• Tidak ada hasil yang ditemukan

Chapter I Analisis FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kinerja Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Chapter I Analisis FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kinerja Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada pertengahan tahun 1997, industri perbankan mengalami kemunduran total akibat terjadinya krisis moneter dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Krisis ekonomi yang melanda di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 mengakibatkan seluruh potensi-potensi ekonomi mengalami kemunduran dan

diambang kebangkrutan. Dampak yang muncul akibat kegagalan usaha bank menimbulkan perlunya dilakukan serangkaian analisis rasio keuangan yang sedemikian rupa sehingga risiko kegagalan bank dapat dideteksi sedini mungkin.

Kondisi perekonomian yang sulit, terjadinya perubahan peraturan yang cepat, persaingan yang semakin tajam dan semakin ketat sehingga kinerja bank yang

menjadi rendah karena sebenarnya tidak mampu bersaing di pasar. Hal tersebut mengakibatkan banyak bank yang sebenarnya kurang sehat. Sehat tidaknya kinerja keuangan perbankan dapat dilihat melalui kinerja profitabilitasnya suatu

bank tersebut.

Perekonomian secara keseluruhan akan memperoleh manfaat dari

keberadaan suatu bank. Perekonomian mendapatkan manfaat berupa mekanisme alokasi sumber-sumber dana secara efektif dan efisien. Ini yang dinamakan fungsi intermediasi, yang dapat dikatakan bahwa bank merupakan penyalur dana dari

unit-unit ekonomi yang mempunyai kelebihan dana kepada unit-unit yang kekurangan dana. Dengan proses intermediasi ini, bank sebagai lembaga

(2)

diputar sebagai salah satu sumber pembiayaan utama bagi dunia usaha, baik untuk investasi maupun produksi, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk

simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Sehingga berbicara

mengenai bank tidak terlepas dari masalah keuangan. Aktivitas perbankan yang pertama adalah menghimpun dana dari masyarakat luas (funding). Pengertian

menghimpun dana maksudnya adalah mengumpulkan atau mencari dana dengan cara membeli dari masyarakat luas (Kasmir, 2008: 25-26).

Bank juga memberikan pelayanan dalam lalu lintas sistem pembayaran

sehingga kegiatan ekonomi masyarakat dapat berjalan dengan lancar. Dengan sistem pembayaran yang efisien, aman dan lancar maka perekonomian dapat

berjalan dengan baik. Selain itu, bank juga berfungsi sebagai media dalam mentransmisikan kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral, karena kebijakan moneter sendiri bertujuan untuk menjaga stabilitas harga dan

pertumbuhan ekonomi. Setiap negara berupaya agar perbankan selalu berada dalam kondisi yang sehat, aman dan stabil. Hal ini dikarenakan, agar manfaat

yang diberikan bank semakin besar bagi perekonomian suatu negara.

Dalam menilai kinerja perusahaan yang bergerak di perbankan, investor cenderung lebih menilai dari tingkat kesehatan bank yang dapat dinilai dengan

(3)

Management, Earnings, Liquidity, dan Sensitivity to market risk, yang mengacu

pada Surat Edaran BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 tentang Tata Cara

Penilaian Kesehatan Bank dan Peraturan BI No. 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Bila lembaga keuangan bank

meningkat kesehatannya diharapkan kinerjanya juga meningkat sehingga menunjang reputasinya, terutama bagi bank yang terdaftar di pasar modal. Kuantitas bank yang banyak menciptakan persaingan yang semakin ketat dan

kinerja bank yang menjadi rendah karena ketidakmampuan bersaing di pasar, sehingga banyak bank yang sebenarnya kurang sehat atau bahkan tidak sehat

secara financial. Sehat tidaknya suatu perusahaan atau perbankan, dapat dilihat dari kinerja keuangan terutama kinerja profitabilitasnya dalam suatu perusahaan perbankan tersebut.

Sektor perbankan perlu menumbuhkan kembali citra dari perbankan agar kepercayaan masyarakat dan para pelaku bisnis kembali meningkat. Oleh karena

itu, pemerintah harus lebih memperhatikan sektor perbankan agar perusahaan perbankan menjadi lebih dinamis dalam berbagai hal termasuk untuk meningkatkan kemampuan pelayanan dalam meraih kembali kepercayaan

masyarakat yang selama ini semakin menurun.

Kondisi perbankan saat ini mendorong pihak-pihak yang terkait di

dalamnya untuk melakukan penilaian atas kesehatan bank. Menurut Kasmir (2008: 44) “Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas yang terus meningkat”. Salah satu pihak yang perlu mengetahui kinerja dari suatu bank

(4)

keamanan atas dana yang diinvestasikan juga semakin besar. Investor juda dapat mengetahui kinerja suatu bank, dengan menggunakan rasio keuangan. Sehingga,

menilai suatu kinerja lembaga keuangan sangatlah penting.

Bagi investor, informasi mengenai kinerja perusahaan dapat digunakan

untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka di perusahaan tersebut atau mencari alternatif perusahaan lain. Sama halnya dengan industri perbankan, kinerja keuangan sangat diperlukan untuk mendapatkan

evaluasi kinerja yang memadai.

Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada

suatu periode tertentu.Penilaian kinerja keuangan bank merupakan salah satu faktor yang penting bagi perbankan untuk melihat bagaimana bank tersebut dalam melakukan kinerjanya apakah sudah baik atau belum. Selain itu penilaian kinerja

keuangan bank juga dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar profitabilitas atau keuntungan. Setiap perusahaan, baik bank maupun non bank

pada suatu waktu (periode tertentu) akan melaporkan semua kegiatan keuangannya. Laporan keuangan ini bertujuan untuk memberikan informasi keuangan, baik kepada pemilik, manajemen, maupun pihak luar yang

berkepentingan terhadap laporan tersebut.

Penilaian terhadap kinerja keuangan bank melalui analisis rasio keuangan

tersebut dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan finansial dari bank, sehingga dapat menilai apa yang telah dicapai di masa lalu dan di masa yang sedang berjalan. Dalam penelitian ini untuk mengukur kinerja keuangan bank,

(5)

mengukur kinerja perusahaan, yang memberikan informasi berkaitan dengan tanggung jawab manajemen dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan

kepada mereka (Munawir, 2002: 68).

Kegiatan analisis laporan keuangan meliputi perhitungan dan interpretasi

rasio keuangan yang memberikan informasi secara terinci terhadap hasil interpretasi

mengenai prestasi yang dicapai perusahaan, serta masalah yang mungkin tejadi dalam

perusahaan. Analisis rasio keuangan dapat membantu para pelaku bisnis, baik

pemerintah dan para pemakai laporan keuangan lainnya dalam menilai kondisi

keuangan suatu perusahaan tidak terkecuali perusahaan perbankan. Dengan analisis

rasio, informasi keuangan yang rinci dan rumit dapat dengan mudah dibaca dan

ditafsirkan, sehingga laporan suatu perusahaan mudah dibandingkan dengan laporan

keuangan perusahaan lain, serta lebih cepat melihat perkembangan dan kinerja

perusahaan secara periodik.

Menurut Martono (2002: 86) “Efisiensi bank adalah kemampuan bank untuk menggunakan faktor-faktor produksi secara tepat atau efektif”. Bank yang

dalam kegiatan usahanya tidak efisien akan mengakibatkan ketidakmampuan bersaing dalam mengarahkan dana masyarakat maupun menyalurkan dana

tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai modal usaha. Oleh karena itu, dengan adanya efisiensi bank dalam melakukan kegiatan operasi terutama efisiensi biaya, maka diperoleh tingkat keuntungan bank akan semakin

besar, penambahan jumlah dana yang disalurkan, biaya lebih kompetitif, peningkatan pelayanan kepada nasabah, keamanan, dan kesehatan perbankan pun

(6)

Profitabilitas merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur kinerja suatu bank, sebab tujuan utama operasional bank adalah mencapai tingkat

profitabilitas yang maksimal. Ukuran profitabilitas yang digunakan adalah Return on Equity (ROE) untuk perusahaan pada umumnya dan Return on Asset (ROA)

pada perusahaan perbankan. Keduanya dapat digunakan dalam mengukur besarnya kinerja keuangan pada industri perbankan. ROA memfokuskan pada kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam operasi perusahaan,

sedangkan ROE hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut (Siamat 2002). Sehingga dalam penelitian ini

ukuran kinerja keuangan perbankan diukur dengan menggunakan ROA.

Di sisi lain profitabilitas bank merupakan aspek yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam meningkatkan keuntungan. Ukuran

profitabilitas bank dapat dilihat dari berbagai macam rasio, seperti Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), dan Rasio

Biaya Operasional (Dendawijaya, 2003: 119-120). Selain itu, dalam penentuan kesehatan suatu bank, Bank Indonesialebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset,yang dananya sebagian besar berasal dari

dana simpanan masyarakat, sehingga ROA lebih mewakili dalam mengukur tingkat profitabilitas perbankan (Dendawijaya, 2003: 121).

Rasio profitabilitas yang penting bagi bank adalah Return on Asset (ROA). ROA penting bagi bank, karena ROA digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva

(7)

Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh bank tersebut dan menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik dari

segi penggunaan aset. Adapun rasio-rasio keuangan yang mempengaruhi ROA berdasarkan temuan-temuan penelitian terdahulu adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non PerformingLoan (NPL), Debt to

Equity Ratio (DER) dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO).

Capital (modal) merupakan salah satu variabel yang dapat digunakan

sebagai dasar pengukuran kinerja bank. Besarnya modal suatu bank akan mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja bank. Penetapan

Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai variabel yang mempengaruhi profitabilitas didasarkan hubungannya dengan tingkat risiko bank. CAR mencerminkan modal

sendiri perusahaan. Semakin besar CAR maka semakin besar ROA, karena dengan

modal yang besar, manajemen bank sangat leluasa dalam menempatkan dananya ke

dalam aktivitas investasi yang menguntungkan.

Penelitian mengenai pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap

Return on Asset (ROA) yang dilakukan oleh Werdaningtyas (2002) dan Yuliani (2007) menunjukkan Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh positif dan

signifikan terhadap Return on Asset (ROA). Hal ini berbeda dengan hasil penelitian

yang dilakukan oleh Mawardi (2005) yang menunjukkan hasil bahwa Capital

Adequacy Ratio (CAR) tidak terbukti berpengaruh terhadap Return on Asset (ROA).

Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasioyang mengukur kemampuan

bank untuk memenuhikewajiban yang harus dipenuhi. Sehingga semakintinggi LDR maka laba bank semakin meningkat(dengan asumsi bank tersebut mampu

(8)

maka kinerja bank juga meningkat. Dengandemikian besar kecilnya rasio LDR suatu bank akanmempengaruhi kinerja bank tersebut.

Penelitian mengenai pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR)terhadap Return on Asset (ROA)yang dilakukan oleh Mahardian (2008) menunjukkan hasil

Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return

on Asset (ROA), sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Werdaningtyas (2002)

menunjukkan hasil bahwa Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh negatif dan

tidak signifikan terhadap Return on Asset (ROA).

Non PerformingLoan (NPL) merupakan persentase jumlah kredit

bermasalah (dengan kriteria kurang lancar, diragukan, dan macet) terhadap total kredit yang dikeluarkan bank. Bank dikatakan mempunyaiNPL yang tinggi jika banyaknya kredit bermasalahlebih besar daripada jumlah kredit yang diberikan

kepada debitur. Apabila suatu bank mempunyai NPLyang tinggi, maka akan memperbesar biaya, baikbiaya pencadangan aktiva produktif maupun

biayalainnya, dengan kata lain semakin tinggi NPL suatubank, maka hal tersebut akan mengganggu kinerjabank tersebut.

Penelitian mengenai pengaruh Non Performing Loan (NPL)terhadap

Return on Asset (ROA)yang dilakukan Prasnanugraha P (2007) menunjukkan

bahwa Non Performing Loan (NPL) berpengaruh positif terhadap Return on Asset

(9)

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan ukuran mendasar dalam keuangan

perusahaan, yang dapat menunjukkan kekuatan keuangan perusahaan. DER

mencerminkan kemampuan perusahaan untuk membayar atau memenuhi kewajibannya dengan modal sendiri (ekuitas). Semakin tinggi rasio Debt to Equity

Ratio (DER) semakin besar pula risiko yang ditanggung perusahaan, meskipun

dalam keadaan dimana perusahaan dapat dengan baik mengelola hutangnya. Dengan adanya hutang, pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya

keuntungan atau laba yang diterima dan pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja suatu bank.

Penelitian mengenai pengaruhDebt to Equity Ratio (DER) terhadap Return on Asset (ROA)yang dilakukan oleh Widati (2012) menyatakan bahwa rasioDebt

to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif signifikan terhadap Return on Asset

(ROE). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Bardosa dan Louri (2003) menyatakan bahwa rasioDebt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif

terhadapReturn on Asset (ROA).

Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) merupakanperbandingan antara totalbiaya operasi dengan total pendapatan

operasi. Efisiensioperasi dilakukan oleh bank dalam rangka untukmengetahui apakah bank dalam operasinya yangberhubungan dengan usaha pokok bank,

(10)

efisiensioperasi suatu bank yang diproksikan dengan rasioBOPO akan mempengaruhi kinerja bank tersebut.

Kestabilan lembaga perbankan sangat dibutuhkan dalam lembaga perekonomian. Kestabilan ini tidak saja dilihat dari jumlah uang yang beredar

namun juga dilihat dari jumlah bank yang ada sebagai perangkat penyelenggara keuangan, oleh karena itu diperlukan pengolahan bank dalam melakukan usahanya untuk menjaga keseimbangan pemeliharaan likuiditas. Penilaian ini

dilakukan untuk meningkatkan kinerja keuangan perbankan baik dari segi manajemen, pemegang saham maupun pemerintah.

Penelitian mengenai Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return on Asset (ROA)yang dilakukan oleh Widati(2012) menunjukkan bahwa BOPO berpengaruh positif tidak siginifikan terhadap Return on Asset

(ROA). Sedangkan penelitian yang dilakukan Mawardi (2005) menunjukkan hasil yang sebaliknya, yaitu BOPO berpengaruh negatif terhadap Return on Asset

(ROA).

Kinerja perbankan selama tahun 2008-2012 dapat dilihat dari laba dan Return on Asset (ROA) pada Tabel 1.1 berikut ini:

Tabel 1.1

Laba dan ROA Perbankan di Indonesia Tahun 2008-2012

Tahun Laba ROA

2008 30,60 Triliun 2,33 %

2009 45,21 Triliun 2,60 %

2010 57,30 Triliun 2,86 %

2011 75,07 Triliun 3,03 %

(11)

Pada Tabel 1.1 menunjukkan bahwa laba dan ROA perbankan selama 5 (lima) tahun berturut-turut mengalami kenaikan.Pada tahun 2008 laba sebesar

30,60 triliun dan mengalami kenaikan pada tahun 2009 sebesar 14,61 triliun, sehingga laba pada tahun 2009 sebesar 45,21 triliun. Pada tahun 2009 laba sebesar

45,21 triliun dan mengalami kenaikan pada tahun 2010 sebesar 12,09 triliun, sehingga laba pada tahun 2010 sebesar 57,30 triliun. Pada tahun 2010 laba sebesar57,30 triliun dan mengalami kenaikan pada tahun 2011 sebesar 17,77

triliun, sehingga laba pada tahun 2011 sebesar 75,07 triliun. Pada tahun 2011 laba sebesar 75,07 triliun dan mengalami kenaikan pada tahun 2012 sebesar 11,31

triliun, sehingga laba pada tahun 2012 sebesar 86,38 triliun.

Sedangkan ROA pada tahun 2008 sebesar 2,33% dan mengalami kenaikan pada tahun 2009 sebesar 0,27%, sehingga ROA pada tahun 2009 sebesar 2,60%.

Pada tahun 2009 ROA sebesar 2,60% dan mengalami kenaikan pada tahun 2010 sebesar 0,26%, sehingga ROA pada tahun 2010 sebesar 2,86%. Pada tahun 2010

ROA sebesar 2,86% dan mengalami kenaikan pada tahun 2011 sebesar 0,17%, sehingga ROA pada tahun 2011 sebesar 3,03%. Pada tahun 2011 ROA sebesar 3,03% dan mengalami kenaikan pada tahun 2012 sebesar 0,59%, sehingga ROA

pada tahun 2012 sebesar 3,62%.

Hanya bank umum yang menyediakan jasa-jasa lalu lintas pembayaran

sehingga mampu mempermudah kehidupan masyarakat, sedangkan BPR tidak diperkenankan melakukan kegiatan lalu lintas pembayaran. Oleh karena itu, bank umum dipilih dalam penelitian. Laporan keuangan juga disajikan pada bank yang

(12)

Berdasarkan latar belakang, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian melalui penulisan skripsi dengan judul “ANALISIS

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA BANK UMUM YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh terhadap kinerja bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diproksikan

dalam rasio Return on Asset (ROA)?

2. Apakah Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh terhadap kinerja bank

umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diproksikan dalam rasioReturn on Asset (ROA)?

3. Apakah Non Performing Loan (NPL) berpengaruh terhadap kinerja bank

umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diproksikan dalam rasio Return on Asset (ROA)?

4. Apakah Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap kinerja bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diproksikan dalam rasioReturn on Asset (ROA)?

5. Apakah Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh terhadap kinerja bank umum yang terdaftar di Bursa Efek

(13)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang ada, maka tujuan dari penelitian

ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap kinerja bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang

diproksikan dalam rasio Return on Asset (ROA).

2. Untuk mengetahui pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap

kinerja bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diproksikan dalam rasio Return on Asset (ROA).

3. Untuk mengetahui pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap kinerja

bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diproksikan dalam rasio Return on Asset (ROA).

4. Untuk mengetahui pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap kinerja bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diproksikan dalam rasio Return on Asset (ROA).

5. Untuk mengetahui pengaruh Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap kinerja bank umum yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia yang diproksikan dalam rasio Return on Asset (ROA).

1.4 Manfaat Penelitian

(14)

Dapat memberikan masukan atau pertimbangan dan informasi tambahan mengenai pengaruhCapital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio

(LDR), Non Performing Loan (NPL), Debt to Equity Ratio (DER)dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap tingkat

kinerja keuangan bank yang diukur dengan Return on Asset (ROA), sehingga bank dapat menentukan langkah selanjutnya dalam mengambil keputusan dalam meningkatkan kinerja bank yang lebih baik.

2. Investor

Dapat memberikan kontribusi bagi investor dalam berinvestasi dengan

melihat Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), Debt to Equity Ratio (DER)dan Biaya

Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) sebagai bahan pertimbangan

dalam pengambilan keputusan investasi di perusahaan perbankan. 3. Peneliti

Sebagai bahan pembelajaran untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang perbankan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. Peneliti Selanjutnya

Dapat digunakan sebagai pembanding hasil riset penelitian yang berkaitan

dengan Return on Asset (ROA) pada industri perbankan. 5. Masyarakat

Dapat memberikan pengetahuan sebagai bukti empiris di bidang

Gambar

Tabel 1.1 Laba dan ROA Perbankan di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

terhadap harga saham pada perusahaan Real Estate dan Property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan untuk menganalisis pengaruh Debt To Equity Ratio, Return On Asset,

Variabel independen: Debt to Equity ratio (DER), Net Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA), dan Return on Equity (ROE) Variabel Dependen: harga saham Regresi linear

yaitu Current Ratio (CR) serta rasio solvabilitas yaitu Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return On Investment (ROI) pada Perusahaan Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variabel independen debt to equity ratio (DER), return on equity (ROE), return on asset (ROA), dividend payout ratio

“Analisis Cash Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Asset, Growth, dan Pengaruhnya Terhadap Dividend Payout Ratio pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa

Hipotesis dalam penelitian ini adalah current ratio(CR), return on asset (ROA), return on equity (ROE), earning per share (EPS), debt to asset ratio (DAR), debt to equity

Hipotesis dalam penelitian ini adalah current ratio(CR), return on asset (ROA), return on equity (ROE), earning per share (EPS), debt to asset ratio (DAR), debt to equity

Hasil uji signifikan Simultan Uji-F menunjukkan bahwa ke-empat variabel Return On Asset ROA, Return On Equity ROE, Debt to Asset Ratio DAR dan Debt to Equity Ratio DER berpengaruh