MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 67/PUU-XIII/2015
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1981
TENTANG HUKUM ACARA PIDANA
TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
MENDENGARKAN KETERANGAN PRESIDEN DAN DPR
(III)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 67/PUU-XIII/2015 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana [Pasal 7 ayat (1) huruf g, Pasal 120 ayat (1), dan Pasal 229 ayat (1)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON
1. Sri Royani
ACARA
Mendengarkan Keterangan Presiden dan DPR (III)
Kamis, 6 Agustus 2015 Pukul 14.40 – 15.23 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Anwar Usman (Ketua)
2) Aswanto (Anggota)
3) I Dewa Gede Palguna (Anggota)
4) Manahan MP Sitompul (Anggota)
5) Patrialis Akbar (Anggota)
6) Suhartoyo (Anggota)
7) Wahiduddin Adams (Anggota)
Pihak yang Hadir:
A. Pemohon:
1. Sri Royani
B. Pemerintah:
1. Wicipto Setiadi
2. Rusdi Hadi Teguh
3. Heni Susilo Wardoyo
4. Agustin Dwiarsi
5. Elizabeth Budi Sugiharti C. Pihak Terkait:
1. KETUA: ANWAR USMAN
Sidang Perkara Nomor 67/PUU-XIII/2015 dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
Assalammuaalaikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, kami menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan dimulainya persidangan ini yang seharusnya menurut jadwal jam 14.00 WIB. Namun, oleh karena satu dan lain hal, ya ada tugas yang mendadak, yang mendesak, sehingga persidangan ini baru bisa dimulai jam 14.00 WIB lewat … jam 14.00 WIB lewat. Untuk itu sekali lagi … 14.30 WIB lewat, ya. Untuk itu sekali lagi, kami menyampaikan permohonan maaf.
Sesuai dengan jadwal persidangan bahwa sidang kali ini adalah untuk mendengarkan keterangan Kuasa Presiden dan DPR. Namun sebelumnya, dipersilakan dulu memperkenalkan diri, Pemohon.
2. PEMOHON: SRI ROYANI
Assalammuaalaikum wr. wb. Selamat siang buat kepada Bapak-Bapak Hakim Yang Terhormat, juga kepada Wakil Pemerintah yang sudah datang, dan kepada Bapak mungkin Pihak Terkait ya, Pak, ya? Perkenalkan dulu, nama saya adalah Sri Royani. Saya selaku Pemohon pengujian Undang-Undang KUHAP dan Undang-Undang Kepolisian.
3. KETUA: ANWAR USMAN
Terima kasih. Dari Kuasa Presiden, silakan.
4. PEMERINTAH: HENI SUSILA WARDAYO
Terima kasih, Yang Mulia. Assalammuaalikum wr. wb. Yang kami … yang kami muliakan Hakim Mahkamah Konstitusi, Yang Terhormat Pemohon, dan Pihak Terkait. Izinkan kami menyampaikan atau memperkenalkan selaku Kuasa Khusus Presiden. Di sebelah kiri Bapak Dr. Wicipto Setiadi (Direktur Jenderal Peraturan Perundang-Undangan), sebelah kiri kami Bapak Rusdi Hadi Teguh selaku Koordinator Perdata dan Tata Usaha Negara, Jaksa Pengacara Negara dari Jaksa … Kejaksaan Agung. Kemudian, saya sendiri Heni Susilo Wardoyo, di belakang ada Ibu
SIDANG DIBUKA PUKUL 14.40 WIB
Agustin Dwiarsi, dan Ibu Elizabeth Budi Sugiharti selaku Jaksa Pengacara Negara. Demikian, terima kasih.
5. KETUA: ANWAR USMAN
Terima kasih. Ada Pihak Terkait ya dari kepolisian, tetapi belum secara resmi mengajukan surat permohonan, ya? Sudah?
6. PIHAK TERKAIT: KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Kami dari Pihak Terkait, mungkin secara resmi belum, namun demikian tapi ada undangan dari Pihak MK untuk hadir mendengarkan dari Pihak Pemerintah.
7. KETUA: ANWAR USMAN
Oh, baik.
8. PIHAK TERKAIT: KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Demikian, Yang Mulia. Terima kasih.
9. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, terima kasih. Jadi, nanti mungkin disusulkan ya, surat. Karena dari DPR belum bisa hadir, masih reses. Untuk itu dipersilakan ya Kuasa Presiden untuk menyampaikan keterangan.
10. PEMERINTAH: WICIPTO SETIADI
Assalammuaalaikum wr. wb. Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, Pemohon, Pihak Terkait, dan Wakil Pemerintah. Izinkan kami membacakan keterangan Presiden atas permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, yang bertanda tangan di bawah ini:
1. Yasonna H. Laoly (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia).
2. H. M. Prasetyo (Jaksa Agung).
Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Presiden Republik Indonesia, yang selanjutnya disebut sebagai Pemerintah menyampaikan keterangan Presiden atas permohonan pengujian ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf g Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian juncto Pasal 7 ayat (1) huruf h juncto Pasal 120 ayat (1)
juncto Pasal 229 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, yang selanjutnya disebut KUHAP, terhadap ketentuan Pasal 1 ayat (3), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28H ayat (2), Pasal 28I ayat (2), ayat (4), dan ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang selanjutnya disebut Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang dimohonkan oleh Sri Royani, S.S., yang selanjutnya disebut Pemohon.
Izinkan Pemerintah menyampaikan keterangan Presiden sebagai berikut:
1. Pokok Permohonan Pemohon. Mohon izin untuk tidak kami bacakan.
2. Tentang kedudukan hukum Pemohon. Terhadap kedudukan hukum
Pemohon, Pemerintah berpendapat bahwa sesungguhnya yang dipermasalahkan Pemohon lebih merupakan constitutional complain daripada judicial review atau constitutional review. Namun, oleh Pemohon permasalahan tersebut diajukan sebagai permohonan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dengan dalil bahwa ketentuan-ketentuan dalam KUHAP yang dimohonkan pengujian itu bertentangan dengan pasal-pasal Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Dengan demikian, Pemohon … permohonan a quo lebih berkaitan dengan penerapan norma atau implementasi suatu undang-undang, yaitu Pasal 16 ayat (1) huruf g Undang-Undang Kepolisian juncto Pasal 7 ayat (1) huruf h juncto Pasal 120 ayat (1) juncto Pasal 229 ayat (1) KUHAP. Namun, demikian Pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Konstitusi untuk mempertimbangkan dan menilainya, apakah Pemohon memiliki kedudukan atau tidak.
3. Pokok-Pokok keterangan Pemerintah terhadap materi yang
dimohonkan oleh Pemohon. Sehubungan dengan anggapan Pemohon, Pemerintah dapat memberikan keterangannya sebagai berikut.
1. Bahwa yang dimaksud dengan ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf
g Undang-Undang Kepolisian yang menyatakan, “Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara adalah bagian dari salah satu tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan perlindungan, serta pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai penyidik dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksudkan dalam ketentuan a quo, diperlukan seorang ahli untuk memberikan keterangan suatu perkara tindak pidana guna kepentingan pemeriksaan.
2. Berkaitan dengan keterangan ahli, sebagaimana diatur dalam
(1), Pasal 186 KUHAP yang pada intinya keterangan ahli memiliki unsur, yaitu:
a. Keterangan yang diberikan bersifat keahlian khusus untuk
membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan di persidangan.
b. Keterangan ahli diperlukan dalam tahap penyidikan dan/atau
dalam tahap persidangan.
c. Keterangan ahli merupakan alat bukti yang sah dalam
persidangan.
d. Keterangan ahli disampaikan dengan sebaik-baiknya dan
sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.
3. Sebelum diperiksa, seorang ahli wajib mengangkat sumpah atau
mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberikan keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya, kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta. Pasal 120 ayat (2) KUHAP.
4. Pengambilan sumpah atau janji dilaksanakan oleh penyidik sesuai
dengan peraturan perundang-undangan tentang sumpah atau janji yang berlaku, baik mengenai isinya maupun tata caranya. Penyidik dapat mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman, atau dokter, dan/atau Ahli lainnya untuk melakukan pemeriksaan korban yang luka, atau keracunan, ataupun mati, serta terhadap benda atau barang, bukti dan hal-hal lain yang berkaitan dengan keahliannya. Keterangan yang diberikan ahli tersebut dapat berupa Berita Acara atau keterangan tertulis.
5. Bahwa keterangan saksi atau ahli selain diperlukan dalam tahap penyidikan dalam hal penyidik menganggap perlu saksi atau ahli dapat dimintakan keterangannya dalam persidangan di pengadilan.
6. Dalam hal saksi atau ahli tidak dapat hadir di persidangan,
penyidik dapat memintakan keterangan saksi atau ahli tersebut secara tertulis untuk disampaikan dalam persidangan di pengadilan.
7. Ketentuan Pasal 179 ayat (1), “Setiap orang yang diminta
pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman, atau dokter, atau ahli lainnya, wajib memberikan ahli demi keadilan.” Ayat (2), “Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.”
8. Terhadap dalil Pemohon yang menganggap Pasal 229 KUHAP bahwa negara tidak pernah mengatur secara lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan terkait dengan penggantian biaya atas kehadiran saksi atau ahli. Menurut Pemerintah, biaya penggantian saksi atau ahli yang diatur dalam peraturan perundang-undangan mempunyai pengertian bahwa tidak perlu diatur dalam aturan khusus, namun telah tersebar dalam berbagai peraturan perundangan-undangan. Misalnya, telah diundangkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, yang pada intinya mengatur mengenai pemberian perlindungan kepada masyarakat miskin yang terkena perkara pidana dengan diwajibkannya negara untuk memberikan bantuan hukum yang biayanya ditanggung oleh negara.
Berdasarkan keterangan di atas, terhadap permohonan Pemohon yang mempersoalkan batasan pengertian, singkatan, atau hal-hal lain yang bersifat umum yang dijadikan dasar atau pijakan bagi pasal-pasal berikutnya dalam undang-undang a quo sangatlah tidak beralasan dan tidak tepat, sehingga menurut Pemerintah, ketentuan a quo sama sekali tidak berkaitan dengan masalah konstitusionalitas keberlakuan suatu undang-undang.
Selanjutnya, keterangan lebih lengkap dan rinci Pemerintah akan sampaikan dalam keterangan Pemerintah secara tertulis pada persidangan berikutnya atau melalui keterangan … melalui kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.
4. Petitum. Berdasarkan penjelasan dan argumentasi tersebut di atas,
Pemerintah memohon kepada Yang Mulia Ketua atau Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian dan KUHAP terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dapat memberikan putusan sebagai berikut:
1. Menyatakan bahwa Pemohon tidak mempunyai kedudukan
hukum.
2. Menolak permohonan pengujian Pemohon seluruhnya atau
setidak-tidaknya menyatakan permohonan pengujian Pemohon tidak dapat diterima atau NO.
3. Menerima keterangan Pemerintah secara keseluruhan.
4. Menyatakan Pasal 16 ayat (1) huruf g Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2002 tentang Kepolisian juncto Pasal 7 ayat (1) huruf h juncto Pasal 120 ayat (1) juncto Pasal 229 ayat (1) KUHAP tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28H ayat (2), Pasal 28I ayat (2), ayat (4), dan ayat (5) Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Demikian, atas perhatian Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, kami mengucapkan terima kasih. Jakarta, Agustus 2015. Hormat kami, Kuasa Hukum Presiden
Republik Indonesia, Menteri Hukum dan HAM (Yasonna H. Laoly), Jaksa Agung (H. M. Prasetyo).
Terima kasih. Wassalammuaalaikum wr. wb.
11. KETUA: ANWAR USMAN
Terima kasih, Pak Dirjen. Dari meja Hakim mungkin ada sesuatu yang ingin didalami? Ya, Yang Mulia Pak Suhartoyo.
12. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO
Terima kasih, Pak Ketua. Terima kasih, Pak Dirjen atas keterangannya. Memang Mahkamah perlu mendengar keterangan Presiden dan DPR, kemudian Pihak Terkait. Sebenarnya yang ingin diperoleh dari Mahkamah itu adalah pandangan dari Pihak Pemerintah dan DPR, dan mungkin juga nanti Pihak Terkait, dan di sini juga ada dari Kejaksaan, dan Kepolisian. Sebenarnya tidak semata-mata hanya bagaimana definisi sebuah keterangan ahli atau nuansa dimensi daripada keahliannya, bukan itu sebenarnya. Tapi yang ingin didapatkan Mahkamah adalah yang lebih utama menyangkut Pasal 120 ayat (1)
KUHAP itu yang ada frasa dalam hal penyidik menganggap dan frasa
seorang ahli. Artinya bahwa pasal ini menurut Pemohon ini bisa menimbulkan ketidakpastian. Karena apa? Karena menurut Pemohon sebagai pelapor atau … pelapor atau korban pada umumnya yang kemudian melaporkan sebuah perkara di penyidik atau di kepolisian maupun di kejaksaan, ya. Kalau kejaksaan kan penyidiknya penyidik kalau tindak pidana khusus ya, tapi yang tindak pidana umum kan yang dominan adalah di … bukan dominan memang itu wilayah kewenangannya ada pada penyidik kepolisian. Itu adalah bahwa ketika sebuah perkara dimajukan atau dilaporkan kepada … ke polisi … kepolisian oleh korban, itu kemudian penyidik kadang-kadang dan bahkan banyak yang kemudian berpendapat bahwa perkara ini tidak cukup bukti atau perkara ini adalah perkara bukan perkara pidana, perkara perdata, sementara menurut pelapor adalah korban pada umumnya bahwa dia betul-betul menjadi korban adanya tindak pidana.
Kemudian kan di Pasal 120 KUHAP itu sebenarnya dimungkinkan penyidik untuk memanggil seorang ahli. Ya, esensinya di situ, Bapak-Bapak Pak Dirjen. Bahwa apakah untuk menentukan bahwa sebuah perkara ini adalah tidak cukup bukti, atau perkara ini adalah cukup bukti, ataukah perkara ini bukan perkara pidana ini adalah perkara perdata, para korban ini menghendaki bahwa itu harus diputuskan dengan pemikiran dari para ahli. Jangan kemudian penyidik mengambil kesimpulan sendiri, artinya bahwa … di situlah esensinya Pak … Pak Dirjen. Ini yang kemudian bisa menimbulkan … ini anggapan para korban, penyidik kemudian memutuskan sendiri, kok ini perkara kurang
bukti, atau perkara tidak cukup bukti, atau perkara ini bukan perkara pidana perkara perdata barangkali.
Nah, itulah yang kalau … kalau korban ini di dalam kasus konkretnya justru dia punya pembanding, bapak dari kepolisian ini bahwa satu perkara korbannya beberapa orang. Salah satunya justru dari aparat kepolisian. Ketika aparat kepolisian, penyidik ini aktif untuk mendamaikan karena kalau tidak ini perkara pidana, anda bisa ditahan, tapi giliran si korban … ini korban, versinya korban, supaya bisa mewakili para korban-korban yang lainnya atau para-para pelapor yang lainnya supaya ini bisa menjadi pedoman bahwa kenapa kalau korbannya ini dari aparat barangkali, kok cukup bukti ini, tapi ini … ini hanya pembanding tapi sebenarnya esensinya adalah begitu yang dimaui dan barangkali itu yang kemudian dijadikan … dan itu yang dijadikan oleh Mahkamah ini perlu kita dengar bagaimana pandangan dari Pihak Terkait, ya Pemerintah, dan DPR soal ini jangan kemudian memang di luar sana banyak kemudian para korban. Ini perkaranya banyak yang tidak ditindaklanjuti karena memang mungkin penyidik menganggap bahwa ini tidak cukup bukti atau ini perkara perdata, tapi itulah persepsi yang berbeda dengan anggapan yang … bagaimana kemudian dikonstruksikan bahwa di situlah harus ada peran yang penting dari seorang ahli itu.
Coba nanti Pak Dirjen kalau ada jawaban yang tambahan ke depan itu supaya Mahkamah ini dapat gambaran yang lebih. Apalagi sudah ada dari Pihak Kejaksaan dan Pihak Terkait. Terima kasih, Pak Ketua.
13. KETUA: ANWAR USMAN
Terima kasih. Dari Yang Mulia Pak Palguna, cukup? Ya. Ya, baik. Jadi, begini mungkin Pak Dirjen nanti apa yang disampaikan oleh Yang Mulia Pak Suhartoyo bisa ditanggapi secara tertulis atau mungkin mau menanggapi secara singkat dulu. Silakan.
14. PEMERINTAH: WICIPTO SETIADI
Baik, Yang Mulia. Kami akan menjelaskan secara lengkap di penjelasan nanti secara tertulis dan nanti juga ada pihak penyidik terkait yang akan menambah lengkap penjelasan yang akan disampaikan pada Mahkamah Konstitusi Yang Mulia. Terima kasih.
15. KETUA: ANWAR USMAN
Baik. Terima kasih. Persidangan untuk hari ini sudah selesai … enggak, untuk hari ini, ya.
16. PEMOHON: SRI ROYANI
Terima kasih kepada Yang Mulia. Sebetulnya saya itu ingin memanggil saksi dan ahli. Kalau memanggil saksi kiranya memang saksi yang memang ada keterkaitan dengan kasus konkret dan undang-undang ... aplikasi undang-undang-undang-undang yang saya mohonkan. Di sini saya ingin memanggil sebetulnya pihak-pihak kepolisian, dari polda dan dari Mabes Polri. Karena dulu pada waktu sidang pertama, Pak Patrialis ... Yang Mulia Patrialis pernah mengatakan kepada saya bahwa untuk pemanggilan ahli itu adalah biayanya itu ditanggung kepada pihak yang memanggil. Saya masih ingat itu ya, Pak, ya. Kepada pihak yang memanggil.
Nah, artinya di sini kemudian dari Hakim juga waktu itu … dari Bapak juga pernah mengatakan, “Kalau memang misalnya semua pemanggilan biaya ... apa ... pemanggilan ahli itu,” kan Pasal 66 juga ... Pasal 65, “Dimana kalau terdakwa ingin memanggil seorang ... yang mempunyai keahlian khusus atau saksi, dia mempunyai hak juga di situ.”
Pertanyaan saya, yang saya ingin jabarkan adalah semua warga
negara itu mempunyai hak yang sama, accses of justice, due process of law terhadap penegakan hukum. Walaupun di sini saya korban, tapi ketika pemanggilan ahli melalui tangan penyidik, tersangka atau terdakwa pun berhak untuk memanggil itu. Nah, kalau pun tersangka itu berhak memanggil juga sesuai dengan Pasal 65 KUHAP, itu biayanya itu ditanggung siapa? Siapa yang membayar? Siapa yang mendatangkan? Kalau pun dia tersangka juga misalnya, saya ingin memanggil ahli A, penyidik harus mendatangkan itu biayanya siapa yang membayar?
Dan juga misalnya begini, ketika dalam Pasal 229, Pasal 229, “Ahli yang hadir memenuhi panggilan dalam rangka memberikan keterangan berhak mendapatkan penggantgian biaya.” Kemudian di Pasal 2-nya, “Pejabat yang melakukan pemanggilan wajib memberitahukan kepada saksi atau ahli tentang haknya sebagaimana dimaksud.”
Nah, Pasal 2 ini pejabat yang melakukan pemanggilan itu dia
memberitahukan kalau artinya memberitahukan itu, memberikan uangnya atau tidak? Atau hanya memberitahukannya saja, “Anda mendapat penggantian biaya.” Tapi itu mekanisme pemberian uangnya itu, penggantian biayanya itu, gimana itu penggantiannya? Mekanismenya?
Kemudian, biaya yang memang cukup saya pikir mahal ya, untuk
memanggil ahli itu. Sementara saya lihat kabarnya bahwa anggaran penyidikan Polri itu minim, kemudian Pak Kapolri meminta anggaranya naik. Nah itu dengan anggaran yang memang saya dengar itu penyidikannya itu untuk kasus yang biasa, kasus yang mudah itu Rp4.000.000,00, yang untuk kasus sedang itu Rp9.000.000,00, atau yang kasus katakanlah yang sulit itu Rp14.000.000,00.
17. KETUA: ANWAR USMAN
Baik, Pemohon. Sudah bisa dimengerti, nanti akan ditanggapi oleh
Yang Mulia Pak Patrialis. Silakan.
18. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Jadi, Pemohon ya waktu sidang pendahuluan. Kami menjelaskan
kalau di Mahkamah ini, kalau perkaranya dilanjutkan, Pemohon diberikan kesempatan untuk mendatangkan ahli, mendatangkan saksi. Kalau itu diinginkan oleh Pemohon, silakan. Kalau Pemohon beranggapan enggak penting, juga enggak apa-apa.
Nah, Mahkamah sendiri juga kan melihat kasusnya, bisa saja
Mahkamah secara inisiatif untuk memanggil ahli kalau itu dibutuhkan. Nah, contohnya hari ini Mahkamah juga mengundang Pihak Kepolisian ... Kepolisian RI untuk mendengarkan keterangan-keterangan para pihak dalam persidangan ini.
Jadi, kalau mengenai ahli yang Saudara maksudkan yang berkaitan dengan perkara-perkara penyidikan di kepolisian itu di luar … apa namanya ... di luar kewenangan Mahkamah untuk ikut campur tentang masalah itu, ya. Kalau kita kan di sini kan berkenaan dengan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Tahun 1945, kalau memang ada undang-undang itu yang dirasakan oleh masyarakat bahwa undang-undang yang berlaku itu merugikan hak-hak konstitusionalitas seorang.
Nah, mengenai adanya anggaran di kepolisian, besar, kecil, apa itu bukan ranahnya Mahkamah. Nah, jadi mesti harus dipahami terhadap pemanggilan ahli itu.
Nah, tadi Pak Ketua mengatakan, “Untuk kasus ini Saudara mau mendatangkan ahli apa enggak?” Kalau memang dirasa perlu, silakan. Kalau enggak juga enggak apa-apa ya. Jadi harus lebih dipahami secara lebih komprehensif. Terima kasih, Pak Ketua.
19. KETUA: ANWAR USMAN
Ada tambahan dari Yang Mulia Pak Suhartoyo?
20. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO
Ibu … saya tambahkan sedikit. Justru persoalan mengenai biaya,
seorang saksi atau ahli yang di masih dalam ranah penyidikan, itu kan justru yang bagian Ibu persoalkan di perkara ini, itulah yang nanti mungkin akan ditanggapi oleh Pihak Presiden (Pemerintah), DPR, dan Pihak Terkait Polisi itu. Paham, ya?
Ibu kan ada nih di petitumnya mempersoalkan biaya di samping frasa mengganggap perlu kehadiran seorang ahli itu kan. Ya, itu, itu yang akan kami gelar di dalam persidangan-persidangan selanjutnya nanti.
21. PEMOHON: SRI ROYANI
Ya, ya, saya paham.
22. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO
Ya? Kalau soal untuk di sini, sudah dijelaskan, Yang Mulia Pak Patrialis tadi, itu kewajiban Ibu untuk menghadirkan atau tidak. Kalau Ibu mau menghadirkan orang-orang yang terlibat itu namanya saksi.
23. PEMOHON: SRI ROYANI
Ya, betul.
24. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO
Silakan hubungi sendiri, Ibu hadirkan di sini. Kalau minta pendapat ahli, di samping nanti juga Pemerintah biasanya juga menghadirkan ahli, Ibu juga punya hak untuk mengajukan, silakan Ibu ajukan sendiri untuk di Mahkamah Konstitusi ini. Jelas, ya?
25. PEMOHON: SRI ROYANI
Jelas.
26. HAKIM ANGGOTA: SUHARTOYO
Terima kasih.
27. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Enggak, saya cuma ingin menanya ... menambahkan saja. Saya khawatir Pemohon mempunyai pemahaman yang keliru gitu, mencampurbaurkan persoalan ahli dari permohonan yang dimohonkan itu dengan persoalan menghadirkan ahli di sini. Persoalan menghadirkan ahli di sini itu adalah tergantung pada jawaban atas pertanyaan Ibu membutuhkan apa enggak (...)
28. PEMOHON: SRI ROYANI
Enggak,maksud saya (...)
29. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Dukungan ini?
30. PEMOHON: SRI ROYANI
Saya tidak menghadirkan ahli di sini, yang akan saya hadirkan saksi, Pak.
31. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Enggak, ya, okelah termasuk saksi juga. Jadi kalau Ibu menghadirkan saksi, itu biayanya ada pada Ibu.
32. PEMOHON: SRI ROYANI
Ya.
33. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Begitu, itu maksudnya, itu saja. Kalau memang diperlukan ... Ibu memandang perlu untuk menghadirkan itu, hadirkan.
Nah, kalau Mahkamah beda lagi urusannya, siapa saja Pihak Terkait kira-kira yang penting untuk dihadirkan oleh Mahkamah. Kalau kami kan tidak apa ... Mahkamah tidak menganggap ... tidak mempunyai kepentingan kan untuk ininya, itu Ibu yang menganggap, “Oh, saya perlu menghadirkan ini.” Ibu yang tahu, “Bagian ini yang saya memerlukan keterangan keahlian, di mana saya harus meyakinkan Mahkamah bahwa terjadi pertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dari norma yang saya ujikan.” Kami akan memanggil pihak-pihak yang terkait dalam persoalan ini. Bagaimana sebenarnya dari pembentuk undang-undang adanya norma ini, bagaimana ketika dipraktikan misalnya oleh kepolisian, nah itu kalau ... makanya kepolisian dihadirkan sebagai Pihak Terkait walaupun sekarang belum memberikan keterangan, itu, ya. Itu di ... jadi ... jadi jangan tidak ada kaitannya dengan yang Ibu bacakan tadi itu, itu dikasus lain, dikasus nyata yang Ibu hadapi. Ini kasus untuk pembuktian norma ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, sehingga beda soal ahlinya, misalnya.
34. PEMOHON: SRI ROYANI
Enggak, sebetulnya saya ... makanya saya bertanya begini, sebetulnya saya itu ingin memanggil saksi dari pihak kepolisian, tapi kalau saya memanggil secara apa ... pribadi, itu tidak mungkin karena mereka lembaga negara dan siapa saya, gitu.
35. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Bukan memanggil namanya, kalau Ibu minta baik-baik, belum tentu juga dia tidak datang kan, kan bukan memanggil.
36. PEMOHON: SRI ROYANI
Saya pernah berbicara dengan beberapa ... termasuk penyidik di sana, saya bilang, tapi kebanyakan, “Aduh, duh, duh, jangan, jangan.” Gitu. “Jangan, Bu, cari perkara saja, Ibu.” Gitu.
Jadi maksud saya begini, apakah bisa ... apakah bisa ... ini hanya bertanya, Yang Mulia, ya. Apakah bisa jika saya memanggil ahli dari pihak kepolisian yang menangani kasus saya di sana dengan kewenangan Mahkamah, Mahkamah yang memanggil, gitu, saya kasih CV-nya misalnya, gitu. Apakah mungkin, apa bisa begitu.
37. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Begini, begini kalau ... maaf, Yang Mulia Pak Ketua. Kalau itu persoalannya itu begini. Mahkamah ... karena ini pengujian norma, Ibu, ya, bukan mengadili kasus konkret, itu satu. Tadi sudah disampaikan oleh Pemerintah juga.
Nah, Mahkamah nanti akan menilai apakah dalam pemeriksaan dalam konteks untuk membuktikan norma ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 atau tidak, apakah Mahkamah memandang penting untuk menghadirkan ahli ... saksi seperti yang Ibu maksudkan itu. Kalau Mahkamah memandang tidak penting, Mahkamah tidak akan memanggil. Tetapi persoalannya adalah si Pemohon ini kan yang lebih berkepentingan untuk menghadirkan itu. Nah, itu yang tidak bica dicampuri oleh Mahkamah, itu maksudnya. Paham, ya, Bu, ya?
38. PEMOHON: SRI ROYANI
Paham, paham.
39. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
40. KETUA: ANWAR USMAN
Jadi begini, Pemohon. Tadi sudah disampaikan tadi sekilas bahwa tidak akan mengajukan ahli tapi saksi, ya?
41. PEMOHON: SRI ROYANI
Ya.
42. KETUA: ANWAR USMAN
Oke. Ya, di samping tadi menghendaki saksi dari Pihak Kepolisian adalah penyidik, ya, tentu nanti mungkin menjadi satu kesatuan dengan apa yang akan disampaikan oleh Pihak Terkait Kepolisian nanti. Kan ada diuraikan juga dalam permohonan.
Nah, pertanyaan selanjutnya apakah ada saksi lain selain yang dimaksud tadi? Yang ingin diajukan?
43. PEMOHON: SRI ROYANI
Tidak.
44. KETUA: ANWAR USMAN
Oh, tidak ada. Ya, baik kalau begitu.
45. PEMOHON: SRI ROYANI
Hanya Pihak Kepolisian saja.
46. KETUA: ANWAR USMAN
Oh, gitu. Baik. Dari Pemerintah, apa akan mengajukan ahli atau saksi? Kalau dari (...)
47. PEMERINTAH: WICIPTO SETIADI
Melihat perkembangan, Yang Mulia.
48. KETUA: ANWAR USMAN
49. PEMERINTAH: WICIPTO SETIADI Ya.
50. KETUA: ANWAR USMAN
Baik.
51. PEMERINTAH: WICIPTO SETIADI
Terima kasih.
52. KETUA: ANWAR USMAN
Ya. Kalau begitu sidang ini kita … baik, jadi begini Pemohon, kemudian Kuasa Presiden, dan dari Kepolisian. Setelah Majelis berunding dan bermusyawarah jadi Pihak Kepolisian bisa melangsungkan ditetapkan menjadi Pihak Terkait pada sidang ini, walaupun yang mengundang adalah dari Pihak Pemerintah. Mungkin nanti sidang berikutnya langsung memberikan keterangan sebagai Pihak Terkait. Oh ya, sudah disampaikan permohonan dari Pemohon melalui Pemerintah? Oh, nanti dikasih saja, supaya bisa memberikan keterangan, menanggapi itu dan mungkin sekalian apa yang disampaikan oleh Pemohon tadi ya, ya, supaya sidangnya cepat selesai.
Untuk itu, maka sidang kami tunda hari Kamis, tanggal 20 Agustus 2015, jam 11.00 WIB untuk mendengarkan keterangan DPR dan Pihak Terkait (Kepolisian), ya. Sudah jelas ya Pemohon, Pihak Pemerintah, dan Pihak Terkait?
53. PEMOHON: SRI ROYANI
54. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, baik. Kalau memang tidak ada lagi, maka sidang ini ditutup.
Jakarta, 6 Agustus 2015 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d
Rudy Heryanto
NIP. 19730601 200604 1 004 SIDANG DITUTUP PUKUL 15.23 WIB