PERGESERAN HUKUM INDONESIA DIHUBUNGAN
DENGAN SISTEM HUKUM EROPA KONTINENTAL
1.
Oleh : Prof. Dr. H. Toto Tohir Suriaatmadja, S.H.M.H.
I.
Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang sangat unik dilihat dari berbagai aspek. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kurang lebih terdiri dari 17.000.000 pulau dengan sebagian besar pulau belum mempunyai nama dan belum berpenghuni; luas lautan lebih luas daripada daratan. Dari segi geografis, Indonesia terletak dikhatulistiwa dengan
kekayaan belt geo stationer orbit (GSO)2, diapit oleh dua samudera yaitu lautan teduh dan samudera hindia, diapit dua benua yaitu Asia dan Australia, degan kekayaan alam dilaut, darat, dan udara yang melimpah, banyak gunung api, dan paru-paru dunia hutan hujan tropisnya. Dari segi penduduk, Indonesia dikenal juga sebagai negara multi etnik, multi kultur, multi agama, dan multi ras dengan pengikat utama Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa.
Dalam bidang hukum pun, Indonesia merupakan negara yang multi hukum. Sebagai negara yang bermulti etnik dan kultur, di Indonesia tumbuh hukum di ligkungan masyatrakat etnik masing-masing. Van Vollen Hopen membagi Indonesia dalam 19 wilayah adat dari NAD sampai ke Papua yang masing-masing mempunyai hukum adat sendiri-sendiri3.
Di samping itu, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dalam kehidupan sehari-hari berlaku pula hukum Islam4. Keberlakuan hukum Islam lebih kokoh dan ajeg setelah keluarnya undang-undang peradilan agama yang baru yaitu Undang-undang No 3Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama5.
Namun demikian, Indonesia sebagai negara yang pernah dijajah oleh Belanda maka hukum Eropa menjadi hukum positif. Belanda sebagai negara yang berada di Eropa Daratan dan pernah dijajah Perancis, dalam sistem hukumnya menganut atau bersistem Eropa
Kontinental. Sistem tersebut secara formal dan substansial dianut pula oleh Indonesia. Hukum warisan Belanda yang berlaku di Indonesia atas dasar konkordansi mencakup 4 hal penting yaitu hukum perdata dalam KUHPerdata, hukum dagang dalam KUHDagang (Kepailitan dan Penundaan Pembayaran), hukum pidana dalam KUHPidana, dan hukum acara perdata (HIR-RBg) dan acara pidana6. Ciri utama hukum di negara yang bersistem hukum Eropa Kontinental adalah kodifikasi.
Dengan demikian, Indonesia yang mewarisi hukum Belanda yang bersistem hukum Eropa Konteinental seharusnya menganut politik hukum ke arah kodifikasi. Akan tetapi fakta memperlihatkan, perkembangan hukum atau tepatnya undang-undang di Indonesia lahir dalam bentuk parsial dan sektoral, dan masih ada beberapa yang lain. Hal ini berarti
1 Disampaikan dalam Kuliah Umum di Fakultas Hukum, STIH T.M. Tsjafioedin, Singkawang, 23 Februari
2016.
2 GSO adalah suatu wilayah di ruang angkasa yang terletak di atas khatulistiwa dengan orbit yang hampir tidak
berbeda dengan orbit bumi sehingga sangat menguntungkan dalam penempatan satelit karena tidak memerlukan pengendalian letak.
3 Lihat, Suroyo Wignjodipuro, Penganntar dan Azas-Azas Hukum Adat, Alumni, Bandung, , 1979 : 97-98)
Untuk saat ini, dengan pertambahan penduduk dan semakin tumbuhnya individualisme, pembagian sbagaimana dilakukan oleh Van Vollenhopen memerlukan pengkajian ulang keakuratannya.
4 Tentang sumbangan Islam dalam pembangunan hukum di Indonesia, Lihat, Toto Tohir, Konstribusi Hukum
Islam Dalam Pembinaan Masyarakat Madani di Indonesia , Jurnal Hukum Madani, Vol VI, No 1, Fakultas Hukum UNISBA, Maret 2004,
5 Pasal 49 UU No 3 Tahun 2006 memperluas kewenangan Peradilan Agama dengan
kewenangan menyelesaikan sengketa dalam bidang Ekonomi Syari’ah.
6 Hukum Acara pidana sejak tahun 1982 berlaku hukum acara pidana hasil Bangsa Indonesia dengan
Indonesia tidak konsiten dengan sistem hukum yang dianutnya. Fakta lain adalah diakuinya tuntutan masal (class action) yang tumbuh dalam sistem hukum Anglo Sakson7. Oleh karena itu, pertanyaannya adalah, masihkah menganut sitem hukum Eropa Kontintal ?
2. Karakter Sistem Hukum
1.
Karakter utama Sistem Hukum Eropa Kontinental- Civil Law System
(EK) dan Sistem Hukum Anglo Sakson-Common Law System (CL)
Secara umum sebelum era kodifikasi, sistem hukum EK memiliki 3 (tiga) ciri karakter : a. Hampir pada sebagian besar negara Eropa daratan pengaruh hukum Romawi sangat kuat
terhadap hukum positif.
b. Pengembangan hukum dimulai dari perguruan tinggi.
c. Titik berat pengembangan hukum terletak pada hukum yang berlaku pada masyarakat setempat. Hukum yang berlaku pada masyarakat setempat atau hukum tidak tertulis diberlakukan jika undang-undang atau peraturan yang berlaku tidak mengatur masalah yang terjadi dalam masyarakat. Jadi berbeda berlakunya hukum kebiasaan atau hukum tidak tertulis yang berlaku pada sistem hukum “Common Law” 8
Sementara itu, di negara negara “CI”, hukum kebiasaan yang dikembangkan melalui putusan pengadilan telah berlangsung sejak lama dan tidak dipengaruhi oleh adanya perbedaan antara hukum publik dan hukum privat. Hukum kebiasaan yang dikembangkan melalui putusan pengadilan telah berhasil membatasi pengaruh politik terhadap hukum. Hal ini dapat dilakukan melalui “habeas corpus”, “Certiorari”, dan “mandamus9”. Selain itu, sejak keluarnya Magna Carts telah memberikan bukti supremasi hukum karena dengan keluarnya Magna Charta ini melahirkan suatu asas pokok bahwa pengadilan yang memutuskan sengketa para pihak dapat juga menguji secara materiil tindakan-tindakan adminisahtratif dan penguasa.
Persamaan sistem hukum tidak selamanya menuju pada perkembangan yang sama karena hukum selalu berinteraksi dengan lingungan yang dapat berupa ideologis, politis, religis dan sebagainya. Sebagai contoh, Realisme Hukum Amerika yang berangkat dari keluarga sistem
common law dan Realisme Hukum Skandinavia yang bercorak keluarga sistem civil law
mempunyai perkembangan yang berbeda10.
Menurut P.S. Atiyah dan R.S. Summers, penalaran hukum antara sistem hukum Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan fenomena di atas. Setidaknya, menurut pandangan mereka, “... the English legal system is highly ‘formal’ and the American highly
‘substantive’.” Apa yang dimaksud mereka dengan “substantive reasoning” adalah “... a moral, economic, political, institutional, or other social consideration,” sementara “formal
7 Di Kanada yang menganut sustem hukum Anglo Sakson berlaku class action. Akan tetapi khusus untuk
Negara Bagian Quebec yang menganut sistem hukum Eropa Kontinental, class action tidak berlaku.
8Lihat Soedarto, “Kapita Selecta Hukum Pidana”, Alumni, 1981, Hlm 53-55, dalam Romli, Romli
Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana, Mandar Maju, Bandung, 1996, hlm. 26-32
9Habeas Corpus known as the ‘great writ” means literally, “you have the body”. The writ
I habeas corpus has a varied use in criminal and civil contexts. It is basically a procedure for obtaining a judicial determination of the legality of an individual is custody. In the criminal 1(’ntext it is used the petitioner before the court to inquire into the legality of this confinement l’he writ of federal habeas corpus is used to test the constitutionality of a state criminal conviction. It pierces throught the formalities of a state conviction to determine whether the “nvtctjon is consonant with the Due Process of Law. The Writ is used in the civil context to liilenge the validity of child, Mandan)uS is an extraordinary writ issues from a, court to an ttjcial compelling performance of an act which the law recoqnize as a duty It is i’ in the sense that it is used only when all other judicial remedies have failed or ui.idequate. Certiorari, is a means of gaining appelate review; a common law writ issued from ‘I iiperior court to one of inferior Jurisdiction commanding the latter to certify and return to the former the record in the particular case. The writ is issued in order that the court issuing lI writ may inspect the proceedings and determine whether there have been any i:i (Steven H. Gifis, “Law Dictionary”; Barroiis Educatjop.al serrjes Inc.; New ik 1975. p. 93.), dalam, Romli, Ibib
reasoning” adalah “... a different kind of reason from a substantive reason that has not yet been incorporated in the law at hand. A formal reason is a legally authoritative reason on which judges and others are empowered or required to base a decision or action...11.
Karakter umum dari keluarga sistem hukum Eropa Kontinentak adalah,12 :
a) cara berpikir dalam Eropa Kontinental (EK) adalah abstrak, konseptual, sitematis b) pembagian bidang hukum, EK secara klasik mengenal pembagian hukum publik dan
hukum privat.
c) pembagian sistem aturan, EK tidak mengenal dua sistem aturan yang berkedudukan sejajar (sangat mengutamakan unifikasi).
d) pendekatan dalam penyelesaian masalah, EK berdasar dari aturan (rule-based) yang sudah ada dalam bentuk perarturan perundang-undangan
e) pola penalaran, EK Sistemik — problematik, yaitu dari sesutu yang telah disistimatisasi untuk menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi.
f) Sumber hukum positif EK lebih pada peraturan perundang- undangan (statutory, enacted law).
g) karakteristik peraturan perundang-undangan ; di EK dmaksudkan untuk merespons
kebutuhan case law. Oleh karenal itu, materi undang-undang disusun selengkap mungkin (everday matters). Kodifikasi untuk bidang hukum yang mendasar (a.l. perdata, dagang, pidana, acara perdata, acara pidana) menjadi tuntutan kebutuhan. h) karakter putusan hakim, EK, tidak berlaku asas precedent yang mengikat hanya
bersifat persuasive precedent.
i) Peranan pengemban pembentukan hukum EK, Pengemban yang berperan datam pembentukan hukum adalah pembentuk undang-undang itu sendiri (otoritas legislatif)..
j) Profesi kehakiman, Dalam EK, hakim dididik dan diangkat dari lulusan universitas, yang sebagian besar menjadikan profesi hakim sebagai awal karir mereka13.
k) Pada EK, universitas sangat besar peranannya dalam penciptaan doktnin-doktrin hukum.
Sementara itu, Ade Maman14 memgidentifikasi karekter EK sebagai berikut : a. order and priority : yurisprudence and doctrine. Dalam EK, doktrin lebih
didahulukan dari pada yurisprudensi. EK menempatkan legislator sebagai pembuat hukum, sedangkan pengadilan hanya menerapkan hukum.
b. Fungsi doctrine. Dalam EK, doktrin dimaksudkan untuk menggambarkan atau menjelaskan terhadap tidak terorganisainya kasus-kasus, buku dan kamus hukum, aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang akan menjelaskan suatu subjek yang elemennya tidak murni.
c. doctrine style. para penganut civilist lebih memfokuskanpada prinsip-prinsip, dia akan menelusuri sejarah, mengidentifikasi fungsi, menentukan wilayah penerapan, dan menerangkan akibatnya dalam konteks hak dan kewajiban. Dalam tahapan ini, efek dan pengecualian umum menjadi berkurang. Dalam menganalisis statuta, yaitu menentukan area dan penerapan prinsip-prinsip yang melibatkan beberapa metode induksi dan kasus-kasus hukum yang ada.
d. fungsi yurisprudensi, dalam EK lebih pada menerapkan prinsip-prinsip umum. e. Stare decisis, dalam EK tidak mengenal stare decisis.
11 P.S. Atiyah & R.S. Summers, Form and Susbtance in Anglo-American Law: A Comparative Study of Legal
Reasoning, Legal Theory, and Legal Institutions, Oxford: Clarendon Press, 1991, hIm 1-2, dalam, Shidarta, Ibid
12 Lihat, Shidarta, Op. Cit., Hlm 169-170
13 Uraian lebih rinci tentang profesi hokum dapat dibaca dalam, Elly Erawaty, Profesi Hukum dari Perspektif
Perbandingan Hukum, TT, TP
f. yurisprudensi style, Dalam bentuk putusan pengadilan, EK merumuskannya dalam bentuk tertulis, lebih formalistik gayanya daripada putusan dalam sistem common law, lebih pendek dan terbagi dalam dua bagian: pertama, adalah motif atau reason dan dispositif atau order, dan langkah pertama adalah
mengidentifikasi prinsip-prinsip. hukum yang relevan, kemudian memverifikasi jika fàkta-fakta mendukung untuk penerapannya
g. Fungsi undang-undang (Statutes fungtion). Dalam EK, kitab undang-undang merangkum core of the Lawdan prinsip-prinsip umum secara sistematik dan menyeluruh diekspose dalam suatu kitab (code) dan aturan tertentu melengkapi kode tersebut.
h. Cara perumusan hukum (style of drafting laws). Perbedaan yang mencolok antara kedua sistem hukum tercermin dalam ungkapan :Civil law codes and statutes are concise(le style francais),15Dalam statute, hukum sipil tidak menyajikan definisi,
dan prinsip-pninsip secara luas dan frase umum.16 i. Penafsiran Hukum (interpretation of law)
Dalam yurisdiksi hukum sipil, langkah pertama dalam menafsirkan hukum menurut Mazaud adalah untuk menemukan maksud atau intention dari legislator dengan memeriksa semua legislasi termásuk travaux prepararories juga termasuk teks yang berkaitan dengan itu dan mengandung teks yang obscure. Pengangkatan hakim (appointment of judges)
Hakim dalam dalam EK diangkat dari lulusan universitas yang masih fresh. j. Konsekuensi evolusi hukum (consequences-evolution of the law)
Hukum dalam EK dibukukan dalam kitab undang-undang yang sering diwarnai doktrin yang kaku.
k. Konsep aturan hukum (concept of the legal rule)
Konsep aturan hokum, dalam EK bersifat abstrak dan merupakan abstraksi dari doktrin-doktrin para ahli hokum, system hokum di EK merupakan system hokum tertutup.
l. Pengkatagorian hukum (catagories of law)
dalam Ek dikenal pembagian dalam hokum privat dan hokum public.
i. Hukum Privatadalah the law which defines, regulates, enforces, and administers relationships among individuals, associations and corporation.., part of the law which is administered between citizen and citizen, or which is concerned with the definition, regulation and enforcement of the rights in cases where both the persons in whom the rights inheres and the person up on whome the obligation incident are private individuals’
ii. Hukum Publik adalah General classification of law, consisting generally of constitutional, and international law, concerned with the organization of the state, the relations between the states and the people who compose the responsibilities of public officers to the state, to each other, and to private person, and the relations of state and one another17
15“L-P. Pigeon, Redaction et interpretation des Ioi, Quebec, 3 Ed.,Couvernement du Quebec, 1986
dan The Style ought to be concise’ (The spirit of Laws, A compendium of the first English Edition with an introduction byD.W CARRITHERS, University of California Press, Berkeley, 1997, hIm. 376, dalam Ade Maman, Loc. Cit.
16PORTALIS, salah seorang drafter dari Code Napoleon,menyatakan: L”office de Ia lol est de fixer,
par de graricies vues, its maximes generales. du droit; d’etablir des principes feconds en consequences, et sian de descendre dans Ic detail des questions qui peuvent naitre sur chaque matiere.
Dari uraian di atas, karakter hokum Eropa Kontinental adalah
a. Cara berpikir hukumnya abstrak, konseptual;, sistematis dan prospektif yang berarti bahwa hokum dibuat bukan berdasar kejadian konkrit tetapi berdasar
perkembangan yang terjadi. Hukum dibuat bukan untuk hari ini, tetapi harus mampu menjangkau kurun masa sejauh mungkin. Hal ini berarti bahwa hokum disiapkan untuk dapat digunkan puluhan atau mungkin ratusan tahun kedepan.
b. Sumber utama hokum adalah undang-undang. Hal ini berarti bahwa hokum adalah undang; di luar undang bukan hokum. Materi hokum di luar undang-undang dapat menjadi hokum apabila dirunjuk oleh undang-undang-undang-undang, Selain itu, karakter ini memberi gambaan yang jelas bahwa pembuat hokum adalah legislative. Di luar legislative tidak ada yang dapat membuat hokum. Akibat lebih jauh dari karakter ini, posisi hakim hanya sebagai penerap hokum bukan pembuat hokum. Yurisprudensi adalah produk hokum yang tidak mengikat secara hokum; ia tidak mengikat kepada hakim lain, dan juga kepada hakim yang melahirkan putusan ybs. c. Pemisahan hokum privat dan public masih ada tetapi tidak tegas
d. Pembukuan hokum dalam kodifikasi merupakan ciri khas yang dimaksudkan untuk penyatuan peraturan mengenai bidang tertentu. Bidang hokum tertentu dan sejenis disatubukukan, dibuat sekaligus, tidak dibuat secara sektoral-masing-masing materi. Dengan demikian, akan memudahkan pencarian, penafsiran, dan penerapan hokum yang sebidang dalam kasus-kasu konkrit.
e. Hakim merupakan karir dari 0 (nol)> yaitu dari sarjana hokum yang belum mempunyai pengalaman kemudian dididik dan dikembangkan menjadi hakim profesioanl
Selain itu masih ada karakter umum yang menjadi dasar filosofis pembangunan hokum di Eropa Kontinental (dan semua Negara Eropa) adalah
1. Sekuler, artinya hokum Negara terpisah dengan (hokum) agama
2. Dalam beracara di bidang perdata bersifat pribadi artinya yang mengajukan gugatan ke pengadilan harus mempunyai hubungan hokum dengan perkara yang
diajukannya. Dalam dunia akademik disebut mempunyai hak dan kepentingan>
3.
Hukum Indonesia
1. Politik Pembangunan Hukum di Indonesia
Politik pembangunan hukum Indonesia seja kberakhirnya rezim Orde Lama, sudah
memperlihatkan arah sistem hukum Indonesia yang lebih jelas yaitu melalui kodifikasi dan unifikasi.
Dalam Tap MPR No. IV Tahun 1973 tentang GBHN, dinyatakan arah kebijaksanaan di bidang hukum, antara lain :
a. Peningkatan dan penyempurnaan pembinaan Hukum Nasional dengan antara lain mengadakan pembaharuan, kodifikasi serta unifikasi hukum di bidang-bidang tertentu dengan jalan memperhatikan kesadaran hukum dalam masyarakat 18
b. Menertibkan fungís Lembaga-lembaga Hukum Menurut proporsinya masing-masing
c. Peningkatan kemampuan dan kewibawaan penegak-penegak hukum19
Kehendak politik hukum ini dilanjutkan dalam GBHN 1983, pada Bagian Arah dan Kebijakan Pembangunan Umum, bidang hukum dinyatakan :
a. Dalam Pembangunan dan pembinaan hukum ini akan dilanjutkan usaha-usaha untuk :
1) Meningkatkan dan menyempurnakan pembinaan hukum nasional dalam rangka pembaharuan hukum, dengan antara lain mengadakan kodifikasi serta unifikasi
hukum di bidang-bidang tertentu dengan memperhatikan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyaraka.
2) Memantapkan …
Dalam GBHN 1988, terjadi perubahan rumusan walaupun secara subtantif tidak jauh berbeda, yang secara lengkap berbunyi :
c. Dalam rangka pembangunan hukum perla lebih ditingktkan upaya pembaharyuan hukum secara terarah dan terpadu antara lain kodifikasi dan unifikasi bidang-bidang hukum tertentu serta penyusunan perundang-undangan baru yang Sangay dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang sesuai dengan tuntutan pembangunan, serta tingkat kesadaran hukum dan dinamika yang berkembang dalam masyarakat.
Dalam Bab IV, Lampiran Undang-undang No. 17 Tahun 2007 Tentang RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL 2005-2025, Sub IV.1.2, Huruf E, tentang Reformasi Hukum dan Birokrasi dinyatakan,
34. Pembangunan hukum diarahkan untuk mendukung terwujudnya
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; mengatur permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi, terutama dunia usaha dan dunia industri; serta menciptakan kepastian investasi, terutama penegakan dan perlindungan hukum. Pembangunan hukum juga diarahkan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya tindak pidana korupsi serta mampu menangani dan menyelesaikan secara tuntas permasalahan yang terkait kolusi, korupsi, nepotisme (KKN). Pembangunan hukum dilaksanakan melalui pembaruan materi hukum dengan tetap memerhatikan kemajemukan tatanan hukum yang berlaku dan pengaruh globalisasi sebagai upaya untuk meningkatkan kepastian dan perlindungan hukum, penegakan hukum dan hak-hak asasi manusia (HAM), kesadaran hukum, serta pelayanan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran, ketertiban dan kesejahteraan dalam rangka penyelenggaraan negara yang makin tertib, teratur, lancar, serta berdaya saing global.
Sementara itu, pada sub bab IV.1.3 Tentang mewujudkan Indonesia yang Demokratis Berlandaskan Hukum, dinyatakan,
18 Bold dari penulis
19 Lihat, Mochtar Kusumaatmadja, Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional, Binacipta,
6. Pembangunan hukum diarahkan pada makin terwujudnya sistem hukum nasional yang mantap bersumber pada Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, yang mencakup pembangunan materi hukum, struktur hukum termasuk aparat hukum, sarana dan prasarana hukum; perwujudan masyarakat yang mempunyai kesadaran dan budaya hukum yang tinggi dalam rangka mewujudkan negara hukum; serta penciptaan kehidupan masyarakat yang adil dan demokratis.
Pembangunan hukum dilaksanakan melalui pembaruan hukum dengan tetap memerhatikan kemajemukan tatanan hukum yang berlaku dan pengaruh globalisasi sebagai upaya untuk meningkatkan kepastian dan perlindungan hukum, penegakan hukum dan HAM, kesadaran hukum, serta pelayanan hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran, ketertiban, dan kesejahteraan dalam rangka penyelenggaraan negara yang makin tertib dan teratur sehingga penyelenggaraan pembangunan nasional akan makin lancar.
7. Pembangunan materi hukum diarahkan untuk melanjutkan pembaruan produk hukum untuk menggantikan peraturan perundang-undangan warisan kolonial yang mencerminkan nilai-nilai sosial dan kepentingan masyarakat Indonesia serta mampu mendorong tumbuhnya kreativitas dan melibatkan masyarakat untuk mendukung pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional yang bersumber pada Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang mencakup perencanaan hukum, pembentukan hukum, penelitian dan pengembangan hukum. Di sisi lain, perundang-undangan yang baru juga harus mampu mengisi kekurangan/kekosongan hukum sebagai pengarah dinamika lingkungan strategis yang sangat cepat berubah. Perencanaan hukum sebagai bagian dari pembangunan materi hukum harus diselenggarakan dengan memerhatikan berbagai aspek yang memengaruhi, baik di dalam masyarakat sendiri maupun dalam pergaulan masyarakat internasional yang dilakukan secara terpadu dan meliputi semua bidang pembangunan sehingga produk hukum yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara serta dapat mengantisipasi perkembangan zaman. Pembentukan hukum diselenggarakan melalui proses terpadu dan demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta sehingga menghasilkan produk hukum beserta peraturan pelaksanaan yang dapat diaplikasikan secara efektif dengan didukung oleh penelitian dan pengembangan hukum yang didasarkan pada aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Penelitian dan pengembangan hukum diarahkan pada semua aspek kehidupan sehingga hukum nasional selalu dapat mengikuti perkembangan dan dinamika pembangunan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat, baik kebutuhan saat ini maupun masa depan. Untuk meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan hukum diperlukan kerja sama dengan berbagai komponen lembaga terkait, baik di dalam maupun di luar negeri.
Sampai saat ini yang lebih berjalan adalah unifikasi tanpa kodifikasi. Selama berdirinya Indonesia baru berhasil mengkodifikasi hukum acara pidana melalui Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yaitu Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. Hasil ini sering disebut sebagai karya agung Bangsa Indonesia dalam bidang hukum. Pernyataan demikian masih perlu dipertanyakan, agung dalam hal apa ? Karena, sampai saat ini masih sering terjadi persoalan yang menipa para pencari keeadilan karena ketidak jelasan hukum acara pidana.
E. Karakter Hukum di Indonesia
1. Sumber Hukum.
undang-undangnya. Padahal sejak kuliah tingkat 1/semester 1 kita sudah diajari bahwa hukum bukan hanya undang-undang. Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa undang-undang merupakan sumber hukum tertinggi. Dalam UUPA (agraria), dalam UU Kehutanan, UU Otonomi Daerah, sebagai contoh, ada pengakuan terhadap hidupnya hukum agama dan hukum adat tetapi dengan klausul selama tidak bertentangan dengan hukum dan kepentingan nasional. Dengan demikian, hukum di luar undang-undang dapat berlaku apabila tidak bertentangan dengan undang-undang atau kepentingan nasional.
2. Pembentuk Hukum
Di Indonesia, bentuk utama hukum adalah undang-undang. Secara definisi, dan teori undang-undang dibuat oleh lembaga yang berwengan membuatnya yaitu Dewan Perwakilan rakyat yang menjalankan fungsi legislatif.
3. Peran Hakim
Hakim hanya berperan sebagai penerap undang-undang, bukan pembuat hukum. Meskipun ada ketentuan pasal 28 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan, Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat
Penjelasan ketentuan tersebut menyebutkan, Ketentuan ini dimaksudkan agar putusan hakim sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat
Ketentuan ini tidak mengubah fungsi hakim sebagai penerap undang-undang karena hakim tetap bukan sebagai pembuat hukum, khususnya undang-undang
4. Pengangkatan Hakim
Pengangkatan hakim, pada dasarnya bersifat karir yaitu siapa saja yang sudah lulus sarjana hukum untuk dididik menjadi hakim profesional. Dalam perkembangannya, pengangktan hakim dalam beberapa hal, yaitu sebagian hakim agung; hakim
mahkamah konstitusi, dan hakim ad hoc tidak merupakan karir secara berjenjang. Dalam pengangkatan hakim agung di Mahkamah Agung, walaupun seorang calon berasal dari lingkungan peradilan tidak disyaratkan pernah menjadi ketua PT, dan harus lulus uji keptutan kelayakan oleh Komisi Yudisial. Hal ini berbeda kalau hakim agung sebagai karir maka ia akan diusulkan oleh MA tanpa ada proses di yang di luar institusi MA.
5. Karakteristik peraturan perundang-undangan
Karakteristik peraturan perundang-undangan sebagai perwujudan dari kerangka berpikir lebih pada merespon kejadian yang ada. Dengan demikian, kodifikasi tidak lagi
merupakan politik hukum utama. Ada kemungkinan hal ini disebabkan bahwa proglenas harus mendahulukan kebutuhan hukum yang mendesak sesuai kebutuhan nyata sehingga kodifikasi terabaikan. Akan tetapi ada pula kemungkikan hal ini disebabkan tidak cakap dan telatennya para pembuat undang-undang sehingga lebih melihat pada sisi prkatis dan sesaat dari pada manfaat atau kegunaan jangka lama. Gambaran demikian dapat direpresentasikan dalam bebarapa hal :
i. Mudahnya penggantian, perbaikan, atau penghapusan suatu undang-undang ii. Tidak berjalannya pembahasan rancangan kodifikasi yang sudah disusun sejak
tahun 60 an
iii. Bercampuraduknya asas dan konsep hukum dari berbagai sistem hukum sehngga tidak memperlihatkan konsistensi (keajegan) sistem hukum di Indonesia, misalnya dianutnya class action yang sesungguhnya berada dalam konsep sistem Anglo Sakson.
6. Perkembangan hukum
Perkembangan hukum di Indonesia diawali dengan hukum adat, hukum Islam, dan kebiasaan, kemudian sejak jaman Belanda langsung diberlakukan peraturan perundang-undangan. Dalam hal-hal yang mendasar dilakukan melalui kodifikasi yang sampai saat ini masih berlaku yaitu KUHPerdata, KUHDagang, dan KUIHP, HIR, dan KUHAP
7. Fungsi Yurisprudensi
a. Fingsi Yurisprudensi tiada lain hanya sekedar putusan hakim yang mempunyai
kekuatan hukum yang tetap tetapi tidak mempunyai daya ikat sebagai hukum bagi hakim lainnya. Di Indonesia hakim bebas menentukan putusannya dengan tidak perlu
memperhatikan yurisprudensi. Oleh karena itu, sering putusan mengenai hal yang sama diputuskan secara berbeda oleh pengadilan yang berlainan. Dengan demikian, hakim sangat situasional dan kondisional dalam memutus perkara. Harus diakui fakta, ada yurisprudensi yang diikuti tetapi bukan kewajiban hanya kesukarelaan. Oleh karena itu, bukan suatu kebetulan kalau disparitas putusan dalam kasus sejenis yang mencolok yang disebabkan begitutetapi hanya mengikat para pihak, ahli waris para pihak, dan mereka yang mendapatkan hak dari para pihak.
8. Pemisahan Hukum Publik dan Privat
Pemisahan hukum publik dan privat. Di Indonesia secara teoritis masih tetap menganut pemisahan walaupun secara perlahan mulai dianut pembedaan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya peraturan perundang-undangan yang bersifat privat selalu disertai dengan aturan publik. Sebagai contoh, UU Perkawinan, UU Wakaf, dan UU Pasar Modal
9. Pengujian Peraturan Peundang-undangan
Pengujian undang-undang. Di Indonesia semua peraturan perundang-undangan dapat dilakukan uji materil, walaupun dengan dasar yang khsusus.
10. Tidak ada sekularitas dalam hukum Indonesia karena indonesia negara berdasar Pancasila yang sila pertamanya Ketuahana Yang Maha Esa tidab boleh ada hukum sekuler karena ia akan bertentangan dengan Ideologi Negara. Oleh karena itu, putusan hukum, Peraturan Perundang-undangan, dan putusan pengadilan, selalu berkepala Ketuhanan Yang Maha Esa. Selain itu, dalam hukum Indonesia berlaku hukum Islam dan lembaga hukum syari’ah20.
11. Beracara Perdata tidak selalu Bersifat Pribadi sudah disimpangi dengan adanya class action. Dalam class action, pihak yang tidak mempunyai hak (hubungan hukum dengan sengketa) asal mempunyai kepentingan dibuka untuk mengajukan gugatan.
III. Penutup
A Simpulan
Dari uraian diatas dapat ditarik simpulan bahwa, Sistem hukum Indonesia masih tetap menganut sistem Eropa Kontinental yang dapat dilihat dari aspek pembuat dan sumber hukum, fungsi hakim, peranan yurisprudensi, kodifikasi, dan sistem peradilan dengan variasi, kerangka berpikir bukan menitikberatkan pada konsep dan sistem tetapi lebih pada kebutuhan pragmatis, dan dianutnya beberapa konsep yang berasal dari common lawa system seperti class action, dan hakim non karir. Selama hakim hanya penerap hukum maka itu masih tetap Eropa Kontinental.
20 Syari’ah harus dimaknai dengan berbasis hokum Islam, bukan memberlakukan hukum Islam. Hal ini
B. Saran
Penganutan atas sistem hukum sebaiknya dilakukan dengan ajeg (konsisten) suapaya tdiak memperlihatkan hukum dibentuk untuk melindungi kepentingan sesaat dan diwarnai kepentingan politik jangka pendek.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Abdul Wahhab Khallaf, 'Ilmu Ushuli'l Fiqh, Terjemahan Andi Asy'ari dan Afid Mursidi,
Kaidah-kaidah Hukum Islam, Risalah, Bandung, 1984
A. Qodri Azizy, Hukum Nasional, Eklektisisme Hukum Islam & Hukum Umum, Taraju, 2004, 212
Jaih Mubarok. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Rosda, Bandung, 2000 Juhaya S Praja, Filsafat Hukum Islam, Pusat Penerbitan Universitas, LPPM, Unisba,
Bandung, 1998
Mochtar Kusumaatmadja, Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional, Binacipta, Bandung, 1976
Mohammd Daud Ali, Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, RajaGrafindo Persada, Jakarta 1991
Munir Fuady, Perbandingan Hukum Perdata, Pt Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005 Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana, Mandar Maju, Bandung, 1996
Shidarta, Karakteristik Penalaran Hukum dalam Konteks Keindonesiaan, CV Utomo, Bandung, 2006
Soedarto, “Kapita Selecta Hukum Pidana”, Alumni, Bandung, 1981
Suroyo W ignjodipuro, Penganntar dan Azas-Azas Hukum Adat, Alumni, Bandung, , 1979. T.M. Hasbi Ash Shieddieqy, Filsafat Hukum Islam, Bulan Bintang, 1975
B. Jurnal
Elly Erawaty, Profesi Hukum dari Perspektif Perbandingan Hukum, TT, TP
Toto Tohir, Konstribusi Hukum Islam Dalam Pembinaan Masyarakat Madani di Indonesia, Jurnal Hukum Madani, Vol VI, No 1, Fakultas Hukum UNISBA, Maret 2004,
C. Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang No 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama