BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari teknologi dan interaksi antar manusia. Teknologi diciptakan beriringan dengan kebutuhan manusia yang semakin kompleks untuk memudahkan kehidupan manusia dari kehidupan sebelum-sebelumnya. Salah satu hal tidak dapat dipisahkan dari pemenuhan kebutuhan manusia adalah transaksi jual beli. Transaksi jual beli sangat berjasa dalam memenuhi kebutuhan manusia. Dengan adanya transaksi jual beli manusia bisa saling berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan mendapatkan keuntungan dalam hidupnya.
Diketahui terdapat dua model transaksi, model transaksi jual beli konvensional dimana penjual, pelaku usaha atau produsen bertemu secara langsung dengan pembeli atau konsumen di suatu tempat dan waktu yang pasti, calon pembeli atau konsumen dapat melihat barang dan/atau jasa yang diinginkannya secara langsung. Dalam hal ini calon pembeli atau konsumen dapat melakukan pengecekan kondisi barang tersebut sebelum diantara mereka melakukan tawar menawar harga dan kedua belah pihak saling menyetujui. Jika ada ketidakcocokan atau kesalahan maka calon pembeli atau konsumen dapat menyampaikan langsung kepada pelaku usaha, dengan ini pelaku usaha akan mudah untuk melakukan pengecekan kembali terhadap
2
barang dan/atau jasa tersebut. Dengan bertemu secara langsung maka pelaku usaha dan konsumen akan lebih mudah untuk menjalankan serta memantau pelaksanaan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak. Sebagai contoh pelaku usaha wajib memberikan informasi yang sebenar-benarnya terkait dengan barang dan/atau jasa yang ditawarkan, sehingga ketika konsumen menerima barang dan/atau jasa tidak sesuai dengan apa yang dikatakan pelaku usaha atau penjual ia dapat menegur secara langsung dan bahkan bisa menyelesaikan konflik yang terjadi secara langsung. Konsumen bisa juga menyampaikan pendapat, testimoni atau keluh kesahnya terhadap barang dan/atau jasa yang didapatkannya langsung kepada penyedia atau penjual dengan harapan agar penyedia atau penjual akan mempertahankan kualitas atau bahkan meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang ditawarkannya jika pendapat dari konsumen berupa kritik dan saran.
Seiring dengan perkembangan teknologi kebutuhan dan permintaan dari konsumen semakin meningkat, maka munculah suatu bentuk transaksi jual beli modern yaitu transaksi elektronik berupa transaksi jual-beli atau perdagangan yang merupakan transaksi dengan menggunakan media elektronik yang terhubung dengan internet. Dalam transaksi modern pelaku usaha dan konsumen dapat melakukan transaksi dari dan di mana saja tanpa terbatas pada letak geografis dan tidak perlu bertemu langsung karena transaksi pembayaran dapat melalui transfer dan barang dapat dikirimkan melalui jasa ekspedisi. Semakin berkembangnya budaya transaksi secara
3
elektronik kedudukan hukum sebagai konsumen semakin lemah dibandingkan dengan pihak produsen atau pelaku usaha, maka perlindungan konsumen sangatlah perlu di era yang sekarang ini apalagi melihat karakteristik transaksi elektronik berbeda dengan transaksi konvensional.
Seorang konsumen yang bertransaksi secara konvensional maupun elektronik saat ini lebih banyak menggunakan media online menyampaikan aduan kepada pelaku usaha atau menyampaikan keluh kesah dalam proses transaksi yang dilakukannya, walupun mereka bertransaksi secara konvensional kadang kala penyampaian pendapat atau membagikan informasi melalui media sosial. Maka dari itu hak dan kewajiban yang timbul dari suatu transaksi harus dilindungi termasuk hak-hak konsumen yang sudah dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Dalam perkembangannya muncul Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang selanjutnya akan disebut U ndang- Undang ITE, didalamnya juga terdapat beberapa pasal yang mengatur hak dan kewajiban konsumen maupun pelaku usaha dalam penyampaian informasi secara elektronik termasuk pelanggaran dan kejahatan yang mungkin dilakukan.
Simpati terhadap konsumen sebagai korban, sudah dituangkan dalam resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.39/248 Tanggal 16 April 1985
4
tentang Perlindungan Konsumen. Kepentingan–kepentingan konsumen yang seharusnya dilindungi menurut resolusi itu adalah sebagai berikut:
1. Perlindungan konsumen dari bahaya–bahaya terhadap kesehatan dan keamanannya;
2. Promosi dan perlindungan kepentingan sosial ekonomi konsumen;
3. Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan kemampuan mereka melakukan pilhan yang tepat sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi;
4. Pendidikan konsumen;
5. Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif;
6. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka.
Sebagai contoh kasus jika seorang konsumen yang telah bertransaksi secara elektronik atau online tidak puas dengan barang dan/atau jasa yang didapatkannya kemudian ia memutuskan untuk mengunggah kritik atau aduan kepada penjual atau pelaku usaha secara online pula akan ada dua kemungkinan yang terjadi, yang pertama jika pelaku usaha menerima kritik maka keduanya akan sama-sama mendapatkan manfaat, mungkin saja konsumen akan mendapatkan ganti rugi atau bisa menukarkan barangnya.
Namun lain hal jika produsen atau pelaku usaha tidak menerima kritik yang
5
diberikan dan menyakini bahwa hal yang disampaikan konsumen adalah tidak benar maka produsen atau pelaku usaha dapat melaporkan bahwa konsumen tersebut telah mengunggah atau menyebarkan konten informasi elektronik yang memilik muatan pencemaran nama baik seperti kasus yang dialami oleh Prita Mulyasari diambil dari putusan Nomor 822K/P id.Sus/2010, sebagai konsumen di RS OMNI Internasional dimana ia merasa mendapatkan informasi yang tidak benar dan tidak mendapatkan layanan secara baik yang mana menurutnya membuat kondisi badannya yang semula sakit bertambah sesak nafas dan bengkak di beberapa bagian bahkan ia juga mendapatkan informasi yang salah terkait hasil labnya, menurutnya hal ini adalah suatu ketidakprofesionalitasan kemudian ia memutuskan untuk mengadukan hal ini kepada customer service namun mendapat balasan yang tidak sopan atau tidak seharusnya didapatkannya sebagai seorang konsumen. Ia mengambil langkah dengan mengirim e-mail bersubjek “Penipuan RS OMNI Internasional Alam Sutra” yang ditujukan kepada beberapa orang terdekatnya, dengan adanya e- mail ini dirinya dituntut telah melakukan pencemaran nama baik terhadap dokter yang menanganinya.
Hal ini menimbulkan suatu pandangan yang berbeda dalam masyarakat pasalnya Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengatur tentang hak konsumen untuk berpendapat namun bagaimana jika konsumen berpendapat melalui media online? dan adakah penjelasan tentang kriteria penghinaan atau pencemaran nama baik atau kejahatan oleh konsumen dalam
6
Undang-Undang ITE?. Berangkat dari hal tersebut, penulis tertarik untuk menulis penelitian dengan mengangkat judul Kontradiksi Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Dalam Undang – Undang Perlindungan Konsumen dan Undang –Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
B. Rumusan Masalah
Demi memperjelas dalam identifikasi persoalan yang diteliti agar lebih terarah dan sesuai dengan sasaran yang diharapkan serta dapat menjadi pedoman bagi tujuan dan manfaat penelitian dalam rangka mencapai kualitas penelitian yang diharapkan, maka penting bagi penulis untuk merumuskan permasalahan yang akan dibahas. Adapun rumusan masalah yang akan diteliti adalah:
1. Bagaimana perlindungan hukum terhadap konsumen dalam Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik?
2. Bagaimana implementasi perlindungan hukum terhadap konsumen di Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Dalam penulisan ini penulis memiliki tujuan yang ingin dicapai, oleh karena itu dalam suatu penelitian dikenal dengan 2(dua) macam tujuan penelitian, yaitu tujuan objektif dan subjektif sebagai berikut:
1. Tujuan Objektif
7
a. Mengetahui pengaturan hukum perlindungan konsumen dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang ITE.
b. Mengetahui implementasi hukum perlindungan konsumen.
2. Tujuan Subjektif
a. Untuk memperoleh teori yang relevan sebagai bahan utama penyusunan penulisan tugas akhir (skripsi) ini, guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana di bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
b. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis khususnya dalam menguasai hukum pidana perlindungan konsumen dan informasi dan transaksi elektronik.
c. Melatih kemampuan penulis guna mengembangkan wawasan dalam bidang hukum pidana dan menguji kemampuan penulis dalam penerapan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
d. Menghasilkan artikel ilmiah yang dapat dipublikasikan sebagai jurnal.
D. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian pada hakikatnya diharapkan sebagai pemberi suatu manfaat.
Adapun yang menjadi manfaat dari penelitian ini dapat dikategorikan sebagai manfaat teoritis dan manfaat praktis, yaitu:
1. Manfaat Teoritis
8
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi perkembangan ilmu hukum khususnya bidang hukum pidana.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah keilmuan dan literatur dalam kepustakaan hukum pidana, sehingga dapat dijadikan literatur dalam melakukan kajian dan penelitian yang sejenis.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjawab permasalahan yang sedang diteliti dan menjadi sarana pengembangan pola pikir ilmiah sekaligus mengetahui kemampuan penulis dalam penerapan ilmu.
b. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dan tambahan pengetahuan bagia semua pihak.
c. Hasil penelitian ini diharapkan nantinya dapat menambah referensi dan masukan pada penelitian selanjutnya.
E. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis saat ini, sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian hukum normatif. Penelitian normatif memrupakan penelitian bedasarkan bahan- bahan hukum yang fokusnya membaca dan mempelajari bahan-bahan hukum primer dan sekunder sehingga dalam penelitian ini dihasilkan argumentasi, teori atau konsep yang baru sebagai pereskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki,
9
2014:55). Dalam penelitian ini penulis akan membandingkan hukum terkait perlindungan konsumen dengan mengkaji Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang ITE.
2. Sifat Penelitian
Sifat penelitian hukum yang digunakan penulis dalam penelitian hukum ini adalah perskriptif dan terapan. Ilmu perskriptif mempelajari tujuan, konsep, norma hukum, validitas hukum serta nilai keadilan.
Sebagai ilmu terapan, ilmu hukum menetapkan standar prosedur, ketentuan-ketentuan, rambu-rambu dalam melaksanakan aturan hukum.
Hasil dari penelitian ini merupakan penjelasan mengenai perlindungan hukum terhadap konsumen dan impelemtasinya sesuai dengan Undang- Undang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang ITE. Dalam penelitian ini dibahas bagaimana konsep dan keadilan dari perlindungan konsumen serta implementasi kedua undang-undnag tersebut di Indonesia.
3. Pendekatan Penelitian
Menurut Peter Mahmud Marzuki dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Dengan pendekatan yang dilakukan oleh penulis diharapkan dapat untuk mengumpulkan informasi atau data dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabannya. Adapun pendekatan-pendekatan dalam penelitian hukum antara lain:
a. Pendekatan Undang-Undang (statue approach).
10 b. Pendekatan kasus (case approach).
c. Pendekatan historis (historical approach).
d. Pendekatan komparatif (comparative approach).
e. Pendekatan konseptual (conceptual approach).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan undang-undang (Statue approach) yang dilakukan dengan menganalisa aturan hukum yang berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap konsumen.
Pendekatan undang-undang membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang- undang dengan undang-undang lainnya atau antara undang-undang dengan undang-undang dasar atau regulasi dengan undang-undang (Peter Mahmud Marzuki, 2014:133).
4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum a. Sumber data primer
Penulis mengumpulkan data dengan menganalisis peraturan perundang-undangan, catatan resmi, atau risalah dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan putusan hakim.
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder merupakan semua publikasi tentang hukum yang bukan dokumen resmi, publikasi tentang hukum meliput i buku-buku teks, kamus hukum, jurnal hukum, artikel dan bahan dari
11
media internet atau sumber lain yang memiliki korelasi dengan penelitian ini.
5. Teknik Pengumpulan bahan hukum
Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan oleh peneliti adalah studi kepustakaan atau library research yaitu pengumpulan bahan hukum dengan membaca literatur yang erat kaitannya dengan persoalan perlindungan hukum terhadap konsumen.
6. Teknik analisis bahan hukum
Penelitian ini menggunakan teknik analisis dengan logika deduktif.
Seperti pendapat Philipus M. Hadjon yang dikutip oleh Peter Mahmud Marzuki bahwa metode deduksi sebagaimana silogisme yang diajarkan Aristoteles, penggunaan metode deduksi berpangkal dai pengajuan premis mayor (pernyataan bersifat umum) kemudian diajukan premis minor (pernyataan bersifat khusus), dari kedua premis itu ditarik suatu kesimpulan atau conclusion. Tapi dalam argumentasi hukum, silogisme hukum tidak sesederhana sologisme tradisional (Peter Mahmud Marzuki, 2014:90).
F. Sistematika Penulisan Hukum
Sistematika penulisan hukum merupakan gambaran secara umum dan menyeluruh mengenai sistem penulisan hukum yang sesuai dengan aturan dalam penulisan hukum. Penulis membagi penulisan hukum ini dalam 4 (empat) bab yang tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan
12
untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian.
Sistematika penulisan tersebut adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Objektif 2. Tujuan Subjektif D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis 2. Manfaat Praktis E. Metode Penelitian
F. Sistematika Penulisan Hukum
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori
Kerangka Teori berisikan tinjauan tentang teori-teor i yang berkaitan dengan penelitian, sehingga dapat menjad i landasan dan memberikan penjelasan secara teoritik mengenai permasalahan yang penulis teliti. Tinjauan- tinjauan tersebut adalah :
1. Tinjauan Perlindungan Hukum
13
2. Tinjauan Konsumen 3. Tinjauan Pelaku usaha
4. Tinjauan Perlindungan Konsumen 5. Tinjauan Transaksi Elektronik B. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran menampilkan narasi gambar untuk mempermudah pemahaman alur berpikir penulis dalam penulisan hukum ini.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis menguraikan dan menyajikan hasil pembahasan berdasarkan rumusan masalah. Dalam penulisan hukum ini yang menjadi pokok pembahasan adalah:
1. Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
2. Implementasi Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen di Indonesia
BAB IV : PENUTUP
14
Pada bab ini penulis akan menarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian da n pembahasan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya, serta memberikan saran terkait permasalahan tersebut sebagai tindak lanjut dari kesimpulan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN