1
CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015)
Oleh: TIM CBDC
Character Building Development Center (CBDC) Universitas Bina Nusantara - Jakarta
Februari 2022
2
DAFTAR ISI
Topik 1 : Introduction to CB Religion 3
Topik 2 : The Religion in General 19
Topik 3 : Knowing What or Who God is 28
Topik 4 : Criticism to the Religious Formalism 42
Topik 5 : Religion and Contemporer Issues 48
Topik 6 : Religion and Science Dialogue 58
Topik 7 : Being Religious Life in Digital Era 66
Topik 8 : Conscience as the Basis for Ethical Review
72
Topik 9 : Tolerance and Inter-Religious Cooperation for World Peace
86
Topik 10 : Willing to Forgive 95
Topik 11 : Caring for The Environment 109
Topik 12 : Work Religiosity 121
Topik 13 : Becoming a Religious Person 137
3
Topik 1
INTRODUCTION TO CB RELIGION
Learning Outcome:
LO1: Explain the nature of religions and the God in general Session outcomes:
Setelah mengikuti sesi ini mahasiswa diharapkan mampu:
• menjelaskan pengertian karakter, kaitannya dengan nilai, dan proses pembentukannya.
• menguraikan karakter baik yang mencakup pengetahuan, keinginan, dan tindakan.
• menjadikan agama sebagai sumber ajaran nilai moral bagi pembentukan karakter.
• mempraktekan hidup beriman dan beragama secara kritis-rasional, inklusif-toleran.
A. PENDAHULUAN
“Character Building: Agama” merupakan nama salah satu matakuliah yang diajarkan kepada seluruh mahasiswa di Universitas Bina Nusantara (Binus). Hal yang utama dalam pembelajaran matakuliah ini adalah upaya menginternalisasikan nilai-nilai dasar dan universal yang terkandung dalam agama- agama, seperti: kasih, kepedulian, kejujuran, keadilan, kesediaan memaafkan, kerelaan berkorban, dsb.
Upaya internalisasi nilai-nilai rohani-religius ini dilakukan dengan cara mengedepankan pemikiran kritis- rasional untuk mengembangkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan yang lebih sesuai dengan kemajuan peradaban manusia yang semakin kompleks dan mengglobal.
Dalam matakuliah yang diberi nama “Character Building: Agama” terdapat dua hal yang memiliki arti atau makna sendiri-sendiri, namun keduanya digabungkan menjadi satu yakni ‘karakter’ dan ‘agama’.
Judul utamanya adalah “Character Building”, yakni pembentukan atau pendidikan karakter, tapi sumber pendalamannya diambil dari atau diinspirasi oleh nilai-nilai yang terkandung dalam agama-agama. Oleh karena itu maka pada bagian pengantar ini perlu disampaikan penjelasan penting tenta ng keduanya beserta hubungannya dalam kaitan dengan pendidikan karakter yang dilaksanakan di Universitas Bina Nusantara. Dalam penjelasan yang akan diberikan, terutama tentang karakter, tidak akan dibeberkan penjelasan yang terlalu ilmiah-teoritis yang memiliki akarnya pada zaman Yunani Kuno dalam pandangan filsafat, khususnya filsafat moral, yang kemudian terus berkembang memunculkan banyak kajian teoritis aplikatif yang menyasar berbagai bidang praksis kehidupan manusia. Cukup diberikan penjelasan sederhana yang mudah dipahami dan diaplikasikan dalam penghayatan dan praksis hidup nyata sehari- hari.
4
Istilah ‘karakter’ memiliki arti atau pengertian yang berbeda-beda, tergantung konteks penggunaannya. Dalam bahan ini istilah karakter dimaksudkan adalah hal yang berkaitan dengan sikap dan perilaku yang baik, terkait dengan moralitas, tentang hal baik dan buruk secara moral. Karakter terkait dengan nilai-nilai, terutama nilai moral, yakni sesuatu yang dihargai, dipelihara dan dijunjung tinggi dalam kehidupan bersama. Secara sederhana, nilai-nilai yang telah berhasil terinternalisasi dengan baik dalam diri atau kehidupan manusia itulah yang dapat disebut sebagai karakter. Kemudian karakter inilah yang diharapkan dapat berperan menjadi pengendali atas pandangan, sikap dan perilaku seseorang dalam kehidupannya. Sementara itu agama merupakan nama dari suatu institusi yang berkaitan dengan keberimanan pada Allah, yang berbentuk organisasi, yang sifatnya duniawi dan ilahi sekaligus1. Agama merupakan wadah kaum beriman, tempat dimana iman diperlihara, dijaga, dibina, dipraktekkan, diluruskan, diwartakan, dirayakan dan diwariskan (Gea, 2004: hal. 67). Dengan demikian maka Character Building: Agama tidak lain adalah suatu upaya sadar dan sengaja, yang dilakukan Binus untuk terus menginternalisasikan nilai-nilai dasar dan universal yang terkandung dalam agama-agama agar menjadi karakter bagi para mahasiswa dan lulusannya.
B. PEMBAHASAN 1. Nilai dan Karakter
Berbicara tentang karakter tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tentang nilai, karena keduanya memilik kaitan erat. Bahkan bisa dikatakan karakter tidak lain adalah nilai-nlai yang telah berhasil terinternalisasikan atau terpaktri dengan baik dalam diri seseorang, yang telah menjadi bagian dari hidupnya, yang melekat pada dirinya, telah menjadi pola hidupnya, menjadi habit dan budaya pribadinya.
Maka pendidikan karakter sebenarnya tidak lain adalah pendidikan nilai, suatu usaha menanamkan nilai dalam diri atau kehidupan seseorang.
a. Nilai
Nilai adalah sesuatu yang berkonotasi positif, sesuatu yang baik, yang dihargai, hal yang penting dalam kehidupan. Hal-hal seperti kejujuran, tanggung jawab, keadilan, respect, dan sebagainya merupakan nilai-nilai yang terus dipelihara, dijunjung tinggi, yang terus dibela dan diperjuangkan terwujudnya dalam kehidupan bersama (Gea, 2006: hal 144-145). Ancaman terhadap hal-hal itu dirasa sebagai ancaman bagi kehidupan itu sendiri, karena nilai-nilai seperti itu merupakan hal yang menyatu dengan kemanusiaan itu
1 Agama disebut institusi yang sifatnya duniawi dan ilahi sekaligus karena struktur organisasi keagamaan umumnya memiliki kesamaan dengan struktur organisasi-organisasi lainnya di dunia ini; namun agama, selain berurusan dengan masalah-masalah duniawi, juga berurusan dengan hal-hal terkait kehidupan di akhirat, kehidupan yang didapatkan setelah kehidupan di dunia ini berakhir.
5
sendiri. Nilai yang dimaksudkan disini adalah terutama nilai moral, yang menentukan baik-buruknya seseorang dari sudut moral.
Nilai memiliki semacam jiwa atau daya, yang seakan-akan berseru-seru memanggil-manggil kehendak orang untuk mengakuinya dan menghargainya. Nilai keindahan, umpamanya, yang terkandung dalam sebuah lukisan, tidak tinggal diam, dia punya daya, yang terus memancarkan seruan, meminta orang agar tidak membiarkannya, tidak menyembunyikannya dalam sebuah kardus dan menyembunyikannya di bawah kolong tempat tidur, atau di dalam gudang atau lemari. Dia mendesak kehendak orang untuk membingkainya dan memajangnya atau menggantungnya di tempat yang dengan mudah bisa dilihat orang, agar orang yang melihatnya mengagumi dan menikmatinya keindahannya. Begitu juga suatu nilai keindahan yang terbentang dalam sebuah taman bunga. Nilai keindahan yang ada disitu seakan-akan berseru-seru meminta kesediaan orang untuk tidak merusaknya dengan menginjaknya atau mengotorinya. Dan begitu seterusnya, nilai itu, yang selalu positif, s esuatu yang baik, yang indah, yang berkualitas, seakan memiliki daya, memancarkan seruan, memanggil-manggil kehendak orang untuk menghargainya, mengagumi dan menikmatinya, dan tidak malah merusak atau menghancurkannya. Untuk suatu nilai moral, daya seruan atau desakan itu jauh lebih kuat lagi. Kalau nilai keindahan seperti yang terkandung dalam lukisan atau yang terbentang dalam suatu taman, kalau kita mengabaikannya atau tidak menghargainya, kita tidak terlalu merasa bersalah karenanya. Beda halnya dengan nilai moral, seperti kejujuran, tanggungjawab, keadilan, dan semacam itu, kita tidak akan tenang selama hal-hai itu kita abaikan atau melanggarnya.
Nilai umumnya terbagi dua yakni nilai moral dan nilai yang non-moral. Ada banyak hal yang kita pandang sebagai bernilai, yang positif, yang dipandang baik, seperti nilai estetis, nilai kebersihan dan kerapian, keberhasilan dalam usaha, dsb. Semua hal-hal itu memiliki nilai kebaikan, namun bukanlah termasuk nilai moral. Kalau kita gagal atau tidak berhasil dalam mewujudkan hal-hal itu dalam kehidupan, kita tidak otomatis menjadi buruk sebagai manusia. Beda halnya kalau kita melanggar kejujuran, mengabaikan tanggungjawab, bertindak tidak adil, dsb, semua itu menunjukkan bahwa kita buruk sebagai manusia. Jadi inilah kekhasan nilai moral itu, kita baik sebagai manusia ketika kita memelihara, menjunjung tinggi dan mewujudkannya dalam kehidupan kita. Sebaliknya, kita menjadi manusia buruk manakala kita mengabaikan atau melangggar hal-hal itu dalam praktek keseharian kita.
Nilai moral, seperti kejujuran, tanggungjawab, keadilan adalah hal-hal yang dituntut dalam kehidupan. Kita akan merasa dituntut atau didesak untuk menepati janji, membayar berbagai tagihan, memberi pengasuhan kepada anak-anak, dan berlaku adil dalam memperlakukan orang-orang yang bekerja pada kita. Nilai-nilai moral meminta kita untuk melaksanakan apa yang memang sebaiknya kita lakukan. Kita harus melakukannnya bahkan kalau sebenarnya kita tidak ingin melakukannya. Sedangkan nilai-nilai non-moral tidak membawa tuntutan seperti itu (Lickona, 2016: hal 61-62).
6 b. karakter
Aristoteles, mendefinisikan karakter yang baik sebagai kehidupan dengan melakukan tindakan- tindakan yang baik dan benar sehubungan diri sendiri dan orang lain. Jadi karakter kehidupan memiliki dua sisi, yakni: Perilaku baik dan benar sehubungan dengan orang lain dan dengan diri sendiri. Kehidupan yang berisi kebajikan berorientasi orang-lain, seperti: keadilan, kejujuran, cinta; dan kebajikan berorientasi-diri sendiri, seperti: kerendahan hati, ketabahan, kontrol diri, mengusahakan yang terbaik daripada menyerah pada kemalasan (Lickona, 2012: hal. 21). Filsuf kontemporer, Michael Novak, menjelaskan karakter sebagai “campuran yang sejalan (compatible) dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi religius, cerita sastra, kaum bijaksana, dan kumpulan orang berakal sehat yang ada dalam sejarah”. Karakter terdiri dari nilai operatif, yakni nilai yang terwujud dalam tindakan, dan bukan hanya yang berada dalam pikiran atau keinginan. Karakter merupakan suatu disposisi batin yang dapat diandalkan untuk menanggapi situasi dengan cara yang menurut moral itu baik (Lickona, 2016: hal. 81).
Pemikiarn tentang karakter sebenarnya bukan hal yang baru, melainkan sesuatu yang sudah muncul dalam pandangan filosofis sejak zaman Yunani Kuno, yang menjadi bagian dari filsafat manusia, khususnya folsafat moral yang mewarnai pemikiran dan tulisan para filssuf kuno seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan sebagainya. Tanpa menghabiskan waktu dan pikiran untuk menelusuri pemaparan filosofis-teoritis tentang karakter yang sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, sebenarnya karakter dapat dimengerti secara sederhana sebagaimana banyak dipahami dalam kehidupan nyata. Secara sederhana karakter dapat dimengerti sebagai nilai-nilai yang sudah berhasil terinternalisasi dengan baik dalam diri seseorang.
Terinternalisasi dengan baik berarti sudah tertanam atau terpatri dengan baik, sehingga menjadi bagian dari kehidupan seseorang, yang akan mengendalikan berbagai pandangan, pertimbangan-pertimbangan dan putusan, sikap dan perilaku seseorang dalam kehidupan.
Sebuah nilai, umpamanya kejujuran, walaupun seseorang bisa menjelaskan tentang kejujuran itu sedalam-dalamnya, tentang pentingnya kejujuran dalam kehidupan bersama, namun kalau orang itu dalam banyak hal dia melanggar kejujuran (dia tidak jujur), maka kejujuran sebagai nilai belum menjadi karakternya orang itu. Hanya ketika kejujuran itu sudah menjadi bagian dari kehidupannya, yang mengendalikan pandangan, sikap dan perilakunya dari dalam - yang umumnya hal itu bisa kelihatan dan diakuai oleh orang-orang di sekitarnya - barulah kejujuran itu dapat dikatakan sudah menjadi karakternya orang itu. Hal yang sama berlaku untuk semua nilai-nilai lain, khususnya nilai moral, yang menentukan baik buruknya manusia, terutama dari sudut moral.
c. Pendidikan Karakter sebagai Pendidikan Nilai
Nilai dan karakter memiliki kaitan erat. Nilai-nilai moral menjadi karakter bagi seseorang manakala nilai tersebut sudah terinternalisasi atau tertanam dengan baik dalam dirinya. Itulah sebabnya karakter dapat dimaknai sebagai nilai atau nilai-nilai yang telah berhasil terinternalisasi dengan baik dalam diri
7
seseorang, yang sudah menjadi baian dari kehidupannya, yang selalu mewarnai kehidupan orang itu, yang mengendalikan pandangan, sikap dan perilakunya dalam kehidupan. Maka Sebenarnya pendidikan atau pembentukan karakter tidak lain adalah pendidikan nilai, yakni suatu upaya penanaman nilai-nilai dalam kehidupan seseorang.
Upaya pembentukan karakter atau penanaman nilai berlangsung dalam suatu proses, secara formal, informal dan non formal serta dalam keseluruhan perjalanan hidup. Secara formal adalah melalui pendidikan yang dilaksanakan secara formal sesuai pengaturan atau kurikulum yang sudah tersusun atau terprogram dengan baik. Secara informal dimaksudkan adalah melalui kegiatan tertentu yang diprogramkan berlangsung sesewaktu berupa kegiatan pelatihan atau penyuluhan yang diikuti sejumlah orang atau kelompok. Dan secara non formal adalah yang berlangsung begitu saja seperti dalam lingkungan keluarga, tanpa program dan target khusus, yang berlangsung melalui contoh dan teladan serta nasehat dan pendampingan dari orang tua kepada anak-anak terutama ketika masih kecil. Disini diharapkan keluarga menjadi lingkungan kondusif bagi penyebaran atau penanaman nilai-nilai bagi anak- anak dalam keluarga. Dalam lingkungan sekolah peranan seorang guru menjadi sangat penting, karena mereka pertama-tama harus menjadi penampakan nilai-nilai kepada anak didik mereka (Ritchhart, 2002:
hal. 230-231).
2. Pembentukan Karakter Berlangsung Seumur Hidup
Proses pembentukan atau perbaikan karakter tidak terbatas pada tahap atau kurun waktu tertentu.
Pembentukan karakter pertama-tama dimulai dalam lingkungan keluarga, ketika anak-anak masih kecil, yang berlangsung secara non-formal. Disini hal sangat penting adalah konsistensi adanya contoh atau teladan dari orang tua, yang bisa dilihat dan disaksikan atau dirasakan oleh anak-anak mereka (Klann, 2007: hal. 49). Tuntutan contoh dan keteladanan ini menjadi yang terpenting, berhubung yang menjadi andalan bagi seorang anak dalam menyerap atau menangkap sesuatu adalah kemampuan meniru. Apa yang mereka lihat atau saksikan dan juga yang mereka dengar, terutama kalau terjadi berulang-ulang, itulah yang akan mempengaruhi mereka, yang akan mereka tiru atau lakukan, yang umumnya pada tahap- tahap awalnya tanpa disertai pemahaman mereka akan hal-hal itu. Pengaruh contoh, teladan dan perlakuan dari keluarga (orang tua) sangat kuat mempengaruhi kehidupan anak dalam perjalanan hidup mereka ke depan (Wilson, 1995, hal 13-14)
Berbeda dengan anak kecil yang mengandalkan kemampuan meniru, bagi orang dewasa hal yang menjadi andalan utama adalah pemahaman. Pemahaman baik tentang sesuatu itulah yang menjadi andalan bagi orang dewasa dalam membangun atau menentukan pandangan, sikap dan apa yang akan dilakukannya. Pemahaman baik inilah yang menjadi acuan dan bukan terutama apa yang dilihat atau disaksikannya. Ketidakjujuran atau ketidakdisiplinan yang dia lihat atau dia saksikan di sekitarnya, di
8
tempat kerjanya atau dimanapun dia berada, tidak otomatis hal-hal itulah yang akan mengendalikan dirinya atau diikutinya. Kalau dia tidak bisa berbuat lain kecuali ikut arus, maka tidak ada bedanya dia dengan anak kecil, yang hanya berbuat sesuai apa yang dilihat atau disaksikannya.
Orang dewasa tidak terutama bergantung pada adanya teladan atau contoh, walaupun contoh atau teladan itu sangat penting dan sangat kuat daya pengaruhnya. Bagi orang dewasa, ketiadaan contoh atau teladan tidak membuat dia kehilangan arah. Dia tidak harus menunggu atau mengharapkan adanya contoh atau teladan, apalagi yang ditunggu atau yang diharapkan itu belum tentu ada atau akan ada. Dan selama yang ditunggu atau diharapkan itu tidak ada atau belum ada, apakah kita juga tidak bisa berbuat sesuatu?
Tentu tidak demikian. Andalan dan pegangan utama yang kuat adalah pemahaman baik yang sudah dimiliki. Kalaupun orang-orang di sekitar kita berlaku tidak jujur, kita tidak harus seperti itu juga. Kita punya pilihan, dan pemahaman baik itu yang mengantarkan kita pada pilihan keputusan dan tindakan yang lebih baik, yang dapat kita pertanggungjawabkan, terutama secara moral. Oleh sebab itu, maka bagi orang dewasa, pemahaman inilah yang hendaknya diperkuat atau diperdalam, sehingga menjadi lebih kuat dalam mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan, putusan dan pilihan tindakan moral kita. Pemahaman yang dimaksud disini (yang masih akan dijelaskan di bagian berikutnya) tidak hanya terbatas pada pengetahuan atau mengetahui sesuatu yang baik dan benar, melainkan melibatkan keinginan, dan akhirnya mendorong tindakan nyata mewujudkannya. Termasuk bagian dalam mematangkan pemahaman ini adalah adanya sikap terbuka terhadap kritik, dan bukan sebaliknya terlalu percaya diri, mengambil sikap menutup disi dari berbagai masukan atau kritik yang dialamatkan kepada kita2
Pembentukan karakter, berlangsung sejak anak masih kecil, hingga dewasa, bahkan seumur hidup.
Ada pergeseran terkait apa yang menjadi andalan, mulai dari sekedar meniru sampai beralih ke pemahaman. Umumnya internaslisasi nilai itu berlangsung dengan proses yang panjang. Namun prosesnya bisa juga cepat, bahkan dalam waktu sesaat. Seseorang yang sudah berumur, yang mungkin kehidupannya dalam hal moralitas (karakter) tidak begitu baik, bahkan dikenal sebagai penjahat oleh orang -orang di sekitarnya, tiba-tiba berubah drastis menjadi pribadi yang baik. Bisa jadi perubahan karakter orang ini dipicu oleh pengalamannya, pencerahan, kejadian atau peristiwa atau kisah yang dia dengar, yang mana hal itu telah memberi dia pencerahan, membuka kesadarannya, menyentuh hati sanubarinya yang sangat dalam. Langsung pada saat itu dia tersentak, mendapatkan sesuatu petunjuk, dorongan, kekuatan, saat penuh rahmat untuk perubahan besar dalam hidupnya. Moment ini menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya. Mulai dari saat itu dia memulai kehidupan barunya. Bisa saja perubahan mendadak itu menjadi tanda tanya bagi orang-orang di sekitarnya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu orang-orang jadi percaya bahwa orang tersebut memang sudah berubah, yang dalam bahasa agama disebut bertobat.
2 Perihal sikap terbuka terhadap kritik merupakan salah satu implementasi dari Binus Graduate Attribute (BGA)
“Growth Mindset”, yakni ‘belajar dari kritik’ (Learning from criticism constructively).
9
Perubahan seperti ini bisa terjadi kapan saja, termasuk ketika orang sudah berada pada usia lanjut atau tua, bahkan mendekati ajal. Semuanya tetap menjadi ruang dan kesempatan untuk memperbaiki diri, membangun karakter.
Dalam kontek organisasi atau perusahaan, pengaruh lingkungan, khususnya lingkungan kepemimpinan tetap sangat penting. Posisi sebagai pemimpin memiliki pengaruh sangat kuat bagi yang dipimpinnya. Seseorang yang karakternya tergolong baik, ketika bergabung dalam suatu oraganisasi dengan kepempinnan buruk ada kemungkinan orang tersebut tidak kuat melawan arus. Kondisi ini akan semakin kuat pengaruhnya ketika sudah semakin banyak personil dalam organisasi itu yang sudah terpengaruh oleh kepemimpinan buruk itu di dalamnya. Dan tentu akan jauh lebih buruk lagi ketika orang yang baru bergabung dalam organisasi dengan kepemipinan buruk itu adalah orang -orang yang masih belum mencapai kedewasaan dalam kepemilikan karakter yang baik. Jadi lingkungan organisasi khususnya kepemimpian merupakan hal sangat menentukan dalam menumbuhkan dan menguatkan karakter (Klann, 2007: hal. 4 – 6)
3. Mengetahui, Merasakan dan Melakukan Hal yang Baik
Di bagian atas tadi dijelaskan bahwa pemahaman yang baik menjadi andalan bagi orang dewasa dalam menentukan pilihan, sikap dan tindakannya. Hal ini bukan hanya berhenti pada kemampuan mengetahui sesuatu sebagai hal yang baik dan benar, melainkan bahwa hal yang sudah diketahui sebagai baik dan benar itu juga diinginkan, dikehendaki, yang kemudian pengetahuan dan keinginan atas hal yang baik dan benar itu mendorong, mendesak dan mengarakan dengan kuat tindakan kongkrit untuk melakukannya. Itu sebabnya ketiga hal itu yakni pengetahuan, keinginan dan tindakan merupakan bagian atau aspek penting dari karakter. Ketiganya saling berhubungan dan menguatkan satu sama lain. Ketiganya sama-sama berkaitan dengan hal yang sama. Pikiran mengetahuinya, perasaan menginginkannya, dan tindakan melakukannya. Bisa dikatakan juga: mengetahui yang baik, menginginkan yang baik, dan melakukan yang baik. Kalau di atas tadi disebut sebagai andalan bagi orang dewasa, itu dapat dimaknai sebagai intellectual character, pengetahuan atau pemahaman yang benar, yang mendalam, yang utuh, yang melibatkan seluruh diri (bdk Ritchhart, 2002: hal 18-19).
Hal yang baik yang dimaksud disini adalah hal yang sama yang menguasai ketiganya. Umpamanya seseorang telah meminjam suatu barang. Dengan pikirannya dia mengetahui betul bahwa mengembalikan barang pinjaman itu adalah sesuatu yang baik. Karena hal mengembalikan barang pinjaman itu dia ketahui bahkan juga meyakininya sebagai hal baik, hal itu akan mempengaruhi perasaannya, membangkitkan keinginan untuk mengembalikan barang pinjamannya itu. Pengetahuan dan keinginan tentang hal yang baik itu, yakni mengembalikan barang pinjaman, akan mendesak orang itu untuk segera mewujudkannya, yakni melakukan tindakan nyata mengembalikan barang pinjamannya itu. Jadi hal baik, yakni
10
mengembalikan barang pinjaman itu diketahui, diinginkan, dan dilakukan. Itulah yang disebut karakter yang baik. Itulah yang disebut pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Atau dengan kata lain, karakter yang baik terdiri atas: mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik. Itu adalah kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. Ketiga hal ini diperlukan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral kita (Lickona, 2016: hal. 82 – 101).
4. Agama Sumber Ajaran Nilai Moral bagi Pembentukan Karakter
Untuk sampai pada kesepakatan pemahaman tentang apa yang dipandang sebagai baik dan buruk, manusia memerlukan pegangan yang dijadikan pedoman atau acuan bersama. Acuan atau pedoman itu ada bermacam-macam, seperti kebudayaan, tradisi, kebiasaan, ajaran-ajaran moral dengan berbagai sudut pandang, dsb. Pemahaman pribadi dan bersama tentang baik dan buruk tidak bisa dilepaskan dari acuan-acuan itu. Agama adalah salah satu acuan bagi penentuan atau penilaian atas apa yang dipandang sebagai hal baik dan hal buruk dalam kehidupan. Agama bagi kebanyakan orang bahkan merupakan sumber sangat kuat dan utama bagi ajaran moral, pembentuk karakter (Lickona, 2016: hal 64). Agama mengandung nilai-nilai dasar dan bahkan universal bagi manusia. Pemahaman dan rumusan tentang baik dan buruk secara moral yang dipegang kuat dalam agama-agama umumnya dikembangkan terinspirasi oleh teks-teks Kitab Suci dan tradisi-tradisi awal keagamaan.
Teks-teks Kitab Suci yang ada dalam agama-agama itu dipercaya sebagai yang didapatkan oleh tokoh-tokoh awal agama atau para nabi melalui suatu pencerahan atau penerangan ilahi, ilham atau pewahyuan yang bersumber dari Allah Mahagaib. Sebagai ajaran yang diyakni berasal dari pencerahan ilahi atau dari Allah sendiri, yang berisi tentang kehendak Allah kepada manusia, maka isi utamanya, selain pengenalan tentang apa dan siapa Allah itu, merupakan pesan-pesan moral kebaikan bahkan keselamatan bagi manusia. Ajaran-ajaran itu disampaikan kepada manusia untuk dihayati dan diamalkan, untuk dijadikan landasan bagi pengembangan pandangan, sikap dan perilaku terpuji dalam kehidupan ini. Bagi orang yang sudah terbuka menerima, mengakui dan mengimani pesan-pesan Allah tersebut, terutama berupa perintah (tentang apa yang harus dilakukan) dan larangan (tentang apa yang tidak boleh dilakukan, yang harus dijauhi) harus menjadi petunjuk moral yang membimbing pada kebaikan kehidupan moral atau akhlak manusia sepanjang kehidupannya. Pesan-pesan moral dari Allah inilah, yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral dasar dan universal bagi manusia, itulah yang hendak terus diupayakan penanamannya dalam kehidupan manusia, termasuk melalui pembelajaran Character Building Agama.
Tujuannya adalah supaya nilai-nilai moral-religius penting dan utama yang terkandung dalam berbagai Kitab Suci dan agama-agama, dapat terinternalisasi dengan baik dalam hidup manusia, sehingga menjadi
11
karakternya manusia, menjadi bagian dari kehidupan manusia yang senantiasa mengendalikan atau menginspirasi kehidupannya dari dalam.
5. Suasana Kehidupan Beragama Secara Umum
Seperti kita ketahui bersama bahwa agama telah membuat kehidupan banyak orang menjadi lebih baik: hidup baik dan benar, terpuji, bertobat, dapat memaknai kehidupan dalam terang kehendak Allah, menjadi berkat bagi sesama, dsb (Lickona, 2016: hal. 63-64). Namun di samping itu, tidak jarang juga terjadi bahwa orang-orang beragama itu sendiri menjalankan hidupnya jauh dari praktek penghayatan dan pengamalan iman yang sesungguhnya. Banyak yang beragama secara buta, menyingkirkan akal sehat, fanatik sempit, eksklusif tertutup, intoleran, radikal bahkan berlaku teror. Semuanya praktek hidup beragama seperti itu harus diakui telah mengakibatkan berkembangnya image buruk terhadap agama itu sendiri.
Kalau ditelusuri lebih jauh, terdapat banyak hal yang berpotensi menjadi penyebab terjadinya pemahaman, penghayatan dan pengamalan iman dan agama dalam wujud sikap-sikap dan perilaku yang jauh dari roh atau semangat yang sesungguhnya dari agama itu sendiri, seperti yang disebutkan di atas tadi. Hal-hal yang berpotensi itu banyak berkaitan dengan adanya perbedaan-perbedaan yang ada tentang realitas dalam pluralisme religius (Sugiharto, 2004: hal. 144, 168). Berbagai perbedaan, dapat disebut di antaranya: (1) Adanya perbedaan isi dari Kitab-kitab suci atau Kitab Keagamaan (konsep tentang Allah, ritual, hukum dan aturan-aturan moral kehidupan); (2) Ada perbedaan penyebaran agama di berbagai belahan dunia atau kawasan (ada umat yang mayoritas dan ada yang minoritas, ada yang terkonsentarsi dalam suatu wilayah atau kawasan dan ada yang menyebar lebih merata dengan penganut agama-agama lainnya); (3) Ada perbedaan saling pengaruh antara politik, ekonomi dan budaya serta ideologi dengan agama (ada yang mendominasi dan ada yang tidak atau kurang daya pengaruhnya); (4) Ada perbedaan kedewasaan dalam memahami dan menghayati agama (ada yang konservatif, moderat, acuh-tak-acuh);
(5) Ada perbedaan dalam memaknai dan memosisikan agama dalam kehidupan (ada yang mempertentangkan atau menarik garis pemisah atau sebaliknya lebih mengaitkannya antara agama dan ilmu pengetahuan, antara kehidupan bernegara dan beragama, antara cara hidup beragama dulu dan sekarang, antara dunia dan akhirat, dsb); (6) Ada perbedaan antara aliran-aliran dalam agama-agama (ada yang dianggap sebagai arus utama dan ada yang kurang diperhitungkan); (7) Ada perbedaan dalam menafsirkan atau menginterpretasikan teks-teks suci, yang memang sangat terbuka untuk macam-macam penafsiran (ada yang berusaha menemukan pesan kebaikan dan kebenaran di dalamnya dan ada juga yang mencari pembenaran bagi pilihan atau pemikiran mereka); (8) Ada perbedaan dalam memaknai dan menghayati otonomi manusia (ada yang merasa semuanya tergantung pada Allah saja dan ada yang
12
mengedepankan keistimewaan manusia dengan tanggungjawab besar berada di tangannya); (9) Ada perbedaan dalam menegaskan identitas (ada yang mengutamakan perbedaan dan ada yang mengedepankan persamaan atau kesamaan); (10) Ada perbedaan dalam memahami atau memaknai fenomena-fenomena dalam kehidupan (ada yang selalu dan bahkan hanya mengaitkannya dengan agama saja, dan ada yang melihatnya lepas dari agama, atau melihat serta memaknainya dari berbagai sisi atau sudat pandang). Termasuk disini adanya perbedaan kedalaman dalam memahami atau memaknai fenomena-fenomena dari sudut pandang agama; (11) Mungkin bisa disebut disini juga adanya perbedaan dalam keyakinan diri dalam hal keberagamaan (ada yang terlalu sensitif, ada yang terlalu percaya diri, dan ada juga yang abai saja); dsb.
6. Hal-hal Penting Dimiliki Berkaitan dengan Perbedaan-Perbedaan yang Ada
Perbedaan-perbedaan seperti diungkapkan di atas merupakan kondisi atau potensi yang bisa memunculkan sikap-sikap seperti disebutkan tadi: Cenderung membanding-bandingkan antara satu dengan yang lain, merasa diri atau kelompok lebih baik atau lebih/paling benar, eksklusif tertutup, fanatik sempit, intoleran, radikal dan berlaku teror, beragama secara buta, menyingkirkan akal sehat. Perbedaan- perbedaan di atas itu tidak terutama untuk dihilangkan atau tidak harus disingkirkan, karena ada yang memang tidak bisa dihilangkan. Perbedaan-perbedaan itu harusnya dipahami dan disikapi dengan baik, dengan sikap positif3. Berhadapan dengan hal-hal itu, hal-hal yang diperlukan untuk kita kembangkan dalam diri kita (dan ini penting berkaitan dengan pendalaman materi-materi kuliah yang ada dalam CB Agama ini) antara lain:
a. Perlu ada pemahaman yang baik tentang adanya perbedaan teks-teks suci yang diyakini sebagai wujud tertulis dari pewahyuan atau penerangan ilahi yang diterima oleh pada nabi atau tokoh- tokoh awal agama-agama. Penting diakui bahwa Allah itu Mahagaib, Yang Tak Terbatas, sementara manusia, termasuk para nabi adalah makhluk ciptaan dan terbatas (terbatas dalam ruang dan waktu, terikat pada situasi dan kondisi yang mewarnai zaman dan kawasan di mana para nabi hidup dan berada, dibatasi oleh latar belakang yang dimiliki sepeti: pengalaman, pendidikan, kepribadian, kebiasaan, kecenderungan, keinginan dan kekhususan unik lainnya) (Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, 2016: hal. 52). Keterbatasan ini tidak bisa dinafikan dalam konteks pendekatan mereka kepada Yang Tak Terbatas utuk menangkap dan memahami kehendak-Nya (pewahyuan). Walaupun dikatakan bahwa wahyu atau pencerahan ilahi yang
3Bersikap positif merupakan salah satu implementasi dari Binus Graduate Attribute (BGA) “Growth Mindset”, yakni ‘bersikap positif dalam hidup’ (Keeping a positive mindset in life).
13
diterima oleh para nabi itu diperuntukkan untuk seluruh zaman, namun utamanya adalah kontekstual, diperuntukan pada zaman para nabi dengan aneka kekhususannya (Smith, 2008: hal.
75).
b. Walau ada perbedaan-perbedaan isi dari Kitab-kitab Suci itu (konsep tentang Allah, ritual, hukum, aturan-aturan moral kehidupan, dsb), namun kalau ditelusuri lebih dalam sebenarnya terdapat kesamaan besar menyangkut pesan-pesan moral utama yang disampaikan Allah kepada manusia, seperti: hidup mengasihi, peduli, berlaku adil, mau memaafkan, bahkan rela berkorban bagi kebaikan, dsb. Pesan-pesan moral utama ini, yang Allah kehendaki untuk dihidupi oleh manusia dalam kehidupan bersamanya, tersebar di berbagai bagian dari teks-teks suci. Dan bisa dikatakan bahwa kesamaan-kesamaan ini jauh melebihi berbagai perbedaan yang ada. Persamaan- persamaan ini bisa saja dipandang sebagai petunjuk bahwa pesan-pesan moral utama kehidupan ini semuanya berasal dari sumber yang sama. Jadi perbedaan-perbedaan tangkapan para nabi atas pewahyuan, yang akhirnya tertuang dalam kitab-kitab suci, termasuk konsep-konsep tentang Allah, tidak bisa langsung dijadikan pembuktian atau penyimpulan bahwa Allah ada banyak.
c. Dengan mengutamakan pemberian perhatian pada kesamaan-kesamaan pesan moral yang tersebar dalam kitab-kitab suci, yang diperuntukkan bagi umat manusia dalam kehidupan bersamanya, maka kita akan semakin sadar bahwa agama-agama itu sesungguhnya memiliki misi yang sama, agama-agama itu (umat beragama semuanhya) merupakan teman seperjuangan dalam mempromosikan atau mengupayakan kehidupan yang lebih baik, membuat dunia ini menjadi hunian yang semakin baik bagi manusia bahkan bagi seluruh makhluk. Maka yang menjadi concern kita sesungguhnya bukan membanding-bandingkan agama untuk mencari mana yang benar atau paling benar, bukan juga untuk menarik orang atau umat dari agama lain masuk ke agama kita. Perjuangan kita yang utama adalah bagaimana kita bisa hidup sesuai dengan pesan- pesan moral utama itu sebagaimana terdapat dalam Kitab Suci kita, warisan nabi kita (bdk Smith, 2008: hal. 75). Kalau kita fokus dan berhasil menghidupi dengan baik pesan-pesan moral utama itu, maka kita semua ketemu: tidak ada menyakiti, hanya ada mengasihi; tidak ada membiarkan atau menjerumuskan, hanya ada peduli; tidak ada balas dendam atau sakit hati berkepanjangan, hanya ada memaafkan dengan tulus; tidak ada perampasan atau penguasaan atau keinginan untuk memperalat orang lain untuk kepentingan diri, hanya ada kerelaan untuk berkorban, dsb.
Sesungguhnya poin-poin ini merupakan alasan kuat dan masuk akal mengapa kita harus toleran dalam hal beragama. Kita tidak menemukan alasan yang meyakinkan untuk berlaku intoleran, fanatik sempit, eksklusif dan berlaku teror. Karena kesemnuanya sikap dan perilaku seperti itu, apapun alasannya, bertentangan dengan pesan-pesan moral utama Tuhan kepada kita semuanya.
14
d. Dalam beriman dan beragama, hendaknya kita tidak bersikap buta, menyingkirkan akal sehat, sebaliknya kita wajib mengedepankan atau menggunakan akal sehat atau pemikiran kritis -rasional (Fios, 2017: hal. 221-222) Sesungguhnya semua manusia, entah bearagama atau tidak, sudah diperlengkapi oleh Allah dengan kemampuan yang merupakan bagian dari kemampuan-Nya sendiri, yakni akal budi. Inilah pemberian utama dan pertama Allah kepada manusia. Tanpa beragama sekalipun sebenarnya kemampuan akal budi itu mencukupi bagi manusia untuk bisa hidup dengan baik. Dengan akal budinya manusia mampu mengetahui atau membedakan mana baik mana buruk, dan mampu memahami bahwa hal yang baiklah yang cocok baginya sesuai dengan martabatnya sebagai makhluk istimewa. Oleh karena itu, manusia, ketika dia kemudian beriman dan beragama, dia tidak boleh menyingkirkan anugerah Allah yang utama itu. Manusia harus menerima dan menjalankan iman dan agamanya dalam kapasitasnya sebagai subyek yang memiliki akal budi, pikiran dan pemahaman yang baik. Banyak masalah memprihatinkan yang timbul dari perbedeaan-perbedaan tadi sesungguhnya bisa diatasi dengan baik dengan cara bersikap kritis dan rasional (menggunakan akal sehat dengan baik). Dan sebaliknya masalah- masalah dalam praktek penghayatan iman dan agama itu bisa semakin besar manakala akal sehat, daya kritis-rasional, anugerah utama Tuhan, disingkirkan atau tidak digunakan, alias beriman dan beragama secara buta.
e. Agama-agama, pada zaman-zaman tertentu dan di kawasan tertentu dalam sejarah, ada yang melakukan pengkajian-pengkajian kembali teks-teks suci, untuk menemukan bagaimana memahami dan menghayati dengan lebih baik pesan-pesan Allah dan hukum-hukum-Nya itu dalam situasi mereka. Dari hasil-hasil pengkajian itu mereka menciptatan hukum-hukum atau aturan sebagai penjabaran dari teks-teks suci itu sesuai dengan situasi dan tuntutan zaman yang sedang mereka hadapi. Hukum-hukum seperti itu, yang pernah berlaku efektif pada zamannya, belum tentu cocok ketika dijalankan atau diterapkan pada zaman-zaman setelahnya dan di kawasan yang berbeda, karena perbedaan situasi dan tuntutan permasalahan yang ada. Kita, pada zaman kita, dengan kemajuan berpikir dan kemajuan peradaban serta dengan situasi permasalahan yang khas, dapat melakukan hal yang sama. Apa yang diyakini sebagai Wahyu Allah, yang diterima atau turun ribuan tahun yang lalu, ketika itu dituliskan (menjadi Kitab Suci), maka sebagai tulisan, tidak pernah berubah selamanya, sampai titik komanya tidak berubah, sementara situasi dan kondisi zaman dengan aneka permasalahan dan tuntutannya terus berubah.
Seandainya zaman nabi-nabi dan pewahyuan masih terus berlangsung, tentu saja pewahyuan yang turun sekarang ini, dan juga kemampuan pemahaman nabi beserta pilihan bahasa atau kata atau istilah yang digunakan untuk menyampaikan dan mendokumentasikannya, tentulah berbeda.
Maka hal sangat penting adalah bagaimana hukum-hukum dan aturan-aturan serta pesan-pesan
15
Allah yang ada atau muncul ribuan tahun yang lalu itu, dengan konteks tertentu, bisa terus kita hayati dengan baik pada zaman kita sekarang ini dengan konteks atau situasi yang sudah berbeda (Smith, 2008: hal 373-374).
f. Bahasa-bahasa Kitab Suci itu adalah bahasa-bahasa metafor, banyak kata atau istilah atau perumpamaan yang digunakan sangat terikat dengan konteks zaman penulisannya. Makna yang hendak disampaikan dalam teks-teks itu hanya bisa diselami dengan baik bila berangkat dari atau dikembalikan pada konteksnya. Dalam melakukan hal ini diperlukan studi yang mendalam, bertahun-tahun, mencari tahu konteksnya mengapa Wahyu atau inspirasi itu turun dan mengapa tokoh atau nabi menggunakan kata, istilah atau perumpamaan itu dalam menyampaikan pesan pewahyuan dari Tuhan itu. Kitab suci bukanlah buku sejarah, sekedar dokumentasi fakta -faka tertentu di masa lalu. Kitab Suci adalah buku iman, iman yang terus hidup, tumbuh dan berkembang. Kitab suci tidak pertama-tama dan terutama menyampaikan kepada kita kebenaran fakta sejarah di masa lampau, melainkan kebenaran iman. Kebenaran iman ini terkandung atau terselubung dalam atau di belakang teks-teks hurufiah (kata, kalimat, istilah, perumpamaan, dan simbol-simbol yang digunakan) yang tertuang dalam lembaran-lembaran halaman Kitab Suci.
Pemahaman pesan kebenaran iman inilah yang hendak digali dengan cara salah satunya adalah dengan memahami konteks kemunculannya. Dan ini tidak selalu mudah. Kita penting mengakui bahwa pesan Allah itu pasti kebaikan bagi manusia, bagi kehidupan. Maka patokan sederhana dalam menilai dan menyikapi suatu penafsiran atau interpretasi teks-teks suci adalah dengan menggunakan akal sehat. Kita mengkaji saja bagaimana ketika sebuah penafsiran atau interpretasi dijalankan, apakah membuahkan kebaikan bagi kehidupan bersama, bagi komunitas atau tidak.
Jangan sampai terjadi bahwa kita sedemikian meyakini sesuatu sebagai kebenaran iman, membelanya mati-matian, bahkan sampai mengorbankan diri dan orang lain, sementara semua orang, siapa saja, yang menggunakan akal sehat, menolak atau mengutuknya.
g. Ada yang mengatakan bahwa baik atau benarnya suatu agama dapat dilihat dari hidup para penganutnya. Ungkapan ini dapat kita maknai sebagai cambuk bagi kita, yang menantang keberimanan kita. Menyaksikan atau menunjukkan baik-benarnya suatu agama tidak cukup hanya dengan cara fanatik meneriakkan pembelaan atas keunggulan (tinggi atau dalamnya) kebenaran atau keungghulan keyakinan iman atau agama yang kita anut (seperti konsep tentang Allah, hukum-hukum dan aturan-aturannya, ritual dan simbol-simbolnya, dan berbagai hal yang terkait dengan itu). Sering yang jauh lebih mengesankan itu adalah kehidupan para penganut agama itu sendiri. Kehidupan nyata para penganut agama menjelaskan lebih luas dan dalam tentang kebaikan dan kebenaran iman yang mereka hidupi, termasuk kebenaran faham tentang Allah yang menjadi sumber inspirasi kehidupan mereka. Allah yang baik dan benar tentu memiliki daya untuk
16
membimbing manusia yang mengimani-Nya sebagai saluran penampakan wajah-Nya dan kebaikan-Nya kepada mereka yang masih belum mengenal-Nya.
C. PENUTUP
Karakter adalah nilai-nilai yang telah berhasil terinternalisasi dengan baik dalam diri seseorang, sehingga menjadi bagian dari kehidupannya, yang mengendalikan pandangan, sikap dan perilakunya dalam kehidupan. Nilai atau nilai-nilai adalah sesuatu yang berkonotasi positif, yang dihargai, dipelihara, dijunjung tinggi, yang ingin dibela dan diperjuangkan dalam kehidupan bersama. Kejujuran, keadilan, respect, tanggungjawab, dsb, merupakan nilai-nilai yang diharapkan terpelihara dengan baik dalam kehidupan bersama. Itu sebabnya pendikan karakter dapat disebut juga sebagai pendidikan nilai. Karakter terbentuk melalui suatu proses, yang disengaja maupun tidak disengaja, secara formal, informal maupun non-formal. Pembentukan karakter berlangsung sejak seseorang masih kecil hingga dewasa bahkan sampai tua sekalipun. Semua rentang waktu yag kita jalani merupakan ruang dan kesempatan untuk memperbaiki diri dan kehidupan kita.
Ketika seseorang masih kecil maka yang menjadi andalannya adalah meniru atau mengikuti apa yang dilihat dan didengar. Maka hal terpenting disini adalah contoh atau teladan yang bisa mereka lihat atau saksikan. Sementara bagi seorang dewasa, hal yang menjadi andalan adalah pemahaman yang baik (insight). Pemahaman yang baik inilah yang penting dikuatkan supaya bisa menjadi acuan dalam memutuskan atau memilih sesuatu, dalam menentukan sikap dan tindakannya. Pemahaman yang dimaksud disini adalah pengetahuan yang benar (kognitif) yang melibatkan keinginan untuk mewujudkannya (afeksi) dan mendorong terjadinya tindakan yang sejalan dengan yang diketahui dan diinginkan itu (psikomotorik).
Agama adalah sesuatu yang mengandung nilai-nilai dasar dan bahkan universal bagi manusia. Nilai-nilai seperti: kasih, kepedulian, kejujuran, berlaku adil, mau memaafkan, bahkan rela berkorban bagi kebaikan, merupakan rentetan nilai yang sangat diperjuangkan dan dijunjung tinggi dalam agama-agama. Nilai-nilai inilah, termasuk nilai toleransi, sikap beragama yang Inklusif, kritis-rasional, merupakan nilai-nilai yang sangat penting, urgen atau mendesak dalam kehidupan sekarang ini. Nilai-nilai inilah yang hendak terus diupayakan internalisasinya dalam kehidupan orang beragama, karena kalau melihat kenyataan yang ada, nilai-nilai seperti yang disebutkan itu masih langka dimana-mana, padahal kita Indonesia khususnya adalah masyarakat atau negara yang religius. Internalisasi nilai-nilai luhur religius ini memerlukan upaya serius yang melibatkan banyak pihak. Hal sangat penting di antara hal-hal penting lainnya adalah menumbuh- kembangkan sikap beriman dan beragama yang kritis-rasional, menghidupi keyakinan iman atau agama dalam kapasitas kita sebagai makhluk istimewa ciptaan Tuhan, yang pertama-tama telah
17
diperlengkapi oleh Tuhan dengan akal budi (dan juga dengan kehendak bebas, yang membuatnya terikat oleh tanggungjawab atas pilihan dan tindakannya). Dengan akal budinya manusia memiliki kemampuan menilai secara kritis dan rasional, termasuk keyakinan-keyakinan iman atau agama yang dianjutnya (Fios, 2017: hal. 239-241). Ketika kita kemudian beriman atau beragama, jangan sampai akal budi, anugerah Tuhan paling utama kepada kita, disingkirkan. Jangan sampai kita sedemikian meyakini sesuatu sebagai kebenaran iman, membelanya mati-matian, bahkan sampai mengorbankan diri dan orang lain, sementara semua orang, siapa saja, yang menggunakan akal sehat, menolak atau mengutuknya. “Manusia, beragama atau tidak, diikat oleh suatu rasa kemanusiaan; dan agama sejatinya menguatkan ikatan itu, dan bukan sebaliknya, melemahkan atau merusaknya” (Antonius A. Gea).
Tugas
Diskusi Kelompok
Allah telah menyampaikan pesan-pesan moral utamanya kepada manusia untuk dihayati dan diamalkan dalam sikap dan perilaku terhadap satu sama lain. Pesan-pesan moral utama inilah yang penting digali terutama dalam lembaran-lembaran Kitab Suci, kemudian diinternalisasikan ke dalam diri, sehingga pesan- pesan moral utama itu, yang mengandung nilai dasar dan universal, menjadi karakter setiap umat beragama, yang mengendalikan kehidupan dari dalam, mengarahkan pandangan, sikap dan perilaku dalam kehidupan. Silahkan kelompok mengkongkritkan atau menjabarkan lebih lanjut tentang hal ini.
Referensi
• Fios, Frederik dan Antonius Atosokhi Gea (2017). Character Building Spiritual Development, Bina Nusantara Media & Publishing, Jakarta.
• Gea, Antonius Atosokhi, dkk (2002). Character Building II Relasi dengan Sesama, Percetakan PT Gramedia, Jakarta
• Gea, Antonius Atosokhi, dkk (2002). Character Building III Relasi dengan Tuhan, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta
• Klann, Gene (2007). Building Character. Strengthening the Heart of Good Leadership, John Wiley
& Sons, Inc.USA
• Lickona, Thomas (2016). Educating for Character. Bagaimana Sekolah dapat Mengajarkan Sikap Hormat dan Tanggungjawab. Diterjemahkan oleh Juma Abdu Wamaungo, Penerbit PT Bumi Aksara, Jakarta
• Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi (2016). Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemeterian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Cetakan 1, Jakarta.
18
• Ritchhart, Ron (2002). Intellectual Character. What it is, Why it Matters, and How to Get it., Jossey-Bass, A Wiley Company, San Fransisco
• Smith, Wilfred Cantwell (2008). Kitab Suci Agama-agama, diterjemahkan oleh Dede Iswadi, Penerbit PT. Mizan Publika, Jakarta
• Sugiharto, I., Agus Rachmat W. (2000). Wajah baru Etika dan Agama, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
19
Topik 2
THE RELIGION IN GENERAL
Learning Outcome:
LO1: Explain the nature of religions and the God in general Session outcomes:
Setelah mengikuti sesi ini mahasiswa diharapkan mampu:
- menjelaskan konsep yang berkaitan dengan agama pada umumnya - memiliki pola berpikir yang terbuka dalam mempelajari agama
- menunjukkan sikap inklusif dan keterbukaan dalam kehidupan beragama
A. PENDAHULUAN
Agama merupakan hal yang mendasar di dalam kehidupan orang-orang yang beriman dan percaya kepada Tuhan. Agama menunjukkan pengakuan/tanggapan manusia terhadap adanya daya transendental, kekuatan supranatural, kekuatan adikodrati yang jauh melampaui segala realitas yang ada di dalam tatanan alam semesta ini. Agama memberikan orientasi atau visi komprehensif bagi manusia dalam berpikir, bersikap dan berperilaku sebagai makhluk yang mengakui eksistensi Tuhan dalam realitas. Agama memberikan jaminan keselamatan dan kebahagiaan abadi untuk para penganutnya.
Agama memberikan visi eskatologis, visi akhir zaman yang memberikan ketenangan batin bagi manusia yang beriman pada masa kini. Visi ini meresapi sikap dan perilaku manusia sehari-hari di mana saja berada, hidup dan berkarya. Agama menjadi sumber ajaran moral bagi penganutnya. Agama menjadi dimensi penting dalam realitas sosial manusia sebagai kenyataan yang tersebar luas, dihayati pada tingkat individu maupun sosial di lingkungan keluarga, di tempat kerja hingga lingkungan masyarakat publik. Agama menerangi lorong jalan kehidupan para penganutnya.
Hal yang unik dari setiap agama terletak pada ajaran atau doktrin yang diyakini sebagai hal yang bersifat kudus, suci, sakral dan bernilai luhur sebagai sumber penghayatan hidup religius. Doktrin dimaknai sebagai sumber kebenaran iman keagamaan. Persepsi tentang kebenaran doktrin dalam agama mempengaruhi sikap manusia dalam totalitas hidup pribadi maupun interaksi sosialnya dengan sesama.
Agama menjadi sumber etika dalam sikap dan perilaku. Unsur etika diakui kebenarannya dan diwujudkan dalam sikap dan tingkah laku yang etis-spiritual dalam dinamika realitas sepanjang hidup kaum beragama.
20 B. PEMBAHASAN
1. Motivasi Hidup Beragama
Hampir semua pemeluk agama di dunia ini menganut ideologi atau pun motivasi tertentu dalam menghayati dan menghidupi iman keagamaan mereka. Motivasi itu bisa bersifat personal maupun bersifat komunal. Motivasi itu mempengaruhi kehidupan setiap pribadi penganut beragama. Para penganut agama (Islam, Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu, Konghucu, Aliran Kepercayaan dll) pasti memiliki motivasi-motivasi internal tertentu dalam memilih agama yang dianut masing-masing. Motivasi keagamaan umumnya bersifat psiko-subjektif yang diyakini sebagai sumber keutamaan yang mengarahkan cara berpikir, merasa dan bertindak para penganut agama sepanjang hidup.
Data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia menunjukkan total jumlah penduduk Indonesia sebanyak 272,23 juta jiwa pada Juni 2021. Dari data ini, sebanyak 236,53 juta jiwa (86,88%) beragama Islam, sebanyak 20,4 juta jiwa (7,49%) memeluk agama Kristen, terdapat 8,42 juta jiwa (3,09%) beragama Katolik, penduduk Indonesia beragama Hindu sebanyak 4,67 juta (1,71%), yang beragama Budha sebanyak 2,04 juta jiwa (0,75%), sebanyak 73,02 ribu jiwa (0,03%) penduduk Indonesia beragama Konghucu, dan 102,51 ribu jiwa (0,04%) penduduk Indonesia menganut aliran kepercayaan.
Motivasi-motivasi keagamaan itu bervariasi, namun umumnya para ilmuwan sosial (social scientists) menggarisbawahi beberapa hal pokok sebagai motivasi dasar mengapa para penganut agama memeluk suatu agama tertentu (Bdk. International Encyclopedia of the Social Sciences, 2010: hlm. 161), antara lain:
a) Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar kehidupan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan dan teknologi seperti fenomena bencana alam, kematian manusia, dan kemungkinan adanya kehidupan sesudah kematian.
b) Orang menganut agama untuk mengatasi keterbatan-keterbatasan manusiawi yang dialami di dalam hidupnya. Manusia sering kali berhadapan dengan fenomena atau kenyataan keterbatasan-keterbatasan yang membuat manusia tertunduk dan diam. Manusia akhirnya mengakui adanya kekuatan lain yang jauh melampaui manusia. Kekuatan itu dinamai Yang Kudus, Sang Transenden, Sang Supernatural, Sang Spiritual, Sang Ultimate, Tuhan (Allah) dll.
c) Orang menganut agama untuk menciptakan keteraturan dan kohesi sosial dalam tatanan masyarakat manusia. Seseorang menganut agama untuk mengarahkan hidupnya agar berjalan sesuai dengan tujuan yang benar; misalnya bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, atau menjauhi yang jahat dan melakukan perbuatan yang baik atau terpuji. Dengan
21
melakukan perilaku etis, maka perdamaian dan keamanan di dunia ini pun dapat terealisasi secara baik dan ideal.
2. Substansi dan Asal-Usul Agama
E.B.Tylor mendefinisikan agama sebagai kepercayaan kepada wujud-wujud spiritual di dalam kehidupan manusia. Ia mengatakan walau agama memiliki banyak perbedaan, namun agama-agama secara substansial semuanya sama dalam satu hal, yakni pengakuan adanya roh-roh di dalam alam ini yang dapat berpikir, bertindak dan merasakan sama halnya seperti kita manusia.
E.B.Tylor kemudian mengorbitkan ide “kesatuan psikis” yang menyebabkan manusia memiliki potensi-potensi spiritual dan pikiran yang sama. Manusia sama dalam berpikir dan bertindak. Kesamaan- kesamaan yang kita saksikan di antara budaya-budaya di seluruh dunia, bersumber dari kesamaan mendasar dalam benak manusia, karena kebanyakan budaya-budaya adalah hasil kreasi manusia. Prinsip kesatuan psikis dalam pandangan intelektualisme memberikan asumsi bahwa agama dalam seluruh ruang dan waktu, selain perbedaan-perbedaan yang dimilikinya, juga memiliki fenomena yang sama, bahkan bersumber dari substansi yang satu.
Auguste Comte mengemukakan tiga (3) tahapan dalam evolusi agama, menerima definisi Tylor sebagai tahapan pertama dalam agama. Comte melangkah lebih jauh dari tahapan tersebut da n menganggap agama sebagai rangkaian norma-norma yang tersebar dalam bagian-bagian masyarakat dan juga menganggapnya sebagai faktor koherensi masyarakat. Perhatian Comte pada faktor tersebut, secara perlahan-lahan menyimpulkan agama pada sisi tersebut. Hal-hal yang menyebabkan koherensi dan menyatukan masyarakat, ia sebut sebagai agama.
Agama positivistik yang dibangun Comte, walaupun di dalamnya tidak terdapat kepercayaan terhadap wujud-wujud spiritual, namun menurutnya, agama mampu menyatukan seluruh masyarakat.
Comte tetap menerima definisi yang dikemukan Tylor dalam agama tahapan pertama. Kita bisa berasumsi bahwa definisi tersebut sebagai titik kesamaan di antara tokoh intelektualisme.
3. Elemen-Elemen Dasar Agama
Terdapat 8 elemen dasar yang terdapat di dalam agama yakni:
a. Memiliki kepercayaan/sistem keyakinan
Kepercayaan merupakan unsur dasar di dalam agama. Kepercayaan artinya keyakinan atau iman yang kukuh dan tidak tergoncangkan pada Tuhan ataupun substansi yang disembah di dalam agama - agama. Kepercayaan identik dengan suatu keyakinan spiritual yang mengkristal di dalam hati orang yang menghayati agama. Keyakinan itu tampak dalam hal-hal seperti pengakuan akan adanya satu Tuhan (monoteisme), keyakinan akan keselamatan di akhirat (parusia), kepercayaan akan reinkarnasi bagi
22
agama Hindu ataupun kepercayaan pada roh nenek moyang yang dihayati oleh para pemeluk agama Shinto.
Unsur kepercayaan dalam agama sangat menentukan disposisi batin orang -orang yang menghayati agama. Kalau orang meyakini agamanya secara kukuh dan tidak tergoncangkan, ia akan konsisten untuk mendalami agama itu secara mendalam. Ia akan merasa aman, damai dan bahagia dalam agama bersangkutan. Namun kalau dia tidak memiliki kepercayaan yang baik di dalam agama itu, ia sulit berkembang baik di dalam agama dimaksud. Ia bisa menjadi bosan, malas, apatis, antipati dan bahkan mengalami pengalaman negatif lainnya. Kalau orang memiliki kepercayaan yang teguh dalam agamanya, orang bersangkutan akan menghayati hidup secara bermakna, positif dan produktif. Ia merasa aman dalam agama yang dianutnya.
”Saya bukannya mencoba menyelami keagunganMu ya Tuhan, sebab saya sama sekali tidak membandingkan akal budiku dengan keagunganMu itu. Tetapi saya
ingin sedikit melihat kebenaranMu, yang dipercayai dan dicintai oleh hatiku. Dan saya tidak bermaksud untuk memahami agar percaya, tetapi saya percaya agar bisa memahami. Sebab saya percaya juga bahwa saya tidak akan mampu memahami kecuali
jika saya percaya.” (Santo Anselmus).
b. Memiliki simbol/tanda/lambang
Agama-agama biasanya memiliki simbol, tanda dan lambang material tertentu di dalamnya.
Simbol atau lambang material itu bukan hampa makna atau pun nihil nilai. Simbol memiliki kandungan arti dan makna tertentu di baliknya. Simbol hanya dipahami dan dimengerti secara eksklusif oleh kelompok penganut agama bersangkutan. Kelompok agama lain tidak dapat memahami secara baik dan mendalam simbol-simbol yang terdapat di dalam agama kelompok lainnya.
Simbol biasanya berkaitan dengan filosofi atau cara pandang para penganut agama berkaitan dengan Tuhan yang mereka sembah dalam agama mereka. Simbol diklaim sebagai unsur bersifat suci, sakral, istimewa dan unik. Simbol biasanya dapat menjadi sarana yang mendukung praktik ibadat atau ritus kelompok penganut agama bersangkutan. Simbol sangat penting artinya bagi penganut agama.
Beberapa contoh simbol material dalam agama-agama misalnya dalam Islam terdapat simbol tertentu seperti tasbih, dalam agama Katolik ada simbol rosario, dalam agama Kristen Protestan (dan Katolik) ada simbol salib, dalam agama Budha dan Hindu ada simbol patung-patung, dalam agama Konghucu ada Hio dan lain sebagainya. Simbol agama juga dapat dilihat dalam bentuk rumah (bangunan) ibadat yang dapat dilihat secara artifisial. Biasanya simbol agama-agama dihormati, dihargai dan digunakan sebagai instrumen pendukung dalam doa, ibadat, ritus suci dan upacara-upacara
23
keagamaan. Simbol diyakini mampu mengantar para penganut agama masuk lebih khusyuk di dalam ibadat-ibadat yang mereka lakukan.
”Dalam seluruh eksistensi hidupnya, manusia selalu mengeskpresikan diri melalui simbol-simbol unik sebagai ungkapan pikiran dan perasaannya dalam komunikasinya dengan orang lain. Karena itulah manusia disebut sebagai homo symbolicum yang meneguhkan hakikat manusia sebagai makhluk berbudaya”
(Ernst Cassirer).
c. Memiliki praktik ritual
Para penganut agama biasanya menjalankan praktik keagamaan sebagai bagian integral dalam kehidupan religius mereka. Ada banyak praktik keagamaan yang biasanya dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok. Praktik keagamaan itu dilakukan sebagai ungkapan iman para pemeluk agama kepada Tuhan.
Praktik keagamaan yang dapat dilihat dalam kehidupan religius para penganut agama misalnya berdoa, sembahyang/sholat/yoga, berpuasa pada waktu-waktu tertentu, berpantang makan daging hewan tertentu dan lain sebagainya. Para penganut agama lazim menjalankan praktik keagamaan ini secara serius dan konsisten. Praktik ini pun menjadi tanda penunjuk identitas untuk mengenali jenis agama yang dianut oleh pemeluk agama tertentu.
Salah satu unsur dasar yang menyertai praktik agama adalah dimensi sikap patuh untuk melakukan praktik itu dengan penuh ketaatan dan loyalitas. Hal inilah yang lalu membuat praktik agama itu sebagai hal yang rutin dilakukan oleh para penganut agama. Praktik agama itu ada yang bersifat wajib dan harus, ada pula yang bersifat tidak wajib atau fakultatif disertai berbagai konsekuensi aturan dan ketentuan yang menyertainya.
d. Memiliki umat atau komunitas
Individu atau orang yang kemudian bergabung dalam kelompok jenis agama tertentu akhirnya membentuk apa yang disebut kelompok atau komunitas pemeluk agama. Lazimnya orang yang memeluk agama tertentu disebut penganut agama atau umat. Umat merupakan kumpulan orang -orang yang memiliki iman, keyakinan dan kepercayaan yang sama akan Tuhan atau Allah ataupun sebutan lain yang searti dengannya.
Penganut masing-masing agama menjalankan ibadat atau upacara keagamaan untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai umat dari golongan agama tertentu. Mereka juga menghayati praktik keagamaan dalam suasana kebersamaan, persaudaraan dan keakraban satu sama lain. Selain kelompok penganut agama dalam jumlah besar, biasanya ada pengelompokan umat dalam bagian- bagian yang lebih kecil lagi dengan jumlah anggota yang lebih kecil atau sedikit. Misalnya ada warga
24
jemaat atau lingkungan di dalam umat Kristiani (Katolik dan Protestan), atau warga pesantren/majelis taklim tertentu, komunitas keagamaan yang terdiri dari anggota suatu gereja tertentu, komunitas pura dan wihara dan lain sebagainya.
e. Memiliki pengalaman keagamaan
Setiap penganut agama memiliki pengalaman-pengalaman keagamaan tertentu yang khas dan unik. Pengalaman keagamaan itu dihayati secara bersama maupun pribadi. Misalnya saja di kalangan Kristen Protestan ada yang mengalami pengalaman keagamaan lalu menghayati panggilan khusus menjadi pendeta. Di kalangan Katolik seseorang yang mengalami pengalaman keagamaan akan merasa terpanggil untuk menjadi pastor (romo atau pater) ataupun menjadi biarawan (bruder) dan biarawati (suster). Di dalam agama Islam, orang yang mengalami pengalaman keagamaan akan merasa terdorong untuk pergi menunaikan ibadah haji di Mekkah. Di Budha orang yang mengalami pengalaman keagamaan akan merasa terpanggil untuk menjadi biksu atau pewarta agama yang baik. Pengalaman keagamaan ini hampir ditemukan di dalam setiap agama di dunia.
Pengalaman keagamaan ini sering menjadi tolok ukur untuk menentukan kadar kedalaman hubungan orang beragama dengan Tuhan. Semakin dalam hubungan dengan Tuhan, seseorang akan mudah mengalami pengalaman keagamaan. Semakin jauh relasi dengan Tuhan, maka pengalaman keagamaan pun semakin jauh dari hidup orang itu. Maka setiap orang beragama perlu mengembangkan diri dan mengusahakan diri untuk dapat mengalami pengalaman keagamaan dalam hidupnya.
Orang yang mengalami pengalaman keagamaan akan merasa kukuh dan kuat menghayati agama yang telah dipilih dan dianutnya. Ia tidak akan mudah tergoncangkan untuk melakukan hal yang buruk atau hal yang salah dalam hidupnya. Ia tidak akan gampang juga untuk terjatuh ke dalam godaan-godaan dunia ini yang menyesatkan dan menghanyutkan manusia ke dalam jurang dosa. Sebab dosa semakin menjauhkan manusia dari Tuhan sebagai substansi ilahi yang disembah dalam agama-agama.
f. Memiliki Etika
Setiap agama memiliki aturan, hukum, norma, tata cara, kode etik, doktrin yang dijadikan sebagai sumber ajaran moral atau etika bagi para penganutnya. Etika ini menjadi pegangan dan sumber sikap dan perilaku sosial para penganut agama dalam relasi dan interaksi sosialnya dengan diri sendiri, orang lain, alam maupun dalam relasi dengan Tuhan yang diyakini sebagai sumber kebaikan utama dan tertinggi. Orang beragama menjadikan etika ini sebagai patokan dan orientasi dalam sikap dan perilaku hidupnya baik secara individual maupun secara kelompok.
g. Memiliki Aspek Sakralitas/Kekudusan
Setiap agama memiliki pandangan akan hal-hal yang mereka yakini sebagai sakral atau kudus dan juga pandangan akan hal-hal yang menurut mereka profan atau duniawi. Mereka sungguh memberikan fokus, apresiasi dan perhatian serius pada hal-hal yang suci dan kudus. Ada objek-objek
25
yang dianggap sakral misalnya tempat suci, musik, patung, lukisan, bunga, pakaian, arsitektur bangunan, atau area yang dianggap suci atau kudus sebagai tempat atau sarana berdoa, bermeditasi atau pun merenung untuk mendapatkan inspirasi dan makna hidup yang spiritual.
h. Memiliki Kisah/Sejarah yang Sentral
Di dalam setiap agama ada kisah-kisah sejarah yang dianggap sentral dan penting yang mempengaruhi cara berpikir, sikap dan kepercayaan serta keyakinan kelompok penganut agama bersangkutan. Kisah sejarah itu dianggap religius dan menungkapkan suatu kebenaran fakta sejarah di masa lampau yang pernah terjadi atau juga suatu imajinasi religius pada masa tertentu di masa lalu yang berdampak pada masa kini dan masa depan penganutnya.
4. Membaca dan Memaknai Agama
Sesuai dengan watak evolusi agama yang harus diejawantahkan, maka tradisi kritik dan pemunculan tafsir yang heterogen menjadi suatu keniscayaan dan kemestian wajar tak terelakkan.
Tradisi ini bertujuan agar peran-peran profetik agama sebagai kekuatan moral dan pembebasan lewat perilaku pemeluknya dapat muncul lagi ke permukaan. Keragaman tafsir ini bermakna positif sebagai upaya kontekstualisasi teks agama pada problem-problem kemanusiaan aktual kontemporer.
Dalam pemunculan keberagaman tafsir keagamaan, metode dekonstruksi yang dicetuskan oleh Jean Jacques Derrida (filsuf Prancis) layak dijadikan alternatif paradigma dan cara kerja. Metode yang awalnya dipakai dalam bidang sastra dan filsafat ini, bertujuan untuk membongkar, menguak, atau meleburkan setiap jenis struktur yang dipaksakan kebenarannya, sehingga tidak menyisakan ruang untuk bertanya, menggugat, atau pun mengkritik.
Dalam bidang keagamaan, dekonstruksi terhadap teks ini memungkinkan kita untuk membongkar monopoli tafsir atas otoritas tertentu yang menegaskan mengenai “kebenaran” atas nama Tuhan, negara atau penguasa. Sehingga definisi dan praktek pencarian “kebenaran” menjadi demokratis dan berparadigma antroposentrik. Dalam hal ini, manusia menjadi pusat tafsir yang berusaha untuk menggali kebenaran yang beragam secara objektif.
Evolusi keagamaan yang menghargai pluralitas dengan sendirinya menekankan adanya historisitas logos dalam pembacaan teks. Maksudnya, dalam pembacaan teks agama mutlak diperhatikan rentang waktu kemunculan, kompleksitas, serta latar belakang ideologi yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, Arkoun mengkritik adanya sebuah sakralisasi pengetahuan agama (taqdis al-afkar ad- diniyyah) yang sering terjadi pada umat beragama. Sebab, pensakralan menjadikan manusia terbelenggu pada kebenaran tunggal dan penerimaan tanpa reserve sebuah penafsiran teks keagamaan.
Padahal, kemunculan teks pada masa lalu pasti tidak terlepas dari dimensi politis dan ideologis sang pengarang di zamannya. Dalam konteks ini, Arkoun menganjurkan kita agar jeli membedakan
26
pemikiran keagamaan yang ada pada era klasik, skolastik, dan modern. Untuk itu, model pembacaan teks dengan metode hermeneutika yang berusaha menghadirkan teks masa lalu agar bisa terpakai pada zaman sekarang, layak diterapkan. Dalam metode ini, latar belakang kemunculan teks, maksud pengarang, struktur bahasa, nilai atau simbol pengetahuan, dan kontekstualisasi adalah sebuah lingkaran yang senantiasa berkelindan. Sehingga, sebuah teks keagamaan tidak serta merta dipakai secara simbolik tanpa mengkaji makna substantif dan moralitas yang terkandung di baliknya. Teks kitab suci perlu dibaca secara kritis.
Dengan bahasa dan istilah berbeda, Mohammad Abed Al-Jabiri juga menegaskan, bahwa kritisisme dalam pembacaan dan pemaknaan kembali teks keagamaan mutlak dilakukan. Sedangkan metodologi yang ditawarkan adalah metode strukturalis: analisis sejarah dan kritik ideologi. Metode strukturalis digunakan sebagai pembacaan teks secara literal dan membatasinya dalam melokalisir kebenaran yang bersifat sementara. Sedangkan analisis sejarah adalah mencari pertautan pemikiran sang pengarang teks dengan ruang lingkup sejarah budaya, sosial, politik, serta sosiologisnya. Kritik idelogi mengungkap maksud pengarang dalam penciptaan karya melalui epistemologi yang dirujuknya.
Dengan model pembacaan dan pemaknaan agama yang tidak terjebak pada simbol dan homogenitas seperti di atas, umat beragama diharapkan menjalankan keberagamaan baru yang humanis dan membebaskan. Penegasan Soroush: “agama terakhir sudah datang, akan tetapi pemahaman agama yang terakhir belum datang” adalah kata kunci untuk memulai keberagamaan baru. Ke depan, umat beragama diharapkan dapat saling hidup bersama dengan menghargai perbedaan, melakukan dialog antar-intra iman, dan giat bekerja sama untuk memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan, sosial dan ekologi lingkungan serta menggalakkan demokratisasi dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara yang lebih baik di masa depan.
C. PENUTUP
Kita sudah melihat bersama pembahasan yang berkaitan dengan agama pada umumnya. Agama adalah institusi atau organisasi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Agama berperan menciptakan kebaikan, perdamaian dan kesatuan manusia di dalam tatanan sosial masyarakat. Agama memiliki substansi, asal usul, dan karakteristik tertentu dalam kiprahnya. Sebagai mahasiswa calon pemimpin masa depan dan generasi penerus bangsa, kita perlu memiliki pemikiran yang terbuka (inklusif dan pluralis) dalam belajar, memahami dan memaknai agama secara bijaksana sehingga semakin bertumbuh menjadi pribadi manusia yang toleran, peduli sosial dan mampu bekerjasama dalam l.atar perbedaan agama di Indonesia ini.
Tugas
27 Refleksi Pribadi
Setelah mempelajari materi materi ini, Anda diminta untuk merefleksikan:
1. Apa keyakinan/kepercayaan sentral di dalam agama Anda?
2. Bagaimana komunitas Agama Anda berbagi dengan kelompok yang lain?
3. Cerita/kisah apa yang sentral di dalam Agama Anda?
4. Apa makna utama ritual dalam agama Anda?
5. Apa etika utama dalam ajaran agama Anda yang Anda ikuti dan taati? Mengapa?
6. Bagaimana pengalaman religius yang menarik di dalam pengalaman perjalanan hidup Anda?
7. Tempat apakah yang dianggap suci/sakral dalam agama Anda? Mengapa?
Referensi
• Ernst Cassirer (1944). AN ESSAY ON MAN: An Introduction to a Philosophy of Human Culture. Louis Storm Memorial Fund: USA
• Frederikus Fios dan Antonius Atosokhi Gea (2017). Character Building: Spiritual Development. Jakarta: Bina Nusantara University.
• International Encyclopedia of the Social Science (2010). Detroit: Maxmillan Reference
• Tim Penulis Character Building Agama (2014). Character Building Agama. Jakarta: Binus University
• https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/09/30/sebanyak-8688-penduduk- indonesia-beragama-islam
• https://college.holycross.edu/projects/himalayan_cultures/2011_plans/sshmitt/images/
Elements.pdf
28
Topik 3
KNOWING WHAT OR WHO GOD IS
Learning Outcome:
LO1: Explain the nature of religions and the God in general Session outcomes:
Setelah mengikuti sesi ini mahasiswa diharapkan mampu:
• menjelaskan konsep-konsep Allah berdasarkan Kitab Suci
• menerapkan makna mengenal Allah melalui alam
• menerapkan makna mengenal Allah melalui sesama
A. PENDAHULUAN
Sebagai orang beriman dan beragama, sudah seharusnya kita memiliki pemahaman, gambaran atau konsep tentang apa atau siapa Allah yang kita imani itu (Pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, 2016: hal. 88). Gambaran, konsep atau pemahaman kita tentang Allah sangat penting terkait penghayatan kita tentang Dia dalam kehidupan kita. Kalau kita memiliki gambaran yang baik tentang Allah, termasuk tentang berbagai pesan-pesan atau tuntunan moral-Nya untuk kita, tentu kita akan lebih mudah dan optimis dalam menghayatinya dalam kehidupan kita sebagai orang beriman. Gambaran atau konsep kita tentang Allah bukanlah sesuatu yang tidak berkaitan dengan kehidupan kita yang hakiki, yang sekedar mengisi otak atau pengetahuan fantasi-abstraksi kita; melainkan sebaliknya, sesuatu yang sangat berkaitan dan memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia. Keterbukaan manusia pada Yang Adikodrati merupakan fitrah manusia yang dimilikinya sejak lahir (Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, 2016: hal. 43).
Sumber utama pengenalan akan Allah adalah Kitab Suci atau Kitab Keagamaan, yang diyakini sebagai warisan para nabi atau tokoh-tokoh awal agama-agama di dunia ini (Tim CBDC, Character Building:
Agama, 2015: hal. 29-34). Selain pengenalan melalui Kitab-kitab Suci, Allah bisa dikenal juga melalui berbagai cara lain, melalui ciptaan-Nya, melalui peristiwa-peristiwa atau kejadian, melalui pengalaman (baik atau buruk), baik pribadi maupun bersama, melalui hati Nurani dan melalui berbagai perjumpaan lainnya. Pengenalan akan Allah melalui Kitab suci merupakan pengenalan yang khas, karena didasarkan pada apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Sebagai tulisan maka konsep itu tidak berubah, bisa dihafal dan dieja dengan fasih, tanpa salah seikitpun. Untuk pengenalan akan Allah melalui sumber-sumber atau