PROSES ADAPTASI PSIKOLOGI PADA ANAK SESUAI PERKEMBANGAN

21 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PROSES ADAPTASI PSIKOLOGI PADA ANAK

SESUAI PERKEMBANGAN

1. Alfira Dwi Verdiana

(30716576)

2. Astri Susi Sulastri

(31716162)

3. Fitri Fauziah

(32716890)

4. Muthia Suci Triyani

(35716178)

5. Octafiani

(35716658)

6. Rahma Kartika

(35716984)

7. Rozita Sasa Maylani

(36716697)

8. Shinta Fitria. O

(37716018)

9. Siti Patimah

(37716103)

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN

UNIVERSITAS GUNADARMA

2017

(2)

A. PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS BAYI, BALITA DAN ANAK Dalam masa hidupnya manusia akan selalu mengalami perubahan diantaranya perubahan struktur maupun fungsi, karena itu perubahan ini tergantung pada hal-hal yang dialami sebelumnya dan akan mempengaruhi hal-hal yang terjadi sesudahnya.

Dalam konteks psikologi ada 2 (dua) macam perubahan, yaitu:

1. Pertumbuhan, diartikan sebagai perubahan yang bersifat kuantitatif (Soemantri, 2005). Pendapat tersebut memperkuat pernyataan Monks, dkk (1998) bahwa pertumbuhan, khusus dimaksudkan untuk menunjukkan bertambah besarnya ukuran badan dan fungsi fisik yang murni. Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sifat dari pertumbuhan adalah evolutif.

2. Perkembangan, diartikan sebagai suatu proses ke arah yang lebih sempurna, dan tidak begitu saja dapat diulang kembali (Monks, dkk, 1998). Pendapat ini searah dengan Werner (dalam Monks, dkk., 1998) yang menyatakan perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali. Lebih lanjut Monks, dkk (1998) menjelaskan bahwa perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat yang khas mengenai gejala psikologis yang muncul. Sedangkan Soemantri (2005) berpendapat, perkembangan adalah perubahan kualitatif, yaitu perubahan progressive, dan teratur. Adapun Santrock (2007) memberikan pendapat yang lebih mendasar, yaitu bahwa perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan dan berlanjut sepanjang rentang hidup. Disini Santrock mendefinisikan perkembangan tidak hanya dalam konteks evolusi, tetapi juga involusi.

(3)

sifat lingkungan menentukan tingkah laku apa yang akan menjadi actual

dan terwujud, dimana dalam proses tersebut setiap individu memerlukan adanya adaptasi.

1. Tahap Adaptasi

Pieter (2011) mengatakan bahwa, adaptasi adalah suatu proses penyesuaian diri seseorang yang berlangsung terus-menerus untuk memenuhi segala kebutuhannya dengan tetap memelihara hubungan harmonis pada situasi lingkungannya. Tahapan adaptasi antara lain : a. Adaptif

Menurut Mansur (2011: 12) mengatakan bahwa “Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai daya upaya untuk menyesuaikan diri secara aktif maupun pasif. Pada dasarnya seseorang secara aktif melakukan penyesuaian diri bila keseimbangannya terganggu. Manusia akan merespon dari tidak seimbang menjadi seimbang. Ketidakseimbangan tersebut ditimbulkan frustasi dan konflik.” b. Frustasi

Dalam mencapai tujuan, seseorang terkadang justru mengalami kendala sehingga tujuan tersebut gagal dicapai. Hal tersebut akan menyebabkan kecewa atau frustasi. Ini berarti bahwa frustasi timbul karena adanya Iblocking dari perilaku yang disebabkan adanya kendala yang menghadangnya.

c. Konflik

(4)

d. Maladaptif

Frustasi dan konflik yang terjadi pada individu merupakan sumber atau penyebab stres psikologis. Dengan demikian, individu harus melakukan adaptasi dengan menggunakan Mekanisme Mempertahankan Ego. Mekanisme pertahanan ego antara lain: 1) Rasionalisasi (berpikir rasional)

2) Menarik diri 3) Identifikasi 4) Regresi 5) Kompensasi 6) Represi 7) Mengisar

2. Proses Adaptasi Psikologis pada Masa Bayi

Masa bayi berlangsung selama dua tahun pertama kehidupan setelah periode bayi baru lahir selama dua minggu.

Masa bayi neonatal merupakan masa terjadinya penyesuaian radikal. Ini adalah suatu peralihan dari lingkungan (kandungan) ke lingkungan luar. Seperti halnya semua peralihan, hal itu memerlukan penyesuaian.

Penyesuaian diri radikal pada bayi neonatal antara lain: a. Menyesuaikan terhadap perubahan suhu.

(5)

Kemudian beralih kemasa terhentinya perkembangan untuk sementara waktu kira-kira 1 minggu, seperti berkurangnya berat badan dan selalu sakit-sakitan. Pada akhir periode neonate perkembangan dan kesehatan bayi akan berjalan seperti semula. Sebenarnya terhentinya perkembangan dan pertumbuhan bayi tersebut merupakan ciri khas dari periode neonatal dan dianggap normal.

Setelah mengalami penyesuaian tahap neonatal bayi mengalami periode babyhood secara umum adalah usia 2 minggu hingga 2 tahun. Periode babyhood merupakan dasar pembentukan sikap, perilaku dan pola ekspresi. Adanya ketidakmampuan penyesuaian diri pada masa dewasa merupakan efek pengalaman periode babyhood dan masa kana-kanak yang kurang baik. Pada periode babyhood ini bayi sudah memahami senyum, merangkak dan berdiri. Selain itu bayi senang memegang mainan dengan kedua tangannya sembari melihat kesana-kemari dan berusaha untuk mencari-cari suara atau musik yang didengarnya. Bayi juga sudah mampu membedakan suara ibunya dengan suara orang lain. Pada akhir periode babyhood bayi seringkali takut didekati orang yang tidak dikenalnya namun bayi akan merasa senang dengan anak lain. Kemudian bayi biasanya akan selalu menolak untuk ditidurkan, karena mereka lebih suka menghabiskan waktunya dengan bermain. (Bethsaida & Herri, 2012)

3. Proses Adaptasi Psikologis pada Masa Balita

(6)

menjelajah, dimana anak belajar menguasai dan mengendalikan lingkungan. Salah satu caranya untuk menjelajah lingkungan ialah dengan sering bertanya kepada orang-orang terdekatnya. Anak-anak pada usia ini juga sering meniru tindakan dan pembicaraan orang lain.

Orang tua hendaknya memahami proses adaptasi psikologi pada masa balita karena pada masa ini perkembangan balita sangat pesat dengan ditandai oleh hal-hal kreatif yang dilakukan oleh balita tersebut.

4. Proses Adaptasi pada Masa Anak-Anak

(7)

interaksi ini pula anggota masyarakat yang kurang terampil dapat belajar dari anggota masyarakat lain untuk beradaptasi dan berhasil di masyarakat yang lebih luas.

Selain itu juga pada masa anak- anak ada fase yang dinamakan perkembangan emosi, fase ini merupakan peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak, antara lain (Hurlock, 1991, Soemantri, 2005, Santrock, 2008):

1. Emosi menimbulkan kesenangan terhadap pengalaman sehari-hari (after effect: efek yang dirasakan anak sesudah mengalami suatu kejadian).

2. Emosi mempersiapkan tubuh anak untuk memberikan reaksi-reaksi fisiologis yang menyertai emosi yang dialami.

3. Ketegangan emosi menyebabkan terganggunya ketrampilan motorik, misalnya: anak menjadi gugup, gagap, dsb.

4. Emosi juga dapat berperan sebagai bentuk komunikasi. Artinya ketika seorang anak menunjukkan emosinya melalui ekspresi maupun reaksi-reaksi fisik, maka disitu anak menyampaikan perasaannya kepada orang lain.

5. Emosi merupakan sumber penilaian sosial dan penilaian diri. Cara individu mengekspresikan emosinya akan mempengaruhi penilaian sosial yang pada gilirannya akan mempengaruhi penilaian diri. 6. Emosi mempengaruhi aktivitas mental secara umum. Ketika

seseorang mengalami kondisi emosi yang tidak menyenangkan, maka sangat memungkinkan akan terjadi penurunan prestasi, begitu juga sebaliknya.

(8)

mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri/kemampuan untuk berinter-aksi dengan orang lain.

8. Respon emosional yang terus menerus akan menjadi kebiasaan/habit. ekspresi emosi yang dilakukan berulang-ulang, akan menjadi kebiasaan anak.

9. Emosi membekas pada ekspresi wajah dan mewarnai tingkah laku seseorang. Ketika seseorang mengalami emosi gembira, maka kondisi tersebut akan terpancar pada ekspresi wajahnya.

10. Emosi mempengaruhi iklim psikologis lingkungan sekelilingnya.

B. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS

Pola perkembangan dapat dipengaruhi oleh keadaan atau kondisi di dalam diri si anak itu sendiri, ataupun oleh keadaan atau kondisi di luar si anak. Secara umum perkembangan anak selama masa perkembangannya akan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terangkum dalam dua faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah segala sesuatu yang ada dalam diri individu yang keberadaannya mempengaruhi dinamika perkembangan. Termasuk ke dalam faktor-faktor internal tersebut adalah faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kematangan fisik (genetic) dan psikis, maupun perbedaan ras/etnik.

2. Faktor Eskternal

(9)

Dengan demikian perkembangan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, melainkan dari banyak faktor yang saling berhubungan dan saling bergantung. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan individu :

a. Faktor Keturunan bagi Perkembangan

(10)

Ada beberapa asas tentang keturunan, diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Asas Reproduksi

Menurut asas ini, kecakapan (achievement) dari masing-masing ayah atau ibunya tidak dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Sifat-sifat atau ciri-ciri perilaku yang diturunkan orang tua kepada anaknya hanyalah bersifat reproduksi, yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja, dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya.

2) Asas Variasi

Penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi, baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini karena pada waktu terjadinya pembuahan, komposisi gen berbeda-beda, baik yang berasal dari ayah maupun ibu. Oleh karena itu, didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.

3) Asas Regresi Filial

Terjadi penyurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orang tua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya arik menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya, sehingga didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. Perbandingan mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya? Ini sangat bergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari masing-masing sifat keturunan tersebut.

4) Asas Jenis Menyilang

(11)

jenis. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya, sedangkan anak laki-laki akan lebih banyak memiliki sifat dan tingkah laku ibunya. 5) Asas Konformitas

Berdasarkan asas ini, seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya.

b. Faktor Keluarga bagi Perkembangan

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi perkembangan individu. Sejak kecil, anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga. Dalam hal ini, peranan orang tua menjadi amat sentral dan sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara langsung maupun idak langsung. Ada empat pola dasar relasi orang tua – anak yang bipolar yang berpengaruh terhadap perkembangan anak.

1) Tolerance-Intolerance

Pengaruh yang mungkin dirasakan dari adanya sikap orang tua yang penuh toleransi adalah anak memiliki ego yang kuat. Sebaliknya, sikap tidak toleran cenderung menghasilkan ego yang lemah pada diri anak.

2) Permissiveness-Strichtness

Relasi orang tua anak yang permisif dapat menunjang proses pembentukkan control intelektual anak. Sebaliknya, kekerasan berdampak pada pembentukkan pribadi anak ang impulsive.

3) Involvement-Detachment

(12)

berdampak terhadap pembentukan pribadi anak yang

introvert.

4) Warmth-Coldness

Relasi orang tua-anak yang diwarnai kehangatan memungkinkan anak memiliki kemampuan untuk melibatkan diri dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya, relasi orang tua-anak yang dingin akan menyebabkan tua-anak senantiasa menarik diri dari lingkungan sosialnya.

c. Faktor Lingkungan bagi Perkembangan

Kualitas seorang anak atau individu dapat di nilai dari proses tumbuh kembang. Adapun proses tumbuh kembang merupakan hasil interaksi factor genetik dan factor lingkungan (Chamidah, 2009). Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan karena lingkungan senantiasa tersedia di sekitarnya.

1) Lingkungan Membentuk Mahluk Sosial.

Lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi, sehingga menuntut suatu keharusan sebagai mahluk sosial untuk bergaul satu dengan yang lainnya. Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Ini berarti ia tidak mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya.

2) Lingkungan Membentuk Perilaku Budaya.

(13)

relatif tidak berdaya dan begantung kepada orang lain, sehingga anak mulai belajar segala macam pengetahuan yang ada dari lingkungannya. Menurut Hurlock, Pengetahuan yang diperoleh melalui akulturasi, sosialisasi dan penyesuaian diri agar dirinya mendapat pengakuan dari masyarakat akan keberadaannya (Indriana dan Kalpikawati, 2007). Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang karena manusia hidup adalah manusia yang berpikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Terkait dengan pembentukan jiwa budaya, lingkungan memiliki peranan sebagai berikut:

a) Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu.

b) Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk menundukkannya.

c) Sesuatu yang diikuti individu. Hal yang sama juga dikatakan oleh hal yang harus diperhatikan adalah kondisi ini terkait dengan nilai dan budaya yang ada di lingkungan sekitarnya (Martani, 2012).

d) Objek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk mengubah lingkungannya. Contoh, dalam keadaan cuaca panas, individu memasangkipas angin sehingga dikamarnya menjadi sejuk. Adapun penyesuaian diri autoplastis, penyesuaian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh, seorang juru rawat dirumah sakit, pada awalnya ia merasa mual karena bau obat-obatan, namun lama kelamaan ia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.

(14)

Gangguan psikologisdi dunia saat ini sangat luas, dan begitu juga jumlah anak-anak yang terkena gangguan tersebut setiap hari. Ada juga berbagai gejala untuk setiap gangguan. Sangat penting bagi orangtua untuk mengetahui tentang gangguan psikologis yang dapat mempengaruhi anak-anak dan gejala untuk mengidentifikasi mereka, sehingga mereka dapat membantu anak-anak mereka dengan cara yang cepat dan efisien. Berikut ini adalah masalah psikologi anak berupa perubahan emosi:

1. Gangguan Kecemasan

Kecemasan adalah jenis yang paling umum dari gangguan psikologis yang mempengaruhi anak-anak. Gejala utama dari gangguan kecemasan adalah kekhawatiran yang berlebihan, ketakutan atau kegelisahan. Ada berbagai jenis gangguan kecemasan, seperti ketakutan yang tidak beralasan situasi, paling sering disebut sebagai fobia, gangguan kecemasan umum, yang cenderung membuat anak-anak khawatir berlebihan tentang hal-hal yang tidak realistis, serangan panik, gangguan obsesif kompulsif, yang menyebabkan anak-anak mengulangi pola pikiran dan perilaku, seperti mencuci tangan, dan gangguan stres pasca-trauma, yang biasanya terjadi pada anak-anak yang mengalami peristiwa traumatis dalam hidup. Gangguan stres pasca-trauma menyebabkan kilas balik yang menyakitkan dan menakutkan dari peristiwa traumatik.

2. Depresi parah

(15)

seorang anak dapat mempertimbangkan bunuh diri dan hidupnya mungkin dalam bahaya.

3. Bipolar Disorder

Gangguan bipolar sering terlihat pada gejala perubahan suasana hati berlebihan yang tampaknya berubah dengan cepat dan pergi dari rendah ke tinggi dengan cepat. Saat-saat perubahan suasana hati berlebihan kadang-kadang dimoderatori oleh suasana hati biasa di antara, tapi selama periode suasana hati yang intens, anak-anak mungkin menunjukkan tanda-tanda seperti berbicara non-stop, menunjukkan penilaian buruk dan tidak tampak membutuhkan sangat banyak tidur. Jika tidak diobati tanpa obat, gangguan bipolar dapat menyebabkan depresi berat.

4. Hiperaktif

Sebuah gangguan psikologi anak yang cukup sering terjadi. Seorang anak akan mendapatkan sebuah gangguan perilaku dimana mereka cenderung bergerak aktif bahkan super aktif di dalam rumah atau di lingkungan permainan bersama dengan teman-temannya. Anak-anak yang hiperaktif bisa membahayakan teman-temannya akibat perilaku yang terjadi secara spontan dan tanpa pikir panjang.

5. Pemurung dan penyendiri

Ketika kita telah membahas mengenai anak-anak yang ceria bahkan hiperaktif, ada pula anak yang berperilaku sebaliknya. Mereka sangat sulit bergaul dan cenderung merasa malu dengan keadaan mereka sendiri. Anak-anak seperti ini juga tidak boleh dibiarkan berlarut karena jiwa sosial mereka tidak bisa berkembang jika selalu dibiarkan.

Selain itu, masalah psikologi pada anak berupa perilaku dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai berikut:

(16)

Kemungkinan besar anak berbohong disebabkan oleh karena orang tua acap kali melarang anak untuk mengatakan atau menceritakan sesuatu peristiwa atau kejadian yang benar. Sebagai ilusterasi, "Jagad secara terus terang mengatakan kepada ibunya bahwa ia pernah mencubit adiknya sampai menangis meraung-raung." Mendengar pernyataan ini Ibunya langsung mencubit paha Jagad bahkan menampar pihinya hingga memar memerah.

Suatu ketika Jagad marah pada adiknya karena mengganggu saat ia sedang belajar, ibunya datang, hati Jagad masih bergolak menahan rasa marahnya, akan tetapi Jagad mengatakan pada ibunya itu, bahwa ia sangat menyayangi adiknya. Mendengar penuturan ini ibunya langsung merangkul Jagad dengan mencium pipinya dan mengusap-usap kepalanya.

Solusi : Berkait dengan masalah tersebut di atas, jika orang tua menginginkan anak-anaknya bersikap jujur, dan tidak berbohong, maka sebaiknya harus bersedia untuk mendengarkan suatu kebenaran baik kebenaran itu terasa manis atau pahit, baik ataupun buruk yang dinyatakan oleh seorang anak. Jangan sampai anak merasa takut untuk mengungkapkan segala isi hatinya.

b. Anak suka berkelahi

Berdasarkan studi Gentile dan Bushman mengatakan, ada enam faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi pengganggu atau bullying terhadap temannya. “Ketika semua faktor-faktor risiko dialami oleh anak-anak, risiko agresi dan perilaku intimidasi akan tinggi. 1-2 faktor risiko bukanlah masalah besar bagi anak-anak, tetapi orangtua masih membutuhkan bantuan untuk mengatasi,” kata Gentile.

Solusi : memberi teguran dan nasihat yang baik. Ini termasuk metode pendidikan yang sangat baik dan bermanfaat untuk meluruskan kesalahan anak.

(17)

Kadang-kadang orang tua merasa terkejut dan bingung sewaktu pertama kali mengetahui anaknya mencuri. Orang tua lantas mungkin berpikir bahwa ini merupakan hal yang wajar dalam perkembangan anak. Anggapan ini tentu saja tidak benar. Jadi, sekecil apa pun pencurian yang dilakukan anak, orang tua harus melarang dan menghentikannya.Boleh dikata hal ini kerap kali terjadi, terutama dalam keluarga yang memiliki anak berusia empat sampai tujuh tahun. Pada usia ini anak cenderung untuk mengambil apa yang bukan haknya.

Sebenarnya, perbuatan mencuri yang dilakukan anak-anak balita bukanlah tingkah laku yang menyimpang. Tetapi bila orang tua tidak menanganinya dengan benar, tingkah laku yang tidak berbahaya itu dapat mengarah menjadi perbuatan yang berakibat lebih jauh.Mencuri di kalangan anak-anak balita sering terjadi. Ini disebabkan karena mereka belum mempunyai konsep kemilikan. Anak-anak belum mempunyai batas yang tegas antara milik sendiri dan milik orang lain. Bila mereka melihat sesuatu yang disukainya, mereka akan mengam-bilnya. Bagi mereka seolah berlaku prinsip: “Aku lihat, aku suka, aku mau, aku ambil. Anak kecil belum mengerti bahwa dengan mengambil benda yang dinginkan tanpa izin si pemilik, ia melanggar hak milik teman tersebut dan akan merugikan si teman itu. Pada umumnya, orangtua pasti akan merasa kaget, kecewa, dan malu bila mengetahui bahwa anak mereka telah mencuri sesuatu milik orang lain. Namun, janganlah orangtua bertindak tergesa-gesa, langsung marah-marah kepada anak, apalagi menghukumnya dengan cara yang berlebihan. Sebab, tidak semua anak mencuri karena niat yang sudah direncanakan.

(18)

Pendekatan-pendekatan digunakan dalam layanan bimbingan untuk memenuhi kebutuhan bimbingan psikolog pada anak. Menurut Myrick

(dalam Muro & Kottman, 1995) ada empat pendekatan yang dapat dirumuskan sebagai suatu pendekatan dalam bimbingan, yaitu :

1. Pendekatan krisis

Dalam pendekatan krisis layanan bimbingan dilakukan bilamana ditemukan adanya suatu masalah yang krisis yang harus segera ditanggulangi, dan guru atau pembimbing bertindak membantu anak yang menghadapi masalah tersebut untuk menyelesaikannya. Teknik yang digunakan dalam pendekatan ini adalah teknik teknik yang secara “pasti” dapat mengatasi krisis tersebut. Contoh : seorang anak menangis ketika anak bermain di luar kelas karena tangannya berdarah dilempar batu oleh teman sebayanya. Guru atau pembimbing yang menggunakan pendekatan krisis akan meminta anak untuk membicarakan penyelesaian masalahnya dengan teman yang telah melukainya. Bahkan mungkin guru atau pembimbing segera memanggil anak yang telah bersalah tersebut untuk menghadap dan membicarakan penyelesaian masalah yang telah dilakukannya.

2. Pendekatan Remidial

(19)

yang telah melempar temannya dengan batu untuk meminta maaf atas perbuatannya, dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Mereka diminta untuk bersalaman dan bermain kembali.

3. Pendekatan Preventif

Pendekatan preventif merupakan pendekatan yang mencoba mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin akan muncul pada anak dan mencegah terjadinya masalah tersebut. Masalah-masalah pada anak taman kanak-kanak dapat berupaperkelahian, pencurian, merusak, menyerang dan sebagainya. Pendekatan preventif didasarkan pemikiran bahwa jika guru atau pembimbing dapat membantu anak untuk menyadari bahaya dari berbagai aktivitas itu maka masalah dapat dihindari sebaik-baiknya. Pendekatan preventif ini dapat dilakukan dengan cara menyampaikan informasi kepada anak tentang akibat dari suatu tindakan tertentu. Dalam contoh kasus di atas, guru yang menggunakan pendekatan preventif akan mengajak anakuntuk mendengarkan cerita guru atau pembimbing yang memuat pesan untuk menjaga atau mencegah terjadinya suatu tindakan yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain dan belajar untuk bersikap toleran dan memahami orang lain.

4. Pendekatan Perkembangan

(20)
(21)

DAFTAR PUSTAKA

Bethsaida & Herri. 2012. Pendidikan Psikologi untuk Bidan. Yogyakarta: Penerbit Andi

Chamidah, Atien Nur. 2009. Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Jurnal Pendidikan Khusus. Volume 5, No. 2 November

2009. Tersedia:

http://journal.uny.ac.id/index.php/jpk/article/download/789/613 diakses pada 27 September 2015 pukul 20.15 WIT

Gentile dan Bushman. 2012. Psychology of Popular Media Culture

Hurlock, E. B. 1991. Child Development (Alih Bahasa: Tjandrasa dan Zarkasih). Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.

Indriana, Yeniar dan Kalpikawati, Ni Luh Putu Ratih. 2007. Perbedaan Tingkat Emosional Berdasarkan Klasifikasi Derajat Asma di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Jurnal Psikologi. Volume 19, No. 1, Maret 2007. Tersedia: http://core.ac.uk/download/pdf/11733426.pdf diakses pada 27 September 2015 pukul 20.15 WIT

Mansur. 2011. Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Martani, Wisjnu. 2012. Metode Stimulasi dan Perkembangan Emosi Anak Usia Dini. Jurnal Psikologi. Volume 39, No. 1, Juni 2012: 112 – 120. Tersedia: http://jurnal.psikologi.ugm.ac.id/index.php/fpsi/article/view/183/149 diakses pada 27 September 2015 pukul 20.15 WIT

Monks, F.J.; Knoers, A.M.P.; Haditono, S.R., 1998. Psikologi Perkembangan. Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjahmada UniversityPress.

Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995) Guidance and Coubseling in The Elementary and Middle Shcool, A Practical Approach, Madison : Brown & Benchmark

Pieter, H.Z & Lubis N.L. 2011.Pengantar Psikologi Untuk Kebidanan. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Santrock, J.W. 2002. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. (Alih bahasa: Chusairi, dan Damanik). Jakarta: Penerbit Erlangga

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...