Learning Outcome:
LO2: Interpret the religious formalism, contemporer issues, science and digital era Session outcomes:
Setelah mengikuti sesi ini mahasiswa diharapkan mampu:
• menganalisis, membandingkan, dan melihat hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan
• membangun pandangan dan sikap yang tepat terhadap agama dan ilmu pengetahuan
• menjadikan agama dan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan yang saling mendukung dalam mengembangkan kehidupannya
A. PENDAHULUAN
Agama dan Ilmu Pengetahuan (sains) telah berkontak selama berabad-abad. Keduanya kadang saling mendukung, kadang saling berkonflik. Ciri khas agama adalah dogmatis, kaku, tidak mudah berubah, dan metafisis. Sedangkan ciri khas ilmu pengetahuan adalah bersifat rasional, metodis, dan sistematis. Visi posmodernisme menempatkan sains sebagai yang berlawanan dengan agama. Sains dianggap anti-religious dan seratus persen sekularis. Agama pun kadang-kadang menempatkan dirinya sebagai puncak pencarian sains. Ego masing-masing bidang membuat pembicaraan bersama makin sulit. Padahal Kondisi yang diperlukan sekarang adalah mencari titik temu (konvergensi) antara sains dan agama. Sains dan agama perlu berdialog satu sama lain. Keduanya perlu mengakui kelebihan dan kekurangan masing -masing! Agama dan sains perlu saling belajar satu sama lain.
B. PEMBAHASAN
1. Hakikat Agama dan Sains
Melfred Spiro coba mengulas definisi agama secara subtantif, yakni agama didefinisikan berdasarkan muatan, isi, dan ciri-ciri kunci agama. Melfrod Spiro mengatakan bhw “agama merupakan suatu institusi yang terdiri dari interaksi yang terpolakan secara kultural, dengan pengandaian akan keberadaan yang supra human” (Koten P. Philipus, 2005: 22). Ada tiga elemen kunci dari definisi ini, yakni institusi, interaksi yang terpola, dan adanya mahluk supra human.
Institusi sebagaimana yang dijelaskan oleh Spiro meliputi aspek-aspek yang telah melembaga seperti kepercayaan, pola tindakan, dan sistem nilai kolektif. Sedangkan interaksi yang terpola itu
59
mengenai praktek hidup keagamaan dan etos hidup tertentu. Mahluk Supra Human bersifat transendens atau supra empiris. Ia adikodrati dan diimani sebagai yang punya kuasa atas manusia dan alam semesta.
Oleh sebab itu ia mempengaruhi hidup manusia dan alam secara keseluruhan. Bagi Spiro, ciri yg paling penting dari fenomen beragama adalah adanya Makluk Supra Human, karena dialah yang memberi dasar bagi adanya kedua ciri yang lain (Koten P. Philipus, 2005: 22). Orang-orang bergama menyebut mahluk Supra Human itu sebagai Tuhan.
Meskipun Tuhan itu bersifat metafisis dan tidak bisa diindrai, keberadaanNya bisa dibuktikan secara empiris. Analoginya seperti ini, ketika kita melihat meja, maka yang muncul di pikiran kita adalah pasti ada pembuat meja. Ketika kita melihat Handphone, yang muncul di pikiran kita adalah pasti ada pembuat handphone. Meja dan handphone tidak bisa ada begitu saja, pasti ada yang mengadakannya. Hal yang sama juga berlaku ketika kita melihat benda-benda langit. Ketika kita melihat bulan, yang muncul di pikiran kita adalah pasti ada yang menciptakan bulan. Demikian juga ketika kita melihat matahari, yang muncul di pikiran kita adalah bahwa pasti ada pencipta matahari. Bulan dan matahari tidak ada begitu saja, tapi ada yang menciptakannya. Semua orang beragama meyakini bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Tuhan. Dugaan adanya penciptaan yang dilakukan secara sengaja muncul dari fenomena keteraturan alam semesta. Sangat mustahil kalau keteraturan yang ada dalam alam semesta ini terjadi secara kebetulan. Harus dipikirkan bahwa Ada Seorang Arsitek Agung yang menempatkan segala sesuatu sesuai dengan posisinya. Semua agama meyakini bahwa segala yang tercipta, tercipta dalam keadaan baik dan teratur. Semuanya merupakan Karya Agung Allah.
Sains coba mengutak-atik argumen alam semesta sebagai Ciptaan Tuhan, dengan gagasan teori evolusi, misalnya. Charles Darwin berpandangan bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini berkembang dari mikroorganisme yang paling kecil. Lalu dari waktu ke waktu berkembang menjadi organisme. Fakta yang dijelaskan oleh Darwin adalah bahwa evolusi selalu melibatkan masa lampau, masa kini, dan masa yang akan dating. Darwin coba menjelaskan evolusi dan proses yang mendasarinya. Evolusi biologis terjadi melalui proses seleksi alamiah dan mutasi spontan. Jika tidak dapat beradaptasi dengan lingkugannya dan dan bermutasi sesuai tatanan lingkungannya, maka mahluk tersebut akan punah (Mikhael Dua, 2014: 112-113). Kendati demikian Charles Darwin tidak bisa menjelaskan atas das ar apa semua mahluk yang bersifat kontingens (ada sementara) itu bisa eksis. Harus diandaikan ADA YANG SELALU ADA (TUHAN). Tuhan itu bersifat kekal, sempurna di dalam diriNya sendiri, oleh sebab itu DIA bisa menjamin keberadaan semua yang ada dalam alam semesta. Konsep Tuhan dibutuhkan untuk menjelaskan komponen spiritual dari asal usul semesta.
Ilmu pengetahuan menolak agama karena argumen-argumen dalam agama tidak bisa dikaji secara ilmiah. Dalam buku Pengantar Filsafat, K. Bertens menjelaskan tentang hakikat ilmu pengetahuan. Dia menjelaskan ciri hakiki ilmu pengetahuan adalah bahwa ilmu pengetahuan bersifat rasional, metodis, dan
60
sistematis. Rasional artinya didasarkan pada rasio (akal budi). Ilmu pengetahuan tidak didasarkan pada emosi, perasaan, dan suasana batin. Ilmu pengetahuan didasarkan pada kajian-kajian logik, masuk akal, dan diterima akal sehat. Rasional pada prinsipnya dapat dimengerti, berdasarkan pertimbangan rasio, dan jalan pikirannya sesuai aturan-aturan logika. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu bersifat terbuka sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Oleh sebab itu selalu terbuka terhadap kritik (K. Bertens, 2018: 54).
Beda dengan dogma agama yang nyaris tidak bisa dikritik dan karenanya tidak terbuka terhadap kebenaran ilmiah. Ciri kedua ilmu pengetahuan adalah bersifat metodis (K. Bertens, 2018: 55). Metodis berarti memiliki metode atau memiliki jalan yang ditempuh sesuai tahapan-tahapan. Metode berlaku untuk uraian-uraian rasional. Dua metode yang lazim dikenal dalam ilmu pengetahuan adalah deduktif dan induktif. Deduktif bertolak dari prinsip universal/general, sebelum bergerak ke bagian-bagian yang lebih partikular dan spresifik. Sedangkan induksi bergerak dari pengalaman-pengalaman faktual menuju ke prinsip universal. Metode deduktif bertolak dari aksioma-aksioma, sedangkan metode induktif disusun berdasarkan pengalaman. Lalu, ciri ketiga ilmu pengetahuan adalah bersifat sistematis. Artinya informasi dalam bidang ilmu pengetahuan itu diuraikan secara teratur, logis, dan berurutan. Kendati demikian, masing-masing ilmu hanya fokus pada bidang yang terspesifikasikan. Psikologi misalnya hanya menguraikan struktur psikis (kejiwaan) manusia, sosiologi menguraikan relasi sosial manusia, dll. Hanya ilmu pengetahuan filsafat yang menguraikan segala sesuatu secara menyeluruh, tidak terpotong-potong, dan tidak fragmentaris (K. Bertens, 2018: 57).
2. Konflik Sains dan Agama
Tegangan antara Ilmu Pengetahuan dan Agama dapat terlihat dalam teori Geosentrisme Vs Heliosentrisme dan Teori Bumi Bulat vs Bumi Datar.
Geosentrisme berpandangan bahwa semua benda langit seperti matahari, bulan, bintang dan planet bergerak mengitari Bumi. Bumi diam dan dianggap sebagai pusat tata surya (Geosentris). Teori Geosentris dipopulerkan oleh seorang ilmuwan Yunani bernama Claudius Ptolemeus (Abad 2 SM).
Teori geosentrisme bertahan selama lebih dari 1500 tahun. Geosentrisme juga didukung oleh hampir semua agama besar di dunia. Sebelum 1500, hampir semua ilmuwan dan teolog memercayai Bumi sebagai pusat tata surya, bahkan beberapa diantaranya mengira bumi adalah pusat alam semesta. Dalam bukunya yang berjudul Almagest, Ptolemeus yang mendasarkan diri pada pandangan Pytagoras dan Aristoteles, menjelaskan bahwa Bumi adalah pusat alam semesta. Penegasan Plotemeus berdasarkan pengamatan sederhana yaitu setengah jumlah bintang-bintang terletak di atas horizon, dan setengahnya di bawah horizon. Bintang-bintang itu semuanya terletak pada suatu jarak tertentu dari pusat semesta.
Model geosentris dibuat dengan menempatkan Bumi di pusat sistem, kemudian berturut-turut ke arah luar adalah Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, Saturnus, dan bintang -bintang. Urutan
61
tersebut dibuat berdasarkan laju yang diamati dari Bumi. Bulan berada di posisi terdekat dari Bumi karena memiliki laju orbit yang paling tinggi (Mikhael Dua, 2014).
Pada tahun 1543 terjadi Revolusi Ilmu Pengetahuan. Teori geosentrisme dilawan oleh Kopernikus melalui bukunya (1543), On The Revolutions of The Celestical Orbs. Dalam buku tersebut Kopernikus menjelaskan bahwa bukan bukan bumi yang menjadi pusat segala tata surya, melainkan matahari (heliosentrisme). Planet-planet bergerak mengelilingi matahari secara konsentris. Pergerakan panet-planet terjadi secara teratur, masing-masing dalam jarak yang berbeda-beda. Semakin dekat panet-planet tersebut dengan matahari, pergerakannyapun semakin cepat. Sebaliknya Gerakan makin lambat, ketika posisi planet tersebut jauh dari matahari (Mikhael Dua, 2014: 52). Planet-planet berputar menyitari matahri dan membentuk Gerakan melingkar dengan susunan: Markurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus. Markurius membutuhkan waktu kira-kira 3 bulan untuk sampai ke titik orbit, bumi membutuhkan waktu 12 bulan, dan Yupiter membutuhkan waktu 12 tahun (Mikhael Dua, 2014: 52-53).
Pemikiran Kopernikus membawa implikasi yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kopernikus menempatkan pengalaman, observasi, dan eksperimen sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan. Kopernikus menegaskan bahwa pemikirannya mengenai astonomi tidak didasarkan pada asumsi-asumsi, tetapi berpijak pada pengalaman empiris (Mikhael Dua, 2014: 53).
Temuan Kopernikus didukung oleh temuan ilmuwan berikutnya seperti Johannes Keppler dan Galileo Galilei.
Keppler mendasarkan teorinya pada hasil pengamatan gerak planet Mars. Menurut Keppler, setiap planet bergerak mengelilingi matahari dalam lintasan berbentuk elips, dan matahari terletak pada satu titik fokus elips (elips memiliki dua titik).
Kecepatan orbit suatu planet akan lebih lambat ketika planet berada pada titik terjauh dari matahari (titik aphelion), dan kecepatan orbit suatu planet akan lebih cepat ketika planet berada pada titik terdekat dengan matahari (titik perihelion). Dengan kata lain, kaktu yang dibutuhkan planet saat meng itari matahari dipengaruhi oleh jarak planet tersebut ke matahari. Apabila semakin dekat matahari, maka waktunya akan lebih singkat. Dan Apabila semakin jauh maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama (Mikhael Dua, 2014: 58-59).
Ilmuwan lain yang mendukung teori Heliosentrisme adalah Galileo Galilei (1610). Dalam konsep Heliosentrisme Galileo, matahari adalah pusat tata surya dan benda langit lain berputar mengelilingi matahari. Galileo menggunakan teleskop untuk mendukung teorinya. Teleskop dapat memperbesar objek pandangan hingga 20 kali lipat. Melalui teleskop, Galileo mengobservasi pergerakan benda-benda langit dan menemukan suatu pola yakni benda-benda langit berputar mengitari matahari. Galileo sendiri bukan penemu teleskop (teleskop ditemukan oleh Hans Lipperschey). Namun, dia adalah orang pertama yang secara sistematis menggunakan instrumen optik untuk mempelajari langit (Mikhael Dua, 2014: 59-60).
62
Akibat temuan tersebut, Galileo kemudian menjadi tahanan rumah pihak gereja. Galileo dibawa ke pengadilan Inkuisisi Romawi. Dia dinyatakan bersalah karena bidaah, dipaksa untuk bertobat, dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Ia menjadi tahanan rumah.
Setelah Konsili Vatikan II, Gereja secara terbuka meminta maaf kepada Galileo. Pada tahun 1982 Paus Yohanes Paulus II menyatakan hukuman yang dijatuhkan kepada Galileo adalah hasil dari pemahaman yang salah. Pada tahun 2009 Paus Benedictus XVI memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Galileo atas kontribusinya dalam bidang Ilmu Pengetahuan.
Konflik agama dan ilmu pengetahuan juga terjadi dalam debat ‘Bumi Bulat vs Bumi Datar”.
Perdebatan ini sangat kental di dunia Arab. Baru pada tahun 2019, para teolog dan kalangan ilmuwan di Arab benar-benar menerima teori Bumi Bulat setelah astronot pertama Uni Emirat Arab, Hazza Al Mansouri, melakukan perjalanan ke luar angkasa.
Setelah melakukan perjalanan ke luar angkasa, Mansouri memberikan testimoni berikut: “Itu (Bumi) berbentuk bulat, aku sudah melihatnya dengan mataku sehingga aku bisa mengatakan ini kepada-mu," ujarnya kepada The National pada Jumat (11/10/2019). Mansouri berangkat dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan dengan roket Soyuz Rusia pada 25 September 2019 dan kembali ke bumi pada 3 Oktober 2019. Mansouri mengungkapkan pengalaman selama 8 hari di luar angkasa adalah pengalaman yang singkat namun sangat berharga, utamanya terkait dengan pembuktian bentuk bumi yang menjadi sumber perdebatan. Kesaksian Mansouri mengubah sudut pandang kaum ilmuwan dan teolog dari yang tadinya ragu-ragu dan tidak percaya, menjadi lebih percaya dan pasti bahwa bumi berbentuk bulat.
3. Keterbatasan Sains dan Agama serta Kemungkinan Kerjasama Keduanya
Sains dan agama masing-masing memiliki keterbatasan untuk memecahkan pelbagai fenomen yang terjadi dalam alam semesta. Agama terbatas dalam hal kemampuannya untuk memecahkan pelbagai fakta secara empiris. Sebaliknya, sains terbatas dalam metodologinya. Tidak semua problem dalam alam semesta bisa dipecahkan oleh Sains. Banyak hal Misterius yang muncul dan terjadi di luar batas kemampuan sains. Sains tidak bisa menjawab mengapa alam semesta ini muncul, apa tujuan dan signifikansinya? Hal-hal seperti inilah yang membawa peneliti sains kepada Kosmologi. Paul Davies menulis seperti ini ”dalam tahun-tahun terakhir ini, suatu jumlah penemuan baru dalam dalam fisika dasariah, dalam kosmologi, dan dalam teori komputerisasi, sudah mulai membangkitkan lagi suatu minat lebih luas tentang topik-topik metafisika (agama)” (Louis Leahy, 1997: 140). Itulah sebabnya filsuf Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa sains terbuka terhadap dialog dan bahkan rindu akan dialog (Louis Leahy, 1997: 140). Problemnya adalah bahwa sejak abad XVI sampai akhir abad XX, manusia tidak dianggap sebagai bagian kodrati alam semesta. Sains menempatkan manusia sebagai Tuan (pemilik) alam semesta, bukan suatu bagian dari alam semesta. Sains bekerja tanpa keterbukaan terhadap transendensi. Seiring
63
perjalanan waktu, visi baru mengalami de-konstruksi, yakni mengenai manusia yang menemukan kembali dimensi kosmisnya, yaitu manusia yang harmoni dengan alam (Louis Leahy, 1997: 141). Manusia bukan lagi sebagai penakluk alam, tapi hanya merupakan bagian dari alam.
Ketika melihat hubungan antara agama dan sains, Paus Yohanes Paulus II tidak melihat kotras antara ilmu pengetahuan dan agama. Dia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan agama berasal dari sumber yang sama dan harus dikembalikan kepada kebenaran pertama (Louis Leahy, 1997: 150).
Sikap yang yang diperlukan adalah keterbukaan dan kerjasama intelektual agar bisa memahami masing-masing bagian. Banyak hal yang diberikan oleh masing-masing kepada yang lain. Agama perlu menegaskan otonominya, demikianpun sains dapat menegaskan otonominya. Agama dan ilmu pengetahuan memiliki hukum-hukumnya sendiri (Louis Leahy, 1997: 150). Menurut Yohanes Paulus II Ilmu pengetahuan tidak boleh menutup diri terhadap yang universal dan terhadap yang mutlak. Ilmu sendirian tidak mampu menjawab masalah tentang makna (Louis Leahy, 1997: 152). Masyarakat ilmiah, setelah melewati spesialisasi ektrem, justru berusaha untuk menemukan masalah mengenai makna alam semesta dan misteri tentang manusia dan alam. Yang terakhir ini adalah bidang kajian agama. Agama berkepentingan untuk memberikan pemaknaan.
Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa ciri masyarakat ilmiah adalah terbuka dan berdasar pada kepentingan bersama dan tujuan bersama. Pencapaian pihak yang satu bisa menjadi pemicu bagi kemajuan pihak yang lain (Louis Leahy, 1997: 176-177). Dia mengingatkan bahwa kerjasama sains dan agama bukan merupakan gerakan homogenisasi tapi justru dalam bingkai keberanekaragaman itu sendiri.
Komunitas bersama ini membangkitkan kesadaran untuk saling terlibat. Kita terdorong kepada rekonsiliasi dan kesatuan yang saling menghargai (Louis Leahy, 1997: 177). Pencarian bersama harus atas dasar keterbukaan dan pertukaran kritis. Visi bersama harus disertai sikap saling menghormati kepada segala sesuatu yang lain. Melalui teknologi kita diberi kemampuan untuk bepergian, untuk berkomunikasi, untuk membangun, dan untuk menyembuhkan. Pengetahuan digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan hidup kita. Sebaliknya juga demikian, pengetahuan bisa mengerdilkan dan menghancurkan hidup manusia dan lingkungannya (Louis Leahy, 1997: 178-179).
Selama ada dialog dan pencarian bersama terus berlangsung, akan ada pertumbuhan menuju pemahaman timbal balik dan tersingkapnya minat-minat pada kepedulian bersama. Setiap disiplin harus saling memperkaya, mengembangkan, dan menantang disiplin yang lain untuk menjadi lebih penuh.
Agama dan sains harus bisa menjaga otonomi dan sifat disting (beda) mereka. Agama tidak didirikan di atas ilmu, dan ilmu bukanlah perluasan agama. Masing-masing harus memiliki asasnya sendiri, pola-pola tata langkahnya, perbedaaan-perbedaan penafsiran, dan kesimpulan-kesimpulannya sendiri (Louis Leahy, 1997: 180-182). Agama memiliki kebenarannya sendiri dan tidak mengharapkan ilmu untuk mengembangkan apologetiknya yang utama. Ilmu harus menjdi saksi nilai atau harga dirinya.
64
Setiap disiplin tetap memiliki integritasnya tetapi mempunyai sikap terbuka yang radikal kepada temuan-temuan dan penilikan-penilikan pihak lain (Louis Leahy, 1997: 181-184).
Tujuan Kerjasama adalah supaya mereka saling memahami. Ilmu dapat membersihkan agama dari kesesatan dan tahyul-tahyul. Agama dapat membersihkan ilmu dari penyembahan berhala dan absolut-absolut yang palsu. Masing-masing dapat menarik pihak yang lain untuk masuk ke dalam dunia yang lebih luas, dunia tempat keduanya dapat berkembang subur (Louis Leahy, 1997: 185).
4. Agama dan Ilmu Pengetahuan Perlu Saling Belajar
Filsuf Jerman, J. Habermas menegaskan bahwa agama dan sains (sekularisme) perlu saling belajar.
Kepada warga sekular dituntut sikap untuk menghormati tradisi-tradisi keagamaan dan komunitas-komunitas religius. Warga sekuler juga harus terbuka untuk melihat isi kognitif yang terdapat pada agama, dan belajar darinya. Sebaliknya, agama dituntut utk menemukan sikap epistemik baru yang tepat berhadapan dengan fakta kemajemukan, sains modern, dan hukum positif yang berdasarkan moralitas sekuler. Peran agama adalah sebagai basis solidaritas dan sumber motivasi individual dalam masyarakat demokrasi (Otto Gusti Madung, 2014: 125). Agama adalah agen pemberi makna dan sebagai ‘Kompas’ bagi moralitas. Jadi proses saling belajar itu berlangsung dalam 3 hal (lihat pemikiran Habermas pada Gusti A.B.
Menoh, 2015: 109-110). Pertama, Warga beragama dituntut utk mengmbangkn sikap epistemik/ rasional yang tepat berhadapan dengan pluralitas keyakinan. Agama akan bertahan kecuali kalau membuka diri dengan keyakinan lain, meski tidak mengorbankan kebenaran eksklusif keyakinannya. Kedua, Para warga beragama harus belajar menyesuaikn diri dengan otoritas sains sebagai pemegang monopoli pengetahuan sekuler. Proses belajar akan terjadi apabila para warga religius mampu menghubungkn ajarannya dengan pengetahun, sehingga tidak terjadi pertentangan antara keduanya. Ketiga, Para warga religius juga harus setuju pada premis dasar negara hukum modern bahwa yang berlaku dalam dunia politik adalah argumen-argumen yang rasional.
C. PENUTUP
Sains dan agama perlu memahami keterbatasan masing-masing. Sains tidak bisa memecahan pelbagai misteri yang ada dalam alam semesta. Sains terbatas dalam hal pemberian makna, nilai, dan terbatas memahami alam semesta secara komprehensif. Sebaliknya agama juga terbatas dalam hal riset -riset empiris yang lebih detail dan spesifik. Oleh sebab itu sains dan agama perlu dialog dan Kerjasama yang didasari pada prinsip saling memperkaya, mengembangkan, dan menantang disiplin yang lain untuk menjadi lebih penuh. Sains membersihkan agama dari tahyul-tahyul, dan agama membersihkan sains dari postulat-postulat palsu.
65 Tugas
Diskusi Kelompok
Pada awalnya cukup lama agama mendominasi penguasaan posisi terhormat sebagai yang memiliki hak untuk menentukan kebenaran yang harus diterima oleh semua orang. Namun dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan dan sains berkembang, hal itu semakin kencang ketika berhasil mengembangkan tools penerapannya, yakni nteknologi. Kemajuan peradaban manusia semakin pesat oleh pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara agama sepertinya berjalan di tempat, tidak banyak kontribusi atau memberi solusi dalam memecahkan masalah atau untuk mewujudkan pencapaian tujuan yang diinginkan dalam kehidupan ini. Agama lebih banyak berspekulasi tentang akhirat, surga dan neraka . Bagaimana tanggapan kelompok?
Referensi
• Bertens K., Johanis Ohoitimur, Mikhael Dua (2018), Pengantar Filsafat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
• Diktat Matakuliah Character Building Agama, Binus University.
• Dua, Mikhael, Metode dan Perubahan Pandangan, Penerbit Unika Atma Jaya, Jakarta.
• Habermas, Jürgen (1996), Between Facts and Norms, Between Facts and Norms, MIT Press.
• Koten, Philipus Panda (2005), “Pendekatan Reduksionis terhadap Agama” (ms), STFK Ledalero, Maumere.
• Leahy, Louis (1997), Sains dan Agama dalam Konteks Zaman Ini, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
• Madung, Otto Gusti (2014), Negara, Agama, dan Hak-Hak Asasi Manusia, Penerbit Ledalero, Maumere.
• Menoh, Gusti (2015), Agama dalam Ruang Publik Masyarakat Postsekuler, Penerbit Kanisius.
• Paul Budi Kleden dan A Sunarko, 2010, Dialektika Sekularisasi: Diskusi Habermas–Ratzinger dan Tanggapan, Maumere-Yogyakarta: Penerbit Ledalero dan Lamalera .
66