Revolusi Mental dan Pemajuan Kebebasan Berkeyakinan Oleh: Saortua Marbun
Indonesia dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, negara yang mengakui dan menghormati kemajemukan masih diwarnai berbagai persoalan terkait pluralisme. Peran negara dalam menangani berbagai konflik menyangkut isu agama cenderung menggunakan pendekatan hard pluralism. Oleh sebab itu para pemerhati kebebasan berkeyakinan dan beragama menaruh harapan bagi presiden Indonesia yang baru. Negara diharapkan memajukan kebebasan beragama dengan pendekatan soft pluralism. Abdul Mu’ti, salah satu nara sumber pada Seminar Nasional: “Kepemimpinan Nasional Baru dan Pemajuan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan”, mengatakan bahwa selama ini dalam menyelesaikan konflik agama, orang cenderung menyelesaikan persoalan pluralisme dengan hard pluralism, dan kurang membangun soft pluralism (satuharapan.com Minggu, 17/8).
Menurut Mu’ti, “Hard pluralism itu bagaimana persoalan agama diatur dan diselesaikan dengan Undang-Undang dan peraturan. Akan tetapi kita lihat selama ini, betapapun Undang-Undang itu ada, yang terjadi justru dilakukannya tekanan-tekanan bahkan kekerasan oleh negara untuk menegakkan peraturan yang ada. Misalnya peraturan menteri tentang pendirian tempat ibadah, itu bisa dijadikan alat oleh kelompok tertentu untuk pelarangan mendirikan tempat ibadah agama lain terutama untuk agama minoritas.” Ditambahkannya “Soft pluralism yaitu menekankan kepada membangun mindset atau pola pikir, sikap dan perilaku yang terbuka, kemudian diikuti membangun budaya keterbukaan yang sengaja dilakukan oleh negara. Selama ini negara tidak melakukan proses intervensi ini.”
“Indonesia secara eksklusif menyebut dirinya sebagai negara yang majemuk atau pluralistik, berkali-kali kita mengatakan bhinneka tunggal ika yang kalau diterjemahkan berbeda-beda tapi satu unity in diversity. Kalau terjemahan itu adalah arti yang sebenarnya, maka seharusnya kita tidak perlu ragu menunjukkan kepercayaannya, karena perbedaan itu sebagai bagian dari karakter bangsa. Persoalannya, selama ini kita mengaku majemuk, tapi kita tidak punya cetak biru pluralisme yang kita akui, sehingga kita tidak tahu pluralisme seperti apa yang dianut oleh bangsa Indonesia. Negara harusnya membuat rumusan yang jelas, yaitu cetak biru definisi pluralisme yang dianut bangsa Indonesia,” kata Mu’ti.
Oleh karena itu, adalah tugas kultural kita bersama-sama untuk memenangkan revolusi mental dengan melakukan pendekatan soft pluralism. Selain itu, ruang-ruang publik juga harus dibuka, sehingga kita tidak terjebak pada toleransi semu, dimana kita berlaku baik hanya ketika di ruang formal, dan sebaliknya kita berlaku curiga ketika kembali pada habitat masing-masing. Ini harus didorong bukan hanya oleh Kemenag, tetapi juga Kemendikbud, dan kementerian-kementerian lainnya.
Saat ini dibutuhkan intervensi negara dalam upaya membangun pemukiman dengan integrasi sosial dengan sistem kekerabatan yang melibatkan kelompok-kelompok lintas agama sehingga tidak terjadi pemisahan atau segregasi sosial secara terpaksa. Misalnya sekarang ini ada kecenderungan masyarakat tinggal dalam lingkungan monoreligi, yang muncul dengan alasan mereka ingin merasa aman secara agama, dan juga karena ingin menyiasati aturan agama itu. Pasalnya, dalam aturan mendirikan rumah ibadah harus ada setidaknya 90 masyarakat yang memeluk agama tersebut, dan ini tidak bisa terjadi kalau tidak melibatkan pemukiman monoreligi. Sebut saja misalnya, kondisi pascakonflik di Ambon yang melokalisir masyarakatnya ke dalam sebuah kampung yang disebut kampung Muslim dan kampung Kristen. Mungkin saat ini pemisahan tersebut dapat menyelesaikan masalah. Tapi untuk jangka panjang, katakanlah bagi generasi kedua atau ketiga, konflik bisa kembali muncul di kemudian hari kalau tidak diberikan solusi dari sekarang.
“Negara diharapkan tidak hanya mengandalkan kerukunan pada peraturan yang ada, tetapi lebih hadir di dalam pembangunan soft pluralism. Dengan demikian kita tidak capek membuat aturan, dan terus-menerus memaksa aparat keamanan menegakkan hukum, saya kira soft pluralism itu bisa mulai dilaksanakan dalam revolusi mental kita,” gagas Mu’ti.