• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlu Pertobatan

Dalam dokumen CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015) (Halaman 100-103)

WILLING TO FORGIVE

2. Perlu Pertobatan

Kita orang beriman dan beragama mengakui bahwa dalam rangka menerima pengampunan dari Allah, kita harus bertobat. Hanya dengan bertobat maka pengampunan Tuhan akan efektif bagi kita, karena tanpa tobat, kita tidak berubah, dan tetap tinggal dalam suasana keberdosaan.

Pengampunan yang senantiasa ditawarkan oleh Tuhan kepada manusia menghendaki bahwa manusia juga harus bertobat. Pengampunan yang dari Tuhan tidak akan sampai kepada manusia apabila manusia sendiri tidak membuka hati untuk menerimanya. Kata Yunani “Metanoia” (meta = perubahan, nous = mentalitas) merupakan maksud yang diungkapkan dengan kata Indonesia “pertobatan”.

101

Pertobatan merujuk pada perubahan radikal dalam diri manusia, yaitu dalam cara berpikir, bersikap dan bertindak. Pertobatan terjadi apabila manusia mulai sadar akan kesalahannya. Dari kesadaran itu muncul penyesalan, karena tahu bahwa telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak sepantasnya dia lakukan.

Penyesalan sendiri bukanlah pertobatan. Hanya apabila kesadaran dan penyesalan akan dosa diikuti dengan perubahan cara berpikir, sikap hati, dengan membalikkan arah hidup ke jalan yang benar, yang tampak dalam tindakan nyata buah-buah pertobatan, barulah dikatakan pertobatan sudah terjadi (Gea, 2004: hal. 262). Jadi pertobatan merupakan perubahan sikap dan orientasi hidup, dari membelakangi Tuhan dengan segala perintah-Nya, kembali mengarahkan hidup kepada-Nya (Pendidikan Agama Kristen untuk Perguruan Tinggi, 2016: hal. 40). Bertobat berarti juga bangkit dari kejatuhan. Hal itu memang berat, namun tetap kita bisa melakukannya. (Xavier Leon – Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru (Yogyakarta, Kanisius, 1997) hal. 55 141).

Dalam ajaran Islam, untuk mendapatkan pengampunan, ada persyaratan sufistik yang mesti dipenuhi terlebih dahulu. Syarat itu antara lain bertobat, yaitu berjanji dengan diri sendiri bahwa “dia sama sekali tidak mau mengulangi kesalahan yang dilakukannya”. Seseorang yang telah melakukan kesaksian seperti itu, lalu melanggarnya sendiri, maka orang itu dicap sebagai orang munafik atau pengkhianat kepada dirinya sendiri, dan Allah mencatat perbuatan tersebut (Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Beberapa Aspek (Jakarta, UI Press, 1997) hal. 79-80, dan bandingkan juga dengan Majid Fahri, Etika Dalam Islam (Surakarta, Pustaka Pelajar, 1996), hal.133-135). Agama Islam menekankan, supaya hidup seseorang itu bahagia, aman sentosa, jauh dari penderitaan, ancaman dan segala kejahatan, maka perlu selalu berinstrospeksi (muhasabah). Hadis Nabi menyatakan bahwa: “Jika hidup kamu hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka kamu benar telah merugi; jika hidup kamu hari ini sama dengan hari kemarin berarti kamu tertipu (Hadis Nabi). Yang baik adalah: Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Dalam kepercayaan Kristen, pertobatan harus ada agar bisa memperoleh pengampunan. Maka seruan atau ajakan pertobatan sering dikemukakan. Yohanes Pembaptis menyerukan kepada pendengarnya: “bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk. 1:4;

Luk.3:3). Ketika Yesus datang ke Galilea dan memberitakan Injil, Dia mengaitkan penerimaan Injil dengan pertobatan: “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”

(Mrk.1:15). Dan, pada kesempatan lain Yesus ungkapkan bahwa ada sukacita besar di Surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena Sembilan puluh Sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan (Luk. 15:3). Yesus juga tidak ragu-ragu menyatakan kebinasaan orang yang tidak bertobat. Ketika orang-orang datang kepada-Nya membawa kabar tentang orang-orang Galilea yang darah mereka dicampur oleh Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan, Yesus katakan pada mereka: “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:3).

Tetapi perkataan Yesus lebih keras terlontar ketika Dia mengecam beberapa kota (orang -orangnya) karena

102

tidak bertobat walau mukjizat Tuhan terjadi di tengah-tengah mereka. Yesus tegaskan bahwa mereka akan diturunkan sampai ke dunia orang mati, dan pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggungan mereka (bdk. Mat.11:20- 24).

Dalam kepercayaan agama Hindu, kesalahan memang tidak bisa dihapus begitu saja. Untuk mendapatkan pengampunan harus ada upaya. Ada beberapa upaya penebusan dosa, tidak dengan uang, melainkan dengan melaksanakan perintah agama, berbuat baik sebanyak-banyaknya, di antaranya:

Melaksanakan dasa yama brata, yang meliputi: Ksamavrata, yaitu kesediaan memaafkan dan kemauan minta maaf kepada sesama dan juga kepada Tuhan; Pritivrata, yaitu kemampun mengembangkan welas asih terhadap sesama; melaksanakan manusa yajna, terutama penyucian diri (manusa samskarta). Selain itu, melaksanakan acara/upacara penebusan dosa. Acara penebusan dosa banyak diatur dalam Weda Smrti, khususnya dalam Parasara dharmasastra, dan Manawa dharmasastra, misalnya: Mengulang-ulang mantra Gayatri (Savitri mantram); Melakukan Puasa (upawasa) dalam berbagai tingkatan kelengkapan pelaksanaannya; Melakukan Mundawa samskara, yang artinya menggunduli kepala; Mandi suci di sungai Gangga (Prasarana Dharma sastra XII.11). Pertobatan, yang dalam Hindu disebut prayascita, dapat dilakukan dengan upacara samskara (penyucian dari luar) tetapi yang lebih penting adalan penyucian dari dalam diri, lewat tapa, brata, yoga, dan samadhi.

Dalam ajaran Buddha, perbuatan seseorang itu disebut kamma atau karma, yang secara umum berarti perbuatan, kehendak atau pikiran, kata-kata atau tindakan. Perbuatan seseorang umumnya menimbulkan akibat, dan akibat ini merupakan pula sebab lain yang mengakibatkan akibat yang lain, dan begitu seterusnya, sehingga kamma sering juga disebut “hukum sebab akibat” (Pendidikan Agama Buddha untuk Perguruan Tinggi, 2016: hal. 67). Melempar batu misalnya, itu adalah sebuah perbuatan. Batu menimpa kaca dan kaca menjadi pecah. Pecahnya kaca adalah akibat dari pelemparan batu. Tetapi peristiwa itu tidak hanya sampai di situ saja. Kaca yang pecah merupakan pula satu sebab dari kesukaran-kesukaran lainnya. Misalnya akan berakibat pada kekesalan seseorang atau kekecewaan bagi si empunya kaca. Dengan demikian, akibat dari karma itu tidak akan segera berakhir. Oleh sebab itu, kita harus hati-hati sekali dengan perbuatan kita, supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik. Kita hendaknya selalu berbuat baik, yang bermaksud menolong makhluk-makhluk lain, membuat mahkluk lain bahagia, sehingga perbuatan ini akan membawa satu karma-vipaka (akibat) yang baik dan memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan karma yang lebih baik pula. (Sumedya Widya Dharma, Dhamma Sari, Op.Cit., hal.100-101).

Dalam tradisi Khonghucu, Tian (Tuhan) hanya menyediakan hukum Yin Yang untuk dimaknai dengan baik oleh manusia. Selama manusia mengikuti hukum Yin Yang maka ia akan kembali bisa memperbaiki kesalahan. Semangatnya adalah karena manusia pasti berbuat kesalahan maka manusia wajib memperbaiki diri dan tidak mengulanginya lagi. Dengan demikian hukum Yin Yang akan ternetralisir

103

sendiri, sehingga mendukung kita untuk kembali mendapatkan keberkahan, yang bisa dimaknai sebagai pengampunan. Analogi dalam Kitab Suci Wujing berbunyi: Kepada pohon yang ingin tumbang maka akan dibantu tumbang, dan kepada pohon yang ingin tegak akan dibantu tegak. Dalam hukum Yin Yang hanya ada dua dimensi dalam kehidupan yaitu berkah dan naas (musibah). Ketika berkah manusia harus “eling”

dalam batas tengah. Jika melampauhi batas maka bisa menjadi musibah. Namun musibah bisa terlewati jika manusia mau “perihatin”, karena jika perihatin maka musibah akan kembali memutar siklusnya menjadi berkah. Nasihat dari Mengzi, seorang penegak agama Khonghucu, “Kalau orag mempunyai ayam atau anjing yang lepas, ia tahu bagaimana mencarinya. Sebaliknya, kalau hatinya yang lepas, ia tidak tahu bagaimana mencarinya. Sesungguhnya jalan suci dalam belajar itu tidak lain ialah bagaimana dapat mencari kembali hati yang lepas itu” (Mengzi VI A: 11). Dalam Pendidikan Agama Khonghucu di Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, 2016, Jakarta.

Dalam dokumen CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015) (Halaman 100-103)