• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pelanggaran HAM Berat Terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tinjauan Pelanggaran HAM Berat Terhadap"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Tinjauan Pelanggaran HAM Berat Terhadap Etnis Rohingya

dari Aspek Hukum Internasional dan Hukum Nasional

Oleh:

Dani Bagus Aris Tyawan

[email protected]

Abstrak

Perlindungan terhadap kelompok etnis dan hak atas berkewarganegaraan sudah cukup banyak pengaturannya dalam hukum internasional. Tetapi dalam prakteknya masih terdapat banyak pelanggaran. Suku Rohingya adalah etnis minoritas di negara Myanmar dan mendapatkan perhatian serius karena mereka diperlakukan secara diskriminatif. Pemerintah Myanmar tidak memberikan mereka status kewarganegaraan sehingga mereka tidak mendapat perlindungan nasional atas kekerasan apapun terhadap mereka. Perlakuan tidak manusiawi terhadap etnis Rohingya di Myanmar mendorong mereka untuk meninggalkan negara asalnya. Mereka melarikan diri secara ilegal ke negara lain melalui jalur darat maupun laut. Kedatangan mereka ke negara tetangga membuat ketakutan negara tujuannya tersebut. Negara tujuan berasumsi bahwa meningkatnya jumlah etnis Rohingya yang tiba di negara mereka akan mengganggu stabilitas dan pertahanan nasional negara mereka. Alasan lainnya adalah menempatkan beban pada negara mereka karena tidak ada niat baik negara Myanmar untuk mengatasi masalah ini. Negara tujuan mengambil segala upaya untuk menghindari kedatangan etnis Rohingya dan mengambil kebijakan yang menghindari kedatangan mereka. Kepada etnis Rohingya yang tiba di negara tujuan, hak mereka tidak terjamin, dimana tidak ada relokasi dengan standar kesehatan. Karena itu, perlu upaya pemerintah internasional untuk menyelesaikan kasus ini. Pemerintah internasional harus segera mendorong Pemerintah Myanmar untuk segera menyelesaikan masalah ini, dengan memberikan status kewarganegaraan kepada setiap etnis Rohingya untuk penyelesaian jangka panjang mengenai kasus ini. Pemerintah Myanmar harus melakukan tindakan serius terhadap kejahatan yang dilakukan oleh etnis lain di Myanmar terhadap etnis Rohingya atau kejahatan oleh tentara Myanmar sendiri terhadap etnis Rohingya.

Kata kunci: Pelanggaran HAM, etnis Rohingya, pengungsi, kewarganegaraan.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

(2)

penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.1

Terdapat banyak sekali jumlah etnis yang ada di dunia ini, banyak juga etnis minoritas yang tersebar di berbagai negara. Nasib etnis minoritas ini pun tidak luput dari pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh penguasa seperti yang terjadi di Myanmar, ratusan ribu warga sipil dari masyarakat etnis minoritas telah dipaksa untuk meninggalkan desa mereka, sebagai strategi untuk memotong dukungan kepada kelompok-kelompok oposisi bersenjata. Seluruh desa telah diratakan dengan tanah, menghilangkan kepemilikan atas rumah-rumah penduduk dan harta benda mereka. Banyak korban lain pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah, termasuk eksekusi diluar hukum dan penyitaan tanah mereka.2

Reaksi yang timbul dari kelompok-kelompok etnis ini pun beragam. Sebagian ada yang secara keras menunjukkan perlawanan terhadap pemerintah sehingga terlibat bentrok dengan pemerintah,3 dan ada yang

melarikan diri ke negara lain untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik atau untuk menghindari pemindahan paksa dan pelanggaran lain.4

Suatu negara dapat menolak atau menerima orang asing yang masuk kedalam wilayahnya setelah memenuhi syarat-syarat tertentu. Dalam situasi khusus ada kemungkinan seseorang diperkenankan masuk ke wilayah suatu negara tanpa memiliki dokumen lengkap, misalnya dalam kasus pengungsi atau pencari suaka.5

1.2 Kronologi Kasus

Minoritas Muslim Rohingya di Myanmar, menjadi suatu masyarakat yang memiliki nasib terkucilkan di tempat tanah kelahirannnya.6 Meskipun telah

berabad-abad tinggal di Myanmar, pemerintah junta militer Myanmar menganggap bahwa Rohingnya termasuk dalam etnis Bengali sehingga pemerintah junta militer Myanmar tidak mengakui mereka sebagai salah satu etnis Myanmar.7 Dengan diberlakukannya Burma Citizenship Law 1982,

membuat etnis Rohingya kehilangan kewarganegaraannya.

Etnis Rohingya juga mengalami pelanggaran HAM dalam hal beragama, diantaranya Junta memprovokasi kerusuhan diantara warga dengan mengijinkan untuk membagikan buku-buku dan catatan yang menghina Islam; masjid dan madrasah dihancurkan dan ditutup; pelarangan membangun masjid dan madrasah yang baru; tidak diizinkan merenovasi masjid dan madrasah.8

1 Pasal 1 angka 6 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

2 Nic Dunlop, http://www.amnesty.org/en/library/asset/ASA16/001/2007/en/196b18ba-d3c5-11dd-8743-d305bea2b2c7/asa160012007en.pdf.

3 Andi Purwono, “Perlawanan Uigur pada Kekuasaan China”,

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/07/08/71515/Perlawanan-Uighur-pada-Kekuasaan-China

4 Dunlop, op.cit.

5 Atik Krustiyati, Penanganan Pengungsi di Indonesia, Tinjauan Aspek Hukum Internasional & nasional, (Surabaya: Brilian Internasional, 2010) hlm i.

6 Jawahir Thontowi, Perlakuan Pemerintah Myanmar terhadap Minoritas Muslim Rohingya Perspektif Sejarah dan Hukum Internasional, (Pandecta, Volume 8, Nomor 1, Januari 2013), hlm. 43.

(3)

Tindakan-tindakan tersebut merupakan mekanisme yang dijalankan junta militer Myanmar dalam operasi-operasi militernya dengan tujuan memusnahkan etnis Rohingya dari Myanmar. Operasi militer tersebut antara lain:

1. Operasi Militer (resimen ke-5) pada November 1948; 2. Operasi Burma Territorial Force pada 1949-1950;

3. Operasi Militer (2nd Emergency Chin regimen) pada 1951-1952; 4. Operasi Mayu Oktober pada 1952-1953;

5. Operasi Mone-thone pada Oktober 1954;

6. Operasi Tentara dan Imigrasi pada Januari 1955; 7. Operasi UMP pada 1955-1958;

8. Operasi Keptan Htin Kyat pada 1959; 9. Operasi Shwe Kyi pada Oktober 1966;

10. Operasi Kyi Gan pada Oktober-Desember 1966; 11. Operasi Ngazinka pada 1967-1969;

12. Operasi Myat Mon pada Februari 1969-1971; 13. Operasi Major Aung pada Februari 1973; 14. Operasi Sabe pada Februari 1974-1978; 15. Operasi Nagamin pada Februari 1978-1980; 16. Operasi Shwe Hintha Ogos pada 1978-1980; 17. Operasi Galone pada 1979;

18. Operasi Pyi Thaya pada 1991-1992;

19. Operasi Na-Sa-Ka sejak 1992 hingga kini.9

1.3 Rumusan Masalah United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) dalam kasus pengungsi Rohingya ? Myanmar terhadap etnis Rohingya antara lain adalah:

2.1.1 Diskriminasi rasial terhadap etnis Rohingya

Dalam Pasal 1 ayat 1 Internatinal Convention on the Elimination of Racial Discrimination, diskriminasi rasial diartikan sebagai:

“... any distinction, exclusion, restriction or preference based on race, colour, descent, or national or ethnic origin which has the purpose or effect of nullifying or impairing the recognition, enjoyment or exercise, on an equal footing, of human rights and fundamental freeedoms in the political, economic, social, cultural or any other field of public life.”

(4)

Dalam kasus Rohingya, pemerintah Myanmar telah melakukan tindakan diskriminasi terhadap etnis Rohingya yang didasarkan atas ras, etnis, warna kulit, dan agama. Pemerintah Myanmar melaksanakan kebijakan “Burmanisasi” dan “Budhanisasi” yang mengeluarkan dan memarjinalkan warga Muslim Rohingya di tanahnya sendiri, Arakan.

International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination memberikan perlindungan terhadap kebebasan dari diskriminasi. Konvensi ini meminta Negara peserta untuk dapat mengambil langkah-langkah yang dapat menghilangkan praktik diskriminasi dan mempromosikan kesetaraan kesempatan dan hubungan baik antara orang-orang dari kelompok ras yang berbeda.10

Pasal 27 International Convenant on Civil and Political Rights menjamin hak atas identitas nasional, etnis, agama, atau bahasa, dan hak untuk mempertahankan ciri-ciri yang ingin dipelihara dan dikembangkan oleh kelompok tersebut. Dalam pasal ini tidak dibedakan perlakuan yang diberikan negara kepada kelompok minoritas yang diakui atau tidak. Sehingga ketentuan ini berlaku bagi kelompok minoritas yang diakui oleh suatu negara maupun kelompok minoritas yang tidak mendapat pengakuan resmi negara.11

2.1.2 Tidak diberikan kewarganegaraan (stateless person)

“Setiap orang memiliki hak untuk berwarganegaraan”. Ketentuan ini terdapat dalam Pasal 15 ayat (1) Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948. Instrumen internasional lainnya juga melengkapi ketentuan ini adalah Pasal 5 Internasional Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, mewajibkan negara untuk menjamin hak setiap orang, salah satunya adalah hak atas kewarganegaraan (the right to nationality).12

Hak seseorang atas kewarganegaraan tidak dapat dihilangkan. Sehingga jika alasan Myanmar tidak mau mengakui etnis Rohingnya karena menganggap etnis Rohingya berkebangsaan Bangladesh, maka alasan ini sangat diskriminatif dan bertentangan dengan hukum internasional.

Perlindungan terhadap orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan terdapat dalam Convention Relating to The Status of Stateless Persons 1954. Konvensi ini menyatakan bahwa orang-orang tanpa kewarganegaraan dapat mempertahankan hak dan kebebasan mendasar tanpa diskriminasi.13

2.1.3 Tidak diberikan kebebasan untuk beragama

Sejak awal Juni 2012, hampir semua masjid di ibukota Arakan yaitu Sittwe/Akyab telah dihancurkan atau dibakar. Pelarangan membangun masjid dan madrasah yang baru ditetapkan dan tidak diizinkan untuk merenovasi masjid dan madrasah. Banyak masid dan madrasah serta sekolah di Maungdaw dan Akyab yang ditutup dang muslim tidak boleh beribadah di dalamnya.14

2.1.4 Kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes againt humanity)

10 International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination Pasal 2 11 International Convenant on Civil and Political Rights Pasal 27

12 International Convention on the Elimination of All Forms of Radical Discrimination Pasal 5 D butir (3)

13 Convention Relating to The Status of Stateless Persons 1945 Pasal 3

14 Irma D. Rismayanti, Manusia Perahu Rohingya Tantangan Penegakan HAM di ASEAN.

(5)

Pembantaian terhadap etnis Rohingya telah terjadi sejak berpuluh-puluh

2.1.5 Kejahatan Genosida (Genocide) atau etnic cleansing

Dalam kasus Rohingya ini, pemerintah Myanmar telah terbukti melakukan hal-hal yang disebutkan dalam Pasal 2 Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide dan Pasal 5 Statuta Roma. Dimana pemerintah Myanmar telah melakukan tindakan yang dapat menyebabkan punahnya sebagian atau keseluruhan anggota etnis Rohingya, seperti membunuh anggota-anggota Rohingya, dengan sengaja mengakibatkan penderitaan pada kondisi kehidupan etnis Rohingya yang diperkirakan menimbulkan kerusakan jasmani seluruhnya atau sebagian.

2.2 Perlindungan terhadap etnis yang tidak memiliki kewarganegaraan

Walaupun negara memiliki hak untuk menentukan siapa yang menjadi warga negaranya, tetapi penentuan syarat tersebut sesuai dengan konvensi internasional, kebiasaan internasional, dan prinsip-prinsip hukum mengenai masalah kewarganegaraan yang diakui.16 Dalam Pasal 5 International

Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination dinyatakan bahwa tidak boleh ada diskriminasi yang didasarkan atas ras, warna kulit, kebangsaan atau etnis bagi setiap orang dalam menikmati hak-hak dasar, salah satunya adalah hak atas kewarganegaraan.

Pemberian kewerganegaraan terhadap individu dalam kelompok etnis merupakan salah satu bentuk perlindungan terhadap keberadaan etnis itu sendiri. Dengan adanya kewarganegaraan yang dimiliki individu, anggota kelompok etnis dapat menikmati hak-hak lain yang dijamin dalam peraturan nasional.17

Untuk menentukan kewarganegaraannya Myanmar menganut asas ius sanguinis. Dalam Pasal 5 Burma Citizenship Law 1982 membuat anak-anak yang lahir dari orang tua etnis Rohingya baik di Myanmar maupun di luar Myanmar tidak memiliki kewarganegaraan Myanmar. Pemerintah Bangladesh pun tidak mau mengakui etnis Rohingnya sebagai warga negaranya karena etnis Rohingnya secara teritorial berada di wilayah Myanmar.

2.3 Peran Negara Asal, Negara Transit, dan UNHCR dalam Penanganan Rohingya

15 Rohingya 101, data dan fakta, www.indonesia4rohingya.org, hlm 3

16 Kate Jastram dan Marilyn Achiron, Perlindungan Pengungsi: Buku Petunjuk Hukum Pengungsi Internasional, [Refugee Protection: A Guide to International Refugee Law], pent. Enny

Soeprapto dan Rama Slamet, (Uni Antar-Parlemen dan UNHCR, 2004), hlm 32.

17 Philip Vuciri Ramaga, “The Group Concept in Minority Protection”, Human Rights Quarterly,

(6)

Untuk menertibkan, mengatur dan memelihara hubungan internasional ini dibutuhkan hukum guna menjamin unsur kepastian yang diperlukan dalam setiap hubungan yang teratur. Hubungan antara orang atau kelompok yang tergabung dalam ikatan kebangsaan atau kenegaraan yang berlainan itu dapat merupakan hubungan tak langsung atau resmi yang dilakukan oleh para pejabat negara yang mengadakan berbagai perundingan atas nama negara dan meresmikan persetujuan yang dicapai dalam perjanjian antar negara.18

Keterlibatan negara-negara transit dalam penanganan manusia perahu Rohingya haruslah di dasari oleh pertimbangan kemanusiaan terhadap penderitaan etnis Rohingya, perlindungan HAM dan solidaritas kesatuan ASEAN. Penanganan masalah ini harus tuntas namun tidak mencederai bilateral dan regional (ASEAN). Selain itu, penanganan pencari suaka Rohingya melibatkan UNHCR sebagai lembaga internasional yang khusus menangani masalah pengungsi. Sesuai dengan mandat yang diberikan oleh PBB kepada UNHCR yaitu memimpin dan mengordinasi aksi internasional untuk melindungi pengungsi dan menyelesaikan masalah pengungsi di seluruh dunia. Tujuan utama UNHCR adalah untuk melindungi hak-hak dan kesejahteraan pengungsi.19

Solusi permanen lainnya adalah integrasi lokal, UNHCR dapat menawarkan pilihan ini kepada negara transit agar pengungsi dapat tinggal secara permanen di wilayahnya. Sehingga ada kemungkinan naturalisasi kewarganegaraan pengungsi; dan pemukiman kembali (resettlement) pengungsi ke negara ketiga. Dalam menjalankan solusi jangka panjang tersebut, UNHCR memerlukan kerjasama dengan pemerintah-pemerintah negara transit, negara asal, dan negara ketiga. Bila perlu, UNHCR akan memberikan bantuan material untuk jangka waktu pendek.20

18 Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasional, (Bandung: P.T. Alumni, 2013), hlm 13.

19 UNHCR, “Office of the United Nations High Commissioner for Refugess”,

http://www.uhcr.org/pages/49c3646c2.html.

(7)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perlindungan terhadap kelompok etnis dan hak atas berkewarganegaraan sudah cukup banyak pengaturannya dalam hukum internasional. Tetapi dalam prakteknya masih banyak pelanggaran. UU No 39 tahun 1999 tentang HAM pada Pasal 1 angka 6 telah menjelaskan bahwa pengertian dari Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Etnis Rohingya adalah salah satu contoh kelompok etnis yang tidak diakui kewarganegaraannya sehingga hak-haknya sering dilanggar, bahkan mereka sering mendapatkan penganiayaan.

Bentuk-bentuk pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya diantaranya adalah diskriminasi rasial terhadap etnis Rohingya; tidak diberikan kewarganegaraan (stateless person); tidak diberikan kebebasan untuk beragama; kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity); kejahatan genosida (genocide) atau ethnic cleansing.

Dalam Pasal 5 Internatinal Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination dinyatakan bahwa tidak boleh ada diskriminasi yang di dasarkan atas ras, warna kulit, kebangsaan, atau etnis bagi setiap orang dalam menikmati hak-hak dasar, salah satunya adalah hak atas kewarganegaraan.

Pemberian kewarganegaraan terhadap individu dalam kelompok etnis merupakan salah satu bentuk perlindungan terhadap keberadaan etnis itu sendiri. Dengan adanya kewarganegaraan yang dimiliki individu, anggota kelompok etnis dapat menikmati hak-hak lain yang dijamin dalam peraturan nasional.

(8)

Daftar Pustaka

Buku

Jastram, Kate dan Marilyn Achiron. Perlindungan Pengungsi: Buku Petunjuk Hukum Pengungsi Internasional [Refugee Protection: A Guide to International Refugee Law]. Penr. Enny Soeprapto dan Rama Slamet. Uni Antar-Parlemen dan UNHCR, 2004.

Krustiyati, Atik. Penanganan Pengungsi di Indonesia, Tinjauan Aspek Hukum Internasional & Nasional. Surabaya: Brilian Internasional, 2010.

Kusumaatmadja, Mochtar dan Etty R. Agoes. Pengantar Hukum Internasional. Bandung: P.T. alumni, 2013.

Romsan, Achmad. Pengantar Hukum Internasional: Hukum Internasional dan Prinsip-Prinsip Perlindungan Internasional. Jakarta: UNHCR, 2003.

Artikel Jurnal

Azis, Avyanthi. “Locating The Rohingya in A Difficult World of Nation: A Study in Statelessness”. (makalah disampaikan pada Orientation and Country Workshop of API Fellowship, kerjasama antara Nippon Foundation dan LIPI, Depok, 23-24 Maret 2011).

Islam, Sultan Muhammad. “Nasib Umat Islam Rohingya yang Dilupai”, (makalah disampaikan dalam acara Universal Justice Network Meeting di Penang, Malaysia, pada 1-4 Juli 2011).

Thontowi, Jawahir. Perlakuan Pemerintah Myanmar terhadap Minoritas Muslim Rohingya Perspektif Sejarah dan Hukum Internasional. Pandecta, Volume 8, Nomor 1, Januari 2013.

Ramaga, Philip Vuciri. “The Group Concept in Minority Protection”, Human Rights Quarterly, Vol. 15, No. 3. Johns Hopkins University Press. Agustus 1993.

Peraturan Perundang-undangan

Pasal 1 angka 6 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination Pasal 2

International Convenant on Civil and Political Rights Pasal 27

International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination Pasal 5 D butir (3)

Convention Relating to The Status of Stateless Persons 1945 Pasal 3

Internet

Dunlop, Nic. http://www.amnesty.org/en/library/asset/ASA16/001/2007/en/196b18ba-d3c5-11dd-8743-d305bea2b2c7/asa160012007en.pdf

Purwono, Andi. “Perlawanan Uigur pada Kekuasaan China”.

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/07/08/71515/Perlawanan-Uighur-pada-Kekuasaan-China

Rismayanti, Irma D. Manusia Perahu Rohingya Tantangan Penegakan HAM di ASEAN.

http://pustakahpi.kemlu.go.id. hlm. 21

Rohingya 101. data dan fakta. www.indonesia4rohingya.org

UNHCR. “Office of the United Nations High Commissioner for Refugess”.

(9)

Lampiran

Referensi

Dokumen terkait

PERAN OHCHR DALAM MENANGANI KASUS HAM YANG TERJADI PADA ETNIS ROHINGYA.. DI MYANMAR

Dan pada bab ini dijelaskan mengenai Bentuk-Bentuk masalahh Pelanggaran HAM terhadap Masyarakat Ukraina, berbagai Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Rakyat Ukraina Dilihat Dari

Melihat kasus di atas, pelanggaran yang dilakukan oleh Junta Militer Myanmar terhadap Etnis Rohingya dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat karena

Pemerintah China telah melakukan pelanggaran HAM di Xinjiang, diantaranya pelanggaran kebebasan beragama, dimana seperti yang diberitakan oleh surat kabar

Berdasarkan hasi pembahasan dapat disimpulkan bahwa bentuk kekerasan apapun yang ditujukan kepada etnis Rohingya yang dilakukan oleh Pemerintahan Myanmar tidak dapat dibenarkan

Permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana bentuk-bentuk masalah pelanggaran HAM terhadap muslim di Uighur, bagaimana kejahatan kemanusiaan terhadap

Dalam penulisan skripsi ini yang menjadi permasalahan adalah bagaimana eksistensi etnis Rohingya di Myanmar, pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang terjadi pada

Pembahasan mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar terhadap Etnis Rohingya tidak terlepas pada penyelesaian melalui organisasi internasional, yang erat kaitannya