BAB 2
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 PT Angkasa Pura 1
2.1.1 Sejarah Perusahaan
Berawal dari mimpi Presiden Republik Indonesia pertama yakni Ir. Soekarno ketika kembali ke tanah air dari perjalanan beliau ke Amerika Serikat, beliau menginginkan agar bandar udara yang ada di Indonesia dapat setara dengan bandara di negara-negara maju, maka PT Angkasa Pura I (Persero) atau yang lebih dikenal dengan Angkasa Pura Airport sebagai pelopor kebandarudaraan secara komersil di Indonesia yang mulai dibangun pada tahun 1962.
Merujuk ke peraturan Undang–Undang (UU) No. 19 Tahun 1960 tentang Pendirian Perusahaan Negara dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Thun 1962 tentang Pendirian Perusahaan Negara (PN) Angkasa Pura Kemayoran.
Angkasa Pura Kemayoran memiliki tugas utama atau pokok adalah untuk mengelola dan mengusahakan Pelabuhan Udara Kemayoran, Jakarta yang pada saat itu merupakan satu-satunya bandar udara berskala internasional yang melayani penerbangan dari dan luar negeri selain penerbangan domestik.
Setelah melalui masa transisi selama dua tahun, terhitung sejak 20 Februari 1964 PN Angkasa Pura Kemayoran resmi mengambil alih secara penuh aset dan operasional Pelabuhan Udara Kemayoran Jakarta dari Pemerintah Republik Indonesia. Tanggal 20 Februari 1964 itulah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Angkasa Pura Airports.
Sebagai upaya Angkasa Pura dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang kebandaraudaraan, secara bertahap Pelabuhan Udara Ngurah Rai - Bali,
Halim Perdanakusumah - Jakarta, Polonia - Medan, Juanda - Surabaya, Sepinggan - Balikpapan, dan Sultan Hasanuddin – Ujung pandang, kemudian bergabung dalam pengelolaan PN Angkasa Pura. Berdasarkan PP Nomor 37 tahun 1974, status badan hukum perusahaan diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum).
Dalam rangka pembagian wilayah pengelolaan bandar udara, berdasarkan PP Nomor 25 Tahun 1987 tanggal 19 Mei 1987, nama Perum Angkasa Pura diubah menjadi Perusahaan Umum Angkasa Pura I, hal ini sejalan dengan dibentuknya Perum Angkasa Pura II yang secara khusus diberi tugas untuk mengelola Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma.
Kemudian berdasarkan PP Nomor 5 Tahun 1992, bentuk Perum diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) yang sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh Negara Republik Indonesia sehingga namanya menjadi PT Angkasa Pura I (Persero) dengan Akta Notaris Muhani Salim, SH pada tanggal 3 Januari 1993 dan telah memperoleh persetujuan Menteri Kehakiman dengan keputusan Nomor C2- 470.HT.01.01 Tahun 1993 tanggal 24 April 1993 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 52 tanggal 29 Juni 1993 dengan Tambahan Berita Neara Republik Indonesia No 2914,1993.
Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan terakhir adalah berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham tanggal 14 Januari 1998 dan telah diaktakan oleh Notaris Imas Fatimah, SH Nomor 30 tanggal 18 September 1998. Perubahan Anggaran Dasar tersebut telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: C2-25829.HT.01.04 Tahun 1998 tanggal 19 November 1998 dan dicantumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 50 tanggal 22 Juni 1999 dengan Tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 3740/1999.
Angkasa Pura Airports terbagi menjadi 2 lingkup kerja yaitu, PT Angkasa Pura I yang memberikan pelayanan lalu lintas udara dan bisnis bandar udara di Indonesia
yang menitikberatkan pelayanan pada kawasan Indonesia bagian tengah dan kawasan Indonesia bagian timur, sedangakan PT Angkasa Pura II untuk melayani wilayah Indonesia bagian Barat. Sampai saat ini Angkasa Pura Airports mengelola 13 (tiga belas) bandara di kawasan tengah dan timur Indonesia, yang ditunjukkan pada gambar 2.1 dan tabel 2.1.
Gambar 2.1. Peta Wilayah Layanan PT Angkasa Pura 1
Tabel 2.1. Cabang PT Angkasa Pura I di Indonesia
No Bandar Udara Wilayah
1 Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar
2 Bandara Juanda Surabaya
3 Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
4 Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepingan-Balikpapan
5 Bandara Frans Kaisiepo Biak
6 Bandara Sam Ratulangi Manado
7 Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin
8 Bandara Ahmad Yani Semarang
9 Bandara Adisutjipto Yogyakarta
10 Bandara Adi Soemarmo Surakarta
11 Bandara Internasional Lombok Lombok Tengah
12 Bandara Pattimura Ambon
13 Bandara El Tari Kupang
(Sumber : www.ap1.co.id)
Sebagai Operator Bandara yang mengelola 13 Bandara di Bagian Tengah &
Timur Indonesia, Angkasa Pura Airports berperan vital sebagai penggerak perekonomian di Indonesia melalui konektivitas udara meliputi sektor Bisnis, Logistik dan Pariwisata.
Pada tahun 2015, Angkasa Pura Airports telah bermitra dengan 49 Maskapai dan menangani lebih dari 73 juta penumpang di Indonesia serta memperlihatkan pertumbuhan penumpang yang positif dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebesar 10.24%
2.1.2 Profil PT Angkasa Pura 1 2.1.2.1 Visi Perusahaan
Visi dari perusahaan PT Angkasa Pura I adalah menjadi salah satu dari sepuluh perusahaan pengelola bandar udara terbaik di Asia.
2.1.2.2 Misi Perusahaan
Terdapat beberapa misi yang dilakukan oleh perusahaan untuk mewujudkan visi yang telah ditargetkan, yaitu :
Meningkatkan nilai pemangku kepentingan
Menjadi mitra perusahaan dan pendorong pertumbuhan ekonomi.
Mengusahakan jasa kebandarudaraan melalui pelayanan prima yang memenuhi standar keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.
Meningkatkan daya saing perusahaan melalui kreatifitas dan inovasi.
Memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan hidup.
2.1.2.3 Nilai-Nilai Perusahaan a. Sinergi
Cara insan Angkasa Pura Airports menghargai keragaman dan keunikan setiap elemen untuk memberi nilai tambah bagi perusahaan, pembangunan ekonomi, dan lingkungan dimanapun insan Angkasa Pura Airports berada.
b. Adaptif
Daya, semangat dan hasrat insan Angkasa Pura Airports yang pantang menyerah, proaktif merespon perubahan dan kaya akan inovasi.
c. Terpercaya
Karakter insan Angkasa Pura Airports yang senantiasa selaras antara kata dengan perbuatan, jujur dalam menjalankan tugas serta kewajiban, dan dapat diandalkan.
d. Unggul
Komitmen insan Angkasa Pura Airport memberikan layanan prima dengan professional dan bertanggung jawab untuk memuaskan pelanggan secara berkelanjutan.
2.1.2.4 Struktur Organisasi Pusat
2.2 PT Angkasa Pura 1 Cabang Bandara I Gusti Ngurah Rai
2.2.1 Identitas Perusahaan
Nama Perusahaan/Pemrakasa : PT ANGKASA PURA I
Jenis Badan Usaha : PT (PERSERO)
Alamat Perusahaan/Pemrakasa : Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Denpasar Bali, 80361
No. Tlp : (0361) 9351011
No. Fax : (0361) 9351032
Website : www.bali-airport.com
Email : [email protected]
Kode Pos : 80361
Badan Usaha dan Kegiatan : Jasa Kebandarudaraan dan Jasa Penumpang Bandar Udara
SK AMDAL yang Disetujui : - Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 02.59.09
Tahun 2014 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
- Keputusan Gubernur Bali Nomor 499/04- B/HK/2011. Tentang Penetapan Kelayakan Lingkungan Hidup Pengembangan Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.
SK RKL-RPL : Keputusan Menteri Perhubungan No: SK.
16/lt.504/PHB-98 Tanggal 13 Juni 1998 tentang Persetujuan RKL dan RPL
Izin-izin yang dimiliki : - Sertifikat Bandar Udara Nomor 015/SBU-DBU/X/2015
- Izin Pengambilan Air Bawah
Tanah Nomor
151/BPPT/SIPAN/2016
- Surat BAPEDA Nomor : 5532/2929/Bapeda. Perihal Rekomendasi Rencana Induk Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali dari Gubernur Bali.
- Peraturan Menteri Perhubungan No. 364 tahun 2010 Tentang Rencana Induk Bandar Udara Ngurah Rai di Kabupaten Badung Provinsi Bali tertanggal 18 Agustus 2010
Jumlah Karyawan : 580 orang
Penanggung Jawab : General Manager
2.2.2 Lokasi Usaha
Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai terletak di Kelurahan Tuban Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Tepatnya, berada pada posisi geografis 8º03’40” – 8º50’48” LS dan 114º25’53” BT, berjarak 13 km dari Denpasar dengan luas lahan ± 265,6 ha dan diapit oleh Tahura di sebelah Timur dan Selat Bali di sebelah Barat. Adapun posisi Aerodrome Refference Point (ARP) berada pada koordinat 08º44’50,76” LS dan 115º10’8,69” BT.
Secara fisik Wilayah yang berbatasan langsung dengan Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai adalah:
Gambar 2.3 Peta Lokasi Bandara Ngurah Rai Bali
Lokasi Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, berbatasan langsung dengan wilayah- wilayah berikut ini :
Sisi Utara : Pada bagian sisi utara, berbatasan langsung dengan
permukiman padat penduduk Banjar Segara, Desa Kuta,Kecamatan Kuta, Kanbupaten Badung dan lalu lintas jalan utama Tuban.
Sisi Timur : Berbatasan dengan laut, Tol Bali Mandara yang
merupakan penghubung menuju kawasan Nusa Dua, serta Pelabuhan Benoa Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.
Sisi Selatan : Berbatasan dengan pemukiman penduduk Desa Kelan dan Desa Kadonganan Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.
Sisi Barat : Berbatasan daerah wisata air (Water Sports) dan selat Bali. Daerah ini merupakan daerah tempat nelayan mencari ikan.
2.2.3 Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur Organisasi merupakan urutan-urutan bagian yang menangani operasional dan masalah yang berkaitan pada jasa kebandaraudaraan yang disediakan oleh PT.
Angkasa Pura I Cabang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Hal ini
juga bertujuan agar masing-masing bagian mengetahui tugas dan wewenang serta tanggung jawab pada bidangnya masing-masing.
Angkasa Pura I cabang I Gusti Ngurah Rai Bali dipimpin oleh seorng General Manager (GM) dan dibantu oleh Co. General Manager (Co-GM) serta dibantu oleh beberapa kepala seksi (Departement Head) sebagaimana terlampir pada Gambar 2.4 berikut.
2.2.4 Deskripsi Kegiatan
Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai - Bali merupakan salah satu bandar udara yang mempunyai tingkat kesibukan tinggi dan merupakan pintu gerbang lalu lintas angkutan udara dari sisi sebelah timur Indonesia dengan luas area 265,6 Ha. Pada saat pelaporan ini dilakukan, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali sudah pada tahap operasional dengan fasilitas yang ada pada Bandara udara ini antara lain :
1. Terminal Penumpang seluas ± 121.785 m2 untuk Terminal Internasional Baru, dan ± 67.883 m2 untuk Terminal Domestik Baru, Gedung Promenade seluas ± 27,312 m2 serta General Aviation Terminal seluas ± 4.404 m2.
2. Pelataran Parkir Pesawat seluas total ± 214.457 m2 lengkap dengan 12 garbarata di Terminal Internasional Baru dan 8 buah garbarata di Terminal lama, serta terdapat Apron Selatan seluas ± 52.725 m2.
3. Helipad sebanyak 6 buah (utara = 3 unit, selatan =3 unit)
4. Taxiway utara termasuk pavis shoulder dengan total luas ±188.441 m2. 5. Runway 09 – 27 dengan total seluas ± 135.000 m2 (3.000 m x 45 m) 6. Terminal Kargo seluas ± 11.800 m2.
7. Pelataran Parkir kendaraan motor pada saat ini sudah beroperasi dan sudah dimanfaatkan sesuai dengan pelaksanaan pengembangan Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali dengan luas gedung parkir mobil adalah ± 39.130 m2 dan luas gedung parkir motor adalah ± 3.450 m2.
8. Instalasi pengolahan Air Limbah atau yang disebut Sewage Treatment Plant(STP) seluas ± 6.688 m2.
9. Gedung – gedung perkantoran dan operasional seluas ± 13.053,80 m2.
10. Gedung perkantoran (Gedung Wisti Sabha, Gedung GOI, Gedung Operasional ), Control Tower dan PK – PKK) seluas ± 5.708,06 m2.
11. Fasilitas sisi darat berupa terminal seluas 3.590 m2 dilengkapi parkir seluas 1.798 m2 dan hanggar seluas 6.000 m2 untuk General Aviation (GAT) dilakukan di area selatan landas pacu.
12. Hotel 3 (tiga) lantai diatas bangunan eksisting (Promenade) di utara landas pacu dengan luas setiap lantai 15.670 m2.
13. Office Park di utara landas pacu seluas 5.885 m2 menempati lahan parkir sepeda motor yang sudah ada.
14. Akses jalan menuju GAT sepanjang ± 3.2 km (lebar 24 m) dan jembatan penghubung seluas ± 360 m2 (lebar 24 m, panjang 15 m) ke jalan by pass pada lahan seluas 76.800 m2.
15. Penunjang kegiatan seperti penyediaan air bersih, pengolahan air limbah domestik, listrik dan saluran drainase.
Pada Masterplan 1979 direncanakan bahwa pada tahun 2025 jumlah pesawat 200.060 pertahun, jumlah penumpang 27.410.000 pertahun dan kargo 117.850 ton pertahun. Berdasarkan data tahun 2012 maka pada tahun 2025 diproyeksikan jumlah pesawat 510.565.000 pertahun (tingkat pertumbuhan 15%) dan kargo 257.203.000 ton pertahun (tingkat pertumbuhan 8%).
Bandara I Gusti Ngurah Rai memiliki satu buah runway dengan dimensi 3.000 m x 45 m, magnetic 09/27 dan posisi berhadapan langsung ke laut (diarah Barat dan Timur). Jam operasi bandara (Airport Operating Hour) adalah 24 jam.
2.2.5 Fasilitas Perusahaan
Fasilitas yang ada di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali yaitu fasilitas udara dan fasilitas darat. Uraian akan dijelaskan sebagai berikut.
1. Fasilitas Udara
Fasilitas sisi udara terkait dengan runway, taxiway, apron dan semua persyaratan yang melingkupinya. Uraian dari fasilitas tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.
A. Apron
Apron merupakan tempat berhentinya/parkir pesawat dalam keperluan bongkar muat penumpang maupun barang dan pengisian bahan bakar dengan kontruksi beton. Luas total apron yang telah dibangun saat ini adalah seluas 252,493 m2 (dari rencana tahap III tahun 2016 – 2025 pada masterplan seluas 306.500 m2). Luas apron yang telah dibangun ini masih
dibawah rencana pembangunan tahap I (2006 – 2010) yakni seluas 266.500 m2. Struktur perkerasan adalah rigid pavement dengan daya dukung 69R/C/X/T2.
Peletakan apron dan taxiway dengan spesifikasi teknis sebagai berikut :
RWY 09 – TWY S-2 = 1.792 m
RWY 27 – TWY S-1 = 1.800 m
Center line RWY – PARALEL TWY = 182, 5 m
Center line TWY S-1 – TWY S-2 = 592 m
TWY S-1 dan TWY S-2 = 30 x 137 m2
Paralel TWY = 30 x 622 m2
Total luas Apron 107.700 m2 terdiri dari apron seluas 84.502, 50 ditambah bahu apron seluas selebar 8 m dengan luas 23.197, 50 m2.
Parking stand = 16 pesawat
Private terminal area = 40 x 40 m2
Hanggar = 2 x (50 x 60) m2
Apron maximum tonnage : B737 – 900 ER atau A 320
B. Landasan Penghubung (Taxiway)
Taxiway merupakan fasilitas penghubung antara landasan pacu dengan apron, digunakan untuk melayani pesawat yang akan menuju dan meninggalkan apron. Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali saat ini dilengkapi dengan 7 unit taxiway yakni perpendicular sebanyak 5.
Penambahan taxiway di selatan runway adalah seluas ± 8.220 m2 untuk taxiway A dan B. Taxiway A (timur) = 30 m’ x 137 m’ dan Taxiway B (barat) = 30 m’ x 137 m’. Sedangkan untuk yang pararel kebutuhan lahan taxiway adalah seluas 18.660 m2dengan ukuran 30 m’ x 622 m’. Untuk bahu taxiway memiliki lahan seluas 60 m2. Dengan demikian total lahan seluas 26.940 m2.
C. Landasan Pacu (Runway)
Landasan pacu merupakan fasilitas sisi udara yang utama sebagai tempat berangkat dan datangnya pesawat. Landas pacu/runway eksisting saat ini berukuran 3.000 m x 45 m dengan pesawat yang terbesar adalah jenis wide body dengan code number 4E. Hal ini sesuai dengan rencana Tahap I dari Masterplan Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Struktur perkerasan yang digunakan adalah fleksibel dengan daya dukung 83 F/C/X/T. Runway ini menggunakan konfigurasi R/W: 09 – 27.
2. Fasilitas Sisi Darat
A. Terminal Penumpang Internasional dan Domestik
Bangunan terminal penumpang di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai sebelum mengalami pengembangan/perluasan menganut konsep sistem satu setengah level dengan luas 79.075 m2, terdiri dari bangunan Terminal Penumpang Domestik seluas 13.229 m2 dan bangunan Terminal Penumpang Internasional seluas 65.846 m2. Pada saat ini luas Terminal Penumpang Domestik seluas 67.883 m2 dan bangunan Terminal Penumpang Internasional seluas 121.785 m2.
B. General Aviation Terminal
Dengan melihat perkembangan pergerakan pesawat dan penumpang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk proyeksi pada tahun 2025 terlihat bahwa kondisi terminal pada saat pembangunan tahap III selesai tidak mampu menampung penambahan tersebut. 5%
diantaranya merupakan penerbangan pesawat privat. Oleh karenanya dipandang perlu untuk memisahkan aktivitas penerbangan privat dengan regular. Hal ini dilakukan dengan menambahkan fasilitas terminal untuk penerbangan privat. GAT merupakan suatu bangunan untuk melayani aktivitas penerbangan privat, baik dari sisi penumpang, kru pesawat hingga penanganan barang/bagasi. Dalam rencana induk Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, lokasi penambahan General Aviation Terminal (GAT) ini direncanakan berada pada lahan sebelah selatan
runway dengan kebutuhan lahan ± 3.590 m2. Namun pada saat operasional GAT saat ini memerlukan luasan sebesar 4.404 m2.
Konsep layout GAT terdiri dari 2 bangunan utama dan bangunan penunjang 2 lantai. Bangunan utama difungsikan sebagai VVIP, CIP dan pilot lounge serta staff area. Sedangkan bangunan penunjang terdiri dari bangunan kulkul yang berfungsi sebagai storage, kitchen dan musholah serta welcoming area, junction hingga selasar. Terdapat pula kolam disekeliling bangunan untuk memberikan kesan tersendiri pada GAT.Untuk pengembangan GAT, terdapat beberapa peraturan terkait ketinggian bangunan di lingkungan bandara, diantaranya:
Ketinggian GAT tidak boleh menghalangi sinyal DVOR, yaitu elevasi sebesar 2º dari DVOR tersebut.
Ketinggian GAT tidak boleh melebihi elevasi sebesar 15º dari centerline runway bandara.
C. Parkir Umum Terminal
Kegiatan di gedung terminal meliputi pelayanan di penumpang, barang dan jasa penerbangan. Hal ini diikuti dengan adanya aktivitas kendaraan pengantar dan penjemput penumpang dari dan ke bandar udara. Di area terminal bandar udara disediakan fasilitas parkir kendaraan. Saat ini Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai terdapat beberapa tempat parkir yaitu selain area parkir untuk terminal penumpang terdapat juga beberapa pool kendaraan pada area lain. Terminal penumpang terbagai menjadi parkir domestik dan internasional. Pencapaian area parkir ini menggunakan jaringan jalan terminal dengan arah masuk/keluar dari sisi Barat dan Utara area parkir. Sementara pintu masuk jaringan jalan ini dilentakan di sisi Timur dari area parkir. Area parkir terminal penumpang saat ini mampu memuat ± 2.000 unit jenis kendaraan roda empat dan ± 2.000 unit jenis kendaraan roda dua. Total luas lahan yang telah dibangun adalah 39.130 m2.
D. Terminal VIP/VVIP
Ruangan VIP yaitu bangunan yang dipergunakan untuk kegiatan pelayanan tertentu seperti pejabat tinggi negara atau tamu negara.
Bangunan VIP terletak pada lahan tersendiri diantara bangunan Terminal Penumpang bagian sisi Barat (Tahap II) dan area DPPU (Depot Pengisian Pesawat Udara) dengan orientasi Barat dan Timur yang terdiri dari 1 lantai, dibangun pada tahun 1998 (Tahap II) seluas 633 m2.
E. Area Komersial
Area komersial terletak di sebelah utara seluas 74.105 m2 dan disebelah selatan seluas 520.000 m2. Pada dokumen Amdal yang telah disetujui, area komersial ini akan dibangun pada tahap II dan III. Namun demikian rencana pembangunan area komersial (kode block plan nomor 33), masih dalam kajian High Best Use dan studi kelayakan, sehingga rencana kegiatan pembangunannya belum dikaji dalam AMDAL tersebut.
F. Terminal Cargo
Sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan NO. 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar udara Umum maka selain bangunan utama dan bangunan operasional terdapat juga fasilitas penunjang yakni menangani jasa penangan kargo. Kegiatan ini untuk melayani angkutan kargo dari gudang ke pesawat udara atau sebaliknya. Fasilitas berupa bangunan terminal kargo seluas 6.282 m2 terbagi menjadi kargo internasional dan kargo domestik. Pada tahun 2008 terminal kargo internasional luasnya 3.708 m2, sedangkan terminal kargo domestik luasnya 2.574 m2. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembangunan terminal kargo belum dibangun sesuai dengan rencana tahap I pada Masterplan seluas 4.535 m2 untuk kargo internasional dan 4.400 m2 untuk kargo domestik.
G. Hanggar
Kegiatan penyediaan gedung hanggar untuk keperluan penyimpanan pesawat udara, perbaikan kecil dan kantor sebagai penunjang kegiatan tersebut. Tidak terdapat kegiatan perbaikan pesawat, dengan demikian tidak terdapat aktivitas pemakaian oli, minyak dalam jumlah besar yang dapat mencemari lingkungan luas lahan yang dialokasikan untuk 2 hanggar adalah 6.000 m2 dengan dimensi masing–masing (50 x 60) m2.
3. Hotel di Terminal Internasional
Gedung Promenade Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali adalah gedung yang menghubungkan antara terminal penumpang internasional dengan pintu masuk melalui Candi Bentar.
Hotel Novotel seluas ± 15.670 m2 ini menempati lantai 3 dan 4 Gedung Promenade ini yang terhubung dengan gedung terminal penumpang internasional melalui air – conditioned link bridge. Air – conditioned link bridge ini akan memberikan akses yang cepat dan mudah bagi para pengguna Bandar udara untuk menuju hotel ataupun sebaliknya.
Airport hotel mempunyai keuntungan dan keunikan tersendiri karena calon konsumen mayoritas sudah berada di sekitar lokasi airport penumpang internasional. Target utama konsumen tamu hotel adalah penumpang internasional, penumpang transit (khususnya penerbangan internasional dengan departure time malam hari), penumpang untuk perjalanan bisnis singkat, air crew, dan penumpang pesawat delay.
Airport hotel dengan target konsumen tamu tersebut di perkirakan membutuhkan kamar sebanyak 188 kamar dengan tingkat occupancy sekitar 60%. Airport hotel dengan brand midscale ini menggunakan brand Novotel dengan konsep produk kamar sebagai berikut :
1. Standarisasi : Ukuran kamar 26 – 30 m2 dengan interior modern kontemporer.
2. Fungsional : Fasilitas menggunakan standart hotel bintang 4.
3. Fasilitas : Standar hotel bintang 4 ( swimming pool, meeting room, restaurant, lounge bar, business centre, spa dan fitness centre, laundry).
Area lobby pada lantai 3 di desain dengan ruang terbuka yang mempunyai ceiling yang tinggi sehingga memiliki impressi yang luas. Area lobby ini tergabung dengan area public yang lain dimana fasilitas pendukung untuk standart hotel bintang 4 berada pada area ini. Area kamar menempati wilayah terpisah dari lobby yang terdiri dari 5 area dengan 2 lantai kamar landscaping dan swimming pool sehingga menimbulkan nuansa resort walaupun berada di kompleks bandar udara yang berarsitektur industrial steel dan glass. Konsep bangunan menyatu dengan Bangunan Promenade sehingga jaringan mekanikal, elektrikal dan pemipaan terintegrasi dengan jaringan Gedung Promenade.
4. Office Park di Bekas Lahan Parkir Motor
Saat ini kendaraan parkir motor yang terletak di sebelah utara landasan seluas 5.884, 29 m2 mampu menampung parkir kendaraan motor sebanyak 1.963 unit. Lahan parkir motor rencananya akan dialihfungsikan menjadi office park bagi perkantoran yang saat ini tersebar di beberapa gedung.
5. Akses Jalan Menuju GAT dan Jembatan Penghubung ke Bypass
Akses jalan menuju GAT pada saat ini sudah dibuatkan akses jalan tersendiri dimana akses jalan masuk dari bypass menggunakan lahan PAP I yang berada dekat ujung runway. Lahan yang digunakan untuk akses masuk tersebut sebelumnya berupa taman hutan raya (TAHURA) dan sudah memiliki ijin dari Kementrian Kehutanan melalui Direktorat jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.
Untuk pembangunan jembatan pihak AP – 1 berkoordinasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional VIII (BPJN VIII) di Jalan Raya Kuta No. 195 Denpasar. Hal ini dikarenakan jembatan tersebut akan berhubungan dengan
jalan nasional yaitu jalan bypass I Gusti Ngurah Rai yang merupakan kewenangan Ditjen Bina Marga, Kementrian Pekerjaan Umum. Hal ini mengacu kepada Permen PU No. 11 Tahun 2011 Pasal 13 Ayat (3) yaitu pembukaan akses berupa persimpangan atau koneksi dari jalan khusus ke jalan umum, hanya dapat dilakukan atas izin dari pemkab/kota.
Saat ini telah terdapat jalan inspeksi sepanjang sisi selatan runway. Jalan akses ini menuju jalan bypass I Gusti Ngurah Rai. Pertemuan antara jalan akses dan jalan bypass ini sudah dibangun jembatan dan melewati lahan TAHURA. Jembatan yang dibangun berukuran panjang 15 m dan lebar 24 m.
Jalan yang sudah dibangun memiliki panjang ± 3,2 km dan lebar 24 m atau seluas ± 76.800 m2. Luas lahan dari Apron menuju lokasi GAT dan jalan inspeksi ini adalah ± 5.299 m2 dan merupakan bagian dari jalan akses.
Dengan pertumbuhan pergerakan pesawat sebesar 12% pertahun dan 5% dari pergerakan itu adalah pesawat charter/private maka perkiraan jumlah kendaraan yang akan melewati jalan akses ini adalah sebanyak 3.070 smp/hari.
2.2.6 Jam Kerja Karyawan
Peningkatan kualitas bandara tidak terlepas dari kinerja dan kedisiplinan para karwayan di dalamnya. Karena hal tersebut, PT Angkasa Pura Cabang Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai mererapkan aturan jam kerja sebagai berikut.
Tabel 2.2. Jam kerja karyawan
Hari Jam Kerja (WITA) Istirahat (WITA)
Senin-Kamis 08.00 – 16.30 12.00 - 13.00
Jumat 08.00 – 15.30 11.30 - 13.00