• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika Sarjana Pendidikan dalam Pr

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Problematika Sarjana Pendidikan dalam Pr"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Problematika Sarjana Pendidikan dalam Profesi Guru

Dosen : Dra. Yasmis, M.Hum. Mata Kuliah : Bahasa Indonesia

D I S U S U N

Oleh

Nurma Safitri 1407617029

Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Sosial

(2)

Kata pengantar

Dengan mengucap syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, dalam waktu yang

relatif singkat ini akhirnya karya ilmiah yang saya buat dapat terselesaikan.

Adapun tujuan dari karya ini adalah sebagai bentuk rasa simpati terhadap

problematika yang dihadapi oleh seorang sarjana khusunya sarjana pendidikan.

Disadari bahwa dalam karya ini masih saya dapati kekurangan dan kekhilafan oleh

karena itu, untuk yang terhormat ibu Dosen Dra. Yasmis, M.Hum dimohon

sekiranya untuk dimaafkan dan saya berharap ibu dapat memberikan saran dan

kritik yang bersifat konstruktif agar saya bisa memberikan yang lebih baik lagi

untuk kedepannya.

Semoga karya ini bisa bermanfaat khususnya bagi para sarjana pendidikan dalam

menyikapi persoalan di dunia kerja.

Jakarta, 08 Oktober 2017

(3)

Daftar isi

Kata pengantar ... 2

Daftar Isi ... 3

BAB 1

PENDAHULUAN ... 4

1. Latar belakang ... 4

2. Permasalahan ... 5

3. Tujuan ... 5

4. Manfaat ... 5

BAB 2

PEMBAHASAN ... 6-12

BAB 3

PENUTUP

1. Kesimpulan ... 13

2. Saran ... 14

(4)

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

Masalah lapangan pekerjaan di Indonesia merupakan masalah yang sangat kompleks dan sulit untuk diatasi. Berbagai masalah pekerjaan bermunculan di negeri kita ini, salah satunya ialah masalah pengangguran. Masalah ini telah ada sejak bertahun-tahun silam akan tetapi hingga saat ini belum ada tindakan nyata dari semua pihak untuk mengatasi masalah tersebut. Masalah pengangguran ini biasanya terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan dan lebihnya sumber daya manusia yang ingin bekerja. Hal ini berdampak pada tingginya angka

pengangguran serta persaingan di antara pencari kerja tersebut untuk bisa bekerja di suatu tempat.

Dalam dunia pendidikan sendiri banyak sarjana pendidikan yang tidak bekerja atau menganggur karena tidak ada nya lapangan pekerjaan bagi sarjana tersebut. Selain itu banyak dari mereka yang akhirnya merubah haluan dari pekerjaan yang seharusnya mereka geluti seperti guru menjadi seorang staff finance dibank maupun dikantor karna merasa lapangan pekerjaan sebagai guru telah terisi semua. Hal tersebut sangat disayangkan karna jika dilihat dari tingkat pendidikan di Indonesia yang masih rendah khususnya di daerah membuktikan bahwa para guru masih sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, selain itu untuk menjadi seorang guru tidaklah mudah perlu serangkaian pendidikan, pelatihan, dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Jika para sarjana pendidikan tersebut tidak menuangkan apa yang mereka pelajari selama ini untuk menjadi seorang guru hal tersebut sangat disayangkan.

Untuk bisa mengatasi masalah yang kompleks ini kita harus mengetahui faktor-faktor apa saja kah yang menyebabkan masalah ini terjadi. Jika kita lihat jumlah sekolah yang ada di Indonesia menurut data pada tahun 2016, jumlah sekolah di Indonesia mencapai 297.368 unit. Sekolah Dasar (SD) merupakan jenjang pendidikan dengan jumlah sekolah paling banyak, yakni mencapai 147 ribu unit. Namun, untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) hanya mencapai 37 ribu unit sedangkan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) cukup merata dengan jumlah masing-masing mencapai 12 ribu unit. Dari data tersebut kita tau bahwa seharusnya lapangan pekerjaan bagi para sarjana pendidikan sangat terbuka lebar lantas apa yang menyebabkan para sarjana tersebut tidak memiliki pekerjaan.

Menurut informasi yang saya dapatkan hal tersebut disebabkan karena kurangnya informasi antara sarjana pencari pekerjaan tersebut dengan orang-orang pemberi kerja. Tidak ada

komunikasi yang baik antara kedua belah pihak, selain itu banyak dari calon guru enggan mengajar di daerah-daerah terpencil karena berbagai alasan klasik.

Selain itu, pemerintah juga seringkali membeda-bedakan hak antara guru-guru yang

(5)

2. PERMASALAHAN

Pada pembahasan sebelumnya kita telah membahas sedikit mengenai sebab mengapa akhirnya para sarjana pendidikan lebih memilih bekerja diluar dari keahliannya salah satunya ialah karena kurangnya lapangan pekerjaan yang ada, tidak adanya komunikasi yang baik antar pihak pemberi kerja dan pencari kerja serta faktor-faktor lainnya, untuk itu pada bab ini kita akan membahas lebih dalam lagi mengenai permasalahan tersebut.

Menurut data yang saya dapat faktor-faktor penyebab hal ini dapat kita bedakan menjadi dua, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal ialah faktor dimana hal tersebut dipengaruhi oleh hal-hal luar seperti jumlah lapangan pekerjaan, kurangnya relasi, kemampuan yang kurang mumpuni dan faktor lainnya. Faktor ini lebih mudah kita atasi jika dibandingkan dengan faktor internal dimana masalah yang menjadi penyebab hal tersebut ialah pribadi dari sarjana itu sendiri.

Faktor internal itu sendiri meliputi perasaan kurangnya rasa cinta terhadap apa yang mereka pelajari. Seorang sarjana pendidikan akan tetapi tidak mencintai ilmu nya dan tidak menyukai bidang yang akan ia geluti. Tidak sedikit lulusan sarjana pendidikan yang enggan untuk menjadi seorang guru. Rata-rata dari mereka terjebak didalam jurusan yang dipilihnya dan terpaksa mengeluti sesuatu yang tidak mereka sukai hanya untuk mendapatkan status seorang sarjana, akibatnya setelah mereka menyandang status tersebut mereka enggan mengaplikasikan ilmunya dan memilih mengeluti ilmu yang berbeda dari yang seharusnya mereka geluti.

Selain itu faktor internal lainnya ialah kurangnya rasa empati para sarjana pendidikan terhadap nasib pendidikan di Indonesia. Banyak dari mereka yang hanya ingin mengajar dikota dan enggan mengabdi di desa dan daerah terpencil karena merasa kesejahteraan guru di kota dan desa berbeda. Tidak jarang dari mereka hanya mementingkan berapa gaji yang mereka dapat setelah mengajar tanpa memperdulikan segi pendidikan. Banyak dari mereka yang mencuri waktu kerja untuk urusan pribadi sedangkan tugas mengajar mereka abaikan. Untuk itu marilah bersama-sama kita atasi masalah-masalah tersebut agar nantinya dunia pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi serta para sarjana pendidikan tidak hanya ada untuk sebuah kepentingan pribadi tetapi demi kepentingan pendidikan itu sendiri, karena sejatinya pendidikan merupakan sebuah pondasi bagi suatu bangsa untuk merubah dunia

3. TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah agar para pembaca khususnya sarjana pendidikan dan pemerintah dapat mencari solusi bersama atas masalah yang dihadapi dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang sarjana pendidikan, serta masing-masing pihak dapat mengintropeksi diri demi terciptanya pendidikan yang lebih baik lagi.

(6)

Semoga dengan adanya makalah ini bisa menjadi pengetahuan tambahan bagi para calon sarjana dalam menyikapi problematika menghadapi dunia kerja yang nyata. Serta bermanfaat bagi para pembaca sebagai pengetahuan tambahan.

BAB 2 PEMBAHASAN

Perjalanan menempuh gelar Sarjana Pendidikan bukanlah hal yang mudah dan murah. Seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dalam menjaring mahasiswa baru melalui SPMB (Seleksi penerimaan Mahasiswa Baru), yang sekarang istilahnya menjadi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) sangatlah ketat, apalagi peminat ke jurusan keguruan tidaklah sedikit. Selain harus bersaing dengan banyaknya pesaing untuk bisa memperoleh gelar S.Pd orang tersebut juga perlu mengorbankan biaya yang tidak sedikit jumlahnya demi menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Sebelum membahas mengenai sarjana pendidikan kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pendidikan. Menurut Jhon Dewey “Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan esensial baik secara intelektual maupun emosional.” Dari pengertian tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan memiliki peranan dalam membentuk intelektual maupun emosional seseorang. Untuk itu peranan seorang pendidik sangat diperlukan sebagai pengarah dan pembentuk sikap seseorang. 1

Sarjana Pendidikan ini biasanya memiliki profesi sebagai seorang guru “ Menurut Dr. Sikun Pribadi profesi itu pada hakikatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa karena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu”. 2 Sehingga mereka mengabdikan dirinya tanpa mempersoalkan faktor-faktor lain seperti ekonomi.

Sedangkan menurut Husnul Chotimah “guru ialah mereka yang memfasilitasi transisi dari pengetahuan dari sumber belajar ke peserta didik.”3 Jadi dapat disimpulkan bahwa guru ialah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Apa pun materi pokok pembicaraan mengenai pendidikan, komponen guru hampir tidak tertinggal untuk dibicarakan. Mungkin karena dianggap sebagai profesi terpenting dalam jalannya pendidikan. Bahkan tidak mengherankan, bila kemudian ada yang mengatakan bahwa garda terdepan keberhasilan pendidikan itu pada dasarnya adalah pada kelompok guru.

Dalam masyarakat kita, kerap dikenal ada ‘peribahasa’ guru itu adalah wajib digugu dan ditiru. Digugu artinya didengar, diikuti dan ditaati, dan makna ditiru yaitu dicontoh. Dengan penjelasan seperti ini, maka posisi guru mengandung makna sosial yang sangat tinggi.

1 Syarif Hidayat. Teori dan Prinsip Pendidikan. (Tangerang: Pustaka Mandiri, 2013) hlm.1

2 Barnawi & Mohammad Arifin. Etika dan Profesi Kependidikan. (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2012) hlm.109

(7)

Seiring dengan perkembangan zaman, pertanyaan mengenai status sosial guru layak untuk diajukan kembali. Artinya, apakah posisi guru itu masih seperti itu? Ataukah sudah bergeser? Inilah pertanyaan dasar yang perlu mendapat jawaban yang cermat, terkait dengan iklim pembelajaran dan iklim demokrasi pendidikan sebagaimana yang terjadi dinegara kita ini.4

Masalah guru merupakan suatu pokok pembicaraan yang tidak kalah menariknya dibanding dengan membicarakan masalah politik. Kemenarikannya itu dibuktikan dengan tidak pernah habis-habisnya orang berbicara guru atau memainkan isus guru sebagai konsumsi politik. Pada sisi lain, maraknya pembicaraan mengenai guru ini, karena terkait dengan masalah pribadi setiap manusia.

Karena ketika membicarakan masalah guru, setiap orang akan terpaksa baik langsung maupun tidak langsung memikirkan mengenai kondisi pendidikan dan masa depan putra-putrinya masing-masing, kemudian akan mudah dialamatkan pada buruknya kinerja guru. Hukum dalam dunia pendidikan itu, bila siswa berprestasi rendah, guru yang disalahkan, sedangkan bila siswa berprestasi menonjol akan dipuji kecerdasan siswa tersebut. 5

Untuk itu guru memiliki pengaruh yang penting didalam dunia pendidikan. Seorang guru menjadi tolak ukur dari keberhasilan pembelajaran yang ada di sekolah, jika perilaku seorang anak menyimpang ke arah yang buruk guru dinilai tidak mampu membimbing siswanya dengan baik padahal jika kita telaah kembali seharusnya orang tua lah yang memiliki peranan utama dalam mendidik anak-anaknya agar dapat memiliki sikap yang baik, guru dan orang tua harus bahu-membahu dalam mendidik siswa tersebut. Tanggung jawab pembelajaran tersebut harus ditanggung secara bersama-sama bukan untuk mencari siapa yang patut untuk disalahkan.

Sebab pembelajaran yang berkualitas seharusnya ialah pembelajaran yang mampu meletakkan posisi guru dengan tepat sehingga guru dapat memainkan perannya sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.6 Karena tidak semua peserta didik memiliki kebutuhan yang sama dalam proses pembelajaran, sebagai seorang guru mereka dituntut untuk bisa memberikan kebutuhan yang sesuai keinginan peserta didiknya.

Guru sebagi pelaku sosial dimasyarakat. Dengan adanya guru pula, proses sosial dimasyarakat mengalami perubahan. Kendati pun, pada dasarnya para pelaku itu sendiri bukan guru dalam pengertian guru formal (sebuah lembaga pendidikan) tetapi banyak yang

berlatarbelakang sebagai guru pendidikan non-formal.

Pada posisi inilah guru adalah pelaku sosial dan pelaku utama dalam proses rekayasa sosial atau pembaharuan dimasyarakat. Guru adalah agen perubahan termasuk sekaligus menjadi bagian penting dari perubahan sosial.

4 Momon Sudarma. Profesi Guru : Dipuji, Dikritisi, dan Dicaci. ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013) hlm.6

5

Ibid... ... hlm.5

6 Opcit. Barnawi dan Mohammad

(8)

Dari banyaknya peran yang dilakukan seorang guru terdapat banyak problematika yang harus dihadapi dalam menjalankan profesinya. Sebagai lulusan Sarjana, dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), tentunya menjadi guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah cita-cita setiap sarjana pendidikan. Pengertian guru PNS adalah guru Pegawai Negeri Sipil yang dijamin oleh Pemerintah. Guru ini dibagi menjadi PNS, PNS Depag (Departemen Agama/Kementerian Agama) dan PNS DPK(PNS Dinas yang dipekerjakan pada sekolah swasta).

Berdasarkan data Kemendikbud pada BPSDMPK, jumlah guru PNS di seluruh Indonesia mencapai 1.330.512 guru. Terdiri dari Guru PNS (1.297.670 orang), PNS Depag (6.819 orang) dan PNS DPK (26.023 orang). Guru PNS saat ini adalah kategori guru yang cukup sejahtera dengan segala tunjangan dan jaminan hidup yang mereka dapatkan

dibandingkan dengan yang lain. 7

Selain menjadi guru PNS banyak dari mereka sarjana pendidikan menyalurkan

kemampuannya menjadi guru honorer sebagai batu loncatan karier agar bisa menjadi seorang guru PNS, sebab untuk bisa menjadi seorang PNS dibutuhkan kualifikasi dan pengalaman bekerja yang mumpuni. Secara kasat mata, mereka sering tampak jauh berbeda dari guru tetap (PNS). Guru honorer memiliki gaji pokok yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan guru PNS, selain itu tunjangan yang diberikan kepada guru honorer sangat berbeda dengan guru PNS dengan berbagai macam tunjangan yang diberikan. Berikut adalah gambaran perbandingan antara gaji guru PNS dan Non PNS :

Hal ini lah yang biasanya menjadi problematika dalam dunia pendidikan dimana guru honorer merasa kesejahteraan hidupnya tidak terpenuhi padahal jika dibandingkan dengan guru

7 http://www.mildaini.com/2015/11/guru-beda-status-beda-perlakuan-beda.html

(9)

PNS mereka memiliki kualifikasi dan jam kerja serta kemampuan yang sama dalam memberikan pelajaran di sekolah. Tidak hanya itu, status sosial antara guru honorer dengan guru PNS juga sangat berbeda guru honorer sering kali dipandang sebelah mata dan tidak dihormati dalam lingkungan masyarakat maupun pendidikan banyak guru PNS yang merasa dirinya memiliki derajat yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan guru honorer.

Terobosan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengakui keberadaan guru honorer adalah melalui tunjangan fungsional (Jafung). Jafung merupakan tunjangan yang diberikan kepada guru non PNS, dengan besarnya Rp. 300.000 per bulan yang pembayarannya dicairkan setiap enam bulan sekali dan kriteria penerimaan jafung ditetapkan berdasarkan kuota masing-masing kabupaten/kota dengan syarat jumlah mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu.

Sebelum pencairan jafung, terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Dalam hal ini, Mendikbud melihat berdasarkan data dari Dapodik (Data Pokok Pendidik). Permasalahan baru pun muncul, pasalnya data yang tercantum dalam Dapodik tak luput dari manipulasi, terutama bagi sekolah yang kelebihan guru, mengapa? Salah satu faktor penyebabnya adalah sertifikasi guru. Berdasarkan aturan, guru yang telah bersertifikasi jumlah jam mengajar yang harus terpenuhi adalah 24 jam tatap muka per minggu. Jika kurang dari 24 jam, maka guru bersangkutan berkewajiban melakukan pemenuhan di sekolah lain. Oleh karena itu, yang menjadi korban adalah guru honorer, karena sebagian jumlah ngajar mereka diberikan kepada guru bersertifikasi untuk memenuhi kuotanya.

Hal ini, seperti diungkapkan oleh salah satu guru honorer yang bekerja di salah satu instansi pendidikan Kota Tasikmalaya “Jumlah mengajar dalam Dapodik hanya 4 jam, sementara hampir setiap hari mengajar di sekolah tersebut”. Lebih ironis lagi ada salah satu temannya yang mengaku biasanya suka mendapatkan jafung secara rutin, namun setelah adanya Dapodik

pencairan jafung tidak lagi diterimanya.

Sarjana pendidikan berstatus sebagai guru honorer sama halnya dengan abdi Negara, bertugas untuk mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Harus mendapatkan perhatian khusus dan serius berkenaan dengan honor yang layak untuk mereka dapatkan. Minimalnya, honor yang mereka dapatkan sesuai dengan gaji UMR (Upah Minimum Regional) berdasarkan daerah tempat mereka mengabdikan diri. Dengan begitu, setiap guru honorer akan merasa bahwa keberadaan dirinya benar-benar diakui oleh pemerintah. Bukan sebatas robot belaka yang harus taat dan terus mengabdi tanpa mendapatkan penghidupan yang layak.8

8

https://www.kompasiana.com/dedetaufik/rendahnya-harga-sarjana-pendidikan_54f4172d745513992b6c8746

(10)

Maka dari itu pemerintah harus memperhatikan nasib guru honorer, bagaimana agar

kesejahteraan mereka dan PNS tidak berketimpangan jauh sehingga tidak menimbulkan

kecemburuan sosial antar pihak, selain itu dengan meningkatnya kesejahteraan guru honorer

akan meningkatkan produktifitas dan semangat kerja di kalangan mereka sehingga mereka tidak

memiliki pemikiran untuk berhenti menjadi seorang guru honorer karena akan berpengaruh para

dunia pendidikan yang hingga kini masih memiliki kekurangan dalam jumlah pendidik. Kondisi

tersebut akan diperparah jika guru honorer memiliki pemikiran untuk berhenti menjadi seorang

guru.9

Jika kita lihat beberapa tahun terakhir jumlah sarjana pendidikan yang bekerja sebagai seorang guru semakin menurun jumlahnya, banyak dari mereka yang memilih untuk berkarier menjadi seorang karyawan disebuah perusahaan maupun menjadi pegawai bank. Hal tersebut dirasa sangat disayangkan karena kompetensi yang telah dimiliki oleh seorang sarjana

pendidikan seharusnya dapat diterapkan dan disalurkan kedalam dunia pendidikan agar nantinya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi. Jumlah guru di Indonesia dirasa masih belum cukup untuk menunjang pendidikan di Indonesia terbukti dengan diagram dibawah ini yang menunjukan rasio perbandingan antara jumlah guru dan murid di Indonesia :

9

https://www.kompasiana.com/dedetaufik/rendahnya-harga-sarjana-pendidikan_54f4172d745513992b6c8746

http://www.gurupendidikan.co.id/8-pengertian-guru-menurut-para-ahli-pendidikan/

http://www.mildaini.com/2015/11/guru-beda-status-beda-perlakuan-beda.html

(11)

Dari diagram tersebut kita dapat melihat rasio perbandingan antara jumlah guru dan murid di Indonesia mencapai angka 18,2 %. Hal tersebut menunjukan bahwa terdapat 18,2 % jumlah guru yang masih dibutuhkan oleh murid atau siswa. Jika kita bandingkan dengan negara maju lainnya jumlah tersebut dirasa masih sangat besar. Jepang misalnya, negara tersebut hanya membutuhkan 13,1% jumlah guru yang belum terpenuhi.

Untuk itu seharusnya kita perlu mencontoh Jepang sebagai negara di Asia yang mampu berkembang menjadi negara maju, padahal jika kita lihat melalui kilas balik sejarah dahulu Jepang merupakan negara kecil dengan pusat kota Hirosima dan Nagasaki yang dijatuhi oleh bom atom sehingga meluluhlantahkan wilayahnya, akan tetapi hal utama yang ditanyakan oleh pemimpin Jepang saat itu adalah “berapa jumlah guru yang tersisa”. Hal tersebut menunjukan betapa pentingnya peran seorang pendidik dalam membangun sebuah negara, terbukti dengan Jepang yang akhirnya bisa bangkit kembali dan berkembang menjadi negara yang maju.

Selain itu sebagai calon guru sarjana pendidikan juga perlu memiliki rasa cinta terhadap profesinya sehingga kecintaan terhadap profesi tersebut tidak bisa dihalangi oleh masalah pribadi seperti faktor ekonomi dan lainnya. Guru perlu memahami bahwa profesinya adalah anugerah Tuhan yang tak ternilai harganya. Pekerjaan guru merupakan pekerjaan yang mulia, mulia dihadapan Tuhan dan di hadapan manusia, Jadi kerjakanlah pekerjaan guru dengan penuh tanggung jawab dan jangan semata-mata mengejar materi.10

(12)

Untuk itu, sarjana pendidikan perlu menjalani profesinya dengan keiklasan hati tanpa paksaan, serta belajar bagaimana cara agar dapat menjadi seorang guru yang prefesional. Sebab seorang guru memerlukan komponen yang membentuk profesionalisme seperti : 1. Menjadi sumber penghasilan kehidupan, 2. Memerlukan keahlian, 3. Memerlukan kemahiran, 4. Memerlukan kecakapan, 5. Adanya standar mutu dan 6. Memerlukan pendidikan profesi. Hal-hal tersebut dapat membentuk profesionalisme seorang guru.11

Dihadapan peserta didiknya, guru memiliki dua buah pilihan. Apakah ia akan menjadi insan yang membosankan atau menjadi insan yang selalu memberi pengaruh positif dalam hidup peserta didiknya. Sebab guru dituntut memiliki kemampuan lebih terutama dalam mengelola semua sumber daya. 12

11 Momon Sudarma. Profesi Guru : Dipuji, Dikritisi dan Dicaci. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2013) hlm.29

12 Barnawi dan Mohammad Arifin

(13)

BAB 3 PENUTUP

 Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

Guru merupakan elemen yang penting di dalam dunia pendidikan, guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran harus memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mendidik peserta didik agar menjadi generasi yang membanggakan. Pembelajaran yang baik haruslah pembelajaran yang mampu meletakkan posisi guru dengan tepat sehingga guru dapat memainkan perannya sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Orang tua dan guru memiliki peran yang sama-sama penting dalam mendidik anak-anaknya, mereka harus bahu-membahu bekerjasama dalam membimbing anak-anaknya agar dapat menjadi generasi yang membanggakan, bukan malah saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Orang tua tidak bisa hanya berpangku tangan dan menyerahkan pendidikan anaknya kepada guru disekolah saja, begitupun dengan seorang guru.

Selain itu, guru harus memiliki kecintaan terhadap profesinya. Mereka harus memahami betul makna menjadi seorang guru yang baik bagi peserta didiknya.

Profesionalisme yang ada pada diri seorang guru harus terpupuk dan menjadi jati dirinya, sehingga jika terdapat faktor-faktor penghambat dan permasalahan yang dihadapi seperti masalah ekonomi dan kesejahteraan, guru tidak mudah menyerah dan beralih posisi ke bidang lain.

Begitupun dengan peran pemerintah, pemerintah perlu menata ulang kebijakan yang ada. Kesejahteraan guru baik PNS maupun Non PNS perlu mendapatkan perhatian lebih agar nantinya kehidupan dan kesejahteraan guru meningkat. Guru sebagai abdi Negara, bertugas untuk mendidik dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Harus mendapatkan perhatian khusus dan serius berkenaan dengan honor yang layak untuk mereka dapatkan , sehingga tidak ada lagi guru yang merasakan kesejahteraannya tertinggal.

Saran

(14)

kecintaan dan dedikasi yang tinggi terhadap profesinya sehingga dari kecintaan itu lah nantinya membentuk profesionalisme diri seorang guru.

Orang tua wajib memperhatikan pendidikan anak-anaknya tidak hanya berpangku tangan menyerahkan tugas tersebut kepada guru. Mereka harus bahu-membahu dalam mendidik generasi muda yang baik dalam berfikir maupun bertindak. Kewajiban orang tua sebagai madrasah utama bagi anak-anaknya tidak dapat ditinggalkan dan mengantinya dengan peran guru. Kewajiban tersebut perlu diterapkan, guru hanya sebatas bonus bagi orang tua untuk membantu dalam mendidik anak-anaknya bukan sebagai pengganti tanggung jawab sebagai orang tua.

(15)

Daftar Pustaka

Barnawi dan Mohammad Arifin, Etika dan Profesi Kependidikan. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media,

2012

Hidayat Syarif, Teori dan Prinsip Pendidikan. Tangerang : Pustaka Mandiri, 2013

Sudarmo Momon, Profesi Guru : Dipuji, Dikritisi dan Dicaci. Jakarta : PT Raja Grafindo

Persada, 2013

http://www.gurupendidikan.co.id/8-pengertian-guru-menurut-para-ahli-pendidikan/

https://www.kompasiana.com/dedetaufik/rendahnya-harga-sarjana-pendidikan

54f4172d745513992b6c8746

http://www.mildaini.com/2015/11/guru-beda-status-beda-perlakuan-beda.html

https://www.kompasiana.com/dedetaufik/rendahnya-harga-sarjana-pendidikan_54f4172d745513992b6c8746

http://www.gurupendidikan.co.id/8-pengertian-guru-menurut-para-ahli-pendidikan/

Referensi

Dokumen terkait

Keberhasilan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Akan tetapi, untuk mampu menyampaikan materi

akhirnya digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran yang terjadi. Tes ini dibuat oleh guru berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Setiap kegiatan

Hasil pembelajaran siswa merupakan tolak ukur keberhasilan siswa dalam mempelajari materi yang disampaikan selama periode tertentu, untuk mengetahui hasil pembelajaran

Luaran dari tahap pelaksanaan kegiatan ini adalah: Guru-guru MTs Muqimus Sunnah Palembang mampu menggunakan Media Audio Visual untuk membuat media pengajaran, tolak

Tolak ukur keberhasilan belajar, salah satunya adalah penggunaan strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam memberikan suatu cara/pendekatan yang tepat dalam

Ayat ini menunjukan agar manusia selalu mendidik diri sendiri maupun orang lain, dengan kata lain membimbing ke arah mana seseorang itu akan menjadi baik atau buruk.

dinamakan dengan akhlak Islami.Sebagai tolak ukur perbuatan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, karena Rasulallah SAW adalah

Dari tindakan penggalian motivasi belajar yang dilakukan menampakkan 4 respon anak yang bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan guru dalam melakukan tindakan yaitu: 1 anak tergerak