• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN DATA PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) 1. Pengertian dan Ketentuan Umum Pajak Bumi dan Bangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GAMBARAN DATA PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) 1. Pengertian dan Ketentuan Umum Pajak Bumi dan Bangunan"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

GAMBARAN DATA PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) 1. Pengertian dan Ketentuan Umum Pajak Bumi dan Bangunan

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap Bumi dan Bangunan berdasarkan Undang –Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang –Undang Nomor 12 Tahun 1994. PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terhutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan atau bangunan. Keadaan subjek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak pusat yang dikenakan bagi setiap warga Negara atas kekayaan alam yang dimilikinya, yang mana pajak pusat ini sudah diatur dalam Undang –Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1985 yang disempurnakan dengan Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1994 dalam pasal 18 ayat 1 tentang Pembagian Hasil Penerimaan Pajak, bahwa hasil Penerimaan Pajak merupakan penerimaan Negara yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dengan imbangan pembagian sekurang –kurangnya 90% (sembilan puluh persen) untuk Pemerintah Daerah Tingkat II dan Pemerintah Daerah tingkat I sebagai pendapatan daerah yang bersangkutan.

(2)

a. 16,2% (enam belas koma dua per seratus) untuk Daerah Propinsi yang bersangkutan,

b. 64,8% (enam puluh empat koma delapan per seratus) untuk Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan,

c. 9% (Sembilan per seratus) untuk biaya pemungutan.

Dan 10% (Sepuluh Per Seratus) yang merupakan bagian Pemerintah Pusat diperinci sebagai berikut:

a. 6,5% (enam koma lima per seratus) dibagikan secara merata kepada seluruh Daerah Kabupaten.

b. 3,5% (tiga koma lima per seratus) dibagikan sebagai intensif kepada Daerah Kabupaten/Kota.

Pajak Bumi dan Bangunan adalah Pajak Negara yang sebagian besar penerimaannya merupakan pendapatan daerah yang antara lain dipergunakan untuk penyediaan fasilitas yang dinikmati oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

A. Dasar Hukum Pelaksanaan Penyelesaian Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan

1. Pasal 15 dan 16 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 Tentang Permohonan Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan.

(3)

2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-25/PJ/2009 Tanggal 16 Maret 2009 Tentang Tata Cara Pengajuan Dan Penyelesaian Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-16/PJ/2010 Tanggal 26 Maret 2010 Tentang Tata Cara Penyelesaian Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan. 3. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-32/PJ/2009 Tanggal 16

Maret 2009 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 25/PJ/2009 Tentang Tata Cara Pengajuan Dan Penyelesaian Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan.

2. Subjek dan Objek Pajak Bumi dan Bangunan A.Subjek Pajak Bumi dan Bangunan

Dalam Pasal 4 ayat 1 Undang –Undang Pajak Bumi dan Bangunan yang dimaksud dengan Subjek Pajak adalah Orang atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi, dan / atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan / atau memiliki, menguasai, dan / atau memperoleh manfaat atas Bangunan.

Dalam pasal 4 ayat 2 Undang – Undang Pajak Bumi dan Bangunan Subjek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi Wajib Pajak.

Dalam hal atas suatu objek pajak belum jelas diketahui wajib pajaknya, Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan subjek pajak sebagai wajib pajak. Ketentuan ini memberikan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk menentukan

(4)

subjek pajak sebagai wajib pajak, apabila objek pajak belum jelas pajaknya (Pasal 4 ayat 3).

Untuk lebih jelasnya diberikan contoh sebagai berikut:

1. Subjek Pajak bernama A yang memanfaatkan atau menggunakan bumi dan/atau bangunan milik orang lain bernama B bukan karena sesuatu hak berdasarkan Undang –Undang atau bukan karena perjanjian maka dalam hal demikian A yang memanfaatkan atau menggunakan bumi dan/atau bangunan tersebut ditetapkan sebagai wajib pajak.

2. Suatu objek pajak yang masih dalam sengketa pemilikan di pengadilan, maka orang atau badan yang memanfaatkan atau menggunakan objek pajak tersebut ditetapkan sebagai wajib pajak.

3. Subjek pajak dalam waktu yang lama berada diluar wilayah letak objek pajak, sedang untuk merawat objek pajak tersebut dikuasakan kepada orang atau badan, maka orang atau badan yang diberi kuasa dapat ditunjuk sebagai wajib pajak.

Penunjukan sebagai wajib pajak oleh Direktur Jenderal Pajak bukan merupakan bukti kepemilikan hak.

B.Objek Pajak Bumi dan Bangunan

Dalam pasal 2 ayat 1 Undang –Undang Pajak Bumi dan Bangunan yang menjadi objek pajak adalah bumi dan/atau bangunan.

(5)

Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya, permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia sedangkan Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau bangunan.

Yang termasuk dalam pengertian bangunan adalah:

1. Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya dan lain-lain yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut,

2. Jalan TOL, 3. Kolam renang, 4. Pagar mewah, 5. Tempat olah raga,

6. Galangan kapal, dermaga, 7. Taman mewah,

8. Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak, 9. Fasilitas lain yang memberikan manfaat.

Yang dimaksud dengan klasifikasi bumi dan bangunan adalah pengelompokan bumi dan bangunan menurut nilai jualnya dan digunakan sebagai pedoman serta untuk memudahkan penghitungan pajak yang terhutang (Pasal 2 ayat 2).

Dalam menentukan klasifikasi bumi/tanah diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

(6)

1. Letak, 2. Peruntukan, 3. Pemanfaatan,

4. Kondisi lingkungan dan lain-lain.

Dalam menentukan klasifikasi bangunan diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

1. Bahan yang digunakan, 2. Rekayasa,

3. Letak,

4. Kondisi lingkungan dan lain-lain.

3. Cara Menghitung Pajak Bumi dan Bangunan A. Dasar Penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan

Dasar penghitungan pajak adalah Nilai Jual Kena Pajak yang ditetapkan serendah-rendahnya 20 % (dua puluh persen) dan setinggi-tingginya 100 % (seratus persen) dari Nilai Jual Objek Pajak

Yang dimaksud Nilai Jual Kena Pajak adalah nilai jual yang dipergunakan sebagai dasar penghitungan pajak, yaitu suatu persentase tertentu dari nilai jual sebenarnya.

Besarnya Nilai Jual Kena Pajak sebagai dasar penghitungan pajak yang terhutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) Undang –Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah

(7)

dengan Undang –Undang Nomor 12 Tahun 1994, ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tanggal 13 Mei 2002 Nomor 22 Tahun 2002 tentang penetapan besarnya NJKP untuk penghitungan PBB, besarnya NJKP adalah sebagai berikut:

1. Objek Pajak Perkebunan adalah 40 % 2. Objek Pajak Kehutanan adalah 40 % 3. Objek Pajak Pertambangan adalah 20 % 4. Objek Pajak Lainnya (Pedesaan Perkotaan)

a. Sebesar 40 % (empat puluh persen) dari Nilai Jual Objek Pajak apabila Nilai Jual Objek Pajaknya Rp. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah) atau lebih,

b. Sebesar 20 % (dua puluh persen) dari Nilai Jual Objek Pajak apabila Nilai Jual Objek Pajaknya kurang dari RP. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

B. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan

Dalam pasal 5 Undang –Undang Pajak Bumi dan Bangunan, Tarif Pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah sebesar 0.5% (Lima persepuluh persen)

C. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)

Selain terdapat NJOP, terdapat pula Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) yang ditetapkan untuk setiap daerah Kabupaten/Kota setinggi-tingginya Rp. 12.000.000 sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 201/KMK/.04/2000. Besarnya NJOPTKP untuk setiap daerah Kabupaten/Kota, ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama

(8)

Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan pendapat Pemerintah Daerah Setempat.

Dalam pasal 3 ayat 3 Undang –Undang Nomor 12 Tahun 1994 menyatakan bahwa besarnya NJOPTKP ditetapkan sebesar Rp 8.000.000,00 untuk setiap wajib pajak dan apabila seorang Wajib Pajak mempunyai beberapa Objek Pajak, yang diberikan Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) hanya salah satu Objek Pajak yang nilainya terbesar, sedangkan Objek Pajak lainnya tetap dikenakan secara penuh tanpa dikurangi Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak.

D. Contoh Penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan

Besarnya pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Nilai Jual Kena Pajak.

PBB = Tarif Pajak X NJKP

= 0.5 % x {Persentase NJKP x (NJOP – NJOPTKP)}

1) Jika NJKP = 40 % (untuk objek pajak perkebunan, kehutanan, pertambangan, pedesaan dan perkotaan yang NJOP >= Rp. 1 milyar)

Sebagai contoh :

Wajib Pajak A memiliki sebidang tanah dan bangunan yang NJOP Rp. 2.000.000.000,00

Besarnya pajak terutang adalah :

(9)

= Rp 3.984.000,00

2) Jika NJKP = 20 % (untuk objek pajak pedesaan perkotaan yang NJOP < Rp 1 milyar)

Sebagai contoh :

Wajib Pajak B memiliki sebidang tanah dan bangunan yang NJOP-nya Rp 15.000.000,00

Besarnya pajak terutang adalah

PBB = 0.5% x {20% x (Rp 15.000.000,00 – Rp 8.000.000,00) = Rp. 7.000.000,00

3) Seorang wajib pajak mempunyai dua objek pajak berupa bumi dan bangunan masing – masing di Desa A dan di Desa B dengan nilai sebagai berikut : a. Desa A.

Nilai Jual Objek Pajak Bumi = Rp 8.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Bangunan = Rp 5.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak untuk peghitungan pajak :

Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 8.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Bangunan Rp 5.000.000,00 (+) Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar pengenaan

Pajak Rp 13.000.000,00

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 8.000.000,00 (-) Nilai Jual Objek Pajak untuk penghitungan Pajak Rp 5.000.000,00 b. Desa B

(10)

Nilai Jual Objek Pajak Bumi = Rp 5.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Bangunan = Rp 3.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak untuk Penghitungan Pajak :

Nilai Jual Objek Pajak Bumi Rp 5.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Bangunan Rp 3.000.000,00 (+)

Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar pengenaan Rp 8.000.000,00 Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak Rp 0,00 (-) Nilai Jual Objek Pajak untuk penghitungan pajak Rp 8.000.000,00 Jadi PBB terhutang untuk Desa A dan Desa B adalah :

Desa A, PBB = 20% x 0.5% x Rp 5.000.000,00 = Rp 5.000,00

Sedangkan Desa B, PBB = 20% x 0.5% x Rp 8.000.000,00 = Rp 8.000,00

4. Pendaftaran dan Penilaian Pajak Bumi dan Bangunan A. Pendaftaran Objek dan Subjek Pajak

Pendaftaran Objek Pajak Bumi dan Bangunan adalah suatu kegiatan Subjek Pajak untuk mendaftarkan Objek Pajaknya, dengan cara mengisi Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). Pelaksanaan pendaftaran Objek Pajak dilakukan dengan cara Subjek Pajak mendaftarkan sendiri objek pajaknya pada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang wilayah kerjanya meliputi

(11)

lokasi objek pajak atau tempat-tempat lain yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Pendaftaran objek Pajak Bumi dan Bangunan dilakukan oleh subjek pajak dengan cara mengisi Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). Wajib Pajak yang memiliki NPWP mencantumkan NPWP dalam kolom yang tersedia dalam SPOP, dimana SPOP diisi dengan jelas, benar, dan lengkap serta ditandatangani dan disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang wilayah kerjanya meliputi letak objek pajak, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal diterimanya SPOP oleh subjek pajak atau kuasanya.

Setelah SPOP dikembalikan maka akan terbit Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT),(STTS),(DHKP). Wajib pajak yang telah menerima Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT), Surat Ketetapan Pajak (SKP), dan surat Tagihan Pajak (STP) dari Kantor Pelayanan Pajak atau disampaikan lewat Pemerintah daerah harus melunasinya sesuai dengan tanggal jatuh tempo dan tepat waktu pada tempat pembayaran yang ditunjuk dalam SPPT yaitu seperti Bank dan Kantor Pos.

B. Penilaian Objek Pajak

Penilaian objek Pajak Bumi dan Bangunan dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama baik secara massal maupun secara individu dengan menggunakan pendekatan penilaian yang telah ditentukan.

Hasil penilaian objek pajak digunakan sebagai dasar penentuan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Khusus hasil penilaian objek bumi, sebelum ditetapkan oleh

(12)

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak perlu dikonfirmasikan terlebih dahulu kepada Pemerintah Daerah untuk mendapatkan pertimbangan.

Cara Penilaian ada dua cara yaitu : 1. Penilaian Massal

a. NJOP bumi dihitung berdasarkan Nilai Indikasi Rata-rata (NIR) yang terdapat pada setiap Zona Nilai Tanah (ZNT).

b. NJOP bangunan dihitung berdasarkan Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB).

c. Perhitungan penilaian massal dilakukan dengan menggunakan program computer (Computer Assissted valuation /CAV) .

2. Penilaian Individu

Diterapkan untuk Objek Pajak yang bernilai tinggi (tertentu) atau keberadaannya mempunyai sifat khusus, antara lain :

a. Jalan Tol

b. Pelabuhan laut/sungai/udara c. Lapangan golf

d. Industri semen/pupuk, Pabrik-Pabrik e. PLTA, PLTU, PLTG

f. Pertambangan g. Tempat rekreasi

(13)

i. Objek pajak tertentu, seperti rumah mewah, pompa bensin, usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan.

5. Keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan

Dalam pasal 15 Undang –Undang Pajak Bumi dan Bangunan Nomor 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang –Undang Nomor 12 Tahun 1994, keberatan diajukan atas :

a. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), b. Surat Ketetapan Pajak (SKP PBB).

Keberatan yang diajukan oleh wajib pajak pada dasarnya meyangkut masalah data dan mengandung arti wajib pajak membantah atau tidak sependapat atas isi Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT)/ Surat Ketetapan Pajak (SKP PBB) yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama, karena tidak atau kurang sesuai dengan keadaan sebenarnya, sebagai mana diatur pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: (PER-25/PJ/2009 dan SE-32/PJ/2009) :

1. Wajib Pajak berpendapat bahwa luas objek pajak bumi dan/atau bangunan atau nilai jual objek pajak bumi dan/atau bangunan tidak sebagaimana mestinya; dan/atau

2. Terdapat perbedaan penafsiran peraturan perundang-undangan PBB dan peraturan perundang-undangan antara wajib pajak dengan fiskus, misalnya :

(14)

b. Objek Pajak yang seharusnya tidak dikenakan PBB, c. Penerapan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP),

d. Penentuan saat pajak terutang, e. Tanggal jatuh tempo.

6. Syarat - syarat Pengajuan Permohonan Keberatan Atas Pajak Bumi dan Bangunan

A. Syarat Pengajuan Keberatan

Dalam Pasal 15 ayat 1 sampai 3 Undang –Undang Pajak Bumi dan Bangunan adapun syarat-syarat dalam mengajukan keberatan yaitu:

1. Keberatan terhadap Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang dan Surat Ketetapan Pajak harus diajukan masing-masing dalam satu surat keberatan tersendiri untuk setiap tahun pajak.

2. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan menyatakan alasan secara jelas.

3. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT dan SKP oleh wajib pajak, kecuali apabila wajib pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

Adapun kententuan ini dimaksudkan untuk memberi waktu yang cukup kepada wajib pajak untuk mempersiapkan surat keberatan beserta alasan-alasannya, dan

(15)

wajib pajak karena keadaan diluar kekuasaannya (force majeure) maka tenggang waktu tersebut masih dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang oleh Direktur Jenderal Pajak.

B. Pengajuan Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan

Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-25/PJ/2009 pasal 3 ayat 1 dapat diajukan secara Perseorangan atau Kolektif untuk SPPT, atau Perseorangan untuk SKP PBB.

1) Syarat – syarat Pengajuan keberatan secara Perseorangan yaitu: a. Satu surat keberatan untuk 1 (SPPT) atau SKP PBB, b. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia,

c. Diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak dan disampaikan ke KPP Pratama,

d. Dilampiri asli SPPT atau SKP PBB yang diajukan keberatan,

e. Dikemukakan jumlah PBB yang terutang menurut penghitungan Wajib Pajak disertai dengan alasan yang mendukung pengajuan keberatannya, f. Diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya

SPPT atau SKP PBB, kecuali apabila Wajib Pajak atau kuasanya dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya, dan

g. Surat keberatan ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal surat keberatan ditandangani oleh bukan Wajib Pajak:

(16)

1. Harus dilampiri dengan Surat Kuasa Khusus, untuk Wajib Pajak orang pribadi dengan PBB yang terutang lebih banyak dari Rp 2.000.000,00 (dua juata rupiah) atau Wajib pajak badan, atau

2. Harus dilampiri dengan surat kuasa, untuk Wajib Pajak orang pribadi dengan PBB yang terutang paling banyak Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah).

Dalam pengajuan kepada Direktur Jenderal Pajak dan disampaikan ke KPP Pratama, dimana Wajib Pajak harus menyampaikannya berdasarkan wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak atau meliputi dimana wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak objek pajak tersebut berada, yaitu seperti:

1. KPP Pratama Medan Timur, Wilayah Kerja Meliputi: a. Kecamatan Medan Timur

b. Kecamatan Medan Perjuangan c. Kecamatan Medan Tembung

2. KPP Pratama Medan Barat, Wilayah Kerja Meliputi: a. Kecamatan Medan Barat

3. KPP Pratama Medan Belawan, Wilayah Kerja Meliputi: a. Kecamatan Medan Belawan

b. Kecamatan Medan Labuhan c. Kecamatan Medan Marelan d. Kecamatan Medan Deli

(17)

a. Kecamatan Medan Kota b. Kecamatan Medan Area c. Kecamatan Medan Amplas d. Kecamatan Medan Denai

5. KPP Pratama Medan Petisah, Wilayah Kerja Meliputi: a. Kecamatan Medan Petisah

b. Kecamatan Medan Sunggal c. Kecamatan Medan Helvetia

6. KPP Pratama Medan Polonia, Wilayah Kerja Meliputi: a. Kecamatan Medan Maimun

b. Kecamatan Medan Baru c. Kecamatan Medan Selayang d. Kecamatan Medan Tuntungan e. Kecamatan Medan Johor f. Kecamatan Medan Polonia

7. KPP Pratama Binjai, Wilayah Kerja Meliputi: a. Kota Binjai

b. Kabupaten Langkat

8. KPP Pratama Lubuk Pakam, Wilayah Kerja Meliputi: a. Kabupaten Deli Serdang

2) Syarat – syarat Pengajuan keberatan secara kolektif yaitu:

(18)

b. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia,

c. PBB yang terutang untuk setiap SPPT paling banyak Rp 200.000,00 (dua ratus ribu),

d. Diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak dan disampaikan ke KPP Pratama,

e. Diajukan melalui Kepala Desa/Lurah setempat, f. Dilampiri asli SPPT yang diajukan keberatan,

g. Mengemukakan jumlah PBB yang terutang menurut penghitungan wajib pajak disertai dengan alasan yang mendukung pengajuan Keberatannya,dan h. Diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya

SPPT, kecuali apabila wajib pajak melalui Kepala Desa/Lurah setempat dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

Adapun tanggal penerimaan surat keberatan yang dijadikan dasar untuk memproses surat keberatan adalah tanggal terima surat keberatan, dalam hal disampaikan secara langsung oleh wajib pajak atau kuasanya kepada petugas Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) atau petugas yang ditunjuk, atau tanggal tanda pengiriman surat keberatan, dalam hal disampaikan melalui pos dengan bukti pengiriman surat.

(19)

Dalam pengajuan keberatan, Wajib Pajak melampirkan SPPT atau SKP tahun pajak bersangkutan dan dapat melampirkan bukti pendukung yang terkait dengan alasan pengajuan keberatannya, bukti pendukung tersebut antara lain:

a. Fotokopi identitas Wajib Pajak, dan fotokopi identitas kuasa wajib pajak dalam hal dikuasakan,

b. Fotokopi bukti kepemilikan tanah,

c. Fotokopi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), dan/atau d. Fotokopi bukti pendukung lainnya.

Pengajuan keberatan yang tidak memenuhi persyaratan batas waktu pengajuan keberatan (tiga bulan sejak diterimanya SPPT dan SKP PBB) tidak dapat dipertimbangkan.

Dan pengajuan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana terdapat dalam PER -25/PJ/2009 pasal 4 ayat 1 dan ayat 2 dianggap bukan sebagai keberatan sehingga tidak dapat dipertimbangkan.

(20)

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI DATA

1. Prosedur Pelaksanaan Penyelesaian Keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.

Setiap manusia perlu mengetahui kewajibannya terhadap Negara. Membayar pajak adalah salah satu kewajiban Warga Negara untuk ikut serta berpartisipasi dalam mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negaranya. Untuk dapat melakukan kewajiban perpajakan, maka setiap Wajib Pajak mempunyai beberapa hak yang dapat diajukan terhadap Direktur Jenderal Pajak apabila di dalam penetapan pajak bumi dan bangunan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Salah satu diantaranya yaitu Wajib Pajak diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan apabila terjadi kesalahan fiskus dalam penetapan pajaknya. Adapun prosedurnya adalah sebagai berikut:

a. Pengajuan surat keberatan

Pengajuan surat keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak kepada Direktur Jenderal Pajak akan disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) dalam wilayah KPP Pratama yang bersangkutan baik secara langsung atau melalui pos dengan bukti pengiriman surat.

b. Petugas Pelayanan Terpadu (TPT) akan menerima berkas pengajuan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan dari Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) tersebut dan TPT akan merekam berkas,

(21)

kemudian meneruskan berkas pengajuan beserta Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD) kepada Account Representative (AR), mencetak Bukti Penerimaan Surat, dan memberikan Bukti Penerimaan Surat kepada Wajib Pajak atau Kepala Desa/Lurah.

c. Account Representative menerima berkas pengajuan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan wajib pajak dan meneliti kelengkapan persyaratan pengajuan dengan mengisi Lembar Penelitian Persyaratan Pengajuan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan tersebut. Terhadap pengajuan keberatan yang tidak memenuhi persyaratan maka pengajuan keberatan PBB tidak dapat dipertimbangkan dan SPPT asli yang dilampirkan disampaikan kembali kepada wajib pajak.

d. Untuk berkas pengajuan keberatan PBB yang telah memenuhi persyaratan, Account Representative akan mengelompokkan berdasarkan wewenang penelitiannya atau wewenang penyelesaian keberatan PBB.

e. Apabila pelaksanaan penelitian keberatan PBB bukan merupakan wewenang KPP Pratama atau wewenang penyelesaian keberatan PBB adalah wewenang Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, maka dari itu AR akan membuat konsep surat penerusan pengajuan keberatan PBB kepada Kantor wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Dan sebelum diteruskan ke Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak maka Account Representative terlebih dahulu menyerahkan surat tersebut kepada Kepala Seksi Waskon, kemudian diteruskan kepada kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama untuk diteliti,

(22)

disetujui dan ditandatangani oleh kepala KPP Pratama, maka surat penerusan pengajuan keberatan PBB, lembar penelitian persyaratan pengajuan keberatan PBB dan berkas pengajuan keberatan PBB tersebut dikirimkan kepada kepala Kanwil DJP paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak tanggal penerimaan surat pengajuan keberatan .

f. Untuk pengajuan keberatan yang telah memenuhi persyaratan, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama/Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak berdasarkan kewenangan untuk melaksanakan penelitian, menugaskan kepada petugas peneliti untuk melakukan penelitian dengan menerbitkan surat tugas. g. Berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak

Sumatera Utara I Nomor: 164/WPJ.01/2009 Tentang Pelaksanaan Penelitian Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan yang diajukan secara Perseorangan dalam hal letak objek pajak berada tidak dalam satu Kabupaten/Kota dengan tempat Kedudukan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak maka dalam hal ini pelaksanaan penelitian keberatan Pajak Bumi dan Bangunan dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang wilayah kerjanya meliputi letak objek pajak dalam hal Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang paling banyak:

1. Rp 3.000.000,00 (Tiga Juta Rupiah) Untuk Kota Binjai

2. Rp 2.000.000,00 (Dua Juta Rupiah) Untuk Kabupaten Langkat 3. RP 5.000.000,00 (Lima Juta Rupiah) Untuk Kabupaten Deli Serdang

(23)

Dan Pelaksanaan penelitian keberatan Pajak Bumi dan Bangunan dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dalam hal Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang lebih banyak dari:

1. Rp 3.000.000,00 (Tiga Juta Rupiah) Untuk Kota Binjai

2. Rp 2.000.000,00 (Dua Juta Rupiah) Untuk Kabupaten Langkat 3. RP 5.000.000,00 (Lima Juta Rupiah) Untuk Kabupaten Deli Serdang. h. Petugas peneliti kemudian melakukan penelitian di kantor terhadap berkas

pengajuan keberatan dan apabila diperlukan, petugas peneliti dapat melanjutkan penelitian dilapangan. Dalam hal dilakukan penelitian dilapangan, Kepala KPP Pratama/Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak terlebih dahulu memberitahukan secara tertulis tanggal pelaksanaan penelitian di lapangan kepada wajib pajak dan hasil penelitian dituangkan dalam laporan hasil penelitian keberatan.

i. Keputusan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan diterbitkan berdasarkan laporan hasil penelitian, yaitu dapat berupa:

a. Menerima seluruhnya atau sebagian

Menerima seluruhnya, apabila alasan Wajib Pajak sesuai dengan data/keterangan yang diperoleh dari hasil Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL) dan diterima seluruhnya berdasarkan perhitungan Wajib Pajak, atau atas perintah Undang –Undang.

Menerima sebagian, apabila sebagian alasan Wajib Pajak sesuai dengan data/keterangan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan.

(24)

b. Menolak, apabila permohonan keberatan Wajib Pajak memenuhi persyaratan, dan telah dilakukan Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL) sehingga alasan yang diajukan oleh Wajib Pajak tidak tepat atau tidak benar.

c. Menambah besarnya jumlah pajak yang terutang, apabila berdasarkan hasil Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL) diperoleh perhitungan yang menambah besarnya jumlah pajak yang terutang.

Dokumen – dokumen/berkas – berkas yang belum dilengkapi oleh Wajib Pajak paling lama dipenuhi dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal diterimanya SPPT atau SKP PBB. Apabila lewat dari 3 bulan maka surat keberatan tidak diproses atau tidak dipertimbangkan. Pada pasal 26 ayat 1 dan 3 Undang –Undang Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) bahwa dalam penyelesaian surat pengajuan keberatan, Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan surat keberatan, harus memberi suatu keputusan atas pengajuan keberatan baik itu berupa menerima seluruhnya atau sebagaian, menolak, atau menambah besarnya pajak yang terhutang. Apabila dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak surat keberatan diterima telah terlampaui dan keputusan belum diterbitkan, maka pengajuan keberatan dianggap dikabulkan dan diterbitkan keputusan sesuai dengan pengajuan Wajib Pajak dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak jangka waktu dimaksud berakhir.

(25)

j. Dan salinan keputusan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan diberikan kepada Wajib Pajak atau Kepala Desa/Lurah dalam hal keberatan diajukan secara kolektif, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama, dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi yang sejenis.

TABEL 1

JUMLAH WAJIB PAJAK YANG MENGAJUKAN KEBERATAN ATAS PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DAN PENYELESAIANNYA

TAHUN 2008 DAN 2009

Tahun

Keberatan

Surat Masuk Selesai Belum Selesai Ditolak

2008 221 178 21 22

2009 289 218 16 55

Sumber : Laporan Pengajuan Keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I

Untuk Tahun 2008:

a. Jumlah Wajib Pajak Yang Mengajukan Keberatan Yang Sudah Selesai Diproses Pada Tahun 2008 Yaitu Sebanyak 178 Orang.

b. Jumlah Wajib Pajak Yang Mengajukan Keberatan Yang Belum Selesai Diproses Pada Tahun 2008 Yaitu Sebanyak 21 Orang.

(26)

c. Jumlah Wajib Pajak Yang Mengajukan Keberatan Yang Ditolak Pada Tahun 2008 Yaitu Sebanyak 22 Orang.

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah Wajib Pajak yang mengajukan keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I pada tahun 2008 adalah sebanyak 221 orang . Dan dari Jumlah Wajib Pajak yang mengajukan keberatan sebanyak 221 orang, yang sudah selesai diproses pada tahun 2008 yaitu sebanyak 178 orang atau sekitar 80,54% , dan yang belum selesai diproses dari 221 orang yang mengajukan keberatan yaitu sebanyak 21 orang atau sekitar 9,50% yang belum selesai diproses, dimana surat pengajuan keberatan yang belum selesai diproses pada tahun 2008 akan dilanjutkan ke tahun berikutnya untuk diselesaikan. Untuk tahun 2008 surat pengajuan keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak ada yang ditolak oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yaitu sebanyak 22 orang atau sekitar 9,95%, karena tidak memenuhi persyaratan formal sebagaimana dimaksud pada PER-25/PJ/2009 sebagaimana telah diubah dalam PER-16/PJ/2010.

Untuk Tahun 2009:

a. Jumlah Wajib Pajak Yang Mengajukan Keberatan Yang Sudah Selesai Diproses Pada Tahun 2009 Yaitu Sebanyak 218 Orang.

b. Jumlah Wajib Pajak Yang Mengajukan Keberatan Yang Belum Selesai Diproses Pada Tahun 2009 Yaitu Sebanyak 16 Orang.

(27)

c. Jumlah Wajib Pajak Yang Mengajukan Keberatan Yang Ditolak Pada Tahun 2009 Yaitu Sebanyak 55 Orang.

Dari data diatas dapat simpulkan bahwa jumlah Wajib Pajak yang mengajukan keberatan pada tahun 2009 adalah sebanyak 289 orang. Dan pada tahun 2009 surat pengajuan keberatan yang telah diselesaikan yaitu sebanyak 218 orang atau sekitar 75,43%, dari 289 Wajib Pajak yang mengajukan keberatan sebanyak 16 orang atau sekitar 5,53% yang keberatannya belum selesai diproses pada tahun 2009, maka pengajuan keberatan tersebut akan diproses pada tahun berikutnya. Dan sebanyak 55 orang atau sekitar 19,03% yang mengajukan keberatan pada tahun 2009 surat keberatannya ditolak oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.

2. Faktor – Faktor Penghambat dalam Pelaksanaan Penyelesaian Keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.

Dalam melaksanakan setiap pekerjaan, manusia sering menemukan hambatan – hambatan ataupun kendala – kendala yang dihadapi. Demikian juga halnya dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I, dalam melaksanakan penyelesaian keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan ada beberapa kendala – kendala yang ditemukan. Umumnya keberatan yang ditolak

(28)

merupakan faktor – faktor penghambat dalam pelaksanaan penyelesaian keberatan tersebut adalah:

a. Ketidaklengkapan dokumen – dokumen/ bukti – bukti/ surat –surat yang harus dilampirkan oleh wajib pajak dalam surat pengajuan keberatan. Berdasarkan SE-32/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Keberatan Pajak Bumi dan Bangunan Dimana wajib pajak dalam mengisi formulir pengajuan keberatan tidak lengkap maka permohonan pengajuan keberatan tidak dianggap sebagai permohonan sehingga proses dalam pelaksanaan penyelesaian keberatan tersebut terhambat dan tidak dapat diproses.

b. Wajib pajak sulit membedakan antara pengajuan keberatan dan pengurangan. Pengajuan keberatan berbicara mengenai adanya sengketa antara Wajib Pajak dengan Fiskus sedangkan permohonan pengurangan tidak adanya sengketa antara Wajib Pajak dengan Fiskus tetapi hanya mengajukan permohonan pengurangan akibat dari ketidakmampuan wajib pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunannya, sehingga hal ini sering membuat adanya kesalahpahaman antara Wajib Pajak dengan Fiskus dalam hal proses pengajuan penyelesaian keberatan.

c. Adapun yang sering menyebabkan hambatan dalam penyelesaian keberatan yaitu masalah jangka waktu pengajuan keberatan.

(29)

jangka waktu yang ada di lembar belakang SPPT sehingga batas waktu dari pengajuan keberatan tersebut sudah lewat 3 (bulan) sejak diterimanya SPPT atau SKP PBB dan tidak dapat diterima atau dipertimbangkan lagi dan proses penyelesaiannya pun tidak dapat dilakukan akibat dari batas waktu yang sudah lewat.

d. Keberatan yang ditolak pada umumnya disebabkan adanya kasus seperti terlambat menyampaikan surat pengajuan keberatan dan syarat-syarat yang tidak lengkap.

Misalnya saja, Wajib Pajak menyampaikan surat pengajuan keberatan kepada Lurah yang ada disekitar daerah mereka namun Lurah tersebut tidak menyampaikannya langsung atau mengirimkan surat pengajuan keberatan tersebut kepada Kantor Pelayanan Pajak sehingga surat pengajuan keberatan tersebut melewati batas waktu yang telah ditentukan dan hal tersebut merupakan salah faktor yang menyebabkan wajib pajak tidak dapat mengajukan surat pengajuan keberatan sehingga penyelesaiannya pun tidak dapat diproses.

Adapun upaya – upaya/solusi yang dapat dilakukan dalam penghambat pelaksanaan penyelesaian pengajuan keberatan agar pengajuan keberatan dapat diproses yaitu:

a. Melakukan sosialisasi kepada wajib pajak mengenai syarat – syarat atau bukti - bukti yang perlu diajukan baik itu dengan cara memasang

(30)

spanduk atau pun dapat juga dilakukan dengan cara sosialisasi melalui selebaran – selebaran agar wajib pajak dalam mengajukan pengajuan keberatan dapat mengisi formulir ataupun berkas – berkas yang dilampirkan dengan benar sehingga proses dalam pelaksanaan pengajuan keberatan dapat diproses.

b. Ketika wajib pajak memasukkan surat pengajuan keberatan hendaknya petugas Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) harus menjelaskan terlebih dahulu kepada wajib pajak mengenai perbedaan antara pengajuan keberatan dengan permohonan pengurangan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara fiskus dengan wajib pajak.

c. Hambatan dalam bagian c diatas solusinya yaitu dengan melakukan sosialisasi kepada wajib pajak yaitu dapat dilakukan dengan cara pembuatan brosur mengenai cara – cara ataupun syarat – syarat dalam pengajuan keberatan, dapat juga dilakukan oleh fiskus maupun TPT dengan cara memberitahuakan wajib pajak sebelum mereka ingin mengajukan pengajuan keberatan sehingga proses pelaksanaannya pun dapat dilakukan dan diproses.

d. Bidang Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) dapat membuat seminar dan penyuluhan kepada Lurah – Lurah mengenai cara – cara maupun syarat – syarat dalam mengajukan keberatan dengan rutin dan secara terus – menerus agar wajib pajak dalam penyampaian surat pengajuan keberatan kepada Lurah tidak

(31)

terlambat lagi disampaikan oleh karena para Lurah sudah dibekali mengenai cara – cara maupun syarat – syarat dalam penyampaian keberatan melalui para Lurah.

e. Kantor Pelayanan Pajak dan P2Humas dapat secara langsung dan bertatap muka dengan wajib pajak dalam menyampaikan bagaimana cara dan syarat –syarat dalam mengajukan keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan sehingga wajib pajak lebih mengerti akan cara maupun syarat –syarat dalam penyampaian pengajuan keberatan.

f. Dalam rangka mengurangi keberatan, sebaiknya pemuktahiran data harus dikerjakan secara rutin (updating), sehingga data yang keluar bisa siap pakai dan dapat segera diproses.

(32)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

Pada bab terakhir ini penulis dapat menarik kesimpulan berdasarkan pada bab sebelumnya yaitu :

a. Proses pelaksanaan penyelesaian pengajuan keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak atas Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I dapat diselesaikan dengan baik, meskipun ada surat pengajuan keberatan yang belum diselesaikan yang disebabkan adanya kendala – kendala dan hal – hal teknis.

b. Proses pelaksanaan penyelesaian pengajuan keberatan yang diajukan oleh wajib pajak atas Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I ada beberapa surat keberatan yang ditolak oleh Kanwil DJP.

c. Dalam mengajukan surat pengajuan keberatan wajib pajak harus melampirkan semua dokumen – dokumen/berkas-berkas yang telah ditetapkan oleh peraturan dan ketentuan yang berlaku sehingga mempercepat fiskus dalam proses pelaksanaan penyelesaiannya.

d. Dalam hal prosedur pelaksanaan pengajuan keberatan tidak hanya Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang melakukan penelitian akan tetapi Kantor Pelayanan Pajak Pratama juga mempunyai wewenang dalam

(33)

melakukan penelitian sesuai dengan keputusan yang telah dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.

e. Bahwa Kantor Wilayah Direktorat Jenderal dalam waktu 12 bulan sejak diterimanya surat pengajuan keberatan harus memberikan keputusan atas surat pengajuan yang diajukan oleh wajib pajak tersebut baik itu menerima seluruhnya atau sebahagian, menolak atau menambah besarnya pajak yang terhutang.

f. Adapun faktor – faktor penghambat dalam pelaksanaan penyelesaian pengajuan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I yaitu:

1. Wajib pajak belum melengkapi berkas – berkas yang telah ditetapkan oleh fiskus atau pun wajib pajak dalam mengisi formulir pengajuan keberatan banyak terjadi kesalahan.

2. Wajib pajak sulit membedakan pengajuan keberatan dengan permohonan pengurangan sehingga sering menimbulkan kesalahpahaman antara fiskus dengan wajib pajak

3. Masalah jangka waktu pengajuan keberatan yang tidak diperhatikan oleh wajib pajak sehingga pengajuan surat keberatan wajib pajak tidak dapat diterima dan tidak dapat dipertimbangkan.

(34)

2. Saran

Dalam pelaksanaan Laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini, penulis ingin memberikan saran – saran sehubungan dengan pelaksanaan penyelesaian pengajuan keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I. Adapun saran –saran tersebut antara lain:

1. Dalam pelaksanaan penyelesaian pengajuan keberatan atas Pajak Bumi dan Bangunan, kelengkapan dokumen – dokumen/berkas – berkas wajib pajak sangat dibutuhkan. Hendaknya fiskus ataupun Tempat Pelayanan Terpadu memberitahukan terlebih dahulu kepada wajib pajak yang ingin mengajukan pengajuan keberatan apa yang menjadi syarat - syarat yang harus dilampirkan atau dipenuhi dalam mengajukan pengajuan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan disertai dengan menyebutkan jangka waktu yang telah ditentukan untuk melengkapi dokumen tersebut sehingga proses penyelesaian pun dapat dilakukan.

2. Memberikan penyuluhan kepada wajib pajak, agar didalam mengajukan surat pengajuan keberatan melengkapi dokumen – dokumen/ berkas – berkas yang sudah ditetapkan.

3. Memberikan sosialisasi kepada wajib pajak mengenai ketentuan perpajakan dan hal prosedur pelaksanaan pengajuan keberatan baik itu dengan melakukan seminar – seminar ataupun dapat juga dengan cara melakukan pembuatan spanduk dan pembuatan selebaran.

(35)

4. Bagi wajib pajak yang mengajukan surat pengajuan keberatan yang syarat – syaratnya kurang lengkap sebaiknya pihak fiskus dapat menyurati wajib pajak tersebut untuk sesegera mungkin melengkapi syarat – syaratnya dan prosesnya tetap dilaksanakan oleh pihak fiskus untuk mempercepat pelayanan dan penyelesaian pengajuan keberatan.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Uji Paired Sampel T-Test Portofolio Saham. Paired

1)Bekerja dapat menjadi obat bagi orang yang sedih. 2) Orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, serius, dan cermat biasanya melupakan hal-hal yang tidak

Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education) Program pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skill) melalui pendekatan pendidikan berbasis luas (Broad

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang suatu sistem pemantau dan pengumpulan data proses pembuatan kawat las agar dapat menghitung nilai

Pemeliharaan juvenil teripang pasir dengan metode keramba apung tanpa rumput laut direkomendasikan karena menghasilkan pertumbuhan dan sintasan yang tinggi,

Nama Pekerjaan : Penyusunan Master Plan Tower Terpadu di Kabupaten Muara Enim Lokasi : Kabupaten Muara Enim.. Pagu :

2 Subang, Kami Selaku Kelompok Kerja Pengadaan Barang pada Dinas Pendidikan Kabupaten Subang yang ditunjuk berdasarkan Keputusan Kepala Unit Layanan Pengadaan

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan:(1) citra diri perempuan Jawa dalam novel Canting karya Arswendo Atmowiloto dan Amba karya Laksmi Pamuntjak, (2)