CABANG PROVINSI BANTEN TERHADAP ANAK BINAAN
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh
Muhammad Nurman Novian NIM: 1113054100009
PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
i
Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten Terhadap Anak Binaan Masalah pengasuhan terhadap anak memang sangat sensitif karena pola pengasuhan sangat menentukan pembentukan anaknya kedepan, baik secara jasmani maupun rohani. Pengasuhan yang salah atau tidak tepat akan berdampak sangat buruk bagi anaknya, tidak terkecuali dengan pengasuhan terhadap anak dengan disabilitas yang justru membutuhkan skill khusus. Beriringan dengan terbitnya Undang-Undang Terbaru tentang disabilitas No 8 Tahun 2016. Melihat juga Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) adalah pilot project yang nantinya akan didirikan UPD serupa di wilayah lainnya. Jadi penelitian ini sangat penting dan sangat berguna bagi perkembangan UPD Tangsel dan UPD atau ULD serupa yang akan dibentuk di berbagai wilayah agar lebih baik lagi. Dengan ini peneliti memutuskan untuk mengevaluasi hasil program parenting skill juga karena program ini berdampak langsung bagi sasaran program atau anak binaan UPD, selanjutnya karena UPD ini berbeda dengan panti atau yayasan yang lainnya yang mana anak binaannya tidak menginap atau hanya terbatas hari tertentu, jadi lebih banyak waktu yang dihabiskan bersama orangtua atau wali anak binaan dirumah daripada di UPD.
Penelitian ini mendeskripsikan tentang bagaimana evaluasi hasil program parenting skill Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten terhadap anak binaan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif melalui metode wawancara, observasi dan studi kepustakaan. Peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini purposive (bertujuan) sampling,yaitu Ketua UPD, Div. Organisasi dan Program, Peksos, Fasilitator, 4 Wali Anak Binaan dan 4 Anak Binaan. Teknik pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini memiliki kriteria kredibilitas dan ketekunan atau keajegan.
vi
B. Visi dan Misi serta Tujuan Unit Pelayanan Disabilitas.. 42
1. Visi ……… 42
vii
BAB IV : GAMBARAN PROGRAM DAN EVALUASI HASIL PROGRAM C. Temuan Data Deskripsi Program Parenting Skill... 60
1. Konsep Program Parenting Skill UPD ………….. 60
2. Pelaksanaan Program Parenting Skill UPD …... 63
B. Evaluasi Hasil Program ………... 67
1. Pencapaian Tujuan dari Program Parenting Skill UPD ……… 68
a. Indikator Efisiensi ……….…….. 71
b. Indikator Pemanfaatan ……….. 74
viii LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Tabel 1
Informan Evaluasi Hasil Program Parenting Skill 2. Tabel 2
Desain Evaluasi Hasil Program Parenting Skill 3. Tabel 3
Program Pelayanan Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) 4. Tabel 4
Tolak ukur pencapaian tujuan dari hasil program parenting skill 5. Tabel 5
Tolak ukur perubahan yang di hasilkan dari hasil program parenting skill 6. Tabel 6
1. Gambar 1
Peta wilayah jangkauan layanan Unit Pelayanan Disabilitas 2. Gambar 2
1
A. Latar Belakang Masalah
Setiap anak adalah anugerah yang semestinya sejak dalam kandungan sampai menginjak masa dewasa yaitu delapan belas tahun diberikan segala haknya. Dikutip dari buku Membangun Anak Negeri, Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasulullah, apakah hak anakku dariku?” Nabi menjawab, “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau
tempatkan ia di tempat yang baik.” Sabda Rasulullah SAW yang lain, “Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban).1
Dan dipertegas bahwa, manusia dalam ajaran Islam adalah Keturunan Adam dan seluruh anak cucunya dimuliakan tanpa terkecuali. Pernyataan ini termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 70: 2
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang
1 Membangun Anak Negeri, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Nusa Tenggara Barat dan Unicef. Cet. I Oktober 2004. h.29.
2
baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna ”.
Berdasarkan ayat Al-Qur’an tersebut telah dijelaskan bahwa, semua manusia termasuk dari anak-anak sampai lansia mempunyai hak yang sama. Termasuk juga Anak Penyandang Disabilitas (APD) yang juga harus merasakan hak yang sama dengan anak-anak atau manusia lainnya. Anak Penyandang Disabilitas (APD) merupakan anak yang rentan terhadap berbagai masalah, masalah hambatan tumbuh kembang, perlindungan (eksploitasi, kekerasan, penelantaran dan perlakuan salah), serta masalah sosial lainnya termasuk kemiskinan. Oleh karena itu, penanganan APD perlu secara dini dilakukan, karena kenyataannya masih banyak keluarga APD dan masyarakat tidak memahami perlindungan dan rehabilitasi sosial terhadap APD sedini mungkin yang menyebabkan masalah APD menjadi lebih kompleks.3 Realitasnya, situasi anak-anak dan orang dewasa dengan disabilitas sampai detik ini hanyalah sekedar menjadi “mikrokosmos” dalam keseluruhan debat
dan proses pembangunan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang tidak mendapatkan tempat dan posisi yang layak dalam kehidupan sosial di masyarakat.4
Dalam Desk-Review-nya tentang Analisis Situasi Penyandang Disabilitas Di Indonesia, Irwanto dkk mengemukakan bahwa, “Indonesia merupakan Negara yang memiliki berbagai resiko untuk kecacatan. Mulai di
3
Model Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak Penyandang Disabilitas Berbasis Keluarga dan Masyarakat, Sub Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Dengan Kecacatan, Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial Republik Indonesia. Cet. November 2005. h.2.
4
berbagai daerah sepanjang tahun, masih adanya insiden penyakit polio dan lepra, kekurangan vitamin A, tingginya insiden stroke, serta buruknya keselamatan pasien (patient safety) dalam praktek kedokteran. Polio dan Lumpuh Layu yang telah ada vaksinnya masih mempunyai prevalensi sekitar 4/100.000 penduduk. Penyakit Lepra, misalnya masih mempunyai prevalensi 0.76/10.000 penduduk pada tahun 2008. Hipertensi yang dapat mengakibatkan stroke menjangkiti 31.7% dari penduduk berusia 18 tahun ke atas (Depkes RI, 2008). Sedangkan stroke sendiri prevalensinya diperkirakan 8.3/1000 penduduk (Riskesdas 2007).”5
Undang-Undang No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Bab I Pasal 1 Ayat 1 menyatakan bahwa: “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.” Pada pasal 23 ayat 1 menerangkan bahwa “Negara, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin perlindungan, pemeliharaan dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orangtua, wali dan oranglain yang secara hukum bertanggungjawab terhadap anak.” Demikian pula pada pasal 12 menyatakan “setiap penyandang disabilitas berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial dan penentuan taraf kesejahteraan sosial.” Dalam Undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Disabilitas yang merupakan Undang-Undang terbaru atas perubahan Undang-Undang-Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat Bab 1 Pasal 1 Ayat 14 yang menyatakan bahwa: “Unit
5
Layanan Disabilitas adalah bagian dari satu Institusi atau lembaga yang berfungsi sebagai penyedia layanan dan fasilitas untuk penyandang Disabilitas.”
Melihat Undang-Undang di atas, perlu adanya tindak lanjut yang lebih komprehensif di berbagai pihak, baik pemerintah dan swasta, untuk memberikan pelayanan yang baik bagi APD. Pemerintah dalam hal ini menginstruksikan program penanganan berbasis institusi. Salah satunya adalah Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten, merupakan lembaga penyantunan dan rehabilitasi anak cacat ganda terlantar di Tangerang Selatan Banten. Yang mempunyai Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) sebagai Unit Layanan Disabilitas (ULD) di Tangerang Selatan. Cacat ganda atau disebut juga disabilitas ganda adalah anak yang memiliki dua atau lebih disabilitas fisik dan mental, dan atau disabilitas sensorik (ganda), sehingga diperlukan pendampingan, pelayanan, pendidikan dan alat bantu yang khusus. Serta klien, anak binaan atau penerima manfaat dengan kondisi seperti inilah, yang ditangani oleh Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten dan Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) yang berdomisili di Kota Tangerang Selatan.
Pada faktanya, realitas pelayanan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan masih dirasa kurang dalam hal penanganan disabilitas. Akibatnya fasilitas untuk penyandang disabilitas masih minim, untuk itu pemerintah diharapkan untuk memenuhi kebutuhan anak penyandang disabilitas.6 Ketua Yayasan Sayap Ibu Provinsi Banten Renowati
6
Hardjosubroto mengatakan, bahwa saat ini fasilitas untuk anak penyandang disabilitas belum disediakan pemerintah. Untuk itu pihaknya mencoba mendorong agar disediakan fasilitas untuk penyandang disabilitas. Fasilitas tersebut diantaranya, tempat rehabilitasi, toilet dan jalur khusus. Selama ini, perhatian Pemerintah Kota Tangerang Selatan baru pada tahap pelayanan, seperti pelatihan tata rias sebagai wujud pelayanan untuk penyandang disabilitas tuna rungu selama 3 hari dan berdurasi 2 jam setiap pertemuan.7 Lalu pelatihan khusus seperti pelatihan refleksi, massage siatzu untuk tuna netra yang berdurasi paling lama dua tahun dan paling singkat enam bulan.8 Menurut Kasie Pelayanan dan Rehabilitasi Penyandang Cacat Lamro Siregar, Tangerang Selatan baru memperhatikan kaum disabilitas sampai titik bantuan
secara material yaitu Rp 300.000/ bulan per orang kepada 38 orang disabilitas
berat, dan nyatanya aksi pelayanan dari Pemkot Tangsel sangat minim
dikarenakan Tangerang Selatan belum mempunyai panti rehab khususnya
yang menampung penyandang disabilitas.9 Pada temuan inti dari penelitian
yang dilakukan pada tahun 2006 dan 2007 oleh Save the Children dan
Kementerian Sosial (Kemensos) dengan dukungan dari UNICEF, yang
dilakukan di enam Provinsi terkait realitas pengasuhan di Panti Sosial Asuhan
Anak (PSAA). Penelitian ini menemukan bahwa pengurus panti tidak
memiliki pengetahuan memadai tentang situasi anak yang seharusnya diasuh
7
http://tangselmedia.com/dinsosnakertrans-gelar-kursus-tata-rias-penyandang-disabilitas.html. Diakses pada 4 Agustus 2016.
8
http://tangerangrayaonline.com/2016/04/20/di-tangsel-penyandang-disabilitas-bakal-diberi-pelatihan/. Diakses pada 4 Agustus 2016.
9
http://www.kompasiana.com/mams/penyandang-disabilitas-kejiwaan-dan-orang-terlantar-tangsel-butuh-panti-rehab-dan-rumah-singgah_552815956ea834172b8b45fa.
di dalam panti, dan pengasuhan yang idealnya diterima anak.10 Ini
membuktikan begitu pentingnya penggalian layanan pengasuhan yang baik
bagi anak binaan melalui evaluasi terkait program Parenting Skill yang
diberikan oleh Unit atau Lembaga terkait, termasuk Unit Layanan Disabilitas.
Terkait dengan pelayanan yang diterapkan oleh Unit Layanan Disabilitas, sangat penting untuk diketahui bagaimana fungsi pengasuhan yang ada melalui tahapan evaluasi hasil dari program Parenting Skill yang disediakan. Karena fungsi pengasuhan sangatlah penting melihat ini juga adalah tanggungjawab negara dan instansi yang diberi izin dan tanggungjawab untuk melindungi hak dan menjamin pengasuhan alternatif yang sesuai. Berdasarkan fakta dan data di atas tentang realitas layanan untuk penyandang Disabilitas yang diberikan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk penyandang Disabilitas masih minim. Unit Pelayanan Disabilitas (UPD), yang merupakan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di Kota Tangerang Selatan, menjadi mitra yang dapat membantu khususnya Pemerintah Kota Tangerang Selatan, dalam memberikan pelayanan bagi penyandang Disabilitas di Kota Tangerang Selatan, yang mana UPD juga adalah suatu upaya pemerintah guna pelayanan terhadap penyandang disabilitas11. Dengan demikian sangat penting untuk diketahui bagaimana realitas layanannya utamanya fungsi pengasuhan yang tertuang dalam program Parenting Skill, karena sebenarnya fungsi Parenting Skill sangatlah penting dalam upaya penanganan APD yang justru
10Buku Standar Nasional Pengasuhan Anak Untuk Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak
, Kementerian Sosial Republik Indonesia. (Jakarta: 2011). H. 3.
11 Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Peksos
seringkali terabaikan. Melihat harapan besar kedepan yaitu UPD akan lebih dikembangkan atau menjadi Pilot Project yang nantinya akan dimaksimalkan keberadaannya, berupa UPD baru di setiap domisili atau berupa ULD yang serupa di Kota Tangerang Selatan. Untuk itu penting sekali menggali bagaimana layanan UPD atau evaluasi hasil melalui program Parenting Skill, agar jika UPD sudah berkembang dan melebarkan sayap guna pembentukan ULD yang serupa. Layanan yang diberikan akan semakin baik dan ideal.
Berdasarkan paparan masalah di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian yaitu ”EVALUASI HASIL PROGRAM PARENTING SKILL UNIT PELAYANAN DISABILITAS (UPD) YAYASAN SAYAP IBU (YSI) CABANG PROVINSI BANTEN TERHADAP ANAK BINAAN”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Program Parenting Skill Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten Terhadap Anak Binaan.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah serta eksplorasi permasalahan pada latar belakang diatas. Maka pertanyaan mendasar dalam Evaluasi Hasil Program Parenting Skill Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten Terhadap Anak Binaan, yang ingin dijawab dan dituangkan dalam skripsi ini adalah :
a) Bagaimana Deskripsi Program Parenting Skill Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten terhadap anak binaan?
b) Bagaimana Evaluasi Hasil Program Parenting Skill Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten terhadap anak binaan?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penelitian skripsi ini adalah :
b) Untuk mendeskripsikan Bagaimana Evaluasi Hasil Program Parenting Skill Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten terhadap anak binaan.
1. Manfaat Penelitian a) Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan bagi mahasiswa Kesejahteraan Sosial tentang Evaluasi Hasil Program Parenting Skill Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten terhadap anak binaan. Serta dapat dijadikan sebagai bahan referensi atau bahan kepustakaan bagi pengembangan ilmu Kesejahteraan Sosial.
b) Manfaat Praktis
Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten yang lebih baik.
D. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawanya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.12
2. Jenis Penelitian
Bogdan dan Taylor dalam Syamsir Salam menjelaskan bahwa metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.13
3. Model dan Ruang Lingkup Evaluasi
Untuk melakukan evaluasi hasil program parenting skill di UPD Tangsel, peneliti mengambil model evaluasi program dari Pietrzak, Ramler,
12
Prof.Dr. Sugiyono, Memahami penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta,2009),cet: 5, h.1.
13
Ford dan Gilbert dengan tipe evaluasi hasil.14 Yang diarahkan kepada evaluasi keseluruhan dampak terhadap penerima layanan, dengan pertanyaan kunci pencapaian tujuan.15 serta perubahan yang dirasakan oleh penerima layanan. Dalam hubungannya dengan kriteria keberhasilan yang digunakan untuk suatu proses evaluasi, peneliti menggunakan 2 indikator dari 8 indikator yang dikemukakan oleh Feurstein, yaitu indikator efisiensi dan pemanfaatan.16 Peneliti juga mengambil dari modul anak dengan disabilitas yang dipakai oleh UPD dalam pelaksanaan program Parenting Skill, guna mengetahui perubahan yang dirasakan oleh penerima layanan atau wali dan anak binaan UPD.
4. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah penerima manfaat atau anak binaan UPD, dan obyek dalam penelitian ini adalah hasil program parenting skill UPD Tangsel. Obyek dalam kualitatif adalah obyek yang alamiah atau natural setting, sehingga metode penelitian ini sering disebut sebagai metode naturalistik.
5. Tempat dan Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilakukan di Unit Pelayanan Disabilitas yang bertempat di Jl. Kenanga No.10, Komplek Perumahan Ciputat Baru
14
BAB II h.7.
15
BAB II h.11.
16
Kelurahan Sawah, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (15413). Sedangkan waktu penelitian dari Bulan September 2016 sampai dengan bulan Februari 2017.
6. Teknik Pemilihan Informan
Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah purposive (bertujuan) sampling yang memberikan keleluasaan kepada peneliti dalam menyeleksi informan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Karena purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan
pertimbangan tertentu.17 Dan apabila dalam proses pengumpulan data sudah tidak lagi ditemukan variasi informan maka peneliti tidak perlu untuk mencari informan baru, proses pengumpulan informasi sudah selesai. Peneliti menganggap bahwa Kepala UPD sebagai tumpuan atas apa yang berkaitan dengan UPD, Divisi Organisasi dan Program, Fasilitator dan Pekerja Sosial yang bertugas di UPD perlu untuk menjadi informan. Lalu wali anak binaan dan anak binaan UPD yang menjadi sasaran atas program parenting skill di UPD.
Berikut ini tabel subjek dan informan dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian.
Tabel 1
Informan Evaluasi Hasil Program Parenting Skill
17
No Informan Informasi
Yang Dicari
Metode Jumlah Alasan
1. KepalaUnit
Sebagai penentu kebijakan
pelaksanaan program Parenting Skill
yang ada di UPD
2. Divisi Organisasi
dan Program Wawancara 1 Orang
Sebagai pelaksana teknis dan
kontroling program Parenting Skill.
3. Tutor atau
Fasilitator Wawancara 1 Orang
Sebagai pelaksana program Parenting
Skill dan merasakan bagaimana
layanan Unit Pelayanan Disabilitas
(UPD) Yayasan Sayap Ibu Cabang
Provinsi Banten
4. Pekerja Sosial
Wawancara 1 Orang
Sebagai pihak netral atas pelaksanaan
program dan layanan yang ada di Unit
Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan
Sayap Ibu Cabang Provinsi Banten
5. Wali Anak Binaan
4 Orang Sebagai pihak netral dan sebagai pihak
ke 3 dari pelaksanaan program
4 Orang Sebagai objek utama penerima manfaat
7. Sumber Data
Sumber data yang diambil oleh peneliti ini terdapat dua data, yaitu data primer (pokok) dan data sekunder (pendukung).
a) Data primer adalah data yang belum tersedia, sehingga untuk menjawab masalah penelitian, data harus diperoleh dari sumber aslinya. Diperoleh melalui wawancara Kepala UPD, Div Organisasi dan Program, Fasilitator, Peksos, 4 orang wali anak binaan dan anak binaan. Melalui observasi dan studi dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti. b) Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan-catatan, surat kabar atau media kabar, dokumen yang berkaitan dengan penelitian.18 Seperti isu-isu yang terjadi di Indonesia melalui pemberitaan online, surat kabar atau Koran yang membahas mengenai permasalahan Parenting Skill dalam ranah disabilitas.
8. Teknik Pengumpulan Data
Adapun untuk pelaksanan penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui:
a) wawancara
Interview atau wawancara, merupakan suatu alat pengumpulan
informasi secara langsung tentang beberapa jenis data.19 Pelaksanaannya dapat dilakukan secara langsung berhadapan dengan yang diwawancarai, tetapi dapat juga secara tidak langsung seperti
18
Jamal Arifin, Teknik Penarikan Sample Dan Pengumpulan Data, (Jakarta, 2005) h.17.
19
memberikan daftar pertanyaan untuk dijawab pada kesempatan lain. Instrumen dapat berupa pedoman wawancara maupun checklist.20 Diperoleh melalui wawancara Kepala UPD, Div Organisasi dan Program, Fasilitator, Peksos, 4 orang wali anak binaan dan anak binaan.
b) Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan dengan menggunakan pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit. Oleh karena itu observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya, melalui hasil kerja pancaindra mata serta dibantu dengan pancaindra lainnya.21 Pengamatan yang dilakukan peneliti adalah mendatangi langsung ke lokasi penelitian, kemudian mengamati program parenting skill di UPD. Melalui pencatatan apa yang terlihat, didengar dan diraba kemudian penulis tuangkan dalam laporan penulisan skripsi sesuai data yang dibutuhkan. Teknik ini menuntut adanya pengamatan dari si peneliti baik secara langsung ataupun tidak langsung terhadap objek penelitiannya. Instrumen yang dipakai dapat berupa lembar pengamatan, panduan pengamatan dan lainnya.22
20
Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis Edisi Kedua (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), h. 24.
21
Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Linnya, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 115.
22
c) Studi Dokumentasi
Studi dokumen merupakan perlengkapan dari pengguna metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumen yang dimaksud seperti buku data anak binaan UPD, brosur UPD dan dokumen lainnya. Serta dokumentasi yang berkaitan dengan kegiatan program parenting skill di Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) Yayasan Sayap Ibu (YSI) Cabang Provinsi Banten. Pengumpulan dokumen untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi sosial dan arti berbagai faktor di sekitar subjek penelitian.23
9. Teknik Analisa Data
Menurut Bogdan bahwa analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.24
10. Teknik Keabsahan Data
Teknik pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini memiliki kriteria, yaitu :
23
Heribertus B. Sutopo, Metodologi Penelitian Kualitatif: Metodologi penelitian untuk Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya (Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 1996), h. 36.
24
a) Kredibilitas dengan teknik triangulasi yaitu memeriksa keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Misalnya, membandingkan keadaan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain. Kemudian juga membandingkan hasil wawancara dengan dokumen maupun dokumentasi yang berkaitan. Dalam hal ini penulis melakukan perbandingan wawancara dari informan satu ke informan lain dan juga melakukan wawancara terhadap hasil dari obsevasi yang penulis lakukan.
b) Ketekunan/ keajegan pengamatan dengan maksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari, kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci, atau dengan kata lain peneliti hanya memusatkan jawaban sesuai dengan rumusan masalah saja.
E. Tinjauan Pustaka
dalam penelitian ini peneliti meneliti UPD yang juga adalah UPT atau ULD bentukan YSI.
Juga dari Jurnal Instruksional Psikologi, Edisi September 2001 Oleh Jennifer Neal, Donna Frickhorbu, menghasilkan bahwa pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak tetapi juga bagi orangtua. Pengasuhan sebagai sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi dan interaksi yang dilakukan orangtua untuk mendukung perkembangan anak. Ini mendukung bagaimana penelitian yang diambil oleh peneliti tentang bagaimana pengaruhnya program parenting skill atau pengasuhan terhadap anak dari orangtuanya atau dalam penelitian ini adalah wali anak binaan.
yakni skripsi tersebut menggunakan variabel yang sama yaitu berfokus pada Evaluasi Program lembaga yang sedang diteliti.
Peneliti juga melakukan tinjauan pustaka dari skripsi Bani Fauziyyah Jehan, Nim 1110054100030, Tahun 2014, Jurusan Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan Judul Efektifitas Kegiatan Parenting Skill Dalam Pemberdayaan Keluarga Anak Jalanan Di Pusat Pengembangan Pelayanan Sosial Anak Atau Social Development Centre For Children (Sdc). Bedanya adalah objek penelitiannya yaitu di pusat pengembangan pelayanan sosial anak atau social development centre for children (sdc), sedangkan penulis mengambil objek penelitiannya yaitu Unit Pelayanan Disabilitas Kota Tangerang Selatan. Persamaannya adalah, sama-sama meneliti tentang Program Parenting Skill.
F. Teknik Penulisan
Untuk tujuan mempermudah, teknik penulisan yang dilakukan dalam skripsi ini merujuk pada buku pedoman penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang disusun oleh tim UIN Jakarta Press. Cet. Ke 2, tahun 2008.
G. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN mencakup tentang Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II KAJIAN TEORITIS mengenai pokok pembahasan meliputi : Pengertian Evaluasi, Pengertian dan Tujuan Program, Pengertian Evaluasi Program, Model Evaluasi Program, Indikator Evaluasi, Tujuan dan Pentingnya Evaluasi, Pengertian Parenting Skill, Fungsi Parenting, Pengertian Anak Penyandang Disabilitas, Pengertian Anak Penyandang Disabilitas Ganda.
BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA menjelaskan tentang Profil Lembaga, Sejarah Singkat Unit Pelayanan Disabilitas, Visi dan Misi, Kegiatan Unit Pelayanan Disabilitas, Jaringan kerjasama, Susunan Organisasi, Pendanaan Unit Pelayanan Disabilitas, Sarana dan Prasarana.
terhadap anak binaan yang disesuaikan dengan tinjauan teoritis pada bab dua.
22 BAB II
LANDASAN TEORI
A.Evaluasi Program 1. Pengertian Evaluasi
Menurut bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa inggris Evaluation. “Evaluation berarti menilai sesuatu produk sehingga dapat digambarkan sebagai pengembangan suatu proses dan dalam hal ini putusan nilai mengambil peranan penting sehingga evaluasi dalam arti luas menyangkut segala proses yang diteliti.”25
Menurut istilah, “evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk
mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.”26
Menurut etimologi, “evaluasi adalah penaksiran,
perkiraan keadaan, dan penentuan hasil.”27 Sedangkan terdapat beberapa definisi evaluasi menurut para ahli mengenai evaluasi sebagai berikut:
a) Menurut Sriven (1976) evaluasi dapat mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi formatif dan sumatif. Formatif dan sumatif sebagai fungsi evaluasi yang utama. Fungsi formatif yaitu evaluasi yang dipakai untuk perbaikan dan
25Suryanta Rafi’I,
Teknik Evaluasi, (Bandung: Angkasa, 1988), Cet. Ke-10, h.10.
26
M.Chatib Toha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 1991), Cet Ke-1, h.1.
27
pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (program, orang, produk dan sebagainya). Fungsi sumatif yaitu evaluasi dipakai untuk pertanggungjawaban, keterangan, seleksi atau lanjutan. jadi, evaluasi hendaknya membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.28
b) Worthen dan Sanders (1973, dalam Anderson 1971) mendefinisikan evaluasi adalah kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu, dalam mencari sesuatu tersebut juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, juga alternatif strategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan.
c) Casley dan Kumar mendefinisikan evaluasi sebagai suatu penilaian berkala terhadap relevansi, kinerja, efisiensi dan dampak dari suatu proyek dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
d) Fink dan Kosecoff juga mendefinisikan evaluasi sebagai serangkaian prosedur untuk menilai mutu suatu program
28
dan menyediakan informasi tentang tujuan, aktifitas, hasil, dampak dan biaya program.
e) Gosling dan Edward mendefinisikan evaluasi sebagai penilaian yang dilakukan pada waktu tertentu terhadap dampak dari serangkaian kegiatan dimana tujuan yang telah ditetapkan tercapai.29
Dari definisi di atas, penulis sependapat dengan definisi yang diutarakan oleh Fink dan Kosecoff yang mendefinisikan evaluasi sebagai serangkaian prosedur untuk menilai mutu suatu program dan menyediakan informasi tentang tujuan, aktifitas, hasil, dampak dan biaya program. Jadi dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh evaluator untuk menilai berhasil atau tidaknya suatu program guna keputusan atau keberlanjutan program yang lebih baik kedepannya. Evaluasi dibutuhkan dalam setiap program untuk mengetahui keberhasilan dan kemajuannya serta target yang direncanakan sudah tercapai atau belum, sehingga hasilnya nanti dapat diperbaiki pada program selanjutnya. Serta agar tidak terjadi lagi kesalahan atau kekurangan serupa yang menyebabkan terhambat dan tersumbatnya suatu program untuk dijalankan.
2. Model Evaluasi Program
Model evaluasi ialah model desain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi yang biasanya dinamakan sama
29
dengan pembuatnya atau tahap pembuatannya. Model ini dianggap model standar atau dapat dikatakan merek standar dari pembuatannya.30 Terdapat model evaluasi CIPP (Contect, Input, Process, Product), yang telah dikembangkan oleh Daniel L.Stuflebem, adapun penjelasannya sebagai berikut:
a) Contect evaluation to serve planning decision. Konteks evaluasi ini berfungsi untuk membantu merencanakan suatu keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh suatu program, serta untuk merumuskan tujuan program. Evaluasi ini juga merupakan suatu upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani serta tujuan dari suatu proyek.
b) Input evaluation, structuring decision. Evaluasi ini menolong mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi yang digunakan untuk mencapai kebutuhan. Serta bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya.
c) Process evaluation, to serve implementing decision. Evaluasi proses berfungsi untuk membantu mengimplementasikan keputusan. Sampai sejauh mana rencana tersebut telah diterapkan, dan apa yang harus
30
direvisi. Begitu pertanyaan tersebut terjawab, maka prosedur dapat dimonitor, dikontrol dan diperbaiki. d) Product evaluation, to serve recycling decision. Evaluasi
produk ini digunakan untuk menolong keputusan selanjutnya. Apa hasil yang telah dicapai? Apa yang dilakukan setelah suatu program berjalan? Serta mengenai pertanyaan apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai?.31
Terdapat juga Model evaluasi program yang akan dikemukakan oleh Pietrzak, Ramler, Ford, Gilbert. Mereka mengemukakan tiga tipe evaluasi guna mengawasi program secara lebih seksama, yaitu:
a) Evaluasi Input
Evaluasi ini memfokuskan pada berbagai unsur yang masuk dalam pelaksanaan suatu program. Tiga unsur utama yang terkait dengan evaluasi input adalah klien, staff, program. Pietrzak dkk, menjelaskan bahwa variabel klien meliputi karakteristik demografi klien, seperti susunan keluarga dan beberapa anggota keluarga yang ditanggung. Variabel staff meliputi aspek demografi dari staff seperti: latar belakang pendidikan staff dan pengalaman staff.
31
Sedangkan variabel program meliputi aspek tertentu, seperti layanan yang diberikan dan sumber rujukan yang tersedia. Dalam kaitan evaluasi input program pietrzak mengemukakan empat kriteria yang dapat dikaji, baik sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan. Kriteria tersebut adalah: 1) Tujuan dan objektif, 2) Penilaian terhadap kebutuhan komunitas, 3) Standar dari suatu praktek yang terbaik; 4) Biaya per unit layanan.
b) Evaluasi Proses
Dalam evaluasi ini menurut Pietrzak dkk, memfokuskan diri pada aktifitas program antara klien dengan staff terdepan yang merupakan pusat dari pencapaian tujuan program. Tipe evaluasi ini diawali dengan analisis dari sistem pemberian layanan, hasil analisis harus dikaji berdasarkan kriteria yang relevan seperti standar praktek terbaik, kebijakan lembaga, tujuan proses dan kepuasan klien.
c) Evaluasi Hasil
menjadi berbeda setelah ia menerima layanan tersebut? Kriteria keberhasilan ini akan dikembangkan sesuai dengan kemajuan suatu program atau terjadi perubahan perilaku dari klien. Pertanyaan kunci yang ingin dijawab dalam evaluasi ini adalah:
1) Apakah tujuan pelayanan pada klien tercapai pada tingkat yang sesuai dengan yang diharapkan?
2) Apakah program menghasilkan perubahan pada penerima layanan?32
Model evaluasi program yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah model evaluasi menurut Pietrzak, Ramler, Ford, Gilbert. Mereka mengemukakan tiga tipe evaluasi guna mengawasi program secara lebih seksama, yaitu evaluasi input, proses dan hasil. Namun peneliti hanya mengambil evaluasi hasil saja dalam penelitian ini.
3. Indikator Dalam Evaluasi
Dalam hubungan dengan kriteria keberhasilan yang digunakan untuk suatu proses evaluasi, peneliti menggunakan dua indikator dari delapan indikator yang dikemukakan oleh Feurstein. Indikator yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini untuk mengevaluasi kegiatan:
32
a) Indikator efisiensi, indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktivitas yang dilaksanakan guna mencapai tujuan dimanfaatkan secara tepat guna mencapai tujuan dimanfaatkan secara tepat guna atau tidak memboroskan sumber daya yang ada dalam mencapai tujuan.
b) Indikator pemanfaatan, indikator ini melihat seberapa banyak suatu layanan yang sudah disediakan oleh pemberi layanan dipergunakan oleh kelompok sasaran.33
4. Pentingnya Evaluasi
Menurut Toseland dan Rivas, 1984 (dalam Ashman, 1993) menyebutkan pentingnya evaluasi dalam praktek pekerjaan sosial:
a) Dapat memberikan pemahaman kepada pekerja sosial tentang dampak dari praktek pertolongan yang telah dilakukannya. b) Dapat memberikan umpan balik kepada pekerja sosial dalam
meningkatkan keterampilannya dalam bekerja sama dengan klien.
c) Dapat menunjukkan kemanfaatan program-program yang dilaksanakan yang berguna untuk perbaikan program di masa yang akan datang.
d) Menjadi media untuk memahami kemajuan-kemajuan yang telah dicapai klien.
33
e) Dapat menjadi media bagi klien untuk mengekspresikan sikap, harapan, serta pandangan-pandangannya.
f) Dapat menjadi media untuk mengembangkan pengetahuan yang bermanfaat bagi praktek orang lain.34
Sedangkan menurut Feurstein, menyatakan ada 10 alasan mengapa evaluasi perlu dilakukan, yaitu?
a) Pencapaian, guna apa yang sudah dicapai.
b) Mengukur kemajuan yakni melihat kemajuan dikaitkan dengan objek program.
c) Meningkatkan pemantauan agar tercapai manajemen yang lebih baik.
d) Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan agar dapat memperkuat program itu sendiri.
e) Melihat apakah usaha sudah dilakukan secara efektif guna melihat perbedaan apa yang telah terjadi setalah diterapkan suatu program.
f) Biaya dan melihat apakah biaya yang dikeluarkan cukup masuk akal.
g) Mengumpulkan informasi, guna merencanakan dan mengelola kegiatan program secara lebih baik.
h) Berbagi pengalaman, guna melindungi pihak lain terjebak dalam kesalahan yang sama atau untuk mengajak seseorang untuk ikut
34
melaksanakan metode yang serupa bila metode yang dijalankan telah berhasil dengan baik.
i) Meningkatkan keefektifan, agar dapat memberikan dampak yang lebih kuas.
j) Memungkinkan terciptanya perencanaan yang lebih baik. Karena memberikan kesempatan untuk mendapatkan masukan dari masyarakat, komunitas fungsional dan komunitas lokal.35
5. Pengertian dan Tujuan Program
Menurut pengertian secara umum, “program dapat diartikan sebagai rencana. Pengertian program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan maka program merupakan sebuah sistem, yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan bukan hanya satu kali melainkan berkesinambungan.”36
Program dalam pandangan seorang ahli yakni Suharsimi Arikunto adalah “sederetan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai satu tujuan tertentu. Oleh karena itu suatu program merupakan kegiatan yang direncanakan maka tentu saja perencanaan program itu bertujuan dan keberhasilannya dapat diukur”37
35
Ibid., Isbandi Rukminto, Adi, Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervesi Komunitas (Pengantar Pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis), h. 127.
36
Suharsimi Arikunto, Penilaian Program Pendidikan, (yogyakarta: Bina Aksara, 1998), h.8.
37
6. Pengertian Evaluasi Program
Tanpa evaluasi, keberhasilan dan kegagalan program tidak dapat diketahui. “evaluasi program adalah upaya untuk mengetahui tingkat
keterlaksanaan suatu kebijakan secara cermat dengan cara mengetahui efektivitas masing-masing komponennya.”38 Definisi evaluasi program menurut dua ahli yakni Cronbach dan Stufflebeam mengemukakan bahwa “evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan
kepada pengambil keputusan. Sehubungan dengan definisi tersebut meskipun evaluator menyediakan informasi, evaluator bukanlah pengambil keputusan tentang suatu program.”39
7. Unsur-Unsur Evaluasi program
a) Pertama, yaitu proses evaluasi, dimana langkah pada proses evaluasi adalah penyediaan informasi, menggambarkan dengan menaksir dan memperkirakan keadaan, mengukur keberhasilan serta mencari penyebab dari kegagalan dan keberhasilan, melakukan penilaian secara berkala dengan waktu yang ditentukan dan dengan cara mengkritisi program.
b) Kedua, yaitu kaitan evaluasi dengan ilmu. Kaitan evaluasi program dengan ilmu pengetahuan bahwa ia merupakan salah satu tipe yang khusus dari penelitian ilmu sosial dan terapan. Evaluasi program juga
38
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan; Pedoman Teoritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004), h. 7.
39
menerapkan prosedur penelitian sosial yang sistematis, oleh karenanya evaluasi program dinyatakan menggunakan pendekatan formal.
c) Ketiga, yaitu objek dari evaluasi program adalah program itu sendiri. d) Keempat, yaitu manfaat evaluasi dimana evaluasi dapat membuat
keputusan penting tentang program tersebut.40
B.Parenting Skill
1. Pengertian Parenting Skill
Skill berasal dari bahasa Inggris yang berarti keahlian. Keahlian adalah kemampuan khusus yang dihasilkan dari pengetahuan, informasi, praktik dan kecerdasan.41 Dan parenting dalam bahasa Inggris berarti pengasuhan. Sri Lestari mengungkapkan istilah asuh sering dirangkaikan dengan asah dan asih menjadi Asah-Asih-Asuh. Mengasah berarti melatih agar memiliki kemampuan atau kemampuannya meningkat. Mengasihi berarti mencintai dan menyayangi. dengan rangkaian kata asah-asih-asuh, maka pengasuhan anak bertujuan untuk meningkatkan atau mengembangkan kemampuan anak dan dilakukan dengan dilandasi rasa kasih sayang tanpa pamrih.42
Menurut Jerome Kagan, seorang psikolog perkembangan, mendefinisikan pengasuhan (Parenting) sebagai serangkaian
40
Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Cepi Syarifudi Abdul Jabar, M.Pd. Evaluasi Program Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta: 2009, h. 10-11.
41
Snell Bateman, Manajemen 1, Kepemimpinan dan Kolaborasi dalam Dunia yang kompetitif edisi 7, (Jakarta: Saleba 4, 2008), h. 27.
42
keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orangtua atau pengasuh agar anak mampu bertanggungjawab dan memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat termasuk juga apa yang harus dilakukan orangtua aau pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong dan tidak melakukan kewajibannya dengan baik.43 Berns dalam jurnal instruksional psikologi menyebutkan bahwa pengasuh merupakan sebuah proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak tetapi juga bagi orangtua. Senada dengan Berns, Brooks dalam jurnal yang sama juga mendefinisikan pengasuhan sebagai sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi dan interaksi yang dilakukan orangtua untuk mendukung perkembangan anak.44
Apabila kata Parenting dan Skill digabungkan maka akan membentuk sebuah arti yaitu keahlian dalam mengasuh anak yang dilakukan dengan serangkaian aksi dan interaksi, Parenting Skill membuat kesadaran pengasuhan yang diikuti oleh kesediaan melakukan peneraan diri (self assesment). Dengan melakukan peneraan diri, orangtua akan dapat mengukur seberapa kadar kontrol dan penerimaan yang dilakukan terhadap anak. Dengan memiliki kesadaran pengasuhan, maka pelaksanaan tugas
43
Bani Fauziyyah Jehan (Skripsi ektifitas kegiatan parenting skill dalam pemberdayaan keluarga anak jalanan di pusat pengembangan pelayanan sosial anak atau Social Development Centre For Children (SDC)), h.23.
44 Jurnal Instruksional Psikologi,
pengasuhan anak yang menghabiskan waktu dan melelahkan tidak terasakan sebagai beban.45
Melihat beberapa definisi diatas tentang pengasuhan, peneliti cenderung kepada definisi pengasuhan dari Berns yang menunjukkan konsep pengasuhan meliputi beberapa pengertian pokok, antara lain: pengasuhan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang terus menerus antara orangtua dengan anak. Dan parenting sebagai sebuah proses ineraksi dan sosialisasi, pross pengasuhan tidak bisa dilepaskan dari sosial budaya dimana anak dibesarkan.
2. Fungsi Parenting
Parenting mempunyai fungsi yang penting dalam tumbuh kembang anak sehingga anak merasa bahwa orantua selalu ada di saat anak membutuhkan. Ada empat fungsi utama parenting. 46
a) Membentuk Kepribadian Anak
Pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak akan mempengaruhi proses pembentukan kepribadian anak. Anak yang hidup di dalam keluarga dengan pola asuh demokratis akan membentuk kepribadian anak yang baik
45
Sri Lestari, Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 46.
46
sedangkan anak yang hidup dengan pola asuh otoriter akan terbentuk dengan kepribadian keras dan pemberontak. b) Membentuk Karakter Anak
Pembentukan karakter anak sangat dipengaruhi pola asuh yang diberikan orang tua. Anak yang berkarakter baik tumbuh di dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan memiliki jalinan komunikasi dua arah.
c) Membentuk Kemandirian Anak
Anak yang tumbuh dengan kemandirian diperoleh dari cara pengasuhan orang tua yang mengasah kemandiriannya sejak dini. misalnya di saat balita diperbolehkan makan sendiri meskipun makanan berceceran Anak-anak juga diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya di dalam keluarga.
d) Membentuk Akhlak Anak
Akhlak anak yang baik dapat terbentuk dari cara pengasuhan orang tua yang memperkenalkan agama, kesopanan, budi pekerti dan tingkah laku yang baik sejak dini. Anak cenderung memperhatikan tingkah laku orang tua sehari-hari dan menirunya.47
47
Pada intinya, baik lembaga maupun masyarakat mampu melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kapasitas orangtua dalam mengasuh APD. Termasuk dengan membuat program Parenting Skill dengan tujuan penguatan pengasuhan (good parenting).48
3. Pengasuhan yang baik (good parenting)
Pengasuhan yang baik bagi APD adalah orangtua dengan cara :
a) Mengikuti proses perkembangan anak, dengan memberikan perawatan dasar, misalnya: makan, pakaian, alas tidur, memberikan kasih sayang dan perhatian, rasa aman dan nyaman. Memberikan stimulasi, misalnya: diajak bicara, merespon keinginan anak. Memberikan bimbingan tentang nilai-nilai yang baik dan tidak baik.
b) Memberikan kesempatan pada APD untuk memperoleh pelayanan sosial dasar (akte kelahiran, kesehatan, dan pendidikan). Memberikan kesempatan anak bermain dengan teman sebaya di lingkungan tempat tinggalnya. Pengasuhan yang permanen yaitu APD memperoleh pengasuhan yang tetap dalam keluarga inti.49
48
Model Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak Penyandang Disabilitas Berbasis Keluarga dan Masyarakat, Sub Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak Dengan Kecacatan, Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial Repulik Indonesia. Cet. November 2005. h.44.
49
Dalam modul anak dengan disabilitas yang dipakai oleh UPD dalam pelaksanaan program Parenting Skill terdapat isi modul yang digunakan dalam materi penyampaian yaitu:
1. Modul 1 (memahami ADK dalam keluarga), membahas tentang : a. Deteksi dini
b. Hak ADK
c. Menjadi orangtua ADK.
2. Modul 2 (membimbing ADK) membahas tentang : a. Memahami perilaku ADK.
b. Perawatan dan aktifitas ADK sehari-hari. c. Menghadapi pubertas ADK.
3. Modul 3 (dukungan pengasuhan keluarga ADK).
C.Anak Penyandang Disabilitas (APD)
Anak penyandang disabilitas (APD) adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual dan sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh berdasarkan kesamaan hak. Adapun jenis disabilitas yaitu:50
50
a) Disabilitas fisik
Disabilitas ini berhubungan dengan kerusakan atau kelainan pada tulang, sendi, dan otot atau sistem syaraf. Secara garis besar disabilitas fisik terdiri atas disabilitas tubuh atau daksa.
b) Disabilitas mental
Disabilitas mental mengacu pada ketidakberfungsian intelektual yang disertai ketidakmampuan adaptasi perilaku dan terjadi selama masa perkembangan.
c) Disabilitas intelektual
Merupakan suatu pengertian yang mencakup berbagai kekurangan intelektual, keterbelakangan mental. Contohnya adalah seorang anak yang mengalami keterlambatan belajar (slow leaner). d) Disabilitas sensorik
Merupakan gangguan yang terjadi pada salah satu indera biasanya mengacu pada gangguan pendengaran, pengelihatan dan indera lainnya juga bisa terganggu.
e) Disabilitas ganda
Adalah anak yang memiliki dua atau lebih disabilitas, misalnya disabilitas fisik dan mental, dan atau disabilitas sensorik. Sehingga diperlukan pendampingan, pelayanan, pendidikan dan alat bantu yang khusus.51
51
BAB III
GAMBARAN UMUM A. Profil Unit Pelayanan Disabilitas
Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) diresmikan pada tanggal 11 Februari 2015 oleh walikota Tangerang Selatan. Dalam peresmian tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Sosial Republik Indonesia, Dinas Sosial Kota Tangerang Selatan, serta beberapa pejabat Kecamatan Ciputat seperti Camat, Lurah juga tokoh- tokoh masyarakat di wilayah tersbut. Secara langsung Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) terbentuk atas kerjasama beberapa pihak seperti Yayasan Sayap Ibu Bintaro, Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Dinas Sosial Kota Tangerang Selatan, Dan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Dalam menjalankan program lembaga unit pelayanan disabilitas (UPD) ini menggunakan standar layanan yang diterapakan oleh Yayasan Sayap Ibu Bintaro, yaitu memberikan pelayanan pada kebutuhan dasar & pendidikan (terapi dan sekolah untuk anak), aksesibilitas kesehatan (bantuan nutrisi, rujukan rumahsakit, pemenuhan alat bantu disabilitas), serta bimbingan & pelatihan Parenting Skill (penyuluhan sosial, hydrotherapy, fisioterapi). Alur pengambilan keputusan yang diterapkan oleh Unit Pelayanan Disabilitas telah diwewenangkan kepada Ketua Lembaga Unit Pelayanan Disabilitas yaitu bapak Adi Supanggih. Kebijakan bisa diusulkan termasuk Staff dan Guru yang ada di Unit Pelayanan Disabilitas tetapi keputusan tetap
dirapatkan bersama, namun keputusan akhir tetap di wewenangkan kepada ketua Lembaga.
Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) merupakan bagian atau cabang pembantu dari Yayasan Sayap Ibu cabang Provinsi Banten dalam memberikan pelayanan pada anak penyandang disabilitas. Yayasan Sayap Ibu sendiri berstatus sebagai lembaga terdaftar di Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kota Tangerang Selatan dengan Nomor 460/2542-81/BANJAMSOS/VII/2014. Serta diperkuat dengan legalitas AD/ART: C-1051.HT.01.02.TH.TH 2004, Akte Notaris: No. 7 / Tgl. 13 Agustus 2004, Terdaftar pada: Notaris Wenda Taurusita Amidjaja, SH dan NPWP: 01.325.091.5-542.000.
Berdasarkan status kepemilikan Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) yang merupakan bagian atau cabang pembantu dari Yayasan Sayap Ibu Cabang Provinsi Banten, berstatus sebagai Milik Masyarakat dengan pergantian pengurus setiap 5 tahun sekali atau sama dengan model status kepemilikan yang berlaku di Yayasan Sayap Ibu Cabang Provinsi BantenUnit Pelayanan Disabilitas (UPD) terletak di Jl.Kenanga No.10 Komplek Perumahan Ciputat Baru Kelurahan Sawah, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan 15413. Berikut adalah kontak dari Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) :
Email : [email protected] Website : www.sayapibubintaro.org Facebook : UPD Tangsel YSI Bintaro
Twitter : @sayapibubintaro
B. Visi dan Misi serta Tujuan Unit Pelayanan Disabilitas 1. Visi
Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) adalah sebuah wadah yang dibentuk untuk menjangkau anak – anak penyandang disabilitas di wilayah Kabupaten/ Kota Tangerang Selatan, dengan impelementasi pada standar layanan yang diberikan oleh Yayasan Sayap Ibu cabang Provinsi Banten. Visi dari Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) adalah memastikan setiap anak mendapatkan hak atas kehidupan yang layak, serta mencegah terjadinya penelantaran yang dapat dilakukan oleh pihak manapun terhadap anak penyandang disabilitas, dengan cara melakukan upaya untuk mewujudkan kesejahteraan anak yang holistik berkesinambungan serta penuh kasih sayang.
2. Misi dan Tujuan
kesehatan serta sosialisasi di masyarakat, juga menjalin kemitraaan dengan berbagai pihak yang bertujuan terciptanya masyarakat inklusif.
C. Jumlah Klien, Jumlah dan Kualitas Sarana & Prasarana 1. Deskripsi dan Tipe Klien.
Jumlah klien yang terdata di Unit Pelayanan Disabilitas berjumlah 96 orang, namun dari data tersebut yang aktif untuk datang ke Unit Pelayanan Disabilitas hanya berkisar 20 hingga 30 orang saja. Untuk klien yang berada di Unit Pelayanan Disabilitas secara garis besar memiliki tingkat disabilitas tergolong berat, identik dengan Yayasan Sayap Ibu dengan disabilitas ganda, majemuk dengan beragam disabilitas. Unit Pelayanan Disabilitas juga memiliki klien tergolong ringan, namun dirasa minoritas. Untuk jenis disabilitas yang ditangani oleh Unit Pelayanan Disabilitas beragam, yang tergolong berat CP (Celebral Palsy), selebihnya down syndrome, autis, epilepsy, hidrocepalus.
2. Gedung
untuk melakukan kegiatan dan juga program yang harus dijalankan. Namun disisi lain Unit Pelayanan Disabilitas terus berbenah, dengan gedung yang kurang mencukupi untuk melakukan kegiatan operasional, Unit Pelayanan Disabilitas sedang mencari gedung baru dimana gedung tersebut akan memungkinkan dilakukanya program rutin mingguan, dan juga siap menampung jumlah klien yang hadir di program rutin tersebut.
3. Sarana
Sarana yang dimiliki Unit Pelayanan Disabilitas dapat dikatakan kurang memenuhi kebutuhan klien. Untuk melakukan program layanan rutin setiap pekan, Unit Pelayanan Disabilitas memiliki 2 ruang belajar dan juga 1 ruang untuk fisioterapi. Dengan luas bangunan yang tampak seperti rumah, dan jumlah klien yang datang akan kurang sebanding. Ini sangat membatasi program layanan rutin yang dilakukan oleh Unit Pelayanan Disabilitas. D. Jangkauan Layanan
Gambar 1
Peta wilayah jangkauan layanan Unit Pelayanan Disabilitas
E. Struktur Management dan Organisasi Unit Pelayanan Disabilitas Gambar 2
F. Struktur Unit Pelayanan Disabilitas (UPD)
Gambar 3
Struktur Organisasi Unit Pelayanan Disabilitas Kota Tangerang Selatan
1.
2. Deskripsi Pekerjaan
YSI CABANG PROVINSI BANTEN
KETUA UPD KOTA
-Hj. SRI PURWANINGRUM -LILIS
a) Ketua UPD bertanggung jawab kepada ketua YSI cabang Provinsi Banten.
b) Ketua, sekretaris dan bendahara UPD, adalah pengurus inti, yang selalu bersinergi, merupakan satu kesatuan.
c) Secara teknis, sekretaris sekaligus sebagai koordinator Seksi Humas, Informasi, dan Publikasi.
d) Bendahara, sekaligus sebagai koordinator seksi organisasi dan perencanaan.
e) Sedangkan Seksi Identifikasi, Pelayanan dan Seksi Pengembangan berada dibawah koordinasi ketua UPD.
3. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab:
a) Ketua UPD : Mengkoordinir seluruh kegiatan. b) Sekretaris : Bertanggung jawab atas segala kegiatan yang bersifat Administratif.
c) Bendahara : Bertanggung jawab atas keluar masuknya pendanaan.
d) Seksi Organisasi & Program : Legalitas lembaga, Sarana Prasarana, Personalia dan Program Kegiatan.
e) Seksi Humas, Dok, Publikasi : Membuka media. baik cetak, elektronik, online meliput, menyiarkan dan mendokumentasikan.
g) Seksi Pelayanan : Inventarisasi Kebutuhan Klien, Berdasarkan. Pemetaan Data.Membuat Program Pelayanan.Membuat Data Klasifikasi Pelayanan.
h) Seksi Pengembangan : Ikut Monitoring perkembangan klien, selama dalam pelayanan. Membuat data Terminasi dan Potensi Klien. Menentukan kelanjutan pelayanan klien (dihentikan atau dilanjutkan).
G. Sumber Dana dan Kerjasama Unit Pelayanan Disabilitas
Sumber dana Unit Pelayanan Disabilitas dari Yayasan Sayap Ibu Cabang Provinsi Banten dan berbagai sumber donatur.
UPD banyak menjalin relasi atau kerjasama dengan banyak kelompok, diantaranya adalah :
Rumah Sakit Fatmawati yang sudah pasti bekerjasama di Puskesmas setempat dan RSUD dan PERKINS.
Tabel 3
H. Program Pelayanan Unit Pelayanan Disabilitas
PROGRAM KERJA
1 Penyuluhan Deteksi Dini Disabilitas
2 Pelatihan Terapi
3 Pendidikan Anak Disabilitas
4 Terapi anak (Fisio)
5 Parenting Skill
6 Familly Development Session (FDS)
7 Penjangkauan (Identifikasi dan Pendataan)
8 Pemeriksaan Kesehatan
9 Konseling Disabilitas
10 Pelatihan Usaha Ekonomi Produktif (UEP)
11 Publikasi dan Sosialiasi
12 Pembagian Nutrisi
Sumber : Hasil studi dokumentasi
1. Penyuluhan Deteksi Dini Disabilitas Tujuan Program :
akan menyosialisasikan kepada masyarakat untuk kenal lebih jauh tentang disabilitas dan mengerti apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat kepada anak disabilitas agar tidak ada lagi stigma tentang anak disabilitas di masyarakat.
Sasaran Program :
Posyandu dan masyarakat sekitar Tangerang Selatan khususnya ibu muda dan ibu hamil.
Waktu :
4 kali dalam 1 tahun (3 bulan 1 kali)
Penyuluhan dilakukan ± 3 Jam dengan tanya jawab.
2. Pelatihan Terapi Tujuan Program :
Adalah program yang dilakukan UPD Tangsel untuk melatih masyarakat sekitar dan orang tua anak disabilitas agar bisa melakukan terapi dasar bagi anak disabilitas. Selain itu, untuk orang tua anak disabilitas jika mereka telah dianggap mampu oleh terapis untuk melakukan terapi, maka mereka dapat melakukan terapi kepada anak disabilitas lain selain anaknya sendiri di UPD, kemudian UPD dapat memberi imbalan transport kepada mereka.Sehingga nantinya diharapkan peserta pelatihan akan menjadi terapis di UPD dengan pengawasan dari terapis profesional.
Masyarakat sekitar UPD Tangsel dan Orang tua Anak Disabilitas Waktu :
4 kali dalam 1 tahun (3 bulan 1 kali) Pelatihan dilakukan ± 4 Jam dengan sesi pertama pemaparan materi dan sesi kedua tanya jawab.
3. Pendidikan Anak Disabilitas Tujuan Program :
Adalah program yang dilakukan UPD Tangsel untuk memberikan pendidikan kepada anak disabilitas binaan UPD Tangsel. Pendidikan ini bertujuan untuk memberikan kemandirian anak-anak disabilitas.
Sasaran Program :
Anak Disabilitas Binaan UPD Tangsel Waktu :
3 kali dalam 1 Minggu
Dengan dilakukan penjadwalan agar tidak menumpuknya binaan yang akan melakukan pendidikan pada hari tertentu.
4. Terapi Anak (Fisio) Tujuan Program :
ini dilakukan seluruhnya oleh terapis profesional, namun setelah program pelatihan terapi dilakukan dan berjalan baik, maka peserta pelatihan terapi dapat melakukan terapi di program terapi rutin ini dengan pengawasan dari terapis profesional tersebut.
Sasaran Program :
Anak Disabilitas Binaan UPD Tangsel Waktu :
1 kali dalam 1 Minggu
Dengan dilakukan penjadwalan agar tidak menumpuknya binaan yang akan terapi pada hari tertentu.
5. Parenting Skill Tujuan Program :
Adalah program yang dilakukan UPD Tangsel untuk memberikan informasi kepada orang tua atau keluarga anak disabilitas tentang pengasuhan yang baik untuk anak disabilitas. Dalam program ini juga akan lebih banyak saling sharing tentang cara pengasuhan dan perawatan anak di rumah. Sharing ini akan sangat berguna sekali untuk orangtua yang merasa “sendiri” dalam menanganani anak disabilitas.
mengakses layanan untuk anak disabilitas.Programini difasilitasi oleh beberapa fasilitator yang mengusai tentang pengasuhan anak disabilitas.
Sasaran Program :
Orang tua dan keluarga Anak Disabilitas Binaan UPD Tangsel Waktu :
1 kali dalam 1 Bulan atau Fleksibel
6. Familly Development Session (FDS) Tujuan Program :
Adalah program yang diberikan kepada orangtua sesuai dengan modul-modul FDS yang sudah ada.Dalam modul tersebut terdapat topik-topik yang membahas tentang anak dengan disabilitas dari segi hak nya sampai dengan bagaimana agar adanya kelekatan antara orang tua dan anak dengan disabilitas.Tujuan dari kegiatan ini adalah agar para orang tua mengerti dan paham apa yang menjadi hak anak dengan disabilitas serta memahami perilaku anak dengan disabilitas.
Program ini juga adanya keterkaitan dengan program Parenting Skill di program lain UPD, sehingga program ini tidak berjalan sendiri tetapi adanya kesatuan program.Fasilitator disini adalah yang mampu memberikan membawakan modul dalam program tersebut.
Sasaran Program :
1 kali dalam 1 Bulan
7. Penjangkauan (Outreach) Tujuan Program :
Adalah program yang dijalankan UPD untuk menjangkau anak disabilitas di wilayah Tangerang Selatan agar mendapatkan aksesibilitas yang sesuai dengan kebutuhannya. Program ini juga berkaitan dengan program penyuluhan yang diadakan UPD.
Sasaran Program :
Anak disabilitas di Wilayah Tangerang Selatan yang belum mendapatkan akses
Waktu :
Sepanjang Tahun
8. Pemeriksaan Kesehatan Tujuan Program :
Adalah program yang dijalankan bekerja sama dengan Puskesmas Kelurahan Sawah dengan bertujuan memeriksa kesehatan anak disabilitas secara rutin.
Sasaran Program :
Anak Disabillitas Binaan UPD Tangsel Waktu :
9. Konseling Disabilitas Tujuan Program :
Untuk memberikan informasi kepada semua orang tentang disabilitas. Konseling ini bukan bersifat psikologi tetapi hanya pemberian informasi mengenai apa, mengapa dan bagaimana tentang anak disabilitas tersebut.Konselor dalam program ini bisa siapa saja, tetapi dengan syarat harus menguasai tentang disabilitas baik macam-macamnya sampai cara penanganannya serta bagaimana yang seharusnya dilakukan semua orang terhadap anak dengan disabilitas. Sasaran Program :
Anak Disabillitas Binaan UPD Tangsel Waktu :
1 Minggu 1 Kali, dengan dilakukan penjadwalan.
10.Pelatihan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) Tujuan Program :
Sasaran Program :
Orangtua/ keluarga anak Disabillitas Binaan UPD Tangsel Waktu :
3 kali 1 tahun, dengan dilakukan penjadwalan dan pemantauan.
11.Publikasi dan Sosialiasi Tujuan Program :
Memperkenalkan program UPD kepada masyarakat luas agar mereka dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan UPD.Bentuk dari sosialiasai ini berupa media-media seperti brosur, sosmed, media cetak. Sasaran Program :
Masyarakat sekitar Tangsel Waktu :
1 Tahun
12.Pembagian Nutrisi Tujuan Program :
Kegiatan rutin kepada anak binaan yang diberikan UPD Tangsel. Sasaran Program :
Anak Disabilitas Binaan UPD Tangsel Waktu :
I. Program Parenting Skill
Adalah program yang dilakukan UPD Tangsel untuk memberikan informasi kepada orangtua atau keluarga anak disabilitas tentang pengasuhan yang baik untuk anak disabilitas. Dalam program ini juga akan lebih banyak sharing tentang cara pengasuhan dan perawatan anak di rumah. Sharing ini akan sangat berguna sekali untuk orangtua yang merasa “sendiri” dalam menanganani anak disabilitas. Karena ada beberapa kasus yang orang tuabingungapa yang harus dilakukan jika memiliki anak disabilitas. Saling bertukar informasi dalam penangan anak disabilitas sangat penting dilakukan, karena sistem sumber yang terbatas dalam penanganan anak disabilitas membuat orang tua atau pun keluarga anak disabilitas sulit untuk mengakses layanan untuk anak disabilitas. Parenting skill akan difasilitasi oleh beberapa fasilitator yang dapat mengusai tentang pengasuhan anak disabilitas. Sasaran Program adalah Orang tua dan keluarga Anak Disabilitas Binaan UPD Tangsel, Waktu pelaksanaannya 1 kali dalam 1 Bulan atau fleksibel.
J. Alur Metode Penanganan Klien
1. Persiapan