Kelompok 5 Vina Damayanti 1306370865
Ambar Maresya 1306370796 Claudia Maya
1306412180
Seffiani 1306370783
Getta Austin (1306405364) Itamar Pascana S
1306371016
Rekayasa Genetika
Teknologi Bioproses Fakultas Teknik
TANAMAN TEMBAKAU
DENGAN
STRATEGI KLONING
APOPTIN + GFP PADA TANAMAN
TEMBAKAU DENGAN
AGROBACTERIUM
Modifikasi Gen
endo-1,4-beta-D-glucanase
Pemilihan Vektor Puc19
Pemilihan Host E.Coli
ER2275
Pemilihan Restriction Site
pada Plasmid
Penyisipan GFP ke dalam
Plasmid
Modifikasi Gen Apoptin
TRANSFORMASI PLASMID KE
E-COLI DENGAN METODE HEAT SHOCK + CACL2 Transformasi
menggunakan Triparental
Mating
Introduksi ke Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.)
Strategi Modifikasi Gen
Endo-1,4-beta-D-glucanase
•
Endo-1,4-β-D-glucanases (EGS) merupakan
enzim spesifik yang mengkatalisis reaksi
hidrolisis dari selulosa. Enzim ini dapat berasal
dari fungi, bakteri, dan protozoa.
•
Specific activity
: ~80 U/mg (40
oC, pH 4.5,
Pemilihan Vektor pUC19
Banyak digunakan sebagai vektor untuk kloning dalam E.coli
pUC19 diisolasi dari
E. coli
strain ER2272
Memiliki circular double stranded DNA dan mempunyai 2686
bp (
base pairs
).
Mudah ditransfeksikan kedalam E coli dengan metode yang
sederhana dan relatif murah (seperti
heat shock
)
Dapat dengan cepat bereplikasi dan mudah diseleksi dengan
Pemilihan Host E.Coli ER2275
Host cell
ini
merupakan sel inang
yang cocok sebagai
growth strain
bagi vektor plasmid pUC19 dan
sangat cocok
dijadikan media
transformasi.
1. Transformasinya efisien, strain ini
memiliki tingkat efisiensi tinggi.
2. Disablement
yang baik, memiliki
penanda (
marker
).
Memiliki origin of replication, sebagai syarat replikasi. Vektor pUC19 memiliki yang namanya oriV
Mempunyai dua gen marker yang dapat menandai masuk tidaknya plasmid ke dalam sel inangnya nanti. Gen marker ini dapat ditandai dengan amphicilin dan blue-white screening.
Ukuran yang sesuai, memiliki ukuran yang relatif kecil dibandingkan dengan pori dinding sel inang sehingga dapat dengan mudah melintasinya.
Pemilihan
Restriction Site
pada Plasmid
•
Untuk melakukan cloning DNA insert ke dalam vector cloning, dibutuhkan dua enzim
restriksi yang berbeda untuk membentuk ujung yang kompatibel.
•
Enzim yang digunakan menghasilkan ujung yang kohesif atau
sticky ends
untuk
memastikan bahwa penggabungan insert berada pada arah yang benar. Enzim yang
dipilih diusahakan agar tidak menghasilkan potongan yang komplemen satu sama
lainnya (
compatible end
) sehingga arah penyisipan fragmen dapat terbalik.
•
Restriction Site
yang dipilih adalah BamHI pada ujung 5 dan EcoRI pada ujung 3 .
‟
‟
GFP (Green Fluorescence Protein)
•
Asal : Ubur-ubur Aequoria victoria
•
Memancarkan warna Hijau pada 509 nm.
•
Sequence :
1 MSKGEELFTG VVPILVELDG DVNGHKFSVS GEGEGDATYG KLTLKFICTT
51GKLPVPWPTL VTTFSYGVQC FSRYPDHMKQ HDFFKSAMPE GYVQERTIFF
101 KDDGNYKTRA EVKFEGDTLV NRIELKGIDF KEDGNILGHK
LEYNYNSHNV
151 YIMADKQKNG IKVNFKIRHN IEDGSVQLAD HYQQNTPIGD
GPVLLPDNHY
Lokasi penyisipan GFP
•
Daerah
bialophos/phosphinothric
in-resistance (BiPR)
dipotong dan disisipi
dengan gen GFP.
•
Restriction Site :
BlPI di ujung 5’
PCR
•
Forward Primer
5’-
GC TGAGC
ATG AGC AAA GGA GAA
G-3’
Length : 23 bp
GC Content : 52 %
Melting Temperatur : 57,1 °C
•
Reverse Primer
5’-
GC GCGCGC
TTT ATA GAG CTC AT-3’
Length : 22 bp
GC Content : 55 %
Modifikasi Gen Apoptin
PCR
Pembuatan Primer
forward
dan
reverse
Pemilihan Situs Restriksi pada vektor
GFP
Sekuens Gen Apoptin
Desain modifikasi gen Apoptin
5’
3’
5’
3’
1. Forward
primer
Desain forward primer yaitu
Dari data primer diatas, dapat di cari perkiraan berikut:
T
m=
60°C
, sesuai dengan T
myang baik harus sama atau diatas
60°C
%GC
=
42,85%
, sesuai dengan kandungan GC dalam primer harus berada
diantara
40
-
60%
5’
3’
5’-
ATGAACGCTCTCCAAGAAGAT
-3’
1. Reverse primer
Desain reverse primer yaitu
3’-
GTCAGAATATGTGGAAGAACATT
-5’
Dari data primer diatas, dapat di cari perkiraan berikut:
T
m=
80°C
, sesuai dengan T
myang baik harus diatas 60°C
%GC
=
42,6%
, sesuai dengan kandungan GC dalam primer harus berada diantara
40
-
60%
5’-
TTACAGTCTTATACACCTTCTTG
-3’
3’
5’
Hakikat dari amplifikasi dengan PCR adalah penggantian beberapa
enzim yang biasa terdapat dalam sel dengan pemanasan dan
pendinginan sampel. Amplifikasi PCR terdiri dari beberapa
rangkaian proses, yaitu:
a. Denaturasi: yaitu pemutusan ikatan hidrogen DNA pada suhu 95
oC
b. Annealing: yaitu proses penempelan primer pada template DNA pada
suhu 55-60
oC
c. Sintesis DNA: di mana Tag Polymerase melakukan sintesis pada DNA
yang baru dibentuk pada suhu 72
oC
Hasil PCR
E. coli
Binary vector
Binary Vector
Menggunakan binary vector
(berisi region T-DNA) dan
Ti-plasmid (berisi gen virulensi) yang terpisah
Binary vector memiliki T-DNA yang berisi gene of interest, serta
penanda seleksi untuk bakteri & tanaman
Mengapa CaCl
2
?
•
Beberapa bakteri memiliki
spesialisasi protein
membran untuk membawa
DNA ke dalam sel mereka
•
Ca merangsang
Sekarang plasmid berada di dalam, lalu tambahkan media Super Optimal broth with
Catabolite repression (SOC)
SOC media menutrisi Ecoli untuk tumbuh dan membelah
Plasmid juga akan membelah didalam Ecoli
Jika plasmid yang bereproduksi, mereka akan menyediakan sel Ecoli dengan resistensi
amp sehingga mereka dapat tumbuh di medium mengandung ampicilin
Proses Replikasi didalam E-coli
Dalam Triparental
Mating digunakan 3
macam bakteri yaitu:
Bakteri E. Coli yang
mengandung plasmid
pGreen II 0229
(mrngandung gen
apoptin yang telah di
tambahkan GFP)
Bakteri E.coli HB 101
yang mengandung
E. coli
yang
membawa
pGreen II 0229
ditumbuhkan
dalam media LB
padat yang
mengandung
antibiotik
kanamisin 50
mg/ kemudian
diinkubasi pada
suhu 37ºC
selama 16 jam
.
E. coli
yang
membawa
plasmid helper
ditumbuhkan
pada media LB
padat dengan
penambahan
antibiotik
kanamisin 50
mg/L
Bakteri A.
Tumefaciens
ditumbuhkan
dalam media LB
padat yang
mengandung
antibiotik 50
Setelah dilakukan
inkubasi, biakan
diambil satu gores
dan dilarutkan
didalam 1 ml media
LB cair. Biakan
dicampur di media
LB padat dengan
memasukkan 20 μl
secara berurutan
E.coli yang
membawa pGreen II
0229, E. coli yang
membawa helper
pRK 2013 dan A.
tumefaciens. Biakan
diinkubasi pada suhu
28ºC selama 32 jam.
Kemudian,
masing-masing biakan
diambil satu gores
dan dilarutkan
dalam medium LB
cair. Selanjutnya,
masing-masing
biakan dicampur
secara
berurutan:
E.coli
yan
g mengandung
pGreen II
0229,
E.coli
HB
101,
A. tumefaciens
.
Lalu, diinkubasi
selama 32 jam pada
suhu 28°C.
Untuk memastikan
perpindahan gen
apoptin ini, maka
biakan di ambil satu
gores lalu
diencerkan dan di
ambil sekitar 10 μl
dari hasil
pengenceran
Strategi
Introduksi ke Tanaman Tembakau
(Nicotiana tabacum L.)
Satu koloni
Agrobacterium tumifaciens
yang positif membawa
plasmid ekspresi rekombinan ditumbuhkan pada media, suhu
28ºC selama 48 jam.
Kultur bakteri disentrifus pada 4000 rpm selama 10 menit.
Pelet diresuspensikan dengan 10 ml larutan MS + vitamin B5
dan mengandung 200 µM asetosiringone lalu diinkubasi
Sumber eksplan tembakau yang digunakan adalah daun tembakau hasil
perbanyakan kultur in-vitro.
Daun yang dipakai untuk infeksi adalah daun ke-2 dan 3 dari pucuk. Lembaran
daun dipotong dengan ukuran 1 cm x 1 cm, dimasukkan ke dalam suspensi
Agrobacterium tumifaciens
lalu diinkubasikan pada kondisi tanpa cahaya (gelap), suhu 28°C, penggoyangan
dengan kecepatan 75 rpm selama 15 menit. Potongan daun dikeringkan
menggunakan tissue steril lalu ditanam pada media ko-kultivasi yang di atasnya
telah diberi kertas saring steril.
Inkubasi dilakukan di ruangan gelap pada suhu 28ºC selama 1 hari. Potongan daun
dicuci dengan larutan MS sebanyak 2 kali dan larutan MS+250 µg/ml cefotaksim
sebanyak 2 kali.
Mekanisme infeksi
Agrobacterium
ke dalam sel tanaman meliputi
tiga tahap, sebagai berikut (Day dan Lichtenstein, 1992).
Penempelan
Agrobacterium pada daun tanaman
Pengenalan
Agrobacterium
dengan molekul sinyal yang dihasilkan oleh sel
tanaman yang terluka, kemudian secara kemotaksis
Agrobacterium
bergerak dan menempel pada sel
tanaman.
Gen-gen vir pada plasmid Ti merespon
molekul sinyal yang dihasilkan oleh sel
tanaman dan selanjutnya menginduksi
ekspresi gen-gen vir untuk memotong rantai tunggal T-DNA
dan
memindahkannya ke dalam inti sel
tanaman.
T-DNA terintegrasi ke dalam genom
tanaman dan gen-gen pada T-DNA diekspresikan dalam
sel tanaman.
Ekspresi gen-gen onc (oncogen)
menyebabkan sel berproliferasi, sedangkan ekspresi
gen-gen opin bertanggungjawab untuk sintesis derivat
asam amino opin
Agrobacterium tumefaciens