• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pernikahan dini dalam al Quran: studi kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pernikahan dini dalam al Quran: studi kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou."

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN

(STUDI KASUS ALVIN FAIZ DAN LARISSA CHOU)

Skripsi

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata

Satu (S-1)

Oleh:

ALFIN NURI AZRIANI E73213112

PRODI ILMU ALQURAN DAN TAFSIR JURUSAN ALQURAN DAN HADIS FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)

PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN

(STUDI KASUS ALVIN FAIZ DAN LARISSA CHOU)

Skripsi

Diajukan kepada

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Dalam Menyelesaikan Program Strata Satu (S-1)

Al-Qur’an dan Hadis/Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Oleh:

ALFIN NURI AZRIANI E73213112

PRODI ILMU ALQURAN DAN TAFSIR JURUSAN TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(3)

PERSETUJUAN

PEMBIMBING

Skripsi yang disusun oleh Alfin Nuri Azriani ini telah disetujui untuk diujikan.

(4)

PENGESAHAN

SKRIPSI

Skripsi oleh Alfin Nuri Azriani ini telah dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi

Surabaya, 13 April2017

Mengesahkan

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

993031002

.201409006

Penguji II,

>-Dr. Hi. Iffah. M.Ae
(5)

PERNYATAAN

KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

Nama

: Alfin Nuri Azriani

NIM :873213112

Jurusan/Prodi : Al-Qur'an dan Hadis/ Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Dengan

ini menyatakan

bahwa skripsi

ini

secara keseluruhan adalah hasil

penelitianlkarya

saya

sendiri,

kecuali pada

bagian-bagian

yang

dirujuk sumbemya.

Surabaya, Apnl20l7

(6)

@)

KEMENTERIAII AGAMA

UNIVERSITAS

ISLAM NEGERI SUNAN

AMPEL

SURABAYA

PERPUSTAKAAN

Jl. Jend. A. Yani 117 Surabaya60237 Telp.031-8431972 Fax.03l-8413300 E-Mail : [email protected]. id

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBIIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitasa kadernika UIN Sunan Ampel Surabaya, yang bertandatangarl di bawah ini, saya: Nama

NIM

Fakultas/Jumsan E-mail address

: Alfin Nuri Azriani :E73273772

: Ushuluddin dan Filsafat

/

Iknu Al-Qur'an dan Tafsit

:

azryanee@,gmail.com

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetuiui untuk membedkan kepada Perpustakaan

UI).I Snrran Ampel Sutabaya, Hak Bebas Royalti Non-Eksklusifatas karyailmiah:

M

Sekdpsi E Tesis l-l Deserasi

E=

Lain-lain (...

...

...

..)

yang be{udul :

PERMKAHAN DINI DALAM ALOURAN (STUDI KASUS ALVIN TAIZ DAN LARISSA

CHOIJI

Beserta

perangkat

yang

diperlukan

(bilaada). DenganHakBebasRoyalti

Non-EkslusifiniPelpustakaan

UIN

Sunan

Ampel Surabaya

berhak menyimpan, mengalih-media/fornat-kan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya, dan menampilkan/mempublikasikannya

di

Intemet atau media lain secara fuIltext untuk kepentingan akademis tanpa pedu meminta iiin dad saya selama tetap marcantumkan narna say^ sebagai penulis/pencipta dan atau penerbit yang bersangkutan.

Saya bersedia unnrk meflanggung secara pribadi, tanpa melibatkan pihak Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya, segala bentuk tuntutan hukurn yang timbul atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah saya ini.

Demikiafl pemyataan ini yang saya buat dengan sebenamya.

(7)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul “Pernikahan Dini dalam Alquran, Studi Kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou” ini adalah hasil penelitian yang dilatarbelakangi dari munculnya kasus pernikahan dini oleh pasangan Alvin Faiz dan Larissa Chou. Kasus ini menjadi sangat marak karena berbeda dengan kasus pernikahan dini yang lainnya. Jika pada umumnya pernikahan dini terjadi pada perempuan yang masih berusia belia, namun pada kasus ini justru si kepala keluarga lah yang masih berusia belia.

Dalam Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 pasal 6 telah mengatur batas usia minimal menikah, yaitu 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Namun pada pasal selanjutnya menjelaskan aturan itu bisa dikompromi dengan pengantar dispensasi dari Pengadilan Agama setempat. Banyak golongan yang kemudian menganggap legal mengenai pernikahan dini atas dasar beberapa ayat dalam Alquran. Walaupun tidak secara jelas ayat Alquran menjelaskan kebolehan pernikahan dini ini, namun secara implisit ayat tersebut mengandung indikasi kebolehan pernikahan dini dari beberapa aspek. Dari latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti mengenai beberapa pendapat para mufassir terhadap ayat tersebut dan kemudian direlevansikan dengan hukum pernikahan dini di Indonesia serta kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou sebagai kasus riil di Indonesia.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Adapun teknisnya yaitu dengan menghimpun data-data terkait kemudian dianalisis berdasarkan prosedur metode

maud}u>’i> dengan merujuk pada tafsir-tafsir Alquran dari berbagai sudut pandang. Pernikahan dini dalam Alquran meliputi dari tiga aspek, yaitu dari segi fisik/biologis, psikis, dan spiritual. Yang pertama pada surat Al T}ala>q ayat 4 yang menjelaskan mengenai ‘iddah perempuan-perempuan. Salah satunya terdapat lafad lam yah{id{na. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud adalah anak-anak kecil yang belum mengalami h}aid}. H}aid}atau menstruasi adalah darah yang keluar ketika sel telur tidak dibuahi. Sel telur akan berfungsi seiring dengan pertumbuhan fisik. satu bentuk tanda kedewasaan seseorang yang dilihat dari segi biologis.

Yang kedua yakni pada surat Al Nisa>’ ayat 3 yang menjelaskan aturan mengenai bagaimana seorang wali yang ingin menikahi anak yatim di bawah asuhannya. Sesuai pendapat para ulama, bahwa anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati orang tuanya sebelum ia dewasa. Pada ayat selanjutnya dijelaskan bahwa anak yatim tersebut dikatakan sudah dewasa ketika sudah menguasai dua hal, yakni dalam pengelolaan harta dan keagamaan. Ini menandakan bahwa boleh menikahi anak yatim, namun ada aturannya. Dan ketika anak yatim tersebut dinikahi, berarti ada dua aspek yag menjadikan ia dikatakan belum ba>ligh,

yaitu dari segi psikis dan spiritual.

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

PEDOMAN TRANSLITERASI ... vii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Kegunaan Penelitian ... 8

F. Kajian Pustaka ... 9

G. Metode Penelitian ... 11

H. Sistematika Pembahasan ... 14

BAB II: TINJAUAN UMUM TENTANG TAFSIR MAUD}U>’I> DAN

(9)

A. Tafsir Maud}u>’i ... 16

1. Pengertian Tafsir Maud}u>’i ... 16

2. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Maud}u>’i ... 18

B. Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia ... 20

1. Pengertian Pernikahan Dini ... 20

2. Tujuan dan Persyaratan Pernikahan ... 24

3. Hukum Perkawinan Indonesia ... 27

4. Budaya Pernikahan Dini di Indonesia dan Dampaknya .... 30

5. Pernikahan Dini Perspektif Psikologi ... 32

BAB III: TELAAH TENTANG PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN A. Penafsiran Ayat-Ayat Tentang Pernikahan Dini ... 36

B. Ketentuan Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia ... 55

C. Kontekstualisasi Penafsiran Ayat Terhadap Hukum Indonesia (Kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou) ... 57

BAB IV: PENUTUP A. Kesimpulan ... 64

B. Saran-Saran ... 65

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pernikahan adalah salah satu ibadah muamalah yang sangat dianjurkan

oleh Islam. Bahkan di Alquran pun Allah telah menjamin rejeki untuk orang yang

menikah, sebagaimana dalam surat An Nur ayat 32:

                              

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.1

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan hamba-Nya untuk

memperhatikan orang-orang di sekelilingnya yang belum menikah untuk segera

dinikahkan. Hal itu dilakukan agar manusia terhindar dari perbuatan zina. Allah

menyediakan kemudahan hidup yang terhormat bagi orang yang menikah dengan

mendapat ridha Allah.2

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat sesuatu pastinya

mengandung tujuan. Salah satu tujuan diperintahkannya menikah yaitu untuk

kelangsungan pembangunan bumi dan semesta ini, yang pada dasarnya tergantung

1

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), 354.

2

(11)

2

pada eksistensi manusia. Semakin banyak eksistensi manusia, maka akan semakin

lebih mudah pula pembangunan dan pengaturan bumi bagi manusia itu sendiri.

Sedangkan, eksistensi manusia sangat tergantung pada adanya pernikahan yang

berimplikasi pada proses reproduksi.3

Untuk mencapai tujuan hakiki pernikahan, tentunya tidak semua orang

bisa melakukannya begitu saja. Sebagaimana dalam Alquran surat Secara hukum

Islam, salah satu syarat menikah yaitu seseorang yang telah mampu al ba’ah.

Sebagaimana hadis riwayat At Tirmidzi:

4

Sungguh Nabi saw telah bersabda kepada kami, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kamu mampu al ba’ah maka hendaklah menikah, dan barangsiapa tidakmampu maka hendaklah berpuasa, sesungguhnya puasa itu menjadi perisai baginya.”

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa seseorang yang sudah mampu al ba’ah

maka dianjurkan untuk menikah. Adapun arti kata al ba’ah ada dua pendapat,

apabila dibaca panjang (al ba>’ah) maka maknanya kemampuan menanggung biaya

menikah. Sedangkan apabila dibaca tanpa tanda panjang, maknanya adalah

kemampuan untuk melakukan hubungan intim.5 Namun dalam hal ini tidak ada

ketentuan yang jelas mengenai usia yang dimaksud.

3

Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi, H{ikmah al tasyri>’ wa falsafatahu, terj. Faisal Saleh, dkk (Depok: Gema Insani, 1997), 307.

4Muh}ammad ibn ‘I>sa> Abu> ‘I<sa> al Tirmidhi> AlSalami>, al Ja>mi’u al s}ah}i>h sunan al Tirmizhi> Juz 4 (Beirut: Da>r Ih}ya’ al Turath Al ‘Arabi>, t.t), 359.

5Ibnu Hajar Al Asqalani, Fath al Ba>ri>: Syarhu shah{i>h{ al bukha>ri>

(12)

3

Sebagai negara demokrasi, Indonesia mempunyai Undang-Undang yang

salah satunya mengatur tentang hukum pernikahan di Indonesia. Pemerintah

menetapkan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, bahwa batas usia minimal

menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 untuk perempuan. Pemerintah

menetapkan hal tersebut salah satunya untuk mengatasi ledakan penduduk akibat

pernikahan dini.

Perkembangan globalisasi yang begitu pesat sangat mempengaruhi

peradaban dunia. Begitu pula dengan Indonesia. Teknologi yang semakin canggih

membuat peradaban di luar Indonesia bisa diakses dengan mudah. Namun tidak

semua peradaban luar berdampak positif untuk generasi Indonesia. Dampak

negatif pun sangat memungkinkan untuk didapat. Dampak negatif yang paling

mencolok antara lain yaitu kebebasan yang ada di luar negeri telah menjadi idola

para generasi bangsa. Misalnya kebebasan seksual yang memang merupakan adat

bangsa Barat dijadikan panutan oleh para generasi bangsa Indonesia sehingga

pergaulan bebas merajalela di tengah-tengah generasi bangsa kita. Dalam rangka

mengatasi hal tersebut, sekelompok masyarakat memilih untuk menikahkan

anaknya lebih cepat dari ketentuan yang ada di Undang-Undang. Masyarakat pun

menyebutnya dengan pernikahan dini.

Budaya pernikahan dini bukan suatu hal yang asing lagi di Indonesia.

Banyak sekali praktik-praktik pernikahan dini di tengah masyarakat Indonesia.

Hal ini menyebabkan populasi penduduk Indonesia semakin berkembang pesat.

(13)

4

tidak diimbangi dengan kemajuan pendidikan yang berimbas pada kemajuan

intelektual bangsa.

Beberapa bulan yang lalu, telah terjadi pernikahan dini yang

dilangsungkan oleh anak Arifin Ilham, Alvin Faiz dengan seorang muallaf

bernama Larissa Chou. Alvin Faiz yang saat itu berusia 17 tahun memberanikan

diri untuk menikah dengan wanita muallaf berusia 20 tahun dengan alasan untuk

menghindari perbuatan zina. Tidak mudah ia menjalani persiapan menikah. Ia

harus mengurus dispensasi ke Pengadilan Agama karena usianya belum mencapai

batas usia minimal.

Pernikahan dini sebetulnya juga telah terjadi pada zaman Rasulullah saw.

Pada waktu itu Rasulullah sendiri yang melangsungkan pernikahannya dengan

seorang gadis kecil berusia 12 tahun bernama Aisyah. Aisyah adalah seorang putri

dari sahabat Abu Bakar al Shiddiq. Rasulullah menikahi Aisyah bukanlah

semata-mata untuk memenuhi hawa nafsunya, akan tetapi itu adalah perintah Allah swt,

sebagaimana dalam hadis riwayat al Bukhari:

Dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Aku melihat dirimu dalam

mimpiku dua kali. Seorang laki-laki membawamu dalam kelambu sutra dan

berkata, “Inilah istrimu”. Aku menyingkapnya dan ternyata itu adalah engkau.

Maka aku berkata, “Jika ini berasal dari Allah niscaya Dia akan melangsungkannya.”6

(14)

5

Dalam riwayat At Tirmidzi disebutkan bahwa seorang laki-laki yang

datang kepada Nabi saw dengan membawa gambar Aisyah adalah malaikat Jibril.7

Sebagaimana yang diketahui bahwa malaikat Jibril bertugas menyampaikan

wahyu dari Allah kepada Nabi saw. Ini artinya bahwa mimpi tersebut merupakan

perintah Allah kepada Nabi untuk menikahi Aisyah.

Alquran sebagai pedoman hidup umat Islam, pastinya tidak lengah dari

pembahasan yang seperti itu. Islam sangat memperhatikan pernikahan. Mulai dari

syarat sahnya hingga hukum pernikahan seorang muslim dengan wanita

non-muslim atau sebaliknya. Tidak terkecuali mengenai pernikahan dini ini.

Dalam memahami Alquran yang s{a>lih li kulli zama>nin wa maka>nin,

tentunya tidak sekadar mengikuti pendapat atau tradisi lama tanpa suatu dasar.

Manusia abad ke-20 serta generasi berikutnya dituntut pula untuk memahami

Alquran sebagaimana tuntutan yang pernah ditujukan kepada masyarakat yang

menyaksikan turunnya Alquran.8

Alquran turun secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, tiga

belas tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah.9 Salah satu hikmah

diturunkannya berangsur-angsur yaitu untuk kesesuaian ayat dengan

peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum.10 Dengan begitu, ketika

berbeda masa dan tempat turunnya tentu berbeda pula ayat yang turun. Seperti

halnya larangan minum khamr yang awal turunnya yang menjelaskan bahwa

7

Ibid., 65. 8

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), 76-77.

9Manna’ Khali>l al Qat{t>a>n, Maba>h{i>th fi> ‘ulu>mi al Qur’a>n, terj. Mudzakir AS, (Bogor: Litera AntarNusa, 2013), 154.

(15)

6

madharatnya lebih besar daripada manfaatnya, kemudian larangan shalat dalam

keadaan mabuk, hingga akhirnya turun ayat yang menyatakan bahwa khamr itu

haram. Begitu pula dengan ayat pernikahan dini yang tidak hanya sekali dibahas

dalam Alquran.

Banyak kata yang digunakan untuk mengistilahkan anak usia dini.

Seperti halnya dalam ilmu fiqh dijelaskan bahwa batas seseorang dikatakan

dewasa yaitu ketika sudah mengalami menstruasi (bagi perempuan) dan

mengalami mimpi basah (bagi laki-laki). Sebagaimana dalam Alquran disebutkan

dengan lafal al la<’i> lam yah{id{na yang artinya “perempuan-perempuan yang

tidak/belum haid”.11

Selain itu dalam hukum islam terdapat kewajiban untuk menjaga harta

anak yatim dan memberikannya kembali ketika ia sudah dewasa. Anak yatim

ialah setiap anak yang ayahnya telah meninggal dunia dalam keadaan masih kecil

(belum mencapai usia dewasa/ baligh). Hal ini dikarenakan seorang anak yang

belum dewasa, masih dianggap lemah (mustad{‘afi>na mina al wilda>ni) dalam

pengelolaan hartanya sendiri dengan baik. Dalam Alquran telah dijelaskan aturan

memberlakukan harta anak yatim yang dinikahinya. Hal ini mengindikasikan

bahwa adanya kebolehan menikahi seorang anak yang belum mencapai dewasa.12

Dalam penelitian ini, penulis akan menelusuri konsep makna

istilah-istilah tersebut untuk menjelaskan pernikahan dini dan pendapat-pendapat para

ahli terkait makna istilah tersebut.

11

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid 10, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), 181.

12

(16)

7

Seiring perkembangan penafsiran, tentunya banyak sekali perbedaan

penafsiran, baik dari segi corak maupun kontekstualitas yang melatar belakangi

penafsiran ulama klasik hingga kontemporer. Sehingga dalam penelitian ini

penulis menghimpun pendapat-pendapat ulama dari berbagai sudut pandang. Hal

ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang jelas terkait pernikahan

dini dalam Alquran.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi

berbagai masalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan pernikahan dini?

2. Berapa batas usia minimal menikah?

3. Apa dampak dari pernikahan dini?

4. Bagaimana pernikahan dini menurut perspektif psikologi dan kesehatan?

5. Bagaimana budaya pernikahan dini yang ada di Indonesia?

6. Bagaimana Alquran membahas mengenai pernikahan dini?

7. Bagaimana mufassir menafsirkan ayat-ayat mengenai pernikahan dini?

8. Bagiamana hukum Indonesia menanggapi kasus pernikahan dini?

9. Bagaimana relevansi penafsiran ayat dengan kasus Alvin Faiz dan Larissa

Chou?

Banyak masalah yang dapat ditemukan dari latar belakang di atas. Oleh

(17)

8

hanya mengenai penafsiran Alquran dan relevansinya terhadap kasus Alvin Faiz

dan Larissa Chou.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka permasalahan

dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pandangan Alquran terhadap pernikahan dini?

2. Bagaimana ketentuan pernikahan dini dalam hukum Indonesia?

3. Bagaimana kontekstualisasi penafsiran ayat terhadap kasus Alvin Faiz dan

Larisa Chou?

D. Tujuan Penelitian

1. Menganalisa bagaimana Allah SWT menjelaskan dalam Alquran tentang

pernikahan dini

2. Menganalisa ketentuan pernikahan dini yang berlaku dalam Hukum Indonesia

3. Memaparkan kontekstualisasi penafsiran ayat dengan kasus Alvin Faiz dan

Larisa Chou.

E. Kegunaan Penelitian

Dalam sebuah penelitian, sudah seyogyanya penelitian tersebut

memberikan sumbangsih yang berguna untuk penelitian yang selanjutnya.

Adapun kegunaan penelitian ini dapat berupa kegunaan teoritis dan kegunaan

(18)

9

1. Kegunaan Teoritis

Sumbangan wacana ilmiah kepada dunia pendidikan, khusunya

pendidikan Islam dalam rangka memperkaya khazanah keilmuan tentang

kajian tematik penafsiran ayat pernikahan dini.

2. Kegunaan Praktis

Motivasi dan sumbangan gagasan kepada penelitian selanjutnya yang

akan meneliti penelitian yang serupa berhubungan pernikahan dini.

F. Telaah Pustaka

Pembahasan mengenai penikahan dini telah banyak dibahas oleh

ilmuan-ilmuan fiqh dan sains dengan berbagai sudut pandang. Adapun referensi yang

relevan dan menjadi telaah penelitian sebelumnya, sebagai berikut:

1. Dalam skripsi yang berjudul “Pernikahan Dini dan Pengaruhnya Terhadap

Keharmonisan Keluarga (Studi Hukum Islam Terhadap Pandangan Kiai-Kiai

Pondok Pesantren Al Fatah Banjarnegara)” oleh Nurul Hasanah Fakultas

Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakartamenyimpulkan bahwa

ada beberapa pendapat mengenai definisi pernikahan dini, antara lain:

pernikahan dini yaitu pernikahan yang dilakukan oleh perempuan di bawah

usia 16 tahun dan laki-laki di bawah usia 19 tahun, menikah pada usia

produktif mencari ilmu atau masih menggantungkan kepada orang tua dan di

bawah usia 20 tahun. Adapun pengaruh pernikahan dini terhadap

keharmonisan dalam keluarga, yakni keharmonisan bisa dicapai apabila

(19)

10

2. Dalam skripsi berjudul “Tinjauan Hukum Islam terhadap Urgensi Pernikahan

Dini di Desa Labuhan Kecamatan Kreseh Kabupaten Sampang” oleh Alfian

Farisi Prodi Ahwalus Syakhsiyah Jurusan Hukum Islam Fakultas Syariah dan

Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya menjelaskan bahwa urgensi pernikahan

dini adalah sanksi hukum yang diberikan kepada orang yang melanggar

aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Desa Labuhan, sebagai solusi hukum

untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, menjaga

kehormatan masyarakat desa, dan untuk menghindari fitnah.

3. Dalam skripsi berjudul “Studi Komparatif Pemikiran Husein Muhammad dan

Siti Musdah Mulia tentang Pernikahan Dini” oleh Syamsul Arifin

menjelaskan bahwa keduanya sama-sama menolak adanya pernikahan dini.

Namun masing-masing mempunyai landasan berpikir yang berbeda. Jika

Husein Muhammad menolak pernikahan dini menggunakan landasan

argumen-argumen kitab fiqh klasik dengan mempertimbangkan ada tidaknya

resiko di dalamnya, Siti Musdah lebih mengedepankan HAM untuk menolak

pernikahan dini. Menurutnya, terjadinya pernikahan dini dapat memutus

pendidikan anak dan perlakuan tidak sama khususnya terhadap perempuan.

4. Moh. Ilyas memaparkan dalam skripsinya yang berjudul “Pernikahan Dini

dalam Al-Qur’an: Telaah Atas Penafsiran Lafad Wa al-La<’i> Lam Yah}id}n

surat At T{ala>q ayat 4 Dalam Kitab Ja>mi’ al-Baya>n ‘An Ta’wi>l ‘Ay

Al-Qur’a>n Li Ibn Jari>r al T}abari>” prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas

Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, bahwasannya pada

(20)

11

Alquran yang didasarkan pada penafsiran Ibn Jari>r Al T}abari> terhadap lafad

lam yah{id{n dengan perempuan-perempuan yang belum dewasa.

5. Selain dari beberapa skripsi di atas, ditemukan pula artikel berjudul “Fiqh

Reproduksi Perempuan: Tinjauan Terhadap Aborsi dan Pernikahan Dini”

yang dimuat dalam jurnal oleh Rusli menyatakan bahwa pernikahan dini yang

bermuara pada efek fisik dan psikis yang serius adalah terlarang berdasar

prinsip sad al dhari’ah.

Dari beberapa penelitian yang telah ditelusuri, maka penulis tertarik untuk

meneliti permasalahan-permasalahan pernikahan dini dari segala aspek dalam

Alquran dengan bentuk penafsiran secara analisis. Dengan menjelaskan penafsiran

ayat secara rinci, kemudian dibahas dan dianalisis tentang pernikahan dini

menurut beberapa penafsiran dari para mufassir mulai dari klasik sampai modern

dan kontemporer. Maksud dan tujuan memilih judul ini adalah untuk menambah

wawasan penulis, khususnya dalam menampilkan beberapa penafsiran mengenai

pernikahan dini serta kontekstualitasnya terhadap lingkungan Indonesia masa kini.

G. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Kajian penelitian ini berdasarkan atas kajian pustaka atau literatur atau

disebut dengan kajian pustaka (library research), yaitu penelitian yang

berusaha menghimpun data dari khazanah literatur berupa kitab-kitab,

buku-buku kepustakaan, karya-karya tulis atau data-data lain dalam bentuk

(21)

12

2. Metode Penelitian

Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dengan

metode kualitatif. Metode ini disebut sebagai metode artistik karena proses

penelitiannya bersifat seni (kurang terpola). Disebut juga metode

interpretative karena data hasil penelitiaanya lebih berkenaan dengan

interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Selain itu juga sering

disebut sebagai metode naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada

kondisi yang alamiah.13

3. Sumber Penelitian

Data penelitian ini menggunakan data kualitatif yang dinyatakan

dalam bentuk kata atau kalimat.14 Ada dua jenis data yaitu data primer dan

sekunder. Data primer adalah rujukan utama yang digunakan dalam

penelitian. Adapun sumber data primer yang dipakai adalah beberapa kitab

tafsir untuk menafsirkan data materi dari berbagai aspek, mulai tafsir klasik

hingga kontemporer. Beberapa kitab tafsir tersebut, antara lain yaitu:

1. Kitab Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az}i>m karya Ibnu Kathi>r. Tafsir ini merupakan

salah satu kitab tafsir dengan corak bi al ma’thu>r, yaitu menafsirkan

dengan menggunakan ayat-ayat yang lain serta riwayat dari Nabi saw

dan sahabat. Ibnu Kathi>r lebih banyak mencantumkan hadis-hadis

13

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), 7-8.

14

(22)

13

sebagai penguat argumentasinya. Tidak jarang juga ia memberikan

penjelasan mengenai kes}ah}ihan hadis tersebut.

2. Tafsir al Muni>r karya Wahbah al Zuh}ailiy. Tafsir ini disusun secara rapi

mulai dari ayat, makna mufrodat, asb>ab al nuzu>l, tafsi>r dan

penjelasannya, serta hikmah yang bisa diambil dalam ayat tersebut.

3. Tafsir al Mishbah: Pesan , Kesan, dan Keserasian al Qur’an karya M.

Quraish Shihab. Tafsir ini menggunakan metode tah}li>li dengan corak

adabi ijtima>’i, yaitu penafsiran yang cenderung pada persoalan

kemasyarakatan dan mengutamakan keindahan gaya bahasa.

4. Tafsir al Mara>ghi> karya Ah}mad Mus}t}afa> al Mara>ghi yang merupakan

salah satu tafsir dengan metode tah}lili> yang mencakup penjelasan secara

ma’thu>r dan ra’yi.

5. Tafsir Mafa>tih} al Ghaib karya Fakhruddin al Ra>zi> merupakan tafsir

dengan metode tah}lili> bi al ra’yi yang bercorak lughawi/ijtima’i.

Sedangkan sumber sekundernya adalah buku-buku tentang

pernikahan, perkembangan psikologi, dokumentasi-dokumentasi mengenai

Alvin Faiz dan Larissa Chou, dan buku-buku serta jurnal-jurnal yang relevan

dengan pembahasan yang diteliti.

4. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penulisan skripsi ini adalah dengan

menggunakan metode dokumentasi. Dokumen merupakan catatan perisitiwa

(23)

14

monumental dari seseorang.15 Penulis mencari data mengenai hal-hal atau

variabel berupa catatan, buku, kitab dan lain sebagainya yang berkaitan

dengan kebutuhan materi tersebut. Melalui metode dokumentasi, diperoleh

data yang berkaitan dengan penelitian berdasarkan konsep-konsep kerangka

penulisan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis

data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan

lain, dengan cara mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam

unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang

penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat

diceritakan kepada orang lain.16

Adapun teknik yang dipakai dalam penelitian ini adalah content

analysis atau teknik analisis isi. Teknik ini merupakan analisis ilmiah tentang

isi pesan atau komunikasi yang ada, terkait dengan data-data, kemudian

dianalisis sesuai dengan materi yang dibahas.17 Dalam hal ini, penulis

menguunakan kajian sejarah dan sosial untuk memahami kondisi obyektif

dan kasus pernikahan dini pada masa turunnya Alquran.

15

Sugiyono, Metode Penelitian, 240. 16

Ibid., 244. 17

(24)

15

H. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan, skripsi ini dibagi menjadi empat bab

sebagai berikut:

Bab I : Menjelaskan Pendahuluan yang meliputi Latar Belakang, Identifikasi

Masalah dan Pembatasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan

Kegunaan Penelitian, Landasan Teori, Kajian Pustaka, Metode

Penelitian, Sistematika Pembahasan, dan Outline.

Bab II : Menjelaskan tentang landasan teori meliputi metode tafsir dalam

memahami ayat yang diteliti, definisi pernikahan dini, Hukum

Perkawinan Indonesia, faktor adanya pernikahan dini, budaya

pernikahan dini di Indonesia dan dampaknya, dan pernikahan dini

ditinjau dari perspektif psikologi.

Bab III : Memaparkan pendapat-pendapat mufassir terhadap ayat-ayat

pernikahan dini beserta analisis penulis terkait penafsiran yang ada,

memaparkan ketentuan hukum Indonesia mengenai pernikahan dini,

yang selanjutnya dikontekstualisasikan dengan kasus pernikahan dini

Alvin Faiz dan Larissa Chou.

Bab IV : Menjelaskan penutup, yang meliputi kesimpulan dari keseluruhan

pembahasan dan saran untuk penelitian selanjutnya demi

(25)

BAB II

TINJAUAN UMUM

A.Tafsir Maud}u>’i>

Ada dua macam bentuk kajian tafsir maud}u>’i, antara lain yang pertama

yakni pembahasan mengenai satu surat secara menyeluruh dan utuh dengan

menjelaskan maksudnya yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi

antara berbagai masalah yang dikandungnya, sehingga surat itu tampak dalam

bentuknya yang betul-betul utuh dan cermat. Sedangkan yang kedua adalah

menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surat yang sama-sama membicarakan

satu masalah tertentu, ayat-ayat tersebut disusun sedemikian rupa dan diletakkan

di bawah satu tema bahasan, dan selanjutnya ditafsirkan secara maud}u>’i.1

1. Pengertian Tafsir Maud}u>’i>

Adapun pengertiannya, ulama zaman sekarang lebih cenderung pada

bentuk kajian yang kedua, yaitu membahas ayat-ayat Alquran sesuai dengan

tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan dihimpun

dan dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek, yakni asba>b al nuzu>l, kosakata, dan sebagainya serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta

yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen itu berasal

dari Alquran, hadis, maupun pemikiran rasional.2

1Abd. al Hayy al Farmawi, Al Bida>yah fi> al Tafsi>r al Maud}u’i>, Terj. Suryan A. Jamrah

(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994), 35-36.

2Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

(26)

17

Menurut Abd. al Hayy al Farmawi, Dr. Ali Khalil sebenarnya telah

menunjukkan benih dan bibit pertama dari kajian metode tafsir maud}u>’i ini.

Hal ini berdasarkan kesimpulannya mengenai komentar Dr. Ali Khalil tentang

penafsiran Rasulullah terhadap kata z}ulmun dengan makna shirkun pada ayat

lain. Ia menegaskan bahwa Rasulullah memberi pelajaran kepada para sahabat

bahwa tindakan menghimpun sejumlah ayat mushtabiha>t itu dapat

memperjelas pokok masalah dan akan melenyapkan keraguan atau kerancuan.3

Langkah-langkah yang perlu ditempuh oleh mufassir dalam

menerapkan metode ini ialah dengan menghimpun ayat-ayat yang mengandung

makna setema sesuai kronologis turunnya ayat tersebut. Hal ini diperlukan

untuk mengetahui kemungkinan adanya ayat yang na>sikh maupun yang mansu>kh. Setelah itu menelusuri latar belakang turunnya ayat-ayat yang telah

dihimpun agar dapat diketahui situasi dan kondisi ayat tersebut turun.

Kemudian meneliti dengan cermat semua kata atau kalimat yang dipakai dalam

ayat tersebut, terutama kosakata yang menjadi pokok permasalahan dalam ayat

itu. Penelitian ini meliputi semua aspek yang berkaitan dengannya, seperti

bahasa, budaya, sejarah, muna>sabah, pemakaian kata ganti (d}ami>r), dan

sebagainya.4

Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan

cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung arti serupa, mengkompromikan

antara pengertian ‘a>m dan kha>s}, antara mut}laq dan muqayyad, mensingkronkan

3al Farmawi, Al Bida>yah fi> al Tafsi>r, 38. 4

(27)

18

ayat-ayat yang lahirnya terlihat kontradiktif, menjelaskan ayat na>sikh dan mansu>kh, sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa

perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap sebagian ayat

kepada makna yang kurang tepat.5

Adapun beberapa tafsir yang hampir mendekati kajian metode

maud}u’i anatara lain ialah: kitab al Baya>n fi> Aqsa>m al Qur’a>n karya Ibn

Qayyim, Maja>z al Qur’a>n karya Abu ‘Ubaidah, Mufrada>t al Qur’a>n karya al

Raghi>b al Asfahani, Ah}ka>m al Qur’a>n karya al Jas}s}a>s}, dan masih banyak yang

lainnya.

2. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Metode Maud}u>’i

Dari semua usaha dalam metode maudhu>’i ini, tentunya tidak terlepas

dari kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari metode ini adalah

sebagai berikut6:

a. Menjawab tantangan zaman. Karena hanya ini satu-satunya metode yang

mengkaji semua ayat Alquran yang berbicara tentang kasus yang sedang

dibahas secara tuntas dari berbagi aspeknya.

b. Selain itu, dengan menggunakan metode ini seseorang akan lebih mudah

mendapatkan jawaban permasalahannyan secara efektif dan efisien. Karena

metode disusun secara praktis dan sistematis dalam memcahkan

permasalahan yang timbul, sehingga kondisi ini lebih cocok dengan kondisi

5Ibid., 48.

(28)

19

umat dengan mobilitas tinggi yang seakan-akan tidak punya waktu untuk

membaca kitab-kitab tafsir yang besar.

c. Metode tematik membuat tafsir Alquran selalu dinamis sesuai dengan

tuntutan zaman sehingga menimbulkan

d. Membuat pemahaman ayat-ayat Alquran secara utuh, karena semua ayat

yang setema telah terhimpun dan dikaji seara tuntas.

Setelah memaparkan beberapa kelebihan metode maudhu>’i, bukan

berarti metode ini terlepas dari kekurangan. Berikut pemaparan kekurangan

dari metode ini antara lain7:

a. Memenggal ayat Alquran yang sebenarnya ayat tersebut mengandung

banyak pembahasan, namun dalam metode ini hanya diambil satu

pembahasan sesuai tema yang akan dibahas. Misalnya dalam ayat tersebut

terdapat pembahasan mengenai shalat dan zakat, namun karena tema yang

akan dibahas mengenai zakat sehingga pembhasan mengenai shalat perlu

diabaikan terlebih dahulu agar tidak menggganggu analisis.

b. Dengan ditetapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat

menjadi terbatas pada judul tersebut. Padahal tidak mustahil suatu ayat

dapat ditinjau dari berbagai aspek sehingga terkesan kurang luas

pemahamannya.

(29)

20

B.Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia

1. Pengertian Pernikahan Dini

Menikah merupakan salah satu ibadah yang penting dalam kehidupan.

Banyak sekali yang perlu dipersiapkan sebelum menikah, baik dari segi

mental, ekonomi, dan lain sebagainya. Namun, di samping itu terdapat istilah

pernikahan dini yang mempunyai konotasi negatif pada sebagian orang.

Adapun istilah pernikahan dini tersusun dari dua kata, yakni

pernikahan dan dini. Pernikahan berasal dari kata dasar nikah. Kata nikah

merupakan bentuk serapan dari bahasa arab al nika>h{ (

حاكنلا

) yang secara

bahasa berarti mengumpulkan, saling memasukkan, dan wathi’ atau

bersetubuh. Sedangkan dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan

perkawinan yang artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan

hubungan kelamin, atau bersetubuh.8

Selain itu ada pula yang mengartikan kata nikah sebagai akad,

sebagaimana dalam surat An Nisa’ ayat 22:



 

  

  

 

 



 

 

(30)

21

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh

ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu

Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).9

Dalam ayat tersebut mengandung arti bahwa perempuan yang telah

melangsungkan akad nikah dengan ayah itu haram dinikahi, meskipun di

antara keduanya belum melakukan hubungan kelamin.10

Golongan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa kata nikah itu berarti

akad dalam arti yang sebenarnya. Sedangkan golongan Hanafiyah berpendapat

bahwa kata nikah mengandung arti hubungan kelamin. Namun, sekiranya

golongan Hanabilah yang lebih moderat, dengan pendapatnya bahwa kata

nikah menunjukkan pada dua kemungkinan tersebut, yaitu akad dan hubungan

kelamin.11

Dr. Ahmad Ghandur sebagai salah satu ulama kontemporer

berpendapat mengenai definisi nikah adalah akad yang menimbulkan

kebolehan bergaul antara laki-laki dan perempuan dalamtuntutan naluri

kemanusiaan dalam kehidupan dan menjadikan untuk kedua pihak secara

timbal balik dalamhak-hak dan kewajiban.12

Menurut Bachtiar (2004) pernikahan adalah pintu bagi bertemunya

dua hati dalam naungan pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka

9Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Sygma Examedia Arkanleema), 81.

10Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan

Undang-Undang Perkawinan (Jakarta: Kencana, 2011), 36. 11Ibid., 37.

(31)

22

waktu yang lama, yang di dakamnya terdapat berbagai hak dan kewajiban

yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk mendapatkan

kehidupan yang layak, bahagia, harmonis, serta mendapat keturunan.

Pernikahan itu merupakan ikatan yang kuat yang didasari oleh perasaan cinta

yang sangat mendalam dari masing-masing pihak untuk hidup bergaul guna

memelihara kelangsungan manusia di bumi.

Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang

Perkawinan, bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang

pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk suatu

ikatan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan

Ketuhanan Yang Maha Esa.13

Menurut Kompilasi Hukum Islam Bab II Pasal 2 disebutkan bahwa

perkawinan dalam hukum Islam adalah pernikahahan, yaitu akad yang sangat

kuat atau mi>t}a>qan g}ali>z}an untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya

merupakan ibadah.14

Walaupun ada bebrbagai definisi yang dikemukaan oleh para pakar,

namun ada satu unsur yang merupakan kesamaan bahwa perkawinan

merupakan suatu perjanjian antara laki-laki dan perempuan dalam

kekeluargaan.15

13Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan

Kompilasi Hukum Islam (Bandung: Citra Umbara, 2007), 2. 14Ibid., 228.

15Paul Scholten dalam Djaya S. Meliala, Masalah Perkawinan Antar Agama dan

(32)

23

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dini berarti sebelum

waktunya. Seseorang dikatakan masih mencapai usia dini yaitu ketika ia

belum mencapai usia dewasa, atau bisa disebut dengan istilah anak. Anak

adalah seseorang yang terbentuk sejak masa konsepsi hingga akhir remaja.

Dalam UU Pemilu No. 10 Tahun 2008 pasal 19 ayat 1 dijelaskan bahwa batas

seseorang dikatakan sebagai anak yaitu hingga usia 17 tahun.16

Para ahli mendefinisikan istilah pernikahan dini dengan sudut

pandang yang berbeda-beda. Pernikahan dini menurut Islam sendiri adalah

pernikahan yang dilakukan sebelum usia baligh. Karena dalam Alquran telah

menentukan batas waktu minimal diperbolehkannya menikah yaitu ketika

sudah baligh.

Menurut Najlah Naqiyah, pernikahan dini adalah pernikahan yang

dilakukan oleh pasangan muda mudi di bawah usia 16 tahun. Lebih dari itu

Nukman menambahkan bahwa pernikahan dini adalah pernikahan yang

dilakukan di bawah usia yang seharusnya serta belum siap dan matang untuk

melaksanakan dan menjalani kehidupan rumah tangga.17

Sedangkan menurut pemahaman penduduk Indonesia, pernikahan dini

adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang belum mencapai batas

usia minimal yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang.

16Eddy Fadlyana dan Shinta Larasaty, “Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya”, Sari

Pedlatri, Vol. 11 No. 2 (Agustus, 2009), 137.

17Definisi Menurut Para Ahli, “Pengertian Pernikahan Dini”,

(33)

24

2. Tujuan dan Syarat Pernikahan

Secara sepintas, kebanyakan orang memahami tujuan perkawinan

sebagai pemenuhan kebutuhan seks, dalam hal ini tujuan utamanya yaitu

reproduksi. Dalam surat Al Baqarah ayat 187 Allah menjelaskan:

                                                                                                                     

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.18

Berhubungan seks bukanlah sesuatu yang kotor atau najis sehingga

perlu dihindari, karena tidak mungkin Allah memerintahkan dalam

hukum-hukum yang berkaitan dengan seks. Berhubungan seks merupakan sesuatu

yang bersih, sehingga harus dimulai dan dilakukan dalam suasana suci nan

(34)

25

bersih, karenanya Rasulullah saw mengajarkan umatnya untuk berdoa sebelum

melakukan hubungan tersebut.19

Namun, bukan hanya itu saja tujuan pernikahan. Ada perbedaan

ketika Allah membahas perkawinan makhluknya secara umum dengan

perkawinan yang dilakukan oleh makhluknya yang berakal, yaitu manusia.20

Sebagaimana dalam surat Al Shu>ra> ayat 11:

                                   

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.21

Ayat tersebut menjelaskan bahwasannya manusia diciptakan

berpasang-pasangan, begitu pula binatang. Namun ayat tersebut tidak

menjelaskan adanya mawaddah dan rahmah (cinta dan kasih) sebagaimana

yang dijelaskan pada surat Ar Ru>m ayat 21 mengenai pernikahan manusia22:

                                

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.

19M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1998), 211.

20Ibid., 212.

(35)

26

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.23

Cinta kasih yang Allah anugerahkan kepada sepasang suami istri

adalah untuk satu tugas yang berat tetapi mulia. Bahkan malaikat pun ingin

sekali mengemban tugas tersebut. Tugas tersebut tidak lain yaitu membangun

peradaban dengan menjadi khalifah di muka bumi ini.

Selain itu menikah juga merupakan salah satu media umat Islam

untuk berdakwah. Seorang laki-laki muslim diperbolehkan menikahi

perempuan kristiani, katolik, maupun hindu. Namun, seorang muslimah tidak

diperbolehkan. Hal ini karena pada umumnya laki-laki itu lebih kuat

pendiriannya.24

Untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya ada beberapa syarat yang

perlu dipenuhi25, antara lain:

a. Jelas identitas kedua calon mempelai, baik menyangkut nama, jenis

kelamin, keberadaan, dan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan

keduanya.

b. Keduanya sama-sama beragama Islam

c. Antara keduanya tidak terlarang melangsungkan perkawinan. Larangan

perkawinan yang dimaksud adalah oarng-orang yang dilarang melakukan

perkawinan, misalnya karena ada hubungan kekerabatan, hubungan

mushaharah, dan lain-lain.

23Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 406.

(36)

27

d. Kedua belah pihak telah setuju untuk menikah dan setuju pula dengan

siapa dia akan menikah. Dalam hadis Nabi dijelaskan:

َاَو َرَمْأَتْسُت ىََح ُمَِّأا ُحَكْنُ ت َا

اَهُ نْذمإ َفْيَكَو مىَا َلوُسَر اَي اوُلاَق .َنَذْأَتْسُت ىََح ُرْكمبْلا ُحَكْنُ ت

َتُكْسَت ْنَأ َلاَق

Perempuan yang sudah janda tidak boleh dikawinkan kecuali setelah ia minta dikawinkan dan perempuan yang masih perawan tidak boleh dikawinkan setelah ia dimintai izin. Mereka berkata: Ya Rasulullah, bagaimana bentuk izinnya? Nabi menjawab: Izinnya adalah diamnya.

e. Keduanya telah mencapai usia yang layak untuk melangsungkan

perkawinan. Tentang batas usia perkawinan ini memang tidak dibicarakan

dalam kitab-kitab fiqh. Bahkan dalam kitab-kitab fiqh memperbolehkan

perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masih kecil.

f. Tidak dalam ikatan perkawinan dengan orang lain.

g. Suami istri yang telah cerai kawin lagi satu sama lain dan bercerai lagi

untuk yang kedua kalinya, maka di antara mereka tidak boleh

dilangsungkan perkawinan lagi.26

3. Hukum Perkawinan Indonesia

Secara umum, salah satu syarat pernikahan dalam Islam adalah

berakal dan ba>ligh. Namun dengan beberapa pertimbangan dalam negara

masing-masing, menuntut suatu negara untuk membuat kebijakan-kebijakan

baru yang tertera dalam Undang-Undang.

Berbeda negara berbeda pula kebijakan hukumnya. Jika Undang

Undang Turki tahun 1972, umur minimal seseorang yang akan menikah

26Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan

(37)

28

adalah 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan27, berbeda dengan

Undang-Undang Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang

menjelaskan batas usia minimal seseorang untuk menikah adalah 19 tahun

untuk laki-laki dan 16 tahun perempuan. Namun hal itu saja belum cukup,

dalam implementasinya ada beberapa yang harus dipenuhi oleh calon

pengantin, yaitu dalam Peraturan Menteri Agama No. 11 Tahun 2007 tentang

Pencatatan Nikah Bab 4 No 7 yang memaparkan bahwa apabila calon

mempelai belum mencapai usia 21, maka harus mendapat ijin tertulis kedua

orangtua.28

Penentuan batasan minimal usia menikah dalam Undang Undang

menyebutkan alasan dan tujuan diaturnya pembatasan ini secara otentik pada

pasal 7 ayat 1. Alasan tersebut berkenaan dengan kepentingan yang

bersangkutan dan kepentingan nasional yaitu pentingnya kedewasaan yang

disebut dengan masak jiwa dan raga dalam perkawinan dan kecenderungan

tingginya angka kelahiran nasional yang diakibatkan oleh perkawinan di

bawah umur. Alasan tersebut berimplikasi pada maksud dan tujuan penetapan

aturan pembatasan usia minimal untuk menikah yaitu mewujudkan

perkawinan yang baik dan kekal, menjaga kesehatan suami istri, dan mendapat

27HM Atho’ Muzdhar dan Khairuddin Nasution, Hukum Keluarga di Dunia Islam

Modern (Jakarta: Ciputat Press, 2003), 36.

28Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan

(38)

29

keturunan yang baik dan sehat serta menekan lajunya angka kelahiran

nasional.29

Namun, pemerintah tidak begitu juga menolak mentah-mentah untuk

masyarakat yang akan melangsungkan pernikahan di luar ketentuan usia

tersebut. Seorang calon suami yang belum mencapai usia 19 tahun dan calon

istri belum mencapai usia 16 tahun harus mendapatkan dispensasi nikah dari

Pengadilan Agama untuk bisa melangsungkan pernikahan yang sah menurut

undang-undang. Setelah diperiksa dalam persidangan dan diyakini terdapat

hal-hal yang memungkinkan untuk diberikan dispensasi, maka Pengadilan

Agama akan memberikan suatu penetapan untuk memenuhi persyaratan

melangsungkan pernikahan.30

Dalam mempertimbangkannya, hakim memutuskan memberikan

dispensasi berdasarkan hukum Islam yakni menolak bahaya didahulukan atas

mendatangkan kebaikan. Dan bahaya harus dihilangkan yang pada dasarnya

setiap manusia tidak diizinkan mengadakan suatu yang membahayakan, baik

berat maupun ringan terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Pada prinsipnya, kemadharatan harus dihilangkan. Dalam menghilangkan

kemadharatan tersebut, tidak boleh sampai ada kemadharatan lain yang

muncul. Namun, jika kemadharatan tersebut tidak dapat dihilangkan kecuali

dengan menimbulkan kemadharatan yang lain, maka harus memilih madharat

29Salmah Fa’atin, “Tinjauan Terhadap Batas Minimal Usia Nikah Dalam UU No. 1/ 1974

dengan Multiperspektif”, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Yudisia, Vol. 6 No. 2 (Desember, 2015), 437.

30Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari Undang-Undang

(39)

30

yang relatif lebih ringan yang telah terjadi. Menurut persepsi

hakim.madharatnya adalah ditakutkan bial tidak dinikahkan akan menambah

dosa dan terjadi perkawinan di bawah tangan yang akan mengacaukan

proses-proses hukumyang akan terjadi berikutnya atau mengacaukan hak-hak hukum

anak yang dilahirkannya menurut undang-undang. 31

4. Budaya Pernikahan Dini di Indonesia dan Dampaknya

Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa budaya pernikahan dini yang dalam

tiga puluh tahun terakhir telah berkurang, namun pada kenyataannya masih

banyak dilakukan di sejumlah daerah terpencil. Walaupun Deklarasi Hak

Asasi Manusia tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan dini, namun

ironisnya praktik pernikahan dini masih banyak berlangsung di seluruh

belahan dunia, termasuk Indonesia.32

Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta

penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun dengan berbagai

faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan dini

di Indonesia adalah sebagai berikut33:

a. Budaya perjodohan yang masih melekat kuat pada masyarakat adalah

salah satu faktor terjadinya pernikahan dini. Bahkan mereka lebih memilih

menjadi janda daripada perawan tua.

31Sri Ahyani, “Pertimbangan Pengadilan Agama Atas Dispensasi Pernikahan Usia Dini

Akibat Kehamilan di Luar Nikah”, Wawasan Hukum,Vol. 34 No. 1 (Februari, 2016), 42-43.

32Mariyatul Qibtiyah, “Faktor yang Mempengaruhi Perkawinan Muda Perempuan” (Skripsi tidak diterbitkan, Departemen Biostatistika dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, 2015), 50.

(40)

31

b. Sebagian besar anak yang menikah di usia dini adalah hasil paksaan orang

tua yang tidak ingin menanggung lebih besar beban ekonomi, termasuk

biaya pendidikan yang semakin mahal. Hal ini sering terjadi di tengah

masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

c. Sesuai laporan eksekutif kesehatan Jawa Timur tahun yang menyebutkan

bahwa 67,82 % dari seluruh perempuan yang menikah di bawah suia 17

tahun adalah yang bertempat tinggal di pedesaan.

d. Semakin rendah jenjang pendidikan yang ditempuh, maka semakin besar

pula kemungkinan untuk menikah di usia yang lebih cepat. Hal ini terjadi

karena motivasi belajar seseorang akan berkurang karena banyaknya tugas

yang dilakukan seusai menikah.

Adanya kebijakan untuk meminimalisir pernikahan dini, tentunya ada

dampak yang menjadi sebab perlunya tindakan kebijakan tersebut. Berikut

beberapa dampak yang ditimbulkan karena adanya praktik pernikahan dini:

a. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Walgito dalam bukunya berjudul

Bimbingan Konseling Islam bahwa perkawinan yang masih terlalu muda

banyak mengundang masalah yang tidak diharapkan karena segi

psikologisnya belum matang seperti cemas dan stress.34

b. Ada beberapa keinginan yang ingin dicapai namun terhalang karena status

pernikahan, seperti kerja dan kuliah.

(41)

32

c. Menurut beberapa penelitian para ahli, rata-rata penderita infeksi

kandungan dan kanker mulut rahim adalah wanita yang hamil di bawah

usia 19 tahun. Karena terjadinya peralihan sel anak-anak ke sel dewasa

yang terlalu cepat.35

Walaupun begitu, ada beberapa dampak positif yang ditimbulkan

karena adanya pernikahan dini, di antaranya:

a. Meringankan beban biaya orang tua.

b. Melatih mental seseorang untuk lebih cepat dewasa. Karena dengan

menikah seseorang akan dituntut untuk lebih bertanggungjawab.

c. Menghindarkan anak dari perbuatan maksiat, seperti pacaran.

Sebagaimana dalam skripsi Alfian Farisi yang memaparkan hasil

penelitiannya mengenai pentingnya pernikahan di desa Labuhan bahwa

dengan pernikahan dini dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak

diinginkan sehingga dapat menjaga kehormatan keluarga.36

5. Pernikahan Dini Perspektif Psikologi

Menurut ahli psikologi, masa kehidupan itu dibagi menjadi 4 masa

yaitu masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua (menopause).

Masa persiapan seorang anak menjadi seorang individu dewasa adalah masa

remaja. Masa remaja adalah masa dimana seorang anak telah berkembang

35Riska Afriani dan Mufdlilah, “Analisis Dampak Pernikahan Dini PadaRemaja Putri di

Desa Sidoluhur Kecamatan Godean Yogyakarta”, dalam Rakernas Aipkema 2016 (Yogyakarta: Universitas Aisyiyah Yogyakarta, 2016), 237-239.

36Alfian Farisi, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Urgensi Pernikahan Dini di Desa

Labuhan Kecamatan Kreseh Kabupaten Sampang” (Skripsi tidak diterbitkan, Jurusan

(42)

33

fisik maupun psikisnya dengan mengalami pubertas. Adapun batasan usia

remaja Indonesia menurut Singgih D. Gunarsa berkisar antara usia 12 – 22

tahun.37

Di sepanjang rentang masa remaja tersebut, para ahli membagi masa

tersebut menjadi tiga yaitu masa remaja awal, remaja tengah, dan remaja

akhir. Masa remaja yang paling mendekati kedewasaan adalah masa remaja

akhir. Pola sikap, pola perasaan, pola pikir, dan pola perilaku pada masa ini

sudah sangat berbeda dengan masa remaja awal. Masa remaja akhir ini

ditandai dengan meningkatnya kestabilan dalam aspek-aspek fisik dan psikis.

Seorang remaja akan lebih bisa mengadakan penyesuaian-penyesuaian dalam

banyak aspek kehidupannya dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.

Cara menghadapi masalah pun sudah terlihat berbeda. Jika pada masa remaja

awal mereka bersikap bingung dan berperilaku tidak efektif, namun pada

remaja akhir mereka cenderung lebih tenang, matang, dan realistis dalam

menghadapi masalah tersebut.38 Masa remaja akhir ini terpaut pada usia 18-22

tahun.39

Setelah seseorang mengalami masa remaja ini, barulah ia memasuki

masa dewasa. Pada masa ini, seseorang tidak lagi disebut sebagai masa

tanggung, tetapi sudah tergolong sebagai seorang pribadi yang benar-benar

dewasa. Penampilan fisiknya pun benar-benar telah matang sehingga siap

37Ny. Singgih D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, Psikologi Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 15-16.

(43)

34

untuk melakukan tugas-tugas seperti orang dewasa lainnya, misalnya bekerja,

menikah, dan mempunyai anak. Selain itu, menurut para ahli, kapasitas

kognitif dewasa muda ini tergolong masa operasional formal, bahkan

kadang-kadang mencapai masa post-operasi formal yang menyebabkan seorang

pribadi dewasa mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan

kapasitas berpikir abstrak, logis, dan rasional.40

Pernikahan dini sebagaimana yang dijelaskan pada subbab

sebelumnya, adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang yang belum

dewasa. Jika ditinjau dari segi psikologis, pernikahan ini dapat menghambat

proses belajar dan menimbulkan banyaknya perceraian karena kurang siapnya

mental dari kedua belah pihak.

Namun tidak dengan Muhammad Faudzil Adhim dalam bukunya

berjudul “Indahnya Pernikahan Dini” yang menjelaskan bahwa pernikahan

bukanlah penghambat untuk meraih prestasi yang lebih cemerlang. Usia bukan

ukuran dalam menentukan kesiapan mental dan kedewasaan seseorang.

Bahkan menikah merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kenakalan

remaja masa kini.41

Sebagaimana yang dikatakan Maslow, bahwasannya pernikahan yang

sebenarnya dimuali padasaat menikah. Pernikahan akan mematangkan

seseorang sekaligus memnuhi separuh dari kebutuhan-kebutuhan psikologis

40Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Dewasa Muda (Jakarta: Gramedia Widiasarana

Indonesia, 2003), 4-5.

(44)

35

manusia yang pada gilirannya akan menjadikan manusia mencapai puncak

pertumbuhan kepribadian yang mengesankan.42

42Bety, “Hubungan Pernikahan Dini dengan Perceraian (Studi Kasus Pengadilan Agama

(45)

BAB III

TELAAH TENTANG PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN

A. Penafsiran Ayat Alquran Tentang Pernikahan Dini

Dalam Alquran tidak ada ayat yang secara jelas membahas mengenai

pernikahan dini. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya,

bahwasannya pernikahan dini adalah istilah yang digunakan orang zaman

sekarang dalam menyebut pernikahan anak.

Sebelum membahas lebih dalam mengenai pernikahan dini dalam

Alquran, akan dibahas mengenai usia menikah sebagai tolok ukur batasan

minimal usia dianjurkannya untuk menikah. Dalam Alquran surat Al Nisa’ ayat 6:

                                                                   

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).1

1

(46)

37

Dalam kitab Anwa>ru al tanzi>l wa asra>ru al ta’wi>l li al Baid}awi,

dijelaskan bahwasannya seseorang dikatakan mencapai usia menikah apabila ia

telah mencapai usia dewasa dengan dialaminya ih}tila>m atau telah sempurna

mencapai usia 15 tahun. 2 Sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw:

ِ إِ ذ

ِ ساِا

ِ تِ ك

ِ مِ ل

ِِ لا

ِ وِ لِ د

ِ

ِ خ

ِ س

ِِ ع

ِ شِ ر

ِ ةِ

ِ سِ

ِ ةِِ

ِ كِ ت

ِ ب

ِِ م

ِ لِا

ِ هِِ و

ِ م

ِ عِا

ِ لِ يِ ه

ِِ و

ِ تميقأ

ِِ عِ ل

ِ يِ هِ

ِ لا

ِ دِ و

ِ د

Dalam hadis tersebut menjelaskan, bahwasannya seorang anak yang mencapai

usia 15 tahun, maka diwajibkan untuk menyeahkan hartanya dan menegakkan

hukum atasnya.

Al Ra>zi berpendapat bahwa menguji anak yatim ini dilakukan ketika

belum baligh. Ujian yang dilakukan ini berupa kecakapan seorang anak dalam

membelanjakan harta.3 Ketika ia telah dinilai cakap dalam hal tersebut, maka

dapat diindikasikan kesempurnaan akalnya. Kedewasaan akal adalah

sempurnanya akal dan kuatnya seseorang dalam hal perasaan dan tingkah

lakunya.4

Menurut Al Mara>ghi, bulu>ghu al nika>h{ adalah sampainya seseorang

pada usia yang siap untuk menikah dan dia dalam keadaan sudah mencapai

ih}tila>m.5

2Al Baid}a>wi, Anwa>ru al tanzi>l wa asra>ru al ta’wi>l li al baid}a>wi Juz 1 (Beirut: Da>r al Fikr, tt), 148.

3Fakhruddin Muh}ammad ibn ‘Umar al Tami>mi> al Ra>zi> al Sha>fi’i>, Al Tafsi>r al Kabi>r au Mafa>tih}u al Ghaib Juz 9 (Beirut: Da>r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2000), 153.

4Fakhruddin Muh}ammad ibn ‘Umar al Tami>mi> al Ra>zi> al Sha>fi’i>, Al Tafsi>r al Kabi>r au Mafa>tih}u al Ghaib Juz 20 (Beirut: Da>r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2000), 164.

(47)

38

Al Qurt}ubi> berpendapat bahwa balaghu al nika>h adalah h}ulm.

Sebagaimana dalam ayat

ِ م ل لاِ م ك م

Referensi

Dokumen terkait

Ini adalah ayat-ayat kitab (al-Qur’an) yang nyata (dari Allah) Seperti halnya surat, panjang pendek ayat juga sangat beragam. Dalam beberapa surat, pada umumnya

Penjelasan ini dikukuhkan dengan kata “sesungguhnya wali kamu tidak lain hanyalah Allah karena hanya Dia yang dapat menolong dan membela, selain- Nya tidak akan mampu

“ Sesungguhnya Allah adaah Rabbku dan Rabbmu, maka sembahlah Dia olehmu sekalian, ini adalah jalan yang lurus” Pada ayat ini telah dijelaskan serangkaian episode-episode

Ibnu Abbas berkata, &#34;maka janganlah kamu bertengkar tentang hal mereka kecuali pertengkaran lahir semata, &#34;artinya, cukuplah bagimu apa yang telah Aku (Allah)

Allah berfirman, ‖Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.‖ Dalam ayat lain Allah

Seandainya Mikail yang selalu datang kepadanya, nescaya kami masuk Islam.” Umar RA berkata, “Sesungguhnya aku bertanya kepada kamu dengan nama Allah SWT yang menurunkan kitab

5 hingga akhir berikut sejumlan perubahan dan peristiwa yang terjadi yang menyertainya.14 Berkenaan dengan kisah tersebut, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya ada tanda-tanda

Hamka menambahkan dengan mengutip dari penafsiran Ibnu Kathir tersebut bahwa seruan Allah melalui utusan-Nya pada ayat kedua dalam surat ini “Aku tidaklah menyembah apa yang kamu