• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Melainkan juga melibatkan proses berpikir yang lebih kompleks. Sebab, ilmu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Melainkan juga melibatkan proses berpikir yang lebih kompleks. Sebab, ilmu"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1 Teori belajar Kognitivistik

Berbeda dengan teori behavioristik , belajar dalam teori kognitivistik tidak hanya melibatkan interaksi dua arah atau hubungan antara stimulus dan respon. Melainkan juga melibatkan proses berpikir yang lebih kompleks. Sebab, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan, tidak terpisah-pisah tetapi terjalin secara menyeluruh.

Menurut teori kognitivistik, mahasiswa menjadi pihak yang aktif dalam usaha belajar untuk mencari pengalaman karena para psikolog kognitif yakin bahwa pengetahuan ataupun pengalaman sebelumnya dapat menentukan keberhasilan dalam mempelajari ilmu yang baru.

Menurut Jean Piaget yang dikemukakan oleh Siregar dan Nara (2010:32) proses belajar terdiri atas tiga tahap, yaitu :

1. Asimilasi, yaitu proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada.

2. Akomodasi, yaitu proses penyesuaian struktur kognitif kedalam sesuatu yang baru.

3. Equilibrasi, yaitu penyesuaian antara asimilasi dan akomodasi.

Menurut Gagne yang dikemukakan oleh Soekamto dan Winataputra (1995:30) belajar bukanlah sesuatu yang terjadi secara ilmiah, tetapi terjadi karena adanya kondisi-kondisi tertentu, yaitu :

(2)

1. Kondisi internal, yaitu antara lain kesiapan mahasiswa untuk menerima ilmu baru dan prerequisite (pemahaman mahasiswa tentang pelajaran sebelumnya).

2. Kondisi eksternal, yaitu situasi belajar dan penyajian yang dapat menstimulasi kelancaran proses belajar yang sengaja diatur oleh dosen.

2.2 Pemahaman Pengantar Akuntansi

Setiap puncak memiliki dasar, begitu juga dengan ilmu. Untuk mampu memahami cabang ilmu, harus terlebih dahulu memahami dasar dari ilmu tersebut. Menurut teori belajar kognitivistik, pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sangat menentukan keberhasilan mempelajari informasi/pengetahuan yang baru (Siregar dan Nara, 2010:31). Demikian dengan akuntansi. Dalam perkuliahan, pemahaman dasar ilmu akuntansi didapatkan pada mata kuliah Pengantar Akuntansi.

Menurut Suwardjono yang dikemukakan oleh Basuki (2014), tujuan dari pembelajaran Pengantar Akuntansi adalah sebagai berikut:

1. Memahamkan pengetahuan akuntansi di tingkat pengantar tanpa menimbulkan kesan yang keliru tentang arti akuntansi. Artinya, jangan sampai mahasiswa mempunyai wawasan yang sempit mengenai ruang lingkup akuntansi baik sebagai pengetahuan maupun sebagai bidang pekerjaan.

2. Menjelaskan akuntansi dengan perspektif yang selayaknya agar terjadi apresiasi positif terhadap disiplin akuntansi khususnya dari mereka yang tidak akan mengambil jurusan akuntansi, tetapi kemungkinan besar mereka menjadi pemakai jasa akuntansi.

3. Memotivasi agar pengetahuan akuntansi dimanfaatkan dalam praktik bisnis atau organisasi lainnya yang keberhasilannya sebenarnya didukung oleh informasi keuangan.

4. Mengubah citra masyarakat (bisnis dan akademik) yang mengaggap bahwa akuntansi hanyalah keterampilan teknik belaka yang dapat diganti dengan komputer.

5. Menunjukan kepada pemula bahwa akuntansi merupakan pengetahuan yang bernalar (logis), memberi tantangan intelektual, dan menyenangkan.

(3)

Pada mata kuliah Pengantar Akuntansi, mahasiswa akan diperkenalkan tentang dasar konsep akuntansi seperti pengertian dan ruang lingkup akuntansi, bidang profesi akuntansi dan persamaan akuntansi, serta cara menyusun laporan keuangan dengan menerapkan persamaan akuntansi dan siklus akuntansi. Kemudian diberikan soal-soal latihan seputar teori dan praktek untuk memperkuat pemahaman mahasiswa tentang dasar akuntansi ini.

Apabila mahasiswa mampu menguasai Pengantar Akuntasi dengan baik, maka ia akan memiliki landasan yang kuat untuk melanjutkan pemebelajarannya ke Akuntansi Keuangan Menengah maupun ke mata kuliah-mata kuliah tahap selanjutnya. Begitu juga sebaliknya. Apabila pemahaman pada Pengantar Akuntansi kurang baik, akan menyulitkan mahasiswa dalam mempelajari Akuntansi Keuangan Menengah. Oleh karena itu, Pemahaman Pengantar Akuntansi memberikan dampak yang signifikan terhadap Pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah.

2.3 Fasilitas Belajar

Fasilitas belajar adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kelancaran proses belajar dan prestasi belajar. Tabrani Rusyan yang dikemukakan oleh Rahmawati (2013) berpendapat bahwa

Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar digolongkan menjadi 2 yaitu faktor internal diri siswa dapat berupa minat, bakat, kecerdasan, persepsi dan lain sebagainya yang berkaitan dengan diri siswa sebagai individu. Dan faktor eksternal yang berupa pengaruh dari lingkungan di sekitarnya yaitu meliputi lingkungan alamiah dan lingkungan sosial budaya, serta lingkungan nonsosial atau instrumental, yang meliputi kurikulum, program, fasilitas belajar, guru.

(4)

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa fasilitas belajar adalah salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi kelancaran proses belajar dan prestasi belajar.

Menurut H.M Daryanto yang dikemukakan oleh Rahmawati (2013), “Secara etimologis fasilitas belajar terdiri dari sarana dan prasarana pendidikan. Sarana adalah alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan prasarana adalah alat yang tidak langsung untuk mencapai tujuan pendidikan”.

Arikunto yang dikemukakan oleh Ischayati (2011) berpendapat bahwa “Fasilitas atau suasana belajar secara garis besar dapat dibedakan atas 2 bagian yaitu fasilitas fisik dan uang”. Fasilitas fisik adalah segala hal berbentuk material yang dapat melancarkan usaha dalam mencapai tujuan. Dalam konteks pembahasan disini, tujuan yang hendak dicapai adalah pemahaman mahasiswa dalam mempelajari Akuntansi Keuangan Menengah. Contoh fasilitas fisik seperti buku pegangan yang memenuhi standar, komputer ataupun laptop, ruang belajar yang kondusif dan lainnya yang dapat melancarkan proses belajar.

Sedangkan fasilitas uang adalah hal yang bersifat materi untuk mendukung ketersediaan fasilitas fisik. Berbagai fasilitas fisik dapat terpenuhi dengan uang. Berikut penejelasan bagaimana fasilitas belajar dapat mempengaruhi pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah.

Pemahaman diperoleh melalui proses belajar yang baik. Kelancaran proses belajar tidak terlepas dari fasilitas belajar yang memadai. Dalam perguruan tinggi, dosen bertugas sebagai fasilitator. Mahasiswa harus meningkatkan membaca buku pegangan dari mata kuliah yang bersangkutan, yaitu buku

(5)

Akuntansi Keuangan Menengah dan buku-buku lain yang mendukung untuk meningkatkan pemahamannya tentang Akuntansi Keuangan Menengah.

Seiring perkembangan zaman, mahasiswa sekarang biasa melakukan

browsing, yaitu menemukan informasi melalui internet. Sekarang ini, internet

tidak hanya bisa diakses melalui komputer ataupun laptop, namun juga dari

smartphone yang hampir keseluruhan mahasiswa memilikinya. Untuk lebih

menghemat biaya, mahasiswa juga dapat menggunakan koneksi internet gratis yang disediakan oleh universitas.

Selain itu, ruang belajar yang kondusif akan membantu mahasiswa untuk fokus dalam menerima materi yang disampaikan oleh dosen sehingga memudahkan mahasiswa dalam memahami materi. Demikian halnya dengan berbagai jenis fasilitas-fasilitas belajar yang lain. Jika digunakan secara bijak, fasilitas-fasilitas tadi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar memudahkan mahasiswa dalam memahami materi-materi perkuliahan.

Dengan demikian, fasilitas belajar merupakan salah satu faktor penentu terlaksananya proses belajar mahasiswa dalam rangka mencapai pemahaman tentang Akuntansi Keuangan Menengah.

2.4 Cara Mengajar Dosen

Sama halnya dengan fasilitas belajar, dosen merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kelancaran proses belajar dan prestasi belajar. Oleh karena itu, cara dosen mengajar dan berperilaku di kelas dapat menentukan tingkat pemahaman mahasiswanya.

(6)

Guru/dosen, ialah orang dewasa yang karena jabatannya secara formal selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat sehingga memungkinkan terciptanya proses pengalaman belajar (learning experience) pada siswa, dengan mengerahkan segala sumber (learning resources) dan menggunakan strategi pembelajaran (teaching-learning strategis) yang tepat. Cara mengajar dosen yang penulis bahas disini adalah dilihat dari bagaimana cara dosen menyampaikan materi perkuliahan dan faktor-faktor yang mendukungnya. Setiap dosen memiliki cara masing-masing dalam mengajar. Dan setiap dosen mempunyai kepribadian yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi cara mengajar mereka.

Menurut Suwarni (2012)

Gaya mengajar dosen membuat mereka bisa menjadi malas belajar atau senang sekali untuk belajar. Kemungkinan yang terjadi adalah apabila mereka menganggap bahwa gaya mengajar dosen memudahkan bagi mereka memahami materi perkuliahan akan memotivasi mereka untuk memiliki rasa ingin tahu yang lebih tinggi. Sebaliknya ketika mereka menganggap bahwa cara mengajar dosen menyulitkan mereka dalam memahami materi perkuliahan, maka akan menurunkan motivasi untuk mengetahui lebih banyak tentang materi perkuliahan.

Berikut beberapa cara mengajar dosen : ada dosen yang hanya membaca buku layaknya mendongeng ; ada dosen yang menjelaskan setiap materi secara mendetail ; ada dosen yang duduk saja saat mengajar ; ada dosen yang selalu berjalan dan membuat interaksi dengan mahasiswanya pada saat mengajar ; ada dosen yang hanya memberi dan menjelaskan materi tanpa memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk bertanya ; ada dosen yang selalu mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa, dll.

Kemudian faktor pendukung yang dimaksudkan penulis adalah hal-hal yang berkaitan dengan pribadi dosen. mulai dari penampilan, cara berbicara, suara sampai tulisannya. Faktor pendukung ini biasanya yang paling terlihat oleh

(7)

mahasiswa. Dosen yang berpenampilan bersih, rapi dan menarik dapat meningkatkan perhatian mahasiswa pada dosen pada saat belajar. Demikian halnya dengan cara berbicara, suara dan tulisan. Dosen yang mengajar dengan suara kuat, tulisan yang rapi dan dapat terbaca, serta cara berbicara yang jelas akan lebih memudahkan mahasiswa dalam memahami materi yang disampaikan selama perkuliahan.

Dari berbagai jenis cara mengajar dosen tersebut, tujuan utamanya adalah menjalin komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa. Komunikasi yang terjalin antara dosen dan mahasiswa haruslah komunikasi dua arah. Dimana mahasiswa mampu untuk memberikan feedback atas apa yang telah dipahami dari materi perkuliahan, seperti mengajukan pertanyaan tentang materi yang baru saja disampaikan dosen. Mengajukan pertanyaan dapat menjadi indikasi bahwa mahasiswa menyimak proses perkuliahan dan cukup mampu memahami materi yang disampaikan dosen. Oleh karena itu, cara mengajar dosen berpengaruh signifikan terhadap pemahaman mahasiswa dalam Akuntansi Keuangan Menengah.

2.5 Perilaku Belajar

Perilaku belajar adalah kegiatan yang berkaitan dengan belajar yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Seperti kata pepatah alah bisa karena biasa. Segala hal yang dibiasakan akan menjadi bagian dari kepribadian atau perilaku kita. Kebiasaan yang baik akan mengkasilkan sesuatu yang baik. Begitu juga sebaliknya.

(8)

Kebiasaan belajar akan memudahkan mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Sebab, tugas utama mahasiswa adalah belajar. Suwardjono yang dikemukakan oleh Rachmi (2010) menyatakan bahwa, “kuliah merupakan ajang untuk mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa dalam proses belajar mandiri. Pengendalian proses belajar lebih penting daripada hasil atau nilai ujian. Jika proses belajar dijalankan dengan baik, nilai merupakan konsekuensi logis dari proses tersebut”.

Belajar bukan hanya sekedar mengejar nilai namun juga untuk memperoleh pemahaman atas apa yang telah dipelajari. Menurut Suwardjono, kuliah identik dengan proses belajar mandiri. Kemandirian dalam belajar didorong oleh kemauan sendiri. Begitu juga hingga belajar itu menjadi kebiasaan. Adanya kesadaran dari dalam diri mahasiswa sangat diperlukan.

Menurut Giyono yang dikemukakan oleh Diabnita (2014) perilaku belajar dapat berlangsung melalui tiga cara, yaitu:

1. Memperoleh reinforcement yang berlangsung menurut pola conditioning. Pengalaman sukses memberikan kesenangan, sehingga menumbuhkan rasauntuk mempertahankan sikap positif terhadap cara belajar yang dilakukandan akhirnya menjadi kebiasaan.

2. Classical Conditioning, sikap dan aktivitas seseorang dapat diubah, sehingga melalui proses belajar dapat dibentuk sikap dan aktivitas (carabelajar) yang lama kelamaan mendarah daging menjadi kebiasaan. 3. Belajar modern, yaitu ada pengajar-pengajar yang dikagumi,

dihormati,dan perilakunya dapat diteladani, serta dipercaya secara merata sehingga cenderung menirunya dan bertindak sama. Apabila model ini mendapat reinforcement terhadap tindakannya, maka akan menjadi kebiasaan.

Menurut Suwardjono yang dikemukakan oleh Nugraha (2013) perilaku belajar yang baik terdiri dari:

(9)

1. Kebiasaan Mengikuti Pelajaran

Kebiasaan mengikuti pelajaran adalah kebiasaan mahasiswa memperhatikan dan menyimak saat pelajaran sedang berlangsung, mencatat hal-hal penting dari pejaran dengan baik dan aktif berpartisipasi didalam kelas.

2. Kebiasaan Membaca Buku

Kebiasaan membaca hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran dengan maksud meningkatkan pemahaman dan memperluas pengetahuan mahasiswa tentang suatu pelajaran.

3. Kunjungan Perpustakaan

Kunjungan ke perpustakaan untuk mencarai referensi tamabahan dari suatu pelajaran. Meskipun sumber referensi ada dimana-mana. Namun perpustakaan adalah tempat paling umum dan memiliki sumber yang lengkap.

4. Kebiasaan Menghadapi Ujian

Kebiasaan menghadapi ujian adalah persiapan yang dilakukan sebelum menghadapi ujian. Setiap ujiandapat dilewati dengan baik apabila persiapannya matang. Persiapan yang matang dilakukan sejak awal mengikuti pelajaran. Belajar yang teratur, disiplin, dan konsentrasi. Dengan demikian perilaku belajar yang baik memudahkan mahasiswa untuk memahami Akuntansi Keuangan Menengah.

2.6 Kemampuan Bahasa Inggris

Bahasa adalah alat yang digunakan untuk memperlancar komunikasi. Melalui bahasa kita dapat menyampaikan kehendak kita kepada orang yang kita tuju secara jelas. Bahasa mempermudah kita untuk bersosialisasi dengan banyak orang.

Menurut Suwarna yang dikemukakan oleh Hayutami (2012) “Bahasa merupakan alat utama untuk berkomunikasidalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif sosial”.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan/Online (KBBI Daring) Edisi III kemampuan bahasa adalah “Kemampuan seseorang menggunakan bahasa yang memadai dilihat dari sistem bahasa. Maka,

(10)

kemampuan Bahasa Inggris adalah kemampuan seseorang menggunakan Bahasa Inggris yang memadai dilihat dari sistem bahasa”.

Ilmu akuntansi saat ini adalah ilmu yang diadopsi dari Amerika. Oleh karena itu publikasinya menggunakan Bahasa Inggris. Istilah-istilah akuntansinyapun tentu dalam Bahasa Inggris. Untuk mempelajari akuntansi secara mendalam langsung dari sumbernya dibutuhkan kemampuan Bahasa Inggris yang memadai. Untuk terus mengikuti perkembangan ilmu akuntansi, kemampuan Bahasa Inggris tak terlepas dari hal yang harus dimiliki.

Demikian juga dengan Akuntansi Keuangan Menengah. Dengan Kemampuan Bahasa Inggris, mahasiswa akan lebih mudah untuk memahami mata kuliah ini. Sedikit banyaknya, mahasiswa akan terbantu dalam mengerjakan soal-soal dan memperoleh referensi dari buku-buku teks yang berBahasa Inggris.

Bagi mahasiswa, buku akuntansi dalam terjemahan Bahasa Indonesia dapat dijadikan pendamping dalam mempelajari buku utama yang berBahasa Inggris tanpa mengabaikan sumber aslinya.

2.7 Pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah

Paham dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti pandai dan mengerti benar (tentang suatu hal). Sedangkan pemahaman adalah proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. Ini berarti seseorang yg memiliki pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah adalah orang yang pandai dan mengerti benar tentang Akuntansi Keuangan Menengah.

Akuntansi Keuangan Menengah adalah mata kuliah yang dipelajari setelah Pengantar Akuntansi. Di Universitas Sumatera Utara, mata kuliah Akuntansi

(11)

Keuangan Menengah dipelajari dalam dua tahap yaitu Akuntansi Keuangan Menengah I di semester III dan Akuntansi Keuangan Menengah II di semester IV.

Secara garis besar, Akuntansi Keuangan Menengah membahas tentang konsep dasar dari akun-akun dalam laporan keuangan perusahaan dengan materi tentang pelaporan keuangan, laporan laba/rugi serta perubahan ekuitas, neraca serta catatan atas laporan keuangan, laporan arus kas, kas dan piutang, persediaan, utang dan investasi. Berarti mahasiswa yang memahami Akuntansi Keuangan Menengah harus menguasai materi-materi diatas.

Dalam hal ini pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah akan diukur dengan menggunakan nilai Akuntansi Keuangan Menengah I dan Akuntansi Keuangan Menengah II yang pertama kali diperoleh oleh mahasiswa.

2.8 Keahlian Intelektual

Berdasarkan KBBI Daring Edisi III, intelektual adalah :

1. Cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; 2. (yang) mempunyai kecerdasan tinggi; cendikiawan;

3. totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman.

Menurut Super & Cites yang dikemukakan oleh Dalyono (1997:182), “Intelektual sering didefinisikan sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman”. Namun menurut Garret yang dikemukakan oleh Dalyono (1997:183) pengertian tersebut terlalu luas. Maka menurutnya “Intelektual itu setidaknya mencakup kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan masalah-masalah yang memerlukan pengertian serta menggunakan simbol-simbol”.

(12)

Slameto yang dikemukakan oleh Andriani (2011) mengatakan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan intelektual indivindu, yaitu:

1. Keturunan

Studi korelasi nilai-nilai tes intelegensi diantara anak dan orang tua, atau dengan kakek-neneknya, menunjukkan adanya pengaruh faktor keturunan terhadap tingkat kemampuan mental seseorang sampai dengan tingkat tertentu.

2. Latar belakang sosial ekonomi

Pendapat keluarga, pekerjaan orang tua dan faktor-faktor sosial ekonomi lainnya berkorelasi positif dan cukup tinggi dengan taraf kecerdasan individu mulai usia 3 tahun sampai dengan remaja.

3. Lingkungan hidup

Lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan keahlian intelektual yang kurang baik pula.

4. Kondisi fisik

Keadaan gizi yang kurang baik, kesehatan yang buruk, perkembangan fisik yang lama menyebabkan tingkat kemampuan mental yang rendah. 5. Iklim emosi

Iklim emosi dimana individu dibesarkan mempengaruhi perkembangan mental individu yang bersangkutan.

“Keahlian intelektual adalah kecenderungan yang menekankan pada kemampuan akal dimana mencakup beberapa faktor antara lain: ingatan, pengenalan, evaluasi, berfikir dan lain-lain” (Guilford yang dikemukakan oleh Basuki, 2014).

Dalam belajar, keahlian intelektual sering sekali disangkutpautkan dengan kemampuan pemahaman terhadap suatu pelajaran. Sesuai pengertiannya, keahlian intelektual menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kinerja dan kemampuan akal dalam memproses berbagai hal. Dan pemahaman merupakan suatu kegiatan yang juga mengandalkan kemampuan akal dalam prosesnya.

Oleh karena itu, keahlian intelektual menjadi variabel yang dapat memperkuat pemahaman mahasiswa dalam mempelajari Akuntansi Keuangan

(13)

Menengah. Stone dan Stelly yang dikemukakan oleh Basuki (2014) menyatakan bahwa

Keahlian intelektual dalam akuntansi meliputi empat hal, yaitu cognitive

complexity adalah kemampuan untuk menelaah beberapa perbedaan

perspektif dan selanjutnya mengintegrasikan perspektif tersebut pada suatu analisa pemikiran yang baik, ability to identify accounting-related

information resources adalah pola pemikiran kritis yang mendasar sehingga

mampu mengolah informasi yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan akuntansi, problem structuring and written communication

skills disebut sebagai kemampuan dalam mengorganisir serta menyusun

solusi permasalahan dengan baik dan benar disertai dengan adanya kapabilitas terhadap profesialisme.

2.9 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Pada beberapa penelitian terdahulu menyatakan mata kuliah Pengantar Akuntansi memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi maupun pemahaman mahasiswa akuntansi pada mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah. Masing-masing penelitian juga menyatakan faktor-faktor lain berpengaruh terhadap prestasi maupun pemahaman mahasiswa akuntansi pada mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah. Berikut tinjauan penelitian terdahulu yang berkaiatan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi maupun pemahaman mahasiswa akuntansi pada mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah.

(14)

Tabel 2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu

NO KETERANGAN PENELITIAN HASIL PENELITIAN

1 Faridah (2003) dengan judul penelitian :

Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Prestasi Belajar dalam Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Menengah

Variabel Dependen:

Prestasi Akuntansi Keungan Menengah

Variabel Independen:

Kebiasaan Belajar, Ability and

Effort, Intellectual Skill, Prestasi

selain Akuntansi Keuangan Menengah, High School Grade dan College Grades

1. Keseluruhan variabel independen berpengaruh terhadap prestasi dalam Akuntansi Keuangan Menengah dan mendukung hipotesis penelitian.

2. Prestasi selain Akuntansi Keuangan Menengah dan High

School Grade memiliki

pengaruh signifikan.

2 Elaine Waples dan Musa Darayseh (2005) dengan judul penelitian: Determinant of Student’s Perfomance in Intermediate Accounting Variabel Dependen: Student’s Perfomance in Intermediate Accounting Variabel Independen:

Grade Point Average at University before Enrolling in Intermediate Accounting, Score on Diagnostic Assesment, Passing Grade in Introductory Financial Accounting, Passing Grade in Introductory Managerial Accounting

The results of this study show that proper foundation in basic financial accounting knowledge (measured by a diagnostic assessment) and overall level of academic ability (measured by cumulative GPA) are both important indicators of success in the first intermediate accounting class.

(15)

3 Donny Iskandarsyah (2012) dengan judul penelitian: Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Prestasi Mahasiswa dalam Memepelajari Akuntansi Keuangan Menengah (Studi empiris pada mahasiswa Jurusan Akuntansi Reguler di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro tahun angkatan 2009 dan 2010)

Variabel Dependen: Prestasi Mahasiswa dalam Mempelajari AKM

Variabel Independen:

Gaya Mengajar Dosen, Asistensi kepada Mahasiswa, Struktur Perkuliahan, Fasilitas Belajar dan Mengajar.

1. Teaching style (gaya

mengajar dosen) berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi mahasiswa dalam mempelajari AKM. 2. Assistance to students

(asistensi kepada mahasiswa) berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi mahasiswa dalam AKM. 3. Course structure (struktur

perkuliahan) berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi mahasiswa dalam mempelajari AKM.

4. Fasilitas belajar dan mengajar yang disediakan oleh fakultas berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi mahasiswa dalam mempelajari AKM.

4 Inge Andriani (2011) denganjudul penelitian:

Faktor-Faktor yang Memepengaruhi Prestasi

Mahasiswa Akuntansi (Pada Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Menengah) di Universitas Bengkulu

Variabel Dependen: Prestasi pada Mata Kuliah

Akuntansi Keuangan Menengah 1 Variabel Independen:

Kemampuan, Usaha, Keahlian Intelektual dan Pemahaman Pengantar Akuntansi

1. Usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi mahasiswa pada mata kuliah Akuntansi Keuangan

Menengah

2. Kemampuan, Keahlian Intelektual dan Pemahaman Pengantar Akuntansi berpengaruh positif namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi mahasiswa pada mata kuliah Akuntansi Keuangan

(16)

2.10. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka konseptual akan menjadi gambaran yang

5 `

Isni Ischayati (2011) dengan judul penelitian:

Pengaruh Persepsi Mahasiswa Mengenai Kompetensi Dosen dan Fasilitas Belajar terhadap

Motivasi Belajar Akuntansi Keuangan Menengah pada Mahasiswa FKIP-UMS PROGDI Pendidikan Akuntansi Angkatan 2008/2009

Variabel Dependen: Motivasi Belajar AKM Variabel Independen:

Persepsi mengenai Kompetensi Dosen dan Fasilitas Belajar

1. Persepsi mahasiswa mengenai kompetensi dosen dan fasilitas belajar secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap motivasi belajar mahasiswa. 2. Hasil perhitungan

menunjukkan kontribusi persepsi mahasiswa mengenai kompetensi dosen sebesar 7,89% dan kontribusi fasilitas belajar sebesar 9,71%.

6 Eling Basuki (2014) dengan judul penelitian:

Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Prestasi Belajar Mahasiswa Akuntansi (pada Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Menengah) di Universitas Bengkulu

Variabel Dependen: Prestasi pada Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Menengah Variabel Independen:

Kemampuan, Usaha, Keahlian Intelektual, Pemahaman Pengantar Akuntansi dan Fasilitas.

1. Pemahaman Pengantar Akuntansi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi mahasiswa pada mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah 1 dan 2.

2. Kemampuan, usaha, keahlian intelektual dan fasilitas tidak berpengaruh positif terhadap prestasi mahasiswa pada mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah 1 dan 2.

(17)

menjelaskan hubungan antara variabel-variabel penelitian, yaitu antara variabel dependen dan independen serta variabel lain yang menyertainya.

Untuk memudahkan penelitian, berdasarkan masalah penelitian yang ada, maka peneliti membuat gambaran kerangka konseptual untuk memperjelas arah dari penelitian. Berikut terlampir pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Keahlian Intelektual (X6) Variabel Moderating Pemahaman Mahasiswa tentang Akuntansi Keuangan Menengah (Y) Pemahaman Pengantar Akuntansi (X1) Fasilitas Belajar (X2)

Cara Mengajar Dosen (X3) Perilaku Belajar (X4) Variabel Independen Variabel Dependen Kemampuan Bahasa Inggris (X5)

(18)

Berdasarkan gambar diatas, dapat dijelaskan bahwa penelitian ini terdiri atas variabel independen (X), yaitu pemahaman Pengantar Akuntansi(X1), fasilitas belajar (X2), cara mengajar dosen (X3), perilaku belajar (X4) dan kemampuan Bahasa Inggris (X5) yang memepengaruhi variabel dependen (Y) yaitu, tingkat pemahaman mahasiswa dalam mempelajari Akuntansi Keuangan Menengah. Dengan keahlian intelektual sebagai variabel pemoderasinya (X6).

Pada penelitian-penelitian terdahulu, hanya dilakukan pengujian pengaruh antara varabel-variabel independen dengan variabel dependen. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk menambahkan variabel pemoderasi untuk mencoba uji pengaruh yang berbeda dari hasil-hasil penelitian sebelumnya. Dimana, akan dilakukan pengujian terhadap keahlian intelektual sebagai variabel moderating (X6) apakah memilki pengaruh (memperkuat atau memperlemah) hubungan pengaruh antara varabel-variabel independen dengan variabel dependen.

2.11 Hipotesis Penelitian

Hipotesis didefinisikan sebagai “Jawaban sementara terhadap permasalahan yang dipertanyakan. Disamping itu, hipotesis juga merupakan pernyataan dugaan tentang hubungan antara dua atau lebih variabel” (Ikhsan, 2008:69).

Menurut Ikhsan (2008:70), untuk menentukan hipotesis peneliti harus mempertimbangkan beberapa kriteria berikut :

1. Hipotesis harus berupa pertanyaan yang mengarah pada tujuan penelitian. 2. Hipotesis harus berupa pernyataan yang dirumuskan dengan maksud

untuk dapat diuji secara empiris.

3. Hipotesis harus berupa pernyataan yang dikembangkan berdasarkan teori-teori yang lebih kuat dibandingkan dengan hipotesis saingan.

(19)

2.11.1 Pengaruh pemahaman Pengantar Akuntansi, fasilitas belajar, cara mengajar dosen, perilaku belajar dan kemampuan Bahasa Inggris terhadap pemahaman mahasiswa tentang Akuntansi Keuangan Menengah

Menurut teori belajar kognitivistik, pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sangat menentukan keberhasilan mempelajari informasi/pengetahuan yang baru (Siregar dan Nara:2010:31). Demikian dengan akuntansi. Dalam perkuliahan, pemahaman dasar ilmu akuntansi didapatkan pada mata kuliah Pengantar Akuntansi. Sebagai dasar ilmu akuntansi maka pemahaman pada Pengantar Akuntansi memiliki pengaruh terhadap pemahaman pada Akuntansi Keuangan Menengah.

Berbagai hasil penelitian menyatakan bahwa Pengantar Akuntansi memiliki pengaruh terhadap pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah. Menurut Andriani (2011), pemahaman Pengantar Akuntansi memiliki pengaruh positif tetapi tidak secara signifikan terhadap mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah.

Kemudian dilakukan lagi penelitian oleh Basuki (2014) dari universitas yang sama, pemahaman Pengantar Akuntansi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah. Dengan pemahaman yang baik pada Pengantar Akuntansi, mahasiswa memiliki peluang lebih besar untuk berprestasi pada Akuntansi Keuangan Menengah.

(20)

Selanjutnya faktor fasilitas belajar yang merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah. Tabrani Rusyan yang dikemukakan oleh Rahmawati (2013) berpendapat bahwa

Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar digolongkan menjadi 2 yaitu faktor internal diri siswa dapat berupa minat, bakat, kecerdasan, persepsi dan lain sebagainya yang berkaitan dengan diri siswa sebagai individu. Dan faktor eksternal yang berupa pengaruh dari lingkungan di sekitarnya yaitu meliputi lingkungan alamiah dan lingkungan sosial budaya, serta lingkungan nonsosial atau instrumental, yang meliputi kurikulum, program, fasilitas belajar, guru.

Berbagai penelitian mengenai pengaruh fasilitas belajar terhadap pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah telah dilakukan. Salah satunya hasil penelitian dari Ischayati (2011) menyatakan bahwa fasilitas belajar mempengaruhi motivasi belajar Akuntansi Keuangan Menengah. Hal ini terbukti dari hasil uji t yang memperoleh nilai probabilitas sebesar 0,003 lebih kecil dari taraf signifikansi 5% (0,05).

Kemudian faktor lainnya yang mempengaruhi pemahaman Akuntansi Keuangan Menengah adalah cara menagajar dosen. Setiap dosen memiliki metode atau cara mengajarnya masing-masing. Dimana metode atau cara mengajar dosen dapat memberi pengaruh terhadap pemahaman mahasiswanya dalam belajar.

Menurut Suwarni (2012),

Gaya mengajar dosen membuat mereka bisa menjadi malas belajar atau senang sekali untuk belajar. Kemungkinan yang terjadi adalah apabila mereka menganggap bahwa gaya mengajar dosen memudahkan bagi mereka memahami materi perkuliahan akan memotivasi mereka untuk memiliki rasa ingin tahu yang lebih tinggi. Sebaliknya ketika mereka menganggap bahwa cara mengajar dosen menyulitkan mereka dalam memahami materi perkuliahan, maka akan menurunkan motivasi untuk mengetahui lebih banyak tentang materi perkuliahan.

(21)

Menurut Ischayati (2011) persepsi mahasiswa mengenai kompetensi dosen berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Akuntansi Keuangan Menengah. Ini terbukti dari hasil uji t yang memperoleh nilai probabilitas sebesar 0.009 lebih kecil dari taraf signifikansi 5% (0,05).

Dari sisi lain, perilaku belajar mahasiswa juga berpengaruh terhadap pemahaman mahasiswa tentang Akuntansi Keuangan Menengah. Perilaku belajar adalah kegiatan yang berkaitan dengan belajar yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Perilaku belajar itu sendiri dapat terwujud dengan adanya motivasi. Motivasi tersebut dikolaborasikan dengan kedisiplinan sehingga menghasilkan perilaku belajar yang baik.

Dengan perilaku belajar, mahasiswa dapat meningkatkan pemahamannya tentang suatu pelajaran. Karena belajar telah menjadi kebiasaan atau hal yang spontan dilakukan. Bukan dianggap sebagai paksaan.

Selanjutnya kemampuan Bahasa Inggris. Menurut Suwarna yang dikemukakan oleh Hayutami (2012) “Bahasa merupakan alat utama untuk berkomunikasi dalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif sosial”. Sederhananya, bahasa adalah alat untuk berkomunikasi.

Bahasa memudahkan kita untuk memahami maksud dari suatu hal. Begitu juga dalam belajar. Buku dengan bahasa yang komunikatif akan lebih memudahkan penggunanya dalam memahami isi buku tersebut.

Dalam akuntansi, yang notabene merupakan ilmu yang diadopsi dari Amerika menggunakan Bahasa Inggris dalam bukunya. Berbagai istilah akuntansi juga dalam Bahasa Inggris. Dengan demikian, kemampuan Bahasa

(22)

Inggris dibutuhkan untuk memahami akuntansi lebih dalam langsung dari sumber aslinya.

Meskipun sekarang ini sudah banyak buku akuntansi yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia, itu adalah hasil adopsi dari buku teks asli yang berBahasa Inggris. Sebagian yang lain menggunakan referensi dari buku teks asli yang berBahasa Inggris juga.

Dari uraian diatas, maka penelitian ini mengajukan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Pemahaman Pengantar Akuntansi, fasilitas belajar, cara mengajar dosen, perilaku belajar dan kemampuan Bahasa Inggris berpengaruh secara silmultan ataupun parsial terhadap pemahaman mahasiswa tentang Akuntansi Keuangan Menengah.

2.11.2 Keahlian intelektual memoderasi pengaruh Pemahaman Pengantar Akuntansi, fasilitas belajar, cara mengajar dosen, perilaku belajar dan kemampuan Bahasa Inggristerhadap Pemahaman mahasiswa tentang Akuntansi Keuangan Menengah

“Keahlian intelektual adalah kecenderungan yang menekankan pada kemampuan akal dimana mencakup beberapa faktor antara lain: ingatan, pengenalan, evaluasi, berfikir dan lain-lain” (Guilford yang dikemukakan oleh Basuki, 2014).

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata paham berarti pandai dan mengerti benar (tentang suatu hal). Sedangkan pemahaman adalah

(23)

proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. Dalam belajar, keahlian intelektual sering sekali disangkutpautkan dengan kemampuan pemahaman terhadap suatu pelajaran. Sesuai pengertiannya, keahlian intelektual menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kinerja dan kemampuan akal dalam memproses berbagai hal. Dan pemahaman merupakan suatu kegiatan yang juga mengandalkan kemampuan akal dalam prosesnya.

Oleh karena itu, keahlian intelektual menjadi variabel yang dapat memperkuat pengaruh pemahaman akuntansi terhadap tingkat pemahaman mahasiswa dalam mempelajari Akuntansi Keuangan Menengah.

Kelengkapan dan kesesuaian fasilitas belajar dapat menentukan berhasil atau tidaknya proses belajar. Proses belajar bisa saja terhambat karena fasilitas belajr yang tidak lengkap atau kurang memadai. Begitu juga sebaliknya, fasilitas belajar yang lengkap dan memadai menjadi salah satu syarat kelancaran proses belajar.

Namun tidak selalu ketersediaan fasilitas belajar serta merta mendukung kemampuan pemahaman mahasiswa. Sebab tingkat pemahaman dipengaruhi oleh tingkat intelektual masing-masing. Adakalanya, mahasiswa dengan tingkat intelektual tinggi, tanpa fasilitas yang memadai dapat mencapai tingkat pemahaman yang sama dengan mahasiswa yang memiliki tingkat intelektual rendah dengan fasilitas lengkap. Maka keahlian intelektual dapat memperkuat efektivitas penggunaan fasilitas belajar.

Berbagai uraian tentang dosen dan cara mengajarnya telah dijelaskan sebelumnya. Dengan berbagai jenis metode dan cara mengajar dosen yang ada,

(24)

mempengaruhi bagaimana mahasiswa menerima pembelajaran itu sendiri. Ini berlaku jika keahlian intelektual mahasiswa tidak diperhitungkan.

Namun bagaimana jika keahlian intelektual menjadi variabel yang diperhitungkan? Ya, keahlian intelektual setiap orang itu berbeda-beda. mahasiswa dengan keahlian inteltual yang baik cenderung lebih mudah memahami pembelajaran yang disampaiakan oleh dosen dengan berbagai cara mengajarnya.

Berbeda dengan mahasiswa yang memiliki keahlian intelektual yang kurang baik. Mereka cenderung lebih lama untuk memahami pembelajaran yang disampaikan oleh dosen dengan cara mengajar yang sama dengan mahasiswa dengan keahlian intelektual yang baik.

Kemudian dilihat dari sisi mahasiswa adalah perilaku belajar. Perilaku belajar adalah kegiatan yang berkaitan dengan belajar yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Belajar adalah kegiatan yang menuntut pemahaman. Kecepatan dalam memahami sesuatu saat belajar berkaitan dengan keahlian intelektual, dimana keahlian intelektual setiap orang berbeda-beda. Dengan demikian, dengan perilaku belajar yang sama bisa memberi hasil yang berbeda sesuai dengan keahlian intelektualnya.

Selanjutnya, Bahasa Inggris yang notabene bukanlah bahasa nasional Indonesia, membutuhkan proses lagi untuk mempelajarinya. Bahasa Inggris juga merupakan bahasa internasional yang dipakai lintas negara dan benua. Dengan pengucapan yang berbeda, kosa kata yang berbeda dan tata bahasa yang berbeda

(25)

dari bahasa Indonesia, tidak semua orang bisa menguasai Bahasa Inggris dengan baik meskipun telah mempelajarinya sejak duduk dibangku sekolah dasar.

Ini dipengaruhi keahlian intelektual setiap orang yang berbeda-beda. Sama halnya dengan belajar mata pelajaran lain, keahlian intelektual mempengaruhi kemampuan satiap orang dalam mempelajari Bahasa Inggris.

Dalam akuntansi, yang notabene merupakan ilmu yang diadopsi dari Amerika menggunakan Bahasa Inggris dalam bukunya. Berbagai istilah akuntansi juga dalam Bahasa Inggris. Dengan demikian, kemampuan Bahasa Inggris dibutuhkan untuk memahami akuntansi lebih dalam langsung dari sumber aslinya.

Maka dari uraian diatas, maka penelitian ini mengajukan hipotesis sebagai berikut :

H2 : Keahlian intelektual memoderasi pengaruh pemahaman Pengantar Akuntansi, fasilitas belajar, cara mengajar dosen, perilaku belajar dan kemampuan Bahasa Inggris terhadap pemahaman mahasiswa tentang Akuntansi Keuangan Menengah.

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Konseptual  Keahlian Intelektual  (X6) Variabel Moderating  Pemahaman Mahasiswa tentang Akuntansi Keuangan Menengah (Y) Pemahaman Pengantar Akuntansi (X1) Fasilitas Belajar (X2)

Referensi

Dokumen terkait

Bagi peserta pengadaan barang dan jasa yang keberatan atas hasil tersebut dapat mengajukan.. sanggahan

adalah apakah ekstrak siwak sebagai obat kumur efektif dalam mengurangi akumulasi plak. 1.3

Kejuaraan pencak silat ini menjadi event tahunan / untuk membina sejumlah atlit yang berada dibawah bimbingan mahasiswa UIN // Hal ini disampaikan oleh pendiri pencak silat

[r]

Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi kinerja manajerial kepala sekolah, penelitian ini hanya akan fokus membahas tentang pengaruh motivasi kerja dan iklim

Berdasarkan rekapitulasi emisi karbon pada tahun 2000, penutupan hutan gambut sekunder menghasilkan nilai emisi karbon tertinggi 161.869 ton hal ini disebabkan

Pembangkit Bilangan Acak Semu atau yang biasa disebut dengan Pseudo Random Number Generator (PRNG) adalah sebuah algoritma yang umum digunakan pada kriptografi.. Dengan

Analisis kualitatif diuraikan secara deskriptif yaitu untuk mengetahui dan menjelaskan mengenai gambaran umum, keragaan usaha, aspek pasar, teknis, sosial, ekonomi dan