• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN ROTI DENGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN ROTI DENGAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBUATAN ROTI DENGAN FERMENTASI

Disusun untuk memenuhi laporan praktikum bioteknologi

Disusun oleh:

Lulu Fauziah : 1110016100037

Dini Rismayanti F

: 1110016100049

Heni Lupita Sari

: 1110016100055

Endah.Lestari

: 1110016100066

Kelas : Biologi VI.B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Penerapan bioteknologi pada umunya mencakup produksi sel atau biomassa dan perubahan atau reformasi kimia yang diinginkan. Misalnya saja pada pembuatan roti dengan melibatkan suatu organisme patogen seperti mikroorganisme.

Salah satu bahan baku roti yang paling peting dalam proses pembuatan soft bread adalah ragi atau yeast. Ragi adalah mikroorganisme hidup yang berkembangbiak dengan cara memakan gula. Fungsi utama ragi adalah mengembangkan adonan. Pengembannan adonan terjadi karena ragi menghsilkan gas karbondioksida (CO2) selama fermentasi. Gas ini kemudian terperangkap dalam jaringan gluten yang menyebabkan roti bias mengembang. Komponen lain yang terbentuk selama proses fermentasi adalah asam dan alkohol yang berkontribusi terhadap rasa dan aroma roti, namun alkohol akan menguap dalam proses pengembangan roti.

Proses pengembangan adonan merupakan suatu proses yang terjadi secara sinkron antara peningkatan volume sebagai akibat bertambahnya gas-gas yang terbentuk sebagai hasil fementasi dan protein larut, lemak dan karbohidrat yang juga mengembang dan membentuk film tipis. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya produksi gas adalah konsentrasi ragi roti, gula, malt, makanan ragi dan susu selama berlangsungnya fermentasi.

Kualitas roti secara umum disebabkan kaena variasi dalam penggunaan bahan baku dan proses pembuatannya. Jika bahan baku yang digunakan mempeunyai kualitas yang baik, dan proses pembuatannya benar, maka roti yang dihasilkan akan mempunyai kualitas yang baik pula. Jenis dan mutu produk roti sangat bervariasi tergantung jenis bahan-bahan dan formulasi yang digunakan dalam pembuatannya. Variasi produk ini diperlukan untuk memenuhi adanya variasi selera dan daya beli konsumen (Desrosier, 1987).

(3)

kembali, yang harus dipertimbangkan adalah terutama kadar protein tepung terigu dan kadar abunya. Kadar protein mempunyai korelasi yang erat dengan kadar glutein, sedangkan kadar abu erat hubungannya dengan tingkat dan kualitas adonan (Roberts, 1989).

Air berfungsi sebagai media glutein dengan karbohidrat, larutan garam dan membentuk sifat kenyal glutein. Air yang digunakan sebaiknya memiliki pH 6-9. Makin tinggi pH air maka roti yang dihasilkan baik karena absorbsi air meningkat dengan meningkatnya pH. Selain pH, air yang digunakan harus air yang memenuhi persyaratan sebagai air minum, diantaranya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Air yang digunakan dalam industri makanan pada umumnya harus memenuhi persyaratan tidak berwarna, tidak berbau, jernih, tidak mempunyai rasa dan tidak menggangu kesehatan. Apabila air yang digunakan tidak memenuhi persyaratan dalam pembentukan pati atau tepung maka dapat meningkatkan kadar abunya sehingga mutu pati menurun (Gumbiro, 1987).

Pembuatan roti, ragi/yeast dibutuhkan agar adonan bisa mengembang. Ragi/yeast biasanya ditambahkan setelah tepung terigu ditambah air lalu diaduk-aduk merata, setelah itu selanjutnya adonan dibiarkan beberapa waktu. Ragi/yeast sendiri sebetulnya mikroorganisme, suatu mahluk hidup berukuran kecil, biasanya dari jenis Saccharomyces cerevisiae yang digunakan dalam pembuatan roti ini. Pada kondisi air yang cukup dan adanya makanan bagi ragi/yeast, khususnya gula, maka yeast akan tumbuh dengan mengubah gula menjadi gas karbondioksida dan senyawa beraroma. Gas karbondioksida yang terbentuk kemudian ditahan oleh adonan sehingga adonan menjadi mengembang (Rukmana, 2001).

1.2 Tujuan

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ragi roti yang mengandung bakteri Saccharomyces cereviciae terhadap hasil fermentasi dalam pembuatan roti. Hasil dari percobaan ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk menambah pengetahuan dan sebagai bahan pembanding pada percobaan selanjutnya.

1.3 Rumusan masalah

(4)

2. Apakah roti yang dihasilkan memiliki rasa, tekstur dan warna dibandingan roti pada umumnya ?

3. Bagaimanakah kondisi atau bentuk roti yang dihasilkan ?

4. Adakah faktor lain yang mempengaruhi proses fermentasi selain ragi yang digunakan?

1.4 Pembatasan masalah

Roti merupakan makanan yang di buat dengan menggunakan teknik fermentasi sederhana Saccharomyces cereviciae atau disebut ragi dengan merek komersil fermipan, tanpa adanya proses fermentasi dan proses pengembangan yang sempurna roti tidak dapat dihasilkan .

1.5 Hipotesis

- Hipotesis nol : tidak adanya pengaruh ragi terhadap fermentasi roti. - Hipotesis kerja : Adanya pengaruh ragi terhadap fermentasi roti. 1.6 Pengumpulan data:

(5)

BAB II

BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN

2.1. Tempat Dan Waktu

Praktek ini dilaksanakan di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri

(Laboratorium Biologi ) Fakultas tarbiyah dan keguruan , Jakarta JL.Ir.H.Juanda pada tanggal 8 April 2013 pukul 09:30-11:30.

2.2 Bahan Dan Alat 1. Alat

Timbangan Centong

(6)

2. Bahan

Tepung Terigu Ragi roti

Gula Pasir Susu Bubuk

Garam Air Es

(7)

2.3 Langkah kerja

No. Langkah Kerja Gambar

1. Masukkan tepung dan susu bubuk ke dalam wadah yang telah disediakan.

2. Aduklah Tepung dan susu bubuk

(8)

4. Masukkanlah ragi roti yang telah ditimbang kedalam adonan

5. Aduk hingga rata.

6. Timbanglah gula sesuai 100gr.

(9)

8. Masukkan air es secukupnya

9. Aduklah semua bahan yang telah dicampur hingga merata.

10. Masukanlah blue band kedalam adonan kira-kira setengah dari isi blue band.

(10)

12. Kira-kira bentuk adonan seperti gambar disamping.

13. Letakkanlah adonan pada tempat tertutup seperti gambar

(11)

dengan roti

bagian luar roti dan aga sedikit kasar pada bagian luar dan putih dengan

KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

a. Roti mengalami proses fermentasi setelah ditutup dengan menggunakan kain atau wadah tertutup atau tanpa udara yang mengakibatkan adonan roti menjadi

mengembang.

b. Proses fermentaasi pada adonan roti adalah proses fermentasi secara anaerob atau proses fermentasi tanpa udara.

c. Ragi membantu proses fermentasi pada roti. 4.2 Saran

a. Untuk mendapatkan proses fermentasi pada adonan roti tutuplah adonan dengan kain atau tempat yang rapat agar udara tidak dapat masuk.

b. Lama pengocokan atau pencampuran bahan dapat mempengaruhi tekstur roti semakin lama mengocok telur, blue band, gula, garam dan susu bubuk akan semakin baik hasil tekstur roti yang dihasilkan.

c. Untuk mendapatkan rasa yang manis tambahkanlah gula sesuai kebutuhan dan jika perlu tambahkan isian pada roti agar lebih menarik.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Desrosier, N.W. 1987.Teknologi Pengawetan Pangan. UI Press. Jakarta. Dwijoseputro. 1990. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Malang.

Gumbiro, Said. 1987. Bio Industri Penerapan Teknologi Fermentasi. Jakarta.Mediyatama Sarana Perkasa.

Roberts, Haris dan Endel, Karmas. 1989. Evaluasi Gizi Pada Pengolahan Pangan. ITB. Bandung.

Rukmana dan Yuniarsih. 2001. Cara Pembuata Roti . Kanisius. Yogyakarta.

Website:

Gambar

gambar disamping.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut SNI 1995, definisi roti adalah produk yang diperoleh dari adonan tepung terigu yang diragikan dengan ragi roti dan dipanggang, dengan atau tanpa penambahan bahan makanan

Telah dilakukan Penelitian tentang Studi Perbandingan Penambahan Variasi Ragi Tape dan Ragi Roti dalam Pembuatan Bioetanol dari Fermentasi Glukosa Hasil Hidrolisis Selulosa

Roti merupakan produk pangan berbahan dasar tepung terigu yang di fermentasi dengan ragi roti atau bahan pengembang lainnya yang diolah dengan cara

varian pada Tabel 6 menunjukkan bahwa perlakuan pemberian hasil fermentasi dedak dengan ragi roti ( Saccharomyces cerevisiae) berbeda sangat nyata terhadap

varian pada Tabel 6 menunjukkan bahwa perlakuan pemberian hasil fermentasi dedak dengan ragi roti ( Saccharomyces cerevisiae) berbeda sangat nyata terhadap

Menurut SNI 1995, definisi roti adalah produk yang diperoleh dari adonan tepung terigu yang diragikan dengan ragi roti dan dipanggang, dengan atau tanpa penambahan bahan makanan

Roti adalah salah satu dari produk bakery yang terbuat dari tepung terigu yang difermentasi dengan ragi roti Saccharomyces cerevisiae, garam, air dan atau tanpa penambahan bahan lain

Aroma Hasil uji organoleptic Aroma VCO menggunakan metode fermentasi dengan penambahan ragi roti dan ragi tempe pada grafik berikut: Gambar 3.8 Uji Organoleptik Aroma VCO Dengan