• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILSAFAT IBU MILLATI

N/A
N/A
Erna Wati

Academic year: 2022

Membagikan "FILSAFAT IBU MILLATI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : LIA ZULMUNA NPM : 2102070024 Prodi : Geografi

MK : Filsafat pendidikan DOSPEN : MILLATI AHYA M.Pd

TUGAS:

1. Pendekatan Filsafat ESSENSIALISME

A. Devinisi pendekatan filsafat Essensialisme

Essensialisme berasal dari kata essensial yang berarti sifat-sifat dasar atau dari kata asesnsi (pokok). Essensialisme mempunyai pandangan bahwa pendidikan sebagai pemelihara kebudayaan. Aliran ini ingin kembali kepada kebudayaan lama, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan manusia. Aliran ini berpedoman pada peradaban sejak zaman Renaissance. Pada zaman Renaissance telah berkembang dengan megahnya usaha-usaha untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta kebudayan purbakala, terutama dizaman Yunani dan Romawi.

Dalam zaman Renaissance muncul tahap-tahap pertama dari pemikiran essensialis yang berkembang selanjutnya sepanjang perkembangan zaman Renaissance itu sendiri, yang mempunyai ciri-ciri utama yang berbeda dengan aliran progresifisme. Perbedaannya yang utama adalah memberikan dasar berpijak kepada pendidikan yang penuh fleksibel, dimana serba terbuka untuk perubahan, toleran dan tidakadaketerkaitandengandoktrintertentu.

Essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak kepada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai tertinggi yang tata dan jelas. Paham filsafat idialisme Plato dan faham idialisme Aristoteles adalah dua aliran pikiran yang membetuk konsep-konsep berpikir golongan isensialisme. Jadi pandangan filsafat essensialisme meramu dan menampung dua aliran filsafat itu (tetapi tidak lebur jadi satu dan tidak melepaskan sifat yang utama pada masing-masing), yang kemudian mereka terapkan pula dalam bidang pendidikan.

Essesnsialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut idialisme yang bersifat spiritual dan realisme yang titik berat tujuannya adalah mengenai alam dan dunia fisikBerbicara tentang perubahan, esensialisme berependapat bahwa perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan social. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus- menerus.

Perubahan terjadi sebagai kemampuan intelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.

(2)

B. Tokoh –Tokoh Dalam P Pendekatan Filsafat Essensialisme 1. Desiderius Erasmus :

Tokoh ini berpendapat bahwasanya ia ingin sekolahsekolah atau pendidikan menjadi sebuah pendidikan yang unggul dan bersifat internasional. Dan tokoh ini juga dimana ia pertama kali menolak suatu pandangan hidup dimana yang yang berpijak kepada lainnya.

2. Johan Amos Cosmenius :

beliau ini berpendapat bahwasanya sebuah pendidikan itu berperana pada anak dimana yang sudah sesuai dengan kehendak Tuhan kenapa begitu? Karena, pada hakikatnya dunia ini adalah dinamis dan memiliki sebuah tujuan.

3. John Locke :

Ia ini berpandangan sebuah pendidikan itu sesuatu yang sangat dengan situasi dan kondisinya masing-masing bagaimana cara untuk bisa menjadi sebuah pendidikan yang mencapai internasional dan profesional.

4. Johan Henrich Pestalozzi ;

Ia mempunyai sebuah kepercayaan kalau sifat-sisat alam itu sebuah cerminan pada manusia itu sendiri dari demikian manusia ini dapat kemampuan dan kekurangannya masing- masing.

5. Johann Friederich Frobel :

Beliau ini berpendapat dan berkeyakinan bahwasanya manusia ini adalah sebuah makhluk hidup yang dimana suatu ciptaan Tuhan yang dimana mereka (manusia) ini sebagai sebagian dari alam semesta ini.

6. Johann Friedereck Harbert :

dimana beliau ini berpendapat bahwasanya sebuah pendidikan itu adalah pengajaran untuk mendidik. Dan bahwasanya pendidikan adalah menyesuaikan sebuah jiwa seseorang dengan suatu kebajikan dari hal yang mutlak.

7. William T. Harris :

Beliau ini dimana ia pernah berusaha menerapkan sebuah idealisme yang obyektif pada pendidikan umum. Dan dari segala tugas pendidikan ini bagi beliau adalah sebuah reality yang sudah bersusunan dengan pasti dari sebuah kesatuan spiritual

(3)

C. KONSEP DALAM PENDIDIKAN 1. Gerakan Back to Bask

Gerakan back to basic yang dimulai dipertengahan tahun 1970-an adalah dorongan skala besar yang mutakhir untuk menerapkan program-program sesnsialis di sekolah-sekolah.

Yang terpenting lainnya, yang dikemukakan kaum esensialis, bahwa sekolah-sekolah harus melatih/ mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis. Keterampilan- keterampilan inti dalam kurikulum haruslah berupa membaca, menulis, berbicara, dan berhitung, serta sekolah memiliki tanggungjawab untuk memperhatikan apakah semua siswa menguasai keterampilan- keterampilan tersebut.

Ahli pendidikan esensialis tidak memandang anak sebagai orang yang jahat, dan tidak pula memandang anak sebagai orang yang secara alamiah baik. Anaka-anak tersebut taka akan menjadi anggota masyarakat yang berguna., kecuali kalau anak-anak secara aktif dan penuh semangat diajarkan secara disiplin, kerja keras, dan rasa hormat pada pihak berwenang/punya otoritas. Kemudian, para guru adalah membentuk para siswa, menangani isntiling-instiling alamiah dan nonproduktif mereka (seperti agresi, kepuasan indera tanpa nalar, dll.) di bawah pengawasan sampai pendidikan mereka selesai.

Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis dam memberi anak- anak pengajaran yang logis yang mempersiapkan mereka untuk hidup, sekolah tidak boleh mencoba mempengaruhi atau menetapkan kebijakan kebijakan sosial. Walaupun mereka kritik-kritik terhadap esensialisme mendakwa bahwa orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah akan mengindoktrinasi siswa dan mengesampingkan kemungkinan perunbahan. Kaum esensialis menjawab bahwa dengan tanpa suatu pendekatan esensialis, para siswa akan terindoktrinasi pada kurikulum humanistik dan/atau behavioral yang menjalankan perlawanan pada standar-standar kebutuhan yang diperlukan masyarakat untuk ditata.

Para pemikir esesnsialisme pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpandangan pada filsafata yang berbeda. Namun, diantara mereka ada kesepakatan tentang prinsip dasar filsafat esensilaisme yang berkaitan dengan pendidikan. Berikut ini penulis uraikan beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan pendidikan.

2. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan budaya melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahandalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dana dikenal oleh semua orang. Pengetahuan tersebut bersama dengan skill,sikap, dan nilai-nilai yang memadai, akan mewujudkan elemen-elemen pendidikan yang esensial. Tugas siswa adalah menginternalisasikan atau menjadikan milik pribadi elemen-elemen tersebut.

Selain merupakan warisan budaya, tujuan pendidikan esensialisme adalah mempersiapkan manusia untuk hidup. Namun, hidup tersbut sangat kompleks dan luas, sehingga kebutuhan- kebutuhan untuk hidup tersebut berada di luar wewenang sekolah. Hal ini tidak berarti bahwa sekolah tidak dapat memberikan konstribusi untuk mempersiapkan hidup tersebut.

(4)

Konstribusi sekolah terutama bagaimana merancang sasaran mata pelajaran sedemikian rupa, terutama tujuan pelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan, yang pada akhirnya memadai untuk mempersiapkan manusia hidup.

3. PandanganEssensialisme Mengenai Belajar

Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Pandangan Immanuel Kant, bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.

Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, lelapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.

Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.

Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya

. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas:

1. Determiuisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini.

Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis.

2. Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar.

Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.

4. Desain Kurikulum

Pada tahun 1930 telah didirikan suatu organisasi “Essentialists Committee for Advancement Of Education”, dalam rangka mempertahankan paham essensialime, khususnya dari persaingan dengan aliran progresivisme. Dan pada tahun 1950-an, di Amerika didirikan

(5)

sebuah organisasi yang disebut dengan dewan untuk pendidikan dasar (Council for basic education) yang merupakan jawaban terhadap apa yang dirasakan oleh sebagaian para ahli pendidikan, dengan adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi berangsur-angsur dalam tubuh pendidikan Amerika, disebabkan timbulnya yang disebut “pendidikan progresiv”.

Tujuan umum aliran progressivisme adalah membentuk pribadi bahagia dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencangkup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakan kehendak manusia.

Kurikulum yang digunakan di sekolah bagi essensialime merupakan semacam miniature dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan.

Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum essensialisme merupakan bagian pola kurikulum, seperti pola idealism. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk setiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi kitab suci, sedangkan, Demih Kevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi. Ataupun pola kurikulum realism, yang mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang komplek. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam, yang sederhana merupakan fundamen atau dasar dari susunannya yang paling komplek. Jadi bila kurikulum atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. Dengan demikian, peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.

Menurut Essensialime pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia, kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan yang demikian adalah esensi yang mampu pula mengemban hari kini dan masa depan umat manusia. Kebudayaan bersumber itu tersimpul dalam ajaran para filsof, ahli-ahli pengetahuan yang besar, yang jaran dan nilai-nilai ilm mereka bersifat menetap.

Menurut essensialime kebudayaan modern sekarang terdapat kesalahan, yaitu kecendrungannya, bahkan gejala-gejala penyimpangan dari jalan lurus yang yang telah ditanamkan kenudayaan warisan. Fenomena-fenomena sosial- kultur yang tidak kita inginkan sekarang, hanya dapat dibatasi dengan kembali secara sadar melalui pendidikan, yaitu kembali kejalan yang telah ditetapkan iti, dalam hal pendidikan oleh essensialime menyebutkan “Education as cultural conservation”.

Adapun para pemikir besar yang telah dianggap sebagai peletak dasar asas-asas filsafat aliran ini, terutama yang hidup pada zaman klasik; Plato, Aristoteles, Demakritos,.

Plato sebagai bapak obyektive idealism dan juga sebagai peletak dasar teori modern dalam essensialim. Sedangkan Aristoteles dan Demokritus, keduanya bapak obyektive realism.

Kedua ide itulah yang menjadi latar belakang thesis-thesis essensialime.

(6)

2..PENDEKATAN FILSAFAT PROGRESSIVISME.

A. DEVINISI PENDEKATAN FILSAFAT PROGRESSIVISME

Aliran progrisivisme berasal dari kata "Progresif" yang berarti maju, sehingga aliran progresivisme lebih mengutamakan masa depan dan cenderung untuk meninggalkan masa lalu. Progressivisme berasal dari gerakan reformasi umum dalam masyarakat Amerika dan kehidupan politik pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Berlawanan dengan sekolah tradisional, pendidik progresif merancang berbagai strategi untuk mereformasi pendidikan.

Meskipun sering dikaitkan dengan eksperimentalisme John Dewey, gerakan pendidikan progresif menyatukan berbagai helai. Sementara kaum progresif yang berpusat pada anak ingin membebaskan anak-anak dari sekolah yang otoriter, para reformis sosial ingin menggunakan sekolah untuk mereformasi masyarakat. Sementara beberapa progresif berusaha menggunakan pendidikan untuk reformasi sosial, kaum progresif lainnya, terutama administrator, berkonsentrasi untuk membuat sekolah lebih efisien dan hemat biaya. Progresif administratif berusaha membangun sekolah yang lebih besar yang dapat menampung lebih banyak kelas dan menciptakan lebih banyak keragaman kurikulum. Timbul sebagai pemberontakan melawan sekolah tradisional, pendidikan progresif menentang Esensialisme dan Perenialisme. Pendidik seperti Marietta Johnson, William H. Kil Patrick, dan G. Stanley Hall memberontak, menghafal dan manajemen kelas otoriter. Marietta Johnson (1864–1938), pendiri Sekolah Organik di Fairhope, Al-bama, dicontohkan pendidikan progresif yang berpusat pada anak. Percaya bahwa memperpanjang masa kanak-kanak sangat diperlukan dalam masyarakat teknologi, Johnson menginginkan agar anak lebih panjang daripada diperpendek. Anak-anak, katanya, harus mengikuti jadwal internal mereka sendiri daripada penjadwalan orang dewasa. Dengan memiliki tingkat kesiapan mereka sendiri, anak-anak tidak boleh didorong oleh guru atau orang tua untuk melakukan hal-hal yang mereka belum siap. Mengantisipasi pembelajaran konstruktivis kontemporer, Johnson percaya anak-anak belajar paling berhasil dan memuaskan ketika terlibat dalam eksplorasi aktif lingkungan mereka dan ketika membangun makna realitas mereka sendiri berdasarkan pengalaman langsung mereka. Kurikulum berbasis aktivitas Johnson menekankan latihan fisik, studi alam, musik, kerajinan tangan, geografi lapangan, bercerita, dramatisasi, dan permainan. 6 Kegiatan kreatif seperti menari, menggambar, menyanyi, dan menenun menjadi perhatian utama, sementara membaca dan menulis ditunda hingga anak itu berusia sembilan atau sepuluh tahun. Johnson merancang program pendidikan guru yang berubah dari pra-jabatan menjadi praktik

Selama masa pra-jabatan, perhatian dan guru yang efektif diperlukan untuk mengembangkan:

(1) kasih sayang yang tulus untuk dan memahami minat pada anak-anak;

(2) basis pengetahuan dalam perkembangan dan psikologi anak dan remaja dan dalam keterampilan dan mata pelajaran yang mereka ajarkan;

(7)

(3) minat dalam kesejahteraan sosial. Sebagai praktisi, guru harus menciptakan lingkungan kelas yang aman, ramah perkembangan, dan menarik di mana anak-anak belajar dengan langkah mereka sendiri, sesuai dengan minat mereka sendiri.

William Heard Kilpatrick (1871–1965), seorang profesor pendidikan di Teachers College di Universitas Columbia, menjadikan progresivisme sebagai bagian integral dari guru. kemajuan dari pra-layanan ke latihan. Dalam merestrukturisasi penyelesaian masalah Dewey ke dalam metode proyek, Kilpatrick mengikuti tiga prinsip panduan:

(1) pendidikan asli melibatkan pemecahan masalah;

(2) pembelajaran diperkaya ketika siswa secara kolaboratif meneliti dan berbagi informasi untuk merumuskan dan menguji hipotesis mereka;

(3) guru dapat membimbing pembelajaran siswa tanpa mendominasi.

Menggunakan prinsip-prinsip ini, Kil Patrick menggambarkan empat jenis proyek:

menerapkan ide atau rencana kreatif; (2) menikmati pengalaman estetika; (3) menyelesaikan masalah intelektual; (4) mempelajari keterampilan baru atau bidang pengetahuan. Kilpatrick percaya bahwa guru yang menggunakan metode proyek dapat mengubah ruang kelas mereka menjadi komunitas pembelajaran yang kolaboratif dan demokratis. Ketika mereka bekerja secara kolaboratif, siswa, yang termotivasi oleh minat mereka sendiri, akan terlibat dalam kegiatan yang bertujuan dengan sepenuh hati di mana mereka merancang dan menyelesaikan proyek. Tidak seperti kurikulum esensialis dan perenialis yang direstrukturisasi, metode proyek bersifat terbuka karena hasil dan respons tertentu tidak ditentukan sebelumnya

1. Konsep – Konsep Kunci Aliran Pendidikan Progressivisme Asosiasi Pendidikan Progresif menentang

(1) guru otoriter,

(2) pengajaran berbasis buku secara eksklusif, (3) menghafal secara pasif informasi faktual, (4) isolasi sekolah dari masyarakat, dan

(5) menggunakan kekerasan fisik atau psikologis untuk mengelola ruang kelas.

Para pendidik progresif ini secara positif menegaskan hal itu : (1) anak harus bebas untuk 7 berkembang secara alami;

(2) minat, dimotivasi oleh pengalaman langsung, adalah stimulus terbaik untuk belajar;

(3) guru harus memfasilitasi pembelajaran;

(4) kerja sama erat sangat penting antara sekolah dan rumah; dan (5) sekolah progresif harus menjadi laboratorium untuk eksperimen.

(8)

Menentang kurikulum mata pelajaran konvensional, progresif berpengalaman dengan kurikulum alternatif, menggunakan kegiatan, pengalaman, pemecahan masalah, dan proyek.

Guru progresif yang berpusat pada anak berusaha membebaskan anak-anak dari pengekangan dan penindasan konvensional. Progresif yang lebih berorientasi sosial, yang disebut rekonstruksi sosial, berusaha menjadikan sekolah sebagai pusat reformasi sosial yang lebih besar. Dipimpin oleh George Counts dan Harold Rugg, para ahli rekonstruksi sosial percaya bahwa guru dan sekolah perlu menyelidiki dan dengan sengaja bekerja untuk menyelesaikan masalah sosial, politik, dan ekonomi masalah. Dalam banyak hal, rekonstruksi sosial mengantisipasi teori kritis, yang dibahas di bagian selanjutnya dari bab ini.

B.Tokoh –Tokoh Dalam Pendekatan Progressivisme.

1. William James (1842-1910 M)

William James adalah seorang filsuf yang terkenal sebagai salah satu pendiri madzhab Pragmatisme dan sebagai seorang psikolog terkenal. Dimana dari pemikiran psikologinya kemudian memunculkan psikologi pendidikan di dunia barat pada abad ke 19. William James menekankan pentingnya melakukan pengamatan belajar mengajar di ruang kelas untuk meningkatkan pendidikan dengan rekomendasi pendidik mengajarkan pelajaran satu tingkat lebih tinggi dari tingkat pengetahuan dan pemahaman anak untuk merentangkan pikiranmereka. William James juga berpendapat bahwa fungsi otak atau fikiran harus dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Terlebih seorang William James menekankan untuk membebaskan ilmu jiwa dan menempatkan posisinya di atas dasar ilmu perilaku.

2. John Dewey (1859-1952 M)

John Dewey merupakan filsuf asal Amerika Serikat yang termasuk Mazhab Pragmatisme. Disisi lain John Dewey terkenal juga sebagai Kritikus sosial dan pemikir di bidang pendidikan. John Dewey mengatakan di dalam teori pendidikan Progresivismenya, dimana lebih menekankan kepada peserta didiknya dan minat peserta didik daripada mata pelajarannya sendiri. Sebab bagi John Dewey, dengan menekankan dan memperhatikan peserta didik dan minatnya, maka pembelajarannya akan lebih nyaman dan akan mendapatkan hasil yang maksimal karena ini bukan paksaan, melainkan berasal dari minat peserta didik sendiri.

Teori lainnya dalam bidang pendidikan adalah metode learning by doing. Dewey mengatakan untuk mempelajari sesuatu tidak perlu untuk terlalu banyak mempelajari itu, karena dengan melakukan langsung dipelajari, maka dengan sendirinya kita akan menguasai gerakan-gerakan atau perbuatan yang tepat.

(9)

3. Hans Vaihinger (1852-1933 M)

Hans Vaihinger merupakan seorang filsuf Jerman yang terkenal sebagai Sarjana Kant.

Hans Vaihinger berpendapat bahwa, satu-satunya yang menjadi ukuran bagi fikiran atau berfikir adalah kegunaannya untuk mengetahui serta mempengaruhi kejadian-kejadian dunia.

4.Godfrey Kneller

Menurut Kneller, prinsip-prinsip progresivisme adalah pendidikan itu seharusnya kehidupan bukan persiapan untuk hidup. Adapun sistem belajar harus dikaitkan dengan Minat dan kebutuhan siswa, serta memuat berbagai metode pemecahan masalah (Problem Solving) terhadap masalah hidup.

C. Konsep Dalam Pendidkan Dalam Pendekatan Progressivisme.

Progresivisme mempunyai suatu konsep yang berlandaskan pada pengetahuan serta kepercayaan manusia yang mempunyai kemampuan yang wajar dan dapat menyelesaikan masalah yang bersifatkan menekan ataupun mengancam pada diri manusia itu sendiri.

Terdapat beberapa ciri – ciri pada aliaran progresivisme meliputi :

1. Progresivisme kurang menyetujui pendidikan yang berasaskan otoriter. Dengan adanya otoriter dikuwatirkan tujuan akan tercapai dengan kurang baik. Hal ini dikarenakan dalam proses pendidikan kurang adanya rasa menghargai satu dengan yang lain dan sistem pendidikan yang hanya menggunakan satu arah, dengan mengesampingkan aspek – aspek dari luar. Padahal itu merupakan suatu motor pengerak manusia untuk mencapai suatu kemajuan atau progress.

2. Ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan. Ilmu merupakan bagian utama dari kebudayaan. Seperti halnya : Ilmu hayat, Antropologi, Psikologi, dan Ilmu alam. Ilmu pengetahuan merupakan salah satu penyumbang tersebar dalam maju berkembangnya kebudayaan manusia. Ilmu hayat menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang berjuang untuk berahan hidup, dengan mengatasi berbagai masalah atau rintangan.

3. Pandangan progresivisme

a. Pandangan mengenai pengetahuan

Bahwa pragmatisme itu sebenarnya adalah teori pengetahuan.

Sifat rasional dari pragmatisme terletak pada pemberian isi dan pengertian-pengertian mengenai suatu proses adanya pengalaman menjadi pengetahuan. Fakta yang masih murni saja(yang belum diolah atau disusun) belum merupakan pengetahuan.

b. Pandangan mengenai nilai

Nilai tidak datang dengan sendirinya, tetapi ada faktor yang merupakan pra syarat.

Faktor tersebut adalah suatu asumsi untuk memperoleh sebuah nilai.

c. Pandangan Tentang Belajar

Pandangan progresivme mengenai belajar bertumpu pada pandangan mengenai anak didik sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan dibanding makhluk-makhluk lain.

Disamping itu menjadi menipisnya dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat menjadi landasan pengembangan ide-ide pendidikan progresivisme.

(10)

Suasana belajar yang edukatif dapat ditimbulkan baik didalam maupun diluar sekolah asal berkisar pada asas-asas tersebut di atas. Dengan demikian maka pendidikan itu tidak lain adalah hidup itu sendiri.

d. Pandangan Mengenai Kurikulum

Sikap progressivisme, yang memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas, dinamika dan sifat-sifat lain yang sejenis, tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Landasan pikiran ini akan diuraikan serba singkat.

Yang dimaksud dengan pengalaman yang edukatif adalah pengalaman apa saja yang serasi tujuan menurut prinsip-prinsip yang digariskan dalam pendidikan, yang setiap proses belajar yang ada membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik

Pandangan mengenai belajar, filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis, anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya.

Seiring dengan pandangan di atas, bahwa filsafat progresivisme mengakui anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan untuk berkembang dan megakui individu atau anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif, kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya.

Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif, memberikan motivasi-motivasi dan stimuli-stimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik.

John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses di mana anak didik dapat mengambil kejadian- kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja.

Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing.

Tegasnya, akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nila nilai, sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.

(11)

John Locke (1632-1704) mengemukakan, bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlar 1984: 48). Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778), menyataka anak harus dididik sesuai dengan alamnya; jangan dipandang dari sudut orang dewasa. Anak bukan miniatur orang dewasa, tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri, yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa.

Beranjak dari ketiga pendapat di atas, berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dalam pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat, minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang secara maksimal. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik.

Hal yang harus diperhatikan gura adalah “anak didik bukan manusia dewasa yang kecil”

yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak.

Di samping itu, anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. Di sini prinsip kebebasan prilaku, di mana anak sebagai subyek pendidikan, sedangkan guru sebagai pelayan siswa.

Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan,

mengutip pendapat John Dewey sebagai berikut:

John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan 1. Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan.

2. Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman.

3. Memberi motivasi, dan bukan perintah. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik,

4. Mengikut sertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak.

5. Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. Oleh karena itu murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan ‘kemerdekaan beraktivitas, dengan orientasi kehidupan masa kini.

Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional. di mana ditandai dengan sifat verbalisme di mana terdapat cara belajar DDCH (duduk, dengar, catat, hafal), murid bersifat reseptif dan pasif saja. Hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru, tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru mendominasi kegiatan belajar.

Murid tanpa diberikan kebebasan sarna sekali untuk bersikap dan berbuat. Dalam abad ke-20 ini terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan

(12)

pengajaran. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar belajar di sekolah. di mana kini berangsur-angsur beralih menuju kearah penyelenggaraan sekolah progresive, sekolah kerja, sekolah pembangunan dan CBSA.

Progresivisme menghendaki pendidikan yang progresif. Tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus.

Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja, melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah.

Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan.

Dari uraian di atas, dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil, tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang, setiap anak didik berbeda kemampuannya, individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya.

2. Pandangan Kurikulum Progressivisme

Selain kemajuan atau progres, lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula.

Sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar, maksudnya yaitu sekolah harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki

keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat.

Sikap progressvisme, memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas, dinamika dan sifat-sifat yang sejenis, tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur.

Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting), karena sekolah didirikan untuk anak. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan, bukan diciptakan sekehendak yang mendidiknya. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan.

Untuk memenuhi keutuhan tersebut, maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu

(13)

bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orang tua atau masyarakat untuk mendidik anak. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak, orang tua serta masyarakat. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum.

Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja, akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman.

Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan, di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar).

Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving.

Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium, di bengkel, di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. Dalam hal ini, filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out- put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas.

Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952) dan dikembangkan oleh W.H Kilpatrick. John Dewey telah mengemukakan dan menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan, melakukan pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme pendidikan. Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa, melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada kemampuan intelektualnya. Pengajaran dengan program unit, akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk semangat demokrasi pendidikan.

W.H Kilpatrick mengatakan, suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga prinsip:

(14)

1. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang.

2. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu

kehidupan yang bulat dan menyeluruh.

3. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan sekolah sehingga anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan, dan dalam hal ini apa saja yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang

Dari penjelasan yang dikemukakan oleh W.H Kilpatrick tersebut ada beberapa hal yang perlu diungkapkan yaitu:

(1) kurikulum harus dapat meningkatkan kualitas hidup anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan,

(2) kurikulum yang dapat membina dan mengembangkan potensi anak didik

(3) kurikulum yang sanggup mengubah prilaku anak didik menjadi kreatif, adaptif dan kemandirian dan

(4) kurikulum bersifat fleksibel atau luwes berisi tentang berbagai macam bidang studio.

Melalui proses pendidikan dengan menggunaka kurikulum yang bersifat intergrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial sehari-hari dengan baik.

3.PENDEKATAN FILSAFAT Perenialisme A. Devinisi Pendekatan Filsafat Perenialisme

Filsafat perenial adalah suatu pengalaman mistis universal yang telah ada dan akan selalu ada selamanya. Filsafat perenial merupakan yang pertama, metafisika yang mengakui realitas ilahi bagi dunia benda-benda hidup dan akal. Yang kedua, psikologi yang menemukan sesuatu yang sama dalam jiwa. Yang ketiga, etika yang menempatkan tujuan akhir manusia pada pengetahuan tentang dasar dari segala yang ada. Filsafat sebenarnya adalah suatu pandangan yang menjadi pegangan hidup bagi mereka yang menyebut dirinya pengabut hikmah. Cikal bakal filsafat sebenarnya sudah ada pada ajaran nabi terdahulu, yang ajarannya meliputi dua aspek yaitu ma’rifat dan filsafat.

(15)

B. Tokoh-tokoh perenialisme 1. Plato

Ia berasal dari keluarga aritrokasi yang turun-temurun memegang politik penting dalam atena. Plato memiliki kedudukan yang istimewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi, ilmu, seni dan filosofi. Pandangan yang abstrak sekalipun dapat di lukiskan dengan gaya bahasa yang indah. Menurut Plato, pendidikan adalah membina yang sadar dalam melaksanakan aspek kehidupan. Pendidikan yang ideal harus di dasarkan pada faham, kemauan dan akal.

2. Aristoteles

Ia merupakan murid dari Plato. Menurut Aristoteles pendidikan adalah bentuk kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Pendidikan perkembangan merupakan titik pusat perhatian dengan filsafat sebagai alat untuk pencapaiannya.

3. Thomas Aqueness

Menurutnya tujuan pendidikan sebagai usaha untuk merealisasikan kapasitas dalam setiap individu manusia sehingga menjadi aktualitas. Tugas seorang pendidik adalah untuk mempersiapkan peserta didik ke arah kematangan intelektualnya. Dengan pengembangan akal, maka fikirannya dapat tinggi kemampuannya.

4. Robert Menahertin

Ia adalah seorang filusuf pendidikan Amerika, ia adalah presiden pada tahun 1929- 1945. Ia mengemukakan bahwa manusia pada hakikatnya ialah makhluk rasiaonal. Tujuan pendidikan yaitu untuk mencapai kebajikan. Menurutnya pendidikan yang ideal yaitu pendidikan yang menumbuhkan intelektual.

5. Artimatler

Ia seorang penulis pelopor pendidikan filusuf Amerika serikat. Ia adalah seorang filusuf yang menafsirkan manusia adalah makhluk rasionalitas yang memiliki kemampuan intelektual yang mana melalui tindakantindakan seperti berfikir, menulis, membaca dan lain- lain. Pandangannya yaitu peserta didik akan aktif jika guru mengajarkan dan menerapkan perilakunya yang baik.

Terdapat tiga konsep filsafat pendidikan aliran perenialisme 1.Hakikat pendidikan

(16)

Kaum perenialisme memandang pendidikan sebagai proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dahulu yang dianggap sebagai kebudayaan yang ideal. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang nilainilai kebenaran yang pasti, absolut dan abadi. Penganut perenialisme percaya bahwa prinsip-prinsip pendidikan jugabenar.

2. Guru

Guru memiliki peran yang dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru hendaknya adalah orang yang mempunyai cabang ilmu yang

bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan bagi siswanya dan guru dipandang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahuan dan keahliannya tidak diragukan.

3. Hakikat murid

Murid dalam aliran perenialisme merupakan makhluk yang dipimpin oleh prinsip- prinsip utama kebenaran-kebenaran abadi. Hakikat pendidikan upaya proses transformasi pengetahuan dan nilai pada subjek pendidik.

C Konsep Dalam Pendidikan Filsafat Perenialisme

Kurikulum pendidikan dalam aliran penerialisme Dalam filsafat ini, kurikulum pendidikan yang harus dipelajari ialah tentang subjek atau mata pelajaran yang sulit dipahami oleh murid. Dan pengaruh aliran perenialisme dalam dunia pendidikan, berpandangan bahwa dunia pendidikan yang tidak menentu dan penuh kekacuan. Seperti kita rasakan dimasa ini, tidak ada yang baik kecuali kepastian tujuan pendidikan dan kestabilan peserta didik. Tujuan pendidikan adalah untuk membantu peserta didik menyiapkan nilai-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebaikan hidup.

1) Kerangka dasar

Perenealisme memandang education as cultural regression; pendidikan sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti keadaan budaya masa lampau yang dianggap sebagai kebudayaan yang ideal. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai kebenaran yang pasti, absolut, dan abadi yang terdapat dalam kebudayaan masa lampau yang dipandang sebagai kebudayaan ideal tersebut.

Sejalan dengan hal diatas, perenealist percaya bahwa prinsip-prinsip pendidikan juga bersifat universal dan abadi. Robert M. Hutchins mengemukakan: “Pendidikan mengimplikasikan pengajaran, pengajaran mengimplikasikan pengetahuan. Pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran dimanapun dan kapanpun adalah sama”. Selain itu pendidikan dipandang sebagi suatu persiapan hidup, bukan hidup itu sendiri.

(17)

2) Tujuan

Tujuan pendidikan bagi perenialist adalah nilai-nilai kebenaran bersifat universal dan abadi, inilah yang harus menjadi tujuan pendidikan sejati. Sebab itu tujuan pendidikannya adalah membantu peserta didik menyingkapkan dan menginternalisasi nilai-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebijakan dan kebijaksanaan hidup.

3) Materi

Karena kurikulum bersifat subjected centered atau berpusat pada materi pembelajaran, maka materi pembelajaran harus bersifat universal dan abadi, selain itu materi pembelajaran terutama harus terarah kepada pembentukan rasionalitas manusia, sebab demikianlah hakikat manusia. Mata pelajaran yang mempunyai status tertinggi adalah mata pelajaran yang memiliki “rational content” yang lebih besar. Karena itu, titik berat isi kurikulum diletakan pada pelajaran sastra, matematika, bahasa dan humaniora.

4) Strategi pembelajaran

Metode pembelajaran yang utama digunakan perenialist adalah membaca dan diskusi, yaitu membaca dan mendiskusikan karya-karya besar yang tertuang dalam “The Great Books” dalam rangka mendisiplinkan pikiran.

5) Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan adalah untuk melihat apakah nilai-nilai kebenaran yang sudah disepakati bersama keberadaannya telah dicapai oleh peserta didik atau belum.

Evaluasi juga dilakukan untuk melihat apakah konten atau materi yang diperlukan untuk peserta didik telah tersedia dengan baik atau tidak.

4.PENDEKATAN FILSAFAT REKONSTRUKSIONALISME A.Devini Pendekatan Filsafat Rekonstruksionalisme

Rekonstruksionisme berasal dari kata Rekonstruksi,tersusun dari dua kata "Re" yang artinya kembali dan"konstruk" yang artinya menyusun. Jika keduanyadigabungkan maknanya menjadi penyusunan kembali. Dalam filsafat pendidikan rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berupaya merombak tata susunan lama dan juga tata susunan hidup kebudayaan yang mempunyai corak modern serta menjadi kesepakatan antar manusia

Rekonstruksionisme berasal dari kata Rekonstruksi, tersusun dari dua kata "Re" yang artinya kembali dan "konstruk" yang artinya menyusun. Jika keduanya digabungkan maknanya menjadi penyusunan kembali alam filsafat pendidikan rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berupaya merombak tata susunan lama dan juga tata susunan hidup kebudayaan yang mempunyai corak modern serta menjadi kesepakatan antar manusia.

(18)

b.tokoh – tokoh dalam pendekatan Rekonstruksionalisme 1.George Counts (1889-1974)

George Counts mengembangkan pendekatan baru terhadap pendidikan. Pokok pikiran George Counts yaitu mengajak para pendidik untuk membuang mentaliatas budak, agar berhati-hati dalam mengumpulkan kekuatan dan berjuang membentuk sebuah tatanan sosial baru yang 103 didasarkan pada sistem ekonomi kolektif dan juga prinsip demokratis.

b. Caroline Pratt (1867-1954)

Caroline Praty mengungkapkan idenya dari Friedrich Froebel tentang sesuatu yang bisa memberikan anak-anak kesempatan untuk mewakili dunia mereka. Ia juga merancang sebuah unit blok yang menjadi bahan dasar di sekolah yang ada di Amerika Serikat.

c. Paulo Freire (1921-1997)

Ide-idenya tentang pendidikan dan menganalisis masalah pendidikan yang berkaitan dengan politik pemerintah yang menjadikan masyarakat bawah sebagai kaum yang tertindas.

Tujuan pendidikan tersebut adalah penyadaran, bukan teknik untuk menyalurkan atau untuk pelatihan ketrampilan, melainkan merupakan proses dialogis yang mengantarkan seseorang secara bersama dalam memecahkan masalah eksistensial mereka.

C.Konseo Dalam Pendidikan

Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern.

Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.

Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada di mana dan sama di setiap tempat. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu yang konkrit dan menuju kearah yang khusus menampakkan diri dalam perwujudan sebagaimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti hewan dan tumbuhan atau benda lain di sekeliling kita, dan realita yang kita

(19)

ketahui dan kita hadapi tidak terlepas dari suatu sistem, selain substansi yang dipunyai dan tiap-tiap benda tersebut, dan dapat dipilih melalui akal pikiran.

Dalam proses interaksi sesama manusia, diperlukan nilai-nilai. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Ke¬mudian, manusia sebagai subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka, karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan.

Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Karenanya, baik akal maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahuan, dan akal di bawa oleh panca indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya.

Filsafat rekonstruksionisme adalah aliran yang berusaha merombak tatsa susunan lama untuk membangun tata susunan baru yang lebih modern. Sedangkan filsafat pendidikan Islam merupakan filsafat dengan corak islami yang berusaha menciptakan masyarakat yang berbudaya tinggi. Dari kedua pengertian aliran ini terdapat perbedaan, dalam rekonstruksionisme ada upaya untuk merombak atau mengubah tata susunan sedangkan filsafat pendidikan Islam justru mengupayakan membangun manusia itu sendiri berdasarkan panduan secara islami.

Kemudian perbedaan lain, filsafat rekonstruksionisme menginginkan transformasi secara kultural, namun filsafat pendidikan Islam justru mempertahankan budaya-budaya islaminya. Pada aliran rekonstruksionisme juga, pendidikan merupakan usaha membangun pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi, namun pada filsafat pendidikan Islam pendidikan dikembalikan kepada seperti apa manusia itu menginginkannya atau berdasarkan kebutuhan manusia itu sendiri, maksudnya adalah tidak memaksakan dengan satu metode.

Prinsip-prinsip filsafat pendidikan aliran rekonstruksionisme meliputi perubahan secara mendasar, penciptaan tatanan sosial yang menjagat, pendidikan formal sebagai agen utama rekonstruksi tatanan sosial, metode pengajaran harus didasarkan pada prinsip demokratis, serta pendidikan formal harus secara aktif mengajrkan perubahan sosial.

Barnadib (1992: 69) mengungkapkan bahwa aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran) yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Kemudian, manusia sebagai subjek telah memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya. Kebaikan itu akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka, karena itu akal mempunyai peran untuk memberi penentuan.

Referensi

Dokumen terkait

Letak kesalahan pada contoh program 1.7 bukanlah pada baris ke-14 seperti ditunjukkan di atas, namun terletak di baris ke-13 (sebelum perintah ELSE) dimana statement tidak diakhiri

Indikator kinerja daerah dibagi menjadi 3 (tiga) aspek yaitu; aspek kesejahteraan

• DR = Detection Risk = Resiko Deteksi = resiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi..

Hasil simulasi melalui 4 (empat) skenario model ekologis bentang lahan yang disusun berdasarkan parameter ketinggian tempat dpal, kemiringan lereng, kerapatan vegetasi,

Siswa dapat menyusun teks deskriptif tulis sederhana tentang tokoh dengan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang tepat.. Materi Pembelajaran

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk meneliti pengaruh pengaruh kepemilikan keluarga dan likuiditas terhadap agresivitas pajak dengan corporate

menggarisbawahi bahwa dalam sistem politik yang demokratis, kontrol terhadap pemerintah dalam membuat keputusan tidak bisa' diabaikan, pemerintah harus dlpiiih secara

Evaluasi yang dilakukan menun- jukkan bahwa program amnesti pajak yang dilaksanakan di Indonesia perio- de 1 Juli 2016 sampai dengan 31 Maret 2017 cukup berhasil, walaupun