• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tuhan Mahapengampun

Dalam dokumen CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015) (Halaman 96-100)

WILLING TO FORGIVE

1. Tuhan Mahapengampun

Kita menggambarkan Tuhan sebagai Mahapengampun. Ini adalah salah satu gambaran terbaik manusia tentang Tuhan. Gambaran ini sekaligus menumbuhkan semangat dalam hidup manusia, bahwa sekali pun dia telah berdosa, tetap ada kemungkinan untuk diampuni, untuk selamat dan Bahagia. Ini adalah sebuah tanda cinta kasih dan kuasa Tuhan yang tiada hentinya kepada manusia (Gea, 2004: hal.

256). Andaikan Tuhan tidak mau dan tidak mampu mengampuni, maka manusia akan binasa selamanya.

Perihal pengampunan Allah kepada kita bisa kita temukan dalam banyak teks Kitab Suci atau Kitab Keagamaan.

a. Konsep Pengampunan dalam Agama Islam

Dalam agama Islam disebutkan bahwa Allah SWT memiliki 99 asmaul husna (nama-nama yang indah). Salah satu di antara asmaul husna Allah SWT adalah Dia Mahapengampun. Di dalam Al-Quran Allah Mahapengampun disebut Al-Ghaffar dan Al-Ghafur, maknanya sama, Mahapengampun.

Mahapengampun berarti Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan Nya meskipun dosa Nya sebanyak buih lautan. Di antaranya dinyatakan dalam Q.S. Az-Zumar/39: 53: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang’’. Dalam Q.S. An-Nisa/4:110: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”. Dalam Q.S. Al-Maidah/5: 39: “Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya.

Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” Dalam Q.S. Al-Furqon/25:70: “kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”. Lebih dari 93 Surat dan ratusan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan Allah Mahapengampun, Al-Ghafur. Ia menyayangi orang yang memohon ampun (bertaubat) setelah berbuat kesalahan, dengan taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha). Semua dosa akan diampuni oleh Allah, sebesar apapun dan seberat apapun, kecuali orang yang mempersekutukan-Nya dengan yang lain (syirik), atau menyamakan Tuhan dengan tuhan yang lain. Sebagaimana dinyatakan dalam Q.S. An-Nisa/4:48: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia

97

telah tersesat sejauh-jauhnya”. Beberapa perilaku syirik di antaranya orang yang menjadikan setan sebagai penolongnya, atau biasa dikenal dengan orang yang memelihara tuyul atau setan. Atau mereka yang lebih percaya kepada kekuatan dukun atau perdukunan, lebih memuja harta atau materi dibanding percaya kepada Tuhan. Orang-orang seperti itulah yang disebut menduakan Tuhan atau syirik. Segala perbuatan yang berunsurkan syirik, pahala /kebajikan yang ada pada pelaku tersebut akan terhapus dan sekiranya pelaku terus melakukannya, ia tidak akan mendapat ampunan Allah SWT. Perbuatan yang dilakukan dianggap menzhalimi Allah SWT dan menzhalimi dirinya sendiri karena telah melanggar hak Allah SWT dan melakukan larangan-Nya. Perbuatan dan prilaku syirik betul-betul dilarang dan dosa yang paling besar.

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”(Q.S. Luqman/31: 13).

b. Konsep Pengampunan dalam Agama Kristen (Katolik dan Protestan)

Dalam ajaran Kristen, Tuhan mengampuni dosa manusia sebagai bentuk kasih Allah kepada manusia. Nabi Yesaya menegaskan bahwa Tuhan sanggup membebaskan manusia dari segala dosa:

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan jadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes.1:18). Diungkapkan pula oleh Nabi Daniel bahwa ada pengampunan dari Tuhan: “Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan pengampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia” (Dan.9:9). Sebagai gambaran Tuhan mengampuni umat-Nya, dilukiskan dalam cerita tentang “Anak yang hilang”. Seorang anak muda, yang telah menerima harta warisan melimpah dari ayahnya, kemudian pergi ke luar negeri, menghambur-hamburkan uang untuk kesenangannya. Makin lama harta melimpah yang dimilikinya makin berkurang, hingga tiba satu kondisi semua harta yang dimilikinya habis. Bahkan untuk beli makan saja dia tidak sanggup. Ia kemudian bekerja pada ternakan orang. Ia memakan makanan dari sisa makanan ternak. Lalu dia sadar akan kondisinya, menyesali apa yang telah dilakukan, dan mengingat banyaknya orang upahan di rumah ayahnya. Dia kemudian kembali ke rumah ayahnya dan ingin jadi pembantu di sana. Di luar dugaan dia, ayahnya justru menyambut dia dengan penuh sukacita. Ayahnya mengundang banyak orang dan membunuh lembu paling tambun sebagai bentuk sukacita bahwa anaknya yang telah hilang ditemukan kembali (Luk.15:11-32). Dalam iman Kristen, Tuhan pasti mengampuni kesalahan umat-Nya yang mau bertobat dan kembali pada jalan yang benar karena Allah begitu mengasihi semua manusia dan tidak ingin satu orangpun binasa. Allah mengutus putra-Nya, Yesus Kristus, sebagai tindakan kasih yang tak terhingga besarnya dari Tuhan kepada manusia (Yoh.3:16-17). Yesus Kristus rela dihina, disiksa, dan disalibkan hingga mati di kayu salib meskipun tanpa dosa dan kesalahan yang diperbuat-Nya. Pengampunan dosa tersebut dinyatakan oleh Yesus Kristus sebagaimana tertuang dalam Injil Matius: “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat.26:28). Kuasa

98

pengampunan itu Yesus nyatakan kepada salah satu penjahat yang tergantung pada Kayu Salib di samping-Nya. Penjahat itu bertobat dan percaya kepada Yesus lalu diampuni dan layak tinggal bersama Yesus di Firdaus (Luk.23:43). Selanjutnya, kabar baik tentang Allah Mahapengampun diteruskan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Kolose: “Di dalam Dia (Yesus) kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa”

(Kol.1:14). Dalam ayat ini rasul Paulus menegaskan bahwa Yesus memiliki kehendak dan kemampuan untuk mengampuni dosa semua manusia. Ia disambut dalam arena sejarah dunia dengan pernyataan para malaikat “Ia akan dinamai Yesus, yang menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Pendidikan Agama Kristen untuk Perguruan Tinggi, 2016: hal. 26). Contoh sikap memaafkan juga dilakukan oleh pimpinan tertinggi gereja Katolik sedunia, Paus Yohanes Paulus II yang memafkan pria penembak dirinya, Mehmet Ali Agca. Paus Yohanes Paulus II diberondong empat peluru oleh Mehmet Ali Agca (Turki) di Lapangan Santo Petrus, Roma Italia (13/5/1981). Kondisi Paus Yohanes Paulus II saat itu sangat kritis dan beruntung masih bisa hidup. Pasca peristiwa maut itu, Paus Yohanes Paulus II meminta kepada orang -orang agar “…berdoa bagi saudara saya (Ağca), yang sudah saya maafkan setulus-tulusnya”. Pada 1983, tepatnya dua hari setelah Natal, pada 27 Desember 1983, Paus Yohanes Paulus II menjenguk pembunuhnya di penjara Italia di mana Mehmet Ali Ağca ditahan.

c. Konsep Pengampunan dalam Agama Hindu

Dalam agama Hindu Tuhan diakui sebagai Mahapengampun. Hal ini bisa kita lihat pada Kitab Suci Bhagavad Gita IX.30: “Sekalipun orang paling jahat, bila memuja-Ku dengan tulus, dengan pengabdian terpusat dan kembali menjadi sang sadhu (orang saleh), Aku terima karena ia telah kembali ke jalan yang benar”. Atau teks lain dalam Bhagavad Gita XVIII.66 mengatakan: “Kerjakanlah kewajibanmu sesuai dengan aturan agama lalu berserah dirilah kepada-Ku, dan engkau tidak usah khawatir, akan Aku ampuni seluruh dosamu”. Dari keterangan ayat-ayat suci di atas, tampak bahwa Tuhan adalah Mahapengampun dan Mahapengasih. Karena itu manusia tidak henti-hentinya minta maaf. Hal ini tercermin dari: Puja Trisandhya yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat Hindu. Dari enam bait mantra Puja Trisandhya, tiga bait di antaranya berisi permohonan maaf atas tindakan, ucapan dan pikiran yang keliru; sekaligus mohon disucikan alias disterilkan atau dibebaskan dari karma buruk yang melekat pada diri manusia. Tiga bait sebelumnya berisi pengakuan atas ke-Mahaesaan dan ke-Mahakuasaan-Nya. Dari seluruh uraian di atas, jelas tampak bahwa hukum karma berjalan terus, tapi eksekusi hukumannya bisa ditunda apabila manusia mau bertobat atau dosanya menjadi lebur dengan sendirinya oleh perbuatan baik itu sendiri (Manawa Dharma Sastra). Kalau dosa diandaikan setetes tinta hitam, air putih diandaikan sebagai kebaikan, maka setetes tinta hitam dalam gelas tidak tampak lagi jika air putif kebajikan diperbanyak, padahal tinta hitam (dosa) masih ada dalam gelas. Tinta hitam (dosa) itu menjadi lebur dan tidak terasa karena kearifan (mandawa) dan kerendahan hati (mardawa).

d. Konsep Pengampunan dalam Agama Buddha

99

Dalam Bhāra Sutta (SN 22.22) dijelaskan bahwa hidup manusia itu dikuasai oleh ketagihan-ketagihan, yaitu: Pertama, ketagihan (kemelekatan) akan kenikmatan inderawi (kāma taṇhā); Kedua, ketagihan (kemelekatan) akan kelangsungan dan kelahiran (bhava taṇhā); Ketiga, ketagihan (kemelekatan) akan tidak kelangsungan atau pemusnahan diri (vibhava taṇhā). Ketagihan ini memperlihatkan diri dalam berbagai cara, merupakan sumber dari beraneka ragam ketidak-puasan, penderitaan dan kelangsungan hidup makhluk-makhluk. Kebahagiaan yang didapat dari semua kemelekatan itu duniawi itu hanyalah kebahagiaan sementara. Kebahagiaan tertinggi dan sejati hanya bisa dicapai dengan terbebas dari semua kemelekatan (Pendidikan Agama Buddha untuk Perguruan Tinggi, 2016: hal. 54). Namun, korelasi antara tindakan (karma) dan akibat (vipaka) tidak bersifat deterministik. Karma dalam agama Buddha bersifat kondisional. Hukum karma bukan hukum pembalasan, sehingga terdapat jalan untuk mempengaruhi atau menekan akibat karma buruk dengan cara mengembangkan kemampuan dan kebiasaan baik lahir dan batin (dapat dikatakan sebagai penebusan). Segumpal garam dalam semangkuk kecil air membuatnya asin sehingga tidak terminum karenanya. Jika segumpal garam yang sama dimasukkan ke dalam Sungai Gangga, air sungai itu tidak akan menjadi asin dan dapat diminum (AN 3.100: Loṇakapalla). Setiap orang harus mengakui bahwa semua kejahatan dan perselisihan dalam dunia ini disebabkan oleh keinginan yang egoistis. Ini tidak susah untuk dimengerti. Tetapi bagaimana keinginan yang egoistis ini dapat mengakibatkan kelangsungan kembali dan kelahiran kembali, mungkin tidaklah mudah untuk dipahami (Sumeda Widyadharma, Dhamma-Sari, Jakarta, Yayasan Dana Pendidikan NALANDA, 1993, hal. 100-103, 140). Maka demi terhentinya dukkha ini, hendaklah jangan dipilih dua jalan yang ekstrim yaitu “mencari kebahagiaan dengan menuruti nafsu-nafsu indera, yang dianggap rendah, bisa tak berfaedah dan cara-cara dari orang biasa” atau “mencari kebahagiaan dengan menyiksa diri dengan berbagai cara-cara, yang menyakiti sekali, tidak berharga dan tidak berfaedah”. Tetapi ambilah jalan tengah yang dikenal sebagai Jalan Mulia Berunsur Delapan (Pandangan Benar, Kehendak Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar). Pada hakekatnya seluruh ajaran sang Buddha, yang beliau sendiri siarkan selama empat puluh lima tahun, semua hubungannya dengan jalan ini. Beliau telah menerangkan dalam berbagai cara dan dengan memakai bahasa yang mudah dimengerti, kepada beraneka ragam orang dengan tingkat pengetahuan dan kesanggupan yang berbeda -beda. Pelajaran yang terdapat dalam ribuan sutta dari kitab-kitab suci Agama Buddha membahas Jalan Mulia Berunsur Delapan ini (Pendidikan Agama Buddha untuk Perguruan Tinggi, 2016: hal. 79-82).

e. Konsep Pengampunan dalam Agama Konghucu

Konsep ketuhanan dalam Khonghucu bisa ditemukan dalam Kitab Yi Jing (Kitab Perubahan). Dalam Kitab ini, Tuhan digambarkan dengan istilah Qian yang dapat diartikan Tuhan sebagai subjek Yang Maha Ada, Maha Sempurna, Khalik Semesta Alam, Maha Positif dan Proaktif. Di dalam Kitab Zhong Yong (Tengah Sempurna) disebut dengan Gui Shen, yang mengandung arti Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan dalam buku ini

100

digambarkan sebagai roh yang berkuasa atas segala sifat Yin dan Yang. Dalam kitab Li Ji (Kitab Kesusilaan), Tuhan sering juga diistilahkan dengan istilah Da Yi, yang artinya Satu Yang Maha Besar, sejajar dengan istilah yang digunakan pula di dalam Yi Jing dengan sebutan Tai Ji (Yang Maha Ada, Maha Puncak/Kutub), atau dapat juga digambarkan dengan sebuah “o” (lingkaran).

Istilah lain sering digunakan untuk Tuhan ialah Tian. Dalam banyak teks kitab suci Wujing (Five Classics) pada zaman sebelum dinasti Shang, yaitu pada zaman dinasti Xia (2205-1766 SM) dan sesudah zaman dinasti Shang, yaitu pada zaman dinasti Zhou (1122-255 SM), sebutan Shang Di dan Tian sering digunakan secara bersama-sama bahkan dalam satu kalimat yaitu menjadi Huang Tian Shang Di. Mungkin ada lagi istilah lain sebagai nama Tuhan, tetapi bagi Khonghucu perbedaan nama tidak masalah. Disebut apa saja nama Tuhan, yang penting Tuhan yang sejati tetap eksis.

Penggunaan istilah Tian sebagai Tuhan di dalam kitab Wu Jing mempunyai enam dimensi, yaitu:

1) Shang Tiang (Tain Yang Maha Tinggi), 2) Hao Tian (Tian Yang Maha Besar atau Yang Maha Meliputi), 3) Cang Tian (Tian Yang Maha Suci, Maha Luhur, Maha Tinggi), 4) Min Tian (Tian Yang Maha Welas Asih, Yang Maha Murah), 5) Huang Tian (Tian Yang Maha Kuasa, Maha Agung, Maha Pencipta), 6) Shang Di (Tuhan Khalik Pencipta Semesta Alam), Yang Maha Tinggi atau Yang di Tempat Maha Tinggi.

Meskipun ada enam tetapi tetap Dia Maha Esa. Ini mengingatkan kita kepada konsep keesaan agama lain seperti konsep Trimurti dalam agama Hindu, konsep Trinitas dalam agama Katolik dan Protestan; dan dalam beberapa level pembahasannya dapat dianalogikan dengan konsep Asma’ al-Husna dalam Islam yang memperkenalkan 99 nama Tuhan.

Dimensi Yin dan Yang seakan berlomba di dalam menguasai alam semesta, termasuk dalam diri manusia.

Manusia yang didominasi dengan Yin akan tampil lebih feminim dan lebih lembut. Sebaliknya, jika yang dominan adalah Yang, maka yang bersangkutan akan tampil lebih maskulin dan lebih jantan. Konsep ketuhanan seperti ini mengingatkan kita ke dalam agama Tao (Taoisme) yang juga mengenal simbol Yin dan Yang. Pembagian tugas dan fungsi ini tidak menandakan adanya dua Tuhan. Tuhan tetap satu, bahkan digambarkan Maha Esa, tetapi yang satu ini memiliki dua sifat dan karakter.

Dalam dokumen CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015) (Halaman 96-100)