• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pro Kontra Pilkada Melalui DPRD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pro Kontra Pilkada Melalui DPRD"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

MAKALAH

Menemukan Arti Demokrasi Konstitusional dalam

Pilkada Melalui DPRD

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pendidikan Kewarganegaraan” Dosen : Pramadya Khairul A SH.MH

Disusun oleh :

Anugrah Rizky Harnoko

Oleh :

Salman Abdurrubi Perwiragama

PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM

FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR

PONOROGO

(2)

2

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan

karunia-Nyalah makalah ini dapat terselesaikan. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah

untik memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Hukum pada semester I, di tahun ajaran 2014 dengan

judul Pengertian,Sifat dan Kedudukan UUD 1945 di Indonesia.

Dengan membuat tugas ini saya berharap untuk mampu mengenal tentang hal-hal

yang berkaitan tentang UUD 1945 yang merupakan landasan hokum di Indonesia yang

mungkin hanya segelintir orang yang memahaminya.

Dalam penyelesaian makalah ini, saya banyak mengalami kesulitan, terutama

disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan yang penulis miliki. Namun akhirnya makalah ini

dapat terselesaikan. Dan terima kasih penulis ucapkan kepada :

1. Pimpinan pondok modern Darussalam Gontor yang selalu memberikan penulis

arahan dan bimbingan

2. Orang tua dan keluarga yang banyak memberikan motivasi dan dorongan serta

bantuan, baik secara moral maupun spiritual

3. Al-Ustadz Pramadya Khairul A SH.MH yang tidak lelah dan bosan mengajarkan

ilmunya

Penulis sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena

itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna

penulisan makalah yang lebih baik untuk selanjutnya.

Harapan penulis semoga makalah sederhana ini, dapat memberi wawasan dan

pengetahuan bahwa kita juga harus memahami tentang UUD 1945 yang menjadi acuan

hukum di Indonesia.

Gontor, 21 Oktober 2014

(3)

3

Daftar Isi

Judul Makalah ……….. i

Kata Pengantar ………. ii

Daftar Isi ………. iii

BAB I Pendahuluan ……… 1

1.1Latar Belakang ………. 1

1.2Ruang Lingkup Penelitian ………... 1

1.3Tujuan dan Manfaat ……….. 2

1.4Metodologi ……… 2

BAB II Pembahasan ………... 3

2.1 Perkembangan Demokrasi di Indonesia ……… 3

a. Pilkada pada rezim Demokrasi Parlementer (1945-1955) ………... 4

b. Pilkada masa Demokrasi Terpimpin ……….. 5

c. Pilkada pada masa Demokrasi Pancasila (era Orde Baru) ………. 5

d. Pilkada pasca Reformasi ……… 6

2.2 Demokrasi Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (PILKADA) ……….. 7

a. Pilkada Langsung ……….. 7

b. Pilkada Melalui DPRD ………... 9

BAB III Penutup ……….... 12

3.1Kesimpulan ………. 12

3.2Saran dan Pendapat……….. 13

(4)

4

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Sistem demokrasi di Indonesia selalu berkembang seiring berkembangnya

zaman pula. Dari mulai kemerdekaannya hingga zaman pasca reformasi. Setiap rezim

pemerintahan mempunyai karakter kepemimpinan demokrasi tersendiri yang tak

terlepas dari bagaimana keadaan masyarakat pada zamannya. Kebijakan – kebijakan

yang berkaitan dengan unsur demokrasi mengenai sudah demokratiskah suatu sistem

politik pemerintahan selalu berubah, terutama dalam hal pemilihan umum.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum era reformasi, pemilu yang diikuti

masyarakat hanya untuk memilih partai politik yang akan mengatur pemerintahan

yang mana semua pejabat akan ditentukan oleh partai politik. Namun setelah adanya

reformasi, rakyak tidak hanya memilih partai politik saja, akan tetapi juga memilih

pemimpin dan wakil mereka di pemerintahan secara langsung. Baik pemilihan umum

tingkat nasional maupun tingkat daerah.

Ada banyak kelebihan dan kekurangan yang kita rasakan setelah

diselenggarakannya pemilihan umum secara langsung selama 10 tahun terakhir.

Keputusan terbaru dari musyawarah DPR tanggal 25 September 2014 menetapkan

bahwa Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) akan dipilih melalui Musyawarah

DPRD. Akankah dengan seperti ini demokrasi di Indonesia mengalami

perkembangan yang signifikan? Akankah dengan berubahnya sistem Pilkada

memberikan pengaruh berarti bagi kehidupan rakyat daerah? Dalam makalah singkat

ini, penulis ingin membahas sedikit tentang kebijakan terbaru DPR yang berkaitan

dengan Pilkada melalui DPRD yang penulis hubungkan dengan bagaimana demokrasi

di Indonesia berkembang.

1.2 Ruang Lingkup Penelitian

Makalah ini akan mencakup sejarah pilkada di Indonesia dan hubungannya dengan

demokrasi serta pro-contra yang terjadi terkait pengesahan RUU Pilkada tidak langsung,

melalui DPRD. Penulis juga menitik beratkan perbedaan implikasi sistem demokrasi dalam

(5)

5

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dan Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :

a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pendidikan Kewarganegaraan”

b. Agar mahasiswa lebih memahami sistem dan makna demokrasi di Indonesia

c. Agar mahasiswa mengatahui segala yang terjadi terkait pengesahan RUU Pilkada

tidak langsung

d. Agar mahasiswa mengetahui perbedaan Pilkada langsung dan tidak langsung

e. Agar mahasiswa mengetahui hubungan Pilkada dengan demokrasi

1.4 Metodologi

Adapun metode pembahasan yang penulis gunakan adalah metode komparasi.

Yaitu membandingkan sistem Pilkada pada setiap rezim demokrasi dengan rezim

lainnya. Maka akan kita temukan dinamisasi makna demokrasi dalam Pilkada di

Indonesia. Kemudian apabila kita relevansikan UU mengenai Pilkada sudahkah

memenuhi syarat Demokrasi Konstitusional yang pemerintah dan rakyat gunakan

(6)

6

BAB II

Pembahasan

2.1Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Sebelum kita membahas bagaimana demokrasi di Indonesia, perlu dibahas

sekilas esensi dari demokrasi. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani (demos) berarti

rakyat, (kratos/kartein) berarti kekuasaan/berkuasa, Demokrasi ialah asal kata

dari govermen by the people yang berarti rakyat berkuasa, secara istilah demokrasi

ialah kekuasaan rakyat dari rakyat untuk rakyat.1

Demokrasi adalah sistem yang pertama kali dipraktekan oleh negara yunani

(abad ke-6 sampai abad ke-3 S.M) yang terdapat di Negara kota (city-state) dengan

tipe, demokrasi langsung (direct demokrasi) yaitu suatu bentuk pemerintahan dimana

hak untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung oleh

seluruh warga negara yang bertindak berdasarkan prosedur mayoritas. sifat langung

dari demokrasi Yunani dapat diselenggaraan secara efektif karna berlangsung dari

kondisi yang sederhana, wilayahnya terbatas (negara terdiri dari kota dan daerah

sekitarnya) serta jumlah penduduk yang sedikit (300.000 penduduk dalam satu

negara-kota), dan ketentuan-ketentuan demokrasi hanya berlaku untuk warga negara

yang resmi yang merupakan bagian kecil saja dari penduduk. Untuk mayoritas yang

terdiri atas budak belian dan pedagang asing demokrasi tidak berlaku. dalam negara

modern demokrasi tidak lagi bersifat langsung, akan tetapi merupakan demokrasi

yang berdasarkan perwakilan (representative democrasi)2

Dalam kacamata islam menurut Yusuf Al-Qordhawi, demokrasi adalah

Wadah Masyarakat untuk memilih sesorang untuk mengurus dan mengatur urusan

mereka. Pimpinanya bukan orang yang mereka benci, peraturannya bukan yang

mereka tidak kehendaki, dan mereka berhak meminta pertanggungjawaban penguasa

jika pemimpin tersebut salah. Merekapun berhak memecatnya jika menyeleweng,

mereka juga tidak boleh dibawa ke sistem ekonomi, sosial, budaya, atau sistem

politik yang tidak mereka kenal dan tidak mereka sukai.3

1

Meriam boediarjoo, Dasar-dasar ilmu politik, ed. revisi. Jakarta: PT Gramdia Pustaka Utama, 2008, hlm.,105

2

ibid.,109

3

(7)

7 Sedangkan dalam pandangan bapak reformasi Indonesia, Amien Rais, Suatu

Negara disebut sebagai negara demokrasi jika memenuhi beberapa kriteria, yaitu; (1)

partisipasi dalam pembuatan keputusan, (2) persamaan di depan hukum, (3) distribusi

pendapat secara adil, (4) kesempatan pendidikan yang sama, (5) empat macam

kebebasan, yaitu kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan persuratkabaran,

kebebasan berkumpul dan kebebasan beragama, (6) ketersediaan dan keterbukaan

informasi, (7) mengindahkan fatsoen atau tata krama politik, (8) kebebasan individu,

(9) semangat kerja sama dan (10) hak untuk protes.4

Kondisi Pilkada di berbagai daerah selalu menemukan problematika yang

berkaitan dengan redaksi Undang-Undang daerah yang mengatur tentang Pilkada.

Mulai dari black campaign, money-politic, kecurangan lembaga survei, dan lain

sebagainya. Sehingga seakan-akan makna demokrasi dipermainkan oleh segelintir

golongan elit pejabat daerah yang hanya mencari keuntungan. Banyak spesifikasi

demokrasi dalam Pilkada pada setiap rezim pemerintahan mulai pasca kemerdekaan

hingga era pasca reformasi. Berikut kita teliti perkembangan Pilkada pada setiap

rezim demokrasi.

a. Pilkada pada rezim Demokrasi Parlementer (1945-1955)

Indonesia sebenarnya pernah memiliki landasan konstitusi untuk melakukan

pemilihan kepala daerah langsung oleh rakyat. Ini terjadi ketika kita memberlakukan

UUD Sementara Tahun 1950 saat Indonesia berbentuk serikat (RIS), yakni lahirnya

UU No 1 Tahun 1957.

Pasal 23 UU No 1/1957 menyebutkan, kepala daerah dipilih menurut aturan

yang ditetapkan dengan undang-undang. Sebelum undang-undang tersebut ada,

sementara kepala daerah dipilih oleh DPRD. Undang-undang untuk menjabarkan

Pasal 23 itu dirancang atas pertimbangan bahwa kepala daerah adalah orang yang

dikenal baik oleh rakyat di daerahnya. Oleh karena itu, kepala daerah harus dipilih

langsung oleh rakyat.

Tampak bahwa UU No 1/1957 memberikan nuansa demokrasi, dalam arti

membuka akses rakyat berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah. Tetapi, seiring

dengan dinamika politik kala itu, dua tahun kemudian Presiden Soekarno

mengeluarkan dekrit kembali ke UUD 1945.

4

(8)

8 Oleh karena itu, UUD Sementara tak berlaku lagi dengan segala

konsekuensinya. Maka, sistem pilkada langsung sebagaimana diamanatkan oleh UU

No 1/1957 baru bersifat introduksi dalam pentas politik, mengingat secara empirik

belum dilaksanakan.5

b. Pilkada masa Demokrasi Terpimpin

Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Presiden Sukarno mengeluarkan

Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959, mengatur mekanisme dan prosedur

pengangkatan kepala daerah. Dengan demikian, tampak jelas perbedaannya. UU No

1/1957 berlandaskan UUD Sementara dalam sistem negara federal (RIS), sedangkan

Penpres No 6/1959 dikeluarkan berdasarkan UUD 1945 dalam sistem negara

kesatuan (NKRI).

Untuk lebih menguatkan sistem pemilihan kepala daerah agar tidak hanya

berdasarkan Penpres, lahirlah kemudian UU No 18/1965 tentang pokok-pokok

pemerintahan daerah. Dalam undang-undang ini kepala daerah diangkat dan

diberhentikan oleh presiden atau menteri dalam negeri melalui calon-calon yang

diajukan oleh DPRD. Dengan demikian, kedudukan pejabat pusat atas kepala daerah

semakin kuat. Dominasi pemerintah pusat untuk mengendalikan daerah semakin

terlihat ketika kedudukan kepala daerah ditetapkan sebagai pegawai negara yang

pengaturannya berdasarkan peraturan pemerintah.

Konsekuensi dari sistem seperti itu, seorang kepala daerah tidak dapat

diberhentikan oleh suatu keputusan dari DPRD. Pemberhentian kepala daerah

merupakan kewenangan penuh presiden (untuk gubernur) dan menteri dalam negeri

(untuk bupati atau walikota). UU ini kemudian disempurnakan oleh Orde Baru

dengan lahirnya UU No 5 Tahun 1974.

c. Pilkada pada masa Demokrasi Pancasila (era Orde Baru)

Berdasarkan UU No 5/1974 itu, kewenangan daerah dibatasi dan dikontrol oleh

Presiden Soeharto. Kepala daerah diangkat oleh presiden dari calon yang memenuhi syarat

dan diajukan oleh DPRD. Sebenarnya, pada masa itu kepala daerah bukanlah hasil pemilihan

DPRD, mengingat jumlah dukungan suara dalam pencalonan atau urutan pencalonan

5

(9)

9

tidak menghalangi presiden untuk mengangkat siapa saja di antara para calon yang diajukan

oleh DPRD itu. Sistem ini dimungkinkan sesuai kebutuhan zaman waktu itu, agar pemerintah

pusat mendapatkan gubernur atau bupati yang mampu bekerjasama dengan pemerintah pusat.

d. Pilkada pasca Reformasi

Demokrasi yang diterapkan Negara kita pada era reformasi ini adalah

demokresi Pancasila, tentu saja dengan karakteristik yang berbeda dengan orde baru

dan sedikit mirip dengan demokrasi perlementer tahun 1950-1959. Pertama, Pemilu

yang dilaksanakan (1999-2004) jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya. Kedua,

ritasi kekuasaan dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampi pada tingkat desa.

Ketiga, pola rekruitmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara

terbuka. Keempat, sebagian besar hak dasar bisa terjamin seperti adanya kebebasan

menyatakanpendapat.6

Zaman telah berubah. Reformasi adalah sebuah keniscayaan. UUD 1945

diamendemen. UU Nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah pun lahir, untuk

mengikuti perubahan UUD, hingga kemudian keluar UU Nomor 32 tahun 2004.

Semua UU dan peraturan dibuat atas nama demokratisasi. Namun, mengingat

demokratisasi ternyata lebih banyak keluar dari tujuannya yakni menyejahterakan

rakyat, evaluasi pun dilakukan, perubahan dilakukan lagi. Sistem pemilihan kepala

daerah diserahkan kepada DPRD. Akankah ini menuju perbaikan?

Demikian kenyataan praktik demokrasi Pilkada yang terjadi di Negara

Indonesia. Maka para pejabat sepakat untuk menerapkan demokrasi konstitusional

sebagai jalan tengah menyikapi pengalaman berdemokrasi yang dialami. Demokrasi

konstitusional adalah pemerintahan yang kekuasaannya terbatas dan tidak dipekenankan

bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat. Pembatasan-pembatasan tersebut tercantum

dalam konstitusi. Dalam sistem demokrasi konstitusional, kekuasaan negara berada di tangan

rakyat. Pemegang kekuasaan dibatasi wewenangnya oleh konstitusi sehingga tidak melanggar

hak-hak asasi rakyat. Antara kekuasaan eksekutif dan cabang-cabang kekuasaan lainnya

terdapat check and balance. Lembaga legislatif mengontrol kekuasaan eksekutif sehingga

tidak keluar dari rel konstitusi.

Oleh International Commission of Jurist dalam konferensinya di Bangkok pada tahun

1965, negara-negara yang menganut asas demokrasi disebut juga sebagai representatif

government. Adapun yang dimaksud dengan representatif government oleh Internasional

6

(10)

10

Commission of jurist adalah Representative government is a government deriving its power

and authority form the people, which the people and authority are exercised through

representative freely chosen and responsible to them.7

Kemudian penerapan konstitusi dalam pemilihan daerah masih belum dilaksanakan

sepenuhnya. Sehingga tentu saja menyebabkan kelebihan dan kekurangan yang ada dalam

setiap sistem Pilkada baik itu secara langsung maupun tidak langsung, melalui DPRD.

Berikut penjelasan hal tersebut.

2.2 Demokrasi Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (PILKADA)

Gagasan pemilihan kepala daerah secara langsung (Pilkada) merupakan buah

dari reformasi politik yang berlangsung sejak tahun 1998. Perubahan paradigma

politik lokal, sesungguhnya terjadi lebih awal, yaitu sejak dikeluarkannya UU No.22

Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Tetapi, dalam soal pemilihan kepemimpinan

secara langsung, gagasan Pilpres secara langsung lebih dulu berlangsung yakni sejak

2004. Sementara prosedur Pilkada baru secara formal diintrodusir dalam

Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pilkada, yang mulai

diselenggarakan tahun 2005, merupakan bagian dari efek domino perubahan politik di

Indonesia dalam bidang pemerintahan daerah.8 Sehingga demokrasi yang kita jumpai

dalam Pilkada setelah reformasi merupakan demokrasi yang masih mempunyai

relevansi tingkat nasional, bukan dalam tingkat daerah.

Kemudian kita akan membahas beberapa kejadian – kejadian yang terjadi dari

diterapkannya demokrasi dalam Pilkada setelah reformasi yang diderivasi dari

demokrasi dalam Pemilu tingkat nasional.

a. Pilkada Langsung

Kelebihan :

1. Rakyat dapat memilih langsung kepala daerahnya sesuai penilaian pribadi

masyarakatnya. Idealnya seperti di Athena dimana semua kebijakan Negara

ditentukan oleh suara rakyatnya. Masyarakat dapat bebas memilih sesuai track

record dan dengan citra citra yang ada secara bebas karena suara rakyat adalah

suara Tuhan.

7

Sri Soemantri, Demokrasi Pancasila dan Implementasi Menurut Undang-undang Dasar 1945, penerbit Alumni Bandung, 1969. Hal.14

8

‘obi Nurhadi, Jur al POELITIK Vol. No. Tahu 8, Pilkada Jakarta da De okrasi Mi i alis ,

(11)

11

2. Tokoh bisa terpilih walaupun dukungan partai minim. Melalui PILKADA

langsung tokoh – tokoh memungkinkan menang walau dengan dukungan

partai yang minim. Asalkan bisa menggalang dukungan yang besar dari

masyarakat

3. Masyarakat tergerak untuk turut serta aktif dalam proses pemilu. Di daerah

yang cukup maju partisipasi aktif masyarakat sangat mendukung untuk

keberlangsungan demokrasi yang baik. Masyarakat yang cerdas dan mapan

lebih bisa menentukan pilihannya tanpa pengaruh parpol apalagi money

politik

Kekurangan:

1. Biaya yang dikeluarkan sangat besar

Biaya yang dikeluarkan mulai dari biaya penyelenggaraan, kampanye,

lobbi-lobbi partai pendukung sangat besar. Ini memungkinkan calon kepala daerah

yang memiliki modal besar lah yang akan menang atau mereka yang

mendapat dukungan dana dari pemodal besar.

2. Kedaulatan milik Pemodal dan Asing

Sudah barang tentu kepala daerah yang menang pilkada yang telah di beri

modal yang banyak terikat kepada pemilik modal. Kepala daerah yang

berhutang untuk biaya kampanye dan kebutuhan untuk kemenanganya akan

mengembalikannya melalui proses tender yang berkali – kali lipat

keuntungannya bagi penyokong modal ataupun memberikan kebijakan yang

mendukung kepada pemilik modal termasuk dalam hal ini kepentingan asing

juga bisa masuk terhadap penguasaan sumber-sumber kekayaan alam kita dan

mempengaruhi kebijakan kepala daerah melalui pressure yang dilancarkan.

3. Korupsi

Untuk mengembalikan modal besar pribadi, sponsor maupun partai yang telah

mengeluarkan milyaran bahkan triliunan rupiah sudah barang tentu

menjadikan korupsi sebagai jalan yang nyaman. korupsi menjadi lumrah bagi

para kepala daerah, hanya masalah bagaimana mereka bermain saja, bisa

bermain bersih dan aman ataukah tidak. Bila bermain kotor akan tertangkap

KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) jikalau bermain bersih sukses tidak

(12)

12

4. Rawan penyalahgunaan birokrasi dan minim pengawasan

Selama ini kita lemah dalam pengawasan dan punishment. Banyak

penyalahgunaan wewenwng yang terjadi dalam proses pilkada. Mahfud MD menuturkan seperti berikut. “saya menangani di MK itu 390 (sengketa pilkada) semua ada penyalahgunaan birokrasi. Ada seseorang yang tidak mendukung seseorang (calon) akan dipecat. Itu birokrasi rusak,” (TribunNews)

b. Pilkada Melalui DPRD

Kelebihan:

1. Effisiensi anggaran

Penghematan anggaran secara menyeluruh dengan dana penghematan yang

besar. Mulai dari anggaran Negara yang terpakai untuk penyelenggaraan

pemilihan, biaya pribadi calon kepala daerah, biaya kampanye dan uang

sponsorship

2. Meminimalisir konflik di masyarakat

Sudah kita ketahui bersama bahwa proses pemilihan umum mulai dari

pemilihan presiden hingga pemilihan bupati melahirkan konflik dari proses

kampanye bahkan hingga pasca dilantiknya pemenang. Proses pemilihan

kepala daerah yang banyak sekali dilakukan menjadikan Indonesia

menjadikan konflik yang terus – menerus hanya pindah wilayah saja. Dengan

Pilkada melalui DPRD kita akan lebih kondusif dalam kehidupan berbangsa

dan bernegara. Hanya dalam pilpres saja masyarakat mengalami momentum

rawan konflik.

3. Memiliki Demokrasi dengan identitas khas bangsa Indonesia

Pemilihan kepala daerah melalui DPRD juga masih dalam bingkai demokrasi.

Pemilihan langsung maupun melalui DPRD masih merupakan proses

demokrasi. Pilkada melalui DPRD memberikan kita berdiri teguh dalam

IDENTITAS bangsa kita sesuai cita – cita founding father bangsa kita bahwa

Demokrasi kita bukannla demokrasi ala barat melainkan demikrasi perwakilan

yang sesuai dengan sila ke-4 dari dasar Negara kita, Pancasila.

4. Kepala daerah dan DPRD lebih bersinergi

Kepala daerah dan DPRD sudah dipastikan akan lebih bersinergi karena

(13)

13 pengembangan daerah akan lebih lancer karena tidak perlu adanya konflik

antara kepala daerah dengan DPRD. Program pembangunan daerah dan

pengembangannya juga akan lebih berkesinambungan.

5. Meniadakan politikus yang kutu loncat, bahkan memungkinkan memilih

kepala daerah dari kalangan professional murni. Dengan proses pemilihan

melalui DPRD dapat meminimalisir politikus kutu loncat yang pragmatis dan

oportunis yang dalam pemilihan langsung marak dengan pemodal besar

sebagai penyokongnya. Kutu loncat akan mendapat stigma negative sehingga

tidak ada partai yang berminat. Para pemodal juga tidak dapat menjadikan

kepala daerah sebagai boneka.

Kekurangan:

1. Rakyat tidak dapat langsung memilih

Menjadi kekurangan yang terlihat jelas bahwa rakyat tiodak dapat langsung

memilih kepala daerahnya. Apalagi PILKADA langsung ini sudah

berlangsung di masyarakat selama sepuluh tahun. Akan tetapi masyarakat

tetap memilih dalam hal ini wakil – wakil mereka. Masyarakat juga akan lebih

jeli memberikan suaranya kepada calon wakil rakyat dan partai

pengusungnya. Akan ada penilaian dari masyarakat yang akan membuat partai

berlomba – lomba untuk menjadi partai yang bersih dan mengkader sebaik

mungkin

2. Dikhawatirkan DPRD hanya menjadi representasi parpol

Menjadi kekhawatiran kita semaua sebagai rakyat sebuah Negara di tengah

minimnya kepercayaan terhadap partai politik bahwa DPRD yang terpilih

akan mewakili parpolnya bukan menyuarakan kepentingan rakyat sebagai

konstituennya

3. Kepala Daerah hasil kesepakatan partai pendukung

Kepala daerah yang dipilih berdasarkan kesepakatan partai pendukung

dikhawatirkan akan tersandera banyak kepentingan. Apalagi dengan kondisi

bangsa seperti yang ada saat ini dimana masyarakat menilai suaranya hanya

menjadi sampah lima tahunan yang di perebutkan lalu di campakkan

4. Calon yang muncul harus benar – benar berkarir dalam birokrasi

Sudah seharusnya pemilihan kepala daerah melalui DPRD memilih calon

(14)

14 sehingga jabatan kepala daerah tidak melulu hasil karir politik melainkan bisa

melalui jalur karir profesi.

Sebagai masyarakat sudah seharusnya sikap kita adalah mewujudkan

kedamaian dan menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara aman dan nyaman.

Menurut Prof. Jimly Ashidiqi bahwa proses pemilihan kepala daerah baik langsung

maupun tidak langsung adalah sama – sama merupakan proses demokrasi. “Bangsa

kita memang terlalu beranekaragam sehingga kita perlu merumuskan demokrasi yang

sesuai dengan karakter bangsa. Di amerika struktur masyarakatnya sudah terbentuk

secara alami menjadi dua kelompok besar, kalangan produsen dan pemerintah di

partai republik sedangkan buruh dan petani di partai demokrat. Hanya ada dua partai

dan sudah dua setengah abad mereka berdemokrasi tanpa ada keributan berkepanjangan”. Begitu petikan pidatonya di selingan acara di gedung manggala departemen kehutanan.

Prof. BJ. Habibie menggaris bawahi pemilihan langsung dengan masih

banyaknya PR besar agar demokrasi berjalan dengan baik, tidak ada money politic,

pencitraan palsu dan membohongi masyarakat. Bagi habibie Negara yang nyaman

dan sejahtera adalah setiap masyarakat dapat hidup layak dan tidur dengan tenang. “Bagi saya nyaman dan sejahtera bukanlah jalan – jalan yang halus, pembangunan yang baik. Bukan itu, bagi saya nyaman dan sejahtera adalah ketika saya menjadi

kakek saya dapat tidur dengan tenang karena anak saya mendapat pekerjaan dengan mudah, cucu saya dapat makan dan sekolah dengan layak” tukasnya dengan semangat.

RUU Pilkada yang telah di tetapkan menjadi undang – undang harus kita

maknai sebagai usaha mendapatkan solusi penerapan demokrasi yang sesuai dengan

Identitas kita sebagai bangsa, sesuai dengan keragaman kita dan menemukan konsep

demokrasi yang lebih baik. Tidak ada lagi kepala daerah yang terjerat kasus korupsi,

mengurangi pengaruh asing dan kebangkitan kita menjadi Negara maju. Poin

terpenting adalah jangan sampai pro – kontra undang – undang pilkada menjadi

pemecah bangsa yang merusak kenyamanan di masyarakat terlebih apabila ini hanya

di jadikan bahan pertarungan politik ataupun politik pencitraan.9

9

(15)

15

BAB III

Penutup

3.1 Kesimpulan

Pada dasarnya, demokrasi konstitusional telah diterapkan dalam Pemilu Calon

Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat secara keseluruhan. Adapun dalam Pilkada,

makna demokrasi konstitusional semakin kita temukan dengan melihat kutipan

keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) setelah ada pengaduan tentang hasil sidang

DPR yang memutuskan bahwa Pilkada akan diselenggarakan melalui DPRD.

Berikut bunyi pertimbangan hukum MK poin 3.12.3 dalam salinan putusan MK: “Pemilihan kepala daerah tidak diatur dalam Pasal 22E UUD 1945 akan tetapi diatur secara khusus dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 yang menyatakan, "Gubernur, Bupati, dan walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis." Menurut Mahkamah, makna frasa "dipilih secara demokratis", baik menurut original intent maupun dalam berbagai putusan Mahkamah sebelumnya dapat dilakukan baik pemilihan secara langsung oleh rakyat maupun oleh DPRD.

Lahirnya kata demokratis dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 pada saat dilakukan perubahan UUD 1945 terdapat adanya 2 (dua) pendapat yang berbeda mengenai cara pemilihan kepala daerah. Satu pendapat menghendaki pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung oleh rakyat maupun oleh DPRD sementara pendapat lain menghendaki tidak dilakukan secara langsung oleh rakyat. Latar belakang pemikiran lahirnya rumusan Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 saat itu adalah sistem pemilihan Kepala Daerah yang akan diterapkan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat dan kondisi di setiap daerah yang bersangkutan.

(16)

16 pula daerah yang cenderung dan lebih siap dengan sistem pemilihan langsung oleh rakyat. Baik sistem pemilihan secara langsung (demokrasi langsung) maupun sistem pemilihan secara tidak langsung (demokrasi perwakilan) sama -sama masuk kategori sistem yang demokratis.

Berdasarkan dua pandangan itulah kemudian disepakati menggunakan kata demokratis dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945. Oleh karena pemilihan kepala daerah diatur dalam Pasal 18 UUD 1945 yang masuk pada rezim pemerintahan daerah adalah tepat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU 32/2004) mengatur juga mengenai pemilihan kepa da daerah dan penyelesaian perselisihannya diajukan ke Mahkamah Agung. Walaupun Mahkamah tidak menutup kemungkinan pemilihan kepala daerah diatur dalam Undang-Undang tersendiri, tetapi pemilihan kepala daerah tidak masuk rezim pemilihan umum sebagaimana dimaksud Pasal 22E UUD 1945.

Pembentuk Undang-Undang berwenang untuk menentukan apakah pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung oleh rakyat atau dipilih oleh DPRD atau model pemilihan lainnya yang demokratis. Jika berdasarkan kewenangannya, pembentuk Undang-Undang menentukan pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD maka tidak relevan kewenangan Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi untuk mengadili perselisihan hasil pemilihan kepala daerah. Hal itu membuktikan pula bahwa memang pemilihan kepala daerah itu bukanlah pemilihan umum sebagaimana dimaksud Pasal 22E UUD 1945. Demikian juga halnya walaupun pembentuk Undang-Undang menentukan bahwa pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung oleh rakyat, tidak serta merta penyelesaian perselisihan hasil pemilihan kepala daerah harus dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. Logika demikian semakin memperoleh alasan yang kuat ketika pemilihan kepala desa yang dilakukan secara langsung oleh rakyat tidak serta merta dimaknai sebagai pemilihan umum yang penyelesaian atas perselisihan hasilnya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi.10

3.2 Saran dan Pendapat Penulis

Pendapat penulis dengan kebijakan terbaru DPR tentang Pilkada melalui

DPRD dengan melihat pengertian demokrasi, perkembangan demokrasi dalam

10

(17)

17 Pilkada sejak era Orde Lama hingga pasca Reformasi, dan dengan melihat kelebihan

dan kekurangan yang ada dari setiap sistem penyelenggaran Pilkada pada akhirnya

sesuai dengan undang-undang yang tertulis Konstitusi bahwa pelaksanaan Pilkada

secara langsung ataupun melalui DPRD tidaklah menyalahi konstitusi Negara. Justru

kita semakin peduli dengan konstitusi dan benar benar menerapkan demokrasi

konstitusional yang berlaku setelah era reformasi. Itu karena semua perkara

(18)

18

Daftar Pustaka

Ahmad Soleh, Kebijakan Publik Kammi Jakarta, CIDES CAMPUS

Al-Qardhawi, Yusuf, „Fiqhu Daulah Fil Islam„ Dan „Fatawa Mu’ashiroh„, Penerbit : Ariij, 1997

Boediarjo, Meriam, Dasar-dasar ilmu politik, ed. revisi. Jakarta: PT Gramdia Pustaka Utama, 2008

Internet : Oleh Harmoko, http://poskotanews.com/2014/09/29/sejarah-pilkada/ diakses tanggal 19 Oktober 2014

Internet : http://tifiacerdikia.wordpress.com/ diakses tanggal 19 Oktober 2014

Nurhadi, Robi, Jurnal POELITIK Vol. 1 No. 1 Tahun 2008, „Pilkada Jakarta dan

Demokrasi Minimalis‟,

Rais, Amien, Demokrasi dan Proses Politik, dalam Demokrasi dan Proses Politik, Seri Prisma Jakarta, diterbikan LP3ES, 1986

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan IDEA sebagai penguat kunci dan Blowfish sebagai algoritma untuk menyandikan dokumen, waktu yang dibutuhkan untuk proses enkripsi dekripsi suatu dokumen

Hasil ini juga menunjukkan bahwa sediaan salep ekstrak n-heksan daun majapahit konsentrasi 2% memiliki potensi yang sama kuat dengan kontrol positif (Neomisin

Dengan adanya program wonderfull Indonesia yang merupakan produk pemerintah untuk memasarkan pariwisata Indonesia di mata dunia, pemerintah Kabupaten Banyumas

Hasil pengujian pengaruh kontrak hutang (debt covenant) yang diproksikan dengan leverage terhadap tingkat konservatisme akuntansi menunjukkan hasil p-value sebesar

Objek dari penelitian ini adalah Strategi Komunikasi Krisis yang dilakukan oleh Humas PT Angkasa Pura I (Persero) dalam menanggulangi krisis pemberitaan selama proses

Microsoft Visual Basic 6.0 merupakan bahasa pemrograman visual yang digunakan secara umum untuk membuat program aplikasi yang bekerja... menggunakan Operating System (OS)

• Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja

Pola pertumbuhan jumlah daun tanaman vetiver selama 10 MSP menunjukkan peningkatan jumlah, terutama pada perlakuan yang memiliki jumlah bibit 2 per lubang (Gambar