• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Akhir Kepedulian Pada Lingkungan

Dalam dokumen CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015) (Halaman 118-121)

CARING FOR THE ENVIRONTMENT

6. Hasil Akhir Kepedulian Pada Lingkungan

Pada bagian sebelumnya kita sudah melihat tentang cara-cara yang dapat dikembangkan untuk menunjukkan sikap peduli pada lingkungan alam. Semua upaya tersebut tentu sangat bermanfaat positif bagi terciptanya situasi masa depan alam yang lebih baik lagi dibandingkan sekarang ini. Buah-buah dari sikap peduli pada lingkungan alam dimaksud bisa diproyeksikan dalam lima (5) pokok pikiran berupa pengkondisian masa depan alam yang lebih baik lagi, yakni: terciptanya situasi lingkungan alam yang seimbang (ekuilibrasi), terciptanya situasi keadilan terhadap alam (yustisial), terciptanya situasi kebaikan alam (etika), terciptanya situasi keindahan alam (estetika), terciptanya kondisi sakralitas alam (spiritualisme). Kita akan melihat pembahasannya satu per satu.

Pertama, terciptanya lingkungan alam yang seimbang. Jika kita menerapkan cara-cara peduli pada alam secara konsisten dan konsekuen, maka akan tercipta lingkungan alam yang seimbang.

Keseimbangan yang dimaksud di sini artinya kerusakan alam yang signifikan dan dampaknya yang merusakkan kehidupan manusia dan makhluk lain akan semakin berkurang atau bisa diminimalisasi.

Sebuah surga di dunia dalam kondisi lingkungan alam yang seimbang dan harmonis mau kita ciptakan kembali sejak sekarang di dunia fana ini. Alam yang seimbang tampak dalam berkurangnya bencana alam banjir, angin topan, badai ganas, krisis energi, pemanasan global, tanah longsor dan lain sebagainya.

Peristiwa bencana alam akibat ulah manusia mau kita eliminasi sehingga manusia semakin nyaman tinggal di bumi ini.

Kedua, terwujudnya cita-cita keadilan terhadap alam. Segala bentuk tindakan eksploitasi yang berlebihan pada alam menggambarkan perlakukan tidak adil manusia terhadap alam. Perlakuan tidak adil manusia pada alam menunjukkan kekuasaan manusia dan mengedepankan suatu bentuk kolonialisme baru (kriptokolonialisme) manusia pada lingkungan alam. Padahal, hidup manusia seluruhnya tergantung pada alam dan tidak mungkin tanpa lingkungan alam. Sikap peduli pada alam akan menciptakan sikap adil manusia pada alam yang selama ini tidak dipertimbangkan atau bahkan tidak disadari sama sekali. Sikap adil bukan hanya perlu diwujudkan dalam relasi antarmanusia, melainkan juga dalam relasi dengan alam. Keadilan pada alam artinya manusia mau kembalikan nilai-nilai intrinsik luhur yang sudah dirampas dari alam itu sendiri. Kita mau kembalikan apa yang menjadi hak-hak alam untuk bertumbuh secara natural tanpa intervensi kekuasaan manipulatif berlebihan dari pihak manusia. Kita biarkan alam menentukan jalannya sendiri menuju kesempurnaan dirinya. Kesempurnaan alam terletak

119

pada dirinya sendiri (inheren), dan tidak ditentukan oleh tanggapan indrawi-irasional ataupun keputusan rasional-logis manusia.

Ketiga, terwujudnya kualitas lingkungan alam yang semakin baik. Alam yang tetap dalam kondisi terjaga baik menjadi arah atau orientasi dasar semua orang yang peduli pada alam. Tindakan peduli pada alam alhasil akan menghasilkan situasi ideal bagi kualitas kebaikan alam lingkungan yang semakin baik.

Alam yang dalam kondisi baik akan tampak dalam nuansanya yang asri, yang tersenyum, yang ramah dan bersahabat dengan manusia dan makhluk lainnya. Alam yang baik tidak akan memberikan bencana bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya di bumi ini.

Keempat, terciptanya situasi keindahan alam. Tindakan peduli pada alam akan menghasilkan kembali lingkungan alam yang indah. Kita mau lingkungan alam menjadi realitas surgawi bagi kita manusia. Lingkungan alam yang indah tampak dalam pemandangan alam yang menarik, hutan-hutan lebat menghijau, burung berkicau di atas pohon, hingga embun yang bercahaya pada dedaunan. Situasi indah alam memancarkan pesona eksotis yang menenteramkan hati dan menghidupkan berbagai makhluk hidup. Keindahan alam ibarat ibu yang memberikan rasa nyaman dan kebahagiaan batin bagi manusia yang mampu merasakan nilai estetis.

Santo Agustinus pernah bermadah: “Lihatlah keindahan bumi, lihatlah keindahan samudera, tanyakanlah keindahan udara yang menyebarluas, tanyakan keindahan langit, tanyakanlah semua benda dan makhluk; dan semuanya akan menjawab: lihatlah betapa indahnya kami, siapakah yang menciptakan benda-benda yang indah di dunia ini kalau bukan Yang Ilahi? (Leteng:2005, hal. 24). Keindahan alam adalah hasil ciptaan Tuhan yang perlu dipelihara dan dilestarikan eksistensinya oleh manusia. Dan ini hanya mungkin jika manusia memiliki intuisi dan visi spiritual untuk peduli pada alam.

Kelima, terpeliharanya nilai-nilai sakralitas alam. Tindakan eksploitatif manusia pada alam telah mengggeruskan sakralitas alam. Dan kita mau peduli pada alam untuk memulihkan sakralitas alam itu.

Salah satu hasil atau buah penting dari tindakan peduli pada lingkungan alam tampak dalam terpeliharanya kondisi alam yang penuh pesona, eksotik, sakral, kudus, suci. Alam yang sakral sungguh bernilai luhur dan mulia serta kudus karena diciptakan oleh Tuhan sendiri. Sebagai ciptaan Tuhan, alam memiliki kualitas keilahian dan kekudusan di dalam dirinya sendiri. Kualitas sakral ini patut diinsyafi oleh setiap manusia yang masih punya hati nurani yang murni dan bening. Sikap peduli pada lingkungan alam harus dilandasi oleh iman ekologis yang tinggi dan mendalam pada alam sebagai ciptaan Tuhan yang bernilai agung-luhur.

C. PENUTUP

Krisis lingkungan dalam dunia kita terus terjadi karena ulah kita manusia. Teridentifikasi beberapa faktor penyebab yang inheren atau melekat erat pada kita sebagai manusia sebagai faktor

120

pemicunya. Ada tiga (3) hal utama yang menyebabkan krisis lingkungan yakni: akibat cara pandang yang melihat alam sebagai objek, peraaan tidak empatik, dan tindakan tidak etis terhadap alam. Kita manusia terbukti menunjukkan sikap yang tidak baik dan tidak layak terhadap alam. Sebagai orang beragama dan beriman kepada Tuhan, kita perlu sadar dan instrospeksi diri untuk melakukan perubahan dalam totalitas kemanusiaan kita. Kita perlu menata pikiran, hati dan juga sikap serta tindakan kita untuk menjaga alam, melestarikan alam dan memastikan alam terus berlanjut dengan baik di masa depan.

Kita perlu sadar bahwa alam tidak hanya bernilai material namun juga bernilai rohani atau religius-spiritual. Segala sikap dan tindakan kita dalam membangun harus ditempatkan dalam konteks usaha merawat dan melestarikan alam lingkungan. Kita bertanggung jawab terhadap nasib dan masa depan bumi ini. Oleh karena itu nilai-nilai etis-spiritual mutlak perlu diaktualisasikan dalam relasi kita dengan alam sehingga kita dapat hidup sebagai orang beragama yang bijaksana. Kita pun memberikan kontribusi positif bagi masa depan lingkungan yang lebih baik.

Tugas

Refleksi Pribadi

Setelah mendalami materi ini, ungkapkanlah pandangan, pengalaman, rasa kedekatan dan kepedulian Anda pada alam lingkungan dalam sebuah puisi (bisa mulai dengan menentukan sebuah judul terlebih dahulu, atau sebaliknya, judul ditentukan setelah teks puisi selesai di buat).

Referensi

• David C. Korten (2006). The Great Turning From Empire to the Earth Community. Berret Koehler Publisher, San Francisko.

• Mary Evelyn Tucker & John A. Grim (ed.) Worldviews and Ecology: Religion, Philosophy, and the Environment. New York: Orbis Book. Bdk. edisi Indonesia berjudul “Agama, Filsafat dan Lingkungan” (2003) terjemahan P. Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius.

• FranK Mihalic SVD (2009 terj). 1500 Cerita Bermakna, untuk Renungan dan Khotbah dan Ceramah Anda. Bogor: Grafika Mardi Yuana.

• Frederikus Fios dan Antonius Atosokhi Gea (2017). Character Building: Spiritual Development. Jakarta: Bina Nusantara University

• Frederikus Fios (2019). Manusia Ekologis (Bersama Henryk Skoliwmowski). Jakarta: Hegel Pustaka

• Tim Penulis Character Building Agama (2014). Character Building Agama. Jakarta: Bina Nusantara

121

Topik 12

Dalam dokumen CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015) (Halaman 118-121)