• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSUMSI ENERGI MINUMAN BERKALORI DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP TOTAL KONSUMSI ENERGI PADA REMAJA DAN DEWASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSUMSI ENERGI MINUMAN BERKALORI DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP TOTAL KONSUMSI ENERGI PADA REMAJA DAN DEWASA"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

KONSUMSI ENERGI MINUMAN BERKALORI DAN

KONTRIBUSINYA TERHADAP TOTAL KONSUMSI ENERGI

PADA REMAJA DAN DEWASA

NI MADE PUTRIA SUKMA FEBRIYANI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

ABSTRACT

Ni Made Putria Sukma Febriyani. Energy Intake from Calorie Beverages and

It’s Contribution to Energy Intake in Adolescents and Adults. Supervised by

Hardinsyah.

The objective of this research was to analyze energy intake from calorie beverages (EICB) and it’s contribution total energy intake of adolescents and adults. The research was carried out throught analyzing a data set of THIRST (The Indonesian Regional Hydration Study) collected in 2008 and 2009 by applying a crossectional study design among 606 adolescents (male and female aged 15-18 yrs) and 594 adults (male and female aged 25-55 yrs) in North Jakarta, West Bandung, Surabaya, Malang, Makasar and Malino. Data processing and analysis were conducted in Bogor in April-July 2011.

The results showed that the mean EICB among adolescents was 420 ± 406 kcal/d and emong adults was 450 ± 382 kcal/d, which is 21.2% and 23.4% of the total energy intake (TEI) of adolescents and adults respectively. EICB was moderately associated with TEI of adolescents (r= 0.58, p<0.05 ), of adults (r= 0.51 , p<0.05), and of both adolescents and adults (r= 0.54 and p<0.05). This could be lead to over energy intake, obesity and other possible adverse effects. Further studies are required to analyze causal relationship between EICB and obesity, and other possible adverse effects among Indonesians; while at the same time it is also important to start promoting an advice for healthier and wiser beverages choices.

(3)

RINGKASAN

Ni Made Putria Sukma Febriyani. Konsumsi Energi Minuman Berkalori dan

Kontribusinya terhadap Total Konsumsi Energi pada Remaja dan Dewasa. (Dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS).

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui konsumsi energi minuman berkalori dan kontribusinya terhadap total konsumsi energi pada remaja dan dewasa. Adapun tujuan khusus penelitian ini yaitu: (1) Mengetahui jenis-jenis minuman berkalori, (2) Asupan energi dari minuman berkalori, dan (3) Menganalisis hubungannya dengan total asupan energi pada remaja dan dewasa di Indonesia.

Penelitian ini dilaksanakan menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan dengan mengolah data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian mengenai Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan Dewasa di Dua Wilayah Ekologi Berbeda yang dilaksanakan oleh THIRST (The Indonesian Regional Hydration Study). Wilayah penelitian ini terdiri atas enam lokasi yaitu Bandung Barat (Jawa Barat), Jakarta Utara (DKI Jakarta), Malang dan Surabaya (Jawa Timur), serta Malino dan Makasar (Sulawesi Selatan). Pengumpulan data penelitian Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan Dewasa di Dua Wilayah Ekologi Berbeda dilakukan dari akhir tahun 2008 sampai awal tahun 2009 (Hardinsyah dkk 2010). Pengolahan, analisis, dan interpretasi data dilakukan pada bulan April-Juli 2011 di Kampus IPB Darmaga Bogor, Jawa Barat. Jumlah sampel dihitung berdasarkan perhitungan rumus jumlah minimum sampel studi cross-sectional penelitian memperhitungkan proporsi diasumsikan dehidrasi 30% (Manz & Wentz 2005). Setelah mempertimbangkan dua kelompok jenis kelamin, dua kelompok umur dan dua lokasi penelitian, maka jumlah total sampel yang menjadi subjek penelitian yaitu 1200 subjek. Kelompok usia remaja (15-18 tahun) merupakan pelajar SMU. Penelitian ini juga mencakup responden dari golongan usia dewasa. Pemilihan responden dewasa dilakukan dengan cara memilih guru dan karyawan sekolah yang berusia 25-55 tahun yang berada di semua lokasi penelitian.

Data terdiri atas variabel sosial ekonomi (karakteristik individu dan keluarga), status gizi, konsumsi makanan dan minuman, kesukaan minum, dan energi dari minuman. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan menggunakan program komputer Microsoft Office Excel dan SPSS 16 for Windows. Proses pengolahan meliputi coding, entry dan analisis. Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan dalam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAL merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (Kal) per kilogram berat badan dalam 24 jam. Kebutuhan energi untuk subjek dewasa dan remaja berdasarkan rumus yang terdapat pada WNPG (2004). Tingkat konsumsi energi dihitung dengan membandingkan konsumsi energi terhadap kebutuhan.

Hasil pengolahan data selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan statistik. Analisis deskriptif dilakukan terhadap data karakteristik individu, karakteristik sosial ekonomi keluarga, aktivitas fisik, dan konsumsi makanan dan minuman. Uji statistik menggunakan uji beda (Uji t) dan uji Pearson. Uji beda digunakan untuk mengetahui perbedaan dari setiap variabel pada penelitian ini. Hubungan antar variabel yang dianalisis dengan uji korelasi Pearson yaitu analisis hubungan antara konsumsi minuman berkalori dengan total konsumsi energi sehari pada remaja dan dewasa.

(4)

Aktivitas fisik sebagian besar subjek tergolong dalam aktivitas ringan yaitu sebesar 67.5%, namun dibanding dengan dewasa, remaja lebih banyak melakukan aktivitas sedang dan berat. Hasil uji t menunjukkan bahwa aktivitas fisik antara remaja dan dewasa terdapat perbedaan yang signifikan (p<0.05), begitu juga antara laki-laki dan perempuan pada remaja dan dewasa. Status gizi pada subjek sebagian besar normal, namun pada dewasa lebih banyak status gizi gemuk dibanding dengan remaja.

Jenis minuman berkalori yang sering diminum berdasarkan kesukaan subjek, yaitu minuman elektrolit (23.8%), teh tanpa kemasan (18.6%), teh kemasan (17.2%), susu kemasan (13.7%), dan jus/sari buah kemasan (8.6%) untuk remaja, sedangkan dewasa yaitu teh tanpa kemasan (13.3%), kopi kemasan (9.1%), minuman elektrolit (7.6%), teh kemasan (7.1%), jus/sari buah tanpa kemasan (6.2%). Sedangkan jenis minuman berkalori yang dikonsumsi subjek selama satu minggu yaitu teh tanpa kemasan (62.5%), susu kemasan (62.5%), minuman serbuk aneka rasa (48.0%), aneka es buah/campur/kelapa (41.6%), serta minuman berkarbonasi (40.8%) pada subjek remaja. Pada subjek dewasa, minuman berkalori yang paling banyak dikonsumsi selama satu minggu yaitu jus/sari buah tanpa kemasan (46.6%), teh tanpa kemasan (43.6%), susu kemasan (41.1%), aneka es buah/campur/kelapa (27.1%), dan jus/sari buah kemasan (19.4%).

Jenis minuman berkalori yang memiliki kontribusi tertinggi pada konsumsi energi minuman berkalori yaitu susu kemasan pada remaja dan teh tanpa kemasan pada dewasa dengan masing-masing menyumbang kalori sebesar 106 Kal dan 177 Kal. Pada uji t menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara konsumsi energi minuman berkalori antara remaja dan dewasa (p>0.05). Pada remaja perempuan dan laki-laki terdapat perbedaan yang signifikan (p<0.05), namun pada dewasa laki-laki dan perempuan, tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05). Total konsumsi minuman berkalori pada remaja sebesar 420 Kal sedangkan untuk dewasa sebesar 450 Kal. Pada dewasa, kontribusi konsumsi minuman berkalori terhadap konsumsi energi sebesar 23.4%, sedangkan remaja sebesar 21.2%. Secara keseluruhan, konsumsi energi minuman berkalori berhubungan positif dengan total konsumsi energi pada remaja dan dewasa yang signikan pada nilai r= 0.54 (p<0.05).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian di negara-negara maju dan berimplikasi pada perlunya kewaspadaan peningkatan asupan energi dari minuman berkalori terutama bagi mereka yang mengalami kegemukan. Saran yang dapat diberikan adalah diharapkan penelitian ini dapat memberikan edukasi kepada subjek atau masyarakat bahwa minuman berkalori mempunyai kontribusi pada konsumsi energi. Disarankan juga perlu pengayaan materi pendidikan gizi tentang pilihan jenis minuman untuk mencegah kelebihan asupan energi, mencegah kegemukan, dan dampak buruk lainnya dalam jangka panjang.

(5)

KONSUMSI ENERGI MINUMAN BERKALORI DAN TOTAL

KONTRIBUSINYA TERHADAP KONSUMSI ENERGI PADA

REMAJA DAN DEWASA

NI MADE PUTRIA SUKMA FEBRIYANI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada

Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)

Judul : Konsumsi Energi Minuman Berkalori dan Kontribusinya terhadap Total Konsumsi Energi pada Remaja dan Dewasa

Nama : Ni Made Putria Sukma Febriyani NIM : I14070010

Disetujui : Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS NIP. 19590807 198303 1 001

Diketahui,

Ketua Departemen Gizi Masyarakat

Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP. 19621218 198703 1 001

(7)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan YME karena atas karunia-Nya, penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik. Penulisan skripsi yang berjudul “Konsumsi Energi Minuman Berkalori dan Kontribusinya terhadap Total Konsumsi Energi pada Remaja dan Dewasa” ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan masukan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS selaku dosen pembimbing yang senantiasa membimbing, memberi arahan, masukan serta saran yang sangat membangun kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Ibu dr. Vera Uripi selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis dalam pengisian Kartu Rencana Studi selama kuliah. Ibu dr. Mira selaku dosen pemandu seminar dan Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku dosen penguji atas saran yang diberikan.

Terima kasih juga kepada kedua orangtua (bapa dan bunda), kakak (gendud), adik (komang), my boo (Adia), dan keluarga besar Arya Batu Lepang, terima kasih atas doa, dukungan, nasehat, semangat dan kasih sayang yang telah kalian berikan selama ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada paman (Pak Guru) dan bibi (Ibu Raini) yang telah memberikan dukungan dan doa serta mengasuh penulis dari kecil. Sisil, Gustam, dan Fauji, teman seperjuangan dalam penyusunan skripsi suku air. Thanks for all, akhirnya penantian dan kesabaran kita membuahkan hasil.

Teman-teman Luminaire (Lina, Riri, Upi, Itni, Hanum, Qila, Ayu, Puput, Siha, Devi, Ines, Tami, Dede, dan semuanya) yang selalu memberikan motivasi dan semangat kepada penulis. Sahabat dan adik-adik di Tilottama (Gie, Dayu, Renny, Puspita, Dian, Santi dan Ika), terima kasih atas doa dan semangatnya serta hari-hari indah kebersamaan yang telah kita lalui selama ini. Keluarga besar Departemen Gizi Masyarakat, KMHD (Kumpulan Mahasiswa Hindu Dharma) IPB Bogor, Brahmacarya serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu kelancaran penyelesaian penyusunan skripsi ini.

(8)

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik serta saran membangun sangat penulis harapkan. Penulis berharap penelitian ini bermanfaat, khususnya bagi penulis dan semua pihak pada umumnya.

Bogor, Agustus 2011

Ni Made Putria Sukma Febriyani

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, puteri pasangan Bapak I Putu Anom dan Ibu Ni Ketut Kasih. Penulis dilahirkan di Kota Singaraja pada tanggal 22 Februari 1990. Pendidikan sekolah dasar penulis ditempuh pada tahun 1995 sampai 2001 di SD Negeri 1 Seririt dan pada tahun 2001 sampai 2004 di SMP Negeri 1 Seririt. Pada tahun 2004 sampai 2007 penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Pada tahun 2007, melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) penulis diterima sebagai mahasiswa Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia di Institut Pertanian Bogor. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dibeberapa organisasi seperti HIMAGIZI (Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi) dan KMHD (Kumpulan Mahasiswa Hindu Dharma). Selain itu penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan, baik yang diselenggarakan pada tingkat fakultas maupun kampus.

Pada tahun 2010 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada bulan Februari 2011 penulis juga melaksanakan Internship Dietetik di Rumah Sakit Cibinong Bogor.

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ...xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 2 Hipotesis ... 2 Kegunaan ... 2 TINJAUAN PUSTAKA... 4

Karakteristik Remaja dan Dewasa ... 4

Aktivitas Fisik dan Status Gizi ... 6

Konsumsi Pangan ... 9

Minuman Berkalori ... 10

Jenis Minuman Berkalori ... 13

KERANGKA PEMIKIRAN ... 16

METODE ... 18

Desain, Tempat, dan Waktu ... 18

Jumlah dan Cara Penarikan Subjek ... 18

Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 19

Pengolahan dan Analisis Data ... 20

Definisi Operasional ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

Karakteristik Sosial Ekonomi, Aktivitas Fisik, dan Status Gizi ... 26

Jenis Minuman Berkalori ... 32

Hubungan Konsumsi Energi Minuman Berkalori dengan Total Konsumsi Energi pada Remaja dan Dewasa ... 43

KESIMPULAN DAN SARAN ... 46

Kesimpulan ... 46

Saran ... 46

DAFTAR PUSTAKA ... 48

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 Klasifikasi status gizi berdasarkan IMT (Indeks Massa Tubuh)... 8 Tabel 2 Kategori minuman menurut BPOM ... 14 Tabel 3 Aspek, cakupan data, dan metode yang digunakan dalam

pengumpulan data ... 19 Tabel 4 Kategori status gizi remaja berdasarkan IMT menurut umur ... 20 Tabel 5 Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL ... 21 Tabel 6 Sebaran subjek berdasarkan karakteristik individu dan keluarga

pada remaja dan dewasa menurut jenis kelamin ... 27 Tabel 7 Sebaran subjek berdasarkan tingkat aktivitas fisik pada remaja dan

dewasa ... 28 Tabel 8 Alokasi waktu untuk kegiatan harian remaja dan dewasa menurut

jenis kelamin ... 30 Tabel 9 Sebaran subjek berdasarkan status gizi pada remaja dan dewasa ... 31 Tabel 10 Sebaran subjek berdasarkan kesukaan terhadap jenis minuman

dan alasannya pada remaja dan dewasa menurut jenis kelamin ... 33 Tabel 11 Sebaran subjek berdasarkan jenis minum minuman berkalori yang

sering diminum pada remaja dan dewasa menurut jenis kelamin ... 35 Tabel 12 Perbandingan asupan energi terhadap kebutuhan energi pada

remaja dan dewasa menurut jenis kelamin ... 36 Tabel 13 Sebaran subjek berdasarkan konsumsi minuman berkalori pada

remaja dan dewasa menurut jenis kelamin ... 39 Tabel 14 Kontribusi energi minuman berkalori pada remaja dan dewasa

menurut jenis kelamin ... 40 Tabel 15 Sebaran subjek berdasarkan penambahan gula pada jenis

minuman teh, kopi, susu, dan jus pada remaja dan dewasa ... 42 Tabel 16 Sebaran subjek berdasarkan konsumsi energi minuman berkalori

pada remaja dan dewasa ... 44 Tabel 17 Hubungan minuman berkalori dengan konsumsi energi pada remaja

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Kerangka pemikiran kontribusi minuman berkalori terhadap total

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Data yang digunakan berdasarkan penelitian tim THIRST ... 51 Lampiran 2 Jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap jenis aktivitas

per satuan waktu tertentu (Physical Activity Rate) ... 52 Lampiran 3 Kandungan energi dan zat gizi makro dari tiap merk/jenis

minuman berkalori ... 52 Lampiran 4 Jenis produk minuman tidak berkalori dan minuman berkalori

berdasarkan jumlah subjek (remaja dan dewasa) ... 56 Lampiran 5 Jenis produk minuman berkalori berdasarkan jumlah subjek

remaja ... 59 Lampiran 6 Jenis produk minuman berkalori berdasarkan jumlah subjek

dewasa ... 61 Lampiran 7 Uji beda karakteristik sosial ekonomi subjek (besar keluarga,

uang minuman, dan pengeluaran rumah tangga) antara remaja dan dewasa ... 63 Lampiran 8 Uji beda karakteristik sosial ekonomi subjek (umur, besar

keluarga, uang minuman, dan pengeluaran rumah tangga) antara remaja laki-laki dan perempuan ... 63 Lampiran 9 Uji beda karakteristik sosial ekonomi subjek (umur, besar

keluarga, uang minuman, dan pengeluaran rumah tangga) antara dewasa laki-laki dan perempuan ... 63 Lampiran 10 Uji beda aktivitas fisik dan konsumsi energi minuman berkalori

antara remaja dan dewasa ... 64 Lampiran 11 Uji beda aktivitas fisik dan konsumsi energi minuman berkalori

antara remaja laki-laki dan remaja perempuan ... 64 Lampiran 12 Uji beda aktivitas fisik dan konsumsi energi minuman berkalori

antara dewasa laki-laki dan dewasa perempuan ... 64 Lampiran 13 Uji Korelasi Pearson hubungan antara konsumsi energi dari

minuman berkalori dengan total konsumsi energi pada remaja dan dewasa ... 65 Lampiran 14 Uji Korelasi Pearson hubungan antara konsumsi energi dari

minuman berkalori dengan total konsumsi energi pada remaja laki-laki dan remaja perempuan ... 65 Lampiran 15 Uji Korelasi Pearson hubungan antara konsumsi energi dari

minuman berkalori dengan total konsumsi energi pada dewasa laki-laki dan dewasa perempuan ... 65

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Zat gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental. Tingkat keadaan gizi normal tercapai bila konsumsi pangan dapat memenuhi kebutuhan zat gizi optimal (Budiyanto 2002).

Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Sediaoetama 2000). Faktor yang secara langsung mempengaruhi status gizi adalah konsumsi pangan. Berbagai faktor yang melatarbelakangi faktor tersebut misalnya faktor ekonomi sosial keluarga, karakteristik individu, dan aktivitas fisik (Suhardjo 2000).

Remaja maupun dewasa perlu mengkonsumsi pangan yang seimbang untuk memperoleh tingkat gizi dan kesehatan yang optimal. Sementara itu, konsumsi pangan dibedakan menjadi dua menurut sumbernya, berasal dari makanan dan berasal dari minuman. Makanan dapat berasal dari hewani maupun nabati, sedangkan minuman dapat dibedakan menjadi dua yaitu minuman berkalori dan tidak berkalori.

Menurut Joan Koelemay, dari Beverage Institute, air merupakan gizi yang dibutuhkan tubuh yang berbentuk cair, air mineral, dan makanan. Semua itu merupakan kebutuhan yang essensial untuk menggantikan besarnya cairan yang keluar dalam aktivitas sehari-hari. Kalori dalam minuman sudah terdaftar pada nutrition facts, namun kebanyakan orang belum banyak menyadari bahwa minuman berkalori memiliki kontribusi untuk konsumsi harian (Walker 2006).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bleich et al. (2009) menunjukkan bahwa minuman bergula merupakan sumber kalori minuman tertinggi dibandingkan minuman lainnya dan menyumbang energi yang signifikan. Pada tahun 1999-2004 dua pertiga orang dewasa (63%) mengkonsumsi minuman bergula dan memperoleh sumbangan energi 293 Kal tiap harinya. Pada periode tersebut, dewasa muda (dini) merupakan golongan prevalensi tertinggi (72%)

(15)

yang mengkonsumsi minuman bergula dan memperoleh sumbangan energi 289 Kal tiap harinya. Asupan jus dan bersoda/karbonasi menyumbang 81% dari peningkatan asupan energi dari minuman berkalori di Amerika.

Pada populasi yang besar, konsumsi minuman berkalori sudah mencapai 20.1% untuk remaja dan 22.3% untuk dewasa dari asupan energi di Meksiko (Barquera et al. 2008). Sedangkan di Indonesia sendiri, belum banyak penelitian mengenai konsumsi energi pada minuman berkalori. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai konsumsi energi minuman berkalori dalam total konsumsi energi remaja dan dewasa.

Tujuan

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui konsumsi energi minuman berkalori dan kontribusinya terhadap total konsumsi energi pada remaja dan dewasa. Adapun tujuan khusus penelitian ini, yaitu (1) Mengetahui jenis-jenis minuman berkalori pada remaja dan dewasa, (2) Menghitung konsumsi energi dari minuman berkalori, dan (3) Menganalisis hubungan konsumsi energi dari minuman berkalori terhadap total konsumsi energi pada remaja dan dewasa di Indonesia.

Hipotesis

Terdapat hubungan antara konsumsi energi minuman berkalori dalam total konsumsi energi pada remaja dan dewasa.

Kegunaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat khususnya mengenai konsumsi minuman berkalori dan meningkatkan kepedulian akan konsumsi makanan dan minuman untuk pemenuhan energi sehari. Konsumsi energi sehari-hari tidak hanya dari makanan, namun minuman seperti minuman berkalori (minuman produk industri atau konvensional) turut menyumbang kontribusi energi bagi kebutuhan energi sehari. Sebagian besar orang melupakan sumbangan energi dari minuman tersebut sehingga banyak orang yang berpendapat bahwa mengkonsumsi minuman berkalori dalam jumlah berlebihan tidak memberikan efek apapun bagi status gizi.

(16)

Industri swasta dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam proses produksi minuman berkalori. Bagi peneliti, hasil penelitian yang diperoleh dapat digunakan sebagai informasi terbaru dalam bidang ilmu gizi masyarakat untuk menambah wawasan mengenai minuman berkalori.

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Karakteristik Remaja dan Dewasa Remaja

Istilah remaja (adolescence) berasal dari kata latin adolesceere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock 2004). Menurut WHO (2007), remaja berkisar antara usia 10 sampai 19 tahun. Masa remaja umumnya disebut pancaroba atau masa peralihan dari masa anak-anak menuju arah kedewasaan (Gunarsa 2001).

Masa remaja merupakan periode antara masa kanak-kanak dan dewasa. Menurut Arisman (2004), masa ini dimulai antara usia 9 hingga 10 tahun dan berakhir pada usia sekitar 18 tahun. Pertumbuhan yang terjadi diiringi dengan perubahan fisik yang seringkali memicu kebingungan. Golongan remaja rentan akan adanya berbagai pengaruh dari luar yang dapat dengan mudah langsung diikuti. Determinan utama bagi remaja adalah berasal dari teman sebaya (Hasan 2006). Terdapat tiga kekuatan dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi remaja, yaitu: (1) keluarga, (2) sekolah dan (3) lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah guru, teman sepermainan, dan peristiwa-peristiwa dalam masyarakat. Melalui berbagai macam media massa remaja berkenalan dengan berbagai macam peristiwa yang terjadi dalam masyarakat sehingga akan mempengaruhi perkembangan kepribadian remaja (Khumaidi 1989).

Mann dan Stewart (2007) mengatakan bahwa pada kenyataannya, remaja perempuan sering sekali mengalami masalah gizi. Remaja laki-laki memiliki perilaku makan dalam porsi besar untuk memenuhi kebutuhan energi dan protein mereka. Pada masa ini terjadi pemilihan pola makan yang salah dan meningkatnya konsumsi energi yang tinggi yang berasal dari minuman berkalori. Remaja tidak setiap hari makan buah dan sayur, sementara kudapan asin dan manis (70%) dimakan beberapa kali (sepertiga dari mereka) setiap hari. Salah satu masalah serius yang menghantui dunia kini adalah konsumsi makanan olahan, seperti yang ditayangkan dalam iklan televisi, secara berlebihan. Makanan ini terlalu banyak mengandung gula serta lemak. Kebiasaan makan yang diperoleh semasa remaja akan berdampak pada kesehatan dalam fase kehidupan selanjutnya, setelah dewasa dan berusia lanjut.

Berdasarkan WNPG VIII tahun 2004 remaja laki-laki yang berusia 13-15 tahun dan 16-18 tahun memiliki angka kecukupan energi masing-masing 2400

(18)

Kal dan 2600 Kal sehingga rata-rata kecukupan energi untuk remaja laki-laki adalah 2500 Kal. Remaja perempuan yang berusia 13-15 tahun dan 16-18 tahun memiliki angka kecukupan energi masing-masing 2350 dan 2200 Kal sehingga rata-rata kecukupan energi untuk remaja perempuan adalah 2275 Kal.

Dewasa

Istilah dewasa (adult) berasal dari bahasa latin adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa. Secara psikologis orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhan fisiknya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.

Masa dewasa dibagi menjadi tiga fase, yaitu masa dewasa dini, masa dewasa madya, dan masa dewasa lanjut. Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun hingga 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa madya dimulai pada umur 40 hingga 60 tahun, yakni saat menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas nampak pada setiap orang. Masa dewasa madya, dilihat dari sudut posisi usia dan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis, memiliki banyak kesamaan dengan masa remaja. Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang demikian pesat (menuju ke arah kesempurnaan/kemajuan) yang berpengaruh pada kondisi psikologisnya, sedangkan masa dewasa madya juga mengalami perubahan kondisi fisik, namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemunduran, yang juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Kemudian masa dewasa lanjut dimulai pada umur 60 tahun keatas hingga kematian, dimana kemampuan fisik dan psikologis cepat menurun (Hurlock 2004).

Berdasarkan WNPG VIII tahun 2004 dewasa laki-laki yang berusia 19-29 tahun, 30-49 tahun, dan 50-64 tahun memiliki angka kecukupan energi masing-masing 2550 Kal, 2350 Kal, dan 2250 Kal sehingga rata-rata kecukupan energi untuk dewasa laki-laki adalah 2383 Kal. Dewasa perempuan yang berusia 19-29 tahun, 30-49 tahun, dan 50-64 tahun memiliki angka kecukupan energi masing-masing 1900 Kal, 1800 Kal, dan 1750 Kal sehingga rata-rata kecukupan energi untuk dewasa perempuan adalah 1817 Kal.

(19)

Aktivitas Fisik dan Status Gizi

Aktivitas fisik didefinisikan sebagai gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Kurangnya aktivitas fisik telah diidentifikasi sebagai faktor risiko keempat terkemuka untuk kematian global (6% kematian secara global). Selain itu, aktivitas fisik yang diperkirakan menjadi penyebab utama untuk sekitar 21-25% dari kanker payudara dan usus besar, 27% dari diabetes dan sekitar 30% dari beban penyakit jantung iskemik (WHO 2010). Menurut data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan Indonesia tahun 2007, saat ini 48.2% masyarakat berusia lebih dari 10 tahun memiliki aktivitas fisik yang kurang (ringan).

Selama melakukan aktivitas fisik, otot membutuhkan energi di luar metabolismenya untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk menghantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh. Banyaknya energi yang dibutuhkan tergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan (Almatsier 2003). Riyadi (1996) menyatakan bahwa jika diketahui jumlah energi tubuh yang dikeluarkan selama aktivitas sehari maka sebenarnya jumlah tersebut merupakan kebutuhan energi seseorang, dengan asumsi aktivitas harian tersebut merupakan aktivitas normal.

Aktivitas fisik yang teratur, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menari memiliki manfaat yang signifikan bagi kesehatan. Sebagai subjek, dapat mengurangi risiko kardiovaskular, diabetes, dan osteoporosis; membantu mengontrol berat badan, dan mempromosikan kesejahteraan psikologis. Setiap orang harus terlibat dalam setidaknya 30 menit aktivitas fisik sedang setiap hari. Lebih banyak kegiatan mungkin diperlukan untuk mengendalikan berat badan. Tingkat aktivitas fisik pada orang dewasa memiliki manfaat, diantaranya mengurangi risiko hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, diabetes, payudara dan kanker usus, depresi dan risiko jatuh; memperbaiki tulang dan kesehatan fungsional, dan penentu utama pengeluaran energi, dan dengan demikian merupakan dasar untuk menyeimbangkan energi dan mengontrol berat badan (WHO 2010).

Aktivitas fisik pada umumnya dibagi menjadi tiga golongan yaitu ringan, sedang, dan berat. Semakin berat aktivitas yang dilakukan, semakin banyak energi yang diperlukan untuk melakukan aktivitas tersebut (WHO/FAO 2003). Menurut Soendoro (2008), kegiatan aktivitas fisik dikategorikan sedang apabila

(20)

kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. FAO/WHO (2003) menyatakan bahwa aktivitas fisik adalah variabel utama setelah angka metabolisme basal dalam penghitungan pengeluaran energi. Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan dalam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAL merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (Kal) per kilogram berat badan dalam 24 jam, PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut:

PAL = ∑ (PARi × Wi)

24 jam

Keterangan: PAL : Physical activity level (tingkat aktivitas fisik)

PARi : Physical activity rate (jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap

jenis aktivitas per jam) Wi : Alokasi waktu tiap aktivitas

Seseorang dikatakan sedentary (aktivitas ringan) bila tidak banyak melakukan aktivitas fisik, tidak berjalan jauh, umumnya menggunakan alat transportasi, tidak latihan atau berolahraga secara teratur, menghabiskan waktu senggangnya dengan duduk dan berdiri dengan sedikit bergerak seperti pelajar. Pada kategori sedang adalah orang yang tidak terlalu banyak menggunakan energi, namun lebih banyak mengeluarkan energi dibandingkan yang beraktivitas ringan. Kemungkinan juga adalah orang yang tergolong beraktivitas ringan namun memiliki waktu untuk beraktivitas sedang hingga berat yang teratur. Misalnya kegiatan harian yang dilakukan selama 1 jam (langsung atau bertahap dalam hari yang sama) baik sedang maupun berat seperti jogging, berlari, aerobic yang dapat meningkatkan PAL dari 1.55 (ringan) menjadi 1.75 (sedang). Terakhir orang yang tergolong beraktivitas berat bila orang tersebut dalam kesehariannya melakukan aktivitas yang mengeluarkan banyak energi seperti berenang dan menari selama 2 jam, mencangkul, berjalan kaku dengan beban yang berat (WHO/FAO 2003).

Level aktivitas fisik yang rendah juga menjadi faktor penting dalam penambahan berat badan. Hal ini terjadi karena perubahan gaya hidup (tidak sempat berolahraga, memiliki pekerjaan yang dilakukan dengan duduk terus menerus, dan memiliki anak), penuaan, dan mengidap suatu penyakit. Urbanisasi, kemakmuran, dan modernisasi gaya hidup menimbulkan perubahan pada pola aktivitas fisik. Gaya hidup modern membuat berkurangnya aktivitas fisik sehari-hari (Mann & Stewart 2007). Sebanyak 25% remaja berumur 11-15

(21)

tahun di barat daya dan barat laut inggris melakukan 60 menit aktivitas sedang hingga berat per hari dan 23.7% dari seluruh remaja memiliki status gizi obesitas atau overweight. Remaja yang memiliki tingkat aktivitas sedang hingga berat yang rendah memiliki konsekuensi mengalami masalah kesehatan masyarakat, salah satunya kelebihan berat badan (Boyle et al. 2010).

Menurut Supariasa (2001) status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Secara umum status gizi diukur secara antropometri yang artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berikut merupakan klasifikasi status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dikeluarkan oleh WHO (2007).

Tabel 1 Klasifikasi status gizi berdasarkan IMT (Indeks Massa Tubuh)

Status gizi IMT (kg/m2)

Underweight <18.5 Normal 18.5-24.9 Overweight ≥25.0 Pra-obes 25.0-29.9 Obesitas ≥30.0 Obesitas kelas I 30.0-34.9 Obesitas kelas II 35.0-39.9

Obesitas kelas III ≥40.0

Sumber : WHO (2007) dalam Gibney et al. (2008)

Menurut penelitian Weiss et al. (2007) ditemukan bahwa peningkatan IMT berhubungan dengan penurunan aktivitas fisik jangka panjang (LTPA), dimana antara IMT dan aktivitas fisik memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Kurang aktivitas fisik dapat meningkatkan IMT, yang dimana peningkatan IMT tersebut dapat menurunkan tingkat aktivitas fisik. Peningkatan IMT ini juga berhubungan dengan peningkatan resiko dari orthopaedic, CVD, dan diabetes tipe II yang dapat menurunkan kemampuan untuk beraktivitas/latihan. Penelitian ini juga menyatakan bahwa perempuan lebih mungkin dibandingkan laki-laki menjadi tidak aktif. Casperson et al. (2000) dalam Weiss et al. (2007) melaporkan bahwa laki-laki mengalami penurunan lebih besar dalam tingkat aktivitas fisik selama masa remaja, sedangkan perempuan lebih rendah tingkat aktivitas sepanjang masa dewasa.

WHO (2000) menyatakan bahwa perempuan cenderung mengalami peningkatan penyimpanan lemak. Simpanan ini berguna untuk meningkatkan pertumbuhan seksual pada perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

(22)

perempuan cenderung mengonsumsi sumber karbohidrat yang lebih kuat sebelum masa pubertas, sementara laki-laki cenderung mengonsumsi makanan yang kaya protein. Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Proper et al. (2006) menyatakan bahwa laki-laki secara signifikan lebih berkemungkinan untuk menjadi overweight atau obesitas daripada perempuan, karena laki-laki cenderung untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersantai pada saat akhir minggu atau waktu senggang dibandingkan perempuan.

Usia yang lebih tua meningkatkan kemungkinan menjadi tidak aktif sekitar 2% per tahun. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa peningkatan terbesar dalam tingkat aktivitas terjadi selama masa remaja dan menurun sepanjang masa dewasa. Sallis (2000) dalam Weiss et al. (2007) menyatakan hubungan antara usia dengan tingkat aktivitas, sebagian dikarenakan faktor biologis yang menurun dengan bertambahnya usia yang diamati di seluruh populasi.

Konsumsi Pangan

Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Sedioetama 1996). Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan (Harper et al.1986 dalam Maulad 2010).

Konsumsi, jumlah dan jenis pangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Harper et al. (1986) dalam Maulad (2010), faktor-faktor yang sangat mempengaruhi konsumsi pangan adalah jenis, jumlah produksi dan ketersediaan pangan. Untuk tingkat konsumsi, lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pangan yang dikonsumsi (Sedioetama 1996). Kualitas pangan mencerminkan adanya zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yang terdapat dalam bahan pangan, sedangkan kuantitas pangan mencerminkan jumlah setiap gizi dalam suatu bahan pangan. Untuk mencapai keadaan gizi yang baik, maka unsur kualitas dan kuantitas harus dapat terpenuhi. Dalam aspek gizi, tujuan

(23)

mengkonsumsi makanan dan minuman adalah untuk memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan oleh tubuh (Hardinsyah & Martianto 1989). Perilaku konsumsi makanan dan minuman dapat dirumuskan sebagai cara atau tindakan yang dilakukan oleh individu, keluarga atau masyarakat di dalam pemilihan makanannya yang dilandasi oleh pengetahuan dan sikapnya terhadap makanan tersebut (Susanto 1993 dalam Maulad 2010).

Pola konsumsi makanan dan minuman dipengaruhi oleh banyak faktor, tidak hanya faktor ekonomi tetapi juga faktor budaya, ketersediaan, pendidikan, gaya hidup, dan sebagainya. Walaupun selera dan pilihan masyarakat didasari pada nilai-nilai sosial, ekonomi, budaya, agama, pengetahuan serta aksesibilitas, namun kadang-kadang unsur prestise menjadi sangat menonjol. Pola konsumsi makanan dan minuman remaja dapat dipengaruhi pola konsumsi teman sebaya. Remaja lebih mudah menerima satu jenis makanan dan minuman yang relatif baru dari orang-orang yang merupakan teman dekatnya, mereka lebih senang makan dan minum bersama orang yang dekat dengan mereka. Penilaian konsumsi makanan dan minuman dilakukan sebagai cara untuk mengukur keadaan konsumsi makanan dan minuman yang kadang-kadang merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menilai status gizi. Pada prinsipnya ada empat metode untuk menggali informasi konsumsi makanan dan minuman secara kuantitatif, yaitu metode inventaris, metode pendaftaran, metode mengingat-ingat, dan metode penimbangan (Suhardjo 2000).

Minuman Berkalori

Air merupakan zat yang sangat esensial bagi kehidupan manusia. Tubuh manusia dewasa mengandung air 59% dari berat badan. Penentuan kebutuhan air ditentukan dengan metode keseimbangan antara keluaran air dengan konsumsi. Besarnya kebutuhan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, suhu dan kelembaban lingkungan serta aktivitas fisik. Penentuan kebutuhan air untuk orang sehat dapat didasarkan pada usia, berat badan, konsumsi energi, dan luas permukaan tubuh (Proboprastowo & Dwiriyani 2004). Almatsier (2003) menyatakan bahwa konsumsi cairan terdiri atas air yang diminum, yang diperoleh dari makanan maupun minuman, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme. Sedangkan Sawka, Cheuvront, dan Charter (2005), total konsumsi cairan berasal dari air minum (drinking water), air pada minuman (water in beverages), dan air pada makanan.

(24)

Menurut Joan Koelemay, dari Beverage Institute, air merupakan gizi yang dibutuhkan tubuh yang berbentuk cair, air mineral, dan makanan. Semua itu merupakan kebutuhan yang essensial untuk menggantikan besarnya cairan yang keluar dalam aktivitas sehari-hari (Walker 2009). Jenis minuman yang biasa dikonsumsi yaitu air, susu, jus, sari buah, teh, kopi, minuman beralkohol, soft drink, dan minuman berenergi (peningkatan stamina) (Ahira 2010).

Setiap minuman yang dikonsumsi tersebut memiliki kalori yang beragam. Kalori dalam minuman sudah terdaftar pada nutrition facts, namun kebanyakan orang belum banyak menyadari bahwa minuman berkalori memiliki kontribusi untuk konsumsi harian (Walker 2006).

Pada populasi yang besar, konsumsi minuman berkalori sudah mencapai 20.1% untuk remaja dan 22.3% dari asupan energi di Meksiko (Barquera et al. 2008). Buah-buahan dan minuman fruitades (minuman yang dibuat dengan menambahkan air ke bubuk atau kristal), yang sama-sama manis, sering dikonsumsi dalam jumlah besar oleh balita dan anak-anak muda di Amerika Serikat (Malik et al. 2006).

Perkiraan saat ini adalah bahwa rata-rata asupan energi gula penduduk Amerika 15.8% dari total energi dan bahwa sumber terbesar dari penambahan gula adalah minuman ringan nondiet, yang mencakup 47% dari total gula yang ditambahkan dalam makanan. Istilah ini meliputi minuman ringan soda bersama dengan minuman gula manis lainnya seperti minuman buah, limun, dan es teh. Istilah soda mencakup carbonated beverages seperti cola. Konsumsi minuman ini terbukti meningkat 135% antara 1977 dan 2001 (Malik et al. 2006).

Pada penelitian Malik et al. (2006), diperkirakan selama ini, setiap hari konsumsi minuman berkalori di Amerika Serikat meningkat sebesar 83 Kal per orang, dimana 54 Kal / hari dari soda. Di Amerika Serikat, rata-rata, 12-oz [12 oz = 1 kaleng soda (atau 1 soda) = 1 porsi] soda menyediakan 150 Kal dan 40-50 gram gula dalam bentuk sirup jagung tinggi fruktosa [(HFCS) glukosa 45% dan 55% fruktosa], yang setara dengan 10 sendok teh gula meja. Jika kalori yang ditambahkan ke makanan khas AS tanpa mengurangi asupan dari sumber lain, 1 soda / hari bisa menyebabkan kenaikan berat badan 6.75 kg dalam satu tahun.

Sejajar dengan pola konsumsi soda adalah bahwa konsumsi buah-buahan dan minuman fruitades (minuman yang dibuat dengan menambahkan air ke bubuk atau kristal), yang sama-sama manis dan sering dikonsumsi dalam jumlah besar oleh balita dan anak-anak muda. Dari total 83 Kal perhari

(25)

peningkatan konsumsi pemanis kalori, 13 Kal perhari diperkirakan berasal dari minuman buah. Konsumsi minuman-minuman buah dan soda tersebut hampir 81% dari peningkatan asupan kalori di seluruh pemanis pada dua dekade terakhir di Amerika Serikat. Asupan minuman berkalori dapat meningkatkan berat badan dan obesitas dengan peningkatan asupan energi secara keseluruhan (Malik et al. 2006).

Gula merupakan salah satu kandungan dari minuman berkalori. Gula digunakan untuk mendeskripsikan karbohidrat sederhana, yaitu sukrosa. Sukrosa merupakan bentuk komersial dari gula tebu dan gula umbi serta gula yang biasanya digunakan untuk memasak. Secara kimia, sukrosa adalah disakarida yang terdiri dari dua monosakarida, yaitu fruktosa dan glukosa. Penyerapan yang terjadi di usus halus hanya terjadi jika molekul gula berbentuk monosakarida, oleh karena itu sukrosa dipecah menjadi bentuk monosakarida dalam saluran pencernaan. Setelah melalui proses pencernaan di saluran gastrointestinal, monosakarida dibawa melalui darah menuju hati dan jaringan lain (Mann & Stewart 2007).

Selama beberapa periode, total asupan pemanis buatan meningkat dengan tajam. Peningkatan ini disebabkan oleh penggunaan pemanis buatan yang berasal dari jagung yang diproduksi dengan cara pemotongan pati jagung secara enzimatis. Pemanis jagung memiliki kesamaan rasa dengan sukrosa tetapi harganya lebih murah dibandingkan sukrosa. Pemanis buatan jagung digunakan dalam produksi beberapa jenis makanan, seperti soft drink, bahan makanan yang dikalengkan, jelly, selai, dan salad untuk makanan penutup (Pennington & Baker 1990).

Asupan gula pada orang amerika menyumbang sekitar 20% rata-rata asupan kalori. Kelompok usia tertentu seperti remaja memiliki konsumsi minuman berkalori yang tinggi. Salah satu alasan konsumsi gula yang tinggi adalah rasa yang manis. Sebagian besar hewan mamalia, termasuk manusia, memiliki preferensi yang tinggi terhadap substansi yang memiliki rasa manis. Hal ini terlihat dari peninggalan sejarah berupa gambar-gambar di gua yang menceritakan mengenai kesukaan manusia purba kala terhadap madu, buah ara, dan kurma (Mann & Stewart 2007). Menurut WHO (2003), peneliti merekomendasikan bahwa gula yang ditambahkan harus membentuk tidak lebih dari 10% dari total asupan makanan.

(26)

Penelitian di Afrika Selatan menunjukkan bahwa di antara remaja dan orang dewasa (lebih tua dari 10 tahun), persentase konsumsi gula yang ditambahkan dalam makanan dan minuman adalah dua kali lebih tinggi pada populasi perkotaan dibanding pedesaan dengan persentase 12.3% dibandingkan dengan 5.9% dari total asupan energi. Peneliti juga menyebutkan bahwa 33% populasi perkotaan mengkonsumsi minuman ringan berkarbonasi sementara pada daerah pedesaan hanya 3% (WHO 2003).

Jenis Minuman Berkalori

Bleich et al. (2009) membagi minuman berkalori ke dalam enam jenis, yaitu minuman bergula, jus, minuman diet, susu (termasuk yang memiliki rasa), kopi atau teh, dan alkohol. Minuman bergula terdiri dari soda, minuman olahraga, minuman berperisa buah, minuman rendah kalori, teh yang dimaniskan, dan minuman yang dimaniskan lainnya. Minuman bergula merupakan sumber kalori minuman tertinggi dibandingkan minuman lainnya. Pada tahun 1999-2004 dua pertiga orang dewasa (63%) mengkonsumsi minuman bergula dan memperoleh sumbangan energi 293 Kal tiap harinya. Pada periode tersebut, dewasa muda (dini) merupakan golongan prevalensi tertinggi (72%) yang mengkonsumsi minuman bergula dan memperoleh sumbangan energi 289 Kal tiap harinya.

Pada penelitian Barquera et al. (2008), konsumsi dari minuman bergula (berkalori) di Meksiko tahun 2006 sudah mencapai 372 Kal untuk remaja dan 411 Kal untuk dewasa. Adapun kalori pada masing-masing jenis minuman berkalori yang dikonsumsi remaja diantaranya soft drink sebesar 85 Kal, teh dan kopi 34 Kal, Jus 69 Kal, sari buah kemasan 26 Kal, alkohol 67 Kal, susu full cream 86 Kal, dan minuman lainnya sebesar 9 Kal. Sedangkan pada dewasa, konsumsi energi untuk minuman berkalori seperti soft drink sebesar 88 Kal, teh dan kopi 35 Kal, Jus 72 Kal, sari buah kemasan 27 Kal, alkohol 69 Kal, susu full cream 86 Kal, dan minuman lainnya sebesar 8 Kal.

Keputusan Ka.Badan POM (Pemeriksa Obat dan Makanan) No. HK.00.05.52.4040 Tanggal 9 0ktober 2006 tentang Kategori Pangan menetapkan kategori minuman sebagai berikut :

(27)

Tabel 2 Kategori minuman menurut BPOM

No Kategori Sub kategori Jenis

1 Minuman produk susu

1. Susu dan minuman berbasis susu

2. Susu fermentasi dan produk susu hasil hidrolisa enzim renin (plain) 3. Susu kental dan

analognya (plain) 4. Krim (plain) dan

sejenisnya

5. Susu bubuk dan krim bubuk dan bubuk analog (plain)

6. Keju dan keju analog

7. Makanan pencuci mulut berbahan dasar susu

8. Whey dan produk whey

1. Susu dan buttermilk (plain) - Susu segar

- Susu pasteurisasi

- Susu UHT (Ultra High Temperature) - Susu steril

- Susu tanpa lemak atau susu skim - Susu rendah lemak

- Susu rekonstitusi - Susu rekombinasi

- Susu lemak nabati/susu minyak nabati (Filled

Milk)

- Susu lemak nabati rendah lemak/susu minyak nabati rendah lemak

- Susu lemak nabati tanpa lemak/susu minyak nabati tanpa lemak

- Buttermilk (plain) - Dadih

2. Minuman berbasis susu yang berperisa dan/atau difermentasi

- Minuman susu berperisa - Minuman mengandung susu - Minuman susu fermentasi berperisa - Minuman yoghurt berperisa - Lassi

1. Susu fermentasi (plain)

2. Susu yang digumpalkan dengan enzim renin (plain)

1. Susu kental (plain)

2. Krimer minuman (bukan susu)

2 Minuman tidak termasuk produk susu 1. Minuman ringan tidak beralkohol 2. Minuman beralkohol 1. Air minum

2. Sari buah dan sari sayuran 3. Nektar buah dan nektar sayur

4. Minuman berbasis air berperisa, termasuk minuman olahraga atau elektrolit dan minuman berpartikel

5. Minuman yang disiapkan sebagai hasil ekstraksi berbasis air atau hasil pencelupan seperti kopi, teh, seduhan herbal, minuman biji-bijian dan sereal panas

Kalori dalam cairan kurang diperhitungkan dibandingkan dengan kalori dari makanan padat (Bleich et al. 2009). Minuman soda dengan kadar gula tinggi memiliki kandungan air yang tinggi dan bobot energi yang rendah.

(28)

Densitas energi yang rendah tidak memiliki dampak perbandingan pada kepuasan dan asupan makanan ad libitum. Efek fisiologis asupan energi terhadap kekenyangan terlihat berbeda antara makanan padat dan cairan. Energi dari minuman berkalori (yang umumnya memiliki kandungan gula tinggi) kurang dirasakan dibandingkan asupan energi dari makanan padat karena berkurangnya penggelembungan lambung dan waktu transit yang lebih cepat. Konsumsi minuman soda dengan kadar gula tinggi dalam jumlah yang melebihi batas normal memberikan asupan energi yang tinggi pula yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kenaikan berat badan (Gibney et al. 2008).

Berdasarkan hasil penelitian Bleich et al. (2009) diketahui bahwa konsumsi minuman berkalori memiliki hubungan dengan epidemik obesitas. Hal ini terlihat dari meningkatnya asupan energi yang berasal dari soft drink dan minuman dengan rasa buah sejak tahun 1977 sampai 2001 menjadi 135% yang diikuti dengan berlipat gandanya prevalensi obesitas. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa persentase kalori dari minuman berkalori meningkat melebihi 50%.

(29)

KERANGKA PEMIKIRAN

Karakteristik individu merupakan informasi dari subjek yang meliputi umur dan jenis kelamin. Karakteristik individu dapat mempengaruhi aktivitas fisik dan konsumsi pangan seseorang. Aktivitas fisik merupakan berbagai kegiatan fisik tubuh yang dilakukan oleh remaja dan dewasa dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu memiliki ciri khas tersendiri, sehingga setiap individu memiliki tingkat aktivitas yang berbeda. Konsumsi pangan seseorang dapat dipengaruhi langsung oleh karakteristik individu dan tingkat aktivitas fisik.

Selain karakteristik individu, konsumsi pangan juga dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi keluarga yaitu jumlah anggota keluarga, pengeluaran air minum, dan pengeluaran rumah tangga perbulan. Konsumsi pangan dapat mencerminkan konsumsi energi. Setiap individu memiliki ciri tersendiri dalam konsumsi pangan. Kebutuhan pangan seseorang dapat dipenuhi dari makanan maupun minuman.

Pangan yang berasal dari minuman dapat dibedakan menjadi dua, yaitu minuman berkalori dan tidak berkalori. Minuman berkalori merupakan minuman yang dikonsumsi oleh seseorang dan memiliki sejumlah energi (kalori) sehingga dapat berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan energi sehari. Sedangkan minuman tidak berkalori merupakan jenis minuman yang tidak memiliki energi (kalori) seperti air putih.

Pemenuhan energi sehari yang berasal dari makanan dan minuman didapatkan dari penjumlahan kalori konsumsi pangan individu dalam sehari. Sehingga kontribusi dari minuman berkalori dalam konsumsi energi pada individu baik remaja maupun dewasa dapat dihitung dari jumlah energi yang telah dikonsumsi (Gambar 1).

(30)

Gambar 1 Kerangka pemikiran kontribusi minuman berkalori terhadap total konsumsi energi

Keterangan gambar :

: variabel yang diteliti : variabel yang tidak diteliti : hubungan yang diteliti

: hubungan yang tidak diteliti

Makanan Minuman

Total konsumsi energi sehari Konsumsi Pangan

Aktivitas Fisik Karakteristik individu Karakteristik sosial ekonomi

keluarga Minuman berkalori Minuman tidak berkalori Energi Makanan Energi Minuman Berkalori

(31)

METODE

Desain, Tempat, dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan menggunakan desain cross sectional study. Penelitian dilakukan dengan mengolah data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian mengenai Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan Dewasa di Dua Wilayah Ekologi Berbeda yang dilaksanakan oleh THIRST (The Indonesian Regional Hydration Study). Wilayah penelitian ini terdiri atas enam lokasi yaitu Bandung Barat (Jawa Barat), Jakarta Utara (DKI Jakarta), Malang dan Surabaya (Jawa Timur), serta Malino dan Makasar (Sulawesi Selatan). Pengumpulan data penelitian THIRST dilakukan pada bulan Oktober-November tahun 2008 dan bulan Oktober-Novermber tahun 2009. Tahun pertama dilakukan di Jakarta Utara dan Bandung Barat, dan tahun kedua di empat lokasi lainnya (Hardinsyah dkk 2010). Pengolahan, analisis, dan interpretasi data dilakukan pada bulan April-Juli 2011 di Kampus IPB Darmaga Bogor, Jawa Barat.

Jumlah dan Cara Penarikan Subjek

Responden subjek pada penelitian ini adalah kelompok remaja (laki-laki dan perempuan) berusia 15-18 tahun dan dewasa (laki-laki dan perempuan) berusia 25-55 tahun yang bermukim di lokasi penelitian. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah 1) remaja (umur 15-18 tahun) dan dewasa (25-55 tahun), 2) bermukim atau menghabiskan sebagian besar waktunya di lokasi penelitian, 3) secara fisik sehat, dan 4) bersedia diambil urin dan mengikuti kegiatan penelitian sampai selesai. Kriteria ekslusi yang digunakan adalah tidak mengalami keluhan kesehatan, tidak mempunyai riwayat ginjal, hati dan diabetes. Kriteria ekslusi ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter.

Jumlah sampel dihitung berdasarkan rumus perhitungan jumlah sampel minimal penelitian cross sectional study dengan mempertimbangkan proporsi dehidrasi diasumsikan sebesar 30%, seperti berikut:

n ≥ za2 x p (1 – p)/d2

n = jumlah sampel minimum za2 = 1.96

p = 0.3 atau 30% (Manz & Wentz 2005) d = perkiraan akurasi prediksi (0.1)

Berdasarkan rumus perhitungan tersebut, jumlah responden minimum untuk tiap jenis kelamin di masing-masing lokasi penelitian adalah 41. Jumlah

(32)

tersebut dibulatkan menjadi 50 untuk meningkatkan ketepatan penelitian, sehingga jumlah sampel menjadi 50 orang untuk tiap kelompok umur dan jenis kelamin. Setelah mempertimbangkan dua kelompok jenis kelamin, dua kelompok umur dan dua lokasi penelitian, maka jumlah total sampel yang menjadi subjek penelitian adalah 50 x 2 (jenis kelamin) x 2 (kelompok umur) x 6 (lokasi penelitian) yaitu 1200 subjek.

Melalui pertimbangan bahwa kelompok usia remaja (15-18 tahun) merupakan pelajar SMU, maka cara yang paling mudah dan tepat (secara teknis dan ekonomi) adalah dengan memilih SMU dan institusi/lembaga pendidikan dengan jumlah siswa yang banyak di masing-masing lokasi penelitian. Penelitian ini juga mencakup responden dari golongan usia dewasa. Pemilihan responden dewasa dilakukan dengan cara memilih guru dan karyawan sekolah yang berusia 25-55 tahun yang berada di semua lokasi penelitian. Subyek akhir yang diperoleh dan diolah dalam penelitian ini berjumlah 606 orang untuk remaja dan 594 orang untuk dewasa.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data dari penelitian ini sebagian merupakan data penelitian THIRST (Hardinsyah dkk 2010) yang diperoleh dalam bentuk electronic file. Tabel 3 berikut merupakan daftar jenis dan cara pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian.

Tabel 3 Aspek, cakupan data, dan metode yang digunakan dalam pengumpulan data

Aspek Cakupan Metode

Sosial-ekonomi-demografi

Karakteristik individu dan keluarga (umur, jenis kelamin, ukuran, pengeluaran minum dan pengeluaran keluarga)

Kuisioner diisi sendiri diawali penjelasan

Aktivitas fisik Jenis, durasi dan frekuensi aktivitas fisik dan olahraga selama enam hari

Kuesioner diisi sendiri diawali penjelasan Status gizi Berat badan dan tinggi badan Pengukuran langsung

menggunakan timbangan analog dan microtoise untuk tinggi badan

Asupan makanan dan minuman

Jenis, jumlah, dan frekuensi minuman dan makanan

Wawancara selama 7 hari (semi FFQ)

Kebiasaan minum air dan minuman

Kesukaan minuman dan jenis minuman berkalori yang sering diminum.

Kuisioner diisi sendiri diawali penjelasan

Pada tabel disebutkan bahwa data terdiri atas variabel karakteristik individu dan keluarga, aktivitas fisik, status gizi, konsumsi makanan dan minuman serta kebiasaan minum. Penelitian sekunder ini menggunakan beberapa data yang memungkinkan dalam analisis mengenai konsumsi

(33)

minuman berkalori. Data dan peubah pada penelitian THIRST yang digunakan terdapat pada Lampiran 1.

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh diolah dan dianalisis dengan menggunakan program komputer Microsoft Office Excel dan SPSS 16 for Windows. Proses pengolahan meliputi coding, entry, dan analisis.

Besar Keluarga. Data besar keluarga diperoleh dengan menanyakan

kepada subjek jumlah anggota keluarganya. Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan menjadi keluarga kecil (≤4 orang), keluarga sedang (5-6 orang), dan keluarga besar (≥7 orang) (Hurlock 2004).

Pengeluaran Rumah Tangga. Data pengeluaran rumah tangga

merupakan data keluarga yang terdiri dari pengeluaran pangan dan non pangan. Jenis variabel pengeluaran adalah kelompok dengan interval < Rp 1 000 000,

Rp 1 000 000 - Rp 1 999 999, Rp 2 000 000 – Rp 3 999 999, dan ≥ Rp 4 000 000.

Pengeluaran Minum. Data pengeluaran minum merupakan data individu

subjek mengenai pengeluaran yang dilakukan khususnya untuk minuman yang dikonsumsi. Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan menjadi dua, yaitu < Rp 100 000 dan ≥ Rp 100 000.

Status Gizi. Status gizi remaja dihitung berdasarkan standar penilaian

status gizi berdasarkan IMT menurut umur. Berikut merupakan rumus perhitungan IMT dan standar penilaian status gizi remaja dan dewasa (WHO 2007)

IMT = ( ) ( ) ( )

Tabel 4 Kategori status gizi remaja berdasarkan IMT menurut umur Umur

(Tahun)

Laki-laki Perempuan

Kurus Normal Gemuk Kurus Normal Gemuk 14 < 16.0 16.0 – 21.9 > 21.9 < 16.0 16.0 – 22.9 > 22.9 15 < 16.5 16.5 – 22.8 > 22.8 < 16.5 16.5 – 23.7 > 23.7 16 < 17.1 17.1 – 23.7 > 23.7 < 16.8 16.8 – 24.2 > 24.2 17 < 17.5 17.5 – 24.4 > 24.4 < 17.0 17.0 – 24.7 > 24.7 18 < 17.9 17.9 – 25.0 > 25.0 < 17.1 17.1 – 24.9 > 24.9

Nilai indeks massa tubuh (IMT) yang normal untuk dewasa berkisar antara 18.5-24.9. Responden dikatakan kurus (Kekurangan Energi Kronis/KEK) bila nilai IMT nya < 18.5 dan mengalami kegemukan bila ≥ 25 (WHO 2007).

Aktivitas fisik diketahui melalui kombinasi metode tiga hari recall dan metode tiga hari record yang dilakukan pada hari yang berbeda, yaitu pada hari

(34)

sekolah dan hari libur. Pengukuran aktivitas fisik dilakukan terhadap jenis aktivitas yang dilakukan subyek dan lama waktu melakukan aktivitas dalam sehari. WHO/FAO (2003) menyatakan bahwa aktivitas fisik adalah variabel utama setelah angka metabolisme basal dalam penghitungan pengeluaran energi. Berdasarkan WHO/FAO (2003), besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan dalam PAL (Physical Activity Level) atau tingkat aktivitas fisik. PAL merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (kkal) per kilogram berat badan dalam 24 jam. Nilai PAR (Physical Activity Rate) untuk berbagai jenis aktivitas dan tingkat aktivitas fisik menurut WHO/FAO (2004) tercantum dalam Lampiran 2. PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

PAL = ∑ (PARi × Wi)

24 jam

Keterangan: PAL : Physical activity level (tingkat aktivitas fisik)

PARi : Physical activity rate (jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap

jenis aktivitas per jam) Wi : Alokasi waktu tiap aktivitas

Perhitungan di atas dijelaskan dengan contoh kasus sebagai berikut :

Seorang perempuan yang memiliki 8 jam waktu tidur (8 x 1.0 = 8), 4 jam waktu melakukan pekerjaan rumah tangga (4 x 1.7 = 6.8), 4 jam waktu menonton televisi (4 x 1.4 = 5.6), dan 8 jam waktu bekerja (8 x 1.5 = 12). Total PAL selama 24 jam diperoleh dengan menjumlahkan seluruh hasil perkalian waktu (jam) dan PAR sehingga diperoleh nilai PAL selama 24 jam adalah 32.4 kkal. Rata-rata nilai PAL selama 24 jam adalah 1.40 kkal/jam. Hal ini berarti perempuan tersebut memiliki tingkat aktivitas fisik ringan.

Tabel 5 Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL

Kategori Nilai PAL

Ringan 1.40-1.69

Sedang 1.70-1.99

Berat 2.00-2.40

Kebiasaan Minum. Kebiasaan minum subjek meliputi kesukaan

minuman serta alasannya dan jenis minuman yang sering diminum. Kesukaan minum subjek dibedakan menjadi dua, yaitu menyukai air putih dan menyukai minuman lainnya. Alasan menyukai minuman lainnya terdiri dari rasa, keamanan, harga, kemudahan, gengsi, dan lainnya. Sedangkan untuk pemilihan tiga jenis minuman yang sering diminum subjek dibedakan menjadi 17 kategori yaitu teh kemasan, kopi kemasan, teh tanpa kemasan, kopi tanpa kemasan, minuman berkarbonasi, minuman elektrolit, jus/sari buah kemasan, jus/sari tanpa

(35)

kemasan, minuman serbuk aneka rasa, aneka es buah/campur/kelapa, minuman jelly, susu tanpa kemasan, susu kemasan, susu kedelai, yogurt/probiotik, sirup, dan minuman lainnya.

Kebutuhan Energi. Kebutuhan energi dihitung berdasarkan Angka

Kecukupan Energi dalam WNPG VIII tahun 2004 yang didasarkan pada Oxford Equation. Angka kecukupan energi merupakan jumlah rata-rata energi yang dibutuhkan dalam suatu populasi. Kebutuhan energi individu pada penelitian ini diperoleh dengan menghitung kebutuhan energi sesuai berat badan aktual berdasarkan energi basal metabolisme (EBM) yang dikoreksi dengan PAL dan Thermal Energy Food (10% dari EBM). EMB yang digunakan adalah berdasarkan oxford equation dalam WNPG (2004):

 EMB laki-laki berumur 19-29 tahun = 16.8 BB + 498 Kal  EMB laki-laki berumur 30-49 tahun = 16.0 BB + 462 Kal  EMB laki-laki berumur 50-64 tahun = 16.0 BB + 462 Kal  EMB perempuan berumur 19-29 tahun = 13.4 BB + 517 Kal  EMB perempuan berumur 30-49 tahun = 9.59 BB + 687 Kal  EMB perempuan berumur 50-64 tahun = 9.59 BB + 687 Kal

Pada angka kebutuhan energi (AKE) remaja dihitung dari umur, aktivitas fisik (PAL), berat badan (BB), dan tinggi badan (TB) serta Thermal Energy Food (10% dari EBM) menggunakaan rumus dari WNPG (2004), yaitu:

[(88.5 - 61.9U) + 26.7 BB (PAL) + 903 TB + 25] x 10% EBM Kal

Konsumsi Energi. Data meliputi jenis dan jumlah makanan dan

minuman. Asupan energi total dan energi dari minuman berkalori dihitung berdasarkan kandungan energi dalam DKBM, kandungan gizi makanan dan minuman komersial berlabel menggunakan kandungan tercantum pada label (Lampiran 4). Rumus yang digunakan untuk mengetahui kandungan energi makanan yang diasupan adalah (Hardinsyah & Briawan 1994):

KGij = (Bj/100) x Gij x (BDDj/100)

Keterangan :

KGij : Jumlah energi dari bahan makanan/pangan j yang dikonsumsi Bj : Berat makanan j yang dikonsumsi (gram)

Gij : Kandungan energi dalam 100 gram BDD bahan makanan j BDDj : Persen bahan makanan j yang dapat dimakan

Tingkat Konsumsi Energi. Konsumsi energi dibandingkan dengan

(36)

kebutuhan. Jenis variabel tingkat konsumsi adalah kategori. Rumus yang digunakan adalah:

Tingkat konsumsi energi = × 100%

Penilaian tingkat konsumsi energi diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu rendah (<85%), cukup (85-115%), dan tinggi (≥115%). Sedangkan untuk penilaian konsumsi minuman berkalori menggunakan batas penambahan gula 10% pada total konsumsi (WHO 2003). Angka kecukupan energi rata-rata untuk remaja dan dewasa adalah 2000 Kal sehingga konsumsi gula pada penambahan minuman dan makanan masing-masing disarankan tidak lebih dari 100 Kal. Konsumsi gula dari minuman dibagi menjadi tiga, yaitu rendah (<100 Kal), sedang (100-200 Kal), dan tinggi (>200 Kal).

Hasil pengolahan data selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan statistik. Analisis deskriptif (persentase dan rata-rata) dilakukan terhadap data karakteristik sosial ekonomi, aktivitas fisik, status gizi, serta konsumsi makanan dan minuman. Uji statistik menggunakan uji beda (Uji t) dan uji Pearson. Uji beda digunakan untuk mengetahui perbedaan dari setiap variabel pada penelitian ini yaitu karakteristik sosial ekonomi, aktivitas fisik, konsumsi minuman pada remaja dan dewasa. Hubungan antar variabel yang dianalisis dengan uji korelasi Pearson yaitu analisis hubungan antara konsumsi minuman berkalori dengan total konsumsi energi pada remaja dan dewasa.

(37)

Definisi Operasional

Remaja adalah siswa-siswi (15-18 tahun) dari SMU yang dijadikan sebagai

subjek dalam penelitian.

Dewasa adalah staf pengajar dan pegawai SMU (25-55 tahun) yang dijadikan

sebagai subjek dalam penelitian.

Karakteristik individu adalah informasi seputar subjek yang diwawancarai yang

meliputi umur dan jenis kelamin.

Karakteristik sosial ekonomi keluarga adalah informasi tentang keluarga

subjek yang meliputi jumlah anggota keluarga, pengeluaran minum perminggu, dan pengeluaran rumah tangga perbulan.

Pengeluaran rumah tangga adalah pengeluaran yang terdiri dari pengeluaran

pangan dan non pangan dalam rumah tangga (Rp/bulan).

Pengeluaran minum adalah alokasi uang yang dikeluarkan untuk konsumsi

minuman selama satu minggu (Rp/minggu).

Aktivitas fisik adalah kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan dari waktu ke

waktu setiap hari yang dinyatakan jam/hari dan PAL. Aktivitas fisik pada penelitian ini adalah aktivitas fisik ringan, sedang, atau berat yang diukur secara recall dan record selama enam hari.

Kesukaan minum adalah perilaku individu yang berhubungan dengan kesukaan

minum dan jenis minuman yang sering diminum subjek.

Konsumsi pangan adalah jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh

subjek yang diukur dengan metode semi quantitative FFQ (Food Frequency Quisioner) selama tujuh hari serta dinyatakan dalam gram dan miliLiter.

Konsumsi energi adalah keseluruhan asupan makanan dan minuman yang

dikonsumsi oleh subjek dan dihitung berdasarkan kandungan energi yang terdapat pada DKBM (Daftar Kandungan Bahan Makanan) dan atau tercantum pada label makanan dan minuman komersial.

Minuman Berkalori (calory beverage) adalah minuman yang memiliki

kandungan energi baik berasal dari gula intrinsik atau gula tambahan, misalnya jus/sari buah tanpa kemasan, jus/sari buah kemasan, aneka es buah/campur/kelapa, minuman serbuk, minuman jelly, susu tanpa kemasan, susu kemasan, yogurt/probiotik, susu kedelai, teh tanpa kemasan, kopi tanpa kemasan, teh kemasan, kopi kemasan, minuman berkarbonasi, dan minuman elektrolit.

(38)

Konsumsi energi minuman berkalori adalah keseluruhan asupan minuman

yang dikonsumsi subjek yang memiliki kandungan energi.

Minuman Manis Bergula (Sugary Sweetened Beverages) adalah jenis

minuman yang ditambahkan pemanis seperti gula.

Jus/sari buah tanpa kemasan adalah minuman yang berasal dari buah segar,

baik yang pembuatannya menggunakan blender ataupun alat peras misalnya pada pembuatan es jeruk.

Soft drink adalah minuman berkarbonasi seperti Coca Cola, Fanta, Sprite,

Pepsi, dan sebagainya.

Minuman elektrolit adalah minuman mengandung mineral yang terlarut dalam

air, seperti Pocari Sweat, Mizone, Vita Zone, dan lain-lain.

Kontribusi energi minuman berkalori adalah persentase energi dari minuman

berkalori terhadap total konsumsi energi.

Total konsumsi energi adalah keseluruhan asupan energi subjek baik dari

Gambar

Gambar 1 Kerangka pemikiran kontribusi minuman berkalori terhadap total konsumsi  energi
Tabel 6  Sebaran subjek berdasarkan karakteristik individu dan keluarga pada remaja  dan dewasa menurut jenis kelamin
Tabel 8  Alokasi waktu untuk kegiatan harian remaja dan dewasa menurut jenis kelamin
Tabel  14  Kontribusi  energi  minuman  berkalori  pada  remaja  dan  dewasa  menurut  jenis  kelamin
+3

Referensi

Dokumen terkait

fungsi gelombang kuantum pada foton yang kemudian disetujui dengan.. menyatakan eksperimen kemungkinan letak foton yang

dengan jumlah koloni kuman pada telapak tangan perawat di ruang rawat inap. Rumah Sakit Martha

Kelompok acuan adalah kelompok yang memiliki pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang tersebut.. organisasi

Dede Rosyada, MA the Dean of Faculty of Tarbiya and Teacher Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University.. the head of English

Dalam bidang jasa konstruksi, tender dilakukan oleh pemberi tugas atau pemilik proyek dengan mengundang beberapa perusahaan jasa konstruksi atau kontraktor untuk

penelitian, dan bisa berkembang di lapangan selama masih mengacu pada tema. Wawancara pada penelitian ini dilakukan dengan beberapa siswa kelas VIII B. MTs Darul

[r]