BAB 3
HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep
3.2 Hipotesis Penelitian
Dari uraian diatas maka terdapat hipotesis pada penelitian ini yaitu : 1. Ada pengaruh resin komposit bulk fill yang berbeda pada restorasi klas II
MOD gigi premolar maksila terhadap ketahanan fraktur.
2. Ada perbedaan pengaruhresin komposit bulk fill yang berbeda pada restorasi klas II MOD gigi premolar maksila terhadap ketahanan fraktur.
Ketahanan Fraktur Restorasi klas II MOD resin
komposit Bulk Fill yang mengandung monomer AUDMA dan AFM
Restorasi klas II MOD resin komposit Bulk Fill yang diaktivasi sonic
Restorasi klas II MOD resin Komposit Bulk Fillyang diperkuat short fiber
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Jenis dan Desain Penelitian 4.1.1 Jenis Penelitian
Eksperimental laboratorium
4.1.2 Desain penelitian
Postest Only Control Group Design
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokai Penelitian
1. Departemen Konservasi Gigi FKg USU 2. Laboratorium LIDA USU
3. Laboratorium Uji Mekanis Fakultas MIPA USU
4.2.2 Waktu Penelitian September 2016 – April 2017
4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi
Gigi premolar maksila dengan apikal yang sudah tertutup sempurna yang telah diekstraksi untuk keperluan orthodonti ataupun yang sudah diekstraksi karena mobiliti.
4.3.2 Sampel
Gigi premolar maksila yang telah diekstraksi dan diperoleh dari praktek dokter gigi dengan kriteria inklusi sebagai berikut :
1. Gigi premolar maksila
3. Mahkota masih utuh dan tidak ada karies
Besar Sampel
Jumlah sampel dihitung dengan menggunakan rumus rancangan eksperimental murni sebagai berikut :
(n-1) (r-1) ≥ 15 (n-1) (3-1) ≥ 15 2n-2 ≥ 15 2n ≥ 17 n ≥ 8,5 n = 10 (pembulatan keatas) Keterangan :
r = jumlah perlakuan dalam penelitian n = jumlah sampel
Besar sampel untuk masing-masing kelompok menurut perhitungan di atas adalah 10. Jumlah keseluruhan gigi premolar rahang atas adalah 30 sampel yang dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok perlakuan yaitu :
Kelompok 1 : Restorasi kavitas klas II MOD dengan resin komposit Filtek Bulk fill (3M ESPE)
Kelompok 2 : Restorasi kavitas klas II MOD dengan resin komposit
Bulk fillSonicfill(Kerr)
Kelompok 3: Restorasi kavitas klas II dengan resin kompositBulk fill everX (GC) + Filtek Bulk fill (3M ESPE)
4.4 Variabel dan Defenisi Operasional 4.4.1 Variabel Penelitian
4.4.1.2 Variabel Tergantung
Ketahanan fraktur gigi yang telah direstorasi
4.4.1.3 Variabel Terkendali
• Desain dan ukuran preparasi kavitas klas II MOD premolar( ukuran kedalaman kavitas sebesar 3 mm diukur dari lantai pulpa dam 4 mm pada kedalaman setentang gingival yang diukur dari margin cavosurvace palatal dengan axial wall 1 mm. Dinding axial bukal dan palatal dibuat parallel sama dengan yang lain)
• Aplikasi sistem adhesive (total etch two step) • Teknik insersi (bulk sistem)
• Jenis dan bentuk mata bur (diamond bur : fissure diamond bur, round
bur)
• Ketajaman mata bur ( 1 bur untuk 3 gigi) • Sumber sinar (LED)
• Waktu penyinaran light cured ( 20 detik)
• Jarak penyinaran dengan bahan restorasi (0 – 1 mm)
• Arah penyinaran light cured (tegak lurus terhadap permukaan bahan restorasi)
• Intensitas sinar (1000-1200 mw/cm2) • Panjang gelombang (450-470 nm)
4.4.1.4 Variabel Tidak Terkendali
• Masa jangka waktu pencabutan gigi premolar sampai diberi perlakuan • Keberadaan smear layer
• Kontraksi polimerisasi resin komposit • Pembentukan hybrid layer
• Besar gigi dan variasi struktur anatomi gigi • Kandungan kolagen di dalam gigi
4.4.1.5 Identifikasi Variabel Peneliti
Variabel Bebas
I. Restorasi klas II MOD resin komposit
Bulk Fill yang mengandung monomer
AUDMA dan AFM
II. Restorasi klas II MOD resin komposit
Bulk Fill yang diaktivasi sonic
III. Restorasi klas II MOD resin Komposit Bulk-Fill yang diperkuat short fiber
Variabel Tergantung
Ketahanan fraktur gigi yang telah direstorasi
Variabel Terkendali
• Desain dan ukuran preparasi kavitas klas II MOD premolar( ukuran kedalaman kavitas sebesar 3 mm diukur dari lantai pulpa dam 4 mm pada kedalaman setentang gingival yang diukur dari margin cavosurvace palatal dengan axial wall 1 mm. Dinding axial bukal dan palatal dibuat parallel sama dengan yang lain)
• Aplikasi sistem adhesive (total etch two step) • Teknik insersi (bulk sistem)
• Jenis dan bentuk mata bur (diamond bur : fissure
diamond bur, round bur)
• Ketajaman mata bur ( 1 bur untuk 3 gigi) • Sumber sinar (LED)
• Waktu penyinaran light cured ( 20 detik)
• Jarak penyinaran dengan bahan restorasi (0 – 1 mm) • Arah penyinaran light cured (tegak lurus terhadap
permukaan bahan restorasi) • Intensitas sinar (1600 mw/cm2) • Panjang gelombang (420-480 nm)
Variabel Tidak Terkendali
• Masa jangka waktu pencabutan gigi premolar sampai diberi perlakuan • Keberadaan smear layer • Kontraksi polimerisasi resin komposit • Pembentukan hybrid layer
• Besar gigi dan variasi struktur anatomi gigi
• Kandungan kolagen di dalam gigi
4.4.2 Defenisi Operasional Tabel 1. Defenisi Operasional
Variabel Bebas Defenisi Operasional
Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Restorasi kavitas klas II MOD dengan resin komposit Filtek Bulk fill (3M ESPE) Restorasi pada kavitas yang melibatkan bidang mesio-oklusal-distal yang menggunakan bahan resin komposit yang mengandung monomer AUDMA dan AFM dan diletakkan secara bulk. Memberikan tanda pada bagian oklusal gigi premolar atas yang telah dipreparasi dengan menggunakan caliper dan diaplikasikan resin komposit dengan mengikuti ketentuan pabrik Kaliper, probe Nominal Restorasi kavitas klas II MOD dengan resin komposit Bulk fillSonicfill(Kerr) Restorasi pada kavitas yang melibatkan bidang mesio-oklusal-distal yang menggunakan bahan resin komposit yang Memberikan tanda pada bagian oklusal gigi premolar atas yang telah dipreparasi dengan menggunakan caliper dan Kaliper, probe Nominal
diaktifasi sonic dan diletakkan secara bulk. diaplikasikan resin komposit dengan mengikuti ketentuan pabrik Restorasi kavitas klas II dengan resin kompositBulk fill everX (GC) + Filtek Bulk fill (3M ESPE) Restorasi pada kavitas yang melibatkan bidang mesio-oklusal-distal yang menggunakan bahan resin komposit yang diperkuat short fiber dan diletakkan secara bulk. Memberikan tanda pada bagian oklusal gigi premolar atas yang telah dipreparasi dengan menggunakan caliper dan diaplikasikan resin komposit dengan mengikuti ketentuan pabrik Kaliper, probe Nominal Variabel Tergantung Defenisi Operaional
Cara Ukur Hasil Ukur Alat Ukur Skala Ukur Ketahanan fraktur Ketahanan gigi yang telah direstorasi dengan resin komposit bulk-Sampel diletakkan pada balok basis akrilik sehingga Newton Torse’s Electronic System Universal Testing Ratio
fill terhadap loadyang diberikan dalam kecepatan 1mm/menit hingga terjadi fraktur. Kemudian dicatat nilai tertinggi yang muncul pada layar sampel dapat berdiri terhadap poros gigi dan diberi compressive load melalui zig load pada alat uji. Machine
4.5 Metode Pengumpulan Data 4.5.1 Alat Penelitian
• Masker (Diapro)
• Sarung tangan (Everglv, USA) • Jangka untuk mengukur outline form • Kaliper untuk pengukuran outline form
• Probe untuk membantu pengukuran (BPUNC 15 Osung) • Cetakan kaca balok gips ukuran 15cm x 2,5 cm x 2,5 cm • Pot Akrilik
• Spuit 10 ml untuk cetakan akrilik • Mikromotor (strong 270b, korea)
• High speed dental handpiece (NSK,Japan) • Round &Fissure diamond bur (Dia bur) • Mata bur polish (Dia bur)
• Finishing bur (Dia bur)
• SonicFill handpiece (Kerr, Europe) • Bonding aplikator (Prime Bond, Dentsply)
• Pinset, semen stopper, probe, sonde lurus (Dentica) • Instrument plastis (Caredent, UK)
• Greater Curve matrix (Halodent, USA) • Termometer (Fisher, Germany)
• Waterbath (Memmert, Germany) • Stopwatch (Diamond, Germany) • Beaker glass (Pyrex,Germany) • Rubber bowl
• Spatula plastik
• Alat uji ketahanan fraktur Torsee’s Electronic System Universal Testing
Machine Japan
• Wedges
• Gun untuk mengeluarkan resin komposit everX bulk fill dari kapsulnya • Beaker glass(Pyreex, Germany)
• Termometer (Fisher, Germany) • Water bath (Memmert, Germany) • Stopwatch (Diamond, Germany) • Penggaris
Gambar 8. a. Bur, b. Wedges, c. Matriks, d. Bonding aplikator,e. Light cure f. Bur finishing, g. Waterbath,h.Bur silicone, i. Bubuk akrilik
4.5.2 Bahan Penelitian
• 30 gigi premolar rahang atas yang telah dicabut untuk perawatan ortodonti • Saline untuk penyimpanan sampel penelitian
• Resin komposit Filtek bulk-fill (3M ESPE) shade A3 • Resin komposit bulk fillEverX (GC)
• Resin komposit bulk fill sonicfill (Kerr) • Bahan ahesif Single Bond 2 (3M ESPE) • Bahan etsa
• Self curing acrylic (Hillon) • Vaselin
• Gips untuk penanaman gigi
Gambar 9.a.Etsa, b.Bahan Bonding , c. Resin komposit Filtek Bulk
Filld. Resin Komposit Bulk Fill Sonic Fill, e. Resin
komposit Bulk Fill everX
4.5.3 Prosedur Penelitian a. Persiapan Sampel
Sampel yang digunakan sebanyak 36 buah gigi premolar maksila yang telah diekstraksi untuk keperluan ortodonti yang dibersihkan dengan scaler kemudian direndam dalam larutan saline. Kemudian sampel dikelompokkan menjadi tiga kelompok berjumlah 12 sampel dan ditanam dalam balok gips untuk memudahkan dilakukan preparasi dan restorasi. Sampel yang diberikan perlakuan sebanyak 10 sampel di dalam tiap balok gips, 2 sampel lain diujung sebelah kiri dan kanan ditambahkan agar dalam merestorasi gigi semua sampel penelitian menerima perlakuan yang sama.
a b
Gambar 10. Penanaman sampel pada balok gips yang berukuran 15cm x 2 cm x 2,5 cm
b. Perlakuan Sampel 1. Preparasi sampel
Preparasi pada penelitian mengikuti penelitian Fahad F dan Majeed MAR pada tahun 2014.
Bentuk outline form desain kavitas klas II mesio oklusal distal (MOD) gigi premolar atas mengggunakan pensil dengan bantuan caliper untuk mendapat ukuran yang akurat dengan ukurankedalaman kavitas sebesar 3 mm diukur dari lantai pulpa dam 4 mm pada kedalaman setentang gingival yang diukur dari margin cavosurvace palatal dengan axial wall 1 mm. Dinding axial bukal dan palatal dibuat parallel sama dengan yang lain.Preparasi kavitas menggunakan
high speed handpiece dan menggunakan fissure diamond bur dan preparasi
Gambar 11. Desain preparasi kavitas klas II MOD gigi premolar.29
2. Restorasi Sampel Kelompok 1 :
Pasang matriks pada kedua bagian proksimal, lalu aplikasi etsa dengan menggunakan mikro brush selama 15 detik, kemudian bilas dengan air dan struktur gigi dipertahankan agar tetap lembab (moist). Selanjutnya aplikasi bahan bonding selama 10 detik dengan menggunakan mikro brushsehingga akan berpenetrasi ke dalam struktur yang ireguler lalu di blowingringan selanjutnya disinar selama 20 detik untuk proses polimerisasi menggunakan LED light
curing.Aplikasi Filtek Bulk fill (3M ESPE) sebagai restorasi dengan teknik bulksetebal 4 mm, diukur menggunakan probe dan sinari selama 20 detik.
Kelompok 2 :
Pasang matriks pada kedua bagian proksimal,lalu aplikasi etsa dengan menggunakan mikro brush selama 15 detik, kemudian bilas dengan air dan struktur gigi dipertahankan agar tetap lembab (moist).Selanjutnya aplikasi bahan bonding selama 10 detik dengan menggunakan mikro brushsehingga akan berpenetrasi ke dalam struktur yang ireguler lalu di blowing ringan selanjutnya
curing.Aplikasi resin komposit Bulk Fil lSonicfill (Kerr) dengan teknik bulk
sedalam 4 mm dan sinari selama 20 detik.
Kelompok 3 :
Pasang matriks pada kedua bagian proksimal,lalu aplikasi etsa dengan menggunakan mikro brush selama 15 detik, kemudian bilas dengan air dan struktur gigi dipertahankan agar tetap lembab (moist). Selanjutnya aplikasikan bonding selama 10 detik lalu di blowing ringan selanjutnya disinar selama 20 detik untuk proses polimerisasi menggunakan LED light curing. Aplikasi resin komposit bulk fill everX Posterior (GC) dengan teknik bulk setebal 3 mm, diukur menggunakan probe dan disinari selama 20 detik. Selanjutnya untuk tahap akhir aplikasikan resin komposit Filtek Bulk fill(3M ESPE) setebal 1 mm dan kemudian sinari selama 20 detik
Gambar 12.a.Pemasangan matriks, b. Aplikasi etsa 15 detik, c. Aplikasi bonding, d. Penyinaran 20 detik.
3. Finishing dan Polishing
Setelah gigi selesai direstorasi, seluruh sampel dilakukan conturing dan
finishing. Pemolisan restorasi dilakukan menggunakan fine finishing bur untuk
membuang restorasi resin komposit yang berlebihan kemudian lakukan pemolisan dengan menggunakan bur silicone pada seluruh permukaan restorasi.
4. Water Storage dan Termocycling
Seluruh sampel yang telah direstorasi dimasukkan kedalam wadah dengan larutan saline dan direndam selama 24 jam. Selanjutnya lakukan proses
termocycling dengan memasukkan sampel ke dalam baker glass yang berisi air
es selama 20 detik dengan temperature 5˚C lalu pindahkan dengan jeda waktu 5 detik ke waterbath dengan temperature 55˚C lakukan berulang sebanyak 500 kali.1
Gambar 13. Proses thermocycling A. Sampel direndam dalam air suhu 5º C, B. Sampel direndam dalam
waterbath bersuhu 55ºC dilakukan sebanyak 500
putaran.
5. Penanaman Sampel ke Dalam Cetakan Akrilik
Gigi ditanam pada balok akrilik self curing yang dicetak degan menggunakan spuit 10ml yang telah diolesi dengan vaseline sebelumnya. Gigi ditanam 2 mm di bawah cement enamel junction untuk menyerupai kedudukan
gigi pada tulang alveolar. Setelah akrilik hampir mengeras akrilik dikeluarkan dari spuit. Setelah itu dibuat balok basis akrilik yang terbuat dari cetakan kaca.
Gambar 14. Penanaman sampel ke dalam cetakan akrilik
Gambar 15. Balok akrilik yang berguna sebagai penyangga atau tempat sampel diletakkan sewaktu akan dilakukan uji ketahanan Tempat Sampel akrilik diletakkan Balok akrilik
6. Proses Uji Ketahanan Fraktur
Proses uji tekan dilakukan di laboratorium Uji mekanis Fakultas MIPA USU untuk mengetahui kekuatan ketahanan fraktur dari sampel. Sampel diletakkan pada balok basis akrilik kemudian dilakukan uji tekan pada bagian tengah restorasi tegak lurus menggunakan Torsee’s Universal Testing Machine.Sampel ditekan dari arah oklusal dengan beban maxsimal 200 KN kecepatan 1mm/menit sampai terjadi fraktur. Data yang diperoleh berupa load dalam satuan Kgf dan kemudian satuan diubah ke Newton.
Gambar 16. Aplikasi load pada uji fraktur dilakukan penekanan dibagian tengah restorasi untuk mensimulasikan keadaan oklusi sentrik.
4.6 Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisi secara statistic dengan menggunakan uji One Way Anova dengan derajat kepercayaan 95 % dan tingkat kemaknaan α = 0,05 untuk melihat ada tidaknya perbedaan antara kelompok.Uji Post Hoc LSD dilakukan untuk menentukan nilai signifikan dari setiap kelompok.
Zig Sampel
Balok Akrilik
BAB 5
HASIL PENELITIAN
5.1 Hasil Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan desain penelitian postest only control group design. Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah gigi premolar atas dengan menetapkan beberapa kriteria yaitu tidak ada fraktur mahkota, ukuran mahkota gigi yang tidak berbeda secara ekstrim, belum pernah direstorasi, mahkota masih utuh dan tidak ada karies. Jumlah gigi yang digunakan adalah sebanyak 30 buah gigi yang dibagi secara random ke dalam tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok Filtek Bulk Fill (3M ESPE), kelompok Sonicfill (Kerr), dan kelompok everX (GC)+ Filtek Bulk Fill (3M ESPE). Pada penelitian ini matriks yang digunakan Greater Curve
Tofflemire (Halodent) yang dapat memberikan adaptasi marginal servical yang
rapat pada restorasi sehingga mencegah overhanging.
Uji ketahanan fraktur dilakukan dengan menggunakan alat Torsee’s Universal Testing Machine dan data yang diperoleh berupa load dalam satuan kilogram force (Kgf) dan kemudian dikonversikan kedalam satuan Newton.
5.2 Analisis Hasil Penelitian
Untuk mengetahui perbedaan ketahanan fraktur pada kelompok perlakuan digunakan uji one way ANOVA dengan derajat kemaknaan α = 0,05. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data telah terdistribusi normal atau tidak dan diperoleh hasil p>0,05. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas varian terhadap data dan diperoleh hasil p>0,05 yang menunjukkan varian data keempat kelompok tersebut homogen. Dengan demikian data yang diperoleh telah memenuhi syarat dan dapat dilakukan uji ANOVA. Data deskriptif uji ANOVA dengan perhitungan derajat kemaknaan α = 0,05 menunjukkan nilai rerata setiap kelompok. Tabel 2 memperlihatkan nilai rerata
dari nilai ketahanan fraktur dan standar deviasi dari masing-masing kelompok. Terlihat bahwa resin komposit kelompok III yaitu everX bulk fill (GC) memiliki ketahanan fraktur yang tertinggi (882,94±64,41 N), kelompok II yaitu sonicfill
bulk fill (kerr) (856,48±101,35 N) dan kelompok I filtek bulk fill (3M ESPE)
(812,15±66,89 N).
Tabel 2. Data deskriptif yang menunjukkan nilai rerata dari simpangan baku dari uji ANOVA pada pengukuran ketahanan fraktur restorasi resin komposit pada kelompok I,II, dan III.
Kelompok Ketahanan Fraktur (Newton) x±SD P I
Restorasi resin kompositbulk
fill yang mengandung
monomer AUDMA dan AFM
812,15±66,89
0.151 II
Restorasi resin komposit bulk
fill yang diaktivasi sonic
856,48±101,35
III
Restorasi resin komposit bulk
fill yang diperkuat short fiber
882,94±64,41
Hasil uji anova menunjukkan bahwa nilai p=0,151>p=0,05 secara statistik tidak berbeda signifikan pada ketahanan fraktur terhadap seluruh kelompok perlakuan
Gambar 17. Grafik menunjukkan rerata nilai ketahanan fraktur restorasi resin komposit
Dari gambar 15 terlihat kelompok III (EverX Bulk Fill) memiliki nilai rerata ketahanan fraktur tertinggi yaitu 882,94 N kemudian diperingkat kedua yaitu kelompok II (Sonicfill) dengan nilai rerata sebesar 856,48 N selanjutnya kelompok I (Filtek Bulk Fill) di urutan ke 3 dimana nilai yang di dapat sebesar 812,15 N.
Tabel 3.Tabel Least Significant Differences (LSD) pada pengukuran ketahanan fraktur restorasi resin komposit pada kelompok I,II, dan III.
(I) Kelompok Perlakuan (J) Kelompok Perlakuan Mean Difference (I-J) Sig. Filtek Bulk Fill Sonicfill Bulk Fill -44.33600 .222
EverX Bulk Fill -70.79400 .056
Sonicfill Bulk Fill Filtek Bulk Fill 44.33600 .222
EverX Bulk Fill -26.45800 .462
EverX Bulk Fill Filtek Bulk Fill 70.79400 .056
Sonicfill Bulk Fill 26.45800 .462
Hasil uji LSD menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antar ketiga kelompok perlakuan (p > 0,05) (Tabel 3).
750 800 850 900
1 2 3
Mean of Load (Newton)
BAB 6 PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan desain penelitian postest only control group design. Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah gigi premolar atas dengan menetapkan beberapa kriteria yaitu tidak ada fraktur mahkota, ukuran mahkota gigi yang tidak berbeda secara ekstrim, belum pernah direstorasi, mahkota masih utuh dan tidak ada karies. Jumlah gigi yang digunakan adalah sebanyak 30 buah gigi yang dibagi secara random ke dalam tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok Filtek Bulk Fill (3M ESPE), kelompok Sonicfill (Kerr), dan kelompok everX (GC)+ Filtek Bulk Fill (3M ESPE). Pada penelitian ini matriks yang digunakan Greater Curve
Tofflemire (Halodent) yang dapat memberikan adaptasi yang lebih baik pada
restorasi sehingga mencegah overhanging.
Berdasarkan hasil yang diperoleh setelah dilakukan uji tekan pada ketiga kelompok, secara deskriptif didapat nilai rerata kelompok restorasi EverX bulk
fill (GC) yang paling tinggi kemudian disusul oleh Sonicfill bulk fill (Kerr) dan
diurutan terakhir Filtek bulk fill (3M ESPE). Tetapi hasil penelitian ini tidak berbeda secara statistic, ditunjukkan dari hasil uji one way ANOVA pada ketiga kelompok perlakuan dengan nilai p>0,05.
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang didapat oleh Vahid AN dkk (2015) yang meneliti ketahanan fraktur pada gigi premolar pertama maksila yang dipreparasi klas II MOD dan direstorasi dengan resin komposit
bulk fill, hasilnya menunjukkan bahwa everX (GC) memiliki nilai ketahanan
fraktur yang paling tinggi dibanding resin komposit lainnya.1
EverX bulk fill (GC) pada penelitian ini mempunyai nilai fraktur terbesar
karena kandungannya yang terdiri dari kombinasi matriks resin, short e-glass
fiber terbukti mengontrol stress pada saat penyusutan polimerisasi oleh fiber ,
mengurangi kebocoran mikro marginal yang juga akan meningkatkan ketangguhan retak serta mengurangi polimerisasi penyusutan.1 Hal ini juga didukung oleh penelitian Aboueill H dkk (2015) yang menemukan bahwa fiber yang ada pada resin komposit dapat sebagai crack stopper ketika diberikan tekanan dan pengamatan lain yang dapat ditemukan resin komposit yang mengandung fiber tetap melekat bahkan setelah kegagalan sampel dan pembentukan garis retak.12,28
Sonicfill (Kerr) merupakan resin komposit yang memiliki volume
shrinkage yang lebih rendah, yaitu sekitar 1,6% serta stress polimerisasi yang
rendah. Bahan yang terdapat pada SDR memiliki keunggulan karena memiliki kadar filler yang tinggi yaitu 83% dan dimana bahan ini mengurangi shrinkage polimerisasi maupun meningkatkan kekuatan bahan.10 Shrinkage polimerisasi
yang rendah meminimalisasi terbentuknya celah atau gap sehingga mengurangi terjadinya crack yang dapat menimbulkan fraktur.9,14 Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fahad F (2014) mengungkapkan tenaga ultasonik pada sonik fill mampu menurunkan viskositas komposit sonicfill sampai 87% meningkatkan sifat adhesi resin komposit.29 Ibarra ET dkk (2015) juga memiliki pernyataan yang sama pada penelitiannya tentang Teknik vibrasi ultrasonik dapat menyebabkan aliran resin komposit merata dan padatsehingga memungkinkan material dari restorasi tersebut dapat mengalir dan beradaptasi dengan mudah pada dinding kavitas tanpa terbentuknya gelembung udara.30
Filtek bulkfill (3M ESPE) merupakan resin komposit yang menggunakan dua jenis monomer yang apabila dikombinasikan dapat mengurangi shrinkage. Monomer pertama yaitu AUDMA (aromatic dimethacrylate) akan mengurangi kelompok resin reaktif, ini akan mengurangi shrinkage volumetric. Monomer kedua yaitu AFM (addition fragmentation monomer) akan membelah proses fragmentasi yang sedang berlangsung sehingga akan memberikan efek relaksasi pada saat polimerisasi terjadi sehingga akan mengurangi stress. Hal ini didukung oleh penelitian Hambire UV
et al (2012) yang menemukan bahwa resin komposit ini dapat menyerap stress akibat load yang diberikan dengan cara pecah menjadi fragment-fragment kecil dan terpisah dari struktur cluster utama dan hal ini akan meningkatkan resistensi terhadap fraktur. 22,31
Melalui hasil deskriptif dapat dilihat bahwa resin komposit bulk fill yang mengandung fiber memiliki ketahanan fraktur yang lebih tinggi dibandingkan resin komposit bulk fill lainnya. Meskipun analisis one way ANOVA tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Perbedaan yang tidak signifikan ini mungkin terjadi akibat beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi. Kesulitan dalam mencari sampel penelitian yaitu gigi premolar maksila yang masih fresh juga mempengaruhi dalam mengukur suatu ketahanan fraktur dari tambalan karena gigi yang telah lama dicabut akan terjadi perubahan struktur gigi. Struktur dentin yang terdiri atas bahan anorganik, organic dan air dapat berubah. Kandungan bahan anorganik dentin seperti kalsium, hidroksiapatit dan lain-lain akan berkurang banyak pada gigi yang telah dicabut. Kandungan bahan organic seperti kolagen akan mengalami penurunan pada gigi yang telah lama dicabut. Perubahan struktur gigi tersebut akan mempengaruhi ikatan kimiawi antara gigi dengan resin komposit.37
Jefferson dkk(2013) melakukan penelitian ketahanan fraktur gigi premolar dengan mengontrol semua bentuk dan variasi gigi yang menjadi sampel.Gigi yang menjadi sampel diamati dibawah mikroskop untuk memastikan sampel bebas karies dan crack. Pada penelitian ini, variasi bentuk tonjol, posisi tonjol maupun tinggi tonjol premolar atas yang menjadi sampel juga tidak dikontrol. Selain itu adanya kemungkinan micro crack yang sudah ada sebelumnya juga tidak dikontrol karena pada penelitian ini sampel yang digunakan tidak diamati di bawah mikroskop untuk memastikan tidak adanya micro crack.32
Pada penelitian ini gigi yang digunakan tidak dikendalikan usianya apakah didapat dari pasien yang sudah tua ataupun muda karena usia merupakan
dapat mempengaruhi hasil pada penelitian ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Noronha et al (2011) menemukan bahwa ketahanan fraktur gigi premolar atas pada usia muda 18-21 tahun berkisar 77,5 Kgf sedangkan pada usia tua ≥60 tahun berkisar 128,9 Kgf, perbedaan ketahanan fraktur yang jauh ini disebabkan oleh susunan enamel rods pada usia muda yang berbentuk tegak lurus sedangkan pada usia tua berbentuk miring dimana perbedaan ini akan menentukan ketahanan fraktur suatu gigi.33
Fahad F (2014) menyatakan bahwa dalam meneliti ketahanan fraktur pada gigi juga bisa dilapisi foil di permukaan akar yang ditandai 2 mm dibawah cementoenamel junction untuk mendapatkan simulasi jaringan periodonsium. 29 Franca et al (2005) menyatakan bahwa dalam meneliti ketahanan fraktur pada gigi, permukaan akar gigi harus dilapisi wax setinggi 2 mm di bawah cementoenamel junction untuk mensimulasikan jaringan periodonsium.34Dalam penelitian ini wax ataupun foil tidak digunakan untuk melapisi akar gigi sehingga tidak mensimulasikan jaringan periodonsium sehingga kemungkinan dapat mempengaruhi hasil yang didapat.
Proses uji tekan juga bisa mempengaruhi hasil penelitian yang dapat menyebabkan perbedaan yang tidak signifikan. Pada penelitian ini alat uji tekan yang digunakan adalah Universal Testing Machine dimana alat ini tidak bisa mensimulasikan kondisi yang sepenuhnya sama dengan kondisi rongga mulut meskipun beberapa kondisi telah dilakukan untuk mensimulasikan lingkungan rongga mulut, hal ini disebabkan karena untuk menganalisis kemampuan material dari sistem restorasi sepanjang proses penggunaannya lebih dibutuhkan cylic stress yang memberikan load yang berulang-ulang sehingga didapat dinamic load yang dapat mensimulasikan tekanan pengunyahan yang lebih baik. Pada penelitian ini Universal Testing Machine hanya memberikan load pada satu arah dan satu titik sehingga tidak mensimulasikan gaya sebenarnya yang terjadi pada proses mastikasi.1,35
Pada penelitian ini dilakukan proses thermocycling dengan suhu 5˚ dan 55˚ karena merupakan suhu yang paling mirip dengan kondisi rongga
mulut, kemudian dilakukan proses thermocycling sebanyak 500 kali yang setara dengan penggunaan selama 20 sampai 25 hari di dalam rongga mulut. Meskipun demikian namun hasil uji belum menunjukkan nilai yang signifikan, oleh karena itu penelitian lebih lanjut perlu dilakukan langsung pada rongga mulut.
Jika dilihat dari hasil deskriptif, ketahanan fraktur resin komposit bulk fill everX (GC) lebih besar dibandingkan bulk fill lainnya. Akan tetapi setelah diuji dengan one way ANOVA, dihasilkan nilai p>0,05 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan pada setiap kelompok. Jumlah sampel yang semakin banyak mempengaruhi keakuratan hasil penelitian jika diuji secara analisis one
way ANOVA. Pada penelitian ini ada beberapa variabel yang tidak dapat
dikendalikan dimulai dari sampel yang tidak diketahui jangka waktu pencabutan sampai diberikan perlakuan, sampel yang tidak dilakukan pemeriksaan dibawah mikroskop atau loop untuk melihat micro crack nya, faktor kandungan bahan orgnaik dan anorganik pada gigi setelah dilakukan pencabutan, usia gigi dan lain lain yang hal tersebut kemungkinan dapat menyebabkan tidak ada perbedaan ketahanan fraktur yang signifikan pada ketiga bahan.
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Pada penelitian ini tidak ada pengaruh penggunaan resin komposit bulk
fill yang berbeda sebagai restorasi terhadap ketahanan fraktur pada restorasi klas
II MOD. Akan tetapi penggunaan resin komposit bulk fill memiliki keuntungan dalam aplikasi klinis karena mempermudah proses restorasi dan menghemat waktu aplikasi. Selain itu resin komposit bulk fill dapat mengurangi shrinkage dan memiliki adaptasi bahan yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan ketahanan restorasi.
7.2 Saran
1. Agar menggunakan sampel gigi yang masih fresh atau tidak dalam waktu yang lama gigi telah dilakukan pencabutan sehingga hasil penelitian yang diperoleh menjadi lebih akurat dan dapat memberikan gambaran terhadap situasi sebenarnya.
2. Agar dilakukan pemeriksaan sampel gigi dibawah mikroskop atau menggunakan loop sebelum dijadikan sampel penelitian untuk memastikan tidak ada micro crack pada sampel gigi.