CARING FOR THE ENVIRONTMENT
4. Makna Religius Alam dan Eco-Teologi
Pandangan teologi tentang ekologi alam bisa disarikan dalam konsep Eco-Theology atau eko-teologi. Ekologi berasal dari kata Yunani oikos, artinya rumah. Ekologi merupakan studi tentang bagaimana organism di dalam alam saling beriteraksi satu sama lain dalam konteks lingkungannya (Bdk, Roderick Frazier Nash: 1989, hal. 55). Sedangkan teologi artinya pandangan atau filosofis tentang keTuhanan. Inti pemikiran eko-teologi yakni terdapat adanya satu kesatuan intrinsik antara berbagai elemen yakni Tuhan, manusia dan segala entitas ada di dalam alam.
Untuk menegaskan prinsip kebenaran ini, Allan R. Brockway menulis: “sebuah teologi tentang dunia alam semesta…..mengandung makna instrinsik bahwa terdapat kesatuan segala sesuatu di dalam alam antara dunia manusia dengan dunia non manusia. Terdapat kesatuan antara dunia manusia dengan dunia non manusiawi yang saling memancarkan dimensi ilahi itu mulai dari batu-batu, pohon-pohon, udara, air, minyak dan mineral, hewan- hewan dan termasuk di dalamnya kita manusia juga”
(Ibid., 87).
Bahkan para teolog dan filsuf aliran agama-agama mengatakan bahwa teologi yang baik seharusnya memperhatikan etika ekologi (ecology ethics) yakni memperhatikan dimensi keadilan terhadap alam. Artinya iman kita tidak boleh hanya sebatas doktrin saja, melainkan harus diwujudkan ke dalam tindakan ekologis yang peduli terhadap hak-hak dan kebaikan alam lingkungan hidup kita. Inilah saatnya kita melakukan penghijauan terhadap agama atau lebih popular dalam istilah Roderick Frazier Nash, “The Greening of Religion” (Ibid., hal. 87-120).
Pandangan yang religius agama-agama16 terhadap alam bakal memunculkan sikap-sikap yang
16 Pandangan-pandangan yang diuraikan menurut agama-agama di sini diadaptasi dari Mary Evelyn Tucker & John A. Grim (ed.) Worldviews and Ecology: Religion, Philosophy, and the Environment . New York: Orbis Book. Bdk. edisi Indonesia berjudul “Agama, Filsafat danLingkungan” (2003) terjemahan P. Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius.
114
manusiawi dan bersahabat dengan alam, etis, bermoral, integratif, holistik dan menyeluruh. Visi religius kita terhadap alam kita realisasikan juga dalam realitas sosial kita dalam relasi dengan segala makhluk hidup (biotic) dan makhluk tidak hidup (abiotik). Visi ekologi-religius akhirnya menjadi bagian dari iman kita kaum beragama dalam menghayati eksistensinya di bumi ini dalam mengembangkan relasi yang harmonis dengan dengan alam. Iman kita kepada Tuhan perlu kita realisasikan dalam relasi harmonis dengan alam. Relasi manusia dengan alam ini bukan jangka pendek saja, melainkan suatu relasi ideal yang perlu dilanjutkan dalam jangka panjang untuk generasi manusia dan makhluk hidup lain di masa depan. Keberlanjutan hidup generasi kehidupan masa depan tergantung pada pikiran, tindakan dan perilaku kita saat ini. Kita perlu menjaga alam pada saat ini untuk menjamin kelangsungan hidup banyak pihak di masa depan. Inilah sikap religius kita sebagai orang-orang yang mengaktualisasikan iman kepada alam sebagai ciptaan Tuhan sendiri.
Sudah umum diterima pandangan atau pemahaman bahwa alam semesta ini sungguh adalah ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Banyak filsuf dan teolog yang berbicara tentang alam dari perspektif agama-agama dunia ini yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, dan Aliran Kepercayaan lain.
Agama-agama memandang alam sebagai suatu kenyataan yang bernilai luhur religius sebagai ciptaan Tuhan dan oleh karena itu alam perlu dijaga keberlanjutannya di masa depan.
Pandangan Kristiani (Katolik dan Protestan) tentang alam sebagai ciptaan Tuhan bisa ditelusuri di dalam Alkitab maupun para pemikiran para filsuf kristiani. Di dalam Kitab Kejadian Bab 1 di situ jelas ditegaskan bahwa langit dan bumi beserta isinya diciptakan oleh Allah sendiri. Artinya kehadiran alam semesta ini terjadi karena kekuasaan Tuhan. Sementara itu di dalam pandangan filsuf-filsuf kristiani (Teologi Barat), alam dipersepsikan sebagai realitas yang melulu bernilai rohani yakni berasal dari Tuhan sendiri. Pandangan ini tampak dalam pemikiran Origenes (185-254 M), Santo Thomas Aquinas (1225-1274), Santo Bonaventura (1221-1274), Dante (1265-1321), Karl Barth (1886-1968), dan Teilhard de Chardin (1881-1955). Pandangan mereka umumnya mengklaim bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Sementara itu pandangan kristiani yang melihat alam dalam perspektif motiv ekologis masa depan tampak dalam pemikiran Santo Agustinus (354-430), Santo Fransiskus Asisi (1182-1226), Martin Luther (1483-1546), Calvin (1509-1564) yang semuanya mengatakan bahwa alam semesta ini dan manusia serta segala makhluk akan ditebus/diselamatkan pada akhir zaman. Artinya kondisi kebaikan manusia, alam dan segala makhluk akan disempurnakan, diselamatkan pada zaman eskatologis, zaman parusia, akhir zaman ketika Tuhan datang menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya.
Pandangan Islam juga tak kalah menariknya atas alam. Dalam Bukunya The Translation of the Meaning of Sahih Al-Bukhari (terjemahan Muhammad Muhsin Khan) Muhammad Ibn Isma’il
al-115
Bukhari mengatakan di Al-Qur’an Allah adalah Pencipta dunia ini yang dilakukan dalam enam hari (7:54;
10:3; 11:7; 25:59; 32:4 dan 57:4). Ini menunjukkan pandangan Islam yang mendasar bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan. Alquran juga menegaskan bahwa Allah itu Esa dan Allah berkuasa atas seluruh ciptaan di dalam alam semesta ini, langit dan bumi adalah milik Allah (2:107; 3:189; 9:116; 23:84-89;
35:13; dan 57:2). Kebiasaan Muhammad SAW berdoa pagi dan sore dihubungkan dengan kuasa Allah atas dunia( bdk. Mishkat, 506. Lihat juga J.M.S. Baljon, “The Amr of God in the Koran”, Acta Orientalia).
Implikasinya bahwa pandangan monoteistik Islam tidak mendukung eksploitasi atas bumi oleh karena itu Islam juga memiliki pandangan yang ekologis atas alam sebagai realitas yang bernilai religius yang perlu dijaga dan dipelihara.
Di dalam Budhisme khususnya Budha Mahayana, terdapat tradisi Tathagatagarbha dan Alayavijanana yang menggambarkan suatu kosmologi dan antropologi saling berkaitan. Dikatakan semua mahkluk hidup akan mencapai pencerahan atau kebijaksanaan tertinggi dan sempurna dalam KeBudhaan. Jalan Budhis sebagai proses di mana kesadaran individual diubah menjadi kebijaksanaan sempurna. Menurut Budha, segala objek dalam alam berhubungan satu sama lain. Prinsip pratityasamutpada, atau kemunculan bersama benda-benda merupakan suatu proses dinamis dan kolaboratis banyak hal lain. Tidak ada satu objek pun di dalam alam yang ada dari dirinya sendiri, tetapi hanya sebagai suatu konteks hubungan, suatu nexus/jalinan faktor-faktor yang berhubungan satu sama lain. Ada sebuah kanon Pali dari Budha yang mengatakan keterkaitan segala sesuatu di dalam alam ini: “Ini ada, itu menjadi; dari munculnya ini, itu muncul; ini bukan menjadi, itu tidak menjadi; dari mandeknya ini, itu mandek” (Bdk. Najjhima-Nikaya, 2: 32; Samyutta-Nikaya 2:28).
Di dalam Hinduisme, alam memiliki nilai religius yang mendalam. Di dalam sejarah India ditemukan kebudayaan kota yang disesuaikan dengan ritme alami, lambang kota Mohenjodaro dan Harapa di lembah Indus melukiskan seseorang yang sedang bermeditasi- yang oleh beberapa filsuf dianggap sebagai wujud pertama dewa Siwa-dengan penuh damai dikelilingi oleh tumbuhan lebat dan hewan-hewan jinak. Sementara itu Rig Veda melukiskan pujian-pujian yang tinggi atas pelbagai kekuatan alam, menganggap alam sebagai keilahian yang pantas disembah puji. Sungai-sungai (Ganga, Yamuna, Sarasvati, Sindhu) dan tanah (Prthivi) dilihat sebagai dewa-dewi, sementara angin (Maruts) dan api (Agni) disebut sebagai dewa laki-laki. Malah di dalam nyanyian Purusa Sukta dinyatakan: “Bulan lahir dari budinya, Matanya melahirkan matahari, Indra dan Agni muncul dari mulutnya; Dan Vayu (angin) lahir dari nafasnya; dari pusarnya muncul udara; langit muncul dari kepalanya; dari kaki, bumi; dari telinga, mata angin. Begitulah mereka membentuk dunia-dunia (Bdk. Rig Veda 10:190, 13-14. Terj. Antonio T, de Nicolas, Meditations through the Rig Veda: Four Dimensions Man(New York: Nicolas Hays, 1976).
Konfusianisme awal, seperti Taoisme, secara kosmologis memahami dunia ini sebagai bagian dari semesta yang berubah, dinamis dan mekar (Bdk. Terjemahan Arthur Waley mengenai Analects dan
116
D.C. Lau mengenai Mencius, 1970). Proses pemekaran dan kesinambungan dari alam dan harmoni musim sangatlah ditegaskan oleh para Konfusian. Semesta dilihat muncul dengan sendirinya, dibimbing oleh pemekaran Tao, sebuah term yang dipegang teguh oleh Konfusian dan Taoisme dengan makna yang berbeda. Mereka juga mengakui adanya kekuatan-kekuatan yang berlawanan di dalam alam misalnya dalam konsep yin dan yang.