KNOWING WHAT OR WHO GOD IS
3. Mengenal Allah Melalui Sesama
a. Manusia sebagai sesama bagi yang lain.
Sama seperti istilah mengenal Allah melalui alam, demikian juga istilah mengenal Allah melalui sesama tidak bisa dimengerti secara hurufiah, seakan-akan kita bisa melihat Allah secara kasat mata dalam diri sesama. Ini adalah ungkapan atau istilah rohani-religius, sehingga harus dimaknai secara rohani atau secara religius-spiritual pula.
36
Apakah sesamaku manusia yang lain adalah pribadi yang lain? Iya, karena sebagai subjek otonom mereka itu unik dan berbeda dengan saya. Mereka adalah aku-ku yang lain yang berbeda dengan saya dalam penampilan fisik, keahlian profesional, cita-cita, tugas pekerjaan, bakat, hobi dll. Namun adakah sesamaku yang lain memiliki kualitas kesamaan dengan diriku? Jawabannya ada! Kesamaan itu terletak pada kenyataan humanis bahwa kita sama sebagai spesis manusia dan secara religius kita sama-sama adalah makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Jadi, manusia berbeda (disting) namun sekaligus mirip (identik). Secara rohani-spiritual, kita semua sungguh sama yakni ciptaan Tuhan (Tim CBDC, Character Building: Agama, 2015: hal. 51). Semua agama (Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu dan Khonghucu) meyakini satu kebenaran religius dasar, bahwa setiap subjek manusia merupakan makhluk yang bernilai luhur dan mulia. Status keluhuran esensial insan manusia seperti ini didasarkan pada suatu keyakinan religius bahwa semua manusia sungguh diciptakan oleh Allah. Kendatipun semua manusia lahir di dalam suku, ras, agama, etnis, dan bangsa yang berbeda-beda namun sejatinya hakikat setiap manusia sama-sama adalah makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu terdapat adanya struktur kesama-samaan atau kesederajatan eksistensial semua manusia dari perspektif religius. Kita manusia sungguh adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, yang semartabat dan sederajat di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan menciptakan setiap manusia sebagai suatu kebaikan dan keindahan sejak awalnya. Tuhan memberikan kualitas fisik dan jiwa bagi manusia untuk bisa mengenali Dia sebagai Tuhan Pencipta melalui sesama yang lain selain alam kosmos. Tuhan menciptakan manusia dengan kualitas lebih daripada ciptaan yang lain:
dianugerahi akal budi dan kehendak bebas, perasaan moral, dan kepekaan religius untuk bisa mengembangkan diri, mengolah alam dan memuliakan Tuhan.
Asumsi tentang semua manusia adalah ciptaan Tuhan memiliki akibat atau konsekuensi logisnya yakni semua manusia sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dan oleh karena itu di wajah sesama yang lain Tuhan juga hadir di sana. Kehadiran atau eksistensi sesama yang lain merupakan penampakan wajah Tuhan juga. Untuk itu bisa dikatakan bahwa setiap subjek manusia menampakan wajah Tuhan itu sendiri. Tuhan hadir di dalam setiap subjek manusia dan realitas kemanusiaan setiap kita sebagai manusia yang beriman dan percaya kepada-Nya. Tuhan hadir di dalam diri sesama memberikan motivasi atau inspirasi kepada setiap kita manusia untuk berbuat baik, berlaku sopan, bertindak tulus dan penuh cinta untuk mengasihi sesama yang lain sebagai mana kita dikasihi oleh Allah sendiri. Tuhan terlalu luar biasa mencintai setiap kita, sehingga kita pun layak membagikan cinta itu kepada sesama kita yang lain, terutama mereka kurang beruntung nasibnya dalam kehidupan ini.
b. Merasakan dan Mengalami Kehadiran Allah melalui Sesama
Semua umat beragama mengimani atau meyakini bahwa Allah Mahapengasih dan Penyayang, yang Mahabaik bagi kita, yang menolong, memperhatikan, membantu, menyayangi, dsb. Namun kalau kita merefleksikan atau merenungkannya secara mendalam, sesungguhnya kasih sayang dan segala kebaikan
37
Allah itu sampai kepada kita dalam dan melalui sesama. Ketika kita masih kecil dan tidak berdaya, kita hanya bisa bertahan hidup karena kasih sayang dan bantuan orang-orang, mulai dari orang yang paling dekat dengan kita, orangtua dan saudara-saudari lainnnya. Semakin lama kita hidup semakin banyak orang yang berjasa atau berkontribusi dalam kehidupan kita. Tanpa kehadiran orang lain kita tidak mungkin bisa hidup. Kasih sayang, perhatian, bantuan, pertolongan, dan berbagai kebaikan yang orang lakukan atau perbuat pada kita, yang membuat kita bisa bertahan hidup dan bahkan menghalami kemajuan, semuanya itu dapat kita maknai sebagai wujud kehadiran Allah dengan segala kebaikan-Nya pada kita (Gea, 2004:
hal. 196-197).
c. Menghadirkan Allah dan kebaikan-Nya kepada sesama.
Pemahaman akan hal ini tentu sekaligus menyadarkan kita bahwa kita sendiri merupakan penampakan wajah Allah dan kebaikan-Nya kepada sesama. Tentu sesama yang dimaksud disini terutama adalah mereka yang sangat membutuhkan. Kepada orang-orang yang kurang bernasib baik inilah kita yang memiliki kemampuan harus memiliki kepekaan religius, merasa terpanggil secara khusus untuk menampakkan wajah Tuhan dan membagikan kebaikan-Nya kepada mereka. Mereka harus bisa melihat dan merasakan bahkan mengalami kasih dan kebaikan Tuhan, yang sampai pada mereka melalui kehadiran kita pada mereka. Juga kita bisa mengenali, mendengar, dan menangkap serta merasakan kehadiran Tuhan dalam diri sesama yang menderita. Dengan kepekaan religius yang aktif dalam diri kita membuat kita bisa mengenali dan merasakan kehadiran Allah dalam diri mereka, yang seakan-akan berseru-seru kepada kita, mendesak respon kesediaan dan ketulusan kita untuk melakukan sesuatu, yang membuat mereka bisa merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Kita manusia memiliki panggilan untuk saling menghadirkan wajah Allah dan kebaikan-Nya kepada satu sama lain.
d. Perintah Allah untuk mencintai
Ajaran pokok agama-agama, yang bersumberkan kitab-kitab suci memuat suatu imperatif (perintah) kepada kita untuk saling mencintai satu sama lain. Di dalam agama Hindu, Budha, Islam, Kristen (Katolik & Protestan) serta Khonghucu diajarkan kepada kita nilai-nilai luhur yang perlu kita hayati dan terapkan dalam hubungan dengan sesama manusia yang lain (Fios, 2017: hal. 113-114). Ini berarti mencintai sesama atau saling mencintai adalah suatu etika religius. Lebih tepatnya suatu etika kewajiban religius yang radikal dan mendasar dalam hubungan kita dengan sesama. Artinya mencintai sesama bukan bersifat aksidental atau tambahan saja, melainkan unsur yang mendasar atau substansial di dalam relasi kita dengan sesama manusia (Gea, 2004: hal. 203-211).
Dalam Islam, mencintai sesama manusia dikenal dengan istilah hablun min annas. Cinta terhadap sesama manusia tidak dapat dilepas-pisahkan dari rasa cinta terhadap Penciptanya. Karena dalam ajaran Islam, cinta terhadap Allah SWT, juga berarti cinta terhadap sesama insan manusia yang lain yang adalah ciptaan-Nya juga. Rasa cinta terhadap sesama manusia tidak bisa terlepaskan dari sifat kemanusiaan. Salah
38
satu kisah tentang keutamaan cinta kasih dalam muslim (Islam) muncul dari sosok Nabi Muhammad SAW yang mengubah benci jadi cinta. Dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW sering diperlakukan secara sangat tidak manusiawi di zamannya, seperti dilempari kotoran oleh orang-orang Quraisy Mekkah, namun yang menariknya Sang Nabi selalu memaafkannya. Sewaktu ada yang hendak membantunya untuk membalas, Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Semoga Allah mengampuni mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Memaafkan seperti ini menandakan kematangan Muhammad dalam mencintai sesama. Cinta mengubah benci menjadi kasih. Inilah yang membuat dunia ini sungguh damai, aman dan nyaman untuk dihuni. Pada prinsipnya, cinta terhadap sesama manusia adalah dengan tolong -menolong, saling mengenal dan keserasian. Menurut pandangan Islam, rasa cinta terhadap sesama manusia bisa diwujudkan, salah satunya dengan keadilan dan persamaan derajat di antara manusia.
Di dalam kekristenan, cinta kasih merupakan hukum tertinggi dan terutama. Injil Matius 22:37-40,: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah terdapat seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”. Ini artinya isi kitab suci, terutama hukum yang terdapat di dalam seluruh Alkitab (Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama) berintikan perintah untuk mengasihi, baik mengasihi Tuhan maupun mengasihi sesama. Dalam konteks ini mengasihi sesama merupakan ekspresi cinta kepada Tuhan juga. Atau cinta kepada Tuhan diekspresikan juga dalam cinta kasih terhadap sesama. Mengikuti perintah Tuhan di dalam Kitab Suci Alkitab artinya kita wajib untuk mencintai sesama.
Dalam Hinduisme diyakini bahwa saling mencintai dan mengasihi siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam Yajur Weda 32. 8 dinyatakan “Sa’atah protasca wibhuh prajasu” yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan. Sangat menonjol bagi manusia modern mengenai konsep cinta dalam kehidupan berkeluarga dalam Weda adalah keterbukaan. Masalah kehidupan rumah tangga ialah menciptakan keselarasan dan kesesuaian seperti pada alam sesuai dengan hukum abadi (Rta). Konsep hubungan garis vertikal dan horizontal juga berlaku dalam kehidupan keluarga agar mencapai satu tujuan luhur yaitu keharmonisan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Kebersamaan yang begitu menonjol dalam kehidupan keluarga inti menjadi parameter ke tingkat kehidupan keluarga yang lebih besar dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Di dalam Budhisme, aspek cinta kasih merupakan hukum utama dalam relasi antar-manusia.
Menurut Buddha, ketidakpedulian khususnya kepada orang miskin membuat kemelaratan bertambah, pencurian meningkat, tindak kekerasan dan berbagai bentuk kejahatan berkembang cepat, pembunuhan menjadi biasa, sehingga usia harapan hidup dari waktu ke waktu semakin pendek (D. III, 65-73). Kalau manusia peduli pada sesamanya, hidup akan menjadi semakin indah, bermakna, penuh cinta dan damai.
Peduli pada sesama adalah suatu panggilan untuk mencintai sesama manusia. Budhisme mengakui
39
pentingnya cinta dalam kehidupan. Nikaya Pali memuat satu kata cinta yang berbeda dengan cinta yang lain yakni cinta kasih yang dipancarkan secara universal (tak terbatas) kepada semua makhluk dan cinta kasih yang tanpa pamrih, yaitu Metta. Metta adalah rasa persaudaraan, persahabatan, pengorbanan, yang mendorong kemauan baik, memandang makhluk lain sama dengan diri sendiri. Metta juga suatu keinginan untuk membahagiakan makhluk lain dan menyingkirkan kebencian (dosa) serta keinginan jahat (byapada).
Pengembangan metta dapat mengantarkan manusia pada pencapaian kedamaian Nibbana (Mettacetto vimutti), seperti yang dinyatakan Sang Buddha dalam Dhammapada 368: "Apabila seorang bhikkhu hidup dalam cinta kasih dan memiliki keyakinan terhadap Ajaran Sang Buddha, maka ia akan sampai pada Keadaan Damai (Nibbana), berhentinya hal-hal yang berkondisi (sankhara)".
Di dalam Khonghucu, cinta (Ren) merupakan salah satu ajaran yang pokok. Ren artinya cinta kasih universal, tidak terbatas pada orang tua dan keluarga sedarah belaka, namun juga meluas kepada sahabat, lingkungan terdekat, masyarakat, bangsa, negara, agama dan umat manusia. Ren tidak membeda-bedakan manusia dari latar belakang atau ikatan primordialnya. Ren tidak mengenal segala bentuk diskriminasi atau pertimbangan atas dasar kelompok. Ren dalam pengertian agama Khonghucu selalu didasari pada sikap ketulusan, berbakti, memberi, bukan meminta atau menuntut balasan dalam bentuk apapun. Namun perlu diingat bahwa Ren tidak berarti mencinta tanpa dasar pertimbangan baik dan buruk. Dalam salah satu sabdanya Kongzi mengatakan bahwa “Orang yang berperi cintakasih bisa mencintai dan membenci”.
Mencintai kebaikan dan membenci keburukan. Balaslah kebaikan dengan kebaikan; Balaslah kejahatan dengan kelurusan”. Ini artinya siapa pun yang bersalah, harus diluruskan, dihukum secara adil dan diberi pendidikan secara optimal agar dapat kembali ke jalan yang benar. Setelah berada di jalan yang benar, kita tidak boleh terkena stigma, menilai atas dasar masa lalu seseorang, melaikan mencintai orang itu secara tulus lagi.
C. PENUTUP
Mengenal Allah dan kehendak-Nya pada ciptaan-Nya, khususnya manusia, merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Allah bisa dikenal dengan berbagai cara, terutama melalui Kitab Suci yang memuat konsep yang jelas dan otentik tentang apa atau siapa Allah itu. Kitab Suci adalah sumber utama pengenalan tentang konsep Allah karena merupakan warisan dari para nabi atau tokoh-tokoh awal agama-agama, yang mana hal itu diyakini mereka terima melalui pencerahan atau penerangan ilahi, Ilham atau pewahyuan yang berasal dari Allah sendiri. Konsep tentang Allah seperti tertuang dalam Kitab-kitab Suci, merupakan hasil tangkapan para nabi atau tokoh awal agama-agama atas pewahyuan atau penerangan ilahi Allah. Dalam kondisi mereka yang khas mereka mendekati yang Tak Terbatas itu (atau lebih tepat:
mereka membuka diri menyambut pembukaan diri Allah dan kehendak-Nya kepada manjusia), menangkap-Nya dengan pemahaman yang khas pula, kemudian diungkapkan (dibagikan, disebarkan, dan
40
kemudian dituliskan) menggunakan bahasa manusia yang juga khas dan terbatas (bdk. Smith, 2008: hal.
75). Dalam kerangka kontekstualitas inilah bisa dimaknai perbedaan-perbedaan itu, yang telah terwariskan kepada kita dalam wujud teks-teks suci (Kitab Suci) yang tidak berubah, kendati kondisi zaman dan situasi kehidupan terus mengalami perubahan. Itulah sebabnya mengapa perbedaan-perbedaan itu (tentang konsep Allah dan hal-hal lainnya yang termuat dalam Kitab-kitab Suci) tidak bisa langsung menghantar kita pada penyimpulan bahwa bahwa Allah ada banyak.
Selain pengenalan Allah melalui Kitab Suci, kita juga bisa mengenal Allah melalui alam dan sesama manusia. Dalam dan melalui alam, yang merupakan penampakan jejak-jejak kebesaran Allah, kita bukan hanya mengenal adanya Allah, melainkan dapat merasakan dan mengalami secara nyata kehadiran dan penyertaan-Nya dalam kehidupan kita. Allah hadir menjadi kehidupan bagi kita melalui bahan-bahan makanan, air dan udara sehat yang senantiasa kita konsumsi, kita makan dan minum serta hirup setiap saat. Kita semakin sadar bahwa alam ini sesungguhnya wujud kehadiran Allah dan penghidupan-Nya dalam kehidupan kita. Dengan demikian maka kita semakin faham mengenai kedudukan alam dalam keseluruhan tatanan kehidupan kita manusia dan seluruh makhluk. Dengan itu seharusnya kita manusia lebih mampu mengembangkan pandangan, sikap dan perilaku yang tepat terhadap alam. Menjaga dan memelihara alam, bukan saja karena alam itu penting bagi kita, jantung kehidupan kita, melainkan karena kita mengalami kehadiran Allah bagi kita di dalamnya. Alam memiliki nilai keilahian yang berasal dari sumber keilahian itu sendiri, Allah Pencipta.
Selain mengenal Allah melalui Kitab Suci dan alam lingkungan hidup, kita juga bisa mengenal Allah dalam dan melaluin sesama. Sama seperti pengenalan akan Allah melalui alam, pengenalan kita tentang Allah melalui sesama juga merupakan hal sangat nyata bagi kita. Kita bukan hanya mengenal, melainkan merasakan dan mengalami secara nyata kehadiran Allah dengan segala kebaikan-Nya melalui sesama dalam kehidupan kita. Kasih dan kebaikan Allah, perhatian dan pertolongan-Nya kita rasakan dan alami secafra nyata dalam dan melalui kehadiran sesama dalam kehidupan kita, melalui perhatian, kasih sayang, pertolongan dan berbagai kontribusi sesama, secara langsung atau tidak langsung, yang membuat kita bisa bertahan hidup, berkembang dan mencapai kemajuan dan kesempurnaan kemanusiaan kita. Hal ini sama artinya juga bahwa sesama dapat mengenal, merasakan dan mengalami kehadiran dan penyertaan Allah dengan segala kebaikan-Nya dalam dan melalui kehadiran kita pada mereka. Kita menjadi penampakan wajah Allah dengan segala kebaikan-Nya pada sesama kita, terutama mereka yang sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan, yang kurang bernasib baik dalam kehidupan ini. Semoga pendalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi kita dalam memperdalam pemahaman dan penghayatan iman kita secara lebih nyata dan tulus.
41 Tugas
Refleksi Pribadi
Melalui Kitab Suci, Anda mengenal konsep tentang apa atau siapa Allah yang Anda Imani, Anda tidak lupa, bisa menghafalnya dan mengejanya dengan tepat, tanpa salah. Tapi apakah Anda juga punya pengenalan akan Allah melalui pengalaman-pengalamanmu, melalui kejadian atau peristiwa dalam kehidupan ini, melalui hati nurani, dan melalui perjumpaan lainnya? Kalau ada, yang mana lebih terasa pada Anda, lebih mendalam pengenalannya, lebih merasa atau mengalami kehadiran-Nya dalam kehidupan Anda?
Bagaimana Anda terus memperdalam pengenalanmu akan Allah?
Referensi
• Fios, Frederik dan Antonius Atosokhi Gea (2017). Character Building Spiritual Development, Bina Nusantara Media & Publishing, Jakarta.
• Diktat Matakuliah Character Building Agama, Binus University
• Gea, Antonius Atosokhi, dkk (2004), Character Building III Relasi Dengan Tuhan, Penerbit PT ElexMedia Komputindo, Jakarta
• Gea, Antonius Atosokhi, dkk (2004), Character Building IV Relasi Dengan Dunia, Penerbit PT ElexMedia Komputindo, Jakarta
• Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi (2016). Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemeterian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Cetakan 1, Jakarta.
• Pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi (2016). Kemeterian Riset, Teknologi dan Pendidkan Tingi Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Cetakan 1, Penerbit Ristekdikti, Jakarta
• Setiawan, Hendro (2014). Manusia Utuh. Sebuah Kajian atas Pemikiran Abraham Maslow, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
• Smith, Wilfred Cantwell (2008). Kitab Suci Agama-agama, diterjemahkan oleh Dede Iswadi, Penerbit PT. Mizan Publika, Jakarta
• Winarso, Hendrik Agus, Dr., (2008). Keimanan dalam Agama Khonghucu. Suatu Tinjauan Teologi dan Peribadahannya. Penerbit Dahare Priza, Semarang
42