• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISIS DATA Gambaran Umum Film Eat, Pray, & Love Poster Film Eat, Pray, & Love

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISIS DATA Gambaran Umum Film Eat, Pray, & Love Poster Film Eat, Pray, & Love"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

33

Universitas Kristen Petra

4. ANALISIS DATA

4.1. Gambaran Umum Film Eat, Pray, & Love 4.1.1. Poster Film Eat, Pray, & Love

Gambar 4.1. Theatrical Release Poster Eat, Pray & Love Sumber: http://www.accesshollywood.com

(2)

34

Universitas Kristen Petra 4.1.2. Profile Film Eat, Pray & Love

“Eat, Pray & Love” adalah judul film yang diangkat ke layar lebar berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh Elizabeth Gilbert dan dibuat menjadi sebuah novel. Film ini menjadi perbincangan di masyarakat karena dibintangi oleh aktris terkenal Julia Roberts. Selain itu, yang menjadi faktor lainnya adalah karena penjualan novelnya yang mencapai 5 juta kopi di seluruh dunia dan mendapat predikat novel paling laris dari American Booksellers Association.

Novelnya sendiri masuk dalam New York Times Best Seller selama 110 minggu pada awal tahun 2006 (www.21cineplex.com).

Menurut website resmi “Eat, Pray, & Love”, Film “Eat, Pray & Love”

dapat dikategorikan sebagai Travelling Movie dengan balutan drama cinta ala Hollywood. Film yang berdurasi 133 menit ini dimulai dengan setting tempat Kota New York, Amerika Serikat dan berakhir di Bali, Indonesia. Di dalam film ini, penonton disuguhkan pemandangan ala kota Italia dan India yang nyaman dan penuh dengan torehan sejarah. Pada akhirnya adalah penggambaran Bali yang terkenal akan keindahan alamnya tanpa campur tangan teknologi. Film ini bercerita tentang perjalanan seorang perempuan yang mengelilingi dunia, yaitu Italia, India, dan Bali untuk menemukan jati dirinya setelah perceraian ini juga merupakan film yang sangat ditunggu di Indonesia. Hal ini tidak lain karena mengambil keindahan Bali sebagai salah satu lokasi syuting film yang diarahkan oleh sutradara Ryan Murphy (Eat, Pray, & Love 2010).

Sementara banyak film besar Hollywood mengambil tema fiksi, bintang- bintang “Eat, Pray, & Love”, seperti aktris Julia Roberts dan Javier Bardem mengatakan film mereka berbeda karena diangkat dari kisah nyata. Dan dalam beberapa hal diakui Julia dan Bardem, film ini telah mengubah kehidupan mereka sendiri. “Film ini bercerita tentang orang yang mencoba menghadapi keraguan, ketakutan, kegelisahan dan berbicara pada semua orang,” jelas mereka lagi seperti diberitakan oleh Reuters. Tidak ketinggalan adalah bintang tamu dalam film ini, Hadi Subiyanto yang memerankan salah satu tokoh sentral Ketut Liyer. Hadi Subiyanto mampu menjalankan peran Ketut Liyer dengan natural, walaupun harus beradu akting dengan peraih Oscar, Julia Robert (www.21cineplex.com).

(3)

35

Universitas Kristen Petra 4.1.3. Daftar Para Pemeran dan Kru Film Eat, Pray & Love

Daftar para kru yang terlibat dalam pembuatan film “Eat, Pray, & Love”

adalah sebagai berikut : Ryan Murphy sebagai sutradara ; Brad Pitt, Dede Gardner, Jeremy Kleiner, Julia Roberts, Stan Wlodkowski, Tabrez Noorani sebagai produser ; Ryan Murphy dan Jennifer Salt sebagai penulis naskah dibantu oleh Elizabeth Gilbert sebagai penyesuaian dengan versi novel ; Dario Marianelli sebagai penata musik ; Sinematografi oleh Robert Richardson ; kemudian penyunting gambar oleh Bradley Buecker.

Adapun para pemain dalam film “Eat, Pray, & Love” sebagai berikut.

Julia Roberts sebagai Elizabeth Gilbert. Javier Bardem sebagai Felipe, pria dimana Gilbert jatuh cinta saat ia berpetualang. Billy Crudup sebagai Steven, suami resmi Gilbert. Richard Jenkins sebagai Richard, pria yang berteman dengan Gilbert di sebuah asrama di India. Viola Davis sebagai Delia, sahabat Gilbert.

James Franco sebagai David. Sophie Thompson sebagai Corella. Christine Hakim sebagai Wayan, sahabat Gilbert di Bali. Hadi Subiyanto sebagai Ketut Liyer, penasehat spiritual Gilbert di Bali. Tuva Novotny sebagai Sofi, sahabat Gilbert di Roma. Luca Argentero sebagai Giovanni. Giuseppe Gandini sebagai Luca Spaghetti. Rushita Singh sebagai Tulsi, sahabat Gilbert di sebuah asrama di India.

Anakia Lapae sebagai Tutti, anak perempuan Wayan. Arlene Tur sebagai Armenia, sahabat Wayan.

4.2. Sinopsis Film Eat, Pray & Love

Dikisahkan, memasuki usia tiga puluh tahun Elizabeth Gilbert (Liz) telah mendapatkan semua yang diinginkan seorang wanita Amerika Serikat modern.

Selain seorang suami dan sebuah rumah, Liz yang ambisius dan terpelajar juga punya karir yang cemerlang sebagai penulis. Liz dikirim oleh tempat dimana ia bekerja untuk menulis artikel di Bali. Di Bali, ia diberitahu oleh salah satu temannya untuk bertemu dengan Ketut Liyer. Ketut Liyer adalah seorang penasihat spiritual yang terkenal di Bali. Sesampainya di rumah Ketut Liyer, Liz memperkenalkan diri sebagai seorang penulis artikel di sebuah majalah.

(4)

36

Universitas Kristen Petra Gambar 4.2 Liz sedang memperkenalkan dirinya sebagai penulis.

Setelah bertemu dengan Ketut Liyer, Liz meminta kepada Ketut Liyer untuk meramal kehidupan rumah tangganya. Saat meramal, Ketut Liyer mengatakan bahwa Liz adalah seorang world traveler atau penjelajah dunia.

Gambar 4.3 Ketut Liyer mengatakan bahwa Liz adalah seorang world traveler.

Kemudian Ketut Liyer juga mengatakan bahwa Liz akan berada di dua pernikahan dimana satunya berumur panjang dan yang lainnya berumur pendek.

Saat Liz bertanya kepada Ketut Liyer apakah dia sedang berada pernikahan yang berumur panjang atau pendek, Ketut Liyer tidak bisa memberitahunya. Lalu Ketut Liyer juga mengatakan bahwa Liz akan kembali lagi ke Bali dan ia diramalkan bahwa hartanya akan habis.

(5)

37

Universitas Kristen Petra Gambar 4.4 Ketut Liyer sedang meramal Liz.

Setelah enam bulan Liz menetap di Bali untuk menulis artikelnya, Liz kembali ke negara asalnya, yaitu New York, Amerika Serikat. Bukannya bahagia, ia justru menjadi panik, sedih, dan bimbang menghadapi kehidupan rumah tangganya. Ia memutuskan untuk bercerai dengan Steven, suaminya. Awal mulanya Steven menolak perceraian itu, bahkan mereka sempat bertengkar hebat.

Tetapi setelah beberapa waktu akhirnya Steven menyetujui perceraian itu. Liz merasakan pedihnya perceraian, depresi, kegagalan cinta, dan kehilangan pegangan dalam hidupnya.

Gambar 4.5 Liz sedang menangis merasakan kehidupan rumah tangganya dengan Steven.

Di saat hubungan dengan suaminya tidak harmonis, Liz bertemu dengan David (seorang seniman) di sebuah acara teater. Kemudian setelah acara selesai, Liz pergi ke sebuah club dan bertemu kembali dengan David. Di situ mereka saling berkenalan dan mulai tertarik satu sama lain. Lalu akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan. Beberapa waktu mereka lalui bersama, mereka terlihat sangat bahagia. Sampai suatu saat mereka bertengkar karena suatu

(6)

38

Universitas Kristen Petra masalah. Masalah itu tidak lain karena David tidak mau diajak berhubungan seks dengan Liz. Liz merasa David sudah berubah. Selain itu, Liz juga kesal dengan sikap David yang selalu lari dari masalah. Sedangkan Liz berkeinginan apabila terjadi suatu masalah bisa dibicarakan baik-baik.

Gambar 4.6 Liz terlihat bahagia saat berjalan bersama David.

Saat hubungannya dengan David mulai terguncang karena beberapa masalah, Liz pun mengambil langkah yang cukup ekstrim. Ia merasa harus berubah untuk memulihkan dirinya. Lalu ia berencana untuk meninggalkan pekerjaan dan orang-orang yang dikasihinya untuk melakukan petualangan seorang diri.

Gambar 4.7 Liz memutuskan untuk melakukan perjalanannya ke tiga tempat.

(7)

39

Universitas Kristen Petra Akhirnya, Liz memutuskan untuk meninggalkan David dan memulai perjalanannya ketiga tempat yang akan dia tuju, yakni Italia, India, dan Bali.

Meskipun David terlihat sangat sedih dengan keputusan Liz dan berusaha merayu Liz untuk mengurungkan niatnya, tetapi Liz tetap bersikukuh untuk pergi dan langsung berjalan menghampiri mobil Delia.

Gambar 4.8 Liz memutuskan untuk meninggalkan David

Sampailah Liz di Italia. Ia segera mencari tempat untuk dia tinggal selama di Italia. Dan ia pun menemukan sebuah rumah tua yang unik dan memutuskan untuk tinggal di rumah itu. Esoknya saat ia pergi ke sebuah kedai kopi, ia bertemu dengan seseorang perempuan bernama Sofi. Dari situlah mereka berkenalan dan memulai hubungannya sebagai teman. Sofi juga menawarkan kepada Liz apabila ia mau belajar bahasa Italia, dan Liz pun menyetujuinya. Lalu Liz dikenalkan dengan Giovanni yang tak lain adalah kekasih Sofi. Giovanni mengajarkan Liz bagaimana berbahasa Italia yang benar. Dan tak lama kemudian mereka pun berteman. Mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama untuk pergi makan, jalan-jalan, bahkan nonton bola bersama. Di negeri itu, Liz mempelajari seni menikmati hidup dan belajar bahasa Italia. Tak lupa, ia juga mengumbar nafsu makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram.

(8)

40

Universitas Kristen Petra Gambar 4.9 Liz bertemu Sofi di sebuah kedai kopi.

Pada suatu hari Liz diajak oleh Giovanni untuk datang ke rumahnya dan dikenalkan dengan anggota keluarganya. Hal ini tak lain adalah untuk menyambut perpisahan Liz yang akan pergi ke India. Mereka pun mengadakan sebuah pesta kecil untuk Liz. Liz sangat senang sekaligus terharu karena ia harus meninggalkan teman-temannya di Italia.

Dari Italia, Liz bertolak menuju India. Di negeri itu ia mempelajari seni devosi atau penyerahan diri di sebuah Ashram atau padepokan Hindu. Ia menghabiskan waktu empat bulan untuk mengeksplorasi sisi spiritualnya.

Gambar 4.10 Liz akan mengikuti acara seni devosi di Ashram

Selama di India, ia bertemu dengan Richard, seorang duda yang berasal dari Texas. Awalnya, Liz merasa terganggu dengan kehadiran Richard. Tetapi setelah mereka kenal cukup lama, Liz dan Richard pun bisa berteman baik. Selain Richard, Liz juga bertemu dengan Tulsi. Tulsi adalah teman Liz selama Liz berada di padepokan Ashram itu. Diceritakan juga dalam film itu, Richard yang sudah menganggap Liz sebagai sahabatnya bercerita mengenai masalah rumah

(9)

41

Universitas Kristen Petra tangga yang ia hadapi. Ia sangat sedih dan menangis di depan Liz. Ia menyesal dengan apa yang telah ia perbuat dahulu.

Gambar 4.11 Richard sedang menangis di depan Liz.

Setelah Liz mulai merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang, Liz melanjutkan perjalanannya ke tempat terakhir, yaitu Bali. Di Pulau Dewata itulah, wanita ini menemukan tujuan hidupnya, yakni kehidupan yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan ketenangan batin. Ia menjadi murid seorang dukun tua bernama Ketut Liyer yang juga seorang pelukis dan peramal lewat bacaan garis tangan.

Gambar 4.12 Liz dan Ketut Liyer saat bertemu.

Pada suatu hari saat Liz sedang berkeliling dengan sepedanya, datanglah sebuah mobil yang sangat kencang dari arah yang berlawanan. Liz pun tidak kuasa menghindar dan akhirnya ia terjatuh. Mobil itu dikendarai oleh seorang laki-laki yang bernama Felipe. Felipe berusaha untuk menolong Liz tetapi Liz menolak. Lalu Liz kembali ke rumah Ketut Liyer. Saat melihat luka yang ada di kaki Liz, Ketut Liyer menyarankan untuk Liz datang ke tempat Wayan. Wayan adalah seorang tabib tradisional yang berasal dari Bali. Ia mengobati kaki Liz dengan obat-obat tradisional yang diracik oleh ia sendiri.

(10)

42

Universitas Kristen Petra Gambar 4.13 Liz terjatuh dari sepedanya dan dirawat oleh Wayan.

Saat berada di rumah Wayan, Liz bertemu dengan Armenia. Lalu Armenia mengajak Liz untuk datang ke acaranya yang diadakan pada malam harinya. Saat datang ke acara tersebut, Liz kembali bertemu dengan Felipe. Kemudian Felipe mencoba untuk mengajak Liz berbicara. Dari acara itu, mereka berdua menjadi lebih dekat dan memutuskan menjalin sebuah hubungan. Liz terlihat sangat bahagia saat bersama Felipe.

Gambar 4.14 Liz kembali bertemu dengan Felipe.

Pada suatu hari, Felipe mengajak Liz pergi ke sebuah tempat. Ternyata Felipe sudah menyediakan sebuah perahu yang memuat banyak barang bawaan dan mengajak Liz untuk pergi berdua saja. Tetapi Liz menolak ajakan Felipe dan ia memutuskan hubungannya dengan Felipe. Liz merasa semenjak ia berhubungan dengan Felipe, banyak sekali kegiatan yang biasanya ia lakukan menjadi sering tidak ia lakukan. Itu yang membuat Liz merasa bahwa keseimbangan dalam hidupnya yang selama ini ia dapat menjadi terkoyak. Lalu ia memutuskan untuk kembali ke New York. Sebelum kembali, ia menyempatkan diri untuk berpamitan

(11)

43

Universitas Kristen Petra dengan Ketut Liyer. Saat ditanya Ketut Liyer perihal hubungannya dengan Felipe, Liz menjawab bahwa ia telah menyudahi hubungannya dengan Felipe. Ia merasa selama dengan Felipe, ia tidak bisa menjaga keseimbangan dalam dirinya. Setelah mendengar jawaban Liz, Ketut Liyer memberi Liz sebuah pernyataan bahwa

“terkadang kehilangan keseimbangan untuk sebuah cinta adalah salah satu bagian dari keseimbangan hidup”.

Gambar 4.15 Ketut Liyer sedang memberi nasihat kepada Liz.

Setelah mendengar perkataan Ketut Liyer, Liz langsung pergi mencari Felipe. Liz pergi ke rumah Felipe, tetapi ia tidak bisa menemukan Felipe. Lalu Liz membuat catatan kecil di kertas yang bertuliskan “temui aku di dermaga”. Di akhir kisah, Felipe datang ke sebuah dermaga dimana Liz sudah menunggunya dengan sebuah kapal dan ia pun mengajak Felipe untuk pergi bersama.

Gambar 4.16 Liz dan Felipe akhirnya bersama.

(12)

44

Universitas Kristen Petra 4.3. Analisis dan Interpretasi Data

Melalui penelitian ini, peneliti ingin meneliti representasi perempuan dalam film “Eat, Pray, & Love”, dengan melihat konsep perempuan sebagai berikut: Perempuan selalu menjadi sebuah topik yang menarik untuk dibicarakan terutama di dalam media massa. Pandangan masyarakat mengenai perempuan sebagian besar juga terbentuk oleh apa yang selama ini digambarkan oleh media massa, terutama sinema atau film. Problem pokok dalam tiap teks yang terkandung dalam film yang menampilkan sosok perempuan adalah masalah representasi. Representasi perempuan dalam teks yang diproduksi oleh budaya dengan dominasi patriarki, biasanya cenderung tidak sesuai dengan hal yang sesungguhnya. Perempuan condong ditampilkan sebagai pihak yang marjinal (terpinggirkan) dibandingkan laki-laki dalam kebanyakan film. Jadi, representasi perempuan merupakan misrepresentasi perempuan yang sebenarnya. Inilah yang dikenal dengan perspektif stereotype perempuan (Williams, 2003, p.123).

Selanjutnya untuk metode penelitian yang digunakan adalah semiotik dengan alat semiotika yang diprakarsai Roland Barthes. Roland Barthes menyusun model sistematik untuk menganalisis negosiasi dan gagasan makna interaktif. Inti dari gagasan Barthes adalah gagasan tentang dua tatanan pertandaan (two order of signification). Dalam semiotika Roland Barthes, simbol tidak hanya dimaknai secara denotasi, tetapi juga konotasi. Dalam pengertian umum, denotasi biasanya dimengerti sebagai makna yang “sesungguhnya”, bahkan kadang juga dirancukan dengan referensi atau acuan. Proses signifikasi yang secara tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Sedangkan konotasi identik dengan operasi ideolog, yang disebutnya sebagai “mitos” dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Budiman, 2001. p.28)

(13)

45

Universitas Kristen Petra 4.3.1. Denotasi dan Konotasi

Melalui penelitian ini, peneliti ingin meneliti representasi perempuan dalam film “Eat, Pray, & Love”, terutama Elizabeth Gilbert sebagai tokoh utama dan sebagai satu-satunya sosok perempuan yang mau keluar dari zona nyamannya dengan menampilkan denotasi dan konotasi yang peneliti temukan.

Elizabeth Gilbert adalah seorang penulis artikel. Di umurnya yang memasuki usia tiga puluh tahun Elizabeth Gilbert (Liz) telah mendapatkan semua yang diinginkan seorang wanita Amerika Serikat modern (Eat, Pray, & Love, 2010). Selain seorang suami dan sebuah rumah, Liz yang ambisius dan terpelajar juga punya karir yang cemerlang sebagai penulis.

Di dalam penelitian ini, peneliti melihat Elizabeth Gilbert yang direpresentasikan menjadi 5 sosok sebagai berikut :

1. Elizabeth Gilbert direpresentasikan sebagai sosok yang mudah bergaul.

Pada suatu malam, Liz menghadiri pesta makan malam di rumah salah seorang sahabatnya. Di dalam acara itu, Liz bertemu dengan banyak orang dan dari beberapa kalangan yang berbeda.

Seperti pada gambar 4.16 ini terlihat Liz yang sedang bersama dengan kedua temannya. Gambar tersebut diambil dengan jarak medium close up shot dimana salah satu teman Liz membelakangi kamera sehingga hanya bisa dilihat bagian belakang tubuhnya. Dengan menggunakan gaun yang sederhana tetapi penampilan Liz tetap memukau para tamu yang datang pada malam itu. Liz terlihat asik saat berbincang-bincang dengan teman-temannya. Terlihat dari raut wajah Liz yang tersenyum hingga seluruh giginya kelihatan. Di dalam buku Deddy Mulyana yang membahas komunikasi baik secara verbal dan non verbal, senyum yang memperlihatkan hampir seluruh bagian giginya menunjukkan bahwa orang tersebut dalam keadaan yang gembira.

Di dalam gambar tersebut, Liz ditunjukkan sebagai sosok yang mudah bergaul dengan siapa saja, tanpa melihat asal usul mereka. Ada yang berkulit putih dan ada yang berkulit hitam. Menurut Meehan dalam Barker (2000) bahwa salah satu tipe perempuan adalah pemilih. Perempuan cenderung lebih suka memilih-milih teman bahkan untuk pasangan hidupnya sendiri. Dan di dalam

(14)

46

Universitas Kristen Petra adegan tersebut, Liz tampak tidak memilih-milih teman untuk sekedar diajak ngobrol bahkan berteman.

Gambar 4.17 Liz sedang bersama dengan Delia di New York.

Dalam gambar 4.18 terlihat bagaimana cara Delia menatap anaknya.

Dengan mulut yang tersenyum lebar dan mata yang tertuju kepada anaknya menggambarkan bahwa Delia sayang kepada anaknya. Seperti yang dikatakan di dalam buku yang berjudul Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Deddy Mulyana membahas mengenai bahasa non verbal yang salah satunya membahas beberapa hal seperti eye contact atau kontak mata, raut wajah, dan gesture (Mulyana,2005).

Meskipun Delia dan Liz mempunyai sifat yang berbeda, tetapi Liz dan Delia bisa berteman dengan baik. Delia adalah salah satu teman Liz yang berasal dari New York, dan ia mempunyai seorang anak. Delia merupakan salah satu teman Liz yang mempunyai sifat keibuan.

Gambar 4.18 Delia dan anaknya.

Sedangkan di Italia, diceritakan Liz bertemu dengan seseorang perempuan di sebuah kedai kopi. Perempuan itu membantu Liz memesan minum dan

(15)

47

Universitas Kristen Petra makanan di kedai itu, karena Liz terlihat sangat kebingungan. Perempuan itu bernama Sofi yang berasal dari Swedia. Dan mereka pun akhirnya berteman.

Gambar 4.19 Liz berkenalan dengan Sofi.

Gambar 4.20 Liz bersama teman-temannya di Italia.

Selama di Italia, Sofi mengenalkan Liz dengan beberapa teman dan kerabatnya. Meskipun mereka bertemu dalam waktu yang cukup singkat, tetapi Liz dan teman-temannya sudah merasa seperti keluarga sendiri. Bahkan pada saat Liz akan pergi meninggalkan Italia, teman-teman Liz mengadakan acara thanks giving sebagai acara perpisahan untuk Liz. Gambar tersebut diambil dengan jarak medium close up shot untuk lebih memperjelas bagaimana hubungan Liz dengan teman-temannya di Italia sangat baik. Di dalam adegan tersebut, Liz digambarkan sebagai sosok yang mudah sekali bergaul. Pada saat ia bertemu dengan Sofi untuk pertama kalinya di sebuah kedai kopi, Liz bisa dengan cepat akrab dengan Sofi.

Kemudian pada saat Sofi juga mengenalkan Liz dengan beberapa kerabatnya, Liz juga dengan mudah mengakrabkan dirinya. Dan dari situlah mereka mulai berhubungan dekat.

Menurut Basow (1992), Perempuan lebih malu untuk berekspresi karena perempuan cenderung lebih pasif daripada laki-laki. Di dalam adegan di atas Liz

(16)

48

Universitas Kristen Petra justru cenderung tidak pemalu dari awal. Seperti pada saat Delia mengenalkan Liz dengan salah seorang temannya, kemudian pada saat Liz di Italia, Liz juga tidak malu untuk menjalin hubungan dengan teman-temannya selam di Italia. Bahkan pada saat keluarga Givoanni mengadakan thanks giving dan ada salah satu kerabat Givanni yang lupa memanggang kalkun, Liz juga tidak malu mengekspresikan dirinya dengan tertawa terbahak-bahak.

Kemudian saat Liz berada di India, ia juga berkenalan dengan seseorang pria yang bernama Richard, seorang duda yang berasal dari Texas.

Gambar 4.21 Liz berkenalan dengan Richard.

Gambar 4.22 Liz sedang bersama Tulsi.

Pada gambar tersebut diceritakan bagaimana Liz kenal dengan Richard.

Richard datang menghampiri meja dimana terdapat Liz dan Tulis yang sedang makan. Lalu Tulsi memperkenalkan Richard kepada Liz. Pada awal mulanya Liz merasa terganggu dengan Richard tetapi setelah beberapa waktu, akhirnya Liz dan Richard berteman juga. Selain Richard, Liz juga berteman dengan Tulsi. Tulsi adalah seorang gadis india yang diceritakan ia akan dijodohkan oleh orang tuanya.

Tulsi pun sering menceritakan hubungan dengan calon suaminya Rijul kepada Liz. Meskipun Liz tidak pernah mengalami perjodohan seperti apa yang dialami

(17)

49

Universitas Kristen Petra Tulsi, tetapi Liz memberikan saran yang positif kepada Tulsi. Bahkan Liz berkata kepada Tulsi bahwa Tulsi dan Rijul akan hidup bahagia.

Terlihat pada gambar kedua, Richard sedang menangis di depan Liz.

Jarang sekali kita melihat ada pria yang menangis di depan perempuan tetapi dalam degan ini justru dilihatkan Richard yang menangis menceritakan kehidupan rumah tangganya di depan Liz.

Dalam gambar-gambar yang peneliti ambil di atas, peneliti melihat sosok Elizabeth Gilbert yang tidak menunjukkan ciri-ciri perempuan yang baik yang semestinya terpusat di rumah dan membuatnya susah untuk bersosialisasi.

Elizabeth Gilbert justru menunjukkan bagaimana dia bisa dengan mudah bergaul dengan teman-temannya yang berasal dari tempat yang berbeda-beda. Perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang pemalu (Basow, 1992). Dengan demikian, adanya stereotype yang mengatakan bahwa perempuan adalah sosok yang pemalu, akan membuat perempuan lebih susah untuk melakukan komunikasi terlebih dahulu. Sedangkan di dalam gambar-gambar yang peneliti tunjukkan di atas, terlihat Elizabeth Gilbert tidak malu untuk memperkenalkan dirinya dengan orang-orang yang baru ditemuinya. Elizabeth Gilbert juga terlihat mudah sekali membaur dan akrab dengan mereka, salah satunya terlihat pada saat di Italia, teman-teman Elizabeth Gilbert mengadakan acara thanks giving sekaligus sebagai acara perpisahan untuk Elizabeth Gilbert yang akan pergi meninggalkan Italia.

2. Elizabeth Gilbert direpresentasikan sebagai sosok yang mandiri.

Saat hubungan Liz dengan suaminya Steven kandas, dan kemudian Liz membangun hubungan kembali dengan kekasihnya David yang tidak berjalan dengan baik, Liz pun menyadari ada sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dalam dirinya, yaitu keseimbangan hidup. Akhirnya Liz pun mengungkapkan niatnya untuk berubah dan melakukan perjalanan ke beberapa tempat untuk mencari keseimbangan hidup yang belum bisa ia dapatkan sebelumnya.

(18)

50

Universitas Kristen Petra Gambar 4.23 Liz berniat akan melakukan perjalanan seorang diri.

Dari gambar 4.23 terlihat Liz sedang mengungkapkan niatnya yang cukup ekstrim. Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke tiga tempat, yaitu Italy, India, dan Bali seorang diri. Dari gambar dan dialog di atas menunjukkan Liz adalah sosok yang mandiri. Ia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa meminta bantuan orang lain. Keputusannya yang berniat untuk melakukan perjalanannya seorang diri cukup mengejutkan orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama sahabatnya, Delia.

Saat hubungan Liz dan kekasihnya David, tidak berujung dengan baik, Liz pun mempunyai rencana untuk melakukan sebuah perjalanan ke beberapa tempat yang pada umumnya kebanyakan dilakukan oleh para pria. Kebanyakan para pria lah yang lebih suka untuk mengadakan sebuah perjalanan.

Gambar 4.24 Liz pergi meninggalkan David.

Selain itu, ada juga adegan dimana Liz pergi meninggalkan kekasihnya David. Saat hubungan Liz dan David tidak berjalan dengan baik, Liz memutuskan untuk pergi meninggalkan David. Gambar 4.24 menunjukkan adegan dimana Liz pergi meninggalkan David. Terlihat di dalam gambar di atas Liz memasuki mobil

(19)

51

Universitas Kristen Petra temannya, Delia dan langsung pergi meninggalkan David. David pun terlihat sedih dan diam saja saat ditinggal Liz pergi.

Di dalam gambar tersebut terihat Liz pergi meninggalkan David. Liz segera pergi menuju mobil Deborah dan langsung meminta Deborah segera menjalankan mobilnya. Padahal selama ini kita lebih sering melihat pria yang pergi meninggalkan perempuan. Tetapi didalam adegan ini justru Liz lebih ditunjukkan mempunyai sifat yang kuat dan tabah dibanding David.

Gambar 4.25 Liz mengalami kecelakaan.

Pada gambar 4.25 kita dilihatkan adegan dimana Elizabeth Gilbert jatuh dari sepedanya saat ada mobil kencang dari arah yang berlawanan. Ternyata pengemudi mobil itu adalah seorang pria. Saat pria itu ingin menolong Elizabeth Gilbert, Liz pun menolaknya. Liz berkata bahwa ia bisa mengurus dirinya sendiri.

Dari gambar tersebut terlihat Liz jatuh dari sepedanya saat ada mobil dari arah yang berlawanan. Yang menarik dalam gambar tersebut adalah bagaimanan Liz terlihat jatuh dengan alami dari sepedanya. Padahal dikebanyakan film jarang kita temui perempuan yang beradegan jatuh dan terlihat sangat bagus melakonkan adegan itu. Dan di dalam adegan tersebut, Liz sebagai seorang perempuan menolang pertolongan yang diberikan Felipe. Ia memilih untuk tidak bergantung dengan laki-laki.

Stereotype adalah pemberian label atau cap negatif yang dikenakan kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada status anggapan yang salah. Cap- cap negatif terhadap perempuan yang umumnya kita ketahui adalah : bahwa perempuan dianggap cengeng dan tidak mandiri (Basow, 1992). Adanya stereotype yang mengatakan bahwa perempuan tidak mandiri, membuat kita jarang melihat dimana seorang perempuan yang berani melakukan sebuah perjalanan atau lebih tepatnya seperti sebuah petualangan seorang diri ke beberapa

(20)

52

Universitas Kristen Petra tempat yang berbeda dan belum pernah ia temui sebelumnya, dimana biasanya dilakukan oleh kebanyakan pria. Tetapi dalam adegan dialog di atas, Liz justru berniat untuk meninggalkan kekasihnya dan pergi ketiga tempat, yaitu Italia, India, dan Bali.

Selain itu, konstruksi sosial masyarakat membawa implikasi yang luas dan serius yaitu pola ketergantungan, pribadi perempuan bergantung dengan laki-laki (Murniati, 2004). Yang ditunjukkan Elizabeth Gilbert dalam gambar-gambar di atas justru berbeda dengan apa yang dikatakan Murniati, Elizabeth Gilbert justru menunjukkan dirinya sama sekali tidak bergantung pada laki-laki. Seperti yang terlihat pada keputusan Elizabeth Gilbert untuk pergi meninggalkan kekasihnya dan berpetualang seorang diri, kemudian keputusannya untuk pergi meninggalkan David, dan yang terekhir adalah pada saat ia jatuh dari sepedanya dan hendak ditolong, Elizabeth Gilbert pun menolaknya. Hal ini menunjukkan bahwa sosok Elisabeth Gilbert adalah sosok yang mandiri, dalam arti dia bisa mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung dengan laki-laki.

3. Elizabeth Gilbert direpresentasikan sebagai sosok yang mudah beradaptasi.

Gambar 4.26 Liz saat belajar beberapa bahasa tubuh di Italia.

Pada saat Liz berada di Italia, teman-teman Liz mengajarkan bagaimana cara mengucapkan beberapa kata menggunakan bahasa tubuh seperti yang kebanyakan orang Italia lakukan. Terlihat jelas pada gambar 4.26 beberapa adegan yang dilakukan Liz saat berada di Italia. Bagaimana cara mereka mengatakan sesuatu terlihat dari komunikasi yang tubuh mereka tunjukkan (Mulyana, 2005).

Kemudian pada saat Liz di India, Liz tinggal di sebuah asrama perguruan Ashram. Di dalam asrama itu, Liz belajar beberapa hal salah satunya adalah

(21)

53

Universitas Kristen Petra meditasi. Meditasi adalah seni menumbuhkan kesadaran dan wawasan. Meditasi juga bisa digunakan sebagai alat praktis untuk menanggalkan pola emosional yang destruktif dan mengembangkan kualitas positif seperti kebijaksanaan dan kasih sayang, serta dapat digunakan untuk mengakses sifat dasar pikiran tetang kesadaran murni (Gunawan,2011. par.1). Pada awalnya, Liz susah untuk melakukan meditasi dikarenakan sebelumnya ia belum pernah melakukan meditasi. Untuk bisa beradaptasi dengan kebudayaan dan ajaran di dalam perguruan Ashram tersebut, Liz diwajibkan untuk bisa bermeditasi. Dengan demikian, Liz harus berusaha dari nol untuk bisa melakukan meditasi. Tetapi pada akhirnya Liz pun bisa melakukan meditasi dengan baik.

Gambar 4.27 Liz saat melakukan meditasi.

Selain meditasi, Liz juga belajar melakukan kegiatan rutin mereka setiap pagi, yaitu duduk di sebuah altar kemudian mereka menyembah guru Ashram mereka dengan nyanyian dan doa. Dan Liz pun dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan baik. Setiap pagi Liz bangun kemudian ia segera berjalan ke altar dan bersama-sama dengan temannya ia melakukan meditasi dan berdoa kepada guru Ashram.

Gambar 4.28 Liz sedang belajar menyembah guru Ashram.

(22)

54

Universitas Kristen Petra Dalam gambar tersebut menunjukkan beberapa adegan saat Liz sampai di India. Bagaimana ia berpakaian juga terlihat dalam gambar tersebut. Liz pun tahu bagaimana cara ia berpakaian di India dengan sopan. Dan mengikuti beberapa acara keagamaan di situ dengan baik. Kebudayaannya yang selama ini menuntut Liz untuk berpakaian modern tidak membuat Liz melupakan etiketnya. Meskipun ia tidak menggunakan baju sari, ia tetap berpakaian dengan sopan saat berada di perguruan Ashram. Baju Sari adalah sejenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Sari adalah pakaian yang terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya. Jenis yang paling umum adalah sari yang dililitkan di pinggang, dengan ujungnya yang disangkutkan dari bahu ke punggung belakang (Roshan,1983).

Menurut Basow (1992) perempuan sering dianggap cengeng, suka digoda, irasional, emosional, tidak bisa mengambil keputusan, tidak mandiri (dependen), pasif, pendiam, pemalu, submisif, subjektif, cepat tersinggung/perasa, suka menyembunyikan perasaan, suka bersolek, cerewet, royal, dan sebagainya.

Dengan adanya stereotype-stereotype tersebut memperlihatkan kita pada sosok perempuan yang pasif, pemalu, dan subjektif. Dimana sosok-sosok tersebut tidak terlihat dalam diri Elizabeth Gilbert. Di dalam beberapa gambar-gambar yang peneliti ambil di atas, Elizabeth Gilbert direpresentasikan sebagai sosok yang mudah beradaptasi dimana Elizabeth Gilbert tidak menunjukkan sosok perempuan yang pasif, pemalu, dan subjektif. Dia bisa menempatkan dirinya di tempat- tempat yang baru ia kunjungi. Seperti pada saat Elizabeth berada di Italia, ia bisa membaur dengan teman-temannya dan belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh. Kemudian pada saat Elizabeth Gilbert di India, ia juga bisa beradaptasi dengan segala aturan dan tata cara yang diajarkan di dalam perguruan Ashram, tempat Elizabeth Gilbert menetap selama ia di India, termasuk bagaimana cara bermeditasi. Meskipun pada awalnya Elizabeth Gilbert kesusahan pada saat ia pertama kali melakukan meditasi, tetapi tidak lama kemudian, ia bisa melakukan meditasi dengan baik.

(23)

55

Universitas Kristen Petra 4. Elizabeth Gilbert direpresentasikan sebagai sosok yang mau keluar dari

zona nyaman.

Gambar 4.29 Liz mengatakan bahwa ia harus berubah.

Dari gambar di atas ditunjukkan bagaimana Liz mengungkapkan keinginannya untuk berubah kepada temannya, Delia. Ia merasa ia harus berubah.

Lalu ia mengungkapkan keinginannya bahwa ia akan pergi ke sebuah tempat dimana ia bisa mengagumi sesuatu. Di dalam film ini, Elizabeth Gilbert direpresentasikan sebagai sosok dimana ia mau keluar dari zona nyamannya pada saat itu. Ia mau keluar dari kehidupannya yang terbilang cukup nyaman, ia juga mau keluar dari pekerjaannya yang selama ini ia sukai untuk mencari keseimbangan di dalam hidupnya. Perempuan dikatakan berada pada zona nyamannya adalah ketika ia mempunyai karir yang baik, seorang suami yang dicintainya, dan sebuah rumah (Eat, Pray, & Love, 2010). Dan Liz adalah salah satu perempuan yang mempunyai itu semua. Pada gambar 4.29 diambil secara close up sehingga ekspresi wajah Liz dapat terlihat dengan jelas dan tegas pada saat Liz mengungkapkan keinginannya untuk berubah.

Dari dialog yang dikatakan Liz, yaitu “ I need to change!”

menggambarkan keadaan dimana ia merasa harus berubah. Bukan masalah fisik yang harus berubah, tetapi dia ingin melakukan perubahan dalam dirinya. Liz merasa ada yang tidak beres di dalam kenyamanannya itu, lalu ia memutuskan untuk melakukan sebuah perjalan menuju ke beberapa tempat. Italia, India, dan Bali adalah tempat yang dipilih Liz selama ia melakukan perjalanan itu.

Adanya suatu konsep stereotype menempati posisi penting dalam citra perspektif perempuan. Perempuan ideal mengasuh dan maternal. Dia menjadi pendukung laki-laki dalam mencapai ambisi mereka namun tidak memiliki

(24)

56

Universitas Kristen Petra apapun, rela berkorban, berempati, dan berada di rumah (Barker, 2000). Di dalam film ini, sosok Elizabeth Gilbert justru digambarkan meninggalkan semua yang ia punya, seperti karir yang cemerlang, rumah, uang, dan suaminya untuk suatu tujuan, yaitu pencarian ‘keseimbangan hidup’ yang belum ia dapatkan selama ini.

Liz memutuskan untuk pergi menuju 3 tempat, yaitu Italia, India, dan Bali sendirian. Adanya stereotype yang mengatakan bahwa perempuan tidak cocok untuk melakukan tindakan-tindakan yang menggunakan tenaga tidak terdapat dalam diri Elizabeth Gilbert. Bahkan di dalam gambar yang peneliti ambil di atas, Liz digambarkan sebagai sosok yang mau keluar dari zona nyamannya dengan memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan dimana hal itu kebanyakan dilakukan oleh pria dan tentu saja menggunakan banyak tenaga untuk melakukan sesuatu sendirian tanpa bantuan laki-laki atau orang lain..

5. Elizabeth Gilbert direpresentasikan sebagai sosok yang ekspresif..

Sebelum Elizbeth Gilbert mengakhiri perjalanannya di Bali, diceritakan sebelumnya bagaimana ia pertama kali berada di pulau Bali untuk mengerjakan tugasanya sebagai seorang penulis. Dan di sana ia diberi tahu oleh seseorang untuk bertemu dengan Ketut Liyer, seorang penasehat spriritual yang terkenal di Bali.

Gambar 4.30 Liz dan Ketut Liyer sedang tertawa.

Gambar 4.30 memperlihatkan bagaimana Liz dan Ketut Liyer pertama kali bertemu. Meskipun baru pertama kali bertemu, Liz merasa nyaman dengan Ketut Liyer. Terlihat dari gestur mereka, dimana mereka berdiri sangat dekat dan tangan mereka yang saling bersentuhan. Mereka pun memulai berbincang-bincang.

(25)

57

Universitas Kristen Petra Selain nyaman, Liz juga terlihat menikmati perbincangan mereka. Liz terlihat tertawa lepas saat berbincang dengan Ketut Liyer. Dari gambar tersebut dapat kita lihat bagaimana Liz dapat mengekspresikan perasaannya dengan baik. Ekspresi wajah Liz yang memperlihatkan senyuman di bibirnya yang melebar, ditarik ke samping merupakan pesan non-verbal yang menandakan ia senang berbicara dengan Ketut Liyer (Mulyana, 2005). Pada gambar 4.30 diambil dengan dimensi jarak medium close up shot, yang menjelaskan objek sedang terlibat dalam percakapan sekaligus bisa didapatkan dengan jelas ekspresi wajahnya.

Di dalam gambar tersebut memperlihatkan sosok Liz yang sangat bersahaja. Walaupun dia berasal dari negara Barat (New York) tetapi dia tidak terlihat lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan beberapa orang yang ada dalam gambar tersebut. Dan terlihat juga bagaimana cara ia bercakap-cakap dengan sopan, dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.

Gambar 4.31 Liz sedang menangis.

Selain itu terlihat juga seperti dalam gambar 4.31, Liz terlihat sedih dan menangis. Adanya air mata yang menetes membasahi pipinya adalah perasaan sedih dimana ia merasakan kehidupan rumah tangganya yang sudah diambang kehancuran. Sedangkan dalam gambar 4.31 diambil secara extreme close up yang memperlihatkan ekspresi wajah Liz dapat terlihat dengan jelas.

Meskipun Liz terlihat sebagai sosok yang ceria tetapi ada saat dimana ia juga bisa menangis karena masalah yang sedang dihadapinya. Ia menangis karena ia sedih merasakan rumah tangganya dengan Steven yang hancur. Dan dia tidak bisa menahan rasa sedih itu sehingga ia menangis.

(26)

58

Universitas Kristen Petra Gambar 4.32 Liz terlihat sangat marah.

Kemudian dalam gambar 4.32 ditunjukkan sosok Liz sangat emosional.

Terlihat dari bentuk alis yang naik ke atas dan dahi yang berkerut menunjukkan keadaan Liz yang sedang marah. Selain itu dialog dalam gambar tersebut dimana ia mengatakan “ I need to change” juga memperjelas keadaannya yang benar- benar sedang marah dan tertekan.

Liz merasa tertekan dengan apa yang dihadapinya selama ini. Masalah rumah tangganya dengan suaminya Steven yang harus kandas, kemudian hubungannya dengan kekasihnya David yang tidak berakhir dengan baik membuat Liz merasa ia harus berubah.

Gambar 4.33 Liz memegang tangan salah satu anak di India.

Pada saat Liz di India, Liz terlihat sedang memegang tangan salah satu anak di saat mobil yang ditumpanginya melintas. Banyaknya anak-anak yang hidup di pinggir jalan membuat Liz prihatin. Dan Liz pun memberi sapaan kepada salah seorang anak dengan menyentuh tangannya.

(27)

59

Universitas Kristen Petra Gambar 4.34 Liz sedang menikmati makanannya.

Gambar 4.34 menunjukkan beberapa adegan Elizabeth Gilbert saat berada di Italia. Di negeri itu, Liz mempelajari seni menikmati hidup dan belajar bahasa Italia. Tak lupa, ia juga mengumbar nafsu makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram.

Kebanyakan perempuan malu untuk berekspresi karena perempuan cenderung lebih pasif (Basow, 1992). Tetapi dalam beberapa adegan tersebut, Liz justru menunjukkan beberapa adegan yang memperlihatkan dirinya sangat ekspresif. Pada saat dia menyantap makanan pun terlihat sangat ekspresif, dimana Liz terlihat sangat menikmati makanan-makanan tersebut. Ada juga dialog Liz dengan Sofi yang menarik saat mereka berada di sebuah kedai pizza. Awalnya Sofi tidak menyentuh pizzanya sama sekali. Lalu saat Liz bertanya kepada Sofi kenapa ia tidak memakan pizzanya,Sofi menjawab bahwa ia takut terlihat gemuk.

Ia takut kalau ia gemuk, kekasihnya tidak akan suka lagi kepada dia. Lalu Liz mencoba meyakinkan Sofi bahwa hal itu tidak benar. Bahkan pada saat Sofi tidak memakai baju pun, kekasihnya juga tidak pernah tidak mau menjamahnya. Lalu pada akhirnya Sofi pun memakan semua pizzanya.

Menurut Basow (1992) perempuan sering dianggap pasif, pendiam, pemalu, submisif, subyektif, dan suka menyembunyikan perasaan. Sedangkan dari gambar-gambar yang peneliti ambil di atas, Elizabeth Gilbert menggambarkan dirinya sebagai sosok yang ekspresif dimana ia bisa menunjukkan perasaaan dan perilakunya yang bisa berubah-ubah setiap saat. Terlihat pada saat Elizabeth Gilbert merasa sangat sedih dan putus asa saat rumah tangganya dengan suaminya, Steven diambang kehancuran. Tetapi perasaan sedih Elizabeth Gilbert

(28)

60

Universitas Kristen Petra tidak berlangsung lama. Saat ia bertemu dengan temannya perasaan Elizabeth Gilbert pun langsung berubah, ia tiba-tiba menjadi sosok yang ceria. Selain itu, tindakan Elizabeth Gilbert yang mau memberi sapaan kepada anak-anak yang ditemuinya di India sekaligus menunjukkan perasaan Elizabeth Gilbert yang prihatin atau kasihan melihat anak-anak tersebut. Tidak seperti apa yang dikatakan Basow, bahwa salah satu ciri perempuan adalah pasif dan suka menyembunyikan perasaannya.

Dari denotasi dan konotasi yang peneliti paparkan, peneliti merepresentasikan Elizabeth Gilbert menjadi 5 sosok perempuan sebagai berikut : Elizabeth Elizabeth Gilbert direpresentasikan sebagai sosok yang mudah bergaul, mandiri, mudah beradaptasi, mau keluar dari zona nyaman, dan yang terakhir adalah ekspresif.

4.3.2. Mitos

Adanya suatu konsep stereotype menempati posisi penting dalam citra perspektif perempuan. “Pendekatan stereotype perempuan menyuguhkan masalah karena dia menyatakan kebenaran dan kepalsuan sebuah representasi” (Barker, 2000, p. 267-268). Hasil penelitian menunjukkan perempuan dalam representasi di berbagai teks di stereotype-kan ke dalam dua hal, yaitu ideal dan

“menyimpang”. Perempuan ideal mengasuh dan maternal. Dia menjadi pendukung laki-laki dalam mencapai ambisi mereka namun tidak memiliki apapun, rela berkorban, berempati, dan berada di rumah. Perempuan yang menyimpang, mendominasi suami mereka dan tidak pernah di rumah untuk membina keluarga. Untuk mencapai ambisi pribadinya, mereka memutus ikatan keluarga, lepas dari kekangan laki-laki dan tidak cukup memahami dan mengakomodasi suami mereka (Barker, 2000).

Dari hasil analis di atas, peneliti melihat bahwa sosok Elizabeth Gilbert mematahkan stereotype-stereotype yang selama ini ada di masyarakat, di mana perempuan dianggap sebagai sosok yang cengeng, suka digoda, irasional, emosional, tidak bisa mengambil keputusan, tidak mandiri (dependen), pasif, pendiam, pemalu, submisif, subjektif, cepat tersinggung/perasa, suka menyembunyikan perasaan, suka bersolek, cerewet, royal dan lain-lain (Basow,

(29)

61

Universitas Kristen Petra 1992). Sedangkan dari hasil analisis, peneliti menemukan sosok Elizabeth Gilbert yang mandiri, ekspresif, mudah bergaul, dan mudah beradaptasi. Sosok-sosok Elizabeth Gilbert tersebut berbeda dengan stereotype yang selama ini berkembang di masyarakat, dimana seharusnya perempuan merupakan sosok yang pemalu, pasif, pendiam, submisif, subjektif, dan suka menyembunyikan perasaan. Dengan adanya stereotype-stereotype tersebut, otomatis perempuan akan sangat susah untuk berkomunikasi dengan orang lain terutama dengan orang yang baru dikenalnya. Lain halnya dengan Elizabeth Gilbert yang bisa dengan mudah bergaul dan beradaptasi dengan orang dan kebudayaan yang baru.

Kemudian sosok Elizabeth Gilbert yang mau keluar dari zona nyaman juga mematahkan stereotype dimana perempuan dianggap tidak bisa mengambil keputusan dan mandiri. Elizabeth Gilbert ditunjukkan membuat keputusan yang sangat penting dalam hidupnya, dengan meninggalkan semua yang ia punya, seperti karir yang cemerlang, rumah, dan suami untuk mencari keseimbangan hidup yang belum bisa ia dapatkan selama ini. Adanya stereotype yang selama ini timbul di masyarakat bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang terpusat di rumah tidak berlaku pada Elizabeth Gilbert. Elizabeth Gilbert justru menunjukkan bahwa perempuan yang baik juga juga bisa berada di luar rumah, di mana ia bisa dengan mudah membaur dengan orang dan kebudayaan lain.

Gambar

Gambar 4.1. Theatrical Release Poster Eat, Pray & Love  Sumber: http://www.accesshollywood.com
Gambar 4.3 Ketut Liyer mengatakan bahwa Liz adalah seorang world traveler.
Gambar 4.5 Liz sedang menangis merasakan kehidupan rumah tangganya dengan  Steven.
Gambar 4.7 Liz memutuskan untuk melakukan perjalanannya ke tiga tempat.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Merupakan suatu terapi relaksasi yang diberikan kepada klien dengan menegangkan otot-otot tertentu dan kemudian relaksasi. Relaksasi progresif adalah salah satu cara

Tesis Women Inequality as Issued in Some News Title of The Jakarta Post Newspaper: A Semiotic Analysis ini menganalisa tentang penanda dan tinanda, serta makna denotatif dan

Pengamatan dan pendataan awal dilakukan di empat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang ada di kecamatan Lima Kaum.Dari pengamatan di empat SLTA yang ada di kecamatan Lima

Seringkali para jaksa lebih memilih memakai (KUHP) dari menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak. Padahal undang-undang perlindungan anak ini diadakan dengan tujuan untuk

[r]

- Data kependudukan dan sosial ekonomi - Data sistem penyediaan air existing - Data sumber air baku - Data hidrologi - Peta topografi - Data Sekunder - Dokumentasi - Wawancara

Berdasarkan studi yang telah dilakukan dan menganalisis data lapangan yang berupa laporan akhir Detail Engineering Design (DED) peningkatan jalan

iLi uid Diistal iis lay iLD ةيقرل باعيتسا تادرفما ماكلا ةراهم ةسردم عباسلا لصفلا ةبلطل ةيوناثلا ةيماسإا راد وجراوديس وراو مولعلا ٬ اذ ةيفلخو سيردت ي اوبصع