Fakultas Kedokteran UNDIP Tahun 2020
Tim Penulis :
Deny Yudi Fitranti, S.Gz, M.Si.
Hartanti Sandi Wijayanti, S.Gz, M.Gizi.
A. Fahmy Arif Tsani, S.Gz, Dietisien, M.Sc.
Binar Panunggal, S.Gz, MPH.
BUKU
PANDUAN PRAKTIKUM
PENILAIAN STATUS GIZI
i
BUKU
PANDUAN PRAKTIKUM
PENILAIAN STATUS GIZI
Tim Penulis :
Deny Yudi Fitranti, S.Gz, M.Si.
Hartanti Sandi Wijayanti, S.Gz, M.Gizi.
A. Fahmy Arif Tsani, S.Gz, Dietisien, M.Sc.
Binar Panunggal, S.Gz, MPH.
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang
ii
BUKU
PANDUAN PRAKTIKUM
PENILAIAN STATUS GIZI
Tim Penulis :
Deny Yudi Fitranti, S.Gz, M.Si.
Hartanti Sandi Wijayanti, S.Gz, M.Gizi.
A. Fahmy Arif Tsani, S.Gz, Dietisien, M.Sc.
Binar Panunggal, S.Gz, MPH.
Cetakan I : Maret 2020
ISBN : 978-623-7222-55-2
Penerbit : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Jalan Prof. Soedarto, SH, Tembalang Semarang
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan pertolongan dan kemudahan sehingga kami dapat menyusun buku panduan praktikum penilaian status gizi ini dengan baik. Praktikum Penilaian Status Gizi bagi mahasiswa Program Studi Gizi bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan dan menambah pemahaman mengenai berbagai metode penilaian status gizi. Buku panduan praktikum ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam memenuhi kompetensi tersebut.
Praktikum penilaian status gizi terdiri dari 12 (dua belas) materi yang dipertimbangkan mempunyai relevansi yang sangat erat dengan kompetensi sarjana gizi. Pada buku panduan praktikum penilaian status gizi ini terdapat uraian singkat tentang deskripsi materi, capaian pembelajaran, alat dan bahan yang digunakan dan prosedur praktikum. Pada bagian akhir tiap bab dilengkapi dengan lembar kerja praktikum yang harus diisi oleh setiap mahasiswa yang mengikuti praktikum sesuai dengan hasil yang didapatkan selama praktikum.
Penulis menyadari bahwa buku panduan praktikum ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan di dalamnya. Oleh sebab itu, kami berharap mendapatkan kritik dan saran dari pembaca dan mahasiswa agar selanjutnya dapat disempurnakan.
Semarang, Februari 2020
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
Bab 1. Pengukuran Body Size pada Anak Di Bawah Dua Tahun ... 1
Bab 2. Pengukuran Body Size pada Anak ... 5
Bab 3. Penilaian Status Gizi Bayi dan Balita Di Posyandu ... 12
Bab 4. Penilaian Status Gizi Bayi dan Balita Menggunakan Software WHO Anthro ... 16
Bab 5. Pengukuran Body Size pada Orang Dewasa ... 27
Bab 6. Komposisi Tubuh I : Tebal Lemak Bawah Kulit dan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) ... 41
Bab 7. Komposisi Tubuh II : Lingkar Pinggang, Lingkar Pinggul, Lingkar Leher dan Lingkar Pergelangan Tangan ... 55
Bab 8. Uji Biokimia : Kadar Glukosa, Kolesterol, Asam Urat dan Hemoglobin Menggunakan Sampel Darah Perifer ... 64
Bab 9. Uji Biokimia : Kadar Glukosa dan Kolesterol dalam Darah Menggunakan Spektrofotometer ... 67
Bab 10. Pemeriksaan Fisik Klinis Pada Gizi Kurang dan Gizi Lebih ... 78
Bab 11. Pemeriksaan Fisik Klinis Dehidrasi ... 96
Bab 12. Pemeriksaan Fisik Klinis Pada Defisiensi Zat Gizi Mikro ... 100
1 BAB 1
PENGUKURAN BODY SIZE PADA ANAK DI BAWAH DUA TAHUN (BADUTA)
A. PENDAHULUAN
Antropometri adalah pengukuran berbagai dimensi tubuh dan komposisi dasar tubuh manusia pada tingkat umur dan gizi yang berbeda. Pada bab ini akan dipraktekkan apa saja dan bagaimana antropometri pada bayi. Antropometri pada bayi penting dilakukan sebagai penentuan status gizi, deteksi dini gangguan atau kegagalan pertumbuhan, atau bahkan pertumbuhan yang berlebihan, gambaran penilaian asupan ASI atau MPASI, dan juga sebagai tes skrining awal untuk individu yang membutuhkan asuhan gizi khusus.1 Sehingga dengan adanya fungsi antropometri tersebut, dapat mengidentifikasi penanganan dengan tepat dan cepat.
Antropometri pada bayi yang dilakukan dengan rutin dapat memantau perubahan status gizi bayi. Sehingga apa yang dilakukan posyandu setiap bulannya mengukur berat badan, panjang badan bertujuan untuk terus memantau pertumbuhan dan status gizi bayi. Oleh karena itu, kompetensi pada bab ini sangat penting untuk diperhatikan.
Namun, melakukan antropometri pada bayi mempunyai tantangan tersendiri.
Seringkali bayi kurang kooperatif ketika diukur sehingga hal ini bisa menjadikan bias data. Hal ini bisa diminimalkan dengan terus berlatih dan mencari strategi yang tepat ketika bayi dalam keadaan rewel salah satunya dengan melibatkan ibu bayi menjadi asisten sebagai pengalih perhatian bayi. Ada beberapa antropometri yang dapat menentukan status gizi bayi. Namun, pada bab ini, mahasiswa hanya akan mengukur berat badan dan panjang badan.
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu memahami metode antropometri pada bayi sebagai dasar penentuan status gizi bayi
2. Mahasiswa mampu mengukur berat badan bayi 3. Mahasiswa mampu mengukur panjang badan bayi C. ALAT DAN BAHAN
1. Timbangan bayi digital atau baby scale 2. Timbangan Pegas
3. Infantometer
2 D. PROSEDUR PRAKTIKUM
1. Berat Badan
a. Pengukuran menggunakan timbangan digital merk SECA 1) Letakkan timbangan pada posisi yang rata atau
datar dan keras
2) Pastikan alat timbang menunjukkan angka
“0.00” sebelum melakukan penimbangan dengan menekan tombol on/off
3) Pastikan anak tidak menggunakan pakaian tebal, pampers, popok, selimut dll agar mendapatkan data berat badan yang seakurat mungkin 4) Letakkan bayi ditengah timbangan, maka akan
muncul angka berat badan bayi 5) Catat hasil penimbangan
b. Pengukuran menggunakan timbangan pegas
1) Letakkan timbangan pada posisi yang rata atau datar dan keras
2) Pastikan jarum timbangan menuju angka 0
3) Pastikan anak tidak menggunakan pakaian tebal, pampers, popok, selimut dll agar mendapatkan data berat badan yang seakurat mungkin
4) Ibu/pengasuh diminta untuk menggendong bayi tanpa menggunakan selendang
5) Jika jarum timbangan sudah menuju angka 0 mintalah ibu untuk berdiri di tengah tengah alat timbang dengan menggendong sang bayi
6) Pastikan posisi badan ibu tegak, mata lurus ke
depan, kaki tidak menekuk dan kepala tidak menunduk ke bawah. Sebisa mungkin bayi dalam keadaan tenang saat ditimbang
7) Setelah ibu berdiri dengan benar, maka jarum angka menuju ke angka hasil penimbangan
8) Catat hasil penimbangan pertama
9) Ibu melakukan proses penimbangan yang sama tanpa menggendong bayi 10) Catat hasil penimbangan kedua
Gambar 1. Pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital (Sumber :
www.google.com)
Gambar 2. Pengukuran berat badan menggunakan timbangan pegas (Sumber :
www.google.com)
3
11) Untuk mengetahui hasil penimbangan berat badan bayi maka hasil penimbangan pertama dikurangi hasil penimbangan kedua
2. Panjang Badan2
Pengukuran panjang badan menggunakan infantometer
a. Letakkan bayi diatas infantometer. Pastikan kepala bayi ada di headboard b. Pengukuran panjang badan ini memerlukan 2
orang. Orang pertama memegang kepala bayi, memastikan kepala bayi tegak lurus, dan memastikan bahu dan pantat menempel dengan papan
c. Orang kedua memastikan kaki lurus dengan menekan lutut dan mendorong footboard hingga menekan telapak kaki
d. Catat hasil pengukuran dengan ketelitian 0.1cm
DAFTAR PUSTAKA
1. Gibson RS. Principles of Nutritional Assessment, 2nd Edition, New York, Oxford University Press 2005.
2. Lee RD, Nieman DC. Nutritional Assessment, Fifth Edition, Singapore, McGraw-Hill 2010.
Gambar 3. Pengukuran panjang badan menggunakan infantometer
(Sumber : www.google.com)
4 Lembar Kerja
Nama bayi
Usia (bulan)
Berat badan dengan seca (kg)
Berat badan dengan timbangan bayi pegas (kg)
Panjang badan dengan SECA (cm)
Panjang badan dengan infantometer kayu (cm)
Panjang badan dengan infantometer plastik (cm)
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
Nama Bayi Usia Interpretasi (berdasarkan BB dan PB SECA) menurut Standar WHO Z skor BB/U Interpretasi Z skor
TB/U
Interpretasi Z skor BB/TB
Interpretasi Z skor IMT/U
Interpretasi
5 BAB 2
PENGUKURAN BODY SIZE PADA ANAK
A. PENDAHULUAN
Tubuh ideal secara fisik dapat dilihat dan dinilai dari penampilan luar. Orang awam secara umum menilai tubuh sehat ideal dilihat dari postur tubuh. Namun pengertian tubuh sehat ideal dari segi kesehatan tidak cukup melalui penilaian lahiriah, tetapi memerlukan pemeriksaan medis salah satunya yaitu antropometri. Postur tubuh ideal dinilai dari pengukuran antropometri untuk menilai apakah komponen tubuh tersebut sesuai dengan standart normal atau ideal. Antropometri merupakan suatu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan tubuh manusia yaitu ukuran, bentuk dan kekuatan.
Pada bab ini akan dipraktekkan apa saja dan bagaimana antropometri pada anak.
Pengukuran jenis antropometri meliputi berat badan, tinggi badan dan lingkar lengan atas. Pengukuran berat badan dan tinggi badan dilakukan untuk penentuan status gizi untuk mengetahui ada atau tidaknya gizi buruk atau gizi kurang pada anak, sehingga dengan adanya fungsi antropometri tersebut dapat mengidentifikasi penanganan dengan tepat dan cepat.
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu memahami metode antropometri pada anak sebagai dasar penentuan status gizi anak
2. Mahasiswa mampu mengukur berat badan pada anak 3. Mahasiswa mampu mengukur tinggi badan pada anak 4. Mahasiswa mampu mengukur lingkar lengan atas pada anak
C. ALAT DAN BAHAN
1. Timbangan injak digital merk SECA 2. Alat ukur tinggi badan merk SECA 3. metlin
6 D. PROSEDUR PRAKTIKUM
1. Berat Badan
Pengukuran menggunakan timbangan digital merk SECA
a) Letakkan timbangan pada posisi yang rata atau datar dan keras
b) Pastikan alat timbang menunjukkan angka “00.00” sebelum melakukan penimbangan
c) Ketika alat timbang sudah menunjukkan angka 00.00 mintalah anak untuk berdiri ditengah-tengah alat timbang
d) Pastikan posisi badan anak dalam keadaan berdiri tegak, mata/kepala lurus ke depan dan kaki tidak menekuk.
e) Setelah anak berdiri dengan benar, secara otomatis alat akan menunjukkan hasil penimbangan
f) Catatlah hasil penimbangan tersebut dengan ketelitian 0,1kg 2. Tinggi Badan
Sebelum mengukur tinggi badan, terlebih dahulu lakukan persiapan alat ukur sebagai berikut:
1) Tempelkan alat pengukur pada bagian dinding dengan bagian yang lebih panjang menempel di lantai dan bagian yang lebih pendek menempel di tembok. Tarik meteran pengukur ke atas hingga pewawancara bisa melihat angka 0 pada garis merah di kaca pengukur yang menempel di lantai (pewawancara harus berlutut untuk melihat angka 0 sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk menahan ujung atas meteran pengukur)
2) Tempelkan ujung atas alat pengukur menggunakan paku
3) Setelah bagian atas sudah menempel maka meteran alat pengukur dapat ditarik ke atas dan pengukuran tinggi badan siap dilakukan
Cara pengukuran tinggi badan :
1) Mintalah anak untuk melepaskan alas kaki dan perhiasan rambut yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran tinggi badan anak
2) Pewawancara berlutut dengan lutut sebelah kanan disebelah kiri anak tersebut 3) Tempatkan kedua kaki anak secara merata dan menempul pada alat ukur. Dorong
kedua kaki anak hingga menempel pada alat ukur dan pastikan kaki anak lurus dengan tumit dan betis menempel pada papan ukur
7
4) Mintalah anak untuk memandang lurus ke arah depan. Pastikan garis pandang anak sejajar dengan tanah
5) Mintalah anak untuk mengambil nafas panjang
6) Turunkan meteran alat pengukur hingga pas diatas kepala si anak. Pastikan pewawancara menekan rambut si anak. Jika posisi anak sudah benar, baca dan catatlah hasil pengukuran dengan ketelitian 0,1cm.
3. Lingkar Lengan Atas
1) Pengukuran dilakukan sejajar dengan pandangan mata
2) Anak yang masih terlalu kecil bisa dipegang oleh ibu/pengasuh serta memintanya untuk menyingkap baju yang menutupi lengan kiri anak
Gambar 1. Pengukuran tinggi badan menggunakan alat ukur SECA
8
3) Ukurlah titik tengan lengan atas sang anak dengan membagi dua jarak antara processus olecranon (puncak lengan) dengan processus acromion (ujing siku) 4) Lingkarkan pita ukur pada titik tengah lengan anak. Pastikan bahwa pita benar-
benar rata melingkari lengan
5) Periksalah tekanan pita pada lengan anak, jangan terlalu kencang atau terlalu longgar
6) Lihat hasil pengukuran dan catat pada kuisioner
Gambar 2. pengukuran lingkar lengan atas
4. Lingkar kepala
1) Pengukur berada di samping subjek.
9
2) Semua aksesoris subjek yang menempel di kepala harus dilepas dahulu agar tidak mengganggu pengukuran.
3) Pita pengukur diletakkan di supraorbital (di atas alis), dan dilingkarkan pada kepala hingga menyetuh bagian paling menonjol pada occiput (benjolan paling luar) sehingga didapat diameter terbesar
4) Kencangkan pita, namun jangan sampai terlalu menekan kepala dan baca hasil pengukuran dengan ketelitian 1 mm.
Gambar 3. Pengukuran lingkar kepala1
DAFTAR PUSTAKA
1. Lee RD, Nieman DC. Nutritional Assessment, Fifth Edition, Singapore, McGraw-Hill 2010.
10 LEMBAR KERJA
Nama anak
Usia (bulan)
Berat badan (kg)
Tinggi badan (cm)
1 2 rerata 1 2 rerata
Nama anak
Usia (bulan)
Lingkar Lengan Atas (cm) Lingkar Kepala (cm)
1 2 rerata 1 2 rerata
11 Nama
Anak / Jenis kelamin
Usia Interpretasi (berdasarkan BB dan TB) menurut Standar WHO Z skor BB/U Interpretasi Z skor
TB/U
Interpretasi Z skor BB/TB
Interpretasi Z skor IMT/U
Interpretasi
12
Bab 3
PENILAIAN STATUS GIZI BAYI DAN BALITA DI POSYANDU
A. PENDAHULUAN
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat dapat sekaligus memperoleh pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan antara lain : gizi, imunisasi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan penanggulangan diare. Definisi lain Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi.Tujuan penyelenggaraan posyandu adalah untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan bayi, balita, ibu dan pasangan usia subur. Biasanya dilaksanakan satu kali sebulan ditempat yang mudah didatangi oleh masyarakat dan ditentukan masyarakat sendiri.
Kegiatan bulanan di Posyandu meliputi sistem lima meja yaitu pendaftaran, penimbangan bayi dan balita, pengisian KMS, penyuluhan dan pelayanan oleh tenaga profesional meliputi pelayanan KIA, KB, imunisasi dan lain-lain. Salah satu bentuk kegiatan posyandu untuk bayi dan balita adalah berupa pemantauan kesehatan bayi dan balita.
Kegiatan ini dilakukan secara terus menerus (berkesinambungan) dan teratur untuk mengidentifikasi secara dini bila ada gangguan keseimbangan gizi pada bayi dan balita.
Pemantauan pertumbuhan merupakan kegiatan penting dalam rangka kewaspadaan gizi atau sering disebut dengan surveilans gizi.
Pemantauan pertumbuhan bayi dan balita di posyandu menggunakan KMS (kartu menuju sehat). KMS adalah kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indikator perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau pertumbuhan (berat badan) balita setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun. KMS juga dapat diartikan sebagai
“rapor” kesehatan dan gizi (catatan riwayat kesehatan dan gizi) balita.
Pengertian tentang “Penilaian Status Gizi” dan “Pemantauan Pertumbuhan” sering dianggap sama sehingga mengakibatkan kerancuan. KMS tidak untuk menilai status gizi, tetapi alat pendidikan kepada masyarakat terutama orang tua agar dapat memantau
13
pertumbuhan anak, dengan pesan “anak sehat tambah umur tambah berat”. Sedangkan penilaian status gizi dilakukan dengan beberapa indeks seperti nilai z skor BB/U, TB/U BB/TB dan IMT/U yang akan dikategorikan dalam status gizi kurang, normal atau lebih.
Pada bayi dan balita juga dilakukan pengukuran rutin terhadap lingkar lengan atas dan lingkar kepala.
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran berat badan, tinggi/panjang badan, lingkar lengan atas dan lingkar kepala pada bayi dan balita di posyandu
2. Mahasiswa mampu mengisi dan menginterpretasikan KMS.
C. ALAT DAN BAHAN 1. Alat pengukur berat badan 2. Alat pengukur tinggi badan 3. KMS (Kartu Menuju Sehat) 4. Alat tulis
D. PROSEDUR PRAKTIKUM
1. Mahasiswa mendapatkan ijin untuk mengunjungi salah satu posyandu
2. Pada saat jadwal posyandu, mahasiswa datang untuk melakukan pengukuran antropometri pada minimal 10 bayi atau balita di posyandu.
3. Satu mahasiswa wajib melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan lingkar kepala pada bayi atau balita.
4. Satu kelompok mahasiswa mencatat data berat badan 10 bayi atau balita yang diukur mulai nol bulan (tertera pada buku kader) hingga pengukuran terakhir dan mengisinya ke dalam KMS yang telah disediakan.
5. Interpretasikan hasil KMS
14 lembar kerja Praktikum
Kelompok :
Kloter :
Nama Anggota Kelompok :
Nama Posyandu :
Alamat Posyandu :
Nama Ketua kader :
Tanggal pengukuran : Tabel hasil pengukuran
No Nama bayi/balita Jenis kelamin umur BB TB/PB LK LLA
15
16
BAB 4
PENILAIAN STATUS GIZI BAYI DAN BALITA MENGGUNAKAN SOFTWARE WHO ANTHRO
A. PENDAHULUAN
Penilaian status gizi pada balita sering dilakukan dengan menggunakan beberapa indeks seperti nilai z-skor BB/U, PB/U atau TB/U, dan BB/PB atau BB/TB.
Balita dikatakan mengalami masalah gizi jika hasil pengukuran mempunyai nilai z- skor dibawah -2. Nilai z-skor BB/U < -2 menunjukkan terjadinya masalah underweight/ gizi kurang, nilai z-skor PB/U atau TB/U < -2 menunjukkan terjadinya masalah stunting/ pendek yang merupakan masalah gizi kronis, sementara z-skor BB/PB atau BB/TB < -2 menunjukkan terjadinya masalah wasting/ kurus yang merupakan masalah gizi akut. Nilai z-skor BB/PB atau BB/TB > +2 juga menunjukkan adanya masalah kegemukan pada balita.
Software WHO-Anthro merupakan salah satu software yang dapat digunakan untuk menilai status gizi balita usia 0 - 60 bulan. Software WHO-Anthro memiliki beberapa modul, antara lain Anthropometric Calculator, Individual Assessment, dan Nutritional Survey. Pada praktikum ini, terdapat dua modul yang akan dipraktikkan yaitu Individual Assessment dan Nutritional Survey.
Modul Individual Assessment digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan data longitudinal pada balita yang telah mendapatkan pengukuran berulang. Data yang terkumpul dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan balita.
Data status gizi balita dapat ditampilkan dalam bentuk grafik, baik grafik pertumbuhan yang berasal dari single visit maupun multiple visits.
Modul Nutritional Survey digunakan untuk mengumpulkan dan menilai data antropometri dari sejumlah balita yang ada pada satu wilayah. Masing-masing balita diukur sebanyak satu kali. Modul ini bermanfaat untuk menilai bagaimana kondisi status gizi balita pada suatu wilayah, termasuk mengetahui prevalensi balita yang mengalami masalah gizi, seperti underweight, stunting, dan wasting.
17 B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu melakukan input data pada modul Individual Assessment pada software WHO-Anthro.
2. Mahasiswa mampu menilai pertumbuhan balita berdasarkan hasil pengumpulan data menggunakan modul Individual Assessment.
3. Mahasiswa mampu melakukan input data pada modul Nutritional Survey pada software WHO-Anthro.
4. Mahasiswa mampu menilai status gizi menurut indeks BB/U, PB/U atau TB/U, BB/PB atau BB/TB, IMT/U, LK/U dan LILA/U pada masing-masing balita menggunakan modul Nutritional Survey.
5. Mahasiswa mampu menilai prevalensi masalah gizi kurang/ underweight, pendek/ stunting, kurus/ wasting, mikrosefali, dan malnutrisi akut pada populasi balita.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Data hasil pengukuran antropometri di Posyandu 2. Laptop
3. Software WHO-Anthro 4. Kabel rol
D. PROSEDUR PRAKTIKUM 1. Modul Individual Assessment
a. Klik Individual Assesment
b. Halaman utama modul terdiri dari 2 bagian, sebelah kiri adalah “active list”
yang menunjukkan beberapa contoh nama anak, sementara sebelah kanan menampilkan data spesifik dari seorang anak
c. Untuk latihan membuka file, klik kotak di sebelah kiri nama anak hingga nama anak terblok biru, lalu klik tanda open file. Pada halaman sebelah kanan akan muncul data anak yang meliputi nama anak, jenis kelamin, tanggal lahir, usia anak saat kunjungan dilakukan, data orang tua, jumlah kunjungan, tabel data hasil pengukuran dari tiap kali kunjungan, dan informasi status gizi anak tiap kali pengukuran
18 d. Untuk mulai membuat file baru (anak baru)
1) Klik tanda pada bagian atas ”active list”.
2) Isi data anak pada halaman sebelah kanan, melputi nama depan dan nama belakang anak, jenis kelamin dan tanggal lahir.
3) Untuk memasukkan nama ayah, ibu, dan alamat tinggal (jika ada), klik tanda , lalu isikan datanya. Untuk mengubah data yang sudah ada, klik
.
4) Klik tanda untuk menyimpan data anak. Setelah disimpan, nama anak akan muncul pada list di sebelah kiri.
e. Untuk menambahkan data pengukuran pada anak, 1) Klik tanda di bawah baris Visits.
2) Masukkan tanggal pengukuran, tulis mulai pengukuran pada usia 0 bulan/ pengukuran paling awal
19
3) Masukkan data berat badan dalam kg, hingga 0,1 kg terdekat, lalu simpan 4) Untuk memasukkan data kunjungan berikutnya, klik lagi tanda di bawah baris Visits. Masukkan tanggal pengukuran dan berat badan pada waktu kunjungan selanjutnya.
5) Ulangi prosedur no 4) hingga hasil pengukuran dari semua kunjungan selesai diinput
f. Untuk melihat grafik pertumbuhan, klik tanda grafik yang berada di bawah baris Visits.
a) Pilih grafik Weight-for-age z-score
b) Pada kolom Show, ubah Single-point menjadi Multiple points c) Klik tanda copy (copy graph image to clipboard), pindahkan pada
lembar kerja
d) Interpretasikan pertumbuhan anak dengan melihat arah naik turunnya plot pertumbuhan dan perubahan kategori status gizinya, jika ada.
e) Bandingkan hasilnya dengan plot pertumbuhan yang telah Anda lakukan sebelumnya dengan KMS
2. Modul Nutritional Survey a. Klik Nutritional Survey
b. Halaman utama modul terdiri dari 2 bagian, sebelah kiri adalah “active list”
yang menunjukkan beberapa nama survey, sementara sebelah kanan menampilkan data spesifik dari satu survey.
c. Untuk latihan membuka file, klik kotak di sebelah kiri nama survey hingga nama survey terblok biru, lalu klik tanda open file . Pada halaman sebelah kanan akan muncul data survey.
20
d. Untuk mulai membuat file baru (survey baru)
1) Data yang akan dientry untuk nutritional survey berasal dari data 2 Posyandu. Masing-masing kelompok melakukan input data dari 2 Posyandu yang berasal dari 2 kelompok. (Kelompok 1&2 , Kelompok 3&4, Kelompok 5&6, Kelompok 7&8, masing-masing menggabungnya data Posyandunya).
2) Klik tanda pada bagian atas ”active list”.
3) Isi data nama survey pada halaman sebelah kanan. Untuk nama survey, masukkan data dua nama Posyandu yang diukur. (contoh nama survey:
Posyandu Dahlia_Mawar)
4) Klik tanda untuk menyimpan survey. Setelah disimpan, nama survey akan muncul pada list di sebelah kiri.
e. Untuk menambahkan data pengukuran, 1) Klik tanda di bawah Data Entry.
21 2) Masukkan tanggal pengukuran
3) Masukkan data nama cluster dan team. Isi sesuai dengan nama kelompok masing-masing. (Contoh: untuk Kelompok 1, tulis 1 sebagai nama cluster dan nama teamnya)
4) Masukkan nama depan dan nama belakang anak, serta pilih jenis kelaminnya.
5) Masukkan tanggal lahir anak
6) Masukan data berat badan anak, panjang badan/ tinggi badan anak, posisi pengukuran tinggi badan (berbaring atau berdiri), informasi ada tidaknya oedema, data lingkar kepala anak, dan data LILA (MUAC) anak.
7) Klik save. .Maka data anak akan muncul pada baris pertama tabel data entry
8) Untuk memasukkan data anak berikutnya, ulangi langkah 1) s/d 7).
Lakukan entry data hingga semua data selesai diinput.
f. Untuk melihat dan mengkategorikan status gizi anak,
1) Baca z-score BB/PB atau BB/TB, BB/U, PB/U atau TB/U, IMT/U, LK/U dan LILA/U pada masing-masing anak
2) Kategorikan status gizi berdasarkan masing-masing indeks, berdasarkan cut-off WHO
22
Untuk LILA/U, dikategorikan malnutrisi akut sedang jika z-score >-3 s/d <-2, dan dikategorikan malnutrisi akut parah jika z-score <-3 g. Untuk menghitung prevalensi masalah gizi,
1) Htung jumlah balita yang mengalami masalah gizi dibagi total balita yang diukur dikali 100%
Prevalensi : Jumlah balita dg masalah gizi tertentu x 100%
Jumlah balita yang diukur
2) Hitung prevalensi untuk masing-masing masalah gizi, meliputi prevalensi masalah gizi kurang/ underweight, pendek/ stunting, kurus/
wasting, mikrosefali, dan malnutrisi akut.
3) Cara lain untuk mengetahui prevalensi masalah gizi, klik tanda excel yang berada pada halaman kanan sisi atas (anthropometri report), pilih standard, lalu OK. Simpan file di komputer. Buka file tersebut dengan menggunakan excel. Di tampilan akan muncul % balita yang masuk pada kategori z-score tertentu, menurut usia dan jenis kelamin.
4) Kategorikan prevalensi status gizi berdasarkan Public Health Prevalence Treshold
h. Untuk mengetahui distribusi data, klik Results pada halaman sisi kanan. Lihat grafik untuk masing-masing indicator, mulai dari weight-for-length/height hingga MUAC-for-age. Klik copy graph image to clipboard, pindahkan pada lembar kerja. Bandingkan distribusi data pada populasi yang diukur dibandingkan dengan WHO Standards.
23 E. Lembar Kerja Praktikum
Individual Assessment 1. Grafik Pertumbuhan Anak 1
Nama :
Jenis Kelamin :
Usia :
Interpretasi Pertumbuhan : (deskripsikan pertumbuhan anak, naik turunnya plot pertumbuhan dan perubahan status gizinya jika ada)
(contoh dari grafik di bawah: Anak selalu mengalami peningkatan berat badan dengan peningkatan berat badan yang pesat dari usia 0-26 bulan, kemudian pertumbuhan melandai hingga usia 52 bulan. Status gizi anak berubah dari yang awalnya gizi baik (z-score=0) menjadi gizi lebih (z-score >+3)
2. Grafik Pertumbuhan Anak 2 3. Grafik Pertumbuhan Anak 3,
24 Nutritional Survey
Tabel Status Gizi
No Nama anak Jenis
kelamin
Umur BB TB
atau PB
LK LLA Z-score
BB/TB atau BB/PB
Z-score BB/U
Z-score TB/U
atau PB/U
Z-score IMT/U
Z-score LK/U
Z-score LLA/U
Kategori BB/TB
atau BB/PB
Kategori BB/U
Kategori TB/U
atau BB/PB
Kategori IMT/U
Kategori LK/U
Kategori LILA/U
25 Prevalensi Masalah Gizi dan Kategorinya
1. Berdasarkan BB/PB atau BB/TB:
2. Berdasarkan BB/U:
3. Berdasarkan PB/U atau TB/U:
4. Berdasarkan IMT/U:
5. Berdasarkan LK/U:
6. Berdasarkan LILA/U
26 Distribusi Data
1. BB/PB atau BB/TB (contoh)
Interpretasi:
BB/PB pada populasi yang diukur mempunyai distribusi yang normal, namun secara umum mempunyai nilai yang lebih rendah dibandingkan WHO standards
2. BB/U
3. PB/U atau TB/U dst
27 BAB 5
PENGUKURAN BODY SIZE PADA ORANG DEWASA
A. PENDAHULUAN
Pengukuran antropometri terdiri dari dua macam, yaitu pengukuran body size (ukuran tubuh) dan body composition (komposisi tubuh). Pengukuran body size yang sering dilakukan pada orang dewasa adalah pengukuran berat badan dan tinggi badan. Pada beberapa kondisi, misalnya pada lansia atau pada pasien tirah baring, berat badan dan tinggi badan tidak dapat diukur secara langsung. Pada kondisi ini, perkiraan berat badan dan tinggi badan dapat diperoleh melalui rumus estimasi berdasarkan hasil beberapa pengukuran.
Beberapa pengukuran yang perlu dilakukan di antaranya pengukuran lingkar lengan atas, tinggi lutut, panjang depa, dan panjang ulna.
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mengetahui alat-alat pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, tinggi lutut, panjang depa dan panjang ulna
2. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, tinggi lutut, panjang depa, dan panjang ulna pada orang dewasa
3. Mahasiswa dapat membandingkan hasil pengukuran berat badan dengan estimasi berat badan berdasarkan tinggi badan, lingkar lengan atas, dan tinggi lutut
4. Mahasiswa dapat membandingkan hasil pengukuran tinggi badan dengan estimasi tinggi badan berdasarkan tinggi lutut, panjang depa, dan panjang ulna
5. Mahasiswa dapat menginterpretasikan status gizi dewasa berdasarkan hasil pengukuran
C. ALAT DAN BAHAN 1. Timbangan Digital 2. Microtoise
3. Medline
4. Alat pengukur tinggi lutut 5. Meteran pengukur panjang depa
6. Air mineral 2x1500 ml yang masih tersegel untuk membantu kalibrasi 7. Bandul benang untuk membantu pemasangan microtoise
8. Bolpen/ Spidol
28 D. PROSEDUR PRAKTIKUM
1. Berat Badan
a. Tahap Persiapan 1) Persiapan alat
a) Letakkan timbangan di bagian yang datar dan keras
b) Nyalakan timbangan. Jika timbangan tidak menyala, lakukan hal sebagai berikut:
✓ Periksa apakah ada baterai terpasang pada alat timbang tersebut
✓ Periksa apakah posisi positif dan negatif baterai sudah sesuai.
c) Pastikan timbangan menunjukkan angka 0 sebelum melakukan penimbangan.
d) Kalibrasi timbangan menggunakan cara sederhana, yaitu:
✓ Letakkan 2 botol air mineral kemasan 1,5 liter yang masih tersegel ke atas timbangan pada posisi tengah.
✓ Baca angka hasil penimbangan yang muncul.
✓ Hasil timbangan dikatakan baik dan timbangan siap digunakan jika hasil penimbangan menunjukkan angka 3,0 -3,1 kg.
✓ Jika angka hasil penimbangan menunjukkan angka di luar itu, lakukan hal berikut:
◆ Ambil botol, cek posisi timbangan. Pastikan timbangan dipasang pada alas yang datar dan keras.
◆ Nyalakan timbangan, letakkan kembali botol pada posisi tengah, periksa kembali angka hasil penimbangan.
◆ Jika hasil penimbangan masih belum menunjukkan angka yang sesuai, ganti baterai pada timbangan. Lakukan kembali penimbangan botol.
◆ Jika setelah penggantian baterai, angka hasil timbangan sudah menunjukkan nilai yang sesuai, timbangan siap digunakan. Jika angka tetap menunjukkan nilai yang tidak sesuai, gunakan timbangan lain. Lakukan prosedur kalibrasi kembali mulai dari awal.
✓ Kalibrasi cukup dilakukan sekali di awal penimbangan.
29 2) Persiapan Subjek
a) Jelaskan kepada subjek mengenai prosedur pengukuran berat badan yang akan dilakukan:
✓ Jelaskan pengukuran apa yang akan dilakukan (berat badan)
✓ Jelaskan cara pengukuran (kapan subjek naik ke atas timbangan, posisi berdiri subjek yang benar di atas timbangan, kapan subjek turun dari timbangan, jumlah pengukuran yang akan dilakukan) b) Sebelum naik, minta subjek untuk melepaskan sepatu, kaos kaki, serta
barang-barang yang dapat memperberat hasil penimbangan (contoh.
jaket, rompi, dompet, handphone, jam tangan, aksesoris rambut, dll).
Letakkan pada tempat yang aman.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Nyalakan timbangan dan pastikan angka pada timbangan menunjukkan angka 00.0
2) Minta subjek untuk naik ke atas timbangan dan berdiri di tengah-tengah alat timbang.
3) Pastikan posisi badan subjek dalam keadaan berdiri tegak, rileks, pandangan lurus ke depan, tidak berpegangan, bergerak dan berbicara selama waktu penimbangan.
4) Tunggu angka yang muncul pada timbangan berhenti (tidak berubah-ubah lagi).
5) Baca hasil penimbangan dengan keras hingga 100 gram terdekat, dan catat pada form.
6) Minta subjek untuk turun sejenak sebelum dilakukan penimbangan kedua.
7) Nyalakan kembali timbangan, dan ulangi langkah 1) s/d 5) untuk penimbangan yang kedua.
8) Subjek diminta turun dari timbangan dan sampaikan penimbangan telah selesai
9) Serahkan kembali barang-barang subjek yang telah dilepas sebelum penimbangan, dan sampaikan terima kasih
2. Tinggi Badan
a. Tahap Persiapan 1) Persiapan Alat
a) Pemasangan microtoise minimal membutuhkan 2 orang petugas.
30
b) PIlih permukaan bidang vertikal/ dinding dan lantai yang datar, lurus dan rata (tidak ada lekukan atau tonjolan).
c) Gantungkan benang berbandul untuk membantu memasang microtoise di dinding agar tegak lurus.
d) Petugas 1 meletakkan microtoise pada lantai yang datar dan menempel pada dinding, tidak jauh dari bandul tersebut.
e) Petugas 1 memegang microtoise agar tetap menempel pada lantai, sementara petugas 2 menarik pita pengukur microtoise tegak lurus ke atas, sejajar dengan benang berbandul yang tergantung dan tarik sampai angka pada jendela baca microtoise menunjukkan angka nol.
Pembacaan angka pada jendela microtoise dilakukan oleh petugas 1 dengan posisi mata sejajar dengan jendela baca. Petugas 2 menahan ujung pita microtoise agar posisi pita tidak berubah.
f) Petugas 2 merekatkan ujung pita microtoise dengan menggunakan lakban. Untuk menghindari terjadinya perubahan posisi pita, beri perekat juga pada posisi sekitar 10 cm dari ujung pita microtoise.
Pastikan lakban merekat dengan kuat dengan merekatkan beberapa lapis lakban. Petugas 1 dapat membantu memasang lakban dengan melepaskan microtoise dan dapat dibiarkan tergantung.
g) Setelah lakban tertempel erat, pastikan lagi bahwa ketika microtoise diturunkan hingga menempel lantai, jendela baca tepat menunjukkan angka 0. Jika angka belum tepat menunjukkan 0, perbaiki kembali pemasangan microtoise.
2) Persiapan Subjek
a) Jelaskan kepada subjek mengenai prosedur pengukuran tinggi badan yang akan dilakukan:
✓ Jelaskan pengukuran apa yang akan dilakukan (tinggi badan)
✓ Jelaskan cara pengukuran (posisi berdiri subjek yang benar, jumlah pengukuran yang akan dilakukan)
b) Sebelum pengukuran, minta subjek untuk melepaskan sepatu, kaos kaki, serta barang-barang yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran (contoh. jaket, aksesoris kepala, ikat rambut, cepol, dll). Letakkan pada tempat yang aman.
b. Tahap Pelaksanaan
31
1) Posisikan subjek berdiri tegak lurus di bawah alat geser microtoise dengan posisi badan membelakangi dinding. Pastikan posisi berdiri subjek ada di tengah.
2) Posisikan kedua kaki rapat, telapak kaki menempel lantai (tidak jinjit), dan lutut lurus. Tumit, betis, pantat, tulang belikat, dan kepala menempel pada dinding. Jika 5 bagian badan tidak mungkin menempel, setidaknya ada 3 bagian badan yg menempel, yaitu tulang belikat, pantat, dan betis. Posisi lengan menggantung bebas dengan arah telapak tangan menghadap paha.
3) Posisikan kepala subjek berada di bawah alat geser microtoise dengan pandangan lurus ke depan. Titik cuping telinga dengan ujung mata harus membentuk garis imajiner yang tegak lurus terhadap dinding, membentuk sudut 90º. (Kepala dalam posisi Frankfurt plane horizontal).
4) Tarik alat geser microtoise hingga menyentuh puncak kepala subjek.
Jangan terlalu menekan alat geser. Pada subjek berambut keriting tebal, pastikan alat geser menyentuh puncak kepala.
5) Minta subjek untuk menarik nafas dengan bahu tetap rileks.
6) Baca dengan keras angka yang tertera di jendela baca pada saat subjek menarik nafas dalam (maximum insipration). Mata pembaca harus sejajar dengan garis merah pada jendela baca.
7) Catat hasil pengukuran tinggi badan hingga milimeter terdekat
8) Lakukan pengukuran kedua, dengan cara mengulang langkah 4) s/d 7) 9) Sampaikan pengukuran tinggi badan telah selesai, serahkan kembali
barang-barang subjek yang dilepas sebelum pengukuran, dan sampaikan terima kasih.
3. Lingkar Lengan Atas a. Tahap Persiapan
1) Persiapan Alat
Pastikan medline tidak terlipat, tidak sobek, dan angkanya masih terbaca dengan jelas
2) Persiapan Subjek
a) Jelaskan kepada subjek mengenai prosedur pengukuran lingkar lengan atas yang akan dilakukan:
✓ Jelaskan pengukuran apa yang akan dilakukan (lingkar lengan atas)
32
✓ Jelaskan cara pengukuran (posisi berdiri subjek yang benar, tahapan pengukuran, jumlah pengukuran yang akan dilakukan, ijin menandai lengan subjek dengan bolpen/spidol pada titik-titik pengukuran) b) Sebelum pengukuran, pastikan lengan pakaian subjek dapat diangkat
hingga ke pangkal bahu tanpa membuat kondisi lengan menjadi tertekan. Jika tidak, minta subjek untuk melepas pakaian dan pengukuran dilakukan di ruang tertutup.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Minta subjek untuk berdiri tegak namun rileks, tidak memegang apapun, serta otot lengan dalam keadaan tidak tegang.
2) Posisi pengukur berada di sebelah kiri subjek.
3) Minta ijin kepada subjek jika petugas akan menyingsingkan lengan pakaian subjek. Singsingkan sisi kiri lengan pakaian subjek hingga pangkal bahu terlihat.
4) Minta subjek untuk menekuk lengan hingga posisi siku ke arah perut, dengan posisi telapak tangan menghadap ke perut.
5) Tentukan posisi pangkal bahu. Raba titik acromion process, tandai dengan bolpen/ spidol.
6) Tentukan posisi ujung siku. Raba ujung olecranon, tandai dengan bolpen/
spidol.
7) Tentukan titik tengah antara acromion process dengan ujung olecranon dengan cara:
a) Ukur panjang antara acromion process dengan ujung olecranon dengan menggunakan medline (hasil = χ cm)
b) Tentukan angka titik tengah dengan cara hasil ukur pada poin a) atau χ cm dibagi 2 (hasil = χ/2 cm)
c) Tandai lengan dengan menggunakan bolpen/ spidol tepat pada titik tengah sesuai angka hasil ukur pada poin b)
8) Minta subjek untuk meluruskan kembali lengannya, posisikan lengan dalam kondisi tergantung, rileks, pastikan otot lengan tidak dalam keadaan tegang.
9) Lingkarkan medline tepat pada titik lengan yang sudah ditandai. Tarik medline sehingga melingkari lengan dengan tidak longgar dan tidak terlalu kencang.
33
Pastikan medline melingkar sejajar, tidak menekan kulit, dan tidak ada sisi medline yang terlipat.
10) Baca dengan keras angka pada medline yang bersinggungan tepat dengan titik 0, catat hingga milimeter terdekat.
11) Lakukan pengukuran kedua dengan cara melonggarkan pita medline dan mengencangkan kembali (lakukan ulang prosedur no 9) dan 10))
12) Sampaikan pengukuran lingkar lengan atas telah selesai, rapikan kembali lengan pakaian subjek, dan ucapkan terima kasih
4. Tinggi Lutut
a. Tahap Persiapan 1) Persiapan Alat
Persiapkan alat ukur tinggi lutut (kaliper tinggi lutut) dan pastikan angka yang menunjukkan hasil pengukuran pada alat masih terbaca jelas
2) Persiapan Subjek
a) Jelaskan kepada subjek mengenai prosedur pengukuran tinggi lutut:
✓ Jelaskan pengukuran apa yang akan dilakukan (tinggi lutut)
✓ Jelaskan cara pengukuran (posisi duduk subjek yang benar, tahapan pengukuran, jumlah pengukuran yang akan dilakukan)
b) Sebelum pengukuran, pastikan subjek melepas kaus kakinya, pakaian/
celana subjek dapat diangkat hingga di atas lutut.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Minta subjek untuk duduk tegak pada kursi/ meja dengan kedua kaki menjuntai bebas
2) Pengukur berlutut pada sisi tungkai yang akan diukur.
3) Posisikan lutut subjek ditekuk 90º. Untuk membantu memposisikan lutut subjek sudah menekuk 90º, dapat menggunakan bidang segitiga siku2 (misal menggunakan penggaris segitiga siku2 atau wadah microtoise).
4) Pergelangan kaki ditekuk sehingga kaki sejajar dengan lantai. Tempatkan kaki subjek pada telapak tangan pengukur untuk memudahkan memposisikan kaki subjek.
5) Tempatkan papan-tetap kaliper di bawah tumit dan tempatkan papan- bergerak di paha, sekitar 4 cm dari tempurung lutut.
6) Pegang batang kaliper agar sejajar dengan tungkai bawah.
34
7) Tekan papan bergerak dengan lembut untuk menekan jaringan.
8) Baca dengan keras angka yang tertera pada kaliper dengan pandangan mata sejajar, catat hingga milimeter terdekat
9) Lakukan pengukuran kedua dengan cara menaikkan papan bergerak dan menurunkan/menekankan lagi pada paha (lakukan ulang prosedur no 7) dan 8))
10) Sampaikan pengukuran tinggi lutut telah selesai dan ucapkan terima kasih
5. Panjang Depa a. Tahap Persiapan
1) Persiapan Alat
Persiapkan alat ukur panjang depa atau meteran yang kaku (misal. meteran bangunan) dan pastikan angka yang menunjukkan hasil pengukuran pada alat masih terbaca jelas. Saat pengukuran, pastikan sisi meteran yang menampilkan angka ukur menghadap pengukur.
2) Persiapan Subjek
Jelaskan kepada subjek mengenai prosedur pengukuran panjang depa:
✓ Jelaskan pengukuran apa yang akan dilakukan (panjang depa)
✓ Jelaskan cara pengukuran (posisi berdiri dan posisi lengan subjek yang benar, tahapan pengukuran, jumlah pengukuran yang akan dilakukan)
b. Tahap Pelaksanaan
1) Pengukuran panjang depa minimal dilakukan oleh dua orang pengukur.
2) Minta subjek berdiri tegak dan merentangkan kedua lengannya.
3) Cek kedua lengan subjek telah pada posisi horisontal, sejajar dengan bahu.
4) Pastikan posisi pergelangan tangan subjek lurus
5) Ukur jarak antara ujung jari tengah tangan kanan dengan ujung jari tengah tangan kiri, dengan cara:
a) Menggunakan meteran bangunan:
pengukur 1 memastikan dan menahan ujung 0 meteran pada ujung jari tengah tangan kanan subjek, sementara pengukur 2 menarik meteran hingga tepat pada ujung jari tengah tangan kiri subjek
b) Menggunakan alat ukur panjang depa:
35
Pengukur 1 memastikan dan menahan sisi papan-tetap alat ukur menempel pada ujung jari tengah tangan kanan subjek, sementara pengukur dua memastikan ujung jari tengah tangan kiri subjek menempel pada sisi papan- bergerak alat ukur
6) Baca dengan keras angka hasil pengukuran dengan posisi mata sejajar dengan angka hasil ukur, catat hingga milimeter terdekat.
7) Lakukan pengukuran kedua
8) Sampaikan pengukuran panjang depa telah selesai, dan ucapkan terima kasih.
6. Panjang Ulna a. Tahap Persiapan
1) Persiapan Alat
Pastikan medline tidak terlipat, tidak sobek, dan angkanya masih terbaca dengan jelas
2) Persiapan Subjek
a) Jelaskan kepada subjek mengenai prosedur pengukuran panjang ulna:
✓ Jelaskan pengukuran apa yang akan dilakukan (panjang ulna)
✓ Jelaskan cara pengukuran (sisi lengan yang dipakai dan posisi lengan yang benar, tahapan pengukuran, jumlah pengukuran yang akan dilakukan, ijin menandai lengan subjek dengan bolpen/spidol pada titik- titik pengukuran)
b) Sebelum pengukuran, pastikan lengan pakaian subjek dapat diangkat hingga di atas siku. Jika tidak, minta subjek untuk melepas pakaian dan pengukuran dilakukan di ruang tertutup.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Ukur lengan bawah sebelah kiri jika memungkinkan.
2) Posisikan lengan kiri ditekuk, dengan posisi telapak tangan subjek tertelungkup pada sisi dada kanan atas.
3) Cari titik tengah dari tulang yang menonjol di pergelangan tangan (styloid process), tandai dengan bolpen/spidol.
4) Raba tulang yang paling menonjol di siku (olecranon process), tandai dengan bolpen/spidol.
5) Ukur panjang antara styloid process dan olecranon process dengan menggunakan medline, pastikan medline tidak pada posisi terlipat.
36
6) Baca dengan keras angka hasil pengukuran pada medline dengan posisi mata sejajar dengan angka hasil ukur, catat hingga milimeter terdekat.
7) Lakukan pengukuran kedua (lakukan ulang prosedur no 5) dan 6)).
8) Sampaikan pengukuran panjang ulna telah selesai, rapikan kembali lengan pakaian subjek, dan ucapkan terima kasih
DAFTAR PUSTAKA
1. Cashin K and Oot L. Guide to Anthropometry : A practical tool for program Planners, managers and implementers. Wasington DC : Food and Nutrition Technical Assistance III Project (FANTA) / FHI 360. 2018
2. Permenkes No 41 Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang
3. Bintanah S, Kusuma HS, Setiawati YN, Mulyati T. Perhitungan kebutuhan Gizi Individu : NextBook : Semarang. 2016. Hal. 13.
4. Jung MY, Chan MS, Chow VSF, Chan YTT, Leung PF, Leung EMF, Lau TY, man CW, Lau JTF, and Wong EMC. Estimating geriatric patient’s body weight using the knee height caliper and mid-arm circumference in Hongkong Chinese. Asia Pac J Clin Nutr, 2004, 13(3), 261-264.
5. Powel-Tuck, J and Hennessy EM. Comparison of mid upper arm circumference body mass index and weight loss as indices of underutrition in acutelyhospitalized patients.
6. Fatmah. Predictive equations for estimation of stature from knee height, arm span and sitting height in Indonesian Javanese elderly people. International Journal of Medicina and Medical Sciences, 2009, 1(10), 456-461.
7. Nestle Nutrition Institute. Nutrition screening as easy as MNA. A guide to completing the Mini Nutritional assessment-short form (MNA-SF).
37 E. Lembar Kerja Praktikum
Catatan Hasil Pengukuran Berat Badan, Tinggi Badan, Lingkar Lengan Atas, dan Interpretasi Status Gizi
1. IMT dihitung menggunakan data tinggi badan berdasarkan hasil pengukuran stadiometer.
2. Penghitungan menggunakan z-score IMT/U dilakukan pada mahasiswa dengan usia maksimal 19 tahun 0 bulan 3. Penghitungan menggunakan IMT dilakukan pada mahasiswa dengan usia 18 tahun ke atas
4. Penghitungan z-score IMT/U menggunakan software WHO anthro plus 5. Kategori IMT mengikuti cut-off IMT menurut Kemenkes (2014)
(Underweight: <18,5; Normal: 18,5 - 25,0; Overweight: >25.0 - 27.0; Obese: >27.0) 6. Kategori Lila hanya diisi untuk mahasiswi (Normal: >23,5 cm, Berisiko KEK: <23,5 cm)
Nama Lengkap
Sex (L/P)
Tgl Lahir
Tgl Ukur
Usia (..th ..bl)
Berat Badan (kg)
Tinggi Badan (Stadiometer)
(cm)
Tinggi Badan (Microtoise)
Lingkar Lengan
Atas Interpretasi Status Gizi
1 2 Rata
2 1 2 Rata2 1 2 Rata
2 1 2 Rata
2
IMT/ U (usia <19th)
IMT
(usia >18th) Kat Lila z-
score Ka
t
score Kat
38
Catatan Hasil Pengukuran Tinggi Lutut, Panjang Depa, dan Panjang Ulna
Nama Lengkap
Sex (L/P )
Tgl Lahir
Tgl Ukur
Usi a (..th ..bl)
Tinggi Lutut Panjang Depa Panjang Ulna TL1
(kg)
TL2 (kg)
Rata 2 (kg)
PD 1 (cm)
PD 2 (cm)
Rata 2 (cm)
PU1 (cm)
PU2 (cm)
Rata 2 (cm)
39
Lembar 3. Hasil Estimasi Berat Badan dan IMT Nama
Lengkap
Berat Badan
Estimasi BB Rumus 1 (Panjang Badan)
Estimasi BB Rumus 2 (LILA, Tinggi
Lutut)
IMT Estimasi IMT Rumus 3 (LILA, Usia)
Rumus 1:
Penentuan ukuran kerangka tubuh berdasarkan rasio tinggi badan-lingkar pergelangan tangan dapat dilihat pada tabel berikut
Bangun Tubuh
Laki-laki Perempuan
Besar Tambahkan 10% Tambahkan 10%
Sedang 48 kg untuk panjang badan 152 cm yang perta ma, dan
selanjutnya:
Tambahkan2,7 kg untuk setiap tambahan 2,5 cm, atau
Kurangi 1,13 kg untuk setiap cm apabila TB
< 152 cm
45 kg untuk panjang badan 152 cm yang perta ma, dan
selanjutnya:
Tambahkan 2,3 kg untuk setiap tambahan 2,5 cm, atau
Kurangi 1,13 kg untuk setiap cm apabila TB <
152 cm
Kecil Kurangi 10% Kurangi 10%
Rumus 2
➢ BB estimasi laki-laki
(knee ht x 1,10) + (MUAC x 3,07) - 75,81
➢ BB estimasi perempuan
(knee ht x 1,01) + (MUAC x 2,81) - 66,04 Ukuran Kerangka
Rasio
Perempuan Laki-laki
Kecil >10,9 >10,4
Sedang 10,9-9,9 10,4-9,6
Besar <9,9 <9,6
40 Rumus 3 (Powel-Tuck, J, and Hennessy EM, 2013)
➢ Laki-laki
IMT = (1,02 x LILA) + (0,03 x usia) - 6,7
➢ Perempuan
IMT = (1,10 x LILA) + (0,023 x usia) - 8.0
Lembar 4. Hasil Estimasi Tinggi Badan Nama
Lengkap
Tinggi Badan
Estimasi TB Rumus 1
(Tinggi Lutut 1)
Estimasi TB Rumus 2
(Tinggi Lutut 2)
Estimasi TB Rumus 3 (Panjang Depa)
Estimasi BB Rumus 4 (Panjang
Ulna)
Rumus 1
➢ Laki-laki
Tinggi Badan = 96,5 + (1,38 x tinggi lutut) - (0,08 x usia)
➢ Perempuan
TInggi Badan = 89,63 + (1,53 x tinggi lutut) - (0,17 x usia) Rumus 2 (Fatmah, 2009)
➢ Laki-laki
Tinggi Badan = 52,853 + 2,175 TL
➢ Perempuan
TInggi Badan = 64,938 + 1,845 TL Rumus 3 (fatmah, 2009)
➢ Laki-laki
Tinggi Badan = 22,575 + 0,830 PD
➢ Perempuan
TInggi Badan = 29,761 + 0,776 PD Rumus 4
➢ Laki-laki
Tinggi Badan = 85,61 + (3,16 x PU)
➢ Perempuan
TInggi Badan = 85,80 + (2,97 X PU)
41 BAB 6
KOMPOSISI TUBUH I : TEBAL LEMAK BAWAH KULIT DAN BIOELECTRICAL IMPEDANCE ANALYSIS (BIA)
A. PENDAHULUAN
Komposisi tubuh merupakan jumlah massa lemak dan jaringan bebas lemak yang terdiri atas otot, tulang, protein dan cairan tubuh. Fokus utama dari pengukuran komposisi tubuh adalah persentase lemak tubuh. Penderita obesitas mengalami perubahan pada komposisi tubuhnya. Tidak hanya lemak, perubahan juga terjadi pada massa otot, cairan tubuh dan massa tulang pada penderita obesitas. Lemak pada dasarnya merupakan jaringan bebas air, maka makin sedikit lemak akan mengakibatkan makin tingginya persentase air dalam berat badan seseorang, sebaliknya jaringan otot mengandung lebih banyak air.
Pengukuran komposisi tubuh seperti persentase lemak tubuh dan massa tanpa lemak adalah indikator status kesehatan yang sensitif pada remaja dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada saat dewasa. Pengukuran antropometri tebal lemak bawah kulik (TLBK) merupakan salah satu alternatif yang sering digunakan untuk memprediksi persentase lemak tubuh karena relatif murah dan mudah pelaksanaannya serta tidak berdampak negatif terhadap subyek yang diperiksanya. Ada beberapa lokasi pengukuran spesifik yang biasanya dilakukan yaitu subscapular skinfold, suprailiac / supraspinale skinfold, triceps skinfold dan biceps skinfold. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skinfold caliper dengan satuan milimeter.
Metode lain untuk mengukur komposisi tubuh adalah dengan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). BIA adalah suatu metode pengukuran komposisi tubuh dengan menerapkan konsep konduksi listrik tubuh. Pengukuran BIA untuk mengukur lemak tubuh menggunakan berat badan, tinggi badan, umur dan jenis kelamin sebagai parameter. BIA mudah digunakan, murah dan diproduksi secara massal.
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran TLBK (bisep, trisep, subscapula, suprailiaka) menggunakan skinfold caliper dengan benar
42
2. Mahasiswa mampu memprediksi persen lemak tubuh berdasarkan pengukuran TLBK (bisep, trisep, subscapula, suprailiaka) dengan benar
3. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran komposisi tubuh menggunakan BIA dengan benar
4. Mahasiswa mampu menginterpretasikan atau menilai hasil pengukuran komposisi tubuh menggunakan TLBK dan BIA.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Skinfold Caliper berbahan besi 2. Skinfold Caliper berbahan plastik 3. BIA merek Omron
4. BIA merk Tanita
5. Alat tulis untuk memberi tanda
D. PROSEDUR PRAKTIKUM
1. Teknik pengambilan lipatan kulit (skinfold)
a. Menyiapkan alat ukur berupa kaliper berbehan besi dan plastik
b. Meminta responden untuk berdiri terlebih dahulu dan membuka bagian pakaian yang menutupi bagian yang akan diukur.
c. Pengambilan lipatan kulit menggunakan sisi kiri tubuh
d. Setelah lokasi teridentifikasi, berilah tanda pada lokasi yang akan diukur.
e. Lipatan kulit diambil dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri. Pengambilan dengan jari dilakukan pada proksimal (atas) lokasi pengukuran lipatan kulit.
f. Kaliper dipegang dengan tangan kanan, tegak lurus dengan lipatan kulit yang akan diambil
g. Skala Kaliper menghadap keatas sehingga mudah dilihat hasilnya.
43
h. Jepitan kaliper pada distal (bawah), kurang lebih 2 cm dibawah lokasi pengambilan lipatan kulit oleh jari
i. Selama penjepitan oleh kaliper, pengambilan lipatan kulit oleh jari tidak dilepaskan.
j. Kaliper tidak boleh dijepitkan terlalu dalam atau terlalu dangkal
k. Lepas tekanan pada kaliper oleh jari dan baca skala pada kaliper selama penjepitan.
Penjepitan tidak boleh lebih dari 3 detik.
l. Ulangi penjepitan oleh kaliper tanpa melepas pengambilan lipatan kulit yang pertama.
m. Pengukuran dilakukan minimal 2 kali untuk tiap kaliper. Jika hasil tiap pengukuran berselisih lebih dari 1 mm, pengukuran harus diulangi hingga didapat konsistensi.
2. Lokasi Pengukuran a. Bisep
Lokasi pengukuran lipatan kulit bisep berada di aspek anterior lengan atas. Posisinya ada di tengah-tengah lengan atas, yaitu ditengah garis yang dibentuk prosesus akromion dan olekranon. Lokasi pengukuran ditentukan saat siku ditekuk. Pengambilan lipatan kulit vertikal. Pengukuran (penjepitan oleh kaliper) dilakukan dengan lengan tergantung bebas di sisi luar tubuh. Telapak tangan subjek menghadap ke depan.
b. Trisep
Lokasi pengukuran lipatan kulit trisep berada di aspek posterior lengan atas, diatas otot trisep, berada ditengah garis yang dibentuk prosesus akromino dan olekranon.
Lokasi pengukuran ditentukan saat siku ditekuk, pangambilan lipatan kulit vertikal dan pengukuran dilakukan saat tangan tergantung bebas. Pengukur berada di belakang subjek saat pengukuran.
44 c. Subskapula
Lokasi pengukuran subskapula berada 1cm dibawah sudut yang dibentuk tulang scapula . lokasi lipatan kulit diagonal. Lokasi ini dapat dirasakan dengan meminta subjek untuk menempatkan telapak tangannya dibelakang punggung. Pengukuran dilakukan dengan alat yang tegak lurus dengan lipatan kulit.
d. Suprailiaka
Lokasi Pengambilan lipatan kulit suprailiaka berada di atas krista iliaka pada garis midaksila. Lipatan kulit diambil secara diagonal. Subjek berdiri tegak, kedua tangan tergantung bebas. Pengukuran (penjepitan oleh kaliper) dilakukan pada anterior garis midaksila yaitu 2 cm dibawah pengambilan lipatan kulit.
3. Estimasi persen lemak tubuh a. Pengukuran di 2 tempat
45
Persen lemak tubuh dapat diprediksi menggunakan penjumlahan ke 2 tebal lipatan kulit (trisep dan subskapula). Hasil penjumlahan tersebut diplotkan pada grafik berikut
Lee dan Nieman 2010 b. Pengukuran di 4 tempat
Estimasi persen lemak tubuh dapat diperoleh dari lipatan kulit 4 tempat (bisep, trisep, subskapula, suprailiaka). Jumlahkan keempat lipatan kulit tersebut dalam mm untuk menentukan body density;
46
Untuk mendapatkan estimasi persen lemak tubuh, digunakan rumus berikut ini : Formula Brozek
% Lemak Tubuh = (457 : body density)- 414 Formula Siri
% Lemak tubuh = (495 : body density) - 450
Jumlah dari keempat lipatan kulit tersebut juga dapat secara langsung memprediksi persen lemak tubuh dengan melihat tabel berikut. Tabel ini dipublikasikan oleh Durnin dan Womersley pada tahun 1974.
47
4. Pengukuran komposisi tubuh menggunakan BIA :
1. BIA yang akan digunakan dalam praktikum adalah BIA merk Omron dan Tanita.
2. Subjek menggunakan pakaian minimal, mengeluarkan barang dari saku yang dapat mengganggu hasil pengukuran, dan melepas alas kaki.
3. Nyalakan BIA.
4. Setting BIA dengan memasukkan data usia, tinggi badan dan jenis kelamin.
5. Setelah BIA menunjukkan angka 0.0, subjek diminta untuk naik ke alat seperti mengukur berat badan.
6. Jangan turun sebelum BIA menampilkan hasilnya.
7. Catat Hasil
48 Daftar Pustaka
1. Gibson RS. Principles of Nutritional Assessment, 2nd Edition, New York, Oxford University Press 2005.
2. Lee RD, Nieman DC. Nutritional Assessment, Fifth Edition, Singapore, McGraw-Hill 2010.
49 E. lembar kerja Praktikum
BIA
Nama
BIA
BB (kg) RM (kkal) penilaian Fat
(%) penilaian Viseral
Fat (% penilaian Muscle
(%) penilaian BMI Penilaian
BIA TANITA
Pengukuran
Nilai Interpretasi Nilai Interpretasi Nilai interpretasi Nilai Interpretasi
BB(kg) Fat (%)
50
Fat mass (kg) FFM (kg) Muscle (Kg) TBW (kg) TBW (%) Bone mass (kg) BMR (kkal) Visceral fat BMI Body type
TLBK
Nama
Bisep Trisep
Kaliper besi Kaliper Plastik Kaliper besi Kaliper Plastik
1 2 Rerata 1 2 rerata 1 2 rerata 1 2 rerata
51 Nama
Subskapula Suprailiaka
Kaliper besi Kaliper Plastik Kaliper besi Kaliper Plastik
1 2 Rerata 1 2 rerata 1 2 rerata 1 2 rerata
52 Estimasi %lemak tubuh
Nama Estimasi % LT dg
2 lokasi lipatan kulit (trisep subscapula)
penilaian Estimasi % LT dg 4 lokasi lipatan kulit Rumus 1 Rumus 2 tabel
53 Penilaian estimasi % lemak tubuh 2 lokasi
Penilaian estimasi % lemak tubuh 4 lokasi
Rumus 1
Formula Brozek
% Lemak Tubuh = (457 : body density)- 414
54 Rumus 2
Formula Siri
% Lemak tubuh = (495 : body density) - 45
Tabel estimasi % LT dengan penjumlahan 4 lokasi lipatan kulit
55 BAB 7
KOMPOSISI TUBUH II : LINGKAR PINGGANG, LINGKAR PINGGUL, LINGKAR LEHER, DAN LINGKAR PERGELANGAN TANGAN
A. PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dipraktekkan antropometri komposisi tubuh yang bertujuan untuk mengetahui sebaran lemak bagian atas tubuh. Dahulu untuk mengukur sebaran jaringan adipose (jaringan lemak) masih menggunakan CT scan dan MRI. Tentu saja dua metode ini tidak cukup praktis untuk diterapkan di lapangan terlebih penelitian-penelitian epidemiologi. Lalu, peneliti menemukan ada cara mudah untuk memperkirakan sebaran jaringan adipose baik lemak subkutan (lemak bawah kulit) maupun lemak visceral (lemak di antara organ dalam bagian abdominal). Caranya dengan mengukur lingkar pinggang, lingkar pinggul, dan rasio pinggang-pinggul.1
Sebaran lemak tubuh terutama lemak subkutan bagian atas tubuh sering disebut juga sebagai adipose depot. Beberapa peneliti berpendapat bahwa pengukuran depot lemak subkutan bagian atas tubuh ini memberikan gambaran penting mengenai metabolisme lemak. Lemak subkutan bagian atas tubuh mampu melepaskan asam lemak bebas lebih banyak dibandingkan dengan lemak subkutan bagian bawah tubuh (misalnya paha, jempol kaki atau betis). Karena peran tersebut, lemak yang terdapat di bagian atas tubuh, mampu menggambarkan gangguan metabolisme tubuh.2
Sementara itu, lingkar leher biasanya digunakan sebagai kombinasi pengukuran lingkar pinggang dan lingkar pinggul. Lingkar leher dapat digunakan untuk identifikasi overweight atau obese pada orang dewasa. Laki-laki dengan lingkar leher ≥ 37 cm dan wanita ≥ 37 cm, dapat dipastikan dia overweight atau obese.3 Sehingga dengan hasil pengukuran antropometri ini, kita dapat mengetahui risiko penyakit yang berkaitan dengan gangguan profil lemak tubuh.
Ada beberapa metode yang bisa diukur untuk menentukan sebaran lemak tubuh bagian atas di antaranya dengan mengukur lingkar pinggang, lingkar pinggul, dan lingkar leher, dan lingkar pergelangan tangan. Dari data tersebut, bisa kita tentukan juga nilai rasio lingkar pinggang-pinggul, rasio lingkar pinggang-tinggi badan, dan rasio tinggi badan-lingkar pergelangan tangan yang mempunyai nilai antropometris untuk menilai komposisi tubuh seseorang
.
56 B. CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu memahami metode pengukuran antropometri pada orang dewasa yang berkaitan dengan sebaran lemak tubuh bagian atas
2. Mahasiswa mampu mengukur lingkar pinggang pada orang dewasa 3. Mahasiswa mampu mengukur lingkar pinggul pada orang dewasa 4. Mahasiswa mampu mengukur lingkar leher pada orang dewasa
5. Mahasiswa mampu mengukur lingkar pergelangan tangan pada orang dewasa
6. Mahasiswa mampu menghitung rasio lingkar pinggang-pinggul dan menginterpretasikannya
7. Mahasiswa mampu menghitung rasio lingkar pinggang-tinggi badan dan menginterpretasikannya
8. Mahasiswa mampu menghitung rasio tinggi badan-lingkar pergelangan tangan dan menginterpretasikannya
C. ALAT DAN BAHAN
Pita ukur plastik yang tidak molor
D. PROSEDUR PRAKTIKUM 1. Lingkar Pinggang
Ada 3 cara, yaitu:
✓ Yang pertama
1. Responden menggunakan pakaian setipis mungkin sehingga alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur tidak berada di atas pakaian yang digunakan
2. Responden berdiri tegak dengan perut dalam keadaan rileks.
3. Pengukur berada di samping depan subjek dan meletakkan alat ukur melingkar pinggang secara horizontal dengan menitik beratkan pusar perut sebagai patokan kemudian diukur menggunakan pita medline dengan cara mengelilingi lingkar perut tepat mengenai pusar.
4. Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat