• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERITAAN GENDER DALAM MEDIA LOKAL Ana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBERITAAN GENDER DALAM MEDIA LOKAL Ana"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBERITAAN GENDER DALAM MEDIA LOKAL

(Analisis Isi Tentang Pemberitaan Perempuan dalam SKH Pos Kupang edisi Juli-Agustus 2008)

INTISARI

Isu gender yang terus menghangat sejak era tahun 70-an, selalu menjadi perhatian serius masyarakat diberbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Isu gender kemudian menjadi topik berita menarik di media massa termasuk media lokal. Tahun 2008, berita tentang gender muncul dimedia lokal Pos Kupang. Pos Kupang mengangkat berita tentang kekerasan dan penghargaan terhadap perempuan yang terjadi di Propinsi Nusa Tenggara Timur dalam tengang waktu antara bulan Juli sampai Agustus 2008. Sebagai media lokal, Pos Kupang memiliki peran tanggung jawab sosial yang sangat besar melalui pemberitaannya yang cenderung peduli terhadap kaum perempuan dan membantu menjawab permasalah perempuan serta mengangkatnya kepermukaan sehingga menjadi perhatian khalayak. Dalam penelitian ini membahasa bagaimana isi pemberitaan dan kecendrungan yang disajikan oleh SKH Pos Kupang dalam memberitakan tentang kesetaraan gender di propinsi Nusa Tenggara Timur.

Kata-kata Kunci: Berita tentang Gender, Content Analysis, Media (SKH Pos Kupang)

ABSTRACT

Gender issues has become a seriously attention in world included Indonesia in 1970. Gender issues has become a interest news topic in mass media, included local media. In 2008, gender news appear in local media Pos Kupang, which released news about hardness and appreciation of women in Nusa Tenggara Timur provice in Juli – Agustus 2008. As local media, Pos Kupang have a social responsibility to care with woman and help to respon their problems and lift up the problems to become a public attentions. This research study specifically focuses on the content of news and news tendency presented by SKH Pos Kupang in reporting on gender equivalent happening in Nusa Tenggara Timur Province.

(2)

Pendahuluan

Isu gender terus menghangat sejak era tahun 70-an. Wacana ini selalu menjadi perhatian serius masyarakat dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Persoalan gender kemudian berkembang tak hanya menjadi tren wacana, melainkan menjadi semacam revolusi pemikiran (mind set-revolution), khususnya bagi pihak-pihak yang memberikan perhatian dan komitmen pada isu-isu perempuan.

Masalah perempuan sebagaimana ditampilkan dalam media massa sudah sejak lama merupakan bahan pembahasan yang sampai saat ini belum juga selesai didiskusikan. Sebagai ”obyek yang dipertontonkan” perempuan hadir dalam berbagai sosok dan peranannya.

Biasanya hal mendasar yang acapkali diperdebatkan adalah kedudukannya yang timpang dibandingkan pria. Hal ini diakibatkan oleh relasi antara pria dan perempuan yang tidak berimbang dan asimetris dalam konteks hubungan kekuasaan (Machel,1998). Terutama masih dominannya pandangan patriarki yang inheren dalam nilai-nilai sosial dan keagaman yang menjadi rujukan masyarakat dalam berpikir dan bertindak.

(3)

disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksikan melalui indoktrinasi agama, pendidikan, tradisi, adat istiadat, maupun ideologi negara.

Dalam konteks itulah, media massa mengemukakan peran mediasinya sebagai sarana sosialisasi dan penyampaian pesan. Lewat pesan-pesan yang disampaikan, kredo gender direkronstruksi secara sempurna oleh media massa. Sebagaimana dikemukakan oleh Marshall McLuhan (1999), the medium is the message, “ apa yang dikatakan “ lebih banyak ditentukan secara mendalam oleh “ apa medianya.” terlebih bila disadari bahwa dibalik pesan yang disampaikan lewat media senantiasa tersembunyi berbagai muatan ideologis yang menyuarakan kepentingan pihak tertentu yang memiliki ”kuasa.” Salah satu bentuk pesan bermuatan ideologis yang paling nyata dalam media massa adalah berita.

Melalui berita, pesan menerpa khalayak setiap saat. Secara psikologis, khalayak dipaksa menerima berita yang disodorkan kepadanya. Artinya, media telah menggunakan agendanya untuk mengontrol berita yang layak dibaca atau tidak perlu dibaca oleh khalayak. Agenda media merupakan penentu agenda publik. Dalam jangka panjang, apa yang dikonstruksikan media dianggap sebagi konstruksi yang benar tentang realitas. Jika media mengkonstruksi perempuan hanya cocok sebagai ibu rumah tanggga, atau perempuan adalah obyek, maka ini dianggap sebagai sebuah jalan yang harus diikuti oleh khalayak. Media dengan segala kemampuannya akan merekonstruksi realitas, sehingga apa yang ditampilkan sebagai suatu yang alamiah.

Pos Kupang adalah salah satu media cetak lokal yang lahir dan berkembang di propinsi Nusa Tenggara Timur. Pos Kupang adalah media lokal dengan kepemilikian nasional dari grup Kompas-Gramedia pimpinan Jacob Oetama. Pos Kupang melangkah dengan gaya pemberitaan yang sama dengan grup pusatnya, Kompas yang netral dan cenderung deskripsi dalam pemberitaannya.

(4)

gender seharusnya memperjuangkan hak-hak mereka agar terjadi kesadaran gender. Dengan kata lain, Pos Kupang sebagai media lokal adalah media pembelajaran sosial bagi kesadaran gender di propinsi Nusa Tenggara Timur melalui pemberitaannya, serta mendukung kaum perempuan untuk semakin memahami tentang kesadaran gender.

Pemberitaan mengenai perempuan dan kesetaraan gender di Surat Kabar Pos kupang muncul dengan berbagai aspek pendidikan yang membantu masyarakat propinsi NTT secara umum dan perempuan NTT secara khusus untuk memahami kesetaraan gender dalam dunia politik, misalnya tentang Berpolitik dengan Perspektif Gender ( Pos Kupang, 27 Juli 2008). Forkom P2HP Jaring Perempuan Potensial (Pos Kupang, 19 Juli 2008). Tentang kesehatan, ASI Tentukan Kualitas Hidup Masa Depan ( Pos Kupang, 11 Agustus 2008).

Pos Kupang memberitakan tentang perempuan dan kesetaraan gender secara kontinyu, sehingga penelitian ini kemudian membahas bagaimana kesetaraan gender diberitakan dalam Surat kabar Pos Kupang sebagai media lokal. Untuk mengetahui informasi dari media tersebut, peneliti menggunakan analisis isi sebagai teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara obyektif, sistematik, dan kuantitatif isi komunikasi yang nampak.

Rumusan Masalah

”Bagaimana isi pemberitaan tentang gender dalam koran Lokal Pos Kupang?”

Kerangka Pemikiran 1. Surat Kabar

(5)

Setiap media mempunyai caranya sendiri dalam memandang sebuah peristiwa atau realitas yang terjadi. Dalam karakteristiknya sendiri sebagai institusi media, surat kabar menurut Mc Quails memiliki ciri-ciri : regular and frequent appearance, commodity form, informational content, public sphere functions, urban, secular audience, relative fredom. (McQuail,1991:) Surat kabar lokal berisikan ciri-ciri tersebut diatas dengan menambahkan nuansa kelokalan dalam penyajian berita. Ken Mink, direktur pelaksana Daily News-Record di Harrisonburg, sebuah kota kecil di negara bagian Virginia, AS, memaknai surat kabar lokal hendaknya berusaha agar masyarakat merasa seperti menjadi bagian dalam berita. Oleh karena media pers lokal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan lingkungan masyarakatnya yang relatif kecil, mereka harus memuat sebanyak-banyaknya memuat berita lokal yang menarik. Berita hendaknya menyangkut kepentingan masyarakat setempat sebagai tempat peredaran terbitan tersebut. ( Atmakusumah, 2000: viii-ix ). Hal ini sesuai dengan teori proksimitas, bahwa suatu peristiwa yang dekat pada publik, jauh lebih penting daripada kejadian besar yang jauh dari publik.

Surat kabar sebagai bagian dari media massa cetak, isinya mengutamakan hasil jurnalisme, yaitu berita. Jurnalisme menurut Weiner adalah keseluruhan proses pengumpulan fakta, penulisan, penyuntingan dan penyiaran berita. Laswell berpendapat mengenai jurnalisme merupakan bagian dari ilmu komunikasi yang memiliki fungsi yaitu;

a. The survailance of the environment, yang berarti mengamati lingkungan sosial, ekonomi, lingkungan budaya dan lingkung politik untuk diberitakan kepada masyarakat.

b. The correlation of the parts of society in responding to the environment, menghubungkan sebagai arus balik tanggapan masyarakat dengan lingkungan sosial, ekonomi, budaya dan politik.

c. The transmition of the social heritage one generation to the next, mewariskan dan meneruskan situai soasial dari generasi kini ke genarasi mendatang.

(6)

khalayak. Surat kabar, bisa terbit harian atau mingguan. Dari segi jangkauannya, surat kabar dibedakan lokal, nasional dan internasional. Masing-masing surat kabar mempunyai karakter pemberitaannya sendiri yang membedakan satu sama lain.

Surat kabar menurut Ensiklopedia Pers Indonesia, adalah :

Sebutan bagi penerbitan pers yang masuk dalam media massa tercetak, berupa lembaran-lembaran berisi berita-berita, karangan-karangan dan iklan. terbit secara berkala, bisa harian, mingguan, bulanan serta diedarkan secara umum. Isinyapun harus aktual. Juga harus bersifat universal, maksudnya pemberitaanya harus tersangkut paut dengan manusia dari berbagai golongan dan kalangan ( Junaedhie, 1991:257).

Surat kabar merupakan media yang mengandalkan tulisan dan gambar untuk memberikan informasi kepada khalayak. Surat kabar memiliki karakteristik yang membedakannya dengan media massa lain, yaitu: (Ardiyanto dan Erdiyana,2004:104-106)

a. Publisitas

Publisitas adalah penyebaran pada publik atau khalayak ( Effendy, dalam karlinah, dkk.1999). Semua aktifitas manusia yang menyangkut kepentingan umum dan atau menarik untuk umum adalah layak untuk disebarluaskan. Maka isi surat kabar seperti berita, tajuk rencana, artikel harus bersifat umum dan menyangkut kepentingan umum.

b. Periodesitas

Periodesitas menunjukkan pada keteraturan terbitnya, bisa harian, mingguan ata dwi mingguan. Sifat periodesitas sangat penting mengingat kebutuhan manusia akan informasi telah menjadi kebutuhan primer. Setiap hari terjadi berbagai peristiwa yang menarik dan penting untuk dijadikan informasi, bekal pengalaman menjalin kehidupan

c. Universalitas

(7)

mengenai kejadian-kejadian diseluruh dunia dan tentang segala aspek kehidupan manusia ( Effendy, dalam karlinah, dkk.1999)

d. Aktualitas

Surat kabar harus mampu menyampaikan berita secara cepat kepada khalayak. Bagi suart kabar, aktualitas merupakan faktor yang sangat penting karena menyangkut persaingan dalam surat kabar yang bersangkutan. Aktualitas surat kabar dalam hitungan 24 jam untuk melaporkan fakta dan peristiwa penting yang masih hangat diperbincangkan.

e. Terdokumentasi

Surat kabar menggunakan kata-kata tercetak sebagai medium penyampaian pesan. Dengan demikian, setiap peristiwa atau hal dapat terdokumentasikan dan menjadi bukti keperluan tertentu.

Media yang melayani secara geografis umumnya diharapkan untuk menemui kriteria tertentu dari struktur, ketentuan dan penampilan. Mereka seharusnya secara lokal dimiliki dan dikontrol, menyediakan berita dan komentar mengenai peristiwa-peristiwa lokal dan seharusnya secara bebas saling bersaing. Mereka akan melayani lembaga-lembaga lokal ( politik, pendidikan, dsb) dan menyediakan saluran bagi pengungkapan budaya lokal.

Media regional dan lokal secara ekonomis berfungsi sebagai saluran bagi periklanan dan informasi dan denan penghadiran terdapat secara positif pada dunia luar. Suatu harapan umum dari media lokal adalah mereka akan membantu untuk membentuk dan memelihara konsensus komunitas lokal ( Janowitz, 1952; Edelstein dan Larse, 1960). Akhirnya dalam wilayah yang dilayani, media lokal seharusnya juga menyediakan peluang keanekaragaman alternatif akses dan media yang melayani area yang berbeda mestinya juga kelihatan berbeda didalam isi ( Donohue dan Glasser 1978).

Indikator kualitas penampilan media lokal adalah :

(8)

2. Penggunaan berita yang dikumpulkan staf sendiri

3. Tingkat perhatian pada masalah kontroversi lokal; kritis dan perbedaan opini (Murphy, 1976; Franklin dan Murph, 1991)

4. Mengambil posisi editorial pada masalah kontroversi lokal

5. Mengembangkan informasi mengenai, dan liputan tentang kegiatan lokal

6. Perhatian yang relatif pada berita lokal yang positif ( seperti melawan kriminalitas, sensasi, berita ketidakberaturan ) (Jackson, 1971, Stone et al, 1987)

7. Pemberian dukungan pada kepentingan lokal dalam konflik dengan badan eksternal

( e.g. investasi yang berlebihan, lingkungan, pekerjaan dan sebagainya)

8. Pemberitaan dukungan pada bisnis lokal

9. Memperluas pada lokal atau media regional berbeda pada isi umum mereka (mendukung keanekaragaman) ( Donohue dan glaser, 1978; Hynds, 1982, Morgan, 1986)

(9)

Adanya perbedaan antara berita-berita yang dimuat didalam suratkabar yang satu dengan lainnya karena adanya perbedaan karakteristik dari masing-masing media dan pembaca juga dipengaruhi oleh kebijaksanaan media itu sendiri.

Surat kabar juga harus mempunyai kecakapan dalam menyeleksi apa yang disajikan sesuai dengan kehendak publik. Kecakapan penyajian berita merupakan bukti bahwa surat kabar adalah pihak yang aktif. Tidak semua dipengaruhi oleh tuntutan dan keinginan publik. Surat kabar pada umumnya menyajikan menyajikan berita-berita yang sekiranya perlu diketahui serta diinginkan oleh publik. Surat kabar lokal menambahkan unsur kelokalan untuk menunjukkan kedekatan emosi dengan pembaca.

2. Berita

Mencher (2003:68) mengartikan berita pada dua kerangka, yaitu; “news is information about a break from the normal flow of events, an interruption in the expected, a deviation from the norm” dan “news is information people need to make sound decisions about their lives“. Pendefinisian tersebut berkait dengan kategori informasi yang diekpos dan kebutuhan masyarakat terhadapnya sebagai bahan pengambilan keputusan yang menyangkut hidupnya. Bagi Park (1922), berita mempunyai kekuatan dalam membangun kohesi sosial. Tujuan dari berita adalah menyediakan ruang bagi hal-hal yang perlu diketahui setiap orang sehingga mereka dapat bertindak dalam lingkungannya dan berdasarkan tindakannya tersebut warga kota dapat membangun identitas bersama

Ericson et. al.,(1989:377) menegaskan bahwa “ berita adalah produk sebuah transaksi antara jurnalis dengan sumber beritanya. Sumber utama realitas berita bukanlah apa yang disajikan atau apa yang terjadi didunia nyata. Realitas berita melekat pada sifat dan jenis relasi sosial budaya yang berkembang diantara jurnalis dan sumber beritanya dan dalam politik pengetahuan yang muncul pada berita tertentu.

Fungsi pemberitaan yang dipegang surat kabar bukanlah untuk memperingatkan, mengintruksikan dan membuat khalayak tercengang; tetapi memberitahu. ( Haberstam 1992:4).

(10)

a. Mengusahakan berita sebagai pengetahuan umum

Pengetahuan umum adalah pengertian-pengertian bersama tentang satu hal yang bisa dimanfaatkan khalayak untuk berinteraksi sosial.

b. Mengusahakan berita sebagai alat kontrol sosial

Maksud berita sebagai alat kontrol sosial adalah : memberitakan peristiwa yang buruk, keadaan yang tidak pada tempatnya dan ihwal yang menyalahi aturan, supaya peristiwa buruk tidak terulang lagi dan kesadaran berbuat baik serta menaati peraturan makin tinggi.

Tidak semua laporan tentang kejadian pantas dilaporkan kepada khalayak. Peristiwa yang patut dilaporkan harus mempunyai kriteria, yaitu peristiwa yang memiliki nilai berita. Nilai berita sendiri, menurut Harris, Leiter dan Johnson, mengandung delapan unsur ( Abrar,2000:4-5), yaitu :

a. Konflik : merupakan informasi yang menggambarkan pertentangan antar manusia, bangsa dan negara perlu dilaporkan kepada khalayak. Dengan begitu khalayak mudah untuk mengambil sikap.

b. Kemajuan : informasi tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa perlu dilaporkan kepada khalayak untuk mengetahui peradaban manusia.

c. Penting : informasi yang penting bagi khalayak dalam rangka menjalani kehidupan mereka sehari-hari.

d. Dekat : informasi yang memiliki kedekatan emosi dan jarak geografis dengan khalayak. Makin dekat suatu lokasi peristiwa, maka semakin disukai khalayak.

e. Aktual : informasi tentang peristiwa yang baru terjadi perlu segera dilaporkan. Bagi media, ukuran aktual biasanya sampai dua hari. Artinya peristiwa yang terjadi dua hari yang lalu masih aktual diberitakan.

f. Unik : informasi tentang peristiwa yang unik, yang jarang terjadi perlu segera dilaporkan. g. Manusiawi : informasi yang dapat menyentuh emosi khalayak, seperti dapat membuat

menangis, terharu, tertawa dan sebagainya.

(11)

Nilai berita yang ditonjolkan adalah tingkat yang menunujukkan kelengkapan nilai-nilai berita yang ada pada sebuah liputan . Sedangkan nilai berita adalah unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah berita memiliki daya tarik untuk dibaca. Nilai berita yang digunakan sebagai alat analisisnya dalam penelitian ini adalah:

a. Timelines : peristiwa, pendapat, masalah yang baru terjadi

b. Proximity : peristiwa didekat tempat khalayak ( geografis) atau dekat dengan persoalan yang dihadapi khlayak ( psikologi)

c. Importance : peristiwa dinilai penting diketahui khalayak

d. Conflict : nilai berita yang berkaitan dengan pendapat, pendirian dan sikap yang saling bertentangan da menampilkan sharp angel

e. Prominance : nilai berita yang berkaitan dengan pernytaan orang-orang terkenal atau orang-orang penting.

f. Human interest : nilai berita yang menyentuh jiwa kemanusiaan

g. Kombinasi : bila dalam berita tersebut mengandung lebih dari satu nilai berita

Format berita berita dengan melihat tampilan liputan berita dalam surat kabar. Unit analisis ini akan dibagi dalam 3 kategori

a. Straight news

Berita yang dibuat untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa yang secepatnya harus diketahui khalayak, karena itu penulisannya mengikuti struktur piramida terbalik, dengan bagian yang terpenting pada pembuakaan berita

b. Soft news

Merupakan berita tentang kejadian yang bersifat manusiawi dalam sebuah peristiwa penting. Prinsip penulisannya tidak terikat pada struktur piramida terbalik. Penonjolan unsur berita bukanlah unsur pentingnya, akan tetapi unsur yang dapat menarik perhatian khalayak

c. Feature

(12)

Coverage berita :berkaitan dengan gaya liputan media berita dalam mengangkat sebuah konflik yang muncul, untuk memberikan kelengkapan informasi bagi pembacanya. Hal ini juga menggambarkan keterbukaan media dalam liputannya. Unit analisis ini dibagi dalam 2 kategori, yaitu :

a. Liputan satu sisi : bila sisi liputan hanya berasal dari satu pihak saja

b. Liputan dua sisi : bila isi liputan yang menampilkan beberapa pihak untuk menjadi sumber informasi.

Sumber Berita: Sumber berita adalah pihak yang menjadi sumber wartawan untuk mendapatkan informasi mengenai suatu peristiwa. Unit analisis ini dibagi dalam 4 kategori yaitu :

a. Pemerintah Lokal: Perorangan maupun lembaga yang berbicara atas nama kepentingan pemerintahan lokal, termasuk dalam klasifikasi pemerintahan lokal antara lain

Gubernur, jajaran pejabat pemerintahan daerah, pihak berwenang ( pihak kepolisian, pengadilan ) dll.

b. Masyarakat: Sumber berita yang berasal dari individu atau sekelompok individu yang bersosialisasi disuatu tempat.

c. Akademisi: Sumber berita yang berasal dari individu yang sedang menuntut ilmu pada sebuah perguruan tinggi.

d. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM): Lembaga non pemerintah yang diinginkan dengan tujuan sosial dan merupakan bagaian dari masyarakat sipil dalam konteks pemberdayaan masyarakat serta memiliki tugas pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.

Isi berita: Sisi yang diangkat oleh berita tersebut dalam sebuah pemberitaan dalam penyampaian info mengenai suatu peristiwa. Unit analisis ini dibagi dalam 6 kategori yaitu :

a. Kesetaraan Gender dan Kehidupan Masyarakat: Suatu berita /informasi yang menceritakan tentang apa yang terjadi dilingkungan masyarakat sekitarnya

(13)

c. Kesetaraan Gender dan Politik: Sebuah berita yang mempunyai isi tentang politik kaitannya dengan kesetraan gender atau kiprah perempuan dikancah politik.

d. Kesetaraan Gender dan Pendidikan: Sebuah berita tentang dunia pendidikan dan kesetaraan gender.

e. Kesetaraan Gender dan Kesehatan: Sebuah berita yang mempunyai isi tentang dunia kesehatan perempuan atau kesadaran gender dalam dunia kesehatan.

f. Kesetaraan Gender dan Hukum: Sebuah berita tentang kesetaraan gender kaitannya dengan hukum.

Sifat berita: Sifat berita yaitu cara penulisan bagaimana berita tersebut disampaikan.

a. Deskriptif yaitu apabila berita tersebut hanya memaparkan peristiwa dan bersifat netral. Berita tersebut lebih banyak memberikan gambaran dan penjelasan mngenai fakta-fakta yang terjadi dilapangan yang berkaitan dengan masalah kesetaraan gender.

b. Argumentatif, yaitu berita yang isinya lebih banyak memuat pernyataan perorangan baik didasarkan pada pengamatan, intepretasi maupun opini dari sumber berita yang bersangkutan berdasarkan peristiwa yang terjadi.

c. Persuasif, yaitu berita yang isinya membujuk secara halus supaya khalayak atau pembaca ikut terhanyut dalam isi berita

d. Informatif, yaitu apabila berita tersebut bersifat menerangkan atau memberitahukan tentang suatu informasi

e. Kombinasi, yaitu apabila berita tersebut merupakan kombinasi antara deskriptif, argumentatif, persuasif dan informatif

(14)

a. Politik: Dimensi kekuasaan yang mengatur dan mengarahkan kehidupan sosial sebagai keseleruhan atau usaha untuk mencapai atau mewujudkan cita-cita ideologi, berhubungan dengan kekuasaan.

b. Hukum: Peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah; peraturan untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat.

c. Sosial dan budaya: Berkaitan dengan akibat yang ditimbulkan dari hubungan dengan sesama manusia lainnya dan akibat tingkah lakunya atau adanya perbedaan dalam tingkat perkembangan kebudayaan, sikap penduduk dan keadaan lingkungan sekitar.

d. Pendidikan: Hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

e. Agama: Hal-hal yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan dan aturan norma yang berlaku dalam suatu agama tertentu.

f. Kesehatan: Hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. Posisi berita: Yaitu letak berita dalam sebuah surat kabar

a. Headlines: Jika berita yang disajikan terletak diposisi headline pada SKH Pos Kupang yang berada dihalaman depan dari keseluruhan jumlah halaman di surat kabar.

b. Tengah: Jika berita yang disajikan berada dihalaman selain halaman depan dan belakang dari keseluruhan jumlah halaman di SKH Pos Kupang.

c. Rubrik: Jika berita yang disajikan berada di rubrik khusus yang membahas suatu kasus pada SKH Pos Kupang.

Ragam persoalan gender : Yaitu persoalan gender yang sering meninmpa kaum perempuan yang terjadi di tengah masyarakat. Unit analisis ini terdiri dari :

(15)

b. Stereotype perempuan : yaitu anggapan bernada merendahkan atau menganggap perempuan sebagai obyek.

c. Subordinasi perempuan : yaitu suatu prilaku yang menempatkan perempuan sebagai pihak kedua setelah laki-laki.

d. Kekerasan terhadap perempuan : yaitu suatu tindakan fisik yang melukai dan menyakiti perempuan secara fisikly.

e. Pelecehan terhadap perempuan : yaitu suatu sikap dan tindakan yang menyakiti dan melukai perempuan baik secara fisik maupun psikis.

f. Pengakuan terhadap perempuan : yaitu suatu sikap dan tindakan yang mengakui kemampuan dan keberhasilan perempuan dalam hal tertentu.

g. Penghargaan terhadap perempuan : yaitu suatu sikap dan tindakan yang memberikan penghargaan terhadap perempuan atas keberhasilanya dalam suatu pekerjaan atau hal tertentu.

h. Keseimbangan pembagian kerja : yaitu suatu tindakan dan sikap yang membagi secara adil dan seimbang atas pekerjaan, dan penempatan perempuan yang sama dengan laik-laki di ruang kerja publik.

Tempat Terjadinya Ragam Persoalan Gender: Yaitu lokasi terjadinya ragam persoalan gender yang ada didalam berita.

a. Tempat kerja pemerintah: Yaitu lokasi terjadinya ragam persoalan gender terjadi di tempat kerja pemerintah seperti kantor-kantor pemerintahan, bank-bank milik pemerintah dan BUMN.

b. Tempat kerja swasta: yaitu lokasi terjadinya ragam persoalan gender terjadi di tempat kerja swasta seperti kantor-kantor swasta, bank-bank swasta, LSM dsbnya.

(16)

f. Lingkungan tempat tinggal: yaitu lokasi terjadinya ragam persoalan gender terjadi di lingkungan tempat tinggal seperti di lingkungan sekitar rumah.

g. Lingkungan sosial: yaitu lokasi terjadinya ragam persoalan gender terjadi di lingkungan sosial seperti di lingkungan bermain, lingkungan wisata dsbnya.

3. Teori Tanggung jawab Sosial

Dasar pemikiran teori tanggung jawab sosial ialah bahwa “ Kebebasan, mengandung didalamnya suatu tanggung jawab yang sepadan dan pers yang telah menikmati kedudukan terhormat dalam pemerintahan yang demokratis, berkewajiban untuk bertanggung jawab kepada masyarakat dalam melaksanakan fungsi-fungsi penting komunikasi massa dalam masyarakat modern” (Peterson,1986:83). Melalui pemikiran ini Theodore Peterson menegaskan bahwa kebebasan dan kewajiban berlangsung beriringan, kebebasan pers harus diiringi tanggung jawab terhadap masyarakat tentang apa yang diaktualisasikan dengan mengedepankan kepentingan masyarakat, serta lebih mengutamakan apa akibat yang akan ditimbulkan dari berita yang disebarluaskan oleh media tersebut.

Fungsi- fungsi pers dalam teori tanggung jawab sosial pada dasarnya sama dengan fungsi pers dalam teori Liberal. Teori tanggung jawab sosial menerima peran pers dalam melayani sistem politik, memberi penerangan kepada masyarakat dan menjaga hak-hak orang perorangan. Dalam hal ini ada lima syarat sebagai ciri teori tanggung jawab sosial terhadap pelaksanaan kegiatan pers :

a. Pers dituntut menyajikan berita-berita peristiwa sehari-hari yang dapat dipercaya, lengkap dan cerdas dalam suatu konteks yang memberikannya makna.

b. Pers harus menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan kritik

c. Pers hendaknya menonjolkan sebuah gambaran yang representatif dari kelompok-kelompok konstituen dalam masyarakat

d. Pers hendaknya bertanggungjawab dalam penyajian dan penjelasan tujuan-tujuan dan nilai-nilai masyarakat.

(17)

Dalam teori tanggung jawab sosial, hak menyatakan pendapat adalah hak moral yang ada aspek kewajibannya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Komisi Kebebasan Pers bahwa kebebasan menyatakan pendapat merupakan sebuah hak moral, pers wajib memastikan bahwa semua pandangan penting dari setiap warga negara terwakili dalam pers dan semua pemikiran yang perlu didengar oleh masyarakat akan didengar oleh masyarakat. Hak sesorang untuk menyatakan pendapatnya harus diimbangi dengan hak-hak pribadi orang lainnya dan oleh kepentingan-kepentingan vital masyarakat ( Siebert, 1986:111). Dari pemikiran tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa setiap orang mempunyai moral untuk diberi dan memperoleh informasi. Oleh karena itu, tidak cukup hanya melindungi hak pers untuk bebas berpendapat, tapi juga ada perlindungan bagi hak warga negara untuk mendapat informasi yang memadai.

Dapat dilihat bahwa teori tanggung jawab sosial harus berusaha mengawinkan tiga prinsip yang agak berbeda : prinsip kebebasan dan pilihan individual; prinsip kebebasan media; dan prinsip kewajiban media terhadap masyarakat. Ciri lembaga publik baru untuk siaran yang paling memiiki andil dalam merajut ketiga prinsip diatas adalah penekanannya pada kenetralan dan keseimbangan dalam hubungannya dengan pemerintah dan hal-hal yang menyangkut kontroversi dan pencakupan mekanisme untuk meningkatkan daya tangkap media yang relevan terhadap tuntutan audiensnya serta bertanggung jawab kepada masyarakat atas aktivitas yang dilakukan

Latar belakang munculnya teori tanggung jawab sosial yaitu sistem pasar bebas, kenyataanya gagal memenuhi tujuan kebebasan pers, dan tidak mampu melindungi kepentingan masyarakat banyak. Siapa saja yang menikmati kebebasan, juga memiliki tanggung jawab kepada masyarakat.

Prinsip-prinsip utama dari sistem tanggung jawab sosial adalah :

1. Media seyogyanya menerima dan memenuhi kewajiban tertentu kepada masyarakat

(18)

3. Dalam menerima dan melaksanakan kewajiban tersebut, media seyogyanya dapat mengatur diri sendiri dalam rangka kerangka hukum dan lembaga yang ada.

4. Media seyogyanya menghindari segala sesuatu yang mungkin menimbulkan kejahatan, kerusakan atau ketidaktertiban umum atau penghinaan terhadap minoritas etnik atau agama

5. Media secara keseluruhan handaknya bersifat pluralis dan mencerminkan kebhinekaan masyarakat dengan memberikan kesempatan yang sama untuk mengekspresikan berbagai sudut pandang dan hak untuk menjawab

6. Masyarakat dan publik memiliki hak untuk menuntut standar prestasi yang tinggi dan intervensi dapat dibenarkan untuk mengamankan kepentingan umum

7. Wartawan dan media profesional seyogyanya bertanggung jawab terhadap masyarakat dan juga kepada majikan serta pasar. (mcQuail,1987:116-117)

Teori tanggung jawab sosial dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana SKH Pos Kupang menyajikan berita mengenai berita gender, dalam hal ini berita tentang perempuan periode Juli-Agustus 2008 . Sebab informasi yang berkaitan dengan kesetaraan gender di Propinsi Nusa Tengara Timur merupakan suatu informasi yang harus diberitakan secara akurat dan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau khalayak

Dengan teori-teori yang telah dikemukakan diatas, kecenderungan pemberitaan pada SKH Pos Kupang dapat dilihat, sehingga dapat diketahui perhatian media massa khususnya surat kabar dalam memberitakan masalah perempuan dalam hal ini kesetaraan gender di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

4. Gender dan Media

(19)

Gender merupakan elaborasi sosial dari sifat biologis, dimana gender membangun biologis dari yang tadinya bersifat alami, kemudian melebih-lebihkannya dan pada akhirnya menempatkannya pada posisi yang sama sekali tidak relevan. Contohnya, sama sekali tidak ada alasan biologis yang menjelaskan kenapa perempuan harus berlenggok dan para lelaki harus membusungkan dada. Walau demikian batas bahwa kelamin bersifat biologis dan gender bersifat sosial terlalu samar. Orang-orang beranggapan jika gender diwariskan melalui praktik pengasuhan anak sehingga hal tersebut bersifat siosial, sedangkan kelamin langsung diturunkan secara biologis.

Gender adalah seperangkat peran yang, seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah feminim atau maskulin. Perangkat prilaku khusus ini yang mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam atau di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya secara bersama-sama memoles ”peran gender” kita.

Salah satu hal yang paling menarik mengenai peran gender adalah peran-peran itu berubah seiring waktu dan berbeda antara satu kultur dengan kultur lainnya. Peran itu juga amat dipengaruhi oleh kelas sosial, usia dan latar belakang etnis. Tetapi gender dapat menentukan akses kita terhadap pendidikan, kerja, alat-alat dan sumber daya yang diperlukan untuk industri dan keterampilan. Gender bisa menentukan kesehatan, harapan hidup dan kebebasan gerak kita. Yang jelas, gender ini akan menentukan seksualitas, hubungan dan kemampuan kita untuk membuat keputusan dan bertindak secara autonom. Gender bisa jadi merupakan satu-satunya faktor terpenting dalam membentuk kita akan menjadi apa nantinya.

(20)

Sedangkan Karl Mark (1818-1883) dan Frederich Engels (1820-1895) sebagaimana ditulis oleh Sunarto (2000:32) memandang bahwa ideologi merupakan fabrikasi (pemalsuan) yang digunakan oleh sekelompok orang tertentu untuk membenarkan diri mereka sendiri, sehingga konsep ideologi itu menjadi sangat subyektif dan keberadaannya hanya untuk membenarkan kelas penguasa masyarakat.

Salah satu wujud dari ideologi yang tercipta oleh supra struktur tersebut adalah ideologi patriarki, yang melegitimasi dan mempertahankan relasi asimetris (tidak sepadan) antara laki-laki dan perempuan. Implementasi ideologi ini dalam kehidupan masyarakat global, pada gilirannya merangsang munculnya studi-studi feminis yang mengamati bahwa banyak aspek dalam kehidupan dibagi menurut jenis kelamin. Ini meliputi tidak saja seks secara biologis, tetapi juga hampir semua sisi kehidupan masyarakat, termasuk bahasa, pekerjaan, peran-peran keluarga, pendidikan dan sosialisasi. Pembahasan ini bertujuan untuk mengekspose kekuatan-kekuatan dan batasan-batasan dari pembagian dunia berdasarkan jenis kelamin ini.

Dalam perkembangannya, studi-studi feminis kemudian mempopulerkan konsep feminisme yang oleh Dzuhayatin (dalam Sunarto,2000:34) dikatakan sebagai berikut ” Feminisme merupakan sebuah ideologi yang berangkat dari suatu kesadaran akan suatu penindasan dan pemerasan terhadap wanita dalam masyarakat, apakah itu ditempat kerja ataupun dalam konteks masyarakat secara makro, serta tindakan sadar baik oleh wanita maupun pria untuk mengubah keadaan tersebut”. Demikian pendapat Saptari dan Holzner (1997:47) bahwa feminisme adalah kesadaran akan posisi perempuan yang rendah dalam masyarakat, dan keinginan untuk memperbaiki atau mengubah keadaan tersebut. Pendek kata, gerakan feminis berusaha untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil tanpa adanya penindasan dan deskriminasi, demokratis dan bebas dari kelas-kelas serta bias gender.

(21)

pengambilan keputusan dan kesempatan untuk maju. Pendek kata, feminis liberal teutama berhubungan dengan citra publik dan hak-hak kaum perempuan. Sedangkan feminisme radikal, meyakini bahwa penekanan terhadap kaum perempuan sudah jauh lebih dalam daripada hak-hak publik. Masalahnya bukan sekedar merubah hukum untuk memberi persamaan hak bagi kaum wanita, tetapi pada inti struktur sosial kita yang sifatnya patrilinier, yakni patriarki mempertahankan sekumpulan pengertian yang sarat memuat jenis kelamin yang menaikkan kepentingan maskulin dan merendahkan kepentingan-kepentingan feminin.

Salah satu teorisi komunikasi feminis yang paling terkenal adalah Julia Penelope, yang menyatakan bahwa : Bahasa merupakan sesuatu yang sentral bagi semua pengalaman manusia dan masyarakat. Pengalaman selalu dilukiskan dalam budaya masyarakat, oleh sebab itu maka bahasa merupakan sebuah instrumen untuk menekan. Menurutnya, sebuah lingkup diskursus yang patriarkis adalah sekumpulan konvensi bahasa yang mencerminkan suatu defenisi tertentu tentang realita patriakal. Mereka yang menerima bahasa pada dasarnya menerima kategori-kategorinya tentang kebenaran, dan sebagian pemakai bahasa itu nelakukannya tanpa bertanya-tanya (Littlejohn,1998:241).

Berangkat dari asusmsi bahwa studi ini adalah studi tentang fenomena gender yang menekankan adanya penindasan dan ketidakseimbangan distribusi kekuasaan di masyarakat oleh pria terhadap perempuan, konsekwensinya adalah bahwa teori-teori yang relevan untuk digunakan adalah teori-teori dalam paradigma kritis. Paradigma kritis merupakan cara pandang terhadap realitas sosial yang senantiasa disertai dengan perasaan curiga dan kritis terhadap realitas sosial tersebut, serta mengkaitkan fenomena realitas tersebut dalam konteks histori (kesejarahan) nya. Tujuan dari paradigma ini adalah membebaskan manusia dari pola-pola kehidupan yang irasional, sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk hidup secara rasional, dimana manusia bisa lebih memuaskan semua kebutuhan dan kemampuannya tanpa tindakan-tindakan yang represif.

(22)

dan perekonomian merupakan dasar dari semua struktur sosial, sehingga pemikiran linear dari Marxis adalah hubungan dasar-suprastruktur.

Salah satu suprastruktur itu adalah media massa, dimana ketika kita membicarakannya, tidak mungkin dilepaskan dari kajian komprehensip tentang komunikasi massa, karena komunikasi massa adalah proses dimana lembaga-lembaga media membuat dan menyampaikan pesan-pesan kepada khalayak ramai dan proses dimana pesan-pesan tersebut dicari, dimanfaatkan, dimengerti dan dipengaruhi oleh audiens.

Yang menjadi pusat perhatian dalam pembahasan komunikasi massa manapun adalah media, terutama karena lembaga-lembaga media menyebarkan pesan-pesan yang mempengaruhi dan mencerminkan budaya masyarakat dan mereka menyediakan informasi secara bersamaan pada sejumlah besar audiens yang heterogen, dan menjadikan media sebagai bagian dari kekuatan institusional masyarakat.

Kata ”Media” menurut Littlejohn (1998:327), tentu saja menyiratkan arti ”mediasi’ atau ”perantaraan”, karena mereka hadir diantara para audiens dan dunia luar. Sehingga dengan mengutip pendapat denis McQuail, Littlejohn kemudian menyebutkan berapa perumpamaan untuk memperjelas gagasan tentang media. Media adalah Jendela yang memungkinkan kita untuk melihat apa yang ada diluar kita, Penterjemah yang membantu kita memahami pengalaman, Landasan atau pembawa yang menyajikan informasi, komunikasi interaktif yang mengikutsertakan umpan balik dari para audiens, rambu-rambu yang memberikan instruksi dan arahan, penyaring yang menyaring bagian-bagian dari pengalaman dan menitik beratkan pada bagian lain, cermin yang memantulkan bayangan kita kembali kepada kita sendiri, dan sebagai penghalang yang merintangi kebenaran.

Sehingga dengan demikian Denis McQuail (1996:3), menjekaskan lebih realistis tentang fungsi media sebagai berikut:

a. Media seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma,

(23)

secara kolektif, media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.

Masih tentang fungsi media, diakatakan pula oleh Harold D. Lasweell dalam buku Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese (1996:28), bahwa kajian isi media banyak dilakukan karena isi media mempunyai tiga fungsi yakni :

a. pengawasan lingkungan

b. menghubungkan peristiwa dengan fenomena dalam masyarakat

c. sosialisasi atau pewarisan nilai Ditambah fungsi keempat oleh Charles Wright dengan ”hiburan”.

Meskipun tampak bahwa fungsi media pada proses sosial tersebut amatlah maksimal, tetapi Klapper dalam teori Phenoministicnya (reinforcement) meyakini bahwa sebenarnya media itu tidak berpengaruh secara langsung pada audiens, melainkan harus dibarengi oleh faktor-faktor yang lain. Ini berarti bahwa efek media sebenarnya lebih bersifat menguatkan, baik terhadap sikap ataupun perilaku (Baran, 2000:163)

Ada dua tradisi intelektual yang diterapkan dalam kajian terhadap isi media, yakni ”tradisi humanistis dan tradisi prilaku” (humanistic and behavouristic traditions), dimana pada tradisi humanistik dilihat bahwa isi media sebagai bagian integral dari realitas budaya (tidak terlepas), isi media dikaji untuk pemaknaan estentik, yang cenderung menempatkan isi media sebagai titik awal inferensial untuk memahami budaya yang dihasilkan. Sedangkan tradisi behavioristik (perilaku) mengkaji isi media sebagi langkah untuk menguji efek eksternal yang diciptakan oleh pesan media (Shoemaker, 1996:31-32).

Mengkaji tentang isi media, Gans & Gitlin (Shoemaker, 1996:6-7), mengelompokkan pendekatan teoritis sebagai berikut :

a. Isi media merefleksikan realitas sosial dengan sedikit atau tanpa distorsi.

(24)

b. Isi media itu dipengaruhi oleh sosialisasi dan sikap para pekerja media, seperti faktor psikologis, profesional, personalitas, sikap politik dan kemahirannya.

c. Isi media itu dipengaruhi oleh rutinitas media. Pendekatan rutinintas organisasi menjelaskan bahwa isi media itu dipengaruhi oleh cara-cara dimana para pekerja media dan organisasi itu bekerja.

d. Isi media itu dipengaruhi oleh institusi dan kekuatan-kekuatan lain seperti kekuatan ekonomi, budya dan kemauan audiens.

e. Isi media itu dipengaruhi oleh fungsi posisi ideologi dan kekuatan status quo. Hegemoni adlah pendekatan teoritis yang menjelaskan bahwa isi media itu dipengaruhi oleh ideologi yang tumbuh penuh kekuatan dalam suatu masyarakat. Sedangkan hirarki dari faktor-faktor pengaruh pada isi media itu,digambarkan oleh Pamela J Shoemeker dan Stephen D Reese (1996:64), secara skematis sebagai berikut :

Model hirarki faktor-faktor pengaruh pada isi media

Organization

Media Routines

Level

Individu Level Ideologi Level

(25)

Pada tataran individual level, terdapat tiga focus penting dalam melihat bagaimana faktor intrik para pekerja media berpengaruh pada isi media, yakni sebagai berikut : pertama, kita akan melihat karakteristik komunikator dan background personal dan professional mereka. Kedua, kita akan mempertimbangkan pengaruh-pengaruh sikap personal komunikator, nilai dan keyakinannya terhadap isi media, dan ketiga, kita hanya akan mencoba menginvestasi orientasi personal dan konsepsi peranan komunikator.

Karakteristik komunikator (gender, etnicity dan orientasi sexual) dan pengalaman dan background personal (ajaran agama, status sosioekonomis) tidak hanya membentuk sikap, nilai dan keyakinan para pekerja media, tetapi juga mengarahkan bagaimana komunikator itu memberikan warna pada isi media. Bahkan masalah etik dan profesional pekerja media juga diyakini mempunyai pengaruh langsung terhadap isi media, sedangkan pengaruh dari sikap, nilai dan keyakinan bersifat tidak langsung.

Pada media rounties level, berlaku keyakinan bahwa manusia adalah mahluk-mahluk sosial yang selalu terlibat dalam pola-pola tindakan yang tidak mereka ciptakan sendiri, artinya mereka berbicara dalam bahasa kelompok, berfikir seperti pemikiran kelompoknya. Demikianpun para pekerja media, cenderung mengacu pada suatu ”rutinitas” yaitu bentuk-bentuk tindakan terpola, rutin dan berulang-ulang dalam melakukan perkerjaannya. Artinya bahwa isi media dipengaruhi oleh pekerja media dan perusahaannya mengorganisasi kerja. Dalam hal ini berlaku asumsi bahwa:

a. Semakin lama pekerja media bekerja di media yang bersangkutan, semakin tersosialisasi mereka pada kebijakan-kebijakan media atau kebijakan organisasi baik yang formal maupun informal.

b. semakin sering pekerja mengikuti kebiasaan organisasi, semakin sering struktur berita isi media itu digunakan.

c. peristiwa yang sesuai dengan praktek-praktek rutin media, akan lebih sering dicover dari pada peristiwa-peristiwa yang tidak sesuai dengan praktek-praktek media.

(26)

Sedangkan pada tingkat organisasi, pengaruhnya lebih bersifat makro yakni mempertanyakan bagaimana faktor-faktor organisasi akan menjalankan fungsi kontrol pada anggotanya untuk disesuaikan dengan kebijakan-kebijakannya. Editor mengontrol reporter, penerbit mengontrol editor, pemilik mengontrol penerbit, sehingga dengan demikian akan terjadi kontrol sebagai berikut :

a. Pemimpin organisasi dapat menentukan isi langsung secara eksplisit, berupa garis besar kebijakan, misalnya menggunakan memo.

b. Kontrol seringkali tidak didahulukan secara eksplisit, melainkan melalui mekanisme penyerahan hasil pekerjaan dari reporter kepada supervisor sebagaimana kehendak supervisor.

c. Reporter sangat mudah ditekan untuk menyesuaikan pekerjaannya dengan kehendak yang berlaku umum, dengan konsekuensi jika menyimpang, reporter tersebut akan kehilangan kepercayaan.

Pada extramedia level, disadari bahwa isi media juga dipengaruhi oleh faktor dari luar organisasi media, seperti sumber informasi, pengiklan, khalayak, kontrol pemerintah dan teknologi.

Adapun tataran ideological, keterpengaruhan isi media lebih disebabkan adanya seperangkat refernsi yang terintegrasi yang digunakan pekerja media untuk melihat dunia serta dasar penyesuaian setiap tindakan.

Teori-teori pendekatan terhadap isi media diatas masih lebih banyak mengulas tentang faktor-faktor yang berpotensi unuk mempengaruhi isi media, sehingga beberapa media cenderung untuk memiliki wajah berbeda jika latar belakang mereka berbeda dalam hal faktor-faktor pengaruh tersebut.

(27)

persoalan gender, anatara lain di lingkungan rumah, sekolah lingkungan sosial, tempata kerja maupun ditempat umum.

Selain membahas tentang ragam persoalan gender dimasyarakat, juga akan membahas bagaimana hubungan sosial berprespektif gender dimasyarakat, antara lain kesetaraan gender dan kehidupan masyarakat, kesetaraan gender dan kebijakan pemerintah, kesetaraan gender dan pendidikan, kesetaraan gender dan kesehatan, kesetaraan gender dan hukum, serta pengakuan dan penghargaan terhadap perempuan.

Metode Penelitian

Suatu penelitian membutuhkan desain penelitian yang merupakan metode dalam menyusun penelitian yang akan dilangsungkan untuk memberikan rencana terperinci yang membimbing peneliti dalam proses pengumpulan, analisis dan intepretasi observasi. Metode penelitian dalam prinsipnya berkaitan dengan cara-cara pengumpulan data; dimana penelitian dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai sesuatu yang mana akan dipergunakannya untuk mendukung dan membenarkan keinginannya (Berger, 2000: 6). Pemilihan metode merupakan suatu cara untuk menentukan bagaimana suatu gejala sosial dinilai dan dipahami, yang berimplikasi terhadap bagaimana data harus dikumpulkan dan dianalisis.

a. Unit Analisis dan Kategorisasi

Unit analisis adalah satuan terkecil yang dianalisis dapat berupa kata, ungkapan, kalimat atau tema. Unit analisis dalam penelitian ini adalah teks-teks berita pada SKH Pos Kupang.

Adapun unit analisis yang digunakan adalah :

Tabel unit analisis dan kategorisasi

N o

Unit Analisis Kategorisasi

1 Format Berita Straigh News

(28)

Feature

Indepth Reporting

2 Sumber Berita Pemerintah

Masyarakat

Akademisi

LSM

Kombinasi

Dan lain-lain

3 Nilai Berita Yang

ditonjolkan Timeliness Proximity

Importance

Conflict

Human Interest

Impact

Prominance

Kombinasi

4 Posisi Berita Headline

Tengah

Rubrik

5 Sifat Berita Deskriptif

Argumentasi

Informatif

Persuasif

Kombinasi

6 Dimensi Berita Hukum

(29)

Sosial Budaya

Pendidikan

Agama

Kesehatan

Kombinasi

7 Tipe Peliputan Satu Sisi

Dua Sisi

8 Prespektif Gender Kesetaraan gender dan kehidupan masyarakat

Kesetaraan gender dan kebijakan pemerintah Kesetraan gender dan politik

Kesetaraan gender dan Pendidikan

Kesetaraan gender dan kesehatan

Kesetaraan gender dan hokum

9 Ragam persoalan gender Pengabaian perempuan

Stereotype perempuan

Subordinasi perempuan

Kekerasan terhadap perempuan

Pelecehan terhadap perempuan

Pengakuan terhadap perempuan

Keseimbangan pembagian kerja

Penghargaan terhadap perempuan

Kombinasi

10 Tempat terjadinya persoalan gender

Tempat kerja

Sekolah

Rumah

Jalanan

(30)

Lingkungan sosial

b. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan teknik analisis isi dalam usaha menganalisis data terhadap permasalahan yang dibahas dalam surat kabar. Jenis penelitian ini sangat membantu untuk merumuskan pesan-pesan komunikasi dalam berita-berita media massa. Penelitian ini berfokus kepada berita jurnalistik tentang berita kesetaraan gender dalam SKH Pos Kupang edisi Juli sampai Agustus 2008 . Pada penelitian ini, berita-berita tersebut diteliti dan dimasukkan dalam proses pengkodingan. Selain itu penyajian berita jurnalistik dalam SKH Pos Kupang mencerminkan adanya respon dari media tersebut terhadap kesetaraan gender dalam menampilkan berita.

Sifat penelitian ini deskriptif analisis, yaitu mendeskripsikan item-item pemberitaan sehingga diketahui secara obyektif kecenderungan berita yang telah dipublikasikan oleh surat kabar yang diteliti. Secara metodologis dapat dikategorikan bahwa penelitian ini termasuk pada paradigma positivisme. Dasar keyakinan berakar pada paham ontologi realisme yang menyatakan bahwa realitas berada (exist) dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Karena itu, peneliti berupaya untuk mengungkap kebenaran realitas yang ada dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan (Salim, 2006:69). Atas dasar pijakan ini pula peneliti akan menjawab permasalahan yang diajukan melalui metode penelitian content analysis.

(31)

konklusi konseptual yang terkandung pada makna peristiwa yang dituangkan dalam media massa, dan dapat dijadikan pembuktian terhadap peristiwa yang diamati.

Analisis isi (content analysis) adalah suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicabel) dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya (Krippendorff, 1991:15). Berelson mendefinisikannnya sebagai teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara obyektif, sistematik dan kuantitatif isi komunikasi yang tampak (manifest).

Definisi analisis isi menurut McQuails;

A technique for the systematic, quantitative and objective description of media texts, that is useful for certain purposes of classifying output, loooking for effects and making comparisons between media and over time or between content and ‘reality’. Content analysis is not well suited to uncovering the underlying meaning of content, although it can provide certain indicators of ‘ quality ‘ of media.

Dalam perkembangannya, menurut Barelson dan Kerlinger, analisis isi merupakan suatu metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik, objektif dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak (Wimmer & Dominick, 2000:135). Sedangkan menurut Budd (dalam Rakhmat Kriyantono, 2006:228), analisis isi dimaksudkan sebagai suatu teknik sistematis untuk menganalisis isi pesan dan mengolah pesan atau suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator yang dipilih.

Prinsip analisis isi berdasarkan definisi di atas:

1. Prinsip sistematis, mempunyai pengertian semua perangkat prosedur dapat digunakan dengan cara yang sama dalam menganalisis isi. Periset tidak dibenarkan menganalisis hanya pada isi yang sesuai dengan perhatian dan minatnya, tetapi harus pada keseluruhan isi yang telah ditetapkan untuk diriset.

(32)

objektifitas sangat dijunjung tinggi terutama kepada aspek kategori dan prosedur penelitian.

3. Prinsip kuantitatif, menekankan pada pencatatan dari hasil nilai bilangan atau frekuensi untuk menggambarkan terjadi berbagai jenis isi yang ditemukan. Diartikan juga sebagai prinsip digunakannya metode deduktif.

4. Prinsip manifest (isi yang nyata), pengertiannya adalah isi pesan (content) yang tampak, yaitu sesuai apa yang tertulis dan tercetak dalam surat kabar. Jadi, dimaksudkan bahwa yang diriset dan dianalisis adalah isi yang tersurat (tampak) bukan makna yang dirasakan periset. Penekanan pada aspek manifest dimaksudkan untuk membaca seperti apa adanya dan jelas dinyatakan secara terbuka didalam media yang diamati.

Penggunaan analisis isi mempunyai beberapa manfaat atau tujuan. McQuail dalam Mass Commmunication Theory (2000:305) mengatakan bahwa tujuan dilakukan analisis terhadap isi pesan komunikasi adalah:

 Mendeskripsikan dan membuat perbandingan terhadap isi media.

 Membuat perbandingan antara isi media dengan realitas sosial.

 Isi media merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial dan budaya serta sistem

kepercayaan masyarakat.

 Mengetahui fungsi dan efek media.

 Mengevaluasi media performance.

 Mengetahui apakah ada bias media.

Holsti (1969) memandang analisis isi dalam tiga tujuan pokok, yaitu;

2. Mendeskripsikan karakteristik-karakteristik komunikasi dengan mengajukan pertanyaan apa, bagaimana, kepada siapa sesuatu dikatakan

3. Membuat inferensi-inferensi mengenai anteseden-anteseden komunikasi- dengan mengajukan pertanyaan kanapa sesuatu dikatakan.

(33)

c. Sumber Data

Dalam penelitian ini data pokok adalah berita SKH Pos Kupang. Ada dua jenis data dalam penelitian ini, yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh peneliti langsung pada sumbernya pada saat penelitian. Dalam penelitian ini yang dijadikan data primer adalah berita tentang perempuan dalam hal ini berita kesetraan gender yang dimuat di SKH Pos Kupang yang dimuat selama periode Juli sampai Agustus 2008.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung yang berasal dari pihak lain, diluar objek penelitian. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, yakni data yag diperoleh melalui buku-buku ilmiah dan pengetahuan umum sebagai landasan teori yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Disamping itu, data juga diperoleh melalui literatur-literatur dan jurnal yang dapat menunjang penelitian.

d. Objek Penelitian

Sasaran dalam penelitian ini adalah berita-berita mengenai perempuan dan kesetaraan gender yang dimuat atau dipublikasikan oleh SKH Pos Kupang yang dimuat selama periode Juli sampai Agustus 2008 . Secara garis besar dalam penentuan kategori, sasaran utama dalam penelitian selalu tertuju kepada inti permasalahan (subject matter) terhadap berita yang ditampilkan oleh surat kabar.

(34)

Alasan mendasar pengambilan sampel periode Juli sampai Agustus 2008, karena edisi bulan Juli dan Agustus 2008 banyak memuat berita tentang perempuan kaitannya dengan menyambut kemerdekaan dan masa persiapan pemilihan wakil rakyat yang didalamnya perempuan diberikan quota 30% untuk duduk dikursi parlemen. Hal itu menarik perhatian peneliti, mengingat banyak bakal calon dan calon legislatif yang diajukan oleh parpol adalah perempuan. Dan peneliti ingin melihat bagaimana SKH Pos Kupang sebagai salah satu media lokal di propinsi Nusa Tenggara Timur mendukung keikutsertaan perempuan dalam kancah politik melalui pemberitaannya tentang gender.

Untuk memperjelas analisis isi surat kabar yang diteliti, maka perlu diadakannya kategorisasi terhadap unit analisis. Hal tersebut penting dilakukan bilamana sampai pada penentuan variabel dan indikator yang digunakan.

e. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek atau fenomena yang diteliti. Populasi penelitian ini memfokuskan pada surat kabar lokal, yaitu; SKH Pos Kupang. Pemilihan harian tersebut dimaksudkan untuk melihat differensiasi penampilan isi berita dalam melihat dan mengakomodir isu-isu kesetaraan gender di propinsi Nusa Tenggara Timur. Alasan pemilihan SKH Pos Kupang tersebut berpatokan pada ideologi, misi dan orientasi yang diemban harian tersebut. Selain itu, dengan memperhatikan surat kabar tersebut, merupakan surat kabar lokal dengan tiras yang cukup besar dalam arti pendistribusian yang cukup besar tersebut dapat dijadikan indikasi bahwa surat kabar tersebut banyak dibaca orang. Dengan distribusi yang cukup besar, dapat diasumsikan surat kabar tersebut sebagai sarana informasi dapat menyentuh kepada berbagai lapisan masyarakat. Khususnya lagi, apabila pemberitaan tersebut membahas isu-isu kesetaraan gender yang sedang hangat di propinsi Nusa Tenggara Timur.

(35)

karakter pemberitaannya bisa dikatakan hampir sama dengan Kompas sebagai institusi pusat. Sumber dana terbesar didapat dari iklan yang bersirkulasi nasional dan lokal.

Sampel penelitian ini adalah edisi Juli sampai Agustus 2008. Alasan mendasar pengambilan sampel periode Juli sampai Agustus 2008, karena edisi bulan Juli dan Agustus 2008 banyak memuat berita tentang perempuan kaitannya dengan menyambut kemerdekaan dan masa persiapan pemilihan wakil rakyat yang didalamnya perempuan diberikan quota 30% untuk duduk dikursi parlemen. Hal itu menarik perhatian peneliti, mengingat banyak bakal calon dan calon legislatif yang diajukan oleh parpol adalah perempuan. Dan peneliti ingin melihat bagaimana SKH Pos Kupang sebagai salah satu media lokal di propinsi Nusa Tenggara Timur mendukung keikutsertaan perempuan dalam kancah politik melalui pemberitaannya tentang gender.

f. Teknik Pengumpulan Data

Data utama yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data-data dokumentasi yang berupa berita tentang perempuan dan kesetaraan gender yang dimuat di surat kabar Pos Kupang yang terbit selama bulan Juli sampai dengan bulan Agustus tahun 2008 yang diperoleh secara langsung dengan menghitung frekuensi kemunculannya. Sedangkan data penunjang diperoleh dengan cara wawancara dengan pihak-pihak yang berkompeten, dengan studi pustaka baik terhadap literatur, jurnal, makalah, hasil penelitian maupun arsip-arsip yang lain.

g. Teknik Analisis Data

Analisis data diperlukan dalam proses pemberiaan arti atau makna. Dari data mentah yang diperoleh untuk memecahkan masalah yang ada dalam penelitian ini. dalam proses analisis data, statistik memiliki peranan penting karena digunakan sebagai alat untuk mengetahui apakah kesimpulan yang diambil cukup representatif untuk memberikan informasi tertentu terhadap populasi.

(36)

memungkinkan untuk membuat deskripsi karakter isi pesan yang relevan (Setiawan dan Siregar, 1988:63). Data yang digunakan dalam mengolah data dari codingsheet dianalisis untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana isi pemberitaan mengenai perempuan dan kesetaraan gender dalam media lokal SKH Pos Kupang edisi Juli-september 2008.

h. Reliabilitas

Pengukuran bisa dikatakan reliabel adalah ketika pengukuran tersebut mempunyai reliabilitas tinggi. Ide pokok yang terkandung dalam konsep adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2003:4). Realibilitas merupakan sesuatu yang harus dipenuhi dalam suatu penelitian kuantitatif. Reliabilitas dapat juga berarti kepercayaan, keajegan, kestabilan dan konsistensi. Reliablitas merupakan kunci dari keseluruhan rancangan studi yang menyangkut sampling, prosedur pengkodean dan reliabilitas kategori.

Realibilitas adalah kesesuaian alat ukur dengan diukur, sehingga alat ukur iu dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Untuk mencapai tingkat realibilitas alat ukur yang diharapkan, maka perlu sebelumnya mengetahui apa yang sesungguhnya yang akan diukur dan metode pengumpulan data apa yang akan digunakan. Selain itu, untuk mencapai tingkat kepekaan dan realibilitas, perlu dimengerti serta memperhatikan aspek : kemantapan, ketetapan, dan homoginitas alat ukur. Kemantapan alat ukur dimaksud bahwa apabila alat ukur itu dipakai untuk mengukur sesuatu yang berulangkali, alat ukur tersebut menghasilkan hasil ukuran yang sama dengan notebene bahwa tidak terjadi perubahan kondisi disetiap pengukuran (Bungin, 2005:96). Untuk melakukan tes reliabilitas akan ditunjukkkan dua orang pengkoding untuk menggunakan tingkat kesamaan atas kategori dalam bentuk pengajian dan sumber data pada media SKH Pos Kupang yang telah ditentukan dalam standar reliabilitas.

(37)

Keterangan :

CR = Coeficient realibility

M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh pengkoding (hakim) dan periset

N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding (hakim) dan periset

i. Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam menentukan alat ukurnya. Validitas digunakan pula untuk melihat sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur akan melakukan fungsi ukurnya. Validitas dibatasi sebagai tingkat kemampuan suatu alat ukur untuk mengungkapkan suatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan alat ukur tersebut.

Validitas adalah akurasi alat ukur terhadap yang diukur terhadap yang diukur walaupun dilakukan berkali-kali dan dimana-mana. Validitas alat ukur sama pentingnya dengan realibilitas itu sendiri. Ini artinya bahwa alat ukur haruslah memiliki akurasi yang baik terutama apabila alat ukur tersebut digunakan sehingga validitas akan meningkatkan bobot kebenaran data yang diinginkan peneliti, maka alat ukur yang dipakai dalam instrument ini adalah kerangka-kerangka teori yang berhubungan dengan latar belakang peneliti dengan diperoleh dari data sekunder agar dapat memiliki tingkat validitas yang baik (Bungin, 2005:97).

Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur sesuai dengan maksud yang dilakukan penelitian tsb. Tes yang menghasilkan data yang tidak

CR = 2 M

(38)

relevan dengan tujuan pengukuran dikatakan sebagai tes yang mewakili reliabilitas rendah (Azwar, 2003:5-6).

Pembahasan

Dalam penelitian, akan dianalisis beberapa berita tentang kesetaraan gender yang telah dipilih dari sejumlah berita yang terdapat di SKH Pos Kupang yang menjadi objek penelitian. Dari item berita akan diambil 10 kategori berita yang terdiri dari format berita, sumber berita, nilai berita, posisi berita, sifat berita, dimensi berita, tipe peliputan, prespektif gender, ragam persoalan gender, dan tempat kejadian persoalan gender.

Dalam penelitian ini, pemilihan SKH Pos Kupang didasarkan pada orientasi pemberitaan juga faktor filosofi yang memberikan perbedaan satu sama lain dengan menampilkan isu-isu kesetaraan gender yang melibatkan komitmen pers untuk ikut bertanggung jawab dalam kenyamanan kehidupan bermasyarakat. Selain itu, SKH Pos Kupang merupakan surat kabar daerah atau lokal yang mempunyai peran sangat penting bagai masyarakat NTT.

Populasi berita yang menjadi objek penelitian berjumlah 64 berita berasal dengan masa pemuatan berita selama 2 bulan (33 hari) Berkaitan dengan tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui isi pemberitaan mengenai kesetaraan gender dalam media lokal, maka penelitian akan menghitung berdasarkan frekuensi kemunculannya pada kategori format berita, sumber berita, nilai berita yang ditonjolkan, isi berita, tipe peliputan, posisi berita, sifat berita dan dimensi berita tipe peliputan, prespektif gender, ragam persoalan gender, dan tempat kejadian persoalan gender. Keseluruhan judul berita dari surat kabar tersebut dapat dilihat pada daftar lampiran.

A. Hasil Penelitian Analisis Isi Pemberitaan Kesetaraan Gender di Propinsi Nusa Tenggara Timur pada SKH Pos Kupang edisi Juli-Agustus 2008

(39)

1. Format berita

Format berita merupakan cara berita ditampilkan atau disajikan dengan berbagai macam bentuk tulisan dalam penulisan berita. Unit analisis jenis berita dalam penelitian ini dikategorikan menjadi Straight News, Soft News, Feature dan Indepth Reporting. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui format berita apa saja yang sering digunakan oleh SKH Pos Kupang dalam menulis berita tentang kesetaraan gender.

Hasil penelitian berdasarkan unit analisis format berita pada SKH Pos Kupang edisi Juli-Agustus 2008 terbagi dalam 4 format berita, yang dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 1.1

Unit analisis berdasarkan Format Berita Pada SKH Pos Kupang

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa SKH Pos Kupang dalam pemberitaan tentang kesetaraan gender paling banyak menggunakan format berita Straight news. Straight news merupakan format berita yang utama pada SKH Pos Kupang. Hal ini tentu saja dikarenakan berita tentang perempuan dan kesetaraan gender banyak memuat pemberitaan tentang kriminalitas yang dialami oleh kaum perempuan yang merupakan kejadian penting yang harus secepatnya diketahui oleh pembaca. Hal inilah yang menyebabkan berita tentang perempuan dan kesetaraan gender banyak ditampilkan dalam bentuk straight news. Namun sebaliknya berita Soft news pada SKH Pos Kupang banyak mengulas mengenai prestasi yang diraih oleh kaum perempuan baik dalam bidang oleh raga, sosial budaya maupun politik. Feature muncul dalam berita tentang pengakuan dan penghargaan atas prestasi dan kinerja perempuan dalam bidang olah raga, sosial budaya maupun politik.

Straight news merupakan berita yang mendominasi pada Pos Kupang yang memiliki porsi lebih banyak dibanding berita lainnya. Hal ini berarti bahwa SKH Pos Kupang lebih

(40)

mengutamakan kecepatan berita untuk sampai pada khalayaknya dibandingkan kedalaman berita. Kecepatan sampainya informasi menunjukkkan bahwa SKH Pos Kupang mempunyai tujuan untuk memberikan layanan informasi secepat mungkin.

Pemilihan format berita straight news yang banyak digunakan Pos Kupang menunjukkan bahwa Pos Kupang mementingkan aktualitas berita yang dijawab dengan struktur 5 W + 1 H untuk berita kriminalitas yang menimpa perempuan, karena berita tersebut dianggap paling menarik dan penting sehingga harus cepat diberitakan, kemudian untuk berita tentang penghargaan dan pengakuan atas prestasi dan kinerja perempuan dimasyarakat diulas mendalam dengan format berita soft news dan feature yang bisa diartikan bahwa Pos Kupang juga menaruh perhatian dan penghargaan yang tinggi terhadap perempuan namun mengutamakan kecepatan dan aktualitas berita sehingga berita tentang perempuan dan gender lebih banyak menggunakan format berita straight news yang ditempatkan di headline.

2. Sumber Berita

Sumber berita dalam pemberitaan kesetaraan gender sangat diperlukan untuk mendukung penyampaian ataupun menggali fakta dan informasi yang ingin didapatkan. Sumber berita adalah pihak yang menjadi sumber wartawan untuk mendapatkan informasi mengenai suatu peristiwa yang dapat berupa lembaga atau perorangan terhadap sebuah peristiwa yang terjadi. Dari sinilah media khususnya media cetak tidak hanya mendeskripsikan sebuah fakta yang diperoleh, melainkan juga harus mampu mengetahui fakta tersebut menjadi sebuah berita yang memiliki sudut pandang, sehingga pembaca dapat langsung mengerti dan mengetahui konsekuensi dari peristiwa yang terjadi tersebut.

(41)

mengetahui bagaimana SKH Pos Kupang mendapatkan nara sumber atau informasi dari masing-masing pemberitaan.

Hasil penelitian berdasarkan unit analisis sumber berita pada SKH Pos Kupang edisi Juli-Agustus 2008 terbagi dalam 6 sumber, yang dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.1

Unit analisis berdasarkan Sumber Berita Pada SKH Pos Kupang

Berdasarkan tabel hasil di atas dapat dilihat bahwa SKH Pos Kupang dalam pemberitaan tentang perempuan da kesetaraan gender lebih banyak menggunakan sumber berita pemerintahan lokal. Sumber berita Pemerintahan lokal mendominasi penggunaan sumber berita pada SKH Pos Kupang, walaupun hasil analisis menunjukkan sumber berita Kombinasi juga memiliki jumlah yang hampir seimbang dengan hanya selisih delapan berita saja. Hal ini dikarenakan dalam berita kombinasi, sumber berita Pemerintahan lokal termasuk bagian didalamnya.

(42)

Berkaitan dengan gaya liputan media dalam mengangkat sebuah konflik yang muncul, untuk memberikan kelengkapan informasi bagi pembacanya. Hal ini juga dapat menggambarkan keterbukaan media dalam liputannya. Unit analisis ini meliputi dua kategori, yaitu liputan satu sisi dan dua sisi. Liputan satu sisi adalah tipe liputan oleh wartawan dimana dalam proses peliputan sebuah peristiwa ataupun berita hanya mengutip informasi dari satu pihak saja. Peliputan in, liputan yang merujuk ke berbagai pihak. Namun masih satu pendapat. Sedangkan liputan dua sisi adalah tipe liputan yang dlakukan oleh wartawan dimana dalam proses peliputan sebuah peristiwa ataupun berita tersebut wartawan menggali penjelasan atau informasi dari berbagai pihak dalam usaha untuk memperoleh sebuah pemberitaan.

Berikut hasil penelitian berdasarkan unit analisis tipe peliputan pada SKH Pos Kupang edisi Juli-Agustus 2008, yang dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 3.1

Dari hasil penelitian, terlihat bahwa SKH Pos Kupang tidak menyajikan berita secara berimbang atau cover both side, Coverage Berita dua sisi akan menjadikan berita terkupas dengan detil, lengkap dan jelas. Ketidakberimbangan tipe peliputan yang dilakukan oleh Pos Kupang dapat dilihat pada pemilihan nara sumber berita yang lebih banyak menggunakan nara sumber pemerintah saja atau masyarakat saja, sehingga berita yang dihasilkan belum memenuhi standar fungsi pemberitaan media massa yaitu pemberitaan yang berimbang. Ketidakseimbangan tipe peliputan yang digunakan oleh SKH Pos Kupang mengesankan ketergesaan SKH Pos Kupang dalam menampilkan berita sehingga mengabaikan aspek penting dari tipe peliputan yang cover both side. SKH Pos Kupang tidak seharusnya demikian karena tipe peliputan yang dipakai menggambarkan surat kabat tersebut.

Gambar

Tabel 1.1
Tabel 2.1
Tabel 4.1
Tabel 5.1
+6

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian mengenai keanekaragaman Lepidoptera dan hubungannya dengan tanaman inang telah banyak dilakukan (Sin et.al. 2002; Saputro, 2007; Rizal, 2007; Bonfatti et

This chapter discusses about general concept of speaking, elements of speaking, some principles in teaching speaking English, teaching speaking to Senior High School,

a) Banyak menggunakan waktu yang relatif lama untuk mempersiapkan alat- alat peraga yang akan digunakan, sehingga dosen harus kerja ekstra dengan mempertimbangkan jam efektif

b) curriculum development; c) education delivery; d) assessment of learning. A list of processes carried out typically in educational organizations is given in B.1.

Jika ada pengemis yang datang kerumah maka sikap kita adalah ..a. Kita dilarang tolong menolong dalam

Berdasarkan rumusan masalah diatas, yang menjadi tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan keterampilan dalam melipat kertas origami melalui metode latihan

Pada penelitian selanjutnya tentang Dagusibu obat oleh Khasanah (2016), di dapatkan hasil sebagai berikut terdapat sebanyak 64,4% dari responden menyatakan bahwa

Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa (1) tipe bahasa Sumbawa Dialek Jereweh dilihat dari level afiksasi bertipe agliutinasi yaitu adanya pelekatan afiks pada