bulan dari bulan November tahun 2013 hingga bulan Mei 2014. Hal ini membuktikan bahwa mewujudkan suatu karya tidak dapat dilakukan dengan mudah karena memerlukan waktu, tenaga, dan pikiran yang cukup panjang dalam mewujudkan garapan yang bermutu dan berkualitas.
Proses penggarapan karawitan ini tidak terlepas dari hambatan dan rintangan yang merupakan hal yang harus dijalani dan dilewati karena merupakan tonggak awal melangkah ke depan dan nantinya pasti akan ada hikmah yang dapat dipetik setelah melewatinya sebagai motivasi penata ke depannya.
Permasalahan dalam proses kreativitas ditimbulkan dari faktor pendukung dan waktu latihan, karena pendukung memiliki banyak kegiatan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam hal ini, pendukung diharapkan memiliki konsistensi terhadap waktu agar segala kegiatan yang dilakukan berjalan sesuai jadwal masing-masing. Proses kreativitas ini tentu memerlukan kesabaran dan perjuangan, karena inilah sesungguhnya ujian bagi penata untuk keberlanjutan ke depan. Walaupun ada permasalahan yang muncul, penata berharap dapat mengatasinya dan selalu diberikan keselamatan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar proses pembelajaran ini berjalan lancar.
BAB IV WUJUD GARAPAN
Wujud merupakan salah satu bagian dari tiga unsur-unsur estetika (wujud, isi/bobot, dan penampilan), serta menjadi unsur mendasar yang terkandung dalam karya seni. Wujud adalah sesuatu yang dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata atau telinga secara abstrak yang dapat dibayangkan dan dianalisa sesuai komponen-komponen penyusunnya (Djelantik, 2004: 17).
4.1 Deskripsi Garapan
Gita Arcanam Puja merupakan sebuah komposisi karawitan inovatif
dengan menggunakan gamelan Palegongan dan Gambang sebagai media ungkap. Adapun tema yang di angkat dalam garapan ini adalah Dewa Yadnya. Tema ini diangkat karena upacara piodalan menjadi salah satu cara untuk melakukan pemujaan sebagai ungkapan sujud bakti, rasa syukur, dan sarana intropeksi diri agar dapat menjadi orang yang lebih baik kedepannya. Tema tersebut diatas disesuaikan dengan struktur garapan agar dapat menjadi satu kesatuan yang utuh. Struktur garapan ini terdiri dari bagian I, bagian II, bagian III, bagian IV, dan bagian V.
Garapan komposisi Gita Arcanam Puja disajikan sebagai konser karawitan yang mandiri. Penyajian karya ini didukung oleh 34 orang penabuh dan 4 orang vokalis putri dengan durasi kurang lebih 13 menit. Karya ini dipentaskan di gedung Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Adapun pesan
yang ingin di sampaikan melalui garapan Gita Arcanam Puja adalah mensyukuri segala anugerah yang telah di berikan sebagai rasa bakti kehadapan Ida Sang
Hyang Widhi Wasa.
Adapun instrumen gamelan Palegongan yang digunakan adalah:
• Instrumen Gender Rambat
Instrumen gender rambat pada gamelan palegongan menggunakan berbilah 14 dengan susunan nadanya: 5,7,1,3,4,5,7,1,3,4,5,7,1,3 (ndeng, ndung,
ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding). Dalam sajian ini dimainkan oleh 2 orang pemain.
Instrumen gender rambat termasuk kedalam jenis idiophone, karena bunyi yang dihasilkan berasal dari instrument yang dipukul. Fungsi instrument
gender rambat dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah sebagai melodi
gending.
• Instrumen Gender Barangan
Instrumen gender barangan bentuknya tidak jauh berbeda dari instrument
gender rambat, hanya ukurannya yang lebih kecil. Adapun susunan
nadanya sebagai berikut : 5,7,1,3,4,5,7,1,3,4,5,7,1,3 (ndeng, ndung, ndang,
nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding). Dalam sajian ini dimainkan oleh 2 orang pemain. Instrumen gender barangan termasuk kedalam jenis idiophone, karena bunyi yang
dihasilkan berasal dari instrument yang dipukul. Fungsi instrument gender
barangan dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah sebagai melodi gending tetapi pukulan lebih bervariasi.
• Instrumen Gangsa
Instrument gangsa pada barungan Palegongan di Binoh terdiri dari 2 macam yaitu : sepasang gangsa jongkok dan sepasang gangsa gantung. Dengan susunan nada : 3,4,5,7,1 (nding, ndong, ndeng, ndung, ndang). Fungsi instrument ini dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah berperan untuk memainkan ubit-ubitan pada bagian-bagian gending.
• Instrumen Kantilan
Instrument kantilan pada barungan palegongan di Binoh terdiri dari 2 macam yaitu : sepasang kantilan jongkok dan sepasang kantilan gantung. Dengan susunan nada : 3,4,5,7,1 (nding, ndong, ndeng, ndung, ndang). Fungsi instrument ini dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah berperan untuk memainkan ubit-ubitan pada bagian-bagian gending.
• Instrumen Jublag
Instrumen jublag merupakan instrumen bilah yang digantung dengan susunan nada sebagai berikut : 3,4,5,7,1 (nding, ndong, ndeng, ndung,
ndang). Instrumen ini tergolong dalam jenis alat idiophone yaitu suatu alat
musik yang bunyinya bersumber dari alat itu sendiri. Fungsi utama dari instrument jublag dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah sebagai pemangku lagu (berfungsi membantu memainkan lagu pokok dan juga bertanggung jawab terhadap melodi).
• Instrumen Jegogan
Instrumen ini bentuknya hampir mirip dengan instrument jublag, tetapi bentuk fisik instrument ini lebih besar. Dengan susunan nada sebagai berikut: 3,4,5,7,1 (nding, ndong, ndeng, ndung, ndang). Instrumen ini juga tergolong alat idiophone yaitu suatu alat musik yang bunyinya bersumber pada alat itu sendiri. Fungsi utama dari instrument jegog dalam garapan
Gita Arcanam Puja adalah sebagai pemangku lagu (berfungsi membantu
memainkan lagu pokok dan juga memberikan penekanan-penekanan terhadap nada tertentu dan mempertegas pukulan melodi pokok pada hitungan genap atau ganjil).
• Instrumen Kendang
Instrumen kendang termasuk ke dalam jenis alat musik membranophone yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari kulit yang ditekankan pada alat, dengan cara membunyikannya adalah memukul dengan alat atau tanpa alat (telapak tangan). Dalam garapan Gita Arcanam Puja instrumen ini berfungsi sebagai pemurba irama atau mengatur dan mengendalikan jalannya gending, serta memberikan aksen-aksen pada gending.
• Instrumen Suling
Suling merupakan suatu alat musik yang diklasifikasikan sebagi alat musi
aerophone yaitu sumber bunyi yang berasal dari udara atau angin (cara membunyikannya dengan cara ditiup). Dalam garapan Gita Arcanam Puja instrument suling berfungsi sebagai menjalankan melodi dan memperindah lagu.
• Instrumen Gong
Instrumen gong merupakan intrumen bermoncol yang ukurannya paling besar dibandingkan instrument bermoncol lainnya. Fungsi instrument ini dalam garapan Gita Arcanam Puja secara umum adalah untuk mengakhiri gending (sebagai finish).
• Instrumen Klemong
Instrumen ini merupakan instrument yang bermoncol, ukurannya lebih kecil dari gong. Instrument ini termasuk ke dalam klasifikasi alat musik idiophone, karena sumber bunyinya dari alat itu sendiri (cara membunyikannya adalah memukul dengan panggul). Fungsi instrument
klemong adalah menentukan panjang dan pendeknya ukuran gending
sebelum gong. • Instrumen Kajar
Instrumen ini merupakan intrumen yang hampir mirip dengan klemong. Fungsi kajar dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah pemegang tempo gending, pengatur cepat lambatnya sebuah lagu atau gending.
• Instrumen Cengceng Ricik (kecek)
Instrumen cengceng ricik atau lebih dikenal dengan sebutan kecek merupakan instrument yang berbentuk cymbal, tetapi ukurannya lebih kecil. Dalam garapan Gita Arcanam Puja instrument ini berfungsi memberikan nuansa ritmis serta memberikan aksen-aksen yang sama dengan instrumen gangsa dan kendang.
• Instrumen Klenang
Instrumen ini merupakan instrument yang termasuk ke dalam klasifikasi alat musik idiophone, karena sumber bunyinya dari alat itu sendiri. Fungsi instrument klenang dalam garapan adalah menentukan ruas-ruas gending diantara gong dan kemong.
• Instrumen Gentorang
Instrumen ini merupakan instrument yang termasuk ke dalam klasifikasi alat musik idiophone, karena sumber bunyinya dari alat itu sendiri. Fungsi instrument gentorag dalam garapan adalah sebagai penambah suara.
Adapun instrumen gamelan Gambang yang digunakan adalah:
• Instrumen Gangsa
Instrument gangsa pada barungan Gambang terdiri dari 2 macam yaitu : sepasang gangsa pengumbang dan sepasang gangsa penyorog. Dengan susunan nada : (dong alit, ding, dong ageng, dang ageng, deng, dung,
dang alit). Instrument ini termasuk ke dalam klasifikasi alat musik
idiophone, karena sumber bunyinya dari alat itu sendiri (cara membunyikannya adalah memukul dengan panggul). Fungsi instrument ini dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah berperan untuk memainkan melodi pokok (dengan pukulan kekenyongan)
• Instrumen Gambang
Instrument gambang terdiri dari 4 macam yaitu : gambang pengenter,
dong ageng, dang ageng, deng, dung, dang alit). Instrument ini termasuk
ke dalam klasifikasi alat musik idiophone, karena sumber bunyinya dari alat itu sendiri (cara membunyikannya adalah memukul dengan panggul). Fungsi instrument ini dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah berperan untuk memainkan oncang-oncangan pada bagian-bagian gending tertentu..
4.2 Analisa Pola Struktur
Struktur dari suatu karya seni menyangkut keseluruhan, meliputi peranan masing-masing bagian untuk dapat dicapainya sebuah bentuk garapan (Djelantik, 2004: 39). Dalam struktur garapan ada hubungan tertentu antara bagian-bagian yang tersusun dan saling berkaitan. Struktur garapan dihubungkan dengan sebuah jembatan-jembatan penghubung yang disebut transisi. Secara struktural, garapan
Gita Arcanam Puja dibagi menjadi lima bagian yang terdiri dari bagian I, bagian
II, bagian III, bagian IV, dan bagian V. Pembagian garapan dimaksudkan untuk memudahkan penata dalam penggarapan, penghayatan setiap bagian dari struktur garapan karena suasana yang ditampilkan berbeda-beda sehingga bagian satu dengan yang lainnya dapat menyatu. Struktur garapan Gita Arcanam Puja dapat diuraikan sebagai berikut :
4.2.1 Bagian I
Bagian awal garapan, dimulai oleh instrument gangsa dengan nada nding, setelah itu disusul dengan instrument gong, gangsa penyorog/pengumbang, suling
dan vocal. Penyajian Mantra di kemas dalam sebuah melodi. Pada bagian I suasana yang ingin ditampilkan adalah suasana ketenangan dengan memberi salam hormat (pangaksaman), menggambarkan awal dari upacara piodalan dengan prosesi medatangan (awal turun Ida Bethara Nampak pertiwi). Pada bagian ini menggunakan suara gong (gamelan), mantra, dan kidung.
Gs . 3 . . . 3 . . . . . . . (3)
Gsgm . {1 6 7 5 6 . 1 6 7 5 6 . } Vkl . Om Na mah Si wa Om Na mah Si wa Sl . {. . . . . . (6) . 5 . 1. 7 . 3 . 7 . 5 (6)}
4.2.2 Bagian II
Pada bagian kedua dilanjutkan dengan motif kekebyaran dilakukan permainan bersama. Permainan melodi pokok dibawakan oleh instrument gender
rambat, jublag, dan jegogan. Instrumen suling berperan mengikuti melodi pokok
instrument gender rambat. Bagian kedua adalah bagian masuknya instrument gambang dan digabungkannya dengan gamelan palegongan. .
Gdr,jb,&Sl 1 5 7 1 . .1 34 5 3 4 5 3 4 5 7 (1)
7 5 4 3 7 1 5 7 1 3 4 3 5 4 3 (1) Jg . 5 . 1 . . . 5 . . . 3 4 5 7 (1)
Kemudian dilanjutkan permainan secara bersama, diulang sebanyak dua kali. Gdr { 1 3 3 1 .3 4 4 3 .4 5 . 4 1 3 4 (5)
. 5 7 . 57 1 7 5 4 7 1 3 4 3 1 7 (1)}
jb { . 3 . 1 . 4 . 3 . 5 . 4 1 3 4 5 . 7 . 5 1 7 5 4 7 1 3 4 3 1 7 (1)} Pengulangan sebanyak dua kali
Dilanjutkan bagian transisi dengan motif kekebyaran Permainan bersama. .1 57 .3 13 .1 35 .3 (4) 3 .4 57 .5 43 .4 57 .5 (1) Transisi Gdr 3 1 3 1 . .4 57 (1) 3 1 3 17 15 74 .75 ( 4) 5 4 3 43 1 4 3 (1) 31 3 4 5 7 5 7 (1) Jb . 1 . 1 . . . (1) . 1 . 1 . 7 . (4) . 4 . 4 . 3 . (1) . 3 . 5 . 5 . (1)
Jg . . . 1 . . . (1) . . . 1 . . . (4) . . . 4 . . . (1) . . . 5 . . . (1)
Setelah itu, gambang memainkan motif kotekan mengikuti melodi pada gamelan
jegog dan jublag.
Jb&Jg . .5 . 7 . .3 . 5 . .1 . 4 . .3 . 4 . .5 . 4 . .7 . 5 GS . . .5 7 . . .3 5 . 7 13 4
. . 13 43 13 .5 43 431 .3 .4 57 5 (4 )51 kekebyaran permainan bersama.
.34 .53 .543 13 .4 .5 4574 5 (4)
Kd .TD .TD .TTD D . T . D DTDT T D
Transisi menuju bagian III.
Gr & Jb 5 3 4 5 3 (4) 1 3 4 5 7 (4) 5 3 4 1 3 (4) Jg . 3 . 5 . (4) . 3 . 5 . (4) . 3 . 1 . (4)
45 . . (7) 5 4 3 4 5 4 3 (1) .4 . 1 .4 . (1)
3 71 37 13 45 34 5 (7)
3 5 7 3 5 7 (3) 3=7 patet tembung Dilanjutkan dengan patet tembung
Sl 4 5 4 3 1 7 1 . 3 4 5 7 1 7
5 4 3 1 3 1 7 5 (7)
4.2.3 Bagian III
Pada sajian ini merupakan bagian inti dari garapan Gita Arcanam Puja karena suasana kedamaian, ketenangan, dan keheningan ditampilkan pada bagian ini. Mantra serta kidung suci (vokal) dilantunkan dengan mengikuti melodi dari iringan gamelan Palegongan dan kotekan-kotekan yang saling terikat dari gamelan gambang. Motif kekenyongan yang dimainkan oleh instrument
Gambang gangsa penyorog dan pengumbang.
Pengawak I
Gdr,Sl, . . . 7 1 3 43 1 3 4 5 3 . 1 . 7 Om De wa De wi ja gat pa ti gu ru Vokal
. . . 7 1 3 4 3 1 3 4 5 3 . 7 . 1 Om De wa mur ti bhwa nam sar wa de wa
Pra nam ya kan ja gat wig na wi na sa nam
. . . 5 . 3 . 1 . . . 5 3 . 5 4
Om ka ra ma ha De wa
5 4 3 1 7 1 3 4 Ca tur bhu ja ru drat ma ka
. . . 4 5 3 4 5 7 5 4 5 4 3 5 4 Pi ta war na ma ha de wa ru ken ca na 5 = 1 patet selisir 1 3 4 5 1 3 4 5
Bha swa ra Sri De wam su dha
. . . 7 1 2 . (1) Sa li ngan
Kemudian dilanjutkan dengan pengawak bagian II Gdr ,Sl, 3 1 3 4 5 7 5 4 3 Vokal Om Am ka ro bha ga wan Bra hma
1 7 5 7 . 1 3 4 3 1 7 5 Ta twa jna nam ma ho ta mam da da ti
. . 4 5 7 3 4 5 Pa ra mam gu hy am
4 5 7 5 4 3 5 4 Jna na sid dhim a wap nu yat
. . . 1 . 3 . 4 Ang Ong Mang
1 7 5 4 3 1 7 1 Gi ri mur ti ma ha wi ryam
. . . . . . 5 1 . . 5 7 5 1 7 5 Gi ri Mur ti sak ti wi ryam . . . . . . 5 1 3 . 5 7 3 5 4
Rat na di de wa pra tis tham
. . . . . . 5 1 3 4 3 1 . 7 . 5 Su te jo pra ba Wi rya nam
1 3 4 5 7 3 5 4 Sa rwa rat na Na wa Ru pam
7 1 3 5 4 3 (1) Gi ta Ar ca nam Pu ja
4.2.4 Bagian IV
Bagian IV merupakan bagian dengan tempo cepat. Bagian ini dibagi menjadi tiga sub bagian.
permainan bersama Motif kekebyaran
.34 .53 .543 13 . 4 . 5 4574 5 (4)
Kd .TD . TD .TTD D . T . D DTDT T D
Sub Bagian I
Gdr,Jb,Sl 3 4 5 7 5 1 7 5 (4)
{ 31 3 1 31 3 1 3 (5)
75 7 5 75 7 4 3 (1)} Pengulangan sebanyak empat kali Transisi Gdr,Jb, . 54 .3 13 .1 35 .3 (4) Jg,&Sl .3 .4 5 .7 5 (4) .3 .4 5 .7 5 (1) 71 57 1 71 57 (1) 71 57 45 31 .4 31 .3 .4 .5 Sub Bagian II Gdr,Jb 1 3 4 5 . 4 . (3) Vokal Gi ta ngi ring mang kin
. . . . 7 1 3 4 Ma nu nga lang . . . 5 7 5 4 (3) Ar ca nam pu ja . . . . 7 1 3 4 Si da ka rya . . . 5 7 5 4 (3) De wa De wi
. . . . 7 1 3 4 Pur na su ka . . . 3 4 5 (7 ) Si da lung guh . . . 1 3 4 3 1 7 5 Sang Pur na dir ga yu sa
1 7 5 4 3 5 7 (3) Gi ta pu ja si da ling gih
Sub bagian III
Jb ,Sl,& Jg 1 3 4 (5) . .3 . 5 . .1 . 7 . . 1 . 3 . . 3 . 4 . .5 . 4 . .3 .(1) . .7 . 1 . . 3 . 5 . .3 . 5 . . 1 . 7 . .1 . 3 . .3 . 4 . .5 . 4 . .3 . (1) . .7 . 1 . .1 . 4 . .3 . 1 . .1 . 4 . . 7 . (13)
Dilanjutkan dengan kekebyaran. Permainan bersama.
13 43 45 45 75 71 57 (1)
Gdr,jb 51 .5 .1 . 5 .1 5 (3)
4 5 7 5 17 5 (4)
3 1 3 4 3 1 . ( 1)
4.2.5 Bagian V
Bagian ini merupakan bagian terkhir dari proses penggarapan. Suasana yang ditampilkan adalah suasana kehingan, kedamaian, dan keagungan dari Ida
Sang Hyang Widhi Wasa. Penggunan kata mantra disajikan dalam akhir garapan Gita Arcanam Puja, mantra yang di bentuk dalam sebuah melodi.
Gs . 3 . . . 3 . . . . . . . (3) Gsgm . {1 6756 . 1 6756 . 1 6756} Vkl . Om Namah Siwa ya
Keterangan Simbol : 1. Gdr : Instrument gender 2. Gs : Instrument gangsa 3. Jb : Instrument jublag 4. Jg : Instrument jegogan 5. Kd : Instrument kendang 6. Sl : Instrumen suling 7. Garis Nilai
• {….} Tanda ulang, artinya lagu yang dimainkan secara berulang- berulang
• … Garis nilai yang berharga setengah, artinya setiap satu ketuk terdapat dua ritme
• .. .. Garis nilai yang berharga seperempat, artinya setiap satu ketuk terdapat empat ritme
8. ( . ) : Menunjukkan pukulan Gong
9. (D) : menunjukkan Pukulan kendang Wadon kanan (muka kanan)
11. (K) : menunjukkan pukulan kendang wadon (muka kiri) 12. (P) : menunjukkan pukulan kendang lanang (muka kiri)
4.3 Analisa Simbol
Simbol merupakan tanda yang telah disepakati sebagai penghubung atau jalinan suatu komunikasi dalam suatu karya seni (Langer, 2006: 142). Simbol dapat dipergunakan untuk menyampaikan maksud tertentu kepada penikmatnya dan menjadi tanda yang mampu mengungkapkan ide atau gagasan dalam garapan karawitan. Dalam garapan Gita Arcanam Puja pengaplikasikan simbol-simbol digunakan dalam penulisan notasi karawitan bali.
5.3.1 Simbol Sebagai Notasi
Notasi karawitan atau titi laras, adalah cara penulisan gending-gending dengan menggunakan lambang nada yang berupa angka, huruf maupun gambar untuk memberikan kode atau isyarat secara visual mengenai garap dari gending yang dinotasi agar dapat dibaca dan dimengerti. Adapun sistem notasi yang dipergunakan dalam garapan Gita Arcanam Puja adalah sistem notasi simbolnya berasal dari penganggening aksara Bali yaitu berupa ulu, tedong, taleng, suku,
Tabel 5
Panganggening Aksara Bali
No Simbol Nama aksara Dibaca
1
3
Ulu Nding2
4
Tedong Ndong3
5
Taleng Ndeng4
6
Suku ilut Ndeung5
7
Suku Ndung6
1
Carik Ndang7
2
Pepet Ndaing5.4 Analisa Materi
Materi merupakan unsur terpenting dalam membangun wujud sebuah karya seni khususnya garapan Gita Arcanam Puja. Dalam Garapan Gita Arcanam
Puja, elemen penting sebagai materi yang dianalisa ditentukan berdasarkan
motif-motif lagu, teknik pukulan, dan cara mengeksplorasi bunyi untuk membentuk karakter masing-masing bagian. Tujun analisa materi ini adalah agar garapan
mudah dicerna oleh penikmatnya. Motif-motif yang digunakan dalam Gita
Arcanam Puja adalah sebagai berikut :
a. Motif pengulangan
Dalam garapan Gita Arcanm Puja terdapat pengulangan untuk memberikan kesan dan menegaskan pesan yang ingin disampaikan. Pada pengulangan, beberapa motif diulang beberapa kali, tetapi dalam pengulangan juga dilakukan pengolahan motif. Hal ini dapat dilihat pada pengolahan ritme dan kotekan yang diolah pada melodi yang sama.
b. Ritme
Ritme adalah rangkaian beberapa suara yang berbeda panjang-pendeknya, jika memakai nada-nada maka ia menjadi lagu dengan sifat- sifat nada : tinggi dan rendah (Aryasa, 1984: 27). Gita Arcanam Puja merupakan garapan kreasi karawitan inovatif dengan mengolah ritme yang bersumber timbre (warna suara) dari media ungkap gamelan
Palegongan dan Gambang.
Tempo adalah waktu, kecepatan dalam langkah tertentu (Aryasa, 1984: 84). Dalam pola permainan yang dimainkan/dilakukan dalam garapan memegang peran yang sangat penting. Adapun tempo yang digunakan dalam garapan Gita Arcanam Puja meliputi lambat, sedang, dan tempo cepat.
d. Dinamika
Dinamika berarti keras lembutnya dalam cara memainkan musik (Aryasa,1984: 84). Dinamika merupakan salah satu bagian terpenting dalam garapan. Dinamika sebagai ekspresi dalam penggarapan, menyangkut aksen pada teknik permainan setiap instrument, keras lirihnya suara, serta panjang pendeknya motif maupun teknik permainan instrumen yang dilakukan untuk menghasilkan kesan dinamis dalam sebuah garapan.
e. Melodi
Melodi merupakan rangakaian nada secara berurutan yang berbeda panjang-pendeknya dan berbeda pula tinggi-rendahnya, teratur susunannya dan memiliki irama. Melodi sangat berperan penting dalam terwujudnya sebuah komposisi khususnya komposisi karawitan inovatif
Gita Arcanam Puja. Dalam garapan Gita Arcanam Puja melodi secara
garis besar dimainkan oleh instrument gender, suling, jublag, dan
f. Modulasi
Modulasi merupakan perpindahan dari satu nada dasar (saih) ke nada dasar yang lainnya. Dalam komposisi Gita Arcanam Puja penata mempergunakan modulasi dari patet selisir menjadi tembung.
g. Intonasi
Intonasi adalah tekanan-tekanan tertentu untuk nada-nada yang menyangkut tekanan, hentakan atau aksen pada bagian-bagian tertentu pada satu pola permainan, untuk pengungkapan karakter atau nuansa.
5.5 Analisa Estetis
Pada umumnya apa yang kita sebut indah adalah hal yang dapat menimbulkan rasa senang, bahagia, tenang, dan nyaman bila kesannya lebih kuat membuat kita terpaku, terharu, dan timbul keinginan untuk menikmatinya (bahasa bali : klangen). Dalam sebuah garapan karya seni terdapat tiga aspek yang mendasari keindahan yakni: wujud, bobot, dan penampilan ( Djelantik, 1990:4).
5.5.1 Wujud
Wujud dalam sebuah karya seni berarti sesuatu yang bisa dilihat maupun yang tidak bisa dilihat. Wujud dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata dan
telinga. Dalam hal ini wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur sebuah karya seni (Djelantik, 1999:20).
Garapan komposisi perpaduan antara gamelan Palegongan dan Gambang berjudul Gita Arcanam Puja adalah berbentuk Karawitan Inovatif yang masih berpegangan pada pola-pola tradisi. Garapan komposisi ini disajikan secara konser/instrumental dalam durasi waktu kurang lebih 13 menit. Penyajian karya ini didukung oleh 34 orang penabuh dan 4 orang vokalis. Garapan komposisi Gita
Arcanam Puja secara struktural mengacu pada konvensi struktural tradisi
kekebyaran yang terdiri dari 5 bagian yaitu bagian I, bagian II, bagian III, bagian IV, dan bagian V. Kelima bagian ini dihubungkan dengan adanya transisi (penghubung) antara satu bagian dengan bagian lainnya yang mengacu pada ide konsep garapan.
5.5.2 Bobot
Bobot dari suatu karya seni yang dimaksud adalah “isi” atau “makna” dari apa yang disajikan kepada sang penikmat. Bobot dapat ditangkap secara langsung dengan panca indra atau secara tidak langsung. Aspek utama bobot adalah: suasana, gagasan, dan pesan (Djlantik, 1999:46).
Suasana yang ingin penata sampaikan dalam garapan Gita Arcanam Puja bervariasi. Hal ini bertujuan agar suasana pada setiap bagiannya tidak terkesan monoton dan penikmat tidak merasakan jenuh terhadap suasana garapan Gita