• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Agama-Agama tentang Kerja

Dalam dokumen CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015) (Halaman 123-129)

WORK RELIGIOSITY

2. Pandangan Agama-Agama tentang Kerja

Banyak ajaran luhur di dalam agama-agama kita yakni Islam, Kristiani, Hindu, Budha dan Konghucu yang membicarakan tentang makna religius kerja atau religiositas kerja. Umumnya pandangan agama-agama menempatkan aktivitas kerja fisik manusia sebagai hal yang bernilai religius. Kerja bukan saja fungsi teknis-mekanistik-pragmatis, melainkan sungguh bernilai religius-spiritual-ilahiah. Melakukan pekerjaan dengan cara religius seharusnya (das sollen) dilakukan dengan setia dan penuh rasa tanggung jawab menurut hukum-hukum Tuhan di dalam ajaran agama-agama.

Di dalam Islam, bekerja bukan hanya soal urusan mencari uang untuk hidup melainkan sungguh bernilai religius. Islam menekankan pentingnya niat luhur di dalam bekerja sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Rasulullah SAW bahwa setiap amal perbuatan harus diiringi dengan niat dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang sudah diniatkannya. Niat di dalam bekerja itu ditempatkan sesuai dengan perintah atau hukum Allah Swt sendiri. Banyak filsuf Islam misalnya Yusuf Qardhawi mengatakan moral etika dan ekonomi/kerja merupakan hal yang sangat penting dalam Islam dan etika moral itu berlaku di dalam segala aspek kehidupan (kaffah). Hal ini perlu diwujudkan dalam aktivitas ekonomi, bisnis dan pekerjaan setiap umat Islam. Sementara itu Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan pentingnya akhlak di dalam bekerja. Ghazali mengatakan bahwa seorang pedagang tidak boleh hanya memfokuskan pandangannya pada dunia saja dengan melupakan akhirat. Sebab kalau jika demikian maka umurnya sia-sia belaka. Sebaiknya orang yang memiliki akal dianjurkan untuk menjaga modalnya

124

yakni agama dan bisnis berdagang. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt ”Janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia” (al Qashas 28:77). Dengan demikan maka tujuan utama pekerjaan dan aktivitas ekonomi di dalam Islam bertujuan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat (falah).

Selain pandangan di atas banyak teks lain di dalam Alquran juga yang menunjukkan tentang makna kerja dalam perspektif Islam yang bisa dipetik maknanya bagi kehidupan seorang muslimah dalam melakukan pekerjaannya.

Pandangan Katolik tentang makna religius ’kerja’ dapat ditemukan secara terperinci di dalam Kitab Suci Alkitab dan Magisterium Gereja Katolik seperti ensiklik para paus maupun ajaran para Bapa Gereja Katolik yang lainnya. Salah satu ensiklik terkenal yakni ”Laborem Exercens” pernah dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II berbicara tentang makna kerja menurut Katolik. Ensiklik Laborem Exercens mengatakan bahwa manusia adalah citra Allah yang dipanggil oleh Allah untuk bekerja mencari nafkah, menguasai ilmu dan teknologi (iptek), membangun kebudayaan dan kemanusiaan, peduli pada masalah- masalah sosial dan perdamaian dunia, serta melakukan pekerjaan dengan tujuan utama untuk memuliakan Allah Pencipta (Bapa), Allah Penebus (Putera Yesus Kristus) dan Allah Penghibur (Roh Kudus).

Ensiklik juga menegaskan bahwa di dalam dunia kerja, manusia harus diperlakukan sebagai subjek kerja dan bukan objek kerja. Kerja untuk manusia dan bukan sebaliknya manusia untuk kerja. Ini artinya pekerjaan dilakukan untuk memanusiakan manusia dan bukan sebaliknya untuk mengeksploitasi atau mengorbankan kemanusiaan manusia sebagai makhluk luhur citra Allah.

Pandangan Kristen (Protestan) tentang kerja intinya dapat ditemukan di dalam Kitab Kejadian Bab 1 di mana Allah dikatakan menciptakan manusia dan alam semesta menurut kehendak Allah dan semua ciptaan itu baik pada awal mulanya. Tuhan memberikan perintah kepada manusia untuk mengembangkan diri, menaklukkan bumi dan menguasai isinya dengan cara bekerja. Tuhan memerintahkan manusia untuk beranak cucu, menaklukkan bumi dan menguasai isinya dengan bekerja.

Malah di teks Perjanjian Baru dikatakan bahwa ’barang siapa yang tidak bekerja, janganlah ia makan’. Ini artinya bahwa manusia tidak boleh malas tetapi harus rajin dan giat dalam melakukan pekerjaannya di bidang apa saja untuk mengembangkan diri, memajukan masyarakat dan mengembangkan kehidupan dunia ini ke arah lebih baik sesuai dengan rencana Tuhan sendiri.

Budha sangat memperhatikan dimensi etika dalam bekerja. Ada banyak aturan dan larangan yang perlu diperhatikan kaum penganut Budha dalam menjalankan pekerjaannya.

Di dalam Iddhipada di sana dijelaskan kondisi-kondisi umum yang memungkinkan seseorang Budhis sukses dalam pekerjaannya: 1.) Chanda: kepuasan/kegembiraan dalam mengerjakan hal yang sedang dikerjakan 2.) Viriya: semangat di dalam mengerjakan sesuatu. 3.) Citta: memperhatikan dengan penuh hati-hati hal-hal yang sedang dikerjakan. 4.) Vimasa: merenungkan dan menyelidiki alasan-alasan dalam hal yang sedang dikerjakan. Selain itu di dalam 8 Jalan Kebenaran khususnya mata pencaharian

125

(samma ajiva) dikatakan mata pencaharian yang benar adalah: tidak mengakibatkan pembunuhan, wajar, tidak berdasarkan penipuan, tidak berdasarkan ilmu rendah (black magic). Ada juga 5 jenis perdagangan yang harus dihindari oleh orang-orang Budha yakni: dilarang berdagang senjata, dilarang berdagang makhluk hidup termasuk manusia, dilarang berdagang minuman keras, dilarang berdagang racun, dilarang berdagang daging. Orang Budha perlu memperhatikan etos kerja di dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini di dalam Kitab Dhammapada bab 25: “Dengan usaha yang giat, penuh perhatian, berdisiplin, dengan pengendalian diri yang kuat, maka orang bijaksana membuat pulau yang tidak dapat dilanda oleh banjir”.

Ajaran Hindu tak kalah menariknya soal kerja. Ada banyak kutipan yang menarik berkaitan dengan pekerjaan manusia. Bagi umat Hindu, bekerja adalah kewajiban (swadharma), bekerja adalah suatu keharusan, baik itu karena memang perintah dari Tuhan maupun karena tuntutan untuk kelangsungan hidup di dunia. Kutipan suci kerja menurut Hindu kebanyakan ditemukan di dalam Bhagawadgita. “Bekerjalah demi kewajibanmu, bukan demi hasil perbuatan itu, jangan sekali pahala menjadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri tidak bekerja” (Bhagawadgita II.47).

“Bekerjalah seperti apa yang telah ditentukan, sebab bekerja lebih baik daripada tidak bekerja, dan bahkan tubuh pun tidak berhasil terpelihara jika tanpa bekerja” (Bhagawadgita III.8). “Seperti orang bodoh yang bekerja karena keterikatan atas kerja mereka, demikianlah orang yang pandai bekerja tanpa kepentingan pribadi (tanpa pamrih) dan bekerja untuk kesejahteraan manusia dan memelihara ketertiban sosial“(Bhagawadgita III-25). ”Mereka mempersembahkan semua kerjanya kepada Brahman dan, bekerja tanpa motif keinginan apa-apa, mereka tak terjamah oleh dosa, laksana daun teratai tak basah oleh air” (BhagawadgitaV.10).

Konghucu sangat menghargai pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sebagai tindakan yang ditujukan kepada Thien, Tuhan. Oleh karena itu Konghucu mengajarkan 7 etos kerja atau sikap kerja yang perlu dimiliki seorang di dalam bekerja, antara lain:

• Ren, murah hati, mencintai dan bersikap baik kepada sesama

• Yi: berlaku benar dan bertanggung jawab, adil, keputusan yang benar diambil dengan sikap yang benar berdasarkan kebenaran.

• Yong: bersikap berani dan berlaku ksatria

• Zhi: kebijaksanan dalam memutuskan dengan benar,

• Cheng: sikap tulus, setulus-tulusnya, sikap sungguh-sungguh tanpa pamrih

• Li: bersikap santun dan bertindak benar

• Zhong: setia, loyalitas dan mengabdi

126 3. Aspek-Aspek Religius Kerja

a. Bekerja sebagai Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri merupakan kebutuhan kejiwaan seseorang untuk melakukan hal yang terbaik dari apa yang bisa dia lakukan. Aktualisasi diri adalah sebuah keadaan di mana seseorang telah merasa menjadi dirinya sendiri karena dapat mengerjakan sesuatu yang disukainya dengan hati yang riang gembira dan penuh sukacita rohani.

Erwin Arianto (2009) mengatakan, orang yang mampu mengaktualisasikan diri, memahami bahwa ada eksistensi lain di dalam atau di luar dirinya sendiri yang mengendalikan perbuatan dan tindakannya untuk melakukan sesuatu. Aktualisasi diri erat kaitannya dengan kesadaran untuk mengenali dan memperbaiki diri dan keinginan untuk mengubah kondisi hidup ke arah yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Abraham Maslow dalam teorinya tentang piramida kebutuhan manusia, menempatkan aktualisasi diri di posisi titik puncak. Menurutnya aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Jadi, bekerja bukan hanya untuk tujuan-tujuan material, melainkan lebih jauh merupakan sarana/alat untuk mengekspresikan kualitas rohani di dalam diri manusia. Kerja adalah aktualisasi kualitas-kualitas utama manusia, termasuk di dalamnya tentu kualitas religius-spiritual juga.

Kualitas religius-spiritual diri berkaitan erat juga dengan nilai-nilai etis-moral, keyakinan iman-keagamaan, prinsip-prinsip dasar yang benar, harapan-harapan luhur-abadi, kerinduan-kerinduan imaterial masa depan yang lebih baik lagi dari sekarang. Diri spiritual adalah diri yang mau terus berefleksi dalam bekerja, diri yang mau terus memperbaiki diri, diri yang mau terus kreatif dan berubah menjadi selalu lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Diri yang spiritual selalu merasa kurang dan karena itu selalu terbuka untuk belajar dan menyempurnakan diri melalui aktualisasi kerja yang dihayatinya dalam hidup.

Diri yang spiritual selalu melihat kenyataaan hidup, mengolah dalam diri dan selanjutnya menciptakan diri melalui aksi kreatif-aktif sebagai upaya aktualisasi diri menuju ke arah kesempurnaan sejati dalam kerja.

b. Bekerja sebagai Panggilan Tuhan

Bekerja sebagai panggilan Tuhan memerlukan kesadaran religius untuk mengembangkan diri menurut perintah dan hukum-hukum Tuhan. Bertolak dari kesadaran ini, kita terus-menerus bekerja untuk memperbaiki kondisi tersebut sesuai dengan panggilan Tuhan yang selalu bergema di dalam hati nurani kita. Bekerja sebagai panggilan Tuhan dapat dilukiskan sebagai usaha untuk merealisasikan harapan-harapan, keinginan, dan kebutuhan kita sendiri. Namun terlebih pekerjaan sebagai ekspresi kreatif dari keyakinan iman keagamaan kita kepada Tuhan yang mengutus kita untuk bekerja di bidang apa saja.

Kalau Tuhan memanggil dan mengutus kita ke tempat kerja maka kita perlu percaya pada Tuhan,

127

percaya diri, percaya sesama rekan kerja, disiplin,bertanggung jawab, dan memiliki kualitas integritas diri yang baik. Dengan kekayaan religius diri seperti ini, kita bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan diri sehingga mampu mencapai apa yang lebih baik lagi sesuai dengan kehendak Tuhan. Kekayaan mental memampukan kita melakukan refleksi (renungan) dan retrospeksi (melihat ke belakang) untuk melakukan retrodiksi (ramalan) antisipatif ke masa depan yang lebih baik lagi di dalam praktik kerja kita sesuai dengan ketentuan Tuhan.

Bricker menulis tentang Makna Spiritual Kerja. Berikut kutipannya:

Pada hemat saya, hidup dalam saat sekarang adalah kunci spiritualitas di segala bidang, tetapi terutama di tempat kerja. Sangat mudah membiarkan pikiran mengembara dan berjalan begitu saja selama jam-jam kerja, khususnya jika pekerjaan kita membosankan, mengulang-ulang hal yang sama atau menjemukan (seperti yang kadang-kadang terjadi pada jenis pekerjaan apapun). Sepenuhnya hidup dalam saat sekarang, berarti kita dapat melihat nilai kerja yang sedang kita lakukan pada saat kita melakukannya. Akibatnya, pekerjaan diresapi makna, pekerjaan menjadi bermakna secara spiritual.

Bagaimana dapat tetap hidup seperti itu, tentu saja merupakan persoalan besar. Menurut hemat saya, kita dapat berbuat seperti itu dengan sebaik-baiknya jika kita menghayati pekerjaan kita sebagai sebuah doa. Maksudnya bukan berdoa ketika kita sedang bekerja, melainkan memandang pekerjaan sebagai sebuah panggilan spiritual (doa).

Berpikir mengenai pekerjaan saya sebagai doa, betapapun pekerjaan itu membosankan, menjemukan, atau tidak menyenangkan-rupanya memperbesar perhatian saya kepada hal-hal kecil dan dengan demikian secara otomatis meningkatkan mutu serta ketelitian kerja saya. Sungguh, seandainya saya dapat melakukannya secara konsisten dan teratur! (W.K. Bricker-penulis dan editor).

c. Bekerja dengan Setia sesuai dengan Nilai-Nilai Organisasi/Perusahaan

Bekerja dengan baik itu diharapkan sesuai dengan nilai-nilai luhur di dalam organisasi. Entah itu nilai keadilan, entah itu nilai keimanan, entah itu nilai kejujuran, entah itu nilai disiplin, entah itu nilai persaudaraan dll.Kita bekerja dengan baik sesuai dengan nilai-nilai organisasi yang baik dan positif juga.

Bekerja dengan baik dapat juga dilihat dari sudut pandang hak dan kewajiban sebagai pekerja, keduanya harus terlaksana dengan seimbang. Harus ada keadilan di dalam bekerja. Karyawan wajib melakukan pekerjaan sesuai dengan aturan-normatif yang sudah ditetapkan oleh perusahaan (pemilik usaha). Sebaliknya seorang pemilik usaha juga harus memperhatikan hak-hak yang harus didapatkan oleh para karyawannya. Sehingga antara karyawan dan pemilik usaha selalu berusaha untuk saling melakukan yang terbaik, berlaku adil satu sama lain. Saling menjaga antara karyawan dan perusahaan merupakan hal yang mulia di dalam organisasi.

Bekerja dengan baik sangat ditentukan juga oleh visi, misi, dan budaya organisasi perusahaan di satu pihak; dan faktor budaya, tradisi, dan etos kerja bekerja di pihak lainnya.

128

Di dalam bekerja kita perlu mengintegrasikan secara harmonis berbagai nilai, filosofi, keutamaan, hak, kewajiban dan nilai rohani dan memperoyeksikannya itu ke dalam tindakan/aksi bekerja dengan baik. Aksi bekerja dengan baik diarahkan pada pencapaian kualitas kerja yang baik. Kualitas kerja yang baik menciptakan kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman di hati karyawan sekaligus pemilik usaha.

Namun di atas segalanya, bekerja dengan baik sungguh sesuai dengan hakikat Tuhan sebagai Sang Mahabaik itu sendiri.

Julia Balzer Briley seorang perawat, pengarang, dan pembicara, dari Kota Cumming, Georgia menulis pengalamannya terkait aspek pengembangan diri dalam kerja ini. Julia menulis keyakinan rohaninya dalam kisah inspiratif berikut ini. ”Untuk menambah kedalaman spiritual dalam kerja saya, saya telah menempatkan diri untuk mengikuti kursus- kursus yang memberikan sertifikat dalam bidang perawatan secara menyeluruh. Bagian pertama program ini adalah perawatan diri sendiri. Saya diminta untuk menelaah raga-jiwa-roh saya sendiri. Ini juga meliputi praktikum terstruktur dalam hal-hal seperti menulis catatan harian tentang perawatan diri dan spiritualitas kontemplatif. Irama tetap praktik setiap hari itulah yang akan membantu kita untuk memandang dan menghayati kerja kita sebagai jalan rohani, dan saya berusaha keras, berjuang sungguh-sungguh untuk mewujudkan hal ini. Saya merasakan bahwa batas waktu tugas-tugas selama kursus memberikan kepada saya struktur yang saya perlukan. Saya menjadi terbuka kepada Allah yang berbicara kepada saya melalui intuisi saya tentang cara saya dapat membantu para perawat dan orang lainnya yang sepanggilan untuk melihat spiritualitas kerja mereka”

(Pierce: 2010, hlm. 179).

Julia sangat menyadari diri sungguh-sungguh bahwa salah satu bagian penting dari aspek religius kerja adalah terus-menerus mengembangkan diri dalam bidang profesi yang digelutinya. Terus mengembangkan diri dalam profesi kerja termasuk bagian religiositas kerja juga. Orang yang terus mengembangkan diri akan menunjukkan kualitas kerja yang baik dan semakin tinggi pula. Kualitas kerja perlu diwujudkan dalam jenis kerja apapun profesi yang digeluti.

129

Benarlah pepatah menarik Martin Luther King Jr, :

”Jika orang dipanggil menjadi penyapu jalan, ia harus menyapu jalan

tidak ubahnya seperti Michel Angelo melukis,atau Beethoven menggubah musik, atau Shakespeare menulis puisi.Ia harus menyapu jalan dengan sedemikian baiknya, sehingga segenap penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak dan berkata:

Hiduplah seorang penyapu jalan yang besaryang melaksanakan pekerjaannya dengan baik” (Pierce: 2010, hlm. 78).

Pekerjaan itu tidak perlu dibandingkan. Karena semua orang yang bekerja di dalam perusahaan atau organisasi sama-sama memainkan perannya untuk kepentingan bersama. Karena itu semua pekerjaan baik adanya. ”Jika Anda membandingkan pekerjaan dengan pekerjaan, maka ada perbedaan besar antara pekerjaan mencuci piring dan pekerjaan mewartakan firman Tuhan, tetapi dalam hal menyenangkan hati Allah, kedua pekerjaan itu sama sekali tiada bedanya” (William Tyndale).

Terdapat 10 Cara Agar Kerja Dapat Bersifat Rohani:

Cara 1: Meletakkan barang-barang ”Suci” di sekililing Anda ! Cara 2: Hidup dengan menerima sifat tidak sempurna Cara 3: Menjamin mutu

Cara 4: Mengucapkan terima kasih dan selamat Cara 5: Membangun dukungan dan persaudaraan

Cara 6: Memperlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan

Cara 7: Memutuskan apa yang ”Cukup” dan berpegang teguh pada keputusan Anda Cara 8: Menyeimbangkan berbagai tanggung jawab

Cara 9: Bekerja untuk membuat ”Sistem” berjalan dengan baik

Dalam dokumen CHARACTER BUILDING : AGAMA (CHAR6015) (Halaman 123-129)