• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Museum dalam Sejarahnya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Museum dalam Sejarahnya"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.1.1 Museum dalam Sejarahnya

Museum dikenal sebagai ruang atau tempat yang menampung segala hal yang berkaitan dengan kegiatan mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat. Museum juga bertujuan untuk berbagai kegiatan serti studi, penelitian ataupun hiburan. Museum itu sendiri sampai saat ini dipandang sebagai suatu lembaga konservasi, ruang pameran atas peninggalan dan tempat alamiah, peninggalan tempat-tempat bersejarah, media pelindung makhluk-makhluk hidup, serta destinasi bagi para pencari ilmu maupun hiburan.

Hal yang sudah dijabarkan di atas sesuai dengan definisi museum yang diberikan ICOM (International Council of Museum A museum is non profit making, permanent institution in service of society and of its development, and open the public, which aquires, conserves, communicates, and exhibit for purpose of study, education and enjoyment, material evidence of human and enviro 1

Masyarakat selama ini melihat museum sebagai tempat yang pasif dan statis, artefak dan budaya fisik lain yang dilihat, dibaca dan dinikmati secara fisik keindahannya. Selain itu, museum dikenal sebagai tempat yang hanya perlu dikunjungi jika ada suatu penilitian atau pengkajian ilmu atau pembelajaran saja.

Jika museum dilihat sebatas hal-hal itu saja maka akan muncul paradigma yang tidak bisa mengembangkan museum sebagai sarana pembelajaran maupun tempat rekreasi atau pariwisata dalam era globalisasi ini. Padahal dalam perkembangannya, museum dapat dilihat sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan. Dalam kegiatan tersebut berkembang forum ilmiah diskusi, seminar dan workshop atas kajian teknologi yang baru yang pada akhirnya terjadi interaksi antara ilmuwan, mahasiswa, pelajar dan masyarakat dengan komunitas pengelola museum. Hal terserbut yang akan menciptakan kondisi yang dinamis bagi sebuah museum.

(2)

22 Dalam perkembangannya di masa mendatang diharapkan museum mulai memiliki fungsi lain yang dapat meningkatkan industri pariwisata yang bersifat edukatif dan memiliki arahan mengenai living culture yang lebih baik.

1.1.2 Perkembangan Museum di Indonesia

Perkembangan museum di Indonesia pada dasarnya cukup meningkat ke arah yang lebih baik. Perhatian masyarakat pada lembaga museum adalah fenomena perkembangan yang cukup menarik untuk dicermati. Jumlah pengunjung yang memperlihatkan kecenderungan naik adalah bentuk perhatian yang kongkrit dari masyarakat. Secara kelembagaan, kepedulian ditandai dengan munculnya keinginan yang kuat dari lembaga-lembaga pemerintah dan swasta untuk mendirikan sebuah museum. Meningkatnya perhatian masyarakat tersebut seiring dengan semakin meningkatnya tuntutan hidup di antaranya pengembangan dunia ilmu pengetahuan, kebudayaan dan interaksi antarnegara, museum menjadi alternatif bagi kepentingan pemenuhan kebutuhan estetis budaya (Sudharto, 2001:26).

Saat ini pun mulai bermunculan museum-museum yang memiliki daya tarik yang meningkatkan nilai sektor pariwisata. Masyarakat pun mulai mencari-mencari destinasi museum selanjutnya yang akan menambah koleksi pengalaman serta ilmu mereka.

Di Jawa Tengah itu pun sendiri mulai berkembangan museum-museum yang cukup diminati oleh masyarakat, antara lain :

1. Museum Ronggowarsito

Museum Ronggowarsito adalah museum terlengkap di Kota Semarang. Dengan luas 1,8 hektar, museum ini menampung berbagai koleksi alam, arkeologi, sejarah, hingga pembangunan saat ini terdokumentasi di dalam museum ini.

2. Museum Mandala Bakti

Museum Mandala Bakti memiliki koleksi berbagai macam data dan senjata, serta peralatan perang yang cukup lengkap.

3. Museum Jamu Jago dan Muri

Di dalam museum jamu jago dan Muri ini bisa dilihat berbagai macam koleksi foto dan alat pembuatan jamu tradisional, dan berbagai macam catatan rekor dan prestasi anak bangsa dari berbagai bidang.

(3)

23 4. Museum Kereta Api Ambarawa

Di museum inilah, berbagai lokomotif buatan Belanda, Swiss dan Jerman, dikumpulkan. 5. Museum Diponegoro

Di Museum inilah, merupakan kamar yang pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro pada jaman dahulu. Lokasinya di Pendopo Karesidenan Kedu. Dibangun tahun 1810 dan memiliki berbagai koleksi peninggalan Pangeran Diponegoro. Salah satu peninggalan berharganya adalah sebuah meja kursi untuk berunding, di mana salah satu sisinya terdapat bekas guratan kuku Pangeran Diponegoro saat berunding.

6. Museum Gula Klaten

Di Museum Gula ini terdapat sebuah pabrik gula yang dibangun pada tahun 1860. Anda bisa mengunjungi museum ini karena ada tour yang bisa anda nikmati naik lokomotif, melihat proses produksi gula.

7. Museum Kubah Sangiran

Museum sangiran menjadi salah satu tujuan yang bisa anda kunjungi saat jalan-jalan ke Jawa Tengah. Terletak di kaki Gunung Lawu, 17 kilometer dari Kota Solo. Sangiran adalah nama daerah yang sering disebut dalam pelajaran sejarah yang saat sekolah kita pelajari, merupakan daerah ditemukannya fosil manusia purba.

8. Museum Kretek

Kudus adalah salah satu kabupaten terpenting jika kita sedang membicarakan industri rokok dan kretek di Indonesia. Anda bisa jalan-jalan ke Museum Kretek yang terletak di Kudus jika ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana sejarah rokok dan kretek dibuat. Sebelum tahun 1900, rokok kretek telah diproduksi secara masal di pabrik rokok yang terdapat di Kudus, Jawa Tengah. Haji Djamari, dipercaya sebagai yang paling pertama memproduksi rokok kretek yang dibungkus dengan klobot, kulit jagung yang telah dikeringkan.

9. Museum RA Kartini

Jika ingin mengetahui lebih jauh tentang Kartini, sosok perempuan yang memperjuangkan emansipasi di negeri ini, cocok jika Anda jalan-jalan ke Jepara, kota asal Kartini. Terlahir sebagai anak seorang adipati, Kartini meninggalkan begitu banyak benda bersejarah yang kini semuanya dimuseumkan di dalam Museum Kartini. Belum lama berdiri (1975) museum ini sudah menyedot banyak perhatian pengujung.

(4)

24 10. Museum Tosan Aji

Museum ini dikenal karena memiliki berbagai koleksi benda peninggalan pusaka seperti keris dan tombak dari jaman dahulu.2

Oleh karena itu, adanya museum kopi dapat menambah daftar museum di Indonesia.

1.1.3 Perkembangan Kopi dan Museum Kopi di Indonesia

Meskipun museum-museum lain sudah mulai muncul dan berkembang, namum sampai saat ini belum ditemukan museum mengenai dunia perkopian di Indonesia. Padahal, perkembangan kopi di Indonesia sudah cukup pesat dan daya ketertarikan masyarakatnya pun semakin tinggi. Tempat berkumpul yang menyediakan kopi sebagai menu utamanya mulai bertebaran di kota-kota besar termasuk daerah Semarang dan sekitarnya. Tentunya hal ini merupakan potensi besar yang dapat mengangkat kehadiaran kopi itu sendiri.

Potensi tersebut yang menarik minat penulis untuk mengembangkannya karena sangat sayang sekali apabila potensi tersebut dibiarkan begitu saja. Karena apabila perencanaan mengenai museum itu baik akan menjadikan potensi tersebut memiliki daya ketertarikan yang semakin tinggi.

1.2 Permasalahan

1.2.1 Permasalahan Arsitektural

1. Bagaimana membuat museum berbasis agrowisata yang dapat memberikan suatu edukasi yang mempresentasikan kekayaan kebudayaan kopi di Indonesia tanpa menghilangkan nila-nilai arsitekturalnya?

2. Bagaimana membuat museum berbasis agrowisata yang dapat berintegrasi dengan lansekap perkebunan kopi baik secara indoor maupun outdoor?

1.2.2 Permasalahan Non Arsitektural

1. Bagaimana menjadikan museum yang mempresentasikan kebudayaan kopi di Indonesia menjadi suatu daya tarik bagi masyarakat?

2. Bagaimana mengedukasi masyarakat tanpa menghilangkan sisi pariwisata dari suatu museum?

(5)

25 3. Bagaimana mengembangkat potensi yang ada di perkebunan kopi menjadi suatu tambahan

devisa bagi wilayah tersebut?

1.3 Tujuan dan Sasaran Penulisan

1.3.1 Tujuan Penulisan

1. Tujuan Arsitektural

Menyusun konsep perancangan dan perencanaan yang tepat untuk satu fasilitas publik dimana bangunan/kawasan tersebut mampu memberikan edukasi yang mempresentasikan kekayaan kebudayaan kopi di Indonesia yang dapat berintegrasi dengan wilayah sekitar dengan memperhatikan segala aspek keruangan, fungsi hingga struktur dan dapat diapresiasi oleh semua lapisan masyarakat di wilayah tersebut.

2. Tujuan Non-Arsitektural

a. Menyediakan wadah yang dapat meningkatkan daya ketertarikan masyarakat terhadap kebudayaan akan kopi di Indonesia.

b. Menyediakan wadah yang menjadi salah satu tempat kunjungan wisata bagi para wisatawan, baik lokal maupun internasional di Jawa Tengah.

c. Menyediakan sarana untuk memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan kebudayaan akan kopi.

d. Menyediakan sarana yang dapat menambah devisa bagi wilayah tersebut.

1.3.2 Sasaran Penulisan

1. Menciptakan museum yang dapat mengedepankan fungsi agrowisata dan eduwisata kopi. 2. Pemahaman masalah dan potensi site di kawasan Perkebunan Kopi Getas, Kawasan Wisata

Kampoeng Kopi Banaran.

3. Pendalaman mengenai kopi, budaya dan perkembangannya di Indonesia. 4. Indentifikasi karakter budaya kopi di Indonesia.

5. Indentifikasi sejarah perkembangan Perkebunan Kopi Getas, Kawasan Wisata Kampoeng Kopi Banaran.

6. Mengimplementasikan karakter kebudayaan kopi di Indonesia dan perkembangan perkebunan Kampoeng Kopi Banaran menjadi suatu alur cerita (storyline) di dalam museum.

(6)

26 7. Mengintegrasikan museum teh dengan potensi lansekap perkebunan kopi sebagi unsur

utama dalam desain.

1.4 Lingkup Penulisan

1. Organisasi ruang luar, yang mencakup proses pemilihan tapak, aksesibilitas, pembagian zonasi, fitur dan sirkulasi ruang luar. Penentuan konsep ruang luar, bentuk gubahan massa bangunan dan desain lansekap.

2. Organisasi ruang dalam, yang mencakup konfigurasi antar ruang, konsep interior, sirkulasi dan alur cerita museum, suasana, teknik penyajian dan fitur ruang.

1.5 Metodologi Penulisan

1.5.1 Observasi Lapangan

Observasi lapangan meliputi studi lokasi perancangan dengan survei langsung ke lokasi, mencari data-data yang terkait dengan proses perancangan. Lalu mencari segala potensi serta masalah yang ada pada site dengan menganalisisnya, sehingga dapat tergambarkan bagaimana kondisi site dan eksisting yang akan terolah.

1.5.2 Studi Litreratur

Studi literatur meliputi tinjauan berbagai macam literatur tipologi arsitektur, teori-teori, dan data-data yang terkait dengan pemilihan judul, untuk nantinya dijadikan sebagai acuan analisis dan penulisan.

1.5.3 Analisis

Memproses segala input data yang masuk dengan mengidentifikasinya, baik data pada observasi lapangan dan studi literatur sebagai materi sintesa penulisan.

1.5.4 Sintesis

Membuat suatu hasil segala input data penelitian menjadi suatu bentuk output berupa pendekatan konsep beserta konsep desain perancangan arsitektur sesuai dengan pertimbangan dari observasi hingga studi literatur sebelumnya.

(7)

27

1.6 Sistematika Penulisan

1.6.1 Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang penulisan, perumusan masalah arsitektural yang diambil, tujuan dan sasaran penulisan, lingkup penulisan, metodologi penulisan, sistematika penulisan, kerangka pola pikir, serta keaslian penulisan.

1.6.2 Museum Kopi

Bab ini berisi tentang kajian teoritis tentang tipologi bangunan yang diambil yaitu museum, teori dan seluk beluk tentang kopi dari sejarah, kebudayaan dan perkembangannya, serta tinjuan tentang museum kopi sendiri termasuk contoh museum kopi yang sudah ada sekarang.

1.6.3 Konsep Analogi Arsitektur

Bab ini berisi tentang kajian mengenai pendekatam konsep analogi arsitektur yang diambil oleh penulis dan dicoba diaplikasikan pada bangunan museum.

1.6.4 Lokasi Museum Kopi

Bab ini berisi tentang penjabaran data-data fisik maupun non fisik lokasi yang dijadikan alternatif museum kopi di Indonesia serta kondisi di lingkungan sekitarnya yang didapatkan dari hasil observasi.

1.6.5 Konsep Perencanaan dan Perancangan

Bab ini akan membahas tentag pendekatan konsep berupa paparan analisis aktivitas, kebutuhan ruang,hubungan ruang, konfigurasi massa, zonasi, dan sirkulasi, serta pemaparan tentang konsep perancangan yang diangkat dan implementasinya.

1.7 Keaslian Penulisan

Pada penulisan ini penulis menggunakan berbagai referensi baik secara teoritik maupun pada studi kasus yang diambil. Beberapa judul penelitian juga dipakai sebagai acuan penulisan ini.3 Referensi yang

diambil berupa tipologi museum yang mirip dan cara pendekataan konsep yang sama. Walaupun demikian belum diketemukan judul tipologi museum kopi yang sama untuk digunakan sebagai acuan.

Beberapa judul karya yang menjadi acuan: 1.

(8)

28 namun tidak di implikasikan pada bangunan yang sudah ada namun pada lansekap perkebunan teh di Kemuning dan persamaan dalam materi museum yaitu sama-sama membahas tentang hasil industri agro.

2.

dengan Konsep One Stop Edu

dan persamaan pada materi mengenai alur sebuah museum.

1.8 Kerangka Berpikir

Untuk mewujudkan konsep desain, penulis memiliki kerangka berpikir dengan menggabungkan antara permasalahan dalam latar belakang, tinjauan teoritik, tinjauan site serta pendekatan. Beberapa aspek tersebut selanjutnya menghasilkan konsep desai bagi museum kopi.

Gambar 1. 1 Kerangka Berpikir Sumber : Penulis (2015)

Gambar

Gambar 1. 1 Kerangka Berpikir  Sumber : Penulis (2015)

Referensi

Dokumen terkait

Hal utama yang perlu diperhatikan adalah bangunan stasiun ini merupakan Bangunan Cagar Budaya (BCB), oleh karena itu perencanaan dan perancangan revitalisasi

Menghasilkan usulan serta gagasan untuk merumuskan konsep dasar perencanaan dan perancangan fasilitas Rest Area pada ruas jalan lintas sumatera di Sumatera Utara

Perlu adanya sebuah perencanaan dan perancangan pembangunan dan pengembangan gedung Korpri sebagai pusat pertemuan di kota Pati yang dikembangkan dengan

Kemudian menjelaskan karakteristik suatu fasilitas publik, serta kaitannya dengan perkembangan suatu wilayah, dan bagaimana Universitas sebagai suatu fasilitas publik akan

Tambakboyo Riverside Village Perancangan Hunian dengan Penekanan pada M3K (Mundur, Munggah, Madhep Kali) dan Perancangan Ruang Publik sebagai Pusat Edukasi (Penulis,

Memperoleh suatu landasan perencanaan dan perancangan bangunan student housing atau asrama mahasiswa yang representatif ditinjau dari segi pemenuhan kebutuhan ruang beserta

Pendekatan yang digunakan dalam proses perencanaan dan perancangan Pusat Kebudayaan Yogyakarta di Kawasan Wisata Malioboro, Yogyakarta adalah pendekatan Arsitektur

Ruang lingkup pada penyusunan studi ini adalah pembahasan mengenai perencanaan dan perancangan “Bekasi Youth Community Centre” sebagai sebuah fasilitas yang digunakan