BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh dari knowledge creation dan creative destruction pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sektor makanan dan minuman yang dimediasi oleh innovation speed dan competitiveness di Bekasi. Dari hal tersebut, objek pada penelitian ini yaitu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sektor makanan dan minuman.
Gambar 3. 1 UMKM Makanan dan Minuman
Sumber: Atmokoo, 2020
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan badan usaha yang dimiliki dan dijalankan oleh individu, rumah tangga atau badan usaha berukuran mikro kecil dan menengah dengan kriteria tertentu. UKM mempunyai peran yang sangat penting terhadap ekonomi Indonesia. UKM dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar, dimana dalam hal tersebut mampu mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia, menjadi
penyumbang PDB tersbesar, dan berpotensi menjadi penyelamat negara disaat krisis ekonomi karena UMKM relatif tahan terhadap krisis keuangan dan mampu bertahan dalam keadaan apapun.
Undang-undang No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mendefnisikan pengertian UMK, yaitu:
1) Usaha Mikro merupakan usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2) Usaha Kecil merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3) Usaha Menengah merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Sementara itu, kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah menurut Undang- undang No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berdasarkan peredaran usaha dan atau jumlah aktiva yang dimiliki oleh badan usaha yaitu sebagai berikut:
1) Usaha Mikro: Usaha Mikro memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 terbilang (lima puluh juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 terbilang (tiga ratus juga rupiah).
iring berkembangnya zaman, kebiasaan dan kebutuhan masyarakat s
Se emakin
2) Usaha Kecil: Usaha Kecil memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 terbilang (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 terbilang (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 terbilang (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 terbilang (dua milyar lima ratus juta rupiah).
3) Usaha Menengah: Usaha Menengah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 terbilang (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 terbilang (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; dan atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 terbilang (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 terbilang (lima puluh milyar rupiah).
Sumber: v2cconsultant, 2019
Gambar 3. 2 Inforgrafis kriteria UMKM
berkembang seiring dengan berkembangnya kondisi perekonomian masyarakat Indonesia dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang dapat mempengaruhi
konsumsi masyarakat. Saat ini di era Industry 4.0, ekonomi di Indonesia sudah memasuki era ekonomi digital yang dinilai mempunyai potensi yang baik bagi UMKM kedepannya. Para UMKM memanfaatkan ekonomi digital dengan bertransformasi dari bisnis offline ke bisnis online. Hal ini dikarenakan pengguna internet di Indonesia dan transaksi e-commerce di Indonesia yang tinggi. Selain itu, pemanfaatan ekonomi digital juga dapat menjadikan operasi bisnis lebih efektif dan efisien, dapat menjangkau customer lebih luas, dan dapat memasarkan produk secara luas dengan lebih mudah.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah sektor kuliner makanan dan minuman merupakan sektor usaha yang mempunyai potensi yang besar di Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2018 terdapat 1,9 juta usaha pada sektor makanan dan minuman dengan skala usaha mikro dan kecil sebesar 99,6% dari keseluruhan usaha pada sektor makanan dan minuman di Indonesia (Hardum, 2021).
Industri makanan dan minuman merupakan penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) pada industri nonmigas paling besar di Indonesia dengan persentase sebesar 34%. Menurut BPS 2020 dilihat dari statistik e-commerce, produk yang paling banyak terjual melalaui e-commerce pada tahun 2019 yaitu produk makanan, minuman, serta bahan makanan sebesar 30,95% dari total keseluruhan sektor usaha yang dijadikan sampel dalam penelitian (Hardum, 2021).
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bidang makanan dan minuman menjadi sektor usaha dengan jumlah peminat yang paling banyak sebagai peluang bisnis oleh para pelaku usaha di Indonesia. Hal ini disebabkan karena makanan dan minuman telah menjadi kebutuhan pokok kedua (pangan) dalam kehidupan manusia yang harus dipenuhi setelah kebutuhan sandang.
Tren makanan dan minuman yang terus berkembang setiap tahunnya seiring berkembangnya perekonomian masyarakat Indonesia menjadi peluang bisnis bagi para pelaku usaha, dimana tren pada sektor makanan dan minuman yang viral/kekinian di pasaran menjadi pemicu tumbuhnya UMKM baru di sektor
makanan dan minuman. Dengan begitu, bidang usaha pada sektor makanan dan minuman di Indonesia semakin kompetitif dikarenakan jumlahnya yang cukup banyak dan pertumbuhannya yang cukup signifikan.
Dengan tingginya tingkat persaingan bisnis di sektor makanan dan minuman, para pelaku usaha harus menciptakan dan menyusun strategi untuk mencapai keunggulan kompetitif (competitive advantage) dan melakukan inovasi yang dapat di mediasi oleh knowledge creation dan creative destruction untuk memenangkan persaingan bisnis secara global hingga mengembangkan bisnis, baik secara nasional maupun go-internasional serta dapat bertahan di segala kondisi.
Menurut Kementrian Perindustrian Republik Indoensia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bidang makanan dan minuman di Indonesia mempunyai perkembangan yang cukup baik dan menjadi salah satu sektor usaha andalan terhadap perkembangan perekonomian Indonesia. Peningkatan kinerja UMKM selalu positif, mulai dari perannya dalam meningkatkan produktivitas, investasi, ekspor dan penyerapan tenaga kerja. (kemenperin.go.id, 2019).
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartato (2019), menyatakan bahwa “potensi usaha sektor makanan dan minuman di Indonesia bisa menjadi champion, karena supply dan user-nya banyak. Untuk itu, salah satu kunci daya saing di sektor usaha makanan dan minuman adalah food innovation and security”. Menteri Perindustrian optimis, UMKM pada sektor makanan dan minuman dapat melaksanakan terobosan pada inovasi produk. Cara ini dilakukan sebagai upaya pemenuhan selera dan kebutuhan customer, baik dalam negeri maupun luar negeri. (kemenperin.go.id, 2019).
3.2 Desain Penelitian
Desain penelitian yaitu suatu rencana yang memandu peneliti pada proses pengumpulan, analisa dan interpretasi data observasi dalam penelitian (Nachmias
dan Nachmias, 1976). Hal ini dimaksudkan bahwa suatu model pembuktian logis yang memungkinkan peneliti untuk menarik kesimpulan tentang hubungan kausal antar variabel-variabel penelitian.
Menurut Malhotra (2006), desain penelitian merupakan kerangka /blueprint yang digunakan untuk melakukan riset penelitian. Hal tersebut mendeskripsikan tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam penyusunan atau penyelesaian permasalahan yang terjadi dalam melakukan riset penelitian. Desain penelitian yang baik akan membuat riset penelitian berjalan dengan efektif dan efisien.
Sumber: Utari, 2013
Gambar 3. 3 Jenis-jenis Research Design
Berdasarkan gambar 3.3, desain penelitian mempunyai 2 jenis, yaitu Exploratory Design dan Conclusive Design yang dijabarkan sebagai berikut:
1) Exploratory Research Design
Menurut Malhotra (2006), tujuan utama dari Exploratory Research Design adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai masalah yang peneliti
hadapi. Exploratory Research Design digunakan pada penelitian mengenai permasalahan yang memerlukan definisi masalah dengan tepat, mengidentifikasi tindakan yang relevan, atau mendapatkan wawasan tambahan sebelum suatu pendekatan dapat dikembangkan. Proses penelitian bersifat fleksibel dan tidak terstruktur. Data primer yang dihasilkan bersifat kualitatif dan temuannya hanya bersifat sementara sehingga membutuhkan penelitian eksplorasi lebih lanjut.
2) Conclusive Research Design
Menurut Malhotra (2006), Conclusive Research Design digunakan sebagai pengujian hipotesis tertentu dan menguji korelasi antar variabel-variabel penelitian.
Karakteristik desain penelitian conclusive yaitu informasi yang dibutuhkan dalam penelitian didefinisikan dengan jelas, proses penelitian bersifat formal dan terstruktur, membutuhkan sampel dalam jumlah yang besar dan respresentatif, dan analisa yang dihasilkan bersifat kuantitatif. Conclusive design dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut:
A. Descriptive Research
Descriptive Research merupakan sebuah metode yang digunakan dalam suatu penelitian untuk mendeskripsikan objek, seperangkat kondisi, status sekelompok orang, sistem pemikiran ataupun kelas peristiwa pada masa kini (Nazir, 1998). Jenis penelitian deskriptif yaitu (1) metode survei, (2) metode deskriptif kontinuitas, (3) penelitian studi kasus, (4) penelitian analisa pekerjaan dan aktivitas, (5) penelitian tindakan, (6) penelitian perpustakaan, dan (7) penelitian komparatif.
B. Causal Research
Causal Research adalah salah satu kegiatan penelitian dimana peneliti berusaha menemukan informasi mengenai mengapa hubungan sebab akibat terjadi dan peneliti berusaha menelusuri kembali hubungan-hubungan tersebut. Causal research dimulai dengan adanya investigasi permasalahan penelitian, dilanjutkan dengan menentukan tujuan dan manfaat dari penelitian yang dilakukan, dilanjutkan dengan kajian pustaka, setelah itu mengidentifikasi variabel independen dan variabel terkait, dan langkah
selanjutnya adalah menentukan metode penelitian dengan menggunakan metode statistik yang relevan (Sukardi, 2003).
Pada penelitian ini, penulis menggunakan conclusive design research jenis descriptive research dimana pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah melalui metode survei dengan kuesioner. Hal ini dikarenakan dalam penelitian penulis ingin melakukan pengujian hubungan antar variabel yang digunakan dan data yang dihasilkan berupa data kuantitatif. Metode survei yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan cara menyebarkan kuesinoer kepada responden, yaitu UKM sektor makanan dan minuman di Jabodetabek yang pernah melakukan inovasi/perubahan, dilakukan secara online dengan menggunakan Google Forms dimana responden akan menjawab seluruh pertanyaan yang terdapat pada kuesioner dengan skala penilaian satu sampai lima berdasarkan tanggapan responden terhadap pertanyaan dalam kuesioner.
3.3 Data Penelitian (Research Data)
Menurut Malhotra (2010), Data terbagi dalam dua jenis, yaitu:
1. Data Primer
Data penelitian yang diperoleh dari peneliti sendiri untuk tujuan tertentu dalam menjawab permasalahan yang dihadapi oleh peneliti dalam penelitian. Hasil jawaban dari para responden yang menjadi target populasi akan diolah dan hasilnya dijadikan sebagai pengambil keputusan atas permasalahan yang terjadi dalam penelitian. Dalam pengambilan data primer biasanya memakan waktu yang lebih lama dan lebih susah dibandingkan data sekunder dan bisa membutuhkan biaya yang cukup mahal.
2. Data sekunder
Data penilitian yang telah dikumpulkan untuk sejumlah tujuan selain masalah yang penulis hadapi dalam melakukan penelitian. Pengambilan data sekunder lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan pengambilan dengan data primer. Selain itu, data
sekunder juga biaya yang dikeluarkan dalam mendapatkan lebih murah dibandingkan dengan data primer.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data primer sebagai sumber data utama. Penulis mengumpulkan data primer secara langsung dengan melaksanakan survei kepada responden sesuai dengan target populasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online dan offline dan dibagikan kepada target populasi.
3.4 Ruang Lingkup Penelitian
Terdapat 6 tahapan proses pengambilan sampel dalam penelitian, dimulai dari menentukan target populasi, menentukan kerangka sampel, memilih teknik pengambilan sampel, menentukan ukuran sampel, melakukan proses eksekusi sampling, dan terakhir melakukan validasi sampel (Mahotra, 2006).
Sumber: (Malhotra, 2006)
Gambar 3. 4 Sampling Design
3.4.1 Target Populasi
Target populasi yaitu kumpulan item atau objek yang mengandung informasi yang dicari oleh peneliti dan kesimpulan yang harus dibuat dalam penelitian
(Malhotra, 2006). Target populasi harus didefinisikan dengan tepat karena dapat mempengaruhi hasil penelitian. Target populasi harus didefinisikan dalam hal elements, unit sampling, wilayah, dan waktu. Target populasi dalam penelitian ini yaitu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sektor makanan dan minuman di daerah Jabodetabek yang sudah pernah melakukan inovasi sebelumnya.
3.4.2. Sampling Frame
Sampling frame adalah representasi dari item-item populasi sasaran. Hal ini terdiri dari daftar atau rangkaian petunjuk untuk menentukan populasi sasaran, contohnya buku telepon, database pelanggan, peta, direktori kota, direktori asosiasi yang mencantumkan perusahaan dalam suatu industri, daftar email, dll (Malhotra, 2006). Dalam penelitian ini, tidak ada sampling frame karena peneliti tidak memiliki daftar target populasi atau data untuk mengidentifikasi target populasi pada penelitian ini, yaitu UMKM sektor makanan dan minuman di Jabodetabek yang pernah melakukan perubahan/inovasi.
3.4.3. Sampling Unit
Menurut Malhotra (2006), Sampling Unit adalah item atau unit yang berisi item yang dapat dipilih pada beberapa tahap proses sampling. Sampling unit pada penelitian ini adalah UMKM yang telah memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Mempunyai usaha UMKM di sektor makanan dan minuman 2. Sudah pernah melakukan inovasi sebelumnya
3. Berada di wilayah JABODETABEK
4. Memenuhi kriteria UMKM (Usaha Kecil Mikro dan Menengah) sebagaimana telah dijelaskan pada 3.1.
3.4.4. Teknik Sampling
Menurut Malhotra (2006), sampling mempunyai 2 teknik, yaitu sebagai berikut:
1. Non-probability sampling
Non-probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak menggunakan prosedur pemilihan, dimana pengambilan sampling didasarkan dari pendapat ataupun penilaian pribadi peneliti sesuai dengan kriteria. Dalam teknik ini peneliti dapat memutuskan secara bebas dan sepihak elemen apa saja yang akan dimasukkan kedalam sampel. Pada teknik ini tidak semua elemen populasi memiliki peluang yang sama untuk dijadikan sebagai sampling.
2. Probability sampling
Probability sampling adalah prosedur pengambilan sampel di mana setiap elemen populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel yang mewakili responden pada populasi dalam penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik sampling non-probability dimana penulis menentukan sendiri responden dalam melakukan penelitian berdasarkan dengan kriteria dan pendapat penulis. Selain itu, dalam melakukan penelitian penulis juga tidak memiliki data responden sesuai dengan kriteria responden yang telah ditentukan oleh penulis, dan tidak semua item memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden dalam populasi.
Menurut Malhotra (2006), terdapat empat teknik Non-probability sampling, yaitu sebagai berikut:
1. Convenience Sampling
Convience sampling merupakan teknik pengambilan elemen sampling yang mencoba untuk mendapatkan data sampel yang sesuai dengan cara yang nyaman bagi responden. Pada teknik ini, pemilihan unit sampling dalam penelitian ditentukan oleh pewawancara/penulis. Selain itu, teknik ini tidak membutuhkan biaya yang mahal dan tidak membutuhkan banyak waktu pelaksanaan.
2. Judgmental Sampling
Judgmental Sampling adalah bentuk dari convience sampling dimana elemen- elemen populasi dipilih berdasarkan penilian peneliti sesuai dengan kriteria- kriteria. Setelah itu peneliti akan menentukan dan memilih elemen-elemen yang sudah sesuai dengan kriteria-kirteria kedalam sampel karna dinilai elemen-elemen tersebut dapat mewakili populasi.
3. Quota sampling
Quota sampling adalah teknol pengambilan sampel non-probability yang merupakan pengambilan sampel dengan dua tahap. Langkah pertama adalah menentukan kuota item populasi, dan langkah kedua adalah pemilihan item poulasi menggunakan teknik sampling convenience atau judgmental.
4. Snowball Sampling
Snowball Sampling adalah teknik pengambilan sampel non-probabilitas di mana sekelompok responden awal dipilih secara acak oleh penulis yang terdiri dari beberapa individu sesuai dengan karakteristik sampel dalam penilitian. Setelah itu, peneliti akan meminta responden awal untuk memberikan informasi dan referensi kepada responden selanjutnya yang sesuai dengan karakteristik sekelompok responden awal.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik non-probability sampling judgmental sampling, penulis memilih dan menentukan elemen-elemen populasi berdasarkan penilian peneliti sesuai dengan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi sampel dalam penelitian.
3.4.5 Sampling Size
Menurut Malhotra (2006), sampling size mengacu pada jumlah elemen yang akan dimasukkan dalam penelitian. Dalam menentukan sampling size melibatkan beberapa pertimbangan kaulitatif dan kuantitatif. Sifat penelitian juga berdampak pada ukuran sampel. Untuk desain penelitian eksplorasi, seperti menggunakan penelitian kualitatif, ukuran sampelnya relatif kecil serta data yang diperlukan dalam sampel pada sejumlah variabel yang dikumpulkan relatif sedikit. Untuk
penelitian konklusif seperti descriptive research diperlukan sampel yang lebih besar dan data pada sejumlah varibel yang dikumpulkan serta data yang diperlukan dalam sampel pada sejumlah variabel, yaitu berupa pertanyaan yang diajukan dalam survei juga relatif lebih besar.
Dalam penelitian ini, dimana peniliti menggunakan penelitain konklusif descriptive research, peniliti menentukan sampling size dari jumlah pertanyaan (indikator) pada kuseioner yang digunakan dalam survei dan membuat minimal 5 observasi untuk setiap variabel dalam penelitian. Setelah itu, seluruh pertanyaan (indikator) ditetapkan dengan rumus n (jumlah indikator) x 5 observasi. Dalam penelitian ini jumlah indikator adalah sebanyak 16. Dengan demikian, jumlah sampel minimal dalam penelitian ini adalah 16 x 5, yaitu sebanyak 80 responden.
3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Periode Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini peneliti membutuhkan waktu kurang lebih 5 bulan dimulai sejak bulan Agustus 2021 sampai Desember 2021. Dalam kurun waktu tersebut peneliti melakukan pencarian fenomena atau permasalahan yang akan dijadikan judul dalam penelitian dengan mencari jurnal utama, perumusan masalah penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, dan diakhiri dengan membuat kesimpulan dan saran. Penyebaran kuesioner dilakukan pada tanggal 3 - 30 November 2021.
3.5.2 Pengumpulan Data
Pada penelitian ini terdapat dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder.
Data primer dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan secara online.
Kuesioner tersebut dibuat dengan menggunakan Google Forms sebagai media untuk melakukan survei. Kusioner dapat diakses melalui tautan https://docs.google.com/forms/d/1vsl4DC0u8kG8eRZUfyG5xuEs7df4wgCnuhAh 4UOQmPk/viewform?fbzx=6733583568002033774&edit_requested=true#respon ses. kuesioner disebarkan secara online malalui beberapa cara, yaitu Instagram
stories, penyebaran secara personal melalui chat Line dan Whatsapp, pencantuman tautan di bio Instagram, dan meminta tolong kepada teman untuk menyebarkan kuesioner sesuai dengan kriteria responden sebagai sampel. Untuk data sekunder didapatkan melalui artikel yang dapat diakses melalui internet, jurnal, berita-berita terkait dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor makanan dan minuman, serta melalui buku-buku terkait yang dapat diakses melalui internet.
3.5.3 Proses Penelitian
Terdapat beberapa tahapan proseses penelitian dalam melakukan penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Mencari fenomena atau masalah yang akan dijadikan sebagai judul penelitian kemudian melakukan analisa terhadap fenomena tersebut dengan data-data sekunder dari artikel, jurnal-jurnal, literatur dan berita di internet yang mendukung penelitian.
2. Mengumpulkan data sekunder dari artikel, jurnal-jurnal, literatur dan berita di internet yang mendukung penelitian untuk membuat kerangka penelitian dan hipotesis penelitian.
3. Menentukan metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian dimulai dari menentukan research design, model penelitian, definisi operasional variabel, proses sampling, dan teknik analisis data berdasarkan literatur dan buku sebagai data sekunder.
4. Menyusun measurement tiap variabel berdasarkan jurmal utama dan jurnal pendukung dan menyesuaikannya dengan penelitian supaya sesuai dengan objek penelitian.
5. Melakukan pre-test melalui kuesioner Google Forms dengan 30 responden pertama untuk menguji apakah measurement sudah sesuai, dimngerti oleh responden dan layak untuk dipakai dalam penelitian dengan melakukan uji validitas dan reabilitas.
6. Melakukan perbaikan terhadap kusioner yang tidak dimengerti oleh responden dan tidak layak untuk dipakai dalam penelitian sesuai dengan hasil pre-test dengan melakukan penyebaran kuesioner.
7. Menyebarkan kuesioner kembali dan menyebarkannya kepada responden yang memenuhi kriteria sebagai sampel dalam penelitan dan sesuai dengan jumlah sampel minimum.
8. Mengolah data primer yang sudah diadapatkan melalui penyebaran kuesioner dengan teknik regresi menggunakan IBM SPSS dengan mengukur measurement model dan structural model.
9. Melakukan analisis data penelitian dan membuat kesimpulan serta saran dalam penelitian.
3.6. Identifikasi Variabel Penelitian
Menurut Malhotra (2006), terdapat dua jenis variabel penelitian, yaitu variabel observasi dan variabel laten. Variabel observasi adalah variabel yang dapat diukur dan diamati secara langsung dalam penelitian untuk mendapatkan data dalam kepentingan penelitian, misalnya seperti indikator-indikator kuesioner. Observed variable juga disebut sebagai indicator variable, manifest variable, dan measured variable. Dalam penelitian ini, terdapat 16 variabel teramati atau dapat disebut sebagai indicators.
Latent variable merupakan variabel yang tidak teratamati atau tidak terukur secara langsung namun dapat diukur melalui beberapa indikator. Variabel seperti ini sering disebut sebagai “faktor” atau “faktor umum”, yang berarti variabel laten dianggap mendasari observed variable dan dapat mempengaruhi hasil atau nilai yang diambil dari observed variable.
3.7 Operasional Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat 4 variabel, yaitu creative destruction, knowledge creation, innovation speed, dan competitiveness. Pada setiap variabel penelitian terdapat indikator-indikator untuk mengukur setiap variabel penelitian. Definisi
variabel penelitian didasarkan pada teori-teori penelitian sebelumnya. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert 5 poin. Semua penelitian diukur pada skala 1 sampai dengan skala 7. Skala 1 menunjukkan bahwa responden sangat tidak setuju dengan pernyataan pada kuesioner dan skala 5 menunjukkan bahwa responden sangat setuju dengan pernyataan pada kuesioner.
Tabel 3. 1 Tabel Operasional Penelitian
No. Variabel Indika tor
Definisi Operasional
Variabel
Measurement Source
1. Creative Destruction
CD 1
Creative
destruction adalah suatu cara dimana produk dan proses tertentu diganti dengan produk yang lebih berkualitas dan metode produksi yang lebih efisien dengan tujuan untuk
meningkatkan produktivitas sebagai dasar kemampuan perusahaan dalam bersaing
Dengan merealisasikan inovasi, kami dapat
menurunkan biaya produksi.
Freel (2006);
Bosma et.al., (2011) CD 2
Dengan merealisasikan inovasi, kami dapat
menghasilkan kualitas produk yang lebih baik.
CD 3
Dengan merealisasikan inovasi, kami dapat
meningkatkan skill pekerja kami.
Mckeown (2008)
CD 4
Inovasi yang kami
realisasikan dapat
memberikan layanan terbaik kepada
konsumen.
2. Knowledge Creation
KC 1
Knowledge creation adalah proses penciptaan kondisi dimana ide-ide kreatif dapat muncul dari individu melalui organisasi.
Knowledge merupakan salah satu faktor penting
pendorong adanya ide produk/proses baru.
Dengan merealisasikan inovasi, kami menciptakan pengetahuan baru dalam
bisnis kami. Nonaka dan Takeuci
(1995) KC 2
Dengan
merealisasikan inovasi, kami dapat
membagikan pengetahuan kepada pekerja atau mitra bisnis.
KC 3
Dengan penciptaan pengetahuan baru, bisnis kami memiliki nilai tambah.
KC 4
Dengan penciptaan pengetahuan baru, bisnis kami memiliki prosedur / SOP yang lebih baik.
Richard et.al., (1993)
3. Innovation Speed
IS 1
Kecepatan inovasi adalah waktu yang dibutuhkan antara penemuan ide inovasi sampai keberhasilan produk memasuki pasar. semakin cepat sebuah perusahaan
berinovasi, maka perusahaan akan memperoleh keunggulan kompetitif dan meningkatkan daya saingnya.
Kami
merealisasikan ide inovasi lebih cepat dari yang kami rencanakan.
Kessler dan Cakrabrti
(1996) IS 2
Kami
meluncurkan produk baru ke pasar sesuai yang
direncanakan.
IS 3
Saat ini, kami merealisasikan ide inovasi lebih cepat dari ide inovasi sebelumnya.
Alocca dan Kessler
(2006)
IS 4
Saat ini, kami merealisasikan ide inovasi
lebih cepat dari pesaing kami.
4. Competitiveness
C1
Competitiveness adalah
kemampuan untuk menciptakan produk dengan proses teknologi unik untuk menciptakan nilai tambah yang tinggi sesuai dengan kebutuhan pelanggan dengan biaya rendah, produktivitas tinggi untuk meningkatkan keuntungan.
Persaingan bisnis saat ini yang sangat ketat menjadi tantangan bagi para pelaku bisnis untuk tetap bertahan dalam persaingan
tersebut.
Dengan
merealisasikan inovasi, kami dapat
meningkatkan keuntungan (laba) dalam binis kami.
Porter (2008)
C2
Dengan
merealisasikan inovasi, kami dapat
menawarkan produk dengan kualitas yang lebih baik sesuai dengan harapan
customer.
C3
Dengan
merealisasikan inovasi, kami dapat mencapai target
produksi. Artanti et.al., (2019) C4
Dengan merealisasikan inovasi, kami
dapat
meningkatkan jumlah
produksi.
3.8 Teknik Analisis Data
3.8.1 Metode Analisis Data Dengan Menggunakan Faktor Analisis
Menurut Malhotra (2010), Analisis faktor adalah nama umum untuk jenis prosedur yang digunakan untuk memeriksa keteregantungan antar variabel serta reduksi dan peringkasan data dalam sebuah penelitian. Hubungan antar kumpulan variabel yang laing terkait diperiksa dan dipresentasikan dalam beberapa faktor yang mendasarinya. Faktor analisis memungkinkan peneliti untuk melihat kelompok variabel yang cenderung berkorelasi satu sama lain dan mengidentifikasi dimensi yang mendasari dan menjelaskan korelasi antar variabel. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis faktor untuk mengolah data pre-test menggunakan aplikasi IBM SPSS. Analisis data tersebut dilakukan dengan melakukan uji validitas dan uji reabilitas.
3.8.1.1. Uji Validitas
Menurut Malhotra (2010), validitas didefinisikan sebagai sejauh mana perbedaan yang diamati dalam skala mencerminkan perbedaan aktual antara objek pada sifat/objek yang diukur, dibandingkan dengan kesalahan sistematis atau random erors (acak). Validitas sempurna berarti tidak ada kesalahan measurement dalam penitian. Penliti dapat menilai content validity (jenis validitas yang terdiri dari evaluasi subjektif tetapi sistematis dari perwakilan isi skala untuk pengukuran yang ada), criterion validity (sejenis validitas yang menguji apakah skala berperilaku seperti yang diharapkan terhadap variabel lain yang dipilih sebagai kriteria bermakna), atau construct validity (jenis validitas yang menjawab pertanyaan tentang konstruk atau karakteristik apa yang diukur oleh skala). Pada
penilitian ini menggunakan tipe validitas contrusct validity. Selain itu, dalam melakukan uji validitas dalam penelitian ini menggunakan aplikasi IBM SPSS, dimana data diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada target populasi, yaitu UMKM sektor makanan dan minuman di daerah Jabodetabek yang pernah melakukan inovasi sebelumnya.] Untuk mengukur validitas ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
Tabel 3. 2 Ukuran Uji Validitas Data
No. Ukuran Validitas Nilai Diisyaratkan
1. Bartlett’s test of sphericity
Pengujian statistik membantu untuk menguji hipotesis bahwa variabel tidak berkorelasi dalam populasi (Malhotra, 2010).
Nilai (r=1); (r=0)
Setiap variabel memiliki korelasi yang sempurna dengan dirinya sendiri (r = 1) tetapi tidak ada korelasi dengan variabel lainnya (r = 0) (Malhotra, 2010).
2. Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) measure of sampling adequacy
Indeks yang digunakan untuk memeriksa kelayakan analisis faktor (Malhotra, 2010).
Nilai KMO ≥ 0,5
Nilai yang tinggi (dari 0,5 hingga 1,0) menunjukkan analisis faktor yang tepat. Nilai < 0,5 menunjukkan bahwa analisis faktor tidak memadai dalam hal jumlah sampel dan korelasi antar variabel penelitian (Malhotra, 2010).
3. Factor Loadings of Component Matrix
Korelasi sederhana antara variabel dan faktor (Malhotra, 2010).
Factor Loadings > 0,5
Nilai yang direkomendasikan supaya suatu indikator penelitian dinyatakan valid yaitu memiliki nilai > 0,5 dan nilai ideal yang direkomendasikan yaitu > 0,7 (Malhotra, 2010).
4. Anti-image Correlation Matrix
Matriks korelasi antar variabel yang menjelaskan apakah suatu faktor/variabel dapat menjelaskan faktor/variabel lain dalam survei yang dilakukan setelah dilakukan analisis faktor (Hair et al., 2014).
MSA ≥ 0,5
Nilai MSA harus berada di angka 0,5 supaya suatu indikator penelitian dinyatakan valid. Jika terdapat variabel penelitian yang mempunyai nilai < 0,5 harus dihilangkan dari analisis faktor karena tidak dapat dianalisis lebih lanjut (Hair et.al., 2014).
3.8.1.2 Uji Reliabilitas
Menurut Malhotra (2010), reabilitas mengacu pada sejauh mana skala memberikan hasil yang konsisten jika pengukuran berulang dilakukan. Reabilitas juga dapat didefinisikan sebagai sejauh mana suatu pengukuran bebas dari kesalahan acak (XR) dalam suatu penelitian. Jika XR = 0, pengukuran sangat reliabel. Reabilitas dinilai dengan menentukan tingkat perubahan sistematis dalam skala. Hal ini dilakukan dengan menentukan hubungan antara skor yang diperoleh pada tata kelola yang berbeda. Jika korelasi antara skor tinggi, maka skala memberikan hasil yang konsisten dan dapat diandalkan.
Pendekatan untuk menilai reabilitas termasuk pengujian ulang (suatu pendekatan untuk menilai realibitas di mana responden menerima set skala yang identik pada dua titik waktu yang berbeda dibawah kondisi yang hampir setara),
bentuk alternaif (pendekatan untuk menilai reabilitas membutuhkan dua bentuk skala yang setara yang akan dibangun, setelah responden yang sama diukur pada dua titik waktu yang berbeda satu sama lain), dan metode internal consistency reability methods (suatu pendekatan untuk mengavaluasi konsistensi internal dari satu set item ketika beberapa item ditambahkan bersama untuk membentuk skor total pada skala). Ukuran internal consistency reability mempunyai dua metode, yaitu split-half reability dan coefficient alpha.
3.8.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk mengetahui apakah dalam uji regresi terdapat adanya multikolonieritas, heteroskedastisitas, normalitas, dan autokorelasi.
Menurut Ghozali (2018), regresi dengan metode estimasi Ordinary Least Squares (OLS) akan memberikan hasil yang Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) jika memenuhi semua asumsi klasik.
3.8.2.1 Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji suatu model regresi apakah terdapat korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2018). Model regresi yang baik adalah tidak adanya korelasi atau tidak ditemukan adanya multikolonieritas antar variabel bebas (independen). Jika variabel independen saling berkorelasi / ditemukan adanya multikonolonieritas, maka variabel-variabel independen tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independent yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol. Ada tidaknya multikolonieritas dapat dilihat dari nilai tolerance sebesar ≤ 0.10 dan koefisien variance inflation factor (VIF) ≥ 10 (Ghozali, 2018).
3.8.2.2 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji model regresi apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya (Ghozali, 2018). Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut
Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homokedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas. Ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilihat dari grafik plot, dimana jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka model regresi terindentifikasi telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2018).
3.8.2.3 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah suatu model regresi, variabel penganggu atau residual berdistribusi normal (Ghozali, 2018). Uji normalitas bisa diketahui dengan melihat grafik histogram dari residualnya. Uji t statsitik dan uji f statistik mengasumsikan bahwa nilai residual berdistribusi normal.
Jika asumsi ini dilanggar, maka uji statistik pada uji normalitas akan menjadi tidak valid untuk ukuran sampel yang kecil (Ghozali, 2018). Jika data menyebarluas di sekitar diagonal dan searah garis diagonal, atau jika grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika tampilan grafik histogram menunjukkan pola yang menceng (skewness) atau menjauh dari diagonal, hal tersebut melanggar asumsi normalitas dan data residual tidak berdistribusi normal (Ghozali, 2018).
3.8.3 Uji Model
3.8.3.1. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) digunakan untuk menguji seberapa jauh model penelitian dapat menjelaskan variabel-variabel dependen (Ghozali, 2018). Nilai koefisien determinasi yaitu berada diantara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil mengartikan bahwa kemampuan variabel-variabel dependen sangat terbatas. Nilai R2 yang mendekati satu mengartikan bahwa variabel-variabel bebas dapat menjelaskan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi perubahan variabel terikat (Ghozali, 2018). Uji regresi pada penelitian ini menggunakan Adjusted R Square dimana jika variabel independen meningkat, maka nilai Adjusted R Square
dapat dikurangi atau ditingkatkan. Selain itu, jika terdapat nilai Adjusted R Square yang disesuaikan negatif, maka nilai Adjusted R Square yang disesuaikan dianggap nol dalam uji regresi ini (Ghozali, 2018).
3.8.4. Uji Hipotesis
3.8.4.1. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Uji signifikansi simultan atau uji statistik F bertujuan untuk menguji apakah semua variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat (Ghozali, 2018). Uji statistik F dapat dilihat berdasarkan nilai F hitung atau signifikansi. Jika nilai F hitung lebih besar dari F tabel atau nilai signifikan < 0,05, maka dapat diartikan bahwa semua variabel independen secara umum memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2018).
3.8.4.2 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik T)
Uji T-statistik bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel independen individual dalam menjelaskan variabilitas variabel dependen. Uji T statistic dapat dipertimbangkan berdasarkan angka T hitung atau nilai signifikansi.
Jika nilai T hitung lebih besar dari nilai T tabel atau jika nilai signifikan < 0,05, maka dapat diartikan bahwa semua variabel independen secara umum memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2018). Nilai T tabel pada penelitian ini yaitu 1,991.
3.8.5 Uji Mediasi
Variabel intervening adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat menjadi suatu hubungan yang tidak dapat diamati, tidak langsung, dan tidak terukur (Sugiyono, 2007). Variabel intervening menjadi variabel perantara antara variabel bebas (independen) dan variabel bebas (dependen), sehingga variabel bebas (independen) tidak secara langsung mempengaruhi munculnya atau berubahnya variabel terikat (dependen) (Sugiyono, 2007). Uji mediasi dalam penelitian ini menggunakan Sobel Test untuk mengetahui mediasi yang terjadi pada penlitian ini merupakan mediasi sempurna atau mediasi
parsial. Sobel dilakukan dengan memasukan nilai ta dan tb yang dihasilkan dari perhitungan analisa regresi.
3.8.6 One-Tailed Test
Menurut Malhotra (2010), one-tailed test merupakan pengujian null hypothesis/H0 (sebuah pernyataan dimana tidak ada perbedaan atau efek yang diharapkan. Jika hipotesis null ditolak, tidak ada perubahan yang akan dilakukan) dimana hipotesis alternatif (pernyataan bahwa beberapa perbedaan atay efek diharapkan. Menerima hipotesis alternatif akan menyebabkan peubahan pendapat atau Tindakan) dinyatakan tearah.
3.8.7 Two-Tailed Test
Menurut Malhotra (2010), two-tailed test merupakan pengujian null hypothesis/H0 (sebuah pernyataan dimana tidak ada perbedaan atau efek yang diharapkan. Jika hipotesis null ditolak, tidak ada perubahan yang akan dilakukan) dimana hipotesis alternatif (pernyataan bahwa beberapa perbedaan atay efek diharapkan. Menerima hipotesis alternatif akan menyebabkan peubahan pendapat atau Tindakan) tidak dinyatakan secara terarah.
Dalam penelitian ini menggunakan One-Tailed Test, hal ini dikarenakan hipotesis alternatif dinyatakan secara terarah, dimana jika null hypothesis/H0 dalam penelitian ini ditolak, maka hipotesis alternatif H1 akan diterima.