Fungsi Keagamaan Struktur Bata P.6 Candi Kedaton
Retno Purwanti
Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Jl. Kancil Putih Lr. Rusa Demang Lebar Daun, Palembang 30136 Email: [email protected]
Abstrak: Candi Kedaton adalah salah satu kompleks percandian di situs Kawasan Percandian Muarajambi dan memiliki 14 halaman. Masing-masing halaman dipisahkan oleh tembok keliling dari bata. Pada beberapa halaman terdapat struktur bata, yang salah satunya diberi kode P.6. Struktur ini berdenah empat persegi panjang dan dilengkapi dengan ruang. Temuan arkeologis di lokasi ini mengindikasikan fungsi keagamaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi keagamaan struktur P.6 berdasarkan bukti-bukti arkeologis.
Data dikumpulkan melalui kegiatan ekskavasi dan kajian pustaka. Analisis data dilakukan dengan identifikasi tinggalan arkeologi, kemudian dikaitkan dengan bentuk dan fungsinya. Hasil penelitian adalah celupak, pecahan mangkuk dan tempayan yang menggambarkan, bahwa Struktur P.6 merupakan dharmmasala, tempat untuk melakukan pujabhakti umat Buddha.
Kata kunci: Candi Kedaton; struktur; fungsi; dharmmasala.
Abstract: Kedaton temple is one of the temple complex in Muarajambi Temple site and has 14 pages. Each page is separated by a wall around the brick. On some pages there is a brick structure, one of which is coded P.6. This structure berdenah rectangular and equipped with space. Archaeological finds at this location indicate religious function. The purpose of this research is to know the religious function of structure P.6 based on archaeological evidence. Data collected through excavation and literature review. Data analysis is done by identification of archaeological remains, then associated with the form and function. The result of this research is celupak, broken bowl and crock which depict, that Structure P.6 is dharmmasala, place to do Buddhist pujabhakti.
Keywords: Kedaton Temple; structure; function; dharmmasala.
PENDAHULUAN
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata struktur bisa dimaknai secara beragam. Yang pertama struktur sebagai cara sesuatu atau dibangun; susunan atau bangunan. Arti kedua ialah yang disusun dengan pola tertentu; dan ketiga adalah pengaturan unsur-unsur atau bagian-bagian dari suatu benda atau ujud (KBBI, 1996: 965). Dari ketiga pemaknaan tersebut, yang dimaksud dengan struktur dalam makalah ini adalah pengertian yang pertama dan kedua. Sementara itu “P”
merupakan singkatan dari kata “Perwara” yang digunakan untuk menyebut struktur bata yang ada di dalam halaman-halaman Candi Kedaton. Untuk membedakan antara perwara satu dengan perwara lainnya, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi menggunakan angka sebagai penandanya. Di Candi Kedaton terdapat 12 struktur bata yang diduga merupakan perwara dan terletak di halaman I, halaman II, dan halaman VII.
Dari ke-12 perwara tersebut adalah Perwara 6 (P.6) yang terletak di halaman I, menempel pada dinding pembatas bagian selatan halaman XII dan menempel pada dinding pembatas bagian timur halaman XI (Lihat gambar 1).
Lokasi P.6 ini berada disebelah kanan jalan masuk ke bangunan induk Candi Kedaton dan berada sejajar dengan struktur bata P.7. Struktur bata P.6 sudah menampakkan denah berbentuk persegi panjang, karena beberapa susunan batanya sudah tampak di permukaan tanah. Meskipun demikian, apakah struktur bata P.6 ini di bagian dalamnya dibagi menjadi ruang-ruang atau tidak belum diketahui. Begitupun dengan arah hadap atau pintu masuknya. Hal ini bermuara pada belum diketahuinya fungsi dari struktur bata P.6 dalam konteks keagamaan di Candi Kedaton.
Gambar 1. Denah Candi Kedaton (Sumber: BPCB Jambi) METODE PENELITIAN
Untuk menjawab pertanyaan di atas akan digunakan sumber data arkeologi dari hasil penelitian di Candi Kedaton oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan tahun 2011-2014 dan laporan teknis pemugaran yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Data arkeologi tersebut akan dideskripsikan dan dianalisis berdasarkan bentuk, kronologi, dan konteksnya. Setelah itu kemudian dilakukan proses sintesis atau interpretasi sesuai dengan tujuan penelitian.
Selain itu dalam melakukan sintesis data juga akan digunakan sumber sekunder berupa litelatur yang membahas permasalahan terkait. Agar obyektifitas kajian ini tetap terjaga, proses analogi atau komparasi data juga diterapkan untuk memperoleh akurasi jawaban dari sejumlah pertanyaan di atas. Adapun proses analogi atau komparasi diambil dari beberapa situs yang disebutkan di dalam literatur-literatur keagamaan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian arkeologi pada tahun 2013 dan 2014 berhasil menemukan data arkeologi berupa pecahan keramik asing, pecahan keramik lokal, fragmen logam, dan struktur bata.
1. Keramik
Jumlah pecahan keramik yang ditemukan selama penelitian berjumlah 454 pecahan, terdiri dari bagian tepian, bagian badan, dan bagian dasar. Pecahan- pecahan ini berasal dari piring, mangkuk, guci, botol, pasu, dan cepuk.
Pecahan tepian porselin ini seluruhnya berasal dari masa pemerintahan Dinasti Song sekitar abad ke-11—12 Masehi dan Yuan dari abad ke-14. Sebagian masih menampakkan glasir berwarna hijau zaitun polos. Ukuran pecahan panjang 1,7 cm—4,4 cm; lebar antara 1,3 cm—2,7 cm dan tebal antara 0,2 cm—0,6 cm.
Salah satu contoh tepian piring memiliki diameter 25 cm dibuat dari bahan porselin berwarna putih keabuan, berglasir warna hijau seladon. Kondisi glasir mulai pecah seribu. Asal pembuatan Cina masa Dinasti Yuan abad 13 Masehi.
Pecahan tepian lainnya berupa kendi bagian leher yang dibuat dengan menggunakan bahan batuan berporselin berwarna abu-abu. Permukaan luar diberi glasir berwarna hijau keabuan. Leher kendi ini berdiameter 4,9 cm. Asal pembuatan Cina, masa Dinasti Sung abad, 11-12 Masehi.
Guci yang ditemukan berupa pecahan bagian tepian dengan bahu terdapat sebuah kupingan berbentuk horizontal dengan kedua ujung bertekan jempol.
Bahan terbuat dari batuan berwarna abu-abu. Glasir sudah mengelupas sisa sedikit dibagian lingkar tepian menunjukkan warna kehitaman. Tepian berdiameter 10 cm. Asal pembuatan Cina, masa Dinasti Sung abad 11-13 Masehi.
Foto 1. Tepian pasu (Sumber: Balar Palembang)
Pecahan tepian lainnya dapat diidentifikasikan sebagai bagian dari pasu, yang dibuat dengan menggunakan bahan terbuat dari batuan berwarna abu-abu, bertekstur agak kasar. Glasir berwarna coklat kekuningan melapisi pada permukaan dinding bagian dalam. Kondisi glasir mulai pecah seribu halus.
Berdiameter 27 cm. Asal pembuatan Cina, masa Dinasti Yuan abad 13-14 Masehi.
Pecahan keramik bagian dasar merupakan bagian dari mangkuk. Mangkuk dalam foto di bawah ini menggunakan bahan dari porselin berwarna putih keabuan, berglasir warna putih keabuan. Kondisi glasir sudah mulai kusam, melapisi seluruh permukaan, hanya bagian lingkar kaki dan dasar luar tidak diglasir. Memiliki ukuran diameter 6 cm. Asal pembuatan Cina masa Dinasti Sung abad 12 Masehi.
Pecahan mangkuk kedua bagian dasarnya berasal dari bahan porselin berwarna putih keabuan. Glasir berwarna abu-abu kekuningan seladon melapisi seluruh permukaan hanya bagian lingkar kaki tidak berglasir. Berukuran diameter 8 cm. Asal pembuatan Cina, masa Dinasti Yuan abad 13 Masehi (Foto 1).
Foto 2. Bagian dasar mangkuk seladon (Sumber: Balar Palembang)
Bahan terbuat dari porselin berwarna putih, berglasir warna putih kebiruan qingbai. Glasir melapisi seluruh permukaan pada bagian lingkar kaki tidak diberi glasir berwarna coklat kemerahan. Berukuran diameter 3,3 cm. Asal pembuatan Cina, masa Dinasti Yuan abad 13 Masehi.
3. Tembikar
Pecahan tembikar yang ditemukan selama kegiatan penelitian tahun 2014 ini seluruhnya berjumlah 346 pecahan dengan berat 3804 gram. Pecahan tersebut berasal dari bagian celupak, periuk, kendi, tungku, dan bandul.
Celupak yang ditemukan dalam keadaan utuh dan tidak utuh berupa pecahan bagian tepian hingga badan. Celupak utuh ditemukan sebanyak tiga buah dengan bentuk datar (plain) tidak simetris. Pada salah satu sisinya terdapat cerat untuk menaruh sumbu. Pengamatan terhadap permukaan memperlihatkan, bahwa dua celupak memiliki permukaan kasar dan satu celupak permukaannya halus.
Berdasarkan bentuknya yang tidak simetris, dapat diketahui benda ini dibuat dengan menggunakan teknik pijat (pinch technique). Adapun rincian ketiga celupak tersebut adalah sebagai berikut (Foto 3):
1. Celupak 1 memiliki diameter 6,5 cm; tinggi 1,2 cm; dan tebal 0,6 cm.
Panjang cerat 0,5 cm. bagian dalam dan luar celupak berwarna hitam.
Bahan yang digunakan untuk membuat celupak adalah tanah liat dan pasir.
2. Celupak 2 bagian ceratnya sudah pecah. Warna celupak krem dan terbuat dari tanah liat halus, sehingga mendekati fine paste ware. Diameter adalah 5,8 cm; tinggi 1,2 cm; dan tebal 0,5 cm.
3. Celupak 3 serupa dengan celupak 2, baik warna dan bahan pembuatnya.
Bagian cerat juga sudah hilang. Diameter 5,9 cm; tinggi 1,1 cm; dan tebal 0,5 cm.
Celupak dalam bentuk pecahan pada umumnya berbentuk bulat tanpa lingkar kaki dengan bagian dasar rata. Tepian mengarah keatas dengan sebagian tepian berbentuk meruncing. Bahan terbuat dari tanah liat berwarna coklat bertekstur halus. Celupak ini memiliki diameter 6,7 cm.
Foto. 3. Celupak (Sumber: Balar Palembang)
Pecahan tembikar lain berupa tepian yang merupakan bagian dari periuk, berbentuk bulat terbuka dengan bibir melebar keluar. Bahan terbuat dari tanah liat berwarna coklat kehitaman dengan diameter 23 cm.
Periuk merupakan wadah tertutup dengan diameter tepian antara 25-60 cm dan tinggi wadah 15-30 cm. Wadah ini memiliki orientasi tepian keluar dengan beberapa subtipe, yaitu keluar mendatar, keluar menaik, dan keluar menurun.
Tepian tungku yang ditemukan terbuat dari tanah liat berwarna coklat dengan terkstur kasar kurang padat. Berdasarkan bentuknya, dapat diperkirakan bahwa tungku ini berbentuk tidak simetris, dan kemungkinan berbentuk seperti sepatu atau perahu.
Bagian cerat berjumlah 5 pecahan, polos tanpa hiasan. Ukuran panjang cerat 4,3 cm, diameter bagian pangkal 2,2 cm, dan diameter bagian ujung 1,6 cm.
Satu pecahan cerat lainnya berukuran panjang 2,9 cm, dan diameter 1,9 cm.
Pecahan ini dibuat dengan menggunakan tanah liat dan diberi temper berwarna putih.
Pecahan kendi yang ditemukan dapat diketahui dari bagian cerat. Cerat berbentuk bulat panjang dengan diameter bagian ujung lebih kecil dibandingkan dengan bagian pangkalnya. Panjang bagian cerat adalah 4,5 cm, diameter 1,2 cm – 2,3 cm. Bahan terbuat dari tanah liat berwarna coklat kemerahan.
Bandul yang ditemukan hanya satu buah, terbuat dari tanah liat dengan temper pasir. Permukaan bandul berwarna krem.
Foto. 4. Cerat (Sumber: Balar Palembang) 4. Struktur Bata
Struktur bangunan P-6 yang telah dikupas oleh BPCP Jambipada tahun 2011 ini berukuran panjang 21,80 meter dan lebar 14. Di bagian timur bangunan ini memiliki semacam teras berukuran 1,80 meter x 4, 60 meter dan tangga masuk berukuran 1,80 meter x 1,80 meter. Bagian teras terletak di sebelah selatan, sedangkan bagian tangga terletak di utara. Setelah melewati tangga, maka terdapat dua struktur bangunan bata sejajar yang membentuk semacam “lorong” mengarah ke suatu ruangan di sebelah barat. Ruangan ini dipisahkan oleh satu lapisan bata, yang kondisinya sudah rusak. Di dalam ruangan ini terdapat struktur berbentuk segi empat, namun sudah dalam keadaan hancur beberapa bata penyusunnya, sehingga tidak dapat diketahui bentuk utuhnya.
Foto 5. Bangunan P-6 dan ruang-ruang (Sumber: Balar Palembang)
Di sebelah selatan ruangan ini terdapat ruangan lain yang dipisahkan dengan susunan bata memanjang dari barat ke timur sepanjang 21 meter. Di sebelah selatan struktur bata pemisah ruangan ini, terdapat struktur bata berbentuk bujursangkar dengan semacam penampil di bagian utara. Ukuran struktur bangunan ini adalah 1,20 meter x 1,20 meter dan disusun dengan menggunakan tiga lapis bata.
5. Artefak logam
Artefak logam pertama berbentuk “ב”dalam keadaan berkarat. Panjang artefak logam ini 7,1 cm; lebar kedua sisi adalah 1,1 cm dan tebal 0,8 cm. Artefak ini ditemukan di Kotak R-36.
Foto 6. Artefak logam (Sumber: Balar Palembang)
Artefak logam kedua berbentuk bulat panjang dan salah satu ujungnya runcing, namun sudah patah. Dengan demikian bentuknya mirip pasak atau paku.
Bagian upangkal sudah patah. Artefak ini dalam keadaan berkarat. Ukuran panjang artefak logam ini adalah 14,7 cm; diameter bagian pangkal 2,7 cm dan diameter bagian ujung 1,3 cm.
Foto 7. Artefak logam (Sumber: Balar Palembang)
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui, bahwa bangunan P-6 ini kemungkinan dibagi menjadi beberapa ruang. Namun, karena susunan bata penyekat ruangan sudah banyak yang hancur, maka jumlah pasti ruangan yang ada di dalam bangunan P-6 belum dapat diketahui secara pasti. Meskipun demikian, berdasarkan pecahan bata dan struktur bangunan yang masih tersisa, dapat diperkirakan bahwa bangunan P-6 ini sekurang-kurangnya di bagi menjadi tiga ruangan besar (lihat foto 16).
Ruangan pertama sejajar dengan tangga dan lorong masuk yang di dalamnya teerdapat struktur bangunan berdenah segi empat, namun sudah dalam
keadaan hasncur sebagian bata penyusunnya. Ruangan ini sampai dinding bangunan sebelah barat.
Ruangan kedua terletak di sebelah ruangan pertama dan menempel pada dinding barat dan selatan. Ruangan ini dipisahkan dengan struktur bangunan bata terdiri dari tida lapis di sebelah timur. Ruangan ini berukuran lebih kecil dibandingkan ruangan pertama.
Ruangan ketiga terletak di sebelah timur ruangan kedua dan di sebelah selatan ruangan pertama. Di dalam ruangan ini terdapat struktur bangunan berdenah bujursangkar berukuran 1,20 m x 1,20 meter. Struktur bangunan ini memiliki semacam penampil di bagian selatan.
Di dalam bangunan P-6 ditemukan pecahan keramik yang terdiri dari:
mangkuk, piring, guci, botol, pasu, dan cepuk; sedangkan pecahan tembikar terdiri dari: celupak, periuk, kendi, tungku, dan bandul. Selain temuan tersebut, dalam penelitian tahun 2013 yang lalu juga terdapat temuan berupa tempayan, dan jambangan.
Berdasarkan gambaran yang diperoleh dari relief candi dan uraian yang didapat dari prasasti dapat diperkirakan, bahwa piring digunakan sebagai wadah untuk menaruh sajian bunga, buah-buahan, atau makanan lain. Sementara itu sebagai wadah air untuk cuci kaki diperkirakan digunakan pasu. Selain itu juga pasu juga dapat digunakan sebagai wadah untuk menaruh sajian makanan sebagaimana tergambar pada relief Borobudur. Periuk digunakan sebagai wadah air suci (tirtha) untuk menyucikan bangunan, alat upacara, serta umat peserta upacara. Wadah yang digunakan untuk bunga berupa piring atau nampan. Kendi berfungsi sebagai wadah air suci. Sedangkan celupak beerfungsi sebagai tempat untuk menyalakan api yang merupakan bentuk persembahan anugerah dalam peribadatan agama Budha (Wahyudi, 2012 : 218).
Mangkuk di dalam relief Candi Borobudur digambarkan sebagai tempat untuk menaruh persembahan berupa bunga, buah-buahan dan makanan (Wahyudi, 2012: 163).
Pasu dalam salah satu relief di borobudur digunakan untuk wadah berbagai macam bunga. Wadah tersebut dibawa oleh seseorang yang ada di sudut kanan relief. Pada relief itu tampak orang membawa wadah mangkuk berada di depan pemegang pasu (Wahyudi, 2012: 165).
Tempayan dalam agama Buddha digunakan untuk menyimpan relik-relik sang Budha (Diputhera, 1989: 125-8).
Keseluruhan benda-benda tersebut merupakan wadah benda-benda yang digunakan sebagai persembahan yang disajikan pada upacara-upacara yang dilakukan di halaman candi. Benda-benda persembahan tersebut berupa bunga, air, api, dupa, dan berbagai makanan (Wahyudi, 2012 : 222).
Dengan adanya altar dan temuan celupak, piring, tempayan, jambangan, periuk, pasu, mangkuk, kendi, tungku, cepuk, botol, dan guci, maka dapat diduga bahwa bangunan P-6 adalah dhammasālā, yaitu salah satu gedung atau bangunan di dalam vihara yang dilengkapi dengan altar (Wahyudi, 2012: 207). Di altar tersebut diletakkan Buddharupam atau arca Buddha, lilin/pelita (dipa), bunga, dupa, air, dan persembahan lainnya.
Buddharupam atau arca Buddha merupakan simbol atau obyek untuk mengingatkan umat pada nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Sang buddha,
sedangkan lilin/pelita melambangkan penerangan yang diajarkan oleh Sang Buddha. Dupa melambangkan nama harum bagi orang yang memiliki sila. Dalam agama Buddha yang dimaksud dengan sila adalah petunjuk perilaku moral dasar dan minimal yang harus dilaksanakan oleh umat. Bunga melambangkan ketidakkekalan karena beberapa lama kemudian bunga pasti layu. Persembahan bunga merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada sang Buddha. Air melambangkan pembersihan segala ‘kekotoran” yang ada. Persembahan lain dapat berupa buah-buahan yang merupakan perwujudan rasa hormat kepada Sang Guru Agung.
Vihara merupakan tempat tinggal para bhiksu pada musim hujan dan sebagai tempat persinggahan bagi musafir-musafir yang datang dari luar daerah atau luar negeri. Di dalam vihara orang-orang dapat mempelajari filsafat dan kesenian.
Di dalam vihara terdapat bangunan-bangunan dengan fungsi yang berbeda, yaitu dharmasālā/dhammasālā, kupi, dan uposatha-ghāra (Purwanti, 2013). Di India sendiri, tidak ditemukan adanya pola halaman tertentu untuk suatu bangunan vihara. Dan tidak ditemukan adanya acuan bahwa suatu vihara harus memiliki halaman dengan jumlah tertentu (Rowland, 1956:69-84). Satu contoh denah vihara di India adalah vihara di Takht-Bahi dan Nalanda, India.
Susunan vihara secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: satu raungan besar untuk keperluan bersama di bagian tengah, dikelilingi ruangan- ruangan kecil untuk ruangan tidur dan keperluan lain para bhiksu. Pada sisi belakang, berhadapan dengan pintu masuk terdapat sebuah ruangan yang disebut gandhakuti. Pada waktu Buddha masih hidup, gandhakuti memang masih khusus disediakan untuk Buddha jika diaa berkunjung ke vihara. Namun, setelah Buddha wafat, maka di dalam ruangan tersebut ditempatkan sebuah arca buddha dan dianggap sebagai ruangan yang suci.
Di dalam lingkungan vihara Takht-Bahi terdapat ruangan terbuka yang di bagian tengahnya terdapat stupa utama. Pada keempat dinding yang mengelilingi halaman utama ini terdapat relung-relung yang menempel pada keempat dinding pembatas halaman, yang digunakan sebagai tempat tinggal para bhiksu atau sebagai tempat meletakkan obyek-obyek pemujaan. Di sebelah utara halaman utama ini terdapat halaman lain dengan beberapa bangunan tempat para bhiksu.
Selain itu ada ruangan besar yang digunakan sebagai tempat pertemuan, serta halaman terbuka tempat para bhiksu melakukan meditasi (Rowland, 1956: 81-82).