BAB III
PENERAPAN PRINSIP PIERCING THE CORPORATE VEIL
DALAM PERSEROAN TERBATAS
A. Sejarah Prinsip Piercing The Corporate Veil
Salah satu topik populer dalam hukum perusahaan adalah topik piercing the corporate veil. Piercing the corporate veil sangat erat hubungannya dengan
sifat dari PT itu sendiri. PT adalah badan usaha yang memiliki status badan hukum. Dengan status badan hukum tersebut, PT mempunyai harta kekayaan sendiri, dan tanggung jawab sendiri.73 Tanggung jawab dan kekayaannya PT terpisah dengan kekayaan milik organ perusahaan seperti direksi, dewan komisaris, dan pemegang saham. Hal ini berarti setiap kewajiban atau utang PT hanya dilunasi dari harta kekayaan PT itu sendiri. Hal tersebut sangat berbeda dibandingkan dengan tanggung jawab suatu perusahaan yang tidak berbentuk badan hukum seperti firma atau perseroaan komanditer, jika terjadi kerugian terhadap pihak ketiga atas kegiatan yang dilakukan oleh dan untuk perseroan (yang bukan badan hukum), pihak ketiga tersebut dapat meminta pemilik perusahaan untuk bertanggung jawab secara hukum, termasuk meminta agar harta benda pribadi dari pemiliknya tersebut disita dan dilelang.74
Awalnya dari pentingnya fungsi kontrol terhadap direktur tidak terlepas dari perkembangan teori pemisahan kekayaan dalam hukum perusahaan itu sendiri. Teori ini berasal dari teori Salomon yang muncul dari putusan pengadilan
73
Widjaja, Gunawan dan Ahmad Yani, op.cit, hlm. 2.
74
kasus Salomon v Salomon & Co. Ltd (1897). Teori ini mengungkapkan bahwa sebuah pembentukan PT menjadi bagian terpisah dari orang yang membentuknya atau menjalankannya, dimana perusahaan tersebut mempunyai hak dan kewajiban yang berkaitan erat dengan aktivitasnya bukan kepada orang yang memiliki atau menjalankannya.75
Dalam perkembangannya, teori Salomon sering disalahgunakan oleh para pemilik atau direktur yang beritikad buruk untuk kepentingannya sendiri. Hal ini terjadi karena seorang direktur dari sebuah perusahaan akan selalu berurusan dengan aset milik orang lain, tidak hanya dalam aspek hukum dimana dia akan berkuasa penuh untuk mengelola aset-aset perusahaan, tetapi juga perusahaan mungkin mempunyai pemegang saham yang menginvestasikan uangnya dalam perusahaan tersebut dengan membeli saham. Pemegang saham ini sering kali hanya mempunyai pengawasan yang kecil atau bahkan tidak sama sekali terhadap prilaku direktur. Oleh karena itu dengan adanya pemisahan kekayaan antara direktur dan perusahaannya, para direktur mempunyai moral hazard yang tinggi karena mereka tidak mendapat konsekwensi finansial yang serius apabila keputusan mereka merugikan perusahaan. Akibatnya banyak para direktur yang menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri yang seringkali menyebabkan perusahaan mereka mengalami kerugian. Adanya penyimpangan ini tentunya menimbulkan suatu isu tersendiri dalam hukum perusahaan. Kerugian perusahaan tentunya dapat merugikan pemilik modal perusahaan. Investasi mereka akan hilang apabila perusahaan tersebut menjadi insolven. Demikian juga
75
apabila ada barang atau jasa yang digunakan oleh perusahaan yang diperoleh secara kredit, direktur akan mengelola barang dan jasa yang didalamnya terdapat hak para kreditur yang baru akan hilang apabila hutang kredit tersebut dibayar lunas.76
Terkait dengan perusahaan negara, secara umum dapat dikatakan bahwa perusahaan negara yang terpisah badan hukumnya (separate legal entity) tidak dapat dibebani apa yang menjadi tanggung jawab negaranya atau badan hukum yang lain.77 Pengakuan terhadap perusahaan yang memiliki badan hukum terpisah sudah dilaksanakan oleh Inggris sejak 1817 dalam kasus Salomon v. Salomon juga I Congreso del Partido, dimana pengadilan menyatakan bahwa,
“Perusahaan yang dikendalikan oleh negara, dengan kepribadian legal, kemampuan untuk berdagang dan masuk ke dalam kontrak hukum privat, meskipun sepenuhnya tunduk pada kendali negara mereka adalah fitur yang terkenal dari dunia komersial modern. Perbedaan antara mereka, dan negara pemerintahan mereka, mungkin tampak buatan: tapi ini adalah perbedaan yang diterima dalam hukum Inggris dan negara-negara lain”.78 Dalam sejarah sistem hukum common law yang dianut di Inggris, penerapan prinsip piercing the corporate veil ini sudah berkembang sejak awal abad 20. Salah satu kasus yang menjadi pioneer adalah ketika pengadilan Inggris memberikan putusan dalam kasus Salomon v Salomon & Co Ltd. Namun, dalam
76
Bismar Nasution, UU No. 40 Tahun 2007. Persepektif Hukum Bisnis Pembelaan Direksi melalui Prinsip Business Judgment Rule, Disamping pada seminar Bisnis 46 tahun FE USU: ìPengaruh UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas terhadap Iklim Usaha di Sumatera Utaraî, Aula Fakultas Ekonomi USU, 24 November 2007, hlm. 4.
77William C. Hoffman, “
The Separate Entity Rule in International Perspective: Should State Ownership of Corporate Shares Confer Sovereign Status for Immunity Purpose?”, Tulane Law Review, Vol. 65, No. 3, February 1991, hlm. 546.
78
perkembangannya, penerapan prinsip piercing the corporate veil ini dapat dikategorikan kedalam beberapa kelompok, yaitu:79
1. Periode Classical Veil Lifting (1897-1966), di mana pada periode ini, terdapat beberapa putusan pengadilan tentang penerapan prinsip piercing the corporate veil, diantaranya adalah:
a. Daimler Co Ltd v Continental Tyre and Rubber Co (Great Britain) Ltd (1916) yang mana pengadilan memutuskan untuk menyingkap tabir perusahaan untuk menentukan apakah Perusahaan Daimler merupakan “musuh” pada saat Perang Dunia Ke-1, pada akhirnya
karena mayoritas pemegang saham adalah warga negara Jerman, maka pengadilan memutuskan bahwa perusahaan tersebut merupakan “musuh”
b. Gilford Motor Co Ltd v Horne (1933) dimana seorang mantan pekerja, yaitu Horne, dari Perusahaan Gilford Motor Co Ltd yang terikat pada perjanjian untuk tidak mengambil pelanggan dari bekas tempatnya bekerja, namun Horne kemudian mendirikan perusahaan untuk menyaingi Gilford Motor Co Ltd. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa perusahaan tersebut didirikan untuk tujuan yang tidak baik sehingga pengadilan memutuskan untuk memberikan perintah
c. Jones v Lipman (1962) yang mana Lipman setuju untuk menjual tanahnya kepada Jones. Namun kemudian Lipman berubah pikiran
79
dan memutuskan untuk tidak menjual tanahnya. Lipman kemudian mendirikan perusahaan untuk menghindari transaksi.
2. Periode Interventionist years (1966-1989), dimana pada periode ini, pengadilan di Inggris merubah cara pandang dari yang sebelumnya sangat berhatihati untuk menerapkan prinsip piercing the corporate veil, menjadi lebih aktif untuk melakukan intervensi. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Lord Denning dalam kasus Littlewoods Mail Order Stores v IRC (1969) yang menyatakan bahwa :
“Doktrin yang ditetapkan dalam kasus Salomon harus diawasi dengan sangat hati-hati Seringkali seharusnya mengeluarkan peraturan perundang-undangan mengenai kepribadian sebuah perusahaan terbatas yang tidak bisa dilihat oleh pengadilan Tapi itu tidak benar. Pengadilan bisa, dan sering melakukannya, menarik topengnya. Mereka melihat apa yang benar-benar tertinggal. Badan legislatif telah menunjukkan jalannya dengan akun kelompok dan sisanya. Dan pengadilan harus mengikutinya”. Putusan pengadilan tentang penerapan prinsip piercing the veil pada periode ini yaitu :80
a. DHN Food Distributors Ltd v Tower Hamlets (1976) yang menurut pendapat Lord Denning bahwa suatu grup usaha pada realitasnya merupakan entitas tunggal sehingga harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. Namun dalam kasus Woolfson v Strathclyde Regional Council (1978), House of Lords tidak sependapat dengan pendapat Lord Denning dalam kasus DHN Food Distributors Ltd v Tower Hamlets (1976).
80
b. House of Lords menyatakan bahwa pengadilan dapat memutus untuk menerapkan prinsip piercing the veil hanya dalam keadaan tertentu saja. Tetapi, pendapat Lord Denning tersebut masih menjadi salah satu pertimbangan seperti dalam kasus Re a Company (1985), dimana Court of Appeal menyatakan bahwa :
“Kami melihat kasus-kasus sebelum dan sesudah Wallersteiner v Moir 1974 1 WLR 991. Kasus Lord Denning lainnya menunjukkan bahwa pengadilan akan menggunakan kekuatannya untuk menembus jilbab perusahaan jika perlu untuk mencapai keadilan terlepas dari keefektifan hukum dari struktur perusahaan yang sedang dipertimbangkan”.
3. Periode back to basics (1989-present), pada periode ini, salah satu putusan pengadilan yang cukup terkenal adalah dalam kasus Adams v Cape Industries Plc (1990). Dalam kasus ini pengadilan memutuskan untuk tidak menyatakan bahwa Cape Industries Plc sebagai satu entitas tunggal dengan subsidiaris lainnya. Hal penting dalam kasus Adams v Cape Industries Plc (1990) adalah timbulnya pendapat bahwa pengadilan dapat menerapkan prinsip piercing the corporate veil dalam tiga keadaan, yaitu: a. Jika pengadilan memutuskan untuk menginterpretasikan statuta atau
b. Adanya tindakan yang dilakukan untuk menyembunyikan fakta yang sesungguhnya terjadi di perusahaan, sehingga dalam hal ini pengadilan berwenang untuk menerapkan prinsip piercing the corporate veil; c. Penerapan prinsip agensi. Dalam periode ini, terdapat beberapa
putusan pengadilan yang cukup menarik terkait dengan penerapan prinsip piercing the veil, diantaranya adalah Creasey v Breachwood Motors Ltd (1993) dan Ord v Belhaven Pubs Ltd (1998). Kedua kasus tersebut mengilustrasikan penerapan classic veil lifting, bahwa apakah pembentukan suatu perusahaan untuk menjalankan bisnis yang legitimate atau hanya merupakan motif untuk menghindari kewajiban.
Jika tujuannya untuk menghindar dari kewajiban seperti dalam Creasey v Breachwood Motors Ltd (1993), maka dapat dimungkinkan untuk menerapkan prinsip piercing the veil.81
Prinsip bahwa perusahaan negara atau badan hukum lainnya milik negara yang memiliki badan hukum tersendiri (separate legal entity) tidak dapat dibebani apa yang menjadi tanggung jawab negaranya atau badan hukum lain bukanlah absolut. Hal ini dapat diterobos apabila pengadilan bisa membuktikan adanya alter ego antara hubungan keduanya.82
Sejak tahun 1995 Indonesia telah memiliki UUPT tersendiri yang terdiri dari 129 Pasal. UUPT 1995 sudah cukup rinci diatur mengenai hak dan tanggungjawab organ perseroan serta kedudukan perseroan itu sendiri yang dibatasi oleh norma-norma yang berlaku secara universal termasuk makna
81
Ibid, hlm. 31-32.
82
terbatasnya. PT pada dasarnya adalah kesepakatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan tujuan untuk melakukan usaha dan mencari keuntungan. Tujuan tersebut tidak disebutkan dalam UUPT dan KUHD, namun tujuan tersebut terdapat dalam Pasal 1618 KUHPerdata yang mengatur tentang perseroan perdata secara umum. Hubungan kontraktual antara para pihak dalam PT memiliki ciri khas bahwa setiap pihak yang turut serta dalam hubungan kontraktual tersebut akan menyetorkan modalnya akan dinilai dengan nominal saham PT tersebut.83 Para pihak yang lazimnya disebut sebagai pemegang saham hanya bertanggungjawab sebatas nilai saham yang dimilikinya. Makna keterbatasan tersebut menjadi unsur pembeda utama bila dibandingkan dengan bentuk-bentuk perseroan lainnya. Kata terbatas dalam PT mulai dikenal sejak kasus Salomon vs Salomon Co.84
Konsep pemisahan identitas pribadi sebuah perselisahaan terhadap direksi dan pemegang sahamnya telah melembaga sejak kasus Salomon v. Salomon & Co. Dalam kasus itu, dipahami bahwa perusahaan tidak bertindak untuk salah satu pemegang saham, kewajiban-kewajiban perusahaan juga bahkan kewajiban para pemegang saham, sekalipun saham-saham tersebut dipercayakan kepada satu orang." Selanjutnya, sebuah perusahaan tidak dapat dianggap sebagai agen dari para pemegang sahamnya kecuali terdapat bukti kuat dan jelas untuk menunjukkan bahwa perusahaan dimaksud secara nyata bertindak sebagai agen dalam sebuah transaksi tertentu.85
83
Freddy Harris. Pemisahan Tanggung Jawab Direksi Perseroan Terbatas. Jumal Hukum dan Pembangunan, Tahun Ke-35 No.1 Januari- Maret 2005. hlm. 91
84
Ibid .
85
Konsep tentang sebuah perusahaan memiliki tanggung jawab terpisah terhadap direksi dan pemegang sahamnya mengacu kepada sejumlah referensi yang berbeda, termasuk status pribadi hukum perusahaan, tabir perusahaan, dan pemisahan pribadi hukum. Semua penamaan tersebut merefleksikan pemikiran bahwa sebuah perusahaan sepenuhnya memiliki kepribadian hukum yang terpisah terhadap pendiri, pemegang saham, direksi dan staf perusahaannya.86
Eksistensi PT dalam sistem hukum Indonesia pertama kalinya diatur dalam KUHD (Wetboek van Koophandel Staatsblad 1847 – 23) KUHD, dengan demikian dapat dikatakan adanya lembaga PT dalam sistem hukum Indonesia masuk melalui sistem hukum Belanda.87 Di Negeri Belanda PT dikenal dengan nama naamloze vennootschap (NV). Secara harfiah NV mempunyai arti persekutuan tanpa nama. Menurut Rudhy Prasetya, istilah NV atau persekutuan tanpa nama ada hubungannya dengan ketentuan dalam Pasal 16 KUHD dan Pasal 36 KUHD.88 Pasal 16 KUHD mengatur tentang firma. Dalam Firma, orang-orang menjalankan usaha bersama di bawah nama bersama. 89 Nama firma dapat saja nama salah seorang dari anggota sekutu firma atau bisa juga nama-nama para sekutu dalam firma sekaligus.90
Rudhy Prasetya menyatakan ketentuan dalam Pasal 16 KUHD yang mengatur tentang firma tersebut berbeda dengan ketentuan dalam Pasal 36
86
Ibid, hlm 92
87
Rudhy Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas Disertai Dengan Ulasan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1995), hlm. 10.
88
R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab undang Hukum Dagang dan Undang-undang Kepailitan, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2002), hlm. 11.
89
Ibid., hlm. 41.
90
KUHD. Pasal 36 KUHD ini menunjuk perkecualian atas berlakunya Pasal 16 KUHD. Tegasnya justru nama-nama orang tidak dipergunakan dalam NV.91
Rudhy Prasetya maksud Pasal 36 KUHD ini adalah tiada lain untuk mempertajam kedudukan mandiri PT agar terlepas dari orang-perorangannya, yang membedakan PT dengan bentuk perusahaan lainnya.92
Guna menjawab tantangan tersebut maka diundangkanlah UUPT 1995. Adapun alasan penggantian menurut UUPT 1995 tersebut dalam konsiderans antara lain :
1. Ketentuan yang diatur dalam KUHD dianggap tidak sesuai lagi peraturan PT yang ditentukan oleh KUHD, tidak sesuai lagi dengan perkembangan ekonomi dan dunia usaha yang semakin pesat, baik secara nasional maupun internasional.
2. Menciptakan kesatuan hukum dalam perseroan yang berbentuk badan hukum (rechts person, legal person, legal entity)93
Disamping konsideran yang dikemukakan, dalam penjelasan umum juga dirumuskan hal-hal berikut antara lain:
1. Sasaran umum pembangunan, antara lain diarahkan kepada peningkatan kemakmuran rakyat.
2. Untuk mencapai sasaran tersebut, sarana penunjang antara lain tatanan hukum yang mampu mendorong dan mengendalikan berbagai kegiatan pembangunan di bidang ekonomi.94
91
Ibid.
92
Ibid, hlm. 42.
93
Kemudian diganti lagi dengan UUPT dan yang menjadi alasan dilakukannya penggantian UUPT tersebut sebagaimana dalam konsideran menimbang UUPT, yaitu:
1. Bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional, perlu didukung oleh kelembagaan perekonomian yang kokoh dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat.
2. Bahwa dalam rangka lebih meningkatkan pembangunan perekonomian nasional dan sekaligus memberikan landasan yang kokoh bagi dunia usaha dalam menghadapi perkembangan perekonomian dunia dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi di era globalisasi pada masa mendatang, perlu didukung oleh suatu undang-undang yang mengatur tentang PT yang mendapat menjamin terselenggaranya iklim dunia usaha yang kondusif.
3. Bahwa PT sebagai salah satu pilar pengembangan perekonomian nasional perlu diberikan landasan hukum untuk lebih memacu pembangunan nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
94
4. Bahwa UUPT 1995 dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum dengan kebutuhan masyarakat sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru.95
B. Pengaturan Prinsip Piercing The Corporate Veil dalam Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007
Berdasarkan Pasal 1 UUPT, PT merupakan badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.96 Dari pengertian tersebut, hal penting yang perlu digarisbawahi adalah pada kata “badan hukum”. Dari pengertian tersebut dapat dianalisis
mengenai sebatas mana tanggung jawab perseroan dan tanggung jawab direksi. 97 Sebagai badan hukum pendirian PT sangatlah penting. Pendirian PT dapat mengakibatkan hilangnya tanggung jawab terbatas dari pemegang saham sebesar setoran atas seluruh saham yang dimilikinya dan tidak meliputi harta kekayaan pribadi (piercing the corporate veil) apabila pendirian PT tidak sah. Artinya bila pendirian tidak sah maka pemegang saham harus bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama PT dan atas kerugian PT. Sehingga dengan demikian pendirian PT harus memperhatikan syarat dan mekanisme pendirian PT yang diatur dalam regulasi di Indonesia.98
95
Ibid.
96
Indonesia,(Perseroan Terbatas), op.cit, Pasal 1.
97
Ibid, Pasal 5
98
Dalam ilmu hukum perusahaan istilah teori piercing the corporate veil merupakan suatu doktrin atau teori yang diartikan sebagai suatu proses untuk membebani tanggung jawab ke pundak orang atau perusahaan lain atas perbuatan hukum yang dilakukan oleh suatu perusahaan pelaku (badan hukum), tanpa melihat pada fakta bahwa perbuatan tersebut sebenarnya dilakukan oleh perseroan pelaku tersebut. Dalam hal seperti ini pengadilan akan mengabaikan status badan hukum dari perusahaan tersebut, serta membebankan tanggung jawab kepada pihak pribadi dan pelaku dari perseroan tersebut, dengan mengabaikan prinsip tanggung jawab terbatas dari perseroan sebagai badan hukum yang biasanya dinikmati oleh mereka.99
Kriteria dasar dan universal agar suatu piercing the corporate veil secara hukum dapat dijatuhkan adalah sebagai berikut:
1) Terjadinya penipuan.
2) Didapatkan suatu ketidakadilan
3) Terjadinya suatu penindasan (oppression). 4) Tidak memenuhi unsur hukum (illegality). 5) Dominasi pemegang saham yang berlebihan.
6) Perusahaan merupakan alter ego dari pemegang saham mayoritasnya.100 Teori piercing the corporate veil sangatlah berguna untuk menjembatani kepentingan hukum antara holding company dengan tindakan hukum anak
99Muhammad Syafi’i,
op. cit, hlm. 218.
100
perusahaan, karena bagaimanapun juga jika ada hubungan hukum, maka tentu akan ada akibat hukumnya.101
Prinsip piercing the corporate veil ini telah dirumuskan dalam UUPT secara tegas, namun terbatas, yakni dalam empat hal, sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (2) UUPT. Dalam Pasal 3 ayat (1) dinyatakan bahwa para pemegang saham tetap bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan perseroan bila:102
1. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi. Menurut UUPT, status badan hukum perseroan baru diperoleh setelah akta pendiriannya disahkan oleh menteri kehakiman. Selama status PT sebagai badan hukum belum diperoleh, PT yang bersangkutan tidak berbeda dengan firma, persekutuan komanditer, atau persekutuan perdata, karenanya seluruh pemegang saham tanpa kecuali bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan yang dilakukan oleh PT tersebut. Berdasarkan Pasal 3 ayat (2) huruf a UUPT, maka sebelum memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman atau tidak dipenuhi persyaratan perseroan sebagai badan hukum, tanggung jawab para pemegang saham, direksi dan komisaris berubah menjadi tidak terbatas. Artinya, para pemegang saham, direksi dan komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi bila perseroan mengalami kerugian, sepanjang belum memperoleh status badan hukum. Setelah memperoleh status sebagai badan hukum, maka tanggung jawab pemegang saham dan komisaris menjadi terbatas,
101
Ibid.
102
sedangkan tanggung jawab direksi masih tidak terbatas. Dalam Pasal 23 UUPT ditentukan bahwa selama pendaftaran dan pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 UUPT belum dilakukan, maka direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas segala perbuatan hukum yang dilakukan. Lebih lanjut lagi, penjelasan Pasal 23 UUPT ini menyatakan bahwa selain sanksi pidana yang diatur dalam undang-undang tentang wajib daftar perusahaan, Pasal 23 ini mengatur sanksi perdata dalam hal kewajiban, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22, UUPT tidak terpenuhi.
2. Pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan sematamata untuk kepentingan pribadi. Perseroan yang dimaksud dalam alasan ini adalah perseroan yang berbadan hukum dan dengan hanya berlaku bagi pemegang saham yang beritikad buruk yang memanfaatkan perseroan untuk kepentingan pribadinya. Tentang ada tidaknya itikad buruk pada diri pemegang saham harus dibuktikan.
4. Pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung maupun tidak langsung, secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan. Berbeda dengan alasan diatas, di sini yang melakukan perbuatan melawan hukum adalah pemegang sahamnya, dengan cara menggunakan kekayaan perseroan, sehingga mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan. Dengan kata lain, tanggung jawab para pemegang saham besifat residual, bahwa para pemegang saham yang melakukan perbuatan melawan hukum tersebut baru bertanggung jawab secara material setelah kekayaan peseroan terbatas tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.103
Menurut Munir Fuadi, agar suatu piercing the corporate veil, secara hukum di jalankan dengan memenuhi ketentuan :
1. Terjadinya penipuan.
2. Didapat suatu ketidakadilan.
3. Terjadinya suatu penindasan (oppression) 4. Tidak memenuhi unsur hukum (illegality).
5. Adanya dominsi pemegang saham yang berlebihan.
6. Perusahaan merupakan alter ego dari pemegang saham mayoritasnya. 104 UUPT mengakui teori piercing the corporate veil dengan membebankan tanggung jawab dipindahkan ke pihak pemegang saham.
103
Ibid.
104
Pengaturan terhadap prinsip piercing the corporate veil. Pasal 3 ayat (1) UUPT mengatur mengenai prinsip tanggung jawab terbatas atau limited liability atau limitatief aansprakelijkheid, sedangkan Pasal 3 ayat (2) mengatur mengenai batasan terhadap prinsip limited liability tersebut. Pasal 3 ayat (2) UUPT menyebutkan bahwa ketentuan yang diatur pada ayat (1) dinyatakan tidak berlaku jika :
1. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi; 2. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak
langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan untuk kepentingan pribadi;
3. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan;
4. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.105
Selain itu, prinsip piercing the veil ini dapat ditemukan pula pada ketentuan yang diatur dalam Pasal 7 ayat (6) UUPT yang menyatakan bahwa “dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) telah dilampaui,
pemegang saham tetap kurang dari dua orang, pemegang saham bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan dan kerugian perseroan, dan atas
105
permohonan pihak yang berkepentingan, pengadilan negeri dapat membubarkan perseroan tersebut”.106
C. Penerapan Piercing The Corporate Veil dalam Peraturan
Perundang-Undangan yang Terkait dengan Perseroan Terbatas
Dalam penerapannya ke dalam hukum perseroan, doktrin piercing the corporate veil ini berarti bahwa hukum tidak memberlakukan prinsip keterpisahan
tanggung jawab dan harta kekayaan badan hukum dengan pemegang sahamnya, walaupun secara de jure seluruh persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu perseroan untuk dapat menjadi suatu badan hukum telah sempurna dilakukan. Cadar yang membatasi badan hukum dengan pemegang sahamnya dapat dikoyak. Dengan demikian ada kemungkinan pemegang saham dalam hal-hal tertentu ikut bertanggungjawab sampai kepada harta pribadinya atas tindakan yang dilakukan oleh dan atas nama perseroan itu sendiri.107
Tanggung jawab terbatas dari pemegang saham bisa hapus atau hilang dalam hal-hal tertentu.108 Hal-hal tertentu tersebut maksudnya antara lain apabila terbukti terjadi pembauran harta kekayaan pribadi pemegang saham dengan harta kekayaan perseroan, sehingga perusahaan didirikan semata-mata sebagai alat yang dipergunakan oleh pemegang saham untuk memenuhi tujuan pribadinya.109
Apabila terbukti bahwa terjadi pembauran harta kekayaan pribadi pemegang saham dan harta kekayaan perseroan, sehingga perseroan didirikan semata-mata sebagai alat yang dipergunakan pemegang saham untuk memenuhi
106
Indonesia, (Perseroan Terbatas), op.cit, Pasal 7.
107
Munir Fuady , op.cit, hlm.88
108
I.G. Ray Widjaya, Hukum Perusahan. (Jakarta: Megapoin, 2000), hlm 145.
109
tujuan pribadinya, maka dalam keadaan demikian para pemegang saham, direksi dan komisaris yang telah melakukan perbuatan tersebut, berdasarkan prinsip piercing the corporate veil harus bertanggungjawab dengan harta pribadinya dan atau bertanggungjawab pribadinya sendiri, baik pidana maupun perdata.110
Terjadinya piercing the corporate veil adalah sebagai berikut : 1. Persyaratan PT sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi.
2. Pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk (tekwaadetrouw atau bad faith) memanfaatkan perseroan semata-mata untuk kepentingan pribadi.
3. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan, atau
4. Pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan atau PT (Pasal 3 ayat (2) UUPT).111
Dengan demikian pemegang saham “dalam keadaan tertentu” dapat saja
kehilangan “kekebalan” atas tanggung jawab terbatasnya, atau dengan kata lain ia harus bertanggungjawab penuh secara pribadi. Beberapa hal yang terhadapnya dapat diterapkan doktrin piercing the corporate veil adalah :
1. Permodalan yang tidak layak;
2. Penggunaan dana perusahaan secara pribadi; 3. Ketiadaan formalitas eksistensi perusahaan;
110
Ais, Chatamarrasjid. Penerobosan Cadar Perseroan dan Soal-soal Aktual Hukum Perusahaan. (Bandung: Citra Aditya Bakti. 2004), hlm. 4.
111
4. Adanya unsur-unsur penipuan dengan cara menyalahgunakan badan hukum.112
Dalam hubungannya dengan tanggung jawab induk perusahaan (holding company) doktrin piercing the corporate veil melihat tanggung jawab induk
perusahaan tersebut dari 2 (dua) sisi yaitu:
a. Tanggung jawab perusahaan pengontrol sebagai induk perusahaan dalam suatu kelompok usaha; dan
b. Tanggung jawab perusahaan holding sebagai pemegang saham.113
Ciri utama PT adalah PT merupakan subjek hukum yang berstatus badan hukum, yang pada gilirannya membawa tanggung jawab terbatas (limited liability) bagi perseroan, para pemegang saham, anggota direksi, dan komisaris.114 Dalam rangka meningkatkan tegaknya keadilan dan mencegah ketidakwajaran, pada keadaan dan peristiwa tertentu, prinsip keterpisahan perseroan dari pemegang saham, secara kasuistik perlu digantikan dan dihapus dengan cara menembus tembok atau tabir perseroan atas perisai tanggung jawab terbatas.115 Persoalan pertanggungjawaban pemegang saham ini pada mulanya merupakan masalah yang kontroversial, karena ada yang berpendapat bahwa tanggung jawab pemegang saham dalam PT tidak boleh lebih dari nilai saham yang di ambilnya, sesuai dengan pengertian kata terbatas dalam nama badan
112
Munir Fuady, Hukum Perusahaan Dalam Paradigma Hukum Bisnis, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), hlm 61-62
113
Ibid, hlm 83
114
Chatamarrasjid Ais, Penerobosan Cadar Perseroan dan Soal-Soal Aktual Hukum Perusahaan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004), hlm 7
115
hukum ini. 116
Persoalan yang timbul, apakah prinsip tersebut berlaku dalam segala kondisi ataukah ada kondisi tertentu yang menyebabkan prinsip ini menjadi tidak berlaku lagi. Kondisi-kondisi yang membuat prinsip tanggung jawab terbatas ini menjadi tidak berlaku lagi, disebut sebagai kondisi di mana telah terjadi piercing the corporate veil.117 Untuk istilah piercing the corporate veil kadang-kadang disebut juga dengan istilah lifting the corporate veil atau going behind the corporate veil. Penerapan prinsip ini mempunyai isi utama, yaitu untuk mencapai
keadilan khususnya bagi pihak ketiga dengan pihak perusahaan yang mempunyai hubungan hukum tertentu.118
Kata piercing the corporate veil terdiri atas kata-kata sebagai berikut: a. Pierce : menyobek/mengoyak/menembus
b. Veil : kain tirai atau cadar c. Corporate : perusahaan
Secara harfiah istilah piercing the corporate veil berarti mengoyak/menyikap/cadar perseroan, sedangkan dalam ilmu hukum perusahaan istilah tersebut sudah merupakan suatu doktrin atau teori yang mengartikan sebagai suatu proses untuk membebani tanggung jawab ke pundak orang atau perusahaan atas perbuatan hukum yang dilakukan oleh perusahaan atau pelaku usaha (badan hukum), tanpa melihat pada fakta bahwa perbuatan tersebut
116
Ibid.
117
Leo J. Susilo, Good Corporate Governance Pada Bank, (Bandung: Hikayat Dunia, Bandung 2007), hlm.42.
118
sebenarnya dilakukan oleh perseroan pelaku tersebut.119 Penghapusan tanggung jawab terbatas diatur dalam ketentuan Pasal 3 ayat (2) UUPT, yang menyatakan tanggung jawab pemegang saham hapus atau tidak berlaku apabila terjadi hal-hal tertentu. Hal tersebut tidak tertutup kemungkinan hapusnya tanggung jawab terbatas. 120
Kamus hukum merumuskan perusahaan sebagai tindakan peradilan yang memaksakan pertanggungjawaban pribadi terhadap petugas korporasi, direktur, dan pemegang saham perusahaan yang tidak sah atas perbuatan salah korporasi tersebut.
Penjelasan yang diberikan dalam Black’s Law Dictionary tersebut di atas
menunjukkan bahwa, piercing the corporate veil hanya dapat terjadi dalam hal adanya tindakan atau perbuatan yang salah. Perlu diperhatikan bahwa, dilarang bukan saja melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan atau melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan, melainkan termasuk juga dalam kategori melakukan tindakan atau perbuatan yang salah. Dengan demikian, untuk mengetahui bagaimana piercing the corporate veil dapat diberlakukan, bergantung sepenuhnya pada kewenangan yang dimiliki dan kewajiban yang dipikul oleh pihak yang hendak dimintakan pertanggungjawaban pribadi tersebut.121
Dengan demikian, berarti pada prinsipnya terdapat banyak sekali kemungkinan penyebab terjadinya pelanggaran terhadap luasnya kewenangan
119
Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law Dan Eksistensinya DalamHukum Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010), hlm.7.
120
M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm 76.
121
yang dimiliki dan atau kewajiban yang dipikul, yang dapat menyebabkan berlakunya prinsip piercing the corporate veil ini.122
Penerapan teori piercing the corporate veil secara universal dilakukan dalam hal-hal sebagai berikut: 123
a. Penerapan teori piercing the corporate veil, karena perusahaan tidak mengikuti formalitas tertentu
Salah satu alasan untuk menerapkan teori piercing the corporate veil adalah jika perusahaan tersebut tidak atau tidak cukup memenuhi formalitas tertentu yang diharuskan oleh hukum perusahaan. Sasaran utama penerapan teori piercing the corporate veil dalam hal ini agak berbeda dari biasanya. Dalam hal ini tidak bertujuan langsung untuk melindungi pihak tertentu, seperti pihak minoritas atau pihak ketiga, tetapi semata-mata untuk menegakkan hukum agar formalitas tersebut dipenuhi.
b. Penerapan teori piercing the corporate veil terhadap badan-badan hukum yang hanya terpisah secara artifisial
Penerapan teori piercing the corporate veil ke dalam suatu perusahaan yang sebenarnya dalam kenyataan adalah tunggal, tetapi perusahaan tersebut dibagi kedalam beberapa perseroan secara artifisial. Misalnya, terdapat beberapa perseroan yang terpisah secara artifisial, tetapi bisnisnya dilakukan sedemikian rupa sehingga, seolah-olah bisnis tersebut dilakukan oleh satu unit perusahaan saja. Oleh karena itu, dengan menerapkan teori piercing the corporate veil beban tanggung jawab akan diberikan kepada seluruh perseroan yang saling terkait
122
Ibid.
123
tersebut.
c. Penerapan teori piercing the corporate veil berdasarkan hubungan kontraktual
Teori piercing the corporate veil juga layak diterapkan jika ada hubungan kontraktual antara perusahaan dengan pihak ketiga. Tanpa penerapan teori piercing the corporate veil tersebut, kerugian terhadap pihak ketiga tidak mungkin tertanggulangi. Agar dapat diterapkan teori piercing the corporate veil dalam hubungan dengan kontrak pihak ketiga ini, biasanya dipersyaratkan terdapat unsur keadaan yang tidak lazim pada aktivitas perusahaan. Keadaan tidak lazim tersebut dapat berupa salah satu dari fakta-fakta seperti permodalan perusahaan tidak dinyatakan dengan benar atau tidak disetor, pihak ketiga diperdaya untuk bertransaksi dengan perseroan.124
d. Penerapan teori piercing the corporate veil karena perbuatan melawan hukum atau tindak pidana
Jika terdapat unsur pidana dalam suatu kegiatan perseroan, meskipun hal tersebut dilakukan oleh perseroan itu sendiri. Berdasarkan teori piercing the corporate veil, oleh hukum dibenarkan jika tanggung jawab dimintakan kepada pihak-pihak lain, seperti direksi atau pemegang saham. Demikian juga jika perusahaan melakukan perbuatan di bidang perdata (onrechtmatigedaad). Misalnya manakala bisnis perusahaan berskala besar sementara modalnya sangat kecil.125
124
Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law Dan Eksistensinya DalamHukum Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010), hlm.12
125
e. Penerapan teori piercing the corporate veil dalam hubungan dengan holding company dan anak perusahaan
Selain terhadap perseroan tunggal, teori piercing the corporate veil juga muncul dalam hal perusahaan dalam grup usaha. Dalam hal ini menurut ilmu hukum dikenal apa yang disebut dengan doctrin instrumental. Menurut doktrin ini, teori piercing the corporate veil dapat diterapkan. Dalam hal ini berarti yang bertanggung jawab, bukan hanya badan hukum yang melakukan perbuatan huum yang bersangkutan, melainkan juga pemegang saham (induk perusahaan) ikut bertanggung jawab secara hukum, yakni jika terdapat salah satu unsur- unsur sebagai berikut:126
1) express agency,
2) Estoppels,
3) Direc tort, atau
4) Dapat dibuktikan adanya tiga unsur sebagai berikut:
a) Pengontrolan anak perusahaan oleh perusahaan holding.
b) Penggunaan kontrol oleh perusahaan holding untuk melakukan penipuan, ketidakjujuran, atau tindakan tidak fair lainnya. c) Terdapatnya kerugian sebagai akibat dari breach of duty dari
perusahaan holding.
Penerapan teori piercing the corporate veil kedalam tindakan suatu perseroan menyebabkan tanggung jawab hukum tidak hanya dimintakan dari perseroan tersebut (meskipun berbadan hukum), tetapi juga pertanggungjawaban
126
hukum dapat dimintakan terhadap pemegang sahamnya. Bahkan, penerapan teori piercing the corporate veil juga membebankan tanggung jawab hukum kepada organ perusahaan yang lain, seperti direksi atau komisaris.127
Rumusan piercing the corporate veil menunjukkan bahwa, suatu perseroan terbatas sering kali tidak dapat dipisahkan atau dilepaskan dari kehendak pihak-pihak yang merupakan dan menjadi pemegang saham dari perseroan terbatas tersebut. Dalam konterks demikian, kehendak dari perseroan terbatas tersebut adalah kehendak dari pemegang saham perseroan terbatas tersebut. Dalam konteks yang demikian, konsep piercing the corporate veil menyatakan bahwa, jika keadaan terpisah perseroan dengan pemegang sahamnya tidak ada, maka sudah selayaknya jika sifat pertanggungjawaban terbatas dari pemegang saham juga dihapuskan. Dengan disibaknya cadar pembatas antara perseroan dan pemegang saham dalam melakukan pengelolaan perseroan, maka cadar pembatas pertanggungjawaban terbataspun demi hukum hapus dan bercampur menjadi satu. Jadi, dalam hal ini pemegang saham turut bertanggung jawab secara pribadi terhadap kerugian perseroan terbatas.128
Penerapan piercing the corporate veil tidak hanya dapat dilakukan oleh pemegang saham perseroan, melainkan juga oleh setiap pihak yang dalam kedudukannya memungkinkan terjadinya penyimpangan atau dilakukannya hal-hal yang dapat, atau dilakukannya hal-hal yang sepatutnya dilakukan, yang bermuara pada terjadinya kerugian bagi perseroan, sehingga perseroan tidak dapat atau
127
Gunawan Widjaja, “Risiko Hukum sebagai Direksi, Komisaris&Pemilik PT” , (Jakarta: Forum Sahabat, 2008), hlm.25
128
tidak sanggup lagi memenuhi seluruh kewajibannya.129 Artinya, pengurus perseroan atau direksi dan atau dewan komisaris dapat juga dimintakan pertanggungjawaban pribadinya, atas kerugian perseroan.130
Penerapan piercing the corporate veil dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Perseroan Terbatas adalah sebagai berikut:
1. Prinsip piercing the corporate veil dalam perundang-undangan Indonesia a. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)
Dalam KUHD, ketentuan tentang perseroan terbatas di atur dalam Pasal 36 sampai dengan Pasal 55, Buku Kesatu, Bab Ketiga Bagian Ketiga. Seharusnya ada dua pasal lagi yang mengatur tentang perseroan terbatas, yaitu Pasal 57 dan 58, namun berdasarkan Staatsblad 1938 Nomor 276, dua pasal tersebut telah dihapus. Hal-hal
yang diatur antara lain adalah syarat pendirian dan tata cara pendirian, permodalan dan saham perseroan, pengurus perseroan, tempat kedudukan perseroan dan jangka waktu berdirinya perseroan, pembubaran perseroan, laporan keuangan (laporang untung rugi) perseroan. Dari 19 pasal terkait dengan ketentuan PT tersebut, tidak ada satu pasal pun yang menyingung keberadaan piercing the corporate veil dalam konteks pertanggungjawaban pemegang saham.
Ketentuan Pasal 40 ayat (2) KUHD menyebutkan, “para persero atau pemegang saham tersebut tidak bertanggungjawab untuk lebih dari
129
Ibid, hlm. 29.
130
pada jumlah penuh andil tersebut”. Berbeda dengan UUPT, baik
UUPT 1995 maupun UUPT, KUHD tidak memberikan pengecualian atas prinsip limited liability (pertanggungjawaban terbatas). Oleh karenanya, piercing the corporate veil dalam konteks pemagang saham tidak dikenal dalam ketentuan KUHD.131
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas Dengan berlakunya UUPT 1995 yang mulai berlaku tanggal 7 Maret 1996, maka segala ketentuan dalam Buku Kesatu Bagian III Bagian Ketiga, Pasal 36 – 56 KUHD dinyatakan tidak berlaku lagi. Prinsip dasar limited liability ditegaskan dalam Pasal 3 ayat (1) UUPT 1995,
yang menyebutkan bahwa, “pemegang saham perseroan tidak
bertanggungjawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggungjawab atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah diambilnya”. Namun demikian prinsip
tersebut tidaklah berlaku mutlak, di mana Pasal 3 ayat (2) UUPT 1995 membuka ruang pertanggungjawaban pemegang saham melebihi saham yang ia setorkan apabila:132
1) Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;
131
Sulistiowati dan Veri Antoni, Konsistensi Penerapan Doktrin Piercing The Corporate Veil Pada Perseroan Terbatas Di Indonesia. Jurnal Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Yustisia Vol.2 No.3 September - Desember 2013, hlm 29.
132
2) Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan semata-mata untuk kepentingan pribadi;
3) Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan; atau
4) Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi hutangnya
c. UUPT sama halnya dengan UUPT 1995, UUPT sampai batas tertentu juga mengakui berlakunya teori piercing the corporate veil, dengan membebankan tanggungjawab tersebut kepada pihak-pihak sebagai berikut: 133
(1) Beban tanggungjawab dipindahkan ke pihak pemegang saham; (2) Beban tanggungjawab dipindahkan ke pihak direksi dan dewan
komisaris. Pemindahan beban tanggungjawab kepada pemegang saham dalam UUPT antara lain di atur dalam Pasal 33 ayat (1) dan (2), Pasal 7 ayat (5) dan (6), serta Pasal 33. Selain itu, penerapan piercing the corporate veil dapat dilihat juga dari ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPT yang menyebutkan bahwa, “perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia”. Selanjutnya, Pasal 7 ayat (5) dan (6), yang
133
menyatakan setelah perseroan memperoleh status sebagai badan hukum dan pemegang saham kurang dari dua orang, maka dalam jangka waktu paling lama 6 bulan terhitung sejak keadaan tersebut, pemegang saham yang bersangkutan wajib mengalihkan sebagian sahamnya kepada orang lain atau perseroan mengeluarkan saham baru kepada orang lain. Selanjutnya, dalam jangka waktu enam bulan tersebut, pemegang saham tetap kurang dari dua orang, pemegang saham bertanggungjawab secara pribadi atas segala perikatan dan kerugian perseroan, dan atas pihak yang berkepentingan Pengadilan Negeri dapat membubarkan perseroan tersebut.
Berdasarkan keterangan di atas, tampak terdapat perluasan pengaturan doktrin piercing the corporate veil dari KUHD sampai dengan UUPT 1995 dan UUPT. Sebagai produk kolonial Belanda yang dibuat tahun 1840, KUHD belum mengatur doktrin piercing the corporate veil, khusus terkait dengan untuk pemegang saham. UUPT 1995 sebagai pengganti ketentuan mengenai PT yang ada dalam KUHD, kemudian telah memasukkan ketentuan piercing the corporate veil terkait keberadaan pemegang saham dan memperluas ketentuan piercing the corporate veil yang berkaitan dengan direksi dan komisaris.134 UUPT sebagai pengganti UUPT 1995, secara prinsip tidak mengubah atau menambahkan materi atau bentuk pelanggaran piercing the corporate veil. Apabila dirunut dari KUHD sampai dengan UUPT, dapat disimpulkan secara normatif perbuatan-perbuatan
134
yang dapat dikategorikan sebagai piercing corporate veil, dalam hukum perseroan terbatas di Indonesia, antara lain:135
a. Direksi melanggar anggaran dasar atau perubahan anggaran dasar perseroan;
b. Formalitas pendirian perseroan belum terpenuhi baik oleh Pemegang Saham;
c. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan semata-mata untuk kepentingan pribadi;
d. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan; atau
e. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengak ibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi hutangnya;
f. Perolehan saham melalui mekanisme pembelian saham kembali oleh perseroan yang tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, g. Direksi dan atau komisaris tidak melaksanakan fiduaciary duty;
h. Perhitungan laporan tahunan oleh direksi dan atau komisaris, khususnya laporan keuangan yang tidak benar atau menyesatkan;
i. Direksi dan atau merupakan penyebab perusahaan mengalami kepailitan
135
a. Penerapan prinsip piercing corporate veil dalam kasus (praktek) di lapangan
Secara normatif ketentuan piercing the corporate veil baru dilembagakan dalam undang-undang berdasarkan UUPT 1995, mengingat KUHD sebagai warisan Kolonial Belanda belum mengatur doktrin piercing corporate veil, khusus terkait dengan untuk pemegang saham. Namun dalam kasus PT. Bank Pembangunan Asia dengan PT. Djaya Tunggal di tahun 1991, prinsip tersebut telah dipakai oleh hakim dalam pertimbangan hukumnya, meskipun belum ada dasar hukumnya secara normatif, kecuali dalam KUHD yang diatur secara terbatas.136
Dalam pertimbangan hukumnya, Hakim Mahkamah Agung telah menerapkan teori atau doktrin piercing the corporate veil, yaitu tindakan persekongkoln antara direksi dan dewan komisaris, yang menyebabkan kerugian pada perusahaan, dapat diminta pertanggungjawaban terhadap Direksi dan Komisaris yang bersekongkol tersebut. Hal yang sama juga berlaku dalam kasus O. Sibarani dengan PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Gesuri Lloyd” tahun
1973 dimana Mahkamah Agung membuat hukum sendiri berdasarkan doktrin piercing the corporate veil, yang kemudian subtansi putusan kemudian diadopsi
dalam Pasal 7 ayat (4) UUPT 1995 dan diadopsi lagi dalam Pasal 7 ayat (5) UUPT, yang menyatakan bahwa setelah perseroan memperoleh status badan hukum dan pemegang saham menjadi kurang dari 2 (dua) orang, maka pemegang saham bertanggungjawab secara pribadi apabila dalam jangka waktu paling lama
136
6 (enam) bulan tidak mengalihkan sebagian saham kepada pihak lain atau perseroan juga tidak mengeluarkan saham baru kepada orang lain. Hal yang sama juga diterapkan dalam PT. Usaha Sandang dengan PT. Dhaseng Ltd, PT. Interland Ltd. Sedikit berbeda dengan dalam kasus Raden Roosman dengan Perusahaan Otobis N.V. Sendiko dengan mendasarkan pada Pasal 39 selama prosedur pendirian perseroan belum terpenuhi, maka pengurus yang menyebabkan kerugian perseroan yang belum berbadan hukum tersebut dapat dimintakan pertanggungjawaban.137
Organ-organ perseroan ini juga dapat disebut dengan alat perlengkapan perseroan terbatas yang bedasarkan ketentuan-ketentuan yang memuat syarat-syarat konstitutif dari badan hukum, berupa anggaran dasar dan atau undang-undang serta peraturan-peraturan lain menunjukkan orang-orang mana yang dapat bertindak untuk dan atas pertanggung-jawaban badan hukum, orang-orang ini disebut dengan organ (alat perlengkapan) dari badan hukum tersebut.138
Undang-undang PT mensyaratkan bahwa PT harus memiliki organ yang terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi dan Dewan Komiaris. Berikut ini akan dijelaskan mengenai masing-masing organ tersebut.
1. Rapat umum pemegang saham (RUPS)
Rapat umum pemegang saham (RUPS) merupakan organ perseroan yang memiliki kewenangan eksklusif. Kewenangan ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 ayat (4) UUPT, tidak akan pernah diberikan atau dialihkan kepada komisaris ataupun direksi, konkretnya RUPS merupakan sebauh forum yang
137
Ibid, hlm.31
138
mewakili seluruh pemegang saham perseroan dimana para pemegang saham memiliki kewenangan utama untuk memperoleh keterangan-keterangan mengenai perseroan, baik dari komisaris maupun direksi.139
Pemegang saham bertanggung jawab pada apa yang disetorkan atau bertangung jawab terbatas (limited liability), tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah diambilnya, tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan.140
Konsep hukum perseroan di Indonesia menganut sistem limited liability (tanggung jawab yang terpisah). Hal ini berarti bahwa tindakan, perbuatan dan kegiatan perseroan bukan tindakan pemegang saham dan kewajiban dan tanggung jawab perseroan bukan kewajiban dan tanggung jawab pemegang saham.141 Konsep ini diberlakukan dengan maksud untuk melindungi pemegang saham dari kerugian yang lebih besar di luar apa yang telah mereka investasikan, pemegang saham mampu mengalihkan resiko kegagalan bisnis yang potensial kepada para kreditor perseroan dan untuk mendorong investasi dan memfasilitasi akumulasi modal perseroan.142 Setiap kerugian yang dialami perseroan akibat gagalnya perseroan melakukan kewajibannya tidak menjadi tangggung jawab penuh dari pemegang saham.Pasal 3 ayat (1) UUPT menyebutkan bahwa pemegang saham
139
Orinton Purba, Petunjuk Praktis Bagi RUPS, Komisaris dan Direksi Perseroan Terbatas, agar Terhindar dari Jerat Hukum, (Jakarta: Raih Asa Sukses, 2012), hlm. 2.
140
I. G. Rai Widjaya, Berbagai Peraturan dan Pelaksanaan undang-undang di Bidang Usaha Hukum Perusahaan Pemakaian Nama PT, Tata Cara Mendirikan PT, Pendaftaran Perusahaan, TDUP & SIUP, (Jakarta: Kesaint Blanc, 2013), hlm 143
141
M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan, Catakan Ketiga, Edisi Ketujuh, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 71
142
perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan melebihi saham yang dimiliki atau hanya sebatas modal yang disetor kepada perseroan.143
Adapun wewenang RUPS menurut UUPT, antara lain :
a. Menyatakan menerima atau mengambil alih semua hak dan kewajiban yang timbul dari perbuatan hukum yang dilakukan oleh calon pendiri atau kuasanya. 144
b. Menyetujui perbuatan hukum perseroan yang dilakukan oleh semua direksi, semua komisaris dan semua pendiri atas nama perseroan yang dihadiri oleh semua pemegang saham.145
c. Menetapan perubahan anggaran dasar.146
d. Menyetujui pembelian kembali saham atau pengalihan saham yang telah dikeluarkan oleh perseroan.147 .
e. menyerahkan kewenangan kepada komisaris untuk menyetujui pelaksanaan RUPS untuk membeli atau mngalihan saham yang telah dikeluarkan perseroan dalam jangka waktu paling lama satu tahun.148 f. menetapan penambahan modal dan pengurangan modal perseroan149 g. menyetujui rencana kerja tahunan apabila AD PT menentukan demikian150 h. menyetujui laporan tahunan termasuk pengesahan laporan keuangan serta
laporan tugas pengawasan komisaris.151
i. menetukan laba bersih termsuk penyisihan laba bersih yang akan digunkan sebagai cadangan.152
j. menetapkan pembagian tugas dan wewenang antar anggota direksi.153 k. mengangkat anggota direksi.154
l. menetapkan besarnya gaji dan tunjangan direksi.155
m. menunjuk pihak yang akan mewakili perseroan apabila direksi atau komisaris mempunyai benturan kepentingan.156
n. memberi persetujuan direksi untuk : 157 a) mengalihkan kekayaan Perseroan; atau
143
Ibid.
144
Indonesia (Perseroan Terbatas), op.cit, hlm Pasal 13.
b) menjadikan jaminan utang kekayaan perseroan; persetujuan ini diperlukan apabila lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kekayaan bersih perseroan dalam 1 (satu) transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak.
o. Memberi persetujuan kepada direksi untuk mengajukan permohonan pailit atas perseroan sendiri ke Pengadilan Niaga setempat. 158
p. memberhentikan direksi159
q. menguatkan keputusan pemberhentian sementara, anggota direksi yangbersangkutan diberhentikan untuk seterusnya 160
r. menggangkat komisaris.161
s. Menetapkan besarnya gaji dan honorarium dan tunjangan komisaris.162 t. Mengangkat komisaris independen.163
u. memberi persetujuan rancangan penggabungan.164
v. memberi persetujuan mengenai penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan.165
w. memberi keputusan atas pembubaran perseroan.166
x. menerima pertanggungjawaban likuidator atas penyelesaian likuidasi167 Tidak selamanya limited liability dapat menjadi perisai bagi para pemegang saham dalam tanggung jawab atas kerugian perseroan. Ketika pemegang saham berbuat dengan iktikad tidak baik atau tindakan dari pemegang saham merugikan perseroan limited liability dapat disingkirkan atau ditembus dengan mengoyak tabir perseroan atas perisai limited liability tersebut dengan menggunakan doktrin piercing the corporate veil.168 Apabila tanggung jawab (limited liability) tersebut terkoyak dan perisai dapat tertembus maka tanggung
jawab pemegang saham tertembus dan dapat menjangkau harta pribadi. Pasal 3
ayat (2) UUPT memberikan tempat untuk diberlakukannya piercing the corporate veil. Menurut UUPT piercing the corporate veil dapat diberlakukan ketika:169
a. persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi b. pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung
dengan iktikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi c. pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum
yang dilakukan oleh perseroan; atau
d. pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.
2. Direksi
Keberadaan direksi dalam perseroan terbatas ibarat nyawa bagi perseroan. Tidak mungkin suatu perseroan tanpa adanya direksi. Sebaliknya tidak mungkin ada direksi tanpa adanya perseroan. Oleh karena itu, keberadaan direksi bagi PT sangat penting. Sekalipun PT sebagai badan hukum, yang mempunyai kekayaan terpisah dengan direksi, tetapi hal itu hanya berdasarkan fiksi hukum, bahwa PT dianggap seakan-akan sebagai subjek hukum, sama seperti manusia.170
Direksi perseroan terbatas merupakan organ yang melaksanakan kegiatan dan kepengurusan perseroan. Ketentuan ini menugaskan direksi untuk mengurus
169
Ibid.
170
perseroan yang antara lain, meliputi pengurusan sehari-hari dari perseroan.171 Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.172
Kedudukan direksi dalam perseroan adalah sebagai eksekutif, dimana tindakan-tindakannya dibatasi oleh anggaran dasar perseroan. Artinya, mesti memiliki kewenangan penuh dalam hal kepengurusan perseroan, langkah-langkah direksi harus tetap dalam batas-batas yang ditentukan undang-undang serta anggaran dasar perseroan173
Direksi berwenang menjalankan pengurusan perseroan sesuai dengan kebijakan yang dipandang tepat dalam batas yang ditentukan dalam UUPT ini dan/atau anggaran dasar. Yang dimaksud dengan kebijakan yang dipandang tepat adalah kebijakan yang antara lain didasarkan pada keahlian, peluang yang tersedia dan kelaziman dalam dunia usaha yang sejenis.174
Direksi dalam menjalankan reprentasi di luar pengadilan diantaranya adalah melakukan kontrak atau transaksi bisnis dengan pihak ketiga, mewakili Perseroan untuk menandatangi kontrak tersebut, mewakili Perseroan untuk menghadap pejabat negara dan masih banyak lagi yang lainnya. Mewakili perseroan di dalam maupun di luar pengadilan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Dilakukan sendiri
b. Dilakukan pegawainya yang ditunjuk untuk itu
171
Jamin Ginting, Hiukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 2008), (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 113.
172
Ibid.
173
Orinton Purba, op.cit, hlm. 31.
174
c. Dilakukan komisaris jika direksi berhalangan, sesuai AD PT d. Dilakukan oleh pihak ketiga sebagai agen dari perseroan175
Pengurusan oleh direksi dibatasi oleh Pasal 92 ayat (2) UU PT, yang mana pada pasal tersebut disebutkan bahwa kewenangan pengurusan Perseroan oleh Direksi sesuai dengan kebijakan yang dianggap tepat yang telah ditentukan dalam AD PT dan peraturan perundang-undangan. Kepengurusan direksi dapat dibedakan menjadi perbuatan beheren dan perbuatan beschickking atau perbuatan van eigendom. Perbuatan beheren yaitu pengurusan dalam arti sempit yang merupakan wewenang murni dan dapat dilakukan sehari-hari.Sedangkan perbuatan beschickking merupakan berbuatan kepemilikan yang memerlukan persetujuan dari organ lainnya.176
Begitu luas kewenangan dan tangggung jawab direksi suatu Perseroan sehingga direksi wajib melakukan tugasnya dengan iktikad abaik (good faith) dan penuh tanggung jawab. Direksi sebagai pengelola perseroan merupakan pemegang amanah (fiduciary) dari pemegang saham. Fiduciary yang dimiliki oleh direksi menyebabkan direksi mempunyai kewenangan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, seorang direksi dituntut harus dapat mempunyai kepedulian dan kemampuan (duty of care and skill), iktikad baik, loyalitas dan kejujuran terhadap
perusahaannya dengan derajat yang tinggi (high degree).177
175
Munir Fuady. Perseroan Paradigma Baru, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 49.
176
Siti Hapsah Isfardiyana, Tanggung Jawab Organ Perseroan Terbatas Dalam Kasus Kepailitan, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Volume 7, Nomor 2, Agustus 2014, Halaman 151-302, hlm .162.
177
Direksi dalam menjalankan tugas pengurusan dan mewakili perseroan di depan pengadilan maupun di luar pengadilan harus dengan penuh tanggung jawab untuk kepentingan perseroan disebut fiduciary dutiy. Fiduciary duty dijalankan oleh direksi dengan cara:
a. Dilakukan dengan iktikad baik (bona fides) b. Dilakukan dengan proper purpose
c. Dilakukan dengan kebebasan yang bertanggung jawab (unfettered discretion) d. Tidak memiliki benturan kepentingan (conflict of duty and interest) 178
Direksi wajib melaksanakan pengurusan dengan penuh tangung jawab, yang meliputi aspek :
a. Wajib sesakma dan hati-hati melakukan pengurusan (the duty of the due care), yakni kehati-hatian yang biasa dilakukan orang (ordinary prudent person) dalam kondisi yang wajar atau disebut dengan kehati-hatian yang wajar (reasional care)
b. Wajib melaksanakan pengurusan secara tekun (duty to be diligent), yakni terus menerus secara wajar menumpahkan perhatian atas kejaian yang menimpa perseroan
c. Ketekunan dan keuletan wajib disertai kecakapan dan keahlian (duty to display skill) sesuai dengan ilmu pengetahuan dan pengetahuan yang dimilikinya.179
Seorang direksi tidak akan bertanggung jawab karena salah dalam mengambil keputusan (mere errors of judgement) ketika direksi menjalankan
178
Ridwan Khairandy, Op.cit., hlm. 209.
179
tugasnya dengan iktikad baik dan penuh kehati-hatian. Hakim dalam hal ini tidak diperbolehkan melakukan penilaian bisnis yang berbentuk second guess terhadap keputusan bisnis yang diambil oleh direksi sesuai dengan teori keputusan bisnis (business judgement rule).180 Walaupun setiap keputusan direksi yang diambil dilindungi oleh business judgement rule, direksi tetap harus beriktikad baik, berhati-hati dan penuh loyalitas dalam menjalankan kepengurusan perseroan.181
Prinsip penyingkapan tirai perusahaan (piercing the corporate veil) diartikan sebagai suatu proses untuk membebani tanggung jawab ke pundak orang atau perusahaan lain atas tindakan hukum yang dilakukan oleh perusahaan pelaku, tanpa mempertimbangkan bahwa sebenarnya perbuatan tersebut dilakukan oleh/atas nama perseroan pelaku. Dengan demikian, doktrin piercing the corporate veil ini pada hakikatnya merupakan doktrin yang memindahkan tanggung jawab dari perusahaan kepada pemegang saham direksi atau komisaris, dan bisanya prinsip ini baru diterapkan jika ada klaim dari pihak ketiga kepada perseroan.182
Terdapat perbedaan antara tanggung jawab direksi dengan pemegang saham dari suatu perseroan, khususnya jika kepada mereka diterapkan doktrin piercing the corporate veil. Perbedaan tersebut adalah sebagai konsekuensi logis
dari adanya perbedaan peran antara direksi dengan pemegang saham. Sebab, pihak pemegang saham tidak mempunyai kewenangan eksekutif, yakni tidak memiliki kewenangan untuk menjalankan servis dari perusahaan tersebut.
180
Munir Fuady, op.cit., hlm. 48.
181
Ibid, hlm 49.
182
Adapun yang merupakan perbedaan antara tanggung jawab direksi dengan pemegang saham, khususnya dalam hal penerapan doktrin piercing the corporate veil, adalah sebagai berikut:
1. Pihak pemegang saham tidak memiliki benturan kepentingan seperti yang dimiliki oleh pihak direktur. Misalnya dalam hal berlakunya asas larangan self dealing yang berlaku bagi direksi pada prinsipnya tidak berlaku bagi pemegang saham. Jadi, biasa saja dan memang tidak ada larangan jiika seseorang pemegang saham memberikan suara yang mendukung transaksi self dealing yang menguntungkan dirinya sendiri, Akan tetapi, hal ini berlaku bagi perusahaan terbuka berhubungan adanya keharusan RUPS dari pemegang saham independen bagi suatu transaksi yang berbenturan kepentingan bagi suatu perusahaan terbuka.
2. Meskipun pihak pemegang saham mempunyai tugas dan kewajiban tertentu terhadap perusahaan, tetapi berbeda dengan direksi, pihak pemegang saham tersebut tidak mempunyai tugas fiduciary duties.183
Tanggung jawab secara pribadi dari direksi berdasarkan prinsip piercing the corporate veil ini dapat dielakkan atau setidak-tidaknya dapat dikurangi jika terjadi hal-hal sebagai berikut:
1. Tindakan direksi tersebut dalam rangka menjalankan keputusan RUPS. 2. Diterima oleh RUPS yang dibuat setelah tindakan tersebut.
3. Tindakan tersebut bermanfaat bagi perseroan tanpa melanggar hukum berlaku.
183
4. Terhadap direksi diberikan release and discharge (et quit et de charge) oleh RUPS.
5. Mengikuti pendapat dari pihak luar yang professional, seperti legal opinion dari layer, financial reports dari akuntan, pendapat tertulis dari appraiser, dan lain-lain.184
Tolok ukur dari sebuah tindakan direksi tidak termasuk ultra vires ialah ketika tindakan tersebut termasuk dalam kewenangan atau maksud dan tujuan perseroan direksi dianggap mengetahui segala perbuatannya apakah termasuk dalam ultra vires meskipun sebenarnya dia tidak mengetahui hal tersebut. Hal ini disebut sebagi pengetahuan konstruktif (constructive notice). Akibat hukum dari constructive notice adalah :
a. Direksi harus menaati transaksi ultra vires yang telah dibuatnya
b. Jika dengan transaksi tersebut ada keuntungan yang didapat oleh direksi, keuntungan tersebut haruslah diserahkan kepada perseroan.
c. Direksi secara pribadi harus mengganti kerugian kepada pihak ketiga yang telah dirugikan oleh tindakan ultra vires tersebut
d. Direksi secara pribadi harus mengganti kerugian atas kerugian Perseroan karena adanya tindakan ultra vires tersebut.185
3. Komisaris
Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan, secara umum dan/atau khusus serta memberikan nasehat kepada direksi dalam
184
Ibid.
185
menjalankan perseroan Pasal 1 ayat (5) UUPT.186 Perkataan komisaris mengandung pengertian baik sebagai organ maupun sebagai orang perorangan. Sebagai organ komisaris lazim juga disebut dewan komisaris, sedangkan sebagai orang perorangan disebut anggota komisaris. Sebagai organ, dalam UUPT ini pengertian komisaris termasuk juga badan-badan lain yang menjalankan tugas pengawasan khusus di bidang tertentu.
Munir Fuady menjelaskan mengenai beberapa pedoman yuridis pengawasan Komisaris, yaitu:
a. Pengawasan dilakukan oleh komisaris baik diminta mapun tidak diminta oleh direksi dan RUPS
b. Pengawasan tidak boleh berubah menjadi tugas eksekutif yang seharusnya dilakukan oleh direksi
c. Pengawasan dilakukan terhadap putusan yang sudah diambil (ex post facto) atau terhadap putusan yang akan diambil (preventive basisi)
d. Pengawasan bukan hanya menerima laporan dari direksi atau RUPS tetapi dapat juga merupakan pengambilan tindakan yang bersifat korektif
e. Pengawasa bukan hanya menyetujui atau tidak menyetujui tindakan-tindakan yang memerlukan persertujuan Komisaris sseperti yang terperinci dalam anggaran dasar PT tetapi juga pengawasasan terhadap semua aspek bisnis dan aspek korporat perseroan. 187
Pengawasan komisaris bukan hanya untuk mengawasi direksi tetapi juga untuk mengawasi para pemegang saham. Pengawasan ditujukan untuk melindungi
186
C.S.T Kansil dan Christine, Pokok-Pokok Perseroan Terbatas Tahun 1995, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm. 42.
187
kepentingan Perseroan, pemgangku kepentingan, termasuk karyawan dan lingkungan perseroan serta masyarakat Pengawasan komisaris antara lain ditujukan pada:
a. Melakukan audit keuangan b. Pengawasan atas organisasi PT c. Pengawasan terhadap personalia.188
UUPT tidak terdapat penjelasan terperinci mengenai pemberian nasihat kepada direksi oleh komisaris.Namun, menurut M. Yahya Harap pemberian nasihat komisaris kepada direksi cakupannya sangatlah luas.Komisaris dapat menyampaikan pendapat atau memberi pertimbangan yang layak dan tepat kepada direksi. Bahkan dapat menyampaikan ajaran yang baik maupun petunjuk, peringatan, atau teguran yang baik.189 Seperti halnya direksi, komisaris suatu Perseroan juga diwajibkan untuk beriktikad baik dan penuh dengan kehati-hatian dalam menjalankan tugasnya. Itikad baik yang harus dilakukan oleh komisaris tidak berbeda dengan itikad baik yang dilakukan oleh direksi. Dimana komisaris juga harus dipercaya dengan kejujurannya, pengawasan dan nasihat dilakukan secara wajar, mematuhi peraturan perundangundangan, loyal terhadap Perseroan dan menghindari benturan kepentingan dengan perseroan 190
Benturan kepentingan dengan perseroan dapat dihindari oleh komisaris dengan cara:
a. Tidak menggunakan informasi perseroan untuk kepentingan pribadi
188
Ibid, hlm. 128.
189
M. Yahya Harahap, op.cit., hlm. 440.
190