PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN
(STUDI KASUS ALVIN FAIZ DAN LARISSA CHOU)
Skripsi
Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata
Satu (S-1)
Oleh:
ALFIN NURI AZRIANI E73213112
PRODI ILMU ALQURAN DAN TAFSIR JURUSAN ALQURAN DAN HADIS FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN
(STUDI KASUS ALVIN FAIZ DAN LARISSA CHOU)
Skripsi
Diajukan kepada
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Strata Satu (S-1)
Al-Qur’an dan Hadis/Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Oleh:
ALFIN NURI AZRIANI E73213112
PRODI ILMU ALQURAN DAN TAFSIR JURUSAN TAFSIR HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
PERSETUJUAN
PEMBIMBING
Skripsi yang disusun oleh Alfin Nuri Azriani ini telah disetujui untuk diujikan.
PENGESAHAN
SKRIPSI
Skripsi oleh Alfin Nuri Azriani ini telah dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi
Surabaya, 13 April2017
Mengesahkan
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
993031002
.201409006
Penguji II,
>-Dr. Hi. Iffah. M.AePERNYATAAN
KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:
Nama
: Alfin Nuri AzrianiNIM :873213112
Jurusan/Prodi : Al-Qur'an dan Hadis/ Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Dengan
ini menyatakan
bahwa skripsiini
secara keseluruhan adalah hasilpenelitianlkarya
saya
sendiri,kecuali pada
bagian-bagianyang
dirujuk sumbemya.Surabaya, Apnl20l7
@)
KEMENTERIAII AGAMA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN
AMPEL
SURABAYA
PERPUSTAKAAN
Jl. Jend. A. Yani 117 Surabaya60237 Telp.031-8431972 Fax.03l-8413300 E-Mail : [email protected]. id
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBIIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitasa kadernika UIN Sunan Ampel Surabaya, yang bertandatangarl di bawah ini, saya: Nama
NIM
Fakultas/Jumsan E-mail address
: Alfin Nuri Azriani :E73273772
: Ushuluddin dan Filsafat
/
Iknu Al-Qur'an dan Tafsit:
azryanee@,gmail.comDemi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetuiui untuk membedkan kepada Perpustakaan
UI).I Snrran Ampel Sutabaya, Hak Bebas Royalti Non-Eksklusifatas karyailmiah:
M
Sekdpsi E Tesis l-l Deserasi
E=
Lain-lain (......
...
..)yang be{udul :
PERMKAHAN DINI DALAM ALOURAN (STUDI KASUS ALVIN TAIZ DAN LARISSA
CHOIJI
Beserta
perangkatyang
diperlukan
(bilaada). DenganHakBebasRoyaltiNon-EkslusifiniPelpustakaan
UIN
SunanAmpel Surabaya
berhak menyimpan, mengalih-media/fornat-kan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya, dan menampilkan/mempublikasikannyadi
Intemet atau media lain secara fuIltext untuk kepentingan akademis tanpa pedu meminta iiin dad saya selama tetap marcantumkan narna say^ sebagai penulis/pencipta dan atau penerbit yang bersangkutan.Saya bersedia unnrk meflanggung secara pribadi, tanpa melibatkan pihak Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya, segala bentuk tuntutan hukurn yang timbul atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah saya ini.
Demikiafl pemyataan ini yang saya buat dengan sebenamya.
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul “Pernikahan Dini dalam Alquran, Studi Kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou” ini adalah hasil penelitian yang dilatarbelakangi dari munculnya kasus pernikahan dini oleh pasangan Alvin Faiz dan Larissa Chou. Kasus ini menjadi sangat marak karena berbeda dengan kasus pernikahan dini yang lainnya. Jika pada umumnya pernikahan dini terjadi pada perempuan yang masih berusia belia, namun pada kasus ini justru si kepala keluarga lah yang masih berusia belia.
Dalam Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 pasal 6 telah mengatur batas usia minimal menikah, yaitu 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Namun pada pasal selanjutnya menjelaskan aturan itu bisa dikompromi dengan pengantar dispensasi dari Pengadilan Agama setempat. Banyak golongan yang kemudian menganggap legal mengenai pernikahan dini atas dasar beberapa ayat dalam Alquran. Walaupun tidak secara jelas ayat Alquran menjelaskan kebolehan pernikahan dini ini, namun secara implisit ayat tersebut mengandung indikasi kebolehan pernikahan dini dari beberapa aspek. Dari latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti mengenai beberapa pendapat para mufassir terhadap ayat tersebut dan kemudian direlevansikan dengan hukum pernikahan dini di Indonesia serta kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou sebagai kasus riil di Indonesia.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Adapun teknisnya yaitu dengan menghimpun data-data terkait kemudian dianalisis berdasarkan prosedur metode
maud}u>’i> dengan merujuk pada tafsir-tafsir Alquran dari berbagai sudut pandang. Pernikahan dini dalam Alquran meliputi dari tiga aspek, yaitu dari segi fisik/biologis, psikis, dan spiritual. Yang pertama pada surat Al T}ala>q ayat 4 yang menjelaskan mengenai ‘iddah perempuan-perempuan. Salah satunya terdapat lafad lam yah{id{na. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud adalah anak-anak kecil yang belum mengalami h}aid}. H}aid}atau menstruasi adalah darah yang keluar ketika sel telur tidak dibuahi. Sel telur akan berfungsi seiring dengan pertumbuhan fisik. satu bentuk tanda kedewasaan seseorang yang dilihat dari segi biologis.
Yang kedua yakni pada surat Al Nisa>’ ayat 3 yang menjelaskan aturan mengenai bagaimana seorang wali yang ingin menikahi anak yatim di bawah asuhannya. Sesuai pendapat para ulama, bahwa anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati orang tuanya sebelum ia dewasa. Pada ayat selanjutnya dijelaskan bahwa anak yatim tersebut dikatakan sudah dewasa ketika sudah menguasai dua hal, yakni dalam pengelolaan harta dan keagamaan. Ini menandakan bahwa boleh menikahi anak yatim, namun ada aturannya. Dan ketika anak yatim tersebut dinikahi, berarti ada dua aspek yag menjadikan ia dikatakan belum ba>ligh,
yaitu dari segi psikis dan spiritual.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
PEDOMAN TRANSLITERASI ... vii
KATA PENGANTAR ... ix
ABSTRAK ... xi
DAFTAR ISI ... xii
BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Rumusan Masalah ... 8
D. Tujuan Penelitian ... 8
E. Kegunaan Penelitian ... 8
F. Kajian Pustaka ... 9
G. Metode Penelitian ... 11
H. Sistematika Pembahasan ... 14
BAB II: TINJAUAN UMUM TENTANG TAFSIR MAUD}U>’I> DAN
A. Tafsir Maud}u>’i ... 16
1. Pengertian Tafsir Maud}u>’i ... 16
2. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Maud}u>’i ... 18
B. Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia ... 20
1. Pengertian Pernikahan Dini ... 20
2. Tujuan dan Persyaratan Pernikahan ... 24
3. Hukum Perkawinan Indonesia ... 27
4. Budaya Pernikahan Dini di Indonesia dan Dampaknya .... 30
5. Pernikahan Dini Perspektif Psikologi ... 32
BAB III: TELAAH TENTANG PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN A. Penafsiran Ayat-Ayat Tentang Pernikahan Dini ... 36
B. Ketentuan Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia ... 55
C. Kontekstualisasi Penafsiran Ayat Terhadap Hukum Indonesia (Kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou) ... 57
BAB IV: PENUTUP A. Kesimpulan ... 64
B. Saran-Saran ... 65
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pernikahan adalah salah satu ibadah muamalah yang sangat dianjurkan
oleh Islam. Bahkan di Alquran pun Allah telah menjamin rejeki untuk orang yang
menikah, sebagaimana dalam surat An Nur ayat 32:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.1
Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan hamba-Nya untuk
memperhatikan orang-orang di sekelilingnya yang belum menikah untuk segera
dinikahkan. Hal itu dilakukan agar manusia terhindar dari perbuatan zina. Allah
menyediakan kemudahan hidup yang terhormat bagi orang yang menikah dengan
mendapat ridha Allah.2
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat sesuatu pastinya
mengandung tujuan. Salah satu tujuan diperintahkannya menikah yaitu untuk
kelangsungan pembangunan bumi dan semesta ini, yang pada dasarnya tergantung
1
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), 354.
2
2
pada eksistensi manusia. Semakin banyak eksistensi manusia, maka akan semakin
lebih mudah pula pembangunan dan pengaturan bumi bagi manusia itu sendiri.
Sedangkan, eksistensi manusia sangat tergantung pada adanya pernikahan yang
berimplikasi pada proses reproduksi.3
Untuk mencapai tujuan hakiki pernikahan, tentunya tidak semua orang
bisa melakukannya begitu saja. Sebagaimana dalam Alquran surat Secara hukum
Islam, salah satu syarat menikah yaitu seseorang yang telah mampu al ba’ah.
Sebagaimana hadis riwayat At Tirmidzi:
4
Sungguh Nabi saw telah bersabda kepada kami, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kamu mampu al ba’ah maka hendaklah menikah, dan barangsiapa tidakmampu maka hendaklah berpuasa, sesungguhnya puasa itu menjadi perisai baginya.”
Dalam hadis ini dijelaskan bahwa seseorang yang sudah mampu al ba’ah
maka dianjurkan untuk menikah. Adapun arti kata al ba’ah ada dua pendapat,
apabila dibaca panjang (al ba>’ah) maka maknanya kemampuan menanggung biaya
menikah. Sedangkan apabila dibaca tanpa tanda panjang, maknanya adalah
kemampuan untuk melakukan hubungan intim.5 Namun dalam hal ini tidak ada
ketentuan yang jelas mengenai usia yang dimaksud.
3
Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi, H{ikmah al tasyri>’ wa falsafatahu, terj. Faisal Saleh, dkk (Depok: Gema Insani, 1997), 307.
4Muh}ammad ibn ‘I>sa> Abu> ‘I<sa> al Tirmidhi> AlSalami>, al Ja>mi’u al s}ah}i>h sunan al Tirmizhi> Juz 4 (Beirut: Da>r Ih}ya’ al Turath Al ‘Arabi>, t.t), 359.
5Ibnu Hajar Al Asqalani, Fath al Ba>ri>: Syarhu shah{i>h{ al bukha>ri>
3
Sebagai negara demokrasi, Indonesia mempunyai Undang-Undang yang
salah satunya mengatur tentang hukum pernikahan di Indonesia. Pemerintah
menetapkan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, bahwa batas usia minimal
menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 untuk perempuan. Pemerintah
menetapkan hal tersebut salah satunya untuk mengatasi ledakan penduduk akibat
pernikahan dini.
Perkembangan globalisasi yang begitu pesat sangat mempengaruhi
peradaban dunia. Begitu pula dengan Indonesia. Teknologi yang semakin canggih
membuat peradaban di luar Indonesia bisa diakses dengan mudah. Namun tidak
semua peradaban luar berdampak positif untuk generasi Indonesia. Dampak
negatif pun sangat memungkinkan untuk didapat. Dampak negatif yang paling
mencolok antara lain yaitu kebebasan yang ada di luar negeri telah menjadi idola
para generasi bangsa. Misalnya kebebasan seksual yang memang merupakan adat
bangsa Barat dijadikan panutan oleh para generasi bangsa Indonesia sehingga
pergaulan bebas merajalela di tengah-tengah generasi bangsa kita. Dalam rangka
mengatasi hal tersebut, sekelompok masyarakat memilih untuk menikahkan
anaknya lebih cepat dari ketentuan yang ada di Undang-Undang. Masyarakat pun
menyebutnya dengan pernikahan dini.
Budaya pernikahan dini bukan suatu hal yang asing lagi di Indonesia.
Banyak sekali praktik-praktik pernikahan dini di tengah masyarakat Indonesia.
Hal ini menyebabkan populasi penduduk Indonesia semakin berkembang pesat.
4
tidak diimbangi dengan kemajuan pendidikan yang berimbas pada kemajuan
intelektual bangsa.
Beberapa bulan yang lalu, telah terjadi pernikahan dini yang
dilangsungkan oleh anak Arifin Ilham, Alvin Faiz dengan seorang muallaf
bernama Larissa Chou. Alvin Faiz yang saat itu berusia 17 tahun memberanikan
diri untuk menikah dengan wanita muallaf berusia 20 tahun dengan alasan untuk
menghindari perbuatan zina. Tidak mudah ia menjalani persiapan menikah. Ia
harus mengurus dispensasi ke Pengadilan Agama karena usianya belum mencapai
batas usia minimal.
Pernikahan dini sebetulnya juga telah terjadi pada zaman Rasulullah saw.
Pada waktu itu Rasulullah sendiri yang melangsungkan pernikahannya dengan
seorang gadis kecil berusia 12 tahun bernama Aisyah. Aisyah adalah seorang putri
dari sahabat Abu Bakar al Shiddiq. Rasulullah menikahi Aisyah bukanlah
semata-mata untuk memenuhi hawa nafsunya, akan tetapi itu adalah perintah Allah swt,
sebagaimana dalam hadis riwayat al Bukhari:
Dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Aku melihat dirimu dalam
mimpiku dua kali. Seorang laki-laki membawamu dalam kelambu sutra dan
berkata, “Inilah istrimu”. Aku menyingkapnya dan ternyata itu adalah engkau.
Maka aku berkata, “Jika ini berasal dari Allah niscaya Dia akan melangsungkannya.”6
5
Dalam riwayat At Tirmidzi disebutkan bahwa seorang laki-laki yang
datang kepada Nabi saw dengan membawa gambar Aisyah adalah malaikat Jibril.7
Sebagaimana yang diketahui bahwa malaikat Jibril bertugas menyampaikan
wahyu dari Allah kepada Nabi saw. Ini artinya bahwa mimpi tersebut merupakan
perintah Allah kepada Nabi untuk menikahi Aisyah.
Alquran sebagai pedoman hidup umat Islam, pastinya tidak lengah dari
pembahasan yang seperti itu. Islam sangat memperhatikan pernikahan. Mulai dari
syarat sahnya hingga hukum pernikahan seorang muslim dengan wanita
non-muslim atau sebaliknya. Tidak terkecuali mengenai pernikahan dini ini.
Dalam memahami Alquran yang s{a>lih li kulli zama>nin wa maka>nin,
tentunya tidak sekadar mengikuti pendapat atau tradisi lama tanpa suatu dasar.
Manusia abad ke-20 serta generasi berikutnya dituntut pula untuk memahami
Alquran sebagaimana tuntutan yang pernah ditujukan kepada masyarakat yang
menyaksikan turunnya Alquran.8
Alquran turun secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, tiga
belas tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah.9 Salah satu hikmah
diturunkannya berangsur-angsur yaitu untuk kesesuaian ayat dengan
peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum.10 Dengan begitu, ketika
berbeda masa dan tempat turunnya tentu berbeda pula ayat yang turun. Seperti
halnya larangan minum khamr yang awal turunnya yang menjelaskan bahwa
7
Ibid., 65. 8
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), 76-77.
9Manna’ Khali>l al Qat{t>a>n, Maba>h{i>th fi> ‘ulu>mi al Qur’a>n, terj. Mudzakir AS, (Bogor: Litera AntarNusa, 2013), 154.
6
madharatnya lebih besar daripada manfaatnya, kemudian larangan shalat dalam
keadaan mabuk, hingga akhirnya turun ayat yang menyatakan bahwa khamr itu
haram. Begitu pula dengan ayat pernikahan dini yang tidak hanya sekali dibahas
dalam Alquran.
Banyak kata yang digunakan untuk mengistilahkan anak usia dini.
Seperti halnya dalam ilmu fiqh dijelaskan bahwa batas seseorang dikatakan
dewasa yaitu ketika sudah mengalami menstruasi (bagi perempuan) dan
mengalami mimpi basah (bagi laki-laki). Sebagaimana dalam Alquran disebutkan
dengan lafal al la<’i> lam yah{id{na yang artinya “perempuan-perempuan yang
tidak/belum haid”.11
Selain itu dalam hukum islam terdapat kewajiban untuk menjaga harta
anak yatim dan memberikannya kembali ketika ia sudah dewasa. Anak yatim
ialah setiap anak yang ayahnya telah meninggal dunia dalam keadaan masih kecil
(belum mencapai usia dewasa/ baligh). Hal ini dikarenakan seorang anak yang
belum dewasa, masih dianggap lemah (mustad{‘afi>na mina al wilda>ni) dalam
pengelolaan hartanya sendiri dengan baik. Dalam Alquran telah dijelaskan aturan
memberlakukan harta anak yatim yang dinikahinya. Hal ini mengindikasikan
bahwa adanya kebolehan menikahi seorang anak yang belum mencapai dewasa.12
Dalam penelitian ini, penulis akan menelusuri konsep makna
istilah-istilah tersebut untuk menjelaskan pernikahan dini dan pendapat-pendapat para
ahli terkait makna istilah tersebut.
11
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid 10, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), 181.
12
7
Seiring perkembangan penafsiran, tentunya banyak sekali perbedaan
penafsiran, baik dari segi corak maupun kontekstualitas yang melatar belakangi
penafsiran ulama klasik hingga kontemporer. Sehingga dalam penelitian ini
penulis menghimpun pendapat-pendapat ulama dari berbagai sudut pandang. Hal
ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang jelas terkait pernikahan
dini dalam Alquran.
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi
berbagai masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan pernikahan dini?
2. Berapa batas usia minimal menikah?
3. Apa dampak dari pernikahan dini?
4. Bagaimana pernikahan dini menurut perspektif psikologi dan kesehatan?
5. Bagaimana budaya pernikahan dini yang ada di Indonesia?
6. Bagaimana Alquran membahas mengenai pernikahan dini?
7. Bagaimana mufassir menafsirkan ayat-ayat mengenai pernikahan dini?
8. Bagiamana hukum Indonesia menanggapi kasus pernikahan dini?
9. Bagaimana relevansi penafsiran ayat dengan kasus Alvin Faiz dan Larissa
Chou?
Banyak masalah yang dapat ditemukan dari latar belakang di atas. Oleh
8
hanya mengenai penafsiran Alquran dan relevansinya terhadap kasus Alvin Faiz
dan Larissa Chou.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka permasalahan
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pandangan Alquran terhadap pernikahan dini?
2. Bagaimana ketentuan pernikahan dini dalam hukum Indonesia?
3. Bagaimana kontekstualisasi penafsiran ayat terhadap kasus Alvin Faiz dan
Larisa Chou?
D. Tujuan Penelitian
1. Menganalisa bagaimana Allah SWT menjelaskan dalam Alquran tentang
pernikahan dini
2. Menganalisa ketentuan pernikahan dini yang berlaku dalam Hukum Indonesia
3. Memaparkan kontekstualisasi penafsiran ayat dengan kasus Alvin Faiz dan
Larisa Chou.
E. Kegunaan Penelitian
Dalam sebuah penelitian, sudah seyogyanya penelitian tersebut
memberikan sumbangsih yang berguna untuk penelitian yang selanjutnya.
Adapun kegunaan penelitian ini dapat berupa kegunaan teoritis dan kegunaan
9
1. Kegunaan Teoritis
Sumbangan wacana ilmiah kepada dunia pendidikan, khusunya
pendidikan Islam dalam rangka memperkaya khazanah keilmuan tentang
kajian tematik penafsiran ayat pernikahan dini.
2. Kegunaan Praktis
Motivasi dan sumbangan gagasan kepada penelitian selanjutnya yang
akan meneliti penelitian yang serupa berhubungan pernikahan dini.
F. Telaah Pustaka
Pembahasan mengenai penikahan dini telah banyak dibahas oleh
ilmuan-ilmuan fiqh dan sains dengan berbagai sudut pandang. Adapun referensi yang
relevan dan menjadi telaah penelitian sebelumnya, sebagai berikut:
1. Dalam skripsi yang berjudul “Pernikahan Dini dan Pengaruhnya Terhadap
Keharmonisan Keluarga (Studi Hukum Islam Terhadap Pandangan Kiai-Kiai
Pondok Pesantren Al Fatah Banjarnegara)” oleh Nurul Hasanah Fakultas
Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakartamenyimpulkan bahwa
ada beberapa pendapat mengenai definisi pernikahan dini, antara lain:
pernikahan dini yaitu pernikahan yang dilakukan oleh perempuan di bawah
usia 16 tahun dan laki-laki di bawah usia 19 tahun, menikah pada usia
produktif mencari ilmu atau masih menggantungkan kepada orang tua dan di
bawah usia 20 tahun. Adapun pengaruh pernikahan dini terhadap
keharmonisan dalam keluarga, yakni keharmonisan bisa dicapai apabila
10
2. Dalam skripsi berjudul “Tinjauan Hukum Islam terhadap Urgensi Pernikahan
Dini di Desa Labuhan Kecamatan Kreseh Kabupaten Sampang” oleh Alfian
Farisi Prodi Ahwalus Syakhsiyah Jurusan Hukum Islam Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya menjelaskan bahwa urgensi pernikahan
dini adalah sanksi hukum yang diberikan kepada orang yang melanggar
aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Desa Labuhan, sebagai solusi hukum
untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, menjaga
kehormatan masyarakat desa, dan untuk menghindari fitnah.
3. Dalam skripsi berjudul “Studi Komparatif Pemikiran Husein Muhammad dan
Siti Musdah Mulia tentang Pernikahan Dini” oleh Syamsul Arifin
menjelaskan bahwa keduanya sama-sama menolak adanya pernikahan dini.
Namun masing-masing mempunyai landasan berpikir yang berbeda. Jika
Husein Muhammad menolak pernikahan dini menggunakan landasan
argumen-argumen kitab fiqh klasik dengan mempertimbangkan ada tidaknya
resiko di dalamnya, Siti Musdah lebih mengedepankan HAM untuk menolak
pernikahan dini. Menurutnya, terjadinya pernikahan dini dapat memutus
pendidikan anak dan perlakuan tidak sama khususnya terhadap perempuan.
4. Moh. Ilyas memaparkan dalam skripsinya yang berjudul “Pernikahan Dini
dalam Al-Qur’an: Telaah Atas Penafsiran Lafad Wa al-La<’i> Lam Yah}id}n
surat At T{ala>q ayat 4 Dalam Kitab Ja>mi’ al-Baya>n ‘An Ta’wi>l ‘Ay
Al-Qur’a>n Li Ibn Jari>r al T}abari>” prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, bahwasannya pada
11
Alquran yang didasarkan pada penafsiran Ibn Jari>r Al T}abari> terhadap lafad
lam yah{id{n dengan perempuan-perempuan yang belum dewasa.
5. Selain dari beberapa skripsi di atas, ditemukan pula artikel berjudul “Fiqh
Reproduksi Perempuan: Tinjauan Terhadap Aborsi dan Pernikahan Dini”
yang dimuat dalam jurnal oleh Rusli menyatakan bahwa pernikahan dini yang
bermuara pada efek fisik dan psikis yang serius adalah terlarang berdasar
prinsip sad al dhari’ah.
Dari beberapa penelitian yang telah ditelusuri, maka penulis tertarik untuk
meneliti permasalahan-permasalahan pernikahan dini dari segala aspek dalam
Alquran dengan bentuk penafsiran secara analisis. Dengan menjelaskan penafsiran
ayat secara rinci, kemudian dibahas dan dianalisis tentang pernikahan dini
menurut beberapa penafsiran dari para mufassir mulai dari klasik sampai modern
dan kontemporer. Maksud dan tujuan memilih judul ini adalah untuk menambah
wawasan penulis, khususnya dalam menampilkan beberapa penafsiran mengenai
pernikahan dini serta kontekstualitasnya terhadap lingkungan Indonesia masa kini.
G. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Kajian penelitian ini berdasarkan atas kajian pustaka atau literatur atau
disebut dengan kajian pustaka (library research), yaitu penelitian yang
berusaha menghimpun data dari khazanah literatur berupa kitab-kitab,
buku-buku kepustakaan, karya-karya tulis atau data-data lain dalam bentuk
12
2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dengan
metode kualitatif. Metode ini disebut sebagai metode artistik karena proses
penelitiannya bersifat seni (kurang terpola). Disebut juga metode
interpretative karena data hasil penelitiaanya lebih berkenaan dengan
interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Selain itu juga sering
disebut sebagai metode naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada
kondisi yang alamiah.13
3. Sumber Penelitian
Data penelitian ini menggunakan data kualitatif yang dinyatakan
dalam bentuk kata atau kalimat.14 Ada dua jenis data yaitu data primer dan
sekunder. Data primer adalah rujukan utama yang digunakan dalam
penelitian. Adapun sumber data primer yang dipakai adalah beberapa kitab
tafsir untuk menafsirkan data materi dari berbagai aspek, mulai tafsir klasik
hingga kontemporer. Beberapa kitab tafsir tersebut, antara lain yaitu:
1. Kitab Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az}i>m karya Ibnu Kathi>r. Tafsir ini merupakan
salah satu kitab tafsir dengan corak bi al ma’thu>r, yaitu menafsirkan
dengan menggunakan ayat-ayat yang lain serta riwayat dari Nabi saw
dan sahabat. Ibnu Kathi>r lebih banyak mencantumkan hadis-hadis
13
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), 7-8.
14
13
sebagai penguat argumentasinya. Tidak jarang juga ia memberikan
penjelasan mengenai kes}ah}ihan hadis tersebut.
2. Tafsir al Muni>r karya Wahbah al Zuh}ailiy. Tafsir ini disusun secara rapi
mulai dari ayat, makna mufrodat, asb>ab al nuzu>l, tafsi>r dan
penjelasannya, serta hikmah yang bisa diambil dalam ayat tersebut.
3. Tafsir al Mishbah: Pesan , Kesan, dan Keserasian al Qur’an karya M.
Quraish Shihab. Tafsir ini menggunakan metode tah}li>li dengan corak
adabi ijtima>’i, yaitu penafsiran yang cenderung pada persoalan
kemasyarakatan dan mengutamakan keindahan gaya bahasa.
4. Tafsir al Mara>ghi> karya Ah}mad Mus}t}afa> al Mara>ghi yang merupakan
salah satu tafsir dengan metode tah}lili> yang mencakup penjelasan secara
ma’thu>r dan ra’yi.
5. Tafsir Mafa>tih} al Ghaib karya Fakhruddin al Ra>zi> merupakan tafsir
dengan metode tah}lili> bi al ra’yi yang bercorak lughawi/ijtima’i.
Sedangkan sumber sekundernya adalah buku-buku tentang
pernikahan, perkembangan psikologi, dokumentasi-dokumentasi mengenai
Alvin Faiz dan Larissa Chou, dan buku-buku serta jurnal-jurnal yang relevan
dengan pembahasan yang diteliti.
4. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penulisan skripsi ini adalah dengan
menggunakan metode dokumentasi. Dokumen merupakan catatan perisitiwa
14
monumental dari seseorang.15 Penulis mencari data mengenai hal-hal atau
variabel berupa catatan, buku, kitab dan lain sebagainya yang berkaitan
dengan kebutuhan materi tersebut. Melalui metode dokumentasi, diperoleh
data yang berkaitan dengan penelitian berdasarkan konsep-konsep kerangka
penulisan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis
data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan
lain, dengan cara mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam
unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang
penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat
diceritakan kepada orang lain.16
Adapun teknik yang dipakai dalam penelitian ini adalah content
analysis atau teknik analisis isi. Teknik ini merupakan analisis ilmiah tentang
isi pesan atau komunikasi yang ada, terkait dengan data-data, kemudian
dianalisis sesuai dengan materi yang dibahas.17 Dalam hal ini, penulis
menguunakan kajian sejarah dan sosial untuk memahami kondisi obyektif
dan kasus pernikahan dini pada masa turunnya Alquran.
15
Sugiyono, Metode Penelitian, 240. 16
Ibid., 244. 17
15
H. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembahasan, skripsi ini dibagi menjadi empat bab
sebagai berikut:
Bab I : Menjelaskan Pendahuluan yang meliputi Latar Belakang, Identifikasi
Masalah dan Pembatasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan
Kegunaan Penelitian, Landasan Teori, Kajian Pustaka, Metode
Penelitian, Sistematika Pembahasan, dan Outline.
Bab II : Menjelaskan tentang landasan teori meliputi metode tafsir dalam
memahami ayat yang diteliti, definisi pernikahan dini, Hukum
Perkawinan Indonesia, faktor adanya pernikahan dini, budaya
pernikahan dini di Indonesia dan dampaknya, dan pernikahan dini
ditinjau dari perspektif psikologi.
Bab III : Memaparkan pendapat-pendapat mufassir terhadap ayat-ayat
pernikahan dini beserta analisis penulis terkait penafsiran yang ada,
memaparkan ketentuan hukum Indonesia mengenai pernikahan dini,
yang selanjutnya dikontekstualisasikan dengan kasus pernikahan dini
Alvin Faiz dan Larissa Chou.
Bab IV : Menjelaskan penutup, yang meliputi kesimpulan dari keseluruhan
pembahasan dan saran untuk penelitian selanjutnya demi
BAB II
TINJAUAN UMUM
A.Tafsir Maud}u>’i>
Ada dua macam bentuk kajian tafsir maud}u>’i, antara lain yang pertama
yakni pembahasan mengenai satu surat secara menyeluruh dan utuh dengan
menjelaskan maksudnya yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi
antara berbagai masalah yang dikandungnya, sehingga surat itu tampak dalam
bentuknya yang betul-betul utuh dan cermat. Sedangkan yang kedua adalah
menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surat yang sama-sama membicarakan
satu masalah tertentu, ayat-ayat tersebut disusun sedemikian rupa dan diletakkan
di bawah satu tema bahasan, dan selanjutnya ditafsirkan secara maud}u>’i.1
1. Pengertian Tafsir Maud}u>’i>
Adapun pengertiannya, ulama zaman sekarang lebih cenderung pada
bentuk kajian yang kedua, yaitu membahas ayat-ayat Alquran sesuai dengan
tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan dihimpun
dan dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek, yakni asba>b al nuzu>l, kosakata, dan sebagainya serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta
yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen itu berasal
dari Alquran, hadis, maupun pemikiran rasional.2
1Abd. al Hayy al Farmawi, Al Bida>yah fi> al Tafsi>r al Maud}u’i>, Terj. Suryan A. Jamrah
(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994), 35-36.
2Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
17
Menurut Abd. al Hayy al Farmawi, Dr. Ali Khalil sebenarnya telah
menunjukkan benih dan bibit pertama dari kajian metode tafsir maud}u>’i ini.
Hal ini berdasarkan kesimpulannya mengenai komentar Dr. Ali Khalil tentang
penafsiran Rasulullah terhadap kata z}ulmun dengan makna shirkun pada ayat
lain. Ia menegaskan bahwa Rasulullah memberi pelajaran kepada para sahabat
bahwa tindakan menghimpun sejumlah ayat mushtabiha>t itu dapat
memperjelas pokok masalah dan akan melenyapkan keraguan atau kerancuan.3
Langkah-langkah yang perlu ditempuh oleh mufassir dalam
menerapkan metode ini ialah dengan menghimpun ayat-ayat yang mengandung
makna setema sesuai kronologis turunnya ayat tersebut. Hal ini diperlukan
untuk mengetahui kemungkinan adanya ayat yang na>sikh maupun yang mansu>kh. Setelah itu menelusuri latar belakang turunnya ayat-ayat yang telah
dihimpun agar dapat diketahui situasi dan kondisi ayat tersebut turun.
Kemudian meneliti dengan cermat semua kata atau kalimat yang dipakai dalam
ayat tersebut, terutama kosakata yang menjadi pokok permasalahan dalam ayat
itu. Penelitian ini meliputi semua aspek yang berkaitan dengannya, seperti
bahasa, budaya, sejarah, muna>sabah, pemakaian kata ganti (d}ami>r), dan
sebagainya.4
Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan
cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung arti serupa, mengkompromikan
antara pengertian ‘a>m dan kha>s}, antara mut}laq dan muqayyad, mensingkronkan
3al Farmawi, Al Bida>yah fi> al Tafsi>r, 38. 4
18
ayat-ayat yang lahirnya terlihat kontradiktif, menjelaskan ayat na>sikh dan mansu>kh, sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa
perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap sebagian ayat
kepada makna yang kurang tepat.5
Adapun beberapa tafsir yang hampir mendekati kajian metode
maud}u’i anatara lain ialah: kitab al Baya>n fi> Aqsa>m al Qur’a>n karya Ibn
Qayyim, Maja>z al Qur’a>n karya Abu ‘Ubaidah, Mufrada>t al Qur’a>n karya al
Raghi>b al Asfahani, Ah}ka>m al Qur’a>n karya al Jas}s}a>s}, dan masih banyak yang
lainnya.
2. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Metode Maud}u>’i
Dari semua usaha dalam metode maudhu>’i ini, tentunya tidak terlepas
dari kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari metode ini adalah
sebagai berikut6:
a. Menjawab tantangan zaman. Karena hanya ini satu-satunya metode yang
mengkaji semua ayat Alquran yang berbicara tentang kasus yang sedang
dibahas secara tuntas dari berbagi aspeknya.
b. Selain itu, dengan menggunakan metode ini seseorang akan lebih mudah
mendapatkan jawaban permasalahannyan secara efektif dan efisien. Karena
metode disusun secara praktis dan sistematis dalam memcahkan
permasalahan yang timbul, sehingga kondisi ini lebih cocok dengan kondisi
5Ibid., 48.
19
umat dengan mobilitas tinggi yang seakan-akan tidak punya waktu untuk
membaca kitab-kitab tafsir yang besar.
c. Metode tematik membuat tafsir Alquran selalu dinamis sesuai dengan
tuntutan zaman sehingga menimbulkan
d. Membuat pemahaman ayat-ayat Alquran secara utuh, karena semua ayat
yang setema telah terhimpun dan dikaji seara tuntas.
Setelah memaparkan beberapa kelebihan metode maudhu>’i, bukan
berarti metode ini terlepas dari kekurangan. Berikut pemaparan kekurangan
dari metode ini antara lain7:
a. Memenggal ayat Alquran yang sebenarnya ayat tersebut mengandung
banyak pembahasan, namun dalam metode ini hanya diambil satu
pembahasan sesuai tema yang akan dibahas. Misalnya dalam ayat tersebut
terdapat pembahasan mengenai shalat dan zakat, namun karena tema yang
akan dibahas mengenai zakat sehingga pembhasan mengenai shalat perlu
diabaikan terlebih dahulu agar tidak menggganggu analisis.
b. Dengan ditetapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat
menjadi terbatas pada judul tersebut. Padahal tidak mustahil suatu ayat
dapat ditinjau dari berbagai aspek sehingga terkesan kurang luas
pemahamannya.
20
B.Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia
1. Pengertian Pernikahan Dini
Menikah merupakan salah satu ibadah yang penting dalam kehidupan.
Banyak sekali yang perlu dipersiapkan sebelum menikah, baik dari segi
mental, ekonomi, dan lain sebagainya. Namun, di samping itu terdapat istilah
pernikahan dini yang mempunyai konotasi negatif pada sebagian orang.
Adapun istilah pernikahan dini tersusun dari dua kata, yakni
pernikahan dan dini. Pernikahan berasal dari kata dasar nikah. Kata nikah
merupakan bentuk serapan dari bahasa arab al nika>h{ (
حاكنلا
) yang secarabahasa berarti mengumpulkan, saling memasukkan, dan wathi’ atau
bersetubuh. Sedangkan dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan
perkawinan yang artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan
hubungan kelamin, atau bersetubuh.8
Selain itu ada pula yang mengartikan kata nikah sebagai akad,
sebagaimana dalam surat An Nisa’ ayat 22:
21
“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh
ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu
Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).9
Dalam ayat tersebut mengandung arti bahwa perempuan yang telah
melangsungkan akad nikah dengan ayah itu haram dinikahi, meskipun di
antara keduanya belum melakukan hubungan kelamin.10
Golongan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa kata nikah itu berarti
akad dalam arti yang sebenarnya. Sedangkan golongan Hanafiyah berpendapat
bahwa kata nikah mengandung arti hubungan kelamin. Namun, sekiranya
golongan Hanabilah yang lebih moderat, dengan pendapatnya bahwa kata
nikah menunjukkan pada dua kemungkinan tersebut, yaitu akad dan hubungan
kelamin.11
Dr. Ahmad Ghandur sebagai salah satu ulama kontemporer
berpendapat mengenai definisi nikah adalah akad yang menimbulkan
kebolehan bergaul antara laki-laki dan perempuan dalamtuntutan naluri
kemanusiaan dalam kehidupan dan menjadikan untuk kedua pihak secara
timbal balik dalamhak-hak dan kewajiban.12
Menurut Bachtiar (2004) pernikahan adalah pintu bagi bertemunya
dua hati dalam naungan pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka
9Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Sygma Examedia Arkanleema), 81.
10Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan
Undang-Undang Perkawinan (Jakarta: Kencana, 2011), 36. 11Ibid., 37.
22
waktu yang lama, yang di dakamnya terdapat berbagai hak dan kewajiban
yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk mendapatkan
kehidupan yang layak, bahagia, harmonis, serta mendapat keturunan.
Pernikahan itu merupakan ikatan yang kuat yang didasari oleh perasaan cinta
yang sangat mendalam dari masing-masing pihak untuk hidup bergaul guna
memelihara kelangsungan manusia di bumi.
Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan, bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang
pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk suatu
ikatan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.13
Menurut Kompilasi Hukum Islam Bab II Pasal 2 disebutkan bahwa
perkawinan dalam hukum Islam adalah pernikahahan, yaitu akad yang sangat
kuat atau mi>t}a>qan g}ali>z}an untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya
merupakan ibadah.14
Walaupun ada bebrbagai definisi yang dikemukaan oleh para pakar,
namun ada satu unsur yang merupakan kesamaan bahwa perkawinan
merupakan suatu perjanjian antara laki-laki dan perempuan dalam
kekeluargaan.15
13Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan
Kompilasi Hukum Islam (Bandung: Citra Umbara, 2007), 2. 14Ibid., 228.
15Paul Scholten dalam Djaya S. Meliala, Masalah Perkawinan Antar Agama dan
23
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dini berarti sebelum
waktunya. Seseorang dikatakan masih mencapai usia dini yaitu ketika ia
belum mencapai usia dewasa, atau bisa disebut dengan istilah anak. Anak
adalah seseorang yang terbentuk sejak masa konsepsi hingga akhir remaja.
Dalam UU Pemilu No. 10 Tahun 2008 pasal 19 ayat 1 dijelaskan bahwa batas
seseorang dikatakan sebagai anak yaitu hingga usia 17 tahun.16
Para ahli mendefinisikan istilah pernikahan dini dengan sudut
pandang yang berbeda-beda. Pernikahan dini menurut Islam sendiri adalah
pernikahan yang dilakukan sebelum usia baligh. Karena dalam Alquran telah
menentukan batas waktu minimal diperbolehkannya menikah yaitu ketika
sudah baligh.
Menurut Najlah Naqiyah, pernikahan dini adalah pernikahan yang
dilakukan oleh pasangan muda mudi di bawah usia 16 tahun. Lebih dari itu
Nukman menambahkan bahwa pernikahan dini adalah pernikahan yang
dilakukan di bawah usia yang seharusnya serta belum siap dan matang untuk
melaksanakan dan menjalani kehidupan rumah tangga.17
Sedangkan menurut pemahaman penduduk Indonesia, pernikahan dini
adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang belum mencapai batas
usia minimal yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang.
16Eddy Fadlyana dan Shinta Larasaty, “Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya”, Sari
Pedlatri, Vol. 11 No. 2 (Agustus, 2009), 137.
17Definisi Menurut Para Ahli, “Pengertian Pernikahan Dini”,
24
2. Tujuan dan Syarat Pernikahan
Secara sepintas, kebanyakan orang memahami tujuan perkawinan
sebagai pemenuhan kebutuhan seks, dalam hal ini tujuan utamanya yaitu
reproduksi. Dalam surat Al Baqarah ayat 187 Allah menjelaskan:
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.18
Berhubungan seks bukanlah sesuatu yang kotor atau najis sehingga
perlu dihindari, karena tidak mungkin Allah memerintahkan dalam
hukum-hukum yang berkaitan dengan seks. Berhubungan seks merupakan sesuatu
yang bersih, sehingga harus dimulai dan dilakukan dalam suasana suci nan
25
bersih, karenanya Rasulullah saw mengajarkan umatnya untuk berdoa sebelum
melakukan hubungan tersebut.19
Namun, bukan hanya itu saja tujuan pernikahan. Ada perbedaan
ketika Allah membahas perkawinan makhluknya secara umum dengan
perkawinan yang dilakukan oleh makhluknya yang berakal, yaitu manusia.20
Sebagaimana dalam surat Al Shu>ra> ayat 11:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.21
Ayat tersebut menjelaskan bahwasannya manusia diciptakan
berpasang-pasangan, begitu pula binatang. Namun ayat tersebut tidak
menjelaskan adanya mawaddah dan rahmah (cinta dan kasih) sebagaimana
yang dijelaskan pada surat Ar Ru>m ayat 21 mengenai pernikahan manusia22:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
19M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1998), 211.
20Ibid., 212.
26
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.23
Cinta kasih yang Allah anugerahkan kepada sepasang suami istri
adalah untuk satu tugas yang berat tetapi mulia. Bahkan malaikat pun ingin
sekali mengemban tugas tersebut. Tugas tersebut tidak lain yaitu membangun
peradaban dengan menjadi khalifah di muka bumi ini.
Selain itu menikah juga merupakan salah satu media umat Islam
untuk berdakwah. Seorang laki-laki muslim diperbolehkan menikahi
perempuan kristiani, katolik, maupun hindu. Namun, seorang muslimah tidak
diperbolehkan. Hal ini karena pada umumnya laki-laki itu lebih kuat
pendiriannya.24
Untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya ada beberapa syarat yang
perlu dipenuhi25, antara lain:
a. Jelas identitas kedua calon mempelai, baik menyangkut nama, jenis
kelamin, keberadaan, dan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan
keduanya.
b. Keduanya sama-sama beragama Islam
c. Antara keduanya tidak terlarang melangsungkan perkawinan. Larangan
perkawinan yang dimaksud adalah oarng-orang yang dilarang melakukan
perkawinan, misalnya karena ada hubungan kekerabatan, hubungan
mushaharah, dan lain-lain.
23Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 406.
27
d. Kedua belah pihak telah setuju untuk menikah dan setuju pula dengan
siapa dia akan menikah. Dalam hadis Nabi dijelaskan:
َاَو َرَمْأَتْسُت ىََح ُمَِّأا ُحَكْنُ ت َا
اَهُ نْذمإ َفْيَكَو مىَا َلوُسَر اَي اوُلاَق .َنَذْأَتْسُت ىََح ُرْكمبْلا ُحَكْنُ ت
َتُكْسَت ْنَأ َلاَق
Perempuan yang sudah janda tidak boleh dikawinkan kecuali setelah ia minta dikawinkan dan perempuan yang masih perawan tidak boleh dikawinkan setelah ia dimintai izin. Mereka berkata: Ya Rasulullah, bagaimana bentuk izinnya? Nabi menjawab: Izinnya adalah diamnya.e. Keduanya telah mencapai usia yang layak untuk melangsungkan
perkawinan. Tentang batas usia perkawinan ini memang tidak dibicarakan
dalam kitab-kitab fiqh. Bahkan dalam kitab-kitab fiqh memperbolehkan
perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masih kecil.
f. Tidak dalam ikatan perkawinan dengan orang lain.
g. Suami istri yang telah cerai kawin lagi satu sama lain dan bercerai lagi
untuk yang kedua kalinya, maka di antara mereka tidak boleh
dilangsungkan perkawinan lagi.26
3. Hukum Perkawinan Indonesia
Secara umum, salah satu syarat pernikahan dalam Islam adalah
berakal dan ba>ligh. Namun dengan beberapa pertimbangan dalam negara
masing-masing, menuntut suatu negara untuk membuat kebijakan-kebijakan
baru yang tertera dalam Undang-Undang.
Berbeda negara berbeda pula kebijakan hukumnya. Jika Undang
Undang Turki tahun 1972, umur minimal seseorang yang akan menikah
26Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan
28
adalah 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan27, berbeda dengan
Undang-Undang Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang
menjelaskan batas usia minimal seseorang untuk menikah adalah 19 tahun
untuk laki-laki dan 16 tahun perempuan. Namun hal itu saja belum cukup,
dalam implementasinya ada beberapa yang harus dipenuhi oleh calon
pengantin, yaitu dalam Peraturan Menteri Agama No. 11 Tahun 2007 tentang
Pencatatan Nikah Bab 4 No 7 yang memaparkan bahwa apabila calon
mempelai belum mencapai usia 21, maka harus mendapat ijin tertulis kedua
orangtua.28
Penentuan batasan minimal usia menikah dalam Undang Undang
menyebutkan alasan dan tujuan diaturnya pembatasan ini secara otentik pada
pasal 7 ayat 1. Alasan tersebut berkenaan dengan kepentingan yang
bersangkutan dan kepentingan nasional yaitu pentingnya kedewasaan yang
disebut dengan masak jiwa dan raga dalam perkawinan dan kecenderungan
tingginya angka kelahiran nasional yang diakibatkan oleh perkawinan di
bawah umur. Alasan tersebut berimplikasi pada maksud dan tujuan penetapan
aturan pembatasan usia minimal untuk menikah yaitu mewujudkan
perkawinan yang baik dan kekal, menjaga kesehatan suami istri, dan mendapat
27HM Atho’ Muzdhar dan Khairuddin Nasution, Hukum Keluarga di Dunia Islam
Modern (Jakarta: Ciputat Press, 2003), 36.
28Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan
29
keturunan yang baik dan sehat serta menekan lajunya angka kelahiran
nasional.29
Namun, pemerintah tidak begitu juga menolak mentah-mentah untuk
masyarakat yang akan melangsungkan pernikahan di luar ketentuan usia
tersebut. Seorang calon suami yang belum mencapai usia 19 tahun dan calon
istri belum mencapai usia 16 tahun harus mendapatkan dispensasi nikah dari
Pengadilan Agama untuk bisa melangsungkan pernikahan yang sah menurut
undang-undang. Setelah diperiksa dalam persidangan dan diyakini terdapat
hal-hal yang memungkinkan untuk diberikan dispensasi, maka Pengadilan
Agama akan memberikan suatu penetapan untuk memenuhi persyaratan
melangsungkan pernikahan.30
Dalam mempertimbangkannya, hakim memutuskan memberikan
dispensasi berdasarkan hukum Islam yakni menolak bahaya didahulukan atas
mendatangkan kebaikan. Dan bahaya harus dihilangkan yang pada dasarnya
setiap manusia tidak diizinkan mengadakan suatu yang membahayakan, baik
berat maupun ringan terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
Pada prinsipnya, kemadharatan harus dihilangkan. Dalam menghilangkan
kemadharatan tersebut, tidak boleh sampai ada kemadharatan lain yang
muncul. Namun, jika kemadharatan tersebut tidak dapat dihilangkan kecuali
dengan menimbulkan kemadharatan yang lain, maka harus memilih madharat
29Salmah Fa’atin, “Tinjauan Terhadap Batas Minimal Usia Nikah Dalam UU No. 1/ 1974
dengan Multiperspektif”, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Yudisia, Vol. 6 No. 2 (Desember, 2015), 437.
30Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari Undang-Undang
30
yang relatif lebih ringan yang telah terjadi. Menurut persepsi
hakim.madharatnya adalah ditakutkan bial tidak dinikahkan akan menambah
dosa dan terjadi perkawinan di bawah tangan yang akan mengacaukan
proses-proses hukumyang akan terjadi berikutnya atau mengacaukan hak-hak hukum
anak yang dilahirkannya menurut undang-undang. 31
4. Budaya Pernikahan Dini di Indonesia dan Dampaknya
Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa budaya pernikahan dini yang dalam
tiga puluh tahun terakhir telah berkurang, namun pada kenyataannya masih
banyak dilakukan di sejumlah daerah terpencil. Walaupun Deklarasi Hak
Asasi Manusia tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan dini, namun
ironisnya praktik pernikahan dini masih banyak berlangsung di seluruh
belahan dunia, termasuk Indonesia.32
Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta
penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun dengan berbagai
faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan dini
di Indonesia adalah sebagai berikut33:
a. Budaya perjodohan yang masih melekat kuat pada masyarakat adalah
salah satu faktor terjadinya pernikahan dini. Bahkan mereka lebih memilih
menjadi janda daripada perawan tua.
31Sri Ahyani, “Pertimbangan Pengadilan Agama Atas Dispensasi Pernikahan Usia Dini
Akibat Kehamilan di Luar Nikah”, Wawasan Hukum,Vol. 34 No. 1 (Februari, 2016), 42-43.
32Mariyatul Qibtiyah, “Faktor yang Mempengaruhi Perkawinan Muda Perempuan” (Skripsi tidak diterbitkan, Departemen Biostatistika dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, 2015), 50.
31
b. Sebagian besar anak yang menikah di usia dini adalah hasil paksaan orang
tua yang tidak ingin menanggung lebih besar beban ekonomi, termasuk
biaya pendidikan yang semakin mahal. Hal ini sering terjadi di tengah
masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
c. Sesuai laporan eksekutif kesehatan Jawa Timur tahun yang menyebutkan
bahwa 67,82 % dari seluruh perempuan yang menikah di bawah suia 17
tahun adalah yang bertempat tinggal di pedesaan.
d. Semakin rendah jenjang pendidikan yang ditempuh, maka semakin besar
pula kemungkinan untuk menikah di usia yang lebih cepat. Hal ini terjadi
karena motivasi belajar seseorang akan berkurang karena banyaknya tugas
yang dilakukan seusai menikah.
Adanya kebijakan untuk meminimalisir pernikahan dini, tentunya ada
dampak yang menjadi sebab perlunya tindakan kebijakan tersebut. Berikut
beberapa dampak yang ditimbulkan karena adanya praktik pernikahan dini:
a. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Walgito dalam bukunya berjudul
Bimbingan Konseling Islam bahwa perkawinan yang masih terlalu muda
banyak mengundang masalah yang tidak diharapkan karena segi
psikologisnya belum matang seperti cemas dan stress.34
b. Ada beberapa keinginan yang ingin dicapai namun terhalang karena status
pernikahan, seperti kerja dan kuliah.
32
c. Menurut beberapa penelitian para ahli, rata-rata penderita infeksi
kandungan dan kanker mulut rahim adalah wanita yang hamil di bawah
usia 19 tahun. Karena terjadinya peralihan sel anak-anak ke sel dewasa
yang terlalu cepat.35
Walaupun begitu, ada beberapa dampak positif yang ditimbulkan
karena adanya pernikahan dini, di antaranya:
a. Meringankan beban biaya orang tua.
b. Melatih mental seseorang untuk lebih cepat dewasa. Karena dengan
menikah seseorang akan dituntut untuk lebih bertanggungjawab.
c. Menghindarkan anak dari perbuatan maksiat, seperti pacaran.
Sebagaimana dalam skripsi Alfian Farisi yang memaparkan hasil
penelitiannya mengenai pentingnya pernikahan di desa Labuhan bahwa
dengan pernikahan dini dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak
diinginkan sehingga dapat menjaga kehormatan keluarga.36
5. Pernikahan Dini Perspektif Psikologi
Menurut ahli psikologi, masa kehidupan itu dibagi menjadi 4 masa
yaitu masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua (menopause).
Masa persiapan seorang anak menjadi seorang individu dewasa adalah masa
remaja. Masa remaja adalah masa dimana seorang anak telah berkembang
35Riska Afriani dan Mufdlilah, “Analisis Dampak Pernikahan Dini PadaRemaja Putri di
Desa Sidoluhur Kecamatan Godean Yogyakarta”, dalam Rakernas Aipkema 2016 (Yogyakarta: Universitas Aisyiyah Yogyakarta, 2016), 237-239.
36Alfian Farisi, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Urgensi Pernikahan Dini di Desa
Labuhan Kecamatan Kreseh Kabupaten Sampang” (Skripsi tidak diterbitkan, Jurusan
33
fisik maupun psikisnya dengan mengalami pubertas. Adapun batasan usia
remaja Indonesia menurut Singgih D. Gunarsa berkisar antara usia 12 – 22
tahun.37
Di sepanjang rentang masa remaja tersebut, para ahli membagi masa
tersebut menjadi tiga yaitu masa remaja awal, remaja tengah, dan remaja
akhir. Masa remaja yang paling mendekati kedewasaan adalah masa remaja
akhir. Pola sikap, pola perasaan, pola pikir, dan pola perilaku pada masa ini
sudah sangat berbeda dengan masa remaja awal. Masa remaja akhir ini
ditandai dengan meningkatnya kestabilan dalam aspek-aspek fisik dan psikis.
Seorang remaja akan lebih bisa mengadakan penyesuaian-penyesuaian dalam
banyak aspek kehidupannya dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.
Cara menghadapi masalah pun sudah terlihat berbeda. Jika pada masa remaja
awal mereka bersikap bingung dan berperilaku tidak efektif, namun pada
remaja akhir mereka cenderung lebih tenang, matang, dan realistis dalam
menghadapi masalah tersebut.38 Masa remaja akhir ini terpaut pada usia 18-22
tahun.39
Setelah seseorang mengalami masa remaja ini, barulah ia memasuki
masa dewasa. Pada masa ini, seseorang tidak lagi disebut sebagai masa
tanggung, tetapi sudah tergolong sebagai seorang pribadi yang benar-benar
dewasa. Penampilan fisiknya pun benar-benar telah matang sehingga siap
37Ny. Singgih D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, Psikologi Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 15-16.
34
untuk melakukan tugas-tugas seperti orang dewasa lainnya, misalnya bekerja,
menikah, dan mempunyai anak. Selain itu, menurut para ahli, kapasitas
kognitif dewasa muda ini tergolong masa operasional formal, bahkan
kadang-kadang mencapai masa post-operasi formal yang menyebabkan seorang
pribadi dewasa mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan
kapasitas berpikir abstrak, logis, dan rasional.40
Pernikahan dini sebagaimana yang dijelaskan pada subbab
sebelumnya, adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang yang belum
dewasa. Jika ditinjau dari segi psikologis, pernikahan ini dapat menghambat
proses belajar dan menimbulkan banyaknya perceraian karena kurang siapnya
mental dari kedua belah pihak.
Namun tidak dengan Muhammad Faudzil Adhim dalam bukunya
berjudul “Indahnya Pernikahan Dini” yang menjelaskan bahwa pernikahan
bukanlah penghambat untuk meraih prestasi yang lebih cemerlang. Usia bukan
ukuran dalam menentukan kesiapan mental dan kedewasaan seseorang.
Bahkan menikah merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kenakalan
remaja masa kini.41
Sebagaimana yang dikatakan Maslow, bahwasannya pernikahan yang
sebenarnya dimuali padasaat menikah. Pernikahan akan mematangkan
seseorang sekaligus memnuhi separuh dari kebutuhan-kebutuhan psikologis
40Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Dewasa Muda (Jakarta: Gramedia Widiasarana
Indonesia, 2003), 4-5.
35
manusia yang pada gilirannya akan menjadikan manusia mencapai puncak
pertumbuhan kepribadian yang mengesankan.42
42Bety, “Hubungan Pernikahan Dini dengan Perceraian (Studi Kasus Pengadilan Agama
BAB III
TELAAH TENTANG PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN
A. Penafsiran Ayat Alquran Tentang Pernikahan Dini
Dalam Alquran tidak ada ayat yang secara jelas membahas mengenai
pernikahan dini. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya,
bahwasannya pernikahan dini adalah istilah yang digunakan orang zaman
sekarang dalam menyebut pernikahan anak.
Sebelum membahas lebih dalam mengenai pernikahan dini dalam
Alquran, akan dibahas mengenai usia menikah sebagai tolok ukur batasan
minimal usia dianjurkannya untuk menikah. Dalam Alquran surat Al Nisa’ ayat 6:
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).1
1
37
Dalam kitab Anwa>ru al tanzi>l wa asra>ru al ta’wi>l li al Baid}awi,
dijelaskan bahwasannya seseorang dikatakan mencapai usia menikah apabila ia
telah mencapai usia dewasa dengan dialaminya ih}tila>m atau telah sempurna
mencapai usia 15 tahun. 2 Sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw:
ِ إِ ذ
ِ ساِا
ِ تِ ك
ِ مِ ل
ِِ لا
ِ وِ لِ د
ِ
ِ خ
ِ س
ِِ ع
ِ شِ ر
ِ ةِ
ِ سِ
ِ ةِِ
ِ كِ ت
ِ ب
ِِ م
ِ لِا
ِ هِِ و
ِ م
ِ عِا
ِ لِ يِ ه
ِِ و
ِ تميقأ
ِِ عِ ل
ِ يِ هِ
ِ لا
ِ دِ و
ِ د
Dalam hadis tersebut menjelaskan, bahwasannya seorang anak yang mencapai
usia 15 tahun, maka diwajibkan untuk menyeahkan hartanya dan menegakkan
hukum atasnya.
Al Ra>zi berpendapat bahwa menguji anak yatim ini dilakukan ketika
belum baligh. Ujian yang dilakukan ini berupa kecakapan seorang anak dalam
membelanjakan harta.3 Ketika ia telah dinilai cakap dalam hal tersebut, maka
dapat diindikasikan kesempurnaan akalnya. Kedewasaan akal adalah
sempurnanya akal dan kuatnya seseorang dalam hal perasaan dan tingkah
lakunya.4
Menurut Al Mara>ghi, bulu>ghu al nika>h{ adalah sampainya seseorang
pada usia yang siap untuk menikah dan dia dalam keadaan sudah mencapai
ih}tila>m.5
2Al Baid}a>wi, Anwa>ru al tanzi>l wa asra>ru al ta’wi>l li al baid}a>wi Juz 1 (Beirut: Da>r al Fikr, tt), 148.
3Fakhruddin Muh}ammad ibn ‘Umar al Tami>mi> al Ra>zi> al Sha>fi’i>, Al Tafsi>r al Kabi>r au Mafa>tih}u al Ghaib Juz 9 (Beirut: Da>r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2000), 153.
4Fakhruddin Muh}ammad ibn ‘Umar al Tami>mi> al Ra>zi> al Sha>fi’i>, Al Tafsi>r al Kabi>r au Mafa>tih}u al Ghaib Juz 20 (Beirut: Da>r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2000), 164.
38
Al Qurt}ubi> berpendapat bahwa balaghu al nika>h adalah h}ulm.
Sebagaimana dalam ayat
ِ م ل لاِ م ك م