10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

132  Download (0)

Teks penuh

(1)

I. Tinjuan Medis

A. Kehamilan

1.

Definisi

Masa Kehamilan adalah masa yang dihitung dari konsepsi

sampai lahir janin yaitu dimulai dari fertilisasi atau penyatuan dari

spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi

yang berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan

menurut kalender internasional (Prawirohardjo, 2010. Hal 213).

Periode antepartum adalah periode kehamilan yang dihitung

sejak hari pertama haid terahir (HPHT) hingga dimulainya persalinan

sejati, yang menandai awal periode antepartum (Varney, 2007.Hal

492).Lama kehamilan yaitu 280 hari atau 40 pekan (minggu) atau 10

bulan (lunar months) (Mochtar, 2012. Hal 35).

Proses kehamilan adalah matarantai yang bersinambung dan

(2)

2.

Tanda dan Gejala Kehamilan

Mochtar (2012, hal 35) menjelaskan bahwa tanda-tanda kehamilan

antara lain :

a. Tanda-tanda dugaan hamil

1) Amenoea (tidak mendapat haid)

Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terahir

(HT) supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran tanggal

persalinan (TTP), yang dihitung denga menggunakan rumus dari

Naegele : TTP = (hari HT+7) dan (bulan HT-3) dan (tahun HT+1).

2) Mual dan Muntah (nausea and vomiting)

Biasaya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga

akhir triwulan pertama.Karena sering terjadi pada pagi hari

disebut morning sickness (sakit pagi).Apabila terjadi mual dan muntah berlebihan karena kehamilan, disebut hiperemesis gravidarum.

3) Mengidam (ingin makanan khusus)

Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu

terutama pada bulan-bulan triwulan pertama.Mereka juga tidak

tahan suatu bau-bauan.

4) Pingsan

Jika berada pada tempat-tempat ramai yang sesak dan padat,

(3)

5) Tidak ada selera makan (anoreksia)

Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamilan,

kemudian nafsu makan timbul kembali.

6) Lelah (fatigue)

7) Payudara membesar, tegang dan sedikit nyeri

Disebabkan pengaruh estrogen dan progesterone yang merangsang duktus, dan aveoli payudara.Kelenjar Manthgomery terlihat lebih membesar.

8) Miksi sering

Karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar.

Gejala itu akan hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada ahir

kehamilan, gejala tersebut muncul kembali karena kandung kemih

ditekan oleh kepala janin.

9) Konstipasi/obstipasi karena tonus otot-otot usus menurun oleh

pengaruh hormone steroid.

10) Pigmentasi kulit oleh pengaruh hormone kotikosteroid plasenta,

dijumpai di muka (cloasma gravidarum), areola payudara, leher, dan dan dinding perut (linea nigra = grisea).

11) Epulis : hipertofi papilla gingivalis.

12) Pemekaran vena-vena (varises) dapat terjadi pada kaki, betis, dan

(4)

b. Tanda-tanda kemungkinan hamil

1) Perut membesar

2) Uterus membesar :terjadi perubahan dalam bentuk, besar, dan

konsistensi rahim.

3) Tanda Hegar : ditemukannya serviks dan isthmus uteri yang lunak pada pemeriksaan bimanual saat usia kehamilan 4 sampai 6

minggu.

4) Tanda Chadwick : peubahan warna menjadi kebiruan yang terlihat

diporsio, vagina dan labia. Tanda tersebut timbul akibat pelebaran

vena karena peningkatan kadar estrogen.

5) TandaPiskacek : pembesaran dan pelunakan rahim ke salah satu sisi rahim yang berdekatan dengan tuba uterine. Biasanya tanda

ini ditemukan di usia kehamilan 7-8 minggu.

6) Kontraksi-kontraksi kecil uterus jika dirangsang (Braxton-Hicks) 7) Teraba ballottement

8) Reaksi kehamilan positif

c. Tanda Pasti (tanda positif)

1) Gerakan janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga

bagian-bagian janin.

2) Denyut jantung janin

(5)

3) Terlihat tulang-tulang janin dalam foto rontgen (Mochtar, 2012.

Hal 36).

3.

Perubahan fisiologis kehamilan

a. Uterus

Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan

melindungi hasi konsepsi (janin, plasenta, amnion) sampai

persalinan. Pada awal kehamilan penebalan uterus distimulasi

terutama oleh hormone estrogen dan sedikit oleh progesterone,akan

tetapi setelah kehamilan 12 minggu lebih, penambahan ukuran uterus

di dominasi oleh desakan dari hasil konsepsi ( Prawirohardjo, 2010, hal 175 ).

Rahim atau uterus yang semula besarnya sejempol atau beratnya

30 gram akan mengalami hipertrofi dan hiper plasia, sehingga menjadi berat 1000 gram saat ahir kehamilan. Otot rahim mengalami

hyperplasia dan hipertrofi menjadi lebih besar, lunak, dan dapat

mengikuti pemeriksaan rahim karena pertumbuhan janin (Manuaba,

2010, hal 85).

b. Ovarium

Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung

korpus luteum gravidarumakan meneruskan fungsinya sampai

terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu

(6)

Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel baru juga ditunda,folikel ini akan berfungsi maksimal 6-7

minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan sebagai

penghasil progesterone dalam jumlah yang relative minimal

(Prawirohardjo,2010 hal 178).

c. Vagina dan Perineum

Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena

pengruh estrogen sehingga tampak makin berwarna merah dan

kebiruan (tanda Chadwicks) ( Manuaba, 2010, hal 92 ).

Selama masa kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hyperemia terlihat jelas pada kulit dan otot-otot di perineum dan

vulva,sehingga pada vagina akan terlihat berwarna keunguan yang

dikenal dengan tanda Chadwick. Dinding vagina mengalami banyak

perubahan yang merupakan persiapan untuk mengalami peregangan

pada waktu persalinan dengan meningkatnya ketebalan

mukosa,mengendornya jaringan ikat,dan hipertrofi sel otot polos

(Prawirohardjo, 2010, hal 178).

d. Kulit

Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi

kemerahan,dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah

(7)

mempunyai peran dalam melanogenesis (Prawirohardjo, 2010,

hal.179).

e. Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai

persiapan memberikan asi pada saat laktasi (Manuaba, 2012, hal.

92). Pada awal kehamilan perempuan akan merasakan payudaranya

menjadi lebih lunak, setelah bulan kedua payudara akan bertambah

ukurannya dan vena-vena di bawah kulit akan lebih terlihat. Putting

payudara akan lebih besar, kehitaman, dan tegak ( Prawirohardjo,

2010, hal 179 ).

f. Perubahan Metabolik

Sebagian besar penambahan berat badan berasal dari uterus dan

isinya, kemudian payudara, voulume darah dan cairan

ekstraseluler.asam folat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan

pembelahan sel dalam sintesis DNA/RNA ( Prawirohardjo, 2010, hal

180-183 ).

g. Perubahan Sistem Kardiovaskuler

Pada minggu kelima cardiac outpot akan meningkat dan

perubahan ini terjadi untuk mengurangi resistensi vaskuler siskemik.

volume darah akan meningkat secara progresif mulai minggu ke 6-8

kehamilan dan mencapai puncaknya pada minggu ke 32-34 dengan

perubahan kecil setelah minggu tersebut. Peningkatan volume

(8)

aksi progesterone dan estrogen pada ginjal yang diinisiasi oleh jalur

rennin-angiotensin dan aldosteron.penambahan volume darah ini sebagian besar berupa plasma dan eritrosit.

Eritroprotein ginjal akan meningkatkan jumlah sel darah merah

sebanyak 20-30 %, tetapi tidak sebanding dengan peningkatan

volume plasma sehingga akan mengakibatkan hemodialusi dan penurunan konsentrasi hemoglobin dari 15 g/dl menjadi 12,5 g/dl, dan

pada 6 % perempuan bisa mencapai dibawah 11 g/dl. Pada

kehamilan lanjut kadar haemoglobin dibawah 11 g/dl itu merupakan

suatu hal yang abnormal dan biasanya lebih berhubungan dengan

defisiensi zat besi daripada dengan hipervolemia.kebutuhan zat besi

selama kehamilan kurang lebih 1000 mg atau rata-rata 6-7 mg/hari (

Prawirohardjo, 2010, hal 182 ).

h. Sistem respirasi

Selama kehamilan sirkumferensia torak akan bertambah kurang

lebih 6 cm, tetapi tidak mencukupi penurunan kapasitas residu

fungsional dan volume residu paru-paru karena pengaruh diafragma

yang naik kurang lebih 4 cm selama kehamilan. Perubahan ini akan

mencapai puncaknya pada minggu ke 37 dan akan kembali hampir

seperti sedia kala dalam 24 minggu setelah persalinan (

(9)

i. Traktus Digestivus

Seiring dengan makin besarnya uterus lambung dan usus akan

terjadi perubahan posisi dan menurunnya tonus sfingter esophagus bagian bawah. Mual terjadi akibat penurunan asam hidrokloid dan

penurunan motilitas, serta konstipasi sebagai akibat penurunan motilitas usus besar (Prawirohardjo, 2010.Hal 185).

j. Traktus Urinarius

Karena pengaruh desakan hamil muda dan turunnya kepala bayi

pada hamil tua, terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering

berkemih.pada kehamilan ureter membesar untuk dapat menampung

banyaknya pembentukan urine, terutama pada ureter kanan yang

terhambat karena pengaruh progesterone (Manuaba.2010,hal. 94 ).

k. Sistem endokrin

Selama kehamilan normal kelenjar hipofis akan membesar kurang

lebih 135%, hormone prolaktin akan meningkat 10 kali lipat pada saat

kehamilan aterm. Kelenjar tiroid akan mengalami pembesaran hingga

15,0 ml pada saat persalinan akibat dari hyperplasia kelenjar dan peningkatan vaskularisasi.kelenjar adrenal pada kehamilan akan

mengecil (Prawirohardjo, 2010, hal. 185).

l. Sistem muskuluskeletal

Sendi sakroiliaka, sakrokoksisgis dan pubis akan meningkat

mobilitasnya, yang disebabkan karena pengaruh hormonal, morbilitas

(10)

akhirnya menyebabkan perasaan tidak enak pada bagian bawah

punggung terutama pada akhir kehamilan ( Prawirohardjo, 2010, hal.

186 ).

4.

Proses Kehamilan

a.

Ovulasi

Adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh sistem

hormonal yang komplek dimana proses pertumbuhan ovum dimulai

dari epitel germinal, oogonium, folikel primer,dan terjadilah proses

pematangan pertama ( Manuaba,2010, hal. 75 ).

b.

Spermatozoa

Pertumbuhan spermatozoa dipengaruhi oleh sistem hormonal yang komplek dari panca indra, hipotalamus,hipofisis, dan sel

interstitial Leydig sehingga dapat mengalami proses mitosis. Pada

setiap hubungan seksual dikeluarkan sekitar 3 cc sperma yang

mengandung 40 sampai 60 juta spermatozoa setiap cc. Bentuk

spermatozoa seperti cebong yang terdiri atas kepala (lonjong sedikit

gepeng yang mengandung inti),leher (penghubung antara kepala dan

ekor), ekor (panjang sekitar 10 kali kepala, mengandung energy

sehingga dapat bergerak) (manuaba,2010, hal. 76).

c.

Konsepsi

Pembuahan adalah suatu peristiwa penyatuan sel mani dengan

sel telur di tuba uterine. Dalam pembuahan satu sperma yang telah

(11)

masuk ke vitelus ovum. Setelah itu zona pelusida mengalami

perubahan sehingga tidak dapat dilalui oleh sperma lain (Mochtar,

2012.H 17). Setelah ovum matang maka siap dibuahi oleh sperma

setelah 12 jam dan hidup selama 48 jam,sedangkan spermatozoa

hidup selama tiga hari di dalam genitalia interna ( Manuaba, 2010,

hal. 77)

d.

Proses Nidasi atau Implantasi

Nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium ( Mochtar, 2012 hal. 17 ). Setelah pertemuan

kedua inti ovum dan spermatozoa, terbentuk zigot yang dalam

beberapa jam telah mampu membelah dirinya menjadi dua dan

seterusnya. Berbarengan dengan pembelahan inti, hasil konsepsi

terus berjalan menuju uterus. Hasil pembelahan sel memenuhi

seluruh ruangan dalam ovum yang besarnya 100 MU atau 0,1

mmdan disebut stadium morula. Selama pembelahan sel di bagian

dalam, terjadi pembentukan sel di bagia luar morula yang

kemungkinan berasal dari korona radiate yang menjadi sel trofoblas.

Sel trofoblas dalam pertumbuhannya, mampu mengeluarkan

hormone korionik gonadotropin, yang mempertahankan korpus

luteum gravidarum ( Manuaba, 2010, hal. 80 ).

e.

Pembentukan Plasenta

(12)

entoderm dan yolk sac ( Kantong kuning telur ) sedangkan sel lain

membentuk ectoderm dan ruangan amnion ( Manuaba 2010, hal 82 ).

Ruang amnion inilah yang akan bertumbuh pesat mendesak

ekoselom sehingga dinding ruang amnion mendekati korion.

Mosobles diantara ruang amnion dan mudigah menjadi padat yang

disebut dengan body stalk dan nantinya akan menjadi tali pusat. Pada tali pusat ini terdapat jaringan lembek yang berfungsi untuk

melindungi pembuluh darah, 2 arteri umbilikalis dan 1 vena

umbilikalis.Kedua arteri dan satu vena ini berfungsi untuk

menghubungkan sistem kardiovaskuler janin dengan plasenta. Sistem

kardiovaskuler akan terbentuk kira-kira pada kehamilan minggu ke

sepuluh ( Mochtar, 2012, hal. 19 ).

5.

Pertumbuhan dan perkembangan janin

Pertumbuhan dan perkembangan janin menurut Varney (2007, hal. 504)

yaitu :

a. Trimester Pertama

Pertumbuhan dan perkembangan dimulai dengan fertilisasi dan proses fusi pronekleus pada wanita dan pria masing-masing dari

ovum dan sperma. Proses fusi ini menghasilkan sel tunggal yang disebut zigot. Segera setelah fertilisasi zigot yang dihasilkan mulai

(13)

1) Minggu ke 3

Ditandai dengan mulainya morfogenesis, yakni perkembangan

bentuk tubuh (embrio). 2) Minggu ke 4

Jantung mulai bedetak pasca fertilisasi (enam minggu

berdasarkan masa menstruasi terahir).Selama minggu ke 4 terjadi

perkembangan lapisan longitudinal meliputi lapisan kepala dan

lapisan ekor yang mengubah embrio dari bentuk yang lurus enjadi

bentuk yang memiliki lekuk. Pada ahir minggu ke 4, embrio diperkirakan memiliki ambaran seperti kadal dan mempunyai

bakal telinga (lubang otis), lengan (bakal lengan), tungkai (bakal

tungkai), dan struktur leher dan wajah (empat lekuk brakial

pertam).

3) Minggu ke 5

Perkembangan pesat pada otok menghasilkan perkembangan

kepala yang membesar dan membuatnya menjadi bagia yang

lebih besar dari pada anggota tubuh lainnya.Perkembangan

berlangsung dari kepala hingga bokong dan tungkai berkembang,

mata terbentuk bakal lensa, cangkir optic dan pigmen retina.

4) Minggu ke 6

Perkembangan pada minggu ini terbentuk mulut, hidung, dan

(14)

5) Minggu ke 7

Perkembangan janin pada minggu ini yaitu berkembang

lempeng kaki , kelopak mata dapat terlihat, usus halus mengalami

herniasi ke bagian belakang tali pusat yang memiliki ruan untuk

usus tersebut.

6) Minggu ke 8

Periode ini menandai ahir dari periode embroik.Semua

struktur eksternal dan internal sudah terbentuk dan mengalami

perkembangan.

b. Trimester kedua dan ketiga

1) Minggu ke 13-16

Kelopak mata mengalami fusi sedangkan kepala berkembang

lambat, sementara telinga bergerak ke posisi yang lebih tinggi

pada kepala dan dagu, kedua lengan telah mencapai panjang

sesungguhnya, kuku jari tangan mulai berkembang, respon reflek

sudah terjadi meski ibu belum merasakan.Minggu ke 14 jenis

kelamin mulai jelas terlihat, pada minggu ke 16 terjadi

perkembangan tulang.

2) Minggu ke 17-20

Kaki telah mencapai panjang total, kuku jari kaki mulai

tumbuh, kelopak mata masih menyatu, pada ahir bulan vernik

caseosa mulai menutupi seluruh tubuh.Vernik caseosa adalah

(15)

permukaan yang tebal, suatu substansi seperti keju yang

melindungi kulit janin yang rapuh.Detak jantung dapat terdengar

dengan menggunakan fetoskop.

3) Minggu ke 21-24

Seluruh tubh janin dilapisi lanugo, yakni rambut halus yang

menurun, bakal gigi permanen telah muncul, tangan mulai

membentuk kepalan dan pegangan, lemak coklat yang

merupakan sumber energy, produksi panas, dan pengaturan

panas pada bayi baru lahir juga mulai terbentuk.

4) Minggu ke 25-28

Sufaktan mulai dihasilkan paru-paru pada usia 26 minggu,

gerakan menghisap semakin kuat, mata mulai menutup, dan

membuka, kuku pada jari mulai telihat.

5) Minggu ke 29-32

Tubuh janin sudah berisi elemak,janin telah memiliki kendali

terhadap gerak pernafasan yan berirama dan temperature tubuh,

mata telah terbuka, reflek cahaya terhadap pupil muncul.

6) Minggu ke 33-36

Kulit mulai halus, tubuh menjadi semakin bulat, rambut

memanjang, kuku sudah sempurna, testis sebelh kiri biasanya

(16)

7) Minggu ke 37-40

Pertumbuhan dan perkembanan janin telah mencapai

sempuna dengan dada dan kelenjar payudara menonjol pada

kedua jenis kelamin, kedua testis sudah masuk ke skrotum,

lanugo semakin menghilang

Tabel 2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Janin

Usia

 Hidung, kuping dan jari terbentuk 12 MInggu 9 cm  Kuping lebih jelas

 Kelopak mata terbentuk  Genetalia eksterna terbentuk 16 Minggu 16-18 cm  Genetalia jelas terbentuk  Menyempurnakan janin 40 Minggu 50-55 cm  Bayi cukup bulan

 Kulit berambut dengan baik  Kulit kepala tumbuh baik

 Pusat penulangan pada fibia proksimal

Sumber :Manuaba, 2010, hal. 89.

6.

Ketidaknyamanan selama kehamilan a. Nausea

Nausea, dengan atau tanpa di sertai muntah-muntah, ditafsirkan

(17)

b. Ptialisme (Salivasi Berlebihan)

Ptialisme merupakan kondisi yang tidak lazim, yang dapat disebabkan oleh peningkatan keasaman di dalam mulut atau

peningkatan asupan zat pati, yang menstimulasi kelenjar saliva pada

wanita yang rentan mengalami sekresi berlebihan (Varney, 2007; hal

537).

c. Keletihan

Keletihan dialami pada trimester pertama, namun alasannya

belum diketahui.Salah satu dugaan adalah bahwa keletihan

diakibatkan oleh penurunan drastis laju metabolisme dasar pada awal

kehamilan, tetapi alasan hal ini terjadi masih belum jelas.Untungnya,

keletihan merupakan ketidaknyamanan yang terbatas dan biasanya

hilang pada akhir trimester pertama (Varney, 2007; hal 537).

d. Nyeri punggung bagian atas (Nonpatologis)

Nyeri punggung bagian atas terjadi selama trimester pertama

akibat peningkatan ukuran payudara, yang membuat payudara

menjadi berat.Pembesaran ini dapat mengakibatkan tarikan otot jika

payudara tidak disokong adekuat (Varney, 2007; hal 538).

Metode untuk mengurangi nyeri ini ialah dengan menggunakan

bra yang berukuran sesuai ukuran payudara.Dengan mengurangi

mobilitas payudara, bra penyokong yang berukuran tepat juga

mengurangi ketidaknyamanan akibat nyeri tekan pada payudara yang

(18)

e. Leukorea

Leukorea adalah sekresi vagina dalam jumlah besar, dengan konsistensi kental atau cair, yang dimulai pada trimester

pertama.Upaya untuk mengatasi leukorea adalah dengan memperhatikan kebersihan tubuh pada area tersebut dan mengganti

panty berbahan katun dengan sering (Varney, 2007; hal 538). f. Peningkatan Frekuensi Berkemih

Frekuensi berkemih selama trimester pertama terjadi akibat

peningkatan berat pada fundus uterus.Peningkatan berat pada fundus

uterus ini membuat istmus menjadi lunak (tanda hegar),

menyebabkan antefleksi pada uterus yang membesar.Hal ini menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih.Frekuensi

berkemih pada trimester ketiga paling sering dialami oleh wanita

primigravida setelah lightening terjadi. Efek lightening adalah bagian

presentasi akan menurun masuk kedalam panggul dan menimbulkan

tekanan langsunng pada kandung kemih. Tekanan ini menyebabkan

wanita merasa perlu berkemih.Satu-satunya metode yang dapat

dilakukan untuk mengurangi frekuensi berkemih ini adalah dengan

mengurangi asaupan cairan sebelum tidur malam sehingga wanita

tidak perlu bolak-balik ke kamar mandi pada saat mencoba tidur

(19)

g. Nyeri Ulu hati

Nyeri ulu hati, ketidaknyamanan yang mulai timbul menjelang

akhir trimester ke dua dan bertahan hingga trimester ketiga adalah

kata lain untuk regurgitasi atau refluks isi lambung yang asam menuju

esophagus bagian bawah akibat peristaltis balikan. Isi lambung bersifat asam karena sifat asam hidroklorida ini menyebabkan materi

tersebut membakar tenggorok dan teraba tidak enak (Varney, 2007;

hal 538).

h. Flatulen

Peningkatan flatulen diduga akibat penurunan mortilitas

gastrointestinal.Hal ini kemungkinan merupakan akibat efek

peningkatan progesteron yang merelaksasi otot halus dan akibat

pergeseran serta tekanan pada usus halus karena pembesaran

uterus (Varney, 2007; hal 539).

i. Konstipasi

Wanita yang sebelumnya tidak mengalami konstipasi dapat

memiliki masalah ini pada trimester kedua atau ketiga.Konstipasi

diduga terjadi akibat penurunan peristaltis yang disebabkan relaksasi

otot polos pada usus besar ketika terjadi peningkatan jumlah

progesterone. Penanganan konstipasi dapat digunakan dengan cara

antara lain dengan asupan cairan adekuat, konsumsi buah prem,

(20)

j. Hemoroid

Hemoroid sering didahului oleh konstipasi. Oleh karena itu, semua hemoroid sering didahului oleh konstipasi.oleh karena itu, semua

penyebab konstipsi berpotensi menyebabkan hemoroid. progesterone juga menyebabkan hemoroid. Progesteron juga menyebabkan

relaksasi dinding vena dan usus besar. Cara yang dapat dilakukan

untuk penanganan hemoroid antara lain mandi berendam, kompres witch hazel, kompres es,salep analgesic (Varney, 2007; hal 539).

k. Kram Tungkai

Dasar fisiologis untuk kram kaki belum diketahui dengan

pasti.Selama beberapa tahun, kram kaki diperkirakan disebabkan

oleh gangguan asupan kalsium atau asupan kalsium yang tidak

adekuat atau ketidakseimbangan rasio kalsium dan fosfor dalam

tubuh.Salah satu dugaaan lainnya adalah bahwa uterus yang

membesar memberi tekanan baik pada pembuluh darah panggul,

sehingga mengganggu sirkulasi, atau pada saraf sementara saraf ini

melewati foramen obturator dalam perjalanan menuju ekstremitas

bagian bawah (Varney, 2007; hal 540).

l. Edema Dependen

Edema dependen pada kaki timbul akibat gangguan sirkulasi vena

dan peningkaatan tekanan vena pada ekstremitas bagian bawah.

Gangguan sirkulasi ini disebabkan oleh tekanan uterus yang

(21)

berdiri dan pada vena kava inferior saat ia berada dalam posisi

telentang. Pakaian ketat yang menghambat aliran balik vena dari

ekstremitas bagian bawah juga memperburuk masalah (Varney,

2007; hal 540).

m. Varises

Varises dapat diakibatkan oleh gangguan sirkulasi vena dan peningkatan tekanan vena pada ekstremitas bagian bawah.

Perubahan ini diakibatkan penekanan uterus yang membesar pada

vena panggul saat wanita tersebut duduk atau berdiri dan penekanan

pada vena kava inferior saat ia berbaring. Pakaian yang ketat

menghambat aliran vena balik dari ekstremitas bagian bawah, atau

posisi berdiri yang lama memperberat masalah tersebut (Varney,

2007; hal 540).

n. Dispareunia

Perubahan fisiologis menjadi penyebab, seperti kongesti

vagina/panggul akibat gangguan sirkulasi yang dikarenakan tekanan

uterus yang membesar atau tekanan bagian

presentasi.Masalah-masalah fisik kemungkinan disebabkan abdomen yang membesar

atau dijumpai pada tahap akhir kehamilan saat bagian presentasi

mengalami penurunan ke dalam pelvis sejati (Varney, 2007; hal

(22)

o. Nokturia

Aliran balik vena dari ekstremitas difasilitasi saat wanita sedang

berbaring pada posisi lateral rekumben karena uterus tidak lagi

menekan pembuluh darah panggul dan vena kava inferior. Bila wanita

berbaring dalam posisi ini pada saat tidur dimalam hari, akibatnya

adalah pola diurnal kebalikan sehingga terjadi peningkatan keluaran

urine pada saat ini (Varney, 2007; hal 541).

p. Insomnia

Insomnia, baik pada wanita yang mengandung maupun tidak,

dapat disebabkan oleh sejumlah penyebab, seperti kekhawatiran,

kecemasan, terlalu gembira menyambut suatu acara untuk keesokan

hari.Wanita hamil, bagaimanapun, memiliki tambahan alasan fisik

sebagai penyebab insomnia. Hal ini meliputi ketidaknyamanan akibat

uterus yang membesar, ketidaknyamanan lain selama kehamilan, dan

pergerakan janin., terutama jika janin tersebut aktif (Varney, 2007; hal

541).

q. Nyeri pada Ligamentum Teres Uteri

Ligamentum terdiri atas sejumlah besar otot polos yang

merupakan lanjutan otot polos uterus.Jaringan otot ini memudahkan

ligamentum latum untuk hipertrofi selama kehamilan berlangsung

dan, yang terpenting, meregang seiring pembesaran

(23)

pada ligamentum teres uteri diduga terjadi akibat peregangan dan kemungkinan akibat penekanan berat uterus yang meningkat pesat

pada ligament (Varney, 2007; hal 541-542).

r. Nyeri Punggung Bawah

Nyeri punggung bawah merupakan nyeri punggung yang terjadi

pada area lumbosacral. Nyeri punggung bawah biasanya akan

meningkat intensitasnya seiring pertambahan usia kehamilan karena

nyeri ini merupakan akibat pergeseran pusat gravitasi wanita tersebut

dan postur tubuhnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh

berat uterus yang membesar (Varney, 2007; hal 542).

s. Hiperventilasi dan Sesak Nafas

Peningkatan jumlah progesteron selama kehamilan di duga

memengaruhi langsung pusat pernapasan untuk menurunkan kadar

karbondioksida dan meningkatkan kadar oksigen. Peningkatan kadar

oksigen menguntungkan janin. Hiperventilasi akan menurunkan kadar

karbondioksida (Varney, 2007; h.543). Sesak nafas merupakan

ketidaknyamanan terbesar yang dialami pada trimester ketiga.Selama

periode ini, uterus telah mengalami pembesaran hingga terjadi

penekanan diafragma. Selain itu, diafragma akan mengalami elevasi

kurang lebih 4 cm selama kehamilan (Varney, 2007; hal 543).

t. Kesemuatan dan Baal pada Jari

Perubahan pada pusat gravitasi akibat uterus yang membesar

(24)

dengan posisi bahu terlalu jauh ke belakang dan kepalanya antefleksi

sebagai upaya menyeimbangkan berat bagian depannya dan

lengkung punggungnya. Postur ini diduga menyebabkan penekanan

pada saraf median dan ulnar lengan, yang akan mengakibatkan

kesemutan dan baal pada jari-jari (Varney, 2007; hal 543).

u. Sindrom Hipotensi Telentang

Sindrom hipotensi telentang menyebabkan wanita merasa seperti

ingin pingsan dan ia menjadi tidak sadarkan diri bila masalah tidak

segera ditangani. Sindrom hipotensi telentang terjadi saat wanita

berbaring pada posisi telentang (seperti saat sedang tidur atau

berada diatas meja pemeriksaan) karena berat total uterus yang

membesar berikut isinya menekan vena kava inferior dan pembuluh

darah lainnya pada sistem vena. Aliran vena balik dari bagian bawah

tubuh dihambat, yang akhirnya mengakibatkan jumlah darah yang

mengisi jantung berkurang dan kemudian akan menurunkan curah

jantung. Sindrom hipotensi telentang dapat segera diatasi dengan

meminta wanita tersebut berbaring ke samping atau duduk (Varney,

2007; hal 544).

7.

Tanda Bahaya kehamilan

Menurut Kusmiyati (2009, h 136) tanda bahaya dalam kehamil adalah:

a. Perdarahan pervaginam

b. Sakit kepala hebat

(25)

d. Bengkak di wajah dan jari-jari tangan

e. Keluar cairan pervaginam

f. Gerakan janin tidak terasa

8.

Komplikasi Kehamilan a. Abortus (Keguguran)

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (Prawirohardjo,

2011.Hal 460).

Aborsi adalah suatu usaha mengahiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil pembuahan secara paksa sebelum janin mampu

bertahan hidup, jika dilahirkan (Varney, 2007.Hal. 604).

Jenis-jenis abortus menurut Prawirohardjo (2010. Hal 467) yaitu :

1) Abortus Iminens

Merupakan abortus tingkat permulaan dan merupakan

ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam,

ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam

kandungan.

2) Abortus Insipiens

Merupakan abortus yang sedang mengancam yang ditandai

serviks telah mendatar dab astium uteri telah membuka, akan

tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses

(26)

3) Abortus Kompletus

Merupakan abortus yang seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau

berat janin kurang dari 500 gram.

4) Abortus Inkompletus

Merupakan abortus yang sebagian hasil konsepsi telah keluar

dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal.

5) Missed abortus

Merupakan abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus

telah meninggal dalam kadungan sebelum kehamilan 20 minggu

dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.

6) Abortus habitualis

Merupakan abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih

berturut-turut.

b. Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik merupakan suatu kehamilan yang

pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada

dinding endometrium kavum uteri (Prawiohardjo, 2010.Hal 485).

c. Anemia pada kehamilan 1) Definisi

Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi.Anemia kehamilan disebut “potential danger to mother and

(27)

anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang

terkait dalam pelayanan kesehatan.Menurut WHO dikatakan

anemia apabila Hb kurang dari 11 g/dl (Manuaba, 2010. H 237)

2) Kebutuhan zat besi pada wanita hamil ( Manuaba, 2010. H 238)

Pada kehamilan relative terjadi anemia karena darah ibu hamil

mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32

sampai 34 minggu.

Sebagai gambaran berapa banyak kebutuhan zat besi pada

setiap kehamilan perhatikan bagan berikut :

Meningkatkan sel darah ibu 500 mg Fe

Terdapat dalam plasenta 300 mg Fe

Untuk darah janin 100 mg Fe

Jumlah 900 mg Fe

3) Diagnosis Anemia pada Kehamilan

Untuk menegakan diagnosis anemia kehamilan dapat

dilakukan dengan anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan

keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, dan

keluhan mual muntah hebat pada hamil muda.

Pemeriksaan dan pengawasan Hb dilakukan dengan alat sahli

yang dilakukan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pda

(28)

a) Tidak anemia : Hb 11 g%

b) Anemia ringan : Hb 9-10 g%

c) Anemia sedang : Hb 7-8 g%

d) Anemia berat : Hb <7 g%

4) Pengaruh Anemia dalam Kehamilan dan janin

a) Bahaya anemia pada kehamilan

(1) Bahaya selama kehamilan : dapat terjadi abortus,

persalinan prematuritas, IUGR, mudah terjadi infeksi,

molahidatidosa, hiperemesis gravidarum, perdarahan

antepartum, ketuban pecah dini (KPD).

(2) Bahaya saat persalinan : gangguan His (kekuatan

mengejan), kala 1 dapat berlangsung lama, terjadi partus

terlantar, kala 2 lama sehingga dapat melelahkan dan

sering memerlukan tindakan oprasi kebidanan, kala uri

dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan post partum

sekunder dan atonia uteri.

(3) Pada kala nifas : terjadi subinvolusi uteri menimbulkan

perdarahan post partum, memudahkan infeksi perineum,

pengeluaran ASI berkurang, mudah terjadi infeksi mamae.

b) Bahaya anemia pada janin : anemia akan mengurangi

kemampuan metabolism tubuh sehingga menggangu

pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat

(29)

kematian intrauterine, persalinan prematuritas tinggi, BBLR,

kelahiran dengan anemia dapat terjadi cacat bawaan, bayi

mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal.

5) Penngobatan Anemia dalam kehamilan

Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil

melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui

data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut. Dalam

pemeriksaan laboraturium, pemerintah juga telah m,enyediakan

preparat besi untuk dibagikan kepada masyarakat sampai ke

posyandu. ( Manuaba, 2010. H 240)

d. Perdarahan

Perdarahan pada kehamilan muda atau usia kehamilan

dibawah 20 minggu, umumnya disebabkan oleh keguguran.

Penyebab lainnya antara lain karena kelainan kromosom yang

ditemui pada spermatozoa ataupun ovum, pembesaran uterus yang

diatas normal (molahidatidosa), pembesaran uterus yang tidak sesuai

(lebih kecil) dari usia kehamilan, adanya massa di adneksa (KET)

(Prawirohardjo, 2010; h. 282).

Perdarahan kehamilan lanjut atau di atas usia 20 minggu pada

umumnya disebabkan oleh plasenta previa. Perdarahan yang terjadi

sangat terkait dengan luasnya plasenta dan kondisi segmen bawah

rahim yang menjadi tempat implasntasi plasenta tersebut

(30)

Jenis perdarahan antepartum (Manuaba, 2010. Hal 248) yaitu : 1) Plasenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta dengan implantasi di sekitar

segmen bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau

seluruh ostrium uteri internum.Plasenta previa terjadi tanpa rasa

sakit pada saat tidur atau sedang melakukan aktivitas.Jenis

plasenta previa menurut Prawirohardjo (2010. Hal 495) :

a) Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang

menutupi seluruh ostrium uteri internum.

b) Placenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi

sebagian ostium uteri internum.

c) Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya

berada pada pinggir ostium uteri internum.

d) Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi

pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi

bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2cm dari ostrium

uteri internum.

2) Solusio Plasenta

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta sebelum waktunya dengan implantasi normal pada kehamilan trimester tiga. Penyebab solusio plasenta antara lain :

a) Trauma langsung terhadaputerus hamil seperti, terjatuh

(31)

b) Trauma kebidanan artinya solusio placenta terjadi karena

tindakan kebidanan yang dilakukan seperti, setelah versi luar,

setelah memecahkan ketuban, persalinan anak kedua hamil

kembar.

e. Preeklamsia

Pada umumnya Ibu hamil dengan usia kehamilan di atas 20

minggu disertai dengan peningkatan tekanan darah di atas normal

sering diasosiasikan dengan preeclampsia. Data atau informasi awal

terkait dengan tekanan darah sebelum hamil akan sangat membantu

petugas kesehatan untuk membedakan hipertensi kronis (yang sudah

ada sebelumnya) dengan preeklampsia (Prawirohardjo, 2010; h.283).

jenis-jenis preeklamsia :

1) Preklamsia ringan

Tanda-tanda nya adalah :

a) Hipertensi sistolik/diastolic >140/90 mmHg. Kenaikan sistolik

>30 mmHg dan kenaikan diastoliknya >15 mmHg.

b) Proteinuria> 300 mg/24 jam atau> 1+ dipstick

c) Edema local tidak dimasukan dalam criteria preeklamsia,

kecuali edema pada lengan, muka dan perut, edema

(32)

2) Preeklamsia berat

Tanda preeklamsi berat adalah :

a) Tekanan darah sistolik > 160 mmHg dan diastoliknya > 110

mmHg.

b) Protein uria lebih 5 g/24jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif

c) Oliguria, yaotu produksi urine kurang dari 500 cc/24 jam. d) Kenaikan kadar keratinin plasma

e) Gangguan virus dan serebral : penurunan kesadaran, nyeri

kepala, skotoma dan pandangan kabur.

f) Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen

g) Edema paru-paru dan sianosis

h) Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoselular) :

peningkatan kadar alanin dan aspartate aminotransferase.

i) Perumbuhan janin intra uterine terhambat

j) Sindrom HELLP

f. Ketuban Pecah Dini (KPD)

Merupakan keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum

persalinan.Ketuban pecah dini secara umum disebabkan oleh

kontraksi uterus dan peregangan berulang.Selaput ketuban pecah

(33)

menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh

selaput ketuban rapuh (Prawirohardjo, 2010.Hal. 677).

g. Kehamilan lewat waktu

1) Definisi

WHO mendefinisikan kehamilan lewat waktu sebagai kehamilan usia ≥ 42 minggu penuh terhitung sejak hari pertama haid terahir.

Namun, penelitian terkini menganjurkan tatalaksana lebih awal.

2) Diagnosis

a) USG di trimester pertama (usia kehamilan antara 11-14

minggu) sebaiknya ditawarkan pada semua ibu hamil untuk

menentukan usia kehamilan dengan cepat.

b) Bila terdapat perbedaan usia kehamilan lebih dari 5 hari

berdasarkan perhitungan hari pertama haid terahir dan USG,

trimester pertama waktu taksiran kelahiran harus disesuaikan

berdasarkan hasil USG.

c) Bila terdapat perbedaan usia kehamilan lebih dari 10 hari

berdasarkan perhitungan hari pertama haid terahir USG,

trimester kedua waktu taksiran kelahiran harus disesuaikan

berdasarkan hasil USG.

d) Ketika terdapat perbedaanhasil USG trimester pertama

dankedua, usia kehamilan ditentukan berdasarkan hasil USG

(34)

e) Jika tidak ada USG lakukan anamnesis yang baik untuk

menentukan hari pertama haid terahir, waktu DJJ pertama

terdeteksi, dan waktu gerakan janin pertama kali dirasakan.

3) Tatalaksana

a) Sedapat mungkin rujuk pasien kerumah sakit

b) Apabila memungkinkan, tawarkan pilihan membrane sweeping

antara usia kehamilan 38-41 minggu setelah berdiskusi

mengenai resiko dan keuntungannya.

c) Tawarkan induksi persalinan mulai dari usia kehamilan 41

minggu

d) Pemeriksaan antenatal untuk mengawasi kehamilan usia

41-42 minggu sebaiknya meliputi non-stress test dan

pemeriksaan volume cairan amnion.

e) Bila usia telah mencapai 42 minggu, lahirkan bayi.

9.

Asuhan Kebidanan Kehamilan

Asuhan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga

kesehatan ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai standar

pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam standar pelayanan

kebidanan.Standar pelayanan tersebut diajukan untuk menjamin

perlindungan terhadap ibu hamil dan atau janin, berupa deteksi dini faktor

resiko, pencegahan dan penanganan dini komplikasi

kebidanan.Pelayanan antenatal terpadu adalah pelayanan antenatal

(35)

Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa

mengancam jiwanya. Wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali

kunjungan selama periode antenatal yang terdiri dari (Depkes, 2009):

a. Minimal satu kali kunjungan pertama (K1) selama trimester satu (< 14

minggu)

Tujuannya :

1) Penapisan dan pengobatan anemia

2) Perencanaan persalinan

3) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatanya

b. Minimal satu kali kunjungan selama trimester kedua (K2) antara

mnggu 14-28.

Tujuannya :

1) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya

2) Penapisan preekamsia, gemeli, infeksi alat reproduksi dansaluran

kemih

3) Mengulang perencanaan persalinan

c. Minimal dua kali kunjungan selama trimester ketiga (K3 dan K4) antara

minggu 28-36 dan sesudah minggu ke 36 sampai lahir.

Tujuannya:

1) Sama seperti kunjungan II dan III

2) Mengenali adanya kelainan letak dan presentsi

3) Menetapkan rencana persalinan

(36)

Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah terlambat haid dan

peeriksaan khusus dilakukan jika terdapatkeluhan-keluhan tertentu.

Pelayanan antenatal diupayakan agar memenuhi standar kualitas

(Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2014. Hal 46) yaitu :

a. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

b. Pengukuran tekanan darah

c. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)

d. Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri)

e. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus

toxoid sesuai status imunisasi

f. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan

g. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)

h. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan

konseling, termasuk keluarga berencana )

i. Pelayanan tes laboraturium sederhana, minimal tes hemoglobin

darah (Hb), pemeriksaan protein urine dan pemeriksaan golongan

darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya)

j. Tatalaksana khusus

B. Persalinan

1. Definisi Persalinan

Persalinan dan pelahiran adalah fokus dan klimaks proses

(37)

emosional bagi ibu.Terdapat hubungan antara “power” uterus (kontraksi), “passage” jalan lahir (tulang panggul dan jaringan lunak pada dasar panggul dan perineum) dan “passenger” (janin).Setiap kontraksi

meningkatkan dilatasi serviks uterus dan penurunan janin. (Holmes,

2012; h 217).

Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan

pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi

persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks,

dan diakhiri dengan pelahiran plasenta (varney, 2008. hal.672 ).

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi ( janin + uri )

yang dapat hidup ke dunia luar,dari rahim melalui jalan lahir atau dengan

jalan lain ( Mochtar, 2012, hal.69 ).

2. Jenis-jenis Persalinan

a. Persalinan spontan

Adalah persalinan yang seluruhnya berlangsung dengan kekuatan ibu

sendiri.

b. Persalinan buatan

Adalah persalinan dibantu dengan tenaga dari luar misalnya :

1) Ekstraksi forceps

2) Oprasi Sectio Caesaria

Pertolongan oprasi persalinan adalah tindakan dengan tujuan

untuk menyelamatkan ibu maupun bayi.Kegagalan pertolongan

(38)

mempertimbangkan petunjuk (indikasi). Untuk menentukan

tindakan oprasi yang dapat dilakukan yaitu syarat-syarat sehingga

dapat tercapai tujuan well born baby dan well health mother (Manuaba, 2010. H 337)

c. Persalinan Anjuran

Adalah persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya tetapi

baru berlangsung setelah pemecahan ketuhan, pemberian pitocin

atau prostaglandin.

1) Pemecahan ketuban dilakukan menjelang pembukaan lengkap

agar dapat mengurangi bahaya yang terjadi terhadap ibu maupun

bayi.

2) Induksi persalinan

a) Definisi

Induksi partus adalah suatu upaya agar persalinan

mulaiberlangsung sebelum dan sesudah kehamilan cukup

bulan dengan jalan merangsang timbulnya his. Imdikasi

dilakukannya induksi persalinan adalah penyakit hipertensi

dalam kehamilan termasuk preeklamsi dan eklamsi,

postmaturitas, ketuban pecah dini, kematian janin dalam

kandungan, diabetes mellitus pada kehamilan 37 minggu,

penyakit ginjal berat, hidramnion yang besar (berat) dan cacat

(39)

Dalam ilmu kebidanan, ada kalanya suatu kehamilan

terpaksa diakhiri karena adanya suatu indikasi.Indikasi dapat

datang dari sudut pandang kepentingan hidup ibu dan atau

janin.Hasil induksi bergantung pula pada serviks sudah atau

mulai matang (ripe atau favourable).Yaitu kondisi serviks sudah lembek dengan pendataran sekurang-kurangnya 50%

dan pembukaan serviks satu jari (Mochtar, 2012. H 40)

b) Syarat induksi persalinan meliputi janin mendekati aterm, tidak

terdapat kesempitan panggul atau disproporsi sefalopelvik,

memungkinkan ntuk lahir pervaginam, janin dalam presentasi

belakang kepala (Manuaba, 2010. H 451)

c) Faktor yang menentuksn keberhasilan induksi persalinan yaitu

(Manuaba, 2010. H 451) :

(1) Keddukan bagian terendah. Semakin rendah kedudukan

bagian terendah janin kemungkinan keberhasilan induksi

akan semakin besar oleh karena dapat menekan pleksus

Frankenaouser.

(2) Presentasi. Induksi kedudukan letak kepala lebih berhasil

dibandingkan dengan kedudukan bokong. Kepala lebih

membantu pembukaan disbanding dengan bokong.

(3) Kondisi serviks. Serviks yang kaku cenderung ke belakang

sulit berhasil dengan induksi persalinan. Serviks lunak,

(40)

(4) Paritas. Dibandingkan dengan primigravida, induksi pada

multipara akan lebih berhasil karena sudah terdapat

pembukaan.

(5) Usia kehamilan. Pada kehamilan yang semakin mendekati

aterm, induksi persalinan pervaginam akan semakin

berhasil.

d) Bentuk Induksi Persalinan (Manuaba, 2010. H 454)

(1) Metode infuse Oksitosin

Prostaglandin banyak dijumpai dalam jaringan tubuh,

progesterone mungkin menghalangi kerja prostaglandin

sehingga tidak terdapat kontraksi otot rahim, oksitosin

dianggap merangsang pengeluaran prostaglandin

sehingga terjadi kontraksi otot rahim.Pemberian

prostaglandin secara langsung dapat meningkatkan

kontraksi otot rahim. Tindakan dengan drip oksitosin :

(a) Dipasang infuse dekstrosa 5% dengan 5 nit oksitosin

(b) Tetsan pertama antara 8-12 tetes permenit dengan

perhitungan setiap tetsan mengandung 0,0005 unit

sehingga dengan pemberian 12 tetes/menit terdapat

oksitosin sebanyak 0,006 unit/menit.

(c) Setiap 15 menit dilakukan penilaian, bila tidak terdapat

(41)

sampai maksimal tercapai 40 tetes/menit atau 0,02 unit

oksitosin/menit.

(d) Tetesan maksimal dipertahankan dalam 2 kali

pemberian 500 cc sdekstrosa 5%

(e) Bila sebelum tetesan ke-40 sudah timbul kontraksi otot

rahim yang adekuat, maka tetesan terahir

dipertahankan sampai persalinan berlangsung.

(f) Dalam literature dikemukakan juga, bahwa pemberian

oksitosin maksimal setiap menit adalah 30-40 IU atau

tetesan sebanyak 40 tetes per menit dengan oksitosin

sebanyak 10 IU.

(2) Metode Oksitosin sublingual

Metode oksitosisn sublingual adalah jenis tablet isap

dibawah lidah dengan isi 50 IU oksitosin.

(3) Metode dengan prostaglandin

Induksi persalinan prostaglandin dapat dilakukan dengan

supositoria transvaginal atau infuse dengan Nalador.

(4) Metode pemecahan ketuban

Dengan keluarnya sebagian air ketuban terjadi

pemendekan otot rahim sehingga otot rahim lebih efektif

berkontraksi. Indikasi pemecahan ketuban adalah

perpanjangan fase laten, perpanjangan fase aktif, pada

(42)

Syarat pemecahan ketuban antara lain pembukaan

minimal 3 cm, sudah masuk PAP, pelunakan serviks

sudah dimulai, dan perkiraan lahir pervaginal dalam waktu

6 jam.

3. Sebab – sebab Mulainya persalinan

Sebab – sebab mulainya persalinan ( Mochtar,2012,hal.70 ) yaiu :

a. Teori penurunan hormone

1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar

hormone estrogen dan progesterone.progesteron bekerja sebagai

penenang otot-otot polus rahim. Karena itu, akan terjadi kekejangan

pembuluh darah yang menimbulkan his jika kadar progesterone turun.

b. Teori plasenta menjadi tua

Penuaan plasenta akan menyebabkan turunnya kadar

progesterone sehingga terjadi kekejangan pembuluh darah. Hal

tersebut akan menimbulkan kontraksi rahim.

c. Teori distensi rahim

Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia

otot – otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi uteroplasenta.

d. Teori iritasi mekanik

Di belakang servik terletak ganglion servikale. Apabila ganglion

tersebut di di geser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan

(43)

e. Induksi partus (Induction of labour). Partus dapat pula ditimbulkan dengan :

1) Gagang laminaria, beberapa laminaria dimasukan ke dalam

kanalis servisis dengan tujuan merangsang pleksus Franken

hauser,

2) Amniotomi, pemecahan ketuban

3) Tetesan oksitosin : pemberian oksitosin melalui tetesan per

infuse.

4. Tanda-tanda Permulaan Persalinan

Menurut Mochtar (2012, hal. 70) sebelum tejadi persalinan yang sebenarnya, beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulan-nya”

atau “minggunya” atau “hari-nya” yang disebut kala pendahuluan

(preparatory stage of labour).

Kala pendahuluan membeikan tanda-tanda sebagai berikut :

a. Lightening dropping, yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul,

terutama pada primigravida. Pada multipara hal ini tidak begitu jelas.

b. Perut kelihatan lebih lebar, fundus uteri turun.

c. Sering buang air kecil atau sulit berkemihkarena kandung kemih

tertekan oleh bagian bawah janin

d. Perasaan nyeri di perut dan pinggang oleh adanya kontraksikontraksi

lemah uterus, kadang-kadang disebut “false labour pains

e. Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah,

(44)

5. Tanda-tanda Inpartu

Tanda tanda inpartu menurut Mochtar (2012, hal 70) yaitu :

a. Rasa nyeri oleh adayna his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.

b. Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena

robekan-robekan kecil pada serviks.

c. Kadang-kadangketuban pecah dengan sendirinya.

d. Pada pemeriksaandalam serviks mendatar dan telah ada pembukaan.

6. Mekanisme Persalinan

a. Engagement

Kepala biasanya masuk kepanggul pada posisi transversal atau

pada beberapa posisi yang sedikit berbeda dari posisi ini sehingga

memanfaatkan diameter terluas panggul.Engagement dikatakan terjadi

ketika bagian terluas dari bagian presentasi janin berhasil masuk ke

pintu atas panggul.

Bilangan perlima kepala janin yang dapat dipalpasi melalui

abdomen sering digunakan untuk menggambarkan apakah

engagement telah terjadi. Jika lebih dari dua perlima kepala janin dapat dipalpasi melalui abdomen, kepala belum engaged. (Holmes,2012; h

224).

b. Penurunan

Selama kala satu persalinan, kontraksi dan retraksi otot uterus

(45)

dengan pecah ketuban dan upaya ibu untuk mengejan.( Holmes, 2012;

h 224).

c. Fleksi

Ketika kepala janin turun menuju rongga tengah panggul yang lebih

sempit, fleksi meningkat.(Holmes, 2012; h 224). d. Rotasi Internal

Jika kepala fleksi dengan baik, oksikut akan menjadi titik utama dan saat mencapai alur yang miring pada otot levator ani, kepala akan

didorong untuk berotasi secara anterior sehingga sutura sagital ini

terletak didiametet anterior-posterior pintu bawah panggul (yaitu

diameter terluas). Resistensi adalah dinamika rotasi yang paling

penting.Jika janin mencapai engagement dalam posisi oksipitoposterior,

rotasi internal dapat terjadi dari posisi OP sampai posisi

oksipitoanterior.Rotasi internal yang lama ini, bersama dengan diameter

presentasi tengkorak janin yang lebih besar, menjelaskan peningkatan

durasi persalinan akibat kelainan posisi ini.Atau, posisi OP dapat menetap sehingga mengakibatkan pelahiran “wajah sampai pubis”.

Lebih sering, posisi OP yang persisten dikaitkan dengan ekstensi

kepala janin yang akan meningkatkan diameter presentasi tengkorak

janin pada pintu bawah panggul. Posisi ini dapat menyebabkan

obstruksi persalinan dan memerlukan pelahiran dengan alat bantu atau

(46)

e. Ekstensi

Setelah rotasi internal selesai, oksiput berada dibawah simfisis pubis dan beregma berada dekat batas bawah sakrum. Jaringan lunak

perinium masih memberikan resistensi, dan dapat mengalami trauma

dalam proses ini. Kepala yang fleksi sempurna kini mengalami ekstensi, dengan oksiput keluar dari bawah simfisis pubis dan mulai mendistensi

vulva.Hal ini dikenal dengan crowning kepala.Kepala mengalami

ekstensi lebih lanjut dan oksiput yang berada dibawah simfisis pubis

hampir bertindak sebagai titik tumpu ketika beregma, wajah, dan dagu

tampat secara berturut-turut pada lubang vagina posterior dan badan

perinium.Ekstensi dan gerakan ini meminimalkan trauma jaringan lunak dengan menggunakan diameter terkecil kepala janin untuk

kelahiran.(Holmes, 2012; h 224).

f. Retitusi

Restitusi adalah lepasnya putaran kepala janin, yang terjadi akibat rotasi internal.Resistusi adalah sedikit rotasi oksiput melalui

seperdelapan lingkaran. Saat kepala dilahirkan oksiput secara langsung

berada dibagian depan. Segera setelah kepala keluar dari vulva, kepala

mensejajarkan dirinya sendiri dengan bahu, yang memasuki panggul

dalam posisi oblig atau miring. (Holmes, 2012; h 224).

g. Rotasi Eksternal

Agar dapat dilahirkan, bahu harus berotasi kebidang

(47)

oksiput berotasi melalui seperdelapan lingkaran lebih lanjut keposisi

transversal.Ini disebut rotasi eksternal.(Holmes, 2012; h 224).

h. Pelahiran Bahu dan Tubuh Janin

Ketika restitusi dan rotasi eksternal terjadi, bahu akan berada dalam bidang anterior-posterior. Bahu anterior berada dibawah simfisis pubis

dan lahir pertama kali, dan bahu posterior lahir berikutnya. Meskipun

proses ini dapat terjadi tanpa bantuan, seringkali “traksi lateral” dilakukan dengan menarik kepala janin secara perlahan kearah bawah

untuk membantu melepaskan bahu anterior dari bawah simfisis pubis.

Normalnya sisa tubuh janin lahir dengan mudah dengan bahu posterior

dipandu keatas, pada perinium dengan melakukan traksi kearah yang

berlawanan sehingga mengayun bayi ke abdomen ibu.(Holmes, 2012; h

224).

7. Tahap – tahap persalinan

a. Kala I ( Kala pembukaan )

Ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah ( Bloody show ) karena servik mulai membuka ( dilatasi ) dan mendatar ( effacement ). Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler di sekitar kanalis

serviks akibat pergeseran ketika servik mendatar dan membuka.Kala

pembukaan dibagi menjadi 2 faseyaitu :

1) Fase laten

Pembukaan servik yang berlangsung lambat sampai pembukaan 3

(48)

2) Fase aktif

Berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase

a) Periode akselerasi

Berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm

b) Periode dilatasi maksimal

Selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.

c) Periode deselerasi

Berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan menjadi 10

cm ( lengkap ) ( Mochtar, 2012, hal. 71 ).

Asuhan pada kala I dengan asuhan sayang ibu menurut Saefudin

(2011, h N- 8) yaitu :

1) Bantulah ibu dalam proses persalinan jika ia tampak gelisah,

ketakutan, dan kesakitan dengan memberikan dukungan, informasi

mengenai kemajuan persalinan dan mendengarkan keluhannya.

2) Lakukan dukungan jika ibu merasa kesakitan dengan merubah

posisi sesuai dengan keinginan ibu dengan miring kiri, ajaklah suami

atau keluarganya menemani ibu dan memijat atau menggosok

punggung ibu, ajarkan teknik bernafas ( dengan tarik nafas panjang

dan menghembuskan udara ke luar).

b. Kala II ( Kala pengeluaran Janin )

Kala dua menggambarkan waktu dari pembukaan serviks lengkap

sampai pelahiran janin.Kala dua persalinan jiga dapat dibagi menjadi 2

(49)

1) Fase Pasif adalah fase ketika tidak ada dorongan ibu untuk mengejan dan kepala janin masih relatif tinggi pada panggul.

2) Fase Aktif terdapat dorongan ibu untuk mengejan karena kepala janin rendah, yang menyebabkan reflek butuh untuk “mengejan”.

His mulai terkoordinasi, kuat , cepat, dan lebih lama kira – kira 2 – 3

menit sekali. Kepala janin mulai turun dan masuk ke ruang panggul

sehingga terjadilah tekanan pada otot – otot dasar panggul yang

melalui lengkung reflex menimbulkan rasa mengedan, karena

tekanapda rectum ibu merasa sperti mau buang air besar, dengan

tanda anus terbuka, pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva

membuka dan perineum meregang. Dengan his dan mengedan

terpimpin, akan lahir kepala, diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II

pada primi berlangsungg selama 1 setengah – 2 jam, pada multi

setengah jam sampai 1 jam ( Mochtar, 2012, hal. 71 ).

Asuhan pada kala II menurut Saefudin (2011, N-14) yaitu :

1) Memberikan dukungan dan mendampingi ibu untuk mengurangi

kecemasan dan ketakutan ibu

2) Menawarkan minum, mengipasi dan memijit ibu

3) Mengatur posisi dalam mengedan sesuai yang diinginkan ibu

c. Kala III ( kala pengeluaran Uri )

Kala tiga adalah waktu dari pelahiran janin sampai pelahiran

(50)

beberapa menit setelah kelahiran bayi yang bergantung pada

penatalaksanaan yng diterapkan.(Holmes, 2012; h 223).

Mekanisme yang membantu proses pelepasan plasenta (Holmes,

2012. Hal. 231) adalah :

1) Sisa plasenta berkurang dengan aktivitas retraksi.

2) Pembuluh darah yang menyuplai plasenta mengalami konstriksi,

kemudian pecah, dan darah berkumpul dibelakang plasenta.

3) Pembentukan bekuan retroplasenta, biasanya terjadi secara sentral

(Holmes, 2012; h 231).

Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri setinggi

pusat, dan berisi plasenta yang menjadi dua kali lebih tebal dari

sebelumnya.Beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan

pengeluaran uri. Dalam waktu 5 – 10 menit, seluruh plasenta terlepas,

terdorong ke dalam vagina, dan akan lahir spontan atau dengan sedikit

dorongan dari atas simfisisatau fundus uteri. Seluruh proses

berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta

disertai dengan pengeluran darah kira – kira 100 sampai 200 cc

(Mochtar, 2012, hal. 73).

d. Kala IV

Adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah bayi dan uri lahir

untuk mengamati keadaan ibu, terutama terhadap bahaya perdarahan

(51)

8. Asuhan Persalinan Normal

Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan

hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya,

melalui beragai upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan

intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas

pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (JNPK-KR, 2014.Hal

3).

Tujuan asuhan persalinan adalah mengupayakan kelangsungan hidup

dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui

berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal

sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada

tingkat yang optimal (Prawirohardjo, 2011.Hal 335).

60 Langkah Asuhan Persalinan Normal menurut Prawirohardjo (2010, hal

341) yaitu :

a. Melihat tanda dan gejala kala dua

1) Mengamati tanda dan gejal persalinan kala dua

a) Ibu mempunyai keinginan untuk meneran

b) Ibu merasa tkanan yang semakin meningkat pada rektum dan

vaginanya

c) Perineum menonjol

(52)

b. Menyiapkan pertolongan persalinan

2) Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial siap

digunakan. Mematahkan ampul oksitosi 10 unit dan menempatkan

tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus set

3) Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih

4) Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku, mencuci

kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan

mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai atau pribadi

yang bersih

5) Memakai sarung tangan dengan DTT atau steril untuk semua

pemeriksaan dalam

6) Mengisap oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (dengan

memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan

meletakkan kembali di partus set atau wadah desinfksi tingkat tinggi

atau steril tanpa mengontaminasi tabung suntik.

c. Memastikan pembukaan lengkap dengan janin baik

7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati

dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas atau kasa

yang sudah di basahi air desinfeksi tingkat tinggi jika mulut vagina,

perineum, atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,

membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari

depan ke belakang. Membuang kapas atau kasa yang

(53)

jika terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan tersebut

dengan benar didalam larutan dekontaminasi, selanjutnya langkah

# 9)

8) Dengan menggunakan teknik antiseptic, melakukan pemeriksaan

dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah

lengkap. Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan

sudah lengkap, lakukan amniotomi.

9) Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tamgan

yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan klorin

0,5 % dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta

merendamnya di dalam larutan klorin 0,5 % selam 10 menit.

Mencuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.

10) Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi berakhir untuk

memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (100-180x/menit)

(a) Mengambil tidakan yang sesuai jika DJJ tidak normal

(b) Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ, dan

semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf

d. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan

meneran

11) Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin

baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai

(54)

a) Tunggu ibu hingga mempunyai keinginan untuk meneran.

Melanjutkan pemantuan kesehatan dan kenyamanan ibu serta

janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan

mendokumentasikan temuan-temuan yang ada

b) Menjelaskan pada anggota keluarga bagaiman mereka dapat

mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai

meneran

12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu utuk

meneran. (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah

duduk dan pastikan ia merasa nyaman).

13) Melakukan pimpinan meneran saat Ibu mempunyai dorongan yang

kuat untuk meneran:

a) Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinganan

untuk meneran

b) Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk

meneran.

c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya

(tidak meminta ibu berbaringterlentang).

d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.

e) Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi

semangat pada ibu.

f) Menganjurkan asupan cairan per oral.

(55)

h) Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi

segera dalam waktu 120 menit (2jam) meneran untuk ibu

primipara atau 60/menit (1 jam) untuk ibu multipara, merujuk

segera.

i) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil

posisi yang aman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60

menit,anjurkan ibu untuk mulai meneran pada puncak

kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat diantara kontraksi-kontraksi.

j) Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi

segera setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera.

e. Persiapan pertolongan kelahiran bayi

14) Meletakkan handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan

bayijika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.

15) Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong

ibu.

16) Membuka partus set.

17) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.

f. Menolong kelahiran bayi

Lahirnya kepala

18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi

perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan

tangan yang lain di kelapa bayi dan lakukan tekanan yang lembut

Figur

Tabel 2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Janin

Tabel 2.1

Pertumbuhan dan Perkembangan Janin p.16
grafik kemajuan proses persalinan, bahan dan mendikamentosa yang

grafik kemajuan

proses persalinan, bahan dan mendikamentosa yang p.64
Tabel 2.2 Nilai Apgar

Tabel 2.2

Nilai Apgar p.67
Tabel 2.3 involusi uterus :

Tabel 2.3

involusi uterus : p.76
Tabel 2.4 Penapisan metode Kontrasepsi Hormonal

Tabel 2.4

Penapisan metode Kontrasepsi Hormonal p.86
Tabel 2.6 Penapisan Metode KB Vasektomi

Tabel 2.6

Penapisan Metode KB Vasektomi p.87

Referensi

Memperbarui...