• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Data jenis cacat yang terjadi pada proses produksi di CV. Abadi Jaya diambil. Tabel 4.1 Pengumpulan Data BULAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Data jenis cacat yang terjadi pada proses produksi di CV. Abadi Jaya diambil. Tabel 4.1 Pengumpulan Data BULAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Hasil Pengumpulan Data

Data jenis cacat yang terjadi pada proses produksi di CV. Abadi Jaya diambil dari hasil audit proses produksi periode Januari 2005-September 2005 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Pengumpulan Data No. Jenis Cacat 1 2 3 BULAN 4 5 6 7 8 9 Total Cacat 1. Bintik 50 35 30 15 20 24 32 28 26 260 2. Kasar 35 21 35 21 32 10 12 25 28 219 3. Baret 30 22 27 29 18 15 18 14 23 196 4. Ngeplex 15 24 31 21 23 20 22 25 21 179 5. Belang 20 25 12 24 25 31 23 26 24 210 6. Buram 24 32 21 26 30 26 21 21 29 230 7. Tipis 32 30 23 26 23 25 25 21 34 239 8. Galang 28 29 35 24 22 27 21 24 27 237

(2)

0 50 100 150 200 250 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Galang Tipis Buram Belang Lecet Baret Kasar Bintik

Gambar 4.1 Grafik Pengumpulan Data 4.1.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan Data dilakukan secara langsung di lantai produksi CV.Abadi

Jaya.

A. Bintik

Bintik tinta yang sudah kering yang menonjol di permukaan, disebabkan oleh plat yang kurang bersih saat dicuci, dapat dihilangkan dengan spon yang diolesi dengan plat cleaner.

(3)

Tabel A. Cacat Bintik

No. Penyebab Jumlah %

1. Penyinaran Plat Kurang Sempurna 39 15 %

2. Blanket Over Jump 65 25 %

3. Kelelahan Operator 91 35 %

4. Tinta Yang Kering 39 15 %

5. Rol tinta yang sudah mengeras 26 10 %

B. Kasar

Hasil cetakan yang kasar karena adanya debu atau kotoran yang menempel di permukaan kertas yang belum kering atau masih basah. Akibat yang ditimbulkannya adalah warna menjadi kurang tajam.

Tabel B. Cacat Kasar

No. Penyebab Jumlah %

1. Kertas dengan mutu yang rendah 77 35 %

2. Ruangan Kotor 65 30 %

3. Kualitas tinta yang kurang baik 77 35 %

C. Baret

Hasil cetakan yang tergores yang seringkali ditimbulkan oleh roda-roda aparat yang terlalu menekan yang terdapat di dalam mesin cetak.

(4)

Tabel C. Cacat Baret

No. Penyebab Jumlah %

1. Kelalaian Operator 108 55%

2. Plat yang sudah tergores 88 45%

D. Ngeplex

Ngeplex terjadi bila cetakan yang dicetak itu berupa blok(raster 100%) tidak diberikan powder yang cukup, maka akan menimbulkan cetakan yang satu akan saling tindih dengan cetakan yang lain

Tabel D. Cacat Ngeplex

No. Penyebab Jumlah %

1. Tinta yang belum kering karena

cetakan ditumpuk terlalu tinggi

54 30 %

2. Cetakan yang belum kering

dipotong

54 30 %

3. Kelalaian operator karena kurang

memberikan powder yang cukup

(5)

E. Belang

Perbedaan intensitas warna karena proses yang dilakukan oleh operator tidak sempurna, karena kendala dari setelan tinta yang berubah-ubah atau tidak stbail

Tabel E. Cacat Belang

No. Penyebab Jumlah %

1. Setelan tinta yang tidak merata 105 50%

2. Rol tinta yang sudah aus 105 50%

F. Buram

Buram terjaadi karena terjadinya perbedaan warna yang tidak stabil yang dilakukan operator melalui CPC, hal ini bias dihilangkan dengan menggunakan minyak pembersih yang dinamakan minyak RWA.

Tabel F. Cacat Buram

No. Penyebab Jumlah %

1. Kelalaian operator dalam

menyetel CPC(Control Process

Unit)

138 60%

2. Film cetak yang dibuat tidak

sesuai dengan contoh yang diberikan

(6)

G. Tipis

Bagian cetakan yang mempunyai ketebalan warna yang tidak merata, dikarenakan setelan skala tinta tidak dibuka dan akibat yang ditimbulkannya adalah warna cetakan menjadi tipis.

Tabel G. Cacat Tipis

No. Penyebab Jumlah %

1. Penyetelan skala tinta yang kurang

sempurna

71 30 %

2. Penyinaran Plat terlalu lama 84 35 %

3. Pencucian plat terlalu lama 84 35 %

H. Galang

Galang berarti setelan tinta yang dilakukan oleh operator kurang pas. Galang kadang-kadang juga dipengaruhi faktor rol air, kalau rol air sudah botak atau sudah aus maka bisa menimbulkan galang

Tabel H. Cacat Galang

No. Penyebab Jumlah %

1. Setelan tinta yang kurang pas 71 30 %

2. Faktor rol air yang sudah aus 84 35 %

3. Pencampuran tinta yang dilakukan

operator kurang sempurna

(7)

Berikut ini adalah keterangan data jenis cacat yang paling umum ditemukan dalam proses produksi CV. Abadi Jaya adalah sebagai berikut:

A. Bintik

Bintik tinta yang sudah kering yang menonjol di permukaan, disebabkan oleh plat yang kurang bersih saat dicuci, dapat dihilangkan dengan spon yang diolesi dengan plat cleaner.

B. Kasar

Hasil cetakan yang kasar karena adanya debu atau kotoran yang menempel di permukaan kertas yang belum kering atau masih basah. Akibat yang ditimbulkannya adalah warna menjadi kurang tajam.

C. Baret

Hasil cetakan yang tergores yang seringkali ditimbulkan oleh roda-roda aparat yang terlalu menekan yang terdapat di dalam mesin cetak.

D. Ngeplex

Ngeplex terjadi bila cetakan yang dicetak itu berupa blok(raster 100%) tidakdiberikan powder yang cukup, maka akan menimbulkan cetakan yangsatu akan saling tindih dengan cetakan yang lain.

E. Belang

Perbedaan intensitas warna karena proses yang dilakukan oleh operator tidak sempurna, karena kendala dari setelan tinta yang berubah-ubah atau tidak stbail.

(8)

F. Buram

Buram terjaadi karena terjadinya perbedaan warna yang tidak stabil yang dilakukan operator melalui CPC(Control Process Unit), hal ini bias dihilangkan dengan menggunakan minyak pembersih yang dinamakan minyak RWA.

G. Tipis

Bagian cetakan yang mempunyai ketebalan warna yang tidak merata, dikarenakan setelan skala tinta tidak dibuka dan akibat yang ditimbulkannya adalah warna cetakan menjadi tipis.

H. Galang

Galang berarti setelan tinta yang dilakukan oleh operator kurang pas. Galang kadang-kadang juga dipengaruhi faktor rol air, kalau rol air sudah botak maka bisa menimbulkan galang. Galang yang dimaksud adalah suatu cetakan yang bergaris-garis.

4.2 Analisis Data

Analisis Data yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode /alat-alat

yang terdapat dalamTQM( Total Quality Managment) adalah sebagai berikut:

4.2.1 Diagram Pareto

Dari data yang diperoleh dari departemen Produksi terdapat banyak jeniscacat yang kemudian dapat diurutkan berdasarkan prosentase kejadian dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dan dapat digambarkan dalam diagram pareto sebagai berikut ini:

(9)

Diagram Pareto 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40%

Penyebab Terjadinya Cacat

P e rs e n ta s e K e ja d ia

n Penyinaran plat kurang

sempurna

Blanket Over Jump Kelelahan Operator Tinta Yang Kering Rol tinta yang sudah mengeras

Gambar 4.2.1 Digaram Pareto

Dengan diagram pareto maka kita dapat menganalisa sebab-sebab terjadinya bintik diantaranya adalah:

4.2.1.1 Penyinaran Plat Kurang Sempurna

Penyinaran plat kurang sempurna dikarenakan kurang atau lebihnya waktu penyinaran plat yang dilakukan oleh operator, sehingga menimbulkan bintik yang samar-samar terdapa di dalam plat yang pada akhirnya naik cetak akan menimulkan cacat bintik.

4.2.1.2 Blanket Over Jump

Blanket yang rusak dikarenakan kertas yang masuk silinder mesin sehingga

dapat terjadi kerusakan di blanket yaitu blanket menjadi rusak (cacat). Akibat yang ditimbulkannya adalah dengan kertas yang masuk di silinder maka blanket akan

(10)

mengalami bekas dari kertas tersebut dan bila melakukan proses percetakan maka akan menimbulkan cacat bintik yang diakibatkan oleh kertas tersebut.

4.2.1.3 Kesalahan Operator

Kesalahan operator karena disebabkan oleh kurang kontrol terhadap produk cetakan dan kurang pengalaman dari operator itu sendiri.

4.2.1.4 Faktor Tinta Yang Kering

Tinta yang kering ini disebabkan oleh terlalu lamanya tinta dibuka dan tidak ditutup kembali. Dan akibat yang ditimbulkannya adalah bila tinta yang kering itu walaupun bisa dipakai tetap akan menghasilkan cetakan yang berbintik, hal ini disebabkan oleh di dalam tinta itu sendiri sudah terjadi proses pengerasan zat tinta.

4.2.1.5 Rol tinta yang sudah mengeras

Rol yang sudah mengeras disebabkan oleh tidak bersihnya pencucian rol yang dilakukan operator. Akibat yang ditimbulkannya adalah bekas tinta yang sudah mengeras bersama rol pada waktu pencetakan akan mengeluarkan serbuk yang pada akhirnya akan menjadi bintik yang menempel di permukaan cetakan.

4.2.2 Histogram

Histogram digunakan membuat diagram batang tentang jumlah cacat bintik

dari data audit peride januari 2005 – september 2005. Dengan histogram maka akan lebih mudah dilihat distribusi frekuensi atau data yang ada untuk melihat beragam persoalan, dimana dalam gambar akan terlihat harga dan derajat penyebarannya,

(11)

selain itu juga akan lebih mudah dalam melihat jenis data yang mempunyai frekuensi tertinggi maupun yang terndah dalam suatu persoalan.

Histogram 0 10 20 30 40 50 60 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Penyebab Terjadinya Cacat

Fre k ue ns i K e ja di a

n Penyinaran plat kurang

sempurna

Blanket Over Jump kelelahan operator Tinta Yang kering rol tinta yang sudah mengeras

Gamabr 4.2.2 Histogram

Analisa dengan menggunakan histogram adalah kita dengan mudah dapat mengetahui jumlah cacat bintik dan penyebabnya itu seperti apa. Kita juga dapat mengetahui jumlah frekunensi cacat bintik yang terjadi pada suatu cetakan dalam kurun waktu tertentu.

4.2.3 Diagram Sebab-Akibat (Diagram Fishbone)

Diagaram Sebab-Akibat merupakan salah satu dari banyak alat yang dapat membantu mengidentifikasi lokasi yang mungkin dari terjadinya masalah-masalah mutu dan lokasi pemeriksaan, yang juga disebut Diagaram Ishikawa atau Diagaram Tulang Ikan(Fishbone).

(12)

Dalam menentukan faktor-faktor penyebab utama dari cacat belang ini , maka untuk memudahkan pengamatan dilakukan terhadap faktor-faktor utama yang mempengaruhi berlangsungnya proses produksi yaitu: manusia, mesin, material(bahan baku), metode dan lingkungan. Dari kelima faktor tersebut diatas, hanya ada 4 faktor yang menyebabkan terjadinya cacat tersebut, yaitu: manusia, mesin, metode dan lingkungan.

Faktor Material tidak dapat dikatakan sebagai faktor penyebab dengan alasan sebagai berikut:

Material yang digunakan merupakan material dengan mutu terbaik dan sudah lolos pemeriksaan kelaiakan pakai pada awal proses. Bila ada material yang salah atau tidak memenuhi standar mutu terbaik maka akan langsung dikembalikan ke perusahaan yang bersangkutan.

Dari hasil pengolahan data penyebab utama dari cacat ini diurutkan mulai dari yang paling dominan yaitu:

4.2.3.1 Manusia

Elemen manusia mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses produksi, oleh karenanya harus diketahui faktor-faktor apa saja yang dapat menggangu kegiatan kerjanya. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kesalahan kerja operator dalam proses produksi :

(13)

4.2.3.1.1 Kurangnya Pelatihan (traning) yang diberikan

Kurangnya pelatihan (traning) yang diberikan mepakan salah satu faktor yang dapat menganggu kegiatan kerja seorang operator. Bila seorang operator tidak diberikan fasilitas pendidikan atau pelatihan oleh orang yang lebig ahli, maka akan mengakibatkan hasil kerja dari seorang operator akan tidak maksimal, dan ujung-ujungnya maka konsumen(pelanggan) menjadi tidak percaya lagi akan kualitas cetakan yang operator hasilkan dan perusahaan dalam hal ini CV. Abadi Jaya akan mengalami kerugian yang cukup besar.

4.2.3.1.2 Kurang Pengalaman (Under Experienced)

Walaupun operator sudah diberikan pelatihan(training), itu masih belum cukup untuk menjamin opeartor tersebut akan menghasilkan suatu cetakan dengan hasil kualitas yang memukau, Seorang operator membruhkan waktu selama 6 tahun untuk menguasai segala sesatu yang berhubungan dengan mesin yang dijalaninya. Jadi setelah operator dberikan pelatihan dan ternyata hasilnya memuaskan belum menjadi garansi seorang operator dapat mengasilkan suatu cetakan yang berkulaitas.

4.2.3.1.3 Kelelahan dan Kejenuhan Akibat Kerja Yang Monoton.

Di dalam proses produksi dalam hal memproduksi sebuah cetakan, maka sangat dibutuhkan tingkat ketelitian dan keterampilan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Sedikit saja terjadi kesalahan maka dapat menyebabkan cacat produk.

Kelelahan dan kejenuhan merupakan salah satu masalah pada faktor manusia, di samping masalah keterampilan. Untuk mengantisipasi hal tersebut diatas maka telah ditetapkan sistem kerja shift untuk para operator dan para keneknya. Hal

(14)

ini bertujuan untuk mengatasi kejenuhan dan kelelahan bekerja yang mungkin timbul. Standar yang diterapkan adalah dengan menggunakan sistem kerja shift

(rolling) kepada karyawan yang pagi dan malam dalam hal ini operator dan kernet

setipa minggu, hal ini dilakukan agar tidak terjadi kejenuhan dalam bekerja.

4.2.3.2 Mesin dan Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam kondisi kotor dan sudah hampir rusak, terkadang ada perlatan tertentu yang hilang atau kurang, tetapi operator tetap meneruskan pekerjaannya dengan menggunakan alat pengganti seadanya. Standar yang diterapkan adalah setiap sudah selesai bekerja maka para operator wajib membersihkan dan merawat mesin-mesin dengan cara menyemprotkan oli ke bagain yang mulai mengalami proses oksidasi(karat), hal ini penting dilakukan agar kinerja mesin tetap dapat bekerja dengan optimal.

4.2.3.3 Lingkungan

Kondisi ruangan dan blower yang kotor juga menjadi penyebab terjadinya cacat bintik, hal ini terjadi karena adanya debu dari hasil kerja produksi yang lain. Standar yang digunakan adalah perusahaan membuat sistem piket setiap pagi dari jam 8 –jam 9 kepada seluruh karyawan untuk menyapu bagian lingkungannya masing-masing.

4.2.3.4 Metode

Metode yang digunakan dalam proses produksi belum sesuai dengan standar yang diharapkan. Hal ini ditunjukkan dengan beragam cacat yang terjadi. Standar yang diterapkan adalah metode yang dilakukan oleh operator dan kernet mesin cetak

(15)

harus melalui prosedur-prosedur tang telah ditetapkan oleh perusahaan seperti kernet setiap pagi harus menyiapkan air untuk membersihkan plat dan operator harus mempertanggungjawabkan hasil cetakan yang salah dan sebagainya.

Metode Mesin Dan Peralatan

Penerapan Kondisi tool sudah Perintah yang rusak

salah Tool kotor Penanganan metode

Yang sulit dimengerti

Cacat Bintik

Kurang Pengalaman Ruangan Kotor (Underexperienced)

Kelelahan akibat Kerja yang monoton Blower Kotor

Kurangnya training yang diberikan

Lingkungan Manusia

Gambar 4.2.3 Diagram Tulang Ikan(Fishbone)

4.2.4 Diagram Pencar

Membuat diagram pencar tentang jumlah cacat bintik dari data audit januari 2005-September 2005. dengan diagram pencar, maka dapat dilihat ada atau tidak adanya korelasi dari suatu penyebab terhadap penyebab lain.

(16)

Diagram Pencar 0 10 20 30 40 50 60 0 2 4 6 8 10 Bulan Ju m lah C a c a t Bintik

Gambar 4.2.4 Diagram Pencar

Tabel 4.2 Stratifikasi Cacat Bintik

Bulan Jumlah Cacat Bintik

Janauari 50 Febuari 35 Maret 30 April 15 Mei 20 Juni 24 Juli 38

(17)

Agustus 22 September 26

Kemudian dari tabel Stratifikasi Cacat Bintik, maka dapat dibuat peta kendali

C dengan perhitungan seperti dibawah ini:

C Bar = 260/9 = 28,8

UCL = 28,8 + 3√28,8 = 36,99 LCL = 28,8 - 3√28,8 = 12,70

Dari perhitungan peta kendali C yang didapat dari data-data yang diperoleh, maka diperoleh hasil nilai C bar= 28,8 , UCL = 36,99 , LCL = 12,70

Hal ini menunjukkan bahwa proses produsi di lantai produksi CV. Abadi Jaya mengalami defect yang berada di luar batas control. Hal ini dapat dilihat dari adanya cacat bintik pada bulan januari yang berada di luar batas kendali mutu dari peta kendali C yang dibuat.

4.2.5 Pengendalian Proses Secara Statisitk (PPS)

PPS berkaitan dengan usaha memonitor standar, penentuan cara mengukur kinerja, dan usaha untuk mengambil tindakan pada saat barang sedang diproduksi.

Sampel produk dari suatu proses diuji; apabila proses berada dalam batas- batas yang dapat diterima, proses dapat dilanjutkan. Bila proses berada di luar batas spesifik tertentu, proses harus dihentikan dan biasanya penyebabnya akan berusahaditemukan dan selanjutnya dihilangkan.

(18)

Bagan Kendali 0 10 20 30 40 50 60 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bulan Ju m lah C a c a t Series1 Diagram pengendalian proses ini merupakan grafik yang menunjukkan batas atas dan batas bawah dari suatu proses yang ingin dikendalikan. Diagaram pengendalian proses merupakan persentasi grafik data selam kurun waktu tertentu yang memungkinkan data baru dapat dengan cepat dibandingkan dengan apa yang pernah dilakukan.

UCL

LCL

Gambar 4.2.5 Bagan Kendali

4.3 Evaluasi Kinerja

Evaluasi kinerja yang dapat saya paparkan adalah bahwa jumlah cacat (defect) yang terjadi di CV. Abadi Jaya disebabkan oleh beberapa faktor yakni sebagai berikut:

(19)

4.3.1 Faktor Lingkungan

Bila kondisi lingkungan kotor dan berdebu, hal ini akan sangat berisiko terhadap cetakan yang masih basah(belum kering). Bila debu menempel pada hasil cetakan yang belum kering maka akan menyebabkan cacat yakni berupa warna menjadi tidak kontras atau tidak terang lagi.

Di dalam departemen proses produksi ini kemungkinan hasil cetakan yang sudah jadi terkena kotoran tetap ada. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka penjagaan kebersihan terhadap area proses produksi harus sangat diperhatikan. Standar yang digunakan adalah perusahaan membuat sistem piket setiap pagi dari jam 8 –jam 9 kepada seluruh karyawan untuk menyapu bagian lingkungannya masing-masing.

4.3.2 Faktor Manusia

Di dalam proses produksi dalam hal memproduksi sebuah cetakan, maka sangat dibutuhkan tingkat ketelitian dan keterampilan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Sedikit saja terjadi kesalahan maka dapat menyebabkan cacat produk. Kelelahan dan kejenuhan merupakan salah satu masalah pada faktor manusia, di samping masalah keterampilan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut diatas maka telah ditetapkan sistem kerja shift untuk para operator dan para keneknya. Hal ini bertujuan untuk mengatasi kejenuhan dan kelelahan bekerja yang mungkin timbul. Standar yang diterapkan adalah dengan menggunakan sistem kerja shift (rolling) kepada karyawan yang pagi

(20)

dan malam dalam hal ini operator dan kernet setipa minggu, hal ini dilakukan agar tidak terjadi kejenuhan dalam bekerja.

4.3.3 Faktor Mesin Dan Peralatan

Seperti yang kita ketahui mesin-mesin cetak yang dipunyai oleh CV. Abadi Jaya merupakan teknologi yang canggih yang bertujuan untuk menghasilkan cetakan dengan mutu dan kualitas yang terjamin. Namun demikian hal ini juga harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang handal.

Teknologi yang canggih tidak akan berfungsi secara maksimal bila tidak didukung oleh sumber daya yang memadai. Standar yang diterapkan adalah setiap sudah selesai bekerja maka para operator wajib membersihkan dan merawat mesin-mesin dengan cara menyemprotkan oli ke bagain yang mulai mengalami proses oksidasi(karat), hal ini penting dilakukan agar kinerja mesin tetap dapat bekerja dengan optimal.

4.3.3 Faktor Metode

Metode dalam proses produksi yang ditetapkan harus sesuai dengan standar yang ditetapkan. Maksudnya adalah untuk meminimalisasi kesalahan produk dalam menghasilkan kualitas produk yang memenuhi standar yang diharapkan. Standar yang diterapkan adalah metode yang dilakukan oleh operator dan kernet mesin cetak harus melalui prosedur-prosedur tang telah ditetapkan oleh perusahaan seperti kernet setiap pagi harus menyiapkan air untuk membersihkan plat dan operator harus mempertanggungjawabkan hasil cetakan yang salah dan sebagainya.

(21)

4.4 Rencana Implementasi

Rencana Implementasi dengan menggunakan pendekatan kaizen yaitu sebagai berikut:

4.4.1 Why

Pencegahan cacat bintik pada proses produksi CV. Abadi Jaya sangat dibutuhkan. Hal ini selain menganggu jalannya proses tetapi juga menambah biaya produksi yang cukup besar karena hasil produksi majalah banyak yang terbuang disebabkan cacat bintik. Dengan menggunakan faktor-faktor penyebab terjadinya cacat ini maka perusahaan akan dapat mengurangi jumlah cacat sedikit mungkin sehingga biaya produksi juga berkurang dan ini juga akan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

4.4.2 What

Faktor yang paling menyebabkan cacat bintik ini adalah kesalahan manusia dalam hal ini operator yang mengalami kelelahan. Operator harus selalu diingatkan untuk selalu bekerja sesuai dengan prosedur yang ditentukan perusahaan.

4.4.3 Where

Pennaggulangan cacat bintik ini dilakukan dilini produksi CV. Abadi Jaya. Khususnya pada mesin cetak yang terdiri dari mesin Sorm2 W, GTO 4 W dan mesin GTO 1W.

(22)

4.4.4 When

Penanggulangan cacat bintik ini harus dipecahkan sesegera mungkin supaya cacat bintik ini bisa berkurang agar proses produksi menjadi lebih lancar dan produktivitas kerja jadi meningkat.

4.4.5 Who

Penanggulangan cacat bintik ini harus dilakukan kerjasama antara bagian QC(Quality Control) dengan bagian produksi. Dalam penanggulangan ini operator mempunyai peranan yang paling besar dalam menurunkan cacat bintik ini.

4.4.6 How

Untuk pelaksanaan penanggulangan cacat bintik ini maka melibatkan faktor manusia yaitu kepala Quality Control harus selalu megingatkan operator untuk selalu mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan.

Metode yang digunakan untuk menangani masalah adalah sebagai berikut: ™ Dengan menggunakan sistem kerja shift (rolling) kepada karyawan yang pagi

dan malam dalam hal ini operator dan kernet setipa minggu, hal ini dilakukan agar tidak terjadi kejenuhan dalam bekerja.

™ Karyawan harus diberikan pelatihan (training) yang cukup agar dapat meminmalisir kesalahan yang terjadi.

Gambar

Tabel 4.1 Pengumpulan Data  No. Jenis  Cacat  1  2  3  BULAN4  5  6  7  8  9  Total  Cacat 1
Gambar 4.1 Grafik Pengumpulan Data  4.1.1 Pengumpulan  Data
Tabel A. Cacat Bintik
Tabel C. Cacat Baret
+7

Referensi

Dokumen terkait

natrium hipoklorit sebagai oksidator dengan variasi konsentrasi 0,01 M; 0,05 M; 0,10 M; 0,15 M; dan 0,20 M, pembuatan komparator warna, serta validasi test kit tiosianat

Dengan demikian dapat diduga bahwa ekstrak bertingkat kulit buah dan biji durian juga dapat menunjukan aktivitas yang sama terhadap bakteri Gram positif lainnya yang

Kondisi demikian terjadi karena proses pergeseran budaya dari daerah yang cenderung menjadi budaya kota yang identik dengan kehidupan mall dan nongkrong, sehingga

Sinarmas Multifinance Cabang Bima dan umumnya pada organisasi atau perusahan agar dapat membantu karyawan dalam mengatasi stres kerja, karena kalao karyawan mengalami

Praktikum terhadap sampel hiu paus yang telah dilakukan menggunakan metode ekstraksi chelex dan dilanjutkan dengan kegiatan PCR (polymerasi Chain Reaction) dan

Menunjukkan bahwa terdapat 13 responden yang mengalami beban berat dan memiliki kemampuan tidak baik dalam merawat pasien perilaku kekerasan.. Hasil uji

yang dilaksanakan kurang maksimal. Dengan struktur organisasi yang diterapkan, menyebabkan tuntutan kinerja dari masing-masing pengurus lebih besar karena pekerjaan dilakukan