WILLING TO FORGIVE
3. Perintah untuk mengampuni
Sebagaimana perintah Tuhan kepada umat-Nya agar saling mengasihi, perintah untuk mengampuni juga merupakan pesan terpenting Tuhan kepada manusia. Sebagaimana Tuhan mau mengampuni umat-Nya, demikian juga Dia mau agar umat-Nya saling mengampuni (Gea, 20024: hal.268).
Firman Allah dan ajaran para nabi dan rasul-Nya dengan sangat eksplisit mengungkapkan hal ini.
a. Perintah untuk Memaafkan Menurut Ajaran Islam
Tuntunan dari Allah pada Surat Ali Imran mengatakan sebagai berikut: Dan patuhlah kepada Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. Serta bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (Q.S.: Ali Imram: 132-134). Demikian pula Sabda Nabi Muhammad yang berisikan bahwa orang yang paling utama adalah yang mampu memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat salah kepadanya sebelum orang itu meminta maaf (Fios, 2017: hal. 151). Begitulah sikap yang lebih utama untuk dilakukan. Jadi, sikap memaafkan kesalahan juga dikatakan sebagai suatu yang dapat memperpanjang umur seseorang dan mempeluas rezekinya. Bahkan hal ini dapat dilihat pada kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad yang selalu menerapkan perilaku memberi maaf ini. Salah satu contoh Nabi Muhammad seringkali mendapat perlakuan yang sangat tidak manusiawi, seperti dilempari dengan kotoran onta, bahkan kotoran manusia oleh orang-orang Quraisy ketika di Mekkah, dan selalu memaafkan serta menganggapnya sebagai akibat dari ketidaktahuan mereka. Pada saat Malaikat Jibril hendak membantu untuk membalasnya, Nabi bersabda: “Semoga Allah mengampuni mereka karena mereka tidak
104
tahu.”Melalui sabdanya yang sangat terkenal itu selalu diulang, akibat dari itu, kehidupan Nabi ya ng semula penuh dengan cemoohan, karena umatnya semula belum memahami, kemudian lama-kelamaan berubah menjadi sangat mencintainya.
b. Perintah untuk Memaafkan Menurut Ajaran Kristen (Katolik dan Protestan)
Yesus telah memberi teladan dan memberi ajaran dalam hal pengampunan. Yesus sendiri tidak membalas ketia Dia dianianya oleh para pembunuhnya. Ketika Dia ditangkap untuk diadili, salah seorang yang menyertai-Nya menghunuskan pedangnya ke telinga hamba imam besar, salah seorang penangkap-Nya, hingga putus, Yesus berkata: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat.26:52). Yesus sendiri mohon pengampunan bagi para pembunuh-Nya ketika Dia berdoa di atas salib: “Ya Tuhan ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk.23:34). Dalam perumpamaan tentang pengampunan, ketika Petrus bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”. Yesus berkata kepadanya: “Bukan, Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat.18:21). Dalam berbagai penafsiran, ungkapan Yesus ini diartikan sebagai ‘tak henti-hentinya kita harus mengampuni’. Dalam berbagai wejangan-Nya Yesus mengajak umat-Nya untuk saling mengampuni: “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan, janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum.
Ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk.6:37). Rasul Paulus, dalam suratnya kepada umat di Efesus, mengatakan: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef.4:32). Dan, dalam “Doa Bapa Kami” diungkapkan satu pernyataan bahwa kita juga mau mengampuni sesama yang bersalah kepada kita:
“…ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami” (Mat.6:9-13).
c. Perintah untuk Memaafkan Menurut Ajaran Hindu
Dengan menyadari bahwa sifat dasar kita berasal dari sumber yang sama, yaitu Brahman dengan demikian jiwa-jiwa yang ada pada setiap makhluk adalah bagian dari Brahman, maka hendaklah kita selalu menerapkan sifat-sifat itu dalam kehidupan ini karena kita mempunyai hubungan langsung dengan unsur-unsur di alam semesta ini; tanah, air, api, udara dan angkasa. Dalam ajaran Hindu dikenal adanya Tat Twam Asi yang mengandung pengertian bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku, dan menyakiti makhluk hidup lain pada dasarnya adalah menyakiti diri sendiri dan juga sebaliknya.
Dari kesadaran inilah akan mencapai kebahagiaan dan keharmonisan karena mengetahui bahwa sesungguhnya diri kita, orang lain serta makhluk hidup lainnya adalah bersaudara (Vasudaiva Kutumbhakam). Karena sebenarnya kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, bagaikan satu rumah dengan satu atap dengan sifat dan tempramen yang berbeda, tetapi satu. Hal ini juga dijelaskan dalam Atharwa Veda III. 30. 1 yang dijelaskan bahwa “Wahai umat manusia, Aku memberimu sifat
ketulus-105
ikhlasan, mentalitas yang sama, persahabatan tanpa kebencian, seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, begitu seharusnya kamu mencintai sesamamu”. Dalam hubungan ini, dari perspektif Hindu diketengahkan model pendidikan agama yang inklusif yang diajarkan oleh Sri Sathya Narayana (2003), seorang yogi besar dewasa ini, seorang guru spiritual yang menekankan kembali betapa pentingnya 5 (lima) dasar nilai-nilai kemanusiaan, yang terdiri dari:
o Satya: kebenaran (truth), seseorang hendaknya berpegang teguh kepada ajaran agama yang dianutnya.
o Dharma: tindakan yang benar (right conduct), seseorang hendaknya senantiasa berbuat baik dan benar.
o Prema: cinta kasih (love), seseorang hendaknya senantiasa mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk dan alam semesta ciptaan-Nya.
o Śānti: kedamaian (peace), seseorang hendaknya dapat mewujudkan kedamaian hati dan membuat suasana sejuk terhadap lingkungannya.
o Ahiṁśa: tanpa kekerasan (non violence), seseorang hendaknya tidak melakukan tindakan kekerasan, tidak menyiksa apalagi sampai membunuh seseorang.
d. Perintah untuk Memaafkan Menurut Ajaran Buddha
Dalam ajaran agama Buddha dalam Cariya Pitaka, salah satu Pāramī/Pāramitā (kesempurnaan) yang harus dikembangkan adalah Dāna Pāramī, yang itu kemurah-hatian. Memberi maaf adalah tanda atau sifat dari orang yang murah hati. Tanpa maaf-memaafkan tidaklah mungkin amarah dan kebencian dipadamkan. Dalam dunia ini kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian.
Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci (Dhp.5). Cara untuk tidak membenci adalah dengan mengembangkan cinta kasih yang merupakan Metta Pāramī / Pāramitā. Dengan memberi maaf maka akan memberikan ketenangan dengan tidak adanya beban dan kegelisahan. Memaafkan merupakan salah satu pendukung dalam praktik meditasi. Memaafkan juga merupakan salah satu bentuk kemurahan hati yang menyempurnakan pribadi seorang manusia. Buddha menolak dengan tegas sikap mau membalas kesalahan orang. Dia pernah mengatakan, barang siapa dicaci, lalu membalas dengan mencaci pula, dia lebih buruk dari yang pertama memulainya (Fios, 2017: hal. 151). Jika dengan tindakan, ucapan dan pikiran telah melakukan kesalahan, seseorang menyatakan penyesalan dan mohon maaf, dengan itu diharapkan batinnya menjadi tenteram. Sebaliknya, berkat kesediaan memaafkan, yang dikenal dengan Abhaya Dāna, diharapkan orang yang berbuat salah dapat selamat dan bebas dari penderitaan, khususnya karena kekuatan pikiran yang tenang dan damai, penuh dengan cinta dan belaskasih.
e. Perintah untuk Memaafkan Menurut Ajaran Khonghucu
Tuhan diyakini memiliki perasaan sebagaimana halnya manusia, ada kemiripan antara citra Tuhan dengan manusia: There is Almighty God (Tuhan itu Maha Kuasa adanya), Does He hate any one? (Adakah
106
Dia membenci seseorang) - Kitab Shi Jing Madah untuk Tuhan (Ode to God). Tuhan sumber segala kebaikan : It’s not God who caused the evil time (kedurjanaan tidak berasal dari Thian). But it’s you who have strayed from the old path (kaulah yang telah menyimpang dari jalanNya) - Shu Jing / The Book of History. Betapa Maha Besar Thian Khalik Semesta Alam Berlaksa benda daripadaNya bermula Semuanya kepada Thian Yang Maha Esa. Awan berlalu, hujan diturunkan mahkluk dan benda mengalir berubah bentuk. Jalan suci Thian merubah dan melebur. Masing masing lurus menepati Xing dan firman. Dipelihara berpadu keharmonisan besar. Diturunkan berkah dan keabadian - I Ching. Maka dari itu Thian Yang maha Rokh itu tidak boleh diperkirakan. Lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Sungguh jelas sifatNya yang halus itu Sehingga tidak dapat disembunyikan dari iman kita, Demikianlah Dia yang Maha segalanya - (Zhong Yong / Doktrin Makna).