• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN NASIONAL PENGENDALIAN TUBERKULOS. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEDOMAN NASIONAL PENGENDALIAN TUBERKULOS. pdf"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Dr. Abdul Manaf, SKM
    • Dr. Firdosi Mehta
    • Dr. Purwantyastuti, MSc, Ph.D
    • Prof. Dr. Agung Pranoto, MKes, SpPD(K)
    • Dr. Franky Loprang
    • Dr. Ratih Pahlesia
    • Dr. Agung P. Sutiyoso, SpOT
    • Fx. Budiono, SKM, MKes
    • Dr. Reviono, SpP
    • Dr. Ahmad Hudoyo, SpP(K)
    • Prof. Dr. Gulardi Wiknjosastro, SpOG(K)
    • Dr. Rosmini Day, MPH
    • Prof. Dr. Agus Sjahrurrahman, SpMK, PhD
    • Prof. Dr. Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K)
    • Rudi Hutagalung, BSc
    • Dr. Arto Yuwono, SpPD(K)
    • Dr. Haikin Rahmat, MSc
    • Prof. Dr. Samsu Rizal Jauzi, SpPD(K)
    • Prof. Dr. Anwar Jusuf, SpP(K)
    • Dr. Harini A. Janiar, Sp.PK
    • Dr. Servas Pareira, MPH
    • Dr. Arifin Nawas, SpP(K)
    • Prof. Dr. Hood Assegaf, SpP(K)
    • Dr. Setiawan Jati Laksono
    • Prof. Dr. Armen Muchtar, SpFK
    • Prof. Dr. Ismid D. I. Busroh, SpBT(K)
    • Dr. Siti Nadia Wiweko
    • Dr. Asik Surya, MPPM
    • Dr. Jan Voskens, MPH
    • Dr. Sri Prihatini, SpP
    • Dr. Bambang Supriatno, SpA(K)
    • Dra. Linda Sitanggang, Ph.D
    • Sudarman, SKM, MM
    • Dr. Bangun Trapsilo, SpOG(K)
    • Mikyal Faralina, SKM
    • Dr. Sudarsono, SpP(K)
    • Dr. Benson Hausman, MPH
    • Dr. Menaldi Rasmin, SpP(K)
    • Dr. Sudijanto Kamso, MPH, PhD
    • Prof. Dr. Biran Affandi, SpOG(K)
    • Drg. Merry Lengkong, MPH
    • Sulistiyo, SKM, MEpid
    • Dr. Broto Wasisto, MPH
    • Dr. Mukhtar Ikhsan, SpP(K)
    • Suprijadi, SKM
    • Prof. Dr. Buchari Lapau, MPH
    • Munziarti, SKM, MM
    • Surjana, SKM
    • Budhi Yahmono, SH
    • Dr. Nastiti Rahayu, SpA(K)
    • Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K)
    • Dr. Carmelia Basri, MEpid
    • Nenden Siti Aminah, SKM
    • Prof. Dr. Tony Sadjimin, SpA(K), MSc, PhD
    • Dr. Darmawan BS, SpA(K)
    • Dr. Ni Made Mertaniasih, SpMK, MS
    • Dr. Triya Novita Dinihari
    • Dr. Davide Manissero
    • Dra. Ning Rintiswati, MKes
    • Dr. Vanda Siagian
    • Drg. Devi Yuliastanti
    • Dr. Noroyono, SpOG(K)
    • Yoana Anandhita, SKM
    • Dr. Endang Lukitosari
    • Dr. Omo Madjid, SpOG(K)
    • Dr. Yudanaso Dawud, SpP, MHA
    • Dr. Erlina Burhan, SpP
    • Petra Heitkam, MPH
    • Yusuf Said, SH
    • Drg. Erwinas
    • Dr. Priyanti, SpP(K)
    • Prof. Dr. Zubairi Jurban, SpPD(K)
    • Dr. Zulfikli Amin, SpPD(K), FCC
  • Pengajar:
    • Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K)
    • Dr. Mohammad Subuh, MPPM
    • Drg. Dyah Erti Mustikawati, MPH
    • Dr. Asik Surya, MPPM
    • Dr. Carmelia Basri, MEpid
    • Prof. Dr. Sudijanto Kamso, MPH, PhD
  • Sekolah: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  • Mata Pelajaran: Pengendalian Penyakit
  • Topik: Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis
  • Tipe: pedoman
  • Tahun: 2011
  • Kota: Jakarta

I. Epidemiologi dan Pengendalian Tuberkulosis

Bab ini membahas tentang Tuberkulosis (TB) dan riwayat alamiahnya, besaran masalah TB, serta upaya pengendalian TB yang dilakukan. Fokusnya adalah pada perkembangan global dan situasi di Indonesia. TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, dengan penularan terjadi melalui percikan dahak dari pasien TB BTA positif. Risiko penularan dipengaruhi oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya pajanan. Keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan, serta kondisi kesehatan yang buruk, dapat meningkatkan risiko TB.

1.1 TB dan Riwayat Alamiahnya

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang sebagian besar menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mempengaruhi organ lain. Penularan terjadi melalui percikan dahak dari pasien TB. Daya penularan tergantung pada jumlah kuman yang dikeluarkan dan durasi pajanan. Risiko tertular juga bervariasi, dengan pasien TB paru BTA positif memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang BTA negatif.

1.2 Besaran Masalah Tuberkulosis

Sekitar sepertiga populasi dunia terinfeksi Mycobacterium Tuberkulosis, dengan negara berkembang menjadi penyumbang terbesar kasus dan kematian. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien baru dan 3 juta kematian akibat TB. Faktor-faktor seperti kemiskinan, kegagalan program, dan dampak pandemi HIV berkontribusi pada meningkatnya kasus TB.

1.3 Upaya Pengendalian Tuberkulosis

Strategi pengendalian TB yang dikenal sebagai DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dikembangkan oleh WHO dan IUATLD. Strategi ini mencakup komitmen politik, penemuan kasus, pengobatan yang standar, serta sistem monitoring dan evaluasi. Fokus utama DOTS adalah menemukan dan menyembuhkan pasien TB untuk memutuskan rantai penularan.

II. Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia

Pengendalian TB di Indonesia telah dilakukan sejak zaman penjajahan dan terus berkembang. Strategi DOTS diterapkan secara nasional untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan. Meskipun ada kemajuan, TB tetap menjadi masalah utama kesehatan masyarakat, dengan Indonesia menempati urutan kelima jumlah pasien TB terbanyak di dunia. Visi dan misi pengendalian TB bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan menjamin ketersediaan layanan yang berkualitas.

2.1 Visi dan Misi

Visi pengendalian TB adalah menuju masyarakat bebas masalah TB, sehat, mandiri, dan berkeadilan. Misi meliputi pemberdayaan masyarakat dan menjamin ketersediaan pelayanan TB yang berkualitas dan merata, serta menciptakan tata kelola program yang baik.

2.2 Tujuan dan Sasaran

Tujuan utama adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB. Sasaran strategis meliputi peningkatan persentase kasus baru TB yang ditemukan dan keberhasilan pengobatan. Rencana strategis kementerian kesehatan dari 2009 hingga 2014 berfokus pada penurunan prevalensi TB.

2.3 Kebijakan Pengendalian Tuberkulosis

Pengendalian TB di Indonesia dilaksanakan dengan prinsip desentralisasi, melibatkan semua fasilitas pelayanan kesehatan. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan komitmen daerah dan memperkuat strategi DOTS untuk memutuskan rantai penularan TB.

III. Tatalaksana Pasien Tuberkulosis

Bab ini membahas tentang penemuan kasus, diagnosis, pengobatan, dan pemantauan pasien TB. Penemuan kasus dilakukan melalui penjaringan dan pemeriksaan untuk memastikan diagnosis yang akurat. Pengobatan TB harus sesuai dengan pedoman nasional untuk mencapai hasil yang optimal.

3.1 Penemuan Kasus Tuberkulosis

Proses penemuan kasus TB melibatkan serangkaian kegiatan mulai dari penjaringan terhadap suspek TB hingga diagnosis. Penemuan pasien TB yang menular sangat penting untuk mengurangi penularan di masyarakat. Kegiatan ini memerlukan keterlibatan masyarakat dan akses ke fasilitas kesehatan.

3.2 Diagnosis Tuberkulosis

Diagnosis TB dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis dan penunjang lainnya. Pada pasien dewasa, diagnosis ditegakkan dengan menemukan kuman TB dalam dahak. Untuk pasien dengan HIV, kriteria khusus digunakan untuk memastikan diagnosis yang tepat.

3.3 Klasifikasi Penyakit dan Tipe Pasien

Klasifikasi penyakit dan tipe pasien TB penting untuk menentukan pengobatan yang tepat. Hal ini meliputi lokasi infeksi, hasil pemeriksaan dahak, riwayat pengobatan, dan status HIV. Klasifikasi ini membantu dalam registrasi kasus dan analisis hasil pengobatan.

Gambar

Gambar 1.1. Faktor Risiko Kejadian TB
Gambar 1.2.  Angka Insidens TB didunia  (WHO, 2009)
Gambar 3.1  Alur Diagnosis TB Paru
Gambar 3.1: Alur Diagnosis TB Paru pada ODHA yang Rawat Jalan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Analisis data dilakukan dengan menggunakan Pedoman Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resisten Obat 2013 untuk mengetahui ketepatan penggunaan obat yang terdiri

Latar Belakang : Upaya penanggulangan Tuberkulosis (TB) saat ini dihadapkan pada permasalahan baru yaitu tuberkulosis resisten obat ganda (TB ROG) yang merupakan masalah yang

juta orang di dunia telah terinfeksi oleh kuman yang resisten terhadap OAT dan dijumpai 273.000 (3,1 %) dari 8,7 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2000 disebabkan

Infeksi dapat berasal dari luar (eksogen) yaitu infeksi ulang pada tubuh yang pernah menderita tuberkulosis, infeksi dari dalam (endogeny yaitu infeksi berasal dari basil yang

Selain mencatat identitas pasien, kartu ini dipakai pula untuk mencatat paduan obat yang di berikan kepada pasien, jumlah obat yang telah diberikan kepada

Contoh pengaruh MDR pada penyakit infeksi antara lain adalah pada tuberkolosis (ketahanan berlebih akan obat, XDR-TB) dan Staphylococcus aureus (ketahanan akan metisilin, MRSA),

Model probabilistik punahnya kuman Mycobacterium tuberculosa yang resisten terhadap obat anti tuberkulosis di suatu daerah populasi :. (1) Model transmisi sukses pada

Panduan Pengobatan Tuberkulosis Kategori Kasus Paduan obat yang diajurkan Keterangan I  TB paru BTA positif  BTA negatif, lesi luas 2 RHZE / 4 RH atau 2 RHZE / 6 HE