Perjalanan Panjang Menuju Tempat Terbaik
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Halo teman-teman semuanya! Nama saya Syifa A. Handoyo tapi teman-teman saya biasa memanggil saya dengan sebutan Cipak. Saya alumnus PKN STAN 2016 dari prodip Akuntansi. Sekarang tanggal 31 Desember 2016 ini status saya masih menjadi pegawai On Job Training (OJT) di instansi eselon I Kementerian Keuangan yakni Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).
Kalau meniti kilas balik bagaimana perjuangan saya masuk STAN tentu bukan sesuatu hal yang mudah. Okey...everyone know that.
Semua ini dimulai dari kelas XII-SMA. Enam bulan terakhir di SMA yang diingat biasanya adalah:
tanggal pendaftaran PTN/PTK dan tanggal tes-nya intinya tanggal yang berhubungan dengan masa depan kami setelah lulus dari SMA.
Tidak ada kejadian yang tidak mengandung hikmah. Masa pencarian “kemana aku melanjutkan studi setelah lulus SMA” ini sungguh mengandung banyak sekali hikmah, yang hikmahnya diketahui di masa yang akan datang, bukan disaat kejadian itu datang hadir kepada kita.
Ikut Tes di Perguruan Tinggi Kedinasan Tetangga (PTKT)
...suatu hari di sebuah kelas ketika pelajaran jam kosong...
Cipak (C) : Nit, kamu mau ikutan daftar tes di PTKT gak?
Nita (N) : Iya syif mau! Nanti kalo daftar bilang-bilang yaa...
C : Okee. Eh aku dibeliin bapakku buku latihan soal buat tes di PTKT nit, nih! (Nyerahin buku)
N : Wahhh, aku fotokopi ya cip!
C : Emm... Oke deh! Eh Misga, kamu mau ikutan daftar di PTKT gak?
Misga (M) : PTKT? Apa tuh cip?
C : Itu loh Mis, perguruan tinggi kedinasan yang ikatan dinas itu lo, yang dapet uang saku per bulannya pas kuliah, trus lulusnya langsung kerja Mis!
M : Tapi cita-cita aku mau jadi dokter gigi cip, kan gak nyambung kalo harus ikut tes di PTKT itu..
C : Tapi masa depan gak ada yang tau mis, udah ikut aja tes nyaaa, siapa tau rejekimu disitu.
M : Yaudah deh, aku bilang orang tuaku dulu yaaa...
C : Okee.. Nanti kalau mau ikutan kita daftar bareng ya!
Akhirnya aku tidak hanya berhasil mengajak nita dan misga, tapi aku juga berhasil mengajak zain, rahman, inayah dan sofi untuk ikut tes ujian saringan masuk di PTKT. Kami berangkat bersama, tes tulis dan dua minggu kemudian hasil tes keluar...
[Text Message]
To: Misga
Mis, gimana pengumuman PTKT?
Aku gak bisa liat pengumuman nih, gak ada koneksi..
[Delivered]
From: Misga
Aku lanjut ke tahap 2 cip...
[Received]
To: Misga
trus siapa lagi mis? Ada namaku gak?
[Delivered]
From: Misga
I’m sorry cip, i can’t find your name [Received]
To: Misga :’’)) oke mis..
Nita, Zain, Rahman, Inayah sama Sofi gmn?
[Delivered]
From: Misga
Zain lanjut tahap 2, yang lain enggak [Received]
To: Misga Ohh okey Selamat Yahh!
[Delivered]
Singkat cerita zain gagal di tahap 3 dan Misga berhasil lolos sampai tahap akhir... hingga sekarang tahun 2016 ini Misga sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun tugas akhir di PTKT. Misga sempat mencoba SBMPTN dan mengambil fakultas kedokteran gigi, namun takdir tidak memperkenankan ia untuk berpindah tempat. Lihatlah, Allah menempatkan takdir Misga melalui aku, kalau saja aku tidak mengajaknya untuk ikut tes di PTKT...kita tidak tahu dimana Misga akan berkuliah selanjutnya.
Ketika Misga memberitahu aku melalui SMS bahwa aku tidak lolos tahap I, aku sedih, sangat sedih, merasa tidak adil dan aku telah mengecewakan orang tuaku. Ini keinginanku dan orang tuaku, tapi kenapa yang tidak berkeinginan sekolah disitu yang bisa lolos tahap akhir.
Tapi apa mau dikata.... kusudahi kesedihanku dengan segera karena masih ada SNMPTN Undangan dan SBMPTN dan...USM STAN.
SNMPTN Undangan...
Aku.... lupa bagaimana kronologis kejadian SNMPTN Undangan hehe, aku pun lupa fakultas dan universitas apa yang telah kupilih saat itu (?) ketika aku mengetahui bahwa aku tidak lolos SNMPTN ekspresiku hanya
“Yahh gagal... kenapa ya? Kok bisa?”
“Kok temanku yang ranking sekian tidak lolos juga? Sedangkan dia lolos?”
“Sebenarnya bagaimana sih mekanisme SNMPTN ini ya?”
Aku bingung. Dan tidak hanya aku yang bingung hehe, tapi satu yang kuyakini SNMPTN Undangan ini adalah sarana penjemputan takdir bagi yang memiliki takdir lulus SNMPTN Undangan, begitulah intinya memang ini sudah digariskan, tidak ada yang tahu, kita memang bertanya-tanya, mengapa seperti ini, mengapa seperti itu, semua itu ada hikmahnya, tapi hanya waktu yang bisa menjawab.
Karena aku gagal di SNMPTN Undangan, aku segera mempersiapkan diri untuk SBMPTN!
SBMPTN
Kebetulan aku les di salah satu bimbingan belajar terkenal di Indonesia. Di Bimbel tersebut ada program TST (Tutorial Service Time). Jadi dengan adanya TST kami bisa berkonsultasi apapun dan kapanpun selagi mentornya ada. Selama persiapan kurang lebih tiga minggu, aku sangat memanfaatkan TST ini. Aku tak mau waktuku terbuang sia-sia. Di luar jam bimbel yang terjadwal aku selalu menggunakan TST ini, ketika mentor yang bersedia adalah mentor biologi maka aku akan belajar biologi, ketika mentor yang bersedia adalah mentor fisika maka aku akan belajar fisika, begitu seterusnya, dan aku melakukan ini dari pagi hingga malam! Rutinitasku menjelang SBMPTN hanya seputar itu-itu saja. Kehidupan di kosan dan kehidupan di bimbel, kalau boleh dikatakan kosanku hanya menjadi tempatku untuk tidur. Semua ini agar aku bisa lulus SBMPTN.
Dua hari sebelum tes, aku diingatkan orangtuaku untuk tidak lupa mendaftar STAN. Dan aku lakukan itu.
Hari H tes akhirnya tiba... Honestly, aku merasa tidak bisa mengerjakan soal-soal SBMPTN, keluar ruangan aku menangis, aku hanya bisa berpasrah akan semua ini. Setelah selesai tes aku kembali pulang ke tempat orangtuaku.
Pengumuman hasil tes SBMPTN keluar, tak ada feeling, aku telah berpasrah, ketika aku buka, tulisannya warnanya Merah:’’) aku merasa sangat terpukul. Setelah perjuangan yang kulakukan selama ini...yaa akhirnya malah seperti ini. Sangat susah move on dari keterpurukan ini.
Perjuangan di Bulan yang Mulia
“Yaudah... gapapa kak, mungkin ini memang jalan terbaik dari Allah, Allah tau usaha kamu, sekarang fokus aja ke yang akan datang, masih ada USM STAN kan?” kata ibuku seusai solat kepadaku yang sedang menangis di pangkuan ibuku.... baru kali ini aku melihat kekhawatiran ibuku tapi berusaha terlihat tegar. Mungkin orangtuaku takut aku stress karena kejadian ini, tapi sebenarnya yang paling membuatku sangat sedih adalah...hmmm aku mengecewakan orangtuaku untuk yang kedua kalinya.
Tapiiii, aku sadar, aku tidak terpuruk dalam kesedihan, aku harus bangkit! Entah mengapa prinsip ini yang selalu ada di benakku. Aku harus berjuang lagi, aku tidak akan menyerah! Dengan seluruh jiwa dan raga aku belajar USM STAN.
Masih ingat temanku yang namanya Nita? Kali ini dia yang membeli Buku Prepare USM STAN, dan aku mem-fotocopy-nya. Karena tidak tau dimana harus membeli buku itu. Kupelajari syarat-syarat USM STAN, bagaimana caranya bisa lulus, berapa soal yang harus aku jawab agar aku bisa lolos, dan berapa waktu yang harus dibutuhkan/diperhatikan sehingga ada time management dalam mengerjakan soal itu. Hari H pun tiba pada tanggal 1 Ramadhan .
Lokasi Ujian tertulisku di GOR dekat daerahku. Aku diantar oleh bapakku, sebelum aku masuk bapakku mencium keningku, dan mengatakan “gak usah panik, santai aja ngerjainnya”, “iya Yah...
Yah nanti kalau udah selesai aku telp ya...”, “Oke”.
Akhirnya waktu mengerjakan tiba, aku mengerjakan apa yang bisa ku kerjakan, kalau susah ataupun ragu dengan jawabannya kutinggal saja soalnya, jika salah akan bernilai -1. TPA selesai, Bahasa Inggris selesai. Dan waktu habis. Jawaban dikumpulkan. Aku keluar dengan ketenangan, entah kenapa aku sedikit memiliki perasaan optimis.
Aku telpon bapakku agar menjemputku, ternyata bapakku menungguku di tempat tes hingga aku selesai. “Gimana tadi?” tanya bapakku, aku menarik nafas panjang dan ku bilang “Hmm yaa Alhamdulillah, tapi gak tau deh hehe” kujawab dengan jawaban diplomatis.
Sambil menunggu pengumuman tes tulis, ku kencangkan ibadahku, kupanjatkan doaku bermillar kali sembari memanfaatkan bulan yang mulia ini. Sebelum tanggal pengumuman lolos tes tulis, tiba-tiba tetanggaku yang alumnus STAN menghubungi ibuku, ”Bu, selamat yaa Syifa Lolos Tahap I”,”Loh memang sudah keluar ya pengumumannya?”,”sudah bu, ini saya liat di portal websitenya STAN ada namanya Syifa”,”Alhamdulillaahh, wah makasih ya mas informasinya”. Aku yang mendengar itu senang dan baru tau jika dimajukan pengumumannya. Aku langsung membuka website STAN dan memastikan namaku tercantum disitu, dan ternyata benar, aku sangat senang. Bapakku yang baru datang dari mengantar adikku sekolah, langsung kuberi tau bahwa aku lolos USM STAN tahap I, kemudian bapakku langsung sujud syukur dihadapanku yang sedang duduk di kursi. Bayangkan!
Bapakku sujud syukur dihadapanku karena kebahagiaanku. Baru lolos tahap pertama saja orangtuaku sudah sangat senang seperti ini, apalagi... jika aku lolos sampai tahap akhir. Semenjak ini semangatku bertambah, aku tidak ingin mengecewakan orangtuaku untuk kesekian kalinya. Dari 88.000 orang yang mengikuti tes, ada 7000 orang yang tersaring di tahap I. Sungguh aku merasa menjadi yang sangat beruntung pada waktu itu.
Tahap kedua adalah tes kebugaran dan tes wawancara.
Tes Kebugaran: Lari selama 12 menit, satu putaran 250m. Minimal lari harus 4 putaran.
Alhamdulillah aku dapat 5 putaran. Tentu sebelum ini setiap hari aku selalu latihan lari di lapangan.
Kemudian lari angka delapan. Kulakukan secepat mungkin, entah berapa waktu yang kutempuh. Aku mencoba melakukan yang terbaik. Akhirnya tes kebugaran selesai.
Tes Wawancara: Mempersiapkan tes ini aku telah membaca banyak artikel, bagaimana menghadapi tes wawancara dan lain-lainnya. Dan tes wawancara pun berlangsung. Pertanyaannya seputar organisasi, diri saya, dan keinginan saya masuk STAN. Kujawab dengan sebaik-baiknya. Tes wawancara selesai.
Aku pulang, aku pasrah akan hasilnya, yang pasti sudah kulakukan yang terbaik. Yang masih bisa kulakukan hanyalah selalu memanjatkan doa dalam setiap ibadah.
Hari H pengumuman, pagi hari bangun solat subuh, kemudian ngecek hp, ternyata ada satu pesan masuk...
From: Zain
Selamat ya Syif, keterima di pilihan pertama!
[Received]
To: Zain
Ha? Serius? Kamu gimana?
[Delivered]
From: Zain
Alhamdulillah keterima juga, tapi kita beda jurusan [Received]
To: Zain
Yeayy Alhamdulillah yang penting kita lolos!
Selamat juga buat kamu!
[Delivered]
Aku langsung mengecek pengumuman itu, dan ternyata benar ada namaku dan nama zain disitu.
Orangtuaku pun sangat bahagia mendengar kabar ini dan akhirnya pertama kali ke STAN aku diantar kedua orang tuaku dan adik-adikku. Akhirnya perjuangan mencari kuliah setelah SMA berakhir.
Ternyata takdirku memang sudah berada di STAN. Awalnya aku tidak tau seberapa tenarnya tempat kuliahku ini, tetapi setiap ditanya “kuliah dimana mbak?”, “Di STAN pak/bu” dan ekspresi mereka adalah...
”Wah pinter dong berarti...”
“Wihhh Keren”
“Calon orang sukses nih”
Aku bingung kembali, kenapa orang-orang selalu berpikir begitu? Padahal aku tidak lolos ujian di PTKT, SBMPTN pun aku gagal...hmmm ini semua sudah digariskan, manusia berencana dan berusaha, tapi memang hanya Allah yang menentukan. Dan disinilah aku digariskan. Setiap tempat adalah baik. Tapi dimana kita ditempatkan itu yang terbaik. Karena hanya Dia yang Maha Tahu
@syifameliah