BAB II URAIAN TEORI. Komunikasi apabila diaplikasikan dengan benar akan mampu mencegah dan

Teks penuh

(1)

BAB II

URAIAN TEORI

II.1. Komunikasi

Komunikasi apabila diaplikasikan dengan benar akan mampu mencegah dan memperbaiki hubungan sekaligus menciptakan suasana yang menyenangkan dan

menciptakan hubungan yang harmonis baik antarpribadi, antar kelompok, antar bangsa dan sebagainya, membina kesatuan dan persatuan umat manusia seluruh penghuni bumi yang menghasilkan citra positif. Disinilah terlihat begitu pentingnya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk melanjutkan hubungan maupun melepaskan hubungan.

Istilah komunikasi dalam bahasa inggris communication berasal dari kata Latin

communication, dan bersumber dari kata communis yang artinya sama. Sama disini

dimaksudkan adalah sama makna. Jadi komunikasi dapat terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan (Effendy, 2000:9). Menurut Goyer komunikasi adalah berbagai pengalaman, dapat diamati sebagai penelitian dimana respon penggerak dan penerima berhubungan secara sistematis untuk referensi stimulus (dalam Ardiyanto, 2007:19). Dalam pengertian ini

komunikasi memberikan individu-individu untuk memahami dan merespon apa yang

disampaikan, jika penyampaian dipahami dan dimengerti, maka komunikasi berjalan dengan baik dan sehat.

Carl I. Hovland mendefenisikan komunikasi sebagai suatu proses dimana seseorang memindahkan perangsang yang biasanya berupa lambang kata-kata untuk mengubah tingkah laku orang lain (dalam Widjaja, 2000:26-27). Adapun pengertian komunikasi yang lain menurut Rogers bersama D. Lawrance Kincaid, 1981 mendefenisikan komunikasi sebagai suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi

(2)

dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saat saling pengertian yang mendalam (dalam Cangara, 2006:19). Jadi, dengan demikian komunikasi itu adalah

persamaan pendapat dan untuk kepentingan itu maka orang harus mempengaruhi orang lain dahulu sebelum orang lain itu berpendapat, bersikap dan bertingkah laku yang sama dengan kita.

Komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan berhasil jika adanya pengertian serta kedua belah pihak saling memahaminya. Dimana dapat disimpulkan bahwa komunikasi sangat penting sama halnya dengan bernafas. Tanpa komunikasi tidak ada hubungan dan kesepian dalam menjalani aktivitas. Kualitas komunikasi menetukan keharmonisan hubungan dengan sesama individu. Adapun bentuk dari komunikasi yaitu:

1. Komunikasi Personal (personal communication)

Terdiri dari komunikasi intra personal (intrapersonal communivcation) dan komunikasi antar personal (interpersonal communication).

2. Komunikasi Kelompok

1. Komunikasi kelompok kecil (small group communication) terdiri dari ceramah, forum, diskusi dan seminar.

2. Komunikasi kelompok besar (large group communication) terdiri dari kampanye.

3. Komunikasi Organisasi (organization communication)

4. Komunikasi Massa (mass communication) (Effendy, 2004: 10).

Komunikasi menjadi salah satu hal terpenting dalam proses apapun, maka dalam harmonisasi hubungan ini terbentuk dalam komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok. Hal ini membutuhkan proses di dalamnya, adapun proses komunikasi menurut Onong terbagi atas dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder.

1. Proses Komunikasi Secara Primer

Adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang sebagai media. Lambang ini umumnya bahasa tetapi dalam situasi komunikasi tertentu lambang-lambang yang digunakan dapat berupa gerak tubuh, gambar, warna dan sebagainya.

(3)

Adalah proses penyampaian pesan oleh seorang kepada orang lain dengan

menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Proses ini termasuk sambungan dari proses primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu, dalam prosesnya komunikasi sekunder ini akan semakin efektif dan efisien karena di dukung oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih, yang di topang oleh teknologi-teknologi lainnya (Effendy, 2004:11).

Dalam keseluruhan komunikasi menjadi akan memberikan manfaat yang mendalam, jika komunikasi berlangsung dengan baik mampu memberikan keuntungan dan mampu mencapai tujuan yang baik, jika komunikasi menjadi efektif. Pentingnya komunikasi untuk membina hubungan yang baik, bahwa kebutuhan utama manusia yang sehat secara rohaniah adalah kebutuhan akan hubungan sosial yang ramah, yang hanya bisa terpenuhi dengan membina hubungan yang baik dengan orang-orang lain. Abraham Maslow menyebutkan bahwa satu diantara keempat kebutuhan utama manusia adalah kebutuhan sosial untuk memperoleh rasa aman lewat rasa memiliki dan dimiliki, pergaulan, rasa diterima, memberi dan menerima persahabatan (dalam Rakhmat, 2005:9).

II.1.1) Tujuan Komunikasi

Dalam berkomunikasi tidak hanya untuk memahami dan mengerti satu dengan yang lainnya tetapi juga memiliki tujuan dalam berkomunikasi. Pada umumnya komunikasi mempunyai tujuan, antara lain:

1. Untuk mengubah sikap (to change the attitude)

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat akan merubah sikapnya. Misalnya memberikan informasi tentang bahaya Narkoba pada masyarakat dan remaja pada khususnya dengan tujuan agar masyarakat dan remaja menjadi tahu bahaya dari Narkoba yang bisa berujung dengan kematian. 2. Untuk mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion)

Memberikan berbagai informasi kepada masyarakat dengan tujuan akhir agar masyarakat mau merubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi yang disampaikan, misalnya informasi mengenai pemilu.

(4)

3. Untuk merubah perilaku (to change the behavior)

Memberi berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat akan merubah perilakunya. Misalnya informasi yang dilakukan oleh pihak Kepolisian kepada masyarakat pengguna sepeda motor agar selalu menggunakan helm selama berkendara untuk keselamatan pengguna itu sendiri.

4. Untuk mengubah masyarakat (to change the society)

Memberikan berbagai informasi kepada masyarakat, yang pada akhirnya bertujuan agar masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi yang disampaikan (Effendy 2003:55).

II.1.2) Fungsi Komunikasi

Proses komunikasi tidak terlepas dari bentuk dan fungsi komunikasi, dimana komunikasi yang baik, tidak jauh dari fungsi yang mendukung keefektifan komunikasi. Adapun fungsi komunikasi itu sendiri adalah sebagai berikut:

1. Menginformasikan (to inform)

Kegiatan komunikasi itu memberikan penjelasan, penerangan, mengenai bentuk informasi yang disajikan dari seorang komunikator kepada komunikan. Informasi yang akurat diperlukan oleh beberapa bagian masyarakat untuk bahan dalam pembuatan keputusan.

2. Mendidik (to educate)

Penyebaran informasi tersebut sifatnya memberi pendidikan atau penganjuran suatu pengetahuan, menyebarluaskan kreativitas untuk membuka wawasan dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara luas, baik untuk pendidikan formal di sekolah maupun di luar sekolah.

3. Menghibur (to entertaint)

Penyebaran informasi yang disajikan kepada komunikan untuk memberikan hiburan. Menyampaikan informasi dalam lagu, lirik dan bunyi, maupun gambar dan bahasa membawa setiap orang pada situasi menikmati hiburan.

4. Mempengaruhi (to influence)

Komunikasi sebagai sarana untuk mempengaruhi khalayak untuk sumber

motivasi, mendorong dan mengikuti kemajuan orang lain melalui apa yang dilihat, dibaca dan didengar. Serta memperkenalkan nilai-nilai baru untuk mengubah

(5)

II.1.3) Unsur-Unsur Komunikasi

Dari pengertian komunikasi yang telah dikemukakan, maka jelas bahwa komunikasi antar manusia hanya bisa terjadi, jika ada seseorang yang menyampaikan pesan kepada orang lain dengan tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa terjadi kalau didukung oleh adanya unsur-unsur komunikasi. Unsur-unsur ini juga bisa disebut komponen atau elemen komunikasi. Untuk itu, kita perlu mengetahui unsur-unsur komunikasi. Menurut Wilbur Schramm komunikasi selalu menghendaki adanya paling sedikit tiga unsur yaitu:

1. Sumber (Source)

Sumber dapat merupakan perorangan (seseorang yang sedang berbicara, menulis, menggambar, melakukan suatu gerak-gerik) atau sebuah organisasi komunikasi (seperti surat kabar, biro publikasi, studio televisi, studio radio, studio film, dan sebagainya).

2. Pesan (Message)

Pesan atau message dapat berwujud tinta di atas kertas, gelombang radio di udara, daya tekan dalam aliran listrik, lambaian tangan, kibaran bendera, atau tanda-tanda lain yang bila ditafsirkan mempunyai arti tertentu.

3. Sasaran (Destination)

Sasaran dapat merupakan seorang yang sedang mendengarkan, memperhatikan, atau membaca, bisa juga berupa para anggota kelompok diskusi, hadirin yang sedang mendengarkan ceramah, penonton sepakbola, anggota gerombolan (mob), atau anggota kelompok khusus yang kita sebut massa (mass audience) seperti pembaca surat kabar atau penonton televisi (dalam Effendy, 2003: 39).

II.2. Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi merupakan suatu proses sosial dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya saling mempengaruhi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh De Vito (dalam Liliweri, 1997:12) bahwa, komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain atau sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung.

Hubungan antarpribadi yang berkelanjutan dan terus menerus akan memberikan semangat, saling merespon tanpa adanya manipulasi, tidak hanya tentang menang atau kalah

(6)

dalam berargumentasi melainkan tentang pengertian dan penerimaan (Beebe, 2008:3-5). Komunikasi antarpribadi merupakan suatu interaksi antar manusia, dimana awal mula membangun sebuah hubungan. Komunikasi antarpribadi mempengaruhi hubungan, jika hubungan dan komunikasi terjalin baik, maka akan terjalin jalinan yang panjang, dimana saling menghargai dan memberikan perhatian lebih satu dengan yang lain. Dalam komunikasi antarpribadi tidak hanya tertuju pada pengertian melainkan ada fungsi yang dari komunikasi antarpribadi itu sendiri. Fungsi komunikasi adalah berusaha meningkatkan hubungan insani, menghindari dan mengatasi konflik pribadi, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain (Cangara, 2006:56). Komunikasi

antarpribadi dapat meningkatkan hubungan kemanusiaan antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi antarpribadi memungkinkan kita bisa memperoleh sahabat dalam kehidupan, membina hubungan yang baik, membentuk konsep diri, hingga mampu menghindari dan mengatasi terjadinya konflik dengan sahabat, tetangga maupun masyarakat. Dikatakan demikian karena, konsep diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam proses komunikasi antarpribadi, karena setiap orang akan bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya. Artinya bahwa bila konsep diri seseorang positif, maka individu akan cenderung mengembangkan sikap-sikap postitif mengenai dirinya sendiri, seperti rasa

percaya diri yang baik serta kemampuan untuk melihat dan menilai diri sendiri secara positif.

II.2.1) Karakteristik Komunikasi Antarpribadi

Barnlund mengemukakan pendapatnya mengenai karakteristik komunikasi antarpribadi yang kemudian dikutip oleh Liliweri, yaitu:

a) Komunikasi antarpribadi terjadi secara spontan b) Tidak memiliki struktur yang teratur atau diatur c) Terjadi secara kebetulan

d) Tidak mengejar tujuan yang telah direncanakan terlebih dahulu e) Identitas keanggotaannya kadang-kadang kurang jelas

(7)

f) Bisa terjadi hanya sambil lalu (dalam Liliweri, 1997:14)

Menurut Liliweri, komunikasi antarpribadi mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1. Spontan dan terjadi sambil lalu saja (umumnya tatap muka)

2. Tidak mempunyai tujuan terlebih dahulu

3. Terjadi secara kebetulan diantara peserta yang tidak mempunyai identitas yang belum tentu jelas

4. Berakibat sesuatu yang disengaja maupun tidak disengaja 5. Kerapkali berbalas-balasan

6. Mempersyaratkan adanya hubungan paling sedikit dua orang, serta hubungan harus bebas, bervariasi, adanya keterpengaruhan

7. Harus membuahkan hasil

8. Menggunakan berbagai lambang-lambang bermakna (Liliweri, 1997:14)

Menurut De Vito, komunikasi dapat menjadi efektif maupun sebaliknya, karena apabila terjadi suatu permasalahan dalam hubungan, diantaranya hubungan persahabatan, maka komunikasi antarpribadi menjadi tidak efektif. Berikut ini terdapat 3 sudut pandang yang membahas tentang karakteristik komunikasi antarpribadi yang efektif yakni:

1. Sudut Pandang Humanistik

Sudut pandang yang menekankan pada keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan yang menciptakan interaksi yang bermakna, jujur dan memuaskan. Beberapa hal yang ditekankan dalam sudut pandang yang memiliki penjabaran yang luas, diantaranya:

a. Keterbukaan, yang memiliki pengertian bahwa dalam komunikasi antarpribadi yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi, kesediaan untuk membuka diri, kesediaan untuk mengakui perasaan dan pikiran yang anda miliki dan mempertanggungjawabkannya.

b. Empati, kemampuan seseorang untuk “mengetahui” apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang atau “kacamata” orang lain tersebut, dimana seseorang juga mampu untuk memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa depannya.

c. Sikap mendukung, dalam hal ini merupakan pelengkap dari pada kedua hal sebelumnya, karena komunikasi yang terbuka dan empati tidak dapat berlangsung dalam suasana tidak mendukung.

d. Sikap positif, komunikasi antarpribadi akan terbina apabila orang memiliki sikap yang positif terhadap diri mereka sendiri, karena orang yang merasa positif dengan diri sendiri akan mengisyaratkan perasaan kepada orang lain, yang selanjutnya juga

(8)

akan merefleksikan perasaan positif kepada lawan bicaranya, kemudian sikap positif juga dapat diwujudkan dengan memberikan suatu sikap dorongan dengan menunjukkan sikap menghargai keberadaan, pendapat dan pentingnya orang lain, dimana perilaku ini sangat bertentangan dengan sikap acuh.

e. Kesetaraan, memiliki pengertian bahwa kita menerima pihak lain atau mengakui dan menyadari bahwa kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga. Karena pada kesetaraan, suatu konflik akan lebih dapat dilihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada dari pada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.

2. Sudut Pandang Pragmatis

Sudut pandang yang menekankan pada manajemen dan kesegaran interaksi dan secara umum, kualitas-kualitas yang menentukan pencapaian tujuan spesifik. Beberapa hal yang ditekankan dalam sudut pandang ini adalah sebagai berikut:

a. Kepercayaan diri, komunikator yang efektif memiliki kepercayaan diri, dimana hal itu dapat dilihat pada kemampuan untuk menghadirkan suasana nyaman pada saat berinteraksi diantaranya kepada orang-orang yang merasa gelisah, pemalu atau kuatir dan membuat merasa lebih nyaman.

b. Kebersatuan, mengacu pada penggabungan antara pembicara pendengar, dimana terciptanya rasa kebersamaan dan kesatuan yang mengisyaratkan minat dan perhatian untuk mau mendengarkan.

c. Manajemen interaksi, dalam melakukan komunikasi dapat mengandalkan interaksi untuk kepuasan kedua belah pihak, hingga tidak seorang pun merasa diabaikan atau merasa menjadi tokoh yang paling penting. Beberapa cara yang tepat untuk melakukannya adalah dengan menjaga peran sebagai pembicara dan pendengar melalui gerakan mata, ekspresi vokal, gerakan tubuh dan wajah yang sesuai dan juga dengan saling memberikan kesempatan untuk berbicara merupakan wujud dari manajemen interaksi.

d. Daya ekspresi, mengacu pada kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan dengan aktif, bukan dengan menarik diri atau dengan melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.

e. Orientasi kepada orang lain, dalam hal ini dimaksudkan untuk lebih menyesuaikan diri pada lawan bicara dan mengkomunikasikan perhatian dan minat terhadap apa yang dikatakan oleh lawan bicara.

f. Sudut pandang pergaulan sosial, sudut pandang yang berdasarkan model ekonomi imbalan dan biaya. Suatu hubungan diasumsikan sebagai suatu kemitraan dimana imbalan dan biaya saling dipertukarkan.

3. Sudut Pandang Pergaulan Sosial

Sudut pandang yang berdasarkan model ekonomi imbalan dan biaya. Suatu hubungan diasumsikan sebagai suatu kemitraan dimana imbalan dan biaya saling dipertukarkan (De Vito, 1997:259-268).

(9)

Ketiga sudut pandang tersebut tidak terpisah satu dengan yang lain melainkan saling melengkapi, karena setiap sudut pandang tersebut membantu kita untuk dapat memahami komunikasi sebagai solusi yang efektif untuk mengatasai masalah dalam suatu hubungan. Menurut Rakhmat komunikasi efektif ditandai dengan hubungan antarpribadi yang baik (2005:129). Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan antarpribadi, yaitu:

1. Percaya (Trust)

Faktor percaya merupakan faktor yang terpenting diantara berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi antarpribadi. Menurut Griffin, percaya didefenisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko (dalam Rakhmat, 2005:130). Adapun unsur percaya, yaitu:

a. Ada situasi yang menimbulkan resiko. Bila orang menaruh kepercayaan kepada seseorang, ia akan menghadapi resiko. Resiko itu dapat berupa kerugian yang anda alami. Bila tidak ada resiko, percaya tidak diperlukan.

b. Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain.

c. Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.

Sejauh mana kita percaya kepada orang lain dipengaruhi oleh faktor-faktor personal dan situasional. Disamping faktor-faktor personal, ada tiga faktor yang berhubungan dengan sikap percaya, yaitu:

a. Karakteristik dan maksud orang lain b. Hubungan kekuasaan

c. Sifat dan kualitas komunikasi

Bila komunikasi bersifat terbuka, maksud dan tujuan sudah jelas, maka akan timbul sikap saling percaya. Sikap percaya berkembang apabila setiap komunikan menganggap komunikan lainnya bersikap jujur. Tentu saja sikap ini dibentuk berdasarkan pengalaman kita dengan komunikan. Selain pengalaman ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu menerima, empati dan kejujuran (Rakhmat, 2005:132).

(10)

2. Sikap Suportif

Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang dikatakan defensif bila tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis. Sudah jelas, sikap defensif komunikasi antarpribadi akan gagal, karena orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi dari pada

memahami pesan orang lain. Komunikasi defensif dapat terjadi karena faktor-faktor personal yaitu ketakutan, kecemasan, harga diri yang rendah, pengalaman defensif atau faktor-faktor situasional dan sebagainya.

3. Sikap Terbuka

Sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi antarpribadi yang efektif. Brooks dan Emmert (dalam Rakhmat, 2005:136) memberi karakteristik orang yang bersifat terbuka yaitu:

a. Menilai pesan secara objektif dengan menggunakan data dan logika b. Membedakan dengan mudah, melihat suasana dan sebagainya c. Berorientasi pada isi

d. Mencari informasi dari berbagai sumber

e. Lebih bersifat profesional dan bersedia mengubah kepercayaannya

f. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaan

Agar komunikasi antarpribadi yang kita lakukan melahirkan hubungan antarpribadi yang efektif, maka diperlukan juga sikap terbuka. Bersama-sama dengan sikap percaya dan suportif, sikap terbuka mendorong timbulnya saling pengertian, saling menghargai diri dan yang paling penting saling mengembangkan kualitas hubungan antarpribadi.

(11)

II.2.2) Tujuan Komunikasi Antarpribadi

Dalam kegiatan apapun komunikasi antarpribadi tidak hanya memiliki ciri maupun karakteristik tertentu, tetapi juga memiliki tujuan agar komunikasi antarpribadi tetap berjalan dengan baik. Adapun tujuan dari komunikasi antarpribadi adalah sebagai berikut:

1. Mengenal diri sendiri dan orang lain

Salah satu cara mengenal diri sendiri adalah melalui komunikasi antarpribadi memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbincangkan diri kita sendiri, dengan membicarakan tentang diri kita sendiri pada orang lain. Kita akan mendapatkan perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita. Pada kenyataan nya, persepsi-persepsi diri kita sebagian besar merupakan hasil dari apa yang kita pelajari tentang diri kita sendiri dari orang lain melalui komunikasi antarpribadi.

Melalui komunikasi antarpribadi kita juga belajar tentang bagaimana dan sejauhmana kita harus membuka diri pada orang lain. Melalui komunikasi

antarpribadi kita juga akan mengetahui nilai, sikap dan perilaku orang lain. Kita dapat menanggapi dan memprediksi tindakan orang lain.

2. Mengetahui dunia luar

Komunikasi antarpribadi juga memungkinkan kita untuk memahami lingkungan kita secara baik yakni tentang objek, kejadian-kejadian dan orang lain. Banyak

informasi yang kita miliki dengan interaksi antarpribadi.

Banyak hal yang memperlihatkan bahwa melalui komunikasi antarpribadi, kita sering membicarakan kembali hal-hal yang telah disajikan di media massa. Namun demikian pada asumsinya nilai, keyakinan, sikap dan perilaku kita banyak

dipengaruhi oleh komunikasi antarpribadi dibandingkan dengan media massa dan pendidikan formal.

3. Menciptakan dan memelihara hubungan

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, hingga dalam kehidupan sehar-hari orang ingin menciptakan dan memelihara hubungan dekat dengan orang lain. Dengan demikian, banyak waktu yang digunakan dalam komunikasi antarpribadi bertujuan untuk menciptakan dan memlihara hubungan sosial dengan orang lain. Hubungan demikian membantu mengurangi kesepian dan ketegangan serta membuat kita merasa lebih positif tentang diri kita sendiri.

4. Mengubah sikap dan perilaku

Dalam komunikasi antarpribadi sering kita berupaya menggunakan sikap dan perilaku orang lain. Keinginan memilih suatu cara tertentu. Mencoba makanan baru, membaca buku, berfikir dalam cara tertentu dan sebagainya. Singkatnya banyak yang kita gunakan untuk mempersuasikan orang lain melalui komunikasi antarpribadi. 5. Bermain dan mencari hiburan

Bermain mencakup semua kegiatan untuk memperoleh kesenangan. Pembicaran-pembicaraan yang lain yang hampir sama merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh hiburan. Seringkali hal tersebut tidak dianggap penting, tapi sebenarnya komunikasi yang demikian perlu dilakukan, karena memberi suasana lepas dari keseriusan, ketegangan, kejenuhan dan sebagainya.

(12)

6. Membantu orang lain

Kita sering memberikan berbagai nasehat dan saran pada teman-teman yang sedang menghadapi masalah atau suatu persoalan dan berusaha untuk

menyelesaikannya. Hal ini memperlihatkan bahwa tujuan dari proses komunikasi antarpribadi adalah membantu orang lain (Widjaja, 2000:122).

II.3. Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure)

Teori pengungkapan diri adalah proses pengungkapan informasi diri pribadi seseorang kepada orang lain maupun sebaliknya. Pengungkapan diri merupakan kebutuhan seseorang sebagai jalan keluar atas tekanan-tekanan yang terjadi dalam dirinya. Pada teori ini terjadi ketika kita dengan sengaja memberikan informasi tentang diri kita sendiri kepada orang lain, dimana mereka tidak akan mengetahui dan memahami jika kita tidak memberitahukan kepada orang lain. Hubungan antarpribadi tidak akan mencapai keintiman tanpa pengungkapan diri (self disclosure). Pengungkapan diri ini dapat berupa berbagai topik seperti informasi perilaku, perasaan, keinginan, motivasi, dan ide yang sesuai dan terdapat didalam diri orang yang bersangkutan. Kedalaman dari pengungkapan diri seseorang tergantung pada situasi dan orang yang diajak untuk berinteraksi. Jika orang yang berinteraksi dengan kita menyenangkan dan membuat kita merasa aman serta dapat membangkitkan semangat maka kemungkinan bagi kita untuk lebih membuka diri amatlah besar. Sebaliknya pada beberapa orang tertentu kita dapat saja menutup diri karena merasa kurang percaya.

Dalam proses pengungkapan diri nampaknya individu-individu yang terlibat memiliki kecenderungan mengikuti norma timbal balik. Bila seseorang menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi pada kita, kita akan cenderung memberikan reaksi yang sepadan. Pada umumnya kita mengharapkan orang lain memperlakukan kita sama seperti memperlakukan mereka (Dayakisni, 2003:88).

(13)

Seseorang yang mengungkapkan informasi pribadi lebih akrab dari pada yang kita lakukan akan membuat kita merasa terancam dan kita akan lebih senang mengakhiri hubungan semacam ini. bila sebaliknya kita yang mengungkapkan diri terlalu akrab dibandingkan dengan orang lain, kita merasa bodoh dan tidak aman.

Ada empat macam pengenalan yang ditunjukkan dalam jendela Johari Window

Gambar 1 Jendela Johari

Diketahui sendiri Tidak diketahui sendiri

Diketahui orang lain Tidak diketahui orang lain

Sumber:

Liliweri, 1997:53

Berdasarkan gambar Johari Window diatas dapat diketahui bahwa tiap diri kita memiliki keempat unsur tersebut, termasuk yang belum diketahui maupun yang disadari. Dalam pengembangan hubungan terdapat empat kemungkinan sebagaimana terwakili melalui suasana di ke empat bidang tersebut.

a. Bidang 1. Mengetahui diri sendiri dan mengetahui orang lain (Terbuka)

Melukiskan kondisi antara seseorang dengan yang lain mengembangkan suatu hubungan yang terbuka sehingga dua pihak saling mengetahui masalah tentang hubungan mereka. Pada bidang ini, kita mengenal diri kita dalam hal kepribadian, kelebihan dan kekurangan. Menurut konsep ini, kepribadian, kelebihan dan kelemahan yang kita miliki, selain diketahui oleh diri sendiri, juga diketahui oleh orang lain. Dengan demikian, kita sukses dalam

1. Terbuka 2. Buta

(14)

berkomunikasi, maka kita harus mampu mempertemukan keinginan kita dan keinginan orang lain.

Jika ingin menang sendiri dengan cara mendesak kehendak kita pada orang lain, maka hal itu dapat mengundang konflik. Sebab itu, jika bidang terbuka ini makin melebar, dalam arti kita dapat memahami orang lain dan orang lain juga memahami diri kita, maka komunikasi pun terjalin dengan sangat erat. Sebaliknya, jika bidang terbuka ini makin mengecil berati komunikasi cenderung tertutup dan komunikasi yang terjalin belum akrab. b. Bidang 2. Tidak mengetahui diri sendiri tetapi mengetahui orang lain (Buta)

Melukiskan masalah hubungan antara kedua belah pihak hanya diketahui orang lain namun tidak diketahui oleh diri sendiri. Pada bidang buta ini orang tidak mengetahui

kekurangan yang dimilikinya, tetapi sebaliknya kekurangan justru diketahui oleh orang lain, banyak orang yang mengetahui kelemahannya tetapi ia berusaha menyangkal. Oleh karena itu, jika bidang buta ini melebar ke bidang lain, maka akan terjadi kesulitan.

c. Bidang 3. Mengetahui diri sendiri tetapi tidak mengetahui orang lain (Tersembunyi) Masalah hubungan antara kedua belah pihak diketahui diri sendiri namun tidak diketahui oleh orang lain. Pada bidang ini kemampuan yang kita miliki tersembunyi, hingga tidak diketahui oleh orang lain. Ada dua konsep yang erat hubungannya dengan bidang ini, yaitu

over disclosure dan under disclosure.

Over disclosure ialah sikap terlalu banyak mengungkapkan sesuatu, hingga hal-hal yang seharusnya disembunyikan juga diutarakan. Misalnya saja, konflik rumah tangga. Sedangkan

under disclosure ialah sikap terlalu menyembunyikan sesuatu yang seharusnya dikemukakan. Terlalu banyak tahu tentang orang lain, namun tidak mau bicara tentang dirinya. Pada bidang tersembunyi ini juga memiliki keuntungan pada diri seseorang jika dilakukan secara wajar. Tetapi jika under disclosure itu muncul, maka akan menyulitkan tercapainya komunikasi yang baik.

d. Bidang 4. Tidak diketahui diri sendiri atau orang lain (Wilayah tak dikenal)

Dimana kedua belah pihak sama-sama tidak mengetahui masalah hubungan diantara mereka. Bidang ini adalah bidang kritis dalam komunikasi. Sebab selain diri kita sendiri yang tidak mengenal diri kita, juga orang lain tidak mengetahui siapa kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi kesalahan persepsi maupun kesalahan perlakuan kepada orang lain karena tidak saling mengenal baik kelebihan dan kekurangan juga statusnya.

Pada keempat bidang dalam Johari Window merupakan satu kesatuan yang teradapat dalam diri setiap orang. Hanya saja kadar bidang berbeda satu dengan yang lain. Mereka yang mampu bersosialisasi dan membangun hubungan baik, maka akan memperluas bidang terbuka. Sebab dengan memperluas bidang terbuka maka ketiga bidang yang lain akan menyempit. Dengan demikian komunikasi merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi dan untuk kontak sosial. Melalui komunikasi kita tumbuh dan belajar, kita menemukan pribadi kita dan orang lain, kita bergaul, bersahabat, menemukan kasih sayang, bermusuhan, membenci orang lain, dan sebagainya.

(15)

Selain konsep Johari Window, ada juga konsep diri yang diperkenalkan oleh Weaver (1978). Konsep ini terdiri atas empat macam yakni, self awareness, self acceptance, self actualization dan self disclose (dalam Cangara, 2006:85).

Self awareness ialah proses menyadari diri tentang siapakah aku, dimana aku berada dan bagaimana orang lain memandang diri ku. Jika orang sadar pada dirinya, maka apa yang akan terjadi akan diterimanya sebagai kenyataan (self acceptance). Dengan menerima kenyataan itu, orang baru dapat mengembangkan dirinya (self actualization) sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Orang akan frustasi jika memiliki keinginan besar tetapi potensi yang dimiliki tidak menunjang.

Jadi, jika memiliki keinginan untuk maju maka keinginan perlu diungkapkan atau dikomunikasikan, agar orang lain mengetahuinya. Keinginan untuk mengungkapkan merupakan jendela untuk memperlihatkan diri. Banyak yang memiliki kemampuan dan keinginan besar, tetapi belum bisa mengkomunikasikannya kepada orang lain, maka

kemampuan dan keinginan tersebut tidak dapat dikembangkan dan dipenuhi. Menurut Evert M. Rogers (dalam Liliweri, 1997:13), bahwa komunikasi antarpribadi mempunyai beberapa ciri-ciri komunikasi yang menggunakan saluran antarpribadi yaitu:

1. Arus pesan cenderung dua arah 2. Konteks komunikasi tatap muka

3. Tingkat umpan balik yang terjadi tinggi

4. Kemampuan mengatasi tingkat selektivitas yang tinggi

5. Kecepatan jangkauan terhadap audience yang besar relatif lamnbat 6. Efek yang terjadi ialah perubahan sikap

Selanjutnya De Vito mengatakan bahwa, ada alasan umum mengapa seorang menjalin hubungan diantaranya yaitu: mengurangi kesepian dimana rasa sepi muncul ketika kebutuhan interaksi akrab tidak terpenuhi, mengutarakan dorongan karena semua manusia membutuhkan dorongan semangat dan salah satu cara terbaik mendapatkannya adalah dengan interaksi antar manusia, memperoleh pengetahuan tentang diri sendiri karena melalui interaksi seseorang akan melihat dirinya seperti orang lain melihatnya, memaksimalkan kesenangan dan meminimalisasikan rasa sakit melalui berbagi rasa dengan orang lain karena seseorang berusaha untuk memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan rasa sakit (1997:245-246).

(16)

Proses untuk tercapainya suatu hubungan yang erat dan baik hingga suasana menjadi akrab dan penuh dengan kekeluargaan, model pengungkapan diri ini didukung dengan model penetrasi sosial, yang didalamnya terdapat dua dimensi yang luas dan mendalam. Dimana seseorang akan berkomunikasi dengan siapa saja baik orang asing maupun sahabat dekat dengan memulai hubungan yang dangkal hingga perkembangan hubungan menjadi akrab. Pengungkapan diri mengalami banyak perkembangan, maka terdapat pula fungsi dari pengungkapan diri tersebut. Menurut Derlega & Grzelak, ada lima fungsi yaitu:

1. Ekspresi, dalam suatu hubungan tidak terlepas dari kekecewaan maupun kekesalan, baik menyangkut pekerjaan, perasaan maupun lainnya. Untuk membuang kekesalan maupun kekecewaan biasanya akan merasa senang jika bercerita pada kerabat atau sahabat. Dengan pengungkapan seperti ini maka memiliki kesempatan untuk mengekspresikan perasaan.

2. Penjernihan diri (self clarification), dengan saling berbagi kasih dan berbagi rasa serta menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi kepada kerabat maupun sahabat, kita berharap akan mendapatkan penjelasan dan pemahaman pikiran dari masalah yang kita hadapi, hingga melihat permasalahan menjadi lebih bijak dan jernih.

3. Keabsahan sosial (social validation), setelah pembicaraan masalah selesai dengan jernih dan baik, biasanya kita memberikan tanggapan mengenai masalah yang tengah dihadapi. Dengan demikian kita akan mendapatkan suatu informasi yang bermanfaat tentang kebenaran akan pandangan dan memperoleh dukungan dari sahabat maupun kerabat.

4. Kendali sosial (social control), seseorang akan menyembunyikan dan mengemukakan informasi tentang keadaan dirinya yang dimaksudkan untuk mengadakan kontrol sosial, misalnya saja orang akan mengatakan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan baik terhadap dirinya.

5. Perkembangan hubungan (relationship development), saling berbagi rasa dan informasi tentang diri kita kepada orang lain serta saling mempercayai merupakan saran yang paling penting dalam usaha merintis hubungan akan peningkatan derajat keakraban (dalam Dayakisni, 2003:90).

Dalam pengungkapan diri, tergantung pada kedalaman seseorang untuk diajak berinteraksi, jika interaksi menyenangkan dan merasa aman serta dapat membangkitkan semangat, maka keterbukaan diri akan terjadi secara otomatis dan suasana menjadi akrab. Begitu juga sebaliknya, jika interaksi tidak begitu menyenangkan, maka terjadi ketidakleluasaan dalam pengungkapan diri.

(17)

Agar tidak terjadi pemutusan hubungan dan hubungan akan tetap berlanjut dengan baik, maka menurut Powell, ada beberapa tingkatan pengungkapan diri dalam komunikasi, yaitu:

1. Basa-basi, merupakan taraf pengungkapan diri yang paling lemah atau dangkal, walaupun terdapat keterbukaan diantara individu, tetapi tidak terjadi hubungan antarpribadi. Masing-masing individu berkomunikasi basa-basi sekedar kesopanan. 2. Membicarakan orang lain, yang diungkapkan dalam berkomunikasi hanyalah

tentang orang lain atau hal-hal yang diluar dirinya. Pada tingkat ini komunikasi lebih mendalam tetapi pada tingkatannya, individu tidak mengungkapkan diri. 3. Menyatakan pendapat, pada tingkatan ini sudah mulai menjalin hubungan yang erat.

Individu mulai mengungkapkan dirinya kepada individu lain.

4. Perasaan, setiap individu memiliki pendapat yang sama tetapi perasaan atau emosi yang menyertai pendapat pada tiap individu berbeda-beda. Setiap hubungan yang menginginkan pertemuan antarpribadi yang sungguh-sungguh, harus didasari dengan hubungan yang jujur, terbuka dan menyatakan perasaan-perasaan yang mendalam.

5. Hubungan puncak, pengungkapan diri dilakukan secara mendalam, individu yang menjalin hubungan erat dapat menghayati perasaan yang dialami individu lainnya. Segala persahabatan haruslah didasari dengan kejujuran (dalam Dayakisni, 2003:89).

II.4. Komunikasi Verbal dan Non Verbal

Dalam penyampaian pesan, seorang komunikator dituntut untuk memiliki kemampuan dan sarana agar mendapat umpan balik (feedback) dari komunikan sehingga maksud pesan tersebut dapat dipenuhi dengan baik dan berjalan efektif. Komunikasi dengan tatap muka (face-to-face) dilakukan. antara komunikator dan komunikan secara langsung, tanpa menggunakan media apapun kecuali bahasa sebagai lambang atau simbol. Komunikator dapat menyampaikan pesannya secara verbal dan non verbal.

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan bahasa lisan (oral communication) dan bahasa tulisan (written communication). Ada tiga ciri utama komunikasi verbal, yaitu:

1. Bahasa verbal adalah komunikasi yang kita pelajari setelah kita menggunakan komunikasi non verbal. Jadi komunikasi verbal ini digunakan setelah pengetahuan dan kedewasaan kita sebagai manusia tumbuh.

(18)

2. Komunikasi verbal dinilai kurang universal dibanding dengan komunikasi non verbal, sebab bila kita ke luar negeri misalnya dan kita tidak mengerti bahasa yang digunakan masyarakat setempat maka kita bisa menggunakan bahasa isyarat non verbal.

3. Komunikasi verbal merupakan aktivitas yang lebih intelektual dibanding dengan bahasa non verbal. Melalui komunikasi verbal kita mengkomunikasikan gagasan dan konsep-konsep yang abstrak (Sendjaja, 2005:6.3).

Sementara komunikasi non verbal dapat didefenisikan sebagai berikut: non berarti tidak, verbal bermakna kata-kata (words). Sehingga komunikasi non verbal dimaknai sebagai komunikasi tanpa kata-kata. Beberapa contoh komunikasi nonverbal adalah: gerakan atau isyarat badaniah (gestural) seperti melambaikan tangan, mengedipkan mata dan sebagainya, dan menggunakan gambar untuk mengemukakan ide atau gagasannya (Sendjaja, 2005:6.3).

Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai potensial bagi pengirim atau penerima; jadi defenisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan (dalam Mulyana, 2002:198).

Kategori komunikasi non verbal dalam Sendjaja Sasa Djuarsa antara lain vocalics atau

paralanguage, kinesic yang mencakup gerakan tubuh, lengan dan kaki, serta ekspresi wajah (facial expression), perilaku mata (eye behaviour), lingkungan yang mencakup objek benda dan artefak, proxemics yang merupakan ruang dan teritori pribadi, haptics (sentuhan), penampilan fisik (tubuh dan cara berpakaian), chronomics (waktu) dan olfaction (bau) (Sendjaja, 2005:6.17).

Ada tiga perbedaan antara komunikasi verbal dan non verbal, yaitu:

1. Komunikasi verbal dikirimkan oleh sumber secara sengaja dan diterima oleh penerima secara sengaja pula.

2. Perbedaan simbolik. Berarti bahwa makna dalam komunikasi verbal dipahami secara subjektif oleh individu yang terlibat di dalam suatu kondisi, sedangkan makna non verbal lebih bersifat alami dan universal.

3. Mekanisme pemrosesan. Yaitu, komunikasi verbal mensyaratkan kaidah dan aturan berbahasa secara indah dan terstruktur (Sendjaja, 1994:257).

II.4.1) Karakteristik Komunikasi Nonverbal

Menurut Ronald Adler dan George Rodman, komunikasi non verbal memiliki empat karakteristik yaitu:

1. Keberadaannya

2. Kemampuannya menyampaikan pesan tanpa bahasa verbal 3. Sifat ambiguitasnya dan

(19)

Eksistensi atau keberadaan komunikasi non verbal akan dapat diamati ketika kita melakukan tindak komunikasi secara verbal, maupun pada saat bahasa verbal tidak

digunakan. Atau dengan kata lain, komunikasi non verbal akan selalu muncul dalam setiap tindakan komunikasi, disadari maupun tidak disadari. Keberadaan komunikasi non verbal ini pada gilirannya akan membawa kepada cirinya yang lain yaitu bahwa kita dapat

berkomunikasi secara non verbal, karena setiap orang mampu mengirim pesan secara non verbal kepada orang lain tanpa menggunakan tanda-tanda verbal.

Karakteristik lain dari komunikasi non verbal adalah sifat ambiguitasnya, artinya ada banyak kemungkinan penafsiran terhadap setiap perilaku. Sifat ambigu atau mendua ini sangat penting bagi penerima (receiver) untuk menguji setiap interpretasi sebelum sampai pada kesimpulan tentang makna dari suatu pesan non verbal. Karakteristik terakhir adalah bahwa komunikasi non verbal terikat dalam suatu kultur, atau budaya tertentu. Artinya, perilaku-perilaku yang memiliki makna khusus dalam suatu budaya akan mengekspresikan pesan-pesan yang berbeda dalam ikatan kultur yang lain (dalam Sendjaja, 2005: 6.16-6.17).

II.4.2) Kategori Komunikasi Nonverbal

Kategori komunikasi non verbal yang dimaksud adalah beragam cara yang digunakan orang-orang yang berkomunikasi secara non verbal, yaitu vocalics, paralanguage, kinesic,

yang mencakup gerakan tubuh, lengan dan ekspresi wajah (facial expressio), perilaku mata (eye behaviour), lingkungan yang mencakup objek benda atau artefak, proxemics yang merupakan ruang dan teritori pribadi, sentuhan (haptics), penampilan fisik (tubuh dan cara berpakaian), chronemics (waktu) dan bau (olfactions).

Dalam tindakan komunikasi sehari-hari, kita lebih banyak mempunyai output dan input vocal dibandingkan dengan kata-kata yang kita ungkapkan secara lisan. Output dan input vocal inilah yang kita sebut sebagai vocalist atau paralanguage. Contoh nyata dari kategori komunikasi non verbal ini adalah desah (sighing), menjerit (screaming), merintih (groaning), menelan (swallowing), menguap (yawning), disamping bentuk-bentuk seperti jeda, intonasi, dan penekanan dalam pembicaraan lisan.

Kategori lain dari komunikasi non verbal adalah kinesics. Ketika kita akan

berkomunikasi dengan orang lain, ekspresi wajah kita akan selalu berubah tanpa melihat apakah kita sedang berbicara atau mendengarkan. Bentuk lain dari kinesics adalah gerakan tangan, kaki dan kepala. Orang-orang yang terlibat dalam tindak komunikasi sering

menggerakkan kepala dan tangannya selama interaksi berlangsung. Beberapa dari gerakan kepala dan tangan tersebut dilakukan secara sadar dan beberapa lainnya dilaksanakan secara tidak sengaja, namun semuanya memiliki makna.

Gerakan tangan cenderung digunakan paling banyak oleh orang yang sedang berbicara, sedangkan pendengar cenderung menggunakan gerakan kepala. Gerakan kepala yang paling umum digunakan oleh orang-orang yang sedang mendengar adalah anggukan dan gelengan kepala. Gerakan kepala yang lain adalah dengan mengernyitkan atau mengerutkan dahi. Gerakan ini bermakna bahwa orang yang sedang mendengarkan memberikan umpan balik (feedback) kepada pembicara (dalam Sendjaja, 2005:6.17).

(20)

II.5. Teori Interaksi Simbolik

Teori ini menyatakan bahwa interaksi sosial pada hakekatnya adalah interaksi simbolik. Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol, yang lain

memberi makna atas simbol tersebut. Para ahli perfeksionisme simbolik melihat bahwa individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang didalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non verbal dan obyek yang disepakati bersama (Mulyana, 2001:84).

Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia yaitu komunikasi dan petukaran simbol yang diberi makna. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia

membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Defenisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku mereka. Manusia bertindak hanya berdasarkan defenisi atau penafsiran mereka atas objek-objek disekeliling mereka. Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan aturan-aturan, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini makna dikonstruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah sesuatu medium yang netral yang memungkinkan kekuatan sosial memainkan perannya melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial (Mulyana, 2001:68)

(21)

Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Secara singkat interaksionalisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama individu merespons sebuah situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka. Kedua makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga makna diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial.

Menurut Ralph Larossa dan Donald C. Reitzes (1993) dalam West-Turner (2008:96), interaksi simbolik pada intinya menjelaskan tentang kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lain, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana cara dunia membentuk perilaku manusia. Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk maknanya yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self) dan hubungannya di tengah interaksi sosial dan tujuan berakhir untuk memediasi, serta menginterpretasikan makna ditengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut menetap. Seperti yang dicatat oleh Douglas (1970) dalam Ardianto (2007:136), makna itu berasal dari interaksi dan tidak ada cara lain untuk membentuk makna, selain dengan membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi.

Definisi singkat dari ke tiga ide dasar dari interaksi simbolik, antara lain:

1. Pikiran (Mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain.

2. Diri (Self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah

(22)

salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri ( the-self) dan dunia luarnya.

3. Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya. Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain:

1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia. 2. Pentingnya konsep mengenai diri.

3. Hubungan antara individu dengan masyarakat

Tema pertama pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretatif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama. Hal ini sesuai dengan tiga dari tujuh asumsi karya Herbert Blumer (1969) dalam West- Turner (2008:99) dimana asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:

1. Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka.

2. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia. 3. Makna dimodifikasi melalui proses interpretatif.

Tema kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya ”Konsep diri” atau ”Self-Concept”. Dimana, pada tema interaksi simbolik ini menekankan pada pengembangan

(23)

konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya. Tema ini memiliki dua asumsi tambahan, menurut LaRossan & Reitzes (1993) dalam West-Turner (2008:101), antara lain:

1. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain. 2. Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku.

Tema terakhir pada interaksi simbolik berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial. Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah:

1. Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial. 2. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.

3.

II.6. Konsep Diri

Konsep diri seseorang merupakan jawaban terhadap siapa saja bagaimana cara

seseorang dalam menilai dirinya. Dengan demikian konsep diri adalah titik pusat kesadaran perilaku seseorang. Konsep diri merupakan dasar dari seseorang untuk menilai pengalaman diri sendiri serta dasar untuk memperbaiki kekurangan dalam mencapai tujuan yang

diharapkan. Konsep diri adalah sesuatu yang dinamis (terus berkembang) dan merupakan kumpulan dari berbagai sikap seseorang yang positif. Seseorang yang memiliki konsep diri mempunyai identitas diri yang jelas. Dengan melatih diri, seseorang akan mencapai tingkat kemantapan dalam menentukan peran dan dapat mengambil keputusan yang selaras, serasi dan seimbang dengan keadaan serta dapat mengembangkan konsep diri.

(24)

Konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri/sifat) yang dimilikinya (Dayakisni, 2003:65). Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya. William H. Fitts (1971) mengemukakan bahwa konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, karena konsep diri seseorang merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan. Ia menjelaskan konsep diri secara fenomenologis, dan mengatakan bahwa ketika individu mempersepsikan dirinya berarti ia menunjukkan suatu kesadaran diri (self awareness) dan kemampuan untuk keluar dari dirinya sendiri untuk melihat dirinya seperti yang ia lakukan terhadap dunia diluar dirinya. Diri secara keseluruhan (total self) seperti yang di alami individu disebut juga diri fenomenal (Snygg & Combs, dalam Fitts 1971). Diri fenomenal ini adalah diri yang di amati, di alami dan di nilai oleh individu sendiri, yaitu diri yang ia sadari. Keseluruhan kesadaran atau persepsi ini merpakan gambaran tentang diri atau konsep diri individu.

Fitts juga mengatakan bahwa konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan mengetahui konsep diri seseorang, kita akan lebih mudah meramalkan dan memahami tingkah laku orang tersebut. Pada umumnya tingkah laku individu berkaitan dengan gagasan-gagasan tentang dirinya sendiri.

Kunci keberhasilan hidup seseorang adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai operating system yang menjalankan program komputer. Konsep diri adalah sistem operasi yang menggerakkan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Semakin baik konsep diri, maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil, demikian pula sebaliknya.

Seseorang yang mempunyai konsep diri, dapat menilai dirinya dalam menjalankan peranan hidup berkeluarga atau dalam masyarakat tanpa merasa lebih atau kurang terhadap

(25)

kemampuan dan bersikap dengan orang lain. Perilaku seseorang dalam kehidupan

bermasyarakat merupakan faktor yang menentukan. Dengan demikian konsep diri seseorang bukan sesuatu yang langsung jadi, melainkan diperoleh dan dibentuk melalui pendidikan, pengalaman serta pengaruh lingkungan.

Jadi konsep diri terbentuk melalui proses dimana seseorang telah dapat menemukan jati diri, mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Kemudian seseorng tersebut mampu menerima dirinya sebagai suatu kenyataan. Dengan kesadaran dan penerimaan ini seseorang mampu memperbaiki kekurangan sehingga mempunyai konsep diri yang positif. Untuk mendukung konsep tersebut, seseorang perlu memiliki sikap percaya diri. Sikap percaya diri merupakan sikap seseorang yang memiliki keyakinan teguh akan tindakannya, mampu menyatakan perasaan dan pendapatnya tanpa menyakiti perasaan diri sendiri dan orang lain.

II.6.1) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Meskipun teori perkembangan konsep diri bervariasi, namun menurut Fitts (1971) konsep diri tidak ada pada saat kelahiran. Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk melalui pengalaman individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Konsep diri yang paling dini umumnya dipengaruhi keluarga, dan orang-orang lainnya yang berada disekelilingnya. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, seperti berikut ini:

a. Orang Lain

Gabriel Marcel, filsuf eksistensialis, yang mencoba menjawab misteri keberadaan, The Mistery of Being, menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri kita. Kita

(26)

mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Bagaimana anda menilai diri saya, akan membentuk konsep diri saya. Yang dimaksud dengan orang lain dalam hal ini adalah: orang tua, teman sebaya dan masyarakat.

Tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Ada yang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan kita. Dari merekalah secara perlahan-lahan kita membentuk konsep diri kita. Senyuman, pujian, penghargaan, pelukan mereka, menyebabkan kita menilai diri kita secara positif. Ejekan, cemoohan dan hardikan, membuat kita memandang diri kita secara negatif (Rakhmat, 2005: 101-102).

b. Kelompok Rujukan (Reference Group)

Dalam pergaulan bermasyarakat, kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Ada kelompok yang secara emosional

mengikat kita, dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita, ini disebut kelompok rujukan. Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri nya dengan ciri-ciri kelompoknya. Salah satu contoh kelompok rujukan ini adalah IDI ( Ikatan Dokter Indonesia).

II.6.2) Dimensi-Dimensi Dalam Konsep Diri

Fitts (1971) membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu sebagai berikut: 1. Dimensi Internal

Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan internal (internal frame of reference) adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam dirinya sendiri. Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk:

1. Diri Identitas (Identity self)

Bagian diri ini merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, “Siapakah saya?” dalam pertanyaan tersebut mencakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri (self) oleh individu-individu yang bersangkutan umtuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya. Contohnya seseorang yang mempunyai gambaran dirinya anak yang pandai akan

(27)

mempunyai kecenderungan menampilkan dirinya sebagai seseorang yang pandai. Untuk itu ia akan berusaha melakukan tingkah laku agar bisa disebut pandai. 2. Diri Pelaku (Behavioral self)

Diri pelaku merupakan persepsi individu terhadap tingkah lakunya sendiri, apakah dipengaruhi oleh faktor internal atau dipengaruhi faktor eksternal. Apakah tingkah lakunya itu akan dipertahankan atau tidak, amat tergantung dari konsekuensi yang diperolehnya, yaitu apabila tingkah lakunya itu menyenangkan maka akan cenderung dipertahankan. Contohnya, ketika seseorang ingin menjadi juara, ternyata bisa

menjadi juara, maka individu tersebut akan merasa puas, dan akhirnya kemampuan dirinya untuk menjadi juara merupakan label yang baru dan menjadi label dalam identitas dirinya.

3. Diri Penerima/Penilai (Judging self)

Merupakan bagian dari diri yang menjalankan fungsi sebagai pengamat, pengatur, pembanding dan terutama sebagai penilai. Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar dan elevator. Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator) antara diri dan identitas pelaku. Manusia cenderung memberikan penilaian terhadap apa yang dipersepsikannya. Oleh karena itu, label-label yang dikenakan pada dirinya bukanlah semata-mata menggambarkan dirinya, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai. Selanjutnya penilaian ini lebih berperan dalam menentukan tindakan yang akan ditampilkannya.

Diri penilai menentukan kepuasan seseorang akan dirinya atau seberapa jauh seseorang menerima dirinya. Kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan harga diri (self esteem) yang rendah pula dan akan mengembangkan ketidakpercayaan yang mendasar pada dirinya. Sebaliknya, bagi individu yang memiliki kepuasan diri yang tinggi, kesadaran dirinya lebih realistis, sehingga lebih memungkinkan individu yang bersangkutan untuk melupakan keadaan dirinya dan memfokuskan energi serta perhatiannya ke luar diri, dan pada akhirnya dapat berfungsi lebih konstruktif.

Ketiga bagian internal ini mempunyai peranan yang berbeda-beda, namun saling melengkapi dan berinteraksi membentuk suatu diri yang utuh dan menyeluruh.

2. Dimensi Eksternal

Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain di luar dirinya. Dimensi eksternal terbagi atas lima bentuk yaitu:

1. Diri Fisik (physical self)

Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik (cantik, jelek, menarik, tidak menarik, tinggi, pendek, gemuk, kurus, dan sebagainya), memandang kondisi kesehatannya dan penampilannya. 2. Diri Etik-moral (moral-ethical self)

Bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya dilihat dari pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini menyangkut persepsi seseorang mengenai hubungannya dengan Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan agamanya dan nilai-nilai moral yang dipegangnya, yang meliputi batasan baik dan buruk.

3. Diri Pribadi (personal self)

Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauhmana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.

(28)

4. Diri Keluarga (family self)

Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya sebagai amggota keluarga. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh seseorang merasa dekat terhadap dirinya sebagai anggota dari suatu keluarga.

5. Diri Sosial (social self)

Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun lingkungan disekitarnya.

Pembentukan penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam dimensi eksternal ini dapat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya dengan orang lain. Seseorang tidak dapat begitu saja menilai bahwa ia memiliki fisik yang baik tanpa adanya reaksi dari orang lain yang memperlihatkan bahwa secara fisik ia memang menarik. Demikian pula seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia memiliki pribadi yang baik tanpa adanya tanggapan atau reaksi orang lain disekitarnya yang menunjukkan bahwa ia memiiki pribadi yang baik. Seluruh bagian diri ini, baik internal maupun eksternal, saling berinteraksi dan membentuk suatu kesatuan hati yang utuh.

II.6.3) Perkembangan Konsep Diri

Perkembangan konsep diri merupakan proses yang terus berlanjut disepanjang kehidupan manusia. Symond mengatakan bahwa persepsi tentang diri tidak langsung muncul pada saat kelahiran, tetapi mulai berkembang secara bertahap dengan munculnya kemampuan perspektif, diri (self) berkembang ketika individu merasakan bahwa dirinya terpisah dan berbeda dengan orang lain. Ketika ibu dikenali sebagai orang yang terpisah dari dirinya dan ia mulai mengenali wajah-wajah orang lain, seorang bayi membentuk pandangan yang masih kabur tentang dirinya sebagai seorang individu (dalam Fitts, 1971).

Konsep diri terbentuk dalam waktu yang relatif lama dan pembentukan ini tidak bisa diartikan bahwa reaksi yang tidak biasa dari seseorang dapat mengubah konsep diri. Ketika individu lahir, individu tidak memiliki pengetahuan tentang dirinya dan tidak memiliki penilaian terhadap diri sendiri. Namun seiring dengan berjalannya waktu, individu mulai bisa membedakan antara dirinya, orang lain dan benda-benda disekitarnya dan pada akhirnya individu mulai mengetahui siapa dirinya, apa yang diinginkannya dan dapat melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri.

(29)

Selama masa anak pertengahan dan akhir, kelompok teman sebaya mulai memainkan peran yang dominan, menggantikan orang tua sebagai orang yang turut berpengaruh terhadap konsep diri mereka. Anak makin mengidentifikasikan diri dengan anak-anak seusianya dan mengadopsi bentuk-bentuk tingkah laku dari kelompok teman sebaya. Selama masa anak akhir, konsep diri yang terbentuk sudah agak stabil. Tetapi dengan mulainya masa pubertas terjadi perubahan drastis pada konsep diri. Remaja yang masih muda mempersepsikan dirinya sebagai orang dewasa dalam banyak cara, namun bagi orang tua, ia tetap masih seorang anak-anak. Walaupun ketidaktergantungan dari orang dewasa masih belum mungkin terjadi dalam beberapa tahun, remaja mulai terarah pada pengaturan tingkah laku sendiri.

Karena perubahan-perubahan yang terjadi mempengaruhi remaja pada hampir semua area kehidupan, konsep diri juga berada dalam keadaan terus berubah pada periode ini. ketidakpastian masa depan, membuat formulasi dari tujuan yang jelas merupakan tugas yang sulit. Namun dari penyelesaian masalah dan konflik remaja inilah lahir konsep diri orang dewasa. Nilai-nilai dan sikap-sikap yang merupakan bagian dari konsep diri pada akhir masa remaja cenderung menetap dan relatif merupakan pengaturan tingkah laku yang bersifat permanen. Pada usia 25-30 tahun biasanya ego orang dewasa sudah terbentuk dengan lengkap, namun mulai dari sini konsep diri menjadi semakin sulit untuk berubah (Agustiani, 2006:143-144).

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard. Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tnapa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai individu, sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan. Menurut Rogers, ada lima sifat khas seseorang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being) yaitu:

1. Keterbukaan pada pengalaman 2. Tidak adanya sikap defensif

3. Kesadaran yang cermat 4. Penghargaan diri tanpa syarat

5. Hubungan yang harmonis dengan orang-orang lain (Hall, 1993:128)

II.7. Konseling Individual

Istilah konseling berasal dari bahasa inggris “to counsel” yang secara etimologi berarti “to give advice” atau memberi saran dan nasehat. Jones mendefenisikan konseling sebagai kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan

(30)

pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konseling harus ditujukan pada

perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri (Lubis, 2006:7).

Konseling adalah suatu hubungan antara seseorang dengan yang lain, dimana seorang berusaha keras untuk membantu orang lain agar memahami masalah dan dapat memecahkan masalahnya dalam rangka penyesuaian dirinya. Sedangkan Glen E. Smith mendefenisikan konseling yakni suatu proses dimana konselor membantu konseli (klien) agar ia memahami dan menafsirkan fakta-fakta yang berhubungan dengan pemilihan perencanaan dan

penyesuaian diri sesuai dengan kebutuhan individu (Willis, 2004:17).

Shertzer dan Stone dalam bukunya “Fundamental of Counseling” mengemukakan konseling ialah berhubungan dengan usaha untuk mempengaruhi perubahan sebahagian besar tingkah laku klien secara sukarela (klien ingin untuk mengubah perilakunya yang bermasalah dan mendapatkan bantuan dari konselor) (Lubis, 2006:11).

Milton E. Hahn mengartikan bahwa konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seseorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya, dengan seorang petugas profesional yang telah memperoleh pelatihan dan pengalaman untuk membantu agar klien mampu memecahkan kesulitannya (Willis, 2004:18).

Berdasarkan defenisi-defenisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa konseling individual merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberitahuan bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara konselor dengan klien; dengan tujuan agar klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya serta mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki kearah perkembangan yang optimal, sehingga ia akan mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

(31)

II.7.1) Ciri-ciri Konseling Individual

Dalam Willis (2004:63-64), client-centered therapy sering juga disebut suatu metode yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dengan klien, agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal-self (diri klien) dengan actual-self (diri klien sesuai dengan

kenyataan yang sebenarnya). Ciri-ciri konseling individual ini adalah:

1. Ditujukan kepada klien yang sanggup memecahkan masalahnya agar tercapai kepribadian klien yang terpadu.

2. Sasaran konseling adalah aspek emosi dan perasaan (feeling), bukan segi intelektualnya.

3. Titik tolak konseling adalah keadaan individu termasuk kondisi sosial-psikologis masa kini dan bukan pengalaman masa lalu.

4. Proses konseling bertujuan untuk menyesuaikan diri antara ideal-self dengan

actual-self.

5. Peranan yang aktif dalam konseling dipegang oleh klien, sedangkan konselor adalah

pasif-reflektif, artinya tidak semata-mata diam dan pasif akan tetapi berusaha membantu agar klien aktif memecahkan masalahnya. Tujuan konseling adalah pengembangan kemampuan klien untuk mengatasi masalahnya, memiliki kemampuan untuk mencintai dan bekerja keras, melakukan sesuatu dengan rasa tanggung jawab dan percaya diri.

II.7.2) Karakteristik Hubungan Konseling Individual

Benjamin mengartikan hubungan konseling adalah interaksi antara seorang profesional dengan klien dengan syarat bahwa profesional itu mempunyai waktu, kemampuan untuk memahami dan mendengarkan serta mempunyai minat, pengetahuan dan keterampilan (Willis, 2004:36). Karakteristik hubungan konseling adalah sebagai berikut:

1. Hubungan konseling itu sifatnya bermakna, terutama bagi klien, demikian pula bagi konselor. Hubungan konseling terjadi dalam suasana keakraban (intimate)

2. Bersifat afek

Afek adalah perilaku-perilaku emosional, sikap dan kecenderungan-kecenderungan yang didorong oleh emosi. Afek hadir karena adanya keterbukaan diri (disclosure) klien, keterpikatan, keasyikan diri (self absorbed) dan saling sensitif satu sama lain. 3. Integrasi pribadi

Terdapat ketulusan, kejujuran dan keutuhan antara konselor dengan klien. 4. Persetujuan bersama

(32)

Ada komitmen (keterikatan) antara kedua belah pihak. 5. Kebutuhan

Hubungan konseling akan berhasil bila klien datang atas dasar kebutuhan nya. 6. Struktur

Proses konseling (bantuan) terdapat struktur karena adanya keterlibatan konselor dan klien.

7. Kerjasama

Jika klien bertahan (resisten) maka ia menolak dan tertutup terhadap konselor. Akibatnya, hubungan konseling akan macet. Begitu juga sebaliknya.

8. Konselor mudah didekati, klien merasa aman.

Faktor iman dan taqwa sangat mendukung terhadap kehidupan emosional konselor. 9. Perubahan

Tujuan akhir dari hubungan konseling adalah perubahan positif klien menjadi lebih sadar dan memahami diri, mendapatkan cara-cara terbaik untuk

berbuat/merencanakan kehidupannya menjadi lebih dewasa dan pribadinya

terintegrasi. Perubahan internal dan eksternal terjadi didalam sikap dan tindakan, serta persepsi terhadap diri, orang lain dan dunia (Willis, 2004:41-44).

Ada beberapa hal yang perlu dipelihara dalam hubungan konseling yakni

a. Kehangatan, artinya konselor membuat situasi hubungan konseling itu demikian hangat bergairah, bersemangat. Kehangatan disebabkan adanya rasa bersahabat, tidak formal, serta membangkitkan semangat dan rasa humor.

b. Hubungan yang empati, yaitu konselor merasakan apa yang dirasakan klien, dan memahami akan keadaaan diri serta masalah yang dihadapinya.

c. Keterlibatan klien, yaitu terlihat klien sungguh-sungguh mengikuti proses konseling dengan jujur mengemukakan persoalannya, perasaannya, dan keinginannya. Selanjutnya dia bersemangat mengemukakan ide, alternatif dan upaya-upaya.

Dalam hubungan konseling pada prinsipnya ditekankan bagaimana konselor mengembangkan hubungan konseling yang rapport (akrab) dan dengan memanfaatkan komunikasi verbal dan non verbal. Rasa kebersamaan yang diciptakan konselor akan membuat jarak antara dia dengan klien menjadi dekat. Keterlibatan klien dalam proses konseling ditentukan oleh faktor keterbukaan dirinya dihadapan konselor. Jika klien diliputi

(33)

II.8. Tunarungu

II.8.1) Pengertian Tunarungu

Menurut Mangunsong, yang dimaksud dengan anak tunarungu adalah mereka yang pendengarannya tidak berfungsi sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan luar biasa (Mangunsong 1998:66). Menurut Moores, ketunarunguan adalah kondisi dimana individu tidak mampu mendengar dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian, baik dengan derajat frekuensi dan intensitas (dalam Mangunsong 1998:68). Secara khusus ketulian didefenisikan sebagai gangguan pendengaran yang sangat parah sehingga anak mengalami kesulitan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengaran, dengan atau tanpa alat bantu, sehingga berpengaruh pada prestasi pendidikan.

Mangunsong mengatakan, berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran yang ditunjukkan dalam satuan desibel (dB) tunarungu dibagi dalam lima kelompok sebagai berikut (Mangunsong, 1998:68-69):

Kelompok 1 : Hilangnya pendengaran yang ringan (20-30 dB). Orang-orang yang kehilangan pendengaran sebesar ini mampu berkomunikasi dengan menggunakan pendengarannya. Gangguan ini merupakan ambang batas (borderline) antara orang yang sulit mendengar dengan normal.

Kelompok 2 : Hilangnya pendengaran yang marginal (30-40 dB). Orang-orang dengan gangguan ini sering mengalami kesulitan untuk mengikuti suatu pembicaraan dengan jarak beberapa meter. Pada kelompok ini, orang-orang masih bisa menggunakan telinganya untuk mendengar namun harus dilatih.

Kelompok 3 : Hilangnya pendengaran yang sedang (40-60 dB). Dengan bantuan alat bantu dengar dan bantuan mata, orang-orang ini masih belajar berbicara dengan mengandalkan alat-alat pendengaran.

Kelompok 4 : Hilangnya pendengaran yang berat (60-75 dB). Orang-orang ini tidak bisa belajar berbicara tanpa menggunakan teknik-teknik khusus. Pada gangguan ini mereka sudah dianggap sebagai tuli secara edukatif. Mereka berada pada ambang batas sulit mendengar dengan tuli.

Kelompok 5 : Hilangnya pendengaran yang parah (>75 dB). Orang-orang yang dalam kelompok ini tidak bisa belajar bahasa hanya semata-mata dengan mengandalkan telinga. Meskipun didukung dengan alat bantu sekalipun.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :