PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP
PEKERJA
ANAK DI INDONESIA
NAMA
:SILVIA INDRIYANI
NIM
:1600024210
KELAS
:C
FAKULTAS HUKUM
A.PENDAHULUAN
Anak merupakan anugerah dari sang maha kuasa yang tidak ternilai dan tidak dapat digantikan dengan apaun,maka selaku orang tua harus wajib menjaga dan memenuhi kebutuhannya selayak mungkin,Namun diindonesia bukanlah suatu fenomena yang baru jika anak-anak terlibat secara aktif dalam kegiatan ekonomi untuk menjalankan perannya sebagai pekerja.Meskipun disuatu sisi diakui adanya upaya-upaya dari berbagai pihak yang bermaksud untuk memberikan “perlindungan”terhadap anak-anak yang “terpaksa” bekerja,namun pada kenyataanya usaha-usaha itu belumlah menunjukan hasil yang maksimal,masih banyak ditemui berbagai kasus pekerja anak,yang mengarah pada bentuk-bentuk pengeksploitasian anak dan berbagai insiden perlakuan salah pada anak,yang mengakibatkan luka,keluhan dan cacat fisik serta moral-sosial pada saat ia melalukan pekerjaannya(Prof.Dr.H.Muladi,SH,2009:201)
Sejumlah temuan penelitian menunjukan bahwa munculnya pekerja anak ini disebabkan karena,adanya tekanan ekonomi yang memaksa mereka untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan ekonomi,baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri,maupun sebagai suatu bentuk partisipasi dari anak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan kelangsungan hidup keluarganya.Karena dianggap telah ikut bertanggung jawab terhadap ekonomi keluarga(Prof.Dr.H.Muladi,SH,2009:204)
Perlindungan hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak(fundamental rightand freedoms of children) serta berbagai perlindungan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak,masalah perlindungan anak mencakup hal yang sangat luas(Barda,1997:67)
Permasalhan perlindungan anak ini juga permasalahan kehidupan manusia.Disini yang menjadi subyek dan obyek pelayanan dalam kegiatan perlindungan anak sama-sama mempunyai hak dan kewajiban.Kalau kita telaah secara mendalam secara jelas,bahwa citra yang tepat mengenai manusia dan kemanusiaan akan lebih mengerti apa yang dimaksud dengan membangun manusia seutuhnya,yang meliputi juga kegiatan melindungi anak,khususnya anak sendiri dan anak masyarakat disekitar(Shanty,dellyan,1988:6)
bentuk norma-norma yang ada.Hak-hak ini berisi tentang kesamaan atau keselarasan tanpa membeda-bedakan suku,golongan,keturunan,jabatan,agama dan usia.Maka dari itu sesama makhluk ciptaan tuhan kita harus saling menjaga dan menghormati hak asasi masing-masing individu.Namun pada kenyataanya kita melihat perkembangan HAM dinegara ini masih banyak bentuk pelanggaran HAM yang sering kita temui.
B.KAJIAN TEORI
Berikut beberapa teori ynag menjelaskan tentang Hak Asasi Manusia(HAM)
A.Teori Realitas
Yang mendasari pandangannya pada asumsi adanya sifat manusia yang menekankan
self interest dan egoisme dalam dunia seperti bertindak anarkis.Dalam situasi anarkis prinsip universal moral yang dimiliki setiap individu tidak dapat berlaku dan berfungsi.Untuk mengatsi situasi demikian negara harus mengambil tindakan berdasarkan power dan security dalam rangka menjaga kepentingan nasional dan keharmonisan sosial dibenarkan(ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,2003:217)
B..Teori Relativitas Kultural
Berpandangan bahwa nilai-nilai moral dan budaya bersifat partikular(khusus).Hal ini berarti bahwa nilai-nilai moral HAM bersifat lokal dan spesifik,sehingga berlaku khusus pada suatu negara.Dalam kaitan dengan penerapan HAM,menurut teori ini ada tiga model penerapan HAM yaitu:
a.Penerrapan HAM yang lebih menekankan pada hak sipil,hak politik dan hak pemilikan pribadi.
b.Penerapan HAM yang lebih menekankan pada hak ekonomi dan hak sosial
c.Penerapan HAM yang lebih menekankan pada hak penentuan nasib sendiri (self determinatin) dan pembangunan ekonomi.
C.Teori Radikal Universalitas
Berpandangan bahwa semua nilai termasuk nilai-nilai HAM adalah bersifat universal dan tidak bisa dimodifikasi untuk menyesuaikan adanya perbedaan budaya dan sejarah suatu negara((ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,2003:218).
Dalam kaitan dengan ketiga teori tentang nilai-nilai HAM itu ada dua arus pemikiran atau pandangan yang saling tarik menarik dalam melihat relativitas nilai-nilai HAM yaitu
universal HAM hanya menjadi pengontrol dari nilai-nilai HAM yang didasasri oleh nilai budaya lokal atau lingkungan yang spesifik.Berdasarkan pandangan ini diakui adnya nilai-nilai HAM lokal(partikular)dan nilai-nilai-nilai-nilai HAM yang universal.
Sedangkan weak relativist memberi penekanan bahwa nilai-nilai HAM bersifat universal dan sulit untuk dimodifikasi berdasarkan pertimbangan budaya tertentu.Berdassarkan pandangan ini nampak tidak adanya pengakuan terhadap nilai-nilai HAM lokal melainkan hanya mengakui adanya nilai-nilai HAM universal.
1.1 Faktor penyebab pekerja anak
a.Faktor Ekonomi
Sejumlah temuan penelitian menunjukan bahwa munculnya pekerja anak ini disebabkan karena,adanya tekanan ekonomi yang memaksa mereka untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan ekonomi,baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri,maupun sebagai suatu bentuk partisipasi dari anak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan kelangsungan hidup keluarganya.Karena dianggap telah ikut bertanggung jawab terhadap ekonomi keluarga.Sebagian besar orang tua mengirim anaknya untuk bekerja,dalam kenyataannya,tidak mengehendaki anak mereka untuk bekerja dalam usia dini .Keikutsertaan dalam lingkungan pendidikan dipandang sebagai hal yang relatif lebih penting dan dipandang sebagai hal yang penting untuk hidup yang lebih baik bagi anak-anak mereka dari pada bekerja.Latar belakang dengan alasan kondisi ekonomi dengan tujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup hidupnya sendiri ataupun keluarganya.Bagi mereka,penghassilan yang diperoleh terutama dan pertama tentunya untuk memenuhi kebutuhan primer tentunya,seperti untuk makan ,sehingga mereka tidak mempunai kesempatan untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk pendidikan.
b.Faktor Budaya
Peran perempuan dalam keluarga sangat penting,meskipun norma-norma budaya menekankan bahwa tempat perempuan adalah dirumah sebagai istri dan ibu,juga diakui bahwa perempuan seringkali menjadi pencari nafkah tambahan/pelengkap buat kebutuhan keluarga.Rasa tanggung jawaab dan kewajiban membuat banyak wanita bermigrasi untuk bekerja agar dapat membantu keluarga mereka.
Disini ada bebrapa kemungkinan.Pertama,pada masyarakat desa yang masih tertekan oleh adat-istiadat menganggap bahwa perempuan dapat diikahkan secepatnya ketika sudah dianggap cukup waktuya,walaupun belum matang secara psikis dan fisik. Hal ini yang mengakibatkan banyak anak-anak perempuan dibawah umur menanggung beban selayaknya perempuan dewasa sebagai istri.
c.Perkawinan Dini
perkawinan dini mempunyai implikasi yang serius pada anak perempuan termasuk bahaya kesehata,putus sekolah,kesempatan ekonomi yang terbatas,gangguan perkembangan pribadi,dan sering juga perceraian dini.Anak perempuan yang sudah sah bercerai dianggap sebagai orang dewasa dan rentan terhadap trafiking disebabkan oleh kerapuhan ekonomi mereka.
d.Faktor Pendidikan
pemasukan.Misalnya,lewat koperasi sekolah atau unit usaha sekolah.untuk mendukung itu diperlukan juga balai pelatihan kerja yang memberikan pelatihan dan dukungan dana bagi orang tua mereka.
e.Faktor Perubahan proses produksi
Perkembangan zaman yang juga menuntut pada kecanggihan teknologi membuat bebrapa perusahaan melakukan proses produksi menggunakan alat-alat teknologi canggih,sehingga banyak sekali pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh tenaga ahli menjadi lebih cepat selesai hanya dengan hitungan waktu yang sangat singkat dikerjakan oleh sebuah alat.Ynag tersisa hanyalah pekerjaan kasar dan serabutan yang ternyata banyak anak yang diambil untuk diperkerjakan,tentu saja dengan upah yang murah dan perlindugan jaminan yang minim,karena masih dianggap sebagai anak yang tidak mengetahui apa-apa dan dituntut untuk selalu menuruti aturanyang dibuat oleh perusahaan tempat bekerja.
2.1 Upaya penyelarasan hak sebagai anak dan pekerja
Kebijakan pemerintah untuk melarang anak agar tidak bekerja secara absolut pada akhirnya tidak dapat dipertahankan.kebijakan ini memang bukan hal yang negatif,setidaknya dari aspek ekonomi.Pekerja anak disektor formal masih memperoleh hak yang sam seperti pekerja dewasa.Disatu sisi terlihat sikap dan tindakan yang hanya memperlakukan pekerja anak sebagaimana lazimnya sebagai pekerja sehingga hak-haknya hampir sebagian besar disamakan dengan hak pekerja dewasa,tanpa melihat kebutuhan konkrit dari anak yang membutuhkan pematangan fisik,kecerdasan,emosional,sosial dan pematangan susila seiring dengan perkembangan usianya.Upaya melindungi pekerja anak ini dibebankan dengan porsi yang lebih besar,kepada para pengusaha.
Sedangkan disisi lain muncul sikap yang tetap ingin menarik anak dari kegiatan ekonomi.Langkah ini berupa pemeberian berbagai macam perlindungan agar anak dapt berkembang dalam segala aspeknya secara wajar,dan mengabaikan adnya hak-hak anak untuk bekerja,pembebanan kewajiban terbesar untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak ini,pada orang tua atau lingkungan keluarganya.Masa anak-anak merupakan hadiah yang terbaik bagi anak. Masa dimana mereka dapat bermain dan bercanda secara bebas dan kesempatan untuk belajar semaksimal mungkin.
a.Anak berhak atas kesejahteraan,perawatan,asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang yang baik baik dalam keluarganya maupun didalamasuhan,khususnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.
b.Anak berhak atas pelayan untuk berkembang kemampuan dan kehidupan sosialnya,sesuai dengan kepribadian dan kebudayaan bangsa,untuk menjadi warga negara yang baik dan beruna.
c.Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik sesama kandungan maupun sesudah dilahirkan.
d.Anak berhak aats perlindungan terhadpa lingkungan hidup yang membahayakan dan menghambat pertumbungan dan perkembangannya dengan wajar.
Pemberian jaminan ini merupakan perwujudan kesejahteraan anak.Pihak yang pertamakali mempunyai tanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak ini baik secara rohani,jasmani maupun sosial adalah orang tua (pasal 99 UU Kesejahteraan Anak).
Pengakuan dan perlindungan hak-hak anak bertujuan agar mereka dapt tumbuh dan berkembang secara wajar sebagai anak,serta menghindari sejauh mungkin anak-anak dari berbagai macam ancaman dan gangguan,yang mungkin datang dari luar lingkungannya,Maupun dari anak itu sendiri.Misalnya,perlakuan tidak wajar,berupa tindakan yang merupakan kelalaian dan kezaliman,kekerasa,penyalahgunaan atas hak diri anak(eksploitasi),serta diskriminasi sosial dan penelantaran anak.
Meskipun undang-undang tersebut bermaksud untuk menjamin,memelihara dan mengamankan kepentingan anak secara wajar,namun sepertinya belumlah mengakui eksistensi pekerja anak,sebagai suatu kelompok anak-anak yang sebenarnya mengalami hambatan.
Konvensi Hak Anak(KHA)sering disebut sebagai instrumen internasional yang komprehensif,sejauh menyangkut kmaslah perlindungan anak,khususnya dalam hubungannya dengan anak yang bekerja.Satu-satunya ketentuan yang menyangkut pekerja anak dalam KHA terdapat dalam pasal 32,yang menyatankan :
(2) Negara peserta akan mengambil langkah-langkah legislatif,administratif,sosial dan pendidikan guna menjamin implementasi pasal ini.
Untuk tujuan ini dan dengan mempertimbangkan ketentuan-ketentuan yang relevan dari instrumen internasional lainnya,negara peserta secara khusus akan:
a.Menetapkan batas usia minimum atau batas-batas usia minimum bagi pekerja upah b.Menetapkan peraturan yang sesuai mengenai jam kerja dan kondisi kerja
c.Menetapkan hukuman atau sanksi-sanksi lainya yang sesuai guna menjamin pelaksanaan efektif pasal ini.
3.1 Bentuk-bentuk Pelanggaran Hak Asasi Manusia,
Banyak macam pelanggaran Hak Asasi Manusi diindonesia,dari sekian banyak kasus HAM yang terjadi,tidak sedikit juga yang belum tuntas secara hukum,hal itu tentu saja tak lepas dari kemauan dan itikad baik pemerintah untuk menyelesaikan sebagai pemegang kekuasaan sekaligus pengendali keadilan bagi bangsa ini.
a.Kasus HAM yang bersifat berat,meliputi:
1.Pembunuhan masal(genosida:setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud mengahncurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa.
2.Pembunuhan sewenang-wenang atau diluar putusan pengadilan 3.Penyiksaan
4.Penghilangan orang secara paksa
5.Perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis.
b.Kasus pelanggaran HAM yang biasa,meliputi: 1.Pemukulan
2.Penganiayaan yakni perbuatan yang dilakukan secara sengaja sehingga menimbulkan raa sakit yang teramat atau penderitaan baik itu jasmani maupun rohani pada seseorang untuk mendapat pengakuan dari seorang ataupun orang ketiga.
3.Pencemaran nama baik
4.Mengahalangiorang untuk mengekspresikan pendapatnya.
Indonesia sebagai negara hukum,sedikitnya harus memiliki tiga ciri-ciri pokok sebagai berikut :
a.Pengakuan perlindungan atas HAM yang mengandung persamaan dalm bidang politik,sosial,ekonomi,hukum,budaya,dan lain sebagainya
b.Peradilan yang bebas dan tidak memihak serta tidak dipengaruhi oleh suatu kekuasaan lain apapun.
c.Menjunjung tinggi asas legalitas (Mohammad Kusnardi dan Bintan R.Saragih,1983:27).
Salah satu aspek kemanusiaan yang sangat mendasar dan asasi adalah hak untuk hidup dan hak untuk melangsugkan kehidupan,karena hak-hak tersebut diberikan langsung oleh Tuhan kepada setiap manusia.
Oleh karena itu setiap upaya perampasan terhadap nyawa termasuk didalamnya tindak kekerasan lainnya,pada hakekatnya merupakan pelanggaran HAM yang berat bila dilakukan secara sewenang-wenang dan tanpa dasar pembenaran yang sah menurut hukum dan perundangan yang berlaku(Barda Nawawi Arif,1996:76-77).
3.2.Bentuk-bentuk pelanggaran HAM pada Anak
1.pelanggaran HAM dalam lingkungan keluarga yakni:
a.Orang tua yang memaksakan keinginannya kepada anaknya(tentang masuk sekolah,memilih pekerjaan,dipaksa untuk bekerja)
c.Orang tua memaksakan anak untuk bekerja daripada bersekolah
d.Orang tua membatasi waktu bermain anak dengan memaksa untuk belajar e.Pembuangan bayi dan penelantaran anak
2.Pelanggaran HAM dalam lingkungan sekolah:
a.Guru membeda-bedakan siswanya disekolah(berdasarkan kepintaran,kekayaan dan perilakunya)
b.Membayaran iuran sekolah yang terlalu tinggi tanpa diimbangi fasilitas yang diperoleh.
c.Guru memberikan sanksi atau hukuman kepada siswanya secara fisik d.Siswa memalak atau menganiaya siswa yang lain
3.Pelanggaran HAM dalam masyarakat
a.Pertikaian antar kelompok/antar geng atau antar suku
b.Perbuatan main hakim sendiri terhadap seorang pencuri atau anggota masyarakat yang tertangkap basah melakukan perbuatan asusila
c.Merusak sarana/fasilitas umum karena ecewa atau tidak puas dengan kebijakan yang ada.
3.3 Pasal yang mengatur HAM pada Anak
a.Pasal 28 A
Setiap orang berhak untuk hidup dan berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
b.Pasal 28 B
(2)Setiap anak berhak atas kelangsuangan hidup,tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerassan dan didiskriminasi.
(1)Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi,seni dan budaya,demi meningkatkan kualitas hidupnya dan kesejahteraan umat manusia.
(2)Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan secara kolektif untuk membangun masyarakat bangsa dan negara.
d.Pasal 28 G
(1)Setipa orang berhak atas perlindungan diri pribadi,keluarga,kehormatan,martabatdan harta benda yang dibawah kekuasaannya serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi manusia.
(2)Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suara politik dari negara lain.
e.Pasal 28 I
(1)Hak untuk hidup hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani,hak beragama,hak untuk tidak diperbudak,hak untuk diakui secara pribadi dihadapan hukum,dan hak untuk tidak dintuntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.
(2)Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang didiskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersikap diskriminatif itu. Di indonesia,istilah kejahatan terhadap kemanusiaan secara yuridis baru dikenal sejak diundangkannya UU No.26 Tahun 2000.Berdassarkan UU tersebut,salah satu kewenangan yang dimiliki oleh pengadilan HAM adalah mengadili kejahatanterhadap kemanusiaan sebagai salah satu pelanggaran HAM yang berat.
3.4.Undang-undang yang mengatur tentang hak Anak 1.UU No.4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak
2.UU No.23 tahun 1979 tentang perlindungan anak 3.UU No.3 tahun 1997 tentang pengadilan anak
4.Keputusan Presiden No.36 tahun 1990 tentang ratifikasi konversi hak anak
Kejahatan manusia diindonesia sebagaimana diatur dalam No.26 tahun 2000,mengadopsi statuta roma 1998 yang menjadi dasar pembentukan Internasional Criminal Court (ICC) sebagai peradilan internasional permanen yang berwenang mengadili salah satu kejahatan internasional berupa kejahatan terhadap kemanusiaan (Crimes Against Humanity).
Dalam pasal 9 UU No.26 tersebut ,dinyatakan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan diatur dalam pasal 7 huruf (b) adalah meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditunjukan secara langsung terhadap penduduk sipil,berupa:
a.Pembunuhan b.Pemusnahan c.Perbudakan
d.Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa
e.Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar ketentuan pokok hukum internasional.
f.Penyiksaan
g.Perkosaan,perbudakanseksual,pelacuran secara paksa,pemaksaan kehamilan,pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk kekerasan seksula yang lain.
C.PENUTUP 1.Kesimpulan
Kebijakan pemerintah untuk melarang anak agar tidak bekerja secara absolut pada akhirnya tidak dapat dipertahankan .Kebujakan ini memang bukan hal yang negatif,setidak-tidaknya dari aspek ekonomi.Pekerja anak disektor formal ,selama ini,memperoleh hak yang sama seperti halnya pekerja dewasa .Pemerintah belum pernah menetapkan kebijakan khusus tentang hak pekerja anak ,yakni hak seorang anak,yaitu hak untuk memperoleh biaya pendidikan formal .Bahkan UU Perlindungan anak juga belum menampakan adanya perlindungan khusus bagi anak yang bekerja disektor formal.Sementara pengusaha hendaknya juga merasa ada kewajiban untuk mewujudkan kepentingan tersebut ,sebab hal itu dapat dianggap sebagai investasi jangka panjang bagi perusahaan.
2.Saran
DAFTAR PUSTAKA
Muladi.2005.Hak Asasi Manusia.Bandung:Refika Aditama.
Azra,Azyumardi.2000.Pendidikan Kewarganegaraab(civic education).Jakarta:Kencana Bahan kuliah pendidikan kewarganegaraan.